Ready or Not (2019)

Menikah dengan seseorang yang tampan, baik hati dan kaya raya tentunya menjadi impian sebagian besar wanita. Bagaikan mimpi, sesaat lagi Grace (Samara Weaving) akan menggunakan nama Le Domas sebagai nama belakangnya. Calon suami Grace adalah Alex Le Domas (Mark O’Brien), soerang pria tampan dan baik hati, serta berasal dari sebuah keluarga kaya raya, keluarga Le Domas. Sejak awal upacara pernikahan, Grace sudah melihat tatapan aneh dari keluarga Le Domas. Grace pikir ahhhh ini pasti karena Grace berasal bukan dari keluarga kaya. Sudah menjadi tugas Grace untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga barunya.

Berbeda dengan keluarga lainnya, keluarga Le Domas ternyata memiliki sebuah tradisi yang unik. Karena Le Domas mendapatkan sebagian besar kekayaannya dari bisnis permainan, maka mereka akan mengadakan permainan setiap seorang anggota keluarga selesai menikah. Permainan apa yang mereka mainkan? Jenis permainannya ditentukan dari sebuah kartu acak yang ditarik oleh si anggota keluarga baru. Kali ini, tentunya giliran Grace Le Domas untuk menarik kartu. Andaikan Grace memperoleh kartu catur, yaaa mereka semua hanya akan bermain catur saja. Hal ini berlaku pula pada kartu-kartu lainnya kecuali kartu … petak umpet. Ahhhh sungguh terkejut bukan main, sial, Grace mendapatkan kartu petak umpet tanpa ia ketahui betapa buruk permainan petak umpet ala Le Domas ini. Sudah bisa ditebak dari awal sih, sopasti Grace akan mendapatkan kartu permainan petak umpet. Bukankah judul film ini “ready or not”? itu adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh anak-anak di Amerika sana, ketika mereka sedang bermain petak umpet. Kalau saya sih, dulu biasanya tidak pernah pakai kata-kata “ready or not” gitu, yang ada justru istilah inglo, kucing dan kebakaran saja. Yaah, beda daerah, beda istilah :D.

Mirip seperti permainan petak umpet yang dulu saya mainkan, Grace diminta bersembunyi, sementara anggota keluarga yang lain mencari dan menangkap Grace. Tak disangka, ini adalah awal dari perburuan terhadap Grace. Ternyata Grace akan ditangkap dan dibunuh apabila ia tertangkap. Bak mimpi indah yang seketika berubah menjadi mimpi buruk, Grace harus berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan hidupnya. Kali ini keluarga Le Domas akan menghadapi lawan yang cukup menantang karena Grace bukanlah wanita lemah lembut yang mudah takluk begitu saja.

Latar belakang kediaman keluarga Le Domas yang megah dan remang-remang memang sangat cocok untuk membangun atmosfer ketegangan yang tidak membosankan. Tapi cerita pada film ini sebenarnya terbilang standard, hanya kejar-kejaran dengan motif yang mudah ditebak sejak awal. Beberapa kali terlihat adegan sadis dan penuh darah pada film ini. Humor yang dihadirkan pun agak asing bagi orang Indonesia kurang gaul seperti saya. Komedi hitam pada Ready or Not (2019) sepertinya merupaka komedi lokal Amerika, jadi tidak bersifat global :’).

Saya rasa Ready or Not (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini masih bisa dijadikan hiburan tapi sebaiknya jangan menontonnya bersama anak-anak ;).

Sumber: http://www.foxsearchlight.com/readyornot/

It Chapter Two (2019)

Terpukau dengan It (2017), membuat sekuel film tersebut menjadi salah satu film yang saya tunggu-tunggu. Sesuai dengan novelnya, kisah para tokoh utama pada It (2017) memang belum berhenti sampai di sana saja. It Chapter Two (2019) mengisahkan kembali petualangan The Loosers Club 27 tahun setelah peristiwa pada It (2017) berakhir. Siapakah The Loosers Club itu? Mereka merupakan sekelompok remaja yang beranggotakan William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), dan Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Untuk The Loosers Club dewasa, perannya dimainkan oleh aktor dan artis lain yaitu William “Bill” Denbrough (James McAvoy), Stanley “Stan” Uris (Andy Bean), Benjamin “Ben” Hansco (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richard “Richie” Tozier (Bill Harder), Edward “Eddie” Kaspbrak (James Ransone), dan Michael “Mike” Hanlon (Isaiah Mustafa).

