Charlie’s Angels (2019)

Charlie’s Angels pada awalnya merupakan film seri yang hadir antara tahun 1976 sampai 1981, jauh sebelum saya lahir hehehehe. Kemudian hadir Charlie’s Angels versi layar lebar pada tahun 2000 dan 2003. Saya sudah pernah menonton kedua versi Charlie’s Angels tersebut dan saya lebih suka dengan versi film seri yang tahun 70-an. Mereka hadir dengan berbagai kasus dan akting yang wajar. Bagaimana dengan versi layar lebarnya? Bagi saya pribadi, film layar lebar Charlie’s Angels tahun 2000 dan 2003, terlalu bombastis dan penuh dengan humor yang garing seperti kanebo kering. Masuk akal kalau saya kurang antusias terhadap Charlie’s Angels (2019). Apalagi sebelum Charlie’s Angels (2019) dirilis, Stasiun TV ABC sempat menayangkan reboot serial Charlie’s Angels di 2011 yang tenyata memperoleh rating rendah dan hanya bertahan 13 episode.

Apapun versinya, semua film-film Charlie’s Angels pada dasarnya sama. Semuanya mengisahkan bagaimana 3 wanita cantik bekerjasama dalam menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Ketiga wanita tersebut memilki keahlian masing-masing dan disebut Charlie’s Angels. Sesuai namanya, mereka dipimpin oleh Charlie, seseorang yang hanya hadir dalam wujud suara saja. Melalui pengeras suara, Charlie memberikan misi baru bagi ketiga anggotanya. Sebagai penghubung antara Charlie dan ketiga malaikatnya, hadir Bosley. Selain sebagai penghubung, Ia berfungsi pula sebagai pendamping & pengawas ketiga Charlie’s Angels pada setiap misinya.

Dari berbagai versi filmnya Charlie’s Angels, semua pemerannya selalu berubah-ubah. Baik anggota Charlie’s Angels maupun siapa yang menjadi Bosley. Semuanya seakan hendak dirangkum pada Charlie’s Angels (2019), dimana kali ini dikisahkan bahwa Charlie’s Angels telah menjadi organisasi internasional dengan banyak anggota. Terdapat beberapa Bosley dan beberapa Charlie’s Angels pula tentunya. Foto kenangan akan Charlie’s Angels pada versi film seri dan layar lebar terdahulu, ikut hadir pula pada Charlie’s Angels (2019).

Pada Charlie’s Angels (2019), dikisahkan bahwa Charlie mengirim Jane Kano (Ella Balinska) & Sabina Wilson (Kristen Stewart) untuk menyelidiki Proyek Calisto. Proyek tersebut mampu menghasilkan sebuah teknologi canggih yang dikhawatirkan dapat dimanfaatkan sebagai senjata. Dalam perjalannya, Elena Houghlin (Naomi Scott) sebagai ketua pengembang Proyek Calisto, ikut bergabung dengan Jane & Sabina. Lengkap sudah, inilah 3 Charlie’s Angels kali ini, ada Jane, Sabina & Elena. Tak lupa hadir Bosley mereka yang diperankan oleh Elizabeth Banks. Wah semuanya kok jadi perempuan? Sepertinya Charlie’s Angels (2019) ingin berbicara lantang mengenai pemberdayaan perempuan. Bagaimanapun juga, Charlie’s Angels (2019) menunjukkan bahwa wanita mampu melakukan berbagai hal, termasuk di bidang yang didominasi oleh kaum Adam.

Bagaimana dengan ceritanya? Di sini hadir plot twist yang berusaha mengecoh penonton. Di luar dugaan, Charlie’s Angels (2019) ternyata memiliki jalan cerita yang lumayan ok dan masuk akal. Adegan aksinya pun terbilang wajar dan tidak berlebihan, …. namun tidak spesial. Bagaimana humornya? yaaah, not bad laaah, humornya tidak terlalu banyak tapi tidak segaring Charlie’s Angels tahun 2000 & 2003. Pendapat saya ini, saya utarakan tanpa melihat perilaku negatif salah satu pemeran Charlie’s Angels (2019) di kehidupan nyata yaaa ;).

Dengan demikian, saya rasa Charlie’s Angels (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sayangnya, melihat pendapatan awal Charlie’s Angels (2019) yang kurang memuaskan, sepertinya film ini tidak akan menelurkan sekuel. Apakah ini akhir dari franchise Charlie’s Angels?

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/charliesangels2019

Monster Hunter (2021)

Paul William Scott Anderson adalah sutradara asal Inggris yang sudah beberapa kali membuat film berdasarkan video game. Tanpa saya sadari, Resident Evil adalah salah satunya. Franchise film Resident Evil ternyata sudah beberapa kali menggunakan jasa Anderson, termasuk seri terakhirnya, Resident Evil: The Final Chapter (2016).

