Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dibuat berdasarkan novel tahun 1981 karya Chris Van Allsburg dengan judul yang sama, Jumanji (1995) berhasil menembus tangga box office dan meraih keuntungan. Film tersebut mengisahkan bagaimana kakak-adik Judith “Judy” Shepherd (Kirsten Dunst) dan Peter Shepherd (Bradley Pierce) bermain Jumanji. Jumanji adalah semacam papan permainan dengan menggunakan dadu yang biasa dimainkan oleh anak-anak zaman dahulu. Tapi Jumanji ternyata bukanlah papan permainan biasa karena setiap mereka melempar dadu, terjadi tantangan dan kekacauan di mana-mana. Mereka pun akhirnya bertemu dengan Alan Parish (Robin Williams) yang sudah terjebak di dalam permainan Jumanji sejak puluhan tahun lalu. Judy, Peter dan Alan harus menyelesaikan permainan Jumanji yang mereka mulai bila mereka ingin kehidupan mereka kembali normal. Terus terang Jumanji (1995) memang menjanjikan plot yang menarik dan menggunakan special effect yang bagus untuk film tahun 90-an, tapi cerita yang kurang kuat landasannya, membuat saya pribadi tidak terlalu senang dengan film tersebut.

Entah bagaimana, 10 tahun kemudian hadir Zathura (2005) dengan plot cerita yang mirip. Hanya saja Zathura (2005) menggunakan luar angkasa sebagai latar belakangnya. Zathura sendiri merupaka nama papan permainan yang dimainkan oleh kakak-adik Walter Browning (Josh Hutcherson) dan Danny Browning (Jonah Bobo). Sangat mirip dengan Jumanji (1995), kedua bersaudara tersebut bertemu dengan, Sang Astronot (Dax Shepard), seseorang yang entah bagimana sudah lama sekali terperangkap di dalam Zathura. Sang Astronot merupakan tokoh misterius yang mampu memberikan sedikit kejutan bagi Zathura (2005). Tapi yaaa mirip seperti Jumanji (1995), ceritanya kurang kuat dan alur sebab-akibat-nya tidak jelas. Ahhhh, bukan film favorit saya.

Lalu apa hubungan antara Jumanji (1995) dengan Zathura (2005)? Kenapa keduanya relatif mirip ya? Zathura (2005) bukan sekuel Jumanji (1995) tapi Zathura (2005) ternyata merupakan adaptasi dari novel lain karya Chris Van Allsburg, pengarang novel Jumanji. lebih dari 10 tahun kemudian, barulah muncul sekuel dari Jumanji (1995), yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Pada abad 21 dimana semua semakin modern, papan permainan semakin menurun popularitasnya. Kalau ada anak-anak melihat papan permainan kayu dan video game, sudah hampir dipastikan mereka akan lebih memilih video games. Papan permainan ajaib Jumanji ternyata memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan mengubah bentuknya menjadi console video game :’D.

Pemain Jumanji versi console kali ini adalah 4 murid Brantford High School yaitu Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner). Bethany dan Fridge termasuk murid populer yang terpandang di sekolah. Sedangkan Spencer dan Martha adalah kutu buku yang diam-diam saling menyukai. Baik Martha maupun Spencer, sama-sama termasuk tipe siswa cerdas yang kemampuan fisiknya kurang baik. Martha sampai dihukum karena menolak mengikuti pelajaran olahraga dan secara tidak sengaja mendiskreditkan guru olahraganya. Spencer yang berbadan kecil dan agak penakut, terkena hukuman dari sekolah karena ia mengerjakan PR Fridge demi mendapatkan pengakuan. Spencer berharap bahwa ia akan menjadi teman Fridge bila Spencer menolong Fridge di bidang akademis. Kenapa Fridge? Fridge sendiri merupakan pemuda berbadan tegap yang terkenal akan kepiawaiannya bermain American Football di sekolah. Kepopuleran di sekolah bukan hanya milik Fridge, Bethany pun termasuk siswi yang populer karena kecantikannya. Sayang Bethany terkena kecanduan gadget. Berthany yang sangat narsis tidak dapat hidup tanpa social media. Social media pulalah yang membuat Bethany terkena hukuman di hari yang sama dengan Martha, Spencer dan Fridge.

Keempat murid Brantford High School tersebut dihukum harus membereskan sebuah ruangan yang sangat berantakan. Di sanalah mereka menemukan console video game Jumanji dan memutuskan untuk memainkannya. Berbeda dengan papan permainan Jumanji pada Jumanji (1995) yang menggunakan dadu dan mirip ular tangga, permainan Jumanji kali ini lebih mirip RPG (Role-Playing Games). Para pemain diharuskan memilih avatar atau karakter permainan dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Keempatnya kemudian diterjunkan ke dalam hutan Jumanji untuk menyelesaikan sebuah misi agar dapat pulang ke dunia nyata. Misi para pemain kali ini adalah mengembalikan artefak Mata Jaguar yang sempat dicuri Russel Van Pelt (Bobby Cannavale). Mereka harus membawa Mata Jaguar kembali ke Bukit Jaguar demi mengangkat kutukan yang menimpa dunia Jumanji. Perjalanan keempat pemain tersebut tidaklah mudah karena dipenuhi oleh berbagai rintangan dan masing-masing karakter hanya memiliki 3 nyawa. Mereka harus menyisihkan perbedaan yang ada demi dapat menyelesaikan misi dan kembali pulang ke dunia nyata. Semuanya memiliki kemampuan dan kelemahan yang saling melengkapi.

Uniknya, keempat pemain Jumanji justru memperoleh karakter permainan yang bertolak belakang dengan kondisi mereka di dunia nyata. Spencer memilih karakter Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Martha memilih karakter Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Fridge memilih karakter Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart) dan Bethany memilih Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black). Bravestone dan Ruby memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Sedangkan Fridge justru memperoleh karakter yang lemah secara fisik, tapi memiliki pengetahuan yang sangat luas terkait hewan-hewan penghuni hutan. Terakhir, Bethany memperoleh karakter seorang lelaki paruh baya yang gendut dan kurang menarik secara fisik, namun memiliki kemampuan membaca peta Jumanji yang tidak dapat dilakukan oleh karakter-karakter lainnya.

Jelas sudah, keempatnya saling membutuhkan satu sama lain untuk menuntaskan permainan Jumanji. Tanpa dukungan pemain lain, mustahil permainan ini dapat diselesaikan. Hal ini terlihat jelas ketika keempatnya bertemu Alex Vreeke (Mason Guccione) yang menggunakan karakter Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas). Alex memang menggunakan satu-satunya karakter yang dapat menerbangkan pesawat terbang, tapi tanpa bantuan karakter-karakter lain, Alex terjebak tidak dapat menuntaskan sebuah rintangan selama lebih dari 20 tahun. Alur cerita dimana pemain-pemain baru bertemu dengan seorang pemain lama yang sudah lama sekali terjebak, sangat mirip sekali dengan apa yang saya tonton di Jumanji (1995) dan Zathura (2005), sekuel sih sekuel tapi kan tidak harus semirip ini juga seharusnya :’/. Tokoh Alex pada film sekuel ini ibaratnya adalah tokoh Alan Parish pada Jumanji (1995) dan tokoh Sang Astronot pada Zathura (2005). Tapi Alan dan Sang Astronot sama-sama menjadi tokoh yang relatif dominan, sedangkan Alex tidak. Alex menjadi tokoh yang setara dengan keempat rekan-rekan barunya. Di sana Alex membantu Bethany untuk belajar agar lebih tidak egois, tidak narsis dan mau peduli terhadap sesama. Bethany membantu Martha untuk lebih percaya diri. Kepercayaan diri jugalah yang Spencer dan Fridge sama-sama saling ajarkan satu sama lain ketika keduanya memiliki tubuh yang jauh berbeda dari yang mereka miliki di dunia nyata. Kelucuan demi kelucuan terjadi akibat perbedaan ini, saya sendiri sempat tertawa melihatnya :D.

Tidak hanya komedi, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) berhasil menunjukkan nilai baik dari dua sisi yaitu sisi si kutu buku dan sisi si anak populer. Ternyata tidak ada yg 100% baik dan 100% buruk pada keduanya, bahkan mereka dapat saling melengkapi dan bersahabat satu sama lain.

Selain itu, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) memiliki akar cerita yang kuat dan jelas. Ini kenapa dan itu bagaimana, dapat dijelaskan dengan baik dan rapi. Ditambah aroma permainan genre RPG yang kental, film ini tentunya akan memperoleh nilai plus tambahan di mata para pecinta permainan-permainan bergenre RPG :).

Bagi saya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) lebih berkualitas ketimbang Jumanji (1995) dan Zathura (2005). Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih, sekuel lebih bagus daripada film pertamanya.

Sumber: jumanjimovie.com

Iklan

Tomb Rider (2018)

Awalnya Tomb Rider merupakan video game petualangan dan teka-teki keluaran Eidos pada tahun 1996. Kemudian hadir sekuel video game – video game Tomb Rider pada berbagai perangkat dengan perusahaan pengembang yang berbeda. Setahu saya, video game Tomb Rider yang pada awalnya muncul di Sony PlayStation, sudah memiliki lebih dari 16 sekuel sampai saat ini. Pada game ini, tokoh Lara Croft hadir sebagai Indiana Jones versi wanita. Ia berpetualang memecahkan berbagai teka-teki dan misteri yang melibatkan artefak dan legenda kuno. Sesuatu yang kurang dapat digambarkan oleh 2 film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie, yaitu Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Mampukah Tomb Rider (2018) berbuat lebih?

Tomb Rider (2018) menggunakan kisah pada video game Tomb Rider 2013 keluaran Square Enix. Sama seperti versi video game 2013, Tomb Rider (2018) adalah reboot dari kisah-kisah Tomb Rider sebelumnya. Kali ini Alicia Vikander memerankan Lara Croft muda yang kehilangan kedua orang tuanya. Sejak kematian istrinya, ayah Lara yaitu Lord Richard Croft (Dominic West), menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari mitos-mitos yang penuh misteri.

Salah satu mitos yang Richard dalami sebelum ia menghilang adalah mitos mengenai Himiko. Konon Himiko adalah ratu Jepang pertama yang menguasai Jepang dengan teror dan kegelapan. Hanya dengan sentuhan saja, Himiko mampu memberikan kematian bagi banyak orang. Pada suatu hari, Jendral-Jendral bawahan Himiko memberontak dan berhasil mengubur Himiko jauh di Pulau Yamatai. Keberadaan Pulau Yamatai selalu menjadi misteri yang belum terpecahkan. Konon, ada pihak-pihak yang berusaha mencari kuburan Himiko untuk membangkitkan kembali Sang Ratu tersebut. Ada dugaan bahwa kekuatan Himiko terperangkap di dalam Pulau Yamatai, menunggu untuk dibebaskan ke dunia luar.

Melalui catatan yang Lara temukan di ruangan bawah milik ayahnya, Lara menemukan petunjuk bahwa Richard berhasil menemukan Pulau Yamatai dan lokasi kuburan Hiromi. Lara langsung berangkat ke Hongkong dan menemui Lu Ren (Daniel Wu), kapten kapal Endurance yang dapat mengantarkan Lara ke Pulau Yamatai.

Perjalanan Lara dan Lu Ren penuh bahaya, karena mereka bukan hanya menghadapi ganasnya alam, teka-teki kuno dan jebakan kuburan, mereka harus berhadapan pula dengan sekelompok pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Mathias Vogel (Walton Goggins). Vogel ternyata adalah arkeolog utusan Trinity, sebuah organisasi rahasia yang berambisi untuk mengambil dan menggunakan kekuatan Himiko untuk kepentingan organisasi tersebut.

Ahhhh, bagi yang sudah pernah bermain video game Tomb Rider 2013, pasti menyadari bahwa jalan cerita Tomb Rider (2018) sangat mirip dengan jalan cerita video game Tomb Rider 2013. Saya rasa Tomb Rider (2018) berhasil menginterpretasikan video game Tomb Rider 2013 ke dalam layar kaca dengan sangat baik. Para fans video game Tomb Rider tentunya akan puas dengan Tomb Rider (2018).

