Serial What If…?

Melalui Serial Loki, kita diperkenalkan lebih jauh mengenai multiverse-nya MCU (Marvel Cinematic Universe). Multiverse dapat diartikan bahwa setiap peristiwa dan segala hal memiliki alternatif lain di dunia lain yang berjalan bersamaan. Jadi, kisah para superhero Marvel Comics bisa saja memiliki alur yang berbeda di dunia paralel yang berbeda. Semua ini diawasi oleh karakter yang bernama The Watcher.

Melalui mata The Whatcher inilah Serial What If…? dikisahkan. Serial ini mengambil jalur alternatif dari potongan peristiwa pada berbagai film-film superhero Marvel Comics. Perbedaan sedikit saja, dapat membuat jalan hidup sebuah dunia berubah 180 derajat.

Tidak semua kisah pada What If…? berakhir bahagia. Beberapa berakhir tragis atau bahkan menggantung. Bagi penonton yang mengikuti setiap film layar lebarnya superhero Marvel, Serial What If…? memiliki daya tarik tersendiri. Melihat alternatif yang sangat berbeda dari sebuah kisah di 1 film Marvel, maka terbayang sudah perubahan yang terjadi pada kisah-kisah di film Marvel lainnya, kalau ada. Film-film superhero Marvel memang selalu saling berkaitan.

Sayang, kisahnya terkadang agak klise dan membosankan. What If…? kadang terkesan hanya menjual kisah alternatif dari berbagai tokoh Marvel Comics yang sudah difilmkan. Kisah alternatifnya sendiri ada yang terasa seperti pengulangan dan mudah ditebak. Penonton pun sering dibuat menebak sendiri akhir dari kisahnya. Yah syukur-syukur semua penonton hafal dengan cerita film MCU yang berkaitan dengan kisah tersebut. Kalau tidak, ketertaringan akan kisah alternatif tersebut bisa jadi berkurang.

Oh yaaa, serial ini merupakan film animasi yaaa. Animasinya sih terbilang bagus dan unik. Gayanya merupakan perpaduan anatar anime dengan kartun Amerika Klasik. Saya suka dengan bagaimana animasinya berjalan.

Dengan demikian, saya rasa Serial What If…? masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisalaaah dijadikan selingan sambil menunggu film MCU berikutnya.

Sumber: http://www.marvel.com

Free Guy (2021)

Dunia video game terus berkembang hingga melahirkan berbagai fitur yang canggih. Permainan pun lama kelamaan semakin terlihat nyata bagi para pemainnya. Hal inilah yang terjadi pada permainan Free City pada film Free Guy (2021).

Free City digambarkan sebagai sebuah video game yang sangat populer. Di sana, semua pemain diperbolehkan melakukan apa saja. Pemain bahkan sampai diperbolehkan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata seperti merampok, membunuh, mencuri dan lain-lain. Singkat kata, Free City adalah sama persis dengan Grand Theft Auto hehehehe.

Dalam setiap petualangan, seorang pahlawan tentunya membutuhkan korban, penjahat atau figuran. Disinilah peran NPC (Non Playable Character) dibutuhkan. NPC merupakan karakter-karakter yang dikendalikan oleh komputer agar membuat permainan terasa lebih seru.

Sebut saja Guy (Ryan Reynolds) adalah salah satu NPC dari video game Free City. Setiap hari, setiap saat, Guy dan kawan-kawan NPC-nya melakukan rutinitas yang sama, berulang-ulang. Pada suatu waktu, Guy tiba-tiba memiliki keinginan untuk melakukan hal yang berbeda. Ia bahkan menggunakan kemampuannya untuk menyelesaikan misi-misi yang dilakukan oleh pemain. Seketika, Guy menjadi tokoh video game terpopuler di dunia nyata. Namun tak lama lagi, dunia Guy akan hancur dan ia harus menyelamatkannya.

Pada awalnya, ketika melihat trailer-nya, saya merasa bahwa Free Guy (2021) agak mengada-ada. Namun, ketika saya melihat filmnya secara keseluruhan, semua sangat masuk akal. Alasan mengapa dunia Guy akan hancur dan mengapa Guy seketika memiliki keinginan, sangat logis dan menarik untuk diikuti. Di dunia nyata, di luar Free City, ternyata memang ada perseteruan lain yang melibatkan keserakahan dan penghianatan.

Semuanya dibalut oleh komedi segar yang menghibur. Jadi, Free Guy (2021) tidak terasa terlalu serius dan membosankan. Saya suka dengan penempatan komedi yang tepat pada film ini.

