Serial Fancy Nancy Clancy

Film kartun yang hendak saya bahas kali ini adalah Fancy Nancy Clancy yang diproduksi oleh Disney berdasarkan buku anak-anak karangan Jane O’Connor. Tokoh utamanya adalah 2). Ia tinggal bersama ayah, ibu dan adiknya. Dari pakaian dan sifat, Nancy memang sangat berbeda, ia adalah anak paling centil dan tampil paling elegan di rumahnya. Bahkan ibu dan adiknya menggunakan baju yang sederhana dan itu-itu saja. Sementara Nancy selalu menggunakan berbagai atribut girly di mana-mana. Nancy pun selalu hadir dengan berbagai ungkapan berbahasa Prancis seperti merci, oui, uuh la la. Terkadang ia berbicara sambil menghadap ke arah penonton dengan centilnya.

 

Selain tampil elegan dan centil, Nancy memiliki kreatifitas yang tinggi, daya imajinasi yang tinggi dan semangat yang besar. Sifat-sifat Nancy inilah yang membuat setiap episode Fancy Nancy Clancy penuh warna. Kisah-kisahnya memberikan beberapa pelajaran tapi agak berbeda dengan beberapa serial anak lainnya dimana tokoh utama biasanya digambarkan sebagai tokoh yang relatif netral dan bijak. Nah, Nancy tampil lebih membumi dan realistis. Ia hadir dengan segala kelemahannya sebagai anak kecil pada umumnya. Sifat egois, sombong dan tak mau kalah kadang membuat Nancy terlibat dalam berbagai masalah. Masalah yang yang pada akhirnya dapat terselesaikan dengan berbagai kelebihan yang Nancy miliki. Di sini, Nancy pun nampak belajar dari berbagai kesalahan yang ia buat. 

Selain itu, Fancy Nancy Clancy tampil dengan animasi yang bagus dan tidak terlalu condong ke arah warna yang sangat pinky atau ungu. Jadi penampilan dan komposisi warna cukup halus, seimbang dan masih dapat ditonton oleh anak laki-laki.

Secara keseluruhan, Fancy Nacy Clancy layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya pribadi masih dapat menikmati film seri anak yang satu ini. Ceritanya tidak membosankan bagi orang dewasa, dan tetap dapat memberikan nilai positif bagi anak-anak.

Sumber: http://www.fancynancyworld.com

Serial Puppy Dog Pals

Film seri anak Puppy Dog Pals menampilkan petualangan 2 anak anjing bulldog lucu, yaitu Rolly (Sam Lavagnino) & Bingo (Issac Ryan Brown). Keduanya nampak imut dengan 2 mata besar dan senyuman lebarnya. Penampilan kedua karakter utama ini tentunya mampu memilkat anak-anak untuk langsung datang menonton Puppy Dog Pals.

Petualangan apa yang Rolly dan Bingo lakukan? Mereka bersedia melakukan apapun bagi majikan mereka Bob (Harland Williams). Demi Bob, kedua anjing mungil ini rela berkeliling dunia demi menolong atau menyenangkan hati Bob. Dengan dibantu oleh peralatan canggih dan robot anjing, Bingo & Rolly mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Tidak hanya itu, Rolly & Bingo pun dibantu oleh fakta bahwa mereka tinggal di sebuah dunia yang tidak terlalu memperdulikan passport, visa dan tiket. Sebuah dunia khayalan yang menyenangkan bagi para pecinta jalan-jalan hehehehehe.

Karena hal di ataslah, Puppy Dog Pals memang nampak sangat sederhana sekali. Film seri ini akan sangat memikat bagi anak kecil, tapi akan mulai membosankan bagi anak-anak yang mulai dewasa, termasuk orang tua yang menemani anak-anaknya menonton huhuhuhuhu.

