Shutter Island (2010)

Shutter Island

Shutter Island (2010) mengisahkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1954 di Pulau Shutter yang terpencil. Apa apa di Pulau Shutter? Di pulau tersebut berdiri Rumah Sakit Jiwa Ashecliffe yang dipimpin oleh Dr. John Cawley (Ben Kingsley). Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo) adalah polisi yang dikirim oleh pemerintah untuk menyelidiki hilangnya salah satu pasien di Pulau tersebut.

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Sesampainya di sana, Teddy sering mengalami migrain dan mimpi-mimpi aneh. Hal ini terkait dengan 2 trauma berat yang pernah ia hadapi di masa lalu. Teddy sering teringat akan peristiwa sadis yang harus ia hadapi ketika ikut perang melawan Nazi. Kemudian Teddy juga sering teringat akan kematian istrinya, Dolores Chanal (Michelle Williams). Hal inilah yang ternyata menjadi alasan kenapa Teddy memiliki motif lain untuk datang ke Shutter Island.

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Film ini bisa dibilang memiliki kejutan yang tak terduga bagi sebagian penonton. Sejak awal, saya sendiri melihat bahwa film ini adalah film tentang sakit jiwa. Dugaan saya mengenai kasus yang dihadapi Teddy ternyata terbukti benar walaupun jalan cerita film ini beberapa kali berusaha membelokkan arah kecurigaan saya. Film ini terlalu berusaha membelokkan tujuan dan arah tokoh utama sehingga fokus ceritanya agak blur. Hal ini pulalah yang membuat Shutter Island (2010) agak membosankan. Saya hanya dapat memberikan Shutter Island (2010) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.paramount.com/movies/shutter-island

Iklan

Mechanic: Ressurection (2016)

Ketika Mechanic: Ressurection (2016) dirilis, saya sepertinya agak familiar dengan judul film ini, sepertinya dulu pernah ada film seperti ini. Aaahhh ternyata Mechanic: Ressurection (2016) merupakan sekuel dari The Mechanic (2011), hanya saja Mechanic: Ressurection (2016) tidak menggunakan angka 2 di judulnya :’D. The Mechanic (2011) adalah remake dari The Mechanic (1972) yang dibintangi Eyang Charles Bronson. Mengikuti alur The Mechanic (1972), The Mechanic (2011) mengisahkan petualangan Arthur Bishop (Jason Statham), seorang pembunuh bayaran handal yang biasa membuat korbannya nampak tewas kerena kecelakaan atau sebab alami. Setelah lama hidup dan bekerja sendirian, ia akhirnya mengangkat anak dari salah satu korbannya sebagai murid. Si murid sendiri tidak tahu bahwa Arthur-lah yang membunuh ayahnya. Sebuah film dengan latar belakang yang menjanjikan tapi hanya menghasilkan cerita yang klise dan standard. Hal ini mungkin terjadi karena The Mechanic (2011) terlalu setia mengikuti alur The Mechanic (1972) yang sudah agak usang bagi penonton abad 21. Saya sendiri heran kenapa kok film se-standard ini bisa ada sekuelnya? Ternyata walaupun kurang sukses di bioskop, permintaaan video on demand dan home video untuk The Mechanic (2011) cukup tinggi sehingga hadirlah sekuelnya, engg ing eeeng.

Karena The Mechanic (1972) tidak memiliki sekuel, maka saya harap Mechanic: Ressurection (2016) akan memiliki alur cerita sendiri yang lebih segar dan berbeda. Masih mengisahkan mengenai Arthur, kali ini Arthur dikisahkan sudah menyepi sendirian dan menolak berbagai tugas yang ditawarkan. Sampai pada akhirnya ia terpaksa menerima tugas dari Crain (Sam Hazeldine) setelah Crain menyandera Gina (Jessica Alba). Gina merupakan wanita yang baru saja Arthur kenal, tapi berhasil menarik hari Arthur. Demi Gina, Arthur harus membunuh 3 pemimpin organisasi kriminal dengan cara yang biasa Arthur lakukan di masa lalu, mati dengan sebab alami atau kecelakaan.

