The Hunt (2020)

The Hunt (2020) mengisahkan perburuan manusia oleh sekelompok orang kaya. Entah apa alasannya, terjadu penculikan terhadap sekelompok orang yang tidak saling kenal. Mereka kemudian dilepaskan di sebuah area misterius untuk diburu.

Para memburu menggunakan berbagai taktik. Mulai dari yang langsung tembak menggunakan senjata api, granat dan panah. Sampai ada yang melakukan penyamaran sebelum membunuh demi kesenangan semata.

Perlahan, siapa dan kenapa semua ini terjadi dapat terkuak. Para pemburu yang pada awalnya seolah mengetahui segalanya, ternyata melakukan kesalahan fatal. Kesalahan fatal yang tidak disadari sejak awal. Sesuatu yang membuat acara perburuan mereka kacau balau.

Bagaimana para pemburu melakukan perburuan ada yang menarik, tapi ada pula yang klise dan membosankan. Tapi saya suka bagaimana para karakter antagonis termakan permainan mereka sendiri. Pada akhirnya, The Hunt (2020) memang berhasil memberikan akhir yang memuaskan.

Sayang unsur misteri pada film ini seilah menguap dan kurang menarik pada pertengahan film. Saya sendiri menjadi kurang peduli mengenai alasan di balik perburuan tersebut.

Maka, saya rasa The Hunt (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah, dapat dijadikan selingan setelah WFH ;).

Sumber: http://www.uphe.com

My Little Pony: A New Generation (2021)

Masih ingat dengan Putri Twilight Sparkle dan kawan-kawan pada My Little Pony? Franchise My Little Pony telah beberapa kali mengalami reinkarnasi dan sukses menarik perhatian anak-anak. Dengan tema persahabatan yang terus diusung, Twilight dan kawan-kawan berhasil menjadi idola yang baik.

Pada 2021 ini, franchise My Little Pony melakukan reinkarnasi yang cukup berani. Mereka mencoba mengubah latar belakang beserta karakter utamanya dengan lebih frontal. Hal ini tentunya dapat memberikan peluang bagi cerita yang lebih segar dan berbeda.

Twilight dan kawan-kawan tidak akan hadir secara langsung pada My Little Pony: A New Generation (2021). Latar belakang film My Little Pony ini adalah keadaan dunia jauh di masa setelah era Twilight dan kawan-kawan. Sebuah era dimana persahabatan Twilight dan karakter My Little Pony lainnya telah menjadi legenda. Sayang, legenda Twilght dan kawan-kawan ini lama kelamaan sudah merubah menjadi mitos. Sebuah mitos yang diragukan kebenarannya.

Kok bisa? Agak berbeda dengan dunia My Little Pony yang lama. Dunia My Little Pony yang baru ini adalah dunia dimana pony tidak lagi bersatu dan hidup berdampingan. Pada dasarnya pony terbagi 3 yaitu pony bumi, unicorn dan pegasus. Semua hanya karena perbedaan ciri fisik dan legenda akan kemampuan dan kebiasaan yang berbeda. Perbedaan yang berhasil memecah belah para pony.

Sang karakter utama hadir sebagai seorang pony yang percaya bahwa era Twilight dan kawan-kawan dapat terjadi kembali. Ia percaya bahwa semua pony dapat bersahabat tanpa saling curiga.

Belakangan, semakin terlihat bahwa semua pony sama-sama hidup dibalik rasa curiga dan berbagai kebohongan. Sesuatu yang dapat diperbaiki hanya dengan persahabatan. Mirip seperti pendahulunya, My Little Pony: A New Generation (2021) berbicara lantang mengenai persahabatan.

Hanya saja, My Little Pony: A New Generation (2021) didukung oleh animasi yang sangat cantik. Saya suka sekali dengan animasinya yang lebih 3 dimensi dan sangat halus. Untuk film animasi keluaran 2021, film ini terbilang bagus sekali kualitas animasinya.