Milla Jovovich sebagai pemeran utama film-filmnya Resident Evil, diangkut oleh Anderson ke Monster Hunter (2021). Pasangan suami istri tersebut kembali membuat film berdasarkan sebuah video game besutan Capcom. Saya pernah bermain Monster Hunter di PSP. Selain pakaian dan bentuk monsternya, tidak ada yang menunjukkan bahwa Monster Hunter (2021) merupakan versi film dari video game Monster Hunter. Ceritanya dibuat agak berbeda dan sepertinya ada kesengajaan agar Monster Hunter (2021) dapat melahirkan sekuel-sekuel seperti Resident Evil (2002).

Dikisahkan bahwa Kapten Artemis (Milla Jovovich) dan pasukannya, tidak sengaja masuk ke dalam sebuah dunia lain. Dunia dimana terdapat monster berukuran jumbo di mana-mana, inilah dunia Monster Hunter. Setelah kehilangan semua anak buahnya, Artemis bertemu dengan seorang pemburu yang diperankan oleh Tony Jaa. Sangat klise, kedua tokoh utama, pada awalnya saling serang. Kemudian pada akhirnya mereka harus bekerja sama. Perbedaan antara Artemis dan Sang Pemburu pun dijadikan sebagai bahan humor. Sesuatu yang klise pula, dan gagal. Humornya terbilang garing kering krontang.

Beruntung special effect Monster Hunter (2021) terbilang bagus. Dunia yang dihadirkan pun nampak nyata dan berhasil mendukung adegan aksi yang … biasa, hehehehe. Maaf, tapi tanpa special effect yang mahal, adegan aksinya memang terbilang standard. Special effect adalah yang membuat film ini mampu menghasilkan hiburan ringan yang lumayan bagus.

Cerita dan karakter yang klise yang dangkal, masih terselamatkan oleh berbagai adegan aksi yang mendominasi sebagian besar film. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Monster Hunter (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/monsterhunter

Inception (2010)

Inception (2010) merupakan karya Christopher Nolan yang berbicara mengenai dunia mimpi. Sebagai pengantar, saya akan menjelaskan mengenai dunia mimpi yang ada pada Inception (2020) tanpa memberikan spoiler. Ok berdasarkan pengalaman saya menontkn Inception (2010) berkali-kali, berikut yang dapat saya bagi mengenai dunia mimpi ala Nolan. Jadi, dikisahkan bahwa pihak militer berhasil melalukan uji coba terkait mimpi. Dengan menggunakan sebuah obat penenang tertentu, seseorang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik inipun, beberapa orang dapat berbagi mimpi dan seolah-oleh memiliki kehidupan lain di alam mimpi sana. Ukuran waktu pada dunia mimpi jauh lebih lama dibandingkan ukuran waktu pada dunia nyata. Seseorang bisa saja bermimpi hanya sehari, namun ia merasakan hidup di dunia mimpi selama beberapa hari.

Ketika seseorang tewas di dalam dunia mimpi, ia hanya akan terbangun, tidak ada yang fatal di sana. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berusaha melewati batasan-batasan yang sudah ditetapkan di dalam mimpi yang ia jalani. Ia bisa saja tersesat di dalam dunia limbo dan tidak akan kembali bangun di dunia nyata. Dunia limbo adalah dunia absurd yang sangat menyesatkan. Seseorang tidak akan dapat membedakan apakah ia sedang ada di dunia mimpi atau dunia nyata.

Di dalam sebuah mimpi, bisa saja tertanam atau ditanamkan mimpi-mimpi lain. Semuanya hadir dalam bentuk lapisan alam bawah sadar yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan inilah yang membuat seseorang dapat tersesat. Namun terkadang, semakin masuk ke dalam lapisan bawah sadar seseorang, semakin banyak pula rahasia yang dapat diperoleh.

Rahasia merupakan hal yang ingin diambil oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan komplotannya. Dom memiliki kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan alam bawah sadar seseorang. Dengan demikian, ia dapat terus masuk ke dalam alam bawah sadar sampai memperoleh rahasia yang hendak ia curi.

Pada dasarkan Inception (2010) mengisahkan petualangan Dom dan kawan-kawan dalam mengambil sebuah rahasia yang sangat sulit. Dalam perjalanannya, ia pun secara tidak sadar, menggali trauma terbesar dalam hidupnya. Hal inipun memberikan berbagai pertanyaan mengenai realitas yang Dom hadapai sepanjang durasi Inception (2010) berlangsung.

