Aquaman (2018)

Aquaman (2018) hadir di atas reruntuhan DC Extended Universe yang terpuruk setelah kurang berhasilnya Justice League (2017). Kepergian sutradara dan pemain utama dari DC Extended Universe membayangi khadiran Aquaman di layar lebar. Bagaimanapun juga, Aquaman (2018) sebenarnya bagian dari sederet film-film superhero DC Comics yang pada awalnya akan saling terkait dan membentuk DC Extended Universe. Sayang pendekatan yang terlalu serius dan gelap membuat DC Extented Universe kalah jauh dengan Marvel Cinematic Universe, pesaing mereka. Akankah Aquaman (2018) dapat belajar dari kegagalan dan membuat perbedaan?

Karakter Aquaman atau Arthur Curry (Jason Momoa) kali ini nampak garang dan sangar. Film ini berhasil mengubah citra Aquaman sebagai superhero culun kelas 2. Adegan perkelahian pada Aquaman (2018) sangat menghibur dan cantik. Semua adegan pertarungan nampal jelas karena pertarungan tidak hanya ditunjukkan dari jarak dekat. Semua sudut ditunjukkan, apalagi mayoritas latar belakang film ini adalah lautan yang sangat luas. Pertarungan di bawah laut memang membawa nuansa lain dibandingkan film-film superhero DC sebelumnya.

Tapi kok di bawah laut? Aquaman memiliki kekuatan berkomunikasi dengan binatang laut, berenang super cepat, mengendalikan laut dan kekuatan di atas rata-rata manusia biasa. Ia adalah anak dari seorang manusia biasa dengan ratu Atlantis. Perbedaan asal usul kedua orang tuanya membuat Aquaman seolah “dibuang” dan hidup di permukaan yang kering, tidak di bawah laut bersama bangsa Atlantis. Aquaman di sini adalah seseorang yang memendam amarah dan siap meledak kapan saja.

Kedamaian antara penduduk darat dan penduduk bawah laut terancam ketika adik tiri Aquaman, Orm Marius (Patrick Wilson), berusaha mengadu domba kedua belah pihak demi menyatukan Kerajaan Atlantis dan menjadi raja Atlantis yang baru. Saat ini keadaan Atlantis memang terpecah ke dalam beberapa Kerajaan bawah laut. Belum ada sosok seorang raja yang mampu menyatukan mereka dan membentuk kembali Kerajaan Atlantis yang kuat.

Nah, 2 orang bangsawan Atlantis, YMera Xebella “Mera” Challa (Amber Heard) dan Nuidis Vulko (Willem Dafoe), berusaha membawa Aquaman kembali ke Atlantis untuk menghentikan Orm dan menyatukan kembali Atlantis di bawah 1 kepemimpinan seperti sediakala.

Ahhh di sini sebenarnya terdapat plot from zero to hero yang seharusnya menarik. Sayang jalan cerita yang lebih fokus pada pencarian sebuah senjata super membuat semuanya terasa agak hambar dan mudah ditebak. Terdapat banyak sub-plot yang sebenarnya memiliki potensi untuk memperkaya cerita, tapi kenyataannya hanya terhenti dengan cepat dan tanpa emosi.

Karakter antagonisnya pun seharusnya Orm dan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) ya tapi kok hanya Orm saja yang muncul dipermukaan. Padahal rasanya Black Manta lebih populer loh di komiknya. Karakter Black Manta gagal tampil menonjol padahal sudah ada amunisi terkait dendam lama antara ia dengan Aquaman. Yaaah, semua karakter antagonis pada Aquaman (2018) memiliki alasan yang klise dalam melakukan kejahatan, ya begitu-begitu saja :’D.

Saya rasa Aquaman (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini tidak menenggelamkan DC Extended Universe, tapi gagal pula membuat franchise tersebut kembali bersinar.

Sumber: http://www.aquamanmovie.net

Iklan

Alita: Battle Angel (2019)

Era manga sudah berakhir bagi saya. Jadi, saya betul-betul tidak mengetahui apa Alita itu. Begitu mendengar kata Alita, yang terbesit di pikiran saya justru malah sebuah perusahaan telekomunikasi, bukan film. Alita kebetulan merupakan nama sebuah perusahaan telekomunikasi yang menjadi vendor beberapa operator telekomunikasi di Indonesia :’D. Lah kok ingetnya malah kerjaan yah :P.

