Midsommar (2019)

Sekitar setahun yang lalu saya menonton Hereditary (2018), sebuah film horor karya sutradara Ari Aster. Film tersebut menghasilkan berbagai review yang sangat beragam dan bertolak belakang. Terlepas dari suka atau tidak, film tersebut berhasil mengangkat Ari sebagai sutradara. Maka pada tahun 2019 ini Ari kembali melalui Midsommar (2019). Sebuah film horor yang menurut saya pribadi, lebih unik ketimbang Hereditary (2018) :).

Kisah Midsommar(2019) diawali dengan tragedi yang menimpa keluarga Dani Ardor (Florence Pough). Berbagai “drama” yang Dani alami akibat tragedi tersebut membuat hubungan percintaannya dengan sang kekasih, Christian Hughes (Jack Reynor) mulai renggang. Keduanya nampak berusaha untuk memulihkan hubungan mereka yang semakin dingin. Dani pun sampai tidak mengetahui bahwa Christian dan teman-teman kuliahnya hendak menghadiri festival Midsommar di Swedia. Walaupun ada kecanggungan dan sedikit konflik, Dani yang mahasiswi Psikologi, akhirnya ikut serta menuju Swedia dengan Christian dan rekan-rekannya dari jurusan Antropologi. Di sini terlihat betapa buruknya komunikasi antara Dani dan Christian.

Di Swedia, Dani dan Christian berharap untuk dapat memperbaiki hubungan mereka. Dani pun berharap untuk dapat melupakan & melepaskan kesedihan hidupnya di sana. Sementara itu. Sementara itu rekan-rekan mereka memiliki tujuan yang berbeda, bahkan satu diantaranya justru akan membawa kematian. Apakah mereka semua akan menemukan apa yang mereka cari di Swedia? Ya dan tidak :’D.

Festival Midsommar sendiri sebenarnya merupakan festival yang dilakukan setiap 90 tahun sekali oleh komunitas Hårga di daerah pedalaman Hälsingland, Swedia. Di sana terdapat berbagai nyanyian dan tarian yang unik. Namun, ternyata festival ini memiliki beberapa ritual yang sangat “mengganggu” bagi orang luar seperti Dani dan kawan-kawan. Dari hari pertama saja, sebenarnya sudah terlihat ada hal yang aneh dari festival ini. Tapi pihak komunitas dengan cerdik berhasil membuat Dani dan kawan-kawan untuk tetap tinggal. Cara yang komunitas Hårga lakukan cukup cerdik karena mereka sama sekali tidak menggunakan kekerasan.

Dari luar, komunitas Hårga nampak ramah. Seolah mereka hidup di tengah-tengah tarian, nyanyian dan bunga-bunga yang indah. Gambaran yang ditampilkan sepanjang Midsommar (2019) sangat jauh dari kesan angker atau seram. Semua serba cerah dan ceria. Sepanjang film saya dimanjakan oleh sinematografi yang sangat memukau. Saya kagum bagaimana Ari Aster berhasil memberikan kengerian tanpa harus menggunakan jump scare atau visual yang serba gelap dan muram. Perlu diingat bahwa Midsommar (2019) bukanlah film monster atau horor yang penuh dengan jump scare. Film ini memberikan nuansa horor psikologis yang unik.

Ahhhh sayang, sebenarnya jenis cerita horor seperti ini sudah dapat ditebak kemana arahnya. Dari awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir dari kisah horor ini, tidak ada banyak misteri di sana. Tempo yang sangat lambat dengan jalan cerita yang relatif mudah ditebak, terkadang membuat saya merasa bosan.

