Tenet (2020)

Christopher Edward Nolan merupakan salah satu sutradara favorit saya. Mayoritas film besutannya masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Mulai dari Memento (2000), Inception (2010), Trilogi Batman, Interstellar (2014), sampai Dunkirk (2017). Beberapa diantaranya penuh intrik dan sangat membingungkan. Karya terbaru Nolan, Tenet (2020), sepertinya akan menjadi salah satu film Nolan yang paling membingungkan.

Nolan memang gemar bermain dengan ruang dan waktu. Semua itu mencapai puncaknya pada Tenet (2020). Untuk sepenuhnya memahami Tenet (2020), Saya sendiri perlu 2 kali menontonnya dan sedikit membaca literatur mengenai Time Inversion. Konsep Time Inversion merupakan konsep perjalanan menembus waktu yang tidak biasa. Suatu hal yang belum pernah saya temukan pada film-film lain.

Pada Time Inversion, ketika seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, ia akan mengalami berbagai kejadian dalam keadaan terbalik. Tenaga yang ia gunakan merupakan arus waktu berbalik. Namun, kekuatan dari arus waktu berbalik bertumbukan dengan arus waktu lurus yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang terlihat berjalan terbaik, dan ada beberapa hal pula yang terlihat berjalan normal. Bingung? Tak usah malu, pemeran utama film ini saja tidak sepenuhnya faham dengan konsep Time Inversion :’D.

Anak dari Denzel Washington, yaitu John Davis Washington, menjadi pemeran utama Tenet (2020). Siapa yang John perankan? Seseorang yang sepanjang film hanya disebut dengan panggilan Sang Protagonis wkwkwkwk. Ajaib, Tenet (2020) memang benar-benar ajaib. Sepanjang film, Sang Protagonis memiliki misi untuk mencegah kehancuran Bumi akibat Time Inversion. Terdapat beberapa individu yang menyalahgunakan teknologi Time Inversion untuk kepentingannya sendiri.

Mirip seperti beberapa film Nolan sebelumnya. Kebingungan yang disajikan berhasil menjadi sesuatu yang menarik untuk diselidiki, dipikirkan dan dibahas. Dalam fisika, Time Inversion sendiri memang benar-benar ada. Secara tidak langsung, Tenet (2020) memang mengajak penontonnya untuk belajar Fisika @_@.

Tingkat kekompleksan Tenet (2020) melebihi Memento (2000), Inception (2020), Serial Dark, dan Interstellar (2014). Bagi saya pribadi, kekompleksan tersebut agak overdosis ya. Sepanjang film, saya dibuat berfikir dan terus kebingungan. Tenet (2020) gagal memberikan penjelasan yang agak jelas gamblang mengenai beberapa hal. Hal ini membuat saya terus berfikir tanpa bisa terlalu menikmati alur cerita yang ada. Padahal, kalau ditelaah lagi, cerita dari Tenet (2020) sendiri sebenarnya terbilang keren lohh.

Alur cerita yang bagus, menjadikan Tenet (2020) sebagai sebuah film yang memikat. Namun kekompleksan ceritanya, dapat menjadi daya tarik sekaligus sumber ketidakjelasan yang berlebih dari karya terbaru Opa Nolan tersebut. Dengan demikian, Tenet (2020) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Selamat belajar fisika teman-teman, hehehehehe.

Sumber: http://www.tenetfilm.com

Wonder Woman 1984 (2020)

Seumur-umur saya belum pernah membaca buku komik Wonder Woman.  Saya hanya sempat menonton Serial Wonder Woman yang pernah hadir di TV nasional kita pada era tahun 90-an. Yah, tokoh ini memang bukanlah tokoh favorit saya. Pamornya masih kalah jika dibandingkan dengan Batman atau Superman.