Menurut legenda, It atau Badut Pennywise (Bill Skarsgard) akan bangkit setiap 27 tahun. 27 tahun berlalu dan kejadian buruk mulai terjadi kembali di kampung halaman The Loosers Club. Sesuai dengan sumpah yang pernah mereka ikrarkan semasa remaja dulu, The Loosers Club dipanggil kembali untuk menghadapi It. Dari sekian banyak anggota The Loosers Club, hanya 1 yang memilih bunuh diri daripada harus berhadapan kembali dengan It. Bagaimana dengan sisanya? Mereka kembali tapi dengan membawa masalah mereka masing-masing.

Kembali ke kampung halaman, membawa kenangan lama kembali. Masalah masa lalu pun datang menghinggapi. Trauma akan kekerasan yang Bev hadapi ketika masih remaja kembali datang. Eddie teringat kembali mengenai bagaimana mudahnya ia jatuh sakit sejak kecil dulu. Kematian adik Bill kembali datang menghantui Bill. Cinta segitiga antara Bev, Ben dan Bill kembali datang. Terakhir, Mike yang terus terobsesi akan kebangkitan It, memiliki ketakutan tersendiri ketika ia mengingat kematian keluarganya. Oh tunggu dulu, bagaimana dengan Stanley dan Richie? Stanley … memilih untuk tidak datang menghadapi It. Richie memiliki masalag ketakutan yang sangat absurd, tidak jelas. Belakangan tersirat baru diketahui bahwa orientasi seks Richie-lah yang menjadi masalah. Masalah Richie ini menjadi subplot tak jelas yang tak penting. Aneh sekali, kok ya ini tidak ditanamkan sejak It (2017). Masalah yang Richie hadapi seolah-olah seperti masalah yang dibuat-buat agar durasi It Chapter Two (2019) semakin panjang :P.

Durasi It Chapter Two (2019) lebih dari 2 jam dan mayoritas adegannya adalah teror dari It! Kenangan dan masalah masa lalu inilah yang diekspolitasi oleh It untuk meneror The Loosers Club. Kalau ada orang bilang bahwa lebih lama itu lebih baik, maka hal ini tidak berlaku pada It Chapter Two (2019). Teror demi teror terus muncul tanpa arah yang jelas. Semuanya pun lebih ke arah teror monster yang membosankan, bukan teror psikologis.

Sumpah, film ini terasa sangat membosankan. Terlebih lagi rencana yang Mike susun untuk menghadapi It terbilang aneh dan banyak sekali celahnya. Ya jelas sudah dapat ditebak pasti rencana Mike yang kacangan ini akan mengalami kegagalan.

Nilai positif yang saya lihat dari It Chapter Two (2019) hanyalah kostum dan efek yang jauh lebih bagus dari It (2017). Selain itu akting dari James McAvoy yang prima, tentunya menjadi poin plus lagi bagi It Chapter Two (2019). Sayang karakter-karakter The Loosers Club dewasa lainnya, kalah pamornya dengan The Loosers remaja. Karakter-karakter The Loosers Club pada It (2017) jauuuh lebih kuat dan sukses besar menghadirkan sarkasme dan lelucon yang menghibur. Sementara itu It Chapter Two (2019) justru dipenuhi oleh lelucon-lelucon yang kurang lucu.

Saya agak kecewa dengan sekuel film yang satu ini. Nilai dari saya pribadi adalah 2 dari 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untung saya tidak menonton film ini di bioskop :’D.