Jadi, Alita: Battle Angel (2019) adalah film yang diadaptasi dari manga atau komik Jepang berjudul Gunnm (銃夢). Sebenarnya sih Gunnm itu sudah terbit di tahun 90-an, tapi sepertinya di tahun-tahun tersebut saya sibuk membaca manga Kungfu Boy, Dragon Ball dan Saint Seiya :’D. Selepas itu, saya agak terputus dari manga, saya lebih banyak membaca DC Comics dan Marvel Comics.

Alita: Battle Angel (2019) mengambil latar belakang Bumi di tahun 2563, yaitu 300 tahun setelah “The Fall” terjadi. “The Fall” sendiri merupakan sebuah perang besar yang melanda Zarem. Zarem merupakan sebuah kota kaya raya yang mengapung di udara. Konon, hanya masyarakat kelas ataslah yang dapat hidup di Zarem. Di bawah Zarem, terdapat kota Iron yang miskin. Sampah-sampah dari Zarem, dibuang ke kota Iron yang berada di bawahnya.

Dari berbagai sampah yang turun dari Zarem, Dr. Dyson Ido (Christoph Waltz) menemukan potongan dari sebuah cyborg unik yang inti dan otaknya masih bekerja. Dengan menggunakan suku cadang cyborg yang Ido miliki, ia memperbaiki cyborg tersebut dan menamainya Alita (Rosa Salazar). Kenapa nama Alita yang dipilih? Ahhh, ternyata ada makna sentimental bagi Ido di sana, bukan karena Ido pernah kerja di Perusahaan Alita yah :P.

Alita memiliki wujud seperti remaja wanita yang mungil dan imut. Karena Alita hilang ingatan, ia tidak dapat mengingat kenapa ia bisa berada di pembuangan sampah Zarem. Padahal sebenarnya masa lalu Alita sangatlah kelam dan berhubungan dengan “The Fall”, perang besar yang legendaris. Perlahan tapi pasti, Alita dapat mengingat siapa dia sebenarnya, yaitu sebuah mesin pembunuh paling mematikan yang pernah dibuat, sebuah cyborg dengan teknologi tua yang misterius.

Di kota Iron, Alita mengumpulkan uang dengan mengikuti kompetisi olahraga dan menjadi pemburu bayaran. 2 buah profesi berbahaya yang dapat Alita jalani dengan tubuh mungilnya. Tubuh memang mungil, tetapi pikiran Alita masih menyimpan memori dan refleks seorang pembunuh. Aaahhh, buat apa Alita susah-susah mengumpulkan uang??

Alita terlibat romansa dengan Hugo (Keean Johnson). Agar Alita dan Hugo dapat migrasi bersama-sama ke Zarem, mereka berdua harus mengumpulkan sejumlah uang. Saya rasa disinilah titik terlemah dari Alita: Battle Angel (2019). Saya tidak melihat chemistry antara Alita dan Hugo. Hugo hanya nampak seperti karakter tak berguna yang kalaupun tewas atau hilang, saya sebagai penonton tidak akan sedih atau kecewa :P. Sayang beberapa bagian dari plot utama film ini dibentuk dari romansa Alita dan Hugo. Rasanya chemistry Alita-Hugo masih kalah dengan chemistry bapak-anak antara Igo dan Alita.

Beruntung film ini memiliki jalan cerita yang tidak membosankan. Dunia yang dibangun di sekitar Alita pun nampak elok dan cukup kuat untuk mendukung cerita. Alita hidup dimana tubuh manusia dapat diperbaharui dengan mesin. Cyborg semacam Alita pun dapat hidup relatif normal bak manusia biasa.