Namun, saat ini sepertinya franchise film Wonder Woman sajalah yang masih dapat bersaing. Film standalone Wonder Woman pertama, Wonder Woman (2017), dapat dikatakan relatif lebih baik ketimbang film-film pahlawan super lainnya dari DC Comics. Tak heran kalau sekuel Wonder Woman (2017) kembali hadir pada tahun 2020 ini melalui Wonder Women 1984 (2020).

Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa latar belakang petualangan Wonder Woman kali ini adalah tahun 1984. Otomatis kejadian yang diangkat terjadi antara Wonder Woman (2017) dan Man of Steel (2013). Pada tahun 1984, Superman dan Batman belum hadir, yang ada hanya Wonder Woman (Gal Gadot) saja. Karena keturunan separuh dewa, Wonder Woman atau Diana Prince dikisahkan tidak dapat menua. Maka, selama ini ia sudah berkali-kali kehilangan orang-orang disekitarnya. Semua dapat ia jalani dengan tabah. Hanya saja, ada 1 orang tetap selalu ada di hati Wonder Woman, Steve Trevor (Chris Pine).

Steve sudah tewas pada Wonder Woman (2017). Bagaimana cara Wonder Woman menghidupkan Steve kembali? Semua itu mungkin dengan adanya artefak kuno yang dapat mengaburkan berbagai keinginan. Wonder Woman 1984 (2020) mengambil jalan cerita mengenai bagaimana keinginan dan keserakahan manusia dapat menimbulkan malapetaka. Sebuah tema yang sudah beberapa kali saya lihat pada film-film lainnya. Hanya saja, di sini ada superhero seperti Wonder Woman. Kemudian hadir Cheetah (Kristen Wiig) dan Maxwell Lord (Pedro Pascal) sebagai tokoh antagonisnya. Ternyata, tema ini berhasil diramu dengan baik. Wonder Woman 1984 (2020) pun mampu memberikan pelajaran mengenai keinginan dan keserakahan.

Mulai dari seorang ayah baik yang putus asa sepert Lord, seorang ilmuwan pintar yang sulit bergaul seperti Cheetah, sampai superhero keturunan Dewa Zeus seperti Wonder Woman. Setiap mahluk pastilah memiliki keinginan, beberapa diantaranya sulit dan bahkan hampir mustahil untuk diwujudkan. Tidak hanya menggoda Wonder Woman. Keinginan jugalah yang berhasil membuat Cheetah dan Lord ikut hadir. Cheetah memang sudah lama menjadi lawan utama Wonder Woman. Kalau Batman memiliki Joker, dan Superman memiliki Luthor, maka Wonder Woman memiliki Cheetah. Sayangnya, Cheetah seolah-olah hadir hanya dimaksudkan agar film ini memiliki adegan aksi. Sebuah adegan aksi yang mengecewakan karena gelap dan diiringi lagu yang tidak sekeren lagu pada Wonder Woman (2017). Lagu yang mendampingi adegan aksi pada Wonder Woman (2017) memang terbilang keren. Sayangnya, bagian dari lagu tersebut didaurulang dan muncul lagi pada Wonder Woman 1984 (2020), namun dengan cara yang kurang greget. Yah sebenarnya adegan aksi pada Wonder Woman 1984 (2020) tetap dapat dibilang lumayan baguslah. Tapi, hal ini merupakan sebuah penurunan kalau dibandingkan dengan Wonder Woman (2017).

Kemudian, entah kenapa kostum emas yang Wonder Woman gunakan pada akhir film, tidak nampak terlalu bermakna. Kemampuan dan efek dari kostum tersebut tidak terlalu terlihat. Kilas balik masa kecil Wonder Woman pun tidak terlalu bermakna bagi plot utama Wonder Woman 1984 (2020). Kilas balik tersebut hanya pembukaan bagi kisah dibalik kostum keemasan milik pahlawan Amazon. Kesimpulannya, apakah kostum emas Wonder Woman keren? Bagi saya pribadi, biasa saja, tidak ada kesan “Wah” ketika melihatnya.

Dengan demikian, rasanya Wonder Woman 1984 (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan di rumah, sambil menunggu pandemi Covid-19 berakhir. Semua dapat ditonton di layanan streaming berbayar seperti HBO+.