Sumber: http://www.it-movie.net

Princess Mononoke (1997)

Melihat sebuah film kartun yang judulnya menggunakan kata princess, membuat saya berfikir untuk menontonnya bersama anak saya. Olala, hal ini ternyata tidak berlaku bagi Princess Mononoke (1997). Disney memang memiliki hak cipta atas film kartun Jepang yang satu ini. Tapi percayalah, Princess Mononoke (1997) bukanlah film anak-anak.

Mengambil latar belakang Jepang di era Muromachi (sekitar tahun 1336-1573), wilayah Jepang masih dipenuhi oleh hutan-hutan yang lebat. Para roh dan dewa kuno masih hidup di sana. Wilayah hutan semakin menyempit karena keserakahan manusia akan sumber daya. Perlahan, manusia merusak lingkungan sekitar mereka sendiri demi kekuasaan.

Di tengah-tengah hutan belantara yang lebat terdapat sebuah Pabrik Besi yang memproduksi senjata api. Eboshi Gozen (エボシ御前) adalah pemilik dan penguasa pabrik ini. Ia merupakan pemimpin yang tegas dan baik hati. Ia harus memilih kepada siapa senjata api buatannya dijual. Terdapat berbagai pihak yang sedang berperang, menginginkan senjata dari Eboshi. Dari sisi ini, Eboshi terlihat baik sekali. Akantetapi, dibalik itu Eboshi cukup congkak dan serakah karena ia menggunakan senjata api miliknya untuk memburu para roh dan dewa penguada hutan. Pada era Muromachi ini, senjaya api menjadi senjata yang sangat canggih. Senjata api mulai muncul di tengah-tengah para samurai masih tetap setia dengan pedang, panah dan kudanya.

Membunuh roh hutan yang sudah lama dianggpa sebagai dewa kuni, bukanlah hal mudah. Eboshi harus berhadapan dengan seorang gadis yang berkeliaran di hutan bersama kawanan serigala. Gadis tersebut bernama San/サン (Yuriko Ishida) dan dialah yang disebut Putri Mononoke (もののけ姫), putri para monster dan roh kuno. San berjuang sekuat tenaga untuk melindungi hutan dan para roh di dalamnya. Sejak kecil ia diasuh oleh kawanan serigala dan menggangap hutan sebagai rumahnya. Perseteruan San dan Eboshi sungguh sengit dan menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Di tengah-tengah perseturuan di antara kedua wanita kuat tersebut, hadir Ashitaka/アシタカ (Yoji Matsuda). Nahhhh dari sudut pandang Kang Mas Ashitaka inilah film ini disajikan. Ia merupakan calon raja dari suku Emishi. Malang menimpa Ashitaka, ia terluka oleh serangan seekor siluman babi. Tangan Ashitaka terkena sebuah kutukan. Konon lama kelamaan hal tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh Ashitaka sampai akhirnya ia tewas.

Ashitaka memilih untuk pergi jauh berkelana mencari penyembuh. Di perjalanan ia melihat barbagai perbuatan tak terpuji. Dunia saat itu dipenuhi oleh orang jahat dan licik. Tangan Ashitaka yang terkutuk, beberapa kali menunjukkan kekuatannya. Tanpa dapat Ashitaka kendalikan, tangan tersebut mampu melakukan berbagai perbuatan keji bagi lawan-lawan Ashitaka. Jangan kaget kalau teman-teman melihat kepala terpenggal atau badan putus ketika tangan Ashitaka beraksi. Sebenarnya ini bisa jadi merupakan daya tarik film ini. Tapi hal ini pulalah yang menjadi alasan utama kenapa Princess Mononoke (1997) tidak pantas untuk ditonton anak-anak. Beberapa adegan sadis pun terkadang hadir secara tiba-tiba pada film kartun Disney yang satu ini.

Lalu apa hubungan Ashitaka dengan Eboshi dan San? Di sini Ashitaka berperan sebagai penengah. Ia tak ingin kedua wanita tersebut tewas. Ashitaka mengenal keduanya dan tahu betul bahwa keduanya sama-sama bukan orang jahat.

