Cloud Computing Sebagai Salah Satu Solusi Menuju Green ICT

Tulisan ini dibuat oleh rekan-rekan saya dari Magister Manajemen Telekomunikasi & Magister Manajemen Tenaga Listrik dan Energi Universitas Indonesia yaitu Abdul Muchyi, Ade Abdul Azis & Adysti Wahyu Dewantari untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemodelan & Simulasi Lanjut yang wajib dimuat di media massa atau blog. Formatnya sudah saya ubah tapi isinya kurang lebih masih original, selamat menikmati dan semoga dapat bermanfaat 😀

I. Pendahuluan

Pada tahun 90-an, teknologi telekomunikasi dan informatika terbatas pada telepon rumah tetap (fixed telephone) dan penggunaan komputer yang masih terbatas dengan system operasi berbasis WS. Sistem networking komputer pun masih sederhana dan tergantung pada floppy disk dalam transferring data-nya. Di abad 20-an hingga saat ini, teknologi informasi dan telekomunikasi berkembang dengan begitu cepat. Penggunaan gadget-gadget canggih bertebaran dimana-mana, transfer data pun sudah tidak bergantung dengan disket melainkan melalui internet dengan kecepatan data yang makin meningkat dari waktu ke waktu. Pertumbuhan demand pengguna teknologi yang tumbuh dengan pesat juga mendorong tumbuhnya penyelenggara-penyelenggara jasa informasi dan pembangunan infrastruktur informatika di seluruh dunia. Munculnya penyedia jaringan internet bahkan penyedia konten yang menjamur dimana-mana, berkaitan dengan pembangunan data center yang dimiliki masing-masing penyedia. Bukan hanya para penyedia jaringan dan konten, namun perusahaan-perusahaan mulai dari skala kecil sampai besar membangun data center-nya sendiri sebagai penunjang sistem operasi perusahaan.

Dengan semakin banyaknya pembangunan datacenter yang terjadi di seluruh dunia, terjadi pemborosan di sisi material, energy, kelistrikan, limbah secara tidak langsung. Padahal kita tahu, cadangan energy di dunia semakin sedikit, tumpukan limbah material atau perangkat telekomunikasi dan informatika yang sudah tidak terpakai atau lewat masa pakainya semakin banyak. Oleh karena itu, dalam mendukung dan menciptakan ICT yang selaras dengan pemeliharaan lingkungan dan bumi kita “Green ICT”, direncanakan dan disusun suatu solusi yang disebut “Cloud Computing”.

II. Green ICT

Go Green” merupakan konsep yang disusun berdasarkan kesadaran dari seluruh masyarakat dunia atas apa yang terjadi di bumi kita saat ini. Eksplorasi energy, sumber daya alam dan penggunaanya secara berlebihan berdampak pada kelangsungan makluk hidup khususnya flora dan fauna yang semakin lama semakin berkurang, apalagi diinformasikan bahwa lapisan ozon yang menyelubungi dunia rusak yang menyebabkan sinar ultraviolet akan semakin mudah menembus ke bumi dan berakibat tidak baik bagi kulit manusia. Negara penghasil karbon tertinggi di dunia adalah Amerika Serikat, Jepang dan China, sedangkan Negara kita Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-5 sebagai negara penghasil karbon terbesar di dunia.

Green ICT dikonsepkan juga dalam rangka mendukung gerakan “Go Green” di segi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Green ICT dikonsepkan dengan tujuan untuk mengurangi konsumsi energi dan sumber daya alam lainnya serta emisi dan sampah yang dihasilkan dari kegiatan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Contoh sederhana dalam implementasi Green ICT adalah penggunaan electronic mail (email) untuk berkomunikasi. Melalui email, kita akan mengurangi penggunaan kertas sehingga semakin sedikit pohon yang ditebang untuk dibuat kertas. Dengan berkurangnya penebangan pohon, emisi karbon yang rendah akan terjadi. Green ICT di bidang ICT termasuk menerapkan layanan teleconference yang dapat mengurangi biaya perjalanan, dimana berdampak pada penurunan emisi karbon namun tetap mampu meningkatkan produktivitas usaha.

