Serial Loki

Loki Laufeyson (Tom Hiddleston) merupakan tokoh antagonis utama dari The Avengers (2012). Ia adalah pangeran Asgard yang cerdas namun licik & narsistik. Kemampuan Loki adalah manipulasi, hipnosis, telekinesis, merubah wujud, duplikat, membaca pikiran, ilusi, kebal dari berbagai penyakit, dan lain-lain terutama terkait ilmu sihir. Karena iri, Loki selalu berusaha merebut kekuasaan atas Asgard dari ayah dan saudaranya. Salah satu usahanya adalah ketika ia menyerang New York pada The Avengers (2012). Kemudian tiba-tiba karakter ini berkembang menjadi semacam anti-hero. Puncaknya adalah ketika berpihak pada Thor & The Avengers pada Thor: Ragnarok (2017), Avengers Infinity War (2018) & Avenger: Endgame (2019).

Pada Avengers Infinity War (2018), Loki tewas dalam sebuah pertempuran dahsyat. Kemudian pada Avenger: Endgame (2019), Avengers yang tersisa berpencar melakukan perjalanan waktu ke masa lalu demi menghidupkan kembali rekan-rekan mereka beserta separuh populasi dunia yang tewas.

Serial Loki diawali ketika salah satu perjalanan waktu The Avengers adalah kembali ke waktu dimana Loki baru saja kalah dalam pertempuran New York pada The Avengers (2012). Loki tiba-tiba berada di dalam sebuah upaya perebutan antara salah batu infinity yaitu batu ruang atau tesseract. Loki yang diborgol berhasil memanfaatkan keadaan dan mengambil tesseract. Ia kemudian menggunakan kekuatan batu tersebut untuk meloloskan diri. Tesseract memungkinkan pemiliknya untuk melakukan teleportasi tidak hanya ke tempat & waktu yang berbeda, namun ke dunia paralel yang berbeda pula.

Setelah melarikan diri dengan batuan tesseract, Loki ditangkap oleh pasukan berseragam hitam dengan logo TVA pada seragamnya. Apa itu TVA? TVA adalah kepanjangan dari Time Variance Authority. Organisasi ini dibetuk oleh Time Keeper untuk menjaga garis waktu sakral. Garis waktu ini merupakan urutan kejadian alam semesta beserta dunia-dunia paralelnya.

Film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) memang menggunakan dunia paralel. Jadi apapun itu yang ada di alam semesta, pasti ada juga di alam semesta paralel lainnya. Hanya saja semuanya tidak identik sama. Berbagai versi dari apapun itu sering kali memiliki wujud dan sifat yang berbeda pada dunia paralel lainnya.

Jadi, semua yang ditangkap oleh TVA, adalah individu-individu yang mengubah sejarah dan membuat cabang garis waktu dari garis waktu sakral. Hal ini terjadi tidak hanya terjadi dengan melalukan perjalanan waktu. Perjalanan lintas dunia paralel dan waktu pun langsung menyebabkan TVA datang.

Intinya, TVA memang berusaha membuat keteraturan dengan menjaga agar hanya ada 1 garis waktu, yaitu garis waktu sakral. Cabang-cabang dari garis waktu keramat harus dihancurkan secepat mungkin karena TVA menganggap bahwa cabang-cabang garis waktu akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran.

Uniknya, Loki yang gemar melakukan kekacauan justru direkruit oleh TVA untuk memburu para pelanggar yang disebut Variant. Di sana, Loki bertemu dengan Loki-Loki versi lainnya. Uniknya mereka semua memiliki 1 kesamaan, mereka semua agak licik.

Loki pun lama kelamaan semakin menyadari bahwa ia terjebak di tengah-tengah petikaian antara kekacauan dan keteraturan. TVA menciptakan sebuat garis waktu yang teratur tanpa menyadari bahwa mereka menghapus kebebasan individu. Semua sudah digariskan dan tidal boleh mengambil jalan yang berbeda dari yang sudah digariskan. TVA pun terlihat semena-mena menangkap dan menghakimi semua variant, tanpa peduli apakah dia masih kecil atau sudah tua. Siapakah yang harus Loki bantu?

Di sini kita melihat Loki jahat yang baru kalah perang dari The Avengers pada The Avengers (2012). Jadi berbagai sifat kahat masih terlihat pada episode-episose awal. Lama kelamaan, Loki terlihat semakin bijaksana dan peduli terhadap kemalangan orang lain. Tapi kelicikannya tetap ada, itu sih tidak bisa hilang, hehehehe.

Karakter Loki di sini sangat kuat. Tom Hiddleston menampilkan akting yang bagus di sini. Loki yang memiliki berbagai sifat jahat, ternyata masih memiliki hati nurani. Semua peritiwa pada serial ini, mengubah Loki menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi masih menyisakan berbagai perangai buruk pula. Di sini, serial Loki berbicara mengenai kesimbangan. Tidak ada mahluk yang murni 100% jahat atau 100% baik. Pastilah semuanya memiliki kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Sepertinya serial ini menyindir telak sinetron-sinetron Indonesia yah ;’D.

