Ready Player One (2018)

Awalnya, Ready Player One (2018) sepertinya bukan termasuk film yang menarik untuk ditonton. Sambutan meriah dari beberapa rekan saya mendorong saya untuk akhirnya ikut menonton film tersebut. Film ini ternyata merupakan karya Steven Spielberg yang diambil dari novel karya Ernest Cline dengan judul yang sama. Kisahnya mengenai perebutan kekuasaan sebuah dunia virtual.

Latar belakang film ini adalah dunia masa depan dimana kemajuan teknologi tidak diiringi oleh kesejahteraan penduduknya. Muak dengan kehidupan nyata, banyak penduduk Bumi mencari pelepas penat di sebuah dunia lain, dunia dimana mereka dapat menjadi apa saja, dan dapat berbuat macam-macam. Dengan menggunakan perangkat Virtual Reality, mereka dapat masuk ke Oasis (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), sebuah dunia virtual yang sangat populer dan penuh kebebasan.

Pada dasarnya Oasis merupakan permainan MMOSG (massively multiplayer online simulation game) dimana di dalamnya para pemain seolah memiliki kehidupan baru yang lepas bebas dari kehidupan nyata. Di sana mereka dapat bermain balapan, bertempur, berkelahi, berjudi, berdansa, bersosialisasi, berteman, berpartisipasi dalam berbagai event unik dan lain-lain. Semua terasa amat nyata karena pemain Oasis menggunakan kacamata Virtual Reality dan sensor-sensor di berbagai bagian tubuh mereka. Wah, kalau yang namanya Oasis memang benar-benar ada, saya juga mau ikutan :D.

Oasis diperkenalkan oleh James Donovan Halliday (Mark Rylance) dan Ogden Morrow (Simon Pegg) pada tahun 2025. Beberapa tahun kemudian Morrow memutuskan untuk meninggalkan proyek Oasis. Di tangan Halliday seorang diri, Oasis tetap kokoh dan tidak kehilangan reputasinya sebagai dunia virtual terpopuler di dunia. Oasis tetap menjadi nomor satu bahkan sampai setelah Halliday wafat pada 7 Januari 2040.

Ketika Halliday wafat, seluruh dunia menerima unggahan video yang menyatakan bahwa Halliday telah menanamkan sebuah event super unik di dalam Oasis, sebuah event yang akan mulai ketika Halliday wafat. Whah event apa yah? Para pemain harus mencari 3 buah kunci dengan memecahkan berbagai teka-teki yang terselubung di dalam dunia Oasis. Barangsiapa yang berhasil memperoleh ketiga kunci tersebut, maka ia akan memperoleh 100% kontrol akan Oasis. Sebuah event yang hadiahnya kepemilikan sebuah dunia virtual terpopuler di dunia, aaahh jelas semua orang terpacu untuk memperolehnya.

5 tahun setelah event dimulai, tak ada satupun yang berhasil menemukan kunci pertama. Mengetahui lokasi dan apa teka-teki yang harus dipecahkan saja susahnya bukan main. Semua seakan mustahil sampai seorang pemain bernama Parzival berhasil memperoleh kunci pertama.

Di dunia nyata, Parzival adalah anak yatim piatu bernama Wade Watts (Tye Sheridan) yang hidup pas-pasan bersama bibi dan paman tirinya. Dengan berhasilnya Wade atau Parzival memperoleh kunci pertama, seketika itu pulalah ia menjadi sorotan sekaligus buruan IOI (Innovative Online Industries) yang dipimpin oleh Nolan Sorreto (Ben Mendelsohn). IOI merupakan perusahan IT terbesar kedua di dunia setelah perusahaan milik mendiang Halliday. perusahaan ini ingin menguasai Oasis dan perusahaan milik Halliday dengan memperoleh ketiga kunci Halliday di dalam Oasis. Sorreto dan kawan-kawan rela membayar ratusan pegawai untuk berkelana di dalam Oasis dan memecahkan teka-teki Halliday.

Parzival tidak sendirian di dalam Oasis. Ia memperoleh dukungan dari pemain Oasis dengan nama Aech, Art3mis, Sho dan Daito. Mereka berteman di dunia maya dan belum pernah bertemu di dunia nyata. Namun mereka saling tolong menolong dalam persaingan memperebutkan ketiga kunci Halliday melawan ratusan tentara IOI dan pemain Oasis lainnya, baik di dunia virtual maupun di dunia nyata.

Film ini cukup menarik karena secara teknologi, Oasis bisa saja benar-benar ada dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, budaya pop sangat kental terlihat pada Ready Player One (2018). Tidak hanya teka-teki Halliday saja yang kental akan budaya pop, tapi atribut, musik, pengambilan gambar sampai gerakan karakter dibuat berdasarkan video game atau film yang pernah populer di era 80-an, 90-an dan awal abad 21. Pada Ready Player One (2018) saya dapat melihat bagian dari Back to the Future, The Shining, Jaws, The Irom Giants, The Terminator, Mad Max, Akira, Chucky, Buckaroo Banzai, Mortal Kombat, Alien, Ghostbusters, Godzilla, Speedracer, Batman, The Flash, Thundercats, He-Man, Firefly, Gundam, Kura-Kura Ninja, Tomb Rider, Street Fighter, Halo, Donkey Kong, Pitfall, Centipede dan lain-lain, semuanya tersebar dimana-mana. Ini bagaikan nostalgia karena mengingatkan saya akan video game yang dulu pernah saya mainkan, dan film yang pernah saya tonton ketika masih kecil. Syukurlah Ready Player One (2018) termasuk adil untuk hal ini karena budaya pop yang ditampilkan bukan hanya budaya pop tahun 80-an. Selama ini saya sering melihat budaya pop 80-an yang terus diagung-agungkan, bosan saya :’D. Bagi pecinta budaya pop 80-an garis keras, Ready Player One (2018) mungkin akan nampak hampa dan kurang memiliki unsur nostalgia hehehehehe.

