Ad Astra (2020)

Dari beberapa film luar angkasa yang saya tonton, Ad Astra (2020) merupakan salah satu yang beda dan unik. Film ini mengambil latar belakang dimana teknologi luar angkasa kurang lebih masih seperti teknologi luar angkasa pada tahun 2020. Hanya saja, semuanya sudah diproduksi secara masal dan tersebar di banyak tempat. Bahkan perjalanan Bumi ke planet lain pun sudah dilakukan secara komersial tapi tetap dengan menggunakan teknologi yang masih saya jumpai pada tahun 2020. Bukan menggunakan teknologi super canggih yang belum ada saat ini.

Kemudian adegan pertempurannya terbilang unik. Semua dilakukan di daerah nol gravitasi dengan baju astronot yang tebal dan tidak tahan peluru. Sayang adegan yang keren ini hanya sedikit sekali karena Ad Astra (2020) pada dasarnya merupakan film drama hehehehehe.

Wew, drama? Yaaa! Ad Astra (2020) adalah film drama. Latar belakangnya saja yang agak-agak fiksi ilmiah. Dikisahkan Mayor McBride (Brad Pitt) ditugaskan untuk menyelidiki sumber dari badai elektomagnetik yang mengancam kehidupan di Bumi dan sekitarnya. Tersangka utama dari masalah ini adalah Proyek Lima yang dipimpin oleh Clifford McBride (Tommy Lee Jones). Bertahun-tahun yang lalu, Clifford beserta awaknya dikabarkan hilang bersama dengan Proyek Lima yang mereka kerjakan.

Clifford meninggalkan putra semata wayangnya, Roy McBride. Jadi Roy di sini dikirim untuk menyelidiki proyek yang ayahnya kerjakan. Sayang tidak ada misteri di sana karena pihak pemerintah dikabarkan sudah mengetahui dimana Proyek Lima berada. Status Clifford sesungguhnya pun dijelaskan dengan sangat gamblang tanpa menyisakan sedikitpun misteri di sana. Sangat terlihat sekali bahwa Ad Astra (2020) memang lebih fokus menggali masalah keluarga dan kehidupan. Terkadang, sejauh apapun kita melangkah, masalah kehidupan tetap akan ikut menyertai.

27

Pesan moral dari Ad Astra (2020) memang sangat tegas dan bagus sekali. Special effect yang disajikan pun sukses membangun sebuat atmosfer yang unik. Sayang jalan ceritanya amat sangat membosankan. Saya saja harus minum kopi di tengah-tengah film ini. Tempo yang lambat dan penjelasan yang diumbar sejak awal, terkadang membuat saya kehilangan alasan untuk menonton film ini. Apalagi bagian akhirnya yaaa hanya begitu saja x__x.

Di tengah-tengah kebosanan yang diberikan, Ad Astra (2020) masih mampu memberikan sebuat atmosfer film luar angkasa yang unik denga pesan yang baik. Saya rasa Ad Astra (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.adastramovie.com

Serial Elite

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti film seri berbahasa Spanyol seperti Elite. Yah dahulu kala saya sempat menonton telenovela Amerika Latin berbahasa Spanyol yang sempat populer di Indonesia. Kali ini, saya menonton semacam telenovela, hanya saja kisahnya lebih muda, penuh misteri dan latar belakangnya adalah Spanyol.

Serial Elite mengisahkan kehidupan bebas para remaja yang belajar di Las Encinas, Spanyol. Sekolah Las Encinas adalah sekolah mewah yang sebagian besar muridnya merupakan anak orang kaya. Sedangkan sebagain kecil muridnya merupakan anak miskin yang memperoleh beasiswa. Ok, disinilah unsur telenovela klasik bermain. Kesenjangan antara si miskin dan si kaya terlihat jelas di sana. Kemudian kisah cinta dengan perbedaan status itupun ada di sana. Tak lupa terdapat kisah perselingkuhan di sela-selanya. Klise sekali bukan?