Film yang satu ini sungguh mind-blowing bagi saya. Menonton Inception (2020) berkali-kali tidak membuat saya mati kebosanan. Jalan cerita film ini sangat menarik. Meskipun dibuat terpecah-pecah, penjelasan mengenasi dunia mimpi sebenarnya cukup jelas dan mudah untuk dipahami.

Ditambah dengan musik dari Hanz Zimmer yang ciamik dan pas, semuanya nampak menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi special effect dan adegan aksi yang keren, semua seakan menambah deretan keunggulan Inception (2010) di mata saya.

Bagi saya, Inception (2010) layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Nolan memang identik dengan film-film yang mengajak para penontonnya berfikir. Hal ini tentunya terjadi pula pada Inception (2010). Banyak orang yang memperdebatkan mengenai bagian akhir dari Inception (2010). Memang akhir film ini sedikit ambigu dan memberikan sesuatu hal yang dapat diperdebatkan. Bagi saya, perdebatan itu merupakan bagian yang menyenagkan untuk difikirkan. Lagipula, bagian akhir film bukanlah hal yang 100% menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak :).

Sumber: http://www.warnerbros.com & http://www.inceptionmovie.uk

The New Mutant (2020)

Berbicara mengenai The New Mutant (2020), maka kita berbicara mengenai karakter komik Marvel yang sudah ada sejak 1982. Wow, sudah ada dari dulu toh? Tokoh The New Mutant memang pertama hadir pada buku komik terbitan Marvel sebagai spin-off dari X-Men. Otomatis The New Mutant tentunya hidup di dunia yang sama dengan X-Men.

Hanya saja, kisah-kisah The New Mutant sering kali terkait dengan unsur horor. Sebuah pendekatan yang berbeda bila kita dibandingkan dengan X-Men. Tidak mengherankan kalau The New Mutant (2020) memiliki nuansa horor yang cukup kental. Sebuah film superhero dengan nuansa horor, seperti apa ya jadinya?

Dikisahkan, terdapat 5 remaja yang dirawat di sebuah rumah sakit. Tempat tersebut bukanlah rumah sakit biasa karena mereka selalu diawasi dengan sangat ketat dan tidak dapat pergi keluar sesuka hati.

Semua terkait dengan kekuatan super yang kelima remaja tersebut miliki. Mereka dianggap masih kurang matang  dalam mengendalikan kekuatannya. Kekuatan super yang tidak terkendali dapat mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Ok, isu ketidakpercayaan kepada mutant terlihat ada di sana. Sah sudah, The New Mutant (2020) memang berada di dunia yang sama dengan X-Men. Namun jauh berbeda dengan X-Men, jalan cerita The New Mutant (2020) lebih fokus kepada teror yang menimpa kelima tokoh utama.

Mereka memperoleh bayangan dan ilusi terkait masa lalu mereka masing-masing. Sebenarnya ini merupakan sebuah perkenalan yang bagus supaya penonton mengetahui latar belakang masing-masing tokoh. Pada awalnya saya dibuat penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sayang, lama kelamaan saya dibuat tertidur melihat misteri yang mudah ditebak dan horor yang terkesan “nanggung”. Belum lagi bagian akhirnya yang sangat antiklimaks. Selain itu, tokoh yang digadang-gadang sebagai protagonis utama justru tampil “melempem”.

Beruntung The New Mutant (2020) menghadirkan tokoh Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy) sebagai salah satu dari kelima remaja tersebut. Hanya tokoh inilah yang tempil menonjol dan berhasil menunjukkan kepada saya bahwa The New Mutant (2020) merupakan film superhero. Pertarungan yang Illyana tampilkan nampak memukau dan sangat menghibur.

Saya rasa The New Mutant (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Informasi tambahan, film ini hadir di tengah-tengah akuisisi 20th Century Fox oleh Disney. Jadwal perilisan yang seharusnya di tahun 2018, menjadi mudur jauh ke tahun 2020. Disney pun sepertinya tak habis-habisnya berusaha menampilkan keberagaman dan ini sangat terlihat pada The New Mutant (2020). Film ini merupakan film layar lebar adaptasi komik Marvel pertama, yang menampilkan pasangan lesbian sebagai tokoh utamanya. Porsinya memang tidak banyak, tapi terlihat jelas. Just info saja bagi teman-teman yang kurang berkenan dengan isu LGBT.

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com/movies/the-new-mutants

Tenet (2020)

Christopher Edward Nolan merupakan salah satu sutradara favorit saya. Mayoritas film besutannya masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Mulai dari Memento (2000), Inception (2010), Trilogi Batman, Interstellar (2014), sampai Dunkirk (2017). Beberapa diantaranya penuh intrik dan sangat membingungkan. Karya terbaru Nolan, Tenet (2020), sepertinya akan menjadi salah satu film Nolan yang paling membingungkan.