Para penghuni dan pekerja Pabrik Besi pun sangat bergantung pada kepemimpinan Eboshi. Eboshi menampung pengangguran dan PSK ke dalam Pabrik Besi agar mereka dapat berdikari dan menjauhi dunia kriminal. Saya kagum melihay bagaimana Princess Mononoke (1997) menggambarkan kehidupan Pabrik Besi dengan sangat jelas. Alur logika mengenai kehidupan di sana sangat mudah dipahami.

Sementara itu hutan dan penghuninya masih membutuhkan San atau Putri Mononoke sebagai pelindung. Peran San di sini sebenarnya masih di bawah Ashitaka. San memang pemberani dan pantang menyerah tapi yaaa Ashitaka tetap tampil sebagai tokoh utama di sini. Saya pribadi kurang setuju kalau judul filmnya Putri Mononoke, kenapa judulnya tidak Pangeran Ashitaka saja? :P.

Mirip seperti beberapa film Jepang yang saya tonton. Princess Mononoke memiliki soundtrack yang halus alias sunyi senyap. Animasinya terbilang sempurna bagi film kartun yang menggunakan teknik manual. Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan mesin animasi canggih, Princess Mononoke (1997) menggunakan gambar manual menggunakan tangan! Wow. Konon hal ini dilakukan agar hasilnya lebih artistik dan manusiawi. Sayang, saya yang kurang berjiwa seni, tidak terlalu melihat keartistikannya, maaf oh 1000 maaf.

Tema yang diambil pun, entah kenapa, mirip seperti beberapa film Jepang yang dulu saya tonton. Alam melawan manusia. Alam bisa saja marah, dan perdamaian antara manusia dan alam adalah solusi yang tepat. Awalnya saya pikir ahhhh ini sih pasti film Jepang bedarah-darah yang diakhiri oleh kematiab. Aaahhh ternyata saya salah, Princess Mononoke (1997) tetap saja termasuk film Disney jadi yaaa ending-nya Hollywood friendly laaah.

Bagi yang hanya mencari hiburan ringan saja, jauhi Princess Monoke (1997). Film ini memberikan bahan untuk merenung dan pesan moral yang bagus. Saya pribada ikhlas kalau Princess Mononoke (1997) memperoleh nilai 3 yang artinya “Lumayan”. Ingat, ini bukan film untuk anak-anak hehehehehe.

Sumber: http://www.studioghibli.com.au/princessmononoke/

The Great Battle (2018)

Mendengar kalimat Romance of the 3 Kingdoms, pastilah kita teringat akan kisah peperangan besar antara 3 kerajaan besar di dataran Cina sana, yaitu Shu, Wu dan Wei. Ternyata di Korea pun ada Romance of the 3 Kingdoms loh, yaitu antara kerajaan Baekja, Silla dan Goguryeo. Ketiganya terus bertempur demi menguasai seluruh Korea. Beberapa kisah pertempurannya sangat dipengaruhi oleh kerajaan tetangga seperti Cina dan Jepang.

Pada The Great Battle (2018) atau Ansi Fortress atau 안시성, dikisahkan bahwa Kekaisaran Tang yang sedang berkuasa di Cina, ingin menguasai Korea. Satu per satu wilayah Korea berhasil Tang kuasai. Sebagai kerajaan yang pada masa jayanya berhasil menguasai bagian tengah dan utara Korea, sampai daerah Mongolia, kerjaan Goguryeo menjadi target utama Kekaisaran Tang. Di bawah Kaisar Taizong atau Li Shimin (Park Sung-woong), bala tentara Tang terus maju ke dalam wilayah Goguryeo yang baru saja mengalami konflik internal.

Raja dari Guguryeo baru saja digulingkan oleh Jendral Yeon Gaesomun (Yu Oh-seong). Jendral Yeon segera menjadi penguasa Goguryeo secara de facto. Sejarah mencatat bahwa terjadi perdebatan sengit karena Raja Goguryeo saat itu dikabarkan memang lemah terhadap Kekaisaran Tang dan Sang Raja ternyata berusaha membunuh Yeon terlebih dahulu. Tidak semua rakyat Goguryeo mengakui kekuasaan Jendral Yeon, termasuk Yang Manchun (Jo In-sung).

