Serial Larva

Kali ini saya akan membahas salah satu film seri animasi asal Korea Selatan yang saat ini sedang banyak diputar di TV lokal kita yaitu Larva. Tokoh utama film ini ada 2 ekor ulat mungil yang pada awalnya hidup di tengah kota New York. Kesuksesan serial ini menarik perhatian Netflix sehingga mereka mereka “mengambil” Larva dan mengubah latar belakang serial ini menjadi sebuah pulau.

Keunikan dari serial ini tentunya adalah bagaimana kedua tokoh utama berinteraksi di tengah-tengah lingkungan yang seolah-olah besar, padahal aslinya kecil. Red dan Yellow adalah 2 ulat yang menjadi tokoh utama pada serial ini. Red yang berbadan mungil, bersifat pemarah dan serakah. Sedangkan Yellow adalah ulat yang selalu bahagia dan cuek, tapi agak jorok. Nah kejorokan Yellow-lah yang sering membuat saya tertawa. Yellow sering munggunakan kentut dan ingus untuk hal yang aneh-aneh :’D. Selain itu, Larva sering kali mengambil latar belakang yang memang kotor sifatnya, seperti tong sampah, kotak bekas makanan dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Larva, relatif kurang cocok ditonton sendirian oleh anak kecil. Sebaiknya ada orang dewasa yang mendampingi dan memberi bimbingan.

Humor gelap dan slapstick pada serial ini tentunya tidak baik apabila mentah-mentah ditiru oleh anak-anak. Tapi sejujurnya, humor gelap dan slapstick yang dihadirkan Larva sukses menghibur saya. Biasanya saya kurang suka dengan slapstick, tapi slapstick yang ditampilkan Larva, memang terbilang lucu. Larva sukses besar kalau dilihat dari sisi hiburan. Tapi pesan moral yang ditampilkan yaaaa memang relatif minim.

Walaupun menghadirkan beberapa adegan yang kurang pas untuk ditonton anak kecil sendirian, Larva masih layak untuk ditonton anak-anak kok. Tidak ada adegan sadis atau porno di sana. Slapstick yang dihadirkan jauh dari kata parah kalau dibandingkan denga Tom & Jerry atau Oggy and the Cockroaches. Film kartun yang satu ini memiliki rentang umur pemirsa yang cukup lebar. Tua dan muda pasti tertarik dan tidak kebosanan ketika menonton Larva. Saya rasa Larva pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.larva.re.kr

Iklan

Serial Shimmer and Shine

Film animasi anak Shimmer and Shine mengisahkan kehidupan 2 jin yang tinggal di Negeri Zahramay Falls, Shimmer (Eva Bella) dan Shine (Isabella Cramp). Mirip seperti kisah Aladin, setiap jin dapat mengabulkan permintaan tuannya. Hanya saja, untuk Shimmer dan Shine, keduanya memiliki 1 tuan, yaitu Leah (Alina Voley). Setiap hari, Leah dapat meminta 3 permintaan kepada Shimmer dan Shine, wuuuuah, asyik duong.

Eits, jangan senang dulu, Shimmer dan Shine sering sekali melakukan kesalahan ketika mengabulkan permintaan Leah, yaaah namanya juga jin anak-anak :’D. Bukan hanya Shimmer dan Shine, Leah pun masih anak-anak dan sering kali melalukan kesalahan ketika mengucapkan permintaan. Hal ini terkadang membuat keadaan semakin kacau dan permasalahan justru tidak selesai. Mereka pada akhirnya harus berusaha bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Di sini penonton cilik diajarkan untuk tidak takut berbuat salah dan mau memaafkan. Pada dasarnya, itulah pesan moral yang hampir selalu ada di film seri anak-anak ini.

Film ini pun bebas hal-hal yang berbau dewasa dan adegan kekerasan. Tokoh antagonisnya pun dibuat tidak terlalu jahat. Zeta (Lacey Chabert) adalah penyihir yang berambisi untuk menjadi penyihir terkuat di Zaramey Falls. Ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tuhuannya. Karakter ini tidak nampak terlalu jahat karena kehadiran naga mungil peliharaannya yaitu Nazboo. Tingkah lucu dan konyol Nazboo sering kali membuat rencana Zeta gagal. Tapi apapun yang terjadi, Zeta tetap menyayangi naga mungilnya.

