Menjual Unit Tipe Studio Hadap Danau di Apartemen Tifolia

Tifolia

Kebetulan rumah sepupu-sepupu saya dan rumah almarhum nenek saya dulu terletak di sekitar Rawamangun. Salah satu hiburan kami pada waktu itu adalah berjalan-jalan ke mall terdekat yaitu Mall Kelapa Gading. Setiap saya tiba di perempatan antara Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jl. Kayu Putih Raya, tepat di muka gerbang Kelapa Gading, saya melihat Rumah Susun Pulomas bermotif batu bata merah yang ramai sekali. Statusnya memang rumah susun tapi setiap rumah ada AC dan parkir mobilnya ramai. Pada waktu itu AC adalah hal yang eksklusif bagi saya dan belum ada yang namanya apartemen di Jakarta. Yang tinggal di rumah susun tersebut pastilah bukan orang tak mampu pikir saya. Lama kelamaan zaman berganti dan rumah susun tersebut pun dirubuhkan.

Naaah, beberapa tahun yang lalu, saya dan famili saya mendapatkan penawaran untuk membeli unit Apartemen Tifolia yang akan dibangun tepat di bekas lokasi Rumah Susun Pulomas. Karena menurut saya dan famili saya lokasi tersebut cukup strategis dan kebetulan famili saya tersebut sedang memiliki dana yang menganggur, maka beliau memutuskan untuk membeli 1 unit studio di Apartemen Tifolia.

Saat ini pembayaran untuk unit studio Apartemen Tifolia tersebut sudah lunas. Unit yang famili saya miliki pun sudah jadi dan sudah serah terima pada pertengahan tahun 2014 lalu. Berhubung ada beberapa kebutuhan dan alasan lain, akhirnya sekarang famili saya memutuskan untuk menjual unit tersebut. Berikut spesifikasi dari unit apartemen yang beliau jual beserta lingkungannya:

  • Lokasi: Apartemen Tifolia, area Pulomas Park Center, Jl. Perintis Kemerdekaan, perempatan pintu gerbang Kelapa Gading.
  • Tipe: Studio A2.
  • Luas: 21m2.
  • Lantai: Lantai 31 dari 39 lantai.
  • Sertifikat: Sertifikat Hak Milik Strata Title (Sertifikat setara SHM).
  • Kondisi: Masih baru dan tanpa furniture.
  • Hadap: Selatan (view Danau di tengah Pacuan Kuda Pulomas).
  • Kolam Renang: Ada 1 di Ground Floor.
  • Air Minum : PAM.
  • Listrik : 1300 KV
  • Genset Darurat: Tersedia.
  • Unit per Lantai : 42.
  • Jumlah Lift : 6.
  • Tangga Darurat : 2.

Tifolia 8

Tifolia 2

Tifolia 1

Walaupun saya belum pernah merasakan tinggal di unit tersebut, saya memiliki beberapa pengalaman terkait apartemen. Kebetulan saat ini saya dan istri saya tinggal di apartemen lain. Selain itu saya juga memiliki teman yang tinggal di apartemen lain dan pernah survey keluar masuk apartemen lain juga. Kurang lebih ada beberapa kelebihan dari unit yang famili saya jual berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya pribadi yaitu:

Lokasi Strategis
Lokasi adalah unsur yang paling penting ketika kita memilih tempat tinggal. Tapi strategis atau tidaknya suatu apartemen tentunya berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi saya pribadi, Apartemen Tifolia memiliki lokasi yang strategis karena tidak terlalu jauh dari rumah famili saya dan sangat dekat dengan kawasan Kelapa Gading. Bagi saya yang hobi makan dan menonton bioskop, lokasi yang dekat dengan Kelapa Gading merupakan sebuah nilai plus. Kelapa Gading merupakan wilayah yang dipenuhi oleh kuliner-kuliner yang ok serta memiliki pilihan bioskop yang lebih dari 1.

Tifolia 16

Total, dari Apartemen Tifolia kita dapat dengan mudah menjangkau Mall Kelapa Gading, La Piaza, ITC Cempaka Mas, Rumah Sakit Gading Pluit, RS Mitra Keluarga, Sekolah BPK Penabur, Sekolah Al Azhar & kawasan kuliner Kelapa Gading tentunya.

Aksesbilitas Bagus Sekali
Banyak apartemen yang terletak di pinggir jalan raya namun yang dekat itu pagarnya saja atau lobi dari apartemen tersebut? :P. Ada loooh apartemen yang jarak dari lift tempat pemilik unit tiba di lantai dasar sampai ke jalan raya, sangat jauh. Kalau tidak punya kendaraan, mungkin terpaksa naik ojeg :P. Syukurlah jarak dari lift Apartemen Tifolia sampai ke halte busway yang terletak di Jl. Perintis kemerdekaan tidaklah jauh, dekat ; ). Berhubung di timur dari Jl. Perintis Kemerdekaan terdapat Terminal Pulo Gadung, maka sudah pasti banyak angkutan umum berbagai jurusan yang melewati Apartemen Tifolia, bukan hanya Busway. Sementara itu di barat dari Jl. Perintis Kemerdekaan terdapat Tol Dalam Kota yang sering sekali saya lewati ketika saya pergi dengan kendaraan pribadi. Baik Tol Dalam Kota maupun Terminal Pulo Gadung dapat ditempuh dengan mudah sekali, tinggal luruuuuuus mengikuti jalan di depan Apartemen Tufolia, tinggak pilih saja mau ke kanan (arah timur) atau ke kiri (arah barat) ; ).

Fasilitas Umum Lengkap & Bagus
Apartemen Tifolia dilengkapi oleh sarana keamanan dan perlindungan terhadap kebakaran. Saya lihat terdapat kamera pengaman di beberapa lorong dan di setiap lift. Semua kamera tersebut termasuk ke dalam layanan keamanan 24 jam yang tersedia di Apartemen Tifolia. Sarana pengamanan dari kebakaran pun lengkap tersedia. Semuanya menggunakan merk yang dari vendor yang cukup ternama sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Tifolia 14

Tifolia 3

Tifolia 13

Tifolia 6

Tifolia 5

Tifolia 4

Selain itu saya juga dapat menemukan rumah genset yang dapat memberikan listrik bagi penghuni unit meskipun listrik PLN mati.

Tifolia 15

Seperti apartemen-apartemen lain pada umumnya, terdapat kolam renang yang dapat langsung saya lihat bila saya melihat ke bawah dari balkon unit yang dimiliki famili saya.

Tifolia 9

Selain fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan di atas, akan dibangun pula Children Playground, Jogging Track, aneka toko & Access Card. Entah kapan dan dimana dibangunnya tapi itu sudah masuk ke dalam rencana pihak pengembang. Percaya atau tidak, tidak semua apartemen memiliki semua fasilitas seperti di atas lhooo, baik yang saya lihat sudah terbangun maupun yang belum terbangun. Jangan samakan Apartemen Tifolia dengan apartemen subsidi atau rusunami yang sempat menjamur setelah rusunami kalibata sukses dihuni dan diminati oleh banyak orang :’D.

Pemandangan
Keunggulan utama dari unit yang famili saya miliki adalah faktor pemandangan. Dari dalam unit tersebut, saya dapat melihat danau di tengah Pacuan Kuda Pulomas yang ternyata nampak kereeen bila dilihat dari atas, saya baru tahu ;).

Tifolia 7

Tifolia 10

Pandangan yang dapat dinikmati bila saya menoleh ke kiri dan ke kanan dari balkon pun bagus sekali. Pemandangannya lepas tidak tertutup oleh bangunan lain, mantabbbb :).

Tifolia 11

Tifolia 12

Tak ada gading yang tak retak, pasti ada sisi negatif dari semua yang ada, kekurangan dari unit yang saat ini famili saya jual adalah kurang luas bagi keluarga besar. Bagi saya yang sudah berkeluarga, apartemen dengan luas 21 m2 terlalu sempit bagi kami semua. Saya pasti lebih memilih unit apartemen dengan 2 kamar seperti unit apartemen yang saya tempati saat ini.

Sayang sebenarnya mau menjual unit ini karena walaupun tidak tempati, unit tersebut dapat disewakan, lumayan dapat pemasukan tambahan :). Unit studio yang kecil biasanya lebih laku disewakan dibandingkan unit lain yang luasnya lebih besar. Di samping Apartemen Tifolia memang sedang dibangun Apartemen Calia tapi unit-unit yang dijual pada apartemen tersebut memiliki ukuran yang lebih besar, tidak ada unit dengan ukuran studio 21m2 tersedia di sana. Yaaa semuanya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan ketika membeli unit apartemen, butuhnya yang besar atau yang kecil luasnya, nantinya untuk disewakan atau ditempati sendiri, hidup adalah pilihan hehehe.

Apabila ada rekan-rekan yang berminat untuk membeli/menyewa unit apartemen milik famili saya tersebut dapat menghubungi langsung famili saya yang merupakan pemilik langsung dari unit tersebut, Pak Pras, di nomor telefon 081806011554, bisa lihat unit langsung di lokasi sesuai perjanjian. Ooooh iya, beliau buka harga Rp. 300.000.000 bersih :). Silahkan sebarkan tulisan ini bagi rekan-rekan lain yang mungkin berminat, siapa tahu jodoh. Jarang-jarang nih menulis blog yang buntutnya jualan heheheheehe ;).

Sumber: http://www.duta.com/eng/ppulomas.html

Iklan

Chicking Dubai, Restoran Fastfood Ala Timur Tengah

Chicking

Hadir di UEA (Uni Emirates Arab) pada tahun 2000, Chicking Dubai saat ini telah melebarkan sayap sampai ke Asia, termasuk Indonesia. Setelah membuka cabang Indonesia pertamanya di Royal Plaza Shopping Mall Surabaya, saat ini Chicking Dubai sudah memiliki cabang lain di Jabodetabek yaitu Bassura, Mega Bekasi Hypermall, Lulu Hypermarket QBIG BSD, Cibinong City Mall dan Plaza Kalibata. Dengan lokasi yang tersebar di dalam pusat perbelanjaan, maka sudah pasti tempatnya nyaman dan bersih.

Chicking

Bagian Dalam

Hidangan yang Chicking Dubai tawarnya, cukup beragam. Sekilas mereka mirip sekali dengan hidangan restoran fastfood pada umumnya. Apakah rasanya sama? Diantara varian hidangan tersebut, saya sudah mencicipi royal wrap, tandoori burger sandwich, kopi arab, nasi chicking, ayam goreng dan ayam panggang.

Ayam goreng Chicking Dubai pada dasarnya merupakan ayam goreng crispy yang sudah biasa ada di mana-mana. Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa di sana selain ukurannya yang besar. Saya rela menunggu 15 menit demi ayam goreng yang besar. Kalau mau yang bagian sayap, biasanya bisa langsung tersedia dan dapat potongan harga ;).

Nasi chicking (chicking rice) dan ayam panggang (grilled chicken) merupakan hidangan yang saya santap ketika pertama kali mampir di Chicking Dubai. Nasi chicking nampak unik, karena menggunakan beras basmati yang bentuknya panjang-panjang. Nasi yang berwarna kuning ini sebenarnya sudah dibumbui, tapi rasanya agak flat. Rasanya yaa memang tidak mungkin kalau kita makan nasi saja tanpa lauk. Maka saat itu saya memesan ayam panggang untuk menemani nasi chicking. Ayamnya tidak renyah tapi seperti sudah direndam oleh rempah-rempah bumbu nasi kebuli. Kalau nasi dan ayam tersebut digabung, maka hidangan ini akan terasa seperti nasi kebuli ayam yang lumayan rasanya. Ini jelas berbeda dengan ayam-ayam di restoran fastfood sebelah.

Chicking

Nasi Chicking & Ayam Panggang

Royal wrap pada dasarnya adalah balutan roti tortila dengan 2 chicken strip yang besar memanjang, sedikit sayur dan saus ala timur tengah di dalamnya. Potongan daging ayamnya, empuk dan besar sehingga sangat terasa ketika digigit. Saus khas timur tengahnya terasa sangat cocok dengan ayam dan tekstur roti tortila yang juga khas. Hidangan inilah yang menjadi hidangan favorit saya di Chicking Dubai.

Royal Wrap

Tandoori burger sandwich pada dasarnya sangat mirip dengan royal warp, hanya saja ia menggunakan roti burger, fillet ayamnya hanya 1 tapi super besar, dan ada tambahan saus tandoori di sana. Karena komposisi lainnya mirip dengan royal wrap, maka praktis rasa tandoori burger sandwich akan mirip dengan royal wrap. Hanya saja, rasa tandoori burger sandwich sedikit lebih asam. Rasa asam ini diperoleh dari saus tandoori yang pada umumnya terbuat dari yogurt, bawang, garam masala, saffron dan lain-lain. Hidangan ini terasa seperti burger India. Tandoori sendiri memang banyak digunakan di India. Kalau dibandingkan dengan royal wrap, ukuran tandoori burger sandwich memang lebih besar dan mengenyangkan. Tapi kalau soal rasa, royal wrap tetap lebih unggul. Potongan ayam dan rempah-rempah ala Timir Tengah memang tetap terasa, tapi tekstur roti tortila tetap lebih unggul dan saya sendiri tidak terlalu suka dengan rasa asam dari saus tandoori-nya.

Tandoori Burger Sandwich

Kopi arab pada dasarnya adalah kopi pahit dengan kapulaga di dalamnya. Saya sendiri tidak terlalu suka dengan kopi ini. Penggunaan kapulaga tidak memberikan nilai tambah atau rasa yang unik. Kapulaga tetap lebih enak kalau digunakan pada sop kambing seperti Warung Sate H. Mansur yang sering saya kunjungi hehehehehe.

Chicking

Kopi Arab

Secara keseluruhan, Chicking Dubai memang memberikan cita rasa yang berbeda dibandingkan restoran fastfood lainnya. Saya rasa Chicking Dubai pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman

Get the Gringo (2012)

Get the Gringo

Gringo adalah bahasa Spayol yang artinya orang asing. Kata-kata ini biasa digunakan oleh warga Amerika Latin bagi orang-orang non latin yang datang ke negara mereka. Panggilan inilah yang diberikan kepada Richard Johnson (Mel Gibson) ketika ia terjebak di dalam sebuah penjara Amerika Latin. Selain nampak kumuh dan kelebihan narapidana, penjara ini cukup unik karena bagian dalam penjara ini seperti kota kecil yang dikuasai kartel.

Get the Gringo

Get the Gringo

Keluarga narapidana dapat tinggal di dalam penjara dengan membayar sejumlah uang. Maka di dalam penjara tersebut, terdapat gubuk, rumah, pasar, arena gulat sederhana dan lain-lain. Semuanya berjalan di bawah kendali Javi Huerta (Daniel Giménez Cacho), pemimpin sebuah kartel yang entah mengapa memilih untuk hidup di dalam penjara yang kumuh.

Get the Gringo

Keamanan dan kekuasaan ternyata bukanlah motif utama Javi. Ia memiliki sebuah motif yang berhasil Richard ketahui melalui perkenalannya dengan seorang ibu-anak yang diperankan oleh Dolores Heredia dan Kevin Hernandez. Semakin lama, Richard semakin dekat dan peduli dengan ibu-anak tersebut. Semua rencana Richard sedikit berbelok karenanya.

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Sejak awal, karakter yang Mel Gibson peeankan ini seolah seperti memiliki rencana dan tahu apa yang hendak ia lakukan dengan porsi yang sewajarnya. Richard tidak selalu nampak super tenang, ia beberapa kali menampilkan raut muka ketakutan, sebuah hal menjadikan Get the Gringo (2012) nampak wajar.

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Film ini memang tidak memiliki adegan atau plot yang sangat menakjubkan, tapi film ini termasuk film aksi yang menyenangkan dan menghibur untuk ditonton. Saya rasa Get the Gringo (2012) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh ya, film ini memiliki beberapa adegan sadis dan kurang pantas untuk di tonton anak kecil lho, ini bukan film keluarga.

The Perks of Being a Wallflower (2012)

Pada tahun 2012 dulu saya sudah beberapa kali melihat poster The Perks of Being a Wallflower (2012) beberapa kali. Saya bahkan sudah melihat trailer-nya dan saya sama sekali tidak tertarik. Ini sepertinya hanya film drama remaja biasa dengan jalan cerita dan tujuan yang itu-itu saja. Yaaah paling isinya mengenai masalah remaja di Amerika sana. Sudah begitu judulnya aneh pula, apa itu wallflower? bunganya tembok? :’D

Pada suatu minggu pagi, saya tidak bisa tidur setelah sholat subuh. Entah kesurupan apa, saya iseng-iseng menonton The Perks of Being a Wallflower (2013), yaaah paling nanti juga kebosanan, mengantuk, lalu tidur ronde 2 heheheheh. Jauh diluar dugaan, bukannya mengantuk, saya justru semakin tertarik dengan film ini. Bukannya tidur ronde 2, saya justru semakin melek dan menikmati apa yang saya tonton.

Ternyata judul dari film ini menunjuk kepada Charlie Kelmeckis (Logan Lerman) yang pemalu dan enggan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Ia memang bagai bunga cantik yang terus menempel di tembok tanpa ada orang yang peduli atau memperhatikan. Dikisahkan bahwa Charlie baru saja masuk SMA setelah ia lulus SMP. Sebagai junior, Charlie selalu menyendiri dan tidak membuat teman baru. Ia hanya dapat berbicara sedikit akrab dengan guru bahasa Inggrisnya, Pak Anderson (Paul Rudd), agak menyedihkan bukan? :,D

The Perks of Being a Wallflower

Semua berubah ketika Charlie berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson), kakak kelas Charlie yang merupakan kakak-adik tiri. Melalui Patrick dan Sam, Charlie belajar untuk membuka diri dan menunjukkan kepada dunia siapa dirinya. Belakangan ketiganya menghadapi berbagai masalah remaja yang mungkin dialami oleh remaja jaman sekarang. Beberapa diantaranya tidak sesuai dengan budaya timur. Walaupun tidak ada adegan mesum pada The Perks of Being a Wallflower (2012), film ini kurang pas kalau ditonton oleh penonton yang belum dewasa.

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

Perjalanan Charlie menuju kedewasaan memang penuh rintangan. Apalagi belakangan diketahui bahwa sebelum masuk SMA , Charlie mengalami beberapa kejadian yang membuatnya depresi dan kadang berhalusinasi. Karena sehari sebelum menonton The Perks of Being a Wallflower (2012), saya menonton Shutter Island (2010), sepanjang film berjalan saya terus bertanya-tanya apakah film ini bercerita tentang gangguan jiwa?

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

Film ini beberapa kali berhasil menipu saya dengan cara yang cantik. Jalan cerita dan dialog film ini sungguh menarik dan masuk akal. Masalah yang muncul memang agak ekstrim, tapi semua nampak logis. Apalagi pemeran Charlie, Patrick dan Sam tampil dengan kuat dan meyakinkan. Ezra Miller tampil mengesankan sebagai Patrick, tapi maaf, sampai saat ini saya masih merasa Ezra tetap kurang pantas memerankan The Flash pada Justice League (2017) hehehehehe. Sumpah dulu saya kebingungan kok ya bisa ini aktor tak dikenal tiba-tiba memerankan The Flash. Melihat kemampuan aktingnya pada The Perks of Being a Wallflower (2012), memang masuk akal kalau Ezra patut diperhitungkan. Tapi yaaa seperti yang baru saya sebutkan, …. Ezra tetap kurang pas memerankan The Flash hohohoho.

Ok, kembali ke laptop. The Perks of Being a Wallflower (2012) merupakan film remaja dewasa yang menyenangkan untuk ditonton lebih dari sekali. Saya rasa film ini merupakan salah satu film terbaik yang dirilis tahun 2012 dan hampir saya lewatkan begitu saja. Nilai saya bagi The Perks of Being a Wallflower (2012) adalah 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini layak untuk ditonton, asalkan tidak bersama anak kecil ;).

Sumber: lionsgateathome.com/perks-of-being-a-wallflower

The Cabin in the Woods (2012)

Cabin in the Woods

Sebuah rumah kayu atau kabin di tengah hutan terpencil dengan pemandangan yang indah, plus sebuah danau yang bersih. Itulah tempat liburan Curt Vaughan (Chris Hemsworth), Dana Polk (Kristen Connolly), Marty Mikalski (Fran Kranz) dan Holden McCrea (Jesse Williams) pada The Cabin in the Woods (2012). Kelima remaja ini tidak sadar bahwa terdapat maut mengintip mereka di balik keindahan alam yang mereka saksikan.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Secara tidak sengaja, mereka menemukan berbagai benda-benda kramat di bawah kabin tempat mereka menginap. Secara tidak sengaja pulalah mereka membangkitkan sesuatu yang jahat dari alam kubur. Selanjutnya sudah dapat ditebak, mereka diburu oleh mahluk-mahluk misterius yang mereka bangkitkan. Terdengar klise bukan? Hehehehehe.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Sekilas, The Cabin in the Woods (2012) memang nampak seperti film horor remaja pada umumnya. Tapi ternyata film ini berhasil membawa sesuatu yang berbeda sebab maksud dan tujuan dari semua yang menimpa kelima remaja tersebut tidaklah sedangkal film-film horor remaja lainnya.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Film ini secara kreatif memiliki alur yang berbelok tanpa membuat penontonnya kebosanan. Saya sendiri tidak menganggap The Cabin in the Woods (2012) sebagai film horor yang menakutkan, tapi misteri yang meyelimutinya mampu membuat saya penasaran. Saya ikhlas untuk memberikan The Cabin in the Woods (2012) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.discoverthecabininthewoods.com