Saya suka dengan latar belakang film ini. Tokoh Alita pun nampak keren dan cocok sebagai protagonis utama. Hal-hal ini masih dapat menambal kekurangan film ini di sisi romansa Alita dan Hugo yang hambar. Cerita tentang seorang prajurit tangguh yang lupa ingatan memang sudah banyak diangkat di film-film lain, tapi ramuan topik tersebut nampak jauh lebih baik dan menarik ketika diangkat lagi pada Alita: Battle Angel (2019). Saya rasa Alita: Battle Angel (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini memang mirip dengan Ghost in the Shell (2017), tapi Alita: Battle Angel (2019) tetap lebih menarik ;).

Sumber: http://www.alitatickets.com

Venom (2018)

Venom merupakan lawan Spider-Man favorit saya sepanjang masa. Pada perkembangannya, Venom pun menjadi semacam anti-hero ketika dunia diserang Carnage. Yaaah mungkin kata-kata saya di atas terlihat aneh dan asing bagi teman-teman yang tidak memgikuti komik Spider-Man. Pada komiknya ya Venom memamg tidak selalu jahat. Penggambaran Venom yang pernah diperlihatkan Sam Raimi pada Spider-Man 3 (2007) merupakan awal dari Venom dimana Venom memang masih sangat buas.

Nah kali ini, asal mula Venom dibuat dengan cara yang berbeda dan tanpa mengikutsertakan Spider-Man. Venom (2018) adalah benar-benar film solo dari Venom. Entah apakah Venom yang satu ini akan masuk ke dalam MCU (Marvel Cinematic Universe) atau tidak, sebab Venom (2018) 100% tidak menampilkan superhero atau supervillain dari jagad MCU.

Baiklah, Venom sendiri sebenarnya bukan manusia, melainkan sebuah entitas berbentul cairan hitam dari luar angkasa. Cairan tersebut dapat menempel dan bergabung dengan tubuh manusia. Hasil dari penggabungan ini menghasilkan tubuh manusia dengan kekuatan jauh di atas rata-rata.

Venom tidak sembarangan memilih tubuh untuk dihinggapi. Proses penggabungan yang kurang cocok, akan membuat manusia yang di hinggapi mengalami kesakitan yang luar biasa, sampai akhirnya tewas. Itulah yang Carlton Drake (Riz Ahmed) lakukan, dengan cairan hitam misterius yang ditemukan pada roket luar angkasa yang jatuh di Malaysia, ahhh kenapa Malaysia, mana Indonesia??? :P. Drake menggunakan beberapa manusia sungguhan dalam eksperimen penggabungan cairan misterius dengan tubuh manusia. Drake sendiri sedang mengalami tuntutan hukum terkait dugaan penggunaan manusia pada beberapa eksperimennya.

Tuntutan hukum ini masuk ke dalam radar Eddie Brooks (Tom Hardy), seorang jurnalis idealis yang pemberani. Eddie kemudian tidak sengaja bersentuhan dengan cairan misterius di dalam laboratorium milik Drake ketika Eddie sedang menyelinap ke sana. Di sini, Eddie mulai mendengar suara-suara di dalam kepalanya. Ia pun mendadak memiliki kekuatan aneh ketika menghadapi bahaya. Mulai saat itu, tubuh Eddie seakan dimiliki pula oleh cairan hitam yang menamakan dirinya sebagai Venom.

Melihat Eddie berkeliaran dengan suara-suara di dalam kepalanya, sambil sesekali berubah wujud, memang menyenangkan. Pengenalan dan adaptasi Eddie terhadap apa yang menimpanya menjadi daya tarik film ini. Selain itu, adegan aksi pada Venom (2018) terbilang cukup menghibur juga.

Sayang hal di atas tidak diikuti dengan alur cerita yang “wah”. Membuat versi awal yang beda bagi Venom memang merupakan langkah yang unik. Tapi beberapa bagian film ini terkadang membuat saya mengantuk.

Dengan demikian, rasanya Venom (2018) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Pendapatan yang sangat besar dari Venom (2018), tentunya akan membuat memicu hadirnya sekuel dari Venom (2018). Semoga kalaupun ada, sekuelnya bisa lebih bagus lagi :).

