Serial T.O.T.S.

Dalam beberapa kepercayaan kuno, burung bangau sering kali diasosiasikan dengan bayi. Sebenarnya, semua diawali di Jerman ratusan tahun yang lalu. Pola migrasi burung bangau sedemikian rupa membuat burung-burung tersebut ramai melewati Jerman di saat ketika banyak bayi lahir. Maka, muncul mitoa bahwa bayi-bayi tersebut datang dibawa oleh bangau. Dari sana, munculah kisah-kisah fantasi terkait burung bangau yang datang mengantarkan bayi ke rumah-rumah.

Hal inilah yang menjadi latar belakang T.O.T.S. Film seri Disney tersebut berada di sebuah dunia dimana bayi-bayi binatang diantarkan ke orang tua mereka oleh T.O.T.S. (Tiny Ones Transport Service). Bayi-bayi mungil beraneka binatang pertama-tama dirawat dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diantarkan oleh burung-burung T.O.T.S. Semua armada pengantar T.O.T.S adalah burung bangau kecuali pasangan Pip (Jet Jurgensmeyer) dan Freddy (Christian J. Simon).

Pip yang seekor pinguin harus memberikan petunjuk arah yang tepat bagi Freddy si burung flamingo. Keduanya bekerjasama saling menutupi kekurangan di tengah-tengah sebuah pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh burung bangau. Di sini penonton diajarkan untuk mau bekerjasama, pantang menyerah dan tidak malu untuk tampil beda.

Selain itu, karena bayi binatang yang T.O.T.S. antarkan sangat beraneka ragam, maka penonton pun memperoleh pengetahuan mengenai ciri-ciri berbagai binatang. Bayi-bayi ini juga tampil lucu dan imut sehingga mampu membuat anak-anak untuk betah menonton serial tersebut. Terlebih lagi, setiap episode T.O.T.S. didampingi oleh lagu-lagu anak.

 

 

 

Hanya saja, konsep bahwa bayi diantarkan oleh burung, tetap membutuhkan penjelasan dari orang dewasa. Kita semua tahu bahwa bayi itu berasal dari rahim ibu, bukan dikirim oleh burung seperti paket JNE :P.

Saya rasa T.O.T.S. layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Untuk beberapa waktu, film seri anak ini berhasil menjadi film favorit anak-anak saya loh ;).

Sumber: disneynow.com/shows/tots

Serial Daniel Tiger’s Neighborhood

Sebenarnya sudah beberapa kali saya hendak memutar Daniel Tiger’s Neighborhood di rumah. Namun nampaknya film seri asal benua Amerika tersebut kalah pamor dengan film-film kartun anak lain yang diputar di Netflix, Nickelodeon dan Disney. Yaah, Daniel Tiger’s Neighborhood memang hanya dapat ditemukan di saluran TV berbayar PBS atau Amazone, agak susah yaaa hehehehe. Film seri ini bercerita tentang apa sih? Film seri anak Daniel Tiger’s Neighborhood mengisahkan keseharian Daniel (Jake Beale) dan bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Daniel merupakan seorang anak harimau berjaket merah yang hidup bersama dengan papa, mama dan adik perempuannya. Sehari-hari Daniel berinteraksi pula dengan beraneka karakter lain seperti anak kelinci, anak kucing, pangeran dan lain-lain. Sekilas, saya jadi ingat dengan film kartun anak-anak lainnya, yaitu Shimajiro. Ahhh, tapi semakin lama, semakin jelas bahwa Daniel Tiger’s Neighborhood jauh berbeda dengan Shimajiro.

Pada setiap episodenya, Daniel menemukan masalah dan ia pun memperoleh cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah tersebut dihadirkan dengan berbagai cara yang kreatif, tidak selalu dengan menampilkan kesalahan karakter tertentu. Tidak ada karakter antagonis pada Daniel Tiger’s Neighborhood. Semuanya digambarkan sebagai karakter-karakter dengan keunikan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kemudian aplikasi dari topik yang diangkat, dihadirkan pula di dunia nyata dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya. Semua dimaksudkan agak anak-anak dapat lebih memahami topik & masalah yang disajikan. Yang paling kerennya dari serial ini, topik & masalah yang diangkat adalah sesuatu yang sangat detail dan jarang saya temui pada film kartun anak-anak lainnya. Daniel Tiger’s Neighborhood mengajarkan berbagai hal baik bagi anak-anak, bahkan hal-hal yang tidak saya sadari. Saya rasa orang dewasa pun masih dapat mengambil pelajaran dan menikmati alur cerita Daniel Tiger’s Neighborhood. 

