Peter Rabbit (2017)

Peter Rabbit

Pada sebuah akhir pekan, saya dan keluarga berniat untuk menonton film di bioskop. Berhubung saat itu Peter Rabbit (2017) adalah satu-satunya yang dapat ditonton bersama anak-anak, kami akhirnya memutuskan untuk menonton film tersebut. Peter Rabbit (2017) dibuat berdasarkan dongeng klasik karya Beatrix Pott. Film ini bukanlah film kartun, tapi lebih mirip seperti Paddington (2014), Peter Rabbit (2017) menggunakan special effect sehingga karakter-karakter binatang dapat nampak hadir dan berinteraksi langsung dengan para aktor/aktris. Saya akui visual pada Peter Rabbit (2017) nampak bagus dan halus. Tapi bagaimana dengan ceritanya?

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Mirip seperti pada versi dongengnya, Peter Rabbit (2017) berkisah seputar bagaimana Peter si kelinci (James Corden) pergi mengambil buah dan sayur dari kebun milik petani. Jauh berbeda dengan Paddington (2014), Peter adalah karakter utama yang pemberani, pantang menyerah tapi keras kepala, nakal dan pemberontak. Jangan harap akan menemukan kelinci-kelinci imut yang lembut pada film ini.

Peter adalah anak sulung di keluarganya. Bersama-sama dengan adik dan sepupunya, Peter pergi ke kebun milik Thomas McGregor (Domhnall Gleeson) untuk mengambil sayuran dan buah-buahan. Siapa yang senang kalau hasil kebunnya terus-menerus diambil kelinci? McGregor memasang berbagai jebakan dan penghalang di kebunnya. Peter dan kawan-kawan pun tidak kehilangan akal untuk terus dapat masuk ke dalam kebun milik McGregor.

Peter Rabbit

Perseteruan antara Peter dan McGregor beberapa kali harus terhenti karena kehadiran Bea (Rose Byrne). McGregor dan Bea saling jatuh cinta namun Bea berpendapat bahwa posisi manusia di area tempat tinggal mereka saat ini adalah sebagai pendatang. Kelinci seperti Peter adalah penduduk asli yang tidak seharusnya diusir dan dibiarkan kelaparan. Peter dan keluarganya sudah menjadi teman Bea jauh sebelum McGregor mengenal Bea.

Peter Rabbit

Perseteruan antara Peter dan McGregor yang diperumit dengan kehadiran Bea, terus mendominasi Peter Rabbit (2017). Banyak lelucon fisik yang dangkal di sana, banyak adegan fisik seperti terjatuh atau terpukul. Walaupun yang terjatuh atau terpukul itu adalah Peter, terkadang saya mengamini yang Peter hadapi karena ia memang pantas untuk menerima hal tersebut :’D. Di sini tidak ada yang antagonis atau protagonis, baik Peter dan McGregor terkadang sama-sama menggunakan cara yang kurang baik dengan alasan yang kurang baik pula. Sebuah contoh yang kurang cocok untuk dilihat oleh anak-anak kecil. Meskipun Peter ada di dalam judul film ini, saya tidak menganggap Peter sebagai karakter protagonis utama. Yang saya rasakan adalah terkadang Peter menjadi protagonis, terkadang antagonis. Alasan kenapa Peter melawan, kurang ditampilkan denga kuat sehingga terkadang Peter dan kawan-kawannya nampak seperti sekelompok kelinci nakal.

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Peter Rabbit

Terus terang film ini tidak sesuai ekspektasi saya. Saya sendiri hanya dapat memberikan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film ini masih bisa dijadikan hiburan dan termasuk kategori film anak-anak, tapi saya sarankan untuk mendampingi anak-anak kecil ketika menonton film ini bersama mereka. Memang sih, dari versi dongengnya, Peter memang melakukan pencurian, tapi alangkah lebih baik bila karakter dibuat lebih “imut” dan “baik”. Apakah yang Peter lakukan itu benar atau salah dari beberapa sudut pandang, seharusnya dapat lebih ditonjolkan. Film ini justru menonjolkan adegan perseteruan di mana-mana, sayang sekali….

