Shadow (2018)

Shadow (2018) atau 影 bukanlah film yang saya nanti-nantikan untuk saya tonton. Keberadaan film inipun baru saya ketahui beberapa minggu yang lalu, hohohohoho. Secara tidak terduga, film Tiongkok yang satu ini ternyata memberikan visual yang cantik sekali. Nuansa yang didominasi oleh warna hitam putih, ternyata mempu memberikan perasaan yang senada dengan tema cerita Shadow (2018).

Konon pada zaman dahulu kala, wilayah Cina terbagi ke dalam berbagai kerajaan. Kerajaan Pei dan Kerajaan Yang merupakan 2 kerjaan yang sempat memperebutkan Kota Jingzhou. Entah apa alasannya, kota yang satu ini seolah-olah menjadi sebuah lambang kejayaan bagi Kerajaan yang menguasainya. Pada awal cerita, dikisahkan bahwa Kerajaan Yang berhasil menguasai Kota Jingzhou. Sementara itu, raja dari Kerajaan Pei berusaha sekuat tenaga agar perdamaian antara Kerajaan Yang dengan Kerajaan Pei dapat tetap terjaga, dengan mengikhlaskan Kota Jingzhou. Tidak semua pihak setuju dengan kebijakan raja Kerajaan Pei yang terlihat lemah. Panglima besar Kerajaan Pei bahkan berani menentang titah rajanya dengan menantang raja Kerajaan Yang untuk melakukan duel 1 lawan 1.

Lalu, dimana Shadow-nya?? Wkwkwkwkwk. Nah, konon para pejabat pemerintahan menggunakan orang lain untuk menyamar sebagai diri mereka. Hal ini dilakukan untuk mencapai berbagai tujuan tertentu. Diantara pejabat pemerintahaan Kerajaan Pei, terdapat seorang shadow atau bayangan yang sedang menyamar. Hal ini membuat 15 menit pertama Shadow (2018) nampak membingungkan. Lama kelamaan nampak betapa rumitnya politik dan intrik yang Shadow (2018) suguhkan. Hal inilah yang menjadi daya tarik Shadow (2018). Saya sangat menikmati bagaimana cerita pada Shadow (2018) berjalan.

Film ini disutradarai oleh Zhang Yimou yang sukses membesut House of Flying Dagger (2004) dan Hero (2002). Dua film yang banyak menuai pujian tapi kurang saya sukai hehehehe. Kali ini, saya senang dengan film garapab Opa Zhang. Shadow (2018) penuh intik dan kejutan, disertai oleh visual yang sangat cantik. Adegan aksi ala kung-fu-nya pun terbilang lumayan keren. Saya rasa Shadow (2018) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini merupakan salah satu film Tiongkok terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.le.com

Confession of Murder (2012)

Kali ini saya akan membahas film detektif asal Korea Selatan yang berjudul Confession of Murder (2012) atau 내가 살인범이다. Film ini berhasil memenangkan berbagai penghargaan dan sudah pernah dibuat ulang oleh sutradara Jepang. Memoirs of Muder (2017) bisa dikatakan merupakan versi Jepang dari Confession of Murder (2012). Jarang-jarang nih ada film Korea yang sampai dibuat ulang oleh orang Jepang. Apakah Confession of Murder (2012) memang semenarik itu?

Konflik utama pada Confession of Murder (2012) diawali ketika Lee Doo-seok (Park Si-hoo) meluncurkan buku terbarunya yang berjudul I Am the Murderer. Buku tersebut mengisahkan secara detail bagaimana Lee melakukan beberapa pembunuhan antara tahun 1986 sampai 1990. Pada rentang tahun tersebut, memang terdapat pembunuh berantai yang gagal polisi tangkap. Lee secara terbuka mengakui bahwa ia adalah pelaku pembunuhan tersebut. Buku tersemut memuat detail-detail yang belum pernah diketahui oleh publik. Hal inilah yang menguatkan klaim Lee atas kejahatan-kejahatan tersebut.

Peraturan di Korea saat itu, menetapkan bahwa kasus yang sudah melewati 15 tahun, akan diputihkan alias dihapus. Hal inilah yang membuat hukum tidak dapat menyentuh Lee sebab pengakuan Lee dilakukan 17 tahun setelah pembunuhan berantai terjadi. Wajah tampan dan pencitraan yang baik membuat popularitas Lee semakin menanjak. Ia berhasil meraih simpati dari mayoritas publik Korea.

