Ad Astra (2020)

Dari beberapa film luar angkasa yang saya tonton, Ad Astra (2020) merupakan salah satu yang beda dan unik. Film ini mengambil latar belakang dimana teknologi luar angkasa kurang lebih masih seperti teknologi luar angkasa pada tahun 2020. Hanya saja, semuanya sudah diproduksi secara masal dan tersebar di banyak tempat. Bahkan perjalanan Bumi ke planet lain pun sudah dilakukan secara komersial tapi tetap dengan menggunakan teknologi yang masih saya jumpai pada tahun 2020. Bukan menggunakan teknologi super canggih yang belum ada saat ini.

Kemudian adegan pertempurannya terbilang unik. Semua dilakukan di daerah nol gravitasi dengan baju astronot yang tebal dan tidak tahan peluru. Sayang adegan yang keren ini hanya sedikit sekali karena Ad Astra (2020) pada dasarnya merupakan film drama hehehehehe.

Wew, drama? Yaaa! Ad Astra (2020) adalah film drama. Latar belakangnya saja yang agak-agak fiksi ilmiah. Dikisahkan Mayor McBride (Brad Pitt) ditugaskan untuk menyelidiki sumber dari badai elektomagnetik yang mengancam kehidupan di Bumi dan sekitarnya. Tersangka utama dari masalah ini adalah Proyek Lima yang dipimpin oleh Clifford McBride (Tommy Lee Jones). Bertahun-tahun yang lalu, Clifford beserta awaknya dikabarkan hilang bersama dengan Proyek Lima yang mereka kerjakan.

Clifford meninggalkan putra semata wayangnya, Roy McBride. Jadi Roy di sini dikirim untuk menyelidiki proyek yang ayahnya kerjakan. Sayang tidak ada misteri di sana karena pihak pemerintah dikabarkan sudah mengetahui dimana Proyek Lima berada. Status Clifford sesungguhnya pun dijelaskan dengan sangat gamblang tanpa menyisakan sedikitpun misteri di sana. Sangat terlihat sekali bahwa Ad Astra (2020) memang lebih fokus menggali masalah keluarga dan kehidupan. Terkadang, sejauh apapun kita melangkah, masalah kehidupan tetap akan ikut menyertai.

27

Pesan moral dari Ad Astra (2020) memang sangat tegas dan bagus sekali. Special effect yang disajikan pun sukses membangun sebuat atmosfer yang unik. Sayang jalan ceritanya amat sangat membosankan. Saya saja harus minum kopi di tengah-tengah film ini. Tempo yang lambat dan penjelasan yang diumbar sejak awal, terkadang membuat saya kehilangan alasan untuk menonton film ini. Apalagi bagian akhirnya yaaa hanya begitu saja x__x.

Di tengah-tengah kebosanan yang diberikan, Ad Astra (2020) masih mampu memberikan sebuat atmosfer film luar angkasa yang unik denga pesan yang baik. Saya rasa Ad Astra (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.adastramovie.com

Vivarium (2020)

Misteri adalah sesuatu yang saya sukai dari sebuah film. Hal itulah yang membuat saya tertarik untuk menonton Vivarium (2020). Singkat kata, dikisahkan Tom (Jesse Eisenberg) dan Emma (Imogen Poots) adalah pasangan muda yang sedang mencari rumah. Pencarian rumah, membawa keduanya ke dalam sebuah kompleks perumahan. Anehnya, setelah memasuki kompleks perumahan tersebut, mereka tidak dapat menemukan jalan pulang atau keluar dari sana.

Mereka adalah satu-satunya penguhuni di sana, sampai pada suatu hari, mereka menerima sebuah kotak berisi bayi. Secara misterius segala kebutuhan hidup mereka pun disedikan di dalam kotak kardus yang entah kapan diisinya, dan oleh siapa diisinya. Mereka seolah dipaksa untuk membangun sebuah keluarga baru di tempat tersebut. Apa yang terjadi pada Tom dan Emma?