Nolan memang gemar bermain dengan ruang dan waktu. Semua itu mencapai puncaknya pada Tenet (2020). Untuk sepenuhnya memahami Tenet (2020), Saya sendiri perlu 2 kali menontonnya dan sedikit membaca literatur mengenai Time Inversion. Konsep Time Inversion merupakan konsep perjalanan menembus waktu yang tidak biasa. Suatu hal yang belum pernah saya temukan pada film-film lain.

Pada Time Inversion, ketika seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, ia akan mengalami berbagai kejadian dalam keadaan terbalik. Tenaga yang ia gunakan merupakan arus waktu berbalik. Namun, kekuatan dari arus waktu berbalik bertumbukan dengan arus waktu lurus yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang terlihat berjalan terbaik, dan ada beberapa hal pula yang terlihat berjalan normal. Bingung? Tak usah malu, pemeran utama film ini saja tidak sepenuhnya faham dengan konsep Time Inversion :’D.

Anak dari Denzel Washington, yaitu John Davis Washington, menjadi pemeran utama Tenet (2020). Siapa yang John perankan? Seseorang yang sepanjang film hanya disebut dengan panggilan Sang Protagonis wkwkwkwk. Ajaib, Tenet (2020) memang benar-benar ajaib. Sepanjang film, Sang Protagonis memiliki misi untuk mencegah kehancuran Bumi akibat Time Inversion. Terdapat beberapa individu yang menyalahgunakan teknologi Time Inversion untuk kepentingannya sendiri.

Mirip seperti beberapa film Nolan sebelumnya. Kebingungan yang disajikan berhasil menjadi sesuatu yang menarik untuk diselidiki, dipikirkan dan dibahas. Dalam fisika, Time Inversion sendiri memang benar-benar ada. Secara tidak langsung, Tenet (2020) memang mengajak penontonnya untuk belajar Fisika @_@.

Tingkat kekompleksan Tenet (2020) melebihi Memento (2000), Inception (2020), Serial Dark, dan Interstellar (2014). Bagi saya pribadi, kekompleksan tersebut agak overdosis ya. Sepanjang film, saya dibuat berfikir dan terus kebingungan. Tenet (2020) gagal memberikan penjelasan yang agak jelas gamblang mengenai beberapa hal. Hal ini membuat saya terus berfikir tanpa bisa terlalu menikmati alur cerita yang ada. Padahal, kalau ditelaah lagi, cerita dari Tenet (2020) sendiri sebenarnya terbilang keren lohh.

Alur cerita yang bagus, menjadikan Tenet (2020) sebagai sebuah film yang memikat. Namun kekompleksan ceritanya, dapat menjadi daya tarik sekaligus sumber ketidakjelasan yang berlebih dari karya terbaru Opa Nolan tersebut. Dengan demikian, Tenet (2020) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Selamat belajar fisika teman-teman, hehehehehe.

Sumber: http://www.tenetfilm.com

Wonder Woman 1984 (2020)

Seumur-umur saya belum pernah membaca buku komik Wonder Woman.  Saya hanya sempat menonton Serial Wonder Woman yang pernah hadir di TV nasional kita pada era tahun 90-an. Yah, tokoh ini memang bukanlah tokoh favorit saya. Pamornya masih kalah jika dibandingkan dengan Batman atau Superman.

Namun, saat ini sepertinya franchise film Wonder Woman sajalah yang masih dapat bersaing. Film standalone Wonder Woman pertama, Wonder Woman (2017), dapat dikatakan relatif lebih baik ketimbang film-film pahlawan super lainnya dari DC Comics. Tak heran kalau sekuel Wonder Woman (2017) kembali hadir pada tahun 2020 ini melalui Wonder Women 1984 (2020).

Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa latar belakang petualangan Wonder Woman kali ini adalah tahun 1984. Otomatis kejadian yang diangkat terjadi antara Wonder Woman (2017) dan Man of Steel (2013). Pada tahun 1984, Superman dan Batman belum hadir, yang ada hanya Wonder Woman (Gal Gadot) saja. Karena keturunan separuh dewa, Wonder Woman atau Diana Prince dikisahkan tidak dapat menua. Maka, selama ini ia sudah berkali-kali kehilangan orang-orang disekitarnya. Semua dapat ia jalani dengan tabah. Hanya saja, ada 1 orang tetap selalu ada di hati Wonder Woman, Steve Trevor (Chris Pine).