Sumber: http://www.wonderwomanfilm.net

Code 8 (2019)

Pada tahun 2016, Code 8 hadir sebagai film pendek yang mengisahkan diskriminasi terhadap manusia-manusia berkemampuan khusus. Dikisahkan bahwa terdapat sebagian kecil manusia dilahirkan dengan kemampuan super seperti dapat mengendalikan api, mengendalikan listrik, telekinesis, membaca pikiran dan lain-lain. Hal ini membuat pemerintah menerapkan pengewasan ketat kepada kaum minoritas tersebut.

Pemerintah menggunakan robot-robot super yang berpatroli mengelilingi kota selama 24 jam. Setiap ada pelanggaran akibat penyalahgunaan kekuatan super, robot-robot tersebut akan hadir dan langsung melakukan tindakan keras. Kejadian inilah yang disebut kode 8 atau code 8. Sayang sekali, ketakutan dan prasangka sering kali membuat para pemilik kekuatan super seringkali memperoleh kasus kode 8 tanpa bukti yang jelas. Diskriminasi pun sudah mereka dapatkan sejak kecil. Hal ini terus berlanjut hingga mereka beranjak dewasa. Akibatnya, sebagian besar manusia berkekuatan super ini justru hidup di bawah garis kemiskinan. Wow, sebuah dunia yang bertolak belakang dengan dunia Serial The Boys.

Dengan menggunakan latar belakang yang sama dengan versi film pendeknya, Code 8 hadir kembali pada tahun 2019 namun dengan durasi 100 menit. Mayoritas pemeran utama pada film pendek Code 8, hadir kembali pada Code 8 (2019). Connor Reed (Robbie Amell) hadir sebagai manusia super yang mempu mengendalikan kekuatan listrik. Kali ini ia harus melihat kenyataan pahit yang ibunya alami. Ibu dari Connor mengalami sakit kanker yang semakin hari semakin buruk. Otomatis biaya pengobatan yang harus keluarga Connor tanggung, terus menumpuk. Dengan kondisi Connor yang berkekuatan super dan harus perhadapan dengan diskriminasi, apa yang harus ia lakukan?

Dunia kriminal menjadi pilihan yang terpaksa Connor ambil. Ia bergabung dengan sindikat kriminal yang cukup kuat. Apalagi belakangan Connor terdeteksi sebagai manusi berkekuatan super tingkat 5, Sebuah kekuatan yang jauh di atas rata-rata, mengingat rata-rata manusia super pada saat itu hanya memiliki kekuatan super tingkat 2.

Kekuatan super dan robot mampu tampil sebagai pemanis yang membuat visual Code 8 (2019) nampak cantik dan menarik. Saya suka dengan bagaimana adegan aksi ditampilkan pada film ini. Special effect nya sudah pasti tidak tampil murahan. Latar belakang dari film ini pun menja di nampak lebih hidup dan masuk akal.

Inti dari Code 8 (2019) sebenarnya adalah mengenai diskriminasi dan pilihan hidup yang harus dibuat. Terdapat banyak nilai moral yang dapat kita petik ketika menonton Code 8 (2019). Sayang, beberapa hal yang Code 8 (2019) coba tampilkan sudah sering sekali diangkat oleh film-film lain. Beberapa bahkan memiliki karakter superhero yang sudah terkenal.

Dengan demikian, film asal Kanada ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sayang sekali sepertinya versi film seri dari Code 8 (2019) nampaknya mengalami kendalah sehingga gagal diproduksi. Dunia dan latar belakang yang Code 8 (2019) sebenarnya sudah cukup bagus. Saya pun sudah pasti akan menonton apabila ada sekuel atau spin off nya :).