Masalahnya Elite bukanlah telenovela klasik sebab masalah-masalah terkini yang sedikit tabu, diangkat pula dengan sangat vulgar di sana. Elite mengangkat masalah narkoba, AIDS, hamil di luar nikah, diskriminasi terhadap muslim, homoseksualitas, inses, dan lain-lain. Kehidupan murid-murid Las Encinas nampak penuh pesta-pesta saja. Sesekali terlihat mereka belajar, tapi itu jarang sekali. Kalaupun ada karakter yang awalnya baik luar dan dalam, perlahan karakter tersebut akan belok dan terkontaminasi dengan segala keburukan dan kebejatan teman-temannya. Namun ada pula karakter yang pada awalnya terlihat brengsek, lama kelamaan ia justru nampak menjadi karakter yang paling bijak dan setia kawan. Ada pula karakter yang pada awalnya nampak polos dan baik, namun perlahan penonton diperlihatkan bahwa banyak sekali perilaku buruk karakter tersebut yang memicu perselisihan dimana-mana.

Perselisihan dalam percintaan memang menjadi akar masalah di sana. Tapi semua berhasil dimodifikasi dan dikembangkan sehingga nampak menarik. Saya yang bukan pecinta film drama kenapa ikut tertarik menonton Elite? Misteri. Ya, aroma misteri sangat kental terasa ketika menonton Elite. Kebejatan dan kegilan karakter-karakter utamanya tentunya akan menunun mereka ke dalam kasus-kasus kriminal. Yang menarik di sini adalah, terdapat misteri pembunuhan yang menjadi benang merah pada setiap episodenya. Hal inilah yang jarang sekali saya lihat pada film seri berbahasa Spayol lainnya.

Elite memang berhasil  menampilkan sebuah drama remaja yang penuh misteri, putaran dan kejutan di mana-mana. Namun ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh remaja. Film Seri ini sangat dewasa, bukan karena adegan dewasanya. Melainkan karena pesan yang dibawa di dalamnya. Mayoritas karakter pada Elite melakukan perbuatan buruk yang sama sekali tidak pantas untuk dicontoh. Saya sendiri yakin bahwa Elite tidak mencerminkan kehidupan remaja Spanyol di dunia nyata. Kebejatan yang ada memang mencengangkan dan mengejutkan, sekaligus mengingatkan saya bahwa ini hanya cerita karangan saja. Ya seburuk-buruknya moral sebuah lingkungan, sepertinya tidak ada yang seperti ini. Kalaupun aja, sepertinya jarang sekali.

Saya tidak tahu akhir dari kisah misteri drama remaja ini tapi saya berharap akhirnya cukup memuaskan. Selama ini, film-film Spanyol yang pernah saya tonton memilki akhir yang kurang pas. Yaaah siapa tahu Elite ini berbeda hohohohoo. Rasanya film seri Elite layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80200942

Joker (2019)

Mendengar nama Joker, tentunya saya langsung teringat akan tokoh supervillain yang sangat terkenal sebagai lawannya Batman. Joker sudah berkali-kali berganti wajah, mulai dari ketika diperankan oleh Cesar Romero, Mark Hamil, Zach Galifianakis, Jack Nicholson, Heath Ledger sampai Jared Leto. Pergantian ini mengikuti film layar lebar dan film seri Batman yang sudah beberapa kali di-reboot dan hadir dalam berbagai media. Jadi, sudah bertahun-tahun, kehadiran karakter Joker,, bergantung pada Batman. Baru pada tahun 2019-lah tokoh Joker memperoleh panggung yang lebih besar. Melalui Joker (2019), Joaquin Phoenix memperoleh kesempatan untuk memerankan seorang Arthur Fleck yang perlahan-lahan berubah menjadi Joker.

Arthur adalah seorang komedian dan badut yang kerap mendapatkan kemalangan di tengah-tengah kondisi Kota Gotham di era 80-an yang penuh ketidakadilan. Di mata Arthur, semua pejabat, politikus dan pengusaha di Gotham, sama sekali tidak mempedulikan kondisi sosial Gotham yang semakin terpuruk. Diperparah dengan gangguan kejiwaan yang Arthur alami, ia semakin hari semakin berani melakukan tindak kekerasan.