Yang terjadi adalah …. sumpah tidak akan terjawab sampai bagian paling paling paling paling akhir dari Vivarium (2020). Saya sadar bahwa terkadang memang ada film yang sampai pada bagian akhir masih menyisakan sebuah misteri yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk dipikirkan oleh penikmat film. Tapi Vivarium (2020) menahan segala misterinya sampai akhir. Film ini hanya mengisahkan pengalaman misterius Tom dan Emma saja, tanpa mau membuka sedikitpun tabir misteri dibalik itu.

Jalan ceritanya pun terbilang membosankan. Misteri dan unsur fiksi ilmiah yang disajikan gagal membuat saya terpaku penasaran di depan layar. Dengan latar belakang tempat kejadian yang itu-itu saja, seharusnya ada gebrakan yang mampu memecahkan rasa kantuk saya.

Kalau teman-teman menginginkan hiburan, jauhi film ini. Jangan buang-buang waktu menontonnya. Tapi teman-teman menginginkan sebuah film fiksi ilmiah yang sangat misterius, bisa coba tonton Vivarium (2020). Bagi saya pribadi sih, unsur hiburan film ini sangat minus. Sepertinya Vivarum (2020) adalah film fiksi ilmiah penuh misteri, tanpa arah dan tujuan yang sangat absurd. Maaf saya hanya dapat memberikan Vivarium nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: vertigofilms.com

Bloodshot (2020)

Bloodshot adalah tokoh superhero pada buku komik keluaran Valiant Comics yang sudah hadir sejak 1992. Saya sendiri belum pernah membaca Valiant Comics, popularitas penerbit yang satu ini tentunya berada di bawah Marvel Comics dan DC Comics. Tapi Valiant Comics bersama dengan Bloodshoot memiliki komunitas penggemarnya sendiri yang agak kaget ketika mengetahui bahwa Bloodshot akan diangkat ke layar lebar.

Pada versi komiknya, Bloodshot dikisahkan sebagai tentara super dengan darah yang mengandung robot super kecil berukuran nano. Robot-robot tersebut membuat Bloodshot menjadi super kuat, mampu menyembuhkan diri sendiri, mampu berinteraksi langsung dengan berbagai super komputer dan lain sebagainya. Metode yang Bloodshot lakukan terbilang sadis dan penuh darah. Bagaimana mungkin karakter seperti ini masuk ke layar lebar?

Penyesuaian tentunya dilakukan di mana-mana sehingga Bloodshot (2020) tidak menampilkan adegan yang sangat sadis apalagi gory. Kemampuan Bloodshot atau Ray Garrison (Vin Diesel) pada Bloodshot (2020) sebenarnya tak jauh berbeda dengan versi komiknya. Setelah disergap, disekap dan dibunuh oleh beberapa orang misterius, Ray kembali hidup dengan robot-robot nano di dalam darahnya. Seketika pula Ray dapat menyembuhkan dirinya sendiri, menjadi super kuat dan dapat langsung berinteraksi dengan satelit dan berbagai teknologi canggih lainnya. Nah, mirip sekali dengan komiknya bukan? Hanya sadisnya saja kok yang dikurangi :). Yah tapi para penggemar komik Bloodshot tetap kecewa karena perbedaan ini. Selain itu motivasi hidup Bloodshot pun dinilai agak melenceng.

Baik, kita masuk ke dalam tujuan hidup Bloodshot. Pada Bloodshot (2020) tujuan hidup Bloodshot nampaknya dipacu oleh tragedi yang dialami oleh istrinya. Padahal pada versi komiknya, ikatan atara Bloodshot dan anaknya nampak lebih penting ketimbang apapun. Yah memang sih, motivasi terkait anak tentunya akan lebih mengharukan dan memberikan warna di tengah-tengah ingatan Bloodshot yang agak kabur.