Sumber: http://www.code8.com

Déjà Vu (2006)

Déjà Vu (2006) diawali dengan penyelidikan kasus pemboman kapal feri yang membunuh ratusan tentara Amerika bersama keluarganya. Douglas Carlin (Denzel Washington) merupakan agen ATF yang menyelidiki kasus tersebut. Dengan daya ingat, ketelian dan kemampuan analisa Douglas yang di atas rata-rata, ia berhasil mengungkap berbagai fakta terkait kasus ini.

Sekilas film ini seperti film detektif biasa. Semua berubah ketika FBI datang dengan membawa sebuah teknologi yang dapat melihat kejadian di masa lalu. Semakin lama, semakin terlihat unsur misteri dan fiksi ilmiah dari Déjà Vu (2006). Pihak FBI ternyata tidak 100% jujur kepada Douglas akan teknologi baru yang sedang mereka gunakan.

Dengan teknologi tersebut, déjà vu menjadi suatu hal yang benar-benar dialami oleh karakter utama pada film ini. Déjà vu sendiri dapat diartikan sebagai perasaan aneh ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang sepertinya sudah pernah ia alami di masa lalu. Pertanyaannya, apakah Déjà Vu (2006) merupakan film yang kompleks? Tidak. Hebatnya, film ini mampu menampilkan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Di sana pun terdapat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan dan realistis. Beberapa diantaranya bahkan tampil beda. Dikisahkan bahwa Douglas harus mengejar seseorang di masa lampau dengan menggunakan kendaraan yang berjalan di masa kini. Semua memungkinkan dengan teknologi terbaru FBI. Ahhhh sungguh déjà vu :’D.

Aksi, thriller, misteri dan fiksi ilmiah berhasil ditampilkan dengan sederhana oleh Déjà Vu (2006). Film ini dapat dijadikan sebagai tontonan ringan yang menarik. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.touchstonepictures.com

Mortal Engine (2018)

Mortal Engine (2018) bercerita mengenai keadaan Bumi di masa depan. Semua yang kita miliki saat ini dianggap sebuah artefak dari masa lampau. Dunia yang kita temui di abad 21 ini hancur karena penggunaan energi kuantum. Dunia beserta manusianya pun mengalami perubahan gaya hidup. Manusia di masa depan harus bertahan hidup di tengah-tengah Bumi yang beracun.

Di wilayah Eropa, manusia tidak lagi tinggal di wilayah yang berdiri di atas tanah. Mereka tinggal di kota-kota yang berupa kendaraan raksasa. Kota-kota tersebut berpindah-pindah untuk berdagang dan menghindari kota-kota lain yang berniat buruk. Awalnya, Mortal Engine (2018) memberikan gambaran akan sebuah masa depan yang berbeda dan unik. Sebuah dunia yang luas, megah dan menarik untuk dilihat. Namun apakah itu cukup untuk membuat Mortal Engine (2018) tampil sebagai film yang menarik?

London adalah sebuah kota besar yang berpindah-pindah melahap kota-kota kecil yang mereka ditemui. Di kota inilah terdapat sebuah rencana besar yang dapat membuat dunia kembali hancur. Seperti biasa, tentunya terdapat beberapa tokoh protagonis yang mencoba menghentikan bencana tersebut. Sebuah jalan cerita yang sudah sering saya lihat pada film-film mengenai dunia di masa depan yang tidak sempurna.

Belum lagi terdapat sub plot yang cukup panjang dan … ternyata tidak terlalu berhubungan dengan plot utama x_x. Semuanya hanya ingin mengisahkan masa lalu si tokoh utama. Tokoh utama yang tidak terlalu saya pedulikan. Mortal Engine (2018) gagal membuat saya peduli dengan tokoh-tokoh yang mereka perkenalkan. Film ini memperkenalkan beberapa tokoh tanpa memberikan penekanan bahwa inilah tokoh yang sangat penting. Tokoh yang kalau dilihat ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap plot utama, seolah memperoleh porsi yang terlalu besar. Potensi-potensi akan konflik pun sepertinya kurang ditonjolkan dengan baik, sehingga semua hanya lewat seperti angin lalu saja.