III.       Konsep Cloud Computing

Sejarah Cloud Computing dimulai di tahun 1960-an, saat seorang pakar computer dari MIT bernama John McCarth meramalkan bahwa suatu hari nanti komputerisasi akan menjadi infrastruktur publik layaknya seperti berlangganan listrik atau telepon. Kemudian pada akhir tahun 1990-an, lahirlah konsep ASP (Application Service Provider) yang ditandai munculnya perusahaan pengolah data center. Selanjutnya tahun 1995, Larry Ellison – pendiri Oracle – melahirkan wacana “Network Computing” pasca penetrasi Microsoft Windows 95 yang merajai pasar software dunia pada saat itu. Larry Ellison menyatakan bahwa instalasi software-software tidak perlu dilakukan ke sebuah PC sehingga membuat kinerjanya menjadi berat, sebagai gantinya sebuah terminal utama berupa server. Pada awal tahun 2000-an, Marc Beniof – eks Vice President Oracle – meluncurkan aplikasi CRM berbentuk “software as a service” bernama Salesforce.com sebagai awal lahirnya Cloud Computing. Pada tahun 2005, situs online shopping Amazon.com meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Compute Cloud) dan diikuti oleh Google dengan Google App Engine dan IBM dengan Blue Cloud Initiative.

Cloud Computing adalah pemanfaatan teknologi komputer dengan menggunakan internet. Atau dapat dikatakan user dapat menyimpan atau melakukan transfer informasi melalui server di lokasi lain melalui jaringan internet. Cloud Computing membantu user untuk menggunakan aplikasi tanpa melakukan instalasi, mengakses file pribadi dari manapun melalui akses internet. Cloud Computing sendiri merupakan perwujudan dari demokratisasi teknologi, di mana teknologi sekarang terjangkau untuk siapapun, karena layanan Cloud Computing tersedia mulai dari yang gratis sampai berbayar. Teknologi ini memungkinkan efisiensi dengan memusatkan penyimpanan, pemrosesan dan bandwith ke dalam server tertentu yang sudah dialokasikan.

Sebagai contoh : Kita dapat mengakses data yang telah kita simpan dalam server Google Apps melalui alat komunikasi apapun dan dimanapun. Atau kita dapat  mengakses dan menggunakan aplikasi bisnis umum yang tersimpan di server Google Apps tanpa harus melakukan instalasi program di dalam gadget atau peralatan komunikasi kita.

Adapun karakteristik dari Cloud Computing yang didefinisikan oleh NIST (National Institute of Standards and Technology) sebagai berikut :

  • On-demand self-service – setiap orang dapat mendaftarkan dirinya sendiri tanpa bantuan siapapun, menikmati layanan sesuai kebutuhan dan dan langsung tersedia pada saat dibutuhkan
  • Broad network access – layanan Cloud Computing bisa diakses dari mana saja, kapan saja, dengan alat apa pun, asalkan kita terhubung ke jaringan layanan internet
  • Resource pooling – tersedia secara terpusat dan dapat membagi sumber daya secara efisien. Karena cloud computing digunakan bersama-sama oleh berbagai pelanggan, penyedia layanan harus dapat membagi beban secara efisien, sehingga sistem dapat dimanfaatkan secara maksimal
  • Rapid elasticity – setiap kebutuhan bisa dilayani secara fleksibel tergantung kebutuhan saat itu
  • Measured service – semua layanan bisa diukur dan dibebankan biaya sesuai dengan penggunaan aktual

Komponen-komponen dari Cloud Computing itu sendiri adalah:

  • Cloud Clients : seperangkat komputer ataupun software yang didesain secara khusus untuk penggunaan layanan berbasis Cloud Computing.
  • Cloud Services : produk, layanan dan solusi yang dipakai dan disampaikan secara real-time melalui media Internet. Contoh yang paling popular adalah web service.
  • Cloud Applications : memanfaatkan Cloud Computing dalam hal arsitektur software. Sehingga user tidak perlu menginstal dan menjalankan aplikasi dengan menggunakan komputer.
  • Cloud Platform : layanan berupa platform komputasi yang berisi hardware dan software infrasktruktur dan biasanya mempunyai aplikasi bisnis tertentu dan menggunakan layanan PaaS sebagai infrastruktur aplikasi bisnisnya.
  • Cloud Storage : melibatkan proses penyampaian penyimpanan data sebagai sebuah layanan.
  • Cloud Infrastructure : layanan yang menyediakan infrastruktur komputasi.

Tingkatan layanan yang diberikan Cloud Computing kepada pengguna, sebagai berikut :

a. Layanan Aplikasi (Software as a service)

Memfokuskan pada aplikasi dengan web-based interface yang diakses melalui Web Service dan Web 2.0. Contoh perusahaan – perusahaan yang sudah ditetapkan dalam bisnis perangkat lunak siap pakai atau SaaS dimana dikenakan biaya pelanggan dan biaya berlangganan dalam software return host pada server pusat yang diakses oleh user melalui internet :

  • Salesforce.com (CRM)
  • Google (GOOG)
  • NetSuite (N)
  • Cordys
  • Facebook
  • Taleo (TLEO)
  • Concur Technologies (CNQR)

Berikut perusahaan perangkat lunak berbasis lisensi dimana menjual lisensi kepada user kemudian menjalankan perangkat lunak dari server :

  • SAP AG (SAP)
  • Oracle (ORCL)
  • Blackbaud (BLKB)
  • Lawson Software (LWSN)
  • Blackboard (BBBB)

b. Layanan Platform (Platform as service)

Memfokuskan pada aplikasi dimana developer tidak perlu memikirkan hardware dan tetap fokus pada pembuatan aplikasi tanpa harus mengkhawatirkan sistem operasi, infrastructure scaling, load balancing dan lain-lain.

Banyak perusahaan dengan layanan aplikasi, juga mengembangkan layanan platform. Berikut perusahaan – perusahaan yang telah mengembangkan layanan platform :

  • Google (GOOG) – Apps Engine
  • Amazon.com (AMZN) – EC2
  • Microsoft (MSFT) – Windows Azure
  • SAVVIS (SVVS) – Symphony VPDC
  • Terremark Worldwide (TMRK) – The Enterprise Cloud
  • Salesforce.com (CRM) – Force.com
  • NetSuite (N) – Suiteflex
  • Rackspace Cloud – cloudservers, cloudsites, cloudfiles
  • Metrisoft – Metrisoft SaaS Platform
  • SUN Oracle direct link
  • Cordys Process Factory – The Enterprise Cloud Platform

c. Layanan Infrastruktur (Infrastructure as service)

Memfokuskan pada virtualized server, storage dan network.  Berikut perusahaan – perusahaan yang menyediakan layanan infrastruktur :

  • Google (GOOG) – Managed hosting, development environment
  •  International Business Machines (IBM) – Managed hosting
  • SAVVIS (SVVS) – Managed hosting & Cloud Computing
  • Terremark Worldwide (TMRK) – Managed hosting
  • Amazon.com (AMZN) – Cloud storage
  • Rackspace Hosting (rax) – Managed hosting & Cloud Computing

 

Tipe-tipe penerapan (deployment) dari layanan Cloud Computing yaitu:

  1. Private Cloud : Infrastruktur dioperasikan hanya untuk sebuah organisasi tertentu dan dapat dikelola oleh organisasi itu atau oleh pihak ketiga. Lokasinya dapat berupa on-site ataupun off-site.
  2. Community Cloud : Infrastruktur digunakan bersama-sama oleh beberapa organisasi yang memiliki kesamaan kepentingan yang bisa dikelola oleh salah satu dari organisasi itu ataupun oleh pihak ketiga.
  3. Public Cloud : Diperuntukkan untuk umum.
  4. Hybrid Cloud : Infrastruktur merupakan komposisi dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private, community atau public). Jadi  secara entitas tetap berdiri sendiri-sendiri namun dihubungkan oleh suatu teknologi yang memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud. Sebagai contoh : mekanisme load balancing antar cloud.

 IV. Peran Serta Cloud Computing Dalam Mendukung Green ICT

Rencana implementasi Cloud Computing dalam upaya mendukung Green ICT didasarkan pada banyak hal yang dalam analisisnya mampu melakukan penghematan-penghematan di segala bidang demi kelangsungan bumi kita. Penghematan tersebut meliputi penghematan biaya dalam investasi maupun operasionalnya. Dapat dilakukan penghematan biaya investasi awal untuk pembelian sumber daya karena tidak melakukan pembelian perangkat – perangkat server / storage dimana dilakukan penyewaan space pada server yang dikelola penyelenggara Cloud Computing. Dengan demikian pengeluaran modal (CAPEX = Capital Expenditure) tidak diperlukan namun hanya melakukan pengeluaran operational (OPEX = Operational Expenditure) untuk biaya sewanya. Penghematan bukan hanya dilakukan dari segi biaya investasi, penghematan dari segi penggunaan energy pun dilakukan. Energi yang sebelumnya untuk suplai server-server berbagai perusahaan, akan berkurang dengan berpindahnya ke server pusat yang diakses dan digunakan bersama-sama oleh berbagai perusahaan.

Masalah sampah juga menjadi hal yang krusial dan hangat dibahas saat ini. Sampah teknologi semakin menumpuk akibat teknologi yang berkembang dengan cepat, perangkat dan gadget yang terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Diperkirakan ada sebanyak 70 juta computer baik Personal Computer / PC, Laptop dan Netbook di Indonesia. Diperkirakan terdapat 1 juta PC yang dibuang tahun 2010 dan meningkat sebesar 25% per tahun. Dengan menggunakan Cloud Computing, masalah storage terpecahkan, sehingga tiap-tiap perusahaan tidak perlu mengadakan perangkat server sendiri untuk menyimpan data perusahaan melainkan hanya terhubung pada sebuah server yang dapat digunakan ratusan bahkan ribuan perusahaan secara bersama-sama dengan jaminan keamanan data. Dengan demikian, sampah ICT akan semakin berkurang.

Dengan Cloud Computing, fleksibilitas akan semakin meningkat dengan catatan terhubung dengan layanan internet. Kita dapat melakukan akses data dimanapun dan kapanpun karena data berada di server cloud sehingga membuat operasional dan manajemen lebih mudah karena sistem pribadi/perusahaan yang tersambung dalam satu cloud dapat dimonitor dan diatur dengan mudah. Selain itu, terjadi penghematan waktu sehingga perusahaan bisa langsung fokus ke profit dan berkembang dengan cepat.

V. Tantangan Cloud Computing

Berbagai perusahaan dan industry TIK memberikan dukungan terhadap Green ICT. Karena selain memberikan dampak positif terhadap bumi kita, Green ICT juga memberikan keuntungan-keuntungan terhadap industry dari sisi finansial.

Konsep Cloud Computing jelas mendukung apa yang menjadi ide dasar dari konsep “Go Green”, namun disisi lain masih dipertanyakan terkait jaminan keamanan data dikarenakan belum ada jaminan pasti terkait data pribadi / perusahaan yang ditempatkan pada server cloud. Apalagi sasaran sebenarnya dari Cloud Computing ini adalah perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan server-server dalam skala besar untuk mendukung operasionalnya.

Selain masalah jaminan keamanan, keuntungan-keuntungan atas Cloud Computing diperoleh dengan syarat akses internet yang baik. Permasalahannya adalah bagaimana apabila terjadi masalah pada akses ke server cloud tersebut. Karena tidak adanya akses langsung ke resource, maka user atau perusahaan yang menyewa layanan dari Cloud Computing tergantung pada vendor / penyedia layanan Cloud Computing, apabila server cloud rusak atau dengan layanan backup yang buruk maka perusahaan akan mengalami kerugian besar.

 VI. Kesimpulan

Cloud Computing merupakan sistem komputasi kolaboratif yang berbasis internet yang memungkinkan para pengguna komputer dapat berbagi semua sumber dayanya, mulai dari : software, hardware, termasuk pusat data (server). Sehingga nantinya diharapkan para pengguna komputer tidak lagi perlu memiliki item-item tersebut yang selama ini menguras banyak investasi. Sederhananya, para pengguna komputer dapat menggunakan source tanpa perlu membeli, memiliki atau menginstall program di dalam komputer yang membuat berkurangnya memori penyimpanan dalam komputer serta mempengaruhi kinerja computer, namun cukup dengan menyewa sumber daya (lunak atau peranti keras) dari server inti yang dipilih sesuai dengan kebutuhan (pay per use).

Cloud Computing  mendukung Green ICT dimana sebuah perusahaan atau instansi pemerintah yang memiliki ribuan data penting dan membutuhkan media simpan yang lebih besar, fleksibel, mudah dikembangkan dan hemat biaya. Teknologi ini dapat menekan biaya investasi server-server raksasa, menekan penggunaan energy yang berlebihan baik untuk suplai perangkat maupun pendukung lain, lebih efektif, transparan dengan jumlah sumber daya manusia sebagai pengelola yang lebih sedikit. Cloud Computing adalah jawaban dari Green ICT.

 Daftar Pustaka

  1. www.postel.go.id
  2. www.depkominfo.go.id
  3. http://ilhamsk.com/apa-itu-cloud-computing/
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Komputasi_awan
  5. http://teknoinfo.web.id/teknologi-cloud-computing/
  6. http://wartaduniamaya.blogspot.com/2011/02/saran-saran-implementasi-green-and-cool.html
  7. http://www.yudiherdiana.com/2010/07/green-ict.html
  8. http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_11783/title_definisi-komputasi-awan-cloud-computing/
  9. http://teknik-informatika.com/apa-itu-cloud-computing-komputasi-awan/
  10. Chappell, D. (August 2008). A short introduction to cloud platforms: An enterprise-oriented view. San Francisco, CA: Chappel and Associates.
  11. Grossman, R. L. (March/April 2009). The case for cloud computing. IEEE ITPro, 23–27.
  12. Hutchinson, C., & Ward, J. (March/April 2009). Navigation the next-generation application architecture. IEEE ITPro, 18–22.
  13. Jens, F. (September 2008). Defining cloud services and cloud computing. http://blogs.idc.com/ie/?p=190.
  14. Jones, M. T. Cloud computing with linux. www.ibm.com/developerworks/linux/library/l-cloudcomputing.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s