Yang adalah penguasa Benteng Ansi yang melindungi semua penduduk di wilayah tersebut. Ia menolak untuk mengirimkan pasukan bantuan kepada Yeon padahal saat itu Yeon sedang membela Goguryeo dari invasi Tang. Pembangkangan ini membuat Yeon geram dan mengirimkan Sa-mul (Nam Joo-hyuk) sebagai mata-mata ke dalam Benteng Ansi. Di saat yang sama, pasukan Tang sedang bergerak ke arah Benteng Ansi. Mereka optimis dapat menguasai Ansi dengan mudah karena mereka sudah berhasil menguasai benteng-benteng Goguryeo lain yang lebih besar dari Benteng Ansi.

Kalah jumlah bukan berarti kalah semangat. Yang ternyata merupakan pemimpin cerdas yang kharismatik. Ia mampu memelihara mental prajuritnya selama berbulan-bulan. Sa-mul yang melihat itu, mulai gundah apakah ia akan tetap menjalankan perintah Yeon atau ikut membelot bersama Yang. Di mata Sa-mul, Yeon dan Yang sebenarnya sama-sama merupakan pemimpin baik yang rela mengorbankan apapun demi menyelamatkan Goguryeo dari invasi Tang.

Konflik batin yang Sa-mul hadapi sangat mudah ditebak arahnya. Cerita dan akhir The Greatest Battle (2018) pun sebenarnya sudah terlihat dari pertengahan cerita. Tapi taktik perang yang ditampilkan sangatlah menarik. Adegan aksinya pun sangat memukau. Inilah keunggulan utama dari The Greatest Battle (2018). Mungkin ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan sejarah, tapi saya rasa hal tersebut tidak terlalu fatal. Bagaimana pun juga, terdapat daerah abu-abu di dalam sejarah sebab sejarah ditulis oleh pemenang [^_^]v. Saya rasa film Korea yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: its-new.co.kr

Jumanji: The Next Level (2019)

Pada akhir tahun 2019 ini, sekuel Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), hadir ke layar lebar. Kisah mengenai permainan maut ini berlanjut pada Jumanji: The Next Level (2019). Beberapa tahun setelah kejadian pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner), sudah lulus SMA dan menjalani kehidupan yang berbeda. Pada saat libur panjang, mereka memutuskan untuk melakukan reuni di kampung halaman mereka.

Di sinilah awal dari kekacauan yang ada. Perangkat Nintendo yang menjadi portal untuk masuk ke dalam dunia Jumanji, ternyata masih ….. tersimpan di gudang milik keluarga Spencer. Entah apa yang Spencer pikirkan, ia mencoba memperbaiki Nintendo tersebut dan masuk ke dalam dunia Jumanji sendirian. Teman-teman Spencer tentunya tak tinggal diam. Mereka menyusul masuk ke dalam Jumanji untuk menyelamatkan Spencer. Bahkan Alex Vreeke (Colin Hanks) ikut menyusul setelah tahu insiden ini. Alex merupakan seorang remaja yang terjebak bertahun-tahun di dalam dunia Jumanji sebelum diselamatkan oleh Spencer dan kawan-kawan. Tanpa sengaja, Eddie Gilpin (Danny DeVito) dan Milo Walker (Danny Glover), ikut tertarik masuk ke dalam dunia Jumanji.

Mirip seperti pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), kali ini ketujuh tokoh utama kita harus menyelesaikan sebuah misi di dalam dunia Jumanji. Seperti video game, mereka akan menggunakan tubuh atau avatar yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang memiliki 3 nyawa dimana kalau ketiga habis atau mereka tewas sebanyak 3 kali di dalam Jumanji, maka mereka akan tewas di dunia nyata.

