Hari Pertama Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Suvarnabhumi & Asiatique

Bangkok

Setelah melakukan berbagai persiapan pada Persiapan Wisata Thailand 2017, akhirnya saya dan keluarga saya berangkat menuju Bangkok dengan menggunakan tiket Garuda Indonesia diskonan, sebuah promo yang kami peroleh pada travel fair :). Kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada pukul 09:30 dan tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok pada pukul 13:10. Mirip seperti perjalanan kami ke Singapura pada Wisata Singapura, saya dan istri kembali membawa anak kami yang umurnya masih di bawah 2 tahun. Syukurlah perjalanan di atas pesawat berjalan lancar dan tidak terjadi huru-hara.

Karena negara ASEAN seperti Indonesia termasuk negara bebas Visa untuk masuk ke Thailand, maka ketika turun dari pesawat kami langsung berjalan ke arah loket imigrasi negara ASEAN. Kedatangan dari Jakarta ada di lantai 2 dan kami langsung berjalan mengikuti petunjuk arah yang ada. Syukurlah antrian dan proses imigrasi berjalan cepat dan lancar :). Kemudian kami pergi ke arah pengambilan koper untuk mengambil barang bawaan kami. Bandara yang terletak di ibukota Thailand ini tertata rapih dan memiliki penunjuk jalan yang mudah difahami. Akantetapi ada baiknya untuk tetap waspada karena Thailand adalah negara berkembang seperti Indonesia, kejahatan bisa saja datang apabila ada kesempatan. Dalam hal ini, kami sudah melakukan pembagian tugas. Saya membawa tas kecil di depan, tas punggung, stroller lipat dan 2 koper besar. Sementara itu istri saya menggendong anak kami dengan gendongan bayi, tas punggung dan 1 koper sedang. Formasi ini sudah pernah kami terapkan ketika kami berwisata ke Singapura. Tapi ini Thailand, sudah pasti perjalanan ini akan lebih menantang :’D.

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Dari tempat pengambilan koper, kami pergi ke arah loket penjualan SIM Card. Pada dasarnya, loket penjualannya ada 2. Yang pertama terletak tepat di depan loket pengambilan koper. Yang kedua terletak agak keluar, di dekat pintu keluar bandara di lantai 1. Paket liburan dan paket hemat lainnya hanya tersedia di loket penjualan yang kedua, tapi antriannya panjang sekali. Loket penjualan yang pertama memang hanya menyediakan paket biasa yang sedikit lebih mahal tapi antriannya sepi. Karena kami membawa anak kecil dan memperhitungkan waktu juga, maka kami memilih untuk membeli di tempat yang pertama. Perbedaan harganya tidak terlalu jauh kok, toh kami hanya menggunakan sinyal Smartphone kami untuk membuka Waze, Google Maps dan sesekali Whatsapp. Toh kalau sedang liburan seperti ini, kami lebih sering berfoto-foto untuk photobook pribadi, bukan untuk diupload ke media sosial ;). Setelah membeli SIM Card, akan ada petugas yang membantu pendaftaran paket dan lain-lain, persyaratannya hanya passport saja ;).

Bangkok

Ok, mau apa selanjutnya? Menuju penginapan tentunya. Ada 3 pilihan transportasi yaitu kereta, taksi dan bus. Bus dan taksi tidak kami pilih karena jalanan Bangkok macetnya sama seperti Jakarta. Selain itu posisi penginapan kami terletak tak jauh dari Stasiun MRT Ratchaprarop yang secara langsung berada di jalur ARL (Airport Rail Link) atau City Line. Kami kemudian membeli tiket di loket ARL atau vending machine Bandara di lantai B seperti pernah dijelaskan pada…. Kemudian kami turun 1 lantai lagi untuk masuk ke ruang tungg kereta. Karena semua kereta dari Suvarnabhumi pasti berhenti di Stasiun tujuan kami, Stasiun Ratchaprarop, maka kami bebas memilih naik kereta mana saja. Setelah kereta datang, kami masuk ke dalam kereta dan turun sekitar 5 Stasiun kemudian. Pada kunjungan pertama ke Stasiun Ratchaprarop ini, kami turun menggunakan tangga yang panjang sekali, letak stasiun-stasiun di Bangkok memang tinggi sekali.

