Serial Doc McStuffins

Berhubung film yang akhir-akhir ini saya tonton adalah film anak, jadi hari ini saya akan kembali membahas salah satu film seri anak yang saya dan putri saya tonton. Kali ini, giliran film seri Doc McStuffins, sebuah film seri produksi Walt Disney.

Kalau dililihat dari segi gambar, film seri ini terbilang lumayan baguslahhhh untuk film seri yang mulai muncul sejak tahun 2012. Pada setiap episodenya terdapat nyanyian-nyanyian yang lumayan enak untuk didengar. Nah bagaimana kalau dilihat dari segi cerita? Sesuai judulnya, film seri ini mengisahkan kegiatan sehari-hari seorang anak kulit hitam bernama Dottie McStuffins (Kiara Muhammad). Pada suatu hari, nenek Dottie memberikan Dottie stetoskop dokter yang sekilas seperti mainan anak. Ternyata stetoskop tersebut adalah stetoskop ajaib yang dapat membuat mainan-mainan di sekitar Dottie menjadi hidup. Dengan berkomunikasi dengan mainan-mainan tersebut, Dottie dapat menetapkan sebuah diagnosa ketika ada mainan yang rusak atau sakit. Inilah awal mula Dottie mendapat sebutan Doc.

Pada perkembangan cerita berikutnya, sang nenek kembali mengunjungi Doc dengan membawa jam tangan ajaib. Dengan jam tangan ini, Doc dapat berkelana ke Kota McStuffinsville yang dihuni oleh berbagai mainan. Ini adalah kota tempat para mainan dapat menjadi dirinya sendiri. Di tengah kota tersebut, berdiri Rumah Sakit McStuffinsville tempat dimana berbagai mainan dari penjuru dunia datang untuk berobat. Setiap mainan yang sakit atau rusak, dapat pergi menuju kotak portal untuk masuk ke dalam UGD Rumah Sakit McStuffinsville.

Dimanapun Doc singgah, ia siap menolong mainan yang rusak. Kerusakan-kerusakan yang muncul, terbilang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Para penonton cilik diajarkan agar tidak takut dengan dokter dan rumah sakit. Berbagai pesan moral lain yang dihadirkan pun cukup beragam pada setiap episodenya.

Sayang sekali, ada 1 episode yang kontroversial, yaitu episode “In Case if an Emergency” pada musim ke-4. Pada episode ini, ditampilkan seorang anak yang memilki 2 ibu-ibu sebagai orang tuanya. Sekilas memang nampak tidak ada yang salah, tapi kalau ditelaah lebih dalam lagi, apakah ini berarti ada pasangan lesbian pada film seri anak-anak ini? Saya pribadi tidak memusuhi kaum LGBT, tapi konsep LGBT janganlah diperkenalkan secepat ini kepada anak-anak kecil. Untunglah hal ini terjadi hanya pada 1 episode itu saja sehingga hal ini tidak terlalu terlihat. Andaikata hal ini diulangi terus menerus, sudah pasti saya memilih untuk melarang anak saya untuk menonton Doc McStuffins.

Dengan animasi yang lumayan bagus, nyanyian yang bagus dan pesan moral yang baik (kecuali di 1 episode), saya menilai Doc McStuffins pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan lupa untuk mendampingi anak-anak ketika menonton film seri yang 1 ini, ceritanya lumayan menghibur orang dewasa juga kok.

Sumber: disneynow.go.com/shows/doc-mcstuffins

Iklan

Hellboy (2019)

Banyak yang bertanya-tanya apakah Hellboy masuk ke dalam deretan superhero DC Comics atau Marvel Comics? Yah, jawabannya bukan keduanya :P. Dark Horse Comics adalah penerbit dari buku-buku komik Hellboy. Dari buku, superhero yang saty ini sudah 2 kali hadir di layar lebar melalui Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008) yang disutradarai oleh Guillermo del Toro. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan kedua film Hellboy tersebut, keduanya mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus. Hal ini membawa angin segar bagi film ketiga Hellboy.

Tak terasa 10 tahun berlalu sejak Hellboy II: The Golden Army (2008) dirilis. Film ketiga Hellboy yang sedang digarap, mengalami pergantian sutradara dan pemeran utama. Alih-alih menjadi sebuah trilogi, Hellboy justru mengalami reboot. Hellboy (2019) akan menjadi awal baru bagi franchise superhero yang satu ini.