Tindakan kekerasan yang Arthur lalukan, selalu berawal dari perbuatan buruk orang-orang di sekitar Arthur. Saya pribadi merasa bahwa pembunuhan yang pertama kali Athur lakukan memang masih wajar. Namun yang kedua, ketiga dan seterusnya, tidak membuat Arthur nampak sebagai orang baik. Saya kurang setuju dengan ungkapan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Setelah melihat Joker (2019), saya semakin yakin bahwa orang baik adalah orang yang mampu untuk tetap menjadi baik walaupun tersakiti.

Dari segi cerita, tema Joker (2019) terlalu berat bagi anak-anak. Tentunya ini bukanlah film superhero yang pantas ditonton oleh semua umur. Terdapat beberapa adegan kekerasan dan saya sama sekali tidak melihat kelucuan pada film ini meskipun tokoh utamanya adalah seorang badut. Singkat kata Joker (2019) merupakan film tentang orang gila yang berprofesi sebagai badut. Latar belakangnya adalah latar belakang Gotham ketika Bruce Wayne atau Batman masih kecil. Namun kali ini Bruce Wayne hanya mendapatkan porsi yang kecil sekali. Sekarang giliran Joker yang tampil di atas panggung :).

Pada film ini, penonton diajak menyelami pikiran Arthur yang sering mengalami delusi. Pikiran Arthur membuat ia mempercayai hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi di dunia nyata. Hal inilah yang membuat Joker (2019) penuh dengan keambiguan. Penonton dibiarkan menerka-nerka kejadian manakah yang nyata, dan kejadian manakah yang hanya khayalan Arthur saja. Semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi dan memukau.

Joker (2019) memang mampu menampilkan sebuah tontonan yang memberikan berbagai hal yang menarik untuk dibahas. Tapi sayang, bagi saya pribadi, film ini kadang nampak terlalu bertele-tele dan sangat “drama”. Olehkarena itu saya pribadi memberikan Joker (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ingat, jangan bawa anak-anak untuk menonton Joker (2019), ini bukan film superhero! :).

Sumber: http://www.jokermovie.net

Knives Out (2019)

Kisah detektif selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika masih sekolah dulu, novel detektif dari Alfred Hitchcock dan Agatha Christie sudah menjadi bacaan saya. Sayang beberapa kisah detektif yang diangkat ke layar kaca, tidak sebagus novelnya. Mungkin juga hal ini dikarenakan saya sudah tahu jalan cerita beserta akhir ceritanya :’D. Knives Out (2019) tidak dibuat berdasarkan novel apapun. Jadi saya benar-benar buta akan film ini. Trailer-nya saja belum pernah lihat hehehee.

Berbeda dengan beberapa film detektif yang pernah saya lihat, mayoritas sudut pandang Knives Out (2019) justru dilihat dari sisi seorang Marta Cabrera (Ana de Armas), salah satu tersangka pembunuhan. Marta adalah perawat dari seorang penulis novel misteri terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan tewas meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya yaitu Walter “Walt” Thrombey (Michael Shannon), Donna Thrombey (Riki Lindhome), Jacob Thronbey (Jaeden Martell), Joni Thrombey (Toni Collete), Megan “Meg” Thrombey (Katherine Langford), Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), Richard Drysdale (Don Johnson), dan Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans). Tak lupa pula ibu Harlan yang sudah sangat uzur, Wanetta Thrombey (Katherine Elizabeth Borman). Yahh itulah nama-nama tersangka atas sebuah kasus yang masih dipersebatkan apakah itu merupakan kasus kriminal atau murni hanya bunuh diri saja.

Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) beserta kepolisian setempat datang ke TKP dan melakukan penyelidikan. Melihat bagaimana Blanc melakulan penyelidikan, sungguh unik apalagi kalau dilihat dari sudut pandang salah satu tersangka. Setiap tersangka pada kasus ini memiliki ketergantungan finansial terhadap Harlan. Bahkan tersangka yang pada awalnya minim motif, tiba-tiba memiliki motif.

