Inception (2010)

Inception (2010) merupakan karya Christopher Nolan yang berbicara mengenai dunia mimpi. Sebagai pengantar, saya akan menjelaskan mengenai dunia mimpi yang ada pada Inception (2020) tanpa memberikan spoiler. Ok berdasarkan pengalaman saya menontkn Inception (2010) berkali-kali, berikut yang dapat saya bagi mengenai dunia mimpi ala Nolan. Jadi, dikisahkan bahwa pihak militer berhasil melalukan uji coba terkait mimpi. Dengan menggunakan sebuah obat penenang tertentu, seseorang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik inipun, beberapa orang dapat berbagi mimpi dan seolah-oleh memiliki kehidupan lain di alam mimpi sana. Ukuran waktu pada dunia mimpi jauh lebih lama dibandingkan ukuran waktu pada dunia nyata. Seseorang bisa saja bermimpi hanya sehari, namun ia merasakan hidup di dunia mimpi selama beberapa hari.

Ketika seseorang tewas di dalam dunia mimpi, ia hanya akan terbangun, tidak ada yang fatal di sana. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berusaha melewati batasan-batasan yang sudah ditetapkan di dalam mimpi yang ia jalani. Ia bisa saja tersesat di dalam dunia limbo dan tidak akan kembali bangun di dunia nyata. Dunia limbo adalah dunia absurd yang sangat menyesatkan. Seseorang tidak akan dapat membedakan apakah ia sedang ada di dunia mimpi atau dunia nyata.

Di dalam sebuah mimpi, bisa saja tertanam atau ditanamkan mimpi-mimpi lain. Semuanya hadir dalam bentuk lapisan alam bawah sadar yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan inilah yang membuat seseorang dapat tersesat. Namun terkadang, semakin masuk ke dalam lapisan bawah sadar seseorang, semakin banyak pula rahasia yang dapat diperoleh.

Rahasia merupakan hal yang ingin diambil oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan komplotannya. Dom memiliki kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan alam bawah sadar seseorang. Dengan demikian, ia dapat terus masuk ke dalam alam bawah sadar sampai memperoleh rahasia yang hendak ia curi.

Pada dasarkan Inception (2010) mengisahkan petualangan Dom dan kawan-kawan dalam mengambil sebuah rahasia yang sangat sulit. Dalam perjalanannya, ia pun secara tidak sadar, menggali trauma terbesar dalam hidupnya. Hal inipun memberikan berbagai pertanyaan mengenai realitas yang Dom hadapai sepanjang durasi Inception (2010) berlangsung.

Film yang satu ini sungguh mind-blowing bagi saya. Menonton Inception (2020) berkali-kali tidak membuat saya mati kebosanan. Jalan cerita film ini sangat menarik. Meskipun dibuat terpecah-pecah, penjelasan mengenasi dunia mimpi sebenarnya cukup jelas dan mudah untuk dipahami.

Ditambah dengan musik dari Hanz Zimmer yang ciamik dan pas, semuanya nampak menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi special effect dan adegan aksi yang keren, semua seakan menambah deretan keunggulan Inception (2010) di mata saya.

Bagi saya, Inception (2010) layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Nolan memang identik dengan film-film yang mengajak para penontonnya berfikir. Hal ini tentunya terjadi pula pada Inception (2010). Banyak orang yang memperdebatkan mengenai bagian akhir dari Inception (2010). Memang akhir film ini sedikit ambigu dan memberikan sesuatu hal yang dapat diperdebatkan. Bagi saya, perdebatan itu merupakan bagian yang menyenagkan untuk difikirkan. Lagipula, bagian akhir film bukanlah hal yang 100% menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak :).

Sumber: http://www.warnerbros.com & http://www.inceptionmovie.uk

Bypass Road (2019)

Bypass Road atau Jalan Bypass adalah jalan yang mengubah hidup Vikram Kapoor (Neil Nitin Mukesh) selamanya. Di jalan itulah ia mengalami kecelakaan mobil. Sejak itu, ia dikabarkan menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Kemudian mulai saat itulah ia mengetahui berbagai rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui. Vikram pun terlibat pada sebuah kasus kriminal yang ternyata berhubungan pula dengan kasus kriminal lainnya. Kurang lebih itulah awal dari kisah Bypass Road (2019), sebuah film India yang memiliki banyak sekali misteri.

