Franchise Insidious (2010 – 2018)

Berawal dari kesuksesan Insidious (2010), lahirlah Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018). Produser mana yang tidak senang dengan film beranggaran rendah dengan profit setinggi langit. Hal itulah yang terus terjadi pada film-film Insidious. Tak heran kalau akan terus bermunculan film-film Insidious berikutnya. Insidious pun menjelma menjadi sebuah franchise yang terdiri dari banyak film. Sampai saat saya menulis tulisan ini, sudah ada 4 film Insidious yang dirilis dan Insidious: The Last Key (2018) adalah yang terbaru. Jadi kali ini saya akan membahas keempat film Insidious yang sudah dirilis.

Kalau dilihat dari urutan perilisan, memang Insidious: The Last Key (2018) adalah yang paling akhir muncul. Namun, kalau dilihat dari urutan waktu pada jalan ceritanya, film tersebut bukanlah yang terakhir. Beginilah urutan film-film Insidious kalau dilihat dari waktu. Semua diawali oleh Insidious: Chapter 3 (2015), kemudian diikuti oleh Insidious: The Last Key (2018), Insidious (2010) dan diakhiri oleh Insidious: Chapter 2 (2013). Wah acak-acakan yah :’D.

Pada dasarnya, keempat film tersebut mengisahkan kasus supranatural yang dihadapi oleh Elise Rainier (Lin Shaye) dan rekan-rekan. Elise merupakan paranormal handal yang menggunakan kemampuannya untuk menolong. Semua kasus yang ia hadapi berhubungan dengan dunia roh yang pada film ini disebut The Furher. Hanya roh orang-orang tertentu saja yang dapat pergi menuju The Futher. Pintu menuju sangat banyak dan tidak mengenal batasan waktu. Hal inilah yang menjadi daya tarik Insidious.

Supaya sesuai dengan urutan waktunya, mari kita mulai dari Insidious: Chapter 3 (2015) :). Pada awal film, dikisahkan bahwa Elise berhenti dari kegiatan supranatural karena ketakutannya akan sosok yang diramalkan akan menjadi lawan terberatnya. Sebuah sosok yang akan Elise hadapi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Kekhawatiran akan kegagalan dan kematian terus menghantui Elise sampai hatinya tergerak untuk menolong seorang gadis yang mengalami gangguan supranatural. Disinilah awal mula Elise bertemu dengan kedua anak muda yang menjadi rekan barunya. Melalui kasus ini pulalah, Elise memperoleh kepercayaan dirinya kembali untuk terus menggunakan kekuatannya untuk kebaikan.

Kemudian pada Insidious: The Last Key (2018), Elise dan kedua rekan barunya, pergi ke kampung halaman Elise untuk menyelesaikan sebuah kasus. Yang menarik di sini adalah, lokasi kejadiannya adalah rumah masa kecil Elise. Di sini, Elise harus berhadapan kembali dengan masa lalunya yang kelam. Mau tak mau, kasus yang kini ia hadapi, berhubungan erat dengan masalah keluarga Elise.

Uniknya, detail kecil pada akhir dari Insidious: The Last Key (2018) menunjukkan asal mula dari segala bencana yang muncul pada Insidious (2010). Hanya saja, saya sendiri harus mengulang bagian akhirnya untuk mengerti hal tersebut. Inilah salah satu kelebihan dari film-film Insidious. Film yang satu bisa berkaitan dengan cara yang tidak terduga dengan film lainnya.

Hal yang sama pun terjadi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Insidious: Chapter 2 (2013) menjelaskan beberapa kejadian misterius pada Insidious (2010). Kedua film ini memang sangat erat hubungannya karena pada kedua film inilah Elise dan kawan-kawan berhadapan dengan kasus yang sangat berat.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) mengambil latar belakang setelah kejadian pada Insidious: The Last Key (2018). Kali ini dikisahkan bahwa keluarga Lambert mengalami gangguan supranatural sejak mereka pindah rumah. Kalau mengikuti pola film horor pada umumnya, ya sopasti si korban terus saja ada di rumah tersebut dan menghadapi teror-teror yang ada. Nah, keluarga Lambert melakukan hal yang sangat logis. Mereka langsung pindah rumah. Sayang, teror terus mengikuti mereka dimanapun mereka berada.

