Serial Loki

Loki Laufeyson (Tom Hiddleston) merupakan tokoh antagonis utama dari The Avengers (2012). Ia adalah pangeran Asgard yang cerdas namun licik & narsistik. Kemampuan Loki adalah manipulasi, hipnosis, telekinesis, merubah wujud, duplikat, membaca pikiran, ilusi, kebal dari berbagai penyakit, dan lain-lain terutama terkait ilmu sihir. Karena iri, Loki selalu berusaha merebut kekuasaan atas Asgard dari ayah dan saudaranya. Salah satu usahanya adalah ketika ia menyerang New York pada The Avengers (2012). Kemudian tiba-tiba karakter ini berkembang menjadi semacam anti-hero. Puncaknya adalah ketika berpihak pada Thor & The Avengers pada Thor: Ragnarok (2017), Avengers Infinity War (2018) & Avenger: Endgame (2019).

Pada Avengers Infinity War (2018), Loki tewas dalam sebuah pertempuran dahsyat. Kemudian pada Avenger: Endgame (2019), Avengers yang tersisa berpencar melakukan perjalanan waktu ke masa lalu demi menghidupkan kembali rekan-rekan mereka beserta separuh populasi dunia yang tewas.

Serial Loki diawali ketika salah satu perjalanan waktu The Avengers adalah kembali ke waktu dimana Loki baru saja kalah dalam pertempuran New York pada The Avengers (2012). Loki tiba-tiba berada di dalam sebuah upaya perebutan antara salah batu infinity yaitu batu ruang atau tesseract. Loki yang diborgol berhasil memanfaatkan keadaan dan mengambil tesseract. Ia kemudian menggunakan kekuatan batu tersebut untuk meloloskan diri. Tesseract memungkinkan pemiliknya untuk melakukan teleportasi tidak hanya ke tempat & waktu yang berbeda, namun ke dunia paralel yang berbeda pula.

Setelah melarikan diri dengan batuan tesseract, Loki ditangkap oleh pasukan berseragam hitam dengan logo TVA pada seragamnya. Apa itu TVA? TVA adalah kepanjangan dari Time Variance Authority. Organisasi ini dibetuk oleh Time Keeper untuk menjaga garis waktu sakral. Garis waktu ini merupakan urutan kejadian alam semesta beserta dunia-dunia paralelnya.

Film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) memang menggunakan dunia paralel. Jadi apapun itu yang ada di alam semesta, pasti ada juga di alam semesta paralel lainnya. Hanya saja semuanya tidak identik sama. Berbagai versi dari apapun itu sering kali memiliki wujud dan sifat yang berbeda pada dunia paralel lainnya.

Jadi, semua yang ditangkap oleh TVA, adalah individu-individu yang mengubah sejarah dan membuat cabang garis waktu dari garis waktu sakral. Hal ini terjadi tidak hanya terjadi dengan melalukan perjalanan waktu. Perjalanan lintas dunia paralel dan waktu pun langsung menyebabkan TVA datang.

Intinya, TVA memang berusaha membuat keteraturan dengan menjaga agar hanya ada 1 garis waktu, yaitu garis waktu sakral. Cabang-cabang dari garis waktu keramat harus dihancurkan secepat mungkin karena TVA menganggap bahwa cabang-cabang garis waktu akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran.

Uniknya, Loki yang gemar melakukan kekacauan justru direkruit oleh TVA untuk memburu para pelanggar yang disebut Variant. Di sana, Loki bertemu dengan Loki-Loki versi lainnya. Uniknya mereka semua memiliki 1 kesamaan, mereka semua agak licik.

Loki pun lama kelamaan semakin menyadari bahwa ia terjebak di tengah-tengah petikaian antara kekacauan dan keteraturan. TVA menciptakan sebuat garis waktu yang teratur tanpa menyadari bahwa mereka menghapus kebebasan individu. Semua sudah digariskan dan tidal boleh mengambil jalan yang berbeda dari yang sudah digariskan. TVA pun terlihat semena-mena menangkap dan menghakimi semua variant, tanpa peduli apakah dia masih kecil atau sudah tua. Siapakah yang harus Loki bantu?

Di sini kita melihat Loki jahat yang baru kalah perang dari The Avengers pada The Avengers (2012). Jadi berbagai sifat kahat masih terlihat pada episode-episose awal. Lama kelamaan, Loki terlihat semakin bijaksana dan peduli terhadap kemalangan orang lain. Tapi kelicikannya tetap ada, itu sih tidak bisa hilang, hehehehe.

Karakter Loki di sini sangat kuat. Tom Hiddleston menampilkan akting yang bagus di sini. Loki yang memiliki berbagai sifat jahat, ternyata masih memiliki hati nurani. Semua peritiwa pada serial ini, mengubah Loki menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi masih menyisakan berbagai perangai buruk pula. Di sini, serial Loki berbicara mengenai kesimbangan. Tidak ada mahluk yang murni 100% jahat atau 100% baik. Pastilah semuanya memiliki kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Sepertinya serial ini menyindir telak sinetron-sinetron Indonesia yah ;’D.

Baik dan buruk tidak hanya menempel pada perangai individu saja. Melainkan pada garis waktu dan semua yang berkecimpung di dalamnya di dalamnya. Keteraturan dan kekacauan sama-sama dibutuhkan agar tidak terjadi perang besar antara para variant. Lalu, keteraturan dan kekacauan pun dibutuhkan untuk menjamin kebebasan setiap individu untuk menjalani hidupnya sendiri.

Kemudian bagaimana dengan special effect-nya? Apakah hanya setingkat di atas burung-burungannya sinetron Indosiar? Marvel Studio memang tidak tanggung-tanggun ketika menggarap sebuah proyek. Adegan aksi pada serual ini lumayan seru dan didukung oleh special effect yang bagus sekali, tidal kalah denga film layar lebar Marvel loh. Di luar adegan perkelahian pun, serial Loki berhasil memberikan berbagai visual yang cantik dan meyakinkan. Loki seakam benar-benar berkenala ke berbagai planet di waktu dan dunia paralel yang berbeda.