Sekilas, Mechanic: Ressurection (2016) nampak lebih klise dan tidak menjanjikan dibandingan The Machanic (2011). Yaa ampun, menyelamatkan gadis pujaan hati dengan melakukan tugas tertentu. Itu sudah banyak digunakan oleh film-film lain. Saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton Mechanic: Ressurection (2016) di bioskop. Saya baru menontonnya di Catch Play setelah mendapatkan promo Unlimited Moviegoers :’D.

Diluar dugaan, ternyata Mechanic: Ressurection (2016) mampu memberikan adegan aksi yang keren. Di sana Arthur melakukan aksinya dengan taktik dan cara yang menyenangkan untuk ditonton. Tanpa melihat cerita dan latar belakang yang itu-itu saja, Mechanic: Ressurection (2016) mampu menghadirkan tontonan yang segar dan tidak membosankan.

Saya rasa Mechanic: Ressurection (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kalau teman-teman mencari film aksi bodoh yang keren, maka film inilah yang pantas untuk ditonton.

Sumber: www.mechanic.movie

Menjual Isuzu Panther LS Turbo Diesel 2009

Langsung saja, tanpa basa-basi, dijual, Isuzu Panther LS 2.5L warna coklat muda metalik keluaran tahun 2009.

  • Tangan pertama, dipakai sendiri.
  • Masih standard, tidak pernah dimodifikasi.
  • AC Double Blower masih dingin bin adem.
  • Radio FM/AM, CD Player lengkap.
  • Transmisi manual.
  • Mesin diesel sehingga biaya bahan bakarnya bisa lebih hemat.
  • Body bagus, tidak keropos.
  • Kondisi prima, siap digunakan sehari-hari.
  • Service berkala di bengkel Izusu resmi tidak pernah telat.
  • Kilometer-nya sekitar 200000 Km.
  • Surat-surat lengkap, tidak atas nama perusahaan dan siap balik nama ke owner baru, tidak bermasalah.
  • Plat B dan lokasi ada di Jakarta.

Mobil Panther ini masih bertenaga dan biasa keluarga saya pakai kalau keluar kota. Kapasitas yang besar dan bahan bakar yang murah karena bisa diisi Solar, merupakan fitur yang paling saya suka dari mobil ini. Kami berniat untuk menjual mobil ini dengan harga Rp. 110.000.000, nego. Silahkan hubungi Pras di 08138001919 bila berminat. Nuhun ;).

**************************************Update31/07/2018**************************************
Sudah terjual kepada Kokoh Jones pada 31 Juli 2018

Lion (2016)

Lion

Saya bukan penggemar film drama yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Biasanya saya kurang suka dengan film-film jenis ini. Film-film seperti True Story (2015), Into the Wild (2017) dan Erin Brockovich (2000) sukses menjadi film-film yang sangat membosankan bagi saya pribadi. Entah kesurupan setan apa, saya kemarin menyempatkan diri untuk menonton Lion (2016), sebuah film drama yang dibuat berdasarkan kisah nyata dari Saroo Bierley.

Lion

Pada tahun 1986, Saroo kecil (Sunny Pawar) yang baru berumur 5 tahun, tinggal di India bersama dengan ibu, kakak dan adiknya. Pada suatu malam, Guddu Khan (Abhishek Bharate), kakak laki-laki Saroo, mengajak Saroo berjalan-jalan. Sayang malam itu sepertinya akan menjadi malam terakhir bagi Saroo untuk bertemu dengan keluarganya. Ia terpisah dari kakaknya dan tersesat sampai ke wilayah India yang tidak ia kenal. Anak kecil berumur 5 tahun ini hanya mengetahui bahwa namanya Saroo, nama kakaknya Guddu, nama ibunya Mum, dan kampungnya ada di Ginestalay. Ginestalay bukanlah sebuah nama resmi sebuah daerah, mungkin Saroo kecil salah mengeja atau lupa? Melalui berbagai peristiwa naas dan mujur, Saroo kecil akhirnya diadopsi oleh John Brierley (David Wenham) dan Sue Brierley (Nicole Kidman). Pasangan asal Australia ini membesarkan Saroo dengan penuh kasih sayang di Tasmania, Australia.

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Tak terasa 20 tahun berlalu dan Saroo Brierley (Dev Patel) sudah mulai sekolah di perguruan tinggi. Walaupun sudah lama berlalu, Saroo masih terus teringat akan kampung halaman di India, ibunya dan kalaknya, Guddu. Bayang-bayang tersebut memotivasi Saroo untuk mencari lokasi kampung halamannya. Apakah Saroo akan berhasil? Apa yang Saroo temukan dari pencarian ini?

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Aaahhhh tak disangka Lion (2016) merupakan film dengan jalan cerita yang sangat menarik untu diikuti. Film ini memiliki banyak adegan yang mengharukan. Mengharukan di sini bukan mengharukan ala sinetron Indonesia yaaa. Lion (2016) dengan cerdasnya mampu membuat penonton terharu akan kisah hidup Saroo.

Lion

Lion

Lion

Lion

Dengan didukung oleh akting yang baik dan sangat meyakinkan, saya tidak merasa bosan ketika menonton Lion (2016). Yaaah walaupun hanya Nicole Kidman saja pemain yang saya kenal. Lainnya yaaa saya kurang tahu, kebanyakan aktor dan aktris India. Saya jarang menonton film-film Bollywood jadi mungkin kurang “ngeh” ;). Kalau dilihat, pantas saja Lion (2016) berhasil meraih 12 penghargaan di Australia sana. Film ini ternyata film Australia lhoo, bukan film India, jadi jangan harap ada adegan joged-joged di balik pohon yaa ;).

Saya rasa Lion (2016) pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya ini adalah film drama biografi pertama yang saya sukai. Oooh ya, alasan kenapa judul film ini Lion atau singa akan dijelaskan pada bagian paling akhir dari film ini.

Sumber: lionmovie.com

Flip Burger is Flippin Good

Sejak tahun lalu saya sudah mendengar Flip Burger dari beberapa teman. Pada waktu itu Flip Burger hanya buka di daerah Jalan Senopati yang agak jauh dari rumah atau kantor saya. Kemudian saat ini Flip Burger sudah berkembang dan mampu memiliki cabang di:

  • Jl. Senopati No. 27, RT/RW: 06/03, Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12190. Telp. 021-5279936.Jl. Panjang Arteri Kelapa Dua No. 18, RT/RW: 02/02, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 11530. Telp. 021-22123832.
  • Kota Kasablanka, Lantai 2, Jl. Casablanca Kav 88, Menteng Dalam, Jakarta Selatan.
  • Mall Pondok Indah 1 Lt. 1, Jl. Metro Pondok Indah Blok 3B, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, 12310. Telp. 021-7512369.
  • Jl. Margaguna Raya No. A2, RW 15, Pondok Pinang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12140. Telp. 021-75816581.
  • World Trade Center 6, Lantai Ground, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Telp 021-5228966.
  • Jl. Boulevard Raya Blok LA 4/18 – 19 (Samping Menara Satu Sentra / Seberang Mall Kelapa Gading), Jakarta Utara. Telp. 021-22455700.
  • Jl. Boulevard Diponegoro No. 106, Bencongan, Kelapa Dua, Tangerang, Banten, 15810.
  • Jl. R.E. Martadinata No. 81A (Depan Sekolah Taruna Bakti), Bandung, Jawa Barat. Telp. 022-20545111.
  • Jl. Candrakirana No. 23, Sagan (Utara SMA 9 Yogyakarta), Yogyakarta. Telp 081212349154.
  • Tunjungan Plaza 6, Lantai 3, Surabaya, Jawa Timur. Telp. 031-99251647.

Pick Up & Kasir

Bagian Dalam

Wha, salah satunya ternyata ada di bawah kantor saya. Tapi karena lokasinya yang mungil, dipojok dan jauh dari restoran lain, saya hampir melewatkannya. Flip Burger nampak ramai meski sulit ditemui. Saya semakin penasaran, ada apa yaaa di sana? Flip Burger menyajikan aneka fastfood western. Saya sendiri baru sempat mencicipi crinkle cut fries, cik’n, smacker, kulit ayam, double cheese burger dan eggsy beef strips.

