Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dibuat berdasarkan novel tahun 1981 karya Chris Van Allsburg dengan judul yang sama, Jumanji (1995) berhasil menembus tangga box office dan meraih keuntungan. Film tersebut mengisahkan bagaimana kakak-adik Judith “Judy” Shepherd (Kirsten Dunst) dan Peter Shepherd (Bradley Pierce) bermain Jumanji. Jumanji adalah semacam papan permainan dengan menggunakan dadu yang biasa dimainkan oleh anak-anak zaman dahulu. Tapi Jumanji ternyata bukanlah papan permainan biasa karena setiap mereka melempar dadu, terjadi tantangan dan kekacauan di mana-mana. Mereka pun akhirnya bertemu dengan Alan Parish (Robin Williams) yang sudah terjebak di dalam permainan Jumanji sejak puluhan tahun lalu. Judy, Peter dan Alan harus menyelesaikan permainan Jumanji yang mereka mulai bila mereka ingin kehidupan mereka kembali normal. Terus terang Jumanji (1995) memang menjanjikan plot yang menarik dan menggunakan special effect yang bagus untuk film tahun 90-an, tapi cerita yang kurang kuat landasannya, membuat saya pribadi tidak terlalu senang dengan film tersebut.

Entah bagaimana, 10 tahun kemudian hadir Zathura (2005) dengan plot cerita yang mirip. Hanya saja Zathura (2005) menggunakan luar angkasa sebagai latar belakangnya. Zathura sendiri merupaka nama papan permainan yang dimainkan oleh kakak-adik Walter Browning (Josh Hutcherson) dan Danny Browning (Jonah Bobo). Sangat mirip dengan Jumanji (1995), kedua bersaudara tersebut bertemu dengan, Sang Astronot (Dax Shepard), seseorang yang entah bagimana sudah lama sekali terperangkap di dalam Zathura. Sang Astronot merupakan tokoh misterius yang mampu memberikan sedikit kejutan bagi Zathura (2005). Tapi yaaa mirip seperti Jumanji (1995), ceritanya kurang kuat dan alur sebab-akibat-nya tidak jelas. Ahhhh, bukan film favorit saya.

Lalu apa hubungan antara Jumanji (1995) dengan Zathura (2005)? Kenapa keduanya relatif mirip ya? Zathura (2005) bukan sekuel Jumanji (1995) tapi Zathura (2005) ternyata merupakan adaptasi dari novel lain karya Chris Van Allsburg, pengarang novel Jumanji. lebih dari 10 tahun kemudian, barulah muncul sekuel dari Jumanji (1995), yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Pada abad 21 dimana semua semakin modern, papan permainan semakin menurun popularitasnya. Kalau ada anak-anak melihat papan permainan kayu dan video game, sudah hampir dipastikan mereka akan lebih memilih video games. Papan permainan ajaib Jumanji ternyata memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan mengubah bentuknya menjadi console video game :’D.

Pemain Jumanji versi console kali ini adalah 4 murid Brantford High School yaitu Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner). Bethany dan Fridge termasuk murid populer yang terpandang di sekolah. Sedangkan Spencer dan Martha adalah kutu buku yang diam-diam saling menyukai. Baik Martha maupun Spencer, sama-sama termasuk tipe siswa cerdas yang kemampuan fisiknya kurang baik. Martha sampai dihukum karena menolak mengikuti pelajaran olahraga dan secara tidak sengaja mendiskreditkan guru olahraganya. Spencer yang berbadan kecil dan agak penakut, terkena hukuman dari sekolah karena ia mengerjakan PR Fridge demi mendapatkan pengakuan. Spencer berharap bahwa ia akan menjadi teman Fridge bila Spencer menolong Fridge di bidang akademis. Kenapa Fridge? Fridge sendiri merupakan pemuda berbadan tegap yang terkenal akan kepiawaiannya bermain American Football di sekolah. Kepopuleran di sekolah bukan hanya milik Fridge, Bethany pun termasuk siswi yang populer karena kecantikannya. Sayang Bethany terkena kecanduan gadget. Berthany yang sangat narsis tidak dapat hidup tanpa social media. Social media pulalah yang membuat Bethany terkena hukuman di hari yang sama dengan Martha, Spencer dan Fridge.