Midsommar (2019) mengingatkan saya akan film The Wicker Man (2006), hanya saja Midsommar (2019) beberapa tingkat lebih bagus ketimbang The Wicker Man (2006). Setiap bagian pada Midsommar (2019) memiliki arti tertentu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan setelah selesai menontonnya. Bahkan sekitar 10 menit pertama pun sudah mengandung beberapa hal terkait festival Midsommar loh, padahal itu baru adegan awal saja dimana Dani dan kawan-kawan masih berada di Amerika. Beberapa penonton menganggap bagian awalnya terlalu bertele-tele, padahal di sana ada detail yang dapat menimbulkan spekulasi akan konspirasi yang komunitas Hårga mungkin lakukan.

Sebenarnya Midsommar (2019) relatif lebih bagus ketimbang Hereditary (2018), tapi saya tetap hanya dapat memberikan Midsommar (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Entah mengapa, saya tetap lebih seram dengan cerita horor ala Indonesia. Hanya saja sayang sekali mayoritas film horor Indonesia, belum digarap dengan baik.

Sumber: a24films.com/films/midsommar

Frozen 2 (2019)

Jauh hari sebelum Frozen 2 (2019) muncul, saya sudah mendapatkan himbauan dari sekolah anak saya untuk tidak menonton Frozen 2 (2019) bersama anak. Konon karakter utama Frozen 2 (2019) ikut dihadirkan dalam sebuah acara LGBT. Elsa dikabarkan akan menjadi karakter LGBT pertama Disney. Sebagai pembuat Frozen 2 (2019), Disney memang sudah beberapa kali dikait-kaitakan dengan isu LGBT. Tapi sampai saat ini sudah beberapa kali mentah. Sepertinya beberapa internal pihak Disney memang ingin memberikan pesan keberagaman dan kesetaraan bagi anak-anak, termasuk bagi isu yang agak sensitif seperti LGBT. Tapi sekali lagi, Disney adalah perusahaan komersil, apa mungkin mereka mau mengambil resiko sedemikian besarnya? Apalagi film animasi mendahulu Frozen 2 (2019), yaitu Frozen (2013), dapat dikatakan sebagai revolusi Disney tersukses sepanjang masa. Inilah awal dimana stereotipe kisah putri-putrian dirombak habis dan tetap sukses. Tidak ada lagi pangeran tampan yang gagah perkasa. Sang putri pada Frozen (2013) nampak lebih kuat, berani, pantang menyerah dan mandiri.

Syukurlah karakter Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) pada Frozen 2 (2019) tetap seperti pada Frozen (2013). Anna yang lebih ceplas ceplos, tanpa sadar akan dipinang oleh Kristoff (Jonathan Groff). Yaah sepanjang film, Kristoff berusaha melamar Anna. Walaupun usah dibantu oleh rusa miliknya, Sven, Kristoff tetap mengalami kesulitan. Keadaan memang tiba-tiba berubah menjadi genting dan Anna sibuk memikirkan keselamatan Elsa dan Kerajaan Arendelle.

Elsa yang lebih serius dan tertutup, diam-diam mendengar panggilan dari sebuah tempat misterius. Sebuah panggilan yang ternyata menguak masa lalu keluarga Kerajaan Arendelle. Tanpa saya duga, misteri ternyata menjadi salah satu daya tarik Frozen (2019). Ada misteri yang harus Elsa dan kawan-kawan pecahkan. Saya suka sekali dengan bagaimana film ini membuat saya penasaran. Sayang, plot yang sedikit kompleks ini akan membuat beberapa anak kecik kebingungan akan beberapa bagian dari Frozen 2 (2019). Ahhh tapi hal tersebut pasti tidak akan membuat mereka terlelap karena masih ada Olaf (Josh Gad) yang jenaka dan konyol.