Fakta bahwa Free City dibuat sangat mirip dengan Grand Theft Auto membuat saya dapat lebih relate dengan film ini. Kok bisa? Saya sering bermain video game Grand Theft Auto ketika masih kuliah dulu. Permaian tersebut memang sempat populer dahulu kala. Sampai sekarang pun masih banyak yang memainkan Grand Theft Auto.

Saya pribadi ikhlas memberikan Free Guy (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Konon film yang satu ini akan ada sekuelnya. Kita tunggu saja ;).

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

Shang-Chi dan organisasi Ten Rings terasa agak asing di telingan saya. Sebagai superhero, nama Shan-Chi tidak terlalu terkenal meskipun konon Shang-Chi berasal dari Asia. Ten Rings pun kalah pamor kalau dibandingkan dengan S.H.I.E.L.D. dan Hydra.

Ten Rings merupakan organisasi rahasia yang dipimpin oleh Xu Wenwu (Tony Leung). Ia memperoleh kekuatan dahsyat dan keabadian dari 10 gelang yang melingkar di tangannya. Teman-teman yang suka membaca komik Marvel tentunya langsung sadar bahwa Xu Wenwu ini lebih populer dengan nama Mandarin. Mandarin adalah tokoh antagonis yang sering berseteru dengan Iron Man.

Kalau dirunut, Ten Rings sebenarnya sudah lama hadir di dalam MCU (Marvel Cinematics Universe). Organisasi ini diselipkan pada Iron Man (2008), Iron Man 3 (2013) dan Ant-Man (2015). Wah kok bisa?? Pada Iron Man (2008), Teng Rings adalah organisasi yang menculik Tony Stark di gurun pasir pada awal film. Kemudian pada Iron Man 3 (2013) nama Ten Rings beserta Mandarin kembali muncul. Tapi sayang, yang muncul kali ini adalah Ten Rings dan Mandarin Palsu. Kemudian, pada Ant-Man (2015) Ten Rings kembali hadir sebagai organisasi rahasia yang berbisnis dengan Yellowjacket, lawan Ant-Man.

Namun, Ten Rings memang terasa sangat tersembunyi sekali. Setelah pertama kali muncul pada 2013 melalui Iron Man (2008), baru 8 tahun kemudianlah Ten Rings dikisahkan dengan sangat terbuka pada Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021).

Loh, lalu siapakah Sang-Chi? Sang-Chi (Simu Liu) merupakan anak dari Xu Wenwu, pendiri sekaligus pemimpin Ten Rings. Sejak kecil, Sang-Chi sudah dididik dengan keras. Kemampuan ilmu bela diri Sang-Chi jauh di atas rata-rata anggota Ten Rings lainnya. Namun, Sang-Chi memilih untuk kabur dan keluar dari Ten Rings. Ia kurang setuju dengan bagaimana Ten Rings dijalankan.

Sang-Chi hidup di Amerika dengan menggunakan nama samaran Shaun. Di sana ia menjalin persahabatan dengan Katy (Nora Lum). Keduanya lalu harus berhadapan dengan para anggotan Ten Rings yang mendadak datang dan hendak menangkap Sang-Chi. Tak disangka hal ini berkaitan dengan mendiang ibu Sang-Chi, dan sebuah desa misterius yang tersembunyi pada dimensi lain.

Semua serba-serbi misteri ini gagal membuat saya penasaran. Inti dari Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021) memang bukanlah penyelidikan sebuah misteri. Film ini sebenarnya ingin berbicara mengenai keluarga. Tapi sayangnya, hubungan keluarga pun kurang terasa di sana. Saya sendiri tidak terlalu peduli dengan hubungan antara Sang-Chi dengan ayahnya.

Yang saya lihat adalah bagaimana terjadi perubahan pada Sang-Chi. Mulai dari ahli beladiri biasa. Perlahan berubah menjadi superhero dengan berbagai kekuatan magis. Yaaah semacam “common to hero” lah, bukan “zero to hero”.

Adegan perkelahian pada film ini mengigatkan saya kepada film-film kung-fu tahun 90-an yang dibintangi Jet Lee dan Andy Law. Apalagi pemeran ayah Sang-Chi adalah Tony Leung, pemeran Thio Bu Ki pada Serial Golok Pembunuh Naga yang sempat hadir di Indosiar pada sekitar tahun 1995. Waaah, nostalgila sekali hehehehe. Rasanya, adegan aksi menjadi keunggulan utama dari Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021).