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Bangkok

Dengan berbekal peta online, kami lalu berjalan 500 meter menuju penginapan kami, Shadi Home, yang terletak di Jalan Ratchaprarop 8. Orang-orang sekitar nampak acuh melihat kami yang berjalan dengan membawa koper-koper besar. Ketika saya menengok ke belakang, ternyata ada juga orang lain yang membawa koper besar seperti kami. Daerah Ratchaprarop ternyata merupakan daerah penginapan. Sepanjang Jalan Ratchaprarop 8 yang bersih dan rapih, saya melihat jejaran toko, kafe dan panti pijat di sela-sela penginapan kecil dan sedang. Sesekali kami berpapasan dengan ladyboy yang lalu lalang di jalan tersebut. Jujur saja awalnya saya agak khawartir apakah kami telah memilih wilayah penginapan yang salah? Apakah yaaa Bangkok memang seperti itu? Alasan kenapa kami memilih Shadi Home karena lokasi yang dekat dengan Stasiun, Pratunam, dan tersedianya makanan halal di sana. Andaikata kami kesulitan mencari makanan halal, kami dapat membeli bekal langsung di penginapan ;).

Kondisi bagian dalam penginapan tersebut bersih, rapih dan meyakinkan. Kamarnya pun sederhana, bersih dan nyaman. Syukurlah kondisi di dalam penginapan meyakinkan saya bahwa tempat ini aman dan bukan daerah rawan. Memang sih fasilitasnya tidak mewah tapi ini cukup pas untuk kami sekeluarga. Jadi tidak ada wifi, kolam renang dan TV kabel. Tapi ada TV lokal, AC, dan kamar yang cukup luas untuk harga yang ekonomis. Toh kami akan lebih banyak berjalan-jalan di luar penginapan. Seperti yang pernah saya jelaskan pada Persiapan Wisata Thailand 2017, kami datang jauh-jauh bukan untuk wisata hotel hehehehe.

Setelah istirahat dan makan siang di penginapan. kami berangkat menuju Asiatique The Riverfront di sore hari. Untuk pergi ke sana, kami menggunakan kereta dan perahu. Keluar dari penginapan, kami kembali berjalan menuju Stasiun Ratchaprarop. Ini adalah kedua kalinya kami mampir di Stasiun ini dan kami tidak menemukan lift. Terpaksa kami naik tangga yang panjang dan curam. Istri saya naik sambil menggendong si kecil menggunakan gendongan bayi, sedangkan saya naik sambil membawa tas dan stroller yang dilipat. Whoaaa, olah raga ini sih, lelah juga kalau harus seperti ini setiap hari. Kemudian sesampainya di atas, kami membeli tiket dan pergi ke peron. Peronnya tidak ber-AC dan pengap. Padahal kondisi Stasiun terbilang sepi. Apakah setiap hari sesepi ini kondisinya?

Kebetulan kami tidak sengaja tiba ke Bangkok, sehari sebelum hari raya Songkran. Songkran atau festival air adalah perayaan tahun baru yang berlangsung selama 3 hari. Perubahan tahun dalam kepercayaan mereka, berlangsung selama 3 hari, bukan sehari seperti tahun baru hijriah atau masehi. Selama Songkran berlangsung, mayoritas penduduk Thailand pulang ke kampung halaman masing-masing. Jadi kami datang di saat Bangkok sedang sepi dan tidak terlalu macet. Sayangnya, banyak toko-toko yang tutup dan banyak event-event yang sebenarnya seru tapi kurang pas untuk anak bayi. Selama Songkran berlangsung, seluruh kota menjadi ajang perang siram-siraman air. Mereka percaya bahwa ketika mereka menyiram orang lain ketika Songkran, mereka memberikan rezeki dan berkah bagi orang yang mereka siram. Jadi, apabila kita keluar berjalan-jalan di waktu Songkran berlangsung, bersiaplah untuk basah. Di mana-mana, akan terjadi perang air, terutama di waktu sore dan malam hari. Ada yang menggunakan pistol air raksasa, selang, ember dan lain-lain. Di tengah kota, bahkan mobil pemadam kebakaran dan gajah pun ikut bermain air, seru bukan? Iya seru kalau tidak membawa bayi :”(. Bayi tentunya akan menagis ketakutan dan masuk angin kalau disiram. Sebenarnya masyatakat asli Thailand itu tabu kalau menyiram air di waktu Songkran. Masalahnya, kami di Bangkok, dan orang-orang yang ikut main air di Bangkok adalah kaum pendatang dan wisatawan yang kadang kurang faham. Mayoritas penduduk lokal Bangkok sedang mudik, tersisalah kaum pendatang dan wisatawan.

