Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Blue’s Clues & You!

Blue’s Clues adalah salah satu acara andalan channel TV Nickelodeon. Acara TV ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996 dan terus menelurkan episode baru sampai tahun 2006. Kemudian pada tahun 2019, Nickelodeon memutarkan kembali reboot dan peremajaan dari Blue’s Clues, yaitu Blue’s Clues & You!

Mirip seperti pendahulunya, Blue’s Clues & You! Memadukan antara tokoh manusia dengan tokoh kartun/animasi. Bahkan Blue sendiri sebenarnya merupakan anjing biru yang muncul dalam wujud animasi. Pada setiap episodenya, Blue meninggalkan petunjuk untuk Joshua Dela Cruz temukan. Dalam perjalannya, Josh harus memecahkan berbagai teka-teki dan tugas yang berhubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan. Semua disajikan dengan rapi, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Serial yang satu ini berhasil memberikan unsur kesenangan bagi anak-anak, sambil memberikan berbagai pelajaran. Tata bahasa dan konten yang ramah anak dan tidak memberikan contoh yang buruk, membuat Blue’s Clues & You! semakin pas untuk ditonton oleh anak-anak. Orang dewasa pun tidak akan terlalu bosan melihat serial yang satu ini sebab teman dan jalan cerita tidak terlalu membosankan. Saya rasa Blue’s Clues & You! sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Top Wing

Top Wing merupakan film seri kartun anak yang mengisahkan petualangan sebuah regu penyelamat di Pulau Big swirl. Sebenarnya sudah banyak film-film kartun anak lain yang temanya mirip seperti ini. Hanya saja, latar belakang lokasi Top Wing mamang membuat Top Wing nampak sedikit berbeda.

Keempat tokoh utama serial ini belajar di Akademi Top Wing. Karena status mereka masih pelajar, maka mereka masih di bawah bimbingan instruktur. Selain itu mereka hanya beroperasi di sebuah pulau tropis yang moyoritas penduduknya adalah unggas.Setiap anggota Top Wings dilengkapi oleh kendaraan canggih untuk menolong siapapun yang membutuhkan.

Penduduk pulau yang bukan manusia dan wilayah operasi yang berupa pulau, membuat pembagian spesialisasi setiap anggota Top Wing agak berbeda. Mereka tidak membagi spesialisasi menjadi polisi, ambulan, pemadam kebakaran, yang pada umumnya saya temukan pada film sejenis. Pembagian yang Top Wing lakukan adalah beradasarkan medan yang dilalui. Di sana terdapat 1 pengemudi kendaraan darat, 1 pengemudi pesawat terbang, 1 pengemudi perahu, dan 1 pengemudi kapal selam.

Kemudian titik berat dari ceritanya adalah kerja sama dan kekompakan tim. Masalah yang dihadapi tidak terlalu sederhana, namun tetap mudah dipahami oleh anak-anak. Mayoritas misi para kadet adalah misi penyelamatan dan memperbaiki sesuatu yang rusak. Bukan melawan penjahat atau menyelamatkan dunia. Tokoh antagonis pada serial ini tidak selalu hadir pada setiap episodenya. Mereka pun tidak jahat mutlak, masih ada kebaikan di sana. Semua digambarkan melalui animasi yang bagus dan menarik. Anak saya yang perempuan saja senang menonton film seri yang satu ini.

Seperti biasa, karakter wanita pada film kartun seperti ini pasti hanya 1. Sayangnya, 1 karakter wanita pada Top Wing, justru nampak sebagai seorang kadet yang relatif lebih sering gagal mendapatkan medali dibandingkan rekan-rekan prianya. Memang sih kendaraannya terbilang yang paling unik, yaitu kapal selam. Tapi ketimpangan dalam hal gender masih sedikit ada pada Top Wing :’). Dari sudut pandang lain, bisa dikatakan pula bahwa satu-satunya kadet wanita dan paling muda di Top Wings memiliki daya juang yang tinggi. Walau tidak berhasil, ia terus mencoba sampai berhasil. Sebuah contoh yang baik bagi para penonton bukan?

Saya rasa film seri Top Wing masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terlepas dari beberapa kelemahannya, Top Wing masih mengajarkan berbagai nilai positif bagi anak laki-laki dan perempuan.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main

The Kid Who Would Be King (2019)

Legenda Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah sering sekali di angkat ke layar kaca. Tapi entah kenapa tidak bosan-bosannya saya menonton kisah dengan tema yang sama :’D. Saya memang suka dengan film kerajaan bertemakan from zero to hero. Melihat poster dan trailer-nya, saya pikir The Kid Who Would Be King (2019) akan memberikan sesuatu yang menjanjikan. Apakah saya benar?