Sayang cerita film ini mudah ditebak dan ada beberapa bagian film yang agak bertele-tele. Semua karakternya dibuat relatif baik semua. Tidak ada karakter yang mutlak jahat pada film ini. Yang ada hanyalah karakter yang khilaf saja hehehehehehe. Yahhhh, pada intinya semua hanyalah salah faham saja.

Secara keseluruhan, film My Little Pony generasi terbaru ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sementara ini, anak saya masih tetap lebih senang dengan Pinky Pie, karakter My Little Piny generasi yang sebelumnya. Karakter-karakter pada My Little Pony: A New Generation (2021) masih belum ada yang bisa menggantikannya.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com

Serial Squid Game

Serial Ojing-eo Geim atau Squid Game mengisahkan kompetisi maut dengan hadiah yang sangat besar. Pemenang kompetisi ini akan kaya mendadak. Sedangkan sisanya akan menemui ajal. Permainan yang dimainkan pada kompetisi tersebut adalah permainan klasik anak-anak Korea. Ada beberapa permainan yang saya sendiri tidak kenal. Squid game sendiri merupakan permainan yang dimainkan pada akhir konpetisi. Sekilas permainannya seperti galaksin atau gobak sodor. Selain itu terdapat pula permainan anak-anak lain seperti kelereng, tarik tambang dan lain-lain.

Kisah mengenai bagaimana sekelompok orang saling bunuh demi meraih kemenangan, sudah banyak diangkat menjadi cerita film. Yang spesifik mengangkat tema permainan anak pun sudah pernah hadir melalui As the Gods Will (2014). Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Serial Squid Game. Film seri ini sangat berbeda dengan As the Gods Will (2014) dan film-film bertemakan survival lainnya.

Dari segi visual saja, Squid Game tampil unik dengan penampilan peserta dan penyelenggara yang unik. Latar belakang pulau tempat permainan berlangsung pun berhasil menambah kesan misterius tanpa harus terus menerus menggunakan warna-warna gelap.

Dari segi cerita, permainan anak-anak hanyalah bagian dari sebuah intrik besar yang Squid Game sajikan. Bagaimana permainan berlangsung, mulai dari pemilihan tim sampai urutan bermain berhasil menghasilkan konflik diantara peserta. Di sela-sela permainan pun terjadi berbagai drama yang menarik untuk diikuti. Setiap karakter pada film seri ini bisa saja saling tikam setelah sebelumnya saling tolong. Siapapun bisa saja mendadak menjadi malaikat, dan siapapun bisa pula mendadak berubah menjadi iblis. Wah keren deh pokoknya, saya salut dengan bagaimana konflik pada serial ini selalu tampil segar dan memikat.

Merujuk berbagai hal di atas, sopasti saya ikhlas untuk memberikan serial ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial Squid Game sudah jelas berhasil menjadi kisah permainan maut favorit saya.

Sumber: squidgameofficial.com

Serial Lupin

Kalau Inggris memiliki Sherlock Holmes, maka Prancis memiliki Arsène Lupin. Sedikit berbeda dengan Holmes, Lupin merupakan seorang pencuri profesional yang pandai menyamar. Lupin menggunakan kemampuannya untuk membasmi tokoh-tokoh yang dianggap lebih jahat dari dirinya.

Tokoh karangan Maurice Leblanc ini, susah beberapa kali diangkat ke dalam bentuk film. Namun saya rasa Serial Lupin merupakan yang paling unik. Dalam serial ini, tokoh Lupin memang sebuah fantasi karangan Leblanc. Kecerdasan dan beberapa taktik Lupin benar-benar dipraktekkan oleh Assane Diop (Omar Sy).

Sejak kecil Assane memang berulang-ulang membaca kisah Lupin. Ia pun hafal sekali dengan berbagai kisah Lupin si pencuri. Sangat mirip dengan Lupin, Assane mahir dalam menipu, mencuri, dan menyamar. Tapi semua itu tidak selalu ia pergunakan untuk menjadi kaya raya. Ada dendam dan misteri dari masa lalu yang ingin Assane bongkar.

Saya suka dengan tipu daya yang Assane lakukan. Semua tipu daya yang dapat ia lakukan sekarang, berhubungan dengan pengalamannya di masa lalu. Alur cerita yang dibuat berpindah-pindah antara Assane di masa kini dengan Assane di masa lalu sama sekali tidak membingungkan. Semua saling mendukung dan membuat cerita semakin menarik.

Misteri yang hendak Assane bongkar pun berhasil membuat saya penasaran. Perlahan, semua tokoh yang terlibat pada kasus kematian ayah Assane terkuak. Tapi masalah tidak semakin terurai, justru semua semakin terlihat seperti benang kusut. Yaaaah, Lupin memang mengajak penontonnya sedikit berpikir :).

Saya ikhlas memberikan serial berbahasa Prancis ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Gara-gara serial ini, akhirnya saya jadi ikut sedikit membaca kisah Arsène Lupin :’D.

Sumber: http://www.gaumont.fr

Serial Lamput

Lamput merupakan serial kartun anak produksi India yang biasa diputar di Channel Cartoon Network. Dikisahkan bahwa karakter Lamput lahir dari sebuah eksperimen di Laboratorium. Dengan kemampuan berubah wujud, Lamput berhasil kabur dari Laboratorium. Kemudian Skinny & Specs diutus pihak Laboratorium untuk menangkap Lamput dengan cara apapun. Adegan kejar mengejar antara Lamput dengan kedua utusan Laboratorium inilah yang menjadi topik utama dari serial Lamput.

Tidak hanya mampu berubah wujud, Lamput pun cukup cerdik sehingga Specs & Skinny selalu gagal menangkapnya. Hadir dengan animasi yang sederhana dan tanpa dialog, adegan kejar mengejar ini terasa enak untuk diikuti, baik bagi penonton dewasa maupun penonton cilik.

Kalau dilihat dari segi pesan moral, Lamput memang hampir tidak memiliki pesan moral apapun, hehehehe. Hanya saja terkadang ada beberapa episode yang menunjukkan persahabatan antara Lamput dengan kedua orang yang memburunya. Saya tidak melihat ada karakter jahat di sana. Semua hanyalah hiburan segar yang dapat dijadikan selingan di sela-sela kesibukan.

Saya merasa terhibur oleh Lamput. Kisahnya lebih menyenangkan untuk lihat dibandingkan serial-serial lainnya yang sejenis. Saya rasa Lamput layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini mampu memberikan hiburan segar dengan sedikit pelajaran moral di dalamnya.

Sumber: lamput.cartoonnetworkasia.com

Serial The Amazing World of Gumball

Serial The Amazing World of Gumball atau sering disingkat Gumball saja, mengisahkan Gumball Watterson (Jacob Hopkins) lengkap dengan dunianya yang agak absurd. Gumball sendiri adalah seekor anak kucing yang berwarna biru. Ia sangat dekat dengan adik angkatnya yang merupakan seekor ikan mas, Darwin Watterson (Terrell Ransom Jr.). Mana ada kucing berwarna biru? Ikan mas kok punya kaki? Jangan pikirkan itu, karena akan banyak hal-hal yang jauh dari akal sehat pada serial ini.

Anehnya, keabsurdan dunia Gumball bukanlah merupakan sebuah keburukan. Serial ini berhasil menampilkan sebuah dunia yang menggabungkan berbagai gaya dan desain dari berbagai objek. Mulai dari stop motion, puppet CGI, animasi Adobe Flash, animasi tradisional sampai live action. Gaya animasi nano-nano ala Gumball ini memikat dan menjadi salah satu keunggulan serial tersebut.

Gaya animasi yang unik tersebut disertai dengan cerita yang absurd tapi lucu :’D. Komedi memang menjadi daya tarik Gumball. Terkadang terdapat komedi gelap dan sarkasme di sana, bukan hanya drama komedi saja. Semuanya menarik untuk ditonton sehingga penonton dewasa pun masih dapat menikmati serial ini.

Apakah Gumball hanya bercerita mengenai komedi dengan grafis dan gaya yang unik saja? Dibalik semua itu, sebenarnya Gumball mampu mengangkat topik yang cukup serius seperti cyber bullying, kesehatan mental, pernikahan, filosofi, toleransi, politik dan lain-lain. Topik-topik tersebut memang ditampilkan dengan halus, tapi tetap saja harus ada orang dewasa yang mendampingi penonton cilik ketika menonton serial ini.

Biasanya saya kurang suka dengan film yang absurd, agak aneh dan tidak jelas arahnya. Tapi kali ini, Gumball berhasil menarik perhatian saya. Serial ini pun pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya ‘Bagus”.

Sumber: gumball.cartoonnetworkasia.com

Serial The Loud House

A casa dei Loud atau The Loud House adalah serial animasi yang mengisahkan keseharian sebuah keluarga besar. Keluarga tersebut adalah keluarga Loud yang sangat padat karena memiliki 11 orang anak. Masing-masing anak mekiliki minat dan bakat yang berbeda. Ada yang gemar mengikuti mode, gemar bermusik rock, gemar dengan ilmu pengetahuan, gemar melakukan kegiatan feminin, gemar berolahraga, gemar melucu, gemar melakukan kegiatan pertukangan, gemar bergaya gothic dan lain-lain.

Wah, banyaknya kepala dengan minat dan bakat yang jauh berbeda begitu, pastilah sering terjadi kegaduhan. Dari kesebelas anak-anak tersebut, ada 1 anak yang paling terdampak dengan segala kegaduhan tersebut. Anak tersebut adalah Lincoln Loud (Asher Bishop / Grant Palmer / Collin Dean) karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga Loud. Kesepuluh adik dan kakak Lincoln adalah anak perempuan.

Kemudian, di sana terdapat pula tingkatan perbedaan umur yang membedakan tingkat kedewasaan dari masing-masing karakter. Kekuatan dari masing-masing anak keluarga Loud terlihat kuat. Hal ini berhasil mendukung berbagai alur cerita yang penuh komedi dan menarik untuk diikuti oleh penonton dari berbagai usia.

Kalau dilihat dari segi pesan moral. Serial The Loud House mengajarkan bagaimana perbedaan tidak sertamerta membuat perpecahan. Pertengkaran memang wajar untuk terjadi. Potensi perpecahan sangat mungkin terjadi di dalam keluarga Loud. Namun semua dapat diselesaikan dengan kekeluargaan.

Hadir dengan gaya animasi yang unik, The Loud House semakin tidak membosankan untuk dilihat. Ditambah lagi dengan kelebihan-kelebihan lainnya, maka serial ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Hanya saja saja terdapat sedikit bagian dari serial ini yang tidak sesuai dengan budaya konservatif Indonesia. Ada baiknya kalau kita tetap mendampingi anak-anak kita ketika menonton The Loud House. Toh serial ini masih dapat dinikmati oleh penonton dewasa ;).

Sumber: http://www.nick.com

Serial Nussa

Serial animasi anak Nussa merupakan salah satu film yang anak-anak saya tonton. Pada setiap episodenya, serial ini mengisahkan keseharian seorang anak muslim yang bernama Nussa (Muzakki Ramdhan). Nussa hidup bersama ibunya yang dipanggil Umma (Jessy Milianti), dan adiknya yang bernama Rarra (Aysha Razaana Ocean Fajar).

Dari berbagai tokoh yang ada, Nusa paling sering berinteraksi dengan Rarra. Rarra yang polos dan kekanakkanakan sangat cocok ketika bertemu Nussa yang dewasa. Tingkah Rarra menjadi nilai plus serial ini karena beberapa kelucuan memang dipicu oleh Rarra.

Ketika terdapat masalah, Nussa sering kali hadir dengan solusi dan nasehat beserta Fiman atau Hadist terkait. Terkadang, Nussa pun memperoleh masukan dari Umma dan karakter lain di serial ini. Semua kisahnya terbilang mudah dimengerti dan berhasil memberikan pendidikan islam tanpa terlihat menggurui.

Fokus serial Nussa sepertinya memang pendidikan anak muslim. Jadi sangat masuk akal kalau karakter-karakternya menggunakan baju muslim. Kemudian mayoritas karakter-karakternya pun beragama Islam. Tak jarang Nussa menghadirkan berbagai doa yang sebaiknya seorang muslim ucapkan sebelum melakukan sesuatu.

Dari sudut pandang saya yang seorang muslim, Nussa tentunya menjadi sebuah serial yang mendidik bagi keluarga saya. Ini bukan serial untuk para calon teroris yah. Sama sekali tidak ada kekerasan di sana. Saya rasa rekan-rekan non muslim pun masih bisa menonton film seri ini. Banyak sekali pesan moral yang diajarkan di sana. Tidak semumuanya terkait pendidikan Islam saja.

Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Nussa nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Semoga serial ini dapat kembali berlanjut tanpa disangkutpautkan oleh konflik politik identitas yang melanda Indonesia :).

Sumber: http://www.nussaofficial.com

F9: The Fast Saga (2021)

Terus menerus menonton film-film franchise Fast & Furious adalah salah satu kebodohan yang terus saya lakukan. Aahhh mungkin ada kalanya saya hanya ingin menonton film yang sarat aksi tanpa harus banyak berfikir. Toh selama ini film-filmnya Fast & Furious menampilkan adegan aksi yang tidak murahan dengan cerita yang lumayan.

Namun bagaimanapun juga, saya sadar betul bahwa film-film tersebut sudah semakin jauh melenceng dari tema awalnya. Dari yang pada awalnya mengangkat tema kriminal di arena balap liar. Kemudian temanya semakin melenceng ke arah tema terkait kriminal yang semakin besar dan besar dan besar sampai keamanan global. Aksi yang ditampilkan pun semakin dibuat bombastis sampai hampir tidak masuk akal.

Yaahhh, pada Fast & Furious 9 (2021) atau F9: The Fast Saga (2021) ini, semua sudah mencapai titik puncaknya. Sebagian adegan aksinya terbilang hampir tidak masuk akal. Sementara itu, sebagian lagi sama sekali tidak masuk akal wkwkwkwkwk. Sumpah, saya ini sedang menonton film superhero atau film apa x_x. Meskipun semua adegan aksinya ditampilkan dengan halus dan nyata, yah tetap saja …. sungguh terlalu … :’D.

Kalau dilihat dari segi cerita pun, F9: The Fast Saga (2021) nampak dangkal sekali. Sebuah kisah yang klise dan sudah banyak dikisahkan oleh film-film aksi lainnya. Dominic “Dom” Torreto (Vin Diesel) dan kawan-kawan harus berburu 2 komponen alat super canggih yang disebut Proyek Ares. Adik Dom pun memimpin sekelompok tentara untuk memperoleh alat tersebut. Konon, Proyek Ares dapat disalahgunakan untuk menguasai dunia. Lhoh, Dom tiba-tiba punya adik lagi tho? Yang lebih wow lagi, katakter yang dulu dikabarkan tewas pada film Fast & Furious sebelumnya, tiba-tiba … sim salabim abrakadabra … bisa hidup lagi setelah disulap pak sutradara.

Beruntung terdapat karakter Roman (Tyrese Gibson) yang jenaka. Tanpa kehadiran karakter ini, sopasti saya sudah berhenti menonton di pertengahan film. Karakter yang satu ini bahkan secara tersirat menyatakan bahwa semua yang tim Dom lakukan adalah sesuatu yang ajaib. Keajaiban yang sayangnya mulai membosankan.

Adegan aksi yang jauh dari akal sehat dan jalan cerita yang minus, membuat F9: The Fast Saga (2021) hanya layak untuk memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Kurang Bagus”. Mungkin sudah saatnya saya berhenti menonton film-filmnya Fast & Furious.

Sumber: http://www.universalpictures.co.uk/micro/fast9

The Hunt for Red October (1990)

Saya mengenal nama Tom Clancy dari beberapa video game besutan Ubisoft yang belum pernah saya mainkan, tidak punya console-nya, hehee. Yang pasti temanya pastilah soal militer. Video-video game tersebut tentunya dibuat berdasarkan novel karangan Tom Clancy. Tidak hanya video game, novel Opa Clancy juga sudah lama merambah dunia film layar lebar. Saya sendiri pernah membahas Jack Ryan: Shadow Recruit (2014), salah satu film yang dibuat berdasarkan novel Tom Clancy. Tapi Jack Ryan: Shadow Recruit (2014) bukanlah yang pertama. The Hunt for Red October (1990) merupakan film pertama yang dibuat berdasarkan novel Tom Clancy dengan judul yang sama. Film ini menampilkan 2 nama besar pada era tahun 90-an yaitu Sean Connery & Alec Baldwin.

Sean Connery berperan sebagai Marko Ramius, seorang Kapten kapal selam Uni Soviet yang sangat terkenal di dunia militer. Ia sangat dihormati dan berhasil melatih kapten-kapten kapal selam handal bagi Uni Soviet. Dengan reputasinya yang gemilang, Ramius diberi kepercayaan untuk memimpin para awak dari kapal selam terbaru Uni Soviet, yaitu Red October.

Sementara itu Jack Ryan (Alec Baldwin) merupakan analis intelejen CIA yang cerdas. Ia melihat bahwa terdapat kemungkinan bahwa Ramius bermaksud untuk membelot dari Uni Soviet. Menurut Ryan, Red October hendak Ramius berikan kepada pihak Amerika Serikat yang pada saat itu menjadi rival terberat Uni Soviet.

Latar belakang film ini adalah era perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet sebelum era kepemimpinan Mikhail Gorbachev. Kedua negara bersaing keras dalam berbagai bidang, tapi tidak secara langsung berperang saling baku hantam. Unsur politis ini pun berhasil diolah menjadi sesuatu yang menarik pada The Hunt for Red October (1990). Politisi dari kedua belah pihak saling berargumen mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi di Samudra Atlantik. Kesalahan berbicara sedikit saja dapat memicu perang dunia ketiga.

Apa yang sebenarnya terjadi di Samudra Atlantik? Ramius melakukan beberapa aksi di luar perintah atasannya. Akibatnya Uni Soviet Mengirim hampir semua kapal selamnya untuk mengejar Red October yang dipimpin Ramius. Pihak Amerika sendiri kebingungan. Apakah Ramius nekat hendak melakukan aksi agresi militer ke dalam wilayah Amerika Serikat? Apakah Ramius datang dengan damai dan hendak bergabung dengan Amerika Serikat?

Selain itu, aksi Ramius tentunya berpotensi menimbulkan pemberontakan di antara para awak Red October. Belum lagi terdapat agen KGB di dalam Red October. Penghianatan di dalam dan luar Red October memang menghantui film ini

Berbagai konflik yang ada berhasil ditampilkan dengan seru dan mudah dimengerti. Walaupun terbilang minim adegan perang, The Hunt for Red October (1990) berhasil memberikan atmosfer ketegangan yang menarik disepanjang film.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan The Hunt for Red October (1990) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantas saja setelah The Hunt for Red October (1990), novel Tom Clancy terus dibuat versi layar lebarnya.

Sumber: http://www.paramount.com