Songkran bukanlah satu-satunya tantangan yang harus kami hadapi, tapi wafatnya Raja Thailand pun ikut berpengaruh. Jadi, ketika kami datang ke Thailand, Raja Bhumibol Adulyadej belum genap setahun wafat. Masa berkabung mereka ternyata bukan 3 hari, melainkan setahun. Maka akan ada upacara-upacara tertentu yang membuat beberapa objek wisata ditutup pada jam-jam tertentu. Kami harus lebih taktis dan cerdas dalam memilih waktu kunjungan di sini :’/.

Pada hari pertama wisata kami ini, Songkran belum dimulai, dan saya masih melihat banyak tulisan belasungkawa. Beberapa toko masih buka dan banyak sekali pedagang pistol air dan senapan air yang keren-keren. Esok hari, barulah perang dimulai. Hari ini belum ada perang air. Mulai besok, kami harus lebih waspada ketika sedang berada di jalanan. Konon bagian dalam kereta dan bus akan menjadi tempat yang aman dari siraman air.

Perjalanan kami dari penginapan ke Stasiun Ratchaprarop berjalan lancar tanpa siraman. Kemudian dari Stasiun Ratchaprarop kami naik kereta jalur merah muda untuk berhenti di Stasiun SRT Phaya Thai. Dari Stasiun SRT Phaya Thai, kami harus turun dan menyeberang jalan, kemudian naik ke Stasiun BTS Phaya Thai untuk menaiki kereta jalur hijau tua. Seperti saya jelaskan pada Bagaimana Cara Naik Kereta di Bangkok?, jalur kereta merah muda adalah milik SRT State Railway of Thailand), sedangkan jalur hijau tua adalah milik BTS (Bangkok Mass Transit System). Pemilik jalurnya berbeda, maka Stasiunnya berbeda pula walau namanya sama. Kalau sama-sama milik BTS, maka tidak perlu mencari Stasiun lain, paling hanya pindah lantai saja, tapi lokasi stasiunnya tetap sama. Kenapa sih kok BTS dan SRT tidak kompak membuat Stasiun bersama? Huff, agak repot dan kurang nyaman sih kalau begini, kita harus naik turun tangga. Tapi pada penjalan inilah kami menemukan lift. Oooooh ternyata pada beberapa stasiun, tersedia lift di pojokan, kita harus teliti mencari.

Dari Stasiun Phaya Thai milik BTS, kami naik kereta jalur hijau tua untuk berhenti di Stasiun Saphan Taksin. Kemudian kami turun dan berjalan menuju Dermaga Sathorn. Kami masuk ke area Dermaga dan menghampiri seseorang tak berseragam yang berteriak “Asiatik” berkali-kali seperti timer terminal. Di Thailand, perahu-perahu memang seperti angkot, dan Dermaga itu seperti Terminal. Setelah kami membayar di loket, kami memperoleh karcis yang akan diperiksa di dalam perahu. Ruang tunggu di Dermaga ini sederhana dan penuh angin, beruntung kami sudah siap dengan jaket. Tak lama kemudian, datang perahu yang membawa kami menuju Asiatique The Riverfront. Baiklah, kali ini kami melakukan kesalahan. Sebenarnya ada perahu gratis dari Dermaga Sathorn menuju Asiatique. Seharusnya ketika tiba di Dermaga Sathorn, kami mengabaikan terikan kenek perahu. Seharusnya kami cukup mengikuti tanda jalan berwarna merah dengan tulisan “Asiatique”.

