Pengabdi Setan (2017)

Setelah sempat beberapa kali kecewa melihat wajah film horor Indonesia, saya agak skeptis melihat kesuksesan Pengabdi Setan (2017) besutan sutradara ternama tanah air, Joko Anwar. Saya sendiri kurang menyukai serial misteri horor karya Om Joko yang sempat tayang di HBO yaitu Halfworlds. Apakah kali ini akan berbeda bagi saya?

Pada Pengabdi Setan (2017) dikisahkan bahwa Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annus) dan Ian (M. Adhiyat) harus menghadapi penampakan dan teror dalam wujud mendiang ibu mereka yang sudah meninggal, Mawarni Suwono (Ayu Laksmi). Mawarni adalah penyanyi tempo dulu yang sudah lama sakit parah. Sakitnya Mawarni membuat keuangan keluarga terpuruk sampai mereka harus menggadaikan rumah tua mereka. Setelah Mawarni dikebumikan, Sang Bapak (Bront Palarae) pergi ke kota untuk memperbaiki kondisi keuangan keluarganya. Sebagai anak tertua, Rini menggantikan peran orang tuanya di rumah. Di sinilah awal teror-teror menimpa Rini dan adik-adiknya. Setelah penguburan selesai dan Sang Bapak pergi ke kota, terjadi banyak keanehan di rumah mereka. Almarhumah ibu mereka sering menampakkan diri dalam wujud yang menyeramkan. Mau apa ya? Kok malah menteror anak sendiri.

Keadaan semakin mencekam ketika nenek mereka, Rahma Saidah (Elly D. Luthan), ditemukan tewas di dalam sumur rumah. Sebelum meninggal, Nenek Rahma ternyata sudah mencurigai bahwa akan terjadi sesuatu. Ia sudah meminta Budiman (Egy Fedly), sahabat Nenek sejak kecil, untuk melakukan penyelidikan. Budiman memberitahukan bahwa almarhumah Mawarni terlibat dengan sekte pemgabdi setan. Mereka bermaksud untuk membawa anak Mawarni untuk sebuah tujuan yang …..

Tujuan para pengabdi setan inilah yang saya rasa menjadi salah satu faktor kejutan dari Pengabdi Setan (2017). Film ini memang memiliki beberapa twist atau kejutan yang bagus namun sayang kurang dieksekusi dengan baik. Seharusnya ada sedikit adegan kilas balik agar unsur kejutannya lebih terasa. Ada kejutan-kejutan yang tidak penonton sadari. Saya sendiri baru menyadarinya beberapa jam setelah selesai menonton film. Ternyata ada lebih dari 1 twist tho, ternyata ada penjelasan kenapa si A kesurupan, …

Film ini sudah menggunakan “jump scare” yang sangat baik, sudah seperti film Hollywood jaman sekarang. Tapi saya terus terang lebih seram melihat “jump scare” pada Pengabdi Setan (2017) dibandingkan “jump scare” film-film luar negeri. Aroma mistik Indonesianya terasa sekali. Latar belakang rumah tua di era 90-an, ditambah suara lagu dari piringan hitam dan … bunyi lonceng .. bisa membuat bulu kunduk berdiri :’D.

Film ini nuansa tahun 90-annya benar-benar terasa. Saya bahkan melihat mainan masa kecil saya dimainkan oleh katakter pada Pengabdi Setan (2017). Awalnya saya pikir Pengabdi Setan (2017) merupakan remake atau reboot dari Pengabdi Setan (1980). Munculnya tokoh antagonis utama pada akhir Pengabdi Setan (2017), menjelaskan kepada saya bahwa peristiwa pada Pengabdi Setan (2017) berlangsung sebelum peristiwa pada Pengabdi Setan (1980) terjadi. Untunglah Om Joko Anwar tidak menggunakan plot dan tokoh antagonis yang sama seperti pada Pengabdi Setan (1980), sudah basi dan mudah ditebak.

Tidak hanya soal plot dan tokoh antagonis saja, Pengabdi Setan (2017) memberikan peranan dan gambaran yang berbeda mengenai tokoh agama setempay. Baik pada Pengabdi Setan (2017) maupun Pengabdi Setan (1980), Keluarga yang diteror memang sama-sama tidak taat beribadah kepada Allah. Namun kemampuan dan peranan ustad pada Pengabdi Setan (2017) nampak lebih manusiawi. Pak ustad juga manusia biasa dan bukan orang suci. Orang yang dianggap masyarakat sebagi ustad pun belum tentu benar-benar ustad atau ulama bukan?

Saya rasa Pengabdi Setan (2017) jelas jauh lebih baik ketimbang Halfworlds. Film ini mampu memberikan ketakutan dan misteri mistik Indonesia dengan cara yang modern dan mengikuti jaman. Terlepas dari kekuranggamblangannya mengungkap misteri yang sudah ada, Pengabdi Setan (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Wha ini film Indonesia pertama yang dapat nilai 3 dari saya hehehe.

Sumber: www.rapifilms.com/page/detail/409/pengabdi-setan

Iklan

It (2017)

IT

Film mini seri TV, It (1990), merupakan film horor pertama yang saya tonton secara utuh, dari awal sampai akhir. Film yang dibuat berdasarkan novel karya Stephen King ini, hadir di TV dalam bentuk mini seri yang terdiri dari 2 episode. Episode pertama bercerita di era 80-an ketika tokoh utama masih anak-anak. Sedangkan episode kedua bercerita ketika tokoh utama sudah beranjak dewasa. Pada tahun 2017 ini, kisah pada It (1990) episode pertama, dibuat ulang pada It (2017).

Mirip seperti mini seri It (1990), It (2017) berkisah mengenai sekelompok anak-anak yang harus berhadapan dengan sebuah mahluk misterius. Mahluk tersebut sudah ratusan tahun menggunakan trik dan ilusi untuk menakut-nakuti korbannya. Ia “memakan” rasa takut anak-anak untuk menjadi lebih kuat, semakin takut si korban, semakin kuatlah mahluk tersebut jadinya. Karena korbannya adalah anak-anak, mahluk tersebut sering menggunakan wujud Pennywise si badut sebagai wujud fisiknya. Tapi badut bukanlah wujud permanen mahluk ini. Ia sebenarnya tidak memiliki wujud dan nama yang jelas. Maka mahluk ini sering pula disebut “It”, sebuah kata umum dalam bahasa Inggris yang mengarah kepada suatu hal.

IT

IT

Lawan It (Bill Skarsgard) pada It (2017) adalah sekelompok anak-anak yang menamakan diri mereka The Losers Club. Kelompok ini terdiri dari William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Stan merupakan anak pemuka agama Yahudi yang enggan mendalami ajaran agamanya tapi terlalu takut untuk mengakuinya, ia termasuk anak yang mudah panik dan agak canggung. Richie merupakan anak paling cerewet yang takut badut … hhmmmm … mangsa yang sempurna bagi It. Eddie merupakan anak yang sangat dilindungi oleh ibunya karena penyakit yang Eddie derita, walaupun sebenarnya Eddie tidak sesakit dan selemah itu. Mike merupakan anak kulit hitam yang ditekan agar mampu menjadi tukang jagal hewan seperti almarhum ayahnya, Ben merupakan anak baru yang gemar membaca dan akhirnya mampu memberikan beberapa informasi terkait It kepada teman-temannya. Bev merupakan satu-satunya anak perempuan di dalam The Loosers Club yang mengalami berbagai pelecehan baik di sekolah maupun di rumah. Terakhir, Bill merupakan anak yang paling berpengaruh di dalam The Loosers Club walaupun ia bukan yang paling pintar, bukan yang paling supel dan bukan yang paling kuat. Bill seolah menjadi pemimpin perkumpulan anak-anak tersebut. Atas ajakan Bill pulalah, The Loosers Club melakukan penyelidikan terhadap hilangnya anak-anak di kota mereka yang ternyata sudah terjadi selama ratusan tahun. Bill sangat terobsesi dengan kasus-kasus tersebut karena adik Bill merupakan salah satu dari anak-anak yang hilang tersebut. Ahhhh, nasib buruk yang menimpa adik Bill ini dikisah pada bagian awal film, jadi penonton sopasti tahu siapa yang Bill dan kawan-kawan buru.

IT

IT

IT

IT

IT

IT

IT

Saya melihat It (2017) menyajikan aneka masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota The Loosers Club dengan berimbang. Hanya kasus Bill saja yang sedikit dominan tapi masih dalam takaran yang wajar. Semua masalah tersebut dapat terangkai menjadi satu dengan tema film ini sehingga semuanya nampak sebagai satu kesatuan yang utuh :). Bumbu masalah yang akan hadir di masa depan (andai film ini sekuelnya jadi dibuat), sudah terlihat sejak dini. Saya melihat benih-benih cinta segitiga antara Bill, Bev dan Ben. Kalau di versi novel dan mini seri It (1990), hal ini akan menjadi masalah besar yang memecahbelah persahabatan mereka.

Yang saya paling suka dari It (2017) adalah bagaimana The Loosers Club dapat berubah dari pecundang yang diburu, menjadi kelompok anak-anak yang kuat dan pemberani. Saya sangat suka dengan bagian klimaks dari film ini, jarang-jarang ada film horor yang akhirnya seperti ini. Yaah memang sih sedikit menggantung, tapi hal itu wajar karena pada mini seri It (1990) saja, film ini memang dibagi ke dalam 2 film.

IT

IT

IT

Penampakan It sebagai badut cukup menyeramkan tapi teknik jump scare yang dipergunakan terkadang sedikit hambar. Teknik yang si badut It lakukan untuk menakut-nakuti pun, kadang tidak terlihat menakutkan. Yang saya syukri dari It (2017) adalah tidak terlalu banyaknya adegan sadis yang menjijikkan seperti yang pernah saya lihat pada Saw (2004), sebuah film horor penuh kejutan tapi sangat sadis.

IT

IT

Saya suka dengan film horor yang satu ini. It (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Puas rasanya melihat nasib si jahat It pada bagian akhir film ini :).

Sumber: itthemovie.com

Happy Death Day (2017)

 

Happy Death Day (2017) secara mengejutkan sempat merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu, mengalahkan beberapa film dengan pemain ternama dan anggaran yang besar.  Film yang diproduksi oleh Universal Studio ini merupakan gabungan antara Scream (1996) dan Groundhog Day (1993). Di sana terdapat nuansa film slasher remaja yang sempat populer di era 90-an yang dipadukan dengan terjebaknya Tree Gelbman (Jessica Rothe) di dalam sebuah putaran waktu.

Pada suatu pagi, Tree terbangun di dalam kamar asrama milik Carter Davis (Carter Broussard). Tree menjalani hari tersebut sampai akhirnya ia tewas dibunuh sosok misterius yang menggunakan topeng bayi, maskot kampus tempat Tree kuliah. Setelah tewas, Tree kembali terbangun di pagi hari, di dalam kamar asrama milik Carter, di hari ulang tahunnya. Kejadian ini sepertinya akan terus Tree alami berulang-ulang sampai ia menemukan sosok misterius yang berulang kali berhasil membunuhnya.

Aksi kejar-kejaran antara Tree dan si pembunuh, menggunakan bantuan lagu dan suara agar nampak mengejutkan. Andaikata kita menonton Happy Death Day (2017) tanpa suara, praktis film ini tidak terlalu mengejutkan. Yaaa tak apalah, paling tidak film ini bukan termasuk film horor yang menjijikan.

Slasher merupakan subkategori dari jenis film horor, tapi terus terang tipe film horor seperti ini relatif lebih saya suka ketimbang tipe film horor lainnya. Aroma film slasher memang relatif kental terasa pada Happy Death Day (2017). Seperti film slasher di era 90-an, misteri akan siapa si pembunuh, tetap mampu membuat penonton penasaran. Latar belakang ala film slasher remaja pun nampak jelas pada film ini, mulai dari lorong gelap, rumah sakit sampai parkiran kosong. Akhir filmnya pun cukup memuaskan dengan sebuah kejutan di belakang. Tapi saya lihat ada hal yang membedakan Happy Death Day (2017) dengan berbagai film slasher yang pernah saya lihat yaitu penggunaan looping waktu dan terlihatnya unsur komedi romantis di sana.

Dengan adanya perulangan waktu, semakin lama, penonton dapat melihat siapa Tree yang sebenarnya. Karakter Tree yang pada awalnya nampak “brengsek”, perlahan mulai “insaf” dan memiliki ketertarikan dengan Carter. Alasan mengapa Tree menjadi “brengsek” pun dimunculkan di saat yang tepat sehingga Happy Death Day (2017) nampak semakin menarik untuk ditonton. Sayang, sampai akhir film, terdapat beberapa hal yang belum terjawab. Apa sih yang tidak terjawab? Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini hehehe.

Setelah menonton Happy Death Day (2017), saya tak heran film ini berhasil merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu. Happy Death Day (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.happydeathdaymovie.com

Resident Evil: The Final Chapter (2016)

residentfinal1

Sejak kehadirannya pada 2002, tercatat sudah ada 6 film Resident Evil sampai saat ini. Pada dasarnya film ini mengisahkan bagimana Alice (Milla Jovovich) berjuang melawan perusahaan Umbrella yang menciptakan T-Virus. T-Virus dapat menyebabkan seseorang berubah menjadi zombie. Hingga akhirnya pada Resident Evil: Retribution (2012), umat manusia diambang kepunahan dan dunia dikuasai oleh zombie dan monster-monster akibat virus-virus racikan Umbrella. Pada bagian akhit film kelima Resident Evil tersebut, dikisahkan bahwa umat manusia melakukan pertempuran terakhir mereka di Gedung Putih. Alice ikut bergabung dengan Albert Wesker (Shawn Roberts) dan kekuatan militer terakhir yang manusia miliki. Sayang ternyata Wesker berhianat sehingga pihak manusia kalah dan umat manusia semakin diambang kepunahan. Disinilah awal dari perjalanan Alice yang dituangkan pada Resident Evil: The Final Chapter (2016).

residentfinal15

residentfinal6

Diluar dugaan Wesker, Alice ternyata selamat dan merencanakan balas dendam. Tanpa diduga, Alice mendapatkan bantuan dari Red Queen, sistem komputer super jenius milik Umbrella, yang pada film sebelumnya menjadi lawan utama Alice. Berdasarkan arahan dari Red Queen, Alice pergi menuju kota Racoon apabila ingin mengejar Wesker. Oowww, Racoon adalah latar belakang semua peristiwa pada film pertama Resident Evil lhooo. Di kota inilah terdapat The Hive yang menjadi labiratorium T-Virus milik Umbrella.

residentfinal8

Pada Resident Evil (2002), Alice berhasil meledakkan The Hive, namun ternyata usahanya kurang berhasil sebab ternyata masih banyak bagian dari The Hive yang selamat dan T-Virus tetap berhasil keluar dari laboratorium, menginveksi seluruh dunia. Sekarang, saatnya bagi Alice untuk memperbaiki semuanya. Apalagi berdasarkan Red Queen, di sana terdapat antivirus yang mampu membunuh T-Virus.

Kalaupun hal itu memang benar dan Alice berhasil, nyawa Alice tentunya akan terancam karena T-Virus ada di dalam darah Alice. Alice adalah manusi dengan gen unik yang dapat menerima T-Virus dengan baik, ia tidak berubah menjadi zombie seperti orang lain. T-Virus justru membuat Alice semakin kuat, Alice memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia biasa. Aaahhh tapi ini bukan alasan kenapa kok terdapat beberapa adegan dimana lawan Alice gagal menembak Alice padahal jarak dan jangkauannya sangat memungkinkan. T-Virus memang membuat Alice kuat, tapi saya rasa T-Virus tidak akan membuat Alice “hoki” :P. Yaaah, saya melihat 1 adegan aksi seperti itu pada Resident Evil: The Final Chapter (2016) yaitu ketika Alice yang menaiki motor, dikejar dengan sekelompok pasukan tank Umbrella. Bagaimana dengan adegan aksi lainnya? Adegan aksi lainnya, terbilang bagus dan tidak berlebihan. Diluar dugaan saya, film ini terbilang penuh aksi yang berhasilkan ditampilkan dengan keren meskipun agak sadis :).

residentfinal11

residentfinal5

residentfinal14

residentfinal2

residentfinal10

residentfinal16

residentfinal3

residentfinal4

residentfinal7

residentfinal12

residentfinal13

residentfinal9

Tidak hanya berisi adegan aksi saja, Resident Evil: The Final Chapter (2016) mengisahkan asal mula T-Virus yang ternyata berkaitan erat dengan asal muasal Alice dan Red Queen. Apa rencana besar Umbrella selama ini pun akhirnya terkuak pada Resident Evil: The Final Chapter (2016).

Bagi saya, Resident Evil: The Final Chapter (2016) dapat dianggap sebagi akhir yang manis bagi deretan film-film Resident Evil selama ini. Akhir dari film-film Resident Evil lainnya terbilang agak menggantung. Resident Evil: The Final Chapter (2016) merupakan film Resident Evil dengan akhir paling tidak menggantung. Namun apakah Resident Evil: The Final Chapter (2016) merupakan film Resident Evil terakhir? Saya rasa tidak yaaa, masih banyak celah untuk menghadirkan film Resident Evil berikutnya.

Saya rasa Resident Evil: The Final Chapter (2016) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Bagi yang belum menonton semua film Resident Evil sebelum Resident Evil: The Final Chapter (2016), tidak perlu khawatir. Teman-teman tidak perlu menonton semua film tersebut untuk mengerti jalan cerita Resident Evil: The Final Chapter (2016) kok, jalan ceritanya cukup komunikatif.

Sumber: www.evilcomeshome.com

Serial Halfworlds

Halfworlds1

Serial Halfworlds merupakan buah dari kolaborasi antara HBO dengan beberapa insan perfilman lokal Indonesia. Film seri bersambung yang diputar di stasiun TV berbayar HBO ini disutradarai oleh Joko Anwar dan mayoritas dibintangi oleh artis-artis Indonesia. Topik yang Halfworlds pilih adalah dunia supranatural Indonesia yang sudah dimodernkan sehingga kita tidak akan melihat kuntilanak yang menggunakan daster putih beterbangan atau tuyul botak yang diperankan anak-anak. Semua mahluk supranatural pada Halfworlds berwujud seperti manusia biasa.
Dikisahkan bahwa di dunia ini, termasuk Jakarta, terdapat mahluk-mahluk yang sudah hidup ribuan tahun. Keberadaan mereka tersebunyi dibalik kelamnya kehidupan manusia. Demit, itulah nama mahluk-makluk tersebut. Terdapat beberapa jenis demit seperti palasik, kuntilanak, banaspati, genderwo dan lain-lain. Terus terang saya agak kurang faham apa itu banaspati dan apa itu palasik, kurang familiar dan tidak ada penjelasan mengenai jenis-jenis demit beserta keistimewaannya masing-masing. Karena sama-sama berwujud seperti manusia dan senjata yang mereka pergunakan sekilas tidaklah terlalu berbeda, sehingga menyaksikan perkelahian antar demit seperti menyaksikan perkelahian antar manusia sakti. Saya akui adegan perkelahian pada Halfworlds terbilang bagus dan keren meskipun ada beberapa adegan yang menyerupai adegan perkelahian pada The Matrix Revolutions (2003).

Halfworlds4

Kenapa para demit berkelahi? Pada musim perdananya, para demit berkelahi karena memperebutkan “the gift”. Apa itu? Asalmulanya dari mana? Katanya sih hadiah dari dewa bagi dua dunia yaitu dunia demit dan dunia manusia, sebuah deskripsi yang kurang detail. Sampai episode terakhir di musim pertama pun saya masih agak blur akan apa itu “the gift”. Terlalu banyak pertanyaan di sana dan di sini. Film seri Halfworlds menggunakan teknik bercerita maju mundur dengan tambahan penjelasan grafik kartun pada setiap awal episodenya. Grafik kartun tersebut dimaksudkan untuk memberikan keterangan akan kisah Halfwords, tapi kok ya rasanya kurang. Saya dan teman saya pun akhirnya memiliki interpretasi yang berbeda akan penggalan kisah pada grafik kartu tersebut. Saya pernah melihat film seri bersambung buatan luar negeri yang menggunakan teknik bercerita yang mirip seperti ini tapi semua nampak jelas, kalaupun ada misteri, masih dalam dosis yang wajar. Yang namanya misteri memang merupakan hal yang dapat dipergunakan agar pemirsa penasaran, tapi kalau misterinya overdosis seperti ini yaaa yang ada justru kebingungan di sana dan di sini. Selain itu terdapat beberapa beberapa kelemahan dalam plot ceritanya sehingga agak terkesan “ngegampangin”.

Walaupun memiliki beberapa kelemahan seperti saya sebutkan di atas, Halfworlds saya nilai berhasil menampilkan sinematografi yang kualitasnya jauh di atas rata-rata sinetron Indonesia yang agak norak dan dangkal. Menonton Halfworlds tak ubahnya seperti menonton film seri buatan luar negeri lhooo :). Memang sih efek negatifnya, Halfworlds pun menampilkan adegan-adegan dan plot yang agak kebule-bulean yang memberikan contoh buruk bagi anak-anak meskipun kadarnya tidak terlalu kental.

Saya bangga juga karena ternyata Indonesia sebenarnya mampu membuat film seri yang agak berkualitas meskipun terdapat kekurangan di mana-mana dan masalah keoriginalan. Selain adegan perkelahian yang menyerupai The Matrix Revolutions (2003), saya dengar soundtrack bagian akhir Halfworlds sangat mirip dengan soundrack Zero Crow (2007).

Halfworlds7

Halfworlds2

Halfworlds10

Halfworlds8

Halfworlds3

Halfworlds9

Halfworlds5

Halfworlds6

Melihat semua episode musim pertama Halfworlds, saya ragu apakah serial Halfworlds akan ada musim keduanya atau tidak. Serial ini pun rasanya hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Bagaimanapun juga, nilai ini terbilang tinggi lho untuk film seri yang banyak melibatkan bakat-bakat Indonesia sebab mayoritas sinetron-sinetron yang saat ini diputar di TV nasional mungkin hanya akan mendapat nilai 0 atau 1 dari saya hehehehe.

Sumber: hboasia.com/HBO/en-id/shows/halfworlds

Serial Constantine

Constantine 1

Constantine adalah tokoh utama serial komik keluaran DC Comics, Hellblazer, yang sempat dibuat film layar lebarnya pada tahun 2005 lalu. Sekarang telah muncul versi film serinya dan pemutaran musim pertamanya di stasiun TV Fox baru saja usai. Akankah ada musim keduanya? Atau akankah Constantine muncul bersama-sama dengan 2 superhero DC Comics yang sudah lebih dahulu hadir di TV seperti Arrow dan Flash?

Entah, yang pasti Constantine pada film seri Constantine tidak diperankan oleh Keanu Reeves seperti pada versi film layar lebarnya. Pada film seri Constantine, John Constantine (Matt Ryan) bekerja sebagai detektif supranatural yang menggunakan kekuatan dan kemampuannya untuk menyelesaikan kasus supranatural, yaaa kurang lebih kasus-kasusnya mirip seperti kasus-kasusnya film seri Grim dan film seri Supranatural. Mulai dari kesurupan, kerasukan, voodoo, arwah penasaran, pemanggilan arwah dan lain-lain. Jangan harap melihat Constantine bertemu tuyul atau pocong yaaa, lawan-lawan Constantine adalah mahluk supranaturalnya bule :D. Cara yang dipergunakan pun lebih ke arah menggunakan mantra dan mencari titik lemah setiap lawan. Constantine hanya manusia biasa yang memiliki pengetahuan luas dalam mengatasi masalah-masalah supranatural dan tidak memiliki kekuatan super seperti Flash atau Superman.

Constantine 8

Constantine 15

 

 

Constantine 6

Constantine 7

Constantine 16

Constantine 19

Constantine 18

Constantine 13

Constantine 11

Dalam melaksanakan tugasnya, Contantine terkadang dibantu oleh tokoh-tokoh lain seperti Zed Martin (Angélica Celaya), Francis “Chas” Chandler (Charles Halford), Papa Midnite (Michael James Shaw) dan Manny (Harold Perrineau). Zed memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan kejadian yang sedang terjadi di tempat lain. Chas memiliki kemampuan untuk sembuh dengan secepat kilat, tokoh ini seperti tidak bisa mati. Papa Midnite adalah ahli voodoo yang menguasai berbagai mantra seperti Constantine. Manny adalah malaikat yang awalnya hanya mengamati Constantine saja, tapi lama kelamaan ia justru ikut campur pada berbagai kasus-kasus yang Constantine kerjakan.

Constantine 2

NUP_165540_4201.JPG

Constantine 17

Kawan kadang menjadi lawan dan lawan kadang menjadi lawan. Jadi tokoh-tokoh di atas tidak selalu menjadi lawan atau teman bagi Constantine. Itulah yang saya suka dari film seri Constantine meskipun kasus-kasusnya tidak terlalu menarik.

NUP_165267_1429.JPG

Constantine 20

Penampakan Constantine versi film seri ini lebih menyerupai dengan penampakannya di dalam komik. Untunglah tidak semua kelakuan amoral Constantine versi komik tidak diangkat di film seri Constantine. Constantine pada film seri digambarkan sebagai seorang perokok yang gemar mabuk-mabukan dan main perempuan, kalau versi komiknya? Lebih amoral lagi, kurang cocok bagi budaya bangsa Indonesia , cie ciee kok jadi nasionalis begini? :’P.

Constantine 3

Constantine 9

Constantine 14

Sebenarnya saya lebih senang dengan superhero yang benar-benar memiliki kekuatan super, tapi secara keseluruhan film seri Constantine lumayan menghibur dan layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.dccomics.com/tv/constantine

Constantine (2005)

Constantine1

Constantine (2005) mengisahkan bagaimana John Constantine (Keanu Reeves), sang pengusir setan dan iblis, menyelidiki kasus bunuh diri saudara kembar identik dari Detektif Angela Dodson (Rachel Weisz). Penyelidikan John terhadap kasus bunuh diri ini ternyata berhubungan dengan sebuah rencana besar yang dapat menghancurkan keseimbangan antara dunia, neraka dan surga.

Constantine3

Constantine13

Constantine6

Constantine9

Constantine2

Setan? Iblis? Constantine (2005) itu film horor ya? Bukan, Constantine (2005) adalah film bergenre supranatural action thriller yang diadaptasi dari komik Hellblazer yang diterbitkan oleh Vertigo Comics, anak perusahaan DC Comics. John Constantine yang menjadi karakter utama komik tersebut memang dilahirkan dengan kemampuan untuk melihat dan berinteraksi dengan malaikat dan setan. Merasa stres dengan kemampuannya, John sempat melakukan dosa besar yang membuat John divonis untuk tidak akan masuk surga. Lucifer, raja neraka, berjanji akan datang sendiri untuk menjemput jiwa John ketika John meninggal nanti.

Constantine8

Constantine4

Constantine12

Constantine5

Constantine7

Constantine11

Constantine14

Constantine10

Nah, masa lalu John inilah yang pada akhir film Constantine (20015), John pergunakan untuk mempertahankan keseimbangan antara surga, dunia dan neraka. Cerdasss, saya suka dengan Constantine (2005) karena bagian akhirnya yang cerdas, kadang kita tidak perlu sekuat Superman untuk menang ;). Selain itu, alur ceritanya tidak membosankan, special effect-nya pun lumayan ok. Saya rasa Constantine (2005) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” :).