Baik dan buruk tidak hanya menempel pada perangai individu saja. Melainkan pada garis waktu dan semua yang berkecimpung di dalamnya di dalamnya. Keteraturan dan kekacauan sama-sama dibutuhkan agar tidak terjadi perang besar antara para variant. Lalu, keteraturan dan kekacauan pun dibutuhkan untuk menjamin kebebasan setiap individu untuk menjalani hidupnya sendiri.

Kemudian bagaimana dengan special effect-nya? Apakah hanya setingkat di atas burung-burungannya sinetron Indosiar? Marvel Studio memang tidak tanggung-tanggun ketika menggarap sebuah proyek. Adegan aksi pada serual ini lumayan seru dan didukung oleh special effect yang bagus sekali, tidal kalah denga film layar lebar Marvel loh. Di luar adegan perkelahian pun, serial Loki berhasil memberikan berbagai visual yang cantik dan meyakinkan. Loki seakam benar-benar berkenala ke berbagai planet di waktu dan dunia paralel yang berbeda.

Pelajaran dan makna yang bagus, disertai oleh plot yang bagus & komunikatif, plus special effect yang cantik, tentunya menjadikan serial Loki layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini pun menjadi serial MCU fase 4 pertama yang dibagi menjadi lebih dari 1 musim pemutaran. Marvel nampak semakin percaya diri dalam menggarap serial-serial superhero.

Sumber: http://www.marvel.com/tv-shows/loki/1

Serial The Legend of the Condor Heroes Versi 2017

Ketika masih kecil dulu, saya suka menonton film kungfu. Saya masih belum mengerti istilah wuxia pada saat itu. Singkat kata, wuxia merupakan film-film tiongkok yang menunjukkan pertarungan ilmu bela diri dengan kekuatan meringankan tubuh, ilmu tenaga dalam dan hal-hal lainnya yang bersifat fantasi. Petualangan tokoh Guo Jing pada The Legends of the Condor Heroes adalah salah satu serial wuxia yang saya coba ikuti. Namun karena penayangannya agak malam, saya sering ketiduran, ahhh susahnya.

Sebenarnya serial wuxia tersebut merupakan adaptasi dari serial novel yang ayah saya baca. Beliau memiliki serial novel-novel berbentuk kecil karangan Jin Yong atau Louis Cha Leung-yung. Novel The Legend of the Condor Heroes merupakam salah satunya. Novel ini memang merupakan bagian pertama dari trilogi condor karangan Luois yang terbit di tahun 50-an.

Kepopuleran novel tersebut membuat beberapa rumah produksi membuat adaptasi The Legend of the Condor Heroes ke dalam bentuk film seri dan film layar lebar. Untuk film serinya saja novel tersebut pernah diadaptasi berkali-kali yaitu pada tahun 1976, 1983, 1988, 1992, 1993, 1994, 2003, 2008 dan 2017. Yaitsss, sering sekali yah. Kisah ini sepertinya memang sudah sangat melekat dengan masyarakat tiongkok.

Kisah The Legend of the Condor Heroes yang saya ikuti ketika masih kecil dulu, terpotong-potong, tidak komplit. Maka saat ini saya ingin menonton lengkap sampai akhir, tapi saya lupa yang dulu saya tonton di RCTI itu versi tahun berapa. Ahhh, daripada bingung saya lebih memilih untuk menonton versi yang lebih baru saja. Kali ini saya memilih untuk menonton yang versi tahun 2017. Konon versi ini memenangkan penghargaan dan didukung oleh teknologi terkini. Katany sih terkini. Semoga lebih bagus ketimbang naga-naga-an sinetron silat Indosiar :’D.

Yang namanya adaptasi, kadang tidak 100% sama dengan versi novelnya. Saya tidak masalah dengan hal itu. Toh Louis sendiri melakukan 2 kali revisi untuk versi novelnya. Revisi yang konon membuat cerita berubah. Aneh juga ya, novel kok direvisi, memangnya skripsi :P.

Mirip seperti di novelnya, peristiwa pada The Legend of The Condor Heroes terjadi di era pertikaian antara Dinasti Jin dengan Dinasti Song. Dinasti Jin merupakan kerajaan dari bangsa Jurchen yang berasal dari wilayah Manchuria, saat ini separuh masuk RRC bagian utara dan separuh lagi masuk Rusia. Sementara itu dinasti Song merupakan kerajaan dari bangsa Han. Saat ini, Han adalah bangsa atau suku yang menjadi mayoritas penduduk RRC (republik Rakyat Cina). Apakah dengan demikian, film seri ini akan condong memihak kepada Dinasti Song?

Kita mulai dahulu dari awal. Kisah diawali ketika 2 keluarga keturunan pendekar hebat tinggal sebagai petani biasa di desa terpencil. Keluarga Yang dan Guo memiliki hubungan yang sangat dekat. Ketika istri dari kedua keluarga sama-sama hamil, maka mereka melakukan perjanjian. Bila yang lahir adalah lelaki dan wanita maka akan dijodohkan, bila yang lahir sama jenis kelaminnya maka akan diangkat menjadi saudara.

Baik keluarga Yang maupun keluarga Guo, mereka merupakan warga Song yang tinggal di wilayah Dinasyi Jin. Pada saat itu Dinasti Jin memang sedang unggul dan berhasil mengambil beberapa wilayah Song, termasuk desa tempat keluarga Guo dan Yang tinggal. Secara mengejutkan, kedua keluarga tersebut dinyatakan sebagai pemberontak tanpa bukti yang jelas. Tentara Dinasti Jin pun datang memburu kedua keluarga tersebut hingga mereka tercerai-berai. Semua terpencar dan terpisah-pisah. Hal ini mempengaruhi anak dari kedua keluarga tersebut. Masing-masing dibesarkan oleh cara dan keadaan yang sangat berbeda.

Anak dari keluarga Yang bernama Yang Kang (Chen Xingxu). Ia dibesarkan oleh pangeran keenam dinasti Jin sebagai bangsawan dinasti Jin yang kaya raya dan sangat berkuasa. Ia memiliki konflik di dalam dirinya karena secara darah ia adalah keturunan Song, tapi orang yang sudah membesarkannya adalah seorang musuh besar dari Song. Yang Kang sendiri memiliki sifat yang licik, kejam dan labil. Namun ia terbilang cerdas dan sangat berbakat. Dengan menggunakan kekuasaannya, ia berhasil berguru pada berbagai ahli beladiri ternama. Pada serial ini, perlahan saya melihat transformasi yang terjadi pada Yang Kang.

Sementara itu anak dari kelurga Guo adalah Guo Jing (Xuwen Yang). Bertolak belakang dari Yang Kang, Guo Jing justru dibesarkan di tengah-tengah gurun pasir dalam keadaan yang sangat sederhana. Sifat pendekar sejati sangat melekat pada diri Guo Jing. Ia jujur, baik hati, suka menolong dan setia kawan. Sayangnya Guo terlalu polos dan kurang cerdas. Beruntung kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh budi baiknya. Berbagai kebaikan yang ia lakukan berhasil membuat banyak orang kagum. Ia pun memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari berbagai ilmu beladiri terkuat yang ada. Tak hanya itu, Guo pun terjebak di dalam cinta segitiga antara ia, putri raja Mongol, dan putri seorang ahli beladiri ternama. Semua terpukau dengan sifat baik yang Guo miliki.

Apapun yang terjadi, Guo hanya mengganggap sang putri Mongol sebagai adik. Ia hanya mencintai putri seorang ahli beladiri ternama yang bernama Huang Rong (Li Yitong). Nona Huang bisa jadi merupakan wanita terpintar di serial ini. Kejeniusannya sering kali berhasil menuntaskan konflik yang ada. Ia rela melakukan apapun demi Guo Jing. Berbagai taktik cerdas ia lakukan demi mendukung Guo. Putri raja Mongol memang baik hati, memiliki harta dan kekuasaan. Namun Huang Rong mampu membantu Guo menguasai berbagai ilmu beladiri dan staretegi perang. Tak hanya itu, berbagai misteri pada serial ini pun sering kali dipecahkan oleh Huang Rong.

Siapakaha Huang Rong sebenarnya? Ia adalah putri semata wayang dari Huang Yaoshi Si Sesat dari Timur (Michael Miu). Ia adalah salah satu dari 5 pendekar terkuat di era Dinasti Song. Bersama dengan Huang, dunia bela diri mengenal Hong Qigong Si Pengemis Utara (Zhao Lixin), Duan Zhixing Si Kaisar Selatan (Ray Lui), dan Ouyang Feng Si Racun Barat (Heizi). Mereka berlima merupakan merupakan pendekar terkuat yang mulai menua dan mengalami perubahan dalam menjalani hidup.

Perkelahian tentunya mewarnai setiap episode serial The Legend of the Condor Heroes. Adegan perkelahiannya tidak ada yang membosankan. Semua karena durasinya yang pas dan makna dibalik perkelahian tersebut. Jadi bukan hanya asal pukul tendang saja. Ada hubungannya dengan plot atau jalan cerita yang kuat.

Saya suka dengan cara serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini bercerita. Serial ini memiliki banyak sub plot yang tidak membosankan sebab sub plotnya selalu sedikit berhubungan dengan plot utama. Kemudian plot utamanya dibuat sedikit terpisah sehingga ada jeda. Dengan demikian, tidak semua episode diakhiri oleh konflik yang menggantung. Selain itu, setiap sub plot dan bagian utama dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kandungan misteri. Jadi, akan ada sesuatu yang membuat saya penasaran tapi tidak monoton.

Karakter Huang Rong sering kali menjadi faktor penentu dalam memecahkan misteri yang ada. Yang paling epik adalah, Huang Rong mampu membuat lawannya saling bertikai sekaligus membersihkan nama keluarganya, hanya dengan modal bicara saja.

Ilmu bela diri Huang Rong tentunya berada di bawah Guo Jin. Tapi semua kemampuan Guo ia peroleh berkat Huang yang cinta mati dengan Guo. Saya menikmati kisah bagaimana perkembangan Guo yang bodoh, perlahan-lahan memiliki ilmu bela diri yang kuat. Dari yang awalnya hanya anak kecil biasa dari padang pasir, tumbuh menjadi salah satu pendekar terkuat di era Dinasti Song.

Sayang, tidak ada pertarungan maha dahsyat antara protagonis dan antagonis pada akhir film ini, sangat berbeda dengan versi lain yang saya tonton dulu. Perkelahian yang seru justru terjadi di pertengahan serial ini berjalan. Bagian akhir serial ini diselesaikan dengan perbincangan dan negosiasi. Jangan harap untuk melihat banyak peperangan kolosal antara Dinasti Song, Jin & Mongol. Saya memiliki kesan, kok penyesaiannya seolah dibuat terburu-buru. Masih banyak ruang untuk cerita-cerita lainnya. Mungkin ini disebabkan karena pengembangan cerita berikutnya akan melibatkan melibatkan banyak orang dan special effect. Ketika harus menggunakan green screen, special effect serial ini memang hanya setingkat di atas special effect serial silat Indonesia. Hasilnya kurang halus, tidak seperti serial-serial papan atasnya Amerika. Untunglah special effect green screen tidak terlalu banyak. Yaaah intinya sih penghematan mungkin ya. Atau mereka ingin menunjukkan bahwa tidak semua pertikaian harus diselesaikan dengan jalan kekerasan, cie ciee. Ah saya tidak tahu alasan pastinya.

Awalnya, saya pikir semua plot utama mengarah ke peperangan kolosal yang menunjukkan kejayaan Dinasti Song. Ternyata saya salah. Nama Guo Jing dan Yang Kang memiliki makna bahwa keduanya diharapkan tetap setia kepada Song sebagai kampung halamannya. Setia di sini ternyata setia kepada warga Dinati Song, buka pejabat atau rajanya. Di sana dikisahkan bahwa baik Song, Jin, dan Mongol, masing-masing memiliki keburukan. Guo Jing dan kawan-kawan hanya berpihak kepada kemanusiaan. Mereka hanya menginginkan perdamaian….

Bagian akhir yang agak antiklimaks dan sedikit mengecewakan, tetap dapat ditutupi oleh kisah yang bagus dan adegan perkelahian yang seru. Dengan demikian serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Pada awalnya, saya menonton The Legend of the Condor Heroes versi 2017 sebari menunggu 2 episode terakhir serial Loki yang saya tunggu-tunghu. Terimkasih kepada The Legend of the Condor Heroes versi 2017, semua itu teelewatkan. Saya telat seminggu lebih menonton serial Loki karena penasaran dengan kisah Guo Jing dan kawan-kawan :’D.

Sumber: http://www.huacemedia.com/television/movieInfo/16.html

Awas Ada Sei’Tan!

Sebenarnya sudah sejak akhir tahun 2020 saya ingin mencicipi hidangan Sei yang semakin menjamur. Akan tetapi baru pertengahan 2021 ini saya sempat mencicipinya. Sei sendiri merupakan hidangan khas daerah Rote Ndao, NTT (Nusa Tenggara Timur). Daging babi liar diolah dengan diasapi sampai matang. Karena saya tidak makan babi, Maka saya tentunya mencari sei non babi, sesuatu yang mudah diperoleh di Jakarta. Saat ini banyak sekali restoran sei yang menggunakan daging sapi dan ayam di Jakarta. Mungkin juga karena sedang trend.

Karena saya baru saja sembuh dari Covid-19 dan masih harus isolasi di rumah, saya lebih memilih sei yang spesialis pesan antar saja. Saya pun memilih untuk mencicipi Sei’Tan yang memiliki konsep cloud kitchen. Jadi Sei’Tan hanya melayani pesan antar. Untuk memesannya saya sendiri menggunakan jasa ojek online. Namun titik pengambilan Sei’Tan baru ada di Jakarta dan belum terlalu banyak. Titiknya antara lain Kota Kasablanka, Kuningan City, Setiabudi One, Kemang Village, Mall of Indonesia, Grand Indonesia, Gunawarman, Food Centrum, Cilandak Town Square, Pasaraya Blok M, AEON Jakarta Garden City, Senayan City.

Ada apa saja di Sei’Tan? Tentunya hidangan sei yang menggunakan daging sapi dan ayam. Kita dapat memilih mau menggunakan daging apa, kemudian kita memilih sambalnya, mau sambal apa. Untuk nasi, hanya ada nasi putih, belum ada nasi rasa macam-macam. Nasi dan daging, diletakkan bersama sayur daun singkong dan telur dadar, di dalam box yang cukup menarik.

Begitu membuka box Sei’Tan, wuuuaaaahh, semerbak harum daging atau ayam asapnya, ganassss. Konon proses daging sei tersebut berlangsung selama 3 hari dan diasapi menggunakan daun rambutan. Baik sei yang menggunakan daging sapi maupun ayam, keduanya sama-sama harum, apalagi ketika sedang kita makan, wuuahhh, wangi abis deh pokoknya. Tapi untuk tekstur dan rasa, saya lebih suka daging sapi ketimbang daging ayam. Daging sapinya menggunakan wagyu dengan sedikit lemak disana, sehinga terasa empuk dan juicy. Kalau suka dengan daging ayam dan sapi, kita dapat memilih mix alias menggunakan daging sapi dan ayam.

Telur dadarnya memiki tekstur khas yang mengingatkan saya pada dadar telur di Warteg. Bagian pinggir telur dadar di Warteg ada yang renyah-renyah. Nah bagian itulah yang terdapat di dalam box Sei’Tan. Sebuah telur dadar dengan kerenyahan dan tekstur yang unik :).

Sayur singkongnya memberikan aroma segar dan sedikit manis. Namun menurut ibu saya, sayur singkong tersebut pedas. Yaah mungkin memang ada pedasnya tapi hampir tidak terasi bagia saya. Karena ada hal lain yang jauh terasa lebih pedas, sambal sei-nya.

Pada dasarnya semua sambal dari Sei’Tan terbilang pedas, tapi masih bisa dinikmati. Jadi, pedasnya tidak keterlaluan. Beberapa sambal yang Sei’Tan tawarkan antara lain adalah sambal belimbing wuluh, sambal rica, sambal matah dan sambal andaliman.

Sambal matah memberikan rasa pedas dengan aroma daun jeruk yang sangat segar & harum. Ketika bertemu dengan daging sei dan kawan-kawan, terasa pedas, aroma khas sei, asam segar yang enak & khas. Aromanya sangat Indonesia sekali. Tapi bagi yang kurang suka dengan tekstur dan aroma dedaunan, sebaiknya hindari pilihan menu yang satu ini. Serba serbi dedaunannya sangat dominan pada pilihan menu yang satu ini.

Sambal belimbing wuluh terasa cukup pedas dengan sedikit rasa asam yang segar. Aroma sambal ini cukup khas, kaya dan harum, yummmm. Gabungan rasanya bersama daging sei dan kawan-kawan, menghasilkan sebuah hidangan yang kaya akan aroma khas, disertai dengan rasa pedas asam yang enak sekali. Saya suka sekali dengan aroma yang disebabkan oleh sambal belimbing wuluh, pas sekali dengan harumnya daging asap, mantab. Inilah salah satu hidangan favorit saya di Sei’Tan.

Sei Daging Wagyu Sambal Belimbing Wuluh + Matah

Sambal andaliman warnanya merah dan terasa pedas manis. Sambal ini hadir dengan aroma cabe yang … anehnya harum, aroma cabainya tidak menyengat. Takarannya pas sekali bagi saya. Bertemu dengan daging sei dan kawan-kawan, terdapat rasa pedas manis dengan aroma harum yang lebih kalem dibanding varian sambal lainnya. Lebih kalem bukan berarti lebih tidak enak lohhh, kalemnya di sini justru memberikan ruang yang lebih bagi daging sei. Semuanya terasa pas dan enak loh. Bertambahlah 1 lagi menu enak dari Sei’Tan, favorit saya juga nih.

Sei Campur Sambal Andaliman + Matah

Bagaimana dengan sambal rica-rica? Aaah, saya pernah memesan sei’daging sambal rica-rica dan yang datang justru sei’daging sambal matah. Agak kecewa sih, tapi berhubung perut saya lapar ahhh ya sudah….

Hidangan Sei’Tan tidak saja bermain di rasa, tapi bermain pula di aroma. Sei’Tan berhasil memanjakan rasa dan aroma dengan sesuatu yang unik dan sangat Indonesia. Dengan demikian, saya rasa secara keseluruhan, Sei’Tan layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”

Moon Chicken, Flavors of Galaxy

Sebagai salah satu perusahaan kuliner multi-brand cloud kitchen pertama di Indonesia, Hangry terus berinovasi. Sekitar tahun 2020, mereka pun menelurkan brand kelima mereka, Moon Chicken. Mirip seperti produk Hangry lainnya Moon Chicken hanya melayani pesan antar. Semua dapat dipesan dan diantar oleh ojek online. Wilayah layanan Moon Chicken sudah cukup banyak dan tersebar di penjuru Jakarta. Beberapa titik layanannya pun sudan mulai metambah Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor.

Ada apa di Moon Chicken? Pada dasarnya mereka menyajikan ayam goreng tepung yang sudah dilimuri aneka bumbu. Dari berbagai variasi bumbu ayam gorengnya, saya sendiri baru mencicipi ayam bumbu smokey comet, honey galaxy, gonjenun dan samyang byeol.

Ayam bumbu smokey comet tampil kering kemerahan dengan aroma barberque & paprika yang harum. Rasanya tidak pedas tapi justru sedikit gurih. Saya lebih suka menyantap ayam ini tanpa nasi agar rasa bumbunya yang halus tetap terasa utuh.

Ayam bumbu honey galaxy nampak agak basah kecokelatan. Rasanya manis dan ada sedikit aroma bawangnya. Rasa manisnya sangat pas dan enak ketika disantap bersama dengan saus tomat, saus sambal, kulit ayam yang renyah, daging ayam yang empuk dan nasi putih yang hangat. Ayam honey galaxy kurang pas kalau dijadikan cemilan tanpa nasi.

Ayam bumbu gonjenun menggunakan gochujang khas Korea sehingga memilki rasa manis beras. Rasa dan aromanya mengingatkan saya kepada hidangan Korea yang pernah saya santap. Disantap dengan nasi atau tanpa nasi, rasanya lumayanlaah.

Sebagai pecinta mie samyang sopasti saya langsung tertarik untuk mencicipi ayam bumbu samyang byeol. Ayam tersebut memiliki rasa dan aroma samyang buldak yang terasa manis pedas. Tapi pedasnya tidak sepedas mie instant samyang ya, aman untuk lambung. Yang bahaya itu adalah aroma dan rasanya, benar-benar membuat saya ketagihan. Ternyata rasa samyang itu tudak harus pedas luar biasa untuk dapat dinikmati, yummmm, enak sekali rasanya. Ini dia menu favorit saya di Moon Chicken ;).

Apapun bumbunya, saya rasa ada bumbu yang meresap ke dalam dagingnya. Rasa dagingnya tidak polos seperti daging ayam goreng biasa. Daging ayamnya meresap bumbu sehingga rasa dagingnya agak berbeda.

Kelemahan ayam-ayamnya Moon Chicken adalah harus langsung disantap ketika tiba. Karena dilumuri bumbu yang terkadang agak basah, maka kulit ayam lama kelamaan akan kehilangan kerenyahannya.

Dengan demikian, menurut saya Moon Chicken layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Enak”. Bagaimanapun juga, Moon Chicken adalah salah satu alternatif yang tepat bagi keluarga saya yang sedang isolasi mandiri akibat Covid-19.

Tips Memasukkan Tanda Tangan ke Microsoft Word

Word 2019

  • Buatlah tanda tanga di secarik kertas lalu foto dan masukkan ke dalam komputer.
  • Edit foto tersebut agar hanya bagian tanda tangannya saja yang terlihat lalu save. Saya biasa menggunakan program Paint biasa bawaan Windows. Kalau fotonya dirasa sudah pas hanya menampilkan tanda tangan saja, lanjutkan ke langkah selanjutnya.
  • Buka file Word yang akan diberi tanda tangan. Pilih “Insert”, lalu “Pictures”, kemudian “This Device” karena foto tanda tangan ada di dalam komputer.
  • Sesuaikan besar dan lokasi dari foto yang sudah ada di dalam file Word. Saran saya, buat saja tulisan supaya terpisah dengan gambar tanda tangan. Cara yaitu dengan klik kanan gambar tanda tangan lalu pilih “Wrap Text” dan “In Front of Text”.
  • Klik 2 kali pada gambar tanda tangan, maka akan langsung menuju “Format” dari gambar tersebut. Kemudian pilih “Color”.
  • Pilih “Recolor” yang saya lingkari di bawah.
  • Selesai 🙂

The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

Sate Maranggi Aci Kuningan, Sate Spesial di Depan Lapas

Ketika berkunjung ke rumah saudara yang tinggal di Cianjur, saya diajak makan di sebuah warung sate. Lokasinya cukup unik, yaitu di depan Lembaga Pemasyarakatan Klas 2 Cianjur. Tepatnya di Jalan Aria Cikondang No. 70/76, Cianjur, Jawa Barat. Warung tersebut pun tidak memiliki papan nama, jadi dari luar hanya terlihat seperti rumah yang sudah alih fungsi menjadi warung. Berdasarkan informasi dari akang-akang yang makan di sana, warung ini sering disebut Sate Maranggi Aci Kuningan atau sate depan lapas.

Di sana, banyak orang memesan lotek. Lhoh kok lotek? Yah saya jadinya ikut-ikutan saja memesan heheheehe. Lotek terdiri dari aneka sayuran yang disiram dengan bumbu kacang dan taburan kerupuk. Kalau saya lihat sih ini mirip sekali dengan gado-gado yaa. Hanya saja loteknya terasa lebih manis. Lumayanlah.

Kemudian saya memesan menu yang sebagian orang pesan yaitu sate maranggi. Uniknya, sate marangginya biasa disantap bersama-sama dengan sambal oncom dan sambal kacang. Kemudian untuk nasinya kita dapat memesan nasi kuning atau nasi uduk. Paduan rasanya menghasilkan rasa sate yang unik. Terdapat rasa manis dan aroma bumbu yang harum di sana. Sate yang ukurannya jumbo, semakin menambah selera makan di sini. Hanya saja hati-hati kantong bolong sebab harga satenya terbilang mahal, yaaah sesuai ukurannya :’D.

Melihat kunjungan saya di atas, Sate Maranggi Aci Kuningan layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Karena sekarang saudara saya sudah pindah tugas ke Sukabumi, entah kapan lagi saya bisa mampir ke sini.

American History X (1998)

American History X (1998) merupakan film lawas Edward Norton yang berbicara mengenai rasisme. Derek Vinyard (Edward Norton) adalah anggota geng Neo NAZI yang sangat berpengaruh. Geng tersebut menyembah supremasi ras kulit putih dan menganggap remeh ras lain. Mereka menyalahkan segala kemalangan yang mereka alami kepada ras non kulit putih.

Pandangan hidup rasisme Derek membawa Derek kepada berbagai tindakan kriminal sampai pada akhirnya ia masuk penjara. Di sanalah ia belajar bahwa di kehidupan nyata, manusia tidak bersahabat berdasarkan warna kulitnya saja.

Keluar dari penjara, Derek harus menyaksikan pengaruh yang ia berikan kepada adiknya sendiri, Danny Vinyard (Edward Furlong). Danny mulai menapaki langkah yang dahulu Derek lalui. Di dalam komunitas Neo NAZI, Derek seolah menjadi legenda, apalagi alasan Derek masuk penjara adalah karena membunuh orang kulit hitam. Tak heran kalau Danny sangat mengidolakan Derek. Apa yang harus Derek lakukan untuk memperbaiki semua ini?

Semua kisah pada American History X (1998) dibuat dalam alur maju-mundur yang menarik. Alur cara bercerita inilah yang menjadi keunggulan American History X (1998). Semuanya dilakukan pada saat yang tepat sehingga menarik untuk ditonton. Saya sudah lebih dari sekali menonton film ini dan tidak pernah merasa bosan. Jarang-jarang loh ada film drama yang bisa begini.

Film ini memberikan pesan moral yang sangat baik terkait rasisme. Semua disampaikan melalui akting yang kuat dari Edward Norton. Sayang bagian akhirnya sedikit tragis, itu saja kekurangannya. Namun bagaimanapun juga, film ini tetap layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/american-history-x

Tek Tek Tek Tok .. Hidangan Segar Koi Teppanyaki Dimasak Langsung di Depan Mata

Saya masih ingat ketika berkunjung ke Kobe Jepang, saya menyantap steak Jepang yang dimasak di hadapan pengunjung. Semuanya sangat mirip dengan bagaimana Koi Teppanyaki menyajikan hidangannya. Kita duduk mengelilingi seorang koki yang memasak di atas plat besi yang besar. Cara memasak seperti itulah yang disebut Teppanyaki, yaaah sesuai judul restorannya dong ya ;).

Saya biasa menemukan cabang Koi Teppanyaki di tengah-tengah mall seperti ITC Fatmawati, Mall of Indonesia, Mall Ambassador, ITC Cempaka Mas, Pondok Indah Mall 2, Kelapa Gading Mall 3, Mall Artha Gading, Plaza Senayan, Senayan City, Emporium Pluit Mall, ITC Permata Hijau, ITC Roxy, Central Park, Mall Taman Anggrek, Mall Summarecon Bekasi, Mall Summarecon Serpong, Mall Alam Sutra, ITC Bumi Serpong Damai, Tha Park Sawangan dan Ruko Emerald Bintaro. Wah banyak juga yaaaa.

Mau makan apa di Koi Teppanyaki? Pada dasarnya di sana kita dapat memesan mie dan berbagai teppanyaki set. Teppanyaki set sendiri terdiri dari nasi, sup miso, toge, pakcoy dan sebuah tipe lauk. Toge, pakcoy dan sebuah tipe lauk dimasak langsung di depan pengunjung dengan menggunakan plat besi sehingga hidangan disajikan hangat dan segar. Tipe lauk yang saya maksud bisa bermacam-macam seperti slice beef, squid, seafood combo, sirloin, tenderloin dan lain-lain. Saya sendiri biasa memesan seafood combo di sana.

Teppanyaki Set Seafood Combo menggunakan udang, cumi dan potongan daging ikan yang dimasak menggunakan sebuah saus kecokelatan. Saus tersebut memberikan rasa gurih yang sangat pas ketika kita santap bersama aneka seafood-nya, nasi, miso, toge dan pakcoy. Wuih rasanya segar dan mantab, benar-benar nagih.

Saya rasa metode memasak langsung di depan pengunjung berhasil menambah nafsu makan. Kemudian cara ini pun menyebabkan hidangan disajikan dengan segar serta hangat. Dengan begitu, Koi Teppanyaki sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Serba Serbi Mentai & Shirataki By Anind

By Anind terletak di Jl. Duren Tiga Indah 3 No. 19, Pancoran, Jakarta Selatan. Di sanalah tempat di mana Grab Food, Go Food, Shopee Food dan ojek online lain berkumpul. Mereka datang untuk mengambil pesanan pelanggannya. Konsep By Anind memang take away atau bawa pulang. Jadi saya sendiri biasa menyantap hidangan By Anind di rumah dengan bantuan ojek online. Tergantung ojek online mana yang sedang promo hehehehehe.

Setahu saya, pada awalnya By Anind mencoba berkreasi dengan shirataki. Akantetapi kemudian ternyata mentai meraih kepopuleran yang mengangkat nama By Anind di platform Instagram. Sejak awal, By Anind melakukan perkenalan lewat media online, kemudian bekerjasama dengan ojek online untuk mengantarkan pesanan-pesanan ke konsumen.

Apa itu shirataki? Ini adalah mie Jepang yang terbuat dari glucomannan, sebuah serat dari konjak atau umbi gajah. Mie ini populer di kalangan penggiat diet kato. Wah diet? Shirataki itu relatif rendah karbohidrat, rendah kalori dan bebas gluten. Karena kandungan serat yang tinggi di dalamnya, shirataki dapat melancarkan pencernaan dan menurunkan berat badan loh.

Bagaimana dengan saus mentai? Saus ini berasal dari Jepang dan biasanya terbuat dari telur ikan tarako dan mayonaise. Rasanya gurih dan unik, sehingga banyak orang yang menyukainya.

Nah, kedua bahan diataslah yang mendominasi menu-menu By Anind. Saya sendiri baru mencicipi shirataki tektek, salmon kani mentai rice cheese, gyuniku mentai rice cheese dan salmon kani mentai shirataki cheese.

Shirataki tektek terdiri dari mie shirataki, kecambah, sawi, kol, sawi, orek telur, potongan daging ayam dan krupuk yang renyah. Sebenarnya ini seperti versi shirataki dari mie tektek yang sering lewat depan rumah saya dulu. Bumbu yang menyertai shirataki tektek pun terasa asin gurih, mirip dengan mie tektek. Hanya saja shirataki tektek menggunakan potongan daging ayam yang besar sehingga rasa daging ayamnya mantab sangat terasa. Kemudian shirataki yang gurih dan kenyal memberikan rasa yang unik bagi hidangan yang satu ini. Rasa shirataki tektek semakin enak ketika menambahkan potongan cabai yang terdapat di pojok. Tambahan sedikit rasa pedas terasa pas di sana.

Salmon kani mentai rice cheese terlihat memiliki beberapa lapisan. Pada lapisan paling atas terdapat saus mentai dengan rasa khas mentai plus sedikit rasa keju. Di bawahnya terdapat potongan memanjang crab stick dan potongan salmon yang tidak pelit. Potongan salmonnya relatif besar dan tersebar cukup merata sehingga salmon terasa cukup dominan di setiap gigitan. Nah pada lapisan paling bawah, terdapat nasi yang sudah dibumbui. Gabungan semuanya memberian rasa gurih yang khas, yuummmm, enaaak. Tambahan bon cabe yang tesedia memberikan rasa pedas gurih yang membuat hidangan ini terasa lebih enak lagi.

Salmon kani mentai shirataki cheese terdiri dari beberapa lapisan yang sama persis dengan salmon kani mentai rice cheese, kecuali untuk lapisan yang paling bawah. Tidak terdapat nasi di sana, melainkan shirataki. Wah 2 bahan andalan By Anind bergabung di dalam 1 menu. Bagaimana rasanya? Rasa kenyal dan gurih shirataki ternyata lebih cocok dibandingkan nasi. Paduan semuanya memberikan rasa yang gurih dengan aroma yang enak. Bon cabe yang disediakan pun bisa juga ditaburkan untuk menambah rasa pedas. Ini dia menu favorit saya di By Anind, mantab.

Gyuniku mentai cheese rice sangat mirip dengan salmon mentai cheese rice. Jadi terdapat saus mentai dan keju yang sudah meleleh dan mengental, menempel pada potongan tipis daging sapi. Pada bagian bawah terdapat nasi berbumbu kehijauan. Rasa gurih yang dimiliki oleh gyuniku memtai cheese rice tentunya mirip dengan salmon mentai cheese rice. Hanya saja rasa dan tektur daging sapi memberikan sesuatu yabg berbeda. Dagingnya sih banyak dan tersebar merata. Setiap suapan pasti ada dagingnya. Sayang dagingnya memilili gajih yang agak mengganggu. Saya pribadi tetap lebih suka salmon mentai cheese rice.

Secara keseluruhan, saya suka dengan hidangan By Anind. Maka, By Anind layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Hanya saja jarak dari By Anind Duren Tiga ke rumah saya lumayan jauh. Terkadang saya kasihan dengan ojek online-nya @_@.