Elise dan kawan-kawan pun dipanggil untuk menolong. Sumber dari semua masalah tersebut ternyata merupakan sesuatu yang sangat jahat dan kuat. Sekilas, memang semua nampak klise ya. Akhir dari Insidious (2010) pun seolah membuat film ini mengikuti pola film horor pada umumnya. Semua berubah 180 derajat ketika saya menonton Insidious: Chapter 2 (2013). Kedua film tersebut memang merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) hadir dengan jump scare dan sound effect ala film horor lawas yang bernada tinggi. Namun semuanya tidal nampak murahan sebab penggunaannya memang untuk bagian-bagian yang penting saja. Sentuhan James Wan sebagai sang sutradara memberikan perbedaan yang sangat nyata. Kedua film yang ia sutradarai ini berhasil memberikan kengerian dengan alur cerita yang tidak membosankan. Rasa penasaran terus menghantui saya ketika menonton film-film tersebut.

Bagaimana dengan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018)? Walaupun skrip keempat film Insidious ditulis oleh orang yang sama, keduanya tidak disutradarai oleh James Wan. Sebenarnya, jalan cerita kedua film tersebut memiliki potensi yang besar. Sayang kok eksekusinya terasa sedikit hambar. Misterinya memang masih ada, hanya saja alur ceritanya tidak terlalu ngeri dan ada beberapa bagian yang cukup membosankan. Terus terang kualitas Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018) berada di bawah Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Bisa jadi, semua karena perbedaan siapa sutradaranya.

Hal-hal diataslah yang membuat saya hanya dapat memberikan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018), nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sedangkan untuk Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), saya ikhlas untuk memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kabarnya, film Insidious kelima akan hadir dengan judul Insidious: Death’s Lair. Melihat trend, semakin menurunnya kualitas film-film Insidious, saya ragu apakah film kelima tersebut dapat mengulang kesuksesan film pertama dan keduanya? Kita lihat saja nanti ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com

 

The Wailing (2016)

The Wailing (2016) atau 곡성 merupakan film asal Korea Selatan dengan latar belakang pedesaan yang masih asri. Kedamaian desa tersebut terusik ketika beberapa penduduk ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan. Pembunuhan dilakukan oleh salah satu penghuni rumah, kepada penghuni rumah yang lain. Hal ini terus terjadi dari 1 rumah ke rumah lainnya. Dugaan sementara, hal ini terjadi karena keracunan jamur liar. Sekilas seperti film misteri pembunuhan bukan? Sampai di sini saya memandang The Wailing (2016) sebagai film detektif.

Semakin lama, penyelidikan kasus ini mengarah kepada ritual-ritual misterius yang dilakukan oleh seorang penghuni baru. Hadir pula cenayang lengkap dengan upacara-upacara perdukunan ala-ala Korea. Sesuatu yang belum pernah saya. Baiklah, seketika itu pulalah The Wailing (2016) berubah menjadi film horor. Ini bisa jadi merupakan berita buruk bagi saya pribadi.

Mayoritas film-film horor Jepang dan Korea memiliki akhir yang …… yah begitulah. Fokus utama mayoritas film-film tersebut bukanlah memberikan kengerian atau ketakutan, melainkan kesedihan dan keputusasaan. Sayangnya, The Wailing (2016) memang mengikuti pakem tersebut. Sesuatu yang kurang saya sukai dari sebuah film.

Padahal jalan cerita The Wailing (2016) terbilang memikat. Penonton beberapa kali dibuat menerka-nerka siapa dan apa yang terjadi di desa tersebut. Kebenaran yang diungkap pun, diluar dugaan saya. Meskipun untuk mengetahui kebenaran tersebut, saya harus menonton The Wailing (2016) dengan durasi sekitar 2 jam. Wow, lama juga ya hehehehe.

Ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya mengantuk. Mengantuk adalah sebuah kesalahan, sebab The Wailing (2016) memiliki detail yang menarik. Saya jadi harus mengulang menonton beberapa bagian agar faham betul akhir dari film ini. Bagian akhir film tidak dijelaskan secara gamblang. Hanya ada kesedihan dan keputusasaan di sana. Terlebih lagi The Wailing (2016) berhasil membuat saya peduli terhadap keluarga si tokoh utama. Aahhh sebuah akhir yang mudah ditebak bagi orang-orang yang sudah beberapa kali menonton film horor Jepang dan Korea.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Wailing (2016) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya tetap kurang suka dengan bagaimana The Wailing (2016) berakhir. Kelebihan film ini adalah pada misteri, jalan cerita dan karakternya.