Steve sudah tewas pada Wonder Woman (2017). Bagaimana cara Wonder Woman menghidupkan Steve kembali? Semua itu mungkin dengan adanya artefak kuno yang dapat mengaburkan berbagai keinginan. Wonder Woman 1984 (2020) mengambil jalan cerita mengenai bagaimana keinginan dan keserakahan manusia dapat menimbulkan malapetaka. Sebuah tema yang sudah beberapa kali saya lihat pada film-film lainnya. Hanya saja, di sini ada superhero seperti Wonder Woman. Kemudian hadir Cheetah (Kristen Wiig) dan Maxwell Lord (Pedro Pascal) sebagai tokoh antagonisnya. Ternyata, tema ini berhasil diramu dengan baik. Wonder Woman 1984 (2020) pun mampu memberikan pelajaran mengenai keinginan dan keserakahan.

Mulai dari seorang ayah baik yang putus asa sepert Lord, seorang ilmuwan pintar yang sulit bergaul seperti Cheetah, sampai superhero keturunan Dewa Zeus seperti Wonder Woman. Setiap mahluk pastilah memiliki keinginan, beberapa diantaranya sulit dan bahkan hampir mustahil untuk diwujudkan. Tidak hanya menggoda Wonder Woman. Keinginan jugalah yang berhasil membuat Cheetah dan Lord ikut hadir. Cheetah memang sudah lama menjadi lawan utama Wonder Woman. Kalau Batman memiliki Joker, dan Superman memiliki Luthor, maka Wonder Woman memiliki Cheetah. Sayangnya, Cheetah seolah-olah hadir hanya dimaksudkan agar film ini memiliki adegan aksi. Sebuah adegan aksi yang mengecewakan karena gelap dan diiringi lagu yang tidak sekeren lagu pada Wonder Woman (2017). Lagu yang mendampingi adegan aksi pada Wonder Woman (2017) memang terbilang keren. Sayangnya, bagian dari lagu tersebut didaurulang dan muncul lagi pada Wonder Woman 1984 (2020), namun dengan cara yang kurang greget. Yah sebenarnya adegan aksi pada Wonder Woman 1984 (2020) tetap dapat dibilang lumayan baguslah. Tapi, hal ini merupakan sebuah penurunan kalau dibandingkan dengan Wonder Woman (2017).

Kemudian, entah kenapa kostum emas yang Wonder Woman gunakan pada akhir film, tidak nampak terlalu bermakna. Kemampuan dan efek dari kostum tersebut tidak terlalu terlihat. Kilas balik masa kecil Wonder Woman pun tidak terlalu bermakna bagi plot utama Wonder Woman 1984 (2020). Kilas balik tersebut hanya pembukaan bagi kisah dibalik kostum keemasan milik pahlawan Amazon. Kesimpulannya, apakah kostum emas Wonder Woman keren? Bagi saya pribadi, biasa saja, tidak ada kesan “Wah” ketika melihatnya.

Dengan demikian, rasanya Wonder Woman 1984 (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan di rumah, sambil menunggu pandemi Covid-19 berakhir. Semua dapat ditonton di layanan streaming berbayar seperti HBO+.

Sumber: http://www.wonderwomanfilm.net

Trilogi Rurouni Kenshin (2012, 2014, 2014)

Bagi generasi milenial yang mengalami masa kecil di penghujung abad ke-20, tentunya mengenal sebuah manga atau komik Jepang karya Nobuhiro Matsuki yang berjudul Ruroini Kenshin. Karena Kepopulerannya, manga yang satu ini diadaptasi menjadi serial kartun berjudul Samurai X.

Saya pikir, kisah Kenshin berakhir pada manga terbitan tahun 1998. Ternyata, setelah itu sang penulis melanjutkan kembali kisah petualangan Kenshin pada tahun 2012 sampai … terdapat sebuah skandal. Sang penulis, Nobuhiro Matsuki, terlibat kasus pornorgrafi anak pada sekitar tahun 2017. Saya sendiri sudah lama tidak membaca manga terbaru dari Rurouni Kenshin.

Apapun yang terjadi pada versi manga-nya, sampai saat ini Rurouni Kenshin sudah 3 kali diangkat ke layar lebar dalam wujud live action, bukan animasi atau kartun. Ketiga film live action tersebut mengambil kisah dari manga Rurouni Kensin original yang terbit di Indonesia sekitar tahun 1996 sampai 1998. Bagaikan nostalgia, kisah petualangan Kenshin inilah yang saya baca dan tonton ketika saya masih kecil.

