Serial Loki

Loki Laufeyson (Tom Hiddleston) merupakan tokoh antagonis utama dari The Avengers (2012). Ia adalah pangeran Asgard yang cerdas namun licik & narsistik. Kemampuan Loki adalah manipulasi, hipnosis, telekinesis, merubah wujud, duplikat, membaca pikiran, ilusi, kebal dari berbagai penyakit, dan lain-lain terutama terkait ilmu sihir. Karena iri, Loki selalu berusaha merebut kekuasaan atas Asgard dari ayah dan saudaranya. Salah satu usahanya adalah ketika ia menyerang New York pada The Avengers (2012). Kemudian tiba-tiba karakter ini berkembang menjadi semacam anti-hero. Puncaknya adalah ketika berpihak pada Thor & The Avengers pada Thor: Ragnarok (2017), Avengers Infinity War (2018) & Avenger: Endgame (2019).

Pada Avengers Infinity War (2018), Loki tewas dalam sebuah pertempuran dahsyat. Kemudian pada Avenger: Endgame (2019), Avengers yang tersisa berpencar melakukan perjalanan waktu ke masa lalu demi menghidupkan kembali rekan-rekan mereka beserta separuh populasi dunia yang tewas.

Serial Loki diawali ketika salah satu perjalanan waktu The Avengers adalah kembali ke waktu dimana Loki baru saja kalah dalam pertempuran New York pada The Avengers (2012). Loki tiba-tiba berada di dalam sebuah upaya perebutan antara salah batu infinity yaitu batu ruang atau tesseract. Loki yang diborgol berhasil memanfaatkan keadaan dan mengambil tesseract. Ia kemudian menggunakan kekuatan batu tersebut untuk meloloskan diri. Tesseract memungkinkan pemiliknya untuk melakukan teleportasi tidak hanya ke tempat & waktu yang berbeda, namun ke dunia paralel yang berbeda pula.

Setelah melarikan diri dengan batuan tesseract, Loki ditangkap oleh pasukan berseragam hitam dengan logo TVA pada seragamnya. Apa itu TVA? TVA adalah kepanjangan dari Time Variance Authority. Organisasi ini dibetuk oleh Time Keeper untuk menjaga garis waktu sakral. Garis waktu ini merupakan urutan kejadian alam semesta beserta dunia-dunia paralelnya.

Film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) memang menggunakan dunia paralel. Jadi apapun itu yang ada di alam semesta, pasti ada juga di alam semesta paralel lainnya. Hanya saja semuanya tidak identik sama. Berbagai versi dari apapun itu sering kali memiliki wujud dan sifat yang berbeda pada dunia paralel lainnya.

Jadi, semua yang ditangkap oleh TVA, adalah individu-individu yang mengubah sejarah dan membuat cabang garis waktu dari garis waktu sakral. Hal ini terjadi tidak hanya terjadi dengan melalukan perjalanan waktu. Perjalanan lintas dunia paralel dan waktu pun langsung menyebabkan TVA datang.

Intinya, TVA memang berusaha membuat keteraturan dengan menjaga agar hanya ada 1 garis waktu, yaitu garis waktu sakral. Cabang-cabang dari garis waktu keramat harus dihancurkan secepat mungkin karena TVA menganggap bahwa cabang-cabang garis waktu akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran.

Uniknya, Loki yang gemar melakukan kekacauan justru direkruit oleh TVA untuk memburu para pelanggar yang disebut Variant. Di sana, Loki bertemu dengan Loki-Loki versi lainnya. Uniknya mereka semua memiliki 1 kesamaan, mereka semua agak licik.

Loki pun lama kelamaan semakin menyadari bahwa ia terjebak di tengah-tengah petikaian antara kekacauan dan keteraturan. TVA menciptakan sebuat garis waktu yang teratur tanpa menyadari bahwa mereka menghapus kebebasan individu. Semua sudah digariskan dan tidal boleh mengambil jalan yang berbeda dari yang sudah digariskan. TVA pun terlihat semena-mena menangkap dan menghakimi semua variant, tanpa peduli apakah dia masih kecil atau sudah tua. Siapakah yang harus Loki bantu?

Di sini kita melihat Loki jahat yang baru kalah perang dari The Avengers pada The Avengers (2012). Jadi berbagai sifat kahat masih terlihat pada episode-episose awal. Lama kelamaan, Loki terlihat semakin bijaksana dan peduli terhadap kemalangan orang lain. Tapi kelicikannya tetap ada, itu sih tidak bisa hilang, hehehehe.

Karakter Loki di sini sangat kuat. Tom Hiddleston menampilkan akting yang bagus di sini. Loki yang memiliki berbagai sifat jahat, ternyata masih memiliki hati nurani. Semua peritiwa pada serial ini, mengubah Loki menjadi pribadi yang lebih baik. Tapi masih menyisakan berbagai perangai buruk pula. Di sini, serial Loki berbicara mengenai kesimbangan. Tidak ada mahluk yang murni 100% jahat atau 100% baik. Pastilah semuanya memiliki kebaikan dan keburukan, sekecil apapun. Sepertinya serial ini menyindir telak sinetron-sinetron Indonesia yah ;’D.

Baik dan buruk tidak hanya menempel pada perangai individu saja. Melainkan pada garis waktu dan semua yang berkecimpung di dalamnya di dalamnya. Keteraturan dan kekacauan sama-sama dibutuhkan agar tidak terjadi perang besar antara para variant. Lalu, keteraturan dan kekacauan pun dibutuhkan untuk menjamin kebebasan setiap individu untuk menjalani hidupnya sendiri.

Kemudian bagaimana dengan special effect-nya? Apakah hanya setingkat di atas burung-burungannya sinetron Indosiar? Marvel Studio memang tidak tanggung-tanggun ketika menggarap sebuah proyek. Adegan aksi pada serual ini lumayan seru dan didukung oleh special effect yang bagus sekali, tidal kalah denga film layar lebar Marvel loh. Di luar adegan perkelahian pun, serial Loki berhasil memberikan berbagai visual yang cantik dan meyakinkan. Loki seakam benar-benar berkenala ke berbagai planet di waktu dan dunia paralel yang berbeda.

