Primal Fear (1996)

Terbunuhnya seorang pastur yang telah menjadi tokoh keagamaan terkemuka di Chicago, menjadi awal yang menarik dari Primal Fear (1996). Pembunuhan dilakukan dengan keji dan menunjukkan adanya dendam pribadi dari si pelaku. Tak lama, Aaron Stampler (Edward Norton) dijadikan tersangka dan terancam hukuman mati.

Aaron merupakan putra altar atau asisten misa dari sang pastur. Hhmmmm, putra altar dan pastur? Aahh, dari awal saya sudah bisa menebak jalan cerita Primal Fear (1996) hendak dibawa kemana. Saya pikir ini akan menjadi sebuah kasus yang sederhana. Namun, ternyata Primal Fear (1996) menyuguhkan jalan cerita yang dapat mengecoh para penontonnya.

Martin Vail (Richard Gere) dapat dikatakan sebagai tokoh utama yang dibuat terkecoh oleh jalannya persidangan kasus ini. Hadir sebagai pengacara handal dengan kepercayaan diri yang tinggi, Vail pun pada akhirnya terkecoh dan harus mengakui kesilapannya.

Terkuaknya kasus skandal seksual di gereja, tentunya membuat saya menduga bahwa semua ini pasti terkait skandal seks saja. Ternyata selain itu, sang pastur memiliki sebuah proyek yang melibatkan jaksa dan orang-orang terkemuka lainnya pula. Semua semakin rumit ketika Aaron menunjukkan gejala penyakit kejiwaan akut. Sebagai ketua tim pengacara Aaron, Vail beberapa kali menemukan jalan buntu dan mengubah strategi pembelaannya. Semua karena sebenarnya, tidak semua yang Vail ketahui merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Apakah terkait skandal seks, proyek milyaran dollar, atau kejiwaan Aaron? Semua membuat Vail berubah.

Di sini akting Richard Gere dan Edward Norton nampak bagus, terutama Norton. Pada film inilah awal mula karir Edward Norton bersinar. Melalui film inilah Norton memenangkan Golden Globe dan memperoleh nominasi Oscar. Setelah bermain pada Primal Fear (1996), nama Norton semakin bersinar dan memperoleh nama sabagai salah satu aktor papan atas Hollywood pada saat itu.

Bagi sebagian orang, akhir dari Primal Fear (1996) merupakan akhir sedih dimana sang tokoh utama kalah. Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebab, bagimanapun juga, tokoh yang sebenarnya keji pada akhirnya memperoleh balasan dari perbuatannya, meskipun dengan cara yang tidak pas secara hukum.

Saya pribadi menikmati Primal Fear (1996) yang sebagian besar latar belakangnya adalah ruang persidangan. Rasa penasaran terus membuat mata saya tidak mengantuk, meskipun saya menonton film ini setelah selesai lembur di kantor hehehe. Primal Fear (1996) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.paramount.com/movies/primal-fear

Focus (2015)

Focus (2015) adalah film yang sama sekali tidak saya lirik ketika film tersebut baru dirilis. Melihat posternya, seperti melihat poster iklan kacamata hitam. Memang sih ada gambar Will Smith di sana, tapi saya bukanlah fans Om yang satu itu. Yang ada di kepala saya hanya … oooo itu iklan kacamata hitamnya Will Smith :P.

Baru pada pertengahan 2020 inilah saya menontom Focus (2020), itupun secara tidak sengaja. Saya terlanjur salah menekan tombol hehehehe. Baiklah, sudah terlanjur, lanjuuuut. Sesuai judulnya, fokus merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Pada awal film saja, kata fokus, fokus, fokus, sering sekali diulang-ulang. Iyah, iya saya sadar film ini judulnya fokus x_x. Fokus untuk apa sih?? Ternyata fokus untuk mencopet dan menipu.