 

Saya suka dengan bagaimana Knives Out (2019) memutar-mutar fakta yang ada. Film ini sukses membuat saya penasaran dan sama sekali tidak mengantuk sampai akhir film. Akhir film ini ya sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu mengejutkan, tapi jalan ceritanya sungguh menarik. Banyaknya karakter yang terlibat sama sekali tidak membuat saya kebingungan. Latar belakang dan motif setiap tersangka berhasil disampaikan dengan sangat informatif. Komedi hitam yang ada di dalamnya pun mengena meski agak sedikit basi :’D.

Tanpa saya duga, ternyata akting Daniel Craig terbilang sangat baik. Ketila melihat karakter detektif yang ia perankan, saya sama sekali tidak melihat James Bond di sana. Craig seolah menjadi detektif handal dengan aksen koboy yang kental.

Saya rasa, Knives Out (2019) adalah film detektif terbaik sepanjang tahun 2019. Film arahan Rian Johnson ini sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: knivesout.movie

Contagion (2011)

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pada awalnya memakan banyak korban di Kota Wuhan, Cina Daratan sana. Karena penyakit ini mudah sekali menular, maka COVID-19 berhasil menjalar ke negara-negara lain. Tak terelekan, Indonesia pada akhirnya terkena juga. Full Work from Home sampai-sampai diberlakukan di kantor saya. Hal ini tentunya menimpa kantor-kantor lain. Isu hoax dan kekhawatiran akan ekonomi Indonesia turut menjadi teror tambahan bagi warga biasa seperti saya.

Corona

Melihat dan merasakan keadaan seperti ini, membuat saya teringat akan sebuah film lama yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Segala hal yang ada pada film Contagion (2011), kembali hinggap di benak saya. Beberapa hal yang dikisahkan pada film tersebut, memang sedang terjadi saat ini.

Corona

Corona

Corona

Pada Contagion (2011) dikisahkan bahwa dunia dihebohkan oleh sebuah virus mematikan yang menular dengan sangat cepat. Asal mula virus tersebut melibatkan kelelawar di daerah Cina yang pada akhirnya mampu membuat manusia sakit. Dengan gejala awal pilek, batuk, demam, lama kelamaan virus ini dapat membuat orang-orang mengalami sesak nafas dan meninggal.

Dengan penyebaran yang sangat cepat, korban berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya korban karena penyakit yang ditimbulkan, akantetapi dampak sosial dan ekonomi pun dihadirkan di sini. Semua dihadirkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari korban, keluarga korban, satgas penanganan bencana, militer, pedagang obat palsu dan lain-lain. Masing-masing harus berhadapan dengan social distance dan lockdown selama virus ini masih belum ada obat dan vaksinnya. Hanya saja fokus dari Contagion (2011) sepertinya hanyalah pengaruh virus di Amerika dan Cina saja. Negara-negara lain memang tidak terlalu terlihat. Yah mungkin durasinya akan terlalu panjang ya kalau tidak terlalu fokus.

Corona

Corona

Corona

Corona

 

Beda wilayah, beda pula kondisinya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat Contagion (2011) tidak 100% menggambarkan kondisi penyebaran virus di Indonesia. Ada beberapa hal pula yang memang tidak atau belum terjadi. Kalau dibandingkan dengan COVID-19, virus pada Contagion (2011) terlihat lebih mematikan dan penyebarannya super cepat. Jadi dampaknya pun memang lebih ekstrim. Syukurlah COVID-19 tidak seganas virus pada film tersebut. Banyak konflik-konflik yang pada awalnya terlihat menarik. Apakah awal yang menarik ini akan terus bertahan sepanjang film?

Awal dan tengah cerita yang membuat penasaran dan mengharukan, kurang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga saya merasa sedikit mengantuk ketika menonton Contagion (2011) menjelang bagian akhirnya. Entah kenapa, sampai menjelang akhir, saya tidak melihat klimaks yang menegangkan. Sayang sekali, padahal bagian awal film ini sangat menjanjikan loh. Beberapa konflik yang muncul memiliki penyelesaian yang sangat biasa dan tidak menarik, yah paling hanya begitu-begitu saja. Tapi tetap harus saya akui bahwa pesan moral akan pengorbanan, saling tolong menolong dan saling menghargai sangat kental pada film ini.