Beberapa karakter utama dari manga versi original tersebut, ternyata dibuat berdasarkan  karakter asli di dunia nyata. Kenshin Himura sendiri dibuat berdasarkan seorang samurai yang bernama Genzai Kawakami. Begitupula dengan karakter lain seperti Saito Hajime, Sagara Sanosuke, Shinomori Aoishi dan Sojiro Seta. Namun Rorouni Kenshin tetap bukanlah kisah sejarah. Semuanya dimodifikasi sehingga menghasilkan kisah yang menarik.

Kisah Rurouni Kenshin tidak diawali dari awal kehidupan Kenshin Himura. Melainkan pada era damai ketika Restorasi Meiji sedang berjalan di Jepang. Sebelum era perdamaian ini hadir di Jepang, terjadi perang berkepanjangan antara berbagai pihak. Kenshin Himura (Takeru Satoh) terkenal sebagai pembunuh yang handal pada saat itu. Julukan Battosai atau sang pembantai pun menjadi julukan bagi Kenshin.

Setelah peperangan berakhir, Jepang melakukan modernisasi dan seolah menyingkirkan kelas sosial shogun, samurai, daimyo dan ronin. Padahal, kelas sosial tersebut sudah lama sekali berada di puncak kekuasaan. Hal inilah yang menjadi topik dari ketiga film live action Kenshin.

Trilogi Rurouni Kenshin terdiri dari Rurouni Kenshin (2012), Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014), dan Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014). Ketiganya mengisahkan bagaimana kehidupan Kenshin di era Restorasi Meiji, sebuah era yang sebenarnya menyingkirkan orang-orang seperti Kenshin. Di sana, Kenshin tidak memberontak. Ia justru berusaha menjaga perdamaian dan pendukung pembaharuan dari pemerintah.

Kenshin sudah insaf dan memutuskan untuk tidak membunuh lagi. Ia pergi kemana-mana dengan membawa pedang bermuka terbalik. Sebuah pedang dengan sisi tumpul pada bagian yang seharusnya tajam. Dengan demikian, kecil kemungkinan Kenshin untuk dapat membunuh. Dalam perjalanannya, ia terpaksa harus menggunakan keahlian pedangnya demi menjaga perdamaian. Akibat prinsip barunya untuk tidak membunuh lagi, Kenshin berkali-kali terlihat kerepotan ketika sedang menghadapi lawan yang cukup kuat. Inilah godaan bagi Kenshin. Apakah ia rela untuk kembali membunuh demi menyelamatkan teman-temannya?

Pertarungan yang Trilogi ini hadirkan, berhasil memperoleh decak kagum dari saya pribadi. Jurus pamungkan Kenshin yang bernama hitten mitsurugi ryu pun sukses muncul sebagai sesuatu yang keren untuk dilihat. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa adegan aksi ala samuai pada ketiga film ini merupakan salah satu adegan aksi terbaik yang pernah saya tonton. Terutama ketika Kenshin harus berhadapan dengan Sojiro Seta (Ryunosuke Kamiki). Yah mungkin karena karakter Sojiro yang cukup menyebalkan :’D.

Topik insyafnya Kenshin dan pemberontakan oleh beberapa kelas sosial Jepang, berhasil diramu menjadi sesuatu yang enak untuk ditonton. Jadi, Trilogi Rurouni Kenshin ini bukan hanya berisikan baku hantam saja. Meski adegan aksi tetap menjadi salah satu keunggulan Trilogi Rurouni Kenshin. Saya rasa ketiga film tersebut layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini adalah salah film samurai terbaik yang pernah saya lihat. Sopasti saya akan menonon kelanjutan petualangan Kenshin apabila film live action keempatnya benar-benar tayang.

Sumber: warnerbros.co.jp

Code 8 (2019)

Pada tahun 2016, Code 8 hadir sebagai film pendek yang mengisahkan diskriminasi terhadap manusia-manusia berkemampuan khusus. Dikisahkan bahwa terdapat sebagian kecil manusia dilahirkan dengan kemampuan super seperti dapat mengendalikan api, mengendalikan listrik, telekinesis, membaca pikiran dan lain-lain. Hal ini membuat pemerintah menerapkan pengewasan ketat kepada kaum minoritas tersebut.

Pemerintah menggunakan robot-robot super yang berpatroli mengelilingi kota selama 24 jam. Setiap ada pelanggaran akibat penyalahgunaan kekuatan super, robot-robot tersebut akan hadir dan langsung melakukan tindakan keras. Kejadian inilah yang disebut kode 8 atau code 8. Sayang sekali, ketakutan dan prasangka sering kali membuat para pemilik kekuatan super seringkali memperoleh kasus kode 8 tanpa bukti yang jelas. Diskriminasi pun sudah mereka dapatkan sejak kecil. Hal ini terus berlanjut hingga mereka beranjak dewasa. Akibatnya, sebagian besar manusia berkekuatan super ini justru hidup di bawah garis kemiskinan. Wow, sebuah dunia yang bertolak belakang dengan dunia Serial The Boys.

Dengan menggunakan latar belakang yang sama dengan versi film pendeknya, Code 8 hadir kembali pada tahun 2019 namun dengan durasi 100 menit. Mayoritas pemeran utama pada film pendek Code 8, hadir kembali pada Code 8 (2019). Connor Reed (Robbie Amell) hadir sebagai manusia super yang mempu mengendalikan kekuatan listrik. Kali ini ia harus melihat kenyataan pahit yang ibunya alami. Ibu dari Connor mengalami sakit kanker yang semakin hari semakin buruk. Otomatis biaya pengobatan yang harus keluarga Connor tanggung, terus menumpuk. Dengan kondisi Connor yang berkekuatan super dan harus perhadapan dengan diskriminasi, apa yang harus ia lakukan?

Dunia kriminal menjadi pilihan yang terpaksa Connor ambil. Ia bergabung dengan sindikat kriminal yang cukup kuat. Apalagi belakangan Connor terdeteksi sebagai manusi berkekuatan super tingkat 5, Sebuah kekuatan yang jauh di atas rata-rata, mengingat rata-rata manusia super pada saat itu hanya memiliki kekuatan super tingkat 2.

Kekuatan super dan robot mampu tampil sebagai pemanis yang membuat visual Code 8 (2019) nampak cantik dan menarik. Saya suka dengan bagaimana adegan aksi ditampilkan pada film ini. Special effect nya sudah pasti tidak tampil murahan. Latar belakang dari film ini pun menja di nampak lebih hidup dan masuk akal.

Inti dari Code 8 (2019) sebenarnya adalah mengenai diskriminasi dan pilihan hidup yang harus dibuat. Terdapat banyak nilai moral yang dapat kita petik ketika menonton Code 8 (2019). Sayang, beberapa hal yang Code 8 (2019) coba tampilkan sudah sering sekali diangkat oleh film-film lain. Beberapa bahkan memiliki karakter superhero yang sudah terkenal.

Dengan demikian, film asal Kanada ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sayang sekali sepertinya versi film seri dari Code 8 (2019) nampaknya mengalami kendalah sehingga gagal diproduksi. Dunia dan latar belakang yang Code 8 (2019) sebenarnya sudah cukup bagus. Saya pun sudah pasti akan menonton apabila ada sekuel atau spin off nya :).

Sumber: http://www.code8.com

Déjà Vu (2006)

Déjà Vu (2006) diawali dengan penyelidikan kasus pemboman kapal feri yang membunuh ratusan tentara Amerika bersama keluarganya. Douglas Carlin (Denzel Washington) merupakan agen ATF yang menyelidiki kasus tersebut. Dengan daya ingat, ketelian dan kemampuan analisa Douglas yang di atas rata-rata, ia berhasil mengungkap berbagai fakta terkait kasus ini.

Sekilas film ini seperti film detektif biasa. Semua berubah ketika FBI datang dengan membawa sebuah teknologi yang dapat melihat kejadian di masa lalu. Semakin lama, semakin terlihat unsur misteri dan fiksi ilmiah dari Déjà Vu (2006). Pihak FBI ternyata tidak 100% jujur kepada Douglas akan teknologi baru yang sedang mereka gunakan.

Dengan teknologi tersebut, déjà vu menjadi suatu hal yang benar-benar dialami oleh karakter utama pada film ini. Déjà vu sendiri dapat diartikan sebagai perasaan aneh ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang sepertinya sudah pernah ia alami di masa lalu. Pertanyaannya, apakah Déjà Vu (2006) merupakan film yang kompleks? Tidak. Hebatnya, film ini mampu menampilkan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Di sana pun terdapat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan dan realistis. Beberapa diantaranya bahkan tampil beda. Dikisahkan bahwa Douglas harus mengejar seseorang di masa lampau dengan menggunakan kendaraan yang berjalan di masa kini. Semua memungkinkan dengan teknologi terbaru FBI. Ahhhh sungguh déjà vu :’D.

Aksi, thriller, misteri dan fiksi ilmiah berhasil ditampilkan dengan sederhana oleh Déjà Vu (2006). Film ini dapat dijadikan sebagai tontonan ringan yang menarik. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.touchstonepictures.com

Serial Rise of Empires: Ottoman

Kisah kejayaan Kesultanan Ottoman Turki tentunya sudah melegenda dan diceritakan dalam berbagai bentuk. Salah satunya pernah saya bahas pada Fetih 1453 (2012). Sebuah film Turki yang mengisahkan penaklukan Konstantinopel oleh Kesultanan Ottoman dibawah kendali Sultan Mehmed II. Bertahun-tahun kemudian, saya kembali menonton kisah penaklukan tersebut namun dalam bentuk film seri Rise of Empires: Ottoman. Mana yang lebih bagus ya?