Whah, ternyata Focus (2020) tidak bercerita mengenai hal-hal yang berbau kacamata hitam sama sekali. Film tersebut ternyata mengisahkan dunia penipu yang penuh intrik. Kisahnya berkisar pada bagaimana Nicky Spurgeon (Will Smith) menjalankan aksinya. Sebagai seorang penipu ulung, ia melakukan berbagi trik yang cukup menghibur untuk ditonton.

Tak hanya tipu menipu saja, terdapat unsur drama romantis pula di sana. Sepanjang film, saya bertanya-tanya mengenai hubungan asmara yang Nicky hadapi. Apakah ia sungguh-sungguh, atau ini hanyalah bagian dari aksi tipu-tipu saja.

Sayangnya, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa di sana. Intrik-intrik yang disajikan tidak terlalu mengejutkan. Drama romantisnya agak tanggung. Namun, bagaimanapun juga, Focus (2015) berhasil memberikan hiburan segar yang mudah dipahami. Penonton tidak diajak berfikir terlalu dalam untuk mengetahui apa yang terjadi. Maka, dengan demikian, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/focus

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855

Serial 13 Reasons Why

Kehidupan remaja bisa jadi merupakan masa indah yang tidak akan terulang kembali. Namun bagi beberapa individu, masa remaja bisa jadi menjadi masa-masa yang kurang menyenangkan. Tekanan-tekanan hidup bagi jiwa muda yang masih labil, dapat membuahkan bencana. Bunuh diri merupakan salah satu hal terburuk yang dapat terjadi. Hal itulah yang menimpa Hannah Baker (Katherine Langford) pada serial 13 Reasons Why.

Uniknya, setelah bunuh diri, Hannah meninggalkan 13 kaset rekaman yang mengungkap alasan kenapa ia melakukan bunuh diri. Ketigabelas kaset tersebut dikirim kepada individu-individu yang namanya disebutkan di dalam kaset tersebut. Mereka harus mendengarkan kaset-kaset tersebut secara berurutan, mulai dari kaset pertama sampai kaset ketigabelas. Semuanya dikirimkan berurutan kepada mereka berdasarkan urutan pembahasan. Berawal mulai dari yang namanya dibahas pada kaset pertama, lalu kaset kedua, kemudian kaset ketiga dan seterusnya.

Clay Jensen (Dylan Minnette) kaget bukan main ketika ia menerima ketigabelas kaset tersebut. Walaupun berat, perlahan ia mendengarkan kaset tersebut dan mendapatkan berbagai kenyataan yang mengharukan. Beberapa teman sekolah Clay pun tiba-tiba menaruh perhatian yang berbeda-beda terhadap Clay. Entah rasa bersalah atau rasa benci, semua iini behasil membuat saya penasaran. Apa sih peranan Clay dalam kematian dan bullying yang Hannah alami.

Berbagai bullying yang Hannah alami ternyata mendorong keputusan Hannah untuk bunuh diri. Hannah mengalami bullying dari yang sebenarnya ringan sekali, sampai berat. Ada beberapa bullying yang sangat sepele loh. Namun, setelah menonton semua episode di musin pertama serial 13 Reasons Why, saya menyadari bahwa sekecil apapun bullying yang seseorang peroleh, hal itu dapat menuntun kepada sebuah tragedi.

Hannah adalah seorang korban bullying dan semua yang ia alami bisa saja terjadi di dunia nyata. Musim perdana 13 Reasons Why berhasil membuat penonton merasa peduli terhadap Hannah. Kematiannya trasa menjadi sebuah tragedi yang mengharukan. Misteri akan alasan kematian Hannah memang menjadi magnet bagi musim perdana 13 Reasons Why. Namun film seri ini berhasil mengisahkan masalah kehidupan dengan baik sekali.

Yah, paling tidak, hal diataslah yang saya lihat pada musim perdana serial 13 Reasons Why. Sudah sepantasnya musim perdana serial ini memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”. Ingat loooh, penilaian saya ini hanya untuk musim perdana saja. Seperti mayoritas serial-serial yang ada, biasanya setiap serial terdiri dari beberapa musim pemutaran. 1 musim pemutaran terdiri dari beberapa episode. Biasanya, mereka semua tetap memilki cerita yang berkesinambungan dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.

13 Reasons Why ternyata sangat berbeda. Film seri ini dibuat berdasarkan sebuah novel karangan Jay Asher. 1 buah novel, bukan 2 atau 3 atau 5 novel, hanya 1. Manamungkin materi dari satu novel dapat dibuat menjadi beberapa musim sebuah serial TV. Jadi, cerita pada musim pertama 13 Reasons Why, otomatis dibuat berdasarkan novel tersebut. Lalu bagaimana nasib musim kedua, ketiga dan seterusnya? Semuanya merupakan pengembangan dari kisah pada novel Jay Asher tersebut.

Sungguh mengecewakan, 13 Reason Why musim kedua dan ketiga justru mengisahkan masalah kenakalan remaja yang dihadapi oleh Clay dan kawan-kawan. Serial ini seakan bergeser menjadi serial yang berbicara mengenai kenalakan remaja. Agar masih memiliki hak sebagai bagian dari serial 13 Reasons Why, dikisahkan pula kisah-kisah dari beberapa karakter yang mem-bully Hannah.

Sayang, beberapa karakter yang melakukan bullying terhadap Hannah, seakan memperoleh pembelaan. Kisah latar belakang kenapa mereka melakukan bullying, dibahas satu per satu. Sementara itu episode-episode pada musim kedua dan ketiga 13 Reasons Why ini justru membongkar keburukan dan kelemahan Hannah. Padahal hal tersebut tidak ada di novel dan tentunya tidak pernah ada pada 13 Reasons Why musim pertama.

Apa yang serial ini coba katakan?? Mereka seakan berusaha menenggelamkan simpati bagi korban bulying dan mengangkat simpati bagi para pelaku bullying. Semua yang sudah berhasil dibangun pada episode-episode di musim pertama, seakan sengaja dimusnahkan oleh kisah-kisah pada musim berikutnya.

Inilah alasan utama kenapa saya memberikan penilaian yang jauh berbeda pada 13 Reasons Why musim kedua dan ketiga. jalan cerita dan kualitasnya sangat bertentangan. Ditambah dengan plot yang “berlubang-lubang”, 13 Reasons Why musim kedua dan ketiga hanya layak untuk memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisan ini, 13 Reasons Why sudah sampai di musim pemutaran yang ketiga. Terus terang saya hanya kuat untuk menonton sebagian episode musim ketinya saja. 13 Reasons Why sebaiknya dianggap tamat saja pada episode terakhir di musim pertamanya.

Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan, baik ia merupakan korban bullying atau pelaku bulying. Hal tersebut tetap tidak dapat dijadikan seagai justifikasi bagi kita sesama manusia untuk saling melukai, apalagi sampai membuat seorang teman melakukan bunuh diri.

Sumber: 13reasonswhy.info

Ad Astra (2020)

Dari beberapa film luar angkasa yang saya tonton, Ad Astra (2020) merupakan salah satu yang beda dan unik. Film ini mengambil latar belakang dimana teknologi luar angkasa kurang lebih masih seperti teknologi luar angkasa pada tahun 2020. Hanya saja, semuanya sudah diproduksi secara masal dan tersebar di banyak tempat. Bahkan perjalanan Bumi ke planet lain pun sudah dilakukan secara komersial tapi tetap dengan menggunakan teknologi yang masih saya jumpai pada tahun 2020. Bukan menggunakan teknologi super canggih yang belum ada saat ini.

Kemudian adegan pertempurannya terbilang unik. Semua dilakukan di daerah nol gravitasi dengan baju astronot yang tebal dan tidak tahan peluru. Sayang adegan yang keren ini hanya sedikit sekali karena Ad Astra (2020) pada dasarnya merupakan film drama hehehehehe.

Wew, drama? Yaaa! Ad Astra (2020) adalah film drama. Latar belakangnya saja yang agak-agak fiksi ilmiah. Dikisahkan Mayor McBride (Brad Pitt) ditugaskan untuk menyelidiki sumber dari badai elektomagnetik yang mengancam kehidupan di Bumi dan sekitarnya. Tersangka utama dari masalah ini adalah Proyek Lima yang dipimpin oleh Clifford McBride (Tommy Lee Jones). Bertahun-tahun yang lalu, Clifford beserta awaknya dikabarkan hilang bersama dengan Proyek Lima yang mereka kerjakan.

Clifford meninggalkan putra semata wayangnya, Roy McBride. Jadi Roy di sini dikirim untuk menyelidiki proyek yang ayahnya kerjakan. Sayang tidak ada misteri di sana karena pihak pemerintah dikabarkan sudah mengetahui dimana Proyek Lima berada. Status Clifford sesungguhnya pun dijelaskan dengan sangat gamblang tanpa menyisakan sedikitpun misteri di sana. Sangat terlihat sekali bahwa Ad Astra (2020) memang lebih fokus menggali masalah keluarga dan kehidupan. Terkadang, sejauh apapun kita melangkah, masalah kehidupan tetap akan ikut menyertai.

27

Pesan moral dari Ad Astra (2020) memang sangat tegas dan bagus sekali. Special effect yang disajikan pun sukses membangun sebuat atmosfer yang unik. Sayang jalan ceritanya amat sangat membosankan. Saya saja harus minum kopi di tengah-tengah film ini. Tempo yang lambat dan penjelasan yang diumbar sejak awal, terkadang membuat saya kehilangan alasan untuk menonton film ini. Apalagi bagian akhirnya yaaa hanya begitu saja x__x.

Di tengah-tengah kebosanan yang diberikan, Ad Astra (2020) masih mampu memberikan sebuat atmosfer film luar angkasa yang unik denga pesan yang baik. Saya rasa Ad Astra (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.adastramovie.com

Serial Elite

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti film seri berbahasa Spanyol seperti Elite. Yah dahulu kala saya sempat menonton telenovela Amerika Latin berbahasa Spanyol yang sempat populer di Indonesia. Kali ini, saya menonton semacam telenovela, hanya saja kisahnya lebih muda, penuh misteri dan latar belakangnya adalah Spanyol.

Serial Elite mengisahkan kehidupan bebas para remaja yang belajar di Las Encinas, Spanyol. Sekolah Las Encinas adalah sekolah mewah yang sebagian besar muridnya merupakan anak orang kaya. Sedangkan sebagain kecil muridnya merupakan anak miskin yang memperoleh beasiswa. Ok, disinilah unsur telenovela klasik bermain. Kesenjangan antara si miskin dan si kaya terlihat jelas di sana. Kemudian kisah cinta dengan perbedaan status itupun ada di sana. Tak lupa terdapat kisah perselingkuhan di sela-selanya. Klise sekali bukan?

Masalahnya Elite bukanlah telenovela klasik sebab masalah-masalah terkini yang sedikit tabu, diangkat pula dengan sangat vulgar di sana. Elite mengangkat masalah narkoba, AIDS, hamil di luar nikah, diskriminasi terhadap muslim, homoseksualitas, inses, dan lain-lain. Kehidupan murid-murid Las Encinas nampak penuh pesta-pesta saja. Sesekali terlihat mereka belajar, tapi itu jarang sekali. Kalaupun ada karakter yang awalnya baik luar dan dalam, perlahan karakter tersebut akan belok dan terkontaminasi dengan segala keburukan dan kebejatan teman-temannya. Namun ada pula karakter yang pada awalnya terlihat brengsek, lama kelamaan ia justru nampak menjadi karakter yang paling bijak dan setia kawan. Ada pula karakter yang pada awalnya nampak polos dan baik, namun perlahan penonton diperlihatkan bahwa banyak sekali perilaku buruk karakter tersebut yang memicu perselisihan dimana-mana.

Perselisihan dalam percintaan memang menjadi akar masalah di sana. Tapi semua berhasil dimodifikasi dan dikembangkan sehingga nampak menarik. Saya yang bukan pecinta film drama kenapa ikut tertarik menonton Elite? Misteri. Ya, aroma misteri sangat kental terasa ketika menonton Elite. Kebejatan dan kegilan karakter-karakter utamanya tentunya akan menunun mereka ke dalam kasus-kasus kriminal. Yang menarik di sini adalah, terdapat misteri pembunuhan yang menjadi benang merah pada setiap episodenya. Hal inilah yang jarang sekali saya lihat pada film seri berbahasa Spayol lainnya.

Elite memang berhasil  menampilkan sebuah drama remaja yang penuh misteri, putaran dan kejutan di mana-mana. Namun ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh remaja. Film Seri ini sangat dewasa, bukan karena adegan dewasanya. Melainkan karena pesan yang dibawa di dalamnya. Mayoritas karakter pada Elite melakukan perbuatan buruk yang sama sekali tidak pantas untuk dicontoh. Saya sendiri yakin bahwa Elite tidak mencerminkan kehidupan remaja Spanyol di dunia nyata. Kebejatan yang ada memang mencengangkan dan mengejutkan, sekaligus mengingatkan saya bahwa ini hanya cerita karangan saja. Ya seburuk-buruknya moral sebuah lingkungan, sepertinya tidak ada yang seperti ini. Kalaupun aja, sepertinya jarang sekali.

Saya tidak tahu akhir dari kisah misteri drama remaja ini tapi saya berharap akhirnya cukup memuaskan. Selama ini, film-film Spanyol yang pernah saya tonton memilki akhir yang kurang pas. Yaaah siapa tahu Elite ini berbeda hohohohoo. Rasanya film seri Elite layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80200942

Joker (2019)

Mendengar nama Joker, tentunya saya langsung teringat akan tokoh supervillain yang sangat terkenal sebagai lawannya Batman. Joker sudah berkali-kali berganti wajah, mulai dari ketika diperankan oleh Cesar Romero, Mark Hamil, Zach Galifianakis, Jack Nicholson, Heath Ledger sampai Jared Leto. Pergantian ini mengikuti film layar lebar dan film seri Batman yang sudah beberapa kali di-reboot dan hadir dalam berbagai media. Jadi, sudah bertahun-tahun, kehadiran karakter Joker,, bergantung pada Batman. Baru pada tahun 2019-lah tokoh Joker memperoleh panggung yang lebih besar. Melalui Joker (2019), Joaquin Phoenix memperoleh kesempatan untuk memerankan seorang Arthur Fleck yang perlahan-lahan berubah menjadi Joker.

Arthur adalah seorang komedian dan badut yang kerap mendapatkan kemalangan di tengah-tengah kondisi Kota Gotham di era 80-an yang penuh ketidakadilan. Di mata Arthur, semua pejabat, politikus dan pengusaha di Gotham, sama sekali tidak mempedulikan kondisi sosial Gotham yang semakin terpuruk. Diperparah dengan gangguan kejiwaan yang Arthur alami, ia semakin hari semakin berani melakukan tindak kekerasan.

Tindakan kekerasan yang Arthur lalukan, selalu berawal dari perbuatan buruk orang-orang di sekitar Arthur. Saya pribadi merasa bahwa pembunuhan yang pertama kali Athur lakukan memang masih wajar. Namun yang kedua, ketiga dan seterusnya, tidak membuat Arthur nampak sebagai orang baik. Saya kurang setuju dengan ungkapan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Setelah melihat Joker (2019), saya semakin yakin bahwa orang baik adalah orang yang mampu untuk tetap menjadi baik walaupun tersakiti.

Dari segi cerita, tema Joker (2019) terlalu berat bagi anak-anak. Tentunya ini bukanlah film superhero yang pantas ditonton oleh semua umur. Terdapat beberapa adegan kekerasan dan saya sama sekali tidak melihat kelucuan pada film ini meskipun tokoh utamanya adalah seorang badut. Singkat kata Joker (2019) merupakan film tentang orang gila yang berprofesi sebagai badut. Latar belakangnya adalah latar belakang Gotham ketika Bruce Wayne atau Batman masih kecil. Namun kali ini Bruce Wayne hanya mendapatkan porsi yang kecil sekali. Sekarang giliran Joker yang tampil di atas panggung :).

Pada film ini, penonton diajak menyelami pikiran Arthur yang sering mengalami delusi. Pikiran Arthur membuat ia mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi di dunia nyata. Hal inilah yang membuat Joker (2019) penuh dengan keambiguan. Penonton dibiarkan menerka-nerka kejadian manakah yang nyata, dan kejadian manakah yang hanya khayalan Arthur saja. Semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi dan memukau.

Joker (2019) memang mampu menampilkan sebuah tontonan yang memberikan berbagai hal yang menarik untuk dibahas. Tapi sayang, bagi saya pribadi, film ini kadang nampak terlalu bertele-tele dan sangat “drama”. Olehkarena itu saya pribadi memberikan Joker (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ingat, jangan bawa anak-anak untuk menonton Joker (2019), ini bukan film superhero! :).

Sumber: http://www.jokermovie.net

Knives Out (2019)

Kisah detektif selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika masih sekolah dulu, novel detektif dari Alfred Hitchcock dan Agatha Christie sudah menjadi bacaan saya. Sayang beberapa kisah detektif yang diangkat ke layar kaca, tidak sebagus novelnya. Mungkin juga hal ini dikarenakan saya sudah tahu jalan cerita beserta akhir ceritanya :’D. Knives Out (2019) tidak dibuat berdasarkan novel apapun. Jadi saya benar-benar buta akan film ini. Trailer-nya saja belum pernah lihat hehehee.

Berbeda dengan beberapa film detektif yang pernah saya lihat, mayoritas sudut pandang Knives Out (2019) justru dilihat dari sisi seorang Marta Cabrera (Ana de Armas), salah satu tersangka pembunuhan. Marta adalah perawat dari seorang penulis novel misteri terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan tewas meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya yaitu Walter “Walt” Thrombey (Michael Shannon), Donna Thrombey (Riki Lindhome), Jacob Thronbey (Jaeden Martell), Joni Thrombey (Toni Collete), Megan “Meg” Thrombey (Katherine Langford), Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), Richard Drysdale (Don Johnson), dan Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans). Tak lupa pula ibu Harlan yang sudah sangat uzur, Wanetta Thrombey (Katherine Elizabeth Borman). Yahh itulah nama-nama tersangka atas sebuah kasus yang masih dipersebatkan apakah itu merupakan kasus kriminal atau murni hanya bunuh diri saja.

Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) beserta kepolisian setempat datang ke TKP dan melakukan penyelidikan. Melihat bagaimana Blanc melakulan penyelidikan, sungguh unik apalagi kalau dilihat dari sudut pandang salah satu tersangka. Setiap tersangka pada kasus ini memiliki ketergantungan finansial terhadap Harlan. Bahkan tersangka yang pada awalnya minim motif, tiba-tiba memiliki motif.

 

Saya suka dengan bagaimana Knives Out (2019) memutar-mutar fakta yang ada. Film ini sukses membuat saya penasaran dan sama sekali tidak mengantuk sampai akhir film. Akhir film ini ya sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu mengejutkan, tapi jalan ceritanya sungguh menarik. Banyaknya karakter yang terlibat sama sekali tidak membuat saya kebingungan. Latar belakang dan motif setiap tersangka berhasil disampaikan dengan sangat informatif. Komedi hitam yang ada di dalamnya pun mengena meski agak sedikit basi :’D.

Tanpa saya duga, ternyata akting Daniel Craig terbilang sangat baik. Ketila melihat karakter detektif yang ia perankan, saya sama sekali tidak melihat James Bond di sana. Craig seolah menjadi detektif handal dengan aksen koboy yang kental.

Saya rasa, Knives Out (2019) adalah film detektif terbaik sepanjang tahun 2019. Film arahan Rian Johnson ini sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: knivesout.movie

Contagion (2011)

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pada awalnya memakan banyak korban di Kota Wuhan, Cina Daratan sana. Karena penyakit ini mudah sekali menular, maka COVID-19 berhasil menjalar ke negara-negara lain. Tak terelekan, Indonesia pada akhirnya terkena juga. Full Work from Home sampai-sampai diberlakukan di kantor saya. Hal ini tentunya menimpa kantor-kantor lain. Isu hoax dan kekhawatiran akan ekonomi Indonesia turut menjadi teror tambahan bagi warga biasa seperti saya.

Corona

Melihat dan merasakan keadaan seperti ini, membuat saya teringat akan sebuah film lama yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Segala hal yang ada pada film Contagion (2011), kembali hinggap di benak saya. Beberapa hal yang dikisahkan pada film tersebut, memang sedang terjadi saat ini.

Corona

Corona

Corona

Pada Contagion (2011) dikisahkan bahwa dunia dihebohkan oleh sebuah virus mematikan yang menular dengan sangat cepat. Asal mula virus tersebut melibatkan kelelawar di daerah Cina yang pada akhirnya mampu membuat manusia sakit. Dengan gejala awal pilek, batuk, demam, lama kelamaan virus ini dapat membuat orang-orang mengalami sesak nafas dan meninggal.

Dengan penyebaran yang sangat cepat, korban berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya korban karena penyakit yang ditimbulkan, akantetapi dampak sosial dan ekonomi pun dihadirkan di sini. Semua dihadirkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari korban, keluarga korban, satgas penanganan bencana, militer, pedagang obat palsu dan lain-lain. Masing-masing harus berhadapan dengan social distance dan lockdown selama virus ini masih belum ada obat dan vaksinnya. Hanya saja fokus dari Contagion (2011) sepertinya hanyalah pengaruh virus di Amerika dan Cina saja. Negara-negara lain memang tidak terlalu terlihat. Yah mungkin durasinya akan terlalu panjang ya kalau tidak terlalu fokus.

Corona

Corona

Corona

Corona

 

Beda wilayah, beda pula kondisinya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat Contagion (2011) tidak 100% menggambarkan kondisi penyebaran virus di Indonesia. Ada beberapa hal pula yang memang tidak atau belum terjadi. Kalau dibandingkan dengan COVID-19, virus pada Contagion (2011) terlihat lebih mematikan dan penyebarannya super cepat. Jadi dampaknya pun memang lebih ekstrim. Syukurlah COVID-19 tidak seganas virus pada film tersebut. Banyak konflik-konflik yang pada awalnya terlihat menarik. Apakah awal yang menarik ini akan terus bertahan sepanjang film?

Awal dan tengah cerita yang membuat penasaran dan mengharukan, kurang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga saya merasa sedikit mengantuk ketika menonton Contagion (2011) menjelang bagian akhirnya. Entah kenapa, sampai menjelang akhir, saya tidak melihat klimaks yang menegangkan. Sayang sekali, padahal bagian awal film ini sangat menjanjikan loh. Beberapa konflik yang muncul memiliki penyelesaian yang sangat biasa dan tidak menarik, yah paling hanya begitu-begitu saja. Tapi tetap harus saya akui bahwa pesan moral akan pengorbanan, saling tolong menolong dan saling menghargai sangat kental pada film ini.

Corona

Yaah saya tahu bahwa banyak film-film lain yang mengangkat tema penularan virus, tapi sementara ini Contagion (2011) tetaplah yang terbaik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Bagi teman-teman yang sedang stres atau khawatir akan COVID-19, sebaiknya jangan menonton film ini. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang saat ini belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi mungkin saja terjadi. Memang ada beberapa hal pada Contagion (2011) yang saya harapkan tidak terjadi di dunia nyata, tapi ada beberapa hal baik pula yang saya sangat berharap dapat terjadi secepatnya di dunia nyata. Akhir kata, semoga COVID-19 dapat ditemukan vaksin dan obatnya. Sampai saat saya menulis tulisan ini, jumlah pasien dan korban COVID-19 terus bertambah, beberapa malah berasal sangat dekat dari rumah saya. Stay safe everyone …

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/contagion/