Akantetapi, kalaupun Oasis benar-benar ada, kemungkinan saya hanya akan memainkannya selama sebulan pertama saja. Oasis memang nampak luas dan bebas, tapi dunia virtual pada Ready Player One (2018) ini memiliki 1 peraturan yang tak lazin ditemukan pada video game pada umumnya. Peraturan tersebut adalag, apabila si pemain tewas, maka ia akan kehilangan nilai, koin, avatar, senjata dan semua yang ia miliki. Si pemain akan lahir kembali dengan keadaan seperti awal mula ia baru bermain. Koin nyawa ekstra memang ada sih, tapi amat sangat jarang sekali, hal ini jelas terlihat pada salah satu adegan di Ready Player One (2018).

Adegan-adegan pada film ini berhasil menampilkan sebuah dunia virtual yang berdampingan dengan dunia nyata dengan sangat baik. Adegan aksinya pun terbilang bagus dan memukau. Ditambah dengan jalan cerita yang menarik dan penuh nostalgia bagi banyak orang, Ready Player One (2018) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” ;).

Sumber: readyplayeronemovie.com

Iklan

Annihilation (2018)

Terus terang saya tidak tertarik untuk menontin Annihilation (2018) ketika melihat judul, poster dan sinopsis singkatnya. Saya pikir film ini paling hanya film kelas B mengenai serangan laba-laba raksasa atau semut raksasa atau serangga-serangga lainnya, pokoknya serba raksasa :’D. Poster dan judul film ini sama sekali tidak menarik, padahal mereka bisa saja menunjukkan poster yang menggambarkan mengenai selubung pelangi. Wha apaan tuh?

Fokus Annihilation (2018) ternyata bukan monster-monsteran, walaupun … yah memang ada monster sih di film ini. Fokus film ini adalah bagaimana 5 orang ilmuwan wanita berusaha menyingkap misteri dari sebuah selubung berwarna pelangi yang menyelimuti sebuah daerah. Selubung ini mengitari daerah tersebut seperti perisai yang tidak dapat diintip dari luar.

Kejadian ini terjadi sejak masuknya sebuah benda asing dari luar angkasa, menembus atmosfer Bumi, dan menghantam sebuah mercusuar di suatu daerah. Mulai saat itulah muncuk selubung berwarna-warni menyelimuti mercusuar tersebut. Lama kelamaan, selubung ini semakin melebar sampai melewati hutan dan sebuah perkampungan.

Pihak pemerintah tentunya tidak tinggal diam. Mereka merahasiakan fenomena misterius ini dan terus mengirimkan manusia ke dalam selubung tersebut demi memperoleh jawaban. Merekapun menamakan daerah yang sudah tertutup selubung sebagai daerah x, daerah misterius yang patut diwaspadai. Apa yang terjadi di dalam daerah x? Apakah itu berbahaya? Selama ini mereka selalu gagal karena tidak ada manusia yang berhasil keluar dari daerah x. Secercah harapan muncul ketika Kane (Oscar Issac) berhasil keluar dari daerah x. Sayang Kane mengalami gagal organ dan langsung dirawat secara intensif tanpa sempat memberikan informasi apapun.

Lena (Natalie Portman), istri Kane, ikut mendaftarkan diri untuk masuk ke dalam daerah x. Ia berharap untuk dapat menemukan obat bagi suaminya. Latar belakang Lena yang mantan tentara dan sekarang ahli biologi di sebuah Universitas, membuatnya diizinkan untuk masuk ke dalam daerah x bersama-sama Dr. Ventress (Jennifer Jason Leight), Anya Thorensen (Gina Rodriguez), Josie Radek (Tessa Thompson) dan Cass Sheppard (Tuva Novotny). Berbeda dengan ekspedisi-ekspedisi lainnya, kali ini pihak pemerintah mengirimkan 5 orang orang ilmuwan wanita ke dalam daerah x. Semakin lama, semakin terlihat bahwa kelima ilmuwan tersebut memendam masalah yang sifat dan efeknya merusak diri sendiri. Tak diduga, Lena pun memiliki rahasia yang akan terungkap di sana.

Topik utama dari Annahilation (2018) berkutat pada misteri daerah x. Hal ini membuat saya penasaran yang terus menonton film ini tanpa mengantuk. Film ini mengajak penontonnya untuk berfikir karena banyaknya keambiguan sampai akhir film. Saya rasa akan banyak penonton kebingungan sampai film ini berakhir. Akan terus ada perdebatan akan apa yang baru saja ditonton, sbuah keambiguan yang menarik untuk dibahas. Semuanya tidak akan secara gamblang dijelaskan, semuanya serba tersirat dan mengambang. Saya rasa Annahilation (2018) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimim 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini terlalu “mikir” dan “nyeni” bagi saya.

Bagi teman-teman yang mencari film hiburan dan sedang malas untuk banyak berfikir, hindarilah film ini :’D. Hindari pula versi novelnya, Annahilation (2018) diambil dari novel karya Jeff VanderMeer dengan judul yang sama. Annahilation adalah novel pertama dari Southern Reach Trilogy yang konon memang ceritanya penuh keambiguan x_x.

Sumber: http://www.annihilationmovie.com

Avengers Infinity War (2018)

Sejak tahun 2008 sampai sekarang, sudah hadir kurang lebih 18 film-film superhero yang diambil dari cerita buku komik keluaran salah satu perusahaan komik ternama di dunia yaitu Marvel. Meskipun nampak terpisah dengan cerita dan tokoh utama sendiri, semua film tersebut hidup di sebuah alam yang sama, sebuah alam yang biasa disebut Marvel Cinematic Universe (MCU), kecuali film-film X-Men dan Deadpool tentunya. Sepanjang penglihatan saya, meskipun masing-masing film MCU mampu berdiri sendiri, bagian akhirnya jelas dan tidak menggantung, film-film tersebut mampu membuat sebuah jaring cerita yang rapi antara satu dengan lainnya. Jaring-jaring cerita dari semua film tersebut, menyatu menjadi satu pada Avengers Infinity Wars (2018), sebuah film yang sudah lama saya tunggu-tunggu meskipun kurang lebih saya sudah mengetahui cerita versi komiknya :).

Pada dasarnya Avengers Infinity Wars (2018) merupakan kisah mengenai kematian, kehidupan, keputusasaan dan harapan yang dihadapi superhero-superhero MCU. Keperkasaan mereka seakan runtuh ketika bertemu Thanos (Josh Brolin). Dulunya Thanos merupakan penduduk Planet Titan yang saat ini sudah hancur. Ia menganggap bahwa kehancuran Titan disebabnya oleh ketidakseimbangan antara jumlah sumber daya dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk seharusnya dapat dikendalikan. Untuk mencegah agar alam semesta beserta isinya tidak mengalami nasib yang serupa dengan Titan, maka Thanos berniat untuk mengendalikan populasi alam semesta. Apakah yang Om Thanos menginginkan program KB (Keluarga Berencana)? Apakah Thanos itu Duta KB? 😛 Oooh tentu tidak, Thanos menginginkan sesuatu yang lebih ekstrim. Ia ingin membunuh separuh populasi alam semesta agar separuh populasi yang tidak ia bunuh, dapat hidup damai tanpa memperebutkan sumber daya. Dari sudut pandangnya sendiri, Thanos merasa bahwa ia melakukan kebaikan dan pengorbanan bagi masa depan alam semesta. Ini sungguh berbeda dengan tokoh antagonis lain yang mayoritas tujuan hidupnya adalah untuk meraih kekuasaan dan kekayaan semata. Tokoh Thanos tidaklah mengecewakan, ia memang pantas untuk menjadi lawan terkuat pada film crossover terbesar tahun ini.

Pada film-film MCU sebelumnya, tersirat bagaimana Thanos berusaha mencari 6 buah batu infinity yang dapat memberikan kekuatan tertentu bagi tuannya. Batu-batu tersebut pun sebenarnya sudah beberapa kali muncul dan menjadi rebutan beberapa karakter MCU. Apa itu batu infinity sebenarnya? Batu infinity merupakan batu yang tercipta ketika alam semesta tercipta. Masing-masing batu memiliki kekuatan penciptaan masing-masing yaitu batu kekuatan, batu pikiran, batu ruang, batu waktu, batu jiwa dan batu realita. Pada film-film MCU sebelum Avengers Infinity Wars (2018), dikisahkan bahwa memegang 1 batu saja sudah dapat memberikan kekuatan super dahsyat bagi pemegangnya. Bagaimana bila ada yang dapat memiliki keenam batunya?

Batu ruang, atau dikenal dengan nama tesseract, adalah batu infinity pertama yang dikenalkan MCU. Batu ini awalnya tersimpan di pedalaman Norwegia sampai pada suatu hari, Pasukan Nazi yang dipimpin Red Skull (Hugo Weaving) menemukannya pada Captain America: The First Avengers (2011). Kemudian batu tersebut menjadi rebutan pada film-film MCU berikutnya hingga akhirnya, batu ini berhasil disembunyikan Loki (Tom Hiddlestone) pada akhir dari Thor: Ragnarok (2017). Sayangnya, pada awal Avengers Infinity War (2018), tesseract berhasil Thanos rebut setelah ia menghancurkan armada Kerajaan Asgard yang sedang dalam perjalanan menuju Bumi. Thanos bahkan mampu membuat Loki, Thor (Chris Hemsworth) dan Hulk / Bruce Banner (Mark Ruffalo) bertekuk lutut padahal Thanos hanya datang dengan menggunakan 1 batu infinity, yaitu batu kekuatan.

Batu kekuatan, atau dikenal dengan nama orb, merupakan batu infinity yang menjadi rebutan pada Guardians of The Galaxy (2014). Batu yang pada dasarnya hanya dapat dikendalikan oleh Star-Lord / Peter Quill (Chris Pratt) ini, berhasil Thanos rebut dari Planet Xandar. Nova Corps yang bertugas melindungi Planet Xandar dan orb nampaknya mengalami nasib yang tragis sebab Thanos nampak sudah memiliki batu kekuatan sejak awal film Avengers Infinity War (2018).

Batu kekuatan sebenarnya bukanlah batu infinity pertama yang Thanos miliki. Sebelumnya, Thanos sempat memiliki batu pikiran yang ditempelkan pada bagian ujung tongkat chitauri. Tongkat ini kemudian Thanos pinjamkan kepada Loki untuk merebut tesseract di Bumi pada The Avengers (2012). Kemudian batu ini mengalami beberapa kali perpindahan kepemilikan sampai pada akhirnya batu ini berada di kening Vision (Paul Bettany) pada Avengers: Age of Ultron (2015). Vision sebenarnya merupakan sebuah super komputer canggih ciptaan Iron Man atau Tony Stark (Robert Downey Jr.). Dengan keberadaan batu pikiran pada Vision, Vision telah mampu berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Ia bahkan dapat menjalin asmara dengan Scarlet Witch atau Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen). Pada Avengers Infinity War (2018) ini, keduanya harus melarikan diri dari kejaran jendral-jendral tangan kanan Thanos yang berusaha mengambil batu pikiran dari kening Vision. Beruntung Captain America / Steve Rogers (Chris Evans), Natasha Romanoff / Black Widow (Scarlett Johansson) dan Sam Wilson / Falcon (Anthony Mackie) datang membantu. Mereka kemudian melarikan diri ke Wakanda, dengan dibantu oleh James “Rhodey” Rhodes / War Machine (Don Cheadle), untuk berlindung di dalam perisai negeri asal T’Challa / Black Panther (Chadwick Boseman) tersebut. Tak lupa sahabat Captain America dari masa lampau, Bucky Barnes / Winter Soldier (Sebastian Stan), sudah menanti pula di Wakanda.

Sementara Captain America dan kawan-kawan melarikan diri ke Wakanda, Hulk / Bruce Banner berhasil melarikan diri dari kapal Asgard yang dihancurkan Thanos. Banner berhasil melakukan teleport ke Bumi dan langsung menemui Iron Man / Tony Stark dan Stephen Strange / Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) untuk memperingatkan akan kedatangan Thanos. Tak lama kemudian, mereka bersama dengan Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland), harus mempertahankan batu waktu yang ada di dalam kalung mata agamoto milik Doctor Strange. Batu waktu pernah memicu konflik pada Doctor Strange (2016). Warnanya hijau, padat dan membuat pemegangnya mampu memutar waktu ke masa lalu dan masa lampau.