Hhhhmmmm, kalau dihitung, sekarang jadi ada 7 orang yang masuk ke dalam dunia Jumanji. Padahal bukankah avatar yang terdapat di sana hanya 5? Well, terdapat 2 avatar tambahan yang memiliki peran penting pula dalam permainan kali ini. Tubuh atau avatar yang tersedia adalah Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart), Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black), Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas), Ming Fleetfoot (Nora Lum) dan ……. seekor kuda hitam :’D. Ahhh, siapa yaa yang akan sial menjadi seekor kuda? Eits, tunggu dulu, si kuda ini ternyata bukan sembarang kuda loh, Spencer dan kawan-kawan tidak akan berhasil menyelesaikan misi mereka tanpa bantuan si kuda ini. Misi yang mereka hadapi berbeda dengan misi pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Agak berbeda dengan Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), setiap pemain mendapatkan avatarnya secara acak. Penempatan avatar ini menimbulkan berbagai kelucuan. Tapi sayang leluconnya jadi agak mirip dengan lekucon pada film pertamanya. Kemudian pesan moral yang diangkatpun saya rasa sama persis. Film ini mengajarkan mengenai persahabatan dan saling memaafkan.

Sebenarnya bagian akhir Jumanji: The Next Level (2019) memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang mengharukan. Sayang eksekusinya kurang tepat sehingga, terasa biasa saja.

Yaah paling tidak, adegan aksinya cukup menghibur dan menyenangkan untuk dilihat. Dibalut dengan humor di mana-mana, cerita yang sebenarnya standard sekali ini terasa tidak membosankan.

Saua rasa Jumanji: The Next Level (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walau memiliki beberapa kekurangan, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Semoga film Jumanji berikutnya dapat memberikan hiburan yang lebih segar lagi :).

Sumber: http://www.jumanjimovie.com

The Lion King (2019)

Disney kembali membuat ulang salah satu film animasinya yang sangat populer di era 90-an. Kali ini giliran The Lion King (1994) yang pernah saya tonton ketika SD dan menjadi salah satu film animasi kesukaan saya pada waktu itu. Dengan menggunakan teknologi terbaru, Disney menghidupkan kembali The Lion King (1994) dalam sebuah film yang penuh special effect pada The Lion King (2019). Singkat kata, The Lion King (2019) adalah versi live action dari The Lion King (1994).

Kisah yang disuguhkan sama persis. Di sebuah area hutan Afrika yang disebut Tanah Kebanggaan, para singa memerintah dengan adil sesuai lingkaran kehidupan hewan yang ada sejak dahulu kala. Raja Mufasa (James Earl Jones) yang telah lama memerintah, dibunuh oleh saudaranya sendiri, Scar (Chiwetel Ojiofor). Kemudian melalui tipu daya dan fitnah, Scar mengasingkan Sang Putra Mahkota, Simba (Donald Glover), jauh keluar dari Tanah Kebanggaan.

Simba tumbuh besar diasuh oleh Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Timon yang seekor merkaat dan Pumbaa yang seekor babi hutan, memberikan rumah baru bagi Simba. Semua nampak indah sampai Nala (Beyonce Knowles) datang dan memberitahukan keadaan Tanah Kebanggaan yang Simba tinggalkan. Di bawah kekuasaan Scar, para singa berada di bawah kendali para hyena. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rantai makanan dan lingkaran kehidupan. Ibu dari Simba pun masih hidup di sana dan hidup dalam tekanan dan ancaman.

Walau awalnya menolak, Simba akhirnya kembali ke Tanah Kebanggaan untuk merebut tahta dan mengembalikan lingkaran kehidupan yang Scar rusak. Jika salah satu lingkaran kehidupan diubah dengan paksa, maka semuanya akan terpengaruh.

Klise? Yaah betul sekali. Film ini memang pada dasarnya mengisahkan mengenai seorang pangeran yang datang untuk membalas dendam dan menyelamatkan keluarganya. Tapi The Lion King (1994) lebih berhasil menghasilkan sebuah eksekusi yang menarik dan berkesan. Hadir dengan teknologi terkini yang indah, The Lion King (2019) seperti tidak ada jiwanya. Ceritanya terasa datar dan standard.