Semuanya sedikit terselamatkan oleh latar belakang yang terlihat megah. Sebuah dunia yang nampak unik sampai …. menjelang akhir cerita. Mortal Engine (2018) sukses mempekenalkan kota-kota nomanden yang berpindah-pindah dengan mesin-mesinnya yang megah. Namun film ini gagal memperkenalkan jenis kota-kota lain yang ternyata ada di dalam cerita. Semua terasa terburu-buru dan kurang pas.

Bisa saja ini terjadi karena Mortal Engine (2018) berusaha menceritakan kisah utama pada novel Mortal Engine karangan Philip Reeve yang terdiri dari 4 buku. Bayangkan saja, 4 buku novel mau dikisahkan hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Ini bukan hal yang tidak mungkin, tapi sopasti ini bukanlah hal yang mudah.

Dahulu kala Peter Jackson pernah berhasil memfilmkan Lord of the Rings yang diadaptasi dari sebuah novel legendaris. Campur tangan Jackson dalam Mortal Engine (2018) sebenarnya sudah terlihat ketika film ini menunjukkan latar belakang yang megah dan fantastis. Namun, kehadiran Jackson yang kali ini hadir sebagai salah satu produser, gagal mengangkat Mortal Engine (2018) menjadi sebuah adaptasi novel yang menarik.

Cerita yang basi dan pendalam karakter yang kurang membuat saya tak heran kalau Mortal Engine (2018) gagal di tanggal Box Office. Maaf seribu maaf, Mortal Engine (2018) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film yang kurang ok, bukan berarti novelnya juga kurang ok loh. Keempar seri novel Mortal Engine berhasil memenangkan berbagai penghargaan loh. Berbanding terbalik dengan versi filmnya.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/mortal-engines

The Invisible Man (2019)

Sejak pertama kali hadir melalui novel karya H. G. Wells tahun 1897, karakter The Invisible Man sudah hadir di dalam berbagai film. Semuanya bercerita mengenai keberhasilan seorang peneliti dalam membuat tubuhnya menghilang. Sayangnya, penemuan tersebut dipersalahgunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi si peneliti. Jadi jelas sudah, Invisible Man selalu hadir sebagai tokoh antagonis.

Hal serupa terjadi kembali pada The Invisible Man (2019), hanya saja saya melihat beberapa usaha sehingga film tersebut memiliki jalan cerita yang tidak sama persis. Kisah pada The Invisible Man (2019) dilihat dari sisi Cecilia Kass (Elisabeth Moss). Cecilia bukanlah seorang ilmuwan. Ia hanyalah seorang gadis yang melarikan diri dari sebuah hubungan yang buruk.

Mantan pacar Cecilia merupakan seorang ilmuwan jenius yang kaya raya, namun ia sangat keras dan posesif. Wajar bila Cecilia melarikan diri dan mengalami trauma akibat hubungan tersebut. Namun sang ilmuwan sepertinya tidak dapat melupakan Cecilia dan rela melakukan berbagai tindakan nekat untuk mendapatkan Cecilia kembali. Ada sesuatu di dalam diri Cecilia yang sangat ia dambakan.

Bagi Cecilia sendiri, ini merupakan mimpi buruk yang tidak berujung. Bahkan ketika ada kabar bahwa sang ilmuwan tewas, teror yang Cecilia hadapi justru semakin memburuk. Mantan pacar Cecilia seolah-olah selalu ada di dekat Cecilia dan membuat Cecilia nampak buruk dihadapan orang banyak. Cecilia bahkan harus menjadi terdakwa bagi kejahatan yang tidak ia lakukan.

Penderitaan yang Cecilia hadapi nampak jelas dari akting Elisabeth Moss yang prima. Ia berhasil memerankan seseorang yang terus menerus mengalami teror dan trauma. Masalahnya, The Invisible Man (2019) seolah-olah berikan teror dan fitnah saja. Gangguan-gangguan yang Cecilia hadapi memenuhi sebagian besar porsi film ini.