Karena dibuat berdasarkan sebuah video game, aspek-aspek ketidakmasukakalan tentunya akan terlihat pada Tomb Rider (2018). Akantetapi aspek-aspek tersebut tidak terlalu banyak dan fatal. Tomb Rider (2018) bahkan dapat dikatakan sebagai film Tomb Rider paling realistis yang pernah saya tonton. Lara Croft tidak nampak sebagai jagoan wanita yang super kuat. Berkat akting Alicia Vikander yang bagus, Lara Croft nampak lebih manusiawi ketimbang Lara Croft versi Angelina Jolie. Pada Tomb Rider (2018), Lara dapat merasakan kekalahan ketika bertarung, ketakutan ketika berhadapan dengan bahaya, dan kaget ketika mengambil nyawa orang lain untuk pertama kalinya.

Poin-poin positif di atas semakin berkilau karena dikemas dengan jalan cerita yang lumayan bagus dan tidak membosankan. Memang sih, tidak ada momen wow atau fantastis pada Tomb Rider (2018). Penyelesaian teka-teki yang ada pun tidak terlalu detail, film ini hanya menunjukkan kepiawaian Lara menyelesaikan teka-teki tapi penonton diberitahukan apa yang terjadi di sana. Tapi film ini tetap mampu memberikan suguhan film aksi dan petualangan yang menyenangkan untuk dilihat baik bagi fans video game Tomb Raider maupun bagi teman-teman yang belum pernah tahu apa itu Tomb Rider. Bagian akhir yang membeberkan kenyataan akan Himiko benar-benar cerdas dan berhasil menggabungkan mitos dengan kenyataan sehingga apa yang terjadi pada Himiko menjadi masuk akal.

Kalau ditanya, jelas saya lebih suka dengan Tomb Rider (2018), ketimbang Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Tomb Rider (2018) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.tombridermovie.com

Atomic Blonde (2017)

Mengambil era menjelang keruntuhan tembok Berlin di tahun 1989, Atomic Blonde (2017) mengisahkan perebutan sebuah daftar nama mata-mata yang aktif beroperasi di Berlin. Konon daftar tersebut mencantumkan pula detail mengenai Satchel, seorang mata-mata yang bekerja untuk KGB/Rusia dan MI6/Inggris. Identitas Satchel lah yang membuat KGB dan MI6 saling bunuh demi daftar tersebut.

MI6 mengirim Lorraine Broughton (Charlize Theron) untuk mengambil daftar tersebut. Di Berlin, Lorraine akan didukung oleh agen MI6 lainnya, David Percival (James McAvoy). Bukannya bekerja sama, Lorraine dan David justru saling adu licik. Keduanya ternyata memiliki agenda dan kepentingan sendiri. Padahal keduanya harus berhadapan dengan agen-agen KGB yang dipimpin oleh Aleksander Bremovych (Roland Møller).

Pada akhirnya, setiap agen bertindak demi kepentingannya masing-masing. Arah dan keberpihakan tokoh-tokoh utama pada Atomic Blonde (2017) dibuat blur demi memunculkan kejutan. Sayang kejutan-kejutan yang berusaha ditampilkan, terbilang mudah ditebak. Sejak awal film pun saya sudah dapat menebak siapa Satchel itu sebenarnya.

Walaupun ceritanya relatif dapat ditebak, Charlize Theron berhasil memerankan seorang agen wanita yang tangguh yang rela menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya. Penampilannya cukup meyakinkan lengkap dengan gaya rambut tahun 80-an yang khas. James McAvoy tetap mampu menampilkan akting yang prima seperti yang pernah ia berikan pada film-film lainnya.

Dengan demikian, saya rasa Atomic Blonde (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saran saya, film ini jangan ditonton bersama anak-anak sebab pada film ini ada beberapa hal yang jauh melenceng dari budaya Indonesia.

Sumber: http://www.iamatomic.com

Alien: Covenant (2017)

Sewaktu masih kecil dulu, film-film Alien karya sutradara Ridley Scott berhasil menjadi film favorit saya. Diawali dengan Alien (1978), kemudian diikuti oleh beberapa sekuel yaitu Aliens (1986), Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Keempat film Alien di atas sama-sama mengisahkan teror di atas kapal atau stasiun luar angkasa oleh sebuah mahluk parasit yang menggunakan tubuh manusia sebagai tempat untuk bertelur. Ellen Ripley (Sigourney Weaver) adalah tokoh sentral keempat film tersebut yang mengawal benang merah kesinambungan jalan cerita antar film.