Saya tidak dapat menghitung, ada berapa tumpukan misteri yang membalut Bypass Road (2019). Kalau dipikir-pikir, semua misteri tersebut sangat menjanjian dan sulit untuk ditebak. Sepanjang film, saya pun diajak menerka-nerka, mau dibawa kemana arah film ini. Saya harus akui bahwa misterinya keren dan berhasil mengecoh saya.

Sayang, penyajian misteri-misteri tersebut agak kurang terarah. Film ini terkesan kewalahan untuk menyampaikan berbagai lapisan misteri yang mengelilingi kehidupan Vikram. Belum lagi adegan thriller ala film-film slasher tahun 90-an yang kurang menegangkan dan memiliki persentase kebetulan yang terbilang tinggi :’D.

Thriller dan misteri terus menerus mendominasi Bypass Road (2019). Dimana joget-jogetannya?? Syukurlah adegan joget ditampilkan dengan halus dan tidak mengada-ada. Tidak ada adegan joget di balik pohon kok. Semua adegan musikal pada film ini terbilang proporsional. Cocoklah bagi saya yang kurang suka dengan adegan joget-joget ala Bollywood.

Di atas kertas, Bypass Road (2019) sebenarnya memiliki ide yang menarik. Namun penyampaiannya terasa kurang bagus. Dengan demikian saya ikhlas untuk memberikan Bypass Road (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pvrpictures.com

Serial Mira, Royal Detective

Serial kartun anak yang mengambil latar belakang kerajaan, biasanya memiliki putri atau pangeran sebagai tokoh utamanya. Hal tersebut tidak berlaku pada Serial Mira, Royal Detective. Sang pangeran justru hadir sebagai tokoh pendukung. Mira (Leela Ladnier) merupakan anak dari punggawa Kerajaan Jalpur di abad ke-19. Dikisahkan bahwa Jalpur sendiri terletak di daerah India, Asia Tengah. Maka latar belakang serial anak yang satu ini adalah kerajaan ala ala Bollywood-laaah.

Apa istimewanya Mira? Ia memiliki kecerdasan dan berbagai nilai kebaikan lain yang patut untuk dicontoh. Pihak istana pun mengangkat Mira sebagai detektif kerajaan. Mira berhasil mengajak penonton ciliknya untuk memecahkan berbagai kasus yang ia hadapi.

Dengan menonton Mira, Royal Detective, anak-anak diajak untuk berfikir dengan teratur dan mengikuti petunjuk yang ada. Semuanya cukup mudah untuk diikuti oleh anak-anak. Kasusnya Mira memang bukan kasus kompleks yang rumit seperti benang kusut.

Mira, Royal Detective layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Meskipun topiknya terkadang terkait tindak kriminal, serial ini tidak mengandung kekerasan dan hal-hal negatif lainnya kok. Aman untuk ditonton oleh anak-anak.

Sumber: disneynow.com/shows/mira-royal-detective

Serial Mighty Little Bheem

Sejak tahun 2008, karakter Chotta Bheem menjadi salah satu karakter andalan Green Gold Animation, sebuah perusahaan film India. Serial Chotta Bheem telah melahirkan beberapa film lepas dan spin-off. Saya sendiri tidak terlalu terkesan dengan hasil dari franchise Chotta Bheem kecuali satu. Apa itu? Serial Mighty Little Bheem tentunya.

Kalau saya hitung-hitung, Serial Mighty Little Bheem merupakan spin-off keempat dari Serial Chotta Bheem. Biasanya, Chotta Bheem digambarkan sebagai anak-anak yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Ia pun menggunakan kekuatanya untuk mengalahkan tokoh jahat yang berupa manusia dan siluman.

