Split (2017)

Kali ini saya akan membahas film psikopat karya sutradara keturunan India, M. Night Shyamalan. Tenaaang, mentang-mentang sutaradaranya keturunan India, bukan berarti Split (2017) termasuk film musikal yang ada joget-jogetnya :,D. Shyamalan selama ini terkenal akan film-film supranatural dan misteri dengan kejutan di bagian akhirnya

Split (2017) mengisahkan penculikan Casey Cooke (Anya Taylor-Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) yang dilakukan oleh Kevin Wendell Crumb (James McAvoy). Kevin menderita DID (Dissociative Identity Disorder) sehingga ia memiliki 23 kepribadian di dalam tubuhnya. Di sana ada Barry, Dennis, Patricia, Hedwig dan lain-lain. Rasanya hanya 4 kepribadian itulah yang dominan dan sering muncul. Kemana yang lainnya ya? Mungkin durasi filmnya akan terlalu panjang ya kalau semuanya dimunculkan di Split (2017) :’).

Semua keperibadian di dalam tubuh Kevin sama-sama percaya akan kehadiran The Beast, sebuah sosok misterius yang ganas dan menyeramkan.Penculikan yang dilakukan pun dilakukan terkait kehadiran The Beast. Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), psikiater Kevin, tidak sepenuhnya yakin apakah Beast termasuk kepribadian ke-24 atau hanya khayalan belaka atau mahluk yang ada di sekitar Kevin. Karen percaya bahwa penderita DID seperti Kevin kemungkinan memiliki Ā kemampuan supranatural misterius yang tidak dimiliki manusia normal. Apakah Karen benar?

Aaahhh sosok Beast memamg menjadi misteri sampai bagian akhir film. Mirip seperti film-film Shyamalan lainnya, Split (2017) minim lagu atau suara latar, agak sunyi senyaplahhh. Ditambah latar belakang yang itu-itu saja, terkadang Split (2017) terasa sedikit membosankan. Tapi terus terang Split (2017) adalah film karya Shyamalan paling tidak membosankan. Saya bukan fans Shyamalan dan saya relatif kurang suka dengan film-filmnya, ketika menonton film-film tersebut, rasanya saya ingin menonton bagian akhirnya saja supaya dapt melihat ada kejutan apa di film ini. Bagaimana dengan Split (2017), saya tidak merasakan “kesenyapan” yang pekat pada film ini. Shyamalan patut berterima kasih kepada James McAvoy yang mampu memerankan berbagai karakter gilanya Kevin dengan baik :). Berkat James, rasa bosan yang hinggap sedikit sekali jumlahnya, saya dibuat penasaran sepanjang film tanpa tertidur. Sayangnya hanya rasa penasaran saja yang saya rasakan, tidak ada ketegangan yang berarti di sepanjang film.

Sebagai film Shyamalan terbaik yang pernah saya tonton, Split (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh yaaa, Split (2017) ternyata terjadi di dunia yang sama dengan salah satu film lawas Shyamalan lhooo, apakah ini akan menjadi franchise seperti X-Men atau Friday The 13th?

Sumber: http://www.uphe.com/movies/split

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s