Serial My Little Pony: Pony Life

Sebagai franchise yang sudah ada sejak lama, My Little Pony sudah hadir dalam berbagai bentuk film. Film serinya saja sudah ada berapa jenis. Kali ini saya membahas film seri dari My Little Pony yang paling imut yaitu Pony Life. Kelima karakter utama My Little Pony tentunya kembali hadir di sini. Di sini ada Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Apple Jack (Ashleigh Ball), Rarity (Tabitha St. Germain), Fluttershy (Andrea Libman) dan Rainbow Dash (Tabitha St. Germain).

Formasi lengkap sudah hadir. Lalu apa bedanya Pony Life dengan serial Little Pony lainnya? Serial ini hadir dilengkapi oleh animasi yang lucu. Fokus serial ini pun lebih ke arah hiburan dan humor. Dalam setiap episodenya, kita tidak akan selalu disuguhkan mengenai bagaimana persahabatan dapat mengalahkan kejahatan dan menyelamatkan dunia. Sebagian besar episodenya justru berhubungan dengan hobi dan keseharian kelima karakter utama Pony Life.

Keenam karakter utama hadir dengan masalahnya masing-masing. Semuanya diselesaikan dengan berbagai kelucuan di mana-mana. Penonton dewasa tidak akan kebosanan ketika ikut menonton film seri ini.

Pesan moral dari film kartun ini tidaklah banyak dan hanya itu-itu saja sih. Animasi dan kisah yang lucu, menjadi daya tarik serial ini. Pony Life merupakan versi My Little Pony yang tidak serius. Dengan demikian, serial imut ini masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com/en-us/characters/ponylife

Sate Lawu, Nikmatnya Sampai di Hati

Setiap berlibur ke arah Tawangmangu, saya dan keluarga sudah beberapa kali mampir ke Sate Lawu. Biasanya kami sampai sana menjelang sore. Restoran yang satu ini hadir di tengah-tengah kabut dan dinginnya daerah sekitar Gunung Lawu. Yah lokasinya memang di bagian atas wilayah wisaya Tawangmangu. Tepatnya di Jl. Baru No. 2, Kramat, Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Patokannya adalah persimpangan antara jalan lama dengan jalan baru antara Cemoro Kandang dan Tawangmangu. Selain itu restoran ini sudah memiliki cabang lain di Jl. Bhayangkara Sriwedari Solo dan Assalaam Hypermarket Pabelan Solo.

Saya sendiri belum pernah berkunjung di cabang Solo. Saya hanya pernah berkunjung ke Sate Lawu yang di Tawangmangu saja. Restorannya nyaman dan menyedikan pendopo private untuk lesehan. Sebuah lokasi yang sangat pas untuk makan malam setelah seharian berwisata di Tawangmangu. Bagaimana dengan menunya? Yaaa jelas ada sate ayam dan sate kambing. Selain itu saya dapat pula menemukan gongso wedang dan lain-lain.

Tempat Duduk Lesehan
Bagian Dalam Sate Lawu

Sate kambing hadir dengan nama sate lawu. Tusukan sate hadir di atas hotplate yang hangat. Kemudian cabai, kecap dan bawangnya diberikan terpisah. Tanpa bumbu apapun, daging satenya memiliki aroma yang menggugah selera, tidak ada bau prengusnya. Kemudian terdapat pula rasa juicy dan rasa segar yang halus ketika saya menggigit daging satenya. Memang dagingnya sedikit kenyal, tapi justru itulah yang membua satenya terasa nikmat. Tingkat kekenyalan dagingnya passss. Ditambah bawang, cabai dan cabe, hidangan yang satu ini terasa enak :).

Sate Lawu

Sementara itu, sate ayamnya tidak hadir di atas hotplate. Potongan daging ayam yang matang, dilumuri oleh bumbu kacang yang lumayan kental. Rasa manis dan rasa kacangnya cukup dominan. Lumayan sih, tapi saya jauh lebih suka dengan sate kambingnya. Yah sate ayam ini tentunya dapat menjadi alternatif bagi pengunjung yang kurang suka daging kambing.