Bloodshot sendiri tidak tahu ingatan mana yang benar dan mana yang salah. Kekuatan Bloodshot memang besar, tapi ia mengalami lupa ingatan sehingga semuanya bisa saja salah atau benar. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang cukup menghibur karena saya belum menonton trailer Bloodshot (2020) sebelum menonton filmnya :’D. Wow, kenapa trailernya? Trailer dari Bloodshot (2020) merupaka blunder karena trailer tersebut membocorkan inti cerita Bloodshot (2020) beserta semua adegan aksi terbaik pada Bloodshot (2020).

Memang apa sih adegan terbaik Bloodshot (2020)? Tentunya adegan dimana Bloodshot menunjukkan kemampuan robot nano di darahnya. Itu saja sudah dtampilkan pada trailernya. Sisanya hanya adegan aksi superhero yang terlihat standard untuk film keluaran 2020, agak mengecewakan. Apalagi Vin Diesel sepertinya gagal memberikan keunikan bagi karakter Bloodshot. Vin Diesel memerankan Bloodshot seperti ketika ia memerankan karakter Dominic Toretto pada franchise Fast & Furious.Bloodshot (2020) sudah seperti kisah ketika Dominic Toretto berhenti balapan liar dan berubah menjadi superhero :’D.

Ahhh, saya pribadi tidak terlalu masalah dengan perbedaan antara versi komik denga versi filmnya. Jalan cerita terkait ingatan Bloodshot, cukup menghibur bagi saya yang tidak menonton trailer Bloodshot (2020). Adegan aksi Bloodshot lumayan baguslah meski sebagian besar terlihat agak basi ya. Dengan demikian, Bloodshot (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya” Lumayan”. Jangan tonton spoiler Bloodshot (2020), spoiler alert. Nah kalau terlanjur menonton spoilernya bagaimana? Tontonlah film yang lain, dari trailerny saja sudah terlihat jalan ceritanya akan dibawa ke arah mana :(.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/bloodshot

 

Contagion (2011)

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pada awalnya memakan banyak korban di Kota Wuhan, Cina Daratan sana. Karena penyakit ini mudah sekali menular, maka COVID-19 berhasil menjalar ke negara-negara lain. Tak terelekan, Indonesia pada akhirnya terkena juga. Full Work from Home sampai-sampai diberlakukan di kantor saya. Hal ini tentunya menimpa kantor-kantor lain. Isu hoax dan kekhawatiran akan ekonomi Indonesia turut menjadi teror tambahan bagi warga biasa seperti saya.

Corona

Melihat dan merasakan keadaan seperti ini, membuat saya teringat akan sebuah film lama yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Segala hal yang ada pada film Contagion (2011), kembali hinggap di benak saya. Beberapa hal yang dikisahkan pada film tersebut, memang sedang terjadi saat ini.

Corona

Corona

Corona

Pada Contagion (2011) dikisahkan bahwa dunia dihebohkan oleh sebuah virus mematikan yang menular dengan sangat cepat. Asal mula virus tersebut melibatkan kelelawar di daerah Cina yang pada akhirnya mampu membuat manusia sakit. Dengan gejala awal pilek, batuk, demam, lama kelamaan virus ini dapat membuat orang-orang mengalami sesak nafas dan meninggal.

Dengan penyebaran yang sangat cepat, korban berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya korban karena penyakit yang ditimbulkan, akantetapi dampak sosial dan ekonomi pun dihadirkan di sini. Semua dihadirkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari korban, keluarga korban, satgas penanganan bencana, militer, pedagang obat palsu dan lain-lain. Masing-masing harus berhadapan dengan social distance dan lockdown selama virus ini masih belum ada obat dan vaksinnya. Hanya saja fokus dari Contagion (2011) sepertinya hanyalah pengaruh virus di Amerika dan Cina saja. Negara-negara lain memang tidak terlalu terlihat. Yah mungkin durasinya akan terlalu panjang ya kalau tidak terlalu fokus.