Keempat murid Brantford High School tersebut dihukum harus membereskan sebuah ruangan yang sangat berantakan. Di sanalah mereka menemukan console video game Jumanji dan memutuskan untuk memainkannya. Berbeda dengan papan permainan Jumanji pada Jumanji (1995) yang menggunakan dadu dan mirip ular tangga, permainan Jumanji kali ini lebih mirip RPG (Role-Playing Games). Para pemain diharuskan memilih avatar atau karakter permainan dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Keempatnya kemudian diterjunkan ke dalam hutan Jumanji untuk menyelesaikan sebuah misi agar dapat pulang ke dunia nyata. Misi para pemain kali ini adalah mengembalikan artefak Mata Jaguar yang sempat dicuri Russel Van Pelt (Bobby Cannavale). Mereka harus membawa Mata Jaguar kembali ke Bukit Jaguar demi mengangkat kutukan yang menimpa dunia Jumanji. Perjalanan keempat pemain tersebut tidaklah mudah karena dipenuhi oleh berbagai rintangan dan masing-masing karakter hanya memiliki 3 nyawa. Mereka harus menyisihkan perbedaan yang ada demi dapat menyelesaikan misi dan kembali pulang ke dunia nyata. Semuanya memiliki kemampuan dan kelemahan yang saling melengkapi.

Uniknya, keempat pemain Jumanji justru memperoleh karakter permainan yang bertolak belakang dengan kondisi mereka di dunia nyata. Spencer memilih karakter Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Martha memilih karakter Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Fridge memilih karakter Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart) dan Bethany memilih Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black). Bravestone dan Ruby memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Sedangkan Fridge justru memperoleh karakter yang lemah secara fisik, tapi memiliki pengetahuan yang sangat luas terkait hewan-hewan penghuni hutan. Terakhir, Bethany memperoleh karakter seorang lelaki paruh baya yang gendut dan kurang menarik secara fisik, namun memiliki kemampuan membaca peta Jumanji yang tidak dapat dilakukan oleh karakter-karakter lainnya.

Jelas sudah, keempatnya saling membutuhkan satu sama lain untuk menuntaskan permainan Jumanji. Tanpa dukungan pemain lain, mustahil permainan ini dapat diselesaikan. Hal ini terlihat jelas ketika keempatnya bertemu Alex Vreeke (Mason Guccione) yang menggunakan karakter Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas). Alex memang menggunakan satu-satunya karakter yang dapat menerbangkan pesawat terbang, tapi tanpa bantuan karakter-karakter lain, Alex terjebak tidak dapat menuntaskan sebuah rintangan selama lebih dari 20 tahun. Alur cerita dimana pemain-pemain baru bertemu dengan seorang pemain lama yang sudah lama sekali terjebak, sangat mirip sekali dengan apa yang saya tonton di Jumanji (1995) dan Zathura (2005), sekuel sih sekuel tapi kan tidak harus semirip ini juga seharusnya :’/. Tokoh Alex pada film sekuel ini ibaratnya adalah tokoh Alan Parish pada Jumanji (1995) dan tokoh Sang Astronot pada Zathura (2005). Tapi Alan dan Sang Astronot sama-sama menjadi tokoh yang relatif dominan, sedangkan Alex tidak. Alex menjadi tokoh yang setara dengan keempat rekan-rekan barunya. Di sana Alex membantu Bethany untuk belajar agar lebih tidak egois, tidak narsis dan mau peduli terhadap sesama. Bethany membantu Martha untuk lebih percaya diri. Kepercayaan diri jugalah yang Spencer dan Fridge sama-sama saling ajarkan satu sama lain ketika keduanya memiliki tubuh yang jauh berbeda dari yang mereka miliki di dunia nyata. Kelucuan demi kelucuan terjadi akibat perbedaan ini, saya sendiri sempat tertawa melihatnya :D.

Tidak hanya komedi, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) berhasil menunjukkan nilai baik dari dua sisi yaitu sisi si kutu buku dan sisi si anak populer. Ternyata tidak ada yg 100% baik dan 100% buruk pada keduanya, bahkan mereka dapat saling melengkapi dan bersahabat satu sama lain.

Selain itu, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) memiliki akar cerita yang kuat dan jelas. Ini kenapa dan itu bagaimana, dapat dijelaskan dengan baik dan rapi. Ditambah aroma permainan genre RPG yang kental, film ini tentunya akan memperoleh nilai plus tambahan di mata para pecinta permainan-permainan bergenre RPG :).

Bagi saya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) lebih berkualitas ketimbang Jumanji (1995) dan Zathura (2005). Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih, sekuel lebih bagus daripada film pertamanya.

Sumber: jumanjimovie.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s