Pelajaran dan makna yang bagus, disertai oleh plot yang bagus & komunikatif, plus special effect yang cantik, tentunya menjadikan serial Loki layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini pun menjadi serial MCU fase 4 pertama yang dibagi menjadi lebih dari 1 musim pemutaran. Marvel nampak semakin percaya diri dalam menggarap serial-serial superhero.

Sumber: http://www.marvel.com/tv-shows/loki/1

Serial The Legend of the Condor Heroes Versi 2017

Ketika masih kecil dulu, saya suka menonton film kungfu. Saya masih belum mengerti istilah wuxia pada saat itu. Singkat kata, wuxia merupakan film-film tiongkok yang menunjukkan pertarungan ilmu bela diri dengan kekuatan meringankan tubuh, ilmu tenaga dalam dan hal-hal lainnya yang bersifat fantasi. Petualangan tokoh Guo Jing pada The Legends of the Condor Heroes adalah salah satu serial wuxia yang saya coba ikuti. Namun karena penayangannya agak malam, saya sering ketiduran, ahhh susahnya.

Sebenarnya serial wuxia tersebut merupakan adaptasi dari serial novel yang ayah saya baca. Beliau memiliki serial novel-novel berbentuk kecil karangan Jin Yong atau Louis Cha Leung-yung. Novel The Legend of the Condor Heroes merupakam salah satunya. Novel ini memang merupakan bagian pertama dari trilogi condor karangan Luois yang terbit di tahun 50-an.

Kepopuleran novel tersebut membuat beberapa rumah produksi membuat adaptasi The Legend of the Condor Heroes ke dalam bentuk film seri dan film layar lebar. Untuk film serinya saja novel tersebut pernah diadaptasi berkali-kali yaitu pada tahun 1976, 1983, 1988, 1992, 1993, 1994, 2003, 2008 dan 2017. Yaitsss, sering sekali yah. Kisah ini sepertinya memang sudah sangat melekat dengan masyarakat tiongkok.

Kisah The Legend of the Condor Heroes yang saya ikuti ketika masih kecil dulu, terpotong-potong, tidak komplit. Maka saat ini saya ingin menonton lengkap sampai akhir, tapi saya lupa yang dulu saya tonton di RCTI itu versi tahun berapa. Ahhh, daripada bingung saya lebih memilih untuk menonton versi yang lebih baru saja. Kali ini saya memilih untuk menonton yang versi tahun 2017. Konon versi ini memenangkan penghargaan dan didukung oleh teknologi terkini. Katany sih terkini. Semoga lebih bagus ketimbang naga-naga-an sinetron silat Indosiar :’D.

Yang namanya adaptasi, kadang tidak 100% sama dengan versi novelnya. Saya tidak masalah dengan hal itu. Toh Louis sendiri melakukan 2 kali revisi untuk versi novelnya. Revisi yang konon membuat cerita berubah. Aneh juga ya, novel kok direvisi, memangnya skripsi :P.

Mirip seperti di novelnya, peristiwa pada The Legend of The Condor Heroes terjadi di era pertikaian antara Dinasti Jin dengan Dinasti Song. Dinasti Jin merupakan kerajaan dari bangsa Jurchen yang berasal dari wilayah Manchuria, saat ini separuh masuk RRC bagian utara dan separuh lagi masuk Rusia. Sementara itu dinasti Song merupakan kerajaan dari bangsa Han. Saat ini, Han adalah bangsa atau suku yang menjadi mayoritas penduduk RRC (republik Rakyat Cina). Apakah dengan demikian, film seri ini akan condong memihak kepada Dinasti Song?

Kita mulai dahulu dari awal. Kisah diawali ketika 2 keluarga keturunan pendekar hebat tinggal sebagai petani biasa di desa terpencil. Keluarga Yang dan Guo memiliki hubungan yang sangat dekat. Ketika istri dari kedua keluarga sama-sama hamil, maka mereka melakukan perjanjian. Bila yang lahir adalah lelaki dan wanita maka akan dijodohkan, bila yang lahir sama jenis kelaminnya maka akan diangkat menjadi saudara.

Baik keluarga Yang maupun keluarga Guo, mereka merupakan warga Song yang tinggal di wilayah Dinasyi Jin. Pada saat itu Dinasti Jin memang sedang unggul dan berhasil mengambil beberapa wilayah Song, termasuk desa tempat keluarga Guo dan Yang tinggal. Secara mengejutkan, kedua keluarga tersebut dinyatakan sebagai pemberontak tanpa bukti yang jelas. Tentara Dinasti Jin pun datang memburu kedua keluarga tersebut hingga mereka tercerai-berai. Semua terpencar dan terpisah-pisah. Hal ini mempengaruhi anak dari kedua keluarga tersebut. Masing-masing dibesarkan oleh cara dan keadaan yang sangat berbeda.

Anak dari keluarga Yang bernama Yang Kang (Chen Xingxu). Ia dibesarkan oleh pangeran keenam dinasti Jin sebagai bangsawan dinasti Jin yang kaya raya dan sangat berkuasa. Ia memiliki konflik di dalam dirinya karena secara darah ia adalah keturunan Song, tapi orang yang sudah membesarkannya adalah seorang musuh besar dari Song. Yang Kang sendiri memiliki sifat yang licik, kejam dan labil. Namun ia terbilang cerdas dan sangat berbakat. Dengan menggunakan kekuasaannya, ia berhasil berguru pada berbagai ahli beladiri ternama. Pada serial ini, perlahan saya melihat transformasi yang terjadi pada Yang Kang.

Sementara itu anak dari kelurga Guo adalah Guo Jing (Xuwen Yang). Bertolak belakang dari Yang Kang, Guo Jing justru dibesarkan di tengah-tengah gurun pasir dalam keadaan yang sangat sederhana. Sifat pendekar sejati sangat melekat pada diri Guo Jing. Ia jujur, baik hati, suka menolong dan setia kawan. Sayangnya Guo terlalu polos dan kurang cerdas. Beruntung kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh budi baiknya. Berbagai kebaikan yang ia lakukan berhasil membuat banyak orang kagum. Ia pun memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari berbagai ilmu beladiri terkuat yang ada. Tak hanya itu, Guo pun terjebak di dalam cinta segitiga antara ia, putri raja Mongol, dan putri seorang ahli beladiri ternama. Semua terpukau dengan sifat baik yang Guo miliki.