Corona

Yaah saya tahu bahwa banyak film-film lain yang mengangkat tema penularan virus, tapi sementara ini Contagion (2011) tetaplah yang terbaik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Bagi teman-teman yang sedang stres atau khawatir akan COVID-19, sebaiknya jangan menonton film ini. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang saat ini belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi mungkin saja terjadi. Memang ada beberapa hal pada Contagion (2011) yang saya harapkan tidak terjadi di dunia nyata, tapi ada beberapa hal baik pula yang saya sangat berharap dapat terjadi secepatnya di dunia nyata. Akhir kata, semoga COVID-19 dapat ditemukan vaksin dan obatnya. Sampai saat saya menulis tulisan ini, jumlah pasien dan korban COVID-19 terus bertambah, beberapa malah berasal sangat dekat dari rumah saya. Stay safe everyone …

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/contagion/

The Greatest Showman (2017)

Mengambil latar belakang Amerika dan Eropa tempo dulu, The Greatest Shiwman (2017) mengisahkan perjalanan Phineas Taylor Barnum (Hugh Jackman) dari seorang anak miskin menjadi raja sirkus yang terkenal di seluruh Amerika dan Eropa. Awalnya, Barnum kecil kehilangan orang tuanya di umur yang sangat belia. Ia pun hidup menggelandang di jalanan.

Berkat kerja keras dan sedikit keberuntungan, Barnum akhirnya dapat menikahi Charity Halllet (Michelle Williams), putri mantan majikan ayah Barnum yang selalu memadang Barnum sebelah mata. Bahkan sampai Barnum memiliki 2 anak pun, hubungannya dengan sang mertua tetap buruk. Barnum menduga bahwa ini dikarenakan finansial Barnum yang kembang kempis. Hal ini diperparah ketika Barnum terkena PHK. Apa yang harus ia lakukan?

Barnum meminjam uang ke Bank dan membuka sebuah Museum lilin yang sepi pengunjung. Kemudian ia melakukan inovasi dengan mengadakan pertunjukan manusia unik di dalam Museumnya. Ada wanita berjenggot, manusia anjing, lelaki tertinggi di dunia, lelaki terberat di dunia, kembar albino, manusia dengan tato diseluruh tubuhnya, manusa kerdil dan lain-lain. Para pekerja Barnum ini memiliki penampilan yang unik sehingga mereka tersingkirkan dari masyarakat pada saat itu. Di sini Barnum terlihat berupaya untuk mengangkat kaum yang tersingkirkan agar dapat berkarya dan diterima di masyarakat.

Cobaan datang ketika pertunjukan Barnum yang kontroversial berhasil memberikannya kekayaan dan kepopuleran. Barnum seakan haus akan pengakuan sampai ia lupa akan tujuan utama ia berbisnis. Bukan pengakuan dari mertuanya, bukan pula demi mengangkat derajat kaum yang tersingkirkan. Melainkan demi kedua anak tercintanya agar kelak mereka tidak mengalami apa yang Barnum kecil alami.

Sekilas The Greatest Showman (2017) terihat seperti sebuah film yang fokusnya berbicara mengenai perbedaan dan kesetaraan. Ahhh, tidak hanya itu, ternyata film ini berbicara pula mengenai keluarga :). Pada akhirnya semua kekayaan dan ketenaran itu tidak akan berarti tanpa keluarga.

Film ini memang memiliki beberapa konflik yang berpotensi untuk diolah tapi The Greatest Showman (2017) nampak kurang mendramatisir konflik-konflik tersebut. Semua nampak seperti anti klimaks yang hanya lewat sesaat.

Beruntung nyanyian dan sinematografi The Greatest Showman (2017) terbilang bagus dan memukau. Sepanjang film, saya seperti melihat sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Sountrack film ini patut diacungi jempol deh pokoknya. Saya saya yang kurang suka dengan drama musikal, ikhlas untuk memberikan The Greatest Showman (2017) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya inilah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton.