Tentunya, tidak semua orang senang dengan sepak terjang Lee. Choi Hyeong-goo (Jung Jae-young) merupakan salah satu pihak yang terlihat paling tidak berkenan dengan hal-hal yang Lee lakukan. Sebagai detektif yang dulu memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai Lee, kasus tersebut menjadi sesuai yang bersifat pribadi bagi Choi. Namun sebagai seorang anggota kepolisian, Choi tetap patuh dengan hukum yang ada. Ia bahkan ikut mencegah upaya pembunuhan dari pihak keluarga korban.

Sekilas, Confession of Murder (2012) seolah hanya akan bercerita mengenai pergolakan antara Lee dan Choi. Adegan aksinya yah begitulah, ada beberapa yang tidak masuk akal. Apakah film ini hanyalah film aksi dengan latar belakang kriminal dam detektif saja?

Ternyata semakin lama film tersebut berhasil memberikan kejutan atau twist yang menarik. Arah cerita seakan bergeser-geser dan memberikan berbagai alternatif. Saya suka dengan bagaimana kisah ini disajikan.

Saya rasa, film yang satu ini merupakan salah satu film detektif terbaik dari Korea Selatan. Masuk akal kalau ada produser dari Jepang, bersedia me-remake Confession of Murder (2012). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.showbox.co.kr/Movie/Detail?keyword=&modate=2012&mvcode=JA120151

Mortal Engine (2018)

Mortal Engine (2018) bercerita mengenai keadaan Bumi di masa depan. Semua yang kita miliki saat ini dianggap sebuah artefak dari masa lampau. Dunia yang kita temui di abad 21 ini hancur karena penggunaan energi kuantum. Dunia beserta manusianya pun mengalami perubahan gaya hidup. Manusia di masa depan harus bertahan hidup di tengah-tengah Bumi yang beracun.

Di wilayah Eropa, manusia tidak lagi tinggal di wilayah yang berdiri di atas tanah. Mereka tinggal di kota-kota yang berupa kendaraan raksasa. Kota-kota tersebut berpindah-pindah untuk berdagang dan menghindari kota-kota lain yang berniat buruk. Awalnya, Mortal Engine (2018) memberikan gambaran akan sebuah masa depan yang berbeda dan unik. Sebuah dunia yang luas, megah dan menarik untuk dilihat. Namun apakah itu cukup untuk membuat Mortal Engine (2018) tampil sebagai film yang menarik?

London adalah sebuah kota besar yang berpindah-pindah melahap kota-kota kecil yang mereka ditemui. Di kota inilah terdapat sebuah rencana besar yang dapat membuat dunia kembali hancur. Seperti biasa, tentunya terdapat beberapa tokoh protagonis yang mencoba menghentikan bencana tersebut. Sebuah jalan cerita yang sudah sering saya lihat pada film-film mengenai dunia di masa depan yang tidak sempurna.

Belum lagi terdapat sub plot yang cukup panjang dan … ternyata tidak terlalu berhubungan dengan plot utama x_x. Semuanya hanya ingin mengisahkan masa lalu si tokoh utama. Tokoh utama yang tidak terlalu saya pedulikan. Mortal Engine (2018) gagal membuat saya peduli dengan tokoh-tokoh yang mereka perkenalkan. Film ini memperkenalkan beberapa tokoh tanpa memberikan penekanan bahwa inilah tokoh yang sangat penting. Tokoh yang kalau dilihat ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap plot utama, seolah memperoleh porsi yang terlalu besar. Potensi-potensi akan konflik pun sepertinya kurang ditonjolkan dengan baik, sehingga semua hanya lewat seperti angin lalu saja.

Semuanya sedikit terselamatkan oleh latar belakang yang terlihat megah. Sebuah dunia yang nampak unik sampai …. menjelang akhir cerita. Mortal Engine (2018) sukses mempekenalkan kota-kota nomanden yang berpindah-pindah dengan mesin-mesinnya yang megah. Namun film ini gagal memperkenalkan jenis kota-kota lain yang ternyata ada di dalam cerita. Semua terasa terburu-buru dan kurang pas.

Bisa saja ini terjadi karena Mortal Engine (2018) berusaha menceritakan kisah utama pada novel Mortal Engine karangan Philip Reeve yang terdiri dari 4 buku. Bayangkan saja, 4 buku novel mau dikisahkan hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Ini bukan hal yang tidak mungkin, tapi sopasti ini bukanlah hal yang mudah.