Seperti film-film superhero Marvel Comics lainnya, unsur komedi ikut dihadirkan. Kali ini semua itu hadir melalui tokoh Katy yang diperankan Nora Lum atau Awkwafina. Akting Nora sebagai pembawa kejenakaan sudah tidak diragukan lagi. Beruntung akting Tony Leung dan Simu Liu pun mampu membuat film ini enak untuk diikuti.

Akhir kata, saya ikhlas memberikan film MCU Asia pertama ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sekali lagi, Marvel berhasil menanamkan sesuatu hal yang membuat film-filmnya dapat berhubungan tanpa harus dibuat seperti sinetron yang terus bersambung.

Sumber: http://www.marvel.com

Penasaran dengan Hidangan Palestina di Emado’s Shawarma

Tak jauh dari rumah orang tua saya, terdapat restoran masakan Palestina yang dulu sempat memberikan promo besar-besaran. Sayang, promo tersebut harus saya lewatkan karena saya sendiri sedang sakit. Beberapa bulan setelah pulih, saya menyempatkan diri untuk mampir ke sana. Emado’s Shawarma namanya.

Dalam waktu singkat, jaringan restoran yan dimiliki oleh warga Palestina ini sudah berkembang sampai dengan dekat kos-kosaan saya ketika masih kuliah dulu. Wah-wah cepat sekali yah. Berikut cabang-cabang Emado’s Shawarma yang saya ketahui:

  • Jl. Jatiwaringin Raya Blok A No. 3, Jakarta Timur.
  • Jl. Raya Condet No. 31, Kramat Jati, Jakarta Timur.
  • Jl. Bendungan Hilir No. 144, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
  • Jl. Kemang Selatan VIII No. 66, Kemang, Jakarta Selatan.
  • Jl. Bintaro Utara No. 20, Jakarta Selatan.
  • Jl. Ciledug Raya No. 3, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
  • Jl. Cipete Raya Blok A No. 3, Fatmawati, Jakarta Selatan.
  • Jl. Veteran Raya No. 11, Jakarta Selatan.
  • Jl. Karang Tengah Raya No. 49, Jakarta Selatan.
  • Jl. Tebet Barat Dalam Raya No. 15A, Tebet, Jakarta Selatan.
  • Jl. Ciputat Raya No. 7 Jakarta Selatan.
  • Jl. Green Ville Blok AS No. 28, Green Ville, Jakarta Barat.
  • Jl. Raya Pos Pegumben No. 36, Jakarta Barat.
  • Grand Galaxy City, Jl. Pulo Sirih Utama Blok FE No. 457, Bekasi Selatan, Bekasi, Jawa Barat.
  • Jl. Anggrek Loka Blok AL No. 25, BSD, Serpong, Banten.
  • Jl. Ir. H Juanda No. 25, Ciputat Timur, Banten.
  • Jl. Boulevard Graha Raya, Banten.
  • Jl. Margonda Raya No. 379, Beji, Depok, Jawa Barat.
  • Jl. Siliwangi No. 129, Bogor Timur, Bogor, Jawa barat.
  • Jl. Jendral Ahmad Yani, Karawang, Jawa Barat.
  • Jl. Citarum No. 2, Citarum, Bandung, Jawa barat.
  • Jl. Pasir Kaliki No. 142, Pasir Kaliki, Bandung, Jawa barat.
  • Jl. Buah Batu No. 167, Buah Batu, Bandung, Jawa barat.
  • Jl. Setiabudhi No. 194, Setiabudi, Bandung, Jawa barat.
  • Jl. Tuparev No. 46, Cirebon, Jawa barat.
  • Jl. AR Hakim No. 138, Tegal, Jawa Tengah.
  • Jl. Overste Isdiman, Jatiwinangun, Puwokerto, Jawa Tengah.
  • Jl. Ngesrep Timur V No. 27, Semarang, Jawa Tengah.
  • Jl. Singosari Raya No. 36, Semarang, Jawa Tengah.
  • Jl. Pamularsih raya No. 71, Semarang, Jawa Tengah.
  • Jl. Monginsidi No.93, Solo, Jawa Tengah.
  • Jl. Seturan Raya No. 7, Yogyakarta, Jawa Tengah.
  • Jl. Sultan Agung No. 49, Yogyakarta, Jawa Tengah.
  • Jl. Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, Jawa Tengah.
  • Jl. Merbabu No. 18, Klaten, Jawa Tengah.
  • Jl. Tentara Pelajar No. 53, Magelang, Jawa Tengah.