Pelajaran dan makna yang bagus, disertai oleh plot yang bagus & komunikatif, plus special effect yang cantik, tentunya menjadikan serial Loki layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini pun menjadi serial MCU fase 4 pertama yang dibagi menjadi lebih dari 1 musim pemutaran. Marvel nampak semakin percaya diri dalam menggarap serial-serial superhero.

Sumber: http://www.marvel.com/tv-shows/loki/1

Black Widow (2021)

Black Widow merupakan salah satu tim inti kelompok superhero The Avengers yang hampir selalu muncul di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Sudah sejak lama para fans menantikan film solo Black Widow. Entah apakah ini sudah terlambat atau belum, baru pada tahun 2021 ini Black Widow memperoleh film solonya melalui Black Widow (2021).

Masa kecil Black Widow atau Natasha Romanov (Scarlett Johansson) dihabiskan sebagai bagian dari keluarga mata-mata Rusia. Mereka berpura-pura menjadi keluarga Amerika biasa yang tinggal di Ohio. Setelah misi mata-mata selesai, keluarga tersebut terpecah.

Natasha kecil kemudian dilatih di dalam Red Room oleh Jendral Dreykof (Ray Winstone) untuk menjadi seorang Black Widow. Sekumpulan tentara handal yang sangat terlatih untuk menyelesaikan berbagai misi. Pelatihan yang diberikan sejak kecil, tentunya menjadi Natasha sangat handal. Namun pada akhirnya ia memilih untuk membunuh Dreykof dan membelot menjadi anggota S.H.I.E.LD. untuk kemudian menjadi anggota The Avengers. Sejak saat itu Natasha mengaggap Dreykof dan Red Room sudah musnah.

Bertahun-tahun kemudian, Yelena Belova (Florence Pugh) memberitahu Natasha bahwa Dreykof selamat dan Red Room masih beroperasi secara tersembunyi. Di Ohio dulu, Yelena sempat menjadi adik Natasha dalam keluarga pura-pura mereka. Dari sana, mereka mengumpulkan informasi mengenai Red Room dengan menemui agen yang berperan menjadi ayah dan ibu mereka di Ohio dulu.

Setelah misi menjadi ayah di Ohio selesai, Alexei Shostakov (David Harbour) menjadi Red Guardian, versi Uni Soviet dari Captain Amerika. Pada masanya Red Guardian pun harus berhadapan dengan Captain America.

Sementara itu, figur ibu bagi Natasha & Yelena, Melina Vostokoff (Rachel Weitz) menjabat sebagai ketua tim peneliti Red Room. Selain itu, ternyata Melina pun seorang Black Widow yang dahulu dilatih di Red Room.

Ketika Natasha, Yelena, Alexi dan Melina bertemu, ada nostalgia yang sentimentil di sana. Misi mereka di Ohio adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Bagi mereka, semua yang terjadi di Ohio terasa nyata.

Seperti menjadi ayah & ibu sungguhan, Melina & Alexei bersedia membantu Yelena & Natasha melawan Dreykof yang dikawal oleh banyak Black Widow. Tak hanya itu, keempatnya harus berhadapan dengan Taskmaster (Olga Kurylenko). Kostum Taskmaster sebenarnya sudah cukup sangar, sayang perannya hanya untuk berkelahi saja. Black Widow (2021) sepertinya kurang memaksimalkan karakter yang satu ini.

Namun, keterlibatan Taskmaster dalam adegan perkelahian, tetap terlihat bagus. Saya suka dengan berbagai adegan aksi pada Black Widow (2021). Semuanya terbilang realistis dan seru untuk ditonton. Apalagi di sana Natasha melakukan taktik perang psikologis yang menjadi keahliannya. Saya benar-benar terhibur di sana.

Ditambah lagi dengan jalan cerita yang cerdas & enak untuk diikuti, Black Widow (2021) semakin banyak memiliki kelebihan. Mirip film-film MCU lainnya, beberapa humor pun diselipkan pada Black Widow (2021) dan hasilnya terbilang pas. Humornya hadir disaat yang tepat sehingga dapat menjadi penyegar di tengah-tengah berbagai adegan aksi yang serius.

Hampir semua peristiwa pada Black Widow (2021), terjadi sesaat setelah Captain America: Civil Wars (2016). Jadi, bagi yang sudah menonton setiap film-film MCU, pasti tahu persis kapan Natasha gugur. Sudah dapat dipastikan Natasha akan tetap segar bugar setelah Black Widow (2021) berakhir. Saya rasa ini bukanlah kejutan. Toh selama ini tidak pernah ada film superhero solo MCU dimana tokoh utamanya tewas pada film solo pertamanya. Jagoan mah menang terus dong.

Saat ini beberapa tokoh utama The Avengers seperti dipensiunkan dengan berbagai alasan. Yah selain kontrak para pemerannya memang habis, MCU membutuhkan penyegaran. Hilang 1, muncul 1, kurang lebih itulah yang terjadi. Captain America baru sudah terlahir melalui Serial The Falcon and the Winter Soldier. Black Widow pun saya rasa mengalami hal yang sama dan Black Widow (2021) berperan untuk memperkenalkan calon Black Widow baru pengganti Natasha.

Saya rasa tidak pernah ada kata terlambat bagi kemunculan film apapun termasuk Black Widow, selama kualitasnya ok. Untuk Black Widow (2021) sendiri, saya ikhlas memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/black-widow

The Tomorrow War (2021)

Akhirnya film yang saya tunggu-tunggu hadir juga, The Tomorrow War (2021). Saya sudah tertarik dengan film ini ketika melihat trailer-nya. Ceritanya berkisar pada bagaimana seseorang dari masa lalu membantu anaknya untuk memenangkan perang di masa depan.

Dikisahkan bahwa pada tahun 2022 sekelompok penjelajah waktu hadir di tengah-tengah pertandingan Piala Dunia. Mereka mengabarkan bahwa sekitar 30 tahun dari tahun 2022, Bumi diserang oleh mahluk misterius yang disebut landak putih. Pihak manusia terus menerus mengalami kekalahan dan diperkirakan akan mengalami kepunahan.

Maka mereka meminta bantuan dari umat manusia yang hidup di tahun 2022 untuk datang ke masa depan. Mereka mengajak untuk ikut berperang menyelamatkan generasi anak dan cucu mereka di masa depan. Pemerintah pun merespon dengan mengirimkan tentara dan rakyat sipil yang memenuhi persyaratan. Wajib militer pun diberlakukan.

James Daniel “Dan: Forester (Chris Pratt) adalah mantan pasukan baret hijau yang mengajar biologi di sekolah. Ia mendapatkan panggilan wajib militer dan pergi ke masa depan. Secara mengejutkan, Dan bertemu dengan Kolonel Muri Forester (Yvonne Strahovski), anaknya di masa depan. Seketika itulah peperangan ini berubah menjadi masalah pribadi bagi Dan. Keduanya bekerjasama mencari cara untuk memenangkan perang secepat mungkin. Bala bantuan dari masa lalu ternyata kurang cukup dan populasi manusia semakin menurun.

Peperangan dan aksi yang disajikan terbilang keren dan bagus. Hanya saja kok rasanya mirip dengan Starship Troopers (1997) ya. Mulai dari bentuk monsternya sampai tembak-tembakannya.

Tapi saya senang, The Tomorrow War (2021) mengambil topik dan jalan cerita yang jauh berbeda dari Starship Troopers (1997). Jalan cerita The Tomorrow War (2021) lebih menarik untuk diikut. Temponya pas sekali sehingga setiap adegan, menarik untuk dilihat. Penyelidikan untuk mencari cara memenangkan perang adalah bagian yang paling membuat saya penasaran.

Tak hanya itu, The Tomorrow War (2021) ternyata bercerita pula mengenai keluarga. Bagaimana hubungan keluarga yang tidak harmonis, kembali pulih melalui serangkaian bencana.

Saya rasa The Tomorrow War (2021) pamtas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah sekuel dikabarkan akan hadir. Hmmmm kalau sudah berbicara mengenai perjalanan waktu, memang pasti banyak celah untuk memutar-mutar ceritanya.

Sumber: http://www.amazon.com/Tomorrow-War-Chris-Pratt/dp/B093CNZ7ST

Serial The Falcon and the Winter Soldier

Avenger merupakan kumpulan superhero ternama dari Marvel Comics dan telah hadir berkali-kali dalam film-film MCU (Marvel Cinematic Universe) yang saling berhubungan. Karakter Falcon / Sam Wilson (Anthony Mackie) dan Winter Soldier / Bucky Barnes (Sebastian Stan) merupakan bagian dari Avenger yang tidak terlalu terkenal. Saya pun tidak berharap banyak ketika Serial The Falcon and the Winter Soldier hadir di aplikasi streaming Disney+.

Seperti film-film MCU sebelumnya, The Falcon and the Winter Soldier tetap dapat dinikmati tanpa harus menonton film-film MCU sebelumnya. Namun, akan lebih nyaman kalau kita mengetahui sekilas mengenai latar belakang karakter-karakter yang ada. Semuanya sudah dikisahkan pada film-film MCU sebelumnya. Dari sekian banyak film-film MCU, rasanya The Falcon and the Winter Soldier berkaitan dengan Captain America: The First Avenger (2011), Captain America: The Winter Soldier (2014), Captain America: Civil Wars (2016) dan Avengers: Endgame (2019). Wah, mayoritas terkait film tentang Captain America / Steve Rogers (Chris Evans) yah. Falcon dan Winter Soldier memang merupakan 2 orang terdekat Captain America. Baiklah, supaya teman-teman tidak perlu menonton teelebih dahulu film-film MCU yang tadi saya sebutkan, saya akan sekilas membahas mengenai latar belakang keadaan Falcon dan Winter Soldier pada film seri ini.

Kita awali dari Winter Soldier atau Bucky Barnes. Ia merupakan sahabat Steve Rogers sejak mereka masih terlibat Perang Dunia Kedua. Keduanya adalah personel militer Amerika Serikat yang pergi melawan Nazi. Steve kemudian menggunakan serum tentara super hingga akhirnya ia menjadi Captain America dengan berbagai kekuatan supernya. Selain berjuang langsung di garis depan, Steve berhasil menjadi maskot dan marketing bagi perjuangan Amerika di Perang Dunia Kedua. Steve tampil sebagai Captain America yang menginspirasi mayoritas penduduk dunia. Perisainya pun menjadi ciri khas Captain America yang melekat sepanjang masa. Semua ini dikisahkan pada Captain America: The First Avenger (2011). Sayangnya, pada film ini dikisahkan pula bagaimana Captain America menghilang dan membeku. Sementara itu Bucky terjatuh dan tidak jelas nasibnya.

Kemudian pada Captain America: The Winter Soldier (2014), dikisahkan bahwa Steve dan Bucky harus berhadapan setelah tidak bertemu selama 70 tahun. Karena kekuatan supernya, Steve dapat dibangkitkan dari fase beku tanpa mengalami penuaan. Sementara itu, Bucky tidak hilang, melainkan menjadi objek percobaan tentara super Nazi. Karena Bucky setengah mesin dan memiliki serum manusia super di dalam darahnya, maka ia pun tetap hidup puluhan tahun tanpa menua seperti Steve. Sayang, Bucky mengalami cuci otak sehingga selama puluhan tahun pula Bucky beraksi sebagai pembunuh profesional yang sangat handal. Ketika berhadapan dengan Bucky, Steve memperoleh bantuan dari Sam Wilson. Di sini, Sam memperoleh kostum dan menjelma menjadi Falcon. Falcon tidak memiliki kekuatan super. Ia memiliki kostum yang dapat membuatnya terbang dengan cepat dan lincah.