Alkisah berabad-abad setelah para kesatria Kerajaan Camelot mengalahkan Morgana (Rebecca Ferguson), hiduplah Alex (Louis Ashbourne Serkis) di dataran Inggris Raya. Meskipun baru berusia 12 tahun, ia memilki keberanian dan hati yang baik. Kehidupan Alex berubah ketika pada suatu malam ia berhasil mencabut sebuah pedang dari tumpukan semen.

Ternyata pedang tersebut adalah pedang Excalibur, sebuah pedang yang hanya dapat dicabut oleh Raja Camelot. Seketika itu pulalah Alex menjadi target utama monster-monster Morgana. Seketika itu pulalah Merlin (Angus Imrie) hadir di sekolah Alex dalam wujud yang lebih muda. Ia datang untuk membantu Alex menghadapi Morgana.

Morgana ternyata selama ini belum tewas. Ia hanya terperangkap dan kekuatannya semakin hari semakin besar. Menurut Merlin, Morgana akan kembali memperoleh kekuatan maksimumnya pada gerhana matahari yang akan datang.

Mulai saat itulah Alex merekruit beberapa teman sekolahnya untuk menjadi bagian dari kesatria meja bundar baru yang Alex pimpin. Yang saya agak bingung adalah, teman-tan Alex yang sudah menjadi kesatria, tidak nampak memiliki kekuatan tambahan. Alex sendiri tidak menjadi jauh lebih kuat, walaupun sudah menggengam Excalibur.

Di satu sisi, rasanya kok gelar kesatria dan Excalibur hanya dekorasi semata saja yah. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas usaha yang mereka lakukan, dapat dicapai dengan kemampuan sebagai sekumpulan anak-anak remaja biasa yang bersatu.

Bersatunya anak-anak di bawah komando Alex menjadikan bagian akhir The Kid Who Would Be King (2019) terlihat seru. Walaupun alasan mengapa mereka rela mengikuti perintah Alex bukanlah karena jiwa kepeminpinan Alex yaaaa. Mungkin karena kostum kesatria yang keren? Hehehehe

Di pertengahan film, Alex justru sibuk berpetualang dan mengurusi masalah keluarganya. Semua sukses ditampilkan dengan sangat bertele-tela. Yah kalau akhir filmnya begitu, buat apa dipertengahan film Alex justru jalan-jalan ke sana ke mari :’D.

Bagian tengah film yang minus, bagia awal dan akhir yang memikat, membuat film ini memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: amily.20thcenturystudios.com/movies/the-kid-who-would-be-king

Serial Sunny Day

Semua selalu cerah di Sunny Day :). FIlm kartun anak-anak ini mengisahkan Sunny (Lily Portman) dan kawan-kawan yang membuka sebuah Salon di Kota. Mereka tidak hanya melayani perawatan rambut, namun melayani pula perawatan kecantikan lainnya. Dalam setiap episodenya, Sunny selalu ikhlas menolong siapapun yang sedang dalam kesulitan dengan kemampuan yang mereka miliki. Sering sekali mereka melakukan improvisasi terhadap hambatan yang ada di depan mata. Tentunya semua itu dikemas dengan sederhana sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Berhubungan kegiatan sehari-hari Sunny adalah bekerja di Salon, sebagian besar masalah yang muncul memang terkait pemeliharaan kecantikan tapi versi anak-anak. Bukankah anak perempuan banyak juga yang suka main dandan-dandanan atau salon-salonan? 😀

Di sini anak-anak diajarkan mengenai persahabatan, kerjasama dan tolong menolong. Tapi jangan cari unsur pelajaran matematika atau sains pada film ini, sebab hal tersebut memang tidak ada hehehehehe. Cukup karakter Sunny saja yang dijadikan contoh. Di sini ia tampil sebagai karakter yang relatif paling bijak, setia kawan dan sifat-sifat baik lainnya.

Walaupun tokoh utamanya perempuan semua, animasi kartunnya tidak dipenuhi oleh warna pink dan ungu. Warna-warnya yang cerah memang mencerminkan sebuah hari yang selalu cerah, Sunny Day.  Hadir dengan porsi kepala yang lebih besar dibandingkan tubuhnya, animasi film kartun ini tetap mampu tampil imut dan memikat anak-anak. Bagi orang dewasa yang menemani menonton, yaah lama-lama bosan juga karena adegan kejar-kejaran yang hampir selalu ada di setiap episodenya hanya cukup menegangkan bagi anak-anak saja hehehehehe.