Jujur saja, Nazboo adalah tokoh favorit saya pada Shimmer and Shine. Jalan cerita yang sangat sederhana, tentunya membuat penonton dewasa, agak bosan. Sumpah ini sebenarnya termasuk film seri paling membosankan yang sering saya tonton hehehehehe. Tingkah Nazboo terkadang dapat menjadi sedikit penyegar ketika saya menemani putri saya menonton Shimmer and Shine.

Film seri produksi Nickelodeon ini berhasil menarik anak saya karena gambar yang imut. Semuamuanya didominasi dengan warna pink dan ungu. Kemudian film ini banyak pula menampilkan sparkle atau bling-bking yang gemerlap, yaaah pokoknya perempuan sekalilahhh. Plusss, ada lagu dan tarian ala Bollywood yang menarik.

Dengan demikian, saya rasa film seri anak Shimmer and Shine layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bersiaplah untuk diminta membelikan boneka Shimmer dan Shine, sebab bonekanya sudah banyak beredar di toko mainan :’D.

Sumber: http://www.nickjr.tv/shimmer-and-shine

Avengers: Endgame (2019)

Bulan ini semua mata tertuju pada Marvel Studio yang merilis Avengers: Endgame (2019), sebuah akhir dari sebuah semesta film yang sudah berlangsung sejak 2008 lalu sebagaimana sudah saya jelaskan pada Avengers Infinity War (2018). Disana pulalah sudah saya jelaskan mengenai MCU (Marvel Cinematic Universe) dan batu-batu infinity yang menjadi rebutan pada film-film MCU. Penggunaan batu-batu tersebut mencapai puncaknya pada Avengers Infinity War (2018). Penggunaan satu batu saja sudah menimbulkan banyak masalah. Nah pada Avengers Infinity War (2018), Thanos (Josh Brolin) menggunakan 6 batu infinity sekaligus loh.

Akhir dari film Avengers Infinity War (2018) menyisakan tragedi dan banyak pertanyaan. Akhir dari film tersebut memang mengakibatkan tewasnya sebagian besar superhero pada film-film Marvel yang sebagian besar merupakan anggota Avengers. Nah, pada Avengers: Endgame (2019) inilah para superhero yang tersisa berusaha memperbaiki keadaan. 5 tahun berlalu dan mereka terpaksa harus melanjutkan hidup dengan penuh penyesalan.

Hhhmmm, bagi teman-teman yang mengikuti semua film superhero Marvel sejak 2008 lalu, pasti menyadari bahwa tidak semua superhero Marvel atau MCU hadir pada Avengers Infinity War (2018). Ant-Man (Paul Rudd) dan Hawkeye (Jeremy Renner) absen tanpa alasan yang jelas. Hawkeye ternyata memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan Avengers dam memilih untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Ia pun menjadi tahanan rumah setelah perbuatannya pada Captain America: Civil War (2016). Ulah Thanos pada Avengers Infinity War (2018), membuat Hawkeye berubah menjadi liar dan kejam. Versi gelap Hawkeye ini, kalau di komik namanya Ronin. Entah mengapa, saya lebih suka dengan Hawkeye yang baru ini ;).

Senasib dengan Hawkeye, Ant-Man pun menjadi tahanan rumah dan hidup dengan anak semata wayangnya. Tapi sebagaimana dikisahkan pada Ant-Man and the Wasp (2018), Ant-Man terperangkap di dalam dunia kuantum ketika Thanos menggunakan kekuatan 6 batu infinity. Ant-Man kembali ke dunia, 5 tahun setelah peristiwa pada Avengers Infinity War (2018). Ia datang membawa harapan, sebuah kesempatan kedua bagi para superhero untuk kembali meraih kemenangan. Mereka berencana untuk menggunakan dunia kuantum sebagai gerbang menuju masa lalu. Whah, Avengers mau merubah masa depan? Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan perjalanan menembus waktu sebagai salah satu temanya, Avengers: Endgame (2019) memilih untuk mengisahkan perjalanan waktu dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Sebuah hal yang kreatif, karena Avengers: Endgame (2019) menganut faham bahwa kita tidak akan dapat mengubah masa depan dengan datang mengacak-acak masa lalu ;).