Sumber: http://www.foxkorea.co.kr

Perempuan Tanah Jahanam (2019)

Pada tahun 2019 lalu, Joko Anwar kembali hadir dengan sebuah film yang beraroma thriller, horor dan misteri yaitu Perempuan Tanah Jahanam (2019). Hhhmmm, judul yang aneh, kalau dibaca, ritme judul tersebut memang pas, tapi bagaimana dengan maknanya? Setelah saya menonton filmnya, yahhh memang sih perempuan dan tanah menjadi bagian dari film tersebut. Kejahanaman pun memang ada pula pada Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Judul internasional dari film inipun tidak kalah uniknya, Impetigore. Jangan coba-coba mencari arti kata Impetigore di kamus bahasa manapun. Karena kata-kata ini adalah buatan Joko Anwar yang menggabungkan 2 kata yaitu impetigo dan gore. Impetigo merupakan penyakit kulit berupa nanah dan bercak merah yang diderita oleh anak-anak. Sedangkan gore merupakan sebuah kata yang identik dengan kesadisan yang luar binasaaa. Perempuan Tanah Jahanam (2019) memang memiliki adegan sadis di dalamnya, tapi masih di dalam batas yang wajar ya. Yaaah tingkat kesadisannya jauh di bawah Saw (2004), A Serbian Film (2010) dan kawan-kawan.

Kalau saya rangkum, kata perempuan, tanah, impetigo, gore dan jahanam memang menjadi bagian penting dari film ini. Tapi ada 1 lagi kata yang penting tapi tidak ada dalam judul. Kata tersebut adalah keluarga. Keluarga? Yaaaa, betul sekali. Film yang proses pembuatannya memakan waktu sampai 10 tahun ini, sebenarnya merupakan film mengenai intrik keluarga yang dibalut dengan ilmu hitam.

Maya (Tara Basro) tidak pernah ingat siapa keluarga dia sebenarnya. Ia hanya mengetahui bahwa ia diasuh oleh seseorang yang mengaku sebagai bibinya. Siapa ayah dan ibu Maya? Maya pun tidak ingat. Ia hanya mengetahui bahwa keluarganya memiliki rumah besar di Desa Harjosari. Rumah besar itulah yang menjadi harapan Maya untuk keluar dari krisis keuangan yang ia hadapi. Siapa tahu ada harta yang masih bisa dijual untuk modal usaha.

Maka Maya pun berangkat ke desa tersebut. Ia pun ditemani oleh sahabat sekaligus rekan bisnisnya, Dini (Marissa Anita). Harjosari ternyata merupakan desa yang sangat terpencil, tidak semua orang mengetahui keberadaan desa tersebut. Dini dan Maya pun menyaksikan berbagai peristiwa aneh di desa tersebut.

Terdapat sebuah kutukan yang ternyata berhubungan erat dengan keluarga tokoh utama kita. Di sana, saya melihat beberapa twist atau kejutan, yang bagus dan jauh dari kesan murahan. Banyak loh, film-film horor Indonesia yang asal membuat twist-twist, tanpa peduli alur logika dari filmnya sendiri. Well, Perempuan Tanah Jahanam (2019) berhasil memberikan sesuatu yang berbeda di sana.

 

 

Misteri dan horor psikologis memang menjadi daya tarik film ini. Jangan harap untuk melihat banyak perwujudan setan-setanan dan jump scare di film ini. Kengerian dari Perempuan Tanah Jahanam (2019) dibangun dengan halus dan rapi dari alur ceritanya. Yah walaupun pada akhirnya ternyata sedikit klise & tidak terlalu horor. Saya rasa kadar misteri pada film ini, relatif lebih dominan. Nuansa horornya tidak terlalu kental.

Mayoritas nuansa horornya, disumbangkan oleh latar belakang pedesaan yang terpencil dan suram. Pada bagian itulah, film ini memang berhasil memberikan kengerian tersendiri. Saya kagum dengan bagaimana Harjosari digambarkan. Semua terasa nyata apa adanya, saya berhasil diyakinkan bahwa Harjosari itu memang benar-benar ada. Tapi ada di mana?

 

 

Hhhhmm. Ini menimbulkan masalah baru sebab kalau dilihat, Harjosari sepertinya terletak di daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Tapi karakter-karakter penduduk desa tersebut tidak seperti orang Jawa. Padahal latar belakang dan kostumnya sudah Jawa banget loh.

