The Kid Who Would Be King (2019)

Legenda Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah sering sekali di angkat ke layar kaca. Tapi entah kenapa tidak bosan-bosannya saya menonton kisah dengan tema yang sama :’D. Saya memang suka dengan film kerajaan bertemakan from zero to hero. Melihat poster dan trailer-nya, saya pikir The Kid Who Would Be King (2019) akan memberikan sesuatu yang menjanjikan. Apakah saya benar?

Alkisah berabad-abad setelah para kesatria Kerajaan Camelot mengalahkan Morgana (Rebecca Ferguson), hiduplah Alex (Louis Ashbourne Serkis) di dataran Inggris Raya. Meskipun baru berusia 12 tahun, ia memilki keberanian dan hati yang baik. Kehidupan Alex berubah ketika pada suatu malam ia berhasil mencabut sebuah pedang dari tumpukan semen.

Ternyata pedang tersebut adalah pedang Excalibur, sebuah pedang yang hanya dapat dicabut oleh Raja Camelot. Seketika itu pulalah Alex menjadi target utama monster-monster Morgana. Seketika itu pulalah Merlin (Angus Imrie) hadir di sekolah Alex dalam wujud yang lebih muda. Ia datang untuk membantu Alex menghadapi Morgana.

Morgana ternyata selama ini belum tewas. Ia hanya terperangkap dan kekuatannya semakin hari semakin besar. Menurut Merlin, Morgana akan kembali memperoleh kekuatan maksimumnya pada gerhana matahari yang akan datang.

Mulai saat itulah Alex merekruit beberapa teman sekolahnya untuk menjadi bagian dari kesatria meja bundar baru yang Alex pimpin. Yang saya agak bingung adalah, teman-tan Alex yang sudah menjadi kesatria, tidak nampak memiliki kekuatan tambahan. Alex sendiri tidak menjadi jauh lebih kuat, walaupun sudah menggengam Excalibur.

Di satu sisi, rasanya kok gelar kesatria dan Excalibur hanya dekorasi semata saja yah. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas usaha yang mereka lakukan, dapat dicapai dengan kemampuan sebagai sekumpulan anak-anak remaja biasa yang bersatu.

Bersatunya anak-anak di bawah komando Alex menjadikan bagian akhir The Kid Who Would Be King (2019) terlihat seru. Walaupun alasan mengapa mereka rela mengikuti perintah Alex bukanlah karena jiwa kepeminpinan Alex yaaaa. Mungkin karena kostum kesatria yang keren? Hehehehe

Di pertengahan film, Alex justru sibuk berpetualang dan mengurusi masalah keluarganya. Semua sukses ditampilkan dengan sangat bertele-tela. Yah kalau akhir filmnya begitu, buat apa dipertengahan film Alex justru jalan-jalan ke sana ke mari :’D.

Bagian tengah film yang minus, bagia awal dan akhir yang memikat, membuat film ini memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: amily.20thcenturystudios.com/movies/the-kid-who-would-be-king

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s