Selain itu, Frozen 2 (2019) juga dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Tapi jangan bandingkan dengan lagu Let It Go pada Frozen (2013) ya. Let It Go memang sebuah lagu yang sangat bagus dan sudah pasti akan sulit ditandingi. Lagu tersebut sangat mendunia bahkan sampai lebih dari 5 tahun setelah Frozen (2013) dirilis. Jadi tidak mengherankan bila Frozen 2 (2019) memiliki variasi lagu yang lebih banyak tapi tak ada satupun yang mampu menandingi Let It Go. Sangat terlihat sekali betapa besar beban yang dipikul oleh tim pembuat Frozen 2 (2019). Mereka berusaha memasukkan banyak sekali variasi lagu pada film ini, sehingga terkadang saya merasa bahwa adegan bernyanyinya kok banyak sekali, terutama pada bagian awal. Ahhh tak apalah, toh anak saya senang sekali menonton nyanyian-nyanyian tersebut ;).

Dari segi visual, animasi Frozen 2 (2019) nampak lebih cantik bahkan bagi film keluaran tahun 2019. Saya suka sekali melihat air dan es yang nampak hidup. Sementara itu penonton wanita sepertinya banyak yang terkesima dengan penampakan Elsa yang semakin menawan. Wah wah wah, siap-siap diminta beli boneka Frozen 2 nih ehehehehe.

Elsa sepertinya tetap akan menjadi tokoh favorit frachise Frozen meskipun rasanya Anna pun layak mendapatkan pujian akan keberanian dan peranannya yang sama besarnya dengan Elsa. Terkadang seseorang dapat berbuat banyak juga loh, walaupun tanpa kekuatan super ;). Pesan moral lain terkait lingkungan hidup, kedamaian dan persaudaran di berikan dengan lebih luas pada Frozen 2 (2019). Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak.

Tapi sayang Frozen 2 (2019) tidak se-“aman” Frozen (2013) karena kalau saya hitung ada 3 kali adegan ciuman antara Anna dan Kristoff. Loh bagaimana dengan Elsa? Elsa yang memang lebih serius terlihat lebih fokus menyingkap misteri yang ada. Ia memang selalu merasa berbeda selama tinggal di Arendelle bukan karena orientasi seksnya menyimpang. Tidak ada 1 adegan pun yang menunjukkan bahwa Elsa suka wanita atau suka pria. Topik romansa Elsa sama sekali tidak dibahas pada Frozen 2 (2019). Jadi fix yaaa, Frozen 2 (2019) bukanlah film animasi LGBT-nya Disney. Bagaimanapun juga Disney butuh uang. Tidak mungkinlah Disney mau mengambil resiko dengan mengangkat topik sesinsitif LGBT pada tambang emas terbesar mereka saat ini, franchise Frozen.

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Frozen 2 (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya rasa inilah satu-satunya film tanpa karakter antagonis yang mendapatkan nilai 4 dari saya. Kalau karakter antagonis pada Frozen (2013) nampak kecil sekali, nah karakter antagonis Frozen 2 (2019) itu bisa dikatakan hampir nol loh. Ternyata, untuk membuat sebuah film yang bagus, karaker antagonis itu tidak harus selalu ada loh.

Sumber: frozen.disney.com

The Greatest Showman (2017)

Mengambil latar belakang Amerika dan Eropa tempo dulu, The Greatest Shiwman (2017) mengisahkan perjalanan Phineas Taylor Barnum (Hugh Jackman) dari seorang anak miskin menjadi raja sirkus yang terkenal di seluruh Amerika dan Eropa. Awalnya, Barnum kecil kehilangan orang tuanya di umur yang sangat belia. Ia pun hidup menggelandang di jalanan.

Berkat kerja keras dan sedikit keberuntungan, Barnum akhirnya dapat menikahi Charity Halllet (Michelle Williams), putri mantan majikan ayah Barnum yang selalu memadang Barnum sebelah mata. Bahkan sampai Barnum memiliki 2 anak pun, hubungannya dengan sang mertua tetap buruk. Barnum menduga bahwa ini dikarenakan finansial Barnum yang kembang kempis. Hal ini diperparah ketika Barnum terkena PHK. Apa yang harus ia lakukan?

Barnum meminjam uang ke Bank dan membuka sebuah Museum lilin yang sepi pengunjung. Kemudian ia melakukan inovasi dengan mengadakan pertunjukan manusia unik di dalam Museumnya. Ada wanita berjenggot, manusia anjing, lelaki tertinggi di dunia, lelaki terberat di dunia, kembar albino, manusia dengan tato diseluruh tubuhnya, manusa kerdil dan lain-lain. Para pekerja Barnum ini memiliki penampilan yang unik sehingga mereka tersingkirkan dari masyarakat pada saat itu. Di sini Barnum terlihat berupaya untuk mengangkat kaum yang tersingkirkan agar dapat berkarya dan diterima di masyarakat.

Cobaan datang ketika pertunjukan Barnum yang kontroversial berhasil memberikannya kekayaan dan kepopuleran. Barnum seakan haus akan pengakuan sampai ia lupa akan tujuan utama ia berbisnis. Bukan pengakuan dari mertuanya, bukan pula demi mengangkat derajat kaum yang tersingkirkan. Melainkan demi kedua anak tercintanya agar kelak mereka tidak mengalami apa yang Barnum kecil alami.

Sekilas The Greatest Showman (2017) terihat seperti sebuah film yang fokusnya berbicara mengenai perbedaan dan kesetaraan. Ahhh, tidak hanya itu, ternyata film ini berbicara pula mengenai keluarga :). Pada akhirnya semua kekayaan dan ketenaran itu tidak akan berarti tanpa keluarga.

Film ini memang memiliki beberapa konflik yang berpotensi untuk diolah tapi The Greatest Showman (2017) nampak kurang mendramatisir konflik-konflik tersebut. Semua nampak seperti anti klimaks yang hanya lewat sesaat.

Beruntung nyanyian dan sinematografi The Greatest Showman (2017) terbilang bagus dan memukau. Sepanjang film, saya seperti melihat sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Sountrack film ini patut diacungi jempol deh pokoknya. Saya saya yang kurang suka dengan drama musikal, ikhlas untuk memberikan The Greatest Showman (2017) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya inilah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton.

Penilaian saya sebagai masyarakat awam, bertolak belakang dengan penilaian mayoritas kritikus film. Ketika The Greatest Showman (2017) baru dirilis, film ini langsung mendapatkn ulasan negatif karena terdapat beberapa kekurangan dalam special effect dan detail penarinya. Kekurangan yang fatal adalah kepalsuan dari cerita yang di angkat. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Barnum ternyata memang benar-benar pernah ada. Sejarah mencatat bahwa Barnum merupakan politikus dan pebisnis yang berhasil menjadi raja sirkus di era tahun 1800-an. Menurut sejarah, Barnum di kehidupan nyata tidak sebersih Barnum pada The Greatest Showman (2017). Pada kenyataannya Barnum asli diduga melakukan eksploitasi terhadap orang-orang yang pada tahun 1800-an dianggap aneh. Ia dikenal sebagai seorang pebisnis yang bersedia melakukan apapun demi uang. The Greatest Showman (2017) dianggap mencuci dan mensucikan dosa-dosa Barnum di muka umum.

Terus terang saya yang kurang teliti ini tidak melihat kesalahan penari atau special effect yang buruk, semua nampak baik-baik saja :). Saya sendiri lebih memilih untuk menganggap The Greatest Showman (2017) sebagai film yang tidak dibuat berdasarkan kisah nyata. Toh kisah Barnum pada film ini memang jauh melenceng dari kisah hidup asli Barnum, mulai dari masa kecilnya sampai masa kejayaannya. Andaikan nama karakter utama The Greatest Showman (2017) diganti menjadi Asep, Ucok atau Joko, penilaian saya tidak akan berubah. Kesalahan film ini adalah menggunakan nama Barnum sebagai karakter utamanya.

Sumber: family.foxmovies.com/movies/the-greatest-showman

Serial Super Wings

Super Wings merupakan film seri kartun anak produksi Korea, Cina dan Amerika yang anak saya tonton di rumah. Film ini bercerita mengenai Super Wings, sekelompok pesawat yang dapat berubah menjadi robot. Mereka menggunakan kekuatan dan kelebihan masing-masing untuk menolong anak-anak di penjuru dunia.