Apapun yang terjadi, Guo hanya mengganggap sang putri Mongol sebagai adik. Ia hanya mencintai putri seorang ahli beladiri ternama yang bernama Huang Rong (Li Yitong). Nona Huang bisa jadi merupakan wanita terpintar di serial ini. Kejeniusannya sering kali berhasil menuntaskan konflik yang ada. Ia rela melakukan apapun demi Guo Jing. Berbagai taktik cerdas ia lakukan demi mendukung Guo. Putri raja Mongol memang baik hati, memiliki harta dan kekuasaan. Namun Huang Rong mampu membantu Guo menguasai berbagai ilmu beladiri dan staretegi perang. Tak hanya itu, berbagai misteri pada serial ini pun sering kali dipecahkan oleh Huang Rong.

Siapakaha Huang Rong sebenarnya? Ia adalah putri semata wayang dari Huang Yaoshi Si Sesat dari Timur (Michael Miu). Ia adalah salah satu dari 5 pendekar terkuat di era Dinasti Song. Bersama dengan Huang, dunia bela diri mengenal Hong Qigong Si Pengemis Utara (Zhao Lixin), Duan Zhixing Si Kaisar Selatan (Ray Lui), dan Ouyang Feng Si Racun Barat (Heizi). Mereka berlima merupakan merupakan pendekar terkuat yang mulai menua dan mengalami perubahan dalam menjalani hidup.

Perkelahian tentunya mewarnai setiap episode serial The Legend of the Condor Heroes. Adegan perkelahiannya tidak ada yang membosankan. Semua karena durasinya yang pas dan makna dibalik perkelahian tersebut. Jadi bukan hanya asal pukul tendang saja. Ada hubungannya dengan plot atau jalan cerita yang kuat.

Saya suka dengan cara serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini bercerita. Serial ini memiliki banyak sub plot yang tidak membosankan sebab sub plotnya selalu sedikit berhubungan dengan plot utama. Kemudian plot utamanya dibuat sedikit terpisah sehingga ada jeda. Dengan demikian, tidak semua episode diakhiri oleh konflik yang menggantung. Selain itu, setiap sub plot dan bagian utama dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kandungan misteri. Jadi, akan ada sesuatu yang membuat saya penasaran tapi tidak monoton.

Karakter Huang Rong sering kali menjadi faktor penentu dalam memecahkan misteri yang ada. Yang paling epik adalah, Huang Rong mampu membuat lawannya saling bertikai sekaligus membersihkan nama keluarganya, hanya dengan modal bicara saja.

Ilmu bela diri Huang Rong tentunya berada di bawah Guo Jin. Tapi semua kemampuan Guo ia peroleh berkat Huang yang cinta mati dengan Guo. Saya menikmati kisah bagaimana perkembangan Guo yang bodoh, perlahan-lahan memiliki ilmu bela diri yang kuat. Dari yang awalnya hanya anak kecil biasa dari padang pasir, tumbuh menjadi salah satu pendekar terkuat di era Dinasti Song.

Sayang, tidak ada pertarungan maha dahsyat antara protagonis dan antagonis pada akhir film ini, sangat berbeda dengan versi lain yang saya tonton dulu. Perkelahian yang seru justru terjadi di pertengahan serial ini berjalan. Bagian akhir serial ini diselesaikan dengan perbincangan dan negosiasi. Jangan harap untuk melihat banyak peperangan kolosal antara Dinasti Song, Jin & Mongol. Saya memiliki kesan, kok penyesaiannya seolah dibuat terburu-buru. Masih banyak ruang untuk cerita-cerita lainnya. Mungkin ini disebabkan karena pengembangan cerita berikutnya akan melibatkan melibatkan banyak orang dan special effect. Ketika harus menggunakan green screen, special effect serial ini memang hanya setingkat di atas special effect serial silat Indonesia. Hasilnya kurang halus, tidak seperti serial-serial papan atasnya Amerika. Untunglah special effect green screen tidak terlalu banyak. Yaaah intinya sih penghematan mungkin ya. Atau mereka ingin menunjukkan bahwa tidak semua pertikaian harus diselesaikan dengan jalan kekerasan, cie ciee. Ah saya tidak tahu alasan pastinya.

Awalnya, saya pikir semua plot utama mengarah ke peperangan kolosal yang menunjukkan kejayaan Dinasti Song. Ternyata saya salah. Nama Guo Jing dan Yang Kang memiliki makna bahwa keduanya diharapkan tetap setia kepada Song sebagai kampung halamannya. Setia di sini ternyata setia kepada warga Dinati Song, buka pejabat atau rajanya. Di sana dikisahkan bahwa baik Song, Jin, dan Mongol, masing-masing memiliki keburukan. Guo Jing dan kawan-kawan hanya berpihak kepada kemanusiaan. Mereka hanya menginginkan perdamaian….

Bagian akhir yang agak antiklimaks dan sedikit mengecewakan, tetap dapat ditutupi oleh kisah yang bagus dan adegan perkelahian yang seru. Dengan demikian serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Pada awalnya, saya menonton The Legend of the Condor Heroes versi 2017 sebari menunggu 2 episode terakhir serial Loki yang saya tunggu-tunghu. Terimkasih kepada The Legend of the Condor Heroes versi 2017, semua itu teelewatkan. Saya telat seminggu lebih menonton serial Loki karena penasaran dengan kisah Guo Jing dan kawan-kawan :’D.

Sumber: http://www.huacemedia.com/television/movieInfo/16.html

The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

Black Widow (2021)

Black Widow merupakan salah satu tim inti kelompok superhero The Avengers yang hampir selalu muncul di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Sudah sejak lama para fans menantikan film solo Black Widow. Entah apakah ini sudah terlambat atau belum, baru pada tahun 2021 ini Black Widow memperoleh film solonya melalui Black Widow (2021).

Masa kecil Black Widow atau Natasha Romanov (Scarlett Johansson) dihabiskan sebagai bagian dari keluarga mata-mata Rusia. Mereka berpura-pura menjadi keluarga Amerika biasa yang tinggal di Ohio. Setelah misi mata-mata selesai, keluarga tersebut terpecah.

