Incredibles 2 (2018)

Pada tahun ini, keluarga superhero The Incredibles kembali hadir ke layar lebar. Setelah hampir 14 tahun berlalu, akhirnya The Incredibles (2004) muncul juga sekuelnya. Film animasi tentang keluarga superhero ini tentunya masuk di dalam daftar tonton saya :D. The Incredibles (2004) dulu hadir di era ketika film superhero belum banyak berkeliaran seperti sekarang ini. Film tersebut menyedot perhatian saya dan menjadi salah satu film terbaik di tahun film tersebut dirilis. Apakah The Incredibles 2 (2018) dapat tampil menonjol di tengah-tengah gempuran film-film superhero ikonik dari Marvel dan DC Comics?

Kali ini The Incredibles 2 (2018) kembali mengisahkan kehidupan keluarga superhero yang terdiri dari Mr. Incredibles alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen (Holly Hunter), Dashiell Robert “Dash” Parr (Spencer Fox), Violet Parr (Sarah Vowell) dan Jack Parr (Eli Fucile dan Maeve Andrews). Kelimanya sama-sama memiliki kekuatan super yang unik dan saling melengkapi.

Sayang oh Sayang masalah yang diangkat pada The Incredibles 2 (2018), mirip sekali dengan The Incredibles (2004). Keadaan keluarga The Incredibles di awal film sekuel ini sama persis seperti The Incredibles (2004), aktivitas superhero kembali dilarang karena dianggap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Para superhero dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Beruntung Winston Deavor (Bob Odenkirk) bersedia membantu membersihkan nama para superhero di hadapan publik. Siapakah Winston itu? Ia merupakan fans superhero yang memiliki kekayaan dan koneksi. Winston merasa bahwa politikus dan media telah berlaku tidak adil dengan menampilkan keburukan-keburukan superhero saja. Ia kemudian meminta Elastigirl untuk menjadi “wajah” baru superhero. Elastigirl akan beraksi sambil diliput oleh media masa. Berbagai acara TV pun dirancang oleh Winston demi memunculkan kebaikan yang Elastigirl berikan kepada masyarakat.

Mr. Incredibles sendiri bertukar peran dengan Elastigirl. Seperti sinetron Dunia Terbalik, Mr. Incredibles tinggal di rumah untuk mengurus ketiga anaknya. Pertukaran peran ini tentunya menimbulkan berbagai konflik yang … sayangnya kurang menonjol.

The Incredibles 2 (2018) menampilkan beberapa masalah sampingan yang menarik untuk dilihat tapi tidak terlalu bermakna dan tidak menunjang masalah utama yang diangkat, semua nampak biasa dan klise. Problematika ala superhero yang muncul sudah beberapa kali dimunculkan pada film-film superhero lain yang belakangan ini muncul.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, film ini tetap cocok untuk ditonton bersama keluarga karena memberikan pesan moral yang baik dalam bentuk animasi yang enak dipandang dan mudah dipahami :). Jalan ceritanya pun tidak terlalu buruk.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Incredibles 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Saya masih lebih suka film pertamanya.

Sumber: http://www.pixar.com/feature-films/incredibles-2/

Iklan

My Little Pony: The Movie (2017)

My Little Pony pertama kali hadir dalam wujud mainan anak-anak pada tahun 1981. Kemudian mainan ini mengalami berbagai perubahan sampai akhirnya muncul mainan My Little Pony generasi keempat yang dapat kita lihat seperti sekarang ini. Dari generasi pertama sampai keempat, mainan tersebut memang mengalami transformasi, akantetapi semuanya tetap memiliki ciri khusus, yaitu lambang di dekat ekor setiap karakter utamanya. Desainnya pun terbilang sukses memikat anak-anak, termasuk putri saya. Jadi tidak heran, kalau ia kesenangan ketika saya mengajaknya menonton My Little Pony: The Movie (2017).

Bernasib seperti robot-robotan Transformer, My Little Pony hadir ke layar lebar setelah film serinya konon berhasil memikat banyak orang, terutama anak perempuan. Film ini bercerita mengenai persahabatan 6 ekor kuda pony yaitu Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Fluttershy (Andrea Libman), Rainbow Dash (Ashleigh Ball), Applejack (Ashleigh Ball) dan Rarity (Tabitha St. Germain). Keenamnya masing-masing memiliki sifat dan kekuatan yang berbeda. Mereka harus menyatukan perbedaan demi menyelamatkan Negeri Equestria dari Tempest Shadow (Emely Blunt) dan pasukannya.

Walaupun tokoh utamanya ada 6, tapi rasanya film ini terlalu berfokus kepada Twilight sebagai salah satu dari 3 putri Equestria. Pinkie Pie sesekali tampil menonjol tapi tetap saja saya seperti menonton film solonya Twilight Sparkle hohoho. Kalau saya pribadi sih lebih senang Rainbow Dash karena kemampuannya untuk terbang secepat kilat dan membuat pelangi di angkasa :D. Sementara itu anak saya lebih senang Pinkie Pie karena … warnanya pink … dan ini memang tokoh yang paling konyol dan jenaka diantara keenam pony tersebut.

Bagaimana jalan ceritanya? Jalan cerita film ini terbilang mudah dipahami dan mengajarkan anak-anak mengenai persahabatan. Mau bagaimana pun juga, My Little Pony: The Movie (2017) tetaplah film anak-anak sehingga terkadang film ini nampak sedikit membosankan bagi orang dewasa. Semuanya nampak mudah ditebak dan film ini seolah-olah seperti film seri My Little Pony yang durasinya dipanjangkan. Saya berharap ada sesuatu yang lebih spesial dari versi film layar lebar dari sebuah film seri seperti ini.

Dengan demikian, menurut saya pribadi, My Little Pony: The Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tidak adanya adegan kekerasan dan dihadirkannya pesan moral yang baik, membuat film ini pantas untuk ditonton bersama dengan buah hati tercinta. Tapi jangan kaget kalau habis menonton film ini, anak kita meminta dibelikan mainan My Little Pony baru ya :’D.

Sumber: http://www.mylittlepony.movie

Ferdinand (2017)

Film animasi Ferdinand (2017) dibuat berdasarkan cerita anak-anak yang diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul The Story of Ferdinand. Siapakah Ferdinand itu? Ferdinand bukanlah seorang penyanyi atau pemain bola, melainkan seekor banteng yang hidup di Spanyol. Negeri Spanyol sangat identik dengan Torero atau pertunjukam adu banteng. Di sana terjadi pertarungan antara sang matador dengan banteng. Well, Ferdinand (John Cena) pada awalnya hidup di dalam lingkungan pertunjukan adu banteng ini sampai pada suatu hari, nasib membawanya ke tempat yang lebih baik.

Ferdinand kabur dan bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Nina (Julia Scarpa Saldanha). Nina dan keluarganya kemudian memutuskan untuk memelihara Ferdinand. Di sana, Ferdinand dan Nina tumbuh bersama hingga tak terasa tubuh Ferdinand sudah sangat besar. Tubuh yang besar tidak mengubah kepribadian Ferdinand. Ia tetap merupakan banteng cinta damai yang senang mencium harumnya bunga. Sayangnya, nasib kembali membawa Ferdinand ke kembali dalam lingkungan pertunjukan adu banteng.

Melalui sebuah insiden di tengah kota, Ferdinand ditangkap dan diambil oleh bandar pertunjukkan adu banteng. Tubuh yang besar, membuat semua orang ketakutan melihat Ferdinand. Bahkan para banteng lain pun ikut terintimidasi melihat Ferdinand. Hanya Nina dan keluarganyalah yang mengetahui siapa Ferdinand sebenarnya …

Film ini mengajarkan penontonnya mengenai persahabatan, keberanian dan kasih sayang. Tidak semua masalah dapat terpecahkan dengan jalan kekerasan. Sayang pesan moral yang baik ini disampaikan melalui jalan cerita yang agak datar dan sedikit membosankan bagi saya. Berbeda dengan saya, putri kami menonton Ferdinand (2017) dengan penuh suka cita. Film ini menampilkan animasi yang halus dan bagus. Penampakan Ferdinand dan hewan-hewan lain pun, elok dipandang mata.

