The Invisible Man (2019)

Sejak pertama kali hadir melalui novel karya H. G. Wells tahun 1897, karakter The Invisible Man sudah hadir di dalam berbagai film. Semuanya bercerita mengenai keberhasilan seorang peneliti dalam membuat tubuhnya menghilang. Sayangnya, penemuan tersebut dipersalahgunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi si peneliti. Jadi jelas sudah, Invisible Man selalu hadir sebagai tokoh antagonis.

Hal serupa terjadi kembali pada The Invisible Man (2019), hanya saja saya melihat beberapa usaha sehingga film tersebut memiliki jalan cerita yang tidak sama persis. Kisah pada The Invisible Man (2019) dilihat dari sisi Cecilia Kass (Elisabeth Moss). Cecilia bukanlah seorang ilmuwan. Ia hanyalah seorang gadis yang melarikan diri dari sebuah hubungan yang buruk.

Mantan pacar Cecilia merupakan seorang ilmuwan jenius yang kaya raya, namun ia sangat keras dan posesif. Wajar bila Cecilia melarikan diri dan mengalami trauma akibat hubungan tersebut. Namun sang ilmuwan sepertinya tidak dapat melupakan Cecilia dan rela melakukan berbagai tindakan nekat untuk mendapatkan Cecilia kembali. Ada sesuatu di dalam diri Cecilia yang sangat ia dambakan.

Bagi Cecilia sendiri, ini merupakan mimpi buruk yang tidak berujung. Bahkan ketika ada kabar bahwa sang ilmuwan tewas, teror yang Cecilia hadapi justru semakin memburuk. Mantan pacar Cecilia seolah-olah selalu ada di dekat Cecilia dan membuat Cecilia nampak buruk dihadapan orang banyak. Cecilia bahkan harus menjadi terdakwa bagi kejahatan yang tidak ia lakukan.

Penderitaan yang Cecilia hadapi nampak jelas dari akting Elisabeth Moss yang prima. Ia berhasil memerankan seseorang yang terus menerus mengalami teror dan trauma. Masalahnya, The Invisible Man (2019) seolah-olah berikan teror dan fitnah saja. Gangguan-gangguan yang Cecilia hadapi memenuhi sebagian besar porsi film ini.

Semua gangguan tersebut membuat Saya benar-benar tidak sadar bahwa The Invisible Man (2019) ternyata merupakan film from zero to hero. Semua tragedi yang Cecilia hadapi telah mengubahnya menjadi seseorang yang berbeda. Tapi saya tidak melihat evolusi dari seorang Cecilia. Semua seolah-olah terjadi dengan tiba-tiba. Akhir dari The Invisible Man (2019) memang terbilang bagus sekali, sayang momen tersebut terasa singkat.

Masih ingat dengan The Mummy (2017)? Aaahhh, ternyata The Invisible Man (2019) merupakan bagian dari Dark Universe besutan Universal Pictures. Pantas saja kisah The Invisible Man (2019) seolah seperti mengisahkan pembentukan sebuah karakter. Meski tidak sebombastis The Mummy (2017), The Invisible Man (2019) nampak lebih berkualitas dan menarik untuk ditonton. Saya rasa The Invisible Man (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sebuah denyut nadi baru bagi masa depan Dark Universe.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/the-invisible-man

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s