Natasha kecil kemudian dilatih di dalam Red Room oleh Jendral Dreykof (Ray Winstone) untuk menjadi seorang Black Widow. Sekumpulan tentara handal yang sangat terlatih untuk menyelesaikan berbagai misi. Pelatihan yang diberikan sejak kecil, tentunya menjadi Natasha sangat handal. Namun pada akhirnya ia memilih untuk membunuh Dreykof dan membelot menjadi anggota S.H.I.E.LD. untuk kemudian menjadi anggota The Avengers. Sejak saat itu Natasha mengaggap Dreykof dan Red Room sudah musnah.

Bertahun-tahun kemudian, Yelena Belova (Florence Pugh) memberitahu Natasha bahwa Dreykof selamat dan Red Room masih beroperasi secara tersembunyi. Di Ohio dulu, Yelena sempat menjadi adik Natasha dalam keluarga pura-pura mereka. Dari sana, mereka mengumpulkan informasi mengenai Red Room dengan menemui agen yang berperan menjadi ayah dan ibu mereka di Ohio dulu.

Setelah misi menjadi ayah di Ohio selesai, Alexei Shostakov (David Harbour) menjadi Red Guardian, versi Uni Soviet dari Captain Amerika. Pada masanya Red Guardian pun harus berhadapan dengan Captain America.

Sementara itu, figur ibu bagi Natasha & Yelena, Melina Vostokoff (Rachel Weitz) menjabat sebagai ketua tim peneliti Red Room. Selain itu, ternyata Melina pun seorang Black Widow yang dahulu dilatih di Red Room.

Ketika Natasha, Yelena, Alexi dan Melina bertemu, ada nostalgia yang sentimentil di sana. Misi mereka di Ohio adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Bagi mereka, semua yang terjadi di Ohio terasa nyata.

Seperti menjadi ayah & ibu sungguhan, Melina & Alexei bersedia membantu Yelena & Natasha melawan Dreykof yang dikawal oleh banyak Black Widow. Tak hanya itu, keempatnya harus berhadapan dengan Taskmaster (Olga Kurylenko). Kostum Taskmaster sebenarnya sudah cukup sangar, sayang perannya hanya untuk berkelahi saja. Black Widow (2021) sepertinya kurang memaksimalkan karakter yang satu ini.

Namun, keterlibatan Taskmaster dalam adegan perkelahian, tetap terlihat bagus. Saya suka dengan berbagai adegan aksi pada Black Widow (2021). Semuanya terbilang realistis dan seru untuk ditonton. Apalagi di sana Natasha melakukan taktik perang psikologis yang menjadi keahliannya. Saya benar-benar terhibur di sana.

Ditambah lagi dengan jalan cerita yang cerdas & enak untuk diikuti, Black Widow (2021) semakin banyak memiliki kelebihan. Mirip film-film MCU lainnya, beberapa humor pun diselipkan pada Black Widow (2021) dan hasilnya terbilang pas. Humornya hadir disaat yang tepat sehingga dapat menjadi penyegar di tengah-tengah berbagai adegan aksi yang serius.

Hampir semua peristiwa pada Black Widow (2021), terjadi sesaat setelah Captain America: Civil Wars (2016). Jadi, bagi yang sudah menonton setiap film-film MCU, pasti tahu persis kapan Natasha gugur. Sudah dapat dipastikan Natasha akan tetap segar bugar setelah Black Widow (2021) berakhir. Saya rasa ini bukanlah kejutan. Toh selama ini tidak pernah ada film superhero solo MCU dimana tokoh utamanya tewas pada film solo pertamanya. Jagoan mah menang terus dong.

Saat ini beberapa tokoh utama The Avengers seperti dipensiunkan dengan berbagai alasan. Yah selain kontrak para pemerannya memang habis, MCU membutuhkan penyegaran. Hilang 1, muncul 1, kurang lebih itulah yang terjadi. Captain America baru sudah terlahir melalui Serial The Falcon and the Winter Soldier. Black Widow pun saya rasa mengalami hal yang sama dan Black Widow (2021) berperan untuk memperkenalkan calon Black Widow baru pengganti Natasha.

Saya rasa tidak pernah ada kata terlambat bagi kemunculan film apapun termasuk Black Widow, selama kualitasnya ok. Untuk Black Widow (2021) sendiri, saya ikhlas memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/black-widow

The Tomorrow War (2021)

Akhirnya film yang saya tunggu-tunggu hadir juga, The Tomorrow War (2021). Saya sudah tertarik dengan film ini ketika melihat trailer-nya. Ceritanya berkisar pada bagaimana seseorang dari masa lalu membantu anaknya untuk memenangkan perang di masa depan.

Dikisahkan bahwa pada tahun 2022 sekelompok penjelajah waktu hadir di tengah-tengah pertandingan Piala Dunia. Mereka mengabarkan bahwa sekitar 30 tahun dari tahun 2022, Bumi diserang oleh mahluk misterius yang disebut landak putih. Pihak manusia terus menerus mengalami kekalahan dan diperkirakan akan mengalami kepunahan.

Maka mereka meminta bantuan dari umat manusia yang hidup di tahun 2022 untuk datang ke masa depan. Mereka mengajak untuk ikut berperang menyelamatkan generasi anak dan cucu mereka di masa depan. Pemerintah pun merespon dengan mengirimkan tentara dan rakyat sipil yang memenuhi persyaratan. Wajib militer pun diberlakukan.

James Daniel “Dan: Forester (Chris Pratt) adalah mantan pasukan baret hijau yang mengajar biologi di sekolah. Ia mendapatkan panggilan wajib militer dan pergi ke masa depan. Secara mengejutkan, Dan bertemu dengan Kolonel Muri Forester (Yvonne Strahovski), anaknya di masa depan. Seketika itulah peperangan ini berubah menjadi masalah pribadi bagi Dan. Keduanya bekerjasama mencari cara untuk memenangkan perang secepat mungkin. Bala bantuan dari masa lalu ternyata kurang cukup dan populasi manusia semakin menurun.

Peperangan dan aksi yang disajikan terbilang keren dan bagus. Hanya saja kok rasanya mirip dengan Starship Troopers (1997) ya. Mulai dari bentuk monsternya sampai tembak-tembakannya.