Pada umumnya, setiap episode Super Wings dimulai dengan pengiriman paket kepada anak-anak oleh Jett (Hudson Loverro), Super Wings berwarna merah yang ramah dan suka menolong. Jett tidak berhenti sampai pengiriman paket saja, ia selalu berhenti dan ikut menolong anak-anak yang ia kunjungi. Sayangnya Jett justru sering terjebak di dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan sendiri.

Nah disinilah Jett biasa memanggil bantuan dari rekan-rekan Super Wings lain sesuai masalah yang dihadapi. Jadi Super Wings yang datang adalah Super Wings yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi setiap episode Super Wings tidaklah terlalu monoton sebab kemungkinan akan hadir robot-robot yang berbeda, paling yaaa hanya Jett saya yang sopasti selalu ada.

Film ini tidak hanya memberikan pesan moral mengenai tolong menolong, tapi di sana terdapat pula edukasi mengenai letak geografis dan budaya berbagai kota dan negara yang Jett kunjungi. Sampai saat ini saya tidak melihat adanya hal-hal yang tidak baik pada film kartun anak ini. Tapi yaaa karena Super Wings memang ditujukan untuk anak PAUD dan TK, yah jadi masalahnya terkadang sangat sederhana.

Tapi walaupun begitu, animasi yang ditampilkan cukup bagus untuk film kartun yang saya tonton di tahun 2019. Saya suka melihat bagaimana Super Wings berubah dari pesawat menjadi robot hehehehe. Karena karakternya robot dan kebanyakan laki-laki, jadi wajar kalau mayoritas penonton serial ini adalah anak laki-laki. Karakter robot berwarna merah jambu hanya ada sesekali saja, sehingga anak perempuan saya paling hanya tahan menonton 3 episoode-nya saja.

Melihat hal-hal di atas, saya rasa serial Super Wings layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Lumayanlaaah, bisa dijadikan selingan sambil menemani si kecil ;).

Sumber: web.littleairplane.com

Detective Pikachu (2019)

Melihat judulnya, Detective Pikachu (2019) pasti merupakan film dengan latar belakang dunia Pokemon. Dunia dimana terdapat mahluk-mahluk imut bernama Pokemon, berdatangan dan tersebar di seluruh permukaan Bumi. Pikachu merupakan jenis Pokemon yang memiliki kemampuan memanipulasi sengatan listrik. Yah, dari berbagai jenis Pokemon yang ada, Pikachu merupakan yang paling populer. Bermula dari sebuah video game di tahun 1996, Pokemon telah berhasil meraih popularitas dan hadir di berbagai media lain. Tapi baru kali inilah Pikemon hadir film versi live action -nya. Kemarin-kemarin sih yang keluar versi film kartunnya saja.

Berbeda dengan film kartun dan video games -nya, Detective Pikachu (2019) tidak mengambil topik pelatih Pokemon atau perburuan Pokemon. Kali ini Pikachu (Ryan Reynolds) berperan sebagai detektif yang menyelidiki sebuah kasus ;). Sayang pikachu yang satu ini kehilangan ingatannya saat rekan kerjanya dikabarkan tewas terbunuh.

Biasanya, manusia tidak akan mengerti apa ucapan Pokemon. Untuk Pikachu saja, manusia biasa pasti hanya akan mendengar kata-kata “pika pika pika” dari mulut Pikachu. Kali inu, terjadi sebuah keajaiban. Tim Goodman (Justice Smith) tiba-tiba dapat mengerti semua ucapan Pikachu. Tim sendiri ternyata merupakan anak semata wayang dari almarhum rekan Pikachu. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap misteri kematian aya Tim. Tak lupa hadir pula pertolongan dari Lucy Stevens (Kathryn Newton), jurnalis muda yang mencurigai bahwa kematian ayah Tim disebabkan oleh sesuatu yang besar. Ternyata dugaan Lucy tidak meleset, sebab penyelidikan mereka memang lambat laun melibatkan seorang pengusaha kaya dan Pokemon terkuat di muka Bumi.