Alien (1979) dan Aliens (1986) berhasil memberikan tontonan yang menegangkan dengan cerita yang menarik. Jadi tidak hanya kejar mengejar di dalam kapal luar angkasa saja. Ada cerita lain di sana yang membuat kedua film tersebut lebih berkualitas dibandingkan film-film lain di eranya.

Sama seperti kedua pendahulunya, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) masih mengisahkan petualangan Ripley menghadapi mahluk luar angkasa di lorong-lorong sempit pesawat dan penjara luar angkasa. Sayang sekali, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) hanya menonjolkan adegan kejar mengejar saja, tiada cerita yang menarik di sana. Saya pribadi lebih memilih untuk menganggap bahwa petualangan Ripley berakhir di Aliens (1986).

Pada tahun 2012, Ridley Scott kembali menghadirkan mahluk luar angkasa yang menjadi lawan Ripley pada Prometheus (2012). Tapi film ini bukanlah sekuel dari Alien (1979), melainkan prekuel. Jadi Prometheus (2012) mengisahkan kisah sebelum Alien (1979). Asal muasal mahluk luar angkasa seolah tidak menjadi topik utama pada film tersebut. Asal muasal manusialah yang justru ditonjolkan pada film tersebut. Pencarian para awak kapal Prometheus terhadap pencipta manusia, justru membawa bencana bagi seluruh awak kapal. Prometheus (2012) jelas lebih menarik ketimbang Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Kabarnya Prometheus (2012) akan menjadi film pertama bagi trilogi prekuel Alien (1979).

Saya pikir, film setelah Prometheus (2012) akan berjudul Prometheus 2. Ow saya salah besar, Ridley Scott justru memilih judul Alien: Covenant. Alien: Covenant (2017) mengambil peristiwa sebelum Alien (1979) dan sesudah Prometheus (2012). Dikisahkan bahwa kapal luar angkasa Covenant membawa ribuan manusia yang hendak bermigrasi dari Bumi menuju planet lain yang layak untuk ditinggali. Di tengah-tengah perjalanan, terjadi kecelakaan yang membunuh kapten kapal Covenant dan membuat kapal Covenant berhenti sejenak. Ketika para penumpang lainnya masih ditidurkan di dalam kapsul es, para awak kapal dibangunkan untuk memperbaiki situasi. Mereka seharusnya ditidurkan di dalam kapsul es selama puluhan tahun dan akan dibangunkan ketika mereka tiba di Planet tujuan yaitu Origae-6.

Sayangnya, kapten kapal pengganti yaitu Chris Oram (Billy Crodup), memilih untuk mampir ke Planet yang baru terdeteksi ketika para awak kapal sedang memperbaiki Covenant. Planet tersebut nampak mirip dengan Bumi, bersahabat, layak dihuni dan posisinya jauh lebih dekat ketimbang Planet Origae-6. Keputusan Chris berujung bencana karena di Planet misterius yang kosong ini, mereka bertemu dengan David 8 (Michael Fassbender) lengkap dengan bibit mahluk luar angkasa parasit yang pernah hadir pada film-film Alien sebelumnya. David 8 sendiri adalah salah satu awak kapal Prometheus yang selamat pada Prometheus (2012). Di sini akan terungkap apa yang terjadi kepada awal kapal Prometheus yang tersisa setelah Prometheus (2012) berakhir. Sudah pasti, para awak kapal Covenant satu demi satu berguguran.

Uniknya, para awak kapal Covenant merupakan pasangan suami istri sehingga ketika salah satu terancam bahaya atau tewas, maka pengambilan keputusan pasangannya akan terpengaruh. Tennessee Faris (Danny McBride) beberapa kali mengambil keputusan sebagai pilot Covenant dengan dipengaruhi oleh emosi karena ketidakjelasan nasib istrinya yang juga seorang pilot. Chris, sebagai Kapten pengganti pun mengalami shock dan tidak mampu memimpin lagi ketika bahaya dan bencana menimpa istrinya yang berprofesi sebagai ahli Biologi Covenant. Chris sampai harus melimpahkan tampu kepemimpinan kepada Daniels (Katherine Waterston) yang sudah lebih dahulu kehilangan suaminya. Daniels adalah istri dari kapten Covenant pertama yang gugur ketika kecelakaan di awal film terjadi. Seperti film-film Alien sebelumnya, protagonis utama diperankan oleh seorang wanita berambut pendek yang tangguh seperti Daniels. Walaupun Daniels memang nampak lebih tabah dan tangguh, sangat sulit bagi Daniels untuk menyaingi Ellen Ripley, tokoh utama keempat film Alien pertama. Saya rasa tokoh Ripley lebih tangguh dan perkasa :’D.