Pada bagian depan restorannya terdapat ayam-ayam yang sedang berputar. Jadi, walaupun nama restorannya menggunakan nama Shawarma, restoran ini lebih terkenal pada hidangan ayamnya. Ada ayam nasi mandhi, ayam nasi butter & ayam kentang goreng.

Saya sendiri baru sempat mencicipi ayam nasi mandhi. Nasi mandhi versi Emado’s ini menggunakan beras basmati dan berwarna kekuningan. Ayamnya sendiri dibalut oleh bumbu berwarna merah tua yang harum. Kalau digabung, keduanya menghasilkan rasa gurih dengan aroma rempah yang ringan tapi tetap terasa jelas keunikannya.

Sementara itu, shawarma-nya sendiri terbagi 2 yaitu beef roll dan chicken roll. Saya baru mencicipi yang menggunakan daging sapi yaitu beef roll. Setelah saya cicipi, jelas sekali rasa kacang hijaunya. Kacang hijau? Ya, apapun dagingnya, shawarmanya Emado’s menggunakan kacang hijau. Inilah yang membuat shawarma terasa beda dengan shawarma pada umumnya.

Saya rasa, Emado’s layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Hidangan yang unik dengan lokasi yang banya dan nyaman, membuat Emado’s menjadi salah satu alternatif untuk mengisi perut di saat lapar.

Disewakan Rumah Pinggir Jalan Raya di Sukabumi

Disewakan sebuah rumah di Kota Sukabumi dengan detail sebagai berikut:

  • Alamat: Jl. Goalpara, RT/RW: 002/003, Sukaraja, Sukabumi
  • Luas Tanah: 573m2
  • Kamar Tidur: 4
  • Kamar Mandi: 2
  • Informasi Tambahan:
  • Halaman luas
  • Di pinggir jalan besar yang dilewati angkot
  • Cocok juga untuk usaha

Bila berminat bisa langsung hubungi Pak Ismet di 087720379329/081380001919.

Wassalam.

Menjual 1 Unit 2BR Apartemen Menteng Square, Lokasi Super Strategis di Pusat Kota Jakarta

Langsung saja, dijual 1 unit apartemen dengan detail sebagai berikut:

  • Nama Apartemen: Menteng Square (Mentes)
  • Alamat: Jl. Matraman Raya Nomor 30E Senen, Jakarta Pusat
  • Tower/Lantai: B/20
  • Lokasi Unit: Di samping lift & tangga darurat
  • Ukuran: 33 m2
  • Kamar Tidur: 2
  • Kamar Mandi: 1
  • Kondisi: Semi-Furnished
  • Fasilitas: Kolam Renang, Minimarket, Restoran, laundry, area parkir, keamanan 24 jam, ATM, playground, internet, TV Kabel
  • Informasi Tambahan:
  • Transportasi umum sangat mudah karena dekat dengan Halte Trans Jakarta
  • Sangat praktis bagi pengguna kendaraan oribadi karena pintu gerbang tepat berada di depan jalur masuk Flyyover Pramuka
  • Dekat dengan berbagai universitas ternama seperti UI Salemba, YAI, UKI, IKJ dan lain-lain
  • Dekat dengan beberapa Rumah Sakit ternama di Jakarta seperti RSCM, RS St. Carolus, RSPAD Gatot Subroto, RS Eva Sari, RSU Moh Ridwan Meuraksa dan lain-lain
  • Dekat dengan beberapa pasar seperti Pasar Cikini, Pasar Kenari, Pasar Pramuka, Pasar Genjing dan lain-lain
  • Dekat dengan beberapa pusat hiburan seperti Metropole XXI, Menteng Huis, Planetarium dan lain-lain

Bila berminat, bisa hubungi Pras di 081380001919

Berikut foto-foto unitnya:

Berikut foto lingkungan sekitar unit:

Sekian, terimakasih (^_^).

The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (2016)? Film superhero DC Comics yang tidak terlalu sukses, meskipun sudah ada aktor sekelas Will Smith di dalamnya. Saya sendiri tidak berharap banyak terhadap sekuelnya, yaitu The Suicide Squad (2021). Apalagi, sekilas kok sepertinya mirip yah. The Suicide Squad (2021) masih mengisahkan Task Force X yang dipimpin oleh Amanda Waller (Viola Davis). Amanda merekruit berbagai narapidana berkekuatan khusus untuk melaksanakan misi yang sangat berbahaya. Film ini kembali menampilkan berbagai karakter DC Comics yang tidak terlalu terkenal. Captain Boomerang (Jai Courtney), Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman) dan Harley Quinn (Margot Robbie) kembali hadir di sini. Sementara ini karakter Deadshot (Will Smith) pada Suicide Squad (2016), tidak hadir dan digantikan oleh Bloodsport (Idris Elba). Deadshot dan Bloodsport memiliki atribut, kisah dan kemampuan yang sangat mirip. Keduanya pun sama-sama menjadi figur pemimpin Task Force X, pada 2 film yang berbeda tentunya.

Bagaimana dengan lawan dari Task Force X kali ini? Agak standard siy, sebuah monster super besar & super kuat yang dapat menghancurkan dunia. Bagaimana pertemmpuran terjadi pun sebenarnya agak mudah ditebak. Sudah banyak sekali film-film superhero yang mengambil topik seperti ini. Apakah The Suicide Squad (2021) akan sedatar Suicide Squad (2016)?

Kali ini pihak DC Comics melakukan sesuatu yang berbeda. Kursi sutradara The Suicide Squad (2021) kali ini diduduki oleh James Gunn yang sukses menggarap film superhero Marvel seperti Guardians of the Galaxy (2014). Dengan demikian, The Suicide Squad (2021) hadir dengan nuansa komedi yang lebih kental. film ini pun tidak segelap atau sekelam film-film DC Comics sebelumnya. Jalan ceritanya memang sangat mudah ditebak, namun eksekusinya terbilang unik.

James Gunn tidak segan-segan mematikan berbagai karakter DC Comics pada film ini. Semua dilakukan tanpa melihat apakah karakter tersebut diperankan oleh aktor/aktris ternama atau tidak. Sepanjang film, saya merasa bahwa siapapun bisa saja tiba-tiba tewas. Toh mereka semua memang ibaratnya hanya karakter kelas B, bukan kelas premium seperti Superman atau Batman hehehehe.

Saya suka dengan komedi dan berbagai hal unik yang James Gunn bawa ke dalam The Suicide Squad (2021). Tapi film ini tetap saja menghadirkan adegan aksi yang tidak spesial dan jalan cerita yang tetap begitu-begitu saja. Maka, The Suicide Squad (2021) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kali ini DC Comics menghadirkan film komedi superhero yang tidak terlalu serius, sesuatu yang layak untuk ditonton sedari menunggu film Batman terbaru dirilis ;).

Sumber: http://www.thesuicidesquad.net

Mutiara Tersembunyi di Balik Toko Bunga, Sate Maranggi Sabakota

Selama pandemi berlangsung, terdapat Sate Maranggi Sabakota yang berjualan di sekitar rumah orang tua saya, di dalam wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur. Karena masih baru, warung sate tersebut memang hanya berbentuk dapur saja. Semua serba pesan antar saja. Lama kelamaan, warung tersebut mampu membuka toko di sebuah area ruko.

Sayang sekali, lokasinya yang baru ini terbilang susah dicari. Koordinat googlemaps-nya meleset, papan namanya super kecil sekali. Saya pun tidak akan menemukannya, tanpa bantuan juru parkir setempat. Kalau dilihat dar alamat, lokasinya terletak di Jl. Rukan Sentra Niaga 8, RGA No. 98, Area Ruko Grand Galaxy City, Jaka Setia, Bekasi Selatan. Lokasinya sangat tersembunyi di bawah pepohonan rindang dan di belakang toko bunga. Sepintas, warung sate yang satu ini seperti penjual tanaman. Padahal dalamnya nyaman sekali looh. Lokasi boleh sulit dicari, tapi tempatnya enak juga kalau dijadikan tempat kumpul-kumpul, apalagi bagi para pecinta tanaman.

Ada apa di Sate Maranggi Sabakota? Sate maranggi tentunya menjadi menu utama di sana. Terdapat pilihan apakah hendak menggunakan daging sapi atau daging kambing. Saya pribadi biasa menyantap versi daging sapinya. Rasanya sungguh luar biasa, bumbu sate menempel dan menyerap ke dalam dagingnya. Rasa yang manis dengan cita rasa Indonesia yang khas, membuat sate ini terasa enak. Apalagi aromanya sungguh menggugah selera.

Sudah pasti, Sate Maranggi Sabakota memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Enak”. Sekali datang, pasti ketagihan dan datang lagi ;).