Cik’n pada dasarnya merupakan ayam goreng tepung renyah yang biasa kita temui di banyak restoran ayam goreng sebelah. Tidak ada yang istimewa di sana kecuali sambal yang menemani cik’n. Sambalnya terasa manis asin pedas dengan aroma yang sedikit berbeda dengan sambal ABC dan kawan-kawan. Rasanya yaaa lumayanlaaah ;).

Flip Burger

Cik’N

Kulit ayam merupakan salah satu makanan ringan terlarang yang saya sukai :’D. Tinggi akan lemak, tapi renyah dan tekstur kulitnya terasa enak. Potongan kulit ayam dari Flip Burger cukup besar, tak berminyak dan kerenyahaannya tahan lama. Saya suka memakan menu ini sambil melakukan pekerjaan malam di kantor. Sayang, kalau saya lihat dari dekat, masih terdapat bulu-bulu halus menempel di kulit ayamnya. Tapi paling tidak, harganya tidak semahal snack kulit ayam keluaran artis yang kulit ayamnya memiliki bulu halus seperti ini ;).

Kulit Ayam

Dibandingkan french fries, crinkle cut fries memiliki potongan yang lebih besar dengan motif zig-zag pada potongannya. Rasanya sendiri agak tawar, saya lebih suka french fries heheheh.

Crinkle Cut Fries

Smacker merupakan menu burger dengan roti yang di tengahnnya terdapat 2 lapis beef patty, beef strips, keju, dan bawang bombay bersaus manis. Bentuknya tinggi ke atas sehingga mulut saya harus menganga lebar untuk menyantapnya ;). Rasa manis dan aroma khas cukup dominan di sini. Hal ini disebabkan penggunaan bawang bombay yang dikaramelisasi. Rasa yang hadir adalah rasa daging dan manis, tidak ada sayuran pada menu ini. Bagi saya pribadi, sampai 3/4 burger, saya masih suka sekali dengan smacker, rasanya enak sekali. Smacker berhasil memberikan rasa manis dan aroma lain yang berbeda dengan burger di toko sebelah. Tapi setelah 3/4 burger habis saya santap, saya merasa kok menu ini sepertinya terlalu daging dan manis, jadi kalau kebanyakan akan sedikit mual. Walaupun saya kurang suka makan sayur, saya rasa sayuran tetap harus ada di dalam sebuah burger ukuran jumbo seperti smacker. Rasa segar dari sayur mungkin dapat mengurangi efek rasa daging manis yang berlebih. Bahkan menu karnivora seperti steak saja membutuhkan buncis atau jagung sebagai temannya bukan? ;).

Flip Burger

Smacker Burger

Double cheese burger merupakan burger dengan 2 beef patty, keju, bawang bombay dan saus manis. Berbeda dengan smacker, rasa manis tidak terlalu dominan pada burger ini. Rasa dan aroma keju justru nampak lebih terasa, digabungkan dengan rasa daging yang mantabbb, yuuummmm, sepertinya saya sudah menemukan menu favorit saya di Flip burger ;).

Flip Burger

Double Cheese Burger

Eggsy beef strips merupakan burger yang isinya menggunakan telur, beef strips, keju, dan bawang bombay bersaus manis. Mirip seperti smacker, wujud burger ini kurang cantik. Bagaimana rasanya? Sayang rasanya agak flat walaupun beef strips mampu memberikan aroma daging yang sedikit harum. Rasa manis tetap ada tapi tidak terlalu dominan. Saya pun tidak mual sama sekali ketika menyantap eggsy beef strips. Tapi saya tetap lebih suka smacker, eggsy beef strips terlalu tawar bagi saya. Sepertinya telur memang kurang pas kalau ditaruh di dalam burger bersama dengan beef strips.

Flip Burger

Eggsy Beef Strips Burger

Flip Burger memang memberikan sesuatu yang berbeda dari para pesaingnya. Hal ini memang berhasil menjadi modal dasar bagi Flip Burger untuk meraih pelanggan walaupun masih ada kekurangan dari inovasi yang mereka sajikan. Saya rasa Flip Burger layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Flip Burger tidak amazing dan tidak pula bad, tapi good laaah, flippin goood ;).