Penilaian saya sebagai masyarakat awam, bertolak belakang dengan penilaian mayoritas kritikus film. Ketika The Greatest Showman (2017) baru dirilis, film ini langsung mendapatkn ulasan negatif karena terdapat beberapa kekurangan dalam special effect dan detail penarinya. Kekurangan yang fatal adalah kepalsuan dari cerita yang di angkat. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Barnum ternyata memang benar-benar pernah ada. Sejarah mencatat bahwa Barnum merupakan politikus dan pebisnis yang berhasil menjadi raja sirkus di era tahun 1800-an. Menurut sejarah, Barnum di kehidupan nyata tidak sebersih Barnum pada The Greatest Showman (2017). Pada kenyataannya Barnum asli diduga melakukan eksploitasi terhadap orang-orang yang pada tahun 1800-an dianggap aneh. Ia dikenal sebagai seorang pebisnis yang bersedia melakukan apapun demi uang. The Greatest Showman (2017) dianggap mencuci dan mensucikan dosa-dosa Barnum di muka umum.

Terus terang saya yang kurang teliti ini tidak melihat kesalahan penari atau special effect yang buruk, semua nampak baik-baik saja :). Saya sendiri lebih memilih untuk menganggap The Greatest Showman (2017) sebagai film yang tidak dibuat berdasarkan kisah nyata. Toh kisah Barnum pada film ini memang jauh melenceng dari kisah hidup asli Barnum, mulai dari masa kecilnya sampai masa kejayaannya. Andaikan nama karakter utama The Greatest Showman (2017) diganti menjadi Asep, Ucok atau Joko, penilaian saya tidak akan berubah. Kesalahan film ini adalah menggunakan nama Barnum sebagai karakter utamanya.

Sumber: family.foxmovies.com/movies/the-greatest-showman

Hereditary (2018)

Sejak beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk menonton sebuah film horor yang berjudul Hereditary (2018). Karena berbagai kesibukan, akhirnya saya baru dapat menontonnya beberapa hari kemudian. Film ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga setelah kehilangan ibu/nenek mereka. Di sana terdapat Annie Grahan (Toni Collette), pembuat miniatur mini yang baru saja kehilangan ibunya. Terdapat pula 2 anak Annie yaitu Charlie Graham (Milly Shapiro) dan Peter Graham (Alex Wolff). Memimpin keluarga kecil ini, Steve Graham (Gabriel Byrne) sebagai suami dari Annie dan bapak bagi Peter dan Charlie.

Dari awal, keluarga ini nampak muram dan aneh. Mereka harus menghadapi sejarah buruk keluarga Annie yang dilingkupi oleh depresi dan penyakit kejiwaan. Ayah, ibu dan saudara laki-laki Annie mengalami masalah kejiwaan sebelum mereka meninggal. Annie pun beberapa kali tidur sambil berjalan dan tak sadar akan apa yang dia perbuat. Hubungan di dalam keluarga ini agak saling asing antara satu dan lainnya. Rasanya hanya Steve saja yang nampak tegar dan berusaha merangkul agar keluarga ini tetap utuh. Tak heran kalau mereka nampak jarang tersenyum atau bahagia.

Tempo Hereditary (2018) berjalan lambat sekali sehingga saya merasa bosan dengan separuh bagian awal dari film ini. Masalah kejiwaan seakan menjadi topik utama Hereditary (2018). Hal ini membuat Hereditary (2018) nampak seperti film drama tentang orang stres dan gila saja. Loh? Mana horornya? Perlahan unsur horor dari Hereditary (2018) muncur mulai dari pertengahan film. Horor dimunculkan bukan dalam wujud jump scare yang didukung dengan suara nyaring dadakan. Jangan pula berharap akan ada banyak monster-monsteran di sana. Horor yang dihadirkan adalah horor psikologis yang anehnya, dapat membuat saya merinding.

Berbagai peristiwa tragis yang Annie dan keluarga hadapi memang misterius. Penonton diajak untuk menebak-nebak apakah semua ini disebabkan oleh faktor supranatural atau faktor kegilaan semata. Sayang, misteri yang dihadirkan kurang berhasil membuat saya penasaran. Beberapa bagian pada jalan cerita film ini, terbilang membosankan. Saya pribadi hanya dapat memberikan Heriditary (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: hareditary.movie