Akhir kata, Ferdinand (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama-sama dengan anak-anak. Hanya saja harus ada pendampingan agar anak-anak tidak meniru adengan menyeruduk yang dilakukan oleh banteng-banteng pada film ini ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/ferdinand

Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Setelah kemarin berkeliling di pusat kota pada Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon, di hari kedelapan ini kami akan pergi agak jauh keluar Seoul. Hari itu kami akan mengunjungi salah satu taman hiburan terbesar di Korea, Everland. Dalam 1 perjalanan wisata panjang, kami memang memberikan jatah minimal 1 objek wisata bagi anak kami. Kali ini, Everland-lah yang kami pilih walaupun lokasinya agak jauh dari tempat kami menginap. Hari itu kami berangkat agak pagi dengan membawa bekal seperti biasanya. Untuk mencapai Everland, kami harus naik kereta dan bus.

Kami berangkat dari Stasiun terdekat, yaitu Stasiun Dongdaemun History & Culture Park untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Sindang dan turun di Stasiun Wangsimni. Dari Stasiun Wangsimni, kami naik Kereta Korail jalur Bundang (kuning) arah Stasiun Gangnam-Gu Office untuk turun di Stasiun Giheung. Sebuah perjalanan naik kereta yang cukup panjang. Sepanjang jalan kami melihat banyak manula Korea membawa sepeda untuk berolahraga di pinggir kota. Saya salut dengan semangat olahraga warga lokal.

Dari Stasiun Giheung kami masih harus naik Kereta Yongin Everline jalur Everline (hijau daun). Kereta ini nampak lebih kecil dan saya dapat berjalan ke ujung untuk melihat pemandangan dari bagian depan dan belakang kereta. Wah, sebuah pengalaman yang menyenangkan. Loh kemana masinisnya? Tidak ada :’D. Entah masinisnya di mana, sepertinya kereta yang beroperasi di jalur ini sudah beroperasi otomatis. Stasiun-Stasiun di Seoul pun memang sedikit sekali petugasnya. Semua sudah berjalan dengan otomatis dan dibantu mesin. Lha wong saya menyewa unit aparteme di daerah Dongdaemun saja, sudah 8 hari tapi belum pernah bertemu langsung dengan pemiliknya. Serah terima akses unit dilakukan dengan pemberian passport, mereka sudah tidak menggunakan kunci seperti di Indonesia :’D.

Kami akhirnya turun di Stasiun paling ujung yaitu Stasiun Jeondae-Everland. Nah dari Stasiun ini, kami keluar dan pergi ke halte bus untuk naik Bus gratisan yang akan mengantarkan kami menuju Everland. Pilihan transportasi seperti ini adalah pilihan yang paling ekonomis dan tidak terlalu repot. Mudah kok, tanda jalan dan petunjuk arahnya jelas. Hampir tidak mungkin kita salah halte bus atau naik bus yang salah ;). Kami naik bus tersebut sampai depan Everland persis.

Everland (에버랜드) merupakan taman hiburan outdoor yang dimiliki oleh Samsung. Kenapa kami memilih Everland dibandingkan Lotte World? Keduanya sama-sama besar dan dimiliko oleh konglomerat Korea Sekalan. Tapi Everland memiliki kebun binatang juga di dalamnya. Negatifnya adalah, Everland itu mayoritas atraksinya berada di luar ruangan. Nah kalau Lotte World itu atraksinya banyak juga yang di dalam ruangan jadi aman kalau kita datang di musim hujan. Kami sendiri sudah memperkirakan untuk datang ke Everland di saat cuaca sedang cerah, tidak ada hujan. Mirip seperti di Jepang, ramalan cuaca di Korea sana relatif akurat dan dapat dipercaya. Saya sendiri kurang tahu apa bedanya dengan yang di Indonesia, kok kadang saya kurang percaya. Masyarakat Korea akan siap keluar rumah membawa payung apabila lembaga ramalan cuaca mereka mengatakan bahkan hujan akan turun. Dan ajaibnya, yah hujan memang turun :’D.

Kami tiba di Everland di saat cuaca sedang sejuk tapi tak ada hujan. Suasana Everland yang asri dan kostum petugasnya yang unik, membuat tempat ini terasa spesial. Kami masuk dan melihat berbagai atraksi dari kelima zona yang ada. Pada dasarnya Everland dibagi ke dalam 5 zona yaitu Magic Land, European Adventure, American Adventure, ZooTopia dan Global Fair. Kelimanya memiliki tema dasar yang masing-masing berbeda. Kemudian tema dasar tersebut di tambahkan tema tambahan berdasarkan event yang selalu berubah. Kami datang ke sana ketika masih ada event Hallowen dan Red Flower. Jadi karnaval dan dekorasinya sebagian agak bernuansa zombie dan sebagian lagi bernuansa bunga-bunga merah. Wow, zombie? Beruntung dekorasinya tidak berlebihan sehingga anak kami tidak ketakutan di sana. Kami sendiri melihat karnaval Hallowen yang tidak nampak menyeramkan karena penuh nyanyian dan tari-tarian yang ramah anak.

Dari kelima zona yang ada, anak kami tentunya paling senang dengan ZooTopia. Zona ini pada dasarnya merupakan kebun binatang. Di sana, kami dapat melihat monyet, jerapah, gajah, burung, panda dan lain-lain. Kami dapat merasakan naik mobil amphibi yang dapat mengantarkan kami berkeliling untuk melihat binatang-binatang. Kemudian kami pun berkeliling melihat berbagai pertunjukan binatang yang ada. Pada dasarnya, ZooTopia memang berhasil memberikan beberapa hal yang tidak ada di Indonesia. Tapi kalau boleh jujur, Taman Safari Indonesia Cisarua tetap merupakan kebun binatang terbaik yang pernah saya kunjungi. Taman Safari itu lebih luas dan koleksi binatangnya lebih beraneka ragam.

Zona-zona lainnya seperti Magic Land, European Adventure, American Adventure dan Global Fair berisi berbagai atraksi permainan yang mayoritas memacu adrenalin. Wahana unggulan Everland adalah T-Express yang terdapat di Eropean Adventure. Kami sendiri hanya naik wahana yang dapat diikuti oleh anak kami yang berusia 1,8 tahun saat itu. Untunglah Everland memiliki banyak wahana yang masih dapat diikuti oleh anak kecil di bawah 2 tahun. Ini sangat berbeda dengan pengalaman kami di Universal Studio Singapore pada Wisata Singapura Hari Kedua. Wah wahana di Universal Studio Singapore sana, hampir tidak ada yang dapat dinaiki oleh anak berusia di bawah 2 tahun.

Entah mengapa, Everland hari itu nampak ramai, tapi antrian untuk masuk ke dalam wahana atau atraksi tidak terlalu lama. Jauh lebih lama kalau kami ke DuFan atau Universal Studio Singapore. Pihak Everland nampaknya berhasil membuat pengunjungnya untuk menikmati berbagai atraksi dengan waktu yang efisien. Tapi karena besarnya taman hiburan ini, kami tidak sempat menaiki semua wahana yang ada. Yahhh mungkin kapan-kapan kalau ada rejeki kami dapat berkunjung kembali ke sana.

Tak teraaa hari sudah malam dan kami pun mulai berjalan ke halte bus untuk naik bus menuju Stasiun Jeondae-Everland. Selanjutnya kami kembali berpindah-pindah jalur kereta di Stasiun Giheung dan Stasiun Wangsimni, sampai akhirnya kami turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Kami langsung pulang ke penginapan untuk membereskan koper. Esok hari kami sudah harus pulang ke Indonesia :(.

Keeseokan harinya, kami membereskan berbagai perlengkapan yang kami gunakan di unit apartemen. Kami kemudian berpamitan dengan si pemilik via Whatsapp. Tidak perlu ada serah terima kunci fisik di sana karena akses unit apartemen tersebut menggunakan mesin ber-password. Lalu, kami menunggu Bus 6001 di Halte Bus Uljiro Co Op Residence yang berada tepat di depan apartemen.

Bus 6001 yang kami naiki, mengantarkan kami sampai ke Bandara Incheon. Sesampainya di sana, kami langsung check-in dan duduk santai sambil menunggu koper-koper kami diperiksa. Jadi, semua koper yang akan dimasukkan ke dalam bagasi, harus diperiksa dan kami harus siap menunggu di ruang tunggu sampai koper-koper kami dinyatakan lolos. Setelah koper-koper kami dinyatakan lolos, kami masuk ke dalam ruang pemeriksaan imigrasi untuk selanjutnya, masuk ke dalam area boarding walaupun waktu keberangkatan masih lama. Aaahhh di dalam sana kan banyak mainan anak san toko-toko, kami dapat bersantai di sana. Tak disangka, seketika, semua berubah menjadi keadaan yang menegangkan dan menyedihkan.