Tapi saya senang, The Tomorrow War (2021) mengambil topik dan jalan cerita yang jauh berbeda dari Starship Troopers (1997). Jalan cerita The Tomorrow War (2021) lebih menarik untuk diikut. Temponya pas sekali sehingga setiap adegan, menarik untuk dilihat. Penyelidikan untuk mencari cara memenangkan perang adalah bagian yang paling membuat saya penasaran.

Tak hanya itu, The Tomorrow War (2021) ternyata bercerita pula mengenai keluarga. Bagaimana hubungan keluarga yang tidak harmonis, kembali pulih melalui serangkaian bencana.

Saya rasa The Tomorrow War (2021) pamtas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah sekuel dikabarkan akan hadir. Hmmmm kalau sudah berbicara mengenai perjalanan waktu, memang pasti banyak celah untuk memutar-mutar ceritanya.

Sumber: http://www.amazon.com/Tomorrow-War-Chris-Pratt/dp/B093CNZ7ST

The Admiral: Roaring Current (2014)

The Admiral: Roaring Current (2014) merupakan film Korea yang mengisahkan pertempuran Myeongnyang antara Kekaisaran Jepang dengan dinasti Joseon dari Korea. Kekaisaran Jepang secara khusus mengirim Kurushima Michifusa (Ryu Seung-ryong), si raja bajak laut. Sementara itu armada Korea dipimpin oleh Laksamana Yi Sun-sin (Choi Min-sik). Sejarah mencatat Yi Sun-sin (명량) sebagai Laksamana terbaik yang dinasti Joseon miliki. Kesuksesan Yi beberapa kali membuat banyak orang iri dan membuat Yi kehilangan jabatan dan dibuang. Politik di dalam dinasti Joseon yang pada saat itu memang agak kotor. Bahkan Laksamana secakap Yi beberapa kali mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Namun karena reputasi dan kemampuan militernya, Yi selalu mendapatkan kembali jabatannya.

Jasa terbesar Yi bagi Korea adalah kemampuannya menghadapi invasi Jepang yang digaungkan Toyotomi Hideyoshi. Yi diangkat sebagai pemimpin tertinggi angkatan laut dinasti Joseon. Sementara Yi terus mememangkan pertempuran di laut, tentara Korea terus mengalami kekalahan di darat. Karena sikapnya yang keras dan lagi-lagi politik, Yi difitnah dan disingkirkan dari angkatan laut. Padahal pada saat itu Jepang berjaya di darat dan sukses membuat pemerintah Korea melarikan diri dari ibukota. Korea hanya menang di laut.

Di bawah komando laksamana lain, angkatan laut Korea hancur lebur dan selalu kalah. Apa yang kemudian para pemimpin Korea lakukan? Kembali memanggil Yi untuk memimpin angkatan laut lagi :’D. Hanya saja, saat Yi kembali menjabat, Korea hanya memiliki 12 kapal perang saja, ditambah 1 kapal perang spesial yang Yi desain.

Melalui sebuah aksi desersi, Yi kehilangan kapal perang spesial terakhirnya. Kondisi Korea semakin berat. Kali ini Yi bahkan tidak dapat menggunakan kapal perang andalannya, geobukseon atau kapal perang kura-kura. Dahulu, Yi berhasil memenangkan berbagai pertempuran laut dengan menggunakan kapal tipe ini. Bentuknya unik karena bagian atas kapal bentuknya tertutup seperti rumah kura-kura.

Sekarang, Yi mau tak mau harus memanfaatkan 12 kapal perang terakhir yang ia miliki untuk menahan laju invasi Jepang. Pihak Jepang sendiri membawa 133 kapal perang yang dipimpin oleh Kurushima dan 2 laksamana Jepang lainnya. Jadi pertempuran kali ini adalah 12 melawan 133, sangat tidak berimbang yaa. Pemimpin Korea kala itu, sampai hendak membubarkan saja angkatan lautnya. Bisa apa dengan 12 kapal saja?

Dengan cerdiknya, Yi memilih wilayah Myeongnyang sebagai lokasi pertempuran. Arus laut di sana memiliki karakteristik unik yang pihak Jepang tidak ketahui. Inilah kunci kesuksesan Yi agar 12 kapal perangnya dapat mengatasi 133 kapal perang Jepang.

Durasi The Admiral: Roaring Current (2014) lumayan panjang, 2 jam loh. Pada sekitar 1 jam pertama, tempo film ini berjalan lambat. Dikisahkan bahwa terdapat keraguan di dalam anak buah Yi sendiri. Kemudian setelah beberapa kali dibuang, kenapa Yi masih tetap sudi membela dinasti Joseon. Agak drama sih. Sampai-sampai saya ragu ini film ada perangnya atau tidak ya. Jangan-jangan isinya hanya politik dan persiapan perang saja @_@.

Ternyata saya salah besar, sekitar 1 jam terakhir pertempuran Myeongnyang benar-benar dikisahkan dengan cara yang sangat bagus. Adu taktik perangnya benar-benar seru. Jarang-jarang ada film kerajaan yang mengisahkan taktik perang laut sebaik ini loh. Saya sangat suka dengan bagian ini, keeren.

Apalagi kostum-kostum pada film ini terbilang bagus, terutama yang dipergunakan pihak Jepang. Para pejabat kekaisaran tampil dengan aneka kostum tradisional Jepang yang berwarna-warni. Memang agak kontras dengan kostum perang tentara Korea yang hanya itu-itu saja.

Kemudian yang perlu digarisbawahi juga adalah akting Choi Min-sik sangat bagus disana. Ia berhasil memerankan sosok Laksamana Yi yang keras dan pantang menyerah disaat Yi sudah menua dan sakit sekalipun. Beberapa tindakan Yi memang ekstrim tapi di sana ditunjukkan pula bagaimana ia merasa bersalah akan keputusan yang ia buat. Mulai dari mimik sampai intonasi, semuanya benar-benar bagus sekali.

The Admiral: Roaring Current (2014) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 2 jempol deh untuk film ini, kereen.