Dari sekali melihat tokohnya saja, sudah dapat ditebak siapa yang sebenarnya jahat. Judul film ini menggunakan kata-kata detektif tapi kok ya tidak ada misteri yang dahsyat di dalam ceritanya. Saya bahkan sama sekali tidak penasaran ketika menonton Detective Pikachu (2019). Penyelesaian dan akhir dari kasus yang ditangani oleh Pikachu pun memiliki motif dan penyelesaian yang kurang kuat. Yaaah, sepertinya Detective Pikachu (2019) memang tidak dimaksudkan sebagai film misteri atau thriller. Ceritanya tergolong ringan dan tidak membuat penontonnya banyak berfikir.

Tapi kalau berbicara dari segi visual, Pikachu dan dunianya nampak unik dan bagus sekali. Saya suka melihat Pikachu yang nampak imut dengan bulu-bulu kuningnya :). Dunia Pokemon seolah dibuat hidup oleh film ini.

Visual yang memukau tapi tidak diikuti oleh cerita yang memukau membuat saya ikhlas untuk meemberikan Detective Pikachu (2019) nilai 3 dari skal maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga di rumah.

Sumber: http://www.detectivepikachumovie.com

Brightburn (2019)

Siapa yang tak tahu Superman. Superhero pembela umat manusia yang satu ini sudah terkenal sejak saya belum lahir. Nah, bagaimana kalau Superman hadir ke Bumi tapi dalam versi yang berbeda, versi yang lebih gelap? Itulah topik utama yang Brightburn (2019) tawarkan. Semoga ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan agak berbeda ;).

Sama persis seperti kisah Superman, pada Brightburn (2019) dikisahkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) adalah sepasang petani yang pada suatu hari menemukan seorang bayi di dalam sebuah kapsul misterius. Kapsul tersebut jatuh dari angkasa, menimpa lahan pertanian milik keluarga Breyer. Pasangan Breyer yang sudah lama tidak memiliki keturunan, langsung mengangkat bayi yang mereka temukan sebagai anak mereka.

Hari terus berganti, tak terasa bayi mungil keluarga Breyer sudah beranjak dewasa. Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) tumbuh tanpa mengetahui asal muasalnya. Lambat laun, Brandon mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja cara Brandon menyikapi kekuatan ini, sangat berbeda dengan cara Clark Kent / Superman menyikapi kekuatannya. Di sini digambarkan bahwa kekuatan Brandon sama plek ketiplek dengan kekuatan Superman.

Yaaah Brandon di sini memang merupakan Superman versi jahat. Gambaran akan kasih sayang Kyle dan Tori memang sudah ditonjolkan. Namun entah kenapa sebagian besar nampak hambar dan miskin emosi. Pada awalnya saya melihat kasih sayang Tori sebagai seorang ibu. Tapi semakin lama kasih sayang tersebut terlihat kurang meyakinkan. Usaha untuk menghentikan teror Brandon pun gagal menghasilkan adegan yang mencekam. Saya agak bingung mau dibawa ke mana arah Brightburn (2019). Mau dibilang horor yaaa tidak ada seram-seramnya. Mau dibilang misteri, dimana misterinya???

Disana sungguh tidak ada misteri yang membuat saya penasaran. Kenyataan akan apa dan siapa Brandon sungguh tidak menarik dan basi. Kalau hanya ingin mengisahkan Superman versi jahat, DC Comics sudah memiliki berbagai cerita akan Superman jahat. Yang paling terkenal diantaranya adalah Superman versi Injustice, dimana Superman berubah menjadi jahat ketika Louis Lane dibunuh oleh Joker. Cerita dan alurnya jauh lebih kompleks dan menarik ketimbang Brightburn (2019). Jadi jelas sudah, mengisahkan Superman versi jahat bukanlah sesuatu yang revolusioner bagi saya pribadi hehehehe v(^_^)v.

