Serial My Little Pony: Pony Life

Sebagai franchise yang sudah ada sejak lama, My Little Pony sudah hadir dalam berbagai bentuk film. Film serinya saja sudah ada berapa jenis. Kali ini saya membahas film seri dari My Little Pony yang paling imut yaitu Pony Life. Kelima karakter utama My Little Pony tentunya kembali hadir di sini. Di sini ada Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Apple Jack (Ashleigh Ball), Rarity (Tabitha St. Germain), Fluttershy (Andrea Libman) dan Rainbow Dash (Tabitha St. Germain).

Formasi lengkap sudah hadir. Lalu apa bedanya Pony Life dengan serial Little Pony lainnya? Serial ini hadir dilengkapi oleh animasi yang lucu. Fokus serial ini pun lebih ke arah hiburan dan humor. Dalam setiap episodenya, kita tidak akan selalu disuguhkan mengenai bagaimana persahabatan dapat mengalahkan kejahatan dan menyelamatkan dunia. Sebagian besar episodenya justru berhubungan dengan hobi dan keseharian kelima karakter utama Pony Life.

Keenam karakter utama hadir dengan masalahnya masing-masing. Semuanya diselesaikan dengan berbagai kelucuan di mana-mana. Penonton dewasa tidak akan kebosanan ketika ikut menonton film seri ini.

Pesan moral dari film kartun ini tidaklah banyak dan hanya itu-itu saja sih. Animasi dan kisah yang lucu, menjadi daya tarik serial ini. Pony Life merupakan versi My Little Pony yang tidak serius. Dengan demikian, serial imut ini masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com/en-us/characters/ponylife

Serial Bluey

Bluey adalah film seri animasi anak keluaran Australia yang biasa putri kecil saya saksikan di Stasiun TV Disney. Serial asal Australia ini mengisahkan keseharian sebuah keluarga anjing yang tediri dari Bandit sang ayah (David McCormack), Chili sebagai sang ibu (Melanie Zanetti) , Bingo sebagai adik Bluey, dan tentunya Bluey sendiri. Bluey adalah anjing heler berwarna biru yang energik, ceria dan kreatif. Ahh sebuah karakter yang biasa dimiliki oleh banyak protagonis utama sebuah film anak. Lalu apa istimewanya Bluey?

Sebagai anak anjing, Bluey tentunya senang bermain. Kegiatan bermain Bluey bersama keluarga dan temannya, dipertontonkan dengan cara yang menghibur. Serial ini menunjukkan bagaimana kreatifnya Bluey dan kawan-kawan ketika sedang bermain. Tidak hanya bermain, terkadang kegian Bluey lainnya pun terlihat segar dan tidak repetitif. Sebagai penonton dewasa, saya sendiri tidak merasa bosan ketika sedang menemani anak saya menonton Bluey.

Sebagai film seri untuk anal-anak, Bluey tentunya menyisipkan berbagai pelajaran yang positif bagi penontonnya. Sebuah contoh yang tak ada salahnya untuk ditiru oleh anak-anak.

Saya rasa serial anak yang satu ini layal untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Bagus”. Durasi per episode-nya memang tidak terlalu panjang, tapi itu cukuplah untuk dijadikan tontonan segar bersama anak kita di rumah.

Sumber: http://www.bluey.tv

Serial DC Super Hero Girls

Melalui franchise DC Super Hero Girls, DC Comics berusaha mengumpulkan superhero dan supervillain wanita ke dalam 1 format franchise yang sama. Konsepnya mengikuti Monster High dimana semua karakternya belajar bersama di sebuah sekolah. Kali ini bukan sekolah khusus monster, melainkan sekolah biasa. Inilah konsep yang diangkat oleh serial DC Super Hero Girls versi Cartoon Network yang mulai tayang pada 2019.

Konsep sekolah biasa di Metropolis ini rasanya bisa lebih diterima dan terasa lebih natural. Sangat berbeda dengan DC Super Hero Girls versi webseries yang mulai tayang pada 2015. Wah ada berapa versi DC Super Hero Girls sih? Setahu saya ya hanya 2 itu saja sementara ini. Tapi yang versi tahun 2015 itu terlalu serius dan cerita kurang menarik.

Sementara itu yang versi tahun 2019 ini lebih banyak humornya dan kasusnya lebih banyak intriknya. Kemudian karakter utamanya dibuat sedikit berbeda dari biasanya. Pada DC Super Hero Girls versi 2019 ini kita akan bertemu dengan Wonder Woman (Grey Griffin), Batgirl (Tara Strong), Supergirl (Nicole Sullivan), Green Lantern (Myrna Velasco), Zatanna (Kari Wahlgren) dan Bumblebee (Kimberly Brooks). Wonder Woman hadir sebagai pemimpin yang tegas, namun kurang memiliki pengetahuan mengenai kehidupan manusia modern. Batgirl tampil sebagai tokoh yang super cerdas dan sangat bersemangat, namun sering kali bertingkah konyol seperti anak kecil. Supergirl ditampilkan seperti wanita kuat dari perkampungan di Amerika bagian tengah, ia sering berbuat gegabah dan kurang dapat mengendalikan kekuatan supernya. Zatanna adalah pesulap wanita yang elegan dan modis. Green Lantern kali ini adalah Green Lantern versi Jessica Cruz yang kurang suka akan kekerasan dan sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Terakhir, Bumblebee merupakan superhero yang rendah diri padahal kemampuannya tetap bermanfaat bagi teman-temannya.

Seperti film tim superhero pada umumnya, DC Super Hero Girls selalu berbicara mengenai kerjasama dan persahabatan dalam menuntaskan berbagai kasus kejahatan. Karena sebagian besar karakternya wanita, maka otomatis serial inipun berbicara mengenai pemberdayaan wanita.

Kemudian, pembawaan karakter yang unik dan lucu membuat serial ini dapat menghibur penonton anak dan dewasa. Saya pribadi tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton episode-episodenya.

Dari segi pendidikan, serial ini memang tidak terlalu istiimewa. Tapi dari segi hiburan, serial ini cukup istimewa. Saya ikhlas untuk memberikan DC Super Hero Girls nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.dckids.com/super-hero-girls

Raya and the Last Dragon (2021)

Raya and the Last Dragon (2021) merupakan film animasi Disney terbaru yang hadir di bioskop dan media streaming eksklusif. Tokoh utamanya adalah Raya (Kelly Marie Tran) dan Sisu (Nora Lum). Raya adalah putri dari kepala suku Negeri Heart. Dahulu kala, Heart dan 4 negeri lainnya bersatu membentuk sebuah kesatuan yang disebut Kumandra. Semua berubah ketika sebuah mahluh misterius yang bernama Druun, datang dan mengubah banyak rakyat Kumandra menjadi batu. Para naga yang menjadi pelindung Kumandra tidak tinggal diam. Mereka pun rela gugur demi menghancurkan Druun. Akhirnya, kemenangan jatuh ke tangan para naga melalui sihir Sisu, naga terakhir Kumandra yang masih tersisa.

Setelah insiden tersebut, Kumandra mengalami perpecahan dan terbagi ke dalam 5 wilayah termasuk Heart, kampung halaman Raya. Beberapa tahun kemudian, perseteruan diantara 5 negeri tersebut membuat Druun hidup kembali dan menteror kelima negeri yang dahulu bersaudara. Dimanakah para naga Kumandra yang dahulu menolong mereka? Putri Raya memutuskan untuk berkelana demi mencari keberadaan Sisu, naga terakhir yang kabarnya masih hidup. Ia berharap Sisu masih memiliki kekuatan untuk kembali mengalahkan Druun.

Tanpa raya duga, kekuatan Sisu ternyata adalah kekuatan yang berasal dari persatuan, kepercayaan dan persaudaraan. Hal-hal yang saat ini sudah punah dari kelima negeri yang ada.

Raya sendiri mengalami masalah dengan yang namanya kepercayaan. Dahulu, ia pernah dihianati oleh putri negeri lain. Sehingga Raya sangat sulit percaya dengan orang yang baru ia temui. Sepanjang perjalanannya, Raya harus belajar untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Bersama Sisu, ia pun banyak belajar mengenai pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Sebuah petualang epik yang berhasil disajikan dengan sangat baik oleh Disney. Berbeda dengan mayoritas putri-putri Disney lainnya, Raya tidak menyanyi. Tidak ada adegan menyanyi sedikitpub pada pertengahan film ini. Hebatnya, Disney menggantinya dengan adegan pertarungan yang keren. Raya bukanlah putri yang memiliki kekuatan sihir seperti Elsa. Namun ia mampu berkelahi dengan sangat baik. Dengan kualitas animasi di atas rata-rata untuk film keluaran tahun 2021, film ini tampak menakjubkan. Adegan perkelahian bisa jadi merupakan bagian yang paling saya suka dari Raya and the Last Dragon (2021).

Apalagi, film putri Disney yang satu ini dapat dikatakan merupakan putri Disney pertama yang berasal dari Asia Tenggara. Pada film ini, saya melihat proses pembuatan batik, keris, pencak silat, wayang, gamelan, istana ala Thailand/Vietnam, rumah gadang, rice cake Vietnam, sawah terasering dan lain-lain. Wah, akhirnya ada juga perwakilan kita di sana.

Pengisi suara kedua karakter utamanya pun merupakan keturunan Asia. Nora Lum berhasil memberikan karakter suara yang membuat Sisu nampak hidup. Naga yang konyol dan murah senyum sungguh pas sekali dengan suara Nora. Sementara itu Marrie yang keturunan Vietnam, tidak terlalu nampak menonjol. Suara Raya yang diisi oleh Marrie terbilang okelah tapi tidak sekeren apa yang Nora lakukan kepada karakter Sisu.

Salah satu hal yang saya tidak terlalu suka dari film ini sebenarnya adalah akhir yang agak antiklimaks. Kemudian, alur ceritanya agak mudah ditebak. Tapi ini dapat dipahami karena bukankah ini merupakan film keluarga? Kalau terlalu kompleks, ya sopasti penonton cilik tidak akan betah.

Berbagai kelebihan dan kekurangan di atas membuat saya ikhlas untuk memberikan Raya and the Last Dragon (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini adalah tontonan wajib di tahun 2021 ;).

Sumber: movies.disney.com/raya-and-the-last-dragon

Serial Kiko

Berawal dari cerita pendek di majalah, Kiko diangkat ke TV oleh MNC pada tahun 2014 lalu. Sampai saat saya menulis tulisan ini, serial Kiko adalah salah satu film seri animasi yang anak saya gemari. Di tengah-tengah hiruk pikuk film animasi macanegara, ternyata ada 1 animasi lokal yang mampu bersaing. Yang lebih membanggakan lagi adalah kenyataan bahwa Kiko sudah diputar pula di Stasiun TV berbayar Disney. Selain itu serial inipun sudah dialihbahasakan dan diputar di negara-negara lain looh. Yah tidak kalahlah dengan Serial Ipin & Upin dari Malaysia.

Berbeda dengan Serial Ipin & Upin, semua karakter pada Serial Kiko bukanlah manusia. Mereka semua pada awalnya merupakan penghuni sebuah danau yang sangat luas. Akibat kelalaian manusia, mayoritas penghuni danau tersebut terkena limbah dan berubah menjadi mutant. Seketika itu mereka memiliki wujud seperti manusia dan hidup tersembunyi di dasar danau. Mereka kemudian membangun sebuah peradaban lengkap dengan rumah, jalan, pertokoan dan sebagainya. Lahirlah Kota Asri, tempat tinggal Kiko (Anastasia Amelia), seekor ikan mas koki yang sekarang memiliki wujud menyerupai anak manusia dan gemar bermain bola.

Sehari-hari, Kiko bersahabat dengan Poli (Leni Marlina Tarra), Lola (Siti Balqis), Ting-Ting (Leni Marlina Tarra) dan Patino (Suherman). Poli merupakan ninja cilik yang dingin namun sportif dan sangat setia kawan. Lola merupakan pengusaha kuliner yang senang merawat aneka bunga, cewek banget deh pokoknya. Sementara ini Patino adalah sahabat Kiko yang terkuat, terpolos dan hobi sekali dengan gulat dan komik. Terakhir, Ting-Ting merupakan peneliti yang super jenius dan ahli akan teknologi terbaru. Perbedaan, membuat Kiko dan kawan-kawan dapat tetap bersatu dan saling melengkapi. Kiko sering kali bertindak sebagai pemimpin. Kecekatan, kepintaran dan kebaikannya berhasil beberapa kali membawa teman-temannya keluarnya dari masalah. Tapi terkadang, ulah Kiko yang usil dan suka ikut campur, membawa petaka. Yah tak ada yang sempurna. Tokoh utama film seri anak ini bukan malaikat.

Kebaikan menang melawan kejahatan. Persahabatan dan kebersamaan, berhasil memecahkan berbagai masalah. Itulah tema pokok yang saya lihat pada setiap episodenya. Semua yang diajarkan pada Serial Kiko memang baik dan patut untuk dicontoh. Dibalut dengan animasi yang lumayan bagus, semuanya nampak seperti sebuah paket yang menarik.

Namun, semua yang ada pada serial ini, seolah dapat saya temukan pula pada serial animasi lain. Tidak ada yang istimewa dari karakter dan ceritanya. Ooohhh tunggu dulu, keistimewaan Kiko adalah … made in Indonesia :D.

Dengan demikian, serial anak yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ayo cintai produk Indonesia hehehehe.

Sumber: mncanimation.com/products/view/kiko

Soul (2020)

Kali ini saya akan membahas mengenai film animasi terbaru Pixar & Walt Disney, yaitu Soul (2020). Tokoh utama film animasi yang satu ini adalah Joe Gardner (Jamie Foxx) dan Paul (Daveed Diggs). Keduanya bertemu di dunia roh … Stop, ini film horor? Wkwkwkw. Tema film ini memang dunia roh. Tapi semua digambarkan dengan sangat cerah dan gamblang. Semuanya sangat mudah dipahami baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Ini film Walt Disney loh, bukan filmnya Om Nolan.

Joe merupakan seorang pemusik Jazz yang sekarat. Jiwanya pun pergi ke alam roh. Ia berbaris bersama roh-roh lain yang sudah sekarat. Berbarus menuju sebuah pintu yang melambangkan kematian bagi tubuh Joe dan kehidupan baru bari roh Joe di akhirat. Namun, Joe masih belum ikhlas pergi meninggalkan dunia fana untuk selamanya. Maka, dengan keinginan yang kuat, Joe melarikan diri dan justru terjatuh ke alarm roh lain. Sebuah alarm roh dimana berkumpul roh-roh mungil yang belum lahir ke dunia. Di sinilah awal Joe bertemu dengan Paul.

Bertolakbelakang dengan Joe, roh Paul justru tidak mau pergi ke dunia nyata. Paul hendak menetap di dunia roh saja untuk selama-lamanya. Di sinilah awal mula dari persahabatan yang mengharukan antara 2 roh yang berbeda.

Melalui Soul (2020) kita diingatkan mengenai apa arti hidup. Bagaimana kita memanfaatkan anugrah ini. Selain itu, Soul (2020) memiliki unsur pengorbanan, keikhlasan, dan tentunya, persahabatan. Sebuah film dengan banyak sekali pesan moral yang baik tanpa harus tampil menggurui.

Film ini tampil dengan animasi yang bagus, jalan cerita yang mudah dipahami, dan segudang pesan moral yang baik. Maka, saya pun ikhlas untuk memberikan Soul (2020) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini baik untuk ditonton oleh seluruh anggota keluarga.

Sumber: http://www.pixar.com/soul

Serial Mira, Royal Detective

Serial kartun anak yang mengambil latar belakang kerajaan, biasanya memiliki putri atau pangeran sebagai tokoh utamanya. Hal tersebut tidak berlaku pada Serial Mira, Royal Detective. Sang pangeran justru hadir sebagai tokoh pendukung. Mira (Leela Ladnier) merupakan anak dari punggawa Kerajaan Jalpur di abad ke-19. Dikisahkan bahwa Jalpur sendiri terletak di daerah India, Asia Tengah. Maka latar belakang serial anak yang satu ini adalah kerajaan ala ala Bollywood-laaah.

Apa istimewanya Mira? Ia memiliki kecerdasan dan berbagai nilai kebaikan lain yang patut untuk dicontoh. Pihak istana pun mengangkat Mira sebagai detektif kerajaan. Mira berhasil mengajak penonton ciliknya untuk memecahkan berbagai kasus yang ia hadapi.

Dengan menonton Mira, Royal Detective, anak-anak diajak untuk berfikir dengan teratur dan mengikuti petunjuk yang ada. Semuanya cukup mudah untuk diikuti oleh anak-anak. Kasusnya Mira memang bukan kasus kompleks yang rumit seperti benang kusut.

Mira, Royal Detective layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Meskipun topiknya terkadang terkait tindak kriminal, serial ini tidak mengandung kekerasan dan hal-hal negatif lainnya kok. Aman untuk ditonton oleh anak-anak.

Sumber: disneynow.com/shows/mira-royal-detective

Serial Mighty Little Bheem

Sejak tahun 2008, karakter Chotta Bheem menjadi salah satu karakter andalan Green Gold Animation, sebuah perusahaan film India. Serial Chotta Bheem telah melahirkan beberapa film lepas dan spin-off. Saya sendiri tidak terlalu terkesan dengan hasil dari franchise Chotta Bheem kecuali satu. Apa itu? Serial Mighty Little Bheem tentunya.

Kalau saya hitung-hitung, Serial Mighty Little Bheem merupakan spin-off keempat dari Serial Chotta Bheem. Biasanya, Chotta Bheem digambarkan sebagai anak-anak yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Ia pun menggunakan kekuatanya untuk mengalahkan tokoh jahat yang berupa manusia dan siluman.

Pendekatan yang dilakukan pada serial yang satu ini agak berbeda dengan film-film Chotta Bheem lainnya. Bheem masih balitadan tinggal di gubuk sederhana bersama ibunya. Suasana pedesaan India tentunya menjadi latar belakang Bheem si balita super kuat.

Kali ini ia menggunakan kekuatan supernya untuk melakukan hal-hal yang lebih sederhana. Dalam prosesnya, kelucuan terjadi dimana-mana. Saya pun beberapa kali tertawa melihat tingkah Bheem dan kawan-kawan. Serial yang satu ini memang sama sekali jauh dari kata serius.

Komedi menjadi cara Mighty Little Bheem menyampaikan pesan positif bagi para penontonnya. Ditambah dengan animasi yang menawan, Mighty Little Bheem berhasil menjadi salah satu film seri anak yang berhasil memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.mightylittlebheem.com

Serial Super Monsters

Serial kartun anak Super Monsters menampilkan keseharian murid sebuah Playgroup. Eits ini bukan Playgroup biasa, Playgroup ini khusus bagi monsters. Dalam dunia Super Monsters, para muridnya memiliki wujud seperti anak manusia di siang hari. Kemudian di malam hari mereka berubah menjadi monter dan masuk sekolah.

Perubahan wujud yang mereka lalukan, ditampilkan seolah-olah mereka berubah menjadi superhero. Jadi tidak ada adegan menakutkan di sana. Super Monsters memang menampilkan monster-monster sebagai tokohnya, namun semua dibuat seimut mungkin. Di sini, para penonton cilik diajarkan bahwa monster itu jauh dari kesan menakutkan. Tak lupa hadir pula peliharaan yang juga berupa binatang imut. Binatang-binatang yang di dunia nyata terkesan seram pun, berhasil dibuat seimut mungkin pada Super Monsters.

Monsternya monster apa aja sih? Ada vampir, mumi, zombie, frankenstein, penyihir, werewolf, naga dan lain-lain. Yaaah seperti versi ciliknya Monster High. Karena jenis monsternya berbeda-beda, maka masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda.  Mereka harus bekerja sama dan memanfaatkan perbedaan yang ada demi menyelesaikan masalah.

Hanya saja, banyak sekali adegan dan topik yang terasa agak repetitif bagi penonton dewasa. Anak-anak mungkin tidak terlalu menyadari hal tersebut. Saya sendiri cepat bosan ketika menemani anak saya menonton serial yang satu ini.

Dengan demikian, saya rasa Super Monsters pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Setiap musiim pemutaran baru, biasanya ada saja karakter baru dengan kekuatan baru, not bad laaaa.

Sumber: http://www.41e.tv

Serial Entong

Bertahun-tahun lalu, terdapat sinetron Si Entong yang biasa diputar di TV. Kemudian hadir beberapa spin-off dari sinetron tersebut, sampai pada akhirnya dibuatlah versi serial animasinya dengan judul Entong. Saya sendiri hampir tidak pernah menonton versi sinetronnya. Saya menonton Entong versi animasi karena menemani anak saya menonton TV. Sampai saat saya menulis tulisan ini, Etong merupakan salah satu serial animasi yang kerap hadir di salah satu stasiun TV nasional.

Mirip dengan versi sinetronnya, serial animasi yang satu ini memiliki seorang tokoh utama bernama Entong sebagai tokoh utamanya. Entong tinggal di sebuah perkampungan yang terletak di tengah-tengah kota Jakarta. Di sini, diperlihatkan kemajemukan kota Jakarta. Entong yang berasal dari suku Betawi, mampu berinteraksi dengan karakter-karakter lain yang berasal dari berbagai macam suku.

Tentunya, berbagai kebaikan diajarkan pada setiap episodenya. Tema yang diambil sekilas memang cukup klise. Kebaikan melawan kejahatan dimana Entong digambarkan sebagai tokoh baik. Kemudian, hadir Memed sebagai tokoh jahat yang selalu berseteru dengan Entong pada setiap episodenya.

Konflik antara Entong dan Memed memang menjadi cerita utama pada serial ini. Sayang, serial yang harusnya untuk anak-anak ini digarap dengan gaya sinetron. Memed seolah-olah seperti iblis yang memiliki berbagai sifat buruk. Ia bahkan kadang berhasil menang melawan Entong. Loh kok menang? Sekilas memang seolah-olah kebaikan selalu menang. Akantetapi kalau ditelaah, maka terlihat jelas bahwa pada dasarnya terkadang Entong berada dipihak yang kalah. Pada film seri ini, Entong tidak digambarkan sebagai malaikat yang tidak punya dosa. Entong digambarka sebagai anak manusia yang pada dasarnya merupakan anak baik. Semua sifat baik tentunya melekat pada karakter Entong. Namun beberapa tindakan Memed, berhasil membuat Entong sedikit berbelok. Terkadang, Entong bermaksud melakukan perbuatan baik, namun dengan cara yang kurang tepat. Bak iblis, Memed berhasil memancing Entong agar Entong turut serta menerima hukuman seperti dirinya. Aaaah sungguh sinetron sekali hehehehehe.

Dari segi visual, animasi Entong pun terbilang lumayan bagus dan menarik, tak kalah dengan film kartun luar negeri. Hal ini tentunya sukses membuat anak-anak betah menonton Entong. Not bad laaad :).

Saya rasa serial Entong layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ketika menonton film ini, jangan lupa mendampingi anak-anak kecil karena film kartun ini digarap seperti menggarap sebuah sinetron. Jadi sopasti ada karakter anak kecil yang bersifat seperti iblis. Padahal pada dunia nyata, setiap individu ada sifat baiknya bukan? Apalagi anak-anak kecil yang seharusnya masih polos dan minim dosa.

Sumber: http://www.mncanimation.com/products/view/entong