Central Intelligence (2016)

Ketika menjaga istri yang baru melahirkan, saya tidak sengaja menonton Central Intellegence (2016), sebuah film yang beberapa kali saya lihat iklannya, namun saya tetap enggan menontonnya. Film bergenre komedi aksi ini ternyata dimotori oleh Kevin Hart dan Dwayne Johnson. Keduanya nampak kompak dan lucu pada Jumanji (2017). Mampukah mereka mengocok perut saya seperti pada Jumanji (2017)?

Pada Central Intellegence (2016), Bob Stone (Dwayne Johnson) dan Calvin “Golden Jet” Joyner (Kevin Hart) merupakan teman semasa SMA dulu yang kembali bertemu menjelang acara reuni akbar SMA mereka. 20 tahun yang lalu, Bob Stone masih menggunakan nama Robbie Weirdicht dan memiliki tubuh yang gempal. Robbie sempat menjadi korban bullying yang cukup parah ketika SMA dulu. Hanya Calvin terang-terangan mau menolong Robbie pada saat itu. Padahal Calvin adalah murid paling populer di angkatannya. Ia aktif di berbagai klub dan berhasil menggapai berbagai prestasi gemilang semasa SMA. Setelah SMA, Calvin bahkan menikahi kekasih semasa SMA-nya, yang terkenal cantik dan tak kalah populernya. Banyak orang meramalkan bahwa Calvin akan menjadi orang besar dan kehidupan yang gemilang.

20 tahun berlalu dan Calvin merasa tidak puas dengan kehidupannya. Calvin sudah berprofesi sebagai akuntan, namun ia merasa bahwa ia gagal meraih prestasi yang spektakuler seperti di SMA dulu. Jauh bertolakbelakang dengan Kevin, Robbie sudah berubah. Robbie kini mengubah namanya menjadi Bob Stone. Bob memiliki tubuh kekar dan bekerja di CIA sebagai agen rahasia. Calvin nampak kerdil disamping Bob. Tapi Bob tidak memandang Calvin sebelah mata. Bob tetap mengagumi Calvin atas segala prestasi yang pernah Calvin raih di masa lampau.

Pertemuan ini membawa aroma nostalgia dan … masalah. Bob ternyata sedang diburu oleh agen-agen CIA lain karena ia dianggap berhianat. Calvin yang ada di dekat Bobi otomatis ikut terlibat di dalam kekacauan ini. Saya melihat banyak kelucuan ketika kedua tokoh utama ini bertemu. Calvin yang kehilangan rasa percaya diri dan terlalu serius, bertemu dengan Bob yang polos dan sedikit memiliki sifat anak-anak. Memang sih ada leluconnya mirip dengan yang saya saksikan pada Jumanji (2017), tapi saya tetap tertawa ketika menonton Central Intellegence (2016).

Misteri akan siapa yang sebenarnya berhianat, kurang lebih dapat ditebak walaupun film ini menyuguhkan banyak tersangka. Tapi hal ini bukanlah sebuah kekurangan yang berarti sebab saya memandang Central Intellegence (2016) sebagai film aksi komedi, bukan film misteri. Saya memang tidak memiliki ekspektasi bahwa Central Intellegence (2016) akan menyuguhkan kejutan pada jalan ceritanya.

Film ini berhasil menyuguhkan kelucuan-kelucuan yang membalut kisah persahabatan dan pesan moral mengenai bullying. Dengan begitu, saya rasa Central Intellegence (2016) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.warnerbros.com/central-intelligence

Pride and Prejudice and Zombies (2016)

Pride and Prejudice and Zombies (2016) merupakan modifikasi dari sebuah novel romatis karya Jane Austen. Dikisahkan bahwa pada abad ke-19, Inggris berhasil menguasai banyak negara dan memperoleh harta yang melimpah. Banyak dari kalangan bangsawan Inggris pada saat itu, mengambil dan mempelajari seni, budaya dan ilmu beladiri Asia untuk memperkaya ilmu pengetahuan mereka.

Ditengah-tengah kejayaannya, hadir sebuah wabah misterius yang membuat manusia menjadi zombie. Penyakit ini menular melalui gigitan dan luka. Manusia yang tertular akan menjadi agresif dan memiliki naluri untuk menyantap otak manusia. Akibat wabah ini, Inggris membangun parit dan tembok besar di sekitar ibukota London. Tentara Inggris terus mendesak dan memburu para zombie hingga seakan-akan zombie akan kalah.