Dahulu kala Peter Jackson pernah berhasil memfilmkan Lord of the Rings yang diadaptasi dari sebuah novel legendaris. Campur tangan Jackson dalam Mortal Engine (2018) sebenarnya sudah terlihat ketika film ini menunjukkan latar belakang yang megah dan fantastis. Namun, kehadiran Jackson yang kali ini hadir sebagai salah satu produser, gagal mengangkat Mortal Engine (2018) menjadi sebuah adaptasi novel yang menarik.

Cerita yang basi dan pendalam karakter yang kurang membuat saya tak heran kalau Mortal Engine (2018) gagal di tanggal Box Office. Maaf seribu maaf, Mortal Engine (2018) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film yang kurang ok, bukan berarti novelnya juga kurang ok loh. Keempar seri novel Mortal Engine berhasil memenangkan berbagai penghargaan loh. Berbanding terbalik dengan versi filmnya.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/mortal-engines

I Saw the Devil (2010)

Kali ini saya akan membahas I Saw the Devil (2010) atau 악마를 보았다, sebuah film aksi asal Korea Selatan yang sempat memenangkan berbagai penghargaan. Kalau dilihat dari jalan ceritanya, has I Saw the Devil (2010) sepertinya hanya film aksi mengenai balas dendam saja. Sesuatu yang sudah sering ada pada film-film aksi lainnya. Kok bisa memenangkan banyak penghargaan ya?

Film ini diawali dengan perbuatan keji Jang Kyung-chul (Min-sik Choi) kepada seorang ibu hamil. Korban Kyung-chul kali ini ternyata istri Kim Soo-hyeon (Byung-hun Lee), seorang agen senior NIS yang handal. NIS sendiri merupakan semacam organisasi intelejennya Korea Selatan. Dapat dibayangkan seberapa kuat dan ahlinya Soo-hyeon. Dalam waktu singkat ia sudah dapat menemukan Kyung-chul dan membalaskan dendam istrinya.

Uniknya, Soo-hyeon ingin agar Kyung-chul merasakan sakit yang mendiang istri Soo-hyeon rasakan. Langsung datang dan membunuh Kyung-chul bukanlah pilihan. Soo-hyeon ingin melakukan balas dendam yang sangat menyakitkan. Agen NIS ini menggunakan keahliannya jauh di luar jalur hukum yang ada.

Hebatnya, kekejaman yang Soo-hyeon lakukan kepada Kyung-chul menjadi sesuatu yang memuaskan bagi saya. Biasanya saya kurang suka dengan film-film sadis, walaupun film tersebut memiliki kejutan yang keren seperti Saw (2004). Semua itu terjadi karena kehandalan Min-sik Choi dalam memerankan Kyung-chul. Karakter antagonis yang satu ini kerap melakukan hal hina. Sumpah, Kyung-chul seolah pantas memperoleh hukuman yang ia terima.

Tidak sampai di sana, I Saw the Devil (2010) berhasil mempertunjukkan transformasi yang halus bagimana reputasi Kyung-chul dihadapan penonton perlahan berubah. Psikopat yang pada awalnya nampak seolah hanya seseorang yang lemah, perlahan menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya. Sepertinya balas dendam ala Soo-hyeon memiliki dampak negatif yang akan Soo-hyeon sesali seumur hidup.

Tidak hanya berisi adegan aksi yang keras, film ini pun memberikan pelajaran mengenai balas dendam. Cara Soo-hyeon berduka memang panjang dan ternyata memberikan dampak negatif pula bagi lingkungan sekitarnya. Kesedihan seakan terus melekat pada Soo-hyeon, sampai akhir film. Inilah yang membuat I Saw the Devil (2010) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran film Korea yang satu ini memenangkan berbagai penghargaan.

Sumber: http://www.showbox.co.kr

Old Guard (2020)

Nama Old Guard sudah beberapa kali dipergunakan di dalam dunia militer. Nama inipun sudah beberapa kali dipergunakan sebagai judul film. Namun Old Guard yang kali ini hendak saya bahas merupakan Old Guard (2020) produksi Netflix yang dibuat berdasarkan serial buku komik dengan judul yang sama. Kalau di komiknya sih, Old Guard jelas bukan bacaan yang pantas bagi anak-anak. Selain gambarnya yang sadis, ceritanya pun mengandung konten yang sedikit tabu dan dewasa. Bagaimana dengan versi filmnya?

Tingkat kesadisan Old Guard (2020) jauh di bawah versi komiknya. Film ini lebih memilih untuk menampilkan aksi dan hiburan segar. Jalan ceritanya tidak menbingungkan dan sangat mudah difahami, tapi yaaaaa agak klise yahh. Jalan ceritanya berkisar pada sekelompok prajurit abadi yang dipimpin oleh Andy (Charlize Theron). Mereka sudah hidup ratusan tahun, beberapa diantaranya pernah ikut serta dalam perang salid, perang Napoleon dan lain-lain.

Tapi Old Guard (2020) tidak melihat semuanya dari kacamata Andy dan tentara abadi lain yang sudah berpengalaman. Film ini melihat semua peristiwa yang terjadi dari kacamata Nile Freeman (Kiki Layne), seorang marinir yang baru saja memperoleh keabadian. Tiba-tiba, tubuh Niki dapat sembuh dari berbagai luka yang mematikan. Seketika itu pulalah, keabadian menjadi sebuah misteri yang menarik dari Old Guard (2020). Sayang Old Guard (2020) tidak mengungkap semua misteri yang ada. Mungkin karena hendak membuat sekuelnya?

Yang pasti keabadian tidaklah membuat mereka 100% bahagia. Mirip seperti manusia lain, ada bagian-bagian yang tidak menyenangkan dari kehidupan. Itupun mereka alami, selama ratusan tahun. Permasalahan ini nampaknya hendak digali dan dijadikan sub plot, mendampingi plot utama yang sangat standard dan mudah ditebak.

Uniknya, yang saya paling suka dari Old Guard (2020), adalah bagaimana tokoh antagonis utama film ini tewas. Aaahhh rasanya puas sekali. Tokoh antagonis pada Old Guard (2020) memang terbilang lemah dan seperti tidak bisa apa-apa. Kelebihan yang ia miliki hanyalah kemampuan super untuk bertingkah sangat menyebalkan :’D.

Aksi dan jalan cerita yang standard, sedikit terobati dengan kekalahan tokoh antagonis yang menyebalkan. Dengan demikian, saya pribadi lkhlas memberikan Old Guard (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81038963

Guns Akimbo (2019)

Guns Akimbo (2019) menggunakan sebuah judul yang aneh bagi saya pribadi. Apa arti Guns Akimbo? Ternyata Guns Akimbo dapat dikatakan merupakan posisi menodongkan senjata di masing-masing tangan saat sedang bertempur. Posisi seperti itulah yang terpaksa Miles Lee Haris (Daniel Redcliffe) lakukan ketika tedapat pistol terpaku di kedua tangannya. Akibatnya, Miles pun memperoleh julukan Guns Akimbo dari para penonton.

Penonton apa?? Sebelum Miles menjadi seseorang yang terkenal di internet, ia hanyalah orang biasa. Pada awalnya, Miles adalah karyawan di perusahaan game, tidak ada yang menarik dari hidupnya. Semua berubah ketika pada suatu malam ia menghina seseorang di dalam sebuah situs. Terkadang, orang memang dapat berkata sesuka hati ketika sedang berada di internet. Mereka merasa dapat melakukan semuanya secara anonim. Ahhh, kali ini Miles sedang sial. Ia menghina orang salah…

Tiba-tiba pintu Apartemen Miles diketuk dan datanglah sekelompok anggota Skizm yang memaku pistol ke tangan Miles dan memasukkan Miles ke dalam sebuah kompetisi maut. Skizm merupakan organisasi kriminal yang menayangkan sebuah kompetisi maut di internet. Mereka membuat beberapa psikopat dan tokoh kriminal, untuk saling bunuh. Lalu kenapa Miles? Ia hanya orang sial yang menghina orang yang salah :’D.

Plot film ini memiliki beberapa lubang. Kemudian, kekonyolan film aksi ala Hollywood pun masih terlihat di sana. Ada karakter yang kadang tampil bak Rambo yang tidak terkena tembakan peluru walaupun ia sedang berhadapan dengan 1 kompi pasukan bersenjata. Kemudian ada pula karakter yang terlalu banyak bicara ketika ia memiliki kesempatan tuk menghabisi lawannya (x_x).

Tapi Guns Akimbo (2019) memang bukan film terlalu serius dan mengandalkan logika. Film ini bisa dibilang memberikan adegan aksi bertempo cepat dengan sedikit humor diantaranya. Melihat Guns Akimbo (2019), sangat mengingatkan saya pada Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009). Hanya saja saya pribadi lebih dapat menikmati Guns Akimbo (2019) dibandingkan kedua film Jason Statham tersebut. Hiburan yang Guns Akimbo (2019) berikan terasa lebih ringan, enak dilihat, dan tidak terlalu kasar.

Dari segi hiburan, Guns Akimbo (2019) mampu memberikan sebuah hiburan ringan yang segar yang seru. Jangan pikirkan mengenai logika ketika menonton film ini, sebab film ini memang tidak bermaksud membuat penontonnya untuk berfikir. Saya rasa Guns Akimbo (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.lionsgate.com/movies/guns-akimbo

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Da 5 Bloods (2020)

Beberapa minggu yang lalu, terjadi peristiwa berdarah berbau rasial nun jauh di Amerika sana. Mungkin teman-teman sudah pernah membaca bagaimana kematian George Floyd membuahkan demonstrasi di penjuru Amerika. Kasus tersebut di nilai berbau diskriminasi kepada orang-orang berkulit hitam dan berhasil semakin mempopulerkan gerakan “Black Lives Matters”. Gerakan ini merupakan buah dari diskriminasi rasial warga Amerika berkulit hitam atau Afro-Amerika, yang terjadi sudah sejak lama sekali.

Kehadiran Da 5 Blood (2020) terasa relevan dengan kondisi saat ini. Film karya Spike Lee ini berbicara lantang mengenai diskriminasi yang dialami oleh warga Amerika berkulit hitam di era Perang Vietnam. Spike Lee yang juga merupakan sutradara Amerika berkulit hitam seolah ingin membeberkan berbagai kenyataan pahit yang terjadi pada saat perang Vietnam berlangsung.

Mirip seperti beberapa film Spike sebelumnya, Da 5 Blood (2020) memberikan sedikit cuplikan dan foto terkait kejadian yang benar-benar terjadi. Saya rasa hanya satu atau dua saja yang terlihat sadis, tapi hal itu cukup untuk membuat saya teringat bahwa Da 5 Blood (2020) bukanlah film keluarga.

Aw kenapa film keluarga? Bagian awal Da 5 Blood (2020) membuat saya mengira bahwa film ini hanya akan mengisahkan nostalgia dan kekeluargaan diantara veteran perang Vietnam berkulit hitam. Dikisahkan bahwa terdapat 4 veteran perang Vietnam yang datang kembali ke Vietnam untuk mengambil jasad kawan mereka. Itulah mengapa judul film ini Da 5 Blood. Yang dimaksud dengan 5 Blood ada 5 prajurit Amerika berkulit hitam yang berpuluh-puluh tahun lalu bertempur bersama di Vietnam. Sayang pimpinan mereka gugur, dan keempat prajurit yang tersisa hanya dapat mundur dan menyelamatkan diri.

Belakangan keempat veteran tersebut ternyata memiliki motif lain, yaitu mencari emas batang yang dahulu mereka simpan di tengah hutan. Yaaah, mengambil jasad sekaligus mengambil emas :).

Di sana terlihat bahwa masing-masing individu memiliki masalah masing-masing yang dapat memicu konflik internal. Emas dan harta memang dapat mempengaruhi seseorang. Belum lagi terdapat karakter-karakter lain yang baru berdatangan di pertengahan cerita. Seketika Da 5 Blood (2020) seakan berubah menjadi film petualangan perburuan harta karun yang menguji persahabatan di antara tokoh-tokoh utama.

Diskriminasi dan konflik internal yang mereka alami memang menjadi topik utama Da 5 Blood (2020). Namun saya lihat ada 1 pesan lagi yang film ini coba angkat. Keberadaan ladang ranjau di wilayah bekas perang, masih terus memakan korban. Banyak korban kehilangan organ tubuhnya akibat ranjau. Yang lebih memilukan lagi adalah apabila korbannya merupakam anak-anak kecil yang tak berdosa.