Sumber: http://www.venom.movie

Shazam! (2019)

Berbicara mengenai Shazam, kita akan mengupas kembali perseteruan lama antara 2 penerbit komik asal Amerika Serikat, DC Comics dan Marvel Comics. Kehadiran Superman pada 1948 di DC Comics cukup fenomenal. Kekuatan Supermen yang superior membuat perusahaan komik lain membuat karakter serupa dengan sedikit modifikasi. Fawcett Comics adalah penerbit pertama Captain Marvel dan berhasil meraih popularitas yang cukup tinggi. Hal ini membuat DC Comics melayangkan gugatan hak cipta yang memakan waktu bertahun-tahun. DC Comics akhirnya berhasil memenangkan gugatannya dan karakter Captain Marvel ala Fawcett Comics berhasil diakuisisi oleh DC Comics. Sebelum DC Comics menerbitkan karakter yang baru mereka akuisisi, Marvel Comics sudah memiliki hak cipta atas nama Captain Marvel. Marvel Comics pun menerbitkan komik Captain Marvel yang memiliki kekuatan sesuperior Superman. DC Comics memilih untuk menerbitkan superhero yang baru mereka akuisisi dengan judul Shazam. Captain Marvel versi Marvel Comics hadir pula di layar lebar bersamaan dengan Shazam! (2019), manakah yang lebih unggul?

Kekuatan keduanya memang sama-sama superior, tapi latar belakang dan tema yang diusung jauh berbeda loh. Captain Marvel (2019) mengambil tema peperangan antar mahluk luar angkasa yang pada akhirnya mendukung alur cerita film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Dengan runtuhnya DCEU (DC Extended Universe) Shazam! (2019) nampak lebih bebas dan tidak terikat dengan alur film lain manapun. Film ini mampu tampil lebih terang dan ceria dengan mengusung keluarga sebagai tema utamanya.

Berbeda dengan Captain Marvel (2019), karakter utama Shazam! (2019) adalah seorang anak yatim piatu bernama Billy Batson (Asher Angel). Billy tak segan-segan melanggar hukum demi menemukan ibu kandungnya. Hal itulah yang membuatnya berpindah-pindah dari rumah penampungan satu ke rumah penampungan lainnya. Semua terus berulang sampai pada suatu hari Billy ditempatkan di rumah penampungan milik Victor Vasquez (Cooper Andrews) dan Rosa Vasquez (Marta Milans). Di sana Billy berkenalan dengan 5 anak yatim lainnya yaitu Frederick “Freddy” Freeman (Jack Dylan Grazer), Darla Dudley (Faithe Herman), Mary Bromfield (Grace Fulton), Eugene Choi (Iab Chen) dan Pedro Peña (Jovan Armand). Perlahan tapi pasti, Billy telah menemukan sebuah keluarga, walaupun tidak ada ikatan darah di sana.

Nah, bagaimanakah cara Billy menjadi Shazam? Hhhhmmmm, Shazam sendiri ternyata merupakan nama dari seorang penyihir sakti yang sudah ratusan tahun mencari seorang penerus. Shazam (Djimon Hounsou) akhirnya memilih Billy untuk mewarisi semua kekuatannya. Billy hanya perlu berkata “Shazam!”, dan Billy pun akan berubah menjadi seorang superhero lengkap dengan kostumnya.

Perubahan dan pengenalan terhadap kekuatan baru Billy, berhasil disajikam dengan humor yang bagus sekali. Zachary Levi sukses besar dalam memerankan versi Billy besar yang memiliki kekuatan super tapi masih memiliki jiwa anak-anak. Yah namanya juga anak-anak, walaupun fisik Billy berubah drastis, dia tetap anak-anak. Jadi, superhero DC yang satu ini memang bisa dikatakan hampir sekuat Superman, tapi pemanfaatan kekuatannya sering sekali untuk hal yang konyol.