Sate Ayam

Ok, selanjutnya saya menyantap sebuah hidangan yang agak asing, gongso daging pedas. Apaan tuhh?? Gongso daging pedas di sini ternyata merupakan potongan daging sate kambing yang disajikan tanpa tusuknya, melainkan dengan kuah manis yang pedas. Aroma merica sangat dominan pada hidangan yang satu ini. Rasa manis dan pedas pada hidangan yang satu ini benar-benar nagih. Bagi saya sendiri, pedasnya masih wajarlah, tidak akan membuat perut mules-mules hehehehe.

Gongso

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Sate Lawu nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Enak”. Suasananya ok, rasanya pun bisa dibilang ok :).

Serial Bluey

Bluey adalah film seri animasi anak keluaran Australia yang biasa putri kecil saya saksikan di Stasiun TV Disney. Serial asal Australia ini mengisahkan keseharian sebuah keluarga anjing yang tediri dari Bandit sang ayah (David McCormack), Chili sebagai sang ibu (Melanie Zanetti) , Bingo sebagai adik Bluey, dan tentunya Bluey sendiri. Bluey adalah anjing heler berwarna biru yang energik, ceria dan kreatif. Ahh sebuah karakter yang biasa dimiliki oleh banyak protagonis utama sebuah film anak. Lalu apa istimewanya Bluey?

Sebagai anak anjing, Bluey tentunya senang bermain. Kegiatan bermain Bluey bersama keluarga dan temannya, dipertontonkan dengan cara yang menghibur. Serial ini menunjukkan bagaimana kreatifnya Bluey dan kawan-kawan ketika sedang bermain. Tidak hanya bermain, terkadang kegian Bluey lainnya pun terlihat segar dan tidak repetitif. Sebagai penonton dewasa, saya sendiri tidak merasa bosan ketika sedang menemani anak saya menonton Bluey.

Sebagai film seri untuk anal-anak, Bluey tentunya menyisipkan berbagai pelajaran yang positif bagi penontonnya. Sebuah contoh yang tak ada salahnya untuk ditiru oleh anak-anak.

Saya rasa serial anak yang satu ini layal untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Bagus”. Durasi per episode-nya memang tidak terlalu panjang, tapi itu cukuplah untuk dijadikan tontonan segar bersama anak kita di rumah.

Sumber: http://www.bluey.tv

Serial DC Super Hero Girls

Melalui franchise DC Super Hero Girls, DC Comics berusaha mengumpulkan superhero dan supervillain wanita ke dalam 1 format franchise yang sama. Konsepnya mengikuti Monster High dimana semua karakternya belajar bersama di sebuah sekolah. Kali ini bukan sekolah khusus monster, melainkan sekolah biasa. Inilah konsep yang diangkat oleh serial DC Super Hero Girls versi Cartoon Network yang mulai tayang pada 2019.

Konsep sekolah biasa di Metropolis ini rasanya bisa lebih diterima dan terasa lebih natural. Sangat berbeda dengan DC Super Hero Girls versi webseries yang mulai tayang pada 2015. Wah ada berapa versi DC Super Hero Girls sih? Setahu saya ya hanya 2 itu saja sementara ini. Tapi yang versi tahun 2015 itu terlalu serius dan cerita kurang menarik.

Sementara itu yang versi tahun 2019 ini lebih banyak humornya dan kasusnya lebih banyak intriknya. Kemudian karakter utamanya dibuat sedikit berbeda dari biasanya. Pada DC Super Hero Girls versi 2019 ini kita akan bertemu dengan Wonder Woman (Grey Griffin), Batgirl (Tara Strong), Supergirl (Nicole Sullivan), Green Lantern (Myrna Velasco), Zatanna (Kari Wahlgren) dan Bumblebee (Kimberly Brooks). Wonder Woman hadir sebagai pemimpin yang tegas, namun kurang memiliki pengetahuan mengenai kehidupan manusia modern. Batgirl tampil sebagai tokoh yang super cerdas dan sangat bersemangat, namun sering kali bertingkah konyol seperti anak kecil. Supergirl ditampilkan seperti wanita kuat dari perkampungan di Amerika bagian tengah, ia sering berbuat gegabah dan kurang dapat mengendalikan kekuatan supernya. Zatanna adalah pesulap wanita yang elegan dan modis. Green Lantern kali ini adalah Green Lantern versi Jessica Cruz yang kurang suka akan kekerasan dan sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Terakhir, Bumblebee merupakan superhero yang rendah diri padahal kemampuannya tetap bermanfaat bagi teman-temannya.

Seperti film tim superhero pada umumnya, DC Super Hero Girls selalu berbicara mengenai kerjasama dan persahabatan dalam menuntaskan berbagai kasus kejahatan. Karena sebagian besar karakternya wanita, maka otomatis serial inipun berbicara mengenai pemberdayaan wanita.

Kemudian, pembawaan karakter yang unik dan lucu membuat serial ini dapat menghibur penonton anak dan dewasa. Saya pribadi tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton episode-episodenya.

Dari segi pendidikan, serial ini memang tidak terlalu istiimewa. Tapi dari segi hiburan, serial ini cukup istimewa. Saya ikhlas untuk memberikan DC Super Hero Girls nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.dckids.com/super-hero-girls

Wakacao, Pepper Rice Lokal Pertama Indonesia

Pernah makan Pepper Lunch? Ok singkat kata, Wakacao menyajikan menu yang mirip seperti Pepper Lunch, franchise pepper rice asal Jepang. Hanya saja, Wakacao memiliki menu yang lebih sederhana dan 100% masih milik Indonesia. Berawal dari tugas akhir untuk lulus dari Universitas Prasetya Mulya, sekelompok anak muda Indonesia membuka cabang pertama Wakacao di Pasar Modern BSD. Lama kelamaan Wakacao sudah memiliki berbagai cabang di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Bandung. Selain lokasi yang di Pasar Modern BSD, Wakacao dapat ditemukan pula di Pasar 8 Alam Sutera, Pasar Modern Bintaro, Taman Jajan Bintaro, Pasar Modern Intermoda BSD, Ruko Pasar Modern Paramount, Villa Permata Lippo Karawaci, Mall Artha Gading, Bella Terra, Food Market Sunter, Ruko Grand Galaxy City, Jl. Sultan Tirtayasa Bandung, Jl. Cibadak Bandung, dan Pasar Segar Taman Kopo Indah.

Bagian Dalam
Bagian Dalam Lagi

Wah banyak juga ya. Ada apa sih di Wakacao? Pada dasarnya menu utama Wakacao berupa pepper rice. Nasi dengan lada, seledri, bawang, jagung telur dan daging yang disajikan diatas hotplate. Dagingnya bisa daging sapi, ayam atau ikan salmon. Kemudian bisa pula memesan paket pepper rice yang menggunakan gulai, rendang, balado, atau kari. Tak lupa terdapat pula pilahan untuk menambah topping seperti keju mozzarella, jamur, sosis, dobel daging dan dobel telur.

Salmon Peppr Rice Gulai
Beef Pepper Rice Gulai

Saya pribadi menyantap hidangan Wakacao, sama seperti ketika saya sedang makan di Pepper Lunch. Selagi masih mendidih, hidangannya saya aduk sambil menambahkan cabai, lada, saus madu dan saus bawang. Dengan demikian, hidangan Wakacao akan semakin memiliki rasa yang enak dan tidak kalah dengan Pepper Lunch. Toh, Wakacao sebenarnya memang kw supernya Pepper Lunch. Menu dan deretan pilihan bumbunya sangat mirip sekali.

Saya rasa, Wakacao layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Restoran ini dapat dijadikan alternatif bagi teman-teman yang sedang ingin makan pepper rice di atas hotplate yang mendidih :).

Monster Hunter (2021)

Paul William Scott Anderson adalah sutradara asal Inggris yang sudah beberapa kali membuat film berdasarkan video game. Tanpa saya sadari, Resident Evil adalah salah satunya. Franchise film Resident Evil ternyata sudah beberapa kali menggunakan jasa Anderson, termasuk seri terakhirnya, Resident Evil: The Final Chapter (2016).

Milla Jovovich sebagai pemeran utama film-filmnya Resident Evil, diangkut oleh Anderson ke Monster Hunter (2021). Pasangan suami istri tersebut kembali membuat film berdasarkan sebuah video game besutan Capcom. Saya pernah bermain Monster Hunter di PSP. Selain pakaian dan bentuk monsternya, tidak ada yang menunjukkan bahwa Monster Hunter (2021) merupakan versi film dari video game Monster Hunter. Ceritanya dibuat agak berbeda dan sepertinya ada kesengajaan agar Monster Hunter (2021) dapat melahirkan sekuel-sekuel seperti Resident Evil (2002).

Dikisahkan bahwa Kapten Artemis (Milla Jovovich) dan pasukannya, tidak sengaja masuk ke dalam sebuah dunia lain. Dunia dimana terdapat monster berukuran jumbo di mana-mana, inilah dunia Monster Hunter. Setelah kehilangan semua anak buahnya, Artemis bertemu dengan seorang pemburu yang diperankan oleh Tony Jaa. Sangat klise, kedua tokoh utama, pada awalnya saling serang. Kemudian pada akhirnya mereka harus bekerja sama. Perbedaan antara Artemis dan Sang Pemburu pun dijadikan sebagai bahan humor. Sesuatu yang klise pula, dan gagal. Humornya terbilang garing kering krontang.

Beruntung special effect Monster Hunter (2021) terbilang bagus. Dunia yang dihadirkan pun nampak nyata dan berhasil mendukung adegan aksi yang … biasa, hehehehe. Maaf, tapi tanpa special effect yang mahal, adegan aksinya memang terbilang standard. Special effect adalah yang membuat film ini mampu menghasilkan hiburan ringan yang lumayan bagus.

Cerita dan karakter yang klise yang dangkal, masih terselamatkan oleh berbagai adegan aksi yang mendominasi sebagian besar film. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Monster Hunter (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/monsterhunter

Raya and the Last Dragon (2021)

Raya and the Last Dragon (2021) merupakan film animasi Disney terbaru yang hadir di bioskop dan media streaming eksklusif. Tokoh utamanya adalah Raya (Kelly Marie Tran) dan Sisu (Nora Lum). Raya adalah putri dari kepala suku Negeri Heart. Dahulu kala, Heart dan 4 negeri lainnya bersatu membentuk sebuah kesatuan yang disebut Kumandra. Semua berubah ketika sebuah mahluh misterius yang bernama Druun, datang dan mengubah banyak rakyat Kumandra menjadi batu. Para naga yang menjadi pelindung Kumandra tidak tinggal diam. Mereka pun rela gugur demi menghancurkan Druun. Akhirnya, kemenangan jatuh ke tangan para naga melalui sihir Sisu, naga terakhir Kumandra yang masih tersisa.

Setelah insiden tersebut, Kumandra mengalami perpecahan dan terbagi ke dalam 5 wilayah termasuk Heart, kampung halaman Raya. Beberapa tahun kemudian, perseteruan diantara 5 negeri tersebut membuat Druun hidup kembali dan menteror kelima negeri yang dahulu bersaudara. Dimanakah para naga Kumandra yang dahulu menolong mereka? Putri Raya memutuskan untuk berkelana demi mencari keberadaan Sisu, naga terakhir yang kabarnya masih hidup. Ia berharap Sisu masih memiliki kekuatan untuk kembali mengalahkan Druun.

Tanpa raya duga, kekuatan Sisu ternyata adalah kekuatan yang berasal dari persatuan, kepercayaan dan persaudaraan. Hal-hal yang saat ini sudah punah dari kelima negeri yang ada.

Raya sendiri mengalami masalah dengan yang namanya kepercayaan. Dahulu, ia pernah dihianati oleh putri negeri lain. Sehingga Raya sangat sulit percaya dengan orang yang baru ia temui. Sepanjang perjalanannya, Raya harus belajar untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Bersama Sisu, ia pun banyak belajar mengenai pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Sebuah petualang epik yang berhasil disajikan dengan sangat baik oleh Disney. Berbeda dengan mayoritas putri-putri Disney lainnya, Raya tidak menyanyi. Tidak ada adegan menyanyi sedikitpub pada pertengahan film ini. Hebatnya, Disney menggantinya dengan adegan pertarungan yang keren. Raya bukanlah putri yang memiliki kekuatan sihir seperti Elsa. Namun ia mampu berkelahi dengan sangat baik. Dengan kualitas animasi di atas rata-rata untuk film keluaran tahun 2021, film ini tampak menakjubkan. Adegan perkelahian bisa jadi merupakan bagian yang paling saya suka dari Raya and the Last Dragon (2021).

Apalagi, film putri Disney yang satu ini dapat dikatakan merupakan putri Disney pertama yang berasal dari Asia Tenggara. Pada film ini, saya melihat proses pembuatan batik, keris, pencak silat, wayang, gamelan, istana ala Thailand/Vietnam, rumah gadang, rice cake Vietnam, sawah terasering dan lain-lain. Wah, akhirnya ada juga perwakilan kita di sana.

Pengisi suara kedua karakter utamanya pun merupakan keturunan Asia. Nora Lum berhasil memberikan karakter suara yang membuat Sisu nampak hidup. Naga yang konyol dan murah senyum sungguh pas sekali dengan suara Nora. Sementara itu Marrie yang keturunan Vietnam, tidak terlalu nampak menonjol. Suara Raya yang diisi oleh Marrie terbilang okelah tapi tidak sekeren apa yang Nora lakukan kepada karakter Sisu.

Salah satu hal yang saya tidak terlalu suka dari film ini sebenarnya adalah akhir yang agak antiklimaks. Kemudian, alur ceritanya agak mudah ditebak. Tapi ini dapat dipahami karena bukankah ini merupakan film keluarga? Kalau terlalu kompleks, ya sopasti penonton cilik tidak akan betah.

Berbagai kelebihan dan kekurangan di atas membuat saya ikhlas untuk memberikan Raya and the Last Dragon (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini adalah tontonan wajib di tahun 2021 ;).

Sumber: movies.disney.com/raya-and-the-last-dragon

Sonabest, Sajian Khas Nusantara dengan Resep Turun Temurun

Berkunjung ke wilayah Depok, saya mampir ke restoran sederhana yang bernama Sonabest. Sementara ini setahu saya Sonabest dapat ditemukan di:

  1. Jl. Raya Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pelataran Kompleks Ruko Grand Jagakarsa Residence.
  2. Jl. KH. M. Usman, Beji, Depok. Bagian depan parkiran Superindo Express Beji.

Nah kemarin saya mampir ke cabang yang di Beji. Lokasinya di ruangan terbuka dan bersih. Ada apa saja sih di Sonabest? Menu unggulannya adalah sate maranggi dan sop iga. Wuah bagaimana ya rasanya?

Sate maranggi hadir dengan balutan bumbu yang kental dan menempel pada daging atau gajih. Satu tusuk sate maranggi Sonabest, isinya cukup padat loh. Daging yang dipergunakan adalah daging sapi tenderloin yang empuk. Gajihnya pun tak kalah lembut dan legit. Ditambah bumbu rempah yang Sonabest gunakan, yuuummmmm, enak. Saya merasakan ada sebuah rasa khas ketika menyantap sate maranggi yang satu ini. Kalau kurang manis atau pedas, bisa menambahkan kecap dan sambal khusus yang ada di setiap meja. Ini adalah salah satu sate favorit saya.

Sop iga hadir dengan kuah hangat dan gurih. Dagingnya pun tidak pelit, jadi isinya bukan tulang saja hehehehe. Pasuan rasanya enak loh, apalagi kalau sedang hujan, wuih, mantab.

Restoran yang baru dibuka pad 2021 ini memiliki menu yang sedikit namun terasa spesial di lidah saya. Konon masakannya dibuat berdasarkan resep dari leluhur si pemilik. Sopasti Sonabest layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Gurih & Manisnya Ayam Panggang 3 Berku

Ketika saudara saya pergi ke Yogyakarta, saya beberapa kali memperoleh oleh-oleh berupa ayam panggangnya Restoran Ayam Panggang 3 Berku. Kalau kata ibu saya, ayam ini mirip seperti hidangan yang dulu sempat ia santap ketika masih kecil. Saya pribadi, yaah baru kali ini saja merasakan ayam panggang model begini.

Bagi saya yang tinggal di wilayah Jabodetabek, ayam panggangnya 3 Berku ini agak beda. Ayamnya terasa manis gurih sampai ke dagingnya. Mungkin ini dikarenakan proses pembuatannya yang memakan waktu sekitar 8 jam. Ayam direbus dengan bumbu bacem. Itulah kenapa dagingnya terasa sedikit manis dan lembut. Sementara itu, bagian luar ayam dilapisi oleh bumbu campuran santan yang nikmat. Bumbu ini pun disediakan terpisah untuk dicocol ketika sedang menikmati ayam panggangnya. Kemudian, tersedia pula sambal yang terasa manis asin dengan potongan usus di dalamnya, yummmm. Paduannya membuat rasa ayam panggang 3 Berku terasa spesial.

Sayang 3 Berku terletak agak jauh dari tempat tinggal saya. Restoran tersebut terletak di Jl. Kusumanegara No. 185, Muja Muju, Umbulharyo, Yogyakarta. Ketika saya ke sana 3 minggu yang lalu, tulisan 3 Berku memang sudah agak pudar. Patokannya restoran mungil di dekat Kebun Binatang Gembira Loka. Walaupun tidak terlalu besar, restorannya bersih dan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Saya rasa Ayam Panggang 3 Berku layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Enak”. Oh ya, cita rasa hidangan di sana itu relatif jauh dari kata pedas. Jadi jangan berharap menemukan hidangan yang pedas di sana. Selamat icip-icip :).

Serial Teen Titans Go!

Ketika superhero-superhero beken DC Comics berkolaborasi, mereka membentuk Justice League. Bagaimana dengan sidekick mereka? Bagaimana dengan superhero yang masih baru dan lebih muda? Beberapa berkumpul di Teen Titans. Semua anggotanya merupakan sidekick atau superhero muda yang sudah punya nama tapi tidak terlalu terkenal.

Hadir sudah sejak lama sekali melalui buku komik di tahun 1964, kelompok superhero remaja inipun akhirnya memiliki film serinya sendiri. Dari berbagai versi Teen Titans, kali ini saya akan membahas versi yang paling jenaka, Teen Titans Go!.

Serial yang satu ini lebih menitik beratkan unsur komedinya. Semua tokoh utama Teen Titans Go! tetaplah superhero. Hanya saja, peperangan mereka dalam melawan kejahatan, tidaklah terlalu serius. Mereka lebih senang bergurau dan mengadakan berbagai acara yang lucu. Saya suka dengan bagaimana serial ini melawak. Penonton dewasa dan anak tetap dapat tertawa melihat tingkah kelima tokoh utamanya.

Wah ada siapa saja di Teen Titans Go! ya? Ada Robin (Scott Menville), Cyborg (Khary Payton), Raven (Tara Strong), Starfire (Hynden Walch) dan Beast Boy (Greg Cipes). Terus terang, pada awalnya saya hanya kenal Robin dan Cyborg saja hehehe. Lama kelamaan ternyata tokoh lainnya berhasil memikat hati saya dengan berbagai kelucuan mereka.

Saya rasa serial animasi yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantaslah kalau 2018 lalu, Teen Titans Go! sudah memiliki film layar lebar yang selucu versi serialnya :D.

Sumber: http://www.cartoonnetworkasia.com/show/teen-titans-go