Berbeda dengan Hellboy (2004), asalmula hadirnya Hellboy (David Harbour) tidak dikisahkan pada bagian awal film. Sejak bagian awal film, Hellboy dikisahkan sudah bekerja pada B.P.R.D. (Bureau for Paranormal Research and Defense) bersama dengan ayah angkatnya, Tevor Bruttenholm (Ian McShane). Sebagai bagian dari B.P.R.D. , Hellboy memburu berbagai hal-hal supranatural yang dapat merusak perdamaian di Bumi. Semua ia lakukan dengan menggunakan kekuatan fisiknya plus pistol di tangan kiri dan tangan tangannya yang sangat keras.

Dari berbagai perkelahian dan konflik yang Hellboy lalui, ia mendapatkan banyak musuh terutama dari kaum monster dan supranatural. Kali ini ia harus berhadapan dengan seorang musuh lama yang berusaha membangkitkan Vivian Nimue Sang Ratu Darah (Milla Jovovich). Siapakah Nimue itu? Ia merupakan seorang penyihir yang konon tidak dapat dibunuh sehingga akhirnya penyihir tersebut dimutilasi dan bagian-bagian tubuhnya disembunyikan di berbagai penjuru dunia. Kehadiran Nimue dahulu dimusuhi oleh manusia karena manusia tidak ingin para monster dapat hidup bebas di permukaan Bumi. Masalahnya, bukankan Hellboy sendiri berasal dari golongan yang manusia anggap sebagai monster? Manusia mana yang tidak takut melihat wujud Hellboy.

Konflik yang Hellboy hadapi kali ini merupakan konflik klasik ala Hellboy. Bagi yang sudah membaca buku komik Hellboy, tentunya sudah mengetahui bahwa Hellboy merupakan campuran antara keturunan raja manusia dan iblis yang lepas dari neraka. Tanduk patah dan tangan keras yang Hellboy miliki bukanlah hal yang sepele. Keduanya merupakan bagian dari sebuah kekuatan dahsyat yang terpendam di dalam diri Hellboy. Banyak yang meramalkan bahwa Hellboy ditakdikan untuk membawa neraka ke Bumi dengan tanduk yang sudah pulih dan tangan kerasnya memegang leher naga yang ia tunggangi. Apakah Hellboy akan tetap menjaga Bumi atau mengikuti ramalan orang lain?

Sebuah pertanyaan yang sedikit banyak sudah dapat ditebak jawabannya :’D. Saya tidak melihat banyak kejutan atau twist pada Hellboy (2019). Jalan ceritanya banyak dibubuhi oleh masa lalu Hellboy yang dikisahkan dengan sangat jelas. Beberapa flashback pada film ini sangat detail dan tidak membingungkan. Saya tidak menemukan masalah di sana, karena tidak semua penonton sudah membaca komik Hellboy bukan?

Bagaimana dengan adegan aksinya? Film superhero komik mana sih yang tidak ada adegan aksinya. Di luar dugaan, adegan aksinya sangat menghibur dan seperti sungguhan karena hadirnya beberapa adegan … sadis. Wow, sadis? Yaaaa, Hellboy (2019) penuh dengan adegan sadis yang tidak pantas untuk disaksikan oleh anak-anak. Pada beberapa bagian aksi dan perkelahian, adegan sadis tersebut memang berhasil menambah keseruan pada Hellboy (2019). Tapi pada beberapa bagian lainnya, saya merasa bahwa adegan sadis pada Hellboy (2019), bukanlah hal yang perlu dan justru membuat saya mual. Sang sutradara sedikit kelebihan dalam membubuhkan adegan gory atau sadis pada Hellboy (2019).

Walaupun adegan sadisnya agak banyak, saya lebih menikmati Hellboy (2019) dibandingkan Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008). Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Hellboy (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisa ditebak bagaimana nilai saya terhadap Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), sopasti di bawah 3 hohoho.

Sumber: http://www.hellboy.movie

Serial Blaze and the Monster Machines

Serial animasi anak Blaze and the Monster Machine mengisahkan petualangan Blaze (Nolan North), sebuah monster truck yang dapat berbicara. Apa itu monster truck? Sebuah truk 4WD dengan suspensi berkualitas tinggi dan ban raksasa seperti dapat dilihat pada pertunjukan Monster Jam di Amerika sana.