Dengan tidak adanya konten dewasa pada Sunny Day, saya merasa aman membiarkan anak saya menonton film ini, meski terkadang saya merasa bosan setelah marathon melihat lebih dari 3 episode. Maka saya pribadi ikhlas menberikan film seri anak Sunny Day nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Sonic the Hedgehog (2020)

Mayoritas anak tahun 90-an tentunya pernah menyaksikan masa-masa persaingan antara video game Nintendo dan Sega. Kalau Nintendo memiliki Mario Bros sebagai maskotnya, maka Sega memiliki Sonic sebagai maskotnya. Sebagai salah satu pemiliki Sega Mega Drive 2, tentunya saya sudah pernah berkali-kali bermain Sonic The Hedgehog. Permainan tersebut memang bukan permainan favorit saya, tapi banyak kenangan manis tercipta ketika mengingat permainan tersebut di masa lalu :).

Nostalgia yang membuat beberapa milenial yang mungkin sekarang sudah berusia 30-an, ingin melihat versi layar lebar dari sebuah permainan yang pernah dimainkan ketika masih kecil dulu, Sonic the Hedgehog (2020). Film yang seharusnya dirilis pada 2019, terpaksa dirilis pada 2020 karena besarnya komplain fans Sonic. Pada awalnya, penampakan Sonic di filmnya, mendapatkan kritikan pedas dari para fans. Hebatnya, pihak produser dan sutradara memilih untuk mengubah wujud Sonic dan mengundur jadwal rilisnya hinggal awal 2020 lalu. Bagaimana hasilnya?

Penampilan Sonic pada Sonic the Hedgehog (2020) sudah mewakili Sonic versi video game. Sonic seolah hidup dan keluar dari layar TV tabung tempat saya dulu bermain. Ia berhasil ditampilkan sebagai fokus utama pada film tersebut. Pemasalahan dari beberapa film lain yang menggabungkan antara manusia sungguhan dan CGI (Computer Generated Imagery) adalah, dibuat terlalu besarnya peranan karakter manusia hingga perlahan menggeser si tokoh utama yang digambarkan melalui CGI. Untunglah Sonic tidak mengalami nasib yang sama. Peranan Thomas Michael “Tom” Wachowski (James Marsden) disini terlihat sebagai sahabat sekaligus pendamping Sonic. Film ini benar-benar bercerita mengenai Sonic.

Beberapa lokasi pada Sonic the Hedgehog (2020) menggunakan nama lokasi yang dipergunakan pada versi video game nya, tapi tempat kejadian film ini tetap bukanlah dunia ajaibnya Sonic. Sonic (Ben Schwartz) merupakan landak biru berkuatan super. Ia dapat bergerak super cepat dan menggunakan putaran durinya sebagai senjata. Kekuatannya membuat Sunic diburu sejak ia masih kecil. Dengan menggunakan cincin ajaib, Sonic melarikan diri ke dunia lain dan bersembunyi.

Selama bertahun-tahun Sonic berdampar di sebuah desa kecil di daerah Montana. Ia mengamati kehidupan penduduk desa tersebut dari kejauhan hingga Dr. Robotnik (Jim Carrey) datang. Peneliti jenius tersebut menggunakan seluruh peralatan canggih yang ia miliki untuk menangkap Sonic. Jim Carrey berhasil memerankan Dr Robotnik yang egomaniak dan super narsis tanpa akting yang berlebihan. Selama ini Jim Carrey sering tampil dengan akting yang gilanya berlebihan, overacting, sorry para penggemar Carrey di luar sana. Kali ini Carrey berhasil tampil gila tapi tidak overacting, bravo!

Sayang kisah pada Sonic the Hedgehog (2020) terlalu datar dan biasa saja. Sepanjang film, Dr Robotnik mengejar Sonic dan Tom untuk menangkap, meneliti dan mereplikasi kekuatan Sonic. Film ini terlihat sudah berusaha untuk menambahkan warna di dalam ceritanya melalui persahabatan Tom dan Sonic yang semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Kemudian ada pula keharuan Sonic akan kehidupan dipersembunyian yang membuatnya tidak memiliki teman. Yaah, sayang itu semua tersemasuk isu yang biasa dan kurang “Wah”.