Corona

Corona

Corona

Corona

 

Beda wilayah, beda pula kondisinya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat Contagion (2011) tidak 100% menggambarkan kondisi penyebaran virus di Indonesia. Ada beberapa hal pula yang memang tidak atau belum terjadi. Kalau dibandingkan dengan COVID-19, virus pada Contagion (2011) terlihat lebih mematikan dan penyebarannya super cepat. Jadi dampaknya pun memang lebih ekstrim. Syukurlah COVID-19 tidak seganas virus pada film tersebut. Banyak konflik-konflik yang pada awalnya terlihat menarik. Apakah awal yang menarik ini akan terus bertahan sepanjang film?

Awal dan tengah cerita yang membuat penasaran dan mengharukan, kurang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga saya merasa sedikit mengantuk ketika menonton Contagion (2011) menjelang bagian akhirnya. Entah kenapa, sampai menjelang akhir, saya tidak melihat klimaks yang menegangkan. Sayang sekali, padahal bagian awal film ini sangat menjanjikan loh. Beberapa konflik yang muncul memiliki penyelesaian yang sangat biasa dan tidak menarik, yah paling hanya begitu-begitu saja. Tapi tetap harus saya akui bahwa pesan moral akan pengorbanan, saling tolong menolong dan saling menghargai sangat kental pada film ini.

Corona

Yaah saya tahu bahwa banyak film-film lain yang mengangkat tema penularan virus, tapi sementara ini Contagion (2011) tetaplah yang terbaik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Bagi teman-teman yang sedang stres atau khawatir akan COVID-19, sebaiknya jangan menonton film ini. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang saat ini belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi mungkin saja terjadi. Memang ada beberapa hal pada Contagion (2011) yang saya harapkan tidak terjadi di dunia nyata, tapi ada beberapa hal baik pula yang saya sangat berharap dapat terjadi secepatnya di dunia nyata. Akhir kata, semoga COVID-19 dapat ditemukan vaksin dan obatnya. Sampai saat saya menulis tulisan ini, jumlah pasien dan korban COVID-19 terus bertambah, beberapa malah berasal sangat dekat dari rumah saya. Stay safe everyone …

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/contagion/

Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Pada penghujung 2019 ini, hadir penutup dari sebuah trilogi sekuel dari Trilogi Star Wars, yaitu Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Seperti kedua film pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017), film yang kembali disutradarai oleh J. J. Abrams ini mengambil latar belakang bertahun-tahun setelah Trilogi Star Wars berakhir. Trilogi Star Wars terdiri dari 3 film karya George Lucas yang legendaris. Bertahun-tahun kemudian, Disney membeli hak cipta Star Wars dan mulai membuat trilogi sekuel sebagai kelanjutan dari Trilogi Star Wars. Diawali dari Star Wars: The Force Awakens (2015), kemudian dilanjutkan oleh Star Wars: The Last Jedi (2017), lalu ditutup oleh Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Sayang sekali kedua film Star Wars sebelum Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), sudah memperoleh kritikan pedas dari mayoritas fans garis keras Star Wars. Beberapa justru lebih memilih Star Wars tamat pada Trilogi Star Wars dan tidak ada trilogi kedua. Wah wah wah, mampukah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menjawab semua kritikan dan keraguan yang telah muncul?

Pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Rey (Daisy Ridley), Poe Dameron (Oscar Issac) & Finn (John Boyega) berburu sebuah alat yang dapat menemukan lokasi Kaisar Palpatine (Ian McDiarmid), biang keladi dari segala kekacauan terjadi selama ini. Palpatine kembali muncul ke permukaan setelah menjadi antagonis utama pada Trilogi Prekuel Star Wars dan Trilogi Star Wars.