Saya rasa Perempuan Tanah Jahanam (2019) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa, untuk saat ini, Perempuan Tanah Jahanam (2019) adalah salah satu film horor Indonesia terbaik yang layak untuk ditonton.

Sumber: base-ent.com/portfolio/perempuan-tanah-jahanam-impetigore/

 

Sebelum Iblis Menjemput (2018)

May the Devil Take You atau Sebelum Iblis Menjemput (2018) merupakan film horor Indonesia yang megisahkan sebuah bencana akibat pesugihan yang dilakukan oleh Lesmana Wijaya (Ray Sahetapy). Pada awalnya, Lesmana menjelma menjadi seorang pengusaha properti yang sangat sukses. Setelah kematian istri pertamanya, Lesmana menikah dengan seorang mantan artis ibukota, Laksmi Surya (Karina Suwandi). Beberapa tahun kemudian, Lesmana jatuh miskin dan mengalami sebuah penyakit yang misterius.

Lesmana memiliki 4 orang anak. Alfie Wijaya (Chesea Islan) adalah anak pertama Lesmana dari mendiang istri pertama Lesmana. Semetara itu, Maya Wijaya (Pevita Pearce), Ruben Wijaya (Samo Rafael) dan Nara Wijaya (Hadijah Shahab) adalah anak Lesmana dari Laksmi Surya. Hubungan Alfie dengan ayah dan ibu tirinya kurang harmonis. Hal itu sangat terlihat sejak awal film. Saya pikir konflik keluarga ini akan menjadi benang merah cerita Sebelum Iblis Menjemput (2018).

Ternyata semua itu hanya pemanis saja sebab berikutnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) benar-benar hanya mengisahkan teror demi teror yang dialami Alfie dan keluarganya. Teror-teror tersebut berlangsung di sebuah rumah tua milik Lesmana. Usaha Lesmana yang terus merugi membuat keluarga Lesmana menjual berbagai aset Lesmana. tersisa hanya 1 aset Lesmana yang belum tersentuh, sebuah rumah tua di daerah Bogor. Rumah tersebut merupakah satu-satunya properti Lesmana yang menggunakan nama Alfie sebagai pemiliknya. Oleh karena itulah Alfie ikut serta melihat properti Lesmana tersebut. Karina dan ketiga anaknya pun hadir di sana untuk melihat aset-aset Lesmana lain yang kira-kira dapat dijual.

Yaaah, di rumah tersebutlah, berbagai teror datang menimpa, Laksmi, Alfie, Maya, Ruben, dan Nara. Praktis hampir tidak ada misteri di sana. Yang ada hanyalah adegan kejar-kejaran dan bunuh-bunuhan saja. Kenapa semua itu terjadi? Ironisnya semuanya sudah dijelaskan pada awal film, pesugihan Lesmana.

Saya melihat terdapat beberapa adegan sadis di sana. Film ini memang bercerita mengenai teror dari iblis yang seperti datang menagih hutang. Bagi teman-teman yang suka dengan film setan dan monster yang sadis, Sebelum Iblis Menjemput (2018) sopasti merupakan film yang menakjubkan. Saya akui nuansa kelam dan horor dari Sebelum Iblis Menjemput (2018) memang sangat terasa. TMemang sih Sebelum Iblis Menjemput (2018) masih tidak sesadis Macabre atau Rumah Dara (2009), tapi jenis film seperti ini memang bukan film yang terlalu saya suka. Saya lebih suka dengan film horor yang masih mampu memberikan rasa penasaran sampai akhir. Sebuah kejutan dan sedikit drama yang konsisten mungkin dapat semakin menarik perhatian saya.

Maaf seribusatu maaf, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum yang artinya “Kurang Bagus”. Semua karena film ini relatif tidak memiliki unsur misteri dan hanya berisi teror saja. Hal ini sudah sering saya lihat pada film-film lainnya. Tapi dibandingkan dengan sebagian besar film horor Indonesia lainnya, Sebelum Iblis Menjemput (2018) tetap setingkat lebih bagus.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81030893

The Boy (2016)

Ketika melihat trailer dari The Boy (2016), saya yakin bahwa film ini adala film setan-setanan. Ahhh paling film ini seperti film Child’s Play (1988) atau Annabelle (2014), boneka kesurupan setan hehehehe. Apakah dugaan saya meleset?

Film ini diawali ketika Greta Evans (Lauren Cohan) datang ke pedesaan nun jauh di sana untuk bekerja sebagai pengasuh anak. Majikan baru Greta tinggal di rumah kuno yang besar sekali. Ahhhh, latar belakang sebuah rumah kuno yang besar dan terletak jauh di pedesaan tentunya sudah menjadi stereotype latar belakang film setan-setanan.

Greta terkejut bukan main ketika ia mengetahui bahwa ia harus mengasuh sebuah boneka yang bernama Brahms. Berhubung Greta sangat membutuhkan perkejaan tersebut dan ia pun memang sedang melarikan diri dari pengalaman buruk di kota, maka Greta menyanggupi pekerjaan aneh ini.

Greta diharuskan memperlakukan Brahms seperti anak-anak pada umumnya, mulai dari memandikan, menggatikan baju, membacakan dongeng dan lain-lain. Berbagai keanehan muncul di sini sebab ternyata Brahms seolah dapat bergerak sendiri ketika Greta sedang tidak memperhatikan.

Keluarga majikan Greta ternyata memang menyimpan sebuah rahasia yang membuat seluruh dugaan saya mengenai The Boy (2016), meleset. The Boy (2016) ternyata memiliki sebuah kejutan yang tidak terduga. Namun eksekusi dari kejutan tersebut kurang ok sehingga semua terasa biasa saja.

Dengan demikian The Boy (2016) memperoleh nilai 3 dari skala makskmum 5 yang artinya “Lumayan”. Potensi yang The Boy (2016) miliki sebenarnya cukup besar. Awalnya saya pikir hal tersebut akan dimanfaatkan lebih jauh lagi pada Bhrams: The Boy 2 (2020). Wew, sebuah sekuel? Atau prekuel? Salah, walaupun memang menggunakan angka 2, menampilkan boneka yang sama, rumah produksi yang sama, sutradara yang sama dengan The Boy (2016). Bhrams: The Boy 2 (2020) lebih baik dianggap sebagai film yang berdiri sendiri. Kenapa? Sebab inti cerita yang dikisahkan oleh Bhrams: The Boy 2 (2020), sangat berbeda dan bertolakbelakang dengan The Boy (2016). Kalau anda sedang ingin menonton film setan-setanan standard yang menteror seorang ibu dan anak kecilnya, yah silahkan tonton Bhrams: The Boy 2 (2020), tidak ada kejutan di sana, hehehehee.

Sumber: stxmovies.com/theboy

The Babadook (2014)

The Babadook (2014) sudah dirilis sejak 2014, namun baru tahun 2020 saya menontonnya. Beberapa rekan saya sudah merekomendasikan film ini, namun karena keterbatasan waktu, entah mengapa saya memilih menonton film lain yang nampak lebih berkilau. Maklum, The Babadook (2014) bukanlah film Hollywood yang bertaburan bintang film ternama. Film ini merupakan film horor asal Australia dengan anggaran yang tidak terlalu besar. Setiap saya hendak menonton The Babadook (2014), selaluuu saja ada film lain yang sepertinya lebih bagus hehehe.Aaahh, di tengah-tengah pandemi COVID-19 dan puasa Ramadhan, akhirnya saya menonton The Babadook (2014).

Film horor ini ternyata mengisahkan sebuah teror yang dihadapi Amelia Vanek (Essie Davis) dan anak Amelia, Samuel Vanek (Noah Wiseman). Pada bagian awal film, Amelia nampak sebagai seorang ibu yang berusaha membesarkan anak semata wayangnya, walaupun Amelia sendiri masih mengalami trauma terkait kematian suaminya. Amelia nampak sebagai wanita lembut yang mengalami berbagai masalah kehidupan. Sementara itu Samuel tampil sebagai anak yang bermasalah. Obsesi Samuel terhadap monster selalu menimbulkan masalah bagi Amelia.

Semua semakin parah ketika Amelia menbacakan Samuel, sebuah buku anak-anak yang berjudul Mister Babadook. Buku tersebut mengisahkan mengenai keberadaan The Babadook, mahluk misterius yang mengintai dan menteror pembacanya. Disinilah perlahan terjadi perubahan karakter Amelia dan Samuel. Semua dieksekusi dengan sangat baik dan rapi. Penonton seolah dibuat bertanya-tanya apakah Babadook itu memang monster nyata ataukah hanya manusia biasa yang sedang stres?

Saya sangat suka pada film ini adalah bagaimana The Babadook (2014) membangun nuansa mencekam. Semua dibangun tanpa banyak memunculkan wujud monster-monsteran atau dentuman suara yang mengagetkan. Horor pada film ini adalah horor psikologis yang bagus sekali. Memang sih temponya terkadang agak lambat dan berpotensi membuat tertidur, tapi rasa penasaran dan nuansa horornya berhasil membuat saya terjaga sepanjang menonton film ini.

Semua semakin keren karena hubungan ibu dan anak yang sedikit mengharukan, ditampilkan pula dengan sangat baik pada The Babadook (2014). Ikatan Amelia dan Samuel menjadikan The Babadook (2014) nampak spesial. Film ini bukan film horor biasa.

Tanpa saya duga, film asal Australia ini sangat pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Bagi yang mencari horor sadis, horor monster atau horor kaget-kagetan, jangan tonton The Babadook (2014) sebab ini bukanlah film horor untuk anda ;).

Sumber: http://www.youcantgetridofthebabadook.com

Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)

Kafir (2002) adalah salah satu film horor Indonesia yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Film yang dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina tersebut berbicara mengenai kisah perjalanan hidup seorang dukun santet. Ceritanya sih sebenanrnya mirip sekali dengan beberapa cerita di sinetron Hidayah yang pernah diputar di TV nasional heheheh. Pada awalnya, Kafir (2002) hendak diremake oleh pihak Starvison. Yah buat apa diremake, lha wong film aslinya saja tidak sampai dapat predikat film legenda kok. Beruntung akhirnya dibuat kisah yang berbeda melalui Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Film ini memang memiliki judul yang mirip dengan tema yang mirip, tapi ceritanya jauh berbeda loh.

Sudjiwo Tedjo kembali hadir sebagai dukun santet pada film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Namun ia bukanlah fokus utama dari film ini. Kali ini dikisahkan bahwa terdapat 1 keluarga yang hidup harmonis dan penuh kebahagiaan. Semua nampak sempurna  sampai si bapak mendadak meninggal dunia dihadapan keluarganya.

Kini hanya ada Sri (Putri Ayudya) beserta kedua anaknya yaitu Dina (Nadya Arina) dan Andi (Rangga Azof). Sesekali kekasih Andi, Hanum (Indah Permatasari), datang ke rumah menemari keluarga yang sedang berduka. Sayang, tragedi belum selesai menghampiri keluarga Sri. Sejak kematian suaminya, keluarga Sri mendapatkan teror-teror dalam wujud yang menyeramkan. Semua terkait santet dan dunia supranatural yang ternyata sudah sejak lama melekat pada keluarga tersebut.

Di sini penonton dibawa ke dalam penyelidikan akan masa lalu keluarga Sri beserta penyebab teror yang mereka alami. Siapa penyebab dan biang keladi dari semua ini dibuat sebagai misteri yang membuat penonton terpaku di depan layar. Sayang sekali saya berhasil menebak siapa biang keladinya sejak pertangahan film, sangat mudah ditebak sih sebenarnya. Namun jalan cerita yang alurnya runtun dan menyenangkan, membuat saya tetap nyaman menonton Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sampai tuntas.

Nuansa misteri film ini sangat kental melebihi kadar horornya. Praktis tak ada sosok horor utama yang menjadi icon pada film ini. Jangan harap pula terdapat jump scare yang mengagetkan pada film ini. Horor klasik sudah cukup terasa di sana, meski memang tidak terlalu banyak. Latar belakang rumah tua di perkampungan di era tahun 80-an mengingatkan saya kepada Pengabdi Setan (2017). Apalagi terdapat pemutara piringan hitam lagu lawasnya Tetty Kadi yang berjudul Mawar Berduri. Ok, itu memang lagu lawas, tapi tidak semenakutkan lagu lawas yang juga diputarkan pada piringan hitam di Pengabdi Setan (2017).

Yaah, saya pribadi memandang Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sebagai film detektif di tengah-tengah dunia santet dan perdukunan Indonesia. Saya rasa film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Inilah film Indonesia terbaik yang diputar pada tahun 2018.

Sumber: klikstarvision.com/page/movie_detail/180/sinopsis/KAFIR

Doctor Sleep (2019)

Pada tahun 2013 lalu, Stephen King merilis Doctor Sleep sebagai novel terbarunya. Novel ini ternyata merupakan sekuel dari novel The Shining yang ia rilis pada 1977 lalu. Waaah, setelah lebih dari 30 tahun, baru ada sekuelnya. Nah, bagaimana dengan versi film layar lebarnya The Shining. Seperti pernah saya bahas sebelumnya, The Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubric dinilai kurang baik oleh Stephen King. Kubric dan King seolah berseteru akan 2 karya mereka yang sama-sama terbilang populer. Wah kalau begitu bagaimana dengan versi film layar lebarnya Doctor Sleep?

Sudah pasti Doctor Sleep (2019) tidak akan disutradarai oleh Kubric. Film tersebut disutradarai oleh Mike Flanagan yang sudah berpengalaman menggarap beberapa film horor dan misteri sebelumnya. Saya pribadi bukan fans berat dari karya-karya Flanagan, Kubric ataupun King. The Shining (1980) pun bukan film horor favorit saya hehehe. Jadi wajar saja kalau saya tidak berharap banyak kepada Doctor Sleep (2019). Saya baru menonton film ini beberapa bulan setelah film tersebut dirilis hohohoho.

Pada The Shining (1980) dikisahkan bahwa Danny Torrance kecil bersama keluarganya, mengalami teror dari mahluk-mahluk penunggu Hotel Overlook. Mereka tertarik sesuatu yang ada di dalam diri Danny. Ia ternyata memiliki kemampuan memanfaatkan kekuatan supranatural yang disebut Danny sebut shining atau sinar sebab kekuatan ini membuat Danny unik dan bersinar bagi mahluk-mahluk tertentu.

Apa yang Danny sebut shining, ternyata memiliki istilah lain bagi orang lain. Steam atau uap adalah nama yang Kelompok True Knot berikan. Kelompok yang dipimpin oleh Rose (Rebecca Ferguson) ini mampu untuk hidup cukup lama dengan memakan uap orang lain. Rose dan kawan-kawan berkelana mencari individu-individu yang memiliki kemampuan supranatural untuk dijadikan makanan. Mereka dengan kejamnya tega memangsa uap dari anak-anak kecil tak berdosa. Menurut Rose, uap dari anak-anak lebih murni dan lezat untuk disantap, apalagi bila ditambahkan dengan bumbu rasa takut dan rasa sakit :'(.

Saya yang sedang memiliki anak-anak kecil di rumah, cukup geram melihat ulah Rose dan kawan-kawan. Jadi merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya, melihat mereka “dikerjai” sepanjang Doctor Sleep (2019). Rose melakukan kesalahan besar ketika ia berusaha melacak dan memangsa Abra Stone (Kyliegh Curran), seorang anak dengan uap atau sinar yang sangat besar. Besarnya uap Abra menunjukkan betapa besarkan makanan bagi Rose, sekaligus betapa besarnya punya kekuatan Abra yang harus Rose taklukkan.

Rose pikir, ia dapat menang dengan batuan anggota kelompoknya yang cukup banyak. Namun, Abra yang dianggap masih kurang berpengalaman ternyata mendapatkan bantuan dari Danny Torrance (Ewan McGregor).

Danny sudah dewasa dan masih bergulat dengan trauma yang ia peroleh di Hotel Overlook pada The Shining (1980). Ia melakukan apapun untuk menyelamatkan Abra, bahkan ketika hal ini membuatnya kembali ke Hotel Overlook, sebuah tempat yang memberinya mimpi buruk selama ini.

Keberadaan Hotel Overlook beserta penguninya, memperkuat status Doctor Sleep (2019) sebagai sekuel dari The Shining (1980). Apalagi terdapat pula berbagai adegan populer dari The Shining (1980), dihadirkan kembali dengan cara yang sedikit berbeda. Kemudian beberapa efek dan lagu dari Doctor Sleep (2019), diambil dari The Shining (1980). Hal-hal ini berhasil membumbui Docter Sleep (2019) dengan sebuah nuansa nostalgia.

Horor dan misteri dari Doctor Sleep (2019) memang berada di bawah The Shining (1980). Doctor Sleep (2019) tetap kental akan dunia supranatural ala Stephen King, hanya saja penggarapannya membuat saya seolah seperti menonton film fiksi ilmiah. Apakah ini merupakan hal yang buruk? Tidak bagi saya pribadi. Saya justru senang dengan bagaimana cerita bergulir.

Saya rasa, Doctor Sleep (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya yang bukan fans beratnya King atau Kubric merasa bahwa sekuel yang satu ini lebih menyenangkan dan menarik untuk ditonton ketimbang film pendahulunya :).

Sumber: http://www.doctorsleepmovie.com

Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

Serial The Witcher

Saya belum pernah membaca novel The Witcher, apalagi main video game The Witcher. Walaupun untuk video game saja sudah ada sejak 2007 dan novelnya sudah ada sejak 1993, Wuaaah sudah lama juga yaaa. Selama itupulalah saya tidak pernah mengetahui keberadaan The Witcher. Netflix adalah yang memperkenalkan The Witcher kepada saya. Sejak 2019, Netflix menayangkan film seri The Witcher di aplikasinya.

Seperti apa sih The Witcher itu? Serial ini mengambil latar belakang yang mirip dengan abad pertengahan di Eropa, eranya kerajaan Eropa berjaya. Kerajaan-kerajaan manusia berdiri di atas sebuah benua yang konon dahulu kala dikuasai oleh monster dan mahluk-mahluk dongeng seperti peri dan kurcaci.

Di sana, Geralt of Rivia (Henry Cavill) berkelana untuk melawan monster-monster yang mengganggu manusia. Kemampuan Geralt sebagai seorang Witcher memungkinkannya untuk melakukan berbagai sihir yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Kalau saya lihat, Witcher itu berbeda dengan penyihir. Witcher memadukan kemampuan sihir dengan kemampuan berkelahi karena tubuh Witcher lebih kebal terhadap sihir tertentu dan relatif lebih kuat dari manusia pada umumnya.

Teorinya, seorang Witcher akan memperoleh imbalan dari setiap monster yang ia bunuh. Masalahnya, bagi Geralt, pengertian monster itu bukan hanya terpatri pada mahluk buas yang menyeramkan. Bukankah manusia sendiri dapat berperilaku seperti monster?

Melihat The Witcher, saya jadi teringat pula pada Game of Thrones. Kondisi yang diperlihatkan sangat mirip. Sebuah benua dengan berbagai pihak yang licik dan saling bunuh. Di sana terdapat pula berbagai adegan sadis dan dewasa lengkap dengan masalah-masalah yang gelap dan tabu.

Beruntung Serial The Witcher memiliki tokoh utama yang dijadikan patokan moral pada film ini. Sebagai tokoh utama, Geralt bukanlah orang suci, ia banyak pula melakulan berbagai hal yang dianggap dosa kalau dilihat dari sudut pandang agama. Namun jauh di lubuk hatinya, Geralt memiliki moral yang baik. Saya rasa hal inilah yang membuat Geralt berbeda. Ia dapat melakukan hal yang benar du tengah-tengah dunia yang penuh kenistaan. Sikapnya yang dingin dan cuek berhasil diperankan dengan sempurna oleh Hendry Cavill. Saya sama sekali tidak melihat Superman pada serial ini. Cavill benar-venar sudah menjadi seorang Witcher handal bernama Geralt. Jelas sudah karakter inilah bintang dari Serial The Witcher :).

 

Sebenarnya terdapat 2 karakter utama lain selain Geralt. Yennefer of Vengerberg (Anya Chalotra) dan Putri Cirilla (Freya Allan). Yennefer adalah penyihir dengan keteguhan hati yang kuat. Sementara itu Cirilla merupakan pewaris tahta kerajaan yang memiliki sebuah bakat khusus.

Saya kagum dengan bagaimana cara Serial The Witcher mengisahkan Geralt bersama dengan Cirilla dan Yennefer. Setiap episode tidak selalu dibuat dengan alur maju. Terdapar alur maju mundur terkait karakter-karakter di dalamnya. Semuanya dapat ditampilkan dengan sangat menarik dan jauh dari kata membingungkan hehehehe.

Sayang adegan perkelahian pada serial ini seperti belum didukung oleh dana yang mumpuni. Pertarungan antara Gerald dan monster-monster tidak terlalu spektakuler. Padahal bukankah profesi Gerald itu adalah pemburu monster? Terkadang monster-monster yang ada ditunjukkan dalam wujud yang masih menyerupai fisik manusia. Memiliki 2 kaki, 2 tangan, tapi wajahnya dibuat agak berbeda. Tidak ada bentuk monster yang ekstrim di sana. Beruntung adegan perkelahian antara Gerald dengan sesama manusia justru nampak keren, walaupun agak sadis.

 

Salah satu pesan moral dari The Witcher memang terkait wujud monster yang patut diwaspadai. Seburuk apapun wujudmu, kamu tidak dapat dianggap sebagai monster apabila masih ada kebaikan di dalam hatimu :). Saya sudah tidak sabar menanti episode terbaru dari The Witcher. Serial ini sopasti pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”

Sumber: http://www.netflix.com