Saya lebih senang memandang Sonic the Hedgehog (2020) sebagai film penuh nostalgia yang bertujuan untuk menghiburan. Jangan terlalu memperhatikan lubang di dalam jalan ceritanya, sebab akan lumayan banyak hehehehe. Saya rasa Sonic the Hedgehog (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonicthehedgehog.com

Serial Fancy Nancy Clancy

Film kartun yang hendak saya bahas kali ini adalah Fancy Nancy Clancy yang diproduksi oleh Disney berdasarkan buku anak-anak karangan Jane O’Connor. Tokoh utamanya adalah 2). Ia tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya. Dari pakaian dan sifat, Nancy memang sangat berbeda, ia adalah anak paling centil dan tampil paling elegan di rumahnya. Bahkan ibu dan adiknya menggunakan baju yang sederhana dan itu-itu saja. Sementara Nancy selalu menggunakan berbagai atribut girly di mana-mana. Nancy pun selalu hadir dengan berbagai ungkapan berbahasa Prancis seperti merci, oui, uuh la la. Terkadang ia berbicara sambil menghadap ke arah penonton dengan centilnya.

 

Selain tampil elegan dan centil, Nancy memiliki kreatifitas yang tinggi, daya imajinasi yang tinggi dan semangat yang besar. Sifat-sifat Nancy inilah yang membuat setiap episode Fancy Nancy Clancy penuh warna. Kisah-kisahnya memberikan beberapa pelajaran tapi agak berbeda dengan beberapa serial anak lainnya dimana tokoh utama biasanya digambarkan sebagai tokoh yang relatif netral dan bijak. Nah, Nancy tampil lebih membumi dan realistis. Ia hadir dengan segala kelemahannya sebagai anak kecil pada umumnya. Sifat egois, sombong dan tak mau kalah kadang membuat Nancy terlibat dalam berbagai masalah. Masalah yang yang pada akhirnya dapat terselesaikan dengan berbagai kelebihan yang Nancy miliki. Di sini, Nancy pun nampak belajar dari berbagai kesalahan yang ia buat. 

Selain itu, Fancy Nancy Clancy tampil dengan animasi yang bagus dan tidak terlalu condong ke arah warna yang sangat pinky atau ungu. Jadi penampilan dan komposisi warna cukup halus, seimbang dan masih dapat ditonton oleh anak laki-laki.

Secara keseluruhan, Fancy Nacy Clancy layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya pribadi masih dapat menikmati film seri anak yang satu ini. Ceritanya tidak membosankan bagi orang dewasa, dan tetap dapat memberikan nilai positif bagi anak-anak.

Sumber: http://www.fancynancyworld.com

Serial Puppy Dog Pals

Film seri anak Puppy Dog Pals menampilkan petualangan 2 anak anjing bulldog lucu, yaitu Rolly (Sam Lavagnino) & Bingo (Issac Ryan Brown). Keduanya nampak imut dengan 2 mata besar dan senyuman lebarnya. Penampilan kedua karakter utama ini tentunya mampu memilkat anak-anak untuk langsung datang menonton Puppy Dog Pals.

Petualangan apa yang Rolly dan Bingo lakukan? Mereka bersedia melakukan apapun bagi majikan mereka Bob (Harland Williams). Demi Bob, kedua anjing mungil ini rela berkeliling dunia demi menolong atau menyenangkan hati Bob. Dengan dibantu oleh peralatan canggih dan robot anjing, Bingo & Rolly mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Tidak hanya itu, Rolly & Bingo pun dibantu oleh fakta bahwa mereka tinggal di sebuah dunia yang tidak terlalu memperdulikan passport, visa dan tiket. Sebuah dunia khayalan yang menyenangkan bagi para pecinta jalan-jalan hehehehehe.

Karena hal di ataslah, Puppy Dog Pals memang nampak sangat sederhana sekali. Film seri ini akan sangat memikat bagi anak kecil, tapi akan mulai membosankan bagi anak-anak yang mulai dewasa, termasuk orang tua yang menemani anak-anaknya menonton huhuhuhuhu.

31

Kalau dilihat dari segi pendidikan dan moral pun, Puppy Dog Pals terbilang sangat miskin. Film kartun Disney yang satu ini seolah hanya memberikan hiburan saja. Animasi yang bagus dan lucu nampaknya menjadi modal utama serial ini. Selebihnya ….. yaaa hampir tidak ada. Dengan demikian Puppy Dog Pals memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: disneynow.com/shows/puppy-dog-pals