Lohhh, tunggu sebentar, bagaimana dengan Captain Marvel? Bukankah ia termasuk superhero yang absen pada Avengers Infinity War (2018) dan baru hadir lagi pada Avengers: Endgame (2019)? Di luar dugaan saya, peranan Captain Marvel yang kekuatannya dahsyat seperti Superman, tidak terlalu menonjol di sini.

Well, fokus Avengers: Endgame (2019) ini bukanlah superhero yang film solonya baru satu seperti Kapten Marvel. Fokus film ini adalah anggota tetap Avengers yang sudah lama ada dan menjadi simbol dari MCU selama ini. Sebuah akhir dari perjalanan panjang selama 11 tahun dan 22 film MCU. Saya melihat banyak adegan yang mengharukan pada film Avengers: Endgame (2019), sesuatu yang belum pernah saya alami ketika menonton film superhero.

Selama film ini berlangsung, para anggota Avengers berkelana kembali ke masa lalu yang pernah dikisahkan oleh film-film MCU sebelumnya. Bagi penonton yang sudah menonton semua film MCU sebelum Avengers: Endgame (2019), pendekatan ini penuh nostalgia dan sangat kreatif karena mereka menggunakan latar belakang kejadian-kejadian dari film MCU lain tapi dari sudut pandang yang berbeda :D.

Selain itu, kenyataan bahwa pada Avengers: Endgame (2019) ini tidak ada superhero yang pasti akan selamat. Semua memiliki kemungkinan akan gugur entah bagaimana caranya ;). Sesuatu hal yang membuat saya penasaran sampai akhir, siapa yaaa yang akan gugur lagi? Siapa pula yaaa yang akan hidup kembali? Hohohoho. Akhir dari film ini cukup mengharukan dan di luar perkiraan saya.

Karena Avengers: Endgame (2019) merupakan bagian dari MCU yang terdiri dari berbagai film, tentunya ada beberapa bagian dari Avengers: Endgame (2019) yang asal muasalnya dikisahkan pada film lain di dalam MCU. Tapi saya rasa Avengers: Endgame (2019) cukup komunikatif bagi penonton yang belum menonton semua film-film MCU. Toh semua film yang termasuk MCU memang berkaitan tapi sifatnya berdiri sendiri, jadi bukan film bersambung macam sinetron Indonesia. Kalaupun mau mengetahui hal-hal vital yang menjadi dasar dari Avengers: Endgame (2019), saya rasa penonton awam tidak perlu menonton semua film MCU, mereka cukup menonton atau mengingat peristiwa pada The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of the Galaxy (2014), Avengers Age of Ultron (2015), dan tentunya Avengers Infinity War (2018).

Durasi film yang hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya kebosanan di dal gedung bioskop. Film yang satu ini memang memiliki banyak hal yang perlu dan patut untuk dikisahkan. Semua kisah-kisah tersebut didukung dengan special effect dan adegan aksi yang keren. Sayang sekali kalau dilewatkan karena kebelet atau pegal duduk di kursi. Sebaiknya pergilah ke toilet sebelum menonton Avengers: Endgame (2019) :’D.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avengers: Endgame (2019) nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Avengers: Endgame (2019) merupakan akhir sekaligus awal. MCU masih akan terus ada, tanpa kehadiran beberapa tokoh yang selama ini sudah menjadi maskot sinematik terbesar dunia ini. Kita lihat saja, apakah superhero-superhero baru yang belakangan ini diperkenalkan, mampu meneruskan kesuksesan MCU.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Sofia the First

Seperti pernah saya bahas pada Frozen (2013), Walt Disney sudah memiliki banyak film putri-putrian. Nah untuk pertama kalinya, Disney memiliki putri yang masih kecil sekali. Sofia (Ariel Winter) pada film seri anak Sofia the First merupakan putri termuda yang dimiliki Disney. Ia dikisahkan sebagai anak biasa yang tiba-tiba menjadi anggota keluarga kerajaan Enchancia setelah ibunya, Miranda (Sara Ramirez) menikahi Raja Rolland II (Travis Willingham). Tidak hanya memiliki ayah tiri baru, kini Sofia memiliki 2 kakak tiri baru yaitu si kembar, Pangeran James (Zach Callison) dan Putri Amber (Darcy Rose Byrnes). Pada awal-awal episodenya, Putri Amber sepertinya akan menjadi tokoh antagonis. Tapi lama kelamaan, Putri Amber mau menerima Sofia sebagai sudaranya. Disney nampaknya ingin mengajarkan bahwa saudara tiri atau orang tua tiri itu, belum tentu jahat loh.