Sumber: m.cjem.net

Serial The Falcon and the Winter Soldier

Avenger merupakan kumpulan superhero ternama dari Marvel Comics dan telah hadir berkali-kali dalam film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) yang saling berhubungan. Karakter Falcon / Sam Wilson (Anthony Mackie) dan Winter Soldier / Bucky Barnes (Sebastian Stan) merupakan bagian dari Avenger yang tidak terlalu terkenal. Saya pun tidak berharap banyak ketika Serial The Falcon and the Winter Soldier hadir di aplikasi streaming Disney+.

Seperti film-film MCU sebelumnya, The Falcon and the Winter Soldier tetap dapat dinikmati tanpa harus menonton film-film MCU sebelumnya. Namun, akan lebih nyaman kalau kita mengetahui sekilas mengenai latar belakang karakter-karakter yang ada. Semuanya sudah dikisahkan pada film-film MCU sebelumnya. Dari sekian banyak film-film MCU, rasanya The Falcon and the Winter Soldier berkaitan dengan Captain America: The First Avenger (2011), Captain America: The Winter Soldier (2014), Captain America: Civil Wars (2016) dan Avengers: Endgame (2019). Wah, mayoritas terkait film tentang Captain America / Steve Rogers (Chris Evans) yah. Falcon dan Winter Soldier memang merupakan 2 orang terdekat Captain America. Baiklah, supaya teman-teman tidak perlu menonton teelebih dahulu film-film MCU yang tadi saya sebutkan, saya akan sekilas membahas mengenai latar belakang keadaan Falcon dan Winter Soldier pada film seri ini.

Kita awali dari Winter Soldier atau Bucky Barnes. Ia merupakan sahabat Steve Rogers sejak mereka masih terlibat Perang Dunia Kedua. Keduanya adalah personel militer Amerika Serikat yang pergi melawan Nazi. Steve kemudian menggunakan serum tentara super hingga akhirnya ia menjadi Captain America dengan berbagai kekuatan supernya. Selain berjuang langsung di garis depan, Steve berhasil menjadi maskot dan marketing bagi perjuangan Amerika di Perang Dunia Kedua. Steve tampil sebagai Captain America yang menginspirasi mayoritas penduduk dunia. Perisainya pun menjadi ciri khas Captain America yang melekat sepanjang masa. Semua ini dikisahkan pada Captain America: The First Avenger (2011). Sayangnya, pada film ini dikisahkan pula bagaimana Captain America menghilang dan membeku. Sementara itu Bucky terjatuh dan tidak jelas nasibnya.

Kemudian pada Captain America: The Winter Soldier (2014), dikisahkan bahwa Steve dan Bucky harus berhadapan setelah tidak bertemu selama 70 tahun. Karena kekuatan supernya, Steve dapat dibangkitkan dari fase beku tanpa mengalami penuaan. Sementara itu, Bucky tidak hilang, melainkan menjadi objek percobaan tentara super Nazi. Karena Bucky setengah mesin dan memiliki serum manusia super di dalam darahnya, maka ia pun tetap hidup puluhan tahun tanpa menua seperti Steve. Sayang, Bucky mengalami cuci otak sehingga selama puluhan tahun pula Bucky beraksi sebagai pembunuh profesional yang sangat handal. Ketika berhadapan dengan Bucky, Steve memperoleh bantuan dari Sam Wilson. Di sini, Sam memperoleh kostum dan menjelma menjadi Falcon. Falcon tidak memiliki kekuatan super. Ia memiliki kostum yang dapat membuatnya terbang dengan cepat dan lincah.

Pada Captain America: Civil Wars (2016), Bucky yang mulai insyaf dituduh membunuh pemimpin negeri Wakanda. Insiden ini membuat Avengers terpecah dan saling baku hantam. Semua ini adalah ulah Baron Helmut Zemo (Daniel Brühl) yang sangat anti terhadap konsep manusia super. Zemu ingin memusnahkan semua manusia super yang ada. Menurutnya, manusia super akan memunculkan sebuah supremasi dimana pada akhirnya manusia biasa akan ditindas oleh manusia super. Pada akhirnya, semua rencana Zemo gagal dan ia dijebloskan ke dalam penjara.

Terakhir, pada Avengers: Endgame (2019) dikisahkan bahwa Thanos berhasil memusnahkan separuh populasi alam semesta dengan kekuatan batu-batu infinity. Kemudian, setelah 5 tahun berlalu, Avengers dan superhero-superhero lain, berhasil mengalahkan Thanos dan menghidupkan kembali separuh populasi alam semesta yang sempat Thanos musnahkan. Hal ini disebut “blip” oleh media masa saat itu.

Semua kejadian pada Serial The Falcon and the Winter Soldier terjadi setelah insiden “blip”. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak sekali perubahan yang terjadi. Sebagian dari warga yang kembali hidup, mengalami berbagai masalah sehingga mereka terlantar dan tidak memiliki rumah. Penanganan yang lambat dan kurang tepat dari pemerintah menghadirkan sebuah ancaman baru yang disebut Flag Smashers.

Flag Smasher adalah sekumpulan anak-anak muda yang telah mencuri serum manusia super dan telah berhasil menyuntikkan serum tersebut kepada diri mereka. Dengan kekuatan super yang Flag Smasher miliki, mereka melakukan berbagai aksi yang dimaksudkan untuk menolong para korban insiden “blip” yang terlantar. Pada awalnya aksi ini mendapatkan banyak simpati dari beberapa lapisan masyarakat. Sayang lama kelamaan cara-cara yang Flag Smasher ambil semakin brutal dan merugikan orang banyak.

Di sini, Falcon dan Winter Soldier hadir berusaha menghentikan Flag Smashers. Falcon masih yakin ada kebaikan di dalam Flag Smashers dan ia berusaha agar Flag Smashers dapat melakukan aksinya dengan jalan damai. Falcon termasuk individu yang hilang selama 5 tahun, jadi ia tahu persis rasanya menjadi korban insiden “blip”.

Sementara itu Winter Soldier hadir dengan berbagai trauma masa lalu dan kekesalan yang dalam terhadap Falcon. Pada bagian paling akhir dari Avengers: Endgame (2019), Steve Rogers / Captain America menyerahkan perisai Captain America kepada Falcon. Secara tidak langsung, hal ini dimaksudkan agar Falcon mengenakan perisai tersebut & menjadi Captain America yang baru. Namun apa yang Falcon lakukan? Ia merasa ragu dan menyerahkan perisai tersebut kepada pemerintah. Winter Soldier merasa bahwa Falcon tidak menghargai Steve Rogers. Hal ini semakin kacau ketika pemerintah dengan seenaknya melantik seorang Captain America baru dan menyerahkan perisai Steve Rogers kepadanya :(.

John Walker (Waytt Russell) dipilih sebagai Captain America yang baru. Film seri ini dengan cerdasnya berhasil membuat saya untuk tidak menyukai karakter Walker Si Captain America Kawe 3 ini. Sejak awal, tokoh ini terlihat kurang pantas untuk menjadi Captain America yang baru. Bukan karena Walker itu orang yang jahat yaaa. Namun dari gerak-gerik dan gayanya, Walker adalah seorang tokoh yang dengan sangat mudah untuk dibenci. Walker yang sangat ambisius pun berusaha merayu Falcon & Winter Soldier untuk menjadi bagian dari tim yang Walker bentuk. Walker berambisi untuk menangkap Flag Smasher demi pengakuan dan keluar dari bayang-bayang Steve Rogers yang fenomenal.

Kecewa dengan keputusan pemerintah, Winter Soldier & Falcon tentunya menolak mentah-mentah tawaran Walker. Mereka lebih memilih untuk berkerja sama dengan Baron Helmut Zemo untuk menghentikan Flag Smashers. Zemo memang seorang kriminal, namun ia sangat menentang keberadaan serum manusia super. Selain itu Zemo memiliki berbagai koneksi yang dapat ia gunakan untuk melacak keberadaan Flag Smashers.

Film seri ini ternyata berhasil menampilkan sebuah kisah yang enak dan menarik untuk diikuti. Kerjasama tim antara Winter Soldier dan Falcon dapat ditampilkan dengan sangat baik. Saya suka dengan bagaimana kedua tokoh utama ini berinteraksi. Masing-masing memiliki masalah yang pada akhirnya akan terpecahkan bersama-sama. Namun, porsi Falcon nampaknya relatif lebih besar ketimbang Winter Soldier.

Adegan aksinya pun ternyata jauh dari kata mengecewakan. meskipun hadir dalam wujud film seri, The Falcon and the Winter Soldier ternyata cukup seru dan menampilkan berbagai aksi yang tidak kalah dengan adegan aksi pada film-film layar lebar MCU. Bukan mustahil apabila dikemudian hari keduanya menghadapi lawan-lawan lain selain Flag Smasher.

Integrasi antara The Falcon and the Winter Soldier dengan beberapa film MCU lainnya pun terjahit dengan mulus. Semuanya tampak menyambung tanpa membuat bingung para penonton baru. Inti dari ceritanya sangat mudah dipahami dan tidak terlalu berbelit-belit. Semua ini sebenarnya terkait transformasi Falcon menjadi Captain America, sesuatu yang sudah dapat ditebak sejak awal. Namun kita semua memang tidak tahu sampai kapan Falcon bersedia menggenggam perisai Captain America. Semua dapat tiba-tiba berubah di MCU. Lalu bagaimana dengan Winter Soldier? ia masih harus terus melawan bayang-bayang akan kajahatan yang ia lakukan ketika masih menjadi pembunuh berdarah dingin.

Bagi para pembaca setia buku komik Marvel tentunya sudah dapat menebak akhir dari The Falcon and the Winter Soldier. Namun kelebihan dari film seri ini memang pada jalan ceritanya, bukan dari akhir ceritanya. Dengan demikian saya rasa The Falcon and the Winter Soldier layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Wrath of Man (2021)

Wrath of Man (2021) merupakan remake dari film Prancis Le Convoyeur (2004). Film ini mengisahkan perampokan mobil lapis baja bermuatan uang tunai. Patrick Hill (Jason Statham) merupakan personel baru dari Fortico Security, perusahaan kendaraan lapis baja yang bertugas memindahkan uang dengan aman.

Hill tentunya bertugas menjaga uang yang ia angkut. Pekerjaan baru Hill ini merupakan pekerjaan beresiko tinggi. Upaya perampokan kendaraan lapis baja sudah beberapa kali memakan korban. Hanya saja, Hill merupakan karakter yang diperankan Jason Statham. Well, Statham memerankan sebuah peran yang sering kali ia perankan di film-film aksi lainnya. Hill terkesan dingin dan sangat mampu menghadapi bahaya. Saya suka sekali dengan penampilan Statham kali ini. Adegan aksinya tidak berlebihan dan tidak bertele-tele. Semua secukupnya sehingga tidak membosankan.

Perlahan-lahan, identitas asli Hill terbuka. Terdapat alasan kuat mengapa orang seahli Hill mau saja bekerja di Fortico Security. Praktis tidak ada kejutan yang berarti pada Wrath of Man (2021). Pada dasarnya ini merupakan film balas dendam biasa. Walaupun alur ceritanya dibuat maju-mundur, saya tidak merasa kebingungan. Semuanya terbilang sangat mudah dipahami.

Saya rasa Wrath of Man (2021) cukup menghibur berhasil dan sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini sangat cocok bagi teman-teman yang menginginkan film aksi segar yang tidak membuat penontonnya berfikir keras :).

Sumber: http://www.wrathofman.us

Mortal Kombat (2021)

Mortal Kombat telah berhasil menjadi permainan favorit saya di era tahun 90-an. Permainan fighting 1 lawan 1 besutan Ed Boon & John Tobias ini, termasuk yang revolusioner pada eranya. Grafik yang mirip seperti petarung sungguhan dan mode permainan yang brutal dan sedikit sadis, menjadikan Mortal Kombat sebagai permainan yang sangat populer. Saya sendiri memainkan permainan Mortal Kombat mulai dari Mortal Kombat, MK II, MK 3 sampai Mortal Kombat X. Entah mengapa, permainan ini tidak usai-usainya membuat saya berhenti bermain x_x.

Kesuksesan versi video game pada akhirnya menelurkan Mortal Kombat (1995). Aaahhhh, sebuah film layar lebar yang saya tonton di bioskop, hehehehe. Kemudian hadir sekuelnya, Mortal Kombat: Annihilation (1997), sebuah sekuel buruk yang seharusnya dimusnahkan dari sejarah :P. Lama tak terdengar kabarnya, Mortal Kombat hadir kembali di layar lebar melalui Mortal Kombat (2021). Terus terang, saat ini, popularitas Mortal Kombat tidak segemerlap dahulu lagi. Akankah film yang satu ini akan menjadi film yang menarik?

Sedikit pengantar, Mortal Kombat merupakan kompetisi antara earthrealm dengan outworld. Para petarung terbaik dari kedua dunia tersebut, harus bertarung demi kelangsungan hidup dunia masing-masing. Kompetisi yang diawasi oleh dewa-dewa kuno ini, telah berlangsung selama beberapa generasi.

Berbeda dengan Mortal Kombat (1995), pada Mortal Kombat (2021), undangan untuk memasuki Mortal Kombat diperoleh melalui tanda naga yang tiba-tiba muncul seperti tato. Lalu, apakah Mortal Kombat (2021) mengisahkan mengenai jalannya kompetisi tersebut? Lucunya, tidak, hmmmm agak menjengkelkan ya. Mortal Kombat (2021) seperti pengantar sebelum pejuang earthrealm dan outworld benar-benar bertarung di Mortal Kombat.

Beberapa tokoh ikonik Mortal Kombat dihadirkan pada film yang satu ini. Sayang 1000 sayang, saya lihat tokoh utama Mortal Kombat (2021) justru berasal dari karangan si sutradara film :(. Karakter tersebut tidak pernah ada pada versi video game. Dari sekian banyak karakter Mortal Kombat yang keren-keren, kenapa justru memilih membuat karakter baru yang sangat asing?

Fokus utama Mortal Kombat (2021) bukanlah pada kompetisinya. Melainkan kisah zero to hero dari Cole Young (Lewis Tan). Seorang atlit MMA gurem yang ternyata memiliki kaitan yang erat dengan salah satu karakter kuat Mortal Kombat. Biasanya saya suka dengan kisah zero to hero. Tapi kali ini, ahh, sangat membosankan.

Aaaaahh tapi tenang, tokoh-tokoh seperti Liu Kang, Kung Lao, Shang Tsung, Kano, Sonya Blade, Jax, Mileena, Kabal, Goro tetap hadir dengan efek spesial yang keren. Hanya saja, melihat mereka bertarung, seperti melihat petarung yang sedang latihan. Adegan pertarungan pada Mortal Kombat (2021) dibuat cantik dan penuh efek spesial, tapi kurang brutal. Mereka tidak seperti sedang bertarung demi sesuatu yang berharga.

Semua terselamatkan oleh Sub-Zero (Joe Taslim) dan Scorpion (Hiroyuki Sanada). Kualitas pertarungan keduanya jauh berada di atas pertarungan antar petarung lainnya. Kedua karakter ini lebih cocok dijadikan hidangan utama Mortal Kombat (2021). Permusuhan dan kebencian di antara keduanya sedikit mengobati beberapa kekecewaan saya terhadap Mortal Kombat (2021).

Sayang sekali, saya tetap hanya dapat memberikan Mortal Kombat (2021) nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film ini didesain agar memiliki sekuel. Semoga sekuelnya bisa lebih seru lagi.

Sumber: http://www.mortalkombatmovie.net

Nobody (2021)

Nobody (2021) memiliki judul yang sangat berkaitan dengan tokoh utamanya. Hutch Mansell (Bob Odenkirk) berusaha menjadi “nobody” atau “bukan siapa-siapa”. Ia berusaha tampil sebagai kepala keluarga biasa yang hidup dengan istri dan kedua anaknya. Ia bahkan rela terlihat lemah demi menutupi rahasinya. Pada bagian awal film, Mansell memang sedikit mendapat cibiran sebagai laki-laki lemah. Tapi tenang, itu tidak berlangsung lama dan cibirannya tidak berlebihan. Semuanya nampak cukup wajar dan secukupnya. Biasanya, pada film-film lain yang sejenis, cibiran kepada si tokoh utama dibuat banyak dan berlebihan supaya penonton kesal dan terbawa emosi. Kali ini penonton tidak dibawa ke arah itu.

Di sini, sejak awal Mansell seperti menyembunyikan sesuatu di dalam dirinya. Beberapa tokoh yang mengetahui rahasia Mansell, terlihat ketakutan ketika melihat Mansell muncul. Siapakah Mansell sebenarnya? Mafia? Gangster? CIA? FBI? KGB? atau BIN? :’D

Apapun organisasinya, yang pasti Mansell mampu menghabisi banyak orang ketika ia sedang serius. Jangan salah, Nobody (2021) tidak tampil seperti mayoritas film aksi di era 90-an. Semua adegan aksinya ditampilkan dengan sangat wajar dan masuk akal. Tokoh Mansell seolah-olah memang benar ada di dunia nyata. Saya dapat melihat dengan jelas ekspresi kaget takut dan kesakitan dari Mansell. Saya acungkan 2 jempol deh bagi akting Bob Odenkirk.

Adegan aksi Nobody (2021) terbilang keren sekali. Dari awal sampai akhir, semuanya sukses menghibur malam minggu saya. Sekilas, Nobody (2021) memiliki beberapa kesamaan dengan film-filmnya John Wick. Hal ini tidak mengherankan sebab penulis dan produser Nobody (2021) adalah bagian dari tim yang terlibat pada film-film John Wick. Saya pribadi sedikit lebih senang dengan Nobody (2021) dibandingkan kedua film John Wick yang sudah dirilis. Mansell berjuang dengan keluarga sebagai taruhannya. Sementara itu John Wick berjuang untuk keselamatan dirinya sendiri, tidak ada keluarga lagi di sisi John. Pertaruhan Mansell terasa lebih besar dan beresiko.

Dibalut dengan jalan cerita yang bagus dan tidak membosankan, film yang satu ini sangat layak untuk ditonton. Nobody (2021) sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisan ini, Nobody (2021) adalah film terbaik yang saya tonton sepanjang awal tahun 2021.

Sumber: http://www.nobody.movie