Sleepless (2017)

Sekilas Sleepless (2017) terlihat kurang menarik. Pada bagian awal film, penonton seolah digiring untuk menganggap bahwa Sleepless (2017) hanya bercerita mengenai polisi korup yang harus menghadapi segala akibat dari tindakannya. Dikisahkan bahwa Vincent Downs (Jamie Foxx), detektif Kepolisian Las Vegas, mengambil narkoba dari sebuah razia, untuk kepentingan pribadi. Buntutnya, pihak kartel menculik anak Vincent dan menggunakannya sebagai sandera. Vincent diharuskan untuk menebus anaknya dengan sejumlah narkoba yang ia curi. Keadaan semakin pelik ketika Bryant (Michelle Monaghan), detektif provos, ikut melakukan penyelidikan. Bryant mencurigai Vincent sebagai dalang dari beberapa pelanggaran kode etik kepolisian yang terjadi belakangan ini. Terjadilah rangkaian peristiwa kucing-kucingan yang sepertinya sudah sering saya lihat di film-film lain.

Pada pertengahan cerita, terdapat kejutan yang merubah segalanya. Semua opini yang terbangun pada awal cerita, runtuh seketika. Saya sendiri tidak menduga akan hal ini. Wah ternyata keren juga film ini. Sayang, sepertinya penerapan kejutan ini kurang pas sehingga merusak kejutan lain di akhir film. Setelah melihat bagian tengahnya, saya langsung dapat menebak bagian akhirnya seperti apa.

Sleepless (2017) sebenarnya memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan-kejutan yang bagus. Eksekusi yang kurang tepat membuat beberapa kejutan yang sudah disiapkan terasa hambar. Beruntung alur ceritanya diselingi oleh beberapa adegan aksi dengan kadar yang tepat sehingga film tidak terlalu membosankan. Saya rasa Sleepless (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sleeplessmovie.com

Iklan

Valerian & the City of a Thousand Planets (2017)

Saya suka sekali dengan film-film yang mengusung tema perang luar angkasa seperti Trilogi Star Wars. Dengan didukung dengan special effect yang keren, film-film jenis ini hampir pasti saya tonton, tak terkecuali Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Film yang dibuat berdasarkan komik Prancis berjudul Valerian dan Laureline ini terbilang sangat ambisius karena menggunakan banyak sekali special effect terkini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana film ini menggambarkan latar belakang film dengan sangat baik, kecuali ketika mereka mencoba menggambarkan keadaan Planet Mül. Adegan pada Planet tersebut lebih terlihat seperti adegan pada film animasi 3D. Selain itu, saya tidak melihat keanehan lagi pada special effect film ini.

Untungnya, mayoritas peristiwa yang terjadi pada Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah pada Kota 1000 Planet, bukan Planet Mül. Sesuai judulnya, Kota 1000 Planet pada dasarnya merupakan pesawat raksasa seukuran Planet yang dihuni oleh berbagai jenis mahluk hidup dari berbagai Galaksi. Pada awalnya pesawat ini dibuat oleh manusia dan memiliki orbit mengelilingi Bumi. Melalui pesawat inilah manusia dapat bertemu dan bersahabat dengan berbagai mahluk luar angkasa yang tersebar. Di dalam pesawat itulah, manusia dan mahluk-mahluk luar angkasa tersebut kemudian menyatukan dan melengkapi ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Mereka melengkapi dan memperluas pesawat tersebut sampai akhirnya Bumi memutuskan untuk melepaskan pesawat ini dari orbitnya untuk dapat bergerak bebas. Tak terasa pesawat tersebut sudah seukuran Planet dan menampung ribuan mahluk luar angkasa. Sampai akhirnya pesawat ini disebut Kota 1000 Planet.

Penggambaran Kota 1000 Planet terbilang bagus dan menarik. Saya melihat banyak gambar-gambar indah pada film ini. Imajinasi dan lingkungan yang ada pada film ini terbilang kreatif dan bagus. Adegan aksi pada film inipun terbilang keren dan nampak bagus. Hal yang saya paling suka dari Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) adalah adegan aksinya yang kreatif.

Tapi sayang, keunggulan-keunggulan di atas runtuh seketika begitu saya melihat jalan cerita dan karakter utama Valerian & the City of a Thousand Planets (2017). Pada film ini, Mayor Valerian (Dane DeHaan) dan Sersan Laureline (Cara Delevingne) dikirim ke Kota 1000 Planet untuk menyelidiki sebuah kasus yang ternyata berkaitan erat dengan misteri Planet Mül. Sebuah Planet yang entah bagaimana, datanya hilang dari Kota 1000 Planet. Sudah dapat ditebak, terdapat konspirasi besar di antara pejabat teras Kota 1000 Planet.