Semua gangguan tersebut membuat Saya benar-benar tidak sadar bahwa The Invisible Man (2019) ternyata merupakan film from zero to hero. Semua tragedi yang Cecilia hadapi telah mengubahnya menjadi seseorang yang berbeda. Tapi saya tidak melihat evolusi dari seorang Cecilia. Semua seolah-olah terjadi dengan tiba-tiba. Akhir dari The Invisible Man (2019) memang terbilang bagus sekali, sayang momen tersebut terasa singkat.

Masih ingat dengan The Mummy (2017)? Aaahhh, ternyata The Invisible Man (2019) merupakan bagian dari Dark Universe besutan Universal Pictures. Pantas saja kisah The Invisible Man (2019) seolah seperti mengisahkan pembentukan sebuah karakter. Meski tidak sebombastis The Mummy (2017), The Invisible Man (2019) nampak lebih berkualitas dan menarik untuk ditonton. Saya rasa The Invisible Man (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sebuah denyut nadi baru bagi masa depan Dark Universe.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/the-invisible-man

 

 

Serial Dark

Perjalanan menembus waktu dan dunia lain dengan berbagai alternatif, sudah sering saya jumpai pada berbagai film seri dan film layar lebar. Mulai dari yang klasik seperti franchise film-film Back to the Future dan Terminator, sampai film superhero seperti The Flash. Tentunya semuanya memiliki alur cerita yang lumayan kompleks dan berputar-putar. Namun selama ini tidak ada kisah perjalanan waktu sekompleks Serial Dark :’D. Uniknya, Dark berbicara pula mengenai dunia lain, bukan hanya perjalanan menggunakan mesin waktu saja.

Latar belakang film seri berbahasa Jerman ini adalah Winden, sebuah kota kecil di Jerman yang terkenal akan pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Semua terasa aman dan tentram sampai terdapat kasus bunuh diri dan hilangnya anak-anak kecil. Dari sana terkuak pula bahwa sekitar 30 tahun yang lalu terdapat kasus yang serupa.

 

Ow ow ow, tunggu dulu. Kok jadi mirip Serial Stranger Things ya? Melihat kasus hilangnya anak kecil, kota kecil sebagai latar belakang dan misteri akan dunia lain, memang membuat banyak orang mengkait-kaitkan kedua serial tersebut. Apalagi keduanya memang hadir di saat yang hampir bersamaan. Bagi saya pribadi, keduanya adalah 2 serial yang berbeda jauh. Semakin lama, semakin terlihat jelas perbedaannya. Mulai dari inti cerita, nuansa film, sampai tingkat kerumitannya.

Berbeda dengan Serial Stranger Things, pada awalnya, semua misteri pada Serial Dark nampak berhubungan dengan misteri sebuah gua misterius. Gua tersebut berperan penting dalam semua kegilaan yang akan terjadi kepada beberapa keluarga di kota Winden.

Kegilaan macam apa? Paradoks dan perjalanan waktu yang membuat garis keturunan beberapa keluarga menjadi kacau. Tapi lama kelamaan, saya melihat bahwa gua tersebut hanyalah potongan kecil dari semua masalah yang ada. Ada pula masalah reaktor nuklir, pencurian identitas, cinta segitiga, perselingkuhan dan lain-lain.

Semuanya merupakan bagian dari berbagai misteri dan kejutan yang Dark berikan kepada para penontonnya. Film ini selalu memiliki misteri yang membuat saya penasaran. Ketika suatu misteri terkuak, Dark memberikan misteri lain yang menarik. Hal ini terus berlangsung pada akhirnya Dark menjadi salah satu film seri paling rumit yang pernah saya tonton.