Dalam perjalanannya tentunya terjadi petempuran hebat antara pasukan pemberontak pimpinan Leia Organa (Carrie Fisher) dengan pasukan First Order pimpinan Kylo Ren (Adam Driver). Tak lupa Kylo pun terus mengejar Rey baik lewat telepati maupun langsung. Ia berusaha mempengaruhi agar Rey berbalik arah menjadi Sith. Rey pun masih berharap agar Kylo menemukan kebaikan dan kembali menjadi Jedi. Pertarungan antara Jedi dan Sith sangat kental mewarnai film yang satu ini.

Pada dunia Star Wars, terdapat individu-individu yang memiliki bakat atau sensitif terhadap sebuah kekuatan yang disebut The Force. Sith adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kebencian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat jahat mahluk hidup. Sedangkan Jedi adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kasih sayang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Pada Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017) dikisahkan bahwa Rey dan Leia bisa dibilang merupakan Jedi terakhir yang masih hidup. Kylo dan Palpatine merupakan Sith kuat yang terus merekrut orang-orang baru agar bergabung menjadi Sith.

Para Jedi dan tokoh utama pada Trilogi Star Wars, berguguran pada sekuel kedua trilogi ini. Tentunya seorang tokoh legendaris Star Wars akan tewas lagi pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Siapa tokohnya sih mudah sekali ditebak, lha hanya dia seorang saja yang masih tersisa :’D. Yang ternyata gagal saya tebak adalah siapakah Rey sebenarnya. Pada film penutup ini, identitas Rey mulai terkuak dan agak mengejutkan. Terjawab sudah mengapa kekuatan The Force milik Rey kuat sekali.

Pada film ini, saya menikmati pertarungan fisik dan mental antara Sith dan Jedi. Semuanya tersaji dengan visual yang cantik dan memukau. Dari segi cerita, film ini mengingatkan saya pada film terakhir pada Trilogi Star Wars. Agak mirip tapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Hal ini menjadi perdebatan karena banyak kritikus yang kurang suka dengan hal ini. Saya pribadi? Suka sekali, bagus dan masuk akal kok alurnya.

Kalau dilihat sebagai sebuah film Star Wars, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) memang seolah mampu berdiri sendiri dengan sebuah cerita yang lumayan bagus. Namun kalau disatukan dengan dua film sebelumnya sebagai sebuah trilogi sekuel, maka kesan yang saya dapat adalah … berantakan.

Trilogi sekuel Star Wars terdiri dari 3 film yaitu Star Wars: The Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) disutradarai oleh J. J. Abrams, sedangkan Star Wars: The Last Jedi (2017) disutradarai oleh Rian Johnson. Lucunya, ada beberapa hal yang “ditanamkan” oleh J. J. Abrams pada Star Wars: The Force Awakens (2015), tidak dilanjutkan atau digunakan oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Nah kini, pada film penutupnya, J. J. Abrams seperti membalas Rian Johnson dengan tidak menyentuh beberapa hal yang sudah “ditanamkan” oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Lihat saja berapa lama karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) muncul pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) :P. Rose seolah seperti pemain figuran saja di sana hohohohoho. Bukankah ketiga film tersebut seharusnya saling berkesinambungan? Perbedaan siapa yang menyutradarai seharusnya tidak menjadi alasan. Coba saja lihat film-film MCU (Marvel Cinematics Universe). Film-film tersebut sukses besar menghasilnya kesinambungan dibawah bendera Disney. Disney sukses besar ketika membuat film-film MCU. Kenapa mereka gagal pada Star Wars? Disney seolah-olah beberapa kali merubah roadmap atau rancangan besar dari trilogi sekuel Star Wars. Mungkinkah ini karena kritikan pedas fans berat Star Wars.

Kylo Ren adalah satu-satunya karakter yang konsisten dan berkesinambungan pada ketiga film tersebut. Finn dan Rey nampak sekali berubah-ubah arahannya. Misteri akan identitas Rey pun dibuat sebagai sebuah senjata pamungkas. Well, itu memang berhasil bagi saya pribadi. Meskipun setelah menonton Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), saya jadi kurang setuju dengan judulnya :’D.