Kemampuan Billy dalam mengendalikan kekuatannya pun, masih belum stabil. Ia sampai harus berjibaku ketika berhadapan dengan Dr. Thaddeus Sivana (Mark Strong) yang dibantu oleh monster-monster perwujudan dari 7 dosa manusia. Sebenarnya, monster-monster inilah yang selama ini Shazam Sang Penyihir jaga. Thaddeus yang sakit hati atas keputusan Shazam di masa lalu, berhasil masuk ke tempat tinggal Shazam. Kemudian Thaddeus membuat monster ketujuh dosa manusia, mau mengikutinya ke dunia manusia dan menyebarkan teror di mana-mana. Karakter antagonis yang satu ini memang agak asing di telinga saya, tapi rasanya Thaddeus memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk memberikan alasan bagi semua tindakan jahat yang ia lakukan. Memang sih Thaddeua tidak segarang Black Adam, tapi yaaaa cukup okelah untuk film pertama sebagai pemanasan hehehehe.

Sayang solusi yang Billy lakukan untuk melawan Thaddeus, menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak sedang menonton film superhero. Saya seperti sedang menonton film live action dari Walt Disney :’D. Memang sih, Shazam! (2019) berhasil memberikan warna yang sangat cerah bagi jagat DCEU, tapi ini terlalu cerah bagi saya pribadi.

Saya rasa Shazam! (2019) lebih cocok untuk disebut sebagai film keluarga atau film anak, dibanding film superhero. Selain memberikan pesan moral yang baik terkait arti sebuah keluarga, Shazam! (2019) termasuk aman untuk ditonton oleh anak-anak. Dengan demikian Shazam! (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.shazammovie.com

Spider-Man: Far From Home (2019)

Pada Spider-Man: Far From Home (2019), setelah seorang superhero besar “pensiun”, Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland) seakan menanggung beban berat untuk melajutkan apa yang sudah superhero besar tersebut lakukan kepada dunia. Spider-Man yang pada awalnya hanya superhero remaja lokal, sekarang diharapkan agar dapat ikut serta dalam menghadapi kejahatan yang datang mengancam dunia, bukan hanya lingkungan tempat Spider-Man tinggal.

Tak heran kalau Nick Fury (Samuel L. Jackson) meminta bantuan Spider-Man ketika mahluk-mahluk dari dimensi lain, datang menyerang Bumi. Mahluk-mahluk yang disebut Elemental ini konon sudah memusanahkan Bumi di dimensi lain yang menjadi rumah Quentin Beck / Mysterio (Jake Gyllenhaal). Beck datang dari dimensi lain untuk mencegah Elemental agar tidak ada Bumi lain yang musnah. Spider-Man memang hidup di dunia MCU (Marvel Cinematic Universe) yang mana menganut faham bahwa terdapat banyak dimensi. Jadi, terdapat Bumi lain di dimensi lain, terdapat pula Peter Parker lain di dimensi lain, dan seterusnya.

Melihat kemampuan super yang Beck miliki, Peter semakin yakin bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pelindung Bumi, Beck-lah orang yang lebih pantas. Lagi pula, sejak awal Peter pun sebenarnya memilih lari dari panggilan Nick Fury. Peter memilih untuk berlibur jauh dari rumah dibandingkan mengangkat telefon dari Fury. Fury dan S.H.I.E.L.D. harus bekerja keras agar Peter terpaksa ikut serta bergabung melawan Elemental bersama Beck. Sebenarnya disinilah terjadi kelucuan karena Peter yang sedang berlibur ke Eropa dan berusaha memenangkan hati Michelle “MJ” Jones (Zendaya Maree Stoermer Coleman) tapi Fury dan kawan-kawan selalu muncuk untuk “menculik” Peter :’D.

Banyak terdapat humor di mana-mana sehingga adegan aksi yang ditampilkan nampak lebih menghibur. Antagonis pada film inipun sebenarnya tidak terlalu superior, tapi penampakkannya sungguh tak terduga dan sangat menghibur. Untuk menampilkan sebuah hiburan yang baik, ternyata sebuah film superhero tidak harus dengan menampilkan karakter antagonis yang super kuat dan terkenal ;).

Kisah cinta remaja pada Spider-Man: Far From Home (2019) ini pun rasanya lebih menyenangkan dibandingkan cinta-cintaan Spider-Man lainnya. Michelle “MJ” Jones terlihat lebih mandiri dan kuat dibandingkan love interest Spider-Man versi lainnya.

