Kisah Kegagalan Lucent Technologies

Pada tahun 1881, AT&T (American Telephone & Telegraph) mengambil alih kendali sebuah perusahaan bernama Western Electric Manufacturing dengan menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan tersebut. Western Electric diberi hak monopoli dalam pembangunan infrastruktur jaringan telefon dan perangkat telefon di Amerika Serikat. Pada saat itu, fokus dari perusahaan ini adalah menyediakan layanan telekomunikasi dengan kualitas yang prima. Biaya dan fitur tambahan dari layanan telekomunikasi tidak terlalu penting dibandingkan mendisain jaringan telekomunikasi publik yang handal.

Pada tahun 1925, divisi engineering dari AT&T dan divisi penelitian dari Western Electric bergabung menjadi Bell Telephone Laboratories. Kepemilikan dari Bell Telephone Laboratories dibagi sama rata antara AT&T dan Western Electric. Bell Telephone Laboratories berhasil menghasilkan penemuan-penemuan yang revolusioner di abad 20. Hal ini yang menyebabkan Bell Labs memiliki banyak sekali paten-paten.

Setelah melalui beberapa perubahan menyangkut tuntutan antitrust yang beberapa kali dilayangkan oleh Departement of Justice Amerika Serikut kepada AT&T, akhirnya pada tahun 1996 berdirilah suatu perusahaan baru bernama Lucent Technologies yang terpisah dari AT&T. Di dalam Lucent terdapat pecahan dari Bell Telephone Laboratories dan Western Electric. Keberadaan Bell Labs di dalam Lucent membawa prestis dan ratusan paten bagi perusahaan yang baru berdiri ini.

Setelah resmi berdiri sendiri, Lucent mengalami perombakan struktur organisasi pada tahun 1997. Struktur organisasi diubah menjadi lebih horisontal untuk mempercepat birokrasi pengambilan keputusan. Unit bisnis yang pada awalnya hanya 4, dipartisi menjadi 7 unit-unit bisnis yang lebih kecil. Dengan perubahan ini, CEO Lucent pada saat itu mengharapkan agar perusahaan  dapat lebih fokus dalam menjalankan semua bisnisnya secara internal dan mampu memberikan layanan yang sangat baik kepada pelanggan melalui satu wajah yang sama, wajah Lucent.

Untuk menstimulasi kinerja karyawannya, Lucent mengadakan program Founders Grant Share Options, yaitu penawaran saham perusahaan kepada karyawan. Para karyawan Lucent tidak hanya merasa bekerja di suatu perusahaan milik orang lain, tapi mereka juga merasa bekerja di perusahaan milik mereka sendiri. Dengan demikian, budaya memiliki dapat tumbuh di dalam perusahaan ini.

Gambar

Gambar 1. Revenue dan Net Income Alcatel, Ericsson, Lucent, Nortel pada 1995-2006 (US$ billions). Note: data Lucent tahun 1995 sampai April 1996 adalah data ketika Lucent merupakan bagian dari AT&T.

Semenjak dibentuk pada April 1996, Lucent terus mengalami pertumbuhan laba sampai dengan tahun 1999 dan 2000. Lucent terus mengalami penurunan pendapatan dan nilai saham setelah tahun 2000 sampai pada akhirnya perusahaan ini terpaksa harus merger dengan Alcatel pada 2006.

Tidak seperti dahulu kala, keadaan telekomunikasi pada tahun 1900-an sudah berubah. Industri ini dikendalikan oleh pasar dan Lucent harus meninggalkan mindset birokratis, mindset monopoli dan mindset science first yang sudah merupakan masa lalu. Untuk tetap bersaing di industri telekomunikasi yang terus berkembang, Lucent harus memanfaatkan divisi R&D yang dimilikinya untuk menciptakan produk teknologi yang diperlukan oleh next generation telecommunication network atau memperoleh produk teknologi tersebut dengan cara mengakuisisi perusahaan lain. Hal ini merupakan hal yang tidak mudah sebab Lucent harus “berjudi” dalam menentukan teknologi mana yang harus dikembangkan untuk memenangkan kompetisi.

Gambar

Tabel 1. Akuisisi yang dilakukan Alcatel, Lucent, Cisco dan Nortel pada 1997-2000Sumber: Standard and Poor’s Compustat database; Avaya 10-K filing, 2000, p. 49.

Pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2000, Lucent melakukan akuisis terhadap 32 perusahaan teknologi. Seperti ditunjukkan oleh tabel 1, Lucent banyak sekali mengeluarkan biaya untuk akuisisi dibandingkan para pesaingnya, terutama pada tahun 1999. Hal ini dilakukan Lucent karena pada akhir tahun 1990-an, terjadi perkembangan ICT (Information and Communication Technology) yang semakin pesat. Lucent merasa bahwa Bell Labs, yang merupakan R&D dari Lucent,  membutuhkan amunisi tambahan dalam menghadapi perkembangan yang sangat pesat ini. Sebagian besar produk-produk dari perusahaan yang diakuisisi oleh Lucent, masih dalam tahap pengembangan. Lucent percaya dan yakin bahwa Bell Labs, mampu mengembangkan produk-produk ini menjadi produk Lucent yang mampu memberikan Lucent keunggulan kompetitif.

Strategi Lucent adalah berusaha membuat standar baru untuk menyaingi standar-standar yang telah ada atau sedang dikembangkan oleh pesaingnya. Eksekusi dari strategi ini mengalami kegagalan karena pada kenyataannya, menyatukan budaya dan produk dari perusahaan-perusahaan yang telah diakuisisi ternyata bukanlah hal yang mudah. Lucent telah gagal dalam memadukan dan mengintegrasikan sumber daya yang Lucent miliki dalam menghasilkan inovasi. Hal ini diperburuk dengan tumbuhnya berbagai pesaing lain yang mampu memberikan inovasi yang lebih menarik bagi pasar.

Salah satu contoh kegagalan terbesar Lucent dalam memenangkan persaingan adalah ketika Lucent ingin menyaingi Cisco dalam teknologi transfer data. Lucent berencana untuk mengembangkan triple play, yaitu komunikasi data, suara dan video dalam satu jaringan yang sama. Dalam usahanya ini, Lucent harus bersaing dengan Cisco Systems. Cisco telah lebih dahulu mengembangkan teknologi IP yang pada masa depan diharapkan dapat menjadi suatu hal yang dibutuhkan oleh triple play. Lucent mencoba mengembangkan teknologi alternatif untuk menyaingi teknologi IP. Lucent berusaha mengembangkan teknologi ATM untuk menghadang teknologi IP milik Cisco. Dalam usahanya ini, Lucent banyak melakukan akuisisi perusahaan-perusahaan IT. Teknologi alternatif yang dirancang oleh Lucent gagal menyaingi teknologi IP yang sudah lebih dahulu dominan. Ternyata pasar lebih tertarik pada teknologi IP dan Ethernet. VoIP melalui kabel LAN semakin menambah daya tarik teknologi IP yang dikembangkan oleh Cisco. Lucent telah kehilangan banyak waktu, tenaga dan biaya dalam mengembangkan suatu teknologi yang tidak terpakai.

Pada tahun-tahun pertama Lucent berdiri, pelanggan utama Lucent adalah AT&T dan RBOC (Regional Bell Operating Companies). Kedua perusahaan besar tersebut menyumbang laba yang sangat besar bagi Lucent. Namun seiring dengan berjalannya waktu, muncul pesaing-pesaing baru yang mempu menawarkan inovasi-inovasi dengan harga yang lebih menarik. Kedua pelanggan utama Lucent tersebut perlahan-lahan mulai meninggalkan produk-produk Lucent. Usaha Lucent dalam mencari pelanggan baru juga kurang berhasil karena persaingan yang sangat ketat. Unit-unit bisnis Lucent yang dianggap sudah menjadi komoditas perlahan tapi pasti mulai dijual kepada pihak lain.

Selain memperoleh penghasilan dari produk-produk telekomunikasinya, Lucent juga mendapat penghasilan dari paten-paten yang dihasilkan oleh R&D perusahaan tersebut. Lucent termasuk perusahaan penghasil paten terbanyak di Amerika Serikat. Selain menghasilkan laba, paten dapat dipergunakan oleh Lucent untuk menghambat kemajuan dari para pesaingnya. Namun dengan menurunnya pendapatan total Lucent pada tahun 2001, budget untuk R&D Lucent mengalami pemotongan yang cukup besar, dengan demikian paten-paten yang dihasilkan oleh Lucent menurun drastis.

Sepanjang tahun 2001 sampai dengan 2006, Lucent melakukan pemutusan hubungan kerja dan menutup beberapa pabriknya agar terhindar dari kebangkrutan. Nilai saham Lucent juga terus mengerdil sampai akhirnya Lucent melaukan merger dengan Alcatel pada Desember 2006.

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah investasi yang berlebihan dapat menyebabkan kehancuran sebuah perusahaan. Akuisisi yang dilakukan oleh Lucent merupakan bentuk dari investasi yang berlebihan. Akuisisi yang dilakukan oleh Lucent telah gagal dalam menghasilkan keunggulan kompetitif karena menyatukan berbagai perusahaan untuk menghasilkan suatu inovasi bukanlah hal yang mudah, setiap perusahaan memiliki budaya dan karakteriktik yang tidak sama. Melakukan akuisisi bukanlah langkah yang salah, namun bila dilakukan dalam dosis yang terlampau banyak, perusahaan sebesar Lucent pun dapat jatuh tersungkur.

Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah bahwa mindset masa lalu sebuah perusahaan harus berubah mengikuti perubahan jaman agar perusahaan tersebut dapat tetap berjaya. Lucent selalu berusaha membuat standar baru dengan mengeluarkan dana yang cukup besar. Dana tersebut dihabiskan dengan melakukan akuisisi dan riset. Lucent bersama Bell Labs-nya seolah-olah lupa bahwa era tahun 2000 bukanlah era yang sama seperti ketika mereka masih merupakan bagian dari AT&T. Pada masa lampau, terjadi monopoli sehingga semua produk yang dihasilkan oleh Bell Labs selalu menjadi standar baru yang diakui di Amerika Serikat. Mungkin sejarah akan berkata lain apabila dahulu Lucent beberapa kali lebih memilih untuk mengembangkan produk menggunakan standar yang sudah ada menjadi suatu produk yang lebih baik, tidak selalu berusaha membuat produk dengan standar baru.

Daftar Pustaka

Endlich, Lisa. (2004). Lucent’s Legacy. New Jersey: Ney Jersey Star

Lazonick, William dan March, Edward. (2012). The Rise and Demise of Lucent Technologies. Wilmington: Business and Economic History

Iklan

2 thoughts on “Kisah Kegagalan Lucent Technologies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s