Kerumitan Dark membuat saya kebingungan ketika menonton beberapa episode dari film seri tersebut. Saya pun beberapa kali harus menonton ulang beberapa episode untung mengerti akan misteri yang disuguhkan. Beruntung kerumitan Dark diimbangi dengan kualitas cerita yang memukau. Jadi mengulang menonton beberapa episode dan membahas kisah-kisahnya merupakan hal yang menyenangkan. Terlibih lagi, nasib yang beberapa karakter hadapi dapat berubah-ubah. Mayoritas memang harus berhadapan dengan takdir yang kelam. Itulah yang harus mereka ubah, keluar dari kegelapan.

Karakter pada Dark terhitung beragam. Apalagi terkadang ada karakter yang muncul dalam umur yang berbeda dan versi yang berbeda pula hehehehe. Yah pada dasarnya semuanya berputar pada garis keturunan keluarga Nielsen, Doppler, dan Tiedemann. Semua berhasil digambarkan dengan cara yang kelam. Saya pun semakin faham kenapa film seri tersebut berjudul Dark.

Sampai saat ini, Dark dikabarkan akan tamat di musim pemutaran ketiga dengan sebuah akhir yang mengejutkan. Dark diputuskan untuk berhenti ketika sedang berada di puncak, dan dengan penuh perhitungan. Berbeda dengan Serial Game of Throne yang sama-sama berhenti ketika di puncak tapi terlihat terburu-buru, aaahhh sangat disayangkan. Saya salut dengan pilihan yang diambil bagi oleh tim pencipta Dark. Semuanya seolah sudah diperhitungkan dengan matang. Akhir dari Dark seperti sudah direncanakan arahnya sejak episode pertama dibuat.

Dengan demikian Dark layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Sebuah film seri yang membuat saya ingin belajar bahasa Jerman hehehehe.

Sumber: darknetflix.io

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Don’t Let Go (2019)

Di tengah-tengah kesibukan saya di rumah, saya menemukan sebuah film dengan tema yang unik, Don’t Let Go (2019). Film ini mengingatkan saya pada Frequency (2000), sebuah film yang dulu saya tonton bersama orangtua saya. Keduanya sama-sama mengisahkan mengenai komunikasi unik yang terjadi antara 2 orang di jalur waktu yang berbeda. Frequency (2000) berhasil mengisahkan dengan baik, hubungan ayah-anak yang terpisah oleh waktu dan kematian. Apakah Don’t Let Go (2019) berhasil melakukan hal yang sama?

Agak sedikit berbeda, Don’t Let Go (2019) mengisahkan hubungan antara seorang paman dengan keponakannya. Detektif Jack Radcliff (David Oyelowo) kaget bukan main ketika ia menerima sebuah telefon dari Ashley Radcliff (Storm Reid) yang sudah meninggal dunia. Beberapa minggu yang lalu, Jack sendiri menemukan Ashley dan kedua orangtuanya, menjadi korban pembunuhan. Sebuah peristiwa yang membuat Jack stres berat.

Jack seolah memperoleh kesempatan kedua ketika ia menerima telefon dari Ashley. Ashley di masa lalu, dapat berkomunikasi dengan Jack di masa depan melalui sebuah telefon genggam. Keduanya berusaha mengubah masa depan dengan menyelidiki siapa yang membunuh Ashley.

Misteri dan penyelidikan pada Don’t Let Go (2019) memang sangat menarik untuk diikuti. Namun hal ini hanya bertahan sampai separuh film. Don’t Let Go (2019) seakan kehilangan daya tariknya pada pertengahan film. Film ini terasa terlalu bertele-tele dan pelaku kejahatannya sudah mulai terkuak di pertengaham film. Selanjutnya, semua berlangsung dengan sangat klise.

Sayang sekali, Don’t Let Go (2019) sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah film yang lebih menarik dibandingkan Frequency (2000). Hubungan paman dan keponakan pada Don’t Let Go (2019), terasa kurang memukau. Saya tidak merasakan kekhawatiran yang dalam dari Jack, ketika Ashley dalam bahaya besar.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Masih ok-laaah untuk dijadikan hiburan ringan, film ini tidak terlalu kompleks kok.

Sumber: http://www.dontletgomovie.com