Pada Captain America: Civil Wars (2016), Bucky yang mulai insyaf dituduh membunuh pemimpin negeri Wakanda. Insiden ini membuat Avengers terpecah dan saling baku hantam. Semua ini adalah ulah Baron Helmut Zemo (Daniel Brühl) yang sangat anti terhadap konsep manusia super. Zemu ingin memusnahkan semua manusia super yang ada. Menurutnya, manusia super akan memunculkan sebuah supremasi dimana pada akhirnya manusia biasa akan ditindas oleh manusia super. Pada akhirnya, semua rencana Zemo gagal dan ia dijebloskan ke dalam penjara.

Terakhir, pada Avengers: Endgame (2019) dikisahkan bahwa Thanos berhasil memusnahkan separuh populasi alam semesta dengan kekuatan batu-batu infinity. Kemudian, setelah 5 tahun berlalu, Avengers dan superhero-superhero lain, berhasil mengalahkan Thanos dan menghidupkan kembali separuh populasi alam semesta yang sempat Thanos musnahkan. Hal ini disebut “blip” oleh media masa saat itu.

Semua kejadian pada Serial The Falcon and the Winter Soldier terjadi setelah insiden “blip”. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak sekali perubahan yang terjadi. Sebagian dari warga yang kembali hidup, mengalami berbagai masalah sehingga mereka terlantar dan tidak memiliki rumah. Penanganan yang lambat dan kurang tepat dari pemerintah menghadirkan sebuah ancaman baru yang disebut Flag Smashers.

Flag Smasher adalah sekumpulan anak-anak muda yang telah mencuri serum manusia super dan telah berhasil menyuntikkan serum tersebut kepada diri mereka. Dengan kekuatan super yang Flag Smasher miliki, mereka melakukan berbagai aksi yang dimaksudkan untuk menolong para korban insiden “blip” yang terlantar. Pada awalnya aksi ini mendapatkan banyak simpati dari beberapa lapisan masyarakat. Sayang lama kelamaan cara-cara yang Flag Smasher ambil semakin brutal dan merugikan orang banyak.

Di sini, Falcon dan Winter Soldier hadir berusaha menghentikan Flag Smashers. Falcon masih yakin ada kebaikan di dalam Flag Smashers dan ia berusaha agar Flag Smashers dapat melakukan aksinya dengan jalan damai. Falcon termasuk individu yang hilang selama 5 tahun, jadi ia tahu persis rasanya menjadi korban insiden “blip”.

Sementara itu Winter Soldier hadir dengan berbagai trauma masa lalu dan kekesalan yang dalam terhadap Falcon. Pada bagian paling akhir dari Avengers: Endgame (2019), Steve Rogers / Captain America menyerahkan perisai Captain America kepada Falcon. Secara tidak langsung, hal ini dimaksudkan agar Falcon mengenakan perisai tersebut & menjadi Captain America yang baru. Namun apa yang Falcon lakukan? Ia merasa ragu dan menyerahkan perisai tersebut kepada pemerintah. Winter Soldier merasa bahwa Falcon tidak menghargai Steve Rogers. Hal ini semakin kacau ketika pemerintah dengan seenaknya melantik seorang Captain America baru dan menyerahkan perisai Steve Rogers kepadanya :(.

John Walker (Waytt Russell) dipilih sebagai Captain America yang baru. Film seri ini dengan cerdasnya berhasil membuat saya untuk tidak menyukai karakter Walker Si Captain America Kawe 3 ini. Sejak awal, tokoh ini terlihat kurang pantas untuk menjadi Captain America yang baru. Bukan karena Walker itu orang yang jahat yaaa. Namun dari gerak-gerik dan gayanya, Walker adalah seorang tokoh yang dengan sangat mudah untuk dibenci. Walker yang sangat ambisius pun berusaha merayu Falcon & Winter Soldier untuk menjadi bagian dari tim yang Walker bentuk. Walker berambisi untuk menangkap Flag Smasher demi pengakuan dan keluar dari bayang-bayang Steve Rogers yang fenomenal.

Kecewa dengan keputusan pemerintah, Winter Soldier & Falcon tentunya menolak mentah-mentah tawaran Walker. Mereka lebih memilih untuk berkerja sama dengan Baron Helmut Zemo untuk menghentikan Flag Smashers. Zemo memang seorang kriminal, namun ia sangat menentang keberadaan serum manusia super. Selain itu Zemo memiliki berbagai koneksi yang dapat ia gunakan untuk melacak keberadaan Flag Smashers.

Film seri ini ternyata berhasil menampilkan sebuah kisah yang enak dan menarik untuk diikuti. Kerjasama tim antara Winter Soldier dan Falcon dapat ditampilkan dengan sangat baik. Saya suka dengan bagaimana kedua tokoh utama ini berinteraksi. Masing-masing memiliki masalah yang pada akhirnya akan terpecahkan bersama-sama. Namun, porsi Falcon nampaknya relatif lebih besar ketimbang Winter Soldier.

Adegan aksinya pun ternyata jauh dari kata mengecewakan. meskipun hadir dalam wujud film seri, The Falcon and the Winter Soldier ternyata cukup seru dan menampilkan berbagai aksi yang tidak kalah dengan adegan aksi pada film-film layar lebar MCU. Bukan mustahil apabila dikemudian hari keduanya menghadapi lawan-lawan lain selain Flag Smasher.

Integrasi antara The Falcon and the Winter Soldier dengan beberapa film MCU lainnya pun terjahit dengan mulus. Semuanya tampak menyambung tanpa membuat bingung para penonton baru. Inti dari ceritanya sangat mudah dipahami dan tidak terlalu berbelit-belit. Semua ini sebenarnya terkait transformasi Falcon menjadi Captain America, sesuatu yang sudah dapat ditebak sejak awal. Namun kita semua memang tidak tahu sampai kapan Falcon bersedia menggenggam perisai Captain America. Semua dapat tiba-tiba berubah di MCU. Lalu bagaimana dengan Winter Soldier? ia masih harus terus melawan bayang-bayang akan kajahatan yang ia lakukan ketika masih menjadi pembunuh berdarah dingin.