31

Kalau dilihat dari segi pendidikan dan moral pun, Puppy Dog Pals terbilang sangat miskin. Film kartun Disney yang satu ini seolah hanya memberikan hiburan saja. Animasi yang bagus dan lucu nampaknya menjadi modal utama serial ini. Selebihnya ….. yaaa hampir tidak ada. Dengan demikian Puppy Dog Pals memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: disneynow.com/shows/puppy-dog-pals

 

 

 

Serial Detektif Peet

Saya suka sekali dengan film-film detektif. Maka tak heran kalau saya tertarik untuk menonton film seri kartun Detektif Peet atau kalau di Korea sana berjudul Peet, The Forest Detective. Film kartun besutan EBS dan Big Star ini memang berasal dari Korea Selatan sana, bukan Indonesia ya. Detektif Peet sepertinya merupakan judul versi TV nasional kita supaya lebih komunikatif bagi penontonnya. Sasaran Serial Detektif Peet memang anak-anak usia 3 sampai 7 tahun. Saya pun menontonnya bersama-sama dengan anak-anak saya.

Tokoh utama film seri ini adalah sekelompok detektif hutan yang dipimpin oleh Detektif Peet. Kasus apa yang Detektif Peet tangani? Bak detektif dunia manusia, Detektif Peet menangani kasus kematian, kehilangan dan lain-lain. Tapi semuanya terkait dengan fenomena yang ada pada hewan dan tumbuhan ;). Di sini Detektif Peet mengajarkan kepada penontonnya mengenai berbagai hal terkait hewan dan tumbuhan, mulai dari perilaku, organ sampai rantai makanan dari mahluk-mahluk penghuni hutan. Semua dirangkai dengan kisah dan animasi yang menarik.

Tokoh-tokoh utama Detektif Peet hadir dalam bentuk animasi 3D yang digabungkan dengan latar belakang hewan dan tumbuhan sungguhan. Uniknya, semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi. Penggabungan antara gambar kartun dengan gambar nyata pada serial ini, patut diacungi jempol.

Animasi yang unik dengan pesan moral dan pendidikan yang kental, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Detektif Peet nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini sangat cocok untuk ditonton bersama si kecil.

Sumber: http://www.ebs.co.kr

Serial PJ Mask

PJ Mask adalah film superhero anak-anak yang dibuat berdasarkan buku komik asal Prancis, Les Pyjamasques. Jangan harap superhero ini ada di dalam dunia superhero-nya Marvel Comics atau DC Comics, genrenya jauh berbeda. PJ Mask jauh lebih sederhana karena sasaran memang penonton anak-anak.

Anggota PJ Mask yang sudah ada sejak awal adalah Connor / Catboy (Jacob Ewaniuk), Amaya / Owlette (Addison Holley) dan Greg / Gekko (Kyle Harrison Breitkopf). Catboy dapat bergerak secepat kilat. Owlette dapat terbang dan melihat sangat jauh. Gekko memiliki kekuatan super, dapat menghilang dan dapat merayap di tembok. Connor, Greg dan Amaya merupakan anak sekolah biasa di siang hari. Tapi ketika malam tiba, mereka berubah menjadi PJ Mask dan menyelamatkan kota dari berbagai kejahatan yang mengintai.

Setiap malam, PJ Mask harus berhadapan dengan berbagai penjahat seperti Gadis Luna (Brianna Daguanno), Ninja Malam (Trek Buccino) dan Romeo (Alex Thorne). Gadis Luna dapat terbang dan memindahkan objek. Romeo menggunakan kejeniusannya dengan menciotakan berbagai peralatan canggih. Ninja Malam dapat berlari dan melompat dengan sangat cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, penjahat-penjahat pada film seri anak inipun bertambah terus menerus.

Karena PJ Mask memang untuk anak- anak, jadi yaaa antagonisnya pun anak-anak. Walaupun lawan-lawan PJ Mask memiliki kemampuan super, mereka tetap anak-anak. Jadi, kejahatan yang mereka lakukan, beserta modus operasinya pun, terkadang sangat sepele dan sederhana. Penyelesaian yang dilakukan oleh PJ Mask pun cukup sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Terkadang PJ Mask harus mengatasi sikap kekanak-kanakan mereka demi menyelamatkan kota. Pesan moral yang PJ Mask berikan biasanya memang terkait sifat dan masalah yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak ditunjukkan bagaimana agar mereka tidak manja, impulsif, egois dan sifat-sifat kurang baik lainnya lainnya.