Secara garis besar, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan bagi saya. Kekurangan dalam plot dan ketidaksinkronan dengan film sebelumnya, cukup impas terbayar dengan adegan aksi yang menyenangkan dan akhir yang lumayan diluar dugaan saya. Saya bulan penggemar berat franchise Star Wars, saya hanya dapat memberikan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya sadar betul J. J. Abrams mengubah dan tidak memanfaatkan beberapa hal baru dari film Rian Johnson, tapi justru itulah yang saya suka. Terus terang saya kurang suka dengan kemana sekuel trilogi ini dibawa oleh Rian Johnson. Syukurlah J. J. Abrams tidak melanjutkannya :P.

Sumber: http://www.starwars.com

Detective Pikachu (2019)

Melihat judulnya, Detective Pikachu (2019) pasti merupakan film dengan latar belakang dunia Pokemon. Dunia dimana terdapat mahluk-mahluk imut bernama Pokemon, berdatangan dan tersebar di seluruh permukaan Bumi. Pikachu merupakan jenis Pokemon yang memiliki kemampuan memanipulasi sengatan listrik. Yah, dari berbagai jenis Pokemon yang ada, Pikachu merupakan yang paling populer. Bermula dari sebuah video game di tahun 1996, Pokemon telah berhasil meraih popularitas dan hadir di berbagai media lain. Tapi baru kali inilah Pikemon hadir film versi live action -nya. Kemarin-kemarin sih yang keluar versi film kartunnya saja.

Berbeda dengan film kartun dan video games -nya, Detective Pikachu (2019) tidak mengambil topik pelatih Pokemon atau perburuan Pokemon. Kali ini Pikachu (Ryan Reynolds) berperan sebagai detektif yang menyelidiki sebuah kasus ;). Sayang pikachu yang satu ini kehilangan ingatannya saat rekan kerjanya dikabarkan tewas terbunuh.

Biasanya, manusia tidak akan mengerti apa ucapan Pokemon. Untuk Pikachu saja, manusia biasa pasti hanya akan mendengar kata-kata “pika pika pika” dari mulut Pikachu. Kali inu, terjadi sebuah keajaiban. Tim Goodman (Justice Smith) tiba-tiba dapat mengerti semua ucapan Pikachu. Tim sendiri ternyata merupakan anak semata wayang dari almarhum rekan Pikachu. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap misteri kematian aya Tim. Tak lupa hadir pula pertolongan dari Lucy Stevens (Kathryn Newton), jurnalis muda yang mencurigai bahwa kematian ayah Tim disebabkan oleh sesuatu yang besar. Ternyata dugaan Lucy tidak meleset, sebab penyelidikan mereka memang lambat laun melibatkan seorang pengusaha kaya dan Pokemon terkuat di muka Bumi.

Dari sekali melihat tokohnya saja, sudah dapat ditebak siapa yang sebenarnya jahat. Judul film ini menggunakan kata-kata detektif tapi kok ya tidak ada misteri yang dahsyat di dalam ceritanya. Saya bahkan sama sekali tidak penasaran ketika menonton Detective Pikachu (2019). Penyelesaian dan akhir dari kasus yang ditangani oleh Pikachu pun memiliki motif dan penyelesaian yang kurang kuat. Yaaah, sepertinya Detective Pikachu (2019) memang tidak dimaksudkan sebagai film misteri atau thriller. Ceritanya tergolong ringan dan tidak membuat penontonnya banyak berfikir.

Tapi kalau berbicara dari segi visual, Pikachu dan dunianya nampak unik dan bagus sekali. Saya suka melihat Pikachu yang nampak imut dengan bulu-bulu kuningnya :). Dunia Pokemon seolah dibuat hidup oleh film ini.

Visual yang memukau tapi tidak diikuti oleh cerita yang memukau membuat saya ikhlas untuk meemberikan Detective Pikachu (2019) nilai 3 dari skal maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga di rumah.