Saya masih ingat film-film Indonesia era 80-an yang selalu menokohkan saudara tiri dan orang tua tiri sebagai pribadi yang jahat. Ini adalah anggapan salah yang sudah seharusnya dihapuskan. Menanamkan nilai ini sejak kecil, adalah hal yang baik bagi anak-anak.

Selain itu, Sofia the First pun mengajarkan bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang melawan kejahatan dan rintangan apapun heheheh, sesuatu yang kelise sih. Sofia memang selalu berhasil menyelesaikan segala masalah yang ada dengan kebaikan, kedewasaan dan kegigihannya. Selain Putri Amber, ada beberapa karakter lain yang pada awalnya berniat jahat kepada Sofia, lalu kemudian luluh dan menjadi teman Sofia. Padahal Sofia tidak memiliki kekuatan apa-apa loh, ia hanya berbekal kalung ajaib yang dapat membuatnya berkomunikasi dengan binatang.

Putri-putri Disney yang lain, terkadang mengunjungi Sofia untuk memberikan bimbingan. Cinderella, Yasmin, Mulan, Belle, Ariel, Aurora, Putri Salju, Rapunzel dan Tiana, pernah hadir mengunjungi Sofia. Permasalahan yang Sofia hadapi memang terkadang agak pelik dan hampir tidak mungkin diselesaikan oleh anak sekecil Sofia. Tapi yaaaah, semua dapat selesai dan selalu ada akhir bahagia di sana. Semua serba mudah ditebak sehingga cerita pada serial ini agak membosankan bagi penonton dewasa.

Tapi penonton cilik sepertinya akan senang melihat Sofia the First yang menggunakan kerajaan Eropa sebagai latar belakangnya. Tentunya ada tambahan unsur sihir, kuda terbang dan hal-hal ajaib di mana-mana. Semua disajikan dengan animasi yang cantik dan nyanyian yang penuh kegembiraan.

Menelaah semua hal di atas, saya rasa Sofia the First masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah.

Sumber: disneynow.go.com/shows/sofia-the-first

Serial Diva

Berawal dari mencari tontonan yang sehat dan berbahasa Indonesia bagi anak, saya menemukan beberapa video singkat produksi PT. Kastari Sentra Media, sebuah perusahaan lokal yang memproduksi konten-konten anak-anak. Mereka menayangkan konten mereka di Youtube, Vidio dan kepingan VCD. Video singkat mereka yang saya lihat adalah video Diva dan Pupus yang belajar huruf hijaiyah, berdoa dan menyanyi. Ini adalah tontonan yang sehat bagi anak muslim Indonesia.

Kemudian, sepertinya pihak Kastari membuat serial yang lebih plural dan dapat dinikmati oleh anak-anak dari berbagai agama dan suku yaitu Diva The Series atau Serial Diva. Tokoh utamanya masih Diva dan kuncingnya, Pupus Kanopus. Di sini, Diva Cantika Putri yang asli Banten dan beragama Islam, sehari-hari bermain bersama-sama dengan teman-temannya yang berasal dari agama dan suku yang berbeda. Ada┬áMona “Mona” Dariani yang orang tuanya berasal dari Yogyakarta, Febiola “Febi” Hatumena yang orang tuanya berasal dari Ambon, Putu Surya Nugraha yang orang tuanya berasal dari Denpasar, Tomi “Tomi” Bagaskara yang orang tuanya berasal dari Jakarta. Diva, Tomi dan Mona, beragama Islam. Febi beragama Kristen. Sedangkan Putu beragama Hindu. Mereka mengajarkan bahwa kita semua dapat bersahabat walaupun memiliki perbedaan suku dan agama, jangan mau kalah dengan anak-anak ah.

Tidak hanya suku dan agama, masing-masing karakter memiliki sifat yang berbeda. Sebuah hal yang pasti akan anak-anak kita hadapi di dunia nyata. Mona hobinya makan dan sering menghabiskan uang jajannya untuk makanan, Putu suka menolong tapi terkadang agak pelit, Tomi manja dan kadang mau menang sendiri, Febi ramah dan suka berbagi. Diva sendiri memiliki sifat yang lebih stabil dan ada di tengah-tengah, tidak terpolar seperti teman-teman lainnya. Cerita dan konflik yang dihadirkan terbilang mendidik dan menghibur bagi anak-anak. Sepengetahuan saya, tidak ada konten dewasa pada serial yang satu ini. Semuanya dibungkus dalam bahasa Indonesia dan latar belakang yang sangat Indonesia sekali.

Hanya saja, dari segi animasi, memang wujud Serial Diva ini masih terbilang sederhana untuk kartun keluaran baru. Tidak bisa dibilang jelek, tapi tidak bisa juga dibilang bagus. Jangan bandingkan dengan animasinya Ipin dan Upin yang budgetnya besar yaaa.

Menurut saya, Serial Diva yang berbahasa Indonesia ini pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Di tengah-tengah gempuran film kartun asing, konten lokal seperti ini rasanya layak untuk didukung ;).

Sumber: kastarianimation.com

Monster High: Electrified (2017)

Sejak 1959, Mattel sudah terkenal dengan produk boneka Barbie-nya. Sampai sekarang, Barbie sudah memiliki banyak varian untuk menghadapi persaingan dari merk boneka-boneka lain. Nah, pada 2010 lalu, Mattel meluncurkan produk boneka yang mengusung tema horor, yaitu Monster High. Untuk mendukung penjualan boneka-bonekanya, setiap tahun, ditelurkanlah beberapa film lepas Monster High. Hampir di setiap film, terdapat baju atau aksesoris baru yang akan dijual dalam versi bonekanya.

Pada awalnya, film-film Monster High bersegmen untuk ABG yaaa, karena ada cerita pacar-pacaran segala. Saya sendiri harus menyensor beberapa bagian film tersebut dari mata anak saya yang masih balita. Untunglah, pada 2016, Mattel melakukan reboot melalui Welcome to Monster High (2016), demi menggapai konsumen yang lebih muda. Animasi dan karakternya dibuat lebih halus, bagus dan ramah anak-anak.

Setelah pada Welcome to Monster High (2016), dikisahkan asalmula didirikannya Monster High, kisah Frankie Stein (Cassandra Lee Morris) dan kawan-kawan, berlanjut pada Monsster High: Electrified (2017). 5 sahabat yang menjadi tokoh utama Monster High kembali bertemu pada film ini. Siapa sajakah mereka? Ada Frankie Stein, Draculaura (Debi Derryberry), Clawdeen Wolf (Salli Saffioti), Lagoona Blue (Larissa Gallagher) dan Cleo de Nile (Salli Saffioti). Frankie Stein adalah anak dari monster buatan Frankestein yang cerdas dan sensutif terhadap listrik . Draculaura adalah anak dari Dracula yang dapat berubah menjadi kelelawar. Clawdeen adalah bagian dari sekelompok serigala jadi-jadian yang memiliko banyak adik laki-laki. Lagoona adalah anak dari monster Gill-man dan Nymph yang dapat bergerak cepat dan senang hidup di laut. Cleo adalah mumi dari seorang raja Mesir yang kuat.

Nah, pada Monster High: Electrified (2017), kelimanya bermaksud membuka salon dan toko baju di sebuah bekas pambangkit listrik. Mereka ingin membuka usaha mereka bagi monster dan manusia. Melalui busana dan gaya monster yang mereka usung, mereka berharap agar manusia dapat lebih menerima para monster terlepas semua perbedaan yang mereka miliki. Tanpa mereka ketahui, di bagian bawah bangunan tersebut, Moanica (Cristina Milizia) berusaha menggagalkan niat baik Frankie Stein dan kawan-kawan.