Melihat situasi yang semakin aman dan menguntungkan, para bangsawan keluar dari London untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di wilayah-wilayah Inggris. Masa dan kondisi seperti inilah yang menjadi latar belakang Pride and Prejudice and Zombies (2016). Di tengah-tengah kewaspadaan akan bangkitnya para zombie, hadir drama romantis dengan Elizabeth Bennet (Lily James) sebagai tokoh sentralnya.

Elizabeth adalah anak dari salah bangsawan di wilayah Inggris. Hukum dan tradisi Inggris saat itu mengatur agar harta keluarga hanya akan jatuh ke tangan laki-laki. Sayangnya, semua adik-adik Elizabeth adalah perempuan, sehingga apabila ayah mereka tiada, seluruh harta keluarga mereka akan jatuh ke tangan sepupu laki-laki tertua mereka. Sang ibu kemudian melakukan berbagai usaha agar anak-anaknya dapat dipersunting oleh laki-laki dari keluarga kaya. Ooohhh lalu apakah Elizabeth justru akan jatuh cinta dengan laki-laki miskin seperti cerita-cerita sinetron Indonesia?

Ooo syukurlah tidak. Elizabeth justru berhasil menarik perhatian Fitzwilliam Darcy (Sam Riley), salah satu anggota keluarga terkaya di Inggris. Walaupun Elizabeth sebenarnya tertarik juga dengan Darcy, semakin hari citra Darcy di mata Elizabeth semakin memburuk. Darcy dikabarkan sebagai aktor dibalik berpisahnya Charles Bingley (Douglas Booth) dan Jane Bennet (Bella Heathcote). Jane adalah adik Elizabeth, sedangkan Bingley adalah pria kaya raya yang sudah lama bersahabat dengan Darcy. Selain itu, Darcy dikabarkan telah melakukan tindakan kurang terpuji kepada Letnan George Wickham (Jack Huston) dimasa lalu.

Semua drama di atas, dibalut dengan perang besar antara manusia dengan zombie. Tak lupa terdapat beberapa adegan perkelahian dengan pistol dan senjata tajam karena para bangsawan dikisahkan telah menguasai ilmu beladiri dari Cina dan Jepang. Tapi lucunya, di sana dikisahkan bahwa terdapat perbedaan kasta antara bangsawan yang belajar di Jepang dengan di Cina. Padahal ketika mereka semua berkelahi, tidak ada pembeda yang jelas antara lulusan Jepang dengan Cina. Beberapa adegan perkelahiannya diambil dengan jarak yang terlalu dekat, sempit dan gelap. Saya sendiri terkadang tidak tahu gerakan apa yang mereka lakukan :’D. Walaupun begitu, melihat Elizabeth dan adik-adiknya membawa pisau dan siap tempur, terbilang cukup bagus untuk dilihat. Metode yang Darcy pakai untuk melawan zombie pun nampak cerdas dan pantas untuk disaksikan.

Sayang kehadiran para zombie beserta teror yang mereka bawa tidak terlalu terasa, padahal ini merupakan perbedaan utama antara Pride and Prejudice and Zombies (2016) dengan Pride and Prejudice versi aslinya. Jalan cerita yang ditampilkan terkadang seperti terpisah dan agak dipaksakan terutama pada bagian akhir film, pada bagian setelah kebenaran akan semua yang menimpa Darcy. Sedikit kejutan memang muncul pada Pride and Prejudice and Zombies (2016), sebuah kejutan bagi saya yang belum pernah mengetahui cerita Pride and Prejudice sama sekali ;).

Mungkin zombie memang kurang dapat menyatu dengan baik dengan kisah romantisnya Pride and Prujudice. Tapi terus terang saya sepertinya akan tertidur pulas kalau saya harus menunton unsur Pride dan Prejudice saja, tanpa adanya zombie dan Elizabeth yang ahli Kungfu. Dengan demikian, saya memberikan Pride and Prejudice and Zombies (2016) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: sites.sonypictures.com/prideandprejudiceandzombies/discanddigital/