Berbeda dengan batu waktu yang padat, batu realitas atau aether berbentuk seperti cairan yang mengalir di udara. Aether pernah memicu konflik pada Thor: The Dark World (2013). Bangsa Asgard saat itu sudah memiliki dan menjaga batu ruang atau tesseract, sehingga mereka mempercayakan aether kepada Taneleer Tivan / The Collector (Benicio del Toro).

Nah bagaimana dengan batu jiwa? Sepengetahuan saya, batu ini belum pernah muncul atau menjadi rebutan pada film-film MCU sebelumnya. Namun, konon lokasi penyimpanan batu jiwa yang misterius ini sebenarnya sudah diketahui oleh salah satu dari anggota Guardians of The Galaxy. Siapakah itu? Apakah Star-Lord? Drax (Dave Bautista)? Mantis (Pom Klementieff)? Gamora (Zoe Saldana)? Groot (Vin Diesel)? Rocket (Bradley Cooper)? Atau bahkan Nebula (Karen Gillan)? Aaahhhh, saya tidak akan menulis spoiler di sini hehehehe.

Kali ini para pahlawan yang sudah memiliki film solo melalui film-film MCU sebelumnya, harus mencegah usaha Thanos mengumpulkan keenam batu infinity. Pada Avengers Infinity War (2018) ini akan ada beberapa tokoh utama yang berguguran. Kehadiran Thanos memang membawa aroma tersendiri di sini. Karena ketika Thanos muncul, siapapun bisa saja tewas. Tidak ada satu superhero-pun yang aman dari Thanos. Saya lihat, tokoh utama yang tewas di tangan Thanos ada pula yang merupakan tokoh legendaris icon Marvel, sungguh tidak terduga :’D.

Dengan kekuatan yang dahsyat, Thanos begitu ditakuti. Tapi kok kenapa Thanos baru turun tangan pada Avengers Infinity War (2018)? Thanos sudah ada sejak dulu, ia bahkan sudah lama memegang batu kekuatan sebelum Loki menghilangkannya pada The Avengers (2012). Jawabannya adalah karena tewasnya The Ancient One (Tilda Swinton) pada Doctor Strange (2016), Ego (Kurt Rusell) pada Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017), tewasnya Odin (Anthony Hopkins) pada Thor: Ragnarok (2017). Ketiga karakter ini memang sudah uzur namun terkenal akan kekuatannya sehingga Thanos tidak dapat leluasa bergerak. Keadaan semakin menguntungkan bagi Thanos ketika The Avengers pecah kongsi setelah terjadi skandal pembunuhan ayah Black Panther yang melibatkan Winter Soldier pada Captain America: Civil War (2016). Ahhhh, inilah saat yang tepat bagi Thanos untuk maju habis-habisan dengan segenap kekuatan dan prajurit yang ia miliki.

Saya sadar bahwa banyaknya karakter yang hadir, bisa saja membuat penonton kebingungan. Tapi pada kenyataannya, cerita pada film ini sudah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membingungkan bagi teman-teman yang belum menonton film-film MCU sebelumnya. Hadirnya berbagai karakter kuat dalam film inipun, ternyata mampu diramu dengan tepat sehingga menghasilkan satu kesatuan film yang baik dan menghibur. Jadi tidak ada karakter yang tenggelam atau terlalu dominan pada film ini. Saya beberapa kali tersenyum melihat humor-humor yang muncul, film ini tidak terlalu serius dan tidak membosankan. Hal ini patut saya acungi jempol. Sayang akhir dari Avengers Infinity War (2018) seperti belum tuntas dan masih menyisakan beberapa pertanyaan yang mungkin akan terjawab pada film Avengers berikutnya. Saya pun masih mereka-reka memgenai jalur cerita akan diambil oleh film ini. Pada versi komik, pertarungan antara Avenger dan Thanos memang panjang dan terjadi dengan berbagai versi. Entah Avengers Infinity War (2018) akan membawa MCU ke arah versi yang mana, atau justru memiliki versi sendiri yang berbeda?

Jalan cerita yang menarik dan membuat saya penasaran, serta didukung dengan adegan aksi, special affect dan kostum yang mumpuni, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Avengers Infinity War (2018) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini pada dasarnya ada film superhero dengan karakter antagonis sebagai karakter utamanya, sesuatu yang menarik ;).

Sumber: marvel.com/avengers

Alien: Covenant (2017)

Sewaktu masih kecil dulu, film-film Alien karya sutradara Ridley Scott berhasil menjadi film favorit saya. Diawali dengan Alien (1978), kemudian diikuti oleh beberapa sekuel yaitu Aliens (1986), Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Keempat film Alien di atas sama-sama mengisahkan teror di atas kapal atau stasiun luar angkasa oleh sebuah mahluk parasit yang menggunakan tubuh manusia sebagai tempat untuk bertelur. Ellen Ripley (Sigourney Weaver) adalah tokoh sentral keempat film tersebut yang mengawal benang merah kesinambungan jalan cerita antar film.

Alien (1979) dan Aliens (1986) berhasil memberikan tontonan yang menegangkan dengan cerita yang menarik. Jadi tidak hanya kejar mengejar di dalam kapal luar angkasa saja. Ada cerita lain di sana yang membuat kedua film tersebut lebih berkualitas dibandingkan film-film lain di eranya.

Sama seperti kedua pendahulunya, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) masih mengisahkan petualangan Ripley menghadapi mahluk luar angkasa di lorong-lorong sempit pesawat dan penjara luar angkasa. Sayang sekali, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) hanya menonjolkan adegan kejar mengejar saja, tiada cerita yang menarik di sana. Saya pribadi lebih memilih untuk menganggap bahwa petualangan Ripley berakhir di Aliens (1986).

Pada tahun 2012, Ridley Scott kembali menghadirkan mahluk luar angkasa yang menjadi lawan Ripley pada Prometheus (2012). Tapi film ini bukanlah sekuel dari Alien (1979), melainkan prekuel. Jadi Prometheus (2012) mengisahkan kisah sebelum Alien (1979). Asal muasal mahluk luar angkasa seolah tidak menjadi topik utama pada film tersebut. Asal muasal manusialah yang justru ditonjolkan pada film tersebut. Pencarian para awak kapal Prometheus terhadap pencipta manusia, justru membawa bencana bagi seluruh awak kapal. Prometheus (2012) jelas lebih menarik ketimbang Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Kabarnya Prometheus (2012) akan menjadi film pertama bagi trilogi prekuel Alien (1979).

Saya pikir, film setelah Prometheus (2012) akan berjudul Prometheus 2. Ow saya salah besar, Ridley Scott justru memilih judul Alien: Covenant. Alien: Covenant (2017) mengambil peristiwa sebelum Alien (1979) dan sesudah Prometheus (2012). Dikisahkan bahwa kapal luar angkasa Covenant membawa ribuan manusia yang hendak bermigrasi dari Bumi menuju planet lain yang layak untuk ditinggali. Di tengah-tengah perjalanan, terjadi kecelakaan yang membunuh kapten kapal Covenant dan membuat kapal Covenant berhenti sejenak. Ketika para penumpang lainnya masih ditidurkan di dalam kapsul es, para awak kapal dibangunkan untuk memperbaiki situasi. Mereka seharusnya ditidurkan di dalam kapsul es selama puluhan tahun dan akan dibangunkan ketika mereka tiba di Planet tujuan yaitu Origae-6.

Sayangnya, kapten kapal pengganti yaitu Chris Oram (Billy Crodup), memilih untuk mampir ke Planet yang baru terdeteksi ketika para awak kapal sedang memperbaiki Covenant. Planet tersebut nampak mirip dengan Bumi, bersahabat, layak dihuni dan posisinya jauh lebih dekat ketimbang Planet Origae-6. Keputusan Chris berujung bencana karena di Planet misterius yang kosong ini, mereka bertemu dengan David 8 (Michael Fassbender) lengkap dengan bibit mahluk luar angkasa parasit yang pernah hadir pada film-film Alien sebelumnya. David 8 sendiri adalah salah satu awak kapal Prometheus yang selamat pada Prometheus (2012). Di sini akan terungkap apa yang terjadi kepada awal kapal Prometheus yang tersisa setelah Prometheus (2012) berakhir. Sudah pasti, para awak kapal Covenant satu demi satu berguguran.

Uniknya, para awak kapal Covenant merupakan pasangan suami istri sehingga ketika salah satu terancam bahaya atau tewas, maka pengambilan keputusan pasangannya akan terpengaruh. Tennessee Faris (Danny McBride) beberapa kali mengambil keputusan sebagai pilot Covenant dengan dipengaruhi oleh emosi karena ketidakjelasan nasib istrinya yang juga seorang pilot. Chris, sebagai Kapten pengganti pun mengalami shock dan tidak mampu memimpin lagi ketika bahaya dan bencana menimpa istrinya yang berprofesi sebagai ahli Biologi Covenant. Chris sampai harus melimpahkan tampu kepemimpinan kepada Daniels (Katherine Waterston) yang sudah lebih dahulu kehilangan suaminya. Daniels adalah istri dari kapten Covenant pertama yang gugur ketika kecelakaan di awal film terjadi. Seperti film-film Alien sebelumnya, protagonis utama diperankan oleh seorang wanita berambut pendek yang tangguh seperti Daniels. Walaupun Daniels memang nampak lebih tabah dan tangguh, sangat sulit bagi Daniels untuk menyaingi Ellen Ripley, tokoh utama keempat film Alien pertama. Saya rasa tokoh Ripley lebih tangguh dan perkasa :’D.

Sepanjang film, terjadi kerjar mengejar antara awak kapal Covenant dengan mahluk luar angkasa. Pengejaran ini juga berlangsung di lorong-lorong pesawat luar angkasa yang sempit, mirip seperti film-film Alien sebelumnya. Sayang adegan kejar mengejar ini tidak ada gregetnya dan cenderung membosankan.

Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya misteri atau sesuatu yang dapat membuat saya penasaran seperti pada Prometheus (2012). Awalnya saya berharap Alien: Covenant (2017) mampu memberikan sedikit jawaban akan misteri penciptaan manusia yang belum seluruhnya terungkap pada Prometheus (2012). Pertanyaan besar akan asal mula manusia yang digembar-gemborkan pada Prometheus (2012) seakan menguap tanpa sisa. Apakah ini karena Opa Ridley Scott takut akan kontroversi dan kemarahan dari para pemuka agama?

Ahhhh, Alien: Covenant (2017) benar-benar tidak sesuai ekspektasi saya. Film ini hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Walaupun bagian akhirnya menyisakan beberapa pertanyaan, saya ragu bahwa jawabannya akan muncul pada film Alien berikutnya. Lama kelamaan Alien akan menjadi salah satu franchise film yang bergulir tanpa arah yang jelas.

Sumber: http://www.alien-covenant.com

Pacific Rim Uprising (2018)

Seperti sebagian besar kaum Adam, saya senang menonton film superhero atau robot. Maka, ketika Pacific Rim Uprising (2018) muncul, saya langsung menonton filmnya :). Pacific Rim Uprising (2018) mengambil jalan cerita setelah peristiwa pada Pacific Rim (2013), tapi Pacific Rim Uprising (2018) dapat diperlakukan sebagai film baru yang independen. Teman-teman yang belum menonton Pacific Rim (2013), tidak akan kebingungan ketika menonton Pacific Rim Uprising (2018).