Sebagai pemimpin dari kaum zombie, Moanica memiliki cukup banyak pasukan zombie untuk menjalankan rencananya. Frankie yang agak curiga dengan gerak-garik Moanica, meminta Tywla (Jonquil Goode) untuk diam-diam menyelidiki. Twyla dapat dengan mudah mengikuti gerak-gerik para zombie karena Twyla adalah putri dari Boogeyman yang dapat menghilang dari penglihatan para zombie.

Ceritanya sangat sederhana dan mudah ditebak. Pesan moralnya berkutat pada persamaan dan persahabatan antara manusia dan monster. Sayang, demi alasan komersil, ada beberapa cerita tambahan yang terkesan dipaksakan supaya ada. Semakin banyak karakter yang muncul, semakin banyak pula varian boneka yang dapat dijual ;).

Tapi, film yang satu ini tetap menjadi film Monster High putri pertama saya. Semua karena make-up dan pakaian listrik yang tokoh-tokoh utama kenakan. Animasi dan karakter yang lebih cantik dan tidak terlalu garang memang berhasil memikat anak-anak.

Saya rasa Monster High: Electrified (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Pada film Monster High anyar ini, kandungan dewasanya memang sudah dihilangkan, tapi kalau boleh jujur, konsep cerita film-film Monster High lawas terasa lebih “masuk akal”.

Sumber: play.monsterhigh.com

Serial Paw Patrol

Film seri anak Paw Patrol bercerita mengenai petualangan Ryder (Jaxon Mercey) dan keenam anjingnya. Keenam anjing Ryder dapat berbicara dan dilengkapi oleh tas punggung dan kendaraan super canggih. Masing-masing anjing memiliki spesialisasi tertentu, jadi kendaraan dan perlengkapan yang mereka bawa tidaklah sama. Ada Chase (Max Calinescu) yang keahliannya terkait polisi dan mata-mata. Lalu ada Marshall (Drew Davis) yang keahliannya terkait pemadam kebakaran dan paramedis. Kemudian ada Skye (Kallan Holley) yang keahliannya terkait dunia penerbangan. Turut serta ada Zuma (Alex Thorne) yang keahlianya terkait wilayah perairan. Lalu ada Rubble (Devan Cohen) yang keahliannya terkait konstruksi. Terakhir ada Rocky (Samuel Faraci) yang keahliannya terkait daur ulang. Pada perkembangan cerita selanjutnya, terdapat pula beberapa anjing lain yang membantu Ryder seperti Everest (Berkley Silverman) yang keahliannya terkait salju dan Tracker (David Lopez) yang keahliannya terkait kehutanan. Paw Patrol memang mengambil latar belakang sebuah dunia dimana anjing-anjing dapat berbicara dan memiliki keahlian tertentu untuk membantu manusia yang memeliharanya.

Memang apa sih yang sehari-hari Ryder lakukan? Ryder melakukan segala jenis pertolongan, mulai dari mengantarkan peliharaan yang hilang, menolong kucing yang terjebak di atas pohon, sampai mencari benda yang hilang. Jadi film ini lebih fokus ke arah “menolong”. Bukan menumpas kejahatan seperti film superhero atau polisi-polisian. Kalaupun ada tokoh antagonis, itupun minor dan tidak nampak terlalu jahat.

Ceritanya cukup mendidik, aman ditonton anak kecil dan mudah dipahami. Tapi, kadang cerita yang Paw Patrol angkat seakan terkesan memudahkan dan sedikit asal-asalan. Saya sering sekali menemukan “lubang-lubang” di dalam ceritanya. Ok saya tahu target penonton Paw Patrol memang anak kecil dan dunia Paw Patrol adalah dunia khayalan. Tapi mbok ya alur logika berfikirnya jangan terlalu melompat. Contoh ya, misalkan Paw Patrol harus mengantarkan kucing ke kota. Jalan ke kota ada ke kiri dan ke kanan. Mereka dikisahkan, memilih untuk belok kiri tanpa alasan yang jelas. Ada apa kalau belok kanan tidak dikisahkan dengan gamblang padahal jalan ke kanan itu lebih dekat dan aman, aneeeeeeeh.

Tapi, bagaimanapun juga, animasi yang lucu dan menarik berhasil memikat anak sehingga serial anak yang satu ini berhasil menjadi salah satu serial favorit anak saya :’D. Paw Patrol layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pawpatrol.com