Sepanjang film, terjadi kerjar mengejar antara awak kapal Covenant dengan mahluk luar angkasa. Pengejaran ini juga berlangsung di lorong-lorong pesawat luar angkasa yang sempit, mirip seperti film-film Alien sebelumnya. Sayang adegan kejar mengejar ini tidak ada gregetnya dan cenderung membosankan.

Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya misteri atau sesuatu yang dapat membuat saya penasaran seperti pada Prometheus (2012). Awalnya saya berharap Alien: Covenant (2017) mampu memberikan sedikit jawaban akan misteri penciptaan manusia yang belum seluruhnya terungkap pada Prometheus (2012). Pertanyaan besar akan asal mula manusia yang digembar-gemborkan pada Prometheus (2012) seakan menguap tanpa sisa. Apakah ini karena Opa Ridley Scott takut akan kontroversi dan kemarahan dari para pemuka agama?

Ahhhh, Alien: Covenant (2017) benar-benar tidak sesuai ekspektasi saya. Film ini hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Walaupun bagian akhirnya menyisakan beberapa pertanyaan, saya ragu bahwa jawabannya akan muncul pada film Alien berikutnya. Lama kelamaan Alien akan menjadi salah satu franchise film yang bergulir tanpa arah yang jelas.

Sumber: http://www.alien-covenant.com

Pacific Rim Uprising (2018)

Seperti sebagian besar kaum Adam, saya senang menonton film superhero atau robot. Maka, ketika Pacific Rim Uprising (2018) muncul, saya langsung menonton filmnya :). Pacific Rim Uprising (2018) mengambil jalan cerita setelah peristiwa pada Pacific Rim (2013), tapi Pacific Rim Uprising (2018) dapat diperlakukan sebagai film baru yang independen. Teman-teman yang belum menonton Pacific Rim (2013), tidak akan kebingungan ketika menonton Pacific Rim Uprising (2018).

Sebagai pengantar, dikisahkan bahwa dulu, sekelompok mahluk asing mengirimkan monster-monster raksasa yang disebut Kaiju, ke Bumi m Berbedatahunelalui portal-portal yang terdapat di bawah Lautan Pasifik. Kaiju datang membawa kehancuran bagi seluruh penduduk Bumi. Melalui PPDC (The Pan Pacific Defence Corps), umat manusia memberikan perlawanan sengit. Untuk melawan Kaiju PPDC menggunakan robot-robot raksasa yang disebut Jaeger. Untuk mengendalikan sebuah Jaeger, diperlukan minimal 2 orang pilot. Bumi kembali damai setelah para pilot Jaeger, dengan dibantu para ilmuwan, berhasil menutup celah-celah portal di sepanjang Lautan Pasifik sehingga Kaiju tidak dapat menyerbu Bumi lagi.

Pada Pacific Rim Uprising (2018), kejadian di atas sudah berlalu 10 tahun yang lalu. 10 tahun lamanya, Bumi sudah tidak melihat Kaiju lagi. PPDC tetap hadir untuk berjaga-jaga bila pada suatu hari Kaiju hadir kembali di Bumi. Dengan bekerja sama dengan Shao Industries, PPDC memperoleh Jaeger-Jaeger baru yang lebih aman karena pengendaliannya seperti drone, semua dapat dikendalikan dari jarak jauh. Liwen Shao (Jing Tian) dan Dr. Newt Geiszler (Charlie Day) merupakan sutradara dibalik pengembangan Jaeger baru tersebut. Pemahaman Newt terhadap Kaiju dan Jaeger sudah tidak diragukan lagi karena dia dan Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman) merupakan 2 ilmuwan yang memegang peranan penting ketika Jaeger berhasil menutup celah-celah pintu masuk Kaiju 10 tahun yang lalu. Keduanya sama-sama berhasil masuk ke dalam pikiran Kaiju dan pencipta Kaiju.