Sebagai pengantar, dikisahkan bahwa dulu, sekelompok mahluk asing mengirimkan monster-monster raksasa yang disebut Kaiju, ke Bumi m Berbedatahunelalui portal-portal yang terdapat di bawah Lautan Pasifik. Kaiju datang membawa kehancuran bagi seluruh penduduk Bumi. Melalui PPDC (The Pan Pacific Defence Corps), umat manusia memberikan perlawanan sengit. Untuk melawan Kaiju PPDC menggunakan robot-robot raksasa yang disebut Jaeger. Untuk mengendalikan sebuah Jaeger, diperlukan minimal 2 orang pilot. Bumi kembali damai setelah para pilot Jaeger, dengan dibantu para ilmuwan, berhasil menutup celah-celah portal di sepanjang Lautan Pasifik sehingga Kaiju tidak dapat menyerbu Bumi lagi.

Pada Pacific Rim Uprising (2018), kejadian di atas sudah berlalu 10 tahun yang lalu. 10 tahun lamanya, Bumi sudah tidak melihat Kaiju lagi. PPDC tetap hadir untuk berjaga-jaga bila pada suatu hari Kaiju hadir kembali di Bumi. Dengan bekerja sama dengan Shao Industries, PPDC memperoleh Jaeger-Jaeger baru yang lebih aman karena pengendaliannya seperti drone, semua dapat dikendalikan dari jarak jauh. Liwen Shao (Jing Tian) dan Dr. Newt Geiszler (Charlie Day) merupakan sutradara dibalik pengembangan Jaeger baru tersebut. Pemahaman Newt terhadap Kaiju dan Jaeger sudah tidak diragukan lagi karena dia dan Dr. Hermann Gottlieb (Burn Gorman) merupakan 2 ilmuwan yang memegang peranan penting ketika Jaeger berhasil menutup celah-celah pintu masuk Kaiju 10 tahun yang lalu. Keduanya sama-sama berhasil masuk ke dalam pikiran Kaiju dan pencipta Kaiju.

Pertempuran terakhir pada Pacific Rim (2013) telah merenggut nyawa para pilot Jaeger termasuk Jendral Stacker Pentecost (Idris Elba). Nama Pentecost harum dan identik dengan kisah heroik Stacker Pentecost dan kawan-kawan. Hal ini terkadang menjadi beban bagi anak kandung Stacker yaitu Jake Pentecost (John Boyega). Sayangnya, konflik dan masalah yang dihadapi Jake terasa hambar karena kurang dieksplotasi dengan baik. Padahal, Jake merupakan tokoh yang paling dominan pada Pacific Rim Uprising (2018). Jake bersama Nate Lambert (Scott Eastwood), mengemudikan Jaeger Gipsy Avenger yang legendaris. Loh, kemana pilot Gipsy Avenger sebelumnya? Bukankah mereka merupakan tokoh protagonis utama pada Pacific Rim (2013)? Yang muncul hanya Mako Mori (Rinko Kikuchi), ia pun hanya muncul sesaat sebagai pejabat tinggi PPDC. Nampaknya Pacific Rim (2013) mengikuti trend film-film sekuel zaman sekarang yang menghilangkan protagonis utama di film pertama dan kembali memunculkannya pada film ketiga … kalau ada :P. Protagonis utama Pacific Rim (2013), Raleigh Becket (Charlie Hunnam), benar-benar menghilang pada Pacific Rim Uprising (2018), ketenaran dan jasanya sama sekali tidak disebutkan. Hanya jasa Pentecost saja yang diagung-agungkan. Mungkinkah ia disimpan untuk film ketiga? …

Karakter-karakter bisa berganti, tapi Jaeger tetap akan selalu ada tentunya. Jaeger akan selalu menjadi magnet bagi film ini. Awalnya saya pikir Pacific Rim Uprising (2018) akan mengisahkan mengenai konflik antara perubahan sistem kemudi Jaeger yang dibawa oleh Shao Indistries. Perubahan yang tentunya akan mempengaruhi cara kerja PPDC, terutama pilot Jaeger.

Setelah saya menonton separuh Pacific Rim Uprising (2018), ternyata Shao Industries memang membawa masalah, tapi tidak diarah seperti yang saya duga. Dengan dibantu oleh pilot-pilot Jaeger junior yang minim pengalaman, Jake dan Nate harus berjibaku menghadapi kekacauan yang disebabkan oleh robot-robot canggih Shao Industries.

Sebagai pilot senior, Jake dan Nate memiliki beberapa murid yang sedang mereka ajar untuk menjadi pilot Jaeger. Amara Namani (Cailee Spaeny) merupakan salah satu murid Jake yang paling menonjol karena pengetahuannya yang sangat luas dan kemampuannya merakit Jaeger sendiri. Bersama-sama dengan Jake, Amara merupakan karakter protagonis yang dominan pada film ini. Masa lalu Amara pun mendapat jatah pada film ini, sebuah masa lalu yang harus Amara hadapi demi melangkah ke depan.

Peperangan yang Amara dan Jake hadapi didukung oleh special effect yang keren. Pertarungan yang melibatkan monster dan robot raksasa tentunya akan menjadi daya tarik yang kuat. Sayang, walaupun jalan ceritanya dibuat sedikit mengecoh, saya relatif lebih suka dengan jalan ceritanya Pacific Rim (2013).

Perubahan karakter utama yang memiliki nasib kurang lebih sama saja, rasanya menjadi sebuah kemubaziran. Jake pada Pacific Rim Uprising (2018) dan Raleigh pada Raleigh sama-sama harus menghadapi kesedihan akibat kehilangan keluarga dekat ketika mengemudikan Jaeger. Keduanya pun sama-sama “memberontak” terhadap kenyataan hidup yang ada.

Meskipun menurut saya kualitas Pacific Rim Uprising (2018) sedikit di bawah Pacific Rim (2013), rasanya Pacific Rim Uprising (2018) masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap film ketiganya bisa lebih bagus lagi ;).