Karena hadir berbentuk mini seri maka Rise of Empires: Ottoman akan memiliki lebih banyak durasi untuk menampilkan detail-detail kejayaan Ottoman tersebut. Kesultanan Ottoman memamg sempat menguasai banyak wilayah. Namun lambang kejayaan Ottoman memang terlihat ketika mereka mampu menaklukkan Kota Konstantinopel yang pada saat itu dikuasai oleh Kerajaan Romawi Timur atau Bizantium. Kota tersebut dikenal sebagai kota dengan berbagai lapisan pertahanan yang sulit ditembus.

Detail mengenai strategi perang antara Bizzantium dan Ottoman dibahas dengan detail pada serial ini. Taktik jenius Sultan Mehmed II (Cem Yiğit Üzümoğlu) yang memindahkan armada laut lewat jalan darat, dibahas dengan jelas disana. Menonton Rise of Empires: Ottoman, tak ubahnya seperti menonton pelajaran sejarah dengan cara yang menyenangkan.

Penggunaan narasi dari berbagai ahli sejarah, semakin memperkuat unsur dokumenter dari Rise of Empires: Ottoman. Jangan kaget kalau pada beberapa bagian film, terdapat beberapa ahli sejarah yang memberikan komentar sekaligus tambahan detail akan apa yang sedang terjadi. Sungguh menarik, sebab ada beberapa hal yang saya baru ketahui. Melalui film ini, saya memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai berbagai alasan kenapa Konstantinopel dapat dikuasi Ottoman.

Saya rasa tidak ada pihak yang digambarkan sebagai penjahat pada Rise of Empires: Ottoman. Kaisar Konstantin XI (Tommaso Basili) tampil sebagai kaisar terakhir Kerajaan Bizantium yang berusaha bertahan. Ia tidak digambarkan sebagai seorang pemimpin yang kejam atau jahat. Sultan Mehmed II pun hadir dengan sangat manusiawi dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa. Film ini tentunya banyak sekali membahas gejolak yang harus Mehmed II hadapi ketika memimpin.

Sayangnya, pembahasan mengenai konflik internal antara Mehmed II dan penasihat utamanya, ditampilkan terlalu banyak. Sejak masih bergelar putra mahkota, Mehmed II memang sudah berambisi untuk menaklukkan Konstantinopel. Hal ini ditentang oleh penasihat utama kerajaan. Selain itu terdapat berbagai hal yang menyebabkan keduanya memiliki banyak perbedaan, tapi tetap saling membutuhkan. Kemudian diperlihatkan pula mengenai keberadaan mata-mata dan pejabat kerajaan yang saling main mata. Hal-hal yang rasanya tidak terlalu penting dan kurang menarik. Bagian ini membuat saya agak mengantuk hehehehe. Rasanya akan lebih menarik bila konflik antara Bizantium dengan Paus dibahas dengan lebih detail. Krisis ekonomi dan perbedaan faham dengan kerajaan-kerajaan Eropa yang tunduk kepada Paus, rasanya hanya memperoleh porsi yang relatif kecil.

Porsi penampilan Kaisar Konstantin XI pun tidak sebanyak tokoh Giovanni Giustiniani (Birkan Sokullu). Namun hal ini masih masuk akal sebab Giustiniani merupakan pemimpin pertahanan Konstantinopel. Jadi, kalau dalam pengaturan strategi peperangan, Giustiniani-lah tokoh yang berhadapan langsung dengan Sultan Mehmed II.

Saya sadar bahwasanya akan selalu ada perdebatan dalam berbagai hal, termasuk sejarah. Detail-detail kecil pada Rise of Empires: Ottoman memang menunjukkan ketidaksempurnaan Sultan Mehmed II Sang Al-Fatih. Pada serial yang satu ini, Sultan Mehmed II memang tidak tampil sebagai mahluk sempurna. Namun itu tidak menghapus kegigihan dan kejeniusan beliau dalam menaklukan Konstantinopel. Julukan Al-Fatih memang pantas untuk diberikan kepadanya.

Saya rasa, Rise of Empires: Ottoman dapat dijadikan tontonan yang menghibur sekaligus mendidik bagi penonton dewasa. Terdapat beberapa bagian yang kurang pas untuk ditonton oleh anak-anak tapi tidak separah Fetih 1453 (2012). Film seri Turki yang satu ini masib setingkat lebih baik daripada Fetih 1453 (2012). Serial Rise of Empires: Ottoman masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80990771