 

Da 5 Blood (2020) berhasil menyampaikan berbagai pesan dengan baik, rapi dan tidak membosankan. Film ini berhasil membuat saya tertarik untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Saya rasa pesan yang Spike Lee coba sampaikan, cukup mengena. Banyak hal-hal yang mengenai perang Vietnam yang baru saya ketahui, terutama terkait peranan tentara Amerika berkulit hitam di sana. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81045635

Terminator: Dark Fate (2019)

The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa dikatan sebagai karya James Cameron terbaik yang pernah saya tonton. Sayang, sepeninggal James Cameron, kualitas film-film terminator selanjutnya semakin menurun seperti pernah saya bahas pada Terminator Genisys (2015). Terminator 3: Rise of Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009) seakan berusaha meneruskan cerita yang sudah dirangkai pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Semuanya mengikuti alur dimana pada suatu masa di masa depan, terdapat sebuh sistem kumputer super cerdas bernama Skynet. Skynet kemudian meciptakan berbagai robot dan mengambil kekuasaan dari manusia. Manusia yang dipimpin oleh John Connor melakukan pemberontakan dan berhasil mengalahkan Skynet. Sebelum benar-benar hancur, Skynet mengirim robot Terminator ke masa lalu untuk untuk membunuh John Connor dan ibunda dari John Connor, Sarah Connor  (Linda Hamilton). Apa saja yang mungkin untuk mengubah masa depan, akan Skynet lakukan. Keempat film pertama Terminator mengajarkan kepada kita bahwa masa depan tidak akan dapat diubah. Kebangkitan Skynet dan kebangkitan kaum pemberontakan pun merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Terminator Genisys (2015) benar-benar mengacak-acak segalanya. Film yang satu ini menyampaikan bahwa terdapat masa depan ternyata dapat berubah dan memiliki banyak sekali kemungkinan. Yaaaah, pada intinya sih, film ini dibuat untuk membuka jalan bagi film-film Terminator baru. Bagian akhirnyapun penuh tanda tanya dan seolah ingin membuat para penonton penasaran.

4 tahun berselang dan dirilislah Terminator: Dark Fate (2019). Saya rasa film ini berusaha melakukan hal sama seperti apa yang Terminator Genisys (2015), tapi dengan tidak melanjutkan segala hal yang pernah terjadi pada Terminator Genisys (2015). Hal ini dilakukan kemungkianan karena Terminator Genisys (2015) dianggap terlalu membingungkan. Yaaah, pada Terminator Genisys (2015) masa depan memang seperti dengan mudahnya berubah-ubah dalam hitungan menit, sangat tidak stabil.

Terminator: Dark Fate (2019) mengambil latar belakang setelah kisah pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) terjadi. Sarah Connor (Linda Hamilton) dikisahkan berhasil mengubah masa depan dengan menghancurkan Skynet sebelum mesin super canggih tersebut mampu beroperasi dengan maksimum. Namun anehnya, sebelum benar-benar terhapus oleh sejarah, Skynet di masa depan masih berhasil mengirimkan Terminator ke masa lalu. Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) akhirnya berhasil membunuh John Connor kecil (Edward Furlong) dan …. berubah totalah masa depan. Tak ada Skynet, tak ada pula John Connor.

Masa depan memang berubah, namun hanya individu atau namanya saja yang berubah. Sebab bencana yang sama ternyata tetap terjadi di masa depan. Pada suatu saat di masa depan, sebuah super komputer bernama Legion berhasil menguasai Bumi dan berusaha memusnahkan umat manusia. Mirip seperti Skynet, Legion pun mengirimkan Terminator ke masa lalu untuk membunuh seseorang yang akan menjadi sangat berbahaya bagi Legion di masa depan.

Legion mengirim Terminator Rev-9 (Gabriel Luna) ke tahun 2020 untuk membunuh Daniella “Dani” Ramos (Natalia Reyes). Entah apa yang akan Dani lakukan di masa depan, lawan Legion pun mengirimkan Grace (Mackenzie Davis) untuk melindungi Dani. Grace adalah tentara yang sebagian tubuhnya sudah diganti dengan mesin.

Rev-9 yang sangat superior, sudah pasti bukan tandingan Grace yang hanya manusia separuh mesin. Tanpa diduga, Sarah Connor (Linda Hamilton) hadir menolong Dani. Sarah yang sudah tidak muda lagi, tampil dengan aneka persenjataan berat. Uniknya, merekapun pada akhirnya membutuhkan bantuan dari 1 lagi karakter ikonik dari franchise Terminator. Yaaaa, sudah pasti Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) kembali hadir menolong Dani.