Sumber: http://www.pacificrimmovie.com

Blade Runner 2049 (2017)

Blade Runner

Blade Runner 2049 (2017) merupakan sekuel dari Blade Runner (1982), sebuah film fiksi ilmiah yang dibuat berdasarkan novel karya Philip K. Dick dengan judul Do Android Dreams of Electric Sheep? Ah judul yang unik ya? Android di sini berarti robot super canggih yang sudah sangat mirip dengan penciptanya yaitu manusia. Dalam Blade Runner (1982), manusia berhasil memproduksi masal replikan, robot super canggih yang memiliki wujud dan kemampuan seperti manusia biasa. Mereka melakukan semua pekerjaan yang biasa manusia lakukan. Semakin lama, ternyata replikan berhasil berkembang sehingga mereka memiliki keinginan, kemauan dan emosi. 3 hal yang membuat replikan semakin mirip, bahkan sama seperti manusia biasa. Pada suatu hari, terdapat 4 replikan dengan kode model Nexus 6 yang memberontak dan melarikan diri. Untuk menangani kasus-kasus seperti ini, dikirim polisi khusus yang disebut Blade Runner. Blade Runner bertugas untuk “mempensiunkan” replikan yang dianggap bermasalah. Kali itu, Rick Deckard (Harrison Ford) ditugaskan untuk memburu keempat Nexus 6 yang melarikan diri. Petualangan Deckard justru membuatnya semakin mengerti apa arti menjadi manusia yang sebenarnya. Deckard pun jatuh cinta kepada seorang replikan model khusus yang dikembangkan oleh pencipta replikan, Dr. Eldon Tyrell (Joe Turkel). Latar belakang Blade Runner (1982) adalah Los Angeles di masa depan, tahun 2019. Lah? tahun 2018 saja belum ada loh itu yang namanya replikan hehehehe. Maklum, Blade Runner (1982) dirilis tahun 1982, saya saja belum lahir itu x_x.

Naaahhh, Blade Runner 2049 (2017), menggunakan latar belakang Los Angeles lebih jauuuuh di masa depan, yaitu sekitar 30 tahun setelah peristiwa pada Blade Runner (1982). Bisnis replikan yang dulu diciptakan oleh Tyrell, kini dikembangkan oleh Niander Wallace (Jared Leto). Wallace mengklaim bahwa ia berhasil mengembangkan replikan model baru yang handal dan mudah dikendalikan. Profesi Blade Runner bahkan dijalankan oleh replikan model baru yang Wallace kembangkan.

Blade Runner

K (Ryan Goosling) merupakan salah satu replikan yang bekerja sebagai Blade Runner. Sehari-hari, K tinggal di apartemen kumuh dengan ditemani oleh Joi (Ana de Armas), pacar virtual K yang setia dan tulus mencintai K. Penggambaran akan percintaan antara K dan Joi, ditambah dengan penampakan keadaan Bumi di tahun 2059, memang terbilang keren. Semua nampak unik dan masuk akal. Berbeda dengan Blade Runner (1982) yang filmnya serba gelap karena didukung oleh special effect tahun 80-an, Blade Runner 2049 (2017) berhasil menampilkan visual yang cantik sekaligus realistis :).

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Lalu, apa hubungan antara Blade Runner 2049 (2017) dengan Blade Runner (1982)? Penyelidikan K pada sebuah kasus, membawanya kepada Deckard. K menemukan fakta bahwa ada kemungkinan, kekasih Deckard berhasil melahirkan seorang bayi padahal kekasih Deckard adalah seorang replikan. Kehadiran seorang replikan yang lahir dari seorang replikan lain, merupakan kontroversi yang dapat memicu kembali perseteruan antara manusia dan replikan. K dan beberapa pihak lain, memburu anak Deckard yang separuh manusia, separuh replikan. Serunya lagi, semakin hari, K semakin menemukan petunjuk-petunjuk yang menunjukkan bahwa K kemungkinan merupakan anak dari Deckard.

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Mirip seperti film pendahulunya, Blade Runner 2049 (2017) kembali mengangkat tema kesetaraan dan arti menjadi seorang manusia dan memiliki jiwa. Mungkinkah mesin ciptaan manusia memiliki jiwa? Apa itu jiwa? Sebuah keajaiban? Saya rasa Blade Runner 2049 (2017) termasuk film fiksi ilmiah yang agak “nyeni”, jadi tidak murni hanya sebagai media hiburan saja. Terus terang saya kurang suka dengan Blade Runner (1982) yang dibuat terlalu “nyeni” sehingga terlihat hambar kalau dilihat dari sisi penonton yang haus hiburan. Syukurlah Blade Runner 2049 (2017) berbeda dalam hal ini, sekuel Blade Runner (1982) tersebut masih memiliki daya tarik dari sisi hiburan, tidak hanya mengandalkan special effect saja :).

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Blade Runner

Cerita yang membuat penasaran dan penuh kejutan, ditambah visual yang keren, tentunya merupakan resep yang handal untuk menciptakan sebuah tontonan yang memukau. Sayang oh sayang, semua itu dirusak oleh durasi. Saya rasa tempo Blade Runner 2049 (2017) terlalu lambat. Banyak adegan yang seolah “diam”, memperlihatkan keadaan sekitar atau mimik muka yang tidak banyak berubah. Ini sukses membuat saya kebosanan, mengantuk dan hampir tertidur di depan TV.

Secara keseluruhan, saya rasa Blade Runner 2049 (2017) dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Kalau saya perhatikan, Blade Runner 2049 (2017) sepertinya dapat dikatakan sebagai film pembuka bagi sebuah franchise atau film ketiga. Masih banyak yang dapat di-explore di sana.

Sumber: bladerunnermovie.com

Black Panther (2018)

Black Panther

Black Panter adalah salah satu superhero karya Stan Lee dan Jack Kirby yang pertama kali muncul pada salah satu komik Marvel tahun 1966. Sejak awal abad 21, superhero Marvel berkulit hitam ini sudah beberapa kali digadang-gadang akan hadir di layar lebar. Akhirnya, Black Panter atau T’Challa (Chadwick Boseman) mengawali debutnya di layar lebar pada Captain America: Civil War (2016) meskipun porsinya tidak terlalu besar. Sekitar 2 tahun berselang, Black Panter kembali hadir melalui film solonya yang pertama, Black Panther (2018).