Karakter Pumbaa dan Timon yang seharusnya lucu dan konyol, gagal membuat saya tertawa. Soundtrack film ini pun sepertinya terlalu dibuat ke-Afrika-an dan kurang cocok di telinga saya. Sumpah saya lebih suka dengan yang versi tahun 1994 meskipun hadir dengan animasi yang tidak sebagus The Lion King (2019).

Kelebihan yang sangat terlihat pada The Lion King (2019) sopasti adalah pada visualnya. Binatang dan alam yang ditampilkan memang nampak indah dan mengagumkan. Semuanya seperti sungguhan dan sangaaaat halus. Kalau untuk masalah visual, The Lion King (2019) sayah kasih 2 jempok deh :). Tapi disini pulalah letak hilangnya jiwa pada The Lion King (2019). Karena visualnya yang sangat realistis, saya tidak dapat melihat mimik kesedihan atau kemarahan pada film ini. Berbeda dengan yang versi tahun 1994 dimana raut muka karakter-karakter masih dapat digambarkan dengan jelas. Aahhh kenapa sih kok selalu dibandingkan dengan The Lion King (1994)? Tentu saja, karena The Lion King (2019) adalah sebuah remake, bukan reboot, jadi saya mengharapkan adanya keunggulan lain dari aspek-aspek yang ada. Dari segi cerita dan karakter saja sudah sama persis.

Dengan begitu, saya rasa The Lion King (2019) masih layak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film tersebut aman ditonton semua umur, tidak ada cium-ciuman di sana meski tak ada satu karakter pun yang menggunakan baju. Yaaa jelas isinya binatang semua :P.

Sumber: http://www.lionking.com

Serial Butterbean’s Cafe

Bermain masak-masakan menjadi salah satu permainan kesukaan anak-anak saya. Maka tidak heran kalau mereka tertarik dengan Butterbean’s Cafe, sebuah film seri kartun asal Irlandia yang bertemakan masak-memasak. Alkisah di dalam dunia peri yang mungil, Butterbean (Margaret Ying Drake) mendirikan Butterbean’s Cafe bersama-sama dengan Cricket (Gabriella Pizzolo), Poppy (Krrilee Berger), Dazzle (Olivia Grace Manning) dan Jasper (Koda Gursoy).

Jasper merupakan teman Butterbean yang bertugas menangani pengantaran dan penyediaan bahan makanan. Dazzle adalah sahabat Butterbean yang bertugas di bagian konter dan kasir restoran, berinteraksi langsung dengan para pelanggan. Poppy adalah adik Butterbean yang masih belajar memasak, ia sering membantu pekerjaan di dapur dan merancang menu kreatif restoran. Terakhir, Poppy merupakan sahabat Butterbean yang bertugas di dapur untuk memasak berbagai hidangan.

Mayoritas hidangan yang disajikan Butterbean’s Cafe mendapatkan sedikit sentuhan sihir dari Butterbean, pada bagian akhir proses memasaknya. Di sini anak-anak diajarkan dasar-dasar dan istilah memasak yang dipergunakan di dunia nyata. Tidak hanya itu, masak-memasak yang Butterbean’s Cafe hidangkan bukanlah masak-memasak biasa. Semuanya mengajarkan mengenai bagaimana menjadi kreatif ketika menghadapi berbagai masalah. Masalah yang hadir pun biasanya berhubungan dengan problem persahabatan dan budi pekerti. Semua orang memang pernah berbuat salah dan tidak ada salah untuk saling memaafkan.

Sayang ceritanya memang agak datar dan itu-itu saja, sangat sederhana dan memang ditujukan bagi anak-anak. Orang dewasa yang mendampingi terkadang akan merasa sangat kebosana heheheeheh.

Dengan menimbang hal-hal di atas, Butterbean’s Cafe rasanya masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala masimum 5 yang artinya “Lumayan”. Amanlaah untuk ditonton anak-anak :).

Sumber: http://www.nickjr.co.uk/butterbeans-cafe