Pertempuran terakhir pada Pacific Rim (2013) telah merenggut nyawa para pilot Jaeger termasuk Jendral Stacker Pentecost (Idris Elba). Nama Pentecost harum dan identik dengan kisah heroik Stacker Pentecost dan kawan-kawan. Hal ini terkadang menjadi beban bagi anak kandung Stacker yaitu Jake Pentecost (John Boyega). Sayangnya, konflik dan masalah yang dihadapi Jake terasa hambar karena kurang dieksplotasi dengan baik. Padahal, Jake merupakan tokoh yang paling dominan pada Pacific Rim Uprising (2018). Jake bersama Nate Lambert (Scott Eastwood), mengemudikan Jaeger Gipsy Avenger yang legendaris. Loh, kemana pilot Gipsy Avenger sebelumnya? Bukankah mereka merupakan tokoh protagonis utama pada Pacific Rim (2013)? Yang muncul hanya Mako Mori (Rinko Kikuchi), ia pun hanya muncul sesaat sebagai pejabat tinggi PPDC. Nampaknya Pacific Rim (2013) mengikuti trend film-film sekuel zaman sekarang yang menghilangkan protagonis utama di film pertama dan kembali memunculkannya pada film ketiga … kalau ada :P. Protagonis utama Pacific Rim (2013), Raleigh Becket (Charlie Hunnam), benar-benar menghilang pada Pacific Rim Uprising (2018), ketenaran dan jasanya sama sekali tidak disebutkan. Hanya jasa Pentecost saja yang diagung-agungkan. Mungkinkah ia disimpan untuk film ketiga? …

Karakter-karakter bisa berganti, tapi Jaeger tetap akan selalu ada tentunya. Jaeger akan selalu menjadi magnet bagi film ini. Awalnya saya pikir Pacific Rim Uprising (2018) akan mengisahkan mengenai konflik antara perubahan sistem kemudi Jaeger yang dibawa oleh Shao Indistries. Perubahan yang tentunya akan mempengaruhi cara kerja PPDC, terutama pilot Jaeger.

Setelah saya menonton separuh Pacific Rim Uprising (2018), ternyata Shao Industries memang membawa masalah, tapi tidak diarah seperti yang saya duga. Dengan dibantu oleh pilot-pilot Jaeger junior yang minim pengalaman, Jake dan Nate harus berjibaku menghadapi kekacauan yang disebabkan oleh robot-robot canggih Shao Industries.

Sebagai pilot senior, Jake dan Nate memiliki beberapa murid yang sedang mereka ajar untuk menjadi pilot Jaeger. Amara Namani (Cailee Spaeny) merupakan salah satu murid Jake yang paling menonjol karena pengetahuannya yang sangat luas dan kemampuannya merakit Jaeger sendiri. Bersama-sama dengan Jake, Amara merupakan karakter protagonis yang dominan pada film ini. Masa lalu Amara pun mendapat jatah pada film ini, sebuah masa lalu yang harus Amara hadapi demi melangkah ke depan.

Peperangan yang Amara dan Jake hadapi didukung oleh special effect yang keren. Pertarungan yang melibatkan monster dan robot raksasa tentunya akan menjadi daya tarik yang kuat. Sayang, walaupun jalan ceritanya dibuat sedikit mengecoh, saya relatif lebih suka dengan jalan ceritanya Pacific Rim (2013).

Perubahan karakter utama yang memiliki nasib kurang lebih sama saja, rasanya menjadi sebuah kemubaziran. Jake pada Pacific Rim Uprising (2018) dan Raleigh pada Raleigh sama-sama harus menghadapi kesedihan akibat kehilangan keluarga dekat ketika mengemudikan Jaeger. Keduanya pun sama-sama “memberontak” terhadap kenyataan hidup yang ada.

Meskipun menurut saya kualitas Pacific Rim Uprising (2018) sedikit di bawah Pacific Rim (2013), rasanya Pacific Rim Uprising (2018) masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap film ketiganya bisa lebih bagus lagi ;).

Sumber: http://www.pacificrimmovie.com