Pendekatan yang dilakukan pada serial yang satu ini agak berbeda dengan film-film Chotta Bheem lainnya. Bheem masih balitadan tinggal di gubuk sederhana bersama ibunya. Suasana pedesaan India tentunya menjadi latar belakang Bheem si balita super kuat.

Kali ini ia menggunakan kekuatan supernya untuk melakukan hal-hal yang lebih sederhana. Dalam prosesnya, kelucuan terjadi dimana-mana. Saya pun beberapa kali tertawa melihat tingkah Bheem dan kawan-kawan. Serial yang satu ini memang sama sekali jauh dari kata serius.

Komedi menjadi cara Mighty Little Bheem menyampaikan pesan positif bagi para penontonnya. Ditambah dengan animasi yang menawan, Mighty Little Bheem berhasil menjadi salah satu film seri anak yang berhasil memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.mightylittlebheem.com

Drishyam (2015)

Sebagai kepala keluarga, seorang ayah tentunya memiliki naruri untuk melindungi anggota keluarganya. Dalam beberapa kasus, seorang ayah bahkan rela melakukan tindak kriminal yang bertentangan dengan hukum. Hal itulah yang menjadi topik utama dari Drishyam (2015).

Dikisahkan bahwa Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn) hidup sederhana bersama istri dan kedua anaknya di sebuah kota kecil. Bencana hadir melalui datangnya seorang anak yang kaya raya, datang ke dalam kehidupan keluarga Salgaonkar. Terjadilah peristiwa kriminal yang melibatkan anak sulung Vijay. Perbuatan ini sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pemperoleh pengadilan yang adil bila dibawa ke meja hijau. Keluarga Salgaonkar harus berhadapan dengan keluarga yang terdiri dari pejabat kepolisian dan pengusaha yang kaya raya.

Maka Vijay memilih untuk menyembunyikan peristiwa kriminal yang terjadi. Disinilah keunggulan dari Drishyam (2015) terlihat. Walaupun Vijay tidak lulus Sekolah Dasar, ia merupakan seseorang yang cerdas. Taktik Vijay berhasil membuat pihak kepolisian kebingungan dalam mencari motif dan barang bukti. Semua diperlihatkan dihadapan pak dan bu polisi seolah hanya ilusi visual buatan Vijay. Sesuai judulnya, Drishyam adalah bahasa India yang artinya visual atau pandangan.

Oooh tunggu dulu, Drishyam (2015) adalah film India? Ya, betul sekali. Film yang satu ini merupakan film thriller asal India. Saya termasuk penonton yang kurang suka dengan unsur musikal dari film-film India. Syukurlah adegan joget-joget di film ini sedikit sekali, hampir tidak ada. Thriller pada Drishyam (2015) terbilang lebih kental dan terasa di sepanjang film. Saya tidak seperti sedang menonton film musikal ala Bollywood. Semua nampak bagus dan memukau. Akting Ajay Devgn terbilang menonjol pada film ini.

Saya sadar betul bahwa Drishyam (2015) adalah remake dari Drishyam (2013). Drishyam (2013) sendiri sebenarnya agak mirip dengan novel Jepang yang berjudul The Devotion of Suspect X. Drishyam (2013) sendiri berbahasa Malayalam dan tampil lebih natural dan apa adanya. Film original terbitan 2013 inipun banjir penghargaan dari berbagai festival film.

Selain Drishyam (2015) terdapat film-film lain yang merupakan remake dari Drishyam (2013). Ada yang diproduksi dalam versi Tamil dan versi Kanada. Kemudiam novel The Devotion of Suspect X pun dibuat versi filmnya pada 2017 lalu. Wah wah wah, semuanya memiliki cerita yang kurang lebih sama yaaaa. Saya sudah menonton semuanya dan saya paling suka dengan Drishyam (2015). Sinematografi film ini lebih memukau. Nuansa thriller-nya lebih terasa. Walaupun hampir semua adegannya seperti copy paste dari Drishyam (2013), Drisyam (2015) berhasil mendramatisir kisah ini dengan lebih intens.