Asiatique The Riverfront pada dasarnya merupakan pasar malam di pinggir sungai dengan sarana yang bersih dan rapih. Sesampainya di Asiatique kami melihat matahari terbenam di pinggir Sungai Chao Praya dan melihat kapal-kapal unik melewati Sungai tersebut. Pada malam hari, banyak Dinner Cruise hilir mudik di sepanjang Sungai. Mereka melewati Asiatique dengan lampu-lampu hias dan musik yang kencang, yaaah sekalian iklan. Agak masuk ke dalam, kami melihat kincir angin raksasa dan anek permainan anak-anak. Di sana terdapat pula aneka jajanan ringan yang nampak lezat. Kemudian terdapat pula toko-toko yang menjual baju, souvenir dan lain-lain. Diantara terdapat Miniso yang pada saat saya ke sama, belum buka cabang di Indonesia. Diantara beberapa toko souvenir yang ada, terdapat toko Kon Fai. Inilah toko yang direkomendasikan di Group Backpacker Indonesia. Pedagangnya bisa berbahasa Indonesia dan katanya sih murah. Pada waktu itu kami tidak membeli banyak di Kon Fai karena ini adalah objek wisata pertama kami, aaahhhh siapa tahu do tempat lain lebih murah. Aw ternyata kami salah, di akhir perjalanan wisata Thailand ini, kami baru menyadari bahwa souvenir yang Kon Fai jual memang termasuk lumayan murah .. ah nasibbb nasibbb.

Setelah menyantap makanan ringan dan jus duren yang enaaaaak sekali, kami pulang dengan cara yang sama seperti berangkat. Dari tempat kami tiba di Asiatique, kami membeli tiket perahu untuk pergi dan turun di Dermaga Sathorn. Dari Dermaga Sathorn kami menuju Stasiun Saphan Taksin dan kembali naik kereta jalur hijau tua menuju Stasiun Phaya Thai. Setelah turun dari Stasiun Phaya Thai milik BTS dan naik ke Stasiun Phaya Thai milik SRT, kami naik kereta jalur merah jambu untuk turun di Stasiun Rachaprarop. Naahhhhh disaat itulah kami menemukan lift, kenapa tadi siang tidak terlihat yaa? x__x.

Pada perjalanan kami dari Stasiun Rachaprarop menuju penginapan, terlihat sudah banyak orang-orang yang bermain air. Saya sendiri sudah basah kuyup ketika tiba di penginapan. Sementara itu istri saya dan bayi kami relatif tetap kering tapu sepanjang jalan harus terus berkata “baby”. Semua kosa kata bahasa Thai yang sudah kami siapkan di Indonesia menguap begitu saja :’D. Menurut info dari salah satu penjaga toko, jalan di depan penginapan kami ini akan menjadi “Songkran war zone” besok malam. Waduh, perjalanan wisata hari kedua kami nampaknya akan lebih menantang lagi. Bersambung ke Hari Kedua Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya yaaaah ;).

Baca juga:
Hari Kedua Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya
Persiapan Wisata Thailand 2017
Ringkasan Objek Wisata Bangkok & Pattaya
Bagaimana Cara Naik Kereta di Bangkok?
Bagaimana Cara Naik Chao Praya Express di Bangkok?

Iklan

3 thoughts on “Hari Pertama Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Suvarnabhumi & Asiatique

  1. Ping balik: Hari Kedua Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Noong Noch, Laser Buddha, Sanctuary of Truth, Wat Phra Yai & Pattaya View Point | Alief Workshop

  2. Ping balik: Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Grand Palace, Wat Phra Kaew, Wat Pho, Wat Arun & Pratunam | Alief Workshop

  3. Ping balik: Hari Kelima Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya Saat Songkran – Ananta Samakhom, MBK & Suvarnabhumi | Alief Workshop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s