Saya kagum dengan film Spider-Man yang satu ini. Pendekatan yang diambil pada Spider-Man: Far From Home (2019), sungguh berbeda dengan versi komik Spider-Man klasik yang pernah saya baca. Spider-Man di sini tidak terlalu sibuk menghadapi para haters seperti film Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi. Kejadiran superhero besar lain yang membuat Spider-Man sebagai penerus pun membuay warna baru bagi Spider-Man remaja versi Tom Holland ini. Spider-Man: Far From Home (2019) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat ini, film ini berhasil menjadi film layar lebar Spider-Man terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.spidermanfarfromhome.movie

Sicario: Day of the Soldado (2018)

Kalau dilihat dari judulnya, Sicario: Day of the Soldado (2018) adalah sekuel yang saya tunggu-tunggu dari Sicario (2015). Hhhhmmmm, ternyata saya salah, film ini bukanlah sekuel dari Sicario (2015), melainkan spinoff yang berdiri sendiri dengan beberapa karakter dari Sicario (2015). Pada Sicario: Day of the Soldado (2018), karakter Emely Blunt yang dijadikan sebagai sudut pandang penonton pada Sicario (2015), ditiadakan … karena yah ini memang bukan sekuel hohoho. Saya tidak masalah sih, toh pada Sicario (2016), karakter Alejandro Gillick (Benicio del Toro) memang terlihat lebih menonjol.

Alejandro sang sicario kembali bekerja sama dengan CIA di bawah komando Matt Grover (Josh Brolin). Kali ini keduanya bermaksud untuk mengadudomba 2 kartel narkoba di Meksiko dengan melakukan pembunuhan dan penculikan kepada kedua pihak. Alejandro kembali dilibatkan karena ia bukan bagian dari CIA, tapi merupakan seoran sicario, pembunuh legendaris yang bekerja pada sebuah kartel.

Saya pikir akan ada emosi yang kuat ketika Alejandro dan Grover harus menggunakan seorang anak perempuan, Isabel Reyes (Isabela Moner), untuk mencapai tujuannya. Alejandro dan Isabel banyak sekali berinteraksi, tapi keduanya nampak tidak memilki chemistry yang kuat. Padahal, karakter Alejandro ini kehilangan anak perempuannya yang seumuran dengan Isabel.

Perubahan sutradara, sudut pandang penonton dan hilangnya kharisma sang sicario, membuat Sicario: Day of the Soldado (2018) nampak hambar. Jalan ceritanya agak berantakan dan ambigu, kemudian adegan aksi ala perbatasan Meksiko yang memukau pada Sicario (2016), kembali diulang dengan cara yang buruk.

Film ini agak mengecewakan dan hanya dapat menperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Yaaah, sicario yang digadang-gadang akan membentuk sebuah franchise nampaknya akan meredup sebelum waktunya.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/sicariodayofthesoldado

Dark Phoenix (2019)

Phoenix bukanlah kata yang asing bagi penggemar X-Men diluar sana. Ia merupakan salah satu mahluk terkuat di jagat dunia per-superhero-an ala Marvel Comics. Kekuatan Phoenix sangat dahsyat sampai-sampai ia sering kali membunuh siapa saja yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Baik di buku komik Marvel maupun film-film terdahulunya, kehadiran Phoenix menandakan bahwa akan ada tokoh dari franchise X-Men yang gugur. Hal ini pernah terbukti pada X-Men: The Last Stand (2006). Mayoritas karakter utama X-Men tewas akibat ulah Phoenix. Sayang eksekusi dari sang sutradara pada saat itu terbilang buruk sehingga X-Men: The Last Stand (2006) dapat dikatakan sebagai salah satu film terburuk yang pernah saya tonton. Saya tidak ada masalah dengan gugurnya beberapa superhero dalam sebuah film. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mereka tewas dam kisah dibalik itu. Beberapa superhero beken dikisahkan gugur pada Avengers Infinity War (2018) dan Avengers: Endgame (2019), tapi hal tersebut tetap membuat keseluruhan film tetap bagus dan menarik. Franchise Avengers dan MCU justru semakin bersinar setelah kedua film tersebut hadir. Bagaimana dengan X-Men? Franchise X-Men sempat mati suri setelah X-Men: The Last Stand (2006), sampai akhirnya muncul X-Men: Days of Future Past (2014) yang mereboot franchise X-Men sekaligus membatalkan semua kisah yang pernah ada pada telah X-Men: The Last Stand (2006), horeeee :D. Masalahnya, apakah kesalahan yang sama akan berulang kembali?