Uniknya, T-800 yang hadir kali ini adalah T-800 yang dulu membunuh John Connor. Wow, potensi dari sebuah drama sangat terlihat di sana. Namun entah mengapa, semua terasa hambar dan biasa-biasa saja. Terminator: Dark Fate (2019) memang mengambil segala unsur yang mengkaitkan film tersebut dengan The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Namun saya tidak melihat suatu hal yang baru pada Terminator: Dark Fate (2019).

Saya hanya melihat sebuah film aksi yang penuh dengan ledakan dan pukulan dimana-mana. Pengorbanan-pengorbanan yang dimunculkan oleh beberapa tokoh utama pada Terminator: Dark Fate (2019) pun, tidak se-memorable pengorbanan yang terjadi pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Saya rasa Terminator: Dark Fate (2019) merupakan film aksi yang cukup menghibur. Namun film tersebut tetap saja masih memiliki kualitas di bawah The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Mungkin Opa James Cameron perlu diundang lagi ya. Dengan demikian Terminator: Dark Fate (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terminator: Dark Fate (2019) dan Terminator Genisys (2015) dikabarkan tidak terlalu sukses di tangga Box Office. Saya agak ragu apakah akan ada film Terminator berikutnya…

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/terminator-dark-fate

Bad Boys for Life (2020)

Bad boys, bad boys
Whatcha gonna do, whatcha gonna do
When they come for you

Ahhh, potongan syair lagu di atas adalah soundtrack dari Bad Boys (1995) yang masih saya ingat sampai sekarang :). Film tersebut merupakan film aksi komedi yang cukup populer di masanya. Namun baru pada tahun 2003-lah hadir sekuelnya, yaitu Bad Boys II (2003). Kemudian saya berfikir bahwa Bad Boys II (2003) adalah yang terakhir. Ternyata saya salah besar. 17 tahun setelah Bad Boys II (2003), ternyata Bad Boys for Life (2020) hadir. Aaaww lama sekali yah :P.

Sama seperti kedua film pendahulunya, Bad Boys for Life (2020) mengisahkan penyelidikan oleh 2 detektif narkoba dari kepolisian Miami, yaitu Marcus Burnett (Martin Lawrence) & Michael Eugene “Mike” Lowrey (Will Smith). Tentunya mereka terus berhadapan dengan kartel narkoba yang berasal dari Amerika Latin. Ledakan dan kerusakan sudah pasti mengikuti Mike dan Marcus. Berbagai aksi heboh yang nyaris mustahil selalu ada pada ketiga film Bad Boys. Saya rasa hal ini bukanlah keunggulan ya. Ledakan demi ledakan yang ditampilkan lama kelamaan terasa agak membosankan. Kehadiran polisi-polisi muda yang sok “bad ass” sama sekali tidak menolong dan hanya seperti hiasan semata hehehehe.

Beruntung adegan aksi mereka diselingi oleh berbagai kelucuan. Gaya Mike yang playboy, flamboyan dan nekat, bertemu dengan Marcus yang lebih senang bermain aman dan sangat family man. Interaksi keduanyalah yang membuat Bad Boys for Life (2020) mampu membuat saya tersenyum seperti ketika saya menonton Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003). Hhhhmmmm, kok hanya tersenyum? Yaah, era 90-an ada era dimana muncul berbagai pasangan detektif jenaka hadir ke layar lebar. Maaf sekali tapi Mike dan Marcus masih tidak selucu Carter dan Lee pada Trilogi Rush Hour hehehehe.

Agak sedikit berbeda dengan Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003), ternyata film ketiga Bad Boys kali ini berusaha menampilkan sebuah misteri. Tidak hanya menampilkan prosedur penyelidikan sebuah kasus narkoba, namun ternyata kasus yang Marcus dan Mike hadapi kali ini berhubungan dengan masa lalu Mike. Sebuah usaha yang bagus sekali, sebab misteri yang disuguhkan sebenarnya memiliki unsur kejutan yang tidak saya duga. Sayangnya, kejutan tersebut dibuat berdasarkan masa lalu yang baru dihadirkan pada Bad Boys for Life (2020), melalui adegan flashback. Bukan melalui sesuatu yang “ditanamkan” pada Bad Boys (1995) atau Bad Boys II (2003).

Bad Boys for Life (2020) cukup menghibur melalui berbagai adegan aksi dan kelucuan yang Mike dan Marcus hadirkan. Oleh karena itu film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mengikuti trend yang ada, Bad Boys akan dibuat sebagai franchise film sehingga jangan kaget kalau akan ada film keempat Bad Boys :). 

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/badboysforlife