Power Rangers (2017)

Power Rangers

Kalau Amerika memiliki Superman, Iron Man, Thor, Batman, X-Men dan kawan-kawan sebagai superhero, nah Jepang memiliki superhero juga loh. Jepang memiliki Goggle V, Satria Baja Hitam, Gaban, Sharivan, Voltus V dan Megaloman yang sangat populer di era tahun 80-an dan 90-an. Kecuali Satria Baja Hitam, Saya sendiri terlalu kecil untuk menonton dan faham superhero-superhero Jepang yang baru saja saya sebutkan di atas. Mereka hadir pada era jayanya kaset video VHS, whaaaa, VHS? benda apa itu? :P. Satria Baja Hitam populer di era berbayarnya RCTI bukan VHS, jadi yaa saya sudah bukan bayi lagi dan dapat mengikuti jalan ceritanya, meskipun menontonnya menumpang di rumah tetangga :’D. Diantara superhero Jepang tersebut, Goggle V dapat dikatakan sebagai yang paling populer. Saya yang belum pernah sekalipun menonton filmnya saja, sering melihat poster Goggle V dan sempat nonton pementasannya di Senayan hehehehe.

Power Rangers

Goggle V termasuk kedalam kategori super sentai yang terdiri dari 5 orang. 5 orang spesial yang dapat berubah menjadi Goggle V. Nah, sekitar tahun 1993 konsep super sentai ala Goggle V ini berhasil meraup kepopuleran juga di Negeri Paman Sam melalui film seri Power Rangers. Film seri ini sempat pula diangkat ke layar lebar melalui Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995). Saya sendiri dulu sempat menonton film tersebut di bioskop. Film layar lebarnya terbilang sederhana dan hanya hadir dengan special effect seadanya. Yaah jadi seperti 1 episode film seri yang ceritanya dipanjangkan saja hehehehe. Bagaimana dengan Power Rangers (2017)?

Power Rangers

Power Rangers (2017) bukanlah kelanjutan atau potongan kisah dari film seri atau film layar lebar Power Rangers sebelumnya. Film ini mengisahkan 5 remaja yang secara tidak sengaja memperoleh kekuatan Power Rangers. Titik berat film ini lebih ke arah bagaimana kelima remaja tersebut dapat berubah menjadi Power Rangers dan bekerjasama melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Power Rangers

Rita bermaksud untuk menguasai dunia dengan menggunakan kekuatan Kristal Zeo. Sayang, Power Rangers yang dahulu kala mampu menggagalkan rencana jahat Rita, telah gugur tak bersisa. Dunia memerlukan Power Rangers baru demi kelangsungan umat manusia. Kemudian melalui sebuah peristiwa kebetulan, terpilihlah Jason Scott (Dacte Montgomery) sebagai Ranger Merah, Kimberley Hart (Naomi Scott) sebagai Ranger Pink, Billy Cranston (Ronald Cyler II) sebagai Ranger Biru, Zack Taylor (Ludi Lin) sebagai Ranger Hitam dan Trini Kwan (Rebbeca Marie Gomez) sebagai Ranger Kuning.

Power Rangers

Power Rangers

Berbeda dengan film-film Power Rangers terdahulu, disini kelima tokoh utama tidak dapat dengan mudah berubah menjadi Power Rangers yang sakti mandraguna :’D. Fisik mereka dilatih terlebih dahulu oleh Zordon (Bryan Cranston) dan Alpha 5 (Bill Hader). Apakah latihan fisik saja sudah cukup? Oh tidak mereka berlima harus menjadi satu dengan membuka diri satu sama lain. Hal ini bukanlah hal yang mudah karena kelima remaja ini merupakan remaja bermasalah yang terkena hukuman kelas tambahan di SMA mereka.

Power Rangers

Jason adalah andalan tim football sekolah yang melakukan tindak kriminal sebagai cara untuk lari dari tekanan sebagai seorang bintang yang harus berprestasi dan bersinar, harapan orang-orang terutama ayah Jason sungguh membebani Jason. Kimberly keluar dari tim cheerleader dan dijauhi oleh sahabat-sahabatnya karena masalah cyberbullying. Billy adalah remaja autis yang terkadang menjadi objek pelecehan teman SMA-nya. Zack setiap hari harus merawat ibunya yang sakit keras, itu bukanlah hal yang mudah. Trini . . . hhhmmmm ada apa dengan Trini?

Trini adalah tokoh dari film ini yang sempat menuai kontoversi sebab ia digadang-gadang sebagai seorang lesbian. Ahhh saya rasa itu hanya isapan jempol belaka, itu hanya iklan terselubung agar para pendukung gerakan LGBT semangat 45 menonton Power Rangers (2017). Padahal kalau saya lihat, Trini hanyalah remaja tomboy yang sedang mengalami krisis identitas. Apakah kalau ada remaja perempuan agak tomboy, maka ia dibilang lesbian? Aahhhh yang benar saja. Menurut saya prbadi, tidak ada katakter LGBT pada film ini :).

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers Power Rangers

Saya justru melihat sedikit ketertarikan antara Zack dengan Trini. Selain itu Jason dan Kimberly nampak cukup “dekat”, agak berbeda dengan versi film seri yang saya tonton dahulu kala dimana Kimberly justru “dekat” dengan tokoh Tommy Si Ranger hijau. Ooohh kemanakah Ranger Hijau?

Ranger Hijau memang hanya muncul namanya saja pada film ini. Entah wujudnya seperti apa. Sebenarnya ketidakadaan Ranger Hijau justru membuat film ini nampak lebih seimbang. Masing-masing Ranger memiliki porsi yang relatif sama, meskipun saya lihat Ranger Merah sedikit lebih dominan di sana. Keseimbangan ini memperlihatkan bahwa kerja sama akan membuahkan hasil yang maksimal. Terus terang saya termasuk penonton film seri Power Rangers yang mulai malas menonton filmnya setelah Tommy atau Ranger Hijau hadir. Pada film serinya, Ranger Hijau memiliki kostum yang agak berbeda dan dilengkapi dengan kendaraan tempur yang nampak lebih mengkilap dibandingkan dengan Ranger lainnya. Semuamuanyaaaa serba Ranger Hijau lah pokoknya :(. Entah kenapa sang sutradara nampak berniat sekali mengorbitkan Si Ranger Hijau ini tanpa mempedulikan peranan Ranger-Ranger lainnya. Apakah mereka itu hanyalah tokoh-tokoh figuran? Kenapa kok film serinya tidak sekalian saja berganti judul menjadi Mighty Morphin Green Ranger atau Bang Tommy Jagoan Angel Grove? meehhhh. Semoga Ranger Hijau versi film layar lebar, nantinya tidak terlalu dominan seperti pada film serinya.

Masalah yang dihadapi masing-masing Ranger memang dapat ditampilkan pada Power Rangers (2018), tapi porsi disaat mereka berhasil berubah seutuhnya menjadi Power Ranger lengkap dengan kostumnya, tidaklah banyak, bahkan terlalu sedikit. Padahal kostum Power Ranger kali ini terbilang keren dan realistis, sudah jauh berbeda dengan kostum di film seri yang terlihat seperti mainan anak-anak. Efek spesial pada film ini pun terlihat bagus kecuali untuk bagian pertempuran antara robot raksasa Power Rangers dengan monster raksasa Rita Repulsa, kurang realistis dan kurang halus untuk film keluaran 2017.

Power Rangers

Power Rangers

Dari segi cerita, Power Rangers (2017) termasuk film 2017 yang masih saja melakukan blunder klasik ala Hollywood di mana tokoh antagonis terlalu banyak menyianyiakan kesempatan mengalahkan tokoh protagonis. Rita Repulsa sebenarnya sudah beberapa kali memperoleh kesempatan untuk membunuh Power Rangers, tapi apa yang Rita lakukan? Bukannya membunuh para Rangers, ia justru terlalu banyak bicara dan menggunakan metode pembunuhan yang tidak praktis sehingga Power Rangers dapat meloloskan diri. Rasanya Rita kalah bukan karena kekompakan Power Rangers, Rita kalah karena kebodohannya sendiri.

Power Rangers

Power Rangers

Berkaca dari pengalaman menonton Power Rangers (2017) di atas, rasanya film ini masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh iya, tokoh Bulk dan Skull yang selalu ada pada film seri Power Rangers tahun 90-an, kali ini absen looh, Tapi keabsenan tokoh Bulk dan Skull ini tidak memberikan pengaruh apapun bagi saya karena kedua tokoh tersebut pada dasarnya memang kurang lucu dan tidak menonjol hehee.

Sumber: www.powerrangers.com

Iklan

3 thoughts on “Power Rangers (2017)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s