Hal ini semakin diperparah dengan kurang gregetnya karakter Valerian dan Laureline. Padahal kerangka utama dari film ini sepertinya dibangun dari chemistry diantara kedua karakter utama tersebut. Valerian dan Laureline banyak sekali melontarkan lelucon yang kurang lucu. Keduanya pun sering dihadapkan pada adegan romantis yang sama sekali tidak romantis. Film ini gagal meyakinkan saya bahwa Laureline dan Valerian merupakan pasangan muda yang saling cinta. Film ini juga gagal meyakinkan saya bahwa Valerian merupakan seorang jagoan. Saya sadar bahwa film ini berusaha sekuat tenaga agar Valerian nampak sebagai seorang “bad ass”. Tapi, bukan kesan itu yang saya dapatkan. Akting Dane DeHaan memang cukup memukau pada Chronicle (2012), tapi saya rasa kali ini ia gagal.

Film-film berlatar belakang perang luar angkasa bukan hanya adegan aksi yang memukau dengan dukungan special effect saja. Cerita dan karakter yang ada di dalamnya seharusnya mampu menjadi daya tarik juga bagi film tersebut. Sayang sekali, saya hanya dapat memberikan Valerian & the City of a Thousand Planets (2017) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.valerianmovie.com

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman

Get the Gringo (2012)

Get the Gringo

Gringo adalah bahasa Spayol yang artinya orang asing. Kata-kata ini biasa digunakan oleh warga Amerika Latin bagi orang-orang non latin yang datang ke negara mereka. Panggilan inilah yang diberikan kepada Richard Johnson (Mel Gibson) ketika ia terjebak di dalam sebuah penjara Amerika Latin. Selain nampak kumuh dan kelebihan narapidana, penjara ini cukup unik karena bagian dalam penjara ini seperti kota kecil yang dikuasai kartel.

Get the Gringo

Get the Gringo

Keluarga narapidana dapat tinggal di dalam penjara dengan membayar sejumlah uang. Maka di dalam penjara tersebut, terdapat gubuk, rumah, pasar, arena gulat sederhana dan lain-lain. Semuanya berjalan di bawah kendali Javi Huerta (Daniel Giménez Cacho), pemimpin sebuah kartel yang entah mengapa memilih untuk hidup di dalam penjara yang kumuh.

Get the Gringo

Keamanan dan kekuasaan ternyata bukanlah motif utama Javi. Ia memiliki sebuah motif yang berhasil Richard ketahui melalui perkenalannya dengan seorang ibu-anak yang diperankan oleh Dolores Heredia dan Kevin Hernandez. Semakin lama, Richard semakin dekat dan peduli dengan ibu-anak tersebut. Semua rencana Richard sedikit berbelok karenanya.

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Sejak awal, karakter yang Mel Gibson peeankan ini seolah seperti memiliki rencana dan tahu apa yang hendak ia lakukan dengan porsi yang sewajarnya. Richard tidak selalu nampak super tenang, ia beberapa kali menampilkan raut muka ketakutan, sebuah hal menjadikan Get the Gringo (2012) nampak wajar.

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Get the Gringo

Film ini memang tidak memiliki adegan atau plot yang sangat menakjubkan, tapi film ini termasuk film aksi yang menyenangkan dan menghibur untuk ditonton. Saya rasa Get the Gringo (2012) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh ya, film ini memiliki beberapa adegan sadis dan kurang pantas untuk di tonton anak kecil lho, ini bukan film keluarga.

Mechanic: Ressurection (2016)

Ketika Mechanic: Ressurection (2016) dirilis, saya sepertinya agak familiar dengan judul film ini, sepertinya dulu pernah ada film seperti ini. Aaahhh ternyata Mechanic: Ressurection (2016) merupakan sekuel dari The Mechanic (2011), hanya saja Mechanic: Ressurection (2016) tidak menggunakan angka 2 di judulnya :’D. The Mechanic (2011) adalah remake dari The Mechanic (1972) yang dibintangi Eyang Charles Bronson. Mengikuti alur The Mechanic (1972), The Mechanic (2011) mengisahkan petualangan Arthur Bishop (Jason Statham), seorang pembunuh bayaran handal yang biasa membuat korbannya nampak tewas kerena kecelakaan atau sebab alami. Setelah lama hidup dan bekerja sendirian, ia akhirnya mengangkat anak dari salah satu korbannya sebagai murid. Si murid sendiri tidak tahu bahwa Arthur-lah yang membunuh ayahnya. Sebuah film dengan latar belakang yang menjanjikan tapi hanya menghasilkan cerita yang klise dan standard. Hal ini mungkin terjadi karena The Mechanic (2011) terlalu setia mengikuti alur The Mechanic (1972) yang sudah agak usang bagi penonton abad 21. Saya sendiri heran kenapa kok film se-standard ini bisa ada sekuelnya? Ternyata walaupun kurang sukses di bioskop, permintaaan video on demand dan home video untuk The Mechanic (2011) cukup tinggi sehingga hadirlah sekuelnya, engg ing eeeng.

Karena The Mechanic (1972) tidak memiliki sekuel, maka saya harap Mechanic: Ressurection (2016) akan memiliki alur cerita sendiri yang lebih segar dan berbeda. Masih mengisahkan mengenai Arthur, kali ini Arthur dikisahkan sudah menyepi sendirian dan menolak berbagai tugas yang ditawarkan. Sampai pada akhirnya ia terpaksa menerima tugas dari Crain (Sam Hazeldine) setelah Crain menyandera Gina (Jessica Alba). Gina merupakan wanita yang baru saja Arthur kenal, tapi berhasil menarik hari Arthur. Demi Gina, Arthur harus membunuh 3 pemimpin organisasi kriminal dengan cara yang biasa Arthur lakukan di masa lalu, mati dengan sebab alami atau kecelakaan.

Sekilas, Mechanic: Ressurection (2016) nampak lebih klise dan tidak menjanjikan dibandingan The Machanic (2011). Yaa ampun, menyelamatkan gadis pujaan hati dengan melakukan tugas tertentu. Itu sudah banyak digunakan oleh film-film lain. Saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton Mechanic: Ressurection (2016) di bioskop. Saya baru menontonnya di Catch Play setelah mendapatkan promo Unlimited Moviegoers :’D.

Diluar dugaan, ternyata Mechanic: Ressurection (2016) mampu memberikan adegan aksi yang keren. Di sana Arthur melakukan aksinya dengan taktik dan cara yang menyenangkan untuk ditonton. Tanpa melihat cerita dan latar belakang yang itu-itu saja, Mechanic: Ressurection (2016) mampu menghadirkan tontonan yang segar dan tidak membosankan.

Saya rasa Mechanic: Ressurection (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kalau teman-teman mencari film aksi bodoh yang keren, maka film inilah yang pantas untuk ditonton.

Sumber: www.mechanic.movie

Central Intelligence (2016)

Ketika menjaga istri yang baru melahirkan, saya tidak sengaja menonton Central Intellegence (2016), sebuah film yang beberapa kali saya lihat iklannya, namun saya tetap enggan menontonnya. Film bergenre komedi aksi ini ternyata dimotori oleh Kevin Hart dan Dwayne Johnson. Keduanya nampak kompak dan lucu pada Jumanji (2017). Mampukah mereka mengocok perut saya seperti pada Jumanji (2017)?

Pada Central Intellegence (2016), Bob Stone (Dwayne Johnson) dan Calvin “Golden Jet” Joyner (Kevin Hart) merupakan teman semasa SMA dulu yang kembali bertemu menjelang acara reuni akbar SMA mereka. 20 tahun yang lalu, Bob Stone masih menggunakan nama Robbie Weirdicht dan memiliki tubuh yang gempal. Robbie sempat menjadi korban bullying yang cukup parah ketika SMA dulu. Hanya Calvin terang-terangan mau menolong Robbie pada saat itu. Padahal Calvin adalah murid paling populer di angkatannya. Ia aktif di berbagai klub dan berhasil menggapai berbagai prestasi gemilang semasa SMA. Setelah SMA, Calvin bahkan menikahi kekasih semasa SMA-nya, yang terkenal cantik dan tak kalah populernya. Banyak orang meramalkan bahwa Calvin akan menjadi orang besar dan kehidupan yang gemilang.

20 tahun berlalu dan Calvin merasa tidak puas dengan kehidupannya. Calvin sudah berprofesi sebagai akuntan, namun ia merasa bahwa ia gagal meraih prestasi yang spektakuler seperti di SMA dulu. Jauh bertolakbelakang dengan Kevin, Robbie sudah berubah. Robbie kini mengubah namanya menjadi Bob Stone. Bob memiliki tubuh kekar dan bekerja di CIA sebagai agen rahasia. Calvin nampak kerdil disamping Bob. Tapi Bob tidak memandang Calvin sebelah mata. Bob tetap mengagumi Calvin atas segala prestasi yang pernah Calvin raih di masa lampau.

Pertemuan ini membawa aroma nostalgia dan … masalah. Bob ternyata sedang diburu oleh agen-agen CIA lain karena ia dianggap berhianat. Calvin yang ada di dekat Bobi otomatis ikut terlibat di dalam kekacauan ini. Saya melihat banyak kelucuan ketika kedua tokoh utama ini bertemu. Calvin yang kehilangan rasa percaya diri dan terlalu serius, bertemu dengan Bob yang polos dan sedikit memiliki sifat anak-anak. Memang sih ada leluconnya mirip dengan yang saya saksikan pada Jumanji (2017), tapi saya tetap tertawa ketika menonton Central Intellegence (2016).

Misteri akan siapa yang sebenarnya berhianat, kurang lebih dapat ditebak walaupun film ini menyuguhkan banyak tersangka. Tapi hal ini bukanlah sebuah kekurangan yang berarti sebab saya memandang Central Intellegence (2016) sebagai film aksi komedi, bukan film misteri. Saya memang tidak memiliki ekspektasi bahwa Central Intellegence (2016) akan menyuguhkan kejutan pada jalan ceritanya.

Film ini berhasil menyuguhkan kelucuan-kelucuan yang membalut kisah persahabatan dan pesan moral mengenai bullying. Dengan begitu, saya rasa Central Intellegence (2016) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.warnerbros.com/central-intelligence

Deadpool 2 (2018)

Tak lama setelah Avengers Infinity War (2018) dirilis, hadir kembali satu superhero dari komik Marvel, yaitu Deadpool. Kemanakah Deadpool selama Avengers Infinity War (2018) terjadi? Saya rasa sementara ini Deadpool hidup di luar MCU (Marvel Cinematic Universe). Bersama-sama dengan karakter-karakter X-Men dan Fantastic Four, lisensi Deadpool masih dimilliki oleh 20th Century Fox, bukan Marvel Studio atau Sony. Maka sudah pasti Deadpool hidup di alam yang sama dengan X-Men. Seperti pada Deadpool (2016), beberapa karakter X-Men akan kembali hadir pada Deadpool 2 (2018).

Kali ini selain Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) dan Colossus (Stefan Kapičić), hadir salah satu karakter X-Men yang relatif terkenal, yaitu Cable (Josh Brolin). Cable hadir dari masa depan untuk membunuh Russell Collins (Julian Dennison). Sangat aneh kalau karakter protagonis seperti Cable jauh-jauh datang ke masa lalu untuk seorang Russell. Saat ini Russell hanyalah mutant ABG berbadan tambun yang kesulitan mengontrol emosi karena trauma di masa lalu. Apakah yang akan Russell lalukan di masa depan, sampai-sampai diburu Cable seperti ini?

Deadpool / Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak peduli akan masalah di masa depan, ia tidak tinggal diam ketika melihat nyawa Russell terancam. Deadpool memang awalnya acuh kepada Russell, Deadpool hanya ingin mati. Deadpool sedang depresi berat setelah Vanessa (Morena Baccarin) tewas dibunuh sekelompok mafia yang berniat membunuh Deadpool. Vanessa dan Deadpool sudah lama menjalin cinta dan hendak membuat sebuah keluarga bahagia. Pupusnya impian bersama Vanessa membuat Deadpool beberapakali melakukan usaha bunuh diri yang selalu gagal.

Mirip dengan Wolverine, Deadpool adalah superhero yang mampu menyembuhkan diri sendiri. Kemampuannya untuk sembuh bahkan bisa dibilang melebihi Wolverine. Deadpool dapat tetap hidup walaupun tubuhnya diledakkam dan hancur berkeping-keping @_@. Yaa jelas saja usaha bunuh dirinya selalu gagal. Usaha Colossus dan Negasonic Teenage Warhead untuk memotivasi Deadpool selalu gagal sampai Deadpool bertemu Russell.

Perkenalannya dengan Russell, membuat Deadpool bangkit dari keterpurukan. Ia bahkan membentuk X-Force untuk menyelamatkan Russell. Diantara superhero-superhero konyol yang ada pada X-Force, Domino (Zazie Beetz) adalah yang terkuat dan menonjol. Lucunya, kekuatan domino bukanlah kekuatan super atau kecepatan kilat, melainkan keberuntungan. Domino mampu memanipulasi probabilitis keberuntungan dari setiap aksi yang ia lakukan.

Jangan harap untuk melihat suguhan yang serius pada Deadpool 2 (2018). Pada dasarnya film ini lebih condong ke arah film komedi. Di sana tidak ada karakter yang mutlak jahat, pada akhirnya semua hanya gurauan semata. Deadpool 2 (2018) memang mampu menghadirkan kelucuan di mana-mana. Namun sayang kelucuan yang ada masih berada di bawah ekspektasi saya. Terus terang, Deadpool (2016) lebih lucu dan menarik dibandingkan Deadpool 2 (2018).

Kali ini saya hanya mampu memberikan Deadpool 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh ya, sebaiknya jangan menonton Deadpool 2 (2018) dengan anak di bawah umur karena ada adegan sadis dan lelucon dewasa di sana.

Sumber: http://www.deadpool.com