Dengan demikian, Drishyam (2015) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih ada film India yang berhasil membuat saya terpukau. 2 jempol deh buat Drishyam (2015).

Sumber: panoramastudios.in/portfolio-item/drishyam-2015/

Serial Super Monsters

Serial kartun anak Super Monsters menampilkan keseharian murid sebuah Playgroup. Eits ini bukan Playgroup biasa, Playgroup ini khusus bagi monsters. Dalam dunia Super Monsters, para muridnya memiliki wujud seperti anak manusia di siang hari. Kemudian di malam hari mereka berubah menjadi monter dan masuk sekolah.

Perubahan wujud yang mereka lalukan, ditampilkan seolah-olah mereka berubah menjadi superhero. Jadi tidak ada adegan menakutkan di sana. Super Monsters memang menampilkan monster-monster sebagai tokohnya, namun semua dibuat seimut mungkin. Di sini, para penonton cilik diajarkan bahwa monster itu jauh dari kesan menakutkan. Tak lupa hadir pula peliharaan yang juga berupa binatang imut. Binatang-binatang yang di dunia nyata terkesan seram pun, berhasil dibuat seimut mungkin pada Super Monsters.

Monsternya monster apa aja sih? Ada vampir, mumi, zombie, frankenstein, penyihir, werewolf, naga dan lain-lain. Yaaah seperti versi ciliknya Monster High. Karena jenis monsternya berbeda-beda, maka masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda.  Mereka harus bekerja sama dan memanfaatkan perbedaan yang ada demi menyelesaikan masalah.

Hanya saja, banyak sekali adegan dan topik yang terasa agak repetitif bagi penonton dewasa. Anak-anak mungkin tidak terlalu menyadari hal tersebut. Saya sendiri cepat bosan ketika menemani anak saya menonton serial yang satu ini.

Dengan demikian, saya rasa Super Monsters pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Setiap musiim pemutaran baru, biasanya ada saja karakter baru dengan kekuatan baru, not bad laaaa.

Sumber: http://www.41e.tv

The New Mutant (2020)

Berbicara mengenai The New Mutant (2020), maka kita berbicara mengenai karakter komik Marvel yang sudah ada sejak 1982. Wow, sudah ada dari dulu toh? Tokoh The New Mutant memang pertama hadir pada buku komik terbitan Marvel sebagai spin-off dari X-Men. Otomatis The New Mutant tentunya hidup di dunia yang sama dengan X-Men.

Hanya saja, kisah-kisah The New Mutant sering kali terkait dengan unsur horor. Sebuah pendekatan yang berbeda bila kita dibandingkan dengan X-Men. Tidak mengherankan kalau The New Mutant (2020) memiliki nuansa horor yang cukup kental. Sebuah film superhero dengan nuansa horor, seperti apa ya jadinya?

Dikisahkan, terdapat 5 remaja yang dirawat di sebuah rumah sakit. Tempat tersebut bukanlah rumah sakit biasa karena mereka selalu diawasi dengan sangat ketat dan tidak dapat pergi keluar sesuka hati.

Semua terkait dengan kekuatan super yang kelima remaja tersebut miliki. Mereka dianggap masih kurang matang  dalam mengendalikan kekuatannya. Kekuatan super yang tidak terkendali dapat mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Ok, isu ketidakpercayaan kepada mutant terlihat ada di sana. Sah sudah, The New Mutant (2020) memang berada di dunia yang sama dengan X-Men. Namun jauh berbeda dengan X-Men, jalan cerita The New Mutant (2020) lebih fokus kepada teror yang menimpa kelima tokoh utama.

Mereka memperoleh bayangan dan ilusi terkait masa lalu mereka masing-masing. Sebenarnya ini merupakan sebuah perkenalan yang bagus supaya penonton mengetahui latar belakang masing-masing tokoh. Pada awalnya saya dibuat penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sayang, lama kelamaan saya dibuat tertidur melihat misteri yang mudah ditebak dan horor yang terkesan “nanggung”. Belum lagi bagian akhirnya yang sangat antiklimaks. Selain itu, tokoh yang digadang-gadang sebagai protagonis utama justru tampil “melempem”.