Pembawaan nuansa yang halus dan santai memang membuat film seri yang satu ini sebagai salah satu film seri teraman untuk ditonton anak kecil. Dibandingkan film-film serupa seperti Shimajiro, jelas terlihat bahwa fokus utama dari Daniel Tiger’s Neighborhood adalah lebih menitikberatkan pada unsur pendidikan. Tapi ini bukan berarti tidak ada unsur hiburannya sama sekali looh. Unsur hiburannya memang terasa sebagai pelengkap, tapi tetap mengena dan mampu membuat film seri ini nyaman untuk ditonton anak-anak bersama orang dewasa yang menemaninya :).

Saya rasa Daniel Tiger’s Neighborhood layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yag artinya “Bagus Sekali”. Saat ini saya sering menonton Daniel Tiger’s Neighborhood bersama kedua anak saya yang masih balita :). 

Sumber: pbskids.org/daniel/

Scoob! (2020)

Entah sudah berapa banyak episode film kartun Scooby-Doo yang sejak kecil saya tonton. Film-film tersebut memang nampak seperti film jadul, tapi tetap berhasil menjadi hiburan bagi saya, di era tahun 90-an dulu. Melihat jauh ke belakang, film-film Scooby-Doo ternyata sudah diproduksi oleh Hanna-Barbera sejak tahun 1969. Bahkan sampai sekarang pun Hanna-Barbera terus memproduksi serial dan film layar lebar Scooby-Doo.

Baik versi serial klasiknya, maupun versi-versi terbarunya, film-film Scooby-Doo selalu menampilkan penyelidikan kasus-kasus misteri oleh sekelompok detektif muda bernama Mystery Inc. Scooby-Doo adalah bagian dari adalah satu-satunya anjing di Mystery Inc. Ia dapat berbicara dan sering melakukan kekonyolan bersama dengan sahabatnya, Shaggy. Scooby & Shaggy adalah anggota Mystery Inc yang paling penakut dan sering dijadikan umpan bagi para lawan Mysteri Inc. Biasanya, lawan Mystery Inc adalah manusia yang melakukan tindak kejahatan dengan menggunakan kostum hantu atau monster. Apakah Scoob! (2020) akan melakukan hal yang sama?

Film animasi terbaru Scooby-Doo tersebut mengisahkan awal pertemuan Shaggy Rogers (Will Forte) dengan Scooby-Doo (Frank Welker). Kemudian dikisahkan pula bagaimana keduanya bergabung dengan Mystery Inc. Cerita kemudian bergerak jauh ke depan dimana Mystery Inc harus menghadapi sebuah kasus yang menguji tali persahabatan Scooby dan Shaggy.

Kasus yang diselidiki pula oleh Blue Falcon Junior (Mark Wahlberg) dan rekan-rekannya ini, menempatkan Scooby-Doo dalam sebuah posisi yang sangat penting. Semua mata tertuju kepada Scooby. Hal ini menjadi masalah ketika Shaggy merasa seperti dibuang.

Persahabatan antara anjing dan manusia menjadi tema utama Scoob! (2020). Tidak hanya persahabatan antara Shaggy dengan Scooby-Doo saja, melainkan persahabatan antara Blue Falcon dengan anjing robotnya, serta persahabatan antara tokoh antagonis dengan anjing kesayangannya. Jalan ceritanya berjalan seperti film animasi yang mengajarkan mengenai persahabatan, Sebuah topik yang baik untuk ditonton bersama dengan keluarga.

 

Loh bagaimana dengan unsur misterinya? Lupakan itu, semuanya seolah tenggelam dan tidak terlihat. Peranan anggota Mystry Inc lainnya jauh menciut dibandingkan biasanya. Tokoh antagonis pada film Scooby-Doo yang satu ini pun agak berbeda. Kemudian teknologi terkini dan hal-hal yang bersifat kekinian, nampak dipaksakan masuk ke dalam cerita.

 

Perubahan mengenai tokoh antagonis dan bagaimana film ini berakhir merupakan membaharuan yang bagus. Tapi bagaimana dengan yang lainnya? Saya melihat bahwa Scoob! (2020) mencoba hal-hal baru agar tidak ketinggalan zaman. Tapi sayang sekali sebagian dilakukan dengan kurang halus. Kekhasan film-film Scooby-Doo seakan sengajar dipudarkan melalui Scoob! (2020). 

Saya rasa Scoob! (2020) hanya dapat memberikan Scoob! (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Perlu diingat, dari segi animasi, film ini memang bagus sekali. inti ceritanya pun memberikan nilai postif bagi penontonnya. Tapi, menonton Scoob! (2020) rasanya seperti bukan menonton film Scooby-Doo hohohohoho.

Sumber: http://www.scoob.movie

Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Blue’s Clues & You!

Blue’s Clues adalah salah satu acara andalan channel TV Nickelodeon. Acara TV ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996 dan terus menelurkan episode baru sampai tahun 2006. Kemudian pada tahun 2019, Nickelodeon memutarkan kembali reboot dan peremajaan dari Blue’s Clues, yaitu Blue’s Clues & You!

Mirip seperti pendahulunya, Blue’s Clues & You! Memadukan antara tokoh manusia dengan tokoh kartun/animasi. Bahkan Blue sendiri sebenarnya merupakan anjing biru yang muncul dalam wujud animasi. Pada setiap episodenya, Blue meninggalkan petunjuk untuk Joshua Dela Cruz temukan. Dalam perjalannya, Josh harus memecahkan berbagai teka-teki dan tugas yang berhubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan. Semua disajikan dengan rapi, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Serial yang satu ini berhasil memberikan unsur kesenangan bagi anak-anak, sambil memberikan berbagai pelajaran. Tata bahasa dan konten yang ramah anak dan tidak memberikan contoh yang buruk, membuat Blue’s Clues & You! semakin pas untuk ditonton oleh anak-anak. Orang dewasa pun tidak akan terlalu bosan melihat serial yang satu ini sebab teman dan jalan cerita tidak terlalu membosankan. Saya rasa Blue’s Clues & You! sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Top Wing

Top Wing merupakan film seri kartun anak yang mengisahkan petualangan sebuah regu penyelamat di Pulau Big swirl. Sebenarnya sudah banyak film-film kartun anak lain yang temanya mirip seperti ini. Hanya saja, latar belakang lokasi Top Wing mamang membuat Top Wing nampak sedikit berbeda.

Keempat tokoh utama serial ini belajar di Akademi Top Wing. Karena status mereka masih pelajar, maka mereka masih di bawah bimbingan instruktur. Selain itu mereka hanya beroperasi di sebuah pulau tropis yang moyoritas penduduknya adalah unggas.Setiap anggota Top Wings dilengkapi oleh kendaraan canggih untuk menolong siapapun yang membutuhkan.

Penduduk pulau yang bukan manusia dan wilayah operasi yang berupa pulau, membuat pembagian spesialisasi setiap anggota Top Wing agak berbeda. Mereka tidak membagi spesialisasi menjadi polisi, ambulan, pemadam kebakaran, yang pada umumnya saya temukan pada film sejenis. Pembagian yang Top Wing lakukan adalah beradasarkan medan yang dilalui. Di sana terdapat 1 pengemudi kendaraan darat, 1 pengemudi pesawat terbang, 1 pengemudi perahu, dan 1 pengemudi kapal selam.

Kemudian titik berat dari ceritanya adalah kerja sama dan kekompakan tim. Masalah yang dihadapi tidak terlalu sederhana, namun tetap mudah dipahami oleh anak-anak. Mayoritas misi para kadet adalah misi penyelamatan dan memperbaiki sesuatu yang rusak. Bukan melawan penjahat atau menyelamatkan dunia. Tokoh antagonis pada serial ini tidak selalu hadir pada setiap episodenya. Mereka pun tidak jahat mutlak, masih ada kebaikan di sana. Semua digambarkan melalui animasi yang bagus dan menarik. Anak saya yang perempuan saja senang menonton film seri yang satu ini.

Seperti biasa, karakter wanita pada film kartun seperti ini pasti hanya 1. Sayangnya, 1 karakter wanita pada Top Wing, justru nampak sebagai seorang kadet yang relatif lebih sering gagal mendapatkan medali dibandingkan rekan-rekan prianya. Memang sih kendaraannya terbilang yang paling unik, yaitu kapal selam. Tapi ketimpangan dalam hal gender masih sedikit ada pada Top Wing :’). Dari sudut pandang lain, bisa dikatakan pula bahwa satu-satunya kadet wanita dan paling muda di Top Wings memiliki daya juang yang tinggi. Walau tidak berhasil, ia terus mencoba sampai berhasil. Sebuah contoh yang baik bagi para penonton bukan?

Saya rasa film seri Top Wing masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terlepas dari beberapa kelemahannya, Top Wing masih mengajarkan berbagai nilai positif bagi anak laki-laki dan perempuan.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main

The Kid Who Would Be King (2019)

Legenda Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah sering sekali di angkat ke layar kaca. Tapi entah kenapa tidak bosan-bosannya saya menonton kisah dengan tema yang sama :’D. Saya memang suka dengan film kerajaan bertemakan from zero to hero. Melihat poster dan trailer-nya, saya pikir The Kid Who Would Be King (2019) akan memberikan sesuatu yang menjanjikan. Apakah saya benar?

Alkisah berabad-abad setelah para kesatria Kerajaan Camelot mengalahkan Morgana (Rebecca Ferguson), hiduplah Alex (Louis Ashbourne Serkis) di dataran Inggris Raya. Meskipun baru berusia 12 tahun, ia memilki keberanian dan hati yang baik. Kehidupan Alex berubah ketika pada suatu malam ia berhasil mencabut sebuah pedang dari tumpukan semen.

Ternyata pedang tersebut adalah pedang Excalibur, sebuah pedang yang hanya dapat dicabut oleh Raja Camelot. Seketika itu pulalah Alex menjadi target utama monster-monster Morgana. Seketika itu pulalah Merlin (Angus Imrie) hadir di sekolah Alex dalam wujud yang lebih muda. Ia datang untuk membantu Alex menghadapi Morgana.

Morgana ternyata selama ini belum tewas. Ia hanya terperangkap dan kekuatannya semakin hari semakin besar. Menurut Merlin, Morgana akan kembali memperoleh kekuatan maksimumnya pada gerhana matahari yang akan datang.

Mulai saat itulah Alex merekruit beberapa teman sekolahnya untuk menjadi bagian dari kesatria meja bundar baru yang Alex pimpin. Yang saya agak bingung adalah, teman-tan Alex yang sudah menjadi kesatria, tidak nampak memiliki kekuatan tambahan. Alex sendiri tidak menjadi jauh lebih kuat, walaupun sudah menggengam Excalibur.

Di satu sisi, rasanya kok gelar kesatria dan Excalibur hanya dekorasi semata saja yah. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas usaha yang mereka lakukan, dapat dicapai dengan kemampuan sebagai sekumpulan anak-anak remaja biasa yang bersatu.

Bersatunya anak-anak di bawah komando Alex menjadikan bagian akhir The Kid Who Would Be King (2019) terlihat seru. Walaupun alasan mengapa mereka rela mengikuti perintah Alex bukanlah karena jiwa kepeminpinan Alex yaaaa. Mungkin karena kostum kesatria yang keren? Hehehehe

Di pertengahan film, Alex justru sibuk berpetualang dan mengurusi masalah keluarganya. Semua sukses ditampilkan dengan sangat bertele-tela. Yah kalau akhir filmnya begitu, buat apa dipertengahan film Alex justru jalan-jalan ke sana ke mari :’D.

Bagian tengah film yang minus, bagia awal dan akhir yang memikat, membuat film ini memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: amily.20thcenturystudios.com/movies/the-kid-who-would-be-king

Serial Sunny Day

Semua selalu cerah di Sunny Day :). FIlm kartun anak-anak ini mengisahkan Sunny (Lily Portman) dan kawan-kawan yang membuka sebuah Salon di Kota. Mereka tidak hanya melayani perawatan rambut, namun melayani pula perawatan kecantikan lainnya. Dalam setiap episodenya, Sunny selalu ikhlas menolong siapapun yang sedang dalam kesulitan dengan kemampuan yang mereka miliki. Sering sekali mereka melakukan improvisasi terhadap hambatan yang ada di depan mata. Tentunya semua itu dikemas dengan sederhana sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Berhubungan kegiatan sehari-hari Sunny adalah bekerja di Salon, sebagian besar masalah yang muncul memang terkait pemeliharaan kecantikan tapi versi anak-anak. Bukankah anak perempuan banyak juga yang suka main dandan-dandanan atau salon-salonan? 😀

Di sini anak-anak diajarkan mengenai persahabatan, kerjasama dan tolong menolong. Tapi jangan cari unsur pelajaran matematika atau sains pada film ini, sebab hal tersebut memang tidak ada hehehehehe. Cukup karakter Sunny saja yang dijadikan contoh. Di sini ia tampil sebagai karakter yang relatif paling bijak, setia kawan dan sifat-sifat baik lainnya.

Walaupun tokoh utamanya perempuan semua, animasi kartunnya tidak dipenuhi oleh warna pink dan ungu. Warna-warnya yang cerah memang mencerminkan sebuah hari yang selalu cerah, Sunny Day.  Hadir dengan porsi kepala yang lebih besar dibandingkan tubuhnya, animasi film kartun ini tetap mampu tampil imut dan memikat anak-anak. Bagi orang dewasa yang menemani menonton, yaah lama-lama bosan juga karena adegan kejar-kejaran yang hampir selalu ada di setiap episodenya hanya cukup menegangkan bagi anak-anak saja hehehehehe.

Dengan tidak adanya konten dewasa pada Sunny Day, saya merasa aman membiarkan anak saya menonton film ini, meski terkadang saya merasa bosan setelah marathon melihat lebih dari 3 episode. Maka saya pribadi ikhlas menberikan film seri anak Sunny Day nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv