The Perks of Being a Wallflower (2012)

Pada tahun 2012 dulu saya sudah beberapa kali melihat poster The Perks of Being a Wallflower (2012) beberapa kali. Saya bahkan sudah melihat trailer-nya dan saya sama sekali tidak tertarik. Ini sepertinya hanya film drama remaja biasa dengan jalan cerita dan tujuan yang itu-itu saja. Yaaah paling isinya mengenai masalah remaja di Amerika sana. Sudah begitu judulnya aneh pula, apa itu wallflower? bunganya tembok? :’D

Pada suatu minggu pagi, saya tidak bisa tidur setelah sholat subuh. Entah kesurupan apa, saya iseng-iseng menonton The Perks of Being a Wallflower (2013), yaaah paling nanti juga kebosanan, mengantuk, lalu tidur ronde 2 heheheheh. Jauh diluar dugaan, bukannya mengantuk, saya justru semakin tertarik dengan film ini. Bukannya tidur ronde 2, saya justru semakin melek dan menikmati apa yang saya tonton.

Ternyata judul dari film ini menunjuk kepada Charlie Kelmeckis (Logan Lerman) yang pemalu dan enggan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Ia memang bagai bunga cantik yang terus menempel di tembok tanpa ada orang yang peduli atau memperhatikan. Dikisahkan bahwa Charlie baru saja masuk SMA setelah ia lulus SMP. Sebagai junior, Charlie selalu menyendiri dan tidak membuat teman baru. Ia hanya dapat berbicara sedikit akrab dengan guru bahasa Inggrisnya, Pak Anderson (Paul Rudd), agak menyedihkan bukan? :,D

The Perks of Being a Wallflower

Semua berubah ketika Charlie berkenalan dengan Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson), kakak kelas Charlie yang merupakan kakak-adik tiri. Melalui Patrick dan Sam, Charlie belajar untuk membuka diri dan menunjukkan kepada dunia siapa dirinya. Belakangan ketiganya menghadapi berbagai masalah remaja yang mungkin dialami oleh remaja jaman sekarang. Beberapa diantaranya tidak sesuai dengan budaya timur. Walaupun tidak ada adegan mesum pada The Perks of Being a Wallflower (2012), film ini kurang pas kalau ditonton oleh penonton yang belum dewasa.

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

Perjalanan Charlie menuju kedewasaan memang penuh rintangan. Apalagi belakangan diketahui bahwa sebelum masuk SMA , Charlie mengalami beberapa kejadian yang membuatnya depresi dan kadang berhalusinasi. Karena sehari sebelum menonton The Perks of Being a Wallflower (2012), saya menonton Shutter Island (2010), sepanjang film berjalan saya terus bertanya-tanya apakah film ini bercerita tentang gangguan jiwa?

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

Film ini beberapa kali berhasil menipu saya dengan cara yang cantik. Jalan cerita dan dialog film ini sungguh menarik dan masuk akal. Masalah yang muncul memang agak ekstrim, tapi semua nampak logis. Apalagi pemeran Charlie, Patrick dan Sam tampil dengan kuat dan meyakinkan. Ezra Miller tampil mengesankan sebagai Patrick, tapi maaf, sampai saat ini saya masih merasa Ezra tetap kurang pantas memerankan The Flash pada Justice League (2017) hehehehehe. Sumpah dulu saya kebingungan kok ya bisa ini aktor tak dikenal tiba-tiba memerankan The Flash. Melihat kemampuan aktingnya pada The Perks of Being a Wallflower (2012), memang masuk akal kalau Ezra patut diperhitungkan. Tapi yaaa seperti yang baru saya sebutkan, …. Ezra tetap kurang pas memerankan The Flash hohohoho.

Ok, kembali ke laptop. The Perks of Being a Wallflower (2012) merupakan film remaja dewasa yang menyenangkan untuk ditonton lebih dari sekali. Saya rasa film ini merupakan salah satu film terbaik yang dirilis tahun 2012 dan hampir saya lewatkan begitu saja. Nilai saya bagi The Perks of Being a Wallflower (2012) adalah 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini layak untuk ditonton, asalkan tidak bersama anak kecil ;).

Sumber: lionsgateathome.com/perks-of-being-a-wallflower

Iklan

Lion (2016)

Lion

Saya bukan penggemar film drama yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Biasanya saya kurang suka dengan film-film jenis ini. Film-film seperti True Story (2015), Into the Wild (2017) dan Erin Brockovich (2000) sukses menjadi film-film yang sangat membosankan bagi saya pribadi. Entah kesurupan setan apa, saya kemarin menyempatkan diri untuk menonton Lion (2016), sebuah film drama yang dibuat berdasarkan kisah nyata dari Saroo Bierley.

Lion

Pada tahun 1986, Saroo kecil (Sunny Pawar) yang baru berumur 5 tahun, tinggal di India bersama dengan ibu, kakak dan adiknya. Pada suatu malam, Guddu Khan (Abhishek Bharate), kakak laki-laki Saroo, mengajak Saroo berjalan-jalan. Sayang malam itu sepertinya akan menjadi malam terakhir bagi Saroo untuk bertemu dengan keluarganya. Ia terpisah dari kakaknya dan tersesat sampai ke wilayah India yang tidak ia kenal. Anak kecil berumur 5 tahun ini hanya mengetahui bahwa namanya Saroo, nama kakaknya Guddu, nama ibunya Mum, dan kampungnya ada di Ginestalay. Ginestalay bukanlah sebuah nama resmi sebuah daerah, mungkin Saroo kecil salah mengeja atau lupa? Melalui berbagai peristiwa naas dan mujur, Saroo kecil akhirnya diadopsi oleh John Brierley (David Wenham) dan Sue Brierley (Nicole Kidman). Pasangan asal Australia ini membesarkan Saroo dengan penuh kasih sayang di Tasmania, Australia.

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Tak terasa 20 tahun berlalu dan Saroo Brierley (Dev Patel) sudah mulai sekolah di perguruan tinggi. Walaupun sudah lama berlalu, Saroo masih terus teringat akan kampung halaman di India, ibunya dan kalaknya, Guddu. Bayang-bayang tersebut memotivasi Saroo untuk mencari lokasi kampung halamannya. Apakah Saroo akan berhasil? Apa yang Saroo temukan dari pencarian ini?

Lion

Lion

Lion

Lion

Lion

Aaahhhh tak disangka Lion (2016) merupakan film dengan jalan cerita yang sangat menarik untu diikuti. Film ini memiliki banyak adegan yang mengharukan. Mengharukan di sini bukan mengharukan ala sinetron Indonesia yaaa. Lion (2016) dengan cerdasnya mampu membuat penonton terharu akan kisah hidup Saroo.

Lion

Lion

Lion

Lion

Dengan didukung oleh akting yang baik dan sangat meyakinkan, saya tidak merasa bosan ketika menonton Lion (2016). Yaaah walaupun hanya Nicole Kidman saja pemain yang saya kenal. Lainnya yaaa saya kurang tahu, kebanyakan aktor dan aktris India. Saya jarang menonton film-film Bollywood jadi mungkin kurang “ngeh” ;). Kalau dilihat, pantas saja Lion (2016) berhasil meraih 12 penghargaan di Australia sana. Film ini ternyata film Australia lhoo, bukan film India, jadi jangan harap ada adegan joged-joged di balik pohon yaa ;).

Saya rasa Lion (2016) pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya ini adalah film drama biografi pertama yang saya sukai. Oooh ya, alasan kenapa judul film ini Lion atau singa akan dijelaskan pada bagian paling akhir dari film ini.

Sumber: lionmovie.com

Pride and Prejudice and Zombies (2016)

Pride and Prejudice and Zombies (2016) merupakan modifikasi dari sebuah novel romatis karya Jane Austen. Dikisahkan bahwa pada abad ke-19, Inggris berhasil menguasai banyak negara dan memperoleh harta yang melimpah. Banyak dari kalangan bangsawan Inggris pada saat itu, mengambil dan mempelajari seni, budaya dan ilmu beladiri Asia untuk memperkaya ilmu pengetahuan mereka.

Ditengah-tengah kejayaannya, hadir sebuah wabah misterius yang membuat manusia menjadi zombie. Penyakit ini menular melalui gigitan dan luka. Manusia yang tertular akan menjadi agresif dan memiliki naluri untuk menyantap otak manusia. Akibat wabah ini, Inggris membangun parit dan tembok besar di sekitar ibukota London. Tentara Inggris terus mendesak dan memburu para zombie hingga seakan-akan zombie akan kalah.

Melihat situasi yang semakin aman dan menguntungkan, para bangsawan keluar dari London untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di wilayah-wilayah Inggris. Masa dan kondisi seperti inilah yang menjadi latar belakang Pride and Prejudice and Zombies (2016). Di tengah-tengah kewaspadaan akan bangkitnya para zombie, hadir drama romantis dengan Elizabeth Bennet (Lily James) sebagai tokoh sentralnya.

Elizabeth adalah anak dari salah bangsawan di wilayah Inggris. Hukum dan tradisi Inggris saat itu mengatur agar harta keluarga hanya akan jatuh ke tangan laki-laki. Sayangnya, semua adik-adik Elizabeth adalah perempuan, sehingga apabila ayah mereka tiada, seluruh harta keluarga mereka akan jatuh ke tangan sepupu laki-laki tertua mereka. Sang ibu kemudian melakukan berbagai usaha agar anak-anaknya dapat dipersunting oleh laki-laki dari keluarga kaya. Ooohhh lalu apakah Elizabeth justru akan jatuh cinta dengan laki-laki miskin seperti cerita-cerita sinetron Indonesia?

Ooo syukurlah tidak. Elizabeth justru berhasil menarik perhatian Fitzwilliam Darcy (Sam Riley), salah satu anggota keluarga terkaya di Inggris. Walaupun Elizabeth sebenarnya tertarik juga dengan Darcy, semakin hari citra Darcy di mata Elizabeth semakin memburuk. Darcy dikabarkan sebagai aktor dibalik berpisahnya Charles Bingley (Douglas Booth) dan Jane Bennet (Bella Heathcote). Jane adalah adik Elizabeth, sedangkan Bingley adalah pria kaya raya yang sudah lama bersahabat dengan Darcy. Selain itu, Darcy dikabarkan telah melakukan tindakan kurang terpuji kepada Letnan George Wickham (Jack Huston) dimasa lalu.

Semua drama di atas, dibalut dengan perang besar antara manusia dengan zombie. Tak lupa terdapat beberapa adegan perkelahian dengan pistol dan senjata tajam karena para bangsawan dikisahkan telah menguasai ilmu beladiri dari Cina dan Jepang. Tapi lucunya, di sana dikisahkan bahwa terdapat perbedaan kasta antara bangsawan yang belajar di Jepang dengan di Cina. Padahal ketika mereka semua berkelahi, tidak ada pembeda yang jelas antara lulusan Jepang dengan Cina. Beberapa adegan perkelahiannya diambil dengan jarak yang terlalu dekat, sempit dan gelap. Saya sendiri terkadang tidak tahu gerakan apa yang mereka lakukan :’D. Walaupun begitu, melihat Elizabeth dan adik-adiknya membawa pisau dan siap tempur, terbilang cukup bagus untuk dilihat. Metode yang Darcy pakai untuk melawan zombie pun nampak cerdas dan pantas untuk disaksikan.

Sayang kehadiran para zombie beserta teror yang mereka bawa tidak terlalu terasa, padahal ini merupakan perbedaan utama antara Pride and Prejudice and Zombies (2016) dengan Pride and Prejudice versi aslinya. Jalan cerita yang ditampilkan terkadang seperti terpisah dan agak dipaksakan terutama pada bagian akhir film, pada bagian setelah kebenaran akan semua yang menimpa Darcy. Sedikit kejutan memang muncul pada Pride and Prejudice and Zombies (2016), sebuah kejutan bagi saya yang belum pernah mengetahui cerita Pride and Prejudice sama sekali ;).

Mungkin zombie memang kurang dapat menyatu dengan baik dengan kisah romantisnya Pride and Prujudice. Tapi terus terang saya sepertinya akan tertidur pulas kalau saya harus menunton unsur Pride dan Prejudice saja, tanpa adanya zombie dan Elizabeth yang ahli Kungfu. Dengan demikian, saya memberikan Pride and Prejudice and Zombies (2016) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: sites.sonypictures.com/prideandprejudiceandzombies/discanddigital/

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Three Billboards Ebbing

Melihat poster film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017), sekilas saya jadi ingat akan film Murder on the Oriont Express (2017), kok ya bisa mirip begitu ya. Apalagi sekilas keduanya mengusung kasus pembunuhan sebagai latar belakang cerita. Akhirnya saya tertarik untuk menonton Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) dengan harapan dapat menonton penyelesaian sebuah kasus kriminal yang rumit. Aaahhhh, ternyata saya salah besar ….

Seharusnya saya lebih cermat melihat judul, bukan terpaku dengan salah satu poster iklan filmnya. Sesuai judulnya, kisah pada Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) berfokus pada kenapa, bagaimana dan akibat dari dipadangnya 3 buah iklan billboard jumbo di sebuah jalan antar proponsi dekat kota Ebbing, Missouri.

Kecewa akan lambatnya penanganan kasus pembunuhan yang menimpa putrinya, Mildred Hayes (Frances McDormand), memasang 3 buah iklan billboard jumbo di sebuah jalan antar propinsi yang relatif sepi dan sudah jarang dilewati orang. Di tempat itulah putrinya diperkosa dan dibunuh, 7 bulan yang lalu. Billboard yang Mildred pasang, berisi tulisan yang menyudutkan pihak kepolisian kota Ebbing karena wilayah tersebut masih masuk ke dalam wilayah kepolisian kota Ebbing. Tulisan yang Mildred tulis pada billboard-nya adalah “Raped While Dying”, “And Still No Arrests?”, “How Come? Chief Willoughby?”.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

3 buah kalimat yang ditujukan kepada kepolisian Ebbing yang dipimpin oleh Bill Willoughby (Woody Harrelson). Rasanya Bill bukanlah karakter antagonis di film ini. Ia adalah kepala polisi yang dihormati oleh penduduk Ebbing karena integritas dan dedikasinya selama ini. Kasus yang menimpa putri Mildred memang terbilang pelik karena tidak ada saksi mata dan jejak DNA yang dapat terlacak di sana. Bill dan pihak kepolisian memang sedang menghadapi jalan buntu, tapi Mildred tidak peduli dan terus menekan pihak kepolisian.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Banyak simpatisan Bill di dalam kota Ebbing, yang menentang perbuatan Mildred. Di dalam kantor polisi, Bill memiliki 1 pengikut setia, yaitu Jason Dixon (Sam Rockwell). Dixon melakukan cara-cara yang kurang baik ketika menghadapi Mildred, cara-cara yang tidak akan di setujui Bill. Apakah Dixon otomatis menjadi antagonis pada Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)? Pada 3/4 film berjalan, ya. Tapi selanjutnya terjadi perubahan karena setiap manusia memiliki sisi baik juga.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Di tengah-tengah tekanan dari seluruh simpatisan Bill, terutama Dixon, Mildred tidak bergeming ataupun mundur. Kabar akan penyakit ganas yang menggerogoti Bill pun tidak membuat Mildred menurunkan Billboard-nya, meskipun terlihat emosi yang campur aduk di raut muka Mildred. Mildred tetap keras kepala dan melawan semuanya dengan caranya sendiri. Begitulah cara Mildred menghadapi kesedihan, penyesalan dan kekosongan yang ia hadapi.

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Three Billboards Ebbing

Di sinilah saya menyadari bahwa Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) bukanlah film misteri atau detektif seperti Murder on the Oriont Express (2017). Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) adalah film drama mengenai kehilangan. Jadi jangan harap untuk melihat penyelesaian kasus kriminal yang tuntas dan penuh intrik atau kejutan yaaa. Film ini lebih menitik beratkan pada efek billboard kepada kehidupan Mildred, Bill dan Dixon. Jalan ceritanya cukup menarik dan tidak membosankan. Terkadang saya bahkan sedikit tersenyum melihat komedi hitam dan sarkasme yang dihadirkan film ini. Akting pemeran Mildred tergolong menonjol dan memang pantas memenangkan Piala Oscar. Bagi saya yang kurang suka dengan film drama, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya yakin para pecinta film drama di luar sana akan memberikan nilai yang jauh lebih tinggi ;).

Sumber: http://www.foxsearchlight.com/threebillboardsoutsideebbingmissouri/

The Maltese Falcon (1941)

The Mantese Falcon

The Maltese Falcon (1941) merupakan film hitam putih yang disebut-sebut sebagai film detektif terbaik sepanjang masa. Saya sendiri sudah mendengar tentang film ini tapi baru sempat menontonnya beberapa minggu yang lalu, ketika anak istri sedang mudik. Mantese Falcon, yang menjadi judul film ini, adalah sebuah patung burung terbuat dari emas yang menjadi rebutan banyak orang. Intrik-intrik dalam perebutan patung inilah yang menjadi daya tarik The Maltese Falcon (1941).

Film ini diawali ketika seorang detektif swasta, Sam Spade (Humphrey Bogart), menyelidiki kematian rekannya yang sedang menyelidiki sebuah kasus atas permintaan Ruth Wonderly (Mary Astor). Semakin dalam Sam menyelidiki, semakin dalam pula keterlibatan Sam di dalam perebutan Mantese Falcon. Dalam perebutan Mantese Falcon, Sam terpaksa harus berhadapan dengan Joel Cairo (Peter Lorre), Kasper Gutman (Sydney Greenstreet) dan Wilmer Cook (Elisha Cook Jr.). Selain itu pihak kepolisian terus mencurigai Sam atas terbunuhnya rekan Sam. Ada indikasi Sam membunuh rekannya agar Sam dapat menikahi istri rekan Sam sendiri.

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

Di sini terlihat bahwa Sam bukanlah orang suci, tapi Sam tetap merupakan detektif handal yang cerdik. Karakter Sam yang keras dan dingin, diperankan dengan sangat baik oleh Opa Bogart. Pada film ini ia memang menjadi pusat perhatian dan nampak menonjol.

The Mantese Falcon

Pada dasarnya The Maltese Falcon (1941) sangat minim latar belakang tempat kejadian dan relatif hanya didominasi oleh dialog-dialog antara Sam, Ruth, Joel, Kasper dan Wilmer. Sebagai karakter yang sesekali muncul selain mereka hanya ada sekretaris Sam, kapten kapal dan 2 orang polisi. Sangat sedikit sekali yaaaa :’D. Tapi saya rasa inilah yang menakjubkan dari The Maltese Falcon (1941). Keseluruhan film terasa menarik untuk diikuti. Jalan cerita dan dialog-dialognya terbilang bagus dan mampu membuat saya penasaran. Mereka dapat melakukan itu semua tanpa special effect abad 21 atau ribuan figuran loh, kereeeen.

The Mantese Falcon

Sudah pasti The Maltese Falcon (1941) merupakan salah satu film misteri dan detektif terbaik yang pernah saya tonton. The Maltese Falcon (1941) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Serial Legion

Setelah beberapa kali memunculkan berbagai karakter komiknya ke dalam serial TV, kali ini Marvel kembali menghadirkan serial superhero yang berkaitan erat dengan X-Men, yaitu serial Legion. Apa kaitan Legion dengan X-Men? Tokoh utama Legion, David Haller (Dan Stevens), adalah kerabat dari salah satu anggota tetap X-Men.

Pada awalnya David tidak menyadari akan kekuatan supernya. Semua peristiwa aneh yang ia alami sejak kecil, didiagnosa sebagai penyakit kejiwaan oleh para dokter. David dirawat disebuah rumah sakit jiwa sampai sebuah insiden terjadi di sana. Seketika itu juga pihak pemerintah dan sekelumpok organisasi mutant misterius, datang mencari David.

Sama seperti pada X-Men, perlakuan pihak pemerintah kepada mutant tidaklah menyenangkan. David akhirnya melarikan diri dari rumah sakit dan berlindung di dalam organisasi mutant misterius yang dipimpin oleh Melanie Bird (Jean Smart). Mereka bermukim di Summerland yang dikelilingi oleh hutan. Di sana David bertemu dengan mutant-mutant lain seperti Sydney Barrett (Rachel Keller), Ptonomy Wallace (Jeremie Harris), Cary Loudermilk (Bill Irwin), Kerry Loudermilk (Amber Midthunder), Oliver Bird (Jermaine Clement) dan lain-lain. Masing-masing memiliki kekuatan yang unik, namun konon kekuatan David lah yang terbesar.

Di Summerland, David mempelajari akan kekuatan supernya. Melanie dan kawan-kawan menduga bahwa diagnosa para dokter jiwa yang memeriksa David, salah besar. Gejala kejiwaan yang David alami adalah kekuatan super David yang belum David pahami. Untuk mahami kekuatannya, David harus menyelami alam pikirannya. Semua ada di dalam pikiran David, alam bawah sadar yang banyak sekali ditampilkan pada serial ini. Terkadang David sendiri tidak dapat membedakan antara khayalan, alam pikiran dan dunia nyata.

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, serial Legion banyak mengeksplorasi dan menggabungkan dunia alam bawah sadar. Terkadang saya pikir, Serial Legion relatif lebih mirip dengan serial Twin Peaks ketimbang serial Agent of S.H.I.E.L.D. atau Daredevil. Sebuah serial superhero yang unik dengan visual, editing dan jalan cerita yang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tidak terlalu bingung meskipun memiliki cerita yang sebenarnya membingungkan, banyak dunia khayalan di sana.

Pada umumnyanya, saya kurang cocok dengan tipe film yang seperti Legion ini, penuh dunial surealis yang blur dan tak jelas. Seolah membawa saya ke dalam pikiran ajaib si tokoh utama. Tapi untuk Legion, saya dapat menikmati serial ini, menanti siapa lawan utama David sebenarnya. Saya rasa visualisasi Legion patut diacungi jempol. Tidak terlalu menggunakan banyak special effect tapi penempatannya pas sehingga terlihat bagus.

Saya rasa serial Legion layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tapi perlu diingat bahwa serial Legion bukanlah tontonan anak-anal walaupun kisahnya didasarkan dari cerita komik ;).

Sumber: http://www.fxnetworks.com/region-fx

The Girl on the Train (2016)

The Girl on the Train (2016) merupakan film yang diadaptasi dari novel misteri karya Paula Hawkins dengan judul yang sama. Bagaimana kira-kira kisahnya? Pada film ini dikisahkan bahwa hampir setiap hari, Rachel Watson (Emily Blunt) pulang pergi menggunakan kereta api. Dalam perjalanan tersebut, ia harus melewati rumah penuh kenangan tempat dahulu ia dan mantan suaminya tinggal. Mantan suami Rachel, Tom Watson (Justin Theroux), sekarang tinggal di rumah tersebut bersama Anna Watson (Rebecca Ferguson) dan anak semata wayang mereka. Anak memang dijadikan alasan Tom untuk selingkuh dengan Anna ketika Tom masih menikah dengan Rachel. Ditambah lagi kebiasan mabuk-mabukan Rachel semakin mempertajam tekad Tom untuk bercerai. Aahhh, alasan tetaplah alasan, Tom sudah sukses menjadi tokoh paling brengsek di film ini. Tapi kok ya pemerannya nampak seperi orang yang  serius, pendiam dan kurang gagah. Secara fisik rasanya kurang cocok untuk memerankan tokoh Tom hehehehe.

Di samping rumah tempat keluarga Tom tinggal, terdapat rumah lain yang menarik perhatian Rachel. Di rumah tersebut tinggal pasangan suami istri Scott Hipwell (Luke Evans) dan Megan Hipwell (Haley Bennett). Setiap melewati rumah tersebut, Rachel melihat bagaimana rukunnya pasangan ini meskipun mereka belum dikaruniai anak. Semua terlihat sempurna sampai pada suatu hari Rachel sekilas melihat Megan bermesraan dengan laki-laki lain di rumah tersebut.

Merasa kecewa dan teringat akan kegagalan rumah tangganya plus pengaruh minuman keras, Rachel memutuskan untuk datang ke rumah Megan dan menegur Megan. Rachel ingin mengungkapkan betapa kurang bersyukurnya Megan karena telah dikaruniai keluarga yang sepenglihatan Rachel, nampak bahagia. Aaahhh padahal tidak semuanya nampak seperti apa yang kita lihat dipermukaan. Setiap keluarga dan individu pasti memiliki masalah masing-masing.

Entah apa yang terjadi, Rachel tiba-tiba terbangun di rumahnya dalam keadaan berlumuran darah. Ia tidak dapat mengingat kejadian di saat ia hendak berbicara dengan Megan. Keadaan semakin buruk ketika Megan dilaporkan hilang dan Rachel menjadi salah satu tersangka. Rachel kemudian berniat untuk menyelidiki kasus ini sendirian. Semakin ia menyelidiki latar belakang Megar dan orang-orang sekitarnya, semakin banyak pula rahasia gelap yang terungkap. Rumput tetangga memang belum tentu lebih sehat daripada rumput sendiri.

Kalau dilihat dalam bentuk tulisan, kisah The Girl on the Train (2016) seolah menarik dan bagus. Tapi sayang pengisahannya dalam bentuk film, jauh dari ekspektasi saya. Alur maju mundur yang disajikan terbilang kurang greget dan membuat saya bosan. Melalui alur maju mundur tersebut memang rahasia tokoh-tokohnya semakin terkuak, tapi tetap saja entah bagaimana Girl on the Train (2016) tetaplah membosankan. Akting Emily Blunt dengan raut muka yang melankolis tidak mampu menyelamatkan film ini. Penyelamat film ini justru adalah pada kisahnya yang sebenarnya memang bagus :). Siapa yang bertanggung jawab terhadap hilangnya Megan pun agak di luar dugaan saya :).

Saya rasa Girl on the Train (2016) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepertinya lebih baik membaca versi novelnya daripada menonton versi filmnya deh.

Sumber: http://www.thegirlonthetrainmovie.com