Sumber: http://www.detectivepikachumovie.com

Aquaman (2018)

Aquaman (2018) hadir di atas reruntuhan DC Extended Universe yang terpuruk setelah kurang berhasilnya Justice League (2017). Kepergian sutradara dan pemain utama dari DC Extended Universe membayangi khadiran Aquaman di layar lebar. Bagaimanapun juga, Aquaman (2018) sebenarnya bagian dari sederet film-film superhero DC Comics yang pada awalnya akan saling terkait dan membentuk DC Extended Universe. Sayang pendekatan yang terlalu serius dan gelap membuat DC Extented Universe kalah jauh dengan Marvel Cinematic Universe, pesaing mereka. Akankah Aquaman (2018) dapat belajar dari kegagalan dan membuat perbedaan?

Karakter Aquaman atau Arthur Curry (Jason Momoa) kali ini nampak garang dan sangar. Film ini berhasil mengubah citra Aquaman sebagai superhero culun kelas 2. Adegan perkelahian pada Aquaman (2018) sangat menghibur dan cantik. Semua adegan pertarungan nampal jelas karena pertarungan tidak hanya ditunjukkan dari jarak dekat. Semua sudut ditunjukkan, apalagi mayoritas latar belakang film ini adalah lautan yang sangat luas. Pertarungan di bawah laut memang membawa nuansa lain dibandingkan film-film superhero DC sebelumnya.

Tapi kok di bawah laut? Aquaman memiliki kekuatan berkomunikasi dengan binatang laut, berenang super cepat, mengendalikan laut dan kekuatan di atas rata-rata manusia biasa. Ia adalah anak dari seorang manusia biasa dengan ratu Atlantis. Perbedaan asal usul kedua orang tuanya membuat Aquaman seolah “dibuang” dan hidup di permukaan yang kering, tidak di bawah laut bersama bangsa Atlantis. Aquaman di sini adalah seseorang yang memendam amarah dan siap meledak kapan saja.

Kedamaian antara penduduk darat dan penduduk bawah laut terancam ketika adik tiri Aquaman, Orm Marius (Patrick Wilson), berusaha mengadu domba kedua belah pihak demi menyatukan Kerajaan Atlantis dan menjadi raja Atlantis yang baru. Saat ini keadaan Atlantis memang terpecah ke dalam beberapa Kerajaan bawah laut. Belum ada sosok seorang raja yang mampu menyatukan mereka dan membentuk kembali Kerajaan Atlantis yang kuat.

Nah, 2 orang bangsawan Atlantis, YMera Xebella “Mera” Challa (Amber Heard) dan Nuidis Vulko (Willem Dafoe), berusaha membawa Aquaman kembali ke Atlantis untuk menghentikan Orm dan menyatukan kembali Atlantis di bawah 1 kepemimpinan seperti sediakala.

Ahhh di sini sebenarnya terdapat plot from zero to hero yang seharusnya menarik. Sayang jalan cerita yang lebih fokus pada pencarian sebuah senjata super membuat semuanya terasa agak hambar dan mudah ditebak. Terdapat banyak sub-plot yang sebenarnya memiliki potensi untuk memperkaya cerita, tapi kenyataannya hanya terhenti dengan cepat dan tanpa emosi.

Karakter antagonisnya pun seharusnya Orm dan Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) ya tapi kok hanya Orm saja yang muncul dipermukaan. Padahal rasanya Black Manta lebih populer loh di komiknya. Karakter Black Manta gagal tampil menonjol padahal sudah ada amunisi terkait dendam lama antara ia dengan Aquaman. Yaaah, semua karakter antagonis pada Aquaman (2018) memiliki alasan yang klise dalam melakukan kejahatan, ya begitu-begitu saja :’D.

Saya rasa Aquaman (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini tidak menenggelamkan DC Extended Universe, tapi gagal pula membuat franchise tersebut kembali bersinar.

Sumber: http://www.aquamanmovie.net