Di luar ekspektasi saya, Brightburn hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau mau melihat Superman versi jahat lebih baik melihat beberapa produk asli DC Comics seperti Injustice, Superman: Red Son, JLA: Earth 2, Irredeemable dan Infinite Crisis ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/brightburn

Rumah Makan Sederhana Rawamangun, Cita Rasa Unggulan Sejak 1978

Pada tahun 1972, H. Bustaman yang bermigrasi dari Jambi, berjualan nasi padang di sebuah gerobak yang terletak di Pasar Bendungan Hilir. Lama kelamaan, gerobak nasi padang tersebut menjelman menjadi sebuah rumah makan yang diberi nama Rumah Makan Sederhana, mengambil nama rumah makan tempat H. Bustaman dulu bekerja di Jambi. Pemilik Rumah Makan Sederhana ini memang pernah menggeluti berbagai bidang pekerjaan di Jambi, meski Sumatera Barat tetap merupakan kampung halaman beliau.

Kini, Rumah Makan Sederhana sudah memiliki ratusan cabang di mana-mana. Sayang, bagi saya pribadi, terkadang rasa hidangaan pada cabang-cabang tersebut agak berbeda. Ada cabang yang menurut saya, sukses menghidangkan masakan yang lebih nikmat ketimbang cabang lainnya. Saya sadar benar bahwa Rumah Makan Sederhana cabang Bendungan Hilir adalah cabang pertama dan tertua, tapi menurut saya justru hidangan Rumah Makan Sederhana cabang Rawamangun lah yang paling enak. Ketika sedang hamil, istri saya saja hampir setiap hari makan di sana :’D.

Berdiri sejak 1978, Rumah Makan ini berdiri di Jalan Balai Pustaka Nomor 1, RT.7/RW.15, Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta Timur, tepat di seberang Pasar Sunan Giri. Bangunannya cukup luas dan memiliki lebih dari 2 tingkat lengkap dengan lift. Restoran ini selalu ramai terutama di hari libur.

Ramainya Cabang Sederhana yang Satu Ini

Hal tersebut tidak mengherankan karen hidangannya memiliki bumbu yang tidak terlalu pedas dan takaran yang cocok bagi lidah warga Jakarta. Semuanya nampak menggunakan bahan yang berkualitas. Di antara berbagai menu yang ada di sana, menu favorit saya adalah ayam pop dan gule kepala kakap.

Aneka Hidangan Rumah Makan Sederhana

Gule kepala kakap memiliki daging yang lembut meski kadang memang terselip di sela-sela tulang. Saya sendiri kadang sampai menyedot-nyedot tulangnya untuk memakan dagingnya hehehe. Bagi yang sensitif terhadap amis, hidangan ini memang sedikit amis, tapi semua itu langsung luntur ketika kita menyantapnya dengan nasi hangat dan kuah gule yang gurih. Semua terasa serasi dan nikmat sekali :D.

Gule Kepala Kakap

Ayam pop memiliki rasa asam gurih dengan aroma lembut yang harum di dalam mulut. Itulah mengapa, spesial untuk menu yang satu ini, saya tidak mencampurnya dengan bumbu atau hidangan lain. Kalau dicampur, kadang aromanya jadi hilang terkubur oleh bumbu dari menu lain. Biasanya saya hanya menyantap ayam pop dengan sambal oranyenya dan nasi hangat saja, yummmm enakkk ^_^.

Ayam Pop

Secara keseluruhan, Rumah Makan Sederhana cabang Rawamangun ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Saya dan keluarga rela berkelana ke daerah Pasar Sunan Giri walaupun sebenarnya sudah ada cabang Rumah Makan Sederhana di dekat rumah hehehe.