Smartphone istri saya hilang entah kemana :(. Saya sedih dan istri saya mulai berair matanya. Kok begitu? Harga smartphone tersebut bukan masalah, tapi kenangan yang ada di dalamnya yang kami sayangkan. Saat itu, otomatis kami hanya memiliki foto dan video perjalanan kami yang tersimpan di smartphone saya. Padahal mayoritas foto dan video kami selama 9 hari di Korea, tersimpan di dalam smartphone istri saya. Kami memang menyimpan kenangan-kenangan tersebut di smartphone saja, bukan untuk di-upload ke social media ya. Kami tidak berniat untuk meng-upload foto-foto wisata Korea kami di social media karena kami sudah bosan dengan social media, sudah bukan jamannya lagi, hehehehe. Semua foto wisata akan kami simpan dan sebagian akan kami cetak sebagai koleksi pribadi.

Karena kami baru menyadari hilangnya smartphone tersebut sesaat setelah lolos pemeriksaan imigrasi, maka kami yakin pasti smartphone tersebut pasti hilangnya di sekitar area check in atau ruang tunggu pemeriksaan koper atau ruang pemeriksaan imigrasi. Petugas imigrasi benar-benar kaku dan tidak mengizinkan kami untuk kembali keluar dari area boarding. Kami akhirnya diminta untuk melaporkan hal ini kepada pihak Asiana Airlines, sebagai maskapai yang akan membawa kami kembali ke Jakarta.

Berdasarkan ciri-ciri yang kami berikan, pihak Asiana memperoleh konfirmasi bahwa terdapat smartphone dengan ciri-ciri seperti itu di Loket Lost & Found yang terdapat di luar area boarding. Untuk memastikan dan mengambil barang temuan di Lost & Found, tidak dapat diwakilkan, harus si pemilik langsung. Dengan didampingi oleh petugas Asiana, istri saya bernegosiasi agar dapat keluar sebentar untuk memastikan apakah smartphone miliknya benar-benar ada di Lost & Found atau tidak. Proses yang sangat lama tersebut akhirnya usai dan istri saya dapat keluar menuju Lost & Found, dengan kawalan beberapa petugas tentunya. Ternyata, smartphone istri saya memang benar-benar ada di sana. Hore! 😀

Jadi, ada penumpang lain yang menemukan smartphone tersebut di ruang tunggu pemeriksaan koper. Beruntung penumpang tersebut jujur dan memberikannya kepada petugas bandara. Beruntung juga, petugas bandaranya jujur dan melaporkan hal ini kepada Lost & Found. Beruntung pangkat tiga, pihak Asiana sangat membantu kami dalam menghadapi semua proses ini. Sudah pesawatnya bagus, pelayanannya ok, sangat support terhadap masalah penumpangnya pula, Asiana benar-benar recommended lah pokoknya. Tak habis-habisnya kami berterima kasih kepada petugas Asiana Air yang hari itu membantu kami :D.

Kalau hal ini kejadian di Indonesia, wah tak tahulah bagaimana jadinya. Apalagi smartphone istri saya termasuk smartphone yang relatif baru dirilis kala itu. Awalnya saya agak pesimis karena saya masih ingat pengalaman buruk saya ketika kehilangan blackberry di Tembok Cina. Dimanapun berada, kita memang tetap harus waspada dan konsentrasi terhadap barang-barang bawaan kita. Keberadaan batita di dalam rombongan keluarga kecil kami memang memberikan tantangan lebih dan membutuhkan konsentrasi ekstra. Tapi kepergian kami tentunya tidak akan lengkap tanpa kehadiran bayi mungil kami. Tantangan kami untuk bepergian wisata seperti ini nampaknya akan meningkat karena setelah kami mendarat di Jakarta, istri saya ternyata mual-mual. Apakah ia sakit? Pada Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa, diakhir perjalanan kami menduga bahwa naik Gunung Seorak membuat ia kelelahan dan periode menstruasinya bergeser. Ahhhh ternyata kami salah, ia memang kelelahan dan itu menyebabkan muncul flek. Flek karena ternyata selama perjalanan ini, istri saya sudah 1,5 bulan mengandung anak kedua kami. Wwwuuuuuihhhhh, sebuah kejutan yang menyenangkan. Mungkin beberapa tahun ke depan, kami akan bepetualang lagi dengan tambahan 1 lagi bayi di dalam rombongan kami. Sampai jumpa di lain kesempatan hohohoohooho.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon

Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon

Setelah kemarin pergi ke era kekuasaan dinasti Joseon pada Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung, di hari ketujuh ini objek wisata tujuan kami agak longgar dan bebas. Tujuan utama kami hanya 2 yaitu Pasar Tradisional Gwangjang dan Cheonggyecheon Stream. Kami pun dapat bangun agak siang. Istri saya menyetrika beberapa baju dan membuat sarapan plus bekal. Kemudian kami berangkat menuju Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari sana kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (ungu) arah Stasiun Euljiro 4(sa)ga untuk turun di Stasiun Euljiro 4(sa)ga. Kami kemudian keluar melalui Exit 4 dan berjalan sedikit menuju Pasar Gwangjang.

Pasar Gwangjang (광장시장) merupakan salah satu pasar tradisional terbesar dan tertua di Korea. Pasar ini dibangun sebagai reaksi warga lokal atas dikuasainya Pasar Namdaemun oleh Jepang pada masa penjajahan. Pasar Namdaemun sendiri merupakan pasar tradisional tertua di Korea yang didirikan di era Raja Gojong dari dinasti Joseon. Tapi lokasinya di sekitar Sungnyemun, dekat Seoul Station. Karena kami menginap di daerah Dongdaemun, tentunya Pasar Gwangjang akan sangat dekat bagi kami. Pasar Gwangjang ini dahulu kala sempat diberinama Pasar Dongdaemun dan merupakan pasar pertama di Korea yang memikiki bangunan permanen.

Berbeda dengan mall atau pertokoan modern Korea, Pasar Gwangjang memiliki bentuk yang lebih tradisional, namun tetap bersih dan tidak bau. Pasar tersebut menjual aneka ragam makanan ringan khas Korea, bahan makanan segar, obat tradisional Korea, souvenir, tekstil dan lain-lain. Selain bentuk pasarnya, yang nampak beda di sana adalah keberadaan kaki lima yang menjual bindaetteok dan mayak gimbap. Saya kurang tahu kehalalan makanan tersebut, yang pasti sekilas bahan-bahan yang dipergunakan adalah sayuran.

Kami sendiri tidak makan apa-apa di sana. Kami membeli aneka makanan ringan khas Korea dan hampir membeli hanbok anak-anak di sana. Di Pasar Gwangjang terdapat aneka hanbok yang bagus. Barang-barang yang sifatnya tradisional memang bagus-bagus di sana. Tapi harganya belum tentu bagus juga yaaa hehehehe. Berbeda dengan Cina dan Indonesia, tawar menawar tidak terlalu disukai oleh pedagang lokal. Pedagang lokal Korea memang tidak seketat Jepang yang menganut fixed price, kami biasanya hanya dapat menawar sedikit di sana. Hal ini berlaku kecuali di Itaewon. Harga bukaan di sana saja sudah miring, bisa ditawar lagi pula hehehe. Itulah mengapa, kami memutuskan untuk kembali berkunjung ke Itaewon setelah kami selesai berwisata di Gwangjang. Toh kami hanya kurang membeli souvenir saja kok, hal itu banyaknya memang di Itaewon. Kami batal ke Pertokoan Insadong siang itu. Perjalanan kami kali ini agak melenceng dari itenari yang saya susun pada Persiapan Wisata Korea 2017.

Dari Pasar Gwangjang, kami kembali berjalan menuju Stasiun Euljiro 3(sam)ga untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Yaksu. Dari Stasiun Yaksu, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 6 (coklat) arah Stasiun Samgaki untuk turun di Stasiun Itaewon.

Kami keluar dari Stasiun dan langsung bertemu dengan pertokoan Itaewon yang dipadati turis-turis asing. Di sana, kami membeli souvenir yang bagus-bagus dengan harga yang relatif miring ;D. Di sana pulalah kami dapat dengan lebih leluasa makan siang dan jajan karena mayoritas makanan di Itaewon, halal. Perjalanan jajan dan belanja kami di Itaewon berlangsung cepat karena kami sudah pernah ke sana pula pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo. Waktu masih banyak nih, matahari masih bersinar dengan terangnya. Masa langsung ke Cheonggyecheon Stream sih? Cheonggyecheon Stream nampak bagus di sore atau malam hari.

Dari Itaewon, kami akhirnya memutuskan ke Myeong-dong untuk kembali membeli oleh-oleh pernak-pernik K-Pop. Barang-barang di pertokoam Itaewon memang relatif murah, tapi tidak semuamuanya ada di Itaewon. Ada hal-hal tertentu yang dapat lebih mudah diperoleh di Myeong-dong atau Dongdaemun atau Gwangjang. Kami kemudian kembali berjalan menuju Stasiun Itaewon untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 6 (coklat) arah Stasiun Samgaki untuk turun di Stasiun Samgaki. Dari Stasiun Samgaki, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Seoul Station untuk turun di Stasiun Myeong-dong.

Kami berputar-putar sejenak melihat dan membeli hal-hal yang kurang saya pahami hehehehe :’D. Kebanyakan barang-barang keperluan perempuan dan pernak-pernik K-Pop. Kami tidak terlalu lama di Myeong-dong karena istri saya sepeetinya sudah memiliki target mau belanja di mana saja.

Keluar dari pertokoan Myeong-dong, hari sudah mulai sore. Inilah waktu yang tepat untuk pergi menuju Cheonggyecheon Stream. Kami berjalan menuju Stasiun Myeong-dong untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) ke arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Chungmoro. Dari Stasiun Chungmoro, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 3 arah Stasiun Euljiro 3(sam)ga (biru muda) untuk turun di Stasiun Euljiro 3(sam)ga. Perjalanannya terkesan pendek-pendek, tapi kalau dilakikan dengan jalan kaki ya pasti kami tidak kuat. Naik taksi? Aaahhh sayang uangnya, lebih baik uangnya untuk yang lain hehehe.

Dari Exit 4 Stasiun Euljiro 3(sam)ga, kami kemudian berjalan sedikit ke utara sampai bertemu dengan bagian tengah dari Cheonggyecheon Stream.
Awalnya, Cheonggyecheon Stream (청계천) merupakan drainase yang dibangun di era dinasti Joseon. Kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, drainase ini terlupakan sampai tertutup oleh jalan raya bertingkat. Pada tahun 2005, Pemerintah Kota Seoul melakukan restorasi dengan membongkar jalan raya bertingkat yang menutup drainase tersebut. Gile bener, jalan raya bisa-bisanya dibongkar demi sebuah sungai, jalan raya tingkat 2 pula O_O. Pemerintah tidak hanya merestorasi, mereka pun mempercantik drainase tersebut dengan bentuk bersusun yang unik. Sebuah bentuk aliran air yang sekarang sudah ditiru di dekat Balai Kota Jakarta.

Aliran air sepanjang 8,4 km ini tak mungkin kami jelajahi semua pada sore itu. Karena bagian ujung barat sungai tersebut lebih populer dan memiliki pemandangan yang khas, maka kami memilih untuk menyusuri Cheonggyecheon Stream ke arah barat. Sepanjang sungai kami melihat artis jalanan yang kreatif dan menghibur. Jalanan nampak sedikit remang-remang dan aman karena banyak juga orang lalu-lalang di sana. Suasananya cukup romantis dan tak heran kalau lokasi ini digunakan oleh muda-mudi Korea untuk berjalan-jalan santai.

Semakin dekat ke bagian ujungnya, semakin banyak lampu hias dan dekorasi di bagian atas sungai. Dekorasi-dekorasi ini berubah-rubah seiring dengan berjalannya waktu. Ketika rekan kami ke sana, dekorasinya berupa kertas-kertas beetuliskan sesuatu dalam tulisan hangul. Ketika kami ke sana, dekorasinya sudah berubah menjadi deretan payung-payung cantik. Pada bagian paling ujung, terdapat air terjun dan wishing well yang unik. Di sana, kami iseng-iseng melempar koin agar masuk ke dalam wiahing well :D. Setelah beberapa percobaan yang berhasil, kami naik ke atas, ke jalan raya dan berjalan menuju Exit 5 Stasiun Gwanghwamun.

Dari Stasiun Gwanghwamun, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (warna ungu) arah Stasiun Jongno 3(sam)ga untuk turun di Stasiun Dongdemun History & Culture Park. Kami langsung berjalan pulang menuju penginapan kami yang terletak tak jauh dari Stasiun. Esok hari akan menjadi hari yang panjang. Kami akan berkelana sedikit keluar kota pada Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon, sebuah tujuan yang tentunya akan membuat putri kami senang :).

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung

Setelah pada Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong kami mengunjungi jejak Perang Korea, pada hari keenam petualangan kami ini, kami mengunjungi beberapa jejak peninggalan Korea di era feodal. Jauh sebelum Korea terpecah 2 akibat perang ideologi, Korea dikuasai oleh satu atau beberapa kerajaan. Hari itu kami akan mengunjungi Istana Gyeongbokgung, Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung.

Kami memulai hari itu pagi-pagi sekali. Setelah sarapan, kami pergi keluar penginapan menuju Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (ungu) ke arah Stasiun Euljiro 4(sa)ga untuk turun di Stasiun Gwanghwamun. Kami kemudian berjalan cukup panjang untuk keluar di Exit 9. Kenapa kok Exit 9 yang agak jauh? Keluar dari Exit 9, kami langsung berada di tengah-tengah area Gwanghwamun Square, tak pakai acara menyeberang, langsung di tengah ;).

Gwanghwamun Square (광화문광장) merupakan area hijau di seberang Istana Gyeongbokgung. Di sana terdapat patung raksasa dari Laksamana Yi Sun-Shin (이순신) dan Raja Sejong (세종대왕). Nama Raja Sejong sudah sangat terkenal. Tapi, siapa pula Yi Sun-Shin itu? Sekilas ia seperti salah satu panglima perang Tiongkok pada film Red Cliff :’D. Ternyata, Yi Sun-Shin merupakan pahlawan nasional Korea yang memimpin peperangan di laut pada era Perang Imjin atau Perang 7 Tahun melawan Jepang. Ketika Korea menolak untuk memberikan jalan bagi Jepang untuk menginvasi Cina, Jepang melakukan serangan darat dan laut ke dalam wilayah Korea. Mayoritas wilayah darat Korea dapat dengan mudah dikuasai. Berkat kepemimpinan Laksamana Yi Sun-Shin, wilayah laut Korea sulit untuk dikalahkan. Armada Jepang bahkan akhirnya mundur dan dinyatakan kalah. Kisah kepahlawanan Yi Sun-Shin ini ternyata sudah beberapa kali di angkat ke layar kaca, sayanya saja yang kurang gaul nih hohoho.

Lantas, apakah Raja Sejong ada hubungannya juga dengan Perang 7 Tahun? Raja Sejong merupakan raja keempat dari Dinasti Joseon yang bertahta jauh sebelum Jepang menginvasi Korea. Ia merupakan raja yang sangat terkenal karena kemajuan ilmu pengetahuan Korea di era pemerintahaanya. Aksara Korea yang di sebut hangeul merupakan hasil karyanya yang termashur. Itulah mengapa di depan patung Raja Sejong yang terletak di Gwanghwamun Square, terdapat patung yang menggambarkan alfabet hangeul, bola dunia selestial, alat pengukur hujan dan jam bayangan matahari. Keempatnya merupakan simbol kemajuan Korea di era Raja Sejong.

Kami mengamati patung-patung tersebut disela-sela tenda putih yang sedang dipasang. Pagi itu, terdapat bazar atau eksebisi yang baru saja buka di Gwanghwamun Square. Karena semua dalam tulisan dalam tulisan hangeul, kami kurang paham itu acara apa. Di sana, mereka menjual aneka makanan kecil dan minuman ringan. Kemudian terdapat pula video games virtual reality di pasang di sana. Entah apa maksudnya, kami memilih untuk berjalan ke arah Istana Gyeongbokgung.

Kami tidak langsung masuk ke dalam Gyeongbokgung karena kami ingin mencari tempat penyewaan hanbok. Whoaaw, apa itu hanbok? Baju hanbok merupakan baju tradisioanal Korea yang dapat disaksikan pada beberapa drama Korea berlatar belakang dinasti Joseon. Tentunya akan menjadi sebuah pengalaman yang seru kalau kami dapat berkeliling Istana menggunakan baju tradisional tersebut. Sebenarnya, kami bisa saja mem-booking hanbok sejak di Indonesia, tapi lokasi penyewaan dan perhitungan waktu membuat kami batal melakukan booking. Kami memilih untuk mencari penyewaan hanbok yang lokasinya dekat dengan pintu gerbang Gyeongbokgung di hari kedatangan saja ;). Saya sadar, resikonya adalah kami gagal menyewa hanbok yang keren ;). Di dalam kompleks Istana Gyeongbokgung, terdapat menyewaan hanbok gratis. Tapi yaaaaa, ada harga, ada rupa, bentuk hanboknya kurang bagus :’D.