Blaze biasa mengikuti perlombaan dengan monster truck lainnya seperti Stripes (Sunil Malhotra), Darington (Alexander Polinsky), Starla (Kate Higgins), Zeg (James Patrick Stuart) dan Watts (Melanie Monichino). Tak ketinggalan Crusher (Kevin Michael Richardson), si biang rusuh, selalu mengikuti perlobaan bersama Blaze, dan selalu berbuat onar. Crusher sering sekali menjadi tokoh antagonis pada film seri ini. Di luar arena balap pun, Crusher sering berbuat onar dan menghambat perjalan Blaze dan kawan-kawan. Pada setiap episodenya, Blaze diharuskan bepergian menuju ke suatu tempat, tapi perjalanannya dihambat oleh Crusher atau karakter antagonis lain.

Pada mayoritas episode film seri ini, Crusher selalu menjadi antagonis yang mengeluarkan berbagai benda untuk menghambat Blaze. Blaze pun mengeluarkan berbagai benda atau melakukan modifikasi atau melakukan aksi demi menghadapi hambatan yang muncul. Pemecahan masalah yang Blaze lakukan, disajikan secara interaktif dengan penonton. Semuanya mengandung sains, teknologi dan matematika. Saya sendiri sering membimbing anak saya untuk mengikuti kontem edukasi yang dihadirkan. Konten pendidikan pada Blaze and the Monster Machine, sepertinya ditujukan untuk anak-anak berumur 3 sampai 6 tahun.

Sayang kalau dilihat dari segi cerita, latar belakag film seri ini agak absurd. Jadi Blaze itu hidup disebuah dunia, dimana bumi dihuni oleh monster truck dan semua mahluk hidup lainnya termasuk binatang, selalu menggunakan roda, bukan kaki. Loh bagaimana dengan manusianya? Penampakan kota dimana Blaze tinggal, seolah seperti kota dimana manusia tinggal, hanya saja …. hampir tak ada manusia yang terlihat. Sepengetahuan saya, hanya ada 2 manusia pada serial ini, yaitu AJ (Dusan Brown) dan Gabby (Angelina Wahler). Gabby adalah montir para monster truck, sedangkan AJ adalah pengemudi Blaze. Loh, kalau begitu bagaimana dengan monster truck lainnya? Mereka semua dapat berjalan sendiri tanpa manusia sebagai pengemudinya. Loh kalau begitu kenapa Blaze dikemudikan oleh AJ???

Banyak hal lain pada film ini yang dapat diperdebatkan kalau dilihat oleh orang dewasa. Tapi hal tersebut nampaknya tidak berarti apa-apa dihadapan anak kecil :D. Olehkarena itulah saya masih dapat memberikan Blaze and the Monster Machine nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Blaze and the Monster Machine bukan hanya berisi hiburan saja, tapi ada unsur edukasi di dalamnya.

Sumber: http://www.nickjr.tv/blaze-and-the-monster-machines

Serial Larva

Kali ini saya akan membahas salah satu film seri animasi asal Korea Selatan yang saat ini sedang banyak diputar di TV lokal kita yaitu Larva. Tokoh utama film ini ada 2 ekor ulat mungil yang pada awalnya hidup di tengah kota New York. Kesuksesan serial ini menarik perhatian Netflix sehingga mereka mereka “mengambil” Larva dan mengubah latar belakang serial ini menjadi sebuah pulau.

Keunikan dari serial ini tentunya adalah bagaimana kedua tokoh utama berinteraksi di tengah-tengah lingkungan yang seolah-olah besar, padahal aslinya kecil. Red dan Yellow adalah 2 ulat yang menjadi tokoh utama pada serial ini. Red yang berbadan mungil, bersifat pemarah dan serakah. Sedangkan Yellow adalah ulat yang selalu bahagia dan cuek, tapi agak jorok. Nah kejorokan Yellow-lah yang sering membuat saya tertawa. Yellow sering munggunakan kentut dan ingus untuk hal yang aneh-aneh :’D. Selain itu, Larva sering kali mengambil latar belakang yang memang kotor sifatnya, seperti tong sampah, kotak bekas makanan dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Larva, relatif kurang cocok ditonton sendirian oleh anak kecil. Sebaiknya ada orang dewasa yang mendampingi dan memberi bimbingan.

Humor gelap dan slapstick pada serial ini tentunya tidak baik apabila mentah-mentah ditiru oleh anak-anak. Tapi sejujurnya, humor gelap dan slapstick yang dihadirkan Larva sukses menghibur saya. Biasanya saya kurang suka dengan slapstick, tapi slapstick yang ditampilkan Larva, memang terbilang lucu. Larva sukses besar kalau dilihat dari sisi hiburan. Tapi pesan moral yang ditampilkan yaaaa memang relatif minim.

Walaupun menghadirkan beberapa adegan yang kurang pas untuk ditonton anak kecil sendirian, Larva masih layak untuk ditonton anak-anak kok. Tidak ada adegan sadis atau porno di sana. Slapstick yang dihadirkan jauh dari kata parah kalau dibandingkan denga Tom & Jerry atau Oggy and the Cockroaches. Film kartun yang satu ini memiliki rentang umur pemirsa yang cukup lebar. Tua dan muda pasti tertarik dan tidak kebosanan ketika menonton Larva. Saya rasa Larva pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.larva.re.kr

Serial Shimmer and Shine

Film animasi anak Shimmer and Shine mengisahkan kehidupan 2 jin yang tinggal di Negeri Zahramay Falls, Shimmer (Eva Bella) dan Shine (Isabella Cramp). Mirip seperti kisah Aladin, setiap jin dapat mengabulkan permintaan tuannya. Hanya saja, untuk Shimmer dan Shine, keduanya memiliki 1 tuan, yaitu Leah (Alina Voley). Setiap hari, Leah dapat meminta 3 permintaan kepada Shimmer dan Shine, wuuuuah, asyik duong.

Eits, jangan senang dulu, Shimmer dan Shine sering sekali melakukan kesalahan ketika mengabulkan permintaan Leah, yaaah namanya juga jin anak-anak :’D. Bukan hanya Shimmer dan Shine, Leah pun masih anak-anak dan sering kali melalukan kesalahan ketika mengucapkan permintaan. Hal ini terkadang membuat keadaan semakin kacau dan permasalahan justru tidak selesai. Mereka pada akhirnya harus berusaha bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Di sini penonton cilik diajarkan untuk tidak takut berbuat salah dan mau memaafkan. Pada dasarnya, itulah pesan moral yang hampir selalu ada di film seri anak-anak ini.

Film ini pun bebas hal-hal yang berbau dewasa dan adegan kekerasan. Tokoh antagonisnya pun dibuat tidak terlalu jahat. Zeta (Lacey Chabert) adalah penyihir yang berambisi untuk menjadi penyihir terkuat di Zaramey Falls. Ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tuhuannya. Karakter ini tidak nampak terlalu jahat karena kehadiran naga mungil peliharaannya yaitu Nazboo. Tingkah lucu dan konyol Nazboo sering kali membuat rencana Zeta gagal. Tapi apapun yang terjadi, Zeta tetap menyayangi naga mungilnya.

Jujur saja, Nazboo adalah tokoh favorit saya pada Shimmer and Shine. Jalan cerita yang sangat sederhana, tentunya membuat penonton dewasa, agak bosan. Sumpah ini sebenarnya termasuk film seri paling membosankan yang sering saya tonton hehehehehe. Tingkah Nazboo terkadang dapat menjadi sedikit penyegar ketika saya menemani putri saya menonton Shimmer and Shine.

Film seri produksi Nickelodeon ini berhasil menarik anak saya karena gambar yang imut. Semuamuanya didominasi dengan warna pink dan ungu. Kemudian film ini banyak pula menampilkan sparkle atau bling-bking yang gemerlap, yaaah pokoknya perempuan sekalilahhh. Plusss, ada lagu dan tarian ala Bollywood yang menarik.

Dengan demikian, saya rasa film seri anak Shimmer and Shine layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bersiaplah untuk diminta membelikan boneka Shimmer dan Shine, sebab bonekanya sudah banyak beredar di toko mainan :’D.

Sumber: http://www.nickjr.tv/shimmer-and-shine

Avengers: Endgame (2019)

Bulan ini semua mata tertuju pada Marvel Studio yang merilis Avengers: Endgame (2019), sebuah akhir dari sebuah semesta film yang sudah berlangsung sejak 2008 lalu sebagaimana sudah saya jelaskan pada Avengers Infinity War (2018). Disana pulalah sudah saya jelaskan mengenai MCU (Marvel Cinematic Universe) dan batu-batu infinity yang menjadi rebutan pada film-film MCU. Penggunaan batu-batu tersebut mencapai puncaknya pada Avengers Infinity War (2018). Penggunaan satu batu saja sudah menimbulkan banyak masalah. Nah pada Avengers Infinity War (2018), Thanos (Josh Brolin) menggunakan 6 batu infinity sekaligus loh.

Akhir dari film Avengers Infinity War (2018) menyisakan tragedi dan banyak pertanyaan. Akhir dari film tersebut memang mengakibatkan tewasnya sebagian besar superhero pada film-film Marvel yang sebagian besar merupakan anggota Avengers. Nah, pada Avengers: Endgame (2019) inilah para superhero yang tersisa berusaha memperbaiki keadaan. 5 tahun berlalu dan mereka terpaksa harus melanjutkan hidup dengan penuh penyesalan.

Hhhmmm, bagi teman-teman yang mengikuti semua film superhero Marvel sejak 2008 lalu, pasti menyadari bahwa tidak semua superhero Marvel atau MCU hadir pada Avengers Infinity War (2018). Ant-Man (Paul Rudd) dan Hawkeye (Jeremy Renner) absen tanpa alasan yang jelas. Hawkeye ternyata memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan Avengers dam memilih untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Ia pun menjadi tahanan rumah setelah perbuatannya pada Captain America: Civil War (2016). Ulah Thanos pada Avengers Infinity War (2018), membuat Hawkeye berubah menjadi liar dan kejam. Versi gelap Hawkeye ini, kalau di komik namanya Ronin. Entah mengapa, saya lebih suka dengan Hawkeye yang baru ini ;).

Senasib dengan Hawkeye, Ant-Man pun menjadi tahanan rumah dan hidup dengan anak semata wayangnya. Tapi sebagaimana dikisahkan pada Ant-Man and the Wasp (2018), Ant-Man terperangkap di dalam dunia kuantum ketika Thanos menggunakan kekuatan 6 batu infinity. Ant-Man kembali ke dunia, 5 tahun setelah peristiwa pada Avengers Infinity War (2018). Ia datang membawa harapan, sebuah kesempatan kedua bagi para superhero untuk kembali meraih kemenangan. Mereka berencana untuk menggunakan dunia kuantum sebagai gerbang menuju masa lalu. Whah, Avengers mau merubah masa depan? Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan perjalanan menembus waktu sebagai salah satu temanya, Avengers: Endgame (2019) memilih untuk mengisahkan perjalanan waktu dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Sebuah hal yang kreatif, karena Avengers: Endgame (2019) menganut faham bahwa kita tidak akan dapat mengubah masa depan dengan datang mengacak-acak masa lalu ;).

Lohhh, tunggu sebentar, bagaimana dengan Captain Marvel? Bukankah ia termasuk superhero yang absen pada Avengers Infinity War (2018) dan baru hadir lagi pada Avengers: Endgame (2019)? Di luar dugaan saya, peranan Captain Marvel yang kekuatannya dahsyat seperti Superman, tidak terlalu menonjol di sini.

Well, fokus Avengers: Endgame (2019) ini bukanlah superhero yang film solonya baru satu seperti Kapten Marvel. Fokus film ini adalah anggota tetap Avengers yang sudah lama ada dan menjadi simbol dari MCU selama ini. Sebuah akhir dari perjalanan panjang selama 11 tahun dan 22 film MCU. Saya melihat banyak adegan yang mengharukan pada film Avengers: Endgame (2019), sesuatu yang belum pernah saya alami ketika menonton film superhero.

Selama film ini berlangsung, para anggota Avengers berkelana kembali ke masa lalu yang pernah dikisahkan oleh film-film MCU sebelumnya. Bagi penonton yang sudah menonton semua film MCU sebelum Avengers: Endgame (2019), pendekatan ini penuh nostalgia dan sangat kreatif karena mereka menggunakan latar belakang kejadian-kejadian dari film MCU lain tapi dari sudut pandang yang berbeda :D.

Selain itu, kenyataan bahwa pada Avengers: Endgame (2019) ini tidak ada superhero yang pasti akan selamat. Semua memiliki kemungkinan akan gugur entah bagaimana caranya ;). Sesuatu hal yang membuat saya penasaran sampai akhir, siapa yaaa yang akan gugur lagi? Siapa pula yaaa yang akan hidup kembali? Hohohoho. Akhir dari film ini cukup mengharukan dan di luar perkiraan saya.

Karena Avengers: Endgame (2019) merupakan bagian dari MCU yang terdiri dari berbagai film, tentunya ada beberapa bagian dari Avengers: Endgame (2019) yang asal muasalnya dikisahkan pada film lain di dalam MCU. Tapi saya rasa Avengers: Endgame (2019) cukup komunikatif bagi penonton yang belum menonton semua film-film MCU. Toh semua film yang termasuk MCU memang berkaitan tapi sifatnya berdiri sendiri, jadi bukan film bersambung macam sinetron Indonesia. Kalaupun mau mengetahui hal-hal vital yang menjadi dasar dari Avengers: Endgame (2019), saya rasa penonton awam tidak perlu menonton semua film MCU, mereka cukup menonton atau mengingat peristiwa pada The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of the Galaxy (2014), Avengers Age of Ultron (2015), dan tentunya Avengers Infinity War (2018).

Durasi film yang hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya kebosanan di dal gedung bioskop. Film yang satu ini memang memiliki banyak hal yang perlu dan patut untuk dikisahkan. Semua kisah-kisah tersebut didukung dengan special effect dan adegan aksi yang keren. Sayang sekali kalau dilewatkan karena kebelet atau pegal duduk di kursi. Sebaiknya pergilah ke toilet sebelum menonton Avengers: Endgame (2019) :’D.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avengers: Endgame (2019) nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Avengers: Endgame (2019) merupakan akhir sekaligus awal. MCU masih akan terus ada, tanpa kehadiran beberapa tokoh yang selama ini sudah menjadi maskot sinematik terbesar dunia ini. Kita lihat saja, apakah superhero-superhero baru yang belakangan ini diperkenalkan, mampu meneruskan kesuksesan MCU.

Sumber: http://www.marvel.com

Serial Sofia the First

Seperti pernah saya bahas pada Frozen (2013), Walt Disney sudah memiliki banyak film putri-putrian. Nah untuk pertama kalinya, Disney memiliki putri yang masih kecil sekali. Sofia (Ariel Winter) pada film seri anak Sofia the First merupakan putri termuda yang dimiliki Disney. Ia dikisahkan sebagai anak biasa yang tiba-tiba menjadi anggota keluarga kerajaan Enchancia setelah ibunya, Miranda (Sara Ramirez) menikahi Raja Rolland II (Travis Willingham). Tidak hanya memiliki ayah tiri baru, kini Sofia memiliki 2 kakak tiri baru yaitu si kembar, Pangeran James (Zach Callison) dan Putri Amber (Darcy Rose Byrnes). Pada awal-awal episodenya, Putri Amber sepertinya akan menjadi tokoh antagonis. Tapi lama kelamaan, Putri Amber mau menerima Sofia sebagai sudaranya. Disney nampaknya ingin mengajarkan bahwa saudara tiri atau orang tua tiri itu, belum tentu jahat loh.

Saya masih ingat film-film Indonesia era 80-an yang selalu menokohkan saudara tiri dan orang tua tiri sebagai pribadi yang jahat. Ini adalah anggapan salah yang sudah seharusnya dihapuskan. Menanamkan nilai ini sejak kecil, adalah hal yang baik bagi anak-anak.

Selain itu, Sofia the First pun mengajarkan bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang melawan kejahatan dan rintangan apapun heheheh, sesuatu yang kelise sih. Sofia memang selalu berhasil menyelesaikan segala masalah yang ada dengan kebaikan, kedewasaan dan kegigihannya. Selain Putri Amber, ada beberapa karakter lain yang pada awalnya berniat jahat kepada Sofia, lalu kemudian luluh dan menjadi teman Sofia. Padahal Sofia tidak memiliki kekuatan apa-apa loh, ia hanya berbekal kalung ajaib yang dapat membuatnya berkomunikasi dengan binatang.

Putri-putri Disney yang lain, terkadang mengunjungi Sofia untuk memberikan bimbingan. Cinderella, Yasmin, Mulan, Belle, Ariel, Aurora, Putri Salju, Rapunzel dan Tiana, pernah hadir mengunjungi Sofia. Permasalahan yang Sofia hadapi memang terkadang agak pelik dan hampir tidak mungkin diselesaikan oleh anak sekecil Sofia. Tapi yaaaah, semua dapat selesai dan selalu ada akhir bahagia di sana. Semua serba mudah ditebak sehingga cerita pada serial ini agak membosankan bagi penonton dewasa.

Tapi penonton cilik sepertinya akan senang melihat Sofia the First yang menggunakan kerajaan Eropa sebagai latar belakangnya. Tentunya ada tambahan unsur sihir, kuda terbang dan hal-hal ajaib di mana-mana. Semua disajikan dengan animasi yang cantik dan nyanyian yang penuh kegembiraan.

Menelaah semua hal di atas, saya rasa Sofia the First masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah.

Sumber: disneynow.go.com/shows/sofia-the-first