Memang sih, awal mula T’Challa dipicu oleh kejadian pada Captain America: Civil War (2016). Tapi saya rasa hal tersebut dapat terjelaskan dengan mudah dah jelas ketika kita menonton Black Panther (2018). Jadi teman-teman yang belum menonton Captain America: Civil War (2016), jangan khawatir akan kebingungan ketika menonton Black Panther (2018). Black Panter (2018) akan menjelaskan asal mula Black Panther lebih mendetail.

Black Panther

Semua diawali ketika sebuah meteor misterius jatuh ke Afrika. Pecahan dari meteor tersebut tertanam di sebuah wilayah yang akhirnya diperebutkan oleh 4 suku yang ada saat itu. Kenapa mereka memperebutkan wilayah yang kaya akan pecahan meteor tersebut? Pecahan meteor itu ternyata membentuk gundukan raksasa logam Vibranium yang dapat memberikan akses kepada senjata dan teknologi yang jauh lebih maju. Peperangan berhenti ketika seorang ahli obat meminum sebuah tanaman khusus yang tumbuh di lokasi jatuhnya meteor tersebut. Ia tiba-tiba memiliki kekuatan dan kecepatan di atas manusia biasa. Dengan menggunakan kostum serba hitam ia membuat 3 dari 4 suku bertekuk lutut dan bersedia mengakuinya sebagai raja. Mulai saat itulah berdiri kerajaan Wakanda dengan seorang Black Panther sebagai rajanya.

Wakanda berhasil memanfaatkan Vibranium untuk membangun kota dan peradaban yang sangat maju. Khawatir akan adanya ancaman dari luar, Wakanda menutup diri dari dunia luar dengan menggunakan perisai di sekitar wilayah mereka sehingga tidak ada bangsa asing yang mengetahui wujud Wakanda yang sesungguhnya. Bagi dunia internasional, Wakanda nampak hanya sebagai negara terpencil yang miskin di benua Afrika.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Selama ini Afrika terkenal akan perang, kelaparan dan kemiskinan. Wakanda hanya berdiam diri di balik perisainya sementara itu negara lain di Afrika menghadapi peperangan dan kemiskinan. Apakah Wakanda akan terus berdiam diri? Bukankah teknologi Vibranium dapat dimanfaatkan untuk menolong umat manusia, bukan hanya Afrika saja? Bagai pisau bermata dua, Vibranium memang dapat dimanfaatkan pula untuk membuat senjata yang dahsyat. Inilah yang menjadi awal mula konfik di dalam keluarga kerajaan Wakanda.

Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther

 

Sebagai raja Wakanda sekaligus Black Panther baru, T’Challa mau tak mau harus menghadapi konflik ini. Ia harus menghadapi pihak asing yang hendak mengusai Vibranium untuk maksud yang jahat. Ia pun harus mempertahankan tahtanya dari anggota keluarga kerajaan lain yang hendak memberikan manfaat Vibranium bagi umat manusia tapi dengan cara yang salah.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

T’Challa didampingi oleh beberapa karakter wanita yang kuat dan sangat “Afrika” seperti Nakia (Lupita Nyong’o), Okoye (Danai Gurira) Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright). Nakia merupakan mata-mata Wakanda di dunia luar yang berhasil menarik hati T’Challa. Okoye merupakan pemimpin pasukan khusus kerajaan yang semunya terdiri dari wanita. Ramonda adalah ibu T’Challa yang memberikan nasihat bijak dan semangat bagi T’Challa. Terakhir, Shuri adalah adik T’Challa yang pintar dan memberikan dukungan teknologi kepada Black Panther. Jangan harap untuk melihat wanita non Afrika di film ini, semuanya serba Afrikaaaaaa. Mohon maaf, bagi saya pribadi, tidak ada tokoh wanita utama yang nampak cantik pada film ini, ahhhh padahal bukankah sebenarnya banyak loh aktris kulit hitam yang cantik. Tapi kalau dilihat dari nuansa Afrika yang dibentuk, yap, keberadaan wanita-wanita kuat ini memang berhasil membuat Black Panther (2018) memjadi film superhero Afrika. Sesuatu yang unik dan berbeda dibandingkan film-film superhero Marvel sebelumnya.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black PantherBlack Panther

Tidak hanya karakter, ternyata kostum dan tarian adat yang ditampilkan Black Panther (2018), memang mengambil daru budaya asli Afrika. Bahkan salah satu kostum yang dikenakan T’Challa suskses meraih popularitas di Indonesia karena mirip sekali dengan baju koko yang biasa dikenakan ke Masjid atau pada hari raya Islam. T’Challa menggunakan baju tersebut ketika duduk di singgasana Wakanda dan ketika bermimpi bertemu ayahnya. Apakah T’Challa memang menggunakan baju koko? Ooooo ternyata tidak. T’Challa menggunakan modifikasi dari baju agbada. Baju agbada merupakan baju yang biasa digunakan oleh lelaki di Afrika Selatan. Hehehehe, tapi yang memang mirip sekali sih dengan baju koko :D.

Black Panther

Sayang, nuansa unik ala Afrika yang dihadirkan Black Panther (2018) tidak disertai dengan cerita yang memikat. Pertarungannya sih ya memang bagus dan sarat akan special effect yang keren. Tapi yaa tetap saja jalan cerita Black Panther (2018) cenderung dapat ditebak arahnya dan kurang ada gregetnya bagi saya pribadi.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Yaaah saya akui saya mungkin lebih suka dengan jalan cerita film solonya Iron Man atau Thor yaaa. Tapi hal ini bukan karena popularitas Black Panther yang menjadi tokoh utama loh. Black Panter tetap mampu tampil sebagai tokoh protagonis dengan berbagai kekuatan yang terlihat keren. Hanya saja ceritanya saja yang sedikit minus hehehehe. Tapi saya tetap tidak setuju juga kalau jalan cerita film ini dikatakan sebagai kisah pengantar menuju film ketiga The Avengers yang menampilkan Thanos. Black Panther (2018) mampu berdiri sendiri sebagai film solo yang solid tanpa embel-embel The Avengers atau Captain America. Dengan demikian, rasanya Black Panther (2018) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Cocok untuk ditonton bersama keluarga ;).

Sumber: marvel.com/blackpanther