Phoenix adalah salah satu tokoh terkuat di semesta X-Men. Pada dasarnya ia merupakan transformasi dari Jean Grey (Sophie Turner) yang selama ini memendam sebuah kekuatan yang sangat besar. Karena besarnya kekuatan tersebut, Jean beberapa kali gagal mengendalikan kekuatannya, terutama ketika ia mengetahui beberapa fakta akan masa lalunya yang Proffesor X atau Charles Xavier (James McAvoy) sembunyikan. Terlebih lagi ada pihak lain yang berusaha memanfaatkan kegalauan Jean untuk kepentingan pribadi.

Proffesor X, Mystique / Raven Darkholme (Jennifer Lawrence), Quicksilver / Peter Macimoff (Evan Peters), Beast /Hank McCoy (Nicholas Hoult), Storm / Ororo Munroe (Alexandra Shipp), Cyclops / Scott Summers (Tye Sheridan), Nightcrawler / Kurt Wagner (Kodi Smit-McPhee) dan Magneto /Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), harus berjuang agar Jean dapat kembali normal, minimal tidak merusak perdamaian antara mutant dan manusia. Tokoh-tokoh terkenal di atas saja kesulitan bukan main ketika harus berhadapan dengan Jean yang sudah berubah menjadi Phoenix. Bahkan ada anggota X-Men yang gugur pada film ini.

Sayang oh sayang, gugurnya anggota X-Men ini tidak menyisakan emosi atau kesedihan bagi saya. Saya hanya dapat berkata, “Ohhh mati tho, ya udah …”. Tidak ada chemistry pada Dark Phoenix (2019), semua terasa datar. Walaupun saya akui ada beberapa adegan aksi yang keren pada film ini, yaitu pada adegan dimana semua anggota X-Men menggunakan kekuatannya untuk saling melengkapi dan memenangkan sebuah pertarungan. Sayang kok ya hal tersebut semakin menghilang ketika film mendekati bagian akhir. X-Men nampak tercerai berai dan lebih fokus untuk berlari mengejar Phoenix. Padahal, kalaupun sudah bertemu dengan Phoenix, mereka bisa apa? :P. Praktis hanya Proffesor X saja yang memiliki peran besar di sini. Sebagai pengganti sosok ayah bagi Jean, Proffesor X tentunya lebih memiliki peluang untuk menasehati Jean. Wah, bagaimana dengan kekasih Jean, yaitu Cyclops? Bahhh, Cyclops nampak lemah dan tidak berguna hehehehe :P.

Film ini sebenarnya memiliki peluang untul menjadi lebih baik lagi. Materi kisah Phoenix sebenarnya sangat menarik, tapi kok ya eksekusinya seperti ini. Menontom Dark Phoenix (2019) tidal terasa seperti menonton film superhero X-Men karena … mana seragamnya??? Setiap tokoh superhero pasti memiliki seragam atau kostum yang spesifik, nah inilah yang kurang sekali saya lihat pada Dark Phoenix (2019). Mereka lebih sering bertarung menggunakan celana jeans dan t-shirt ketimbang kostum superhero mereka. Selain itu, nama panggilan yang dipergunakan pada film ini, lebih banyak menggunakan nama panggilan manusianya, bukan julukan nama mutant-nya. Proffesor X selalu disebut Charles Xavier, Mystique selalu disebut Raven, Beast selalu disebut Hank, dan lain sebagainya. Aroma superhero kurang terasa kental pada Dark Phoenix (2019).

Yaaaah, mau bagaimanapun juga, saya akui bahwa Dark Phoenix (2019) tetap lebih bermutu ketimbang X-Men: The Last Stand (2006) heheheheh. Dengan demikian, Dark Phoenix (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa franchise X-Men tidak akan tewas atau mati suri akibat Dark Phoenix (2019) ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/dark-phoenix