Bagi para pembaca setia buku komik Marvel tentunya sudah dapat menebak akhir dari The Falcon and the Winter Soldier. Namun kelebihan dari film seri ini memang pada jalan ceritanya, bukan dari akhir ceritanya. Dengan demikian saya rasa The Falcon and the Winter Soldier layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com

Zack Snyder’s Justice League (2021)

Selama ini Zack Snyder telah menjadi tokoh kunci dari terbentuknya DCEU (DC Extended Universe). DCEU sendiri secara singkat dapat dikatakan sebagai kumpulan dari film-film superhero DC Comics yang saling berhubungan. Hubungan-hubungan tersebut tentunya ada kalanya akan dijadikan satu pada sebuah titik. Kalau Marvel Comics memiliki The Avengers, maka DC Comics memiliki Justice League sebagai titik pemersatu DCEU. Justice League adalah sebuah perkumpulan yang terdiri dari berbagai superhero kenamaan yang pernah DC Comics buat. Tentunya versi film layar lebar dari Justice League, seharusnya menjadi perhelatan besar bagi Zack Snyder. Semua hal yang telah ia tanamkan atau sisipkan pada film-film DCEU sebelumnya, akan bertemu kembali pada titik ini. Namun, pada proses akhir dalam pembuatan film Justice League, keluarga Snyder harus menghadapi sebuah musibah. Pada Maret 2017, salah satu anak Snyder dikabarkan melakukan bunuh diri. Hal ini sangat memukul Snyder dan ia memutuskan untuk mundur dari proyek DCEU yang telah lama ia rintis.

Pihak studio terus melanjutkan proyek yang Snyder tinggalkan dan lahirlah Justice League (2017). Film yang satu ini gagal memperoleh sambutan yang meriah dari sebagain besar penonton. Bagi saya sendiri film tersebut yah hanya lumayan saja, tidak terlalu spesial. Agar DCEU dapat terus berjalan, film penting seperti Justice League (2017) diharapkan hadir sebagai film yang spektakuler. Justice League (2017) dapat dikatakan sebagai lambang “kematian” dari DCEU.

Beberapa tahun kemudian, terkuak bahwa hengkangnya Snyder di akhir proses produksi Justice League (2017), membuat film tersebut kurang optimal. Film tersebut dikabarkan agak melenceng dai visi Snyder. Banyak sekali detail yang diubah. Para fans menyuarakan agar pihak studio dan produser berkenan untuk merilis Justice League versi Snyder. Setelah melalui proses yang panjang, hadirlah Zack Snyder’s Justice League (2021).

Tidak tanggung-tanggung, durasi Zack Snyder’s Justice League (2021) adalah 4 jam. Ini jauh berbeda dengan film lepas lain yang rata-rata memiliki durasi rata-rata antara 1,5 jam sampai 2 jam. Dengan durasi sepanjang itu, Snyder’s Justice League (2021) tentunya berhasil memberikan detail yang lebih banyak. Saya lihat porsi The Flash (Ezra Miller) dan Cyborg (Ray Fisher) menjadi jaih lebih banyak. Pentingnya peranan kedua superhero tersebut terlihat menanjak drastis pada Snyder’s Justice League (2021). Padahal secara garis besar, cerita pada Zack Snyder’s Justice League (2021) dan Justice League (2017), tidak jauh berbeda.

Snyder membubuhkan berbagai detail kecil yang membuat Zack Snyder’s Justice League (2021) memiliki keterkaitan yang erat dengan film-film DCEU sebelumnya. Otomatis Snyder mengubah-ubah beberapa bagian cerita. Sebenarnya bagian yang diubah terasa tidak terlalu banyak, tapi memiliki makna yang luas. Kemudian, peranan superhero Justice League lain selain Superman, terasa jauh bermakna pada Zack Snyder’s Justice League (2021). Akhir ceritanya saja lebih memiliki klimaks. Nampak jelas bahwa film ini mampu menunjukkan bahwa semua anggota Justice League memang memiliki peranan masing-masing yang sama pentingnya. Mereka bukan hanya “bantalan” Superman saja. Dari segi cerita, Zack Snyder’s Justice League (2021) jauh lebih berkualitas dibandingkan Justice League (2017).

Apa saja sih yang Snyder ubah? Yang pasti rasio gambar film Zack Snyder’s Justice League (2021) menggunakan rasio 4:3 yang saat ini jarang digunakan film lain. Kemudian warna-warna pada film tersebut dibuat lebih gelap dan kelam. Humor-humor kecil pada Justice League (2017) pun dipangkas habis-habisan. Zack Snyder’s Justice League (2021) lebih banyak menunjukan bagaimana para superhero dan supervillain menggunakan kekuatannya. Tak lupa, peramu musik pada Zack Snyder’s Justice League (2021) dibuat berbeda pula.

Cerita boleh sama, tapi Snyder sukses memberikan rasa yang sangat berbeda pada Zack Snyder’s Justice League (2021). Durasi yang panjang, dipecah ke dalam beberapa Chapter kok. Saya sendiri mengambil istirahat sejenak ketika pertama kali menonton film tersebut. Zack Snyder’s Justice League (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Dengan kehadiran film ini, denyut nadi DCEU kembali berdetak ;).

Sumber: http://www.snydercut.com

Serial WandaVision

Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) & Vision (Paul Bettany) merupakan karakter superhero Marvel Comics yang tidak terlalu dominan dan belum memiliki film solo. Yah paling tidak hal tersebut benar adanya sampai tahun 2021. Pada tahun inilah keduanya memiliki film seri sendiri melalui Serial WandaVision.

Kedua karakter ini pertama kali hadir pada Avengers: Age of Ultron (2015). Wanda adalah mutant dengan kekuatan seperti seorang penyihir. Pada Avengers: Age of Ultron (2015), Wanda kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki, yaitu Quicksilver atau Pietro Maximoff. Sementara itu Vision lahir dari perpaduan antara komputer jenius ciptaan Tony Stark dan Mind Stone. Kedua tidak terlihat saling mengenal pada film kedua Avengers tersebut.

Kemudian pada Avengers Infinity Wars (2018) & Avengers: Endgame (2019), Wanda dan Vision hadir sebagai sepasang kekasih. Mind Stone yang membuat Vision dapat hidup, merupakan bagian dari Infinity Stone yang diburu Thanos. Maka dapat ditebak, pada akhirnya Wanda harus kehilangan lagi, orang yang ia kasihi. Hanya saja, saya sebagai penonton tidak terlalu sedih. Kenapa? Kisah cinta Wanda dan Vision terlihat mendadak dan .. yah mereka berdua memang kalah pamor dibandingkan superhero lain yang sudah punya nama besar. Saya sendiri pada awalnya tidak terlalu antusias dengan WandaVision. Saya jauh lebih antusias ketika menonton film layar lebarnya Avengers :).

Well, Avengers: Age of Ultron (2015), Avengers Infinity Wars (2018) & Avengers: Endgame (2019) memang dapat dijadikan sebagai pengantar sebelum menonton WandaVision. Penonton akan merasa lebih nyaman apabila sudah menontonnya terlebih dahulu. Tapi saya rasa itu tidak wajib kok. Film seri WandaVision memang mengambil cuplikan dari film-film Marvel lainnya untuk menjelaskan beberapa hal. Semuanya dilakukan dengan sangat jelas. Jadi tidak perlu khawatir akan kebingungan ketika menonton serial ini.

Kalaupun bingung, pastilah bukan bingung mencari keterkaitan dengan film Marvel lainnya. Serial WandaVision memang disajikan dengan agak unik. Film seri ini disajikan dengan berbagai format yang berbeda. Beberapa diantaranya, WandaVision seolah-olah seperti film komedi situasi lawas. Semua lengkap dengan efek tertawa penonton, setting latar belakang 1 arah dan lain-lain. Setiap episode dari WandaVision, tetdapat sesuatu yang berbeda. Baik dari format dan visual, maupun dari segi cerita. Sesuatu yang jenius dari Marvel Studio.

Entah bagaimana, Wanda dan Vision hidup damai di Kota Westview. Merekan bahkan akhirnya memiliki 2 anak laki-laki. Tak lupa Pietro tiba-tiba kembali hidup dengan wajah yang berbeda. Semua dibungkus dengan gaya komedi situasi Amerika tempo dulu seperti I Love Lucy, Leave It to Beaver, The Honeymooners, The Dick Van Dyke Show, Growing Pains, The Cosby Show dan lain-lain.

Kemudian, perlahan, terkuak keanehan dan misteri pada kehidupan Wanda dan Vision tersebut. Semuanya terus memuncak sampai hadir tokoh-tokoh Marvel lainnya yang menunjukkan bahwa serial ini tetap berada di dalam MCU (Marvel Cinematic Universe). Pada akhirnya semua tetap dapat berhubungan dengan film-film Marvel lainnya. Hal ini berhasil membuat saya terpaku untuk terus menonton episode demi episode tanpa merasa kebosanan. Apalagi terdapat adegan aksi yang tak kalah dengan film layar lebar karakter superhero lainnya. Semuanya tertata rapi dengan kualitas yang tidak murahan.

Teknik penceritaan yang unik ditambah dengan cerita dan adegan aksi yang keren, tentunya membuat WandaVision semakin layak untuk ditonton. Serial ini layal untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisanya ini, WandaVision berhasil menjadi serial terbaik yang saya tonton di awal tahun 2021 ini.

Sumber: http://www.marvel.com

Inception (2010)

Inception (2010) merupakan karya Christopher Nolan yang berbicara mengenai dunia mimpi. Sebagai pengantar, saya akan menjelaskan mengenai dunia mimpi yang ada pada Inception (2020) tanpa memberikan spoiler. Ok berdasarkan pengalaman saya menontkn Inception (2010) berkali-kali, berikut yang dapat saya bagi mengenai dunia mimpi ala Nolan. Jadi, dikisahkan bahwa pihak militer berhasil melalukan uji coba terkait mimpi. Dengan menggunakan sebuah obat penenang tertentu, seseorang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik inipun, beberapa orang dapat berbagi mimpi dan seolah-oleh memiliki kehidupan lain di alam mimpi sana. Ukuran waktu pada dunia mimpi jauh lebih lama dibandingkan ukuran waktu pada dunia nyata. Seseorang bisa saja bermimpi hanya sehari, namun ia merasakan hidup di dunia mimpi selama beberapa hari.

Ketika seseorang tewas di dalam dunia mimpi, ia hanya akan terbangun, tidak ada yang fatal di sana. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berusaha melewati batasan-batasan yang sudah ditetapkan di dalam mimpi yang ia jalani. Ia bisa saja tersesat di dalam dunia limbo dan tidak akan kembali bangun di dunia nyata. Dunia limbo adalah dunia absurd yang sangat menyesatkan. Seseorang tidak akan dapat membedakan apakah ia sedang ada di dunia mimpi atau dunia nyata.

Di dalam sebuah mimpi, bisa saja tertanam atau ditanamkan mimpi-mimpi lain. Semuanya hadir dalam bentuk lapisan alam bawah sadar yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan inilah yang membuat seseorang dapat tersesat. Namun terkadang, semakin masuk ke dalam lapisan bawah sadar seseorang, semakin banyak pula rahasia yang dapat diperoleh.

Rahasia merupakan hal yang ingin diambil oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan komplotannya. Dom memiliki kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan alam bawah sadar seseorang. Dengan demikian, ia dapat terus masuk ke dalam alam bawah sadar sampai memperoleh rahasia yang hendak ia curi.

Pada dasarkan Inception (2010) mengisahkan petualangan Dom dan kawan-kawan dalam mengambil sebuah rahasia yang sangat sulit. Dalam perjalanannya, ia pun secara tidak sadar, menggali trauma terbesar dalam hidupnya. Hal inipun memberikan berbagai pertanyaan mengenai realitas yang Dom hadapai sepanjang durasi Inception (2010) berlangsung.

Film yang satu ini sungguh mind-blowing bagi saya. Menonton Inception (2020) berkali-kali tidak membuat saya mati kebosanan. Jalan cerita film ini sangat menarik. Meskipun dibuat terpecah-pecah, penjelasan mengenasi dunia mimpi sebenarnya cukup jelas dan mudah untuk dipahami.

Ditambah dengan musik dari Hanz Zimmer yang ciamik dan pas, semuanya nampak menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi special effect dan adegan aksi yang keren, semua seakan menambah deretan keunggulan Inception (2010) di mata saya.

Bagi saya, Inception (2010) layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Nolan memang identik dengan film-film yang mengajak para penontonnya berfikir. Hal ini tentunya terjadi pula pada Inception (2010). Banyak orang yang memperdebatkan mengenai bagian akhir dari Inception (2010). Memang akhir film ini sedikit ambigu dan memberikan sesuatu hal yang dapat diperdebatkan. Bagi saya, perdebatan itu merupakan bagian yang menyenagkan untuk difikirkan. Lagipula, bagian akhir film bukanlah hal yang 100% menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak :).

Sumber: http://www.warnerbros.com & http://www.inceptionmovie.uk

The New Mutant (2020)

Berbicara mengenai The New Mutant (2020), maka kita berbicara mengenai karakter komik Marvel yang sudah ada sejak 1982. Wow, sudah ada dari dulu toh? Tokoh The New Mutant memang pertama hadir pada buku komik terbitan Marvel sebagai spin-off dari X-Men. Otomatis The New Mutant tentunya hidup di dunia yang sama dengan X-Men.

Hanya saja, kisah-kisah The New Mutant sering kali terkait dengan unsur horor. Sebuah pendekatan yang berbeda bila kita dibandingkan dengan X-Men. Tidak mengherankan kalau The New Mutant (2020) memiliki nuansa horor yang cukup kental. Sebuah film superhero dengan nuansa horor, seperti apa ya jadinya?

Dikisahkan, terdapat 5 remaja yang dirawat di sebuah rumah sakit. Tempat tersebut bukanlah rumah sakit biasa karena mereka selalu diawasi dengan sangat ketat dan tidak dapat pergi keluar sesuka hati.

Semua terkait dengan kekuatan super yang kelima remaja tersebut miliki. Mereka dianggap masih kurang matang  dalam mengendalikan kekuatannya. Kekuatan super yang tidak terkendali dapat mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Ok, isu ketidakpercayaan kepada mutant terlihat ada di sana. Sah sudah, The New Mutant (2020) memang berada di dunia yang sama dengan X-Men. Namun jauh berbeda dengan X-Men, jalan cerita The New Mutant (2020) lebih fokus kepada teror yang menimpa kelima tokoh utama.

Mereka memperoleh bayangan dan ilusi terkait masa lalu mereka masing-masing. Sebenarnya ini merupakan sebuah perkenalan yang bagus supaya penonton mengetahui latar belakang masing-masing tokoh. Pada awalnya saya dibuat penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sayang, lama kelamaan saya dibuat tertidur melihat misteri yang mudah ditebak dan horor yang terkesan “nanggung”. Belum lagi bagian akhirnya yang sangat antiklimaks. Selain itu, tokoh yang digadang-gadang sebagai protagonis utama justru tampil “melempem”.

Beruntung The New Mutant (2020) menghadirkan tokoh Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy) sebagai salah satu dari kelima remaja tersebut. Hanya tokoh inilah yang tempil menonjol dan berhasil menunjukkan kepada saya bahwa The New Mutant (2020) merupakan film superhero. Pertarungan yang Illyana tampilkan nampak memukau dan sangat menghibur.

Saya rasa The New Mutant (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Informasi tambahan, film ini hadir di tengah-tengah akuisisi 20th Century Fox oleh Disney. Jadwal perilisan yang seharusnya di tahun 2018, menjadi mudur jauh ke tahun 2020. Disney pun sepertinya tak habis-habisnya berusaha menampilkan keberagaman dan ini sangat terlihat pada The New Mutant (2020). Film ini merupakan film layar lebar adaptasi komik Marvel pertama, yang menampilkan pasangan lesbian sebagai tokoh utamanya. Porsinya memang tidak banyak, tapi terlihat jelas. Just info saja bagi teman-teman yang kurang berkenan dengan isu LGBT.

Sumber: http://www.20thcenturystudios.com/movies/the-new-mutants

Tenet (2020)

Christopher Edward Nolan merupakan salah satu sutradara favorit saya. Mayoritas film besutannya masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Mulai dari Memento (2000), Inception (2010), Trilogi Batman, Interstellar (2014), sampai Dunkirk (2017). Beberapa diantaranya penuh intrik dan sangat membingungkan. Karya terbaru Nolan, Tenet (2020), sepertinya akan menjadi salah satu film Nolan yang paling membingungkan.

Nolan memang gemar bermain dengan ruang dan waktu. Semua itu mencapai puncaknya pada Tenet (2020). Untuk sepenuhnya memahami Tenet (2020), Saya sendiri perlu 2 kali menontonnya dan sedikit membaca literatur mengenai Time Inversion. Konsep Time Inversion merupakan konsep perjalanan menembus waktu yang tidak biasa. Suatu hal yang belum pernah saya temukan pada film-film lain.

Pada Time Inversion, ketika seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, ia akan mengalami berbagai kejadian dalam keadaan terbalik. Tenaga yang ia gunakan merupakan arus waktu berbalik. Namun, kekuatan dari arus waktu berbalik bertumbukan dengan arus waktu lurus yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang terlihat berjalan terbaik, dan ada beberapa hal pula yang terlihat berjalan normal. Bingung? Tak usah malu, pemeran utama film ini saja tidak sepenuhnya faham dengan konsep Time Inversion :’D.

Anak dari Denzel Washington, yaitu John Davis Washington, menjadi pemeran utama Tenet (2020). Siapa yang John perankan? Seseorang yang sepanjang film hanya disebut dengan panggilan Sang Protagonis wkwkwkwk. Ajaib, Tenet (2020) memang benar-benar ajaib. Sepanjang film, Sang Protagonis memiliki misi untuk mencegah kehancuran Bumi akibat Time Inversion. Terdapat beberapa individu yang menyalahgunakan teknologi Time Inversion untuk kepentingannya sendiri.

Mirip seperti beberapa film Nolan sebelumnya. Kebingungan yang disajikan berhasil menjadi sesuatu yang menarik untuk diselidiki, dipikirkan dan dibahas. Dalam fisika, Time Inversion sendiri memang benar-benar ada. Secara tidak langsung, Tenet (2020) memang mengajak penontonnya untuk belajar Fisika @_@.

Tingkat kekompleksan Tenet (2020) melebihi Memento (2000), Inception (2020), Serial Dark, dan Interstellar (2014). Bagi saya pribadi, kekompleksan tersebut agak overdosis ya. Sepanjang film, saya dibuat berfikir dan terus kebingungan. Tenet (2020) gagal memberikan penjelasan yang agak jelas gamblang mengenai beberapa hal. Hal ini membuat saya terus berfikir tanpa bisa terlalu menikmati alur cerita yang ada. Padahal, kalau ditelaah lagi, cerita dari Tenet (2020) sendiri sebenarnya terbilang keren lohh.

Alur cerita yang bagus, menjadikan Tenet (2020) sebagai sebuah film yang memikat. Namun kekompleksan ceritanya, dapat menjadi daya tarik sekaligus sumber ketidakjelasan yang berlebih dari karya terbaru Opa Nolan tersebut. Dengan demikian, Tenet (2020) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Selamat belajar fisika teman-teman, hehehehehe.

Sumber: http://www.tenetfilm.com

Wonder Woman 1984 (2020)

Seumur-umur saya belum pernah membaca buku komik Wonder Woman.  Saya hanya sempat menonton Serial Wonder Woman yang pernah hadir di TV nasional kita pada era tahun 90-an. Yah, tokoh ini memang bukanlah tokoh favorit saya. Pamornya masih kalah jika dibandingkan dengan Batman atau Superman.

Namun, saat ini sepertinya franchise film Wonder Woman sajalah yang masih dapat bersaing. Film standalone Wonder Woman pertama, Wonder Woman (2017), dapat dikatakan relatif lebih baik ketimbang film-film pahlawan super lainnya dari DC Comics. Tak heran kalau sekuel Wonder Woman (2017) kembali hadir pada tahun 2020 ini melalui Wonder Women 1984 (2020).

Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa latar belakang petualangan Wonder Woman kali ini adalah tahun 1984. Otomatis kejadian yang diangkat terjadi antara Wonder Woman (2017) dan Man of Steel (2013). Pada tahun 1984, Superman dan Batman belum hadir, yang ada hanya Wonder Woman (Gal Gadot) saja. Karena keturunan separuh dewa, Wonder Woman atau Diana Prince dikisahkan tidak dapat menua. Maka, selama ini ia sudah berkali-kali kehilangan orang-orang disekitarnya. Semua dapat ia jalani dengan tabah. Hanya saja, ada 1 orang tetap selalu ada di hati Wonder Woman, Steve Trevor (Chris Pine).

Steve sudah tewas pada Wonder Woman (2017). Bagaimana cara Wonder Woman menghidupkan Steve kembali? Semua itu mungkin dengan adanya artefak kuno yang dapat mengaburkan berbagai keinginan. Wonder Woman 1984 (2020) mengambil jalan cerita mengenai bagaimana keinginan dan keserakahan manusia dapat menimbulkan malapetaka. Sebuah tema yang sudah beberapa kali saya lihat pada film-film lainnya. Hanya saja, di sini ada superhero seperti Wonder Woman. Kemudian hadir Cheetah (Kristen Wiig) dan Maxwell Lord (Pedro Pascal) sebagai tokoh antagonisnya. Ternyata, tema ini berhasil diramu dengan baik. Wonder Woman 1984 (2020) pun mampu memberikan pelajaran mengenai keinginan dan keserakahan.

Mulai dari seorang ayah baik yang putus asa sepert Lord, seorang ilmuwan pintar yang sulit bergaul seperti Cheetah, sampai superhero keturunan Dewa Zeus seperti Wonder Woman. Setiap mahluk pastilah memiliki keinginan, beberapa diantaranya sulit dan bahkan hampir mustahil untuk diwujudkan. Tidak hanya menggoda Wonder Woman. Keinginan jugalah yang berhasil membuat Cheetah dan Lord ikut hadir. Cheetah memang sudah lama menjadi lawan utama Wonder Woman. Kalau Batman memiliki Joker, dan Superman memiliki Luthor, maka Wonder Woman memiliki Cheetah. Sayangnya, Cheetah seolah-olah hadir hanya dimaksudkan agar film ini memiliki adegan aksi. Sebuah adegan aksi yang mengecewakan karena gelap dan diiringi lagu yang tidak sekeren lagu pada Wonder Woman (2017). Lagu yang mendampingi adegan aksi pada Wonder Woman (2017) memang terbilang keren. Sayangnya, bagian dari lagu tersebut didaurulang dan muncul lagi pada Wonder Woman 1984 (2020), namun dengan cara yang kurang greget. Yah sebenarnya adegan aksi pada Wonder Woman 1984 (2020) tetap dapat dibilang lumayan baguslah. Tapi, hal ini merupakan sebuah penurunan kalau dibandingkan dengan Wonder Woman (2017).

Kemudian, entah kenapa kostum emas yang Wonder Woman gunakan pada akhir film, tidak nampak terlalu bermakna. Kemampuan dan efek dari kostum tersebut tidak terlalu terlihat. Kilas balik masa kecil Wonder Woman pun tidak terlalu bermakna bagi plot utama Wonder Woman 1984 (2020). Kilas balik tersebut hanya pembukaan bagi kisah dibalik kostum keemasan milik pahlawan Amazon. Kesimpulannya, apakah kostum emas Wonder Woman keren? Bagi saya pribadi, biasa saja, tidak ada kesan “Wah” ketika melihatnya.

Dengan demikian, rasanya Wonder Woman 1984 (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan di rumah, sambil menunggu pandemi Covid-19 berakhir. Semua dapat ditonton di layanan streaming berbayar seperti HBO+.

Sumber: http://www.wonderwomanfilm.net