Tapi dengan latar belakang kota dan lawan yang itu-itu saja, PJ Mask terasa sangat membosankan. Itulah mengapa saat ini anggota PJ Mask dan lawan-lawannya terus ditambah. Tapi, bagi penonton dewasa seperi saya, yaaa PJ Mask itu tetap membosankan hehehehehe. Yah paling tidak animasinya lumayan baguslah untuk film kartun di tahun 2019.

Sayang nuansa warna yang tidak terlalu cerah, bisa jadi membuat PJ Mask tidak terlalu menarik bagi anak perempuan. Tapi itu bukan dosa PJ Mask juga sih, karena konsep PJ Mask adalah superhero anak di malam hari, jadi wajar kalau nuansa warnanya tidak terlalu cerah :’D.

Dengan demikian, serial kartun yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Anak perempuan saya terkadang masih menonton PJ Mask meskipun ini bukanlah film kartun favoritnya.

Sumber: pjmask.com

Princess Mononoke (1997)

Melihat sebuah film kartun yang judulnya menggunakan kata princess, membuat saya berfikir untuk menontonnya bersama anak saya. Olala, hal ini ternyata tidak berlaku bagi Princess Mononoke (1997). Disney memang memiliki hak cipta atas film kartun Jepang yang satu ini. Tapi percayalah, Princess Mononoke (1997) bukanlah film anak-anak.

Mengambil latar belakang Jepang di era Muromachi (sekitar tahun 1336-1573), wilayah Jepang masih dipenuhi oleh hutan-hutan yang lebat. Para roh dan dewa kuno masih hidup di sana. Wilayah hutan semakin menyempit karena keserakahan manusia akan sumber daya. Perlahan, manusia merusak lingkungan sekitar mereka sendiri demi kekuasaan.

Di tengah-tengah hutan belantara yang lebat terdapat sebuah Pabrik Besi yang memproduksi senjata api. Eboshi Gozen (エボシ御前) adalah pemilik dan penguasa pabrik ini. Ia merupakan pemimpin yang tegas dan baik hati. Ia harus memilih kepada siapa senjata api buatannya dijual. Terdapat berbagai pihak yang sedang berperang, menginginkan senjata dari Eboshi. Dari sisi ini, Eboshi terlihat baik sekali. Akantetapi, dibalik itu Eboshi cukup congkak dan serakah karena ia menggunakan senjata api miliknya untuk memburu para roh dan dewa penguada hutan. Pada era Muromachi ini, senjaya api menjadi senjata yang sangat canggih. Senjata api mulai muncul di tengah-tengah para samurai masih tetap setia dengan pedang, panah dan kudanya.

Membunuh roh hutan yang sudah lama dianggpa sebagai dewa kuni, bukanlah hal mudah. Eboshi harus berhadapan dengan seorang gadis yang berkeliaran di hutan bersama kawanan serigala. Gadis tersebut bernama San/サン (Yuriko Ishida) dan dialah yang disebut Putri Mononoke (もののけ姫), putri para monster dan roh kuno. San berjuang sekuat tenaga untuk melindungi hutan dan para roh di dalamnya. Sejak kecil ia diasuh oleh kawanan serigala dan menggangap hutan sebagai rumahnya. Perseteruan San dan Eboshi sungguh sengit dan menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Di tengah-tengah perseturuan di antara kedua wanita kuat tersebut, hadir Ashitaka/アシタカ (Yoji Matsuda). Nahhhh dari sudut pandang Kang Mas Ashitaka inilah film ini disajikan. Ia merupakan calon raja dari suku Emishi. Malang menimpa Ashitaka, ia terluka oleh serangan seekor siluman babi. Tangan Ashitaka terkena sebuah kutukan. Konon lama kelamaan hal tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh Ashitaka sampai akhirnya ia tewas.

Ashitaka memilih untuk pergi jauh berkelana mencari penyembuh. Di perjalanan ia melihat barbagai perbuatan tak terpuji. Dunia saat itu dipenuhi oleh orang jahat dan licik. Tangan Ashitaka yang terkutuk, beberapa kali menunjukkan kekuatannya. Tanpa dapat Ashitaka kendalikan, tangan tersebut mampu melakukan berbagai perbuatan keji bagi lawan-lawan Ashitaka. Jangan kaget kalau teman-teman melihat kepala terpenggal atau badan putus ketika tangan Ashitaka beraksi. Sebenarnya ini bisa jadi merupakan daya tarik film ini. Tapi hal ini pulalah yang menjadi alasan utama kenapa Princess Mononoke (1997) tidak pantas untuk ditonton anak-anak. Beberapa adegan sadis pun terkadang hadir secara tiba-tiba pada film kartun Disney yang satu ini.

Lalu apa hubungan Ashitaka dengan Eboshi dan San? Di sini Ashitaka berperan sebagai penengah. Ia tak ingin kedua wanita tersebut tewas. Ashitaka mengenal keduanya dan tahu betul bahwa keduanya sama-sama bukan orang jahat.

Para penghuni dan pekerja Pabrik Besi pun sangat bergantung pada kepemimpinan Eboshi. Eboshi menampung pengangguran dan PSK ke dalam Pabrik Besi agar mereka dapat berdikari dan menjauhi dunia kriminal. Saya kagum melihay bagaimana Princess Mononoke (1997) menggambarkan kehidupan Pabrik Besi dengan sangat jelas. Alur logika mengenai kehidupan di sana sangat mudah dipahami.

Sementara itu hutan dan penghuninya masih membutuhkan San atau Putri Mononoke sebagai pelindung. Peran San di sini sebenarnya masih di bawah Ashitaka. San memang pemberani dan pantang menyerah tapi yaaa Ashitaka tetap tampil sebagai tokoh utama di sini. Saya pribadi kurang setuju kalau judul filmnya Putri Mononoke, kenapa judulnya tidak Pangeran Ashitaka saja? :P.

Mirip seperti beberapa film Jepang yang saya tonton. Princess Mononoke memiliki soundtrack yang halus alias sunyi senyap. Animasinya terbilang sempurna bagi film kartun yang menggunakan teknik manual. Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan mesin animasi canggih, Princess Mononoke (1997) menggunakan gambar manual menggunakan tangan! Wow. Konon hal ini dilakukan agar hasilnya lebih artistik dan manusiawi. Sayang, saya yang kurang berjiwa seni, tidak terlalu melihat keartistikannya, maaf oh 1000 maaf.

Tema yang diambil pun, entah kenapa, mirip seperti beberapa film Jepang yang dulu saya tonton. Alam melawan manusia. Alam bisa saja marah, dan perdamaian antara manusia dan alam adalah solusi yang tepat. Awalnya saya pikir ahhhh ini sih pasti film Jepang bedarah-darah yang diakhiri oleh kematiab. Aaahhh ternyata saya salah, Princess Mononoke (1997) tetap saja termasuk film Disney jadi yaaa ending-nya Hollywood friendly laaah.

Bagi yang hanya mencari hiburan ringan saja, jauhi Princess Monoke (1997). Film ini memberikan bahan untuk merenung dan pesan moral yang bagus. Saya pribada ikhlas kalau Princess Mononoke (1997) memperoleh nilai 3 yang artinya “Lumayan”. Ingat, ini bukan film untuk anak-anak hehehehehe.

Sumber: http://www.studioghibli.com.au/princessmononoke/

Serial Butterbean’s Cafe

Bermain masak-masakan menjadi salah satu permainan kesukaan anak-anak saya. Maka tidak heran kalau mereka tertarik dengan Butterbean’s Cafe, sebuah film seri kartun asal Irlandia yang bertemakan masak-memasak. Alkisah di dalam dunia peri yang mungil, Butterbean (Margaret Ying Drake) mendirikan Butterbean’s Cafe bersama-sama dengan Cricket (Gabriella Pizzolo), Poppy (Krrilee Berger), Dazzle (Olivia Grace Manning) dan Jasper (Koda Gursoy).

Jasper merupakan teman Butterbean yang bertugas menangani pengantaran dan penyediaan bahan makanan. Dazzle adalah sahabat Butterbean yang bertugas di bagian konter dan kasir restoran, berinteraksi langsung dengan para pelanggan. Poppy adalah adik Butterbean yang masih belajar memasak, ia sering membantu pekerjaan di dapur dan merancang menu kreatif restoran. Terakhir, Poppy merupakan sahabat Butterbean yang bertugas di dapur untuk memasak berbagai hidangan.

Mayoritas hidangan yang disajikan Butterbean’s Cafe mendapatkan sedikit sentuhan sihir dari Butterbean, pada bagian akhir proses memasaknya. Di sini anak-anak diajarkan dasar-dasar dan istilah memasak yang dipergunakan di dunia nyata. Tidak hanya itu, masak-memasak yang Butterbean’s Cafe hidangkan bukanlah masak-memasak biasa. Semuanya mengajarkan mengenai bagaimana menjadi kreatif ketika menghadapi berbagai masalah. Masalah yang hadir pun biasanya berhubungan dengan problem persahabatan dan budi pekerti. Semua orang memang pernah berbuat salah dan tidak ada salah untuk saling memaafkan.

Sayang ceritanya memang agak datar dan itu-itu saja, sangat sederhana dan memang ditujukan bagi anak-anak. Orang dewasa yang mendampingi terkadang akan merasa sangat kebosana heheheeheh.

Dengan menimbang hal-hal di atas, Butterbean’s Cafe rasanya masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala masimum 5 yang artinya “Lumayan”. Amanlaah untuk ditonton anak-anak :).

Sumber: http://www.nickjr.co.uk/butterbeans-cafe

Frozen 2 (2019)

Jauh hari sebelum Frozen 2 (2019) muncul, saya sudah mendapatkan himbauan dari sekolah anak saya untuk tidak menonton Frozen 2 (2019) bersama anak. Konon karakter utama Frozen 2 (2019) ikut dihadirkan dalam sebuah acara LGBT. Elsa dikabarkan akan menjadi karakter LGBT pertama Disney. Sebagai pembuat Frozen 2 (2019), Disney memang sudah beberapa kali dikait-kaitakan dengan isu LGBT. Tapi sampai saat ini sudah beberapa kali mentah. Sepertinya beberapa internal pihak Disney memang ingin memberikan pesan keberagaman dan kesetaraan bagi anak-anak, termasuk bagi isu yang agak sensitif seperti LGBT. Tapi sekali lagi, Disney adalah perusahaan komersil, apa mungkin mereka mau mengambil resiko sedemikian besarnya? Apalagi film animasi mendahulu Frozen 2 (2019), yaitu Frozen (2013), dapat dikatakan sebagai revolusi Disney tersukses sepanjang masa. Inilah awal dimana stereotipe kisah putri-putrian dirombak habis dan tetap sukses. Tidak ada lagi pangeran tampan yang gagah perkasa. Sang putri pada Frozen (2013) nampak lebih kuat, berani, pantang menyerah dan mandiri.

Syukurlah karakter Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) pada Frozen 2 (2019) tetap seperti pada Frozen (2013). Anna yang lebih ceplas ceplos, tanpa sadar akan dipinang oleh Kristoff (Jonathan Groff). Yaah sepanjang film, Kristoff berusaha melamar Anna. Walaupun usah dibantu oleh rusa miliknya, Sven, Kristoff tetap mengalami kesulitan. Keadaan memang tiba-tiba berubah menjadi genting dan Anna sibuk memikirkan keselamatan Elsa dan Kerajaan Arendelle.

Elsa yang lebih serius dan tertutup, diam-diam mendengar panggilan dari sebuah tempat misterius. Sebuah panggilan yang ternyata menguak masa lalu keluarga Kerajaan Arendelle. Tanpa saya duga, misteri ternyata menjadi salah satu daya tarik Frozen (2019). Ada misteri yang harus Elsa dan kawan-kawan pecahkan. Saya suka sekali dengan bagaimana film ini membuat saya penasaran. Sayang, plot yang sedikit kompleks ini akan membuat beberapa anak kecik kebingungan akan beberapa bagian dari Frozen 2 (2019). Ahhh tapi hal tersebut pasti tidak akan membuat mereka terlelap karena masih ada Olaf (Josh Gad) yang jenaka dan konyol.

Selain itu, Frozen 2 (2019) juga dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Tapi jangan bandingkan dengan lagu Let It Go pada Frozen (2013) ya. Let It Go memang sebuah lagu yang sangat bagus dan sudah pasti akan sulit ditandingi. Lagu tersebut sangat mendunia bahkan sampai lebih dari 5 tahun setelah Frozen (2013) dirilis. Jadi tidak mengherankan bila Frozen 2 (2019) memiliki variasi lagu yang lebih banyak tapi tak ada satupun yang mampu menandingi Let It Go. Sangat terlihat sekali betapa besar beban yang dipikul oleh tim pembuat Frozen 2 (2019). Mereka berusaha memasukkan banyak sekali variasi lagu pada film ini, sehingga terkadang saya merasa bahwa adegan bernyanyinya kok banyak sekali, terutama pada bagian awal. Ahhh tak apalah, toh anak saya senang sekali menonton nyanyian-nyanyian tersebut ;).

Dari segi visual, animasi Frozen 2 (2019) nampak lebih cantik bahkan bagi film keluaran tahun 2019. Saya suka sekali melihat air dan es yang nampak hidup. Sementara itu penonton wanita sepertinya banyak yang terkesima dengan penampakan Elsa yang semakin menawan. Wah wah wah, siap-siap diminta beli boneka Frozen 2 nih ehehehehe.

Elsa sepertinya tetap akan menjadi tokoh favorit frachise Frozen meskipun rasanya Anna pun layak mendapatkan pujian akan keberanian dan peranannya yang sama besarnya dengan Elsa. Terkadang seseorang dapat berbuat banyak juga loh, walaupun tanpa kekuatan super ;). Pesan moral lain terkait lingkungan hidup, kedamaian dan persaudaran di berikan dengan lebih luas pada Frozen 2 (2019). Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak.

Tapi sayang Frozen 2 (2019) tidak se-“aman” Frozen (2013) karena kalau saya hitung ada 3 kali adegan ciuman antara Anna dan Kristoff. Loh bagaimana dengan Elsa? Elsa yang memang lebih serius terlihat lebih fokus menyingkap misteri yang ada. Ia memang selalu merasa berbeda selama tinggal di Arendelle bukan karena orientasi seksnya menyimpang. Tidak ada 1 adegan pun yang menunjukkan bahwa Elsa suka wanita atau suka pria. Topik romansa Elsa sama sekali tidak dibahas pada Frozen 2 (2019). Jadi fix yaaa, Frozen 2 (2019) bukanlah film animasi LGBT-nya Disney. Bagaimanapun juga Disney butuh uang. Tidak mungkinlah Disney mau mengambil resiko dengan mengangkat topik sesinsitif LGBT pada tambang emas terbesar mereka saat ini, franchise Frozen.

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Frozen 2 (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya rasa inilah satu-satunya film tanpa karakter antagonis yang mendapatkan nilai 4 dari saya. Kalau karakter antagonis pada Frozen (2013) nampak kecil sekali, nah karakter antagonis Frozen 2 (2019) itu bisa dikatakan hampir nol loh. Ternyata, untuk membuat sebuah film yang bagus, karaker antagonis itu tidak harus selalu ada loh.

Sumber: frozen.disney.com