Sumber: http://www.peterrabbit-movie.com

Iklan

Coco (2017)

Coco

Coco (2017) merupakan film animasi produksi Pixar yang banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya. Melihat trilernya, saya menduga bahwa film ini pasti hanya berkisah mengenai seorang anak bernama Coco yang pergi ke dunia lain untuk belajar musik dari almarhum ayahnya. Setelah menonton Coco (2017), saya baru menyadari bahwa saya salah besar, offside jauuuuuh :’D.

Kejutan pertama yang saya dapatkan dari Coco (2017) hadir di awal film. Tokoh utama dari film ini ternyata bukan Coco tapi Miguel Rivera (Anthony Gonzalez). Lhah kalau begitu, siapa Coco itu? Coco Rivera adalah buyut Miguel yang sudah mulai pikun. Dahulu kala, keluarga Rivera merupakan keluarga yang gemar akan musik sampai pada suatu hari, ayah Coco pergi bermusik dan tak pernah kembali. Mendiang ibunda Coco menganggap bahwa ayah Coco lebih memilih musik, dibanding keluarganya sendiri. Mulai saat itulah keluarga Rivera yang gemar akan musik berubah 180 derajat menjadi anti sekali terhadap musik.

Coco

Coco

Tinggal di tengah-tengah keluarga yang benci musik, tidak mengurangi kecintaan Miguel Rivera akan musik. Diam-diam Miguel memiliki bakat terpendam di bidang musik, yang hendak ia tampilkan pada sebuah festival bakat. Karena tidak memiliki alat musik, Miguel mencuri sebuah gitar dari makam seorang pemusik legendaris, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Malang, Miguel kemudian terjebak di alam kematian karena telah mencuri barang milik orang yang sudah meninggal di hari kematian atau dia de los muertos.

Coco

Coco

Apa itu hari kematian? Hari kematian diperingati pada akhir Oktober dan awal November untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Penduduk Meksiko biasa merayakan hari kematian dengan berpawai, berkumpul bersama keluarga, mendatangi makam keluarga dan memasang foto-foto anggota yang keluarga yang sudah meninggal. Konon, di hari kematian, seseorang yang sudah meninggal akan datang ke rumah yang memasang foto mereka. Nah, dari semua foto keluarga yang ada di rumah Miguel, hanya foto ayah Coco saja yang hilang, dirobek sebagian. Melihat dari robekan foto yang tersisa, Miguel menduga bahwa Ernesto de la Cruz merupakan ayah Coco.

Coco

Coco

Coco

Di alam kematian, Miguel berkelana untuk mencari Ernesto. Kenapa? Karena untuk kembali ke dunia orang hidup, Miguel harus menerima restu dari keluarganya yang hidup di alam kematian. Sayangnya, semua famili Miguel yang tinggal di alam kematian, hanya bersedia memberikan restu asalkan Miguel bersumpah tidak akan bermain musik lagi. Kenapa kok Miguel tidak melakukan sumpah palsu saja? Sumpah di dunia kematian bukanlah sumpah yang dapat dilanggar karena dapat berakibat fatal. Maka, yaaa sepertinya memang hanya Ernesto-lah famili Miguel yang tidak akan memberikan persyaratan seperti famili-famili Miguel lainnya.

Coco

Coco

Coco

Di tengah-tengah perjalannya, Miguel didampingi oleh seekor anjing dan Hector (Gael Garcia Bernal). Hector mengaku bahwa ia mengenal Ernesto dan bersedia mengantarkan Miguel sebelum hari kematian berakhir. Apabila Miguel belum kembali setelah hari kematian berakhir, Miguel alam menjadi penghuni tetap alam kematian. Apa yang Hector dapatkan dari Miguel? Hector hanya ingin agar Miguel memasang foto Hector setelah Miguel kembali ke alam kehidupan sehingga Hector dapat berkunjung. Hector sudah lama sekali tidak melihat alam kehidupan karena tidak ada seorangpun yang memasang fotonya.

Coco

Coco

Coco

Coco

Aaahhh motif Hector yang sebenarnya ternyata cukup mengharukan, sebuah kejutan dari beberapa kejutan yang saya temui ketika menonton Coco (2017). Diluar dugaan, Coco (2017) ternyata sarat akan kejutan yang dapat membuat penontonnya tercengang dan terharu. Film ini benar-benar bagus ceritanya, tidak monoton dan tidak mudah ditebak arahnya.

Sayang, tidak ada satupun lagu yang saya suka dari beberapa lagu yang dinyanyikan sepanjang film diputar. Padahal Coco (2017) bercerita mengenai pemusik ya, jadi wajar kalau banyak adegan bernyanyinya. Mungkin kuping saya kurang cocok dengan lagu-lagu latin dan semi latin yang dinyanyikan, toh Coco (2017) berhasil memperoleh nominasi sebagai film dengan soundtrack terbaik pada Golden Globe hehehehe.

Pemusik, musik, gitar, bernyanyi …. hal itu memang seakan menjadi tema Coco (2017). Padahal semakin lama ditonton, akan terlihat bahwa Coco (2017) bukan bercerita mengenai musik. Coco (2017) berbercerita mengenai keluarga, musik hanyalah pengantar saja. Saya rasa Coco (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cocooklah dijadikan tontonnam bersama keluarga di hari libur ;).

Sumber: movies.disney.com/coco

Despicable Me 3 (2017)

Despicable Me

Beberapa minggu terakhir, anak saya selalu menperoleh mainan minions dari Happy Meal McDonald’s. Pada waktu itu saya langsung menduga bahwa sebentar lagi akan ada film Despicable Me atau Minions di Bioskop. Aahh benar saja, tak lama, Despicable Me 3 (2017) hadir di bioskop. Akhirnya saya bersama dengan keluarga pergi menontonnya. Semoga filmnya bisa sebaik film yang pertama yaaa :).

Kali ini Felonious Gru (Steve Carell) dan kawan-kawan harus berhadapan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker). Bratt merupakan mantan bintang film yang beralih profesi menjadi penjahat. Ia terobsesi dengan tokoh jahat yang ia perankan dahulu kala. Mirip seperti lawan-lawan Gru pada film Despicable Me sebelumnya, Bratt dilengkapi oleh berbagai teknologi canggih. Gru dan Lucy Wilde (Kristen Wiig) saja sampai harus kehilangan pekerjaan akibat dianggap gagal menangkap Bratt. Gru bertekad untuk melakukan segala cara untuk menangkap Bratt dan memperoleh pekerjaannya kembali sebagai agen AVL (Anti Villain League).

Despicable Me

Despicable Me

Demi menangkap Bratt, Gru pun akhirnya memperalat Dru (Trey Parker), saudara kembar Gru yang ingin sekali berkarier di dalam dunia kriminal seperti Gru dahulu kala. Dengan alasan ingin mengajarkan bagaimana menjadi penjahat yang handal, Gru menggunakan fasilitas yang Dru miliki untuk mengambil kembali permata yang Bratt curi, sekaligus menangkap Bratt.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Sebelum bergabung dengan AVL, Gru memang seorang penjahat ternama. Gru selalu didukung oleh mahluk kuning yang disebut minions. Secara natural, minions memang selalu tertarik dengan tokoh-tokoh kriminal. Alih profesi yang Gru lakukan membuat minions kecewa dan berhenti mendukung Gru. Para minions pun keluar untuk mencari majikan baru yang mereka anggap cukup jahat untuk menjadi majikan mereka.

Despicable Me

Nah, lalu apa hubungan minions dengan Dru dan Bratt? Pada akhirnya ada sih, walaupun sedikit. Saya lihat Despicable Me 3 (2017) memiliki beberapa karakter dengan kisahnya masing-masing yang terasa tetap terpisah, bukan merupakan kesatuan dengan hubungan yang kuat dan utuh.

Coba tengok saja beberapa masalah sampingan lain yang semakin membuat terpecah-pecahnya kisah pada film ini. Ada masalah Lucy yang sedang belajar menjadi ibu, ada masalah anak-anak Gru yang berburu unicorn dan ada masalah anak sulung Gru yang dilamar seorang pemuda. Aww apa-apaan ini? Begitu banyak yang mau dikisahkan, sampai-sampai lalai terhadap kualitas dari jalan cerita secara keseluruhan.

Memang sih tingkah minions tetap lucu. Tokoh kuning yang agak gila ini memang telah lama menjadi tokoh favorit saya. Tap kok ya rasanya pada film ini relatif tidak ada hal baru yang minions tampilkan. Semua jadi terasa hambar dan agak membosankan.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me 3 (2017) gagal menyamai kesuksesan Despicable Me (2010)). Saya sendiri hanya dapat memberikan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Bagian akhir Despicable Me 3 (2017) menunjukkan bahwa akan ada film keempat, sebuah film yang sepertinya tidak akan saya tonton di bioskop, yaaah tunggu versi Blue Ray atau DVD nya sajalah.

Sumber: http://www.despicable.me

The Lego Batman Movie (2017)

Sebagian masa kecil saya dihabiskan dengan bermain Lego di rumah tetangga. Permainan konstruksi tersebut bisanya bisa dibentuk menjadi bangunan-bangunan seperti pertokoan dan pom bensin. Tokoh-tokohnya pun seingat saya hanya pekerja bangunan dan tukang bensin. Sekarang, Lego sudah bermacam-macam variannya. Ada Lego Friends, Lego Superhero, Lego Star Wars, Lego Ninjago dan lain-lain.

Tidak cukup di situ, film-film Lego kemudian bermunculan, baik yang berupa film serial TV maupun film layar lebar. Semuanya mengusung kisah-kisah dengan latar belakang dunia Lego. Tidak hanya dari segi animasi atau gambar saja, tapi di sisi ceritanya pun dibuat sedemikian rupa sehingga aturan dunia yang berlaku adalah aturan dunia Lego, bukan dunia nyata. Tak lupa disisipkan berbagai lelucon sarkasme yang membahas film atau tokoh populer. Hal inilah yang saya temukan pada The Lego Batman Movie (2017).

Pada film Lego terbaru ini, Batman atau Bruce Wayne (Will Arnett) hadir sebagai tokoh utama. Sepanjang film terdapat banyak lelucon sarkasme yang dapat membuat saya tersenyum. Penyelesaian akhirnya pun terbilang logis apabila kota Gotham memang dibangun oleh jutaan kepingan Lego. Penyelamatan kota Lego Gotham yang hanya dapat dilakukan di dunia Lego. Hal ini terbilang cerdas karena dengan begini, akan terdapat pembeda antara film Lego Batman dengan film animasi Batman lainnya.

Apa yang terjadi pada film Lego Batman ini? Dikisahkan bahwa Batman selalu berhasil mengalahlan lawan-lawannya dan menyelamatkan Gotham. Batman selalu menyatakan kepada semua orang bahwa ia kuat, perkasa dan tidak membutuhkan orang lain. Padahal, hidup Batman sebenarnya terbilang kosong, hampa. Batman tidak mau menurunkan perisainya dan mengakui bahwa ia membutuhkan teman seperti Dick Grayson (Michael Cera), Barbara Gordon (Rosario Dawson dan Alfred Pennyworth (Ralph Finnes). Menyelamatkan Gotham memang menjadi tugas Batman, namun sesekali bahkan seorang Batman pun membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Uniknya, pada The Lego Batman Movie (2017) dikupas pula hubungan benci-rindu antara Batman dan Joker (Zach Galifianakis). Joker seolah haus akan pengakuan dari Batman. Ia ingin Batman akui sebagai lawan terberat Batman. Sebuah pengakuan yang tak kunjung Joker peroleh hingga Joker melakukan tindakan yang dapat menghancurkan kota Gotham. Hal ini tidak saya temui di film Batman lainnya :).

Berbagai keunikan yang dibumbui oleh berbagai sarkasme memang menjadi keunggulan tersendiri bagi The Lego Batman Movie (2017). Namun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan jalan ceritanya. Sarkasme yang muncul hanya mampu membuat saya tersenyum, bukan tertawa. Dengan demikian The Lego Batman Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.legobatman.com

Planet Hulk (2010)

Setelah tampil pada beberapa film layar lebar The Avengers, saya mendengar bahwa Marvel akan menghadirkan film solo Hulk kembali. Film tersebut kemungkinan akan mengambil cerita komik Planet Hulk sebagai latar belakangnya. Namun berita tersebut menghilang dengan sendirinya dan proyek film Hulk semakin hari semakin menghilang, terkubur dengan proyek-proyek film superhero Marvel lainnya seperti Captain America, Guardians of the Galaxy, Black Panther, Thor dan lain-lain. Menjelang rilis Thor: Ragnarok (2017), kata-kata Planet Hulk kembali menggema. Banyak yang meramalkan bahwa cerita Thor: Ragnarok (2017) akan seperti Planet Hulk. Planet Hulk lagi, Planet Hulk lagi, cerita tentang apa itu?

Akhirnya saya memilih untuk menonton Planet Hulk (2010), sebuah film animasi Marvel yang dibuat berdasarkan komik Planet Hulk. Di sana dikisahkan bahwa Hulk (Rick D. Wasserman) diasingkan oleh Iron Man (Marc Worden) dan kawan-kawan karena Hulk dianggap terlalu berbahaya bagi penduduk Bumi. Hulk memang sangat kuat terutama disaat ia sedang marah sekali, nah amarah itulah yang terkadang membuat Hulk hilang kendali.

Pesawat luar angkasa yang mengantarkan Hulk menuju pengasingan, gagal menahan Hulk. Dengan penuh amarah, Hulk mampu merobek-robek pesawat tersebut hingga akhirnya ia terdampar di planer Sakaar. Planet Sakaar sedang dikuasai oleh Red King (Mark Hildreth), seorang raja yang menggunakan pertarungan ala gladiator sebagai hiburannya. Pasukan sang raja menangkap Hulk dan menjadikan Hulk sebagai gladiator di arena berdarah milik Red King. Dengan kekuatan Hulk yang amat besar, sudah dapat ditebak bahwa kemenangan akan selalu memihak Hulk. Tapi ternyata ada karakter dari komik Thor yang terdampar pula di sana. Seorang lawan yang dapat menyamai Hulk.

Di luar arena gladiator, praktis tak ada yang dapat menghalangi Hulk selain Caiera (Lisa Ann Beley). Sayang Caiera berada di pihak Red King. Kenapa kok karakter yang satu ini mampu menandingi Hulk, tidak terlalu dijelaskan padahal dia bukanlah tokoh yang terkenal di dunia Marvel, saya sendiri baru kali ini mengetahui keberadaan Caiera. Pada perkembangan cerita selanjutnya, Caiera melakukan perpindahan dukungan dan pergeseran hubungan dengan Hulk. Perubahan keberpihakan Caiera dapat saya pahami, jelas alasannya. Nah kalau perubahan hubungannya dengan Hulk, itu agak aneh, terlalu instan dan terkesan dipaksakan. Mungkin durasi filmnya kurang lama yah hehehe.

Terlepas dari kelemahan di atas, saya tetap dapat menikmati film ini. Melihat Hulk melawan lawannya satu per satu, tetap mampu memberikan hiburan yang lumayan bagus :D. Memang sih sudah hampir dipastikan Hulk akan menang, tapi proses dan alurnya tidak membosankan untuk dilihat.

Secara keseluruhan, rasanya Planet Hulk (2010) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Menonton film ini dapat dikatakan sebagai solusi tepat bagi yang ingin mengetahui mengenai Planet Hulk tanpa harus membaca serial komiknya satu per satu ;).

Sumber: marvel.com/movies/movie/140/planet_hulk

Justice League: The Flashpoint Paradox (2013)

Melihat pembahasan mengenai film seri The Flash musim kedua, saya sering mendengar kata-kata Flashpoint Paradox, aaahhh ternyata itu judul seri komik dan film animasi DC Comics yang cukup populer dengan Flash sebagai tokoh sentralnya, tumben bukan Superman atau Batman hehehe. Biasanya film-film animasi DC didominasi oleh 2 nama tersebut.

Pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013), Batman dan Superman tetap ada kok, judulnya saja mengandung kata-kata Justice League. Tak hanya Flash alias Barry Allen (Justin Chambers), Superman alias Clark Kent (Sam Daly) dan Batman alias Bruce Wayne (Kevin Conroy), hadir pula Wonder Woman alias Diana (Vanessa Marshall), Aquaman alias Arthur Curry (Cary Elwes), Cyborg alias Victor Stone (Michael B. Jordan) dan Green Lantern alias Hal Jordan (Nathan Fillion), wah lengkap juga yahhh. Dikisahkan bahwa Flash dengan dibantu Justice League, berhasil menangkap Professor Eobard “Zoom” Thawne atau Reverse-Flash (C. Thomas Howell) dan beberapa supervillain lain yang ikut mengeroyok Flash. Baik di komik maupun di film, Zoom sering hadir sebagai musuh besar Flash, tak terkecuali pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013).

Setelah Zoom tertangkap, Barry Allen beristirahat dan kemudian terbangun dari tidur pendeknya. Setelah Barry bangun, ia menemukan dirinya berada di dunia yang berbeda. Barry mendadak kehilangan kekuatannya dan semua anggota Justice League mengalami takdir yang berbeda sehingga mereka pun bukan superhero yang Barry kenal. Batman bukanlah Bruce Wayne, Superman tidak dibesarkan oleh keluarga Kent, Hal Jordan tidak terpilih menjadi Green Lantern dan Cyborg menjadi tangan kanan presiden Amerika. Bagaimana dengan Wonder Woman dan Aquaman? Keduanya terlibat cinta segitiga dan perselingkuhan yang mengakibatkan perang besar antara bangsa Amazon dan Atlantis. Dunia yang satu ini diambang kehancuran akibat perseteruan antara kedua bangsa super tersebut. Manusia biasa hanya dapat menonton dan pasrah sebab superhero lain nampak tak berdaya. Di tengah-tengah kebingungan ini, Barry melihat ibunya yang seharusnya sudah meninggal. Pada dunia ini, ibu Barry ternyata masih hidup, aaah ada secercah kebahagiaan di sana.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Barry yakin bahwa Zoom telah pergi ke masa lalu dan mengubah masa lampau sehingga dunia menjadi sekacau ini. Dengan dibantu Batman, Barry berusaha mereplikasi kecelakaan yang merubah Barry menjadi Flash. Barry harus berlari sekencang mungkin, menembus kecepatan cahaya untuk pergi ke masa lalu untuk memperbaiki ini semua. Rencana hanyalah rencana, hal itu tak mudah diraih. Dalam perjalanannya, banyak tokoh-tokoh superhero yang tewas. Beberapa adegannya agak sadis ya bagi anak-anak. Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) lebih cocok untuk ditonton oleh orang dewasa meskipun berwujud film animasi atau kartun.

Perbedaan akan nasib para superhero dan supervillain menarik untuk diikuti, beberapa bahkan mencengangkan untuk dilihat. Saya lihat terdapat kesedihan pada hubungan antara Flash dengan ibunya dan hubungan antara Bruce Wayne dengan keluarganya. Jadi film ini bukan hanya film kartun yang sarat adegan pukul-pukulan atau tembak-tembakan saja :). Apalagi terdapat sedikit kejutan pahit pada bagian akhir film ini, asalkan teman-teman tidak membaca sinopsis di beberapa tulisan yang tidak bertanggung jawab yaa. Entah kenapa untuk film yang satu ini, banyak orang memasukkan spoiler ke dalam sinopsis mereka. Sesuatu yang harusnya terungkap di akhir film justru diumbar di sinopsis :P.

Saya rasa Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata, walaupun sejauh ini film-film DC Comics di layar lebar relatif kalah dibandingkan film-filmnya Marvel, DC Comics mampu menelurkan film animasi yang berkualitas. Ahhh kenapa yang seperti ini tidak saya lihat pada film-film bioskop DC Comics terbaru? ;’)

Sumber: http://www.dccomics.com/movies/justice-league-the-flashpoint-paradox-2013

The Boss Baby (2017)

Memiliki adik kecil terkadang bukanlah suatu hal yang disukai oleh si kakak. Si kakak bisa saja menganggap bahwa adik kecil akan merebut semua kasih sayang orang tuanya. Hal itulah yang dirasakan oleh Tim Templeton (Miles Christopher Bakshi) ketika pada suatu pagi, Theodore “The Boss Baby” Templeton (Alec Baldwin) hadi di tengah-tengah kehidupan keluarga Templeton.

Tim yang tadinya merupakan anak tunggal dan memperoleh 100% perhatian orang tuanya, sekarang harus membagi perhatian tersebut dengan Theodore yang masih bayi. Merasa kesal dan cemburu, Tim merasa bahwa Theodore alias Boss Baby adalah saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua mereka. Sampai sini saya dapat menebak arah cerita The Boss Baby (2017), yaaa pastilah perseteruan antara Tim dan Boss Baby akan berakhir baik dimana keduanya akan semakin kompak sebagai kakak-adik. Bagus juga nih bagi anak-anak, ada nilai-nilai positif yang dapat dipetik :). Tapi apakah ini hanya kisah mengenai perseteruan kakak-adik saja? Apa bedanya The Boss Baby (2017) dengan film lain dengan tema serupa?

Sesuai judulnya, Boss Baby adalah faktorp pembedanuaya, ia ternyata bukanlah bayi biasa. Boss Baby adalah bayi yang bekerja di Baby Corp, sebuah perusahaan yang berisikan bayi. Jadi, bayi-bayi yang dihasilkan oleh Baby Corp diseleksi apakah bayi tersebut akan dikirim kepada keluarga atau masuk ke dalam manajemen Baby Corp. Bayi yang masuk ke dalam manajemen seperti Boss Baby, memiliki pengetahian dan tingkah laku seperti orang dewasa meskipun wujudnya tetap bayi.

Di sini Boss Baby dikirim menyamar ke dalam keluarga Theodore untuk menghentikan Puppy Corp merusak kelangsungan Baby Corp. Puppy Corp akan meluncurkan produk anak anjing jenis baru yang akan meningkatkan popularitas anak anjing sehingga masyarakat akan memilih anak anjing ketimbang bayi. Sebagai produsen dan distributor bayi, Baby Corp akan hancur apabila Puppy Corp berhasil.

Ok, kisah soal Boss Baby yang bertingkah seperti orang dewasa plus perseteruannya dengan Tim, memang lumayan lucu dan enak untuk diikuti. Tapi ketika Baby Corp dan Puppy Corp hadir, film animasi yang satu ini kok agak aneh yaaa. Selain itu banyak sekali adegan yang terlalu “menggampangkan” sehingga kurang seru.

Sorry to say tapi saya rasa The Boss Baby (2017) masih beberapa langkah di belakang Moana (2016) atau Zootopia (2016). The Boss Baby (2017) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: http://www.dreamworks.com/thebossbaby/