Beruntung The New Mutant (2020) menghadirkan tokoh Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy) sebagai salah satu dari kelima remaja tersebut. Hanya tokoh inilah yang tempil menonjol dan berhasil menunjukkan kepada saya bahwa The New Mutant (2020) merupakan film superhero. Pertarungan yang Illyana tampilkan nampak memukau dan sangat menghibur.

Saya rasa The New Mutant (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Informasi tambahan, film ini hadir di tengah-tengah akuisisi 20th Century Fox oleh Disney. Jadwal perilisan yang seharusnya di tahun 2018, menjadi mudur jauh ke tahun 2020. Disney pun sepertinya tak habis-habisnya berusaha menampilkan keberagaman dan ini sangat terlihat pada The New Mutant (2020). Film ini merupakan film layar lebar adaptasi komik Marvel pertama, yang menampilkan pasangan lesbian sebagai tokoh utamanya. Porsinya memang tidak banyak, tapi terlihat jelas. Just info saja bagi teman-teman yang kurang berkenan dengan isu LGBT.

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com/movies/the-new-mutants

Run (2020)

Melihat Run (2020) membuat saya teringat akan kasus Keluarga Blanchard yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Sebuah kasus yang sempat heboh di Amerika pada 2015 lalu. Sutradara dan penulis Run (2020) menyatakan bahwa film ini dibuat dari berbagai kisah dan pengalaman hidup. Tapi, sumpah Run (2020) ini sangat mirip dengan kasus Keluarga Blanchard. Hanya saja, karena Run (2020) bukanlah film dokumenter, maka wajar kalau ada sedikit bumbu yang membuatnya berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard.

Sepanjang film, saya disuguhkan bagaimana hubungan antara ibu dan anak yang berubah-ubah. Sejak kecil, Chloe Sherman (Kiera Allen) menderita berbagai penyakit yang membuatnya lumpuh, dan harus memperoleh berbagai pengobatan di rumah. Beruntung Chloe memiliki Diane Sherman (Sarah Paulson) sebagai ibu. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Diane nampak tabah dan ikhlas merawat anak semata wayangnya.

Semua berubah ketika Chloe menemukan beberapa kejanggalan dari perilaku Diane. Chloe merupakan anak cerdas yang memiliki keinginan kuat untuk maju. Maka tak heran, kalau Chloe melakukan segala cara untuk memperoleh jawaban sedetail mungkin. Kenyataan apakah yang pada akhirnya harus Chroe terima?

Bagi teman-teman yang sudah pernah mengikuti kasus Blancheard, Run (2020) bukanlah kisah misteri. Sejak awal film, tidak ada yang perlu dibuktikan, sama persis kok dasar ceritanya hehehehe. Memasuki pertengahan film, semua sudah dapat ditebak bagi mayoritas penonton. Ceritanya sederhana dan mudah dipahami. Terkadang ada beberapa bagian film yang sedikit membosankan.

Beruntung unsur thriller Run (2020) terbilang cukup kencang. Adegan thriller hampir terus menerus hadir pada setiap bagian film tersebut. Paling tidak hal itu dapat sedikit mengobati kebosanan saya ketika saya sudah dapat menebak jalan ceritanya.

Dasar ceritanya memang sama dengan kasus Keluarga Blanchard, namun akhir dari Run (2020) sangat berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard. Akhir dari Run (2020) terbilang cukup mengejutkan sekaligus memuaskan bagi saya pribadi, Savage! 🙂

Jalan cerita yang terkadang sedikit membosankan, masih dapat terselamatkan dengan ketengangan yang terus menerus muncul. Ditambah lagi, bagian akhir yang “meyenangkan”, sedikit banyak memberikan nilai positif bagi Run (2020). Saya rasa, film yang tayang perdana di Hulu Streaming On-Demand ini, masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: run.movie

Tenet (2020)

Christopher Edward Nolan merupakan salah satu sutradara favorit saya. Mayoritas film besutannya masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Mulai dari Memento (2000), Inception (2010), Trilogi Batman, Interstellar (2014), sampai Dunkirk (2017). Beberapa diantaranya penuh intrik dan sangat membingungkan. Karya terbaru Nolan, Tenet (2020), sepertinya akan menjadi salah satu film Nolan yang paling membingungkan.

Nolan memang gemar bermain dengan ruang dan waktu. Semua itu mencapai puncaknya pada Tenet (2020). Untuk sepenuhnya memahami Tenet (2020), Saya sendiri perlu 2 kali menontonnya dan sedikit membaca literatur mengenai Time Inversion. Konsep Time Inversion merupakan konsep perjalanan menembus waktu yang tidak biasa. Suatu hal yang belum pernah saya temukan pada film-film lain.

Pada Time Inversion, ketika seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, ia akan mengalami berbagai kejadian dalam keadaan terbalik. Tenaga yang ia gunakan merupakan arus waktu berbalik. Namun, kekuatan dari arus waktu berbalik bertumbukan dengan arus waktu lurus yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang terlihat berjalan terbaik, dan ada beberapa hal pula yang terlihat berjalan normal. Bingung? Tak usah malu, pemeran utama film ini saja tidak sepenuhnya faham dengan konsep Time Inversion :’D.

Anak dari Denzel Washington, yaitu John Davis Washington, menjadi pemeran utama Tenet (2020). Siapa yang John perankan? Seseorang yang sepanjang film hanya disebut dengan panggilan Sang Protagonis wkwkwkwk. Ajaib, Tenet (2020) memang benar-benar ajaib. Sepanjang film, Sang Protagonis memiliki misi untuk mencegah kehancuran Bumi akibat Time Inversion. Terdapat beberapa individu yang menyalahgunakan teknologi Time Inversion untuk kepentingannya sendiri.

Mirip seperti beberapa film Nolan sebelumnya. Kebingungan yang disajikan berhasil menjadi sesuatu yang menarik untuk diselidiki, dipikirkan dan dibahas. Dalam fisika, Time Inversion sendiri memang benar-benar ada. Secara tidak langsung, Tenet (2020) memang mengajak penontonnya untuk belajar Fisika @_@.

Tingkat kekompleksan Tenet (2020) melebihi Memento (2000), Inception (2020), Serial Dark, dan Interstellar (2014). Bagi saya pribadi, kekompleksan tersebut agak overdosis ya. Sepanjang film, saya dibuat berfikir dan terus kebingungan. Tenet (2020) gagal memberikan penjelasan yang agak jelas gamblang mengenai beberapa hal. Hal ini membuat saya terus berfikir tanpa bisa terlalu menikmati alur cerita yang ada. Padahal, kalau ditelaah lagi, cerita dari Tenet (2020) sendiri sebenarnya terbilang keren lohh.

Alur cerita yang bagus, menjadikan Tenet (2020) sebagai sebuah film yang memikat. Namun kekompleksan ceritanya, dapat menjadi daya tarik sekaligus sumber ketidakjelasan yang berlebih dari karya terbaru Opa Nolan tersebut. Dengan demikian, Tenet (2020) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Selamat belajar fisika teman-teman, hehehehehe.

Sumber: http://www.tenetfilm.com

Wonder Woman 1984 (2020)

Seumur-umur saya belum pernah membaca buku komik Wonder Woman.  Saya hanya sempat menonton Serial Wonder Woman yang pernah hadir di TV nasional kita pada era tahun 90-an. Yah, tokoh ini memang bukanlah tokoh favorit saya. Pamornya masih kalah jika dibandingkan dengan Batman atau Superman.

Namun, saat ini sepertinya franchise film Wonder Woman sajalah yang masih dapat bersaing. Film standalone Wonder Woman pertama, Wonder Woman (2017), dapat dikatakan relatif lebih baik ketimbang film-film pahlawan super lainnya dari DC Comics. Tak heran kalau sekuel Wonder Woman (2017) kembali hadir pada tahun 2020 ini melalui Wonder Women 1984 (2020).

Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa latar belakang petualangan Wonder Woman kali ini adalah tahun 1984. Otomatis kejadian yang diangkat terjadi antara Wonder Woman (2017) dan Man of Steel (2013). Pada tahun 1984, Superman dan Batman belum hadir, yang ada hanya Wonder Woman (Gal Gadot) saja. Karena keturunan separuh dewa, Wonder Woman atau Diana Prince dikisahkan tidak dapat menua. Maka, selama ini ia sudah berkali-kali kehilangan orang-orang disekitarnya. Semua dapat ia jalani dengan tabah. Hanya saja, ada 1 orang tetap selalu ada di hati Wonder Woman, Steve Trevor (Chris Pine).

Steve sudah tewas pada Wonder Woman (2017). Bagaimana cara Wonder Woman menghidupkan Steve kembali? Semua itu mungkin dengan adanya artefak kuno yang dapat mengaburkan berbagai keinginan. Wonder Woman 1984 (2020) mengambil jalan cerita mengenai bagaimana keinginan dan keserakahan manusia dapat menimbulkan malapetaka. Sebuah tema yang sudah beberapa kali saya lihat pada film-film lainnya. Hanya saja, di sini ada superhero seperti Wonder Woman. Kemudian hadir Cheetah (Kristen Wiig) dan Maxwell Lord (Pedro Pascal) sebagai tokoh antagonisnya. Ternyata, tema ini berhasil diramu dengan baik. Wonder Woman 1984 (2020) pun mampu memberikan pelajaran mengenai keinginan dan keserakahan.

Mulai dari seorang ayah baik yang putus asa sepert Lord, seorang ilmuwan pintar yang sulit bergaul seperti Cheetah, sampai superhero keturunan Dewa Zeus seperti Wonder Woman. Setiap mahluk pastilah memiliki keinginan, beberapa diantaranya sulit dan bahkan hampir mustahil untuk diwujudkan. Tidak hanya menggoda Wonder Woman. Keinginan jugalah yang berhasil membuat Cheetah dan Lord ikut hadir. Cheetah memang sudah lama menjadi lawan utama Wonder Woman. Kalau Batman memiliki Joker, dan Superman memiliki Luthor, maka Wonder Woman memiliki Cheetah. Sayangnya, Cheetah seolah-olah hadir hanya dimaksudkan agar film ini memiliki adegan aksi. Sebuah adegan aksi yang mengecewakan karena gelap dan diiringi lagu yang tidak sekeren lagu pada Wonder Woman (2017). Lagu yang mendampingi adegan aksi pada Wonder Woman (2017) memang terbilang keren. Sayangnya, bagian dari lagu tersebut didaurulang dan muncul lagi pada Wonder Woman 1984 (2020), namun dengan cara yang kurang greget. Yah sebenarnya adegan aksi pada Wonder Woman 1984 (2020) tetap dapat dibilang lumayan baguslah. Tapi, hal ini merupakan sebuah penurunan kalau dibandingkan dengan Wonder Woman (2017).

Kemudian, entah kenapa kostum emas yang Wonder Woman gunakan pada akhir film, tidak nampak terlalu bermakna. Kemampuan dan efek dari kostum tersebut tidak terlalu terlihat. Kilas balik masa kecil Wonder Woman pun tidak terlalu bermakna bagi plot utama Wonder Woman 1984 (2020). Kilas balik tersebut hanya pembukaan bagi kisah dibalik kostum keemasan milik pahlawan Amazon. Kesimpulannya, apakah kostum emas Wonder Woman keren? Bagi saya pribadi, biasa saja, tidak ada kesan “Wah” ketika melihatnya.

Dengan demikian, rasanya Wonder Woman 1984 (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan di rumah, sambil menunggu pandemi Covid-19 berakhir. Semua dapat ditonton di layanan streaming berbayar seperti HBO+.

Sumber: http://www.wonderwomanfilm.net