Kami terus berjalan ke arah barat Gyeongbokgung dan menemukan jejeran gerai penyewaan habok, tepatnya di sekitar Jahamun-ro 2-gil. Aaaahhh, ternyata banyak penyewaan habok di sana, tak perlu pakai acara booking lewat online. Di sana, kami dapat mendapatkan banyak pilihan hanbok yang siap untuk disewa. Ada tipe hanbok klasik dan tipe modern, semuanya bagus-bagus loh, tinggal pilih sesuai selera ;).

Di dalam penyewaan hanbok, kita hanya dapat mencoba 2 hanbok saja. Kemudian, pada 1 paket biasanya kita memperoleh juga pelayanan make-up dan hair stylist. Sepatu, tas dan aksesoris tambahan lainnya, biasanya tidak termasuk ke dalam paket. Kita harus membayar biaya tambahan bila ingin menambahkan aksesoris. Saya pribadi menggunakan sepatu Wakai yang sudah saya bawa dari rumah. Bentul dan modelnya masih cocoklah kalau bertemu dengan hanbok. Oh yaaa, hanbok itu bukan hanya milik wanita loh, kaum Adam juga ada versi hanboknya. Kalau canggung menggunakan hanbok, terdapat pula kostum pejabat negara atau kaisar di sana. Namun saya pribadi pernah menyewa kostum pejabat negara atau kaisar ketika berkunjung ke Tembok Cina beberapa tahun yang lalu. Aaahh, bentuknya mirip, tak jauh berbeda. Itulah mengapa saya memilih mengenakan hanbok laki-laki ketimbang baju kaisar atau pejabat kerjaan ;).

Penyewaan hanbok biasanya dihitung per-jam dan kita biasanya diharuskan membayar 2 jam pertama di muka plus uang deposit. Kami pun memperoleh loker untuk menitipkan barang bawaan kami. Tidak seru juga kan kalau menggunakan hanbok sambil menggendong tas-tas ransel. Selain berat, hambok juga bisa kusut atau rusak. Kerusakan akibat penggunaan bisa dipotong dari uang deposit yang kita bayar di muka loh.

Kami bertiga berjalan keluar menuju Istana tanpa rasa malu karena menggunakan hanbok bukanlah hal aneh di sana. Kami berjalan menyusuri penyewaan hanbok yang berada di sekitar dinding barat Gyeongbokgung. Semakin siang, semakin banyak yang terlihat buka. Menjamurnya bisnis penyewaan hanbok di sekitar Istana Gyeongbokgung, Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung sebenarnya tak lepas dari usaha Pemerintah untuk melestarikan budayanya. Siapa saja yang datang dengan menggunakan hanbok, diperbolehkan gratis masuk ke dalam beberapa Istana yang tersebar di dalam Kota Seoul. Program pemerintah Korea Selatan ini dapat dibilang berhasil karena selain memberikan bisnis baru bagi masyarakat lokal, kaum muda Korea pun ada yang ikut menggunakan hanbok di sekitar area Istana. Kapan yah Indonesia bisa seperti ini? 😀

Kami tiba di Gerbang Gwanghwamun, gerbang utama Istana Gyeongbokgung, pada sekitar pukul 10 siang. Pada sekitar jam inilah biasanya terdapat atraksi pergantian penjaga ;). Pergantian penjaga ini diawali dengan bunyi gong yang besar. Kami melihat sekumpulan penjaga, lengkap dengan atributnya berbaris dan melakukan serangkaian atraksi dengan senjata mereka :D.

Setelah pergantian penjaga berakhir, kami dapat berfoto dengan komandan penjaga yang membawa rantai dan golok hohohoho. Di sana, kami pun menjadi objek foto bersama, oleh backpaker-backpaker asal Indonesia yang tidak tahu perihal sewa menyewa hanbok :’D. Setelah menginformasikan tempat menyewaan hanbok, kami berpisah dengan mereka, dan kami berjalan ke dalam area Kompleks Istana Gyeongbokgung yang luas ;).

Istana Gyeongbokgung (경복궁) adalah istana terbesar dari 5 istana yang pernah dibangun pada era Dinasti Joseon. Istana megah ini dibangun pada tahun 1935 dan sempat hancur pada era Perang Imjin, invasi Jepang di tahun 1500-an. Istana ini kemudian direstorasi lagi oleh Raja Gojong hingga sebagian bentuknya masih dapat kami saksikan saat itu. Setelah era Raja Gojong, terdapat beberapa perubahan karena Jepang melakukan perombakan terhadap Gyeongbokgung ketika mereka berhasil menjajah Korea pada tahun 1900-an.

Bentuk istana di Seoul ini agak berbeda dengan istana-istana di Jepang yang bentuknya vertikal ke atas. Saya rasa bentuk istana milik Korea lebih mirip dengan istana milik Cina yang melebar dengan banyak pintu di mana-mana. Korea di era feodal memang banyak dipengaruhi oleh dinasti Ming dan Qing dari Cina.

Kami berputar-putar kompleks istana mengagumi keindahan arsitektur khas Korea yang ada di depan mata. Istana ini luas sekali sehingga pengunjung tidak perlu berdesak-desakan seperti pada Hari Ketiga Membawa Bayi Ketika Wisata Bangkok & Pattaya di Bangkok dulu :’D. Di sana banyak sekali ruangan dan pintu-pintu unik yang indah. Pada bagian tengah, terdapat ruangan tempat raja bertahta. Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tapi nampak beda dan keren, seperti di film-film kerajaan.

Ketika kami berjalan-jalan di sana, Istana Gyeongbokgung dikunjungi pula oleh satu atau dua rombongan dharmawisata sekolahan. Bisa dibilang ini adalah record kami melihat gerombolan anak-anak selama di Korea. Negeri tersebut angka kelahirannya memang sangat kecil sehingga jumlah anak-anak di sana dikabarkan terus menurun. Anak kami sendiri, dengan riangnya berlari-lari dengan hanboknya, di dalam kompleks istana :). Dengan banyaknya pengunjung yang berpakaian hanbok ke sana, kami seperti sedang benar-benar berkunjung ke Istana Gyeongbokgung di masa lampau.

Setelah selesai berputar-putar di bagian depan dan tengah kompleks, kami menemukan National Folktale Museun pada halaman belakang Istana. Di sana, terdapat berbagai alat-alat yang masyarakat Korea pernah gunakan di masa lampau. Kami tidak terlalu lama di sana karena keterbatasan waktu, masih banyak objek wisata yang hendak kami kunjungi.

Kalau ke arah belakang istana lagi, wilayah di seberang tembok belakang istana tepatnya, terdapat Cheong Wa Dae atau Blue House. Rumah tradisional Korea bergenting biru ini merupakan kediaman resmi presiden Korea Selatan. Namun karena kepergian kami ke Seoul memang agak singat waktu persiapannya, kami tidak meneruskan untuk berkunjung ke Blue House. Untuk masuk ke dalam Blue House, kita diharuskan mengisi form di situs resmi kepresidenan paling tidak 3 minggu sebelum rencanan kedatangan. Wah, rumit, sudahlah, kapan-kapan saja kalau ada kesempatan ;).

Dari Istana Gyeongbokgung, kami kembali ke tempat penyewaan hanbok untuk berganti pakaian dan mengambil barang bawaan kami. Demi efisiensi waktu dan biaya, kami memilih untuk menggunakan baju biasa saja pada kunjungan kami ke Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung ;). Dari tempat penyewaan, kami berjalan ke arah timur, menyusuri Yukgok-ro, arah tempat Kampung Hanok Bukchon dan Istana Changdeokgung berada. Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah halte bus untuk menyantap bekal dan mengganti popok anak kami hehehehe. Setelah itu, kami kembali berjalan menyusuri trotoar Kota Seoul yang ramah pejalan kaki. Dengan bantuan GPS, kami akhirnya tiba di Istana Changdeokgung. Loh? Bukankah Kampung Hanok Bukchon berada diantara Istana Gyeongbokgung dan Istana Changdeokgung? Betul, tapi lokasi Kampung Hanok Bukchon agak berbelok ke utara, sedangkan untuk menuju Istana Changdeokgung kami dapat dengan mudahnya berjalan lurus mengikuti Yukgong-ro saja. Selain itu, Istana Changdeokgung ada jam tutupnya, sedangkan Kampung Hanok Bukchon tak ada jam tutupnya. Kami masih dapat mengunjungi Kampung Hanok Bukchon di sore hari.

Kami tiba di Istana Changdeokgung sekitar pukul 1 siang. Istana ini relatif lebih sepi dibandingkan Gyeongbokgung. Ketika kami tiba di sana, sebagian besar pengunjung pun tidak menggunakan hanbok, sedikit berbeda dengan kondisi di Gyeongbokgung. Kami sendiri memasuki Istana Changdeokgung dengan membayar tiket karena kami sudah tidak menggunakan hanbok lagi di sana.

Istana Changdeokgung (창덕궁) merupakan salah satu istana yang paling disukai oleh keluarga kerajaan. Istana ini memang bukan pusat pemerintahan, tapi keadaannya yang lebih menyatu dengan alam, membuat para putri raja betah untuk tinggal di sana. Raja Sujong, raja terakhir dinasti Joseon, hidup di dalam istana ini sampai ajal menjemputnya. Bahkan sampai saat ini, anak dan keturunan Raja Sujong masih tinggal di dalam salah satu bagian dari istana ini. Apa istimewanya Istana Changdeokgung? Arsitektur dan dekorasi dari istana ini sangat mirip dengan Istana Gyeongbokgung. Bangunan istana utamanya sendiri sebenarnya tidak terlalu luas, tapi kompleks istana tersebut jadi nampak luaaaas karena menjadi satu dengan Kuil Jongmyo dan Huwon.

Kuil Jongmyo (종묘) merupakan salah satu kuil Konfusius tertua di dunia. Sebagai penguasa yang berkepercayaan Konfusianisne, raja dan ratu dinasti Joseon menyimpan tablet-tablet memorial mereka di dalam ruangan-ruangan yang terdapat di dalam kuil tersebut. Praktis semua upacara keagaaman yang berhubungan dengan nenek moyang keluarga kerjaan dipusatkan di kuil ini. Kami melihat banyak sekali ruangan-ruangan kecil tempat menyimpan tablet, di dalam area kuil tersebut. Konon, dahulu ruangannya lebih panjang dan banyak. Tapi sebagian sudah dihancurkan Jepang untuk membangun jalan. Kemudian, di sana terdapat pula rumah-rumah hanok yang dulu dijadikan tempat tinggal para pemuka agama. Rumah-rumah hanok tersebut agak memanjang dengan banyak kamar dengan halaman atau taman kecil di tengah, lebih mirip seperti penginapan dibandingkan rumah.

Huwon adalah sebuah taman di belakang istana yang terdiri dari pepohonan, kolam dan pendopo-pendopo khas dinasti Joseon. Di sanalah keluarga kerjaan biasa berkumpul, belajar, bermeditasi dan mengadakan perjamuan makan malam. Ada suatu masa di mana hanya raja yang boleh memasuki taman ini, sehingga taman ini disebut juga Biwon atau Taman Rahasia. Untuk memasuki Huwon, kita harus didampingi oleh pemandu wisata resmi sesuai jadwal yang ada. Karena kami tiba di sana di waktu yang kurang tepat, maka kami memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Huwon. Kami tiba di saat sebuah rombongan baru memasuki Huwon. Kami harus menunggu rombongan berikutnya untuk masuk, wahh pasti lama ini. Kalau dari luar sih, terlihat bahwa dedaunan di dalam sana masih hijau, belum berubah warna. Andaikan kami tiba di tengah-tengah musim semi, kami akan menunggu dan mengantri untuk masuk ke dalam Huwon.

Kalau saya lihat, keberadaan Huwon dan Kuil Jongmyo jelas membuat keluarga raja senang tinggal di Istana Changdeokgung. Itulah mengapa, pihak kerajaan terus menerus merestorasi istana ini walaupun istana tersebut pernah hancur pada invasi Jepang, penyerangan Manchu dan insiden internal Korea. Keberadaan tablet nenek moyang membuat keluarga merasa lebih dekat dengan keluarga yang telah wafat. Keberadaan taman dan lingkungan yang asri, membuat istana terasa lebih teduh.

Setelah selesai berwisata di di Istana Changdeokgung, kami berjalan ke arah barat laut menuju Kampung Hanok Bukchon. Kalau di peta sih, masuknya ke daerah Bukchon-ro 11-gil. Tempatnya memang agak masuk ke dalam jalan yang sempit. Kami sempat beberapa kali memperoleh petunjuk jalan yang salah dari warga lokal. Bagi teman-teman yang hendak berkunjung ke Kampung Hanok Bukchon, sebaiknya percaya saja kepada GPS dalam hal ini. Banyak warga lokal yang kurang paham bahasa Inggris :’D.

Kampung Hanok Bukchon (북촌한옥마을) sudah ada sejak 600 tahun yang lalu. Daerah ini dulunya merupakan tempat tinggal pejabat dan bangsawan dari dinasti Joseon. Lebar jalan yang kecil memang menggambarkan keadaan perkampungan Korea di era feodal. Tapi rumah-rumah yang agak kecil sebenarnya merupakan hasil dari penjajahan Jepang pada tahun 1900-an. Untuk memecah dan merusak martabat dinasti Joseon, Jepang membagi-bagi rumah yang pada awalnya besar, menjadi kecil-kecil. Yaaah, pada dasarnya, Jepang-lah yang mengakhiri kekuasaan dinasti Joseon di Korea Selatan. Setelah dinasti tersebut runtuh, praktis runtuh pulalah era feodal di Korea Selatan.

Kami tiba di Kampung Hanok Bukchon sekitar pukul setengah empat sore. Sinar matahari sudah tidak terlalu terasa panas dan angin musim semi bertiup cukup kencang saat itu. Kampung Hanok Bukchon pun tidak terlalu padat :D. Kami mengelilingi area yang penuh dengan rumah tradisional Korea tersebut dengan tetap menjaga ketertiban dan kebersihan karena rumah-rumah yang ada di sana bukan rumah-rumahan. Rumah-rumah tersebut masih dijadikan tempat tinggal oleh warga Korea. Beberapa rumah ada yang dijadikan penginapan dan restoran, tapi bentuk aslinya tetap tidak diubah sehingga bentuknya yaa tetap seperti rumah, tidak seperti toko modern. Karena keasliannya, area ini berhasil memberikan atmosfer perkampungan di era dinasti Joseon. Apalagi ketika terdapat pengunjung berpakaian hanbok lalu lalang di sana.

Sebenarnya, terdapat 2 kampung hanok di Seoul, yaitu Kampung Hanok Bucheon dan Kampung Hanok Namsagol. Keduanya sama-sama terdiri dari rumah-rumah tradisional Korea yang disebut hanok. Hanya saja, Kampung Hanok Namsagol bukanlah tempat tinggal seperti yang Kampung Hanok Bucheon miliki. Hanok-hanok yang Kampung Hanok Namsagol miliki, khusus dibangun pada tahun 1998 untuk memperlihatkan budaya Korea di masa lampau. Kampung Hanok Namsagol tentunya lebih luas dan lebih lenggang dibandingkan dengan Kampung Hanok Bucheon, tapi lokasi yang kurang pas dengan itenari kami dan kekurang-original-an, membuat kami memilih untuk berkunjung ke Kampung Hanok Bucheon saja. Toh lokasi diantara 2 istana yang menjadi tujuan kami di hari tersebut. Pilihan ini tentunya lebih efisien dari segi waktu.

Dari Kampung Hanok Bucheon, kami kembali berjalan ke arah Stasiun Anguk dengan bantuan GPS. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Jongno 3(sam)ga untuk turun di Stasiun Jongno 3(sam)ga. Kemudian kami naik Kereta Seoul Metro jalur 5 (ungu) arah Stasiun Euljiro 4(sa)ga untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park.

Karena hari belum terlalu malam, maka kami kembali berjalan-jalan di pertokoan dan pusat perbelanjaan yang ada di daerah Dongdaemun. Yaaahh inilah keuntungan dari menginap di dekat pusat perbelanjaan ;). Kami pun kembali mampir di pedagang kaki lima sushi yang hampir setiap malam kami kunjungi hehehehe. Setelah makan malam, kami bermaksud mencari baju anak dan menemukan baju-baju berbentuk aneh. Sebenarnya kami sudah melihat ini selama di Seoul tapi baru kali ini kami melihat dengan jelas bahwa baju tersebut adalah baju anjing :’D. Selama di Seoul kami memang sering melihat anjing-anjing lucu yang berjalan menggunakan baju dan aksesoris layaknya manusia. Pemilik anjing-anjing tersebut adalah kaum muda Korea. Melihat menurunnya jumlah bayi dan angka kelahiran di sana, apakah kaum muda Korea beralih ke anjing? Apakah mereka lebih memilih memiliki anjing sebagai pengganti bayi yang sulit mereka miliki? Berdasarkan obrolan saya dengan salah satu warga lokal, ia menganggap bahwa menikah dan memiliki anak itu mahal. Siapa sih yang tak ingin punya anak. Sayang biaya hidup di Korea itu tak murah. Akhirnya, kaum muda sana lebih memilih memundurkan usia menikah mereka. Setahu saya, semakin tua usia kita, semakin sulit memiliki anak. Wah jadi ingat film The Boss Baby (2017). Sekejap, film tak masuk akal tersebut, menjadi sangat masuk akal.

Setelah lelah dan mengantuk, kami berjalan pulang ke penginapan dan langsung beristirahat. Esok hari akan menjadi hari yang lebih santai karena tujuan wisatanya jauh lebih sedikit pada Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon. Hal ini memang disengaja karena kami membawa anak di bawah 2 tahun. Tidak mungkin kalau setiap hari kami berangkat pukul 7 pagi.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong

Setelah lelah hiking di Gunung Seorak pada Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa kemarin, maka pada hari kelima ini kami berangkat agak santai. Perjalanan wisata pada hari keempat kemarin ternyata memang melelahkan sekali. Periode menstruasi istri saya saja sampai kacau setelah pulang dari sana. Maklum, hiking dengan menggedong anak yang hampir berumur 2 tahun tentunya cukup menguras stamina. Faktor kelelahan memang dapat menjadi faktor kacaunya periode mens. Tapi untuk kasus ini, ada hal tak terduga yang harus kami terima dan baru kami ketahui di akhir perjalanan kami, yaitu pada hari kesembilan.

Pagi itu kami mulai kehabisan pakaian hehehehe. Maka, istri saya menyetrika beberapa pakaian yang kemungkinan akan digunakan keluar apartemen. Sisanya cukup dilipat saja, toh tidak kelihatan orang hohohoho ;). Seperti hari-hari sebelumnya, kami menyiapkan bekal sarapan di sana. Setelah siap, kami kembali berjalan menuju Stasiun :D.

Tujuan utama kami hari itu hanya 2 yaitu One Mount Snow Park dan The War Memorial of Korea. One Moung Snow Park yang lebih jauh agak keluar kota, menjadi tujuan pertama kami. Perjalanan di mulai dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari sana, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Chungmoro. Dari Stasiun Chungmoro, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Euljiro3(sam)-ga untuk turun di Stasiun Juyeop yang letaknya cukup jauuuuuuh :D. Kami melewati banyak Stasiun sebelum tiba di sana.

Keluar dari Stasiun Juyeop, kami sudah tidak lagi merasakan suasana Seoul yang metropolis. Stasiun ini memang terletak di Gyeonggi-do, sebuah propinsi terpadat dan terbesar di Korea Selatan yang mengelilingi ibukota Seoul. Di sana, kami melihat taman dan deretan rumah susun. Kami tiba di tengah-tengah jam kerja, dan keadaan di sekitar Stasiun nampak sepi. Sesekali kami melihat manula dan anak-anak lalulalang di sana.

Dari Stasiun, kami berjalan kaki menuju One Mount Snow Park dengan bantuan GPS. Untuk pertama kalinya kami melihat sekolahan SD di Korea, pantas saja sepanjang jalan mulai terlihat anak-anak, meskipun tetap sedikit hitungannya. Di taman yang kami lewati, kami pun bertemu dengan seorang ibu yang sedang mendorong stroller. Sepertinya, daerah pinggir kota seperti inilah yang menjadi tempat tinggal bagi keluarga-keluarga muda.

Udara yang segar dan taman yang hijau, membuat perjalanan kami tidak terasa melelahkan. Kami akhirnya tiba di Hallyuworld. Tempat ini besar dan seperti baru selesai dibuat. Keadaannya sepi sekali, 1 mall seolah jadi milik kami bertiga. Di dalam Hallyuworld inilah terdapat One Mount Snow Park, One Mount Water Park dan aneka pertokoan. Konon pemerintah Korea Selatan ingin menjadikan tempat tersebut sebagai pusat lokasi konser K-Pop. Tempat yang luas ini mungkin nampak sepi karena kami datang di tengah-tengah jam kerja.

Kami naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam One Mount Snow Park dengan menggunakan tiket yang sudah saya beli di Aplikasi Klook sejak masih di Indonesia, biasaaaaa, mumpung ada diskonan ;). Di sana, kami memasukkan tas dan stroller lipat kami ke dalam loker. Barang-barang yang besar dan makanan memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam. Hanya ada pengeculian khusus bagi makanan bayi. Barang-barang yang kecil dan bisa masuk ke kantong ya tetap saya bawa. Tongsis saja masih bisa lolos masuk ke dalam kok ;).

Kemudian, kami menggunakan perlengkapan musim dingin lengkap dari jaket bertudung sampai sepatu. Kalau tidak bawa, kita diperbolehkan menyewa atau membelinya di sana. Kalau tidak mau beli atau sewa juga tak apa, asal kuat dengan suhu minus di dalam sana :’D. Suhu minus? Tempat apa ini? One Mount Snow Park (원마운트 스노우파크) merupakan taman hiburan dengan tema musim dingin. Berbeda dengan area ice skating atau area salju-saljuan yang ada di Indonesia, One Mount Snow Park terdiri dari hamparan es yang luas dengan tata cahaya yang cantik.

Di atas hamparan es tersebut, terdapat mainan anak dan berbagai jenis kereta luncur yang lucu dan unik. Setelah menemani anak kami bermain dengan mainan anak yang ada, kami mencoba kereta luncurnya. Kami dapat meluncur menggunakan kereta luncur tersebut dengan menggunakan sepatu kets biasa. Arena ini memang bukan khusus area ice skating sehingga kita bebas mau masuk pakai jenis sepatu apa saja, tidak harus sepatu khusus ice skating.

Kami melunjur mengelilingi area es dengan mudah. Kereta-kereta luncur tersebut mudah sekali dikendalikan. Setelah bosan meluncur berputar-putar di tengah, kami pun mencoba meluncur melewati terowongan-terowongan panjang yang berada di pinggir arena. Terowongan tersebut sungguh cantik dan menyenangkan untuk dilewati dengan kereta luncur. Kami berputar di sana beberapa kali sampai bosan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, apalagi pengunjung One Mount Snow Park sedang sepi-sepinya, arena es seluas ini seakan jadi milik kami bertiga hehehehe ;).

Awalnya, kami berniat untuk menyewa kereta luncur yang ditarik oleh segerombolan anjing-anjing sejenis siberian huskies. Tapi setelah dipikir-pikir, kami khawatir anak kami jadi ketakutan dan moodnya rusak padahal perjalanan masih panjang.

Kami akhirnya memutuskan untuk naik ke lantai 2 One Mount Snow Park untuk melihat rumah-rumahan dan melihat arena ea dari atas. Anak kami yang sedang belajar jalan, senang berputar di sana. Saya sendiri sudah kelelahan mendorong kereta luncur tadi hehehe.

Setelah itu, kami pergi ke area Outdoor Rainbow Slope yang terdapat di atap gedung. Arena ini merupakan seluncur raksasa yang menggunakan ban pelampung. Mirip dengan seluncur yang ada di kolam renang Water Bom atau Atlantis Ancol, hanya saja yang One Mount Snow Park miliki ini kering dan berada di atas gedung ;D. Meluncur di sana tidak terlalu menakutkan, hanya saja untuk naiknya lumayan melelahkan karena tangganya landai dan tinggi sehingga perjalanan naiknya terasa jauh. Saya rasa, landainya tangga tersebut dimaksudkan agar anak-anak dapat dengan mudah melewatinya.

Di sepanjang tangga tersebut pun terdapat taman-taman cantik penuh karakter kartun yang anak kami sukai. Setelah melewati taman-taman tersebut, anak kami pun dengan senangnya ikut meluncur dari atas ;). Karena kami datang di musim semi, seluncur tersebut terlihat berwarna-warni. Keadaannya mungkin berbeda ketika musim dingin tiba. One Mount Snow Park memang buka di semua musim termasuk musim dingin sekalipun.

Sekitar pukul 1 siang kami keluar dari One Mount Snow Park dan berjalan turun ke lantai 1 Hallyuworld. Kami menyantap bekal kami di dalam pendopo-pendopo yang terletak berjajar di tengah Hallyuworld yang luas tapi sedang sepi-sepinya. Setelah kenyang, kami mengganti popok anak kami, lalu kami langsung kembali berjalan menuju Stasiun Juyeop. Kami tidak terlalu menaruh minat untuk belanja di Hallyuworld hehehehe.

Dari Stasiun Juyeop, kami kembali naik Kereta Seoul Metro jalur 3 (oranye) arah Stasiun Daegok untuk turun di Stasiun Chungmoro. Dari Stasiun Chungmoro, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Seoul Station untuk turun di Stasiun Samgaki.

Dari Stasiun Samgaki, kami berjalan selama kurang lebih 10 menit menuju The War Memorial of Korea (전쟁기념관). Objek wisata ini merupakan markas besar tentara Korea Selatan di era Perang Korea (1950-1953). Perang tersebut dimulai ketika tentara Korea Utara menerobos masuk ke dalam wilayah Korea Selatan. Pada perkembangannya, perang ini ikut pula menyeret beberapa negara sehingga ikut berperang. Korea Utara di dukung oleh mayoritas negara-negara komunis dan sosialis seperti Uni Soviet, Republik Rakyat Cina, Jerman Timur, Polandia dan lain-lain. Sementara itu, Korea Selatan didukung oleh Amerika Serikat, NATO dan negara-negara lain yang mayoritas cenderung menganut ideologi liberal. Perang saudara beda ideologi ini menumpahkan banyak korban di kedua belah pihak. Semua terhenti ketika ditandatangi perjanjian damai pada tahun 1953. Korea pun terbelah dua dengan Zona Demiliterisasi sebagai pemisahnya.

Kedua Korea masih sama-sama waspada satu sama lain sampai sekarang. Warga Korea Selatan sendiri diwajibkan untuk mengikuti wajib militer. Melihat anak muda Korea berpakaian militer bukanlah pemandangan yang ganjil. Kami sendiri sering melihat pemuda-pemuda berumur 20 tahun-an menggunakan seragam militer di dalam kereta.

Kami sendiri datang pada hari dimana Korea Utara melakukan uji coba nuklir. Jadi, masalah konflik antara 2 Korea tersebut sedang menjadi topik hangat di hari tersebut. Tapi tidak ada nuansa ketegangan di sana. Warga lokal seakan sudah biasa membicarakan hal ini tanpa rasa khawatir. Kondisi Seoul sendiri tetap ramai seakan tidak ada apa-apa :).

Harapan akan penyatuan dan perdamaian masih tetap ada di sana. Hal ini terlihat dari patung Saudara yang terletak di dekat salah satu gerbang masuk menuju The War Memorial of Korea. Patung setinggi 18 meter ini menunjukkan seorang tentara Korea Utara berpelukan dengan tentara Korea Selatan di atas Bumi yang retak terbelah 2. Di bagian bawah patung tersebut, kami menemukan berbagai gambar terkait Perang Korea termasuk pasukan PBB yang dulu ikut membantu Korea Selatan.

Di sisi gerbang masuk lainnya terdapat patung Defending the Fatherland yang menunjukkan 2 deret patung yang menunjukkan bagaimana seluruh rakyat Korea Selatan dan Korea Utara dari berbagai kalangan ikut mempertahankan tanah air mereka masing-masing. Kami dapat melihat bagaimana kedua pihak nampak berjuang untuk menang. Sebuah hal yang sampai saat ini belum dapat dicapai oleh kedua belah pihak.

Selain patung-patung yang mencolok tersebut, terdapat berbagai monumen lain yang dikelilingi oleh taman yang indah. Pada salah satu bagian dari taman tersebut, terdapat kolam yang dihuni oleh ikan-ikan yang besar. Pada area sekitar kolam, terdapat banyak burung yang hinggap dan berkumpul. Kami beristirahat dan menyantap bekal kami di kursi-kursi yang terletak di pinggir kolam. Setelah kenyang, anak kami masih asik bermain dengan burung dan ikan. Apalagi ada yang menjual makanan binatang di sana, semakin betahlah anak kami bermain sambil memberi makan ikan dan burung. Yah, sah sudah, area menjadi lokasi favorit anak saya di hari tersebut :’D.

Akhirnya, istri dan anak kami bermain di area taman, sedangkan saja berjalan terus ke dalam. Dari area taman, sudah terlihat bangunan utama The War Memorial of Korea yang dipenuhi oleh bendera-bendera dari berbagai negara yang terlibat Perang Korea. Bangunan tersebut merupakan ruangan eksibisi yang berisikan informasi dan benda-benda bersejarah terkait perang-perang yang pernah bangsa Korea hadapi. Mulai dari zaman prasejarah, invasi Jepang, sampai Perang Korea. Di dalam sama terdapat pula informasi mengenai tokoh-tokoh militer dan pahlawan yang Korea Selatan miliki selama Perang Korea berlangsung. Andaikata hari belum mulai sore, saya pasti berminat untuk melihat semua ruangan eksibisi di sana. Tapi sayang, saya tiba di saat The War Memorial of Korea hampir tutup. Saya langsung berjalan bagian eksebisi luar yang terletak di samping bangunan utama The War Memorial of Korea. Di sanalah terdapat jip, tank, kapal laut, helikopter, pesawat temput, rudal dan peralatan militer besar lain yang pernah terlibat di dalam Perang Korea. Saya dapat masuk ke dalam beberapa kendaraan tempur ada di sana. Sebuah ruang eksibisi yang kereeeeen :D. Yaaah, ruang eksibisi ini memang “laki-laki banged”. Sebagian besar pengunjung yang berlama-lama di sana adalah kaum Adam. Saya sendiri berputar dan berfoto di sana, sampai The War Memorial of Korea dinyatakan tutup, hehehehehe.

Hari sudah menjelang sore tapi matahari belum sepenuhnya terbenam. Kami belum memutuskan hendak berkunjung ke mana. Yang pasti acara berikutnya adalah acara bebas. Kalau dilihat dari posisi, The War Memorial of Korea sebenarnya dekat dengan Itaewon. Tapi berhubung kami sudah berkeliling di sana pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo, akhirnya kami memutuskan untuk pergi menuju Myeong-dong.

Dari Stasiun Samgaki, kami naik Kereta Seoul Metro jalur 4 ( biru muda) arah Stasiun Seoul untuk turun di Stasiun Myeong-dong. Sebenarnya, ini adalah kedua kalinya kami mampir di Stasiun Myeong-dong. Pada Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road, kami tidak berjalan ke arah pusat pertokoan, melainkan langsung menuju Namsan. Nah, kali ini kami berjalan ke arah pusat pertokoan yang dipenuhi oleh barang-barang kaum Hawa :’D. Di sana, mayoritas pedagangnya adalah pedagang kosmetik dan atribut wanita.

Di Seoul sendiri, banyak brand kosmetik dan perawatan tubuh yang memiliki cabang di mana-mana. Tapi, antara 1 cabang dengan cabang yang lain ternyata memberikan promosi yang berbeda-beda. Di Myeong-dong sendiri, promosinya bukanlah yang paling murah di segala tipe brand. Tapi di sanalah semua toko memiliki cabang yang berdekatan dan sangat royal dalam memberikan sample gratian hehehehe. Selama kami berputar-putar di sana saja, tas kecil saya sudah lumayan penuh dengan barang sample ;’D.

Di antara toko-toko tersebut, terdapat toko musik yang menjual album K-Pop. Kami pun membelikan album-album K-Kop keponakan saya. Sejak dari Indonesia, kami sudah dinfokan tentang lokasi toko yang menjual dan album yang dititipi, lengkap dengan fotonya. Kalau tidak ada info seperti itu, yah wassalam, mungkin tidak ketemu :’D. Kami membeli pernak pernik K-Pop di dekat Exit 7 Stasiun Myeong-dong, dekat area toko kaus kaki.

Hari sudah malam dan kami mulai berjalan menuju Stasiun Myeong-dong untuk naik Kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Sebelum pulang ke penginapan dan beristirahat, kami singgah terlebih dahulu di kedai sushi kaki 5 untuk makan malam. Ini menjadi kedai kaki 5 halal yang biasa kami datangi karena lokasinya yang tak jauh dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Setelah makan malam, kami pulang, mandi, sholat dan tidur. Esok hari pada Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung akan menjadi hari yang lebih padat dan melelahkan ;).

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon