The Mitchells vs. the Machines (2021)

Masih ingat dengan Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)? Film kartun keluaran Sony tersebut menggunakan animasi yang unik dan bagus sekali. Pada tahun 2021 ini, Sony melakukannya lagi melalui The Mitchells vs. the Machines (2021). Gaya animasinya sangat mirip dan jauh dari kata membosankan. Dari segi kualitas animasi, Mitchells vs. the Machines (2021) merupakan salah satu film animasi terbaik di tahun 2021.

Bagaimana dengan ceritanya? Film yang pada awalnya akan dirilis dengan judul Connected pada 2020 ini, berbicara mengenai hubungan sebuah keluarga. Karena pandemi Corona dan alasan lainnya, akhirnya film inu baru dirilis pada akhir April 2021 dengan judul yang berbeda, Mitchells vs. the Machines (2021).

Mitchell adalah keluarga yang menjadi sentral film ini. Seperti keluarga Amerika lain pada umumnya, keluarga ini terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak, … dan seekor anjing. Hubungan mereka tidak terlalu erat terutama antara si ayah dan anak perempuan sulungnya. Keduanya terus berselisih hampir di setiap kesempatan.

Untuk mempererat hubungan di dalam keluarga Mitchell, si ayah memutuskan untuk mengadakan perjalanan darat bersama-sama. Tujuan akhir mereka adalah mengatarkan si sulung ke kota California untuk melanjutkan pendidikan di sana.

Di tengah-tengah perjalanan, terjadi sebuah insiden pengambilalihan kendali Bumi oleh sekelompok mesin super canggih. Uniknya, hanya keluarga Mitchell saja yang gagal ditawan oleh para mesin. Sekarang, nasib seluruh umat manusia berada di tangan keluarga Mitchell yang penuh konflik dan jauh dari kata sempurna.

Kalau dilihat dari logika, jelas banyak sekali plot hole dan hal-hal yang tidak masuk akal terjadi pada film ini. Tapi semua masih dalam batas wajar. Semua tertutupi dengan animasi yang keren dan cerita yang bagus.

Pesan moral yang Mitchells vs. the Machines (2021) berikan pun, terbilang baik dan cocok bagi keluarga. Topik utama film ini memang hubungan keluarga. Semua disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan tidak menggurui.

Dengan demikian, saya rasa Mitchells vs. the Machines (2021) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini merupakan film keluarga yang berbicara mengenai keluarga. Namun, bagi beberapa penonton, ada 1 dialog yang menunjukkan LGBTQ secara samar. Yah namanya juga samar, tidak akan terlihat jelas apalagi bagi penonton Indonesia. Kenapa? Karena penonton Indonesia selama ini memang tidak merayakan hari raya Thanksgiving. Selain itu, orang Indonesia memiliki struktur nama yang berbeda dengan nama-nama orang Amerika. Jadi, 1 dialog LGBTQ samar-samar terkait Thanksgiving dan sebuah nama orang Amerika, tidak akan penonton Indonesia sadari. Saya sendiri tidak menyadarinya ketika pertama kali menonton Mitchells vs. the Machines (2021).

Sumber: http://www.sonypicturesanimation.com

Onward (2020)

Onward (2020) adalah film animasi keluaran Disney yang … akhirnya memiliki pria sebagai tokoh utamanya :’D. Yaaah, coba lihat saja, akhir-akhir ini Disney rajin menetaskan film animasi dengan tokoh utama seorang putri atau pejuang wanita. Memang sih ada campur tangan Pixar pada Onward (2020), tapi tetap .. akhirnya tokoh utamanya mas-mas, bukan mbak-mbak terus :).

Latar belakang film animasi yang satu ini adalah dunia dongeng yang dihuni oleh, peri, naga, kurcaci, faun, cyclop, maticore, goblin dan berbagai mahluk dongeng lainnya. Pada awalnya mereka hidup berdampingan dengan sihir beserta hal-hal fantasi lainnya. Namun bagaimana ketika mahluk-mahluk dongeng tersebut semakin lama semakin berkembang? Ilmu pengetahuan mereka semakin tinggi hingga akhirnya mereka mampu memiliki berbagai teknologi dan sistem yang modern. Sihir pun telah menjadi masa lalu dan terlupakan begitu saja.

Namun di tengah-tengah hingar bingar dunia dongeng yang sudah modern, terdapat Barley Lightfoot (Chris Pratt) yang masih percaya bahwa sihir itu ada. Barley memiliki pengethuan yang luas akan sihir dan berbagai legenda yang meliputinya. Namun ternyata bukan Barley yang berhasil membangkitkan sihir. Adik Barley, yaitu Ian Lightfoot (Tom Holland) justru ternyata memiliki kemampuan sihir. Ian yang memiliki masalah kepercayaan diri, berhasil menggunakan sebuah tongkat sihir untuk membangkitkan mendiang ayah mereka. Sayang Ian hanya mampu mengembalikan bagian bawah sang ayah. Dari sini, Barley & Ian berkelana demi membangkitkan tubuh ayah mereka dengan lengkap.

Hubungan kakak adik yang renggang, menjadi semakin erat akibat petualangan ajaib tersebut. Di sana, Ian belajar untuk lebih percaya diri dan lebih menyayangi Barley. Semua tingkah yang Barley lakukan selama ini ternyata ia lakukan untuk memberikan figur ayah bagi Ian. Sebuah akhir yang mengharukan dan bagus sekali.

Onward (2020) berhasil memberikan cerita yang lumayan menarik dengan berbagai pesan moral yang bagus sekali. Saya rasa Onward (2020) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.pixar.com/onward

Mulan (2020)

Hua Mulan (花木蘭) merupakan legenda dari negeri Tingkok yang sampai saat ini masih diperdebatkan keberadaannya. Apakah Mulan merupakan tokoh karangan atau tokoh nyata? Terlepas dari itu, Mulan telah beberapa kali diangkat ke dalam berbagai media. Kurang lebih ceritanya mirip. Ketika negeri kampung halaman Mulan berperang, ayah Mulan yang sudah tua diharuskan ikut maju ke medan tempur. Mulan kemudian menyamar menjadi pria dan ikut bertempur membela tanah airnya.

Pemberdayaan wanita selalu menjadi topik utama dari kisah petualangan Mulan. Mulan hidup di jaman kerajaan dimana para wanita diharapkan untuk menjadi istri yang baik. Mampu mengurus rumah tangga beserta anak-anak. Menjadi tentara kerajaan, bukanlah hal yang lazim pada saat itu. Maka Mulan menjadi lambang pemberdayaan wanita di tengah-tengah dominasi pria.

Mulan (1998) versi animasi Disney, merupakan salah satu film putri Disney favorit saya. Pesan moralnya dapat, romansanya dapat, komedinya juga dapat. Apakah Mulan (2020) akan sama bagusnya dengan Mulan (1998)?

Cerita boleh sama, tapi cara penyampaian dan eksekusi dapat merubah segalanya. Mulan (2020) bisa jadi dikatakan sebagai versi live action dari Mulan (1998). Ceritanya bisa dibilang mirip. Hanya saja Mulan (2020) seolah menghilangkan hal baik dari Mulan (1998) dan menggantinya dengan hal yang kurang ok.

Saya mulai dari sisi komedi. Kehadiran naga mungil yang mendampingi petualangan Mulan memang berhasil membuat Mulan (1998) lebih menghibur. Banyak sekali humor-humor jenaka yang dilontarkan sang naga. Bagaimana dengan Mulan (2020)? Karakter naga ini tidak ada, dan tak ada sosok penggantinya. Otomatis Mulan (2020) terasa lebih serius dan kering dari yang namanya komedi.

Unsur romansa yang biasa dihadirkan pada kisah-kisah Mulan pun, relatif hilang pada Mulan (2020). Saya pribadi tidak ada masalah akan hal ini. Hanya saja, saya merasa seperti ada seorang tokoh pria yang “nanggung”. Entah maksudnya dia hendak dijadikan love interest dari Mulan atau apa. Jatuhnya sih jadi agak janggal.

Dari sisi adegan aksinya, Mulan (2020) memang nampak cantik dan bagus. Semuanya nampak realistis dan tepat takarannya. Yah, rasanya inilah satu-satunya poin positif dari Mulan (2020).

Sayang, adegan yang lumayan ok, harus bekerja keras mendukung jalan cerita yang penuh lubang. Terdapat beberapa bagian yang terlihat terlalu dipaksakan. Perubahan sikap dari karakternya, terlalu drastis dan kurang masuk akal x_x.

Bagaimana dari sisi pesan moralnya? Inilah bagian terburuk dari Mulan (2020) :(. Saya mulai dari pesan moral positifnya ya. Mulan tampil sebagai wanita mandiri yang berbakti kepada orang tua dan cinta tanah air. Bayangkan saja, ia berani menyamar menjadi pria demi menggantikan posisi ayahnya di program wajib militer kerajaan. Sayang semuanya seolah-olah Mulan lalukan tanpa melihat apakah kerajaan yang ia dukung, berada di pihak yang benar atau tidak. Pada Mulan (1998), tidak tanggung-tanggung, lawan Mulan adalah kerajaan lain yang ingin menginvasi dan menjajah tanah air Mulan. Jahat? Jelassss, Mulan pada Mulan (1998) terlihat membela pihak yang benar.

Bagaimana posisi Mulan pada Mulan (2020)? Sekilas, dikisahkan bahwa lawan dari kerajaan Mulan merupakan sekumpulan dari suku-suku yang wilayahnya dikuasai oleh sang kaisar, pemimpin kerajaan tempat Mulan tinggal. Tak lupa kaisar pun telah membunuh kepala suku mereka di masa lalu. Yang terjadi adalah benih dari yang sang kaisar tanam dahulu kala. Tidak ada kisah yang menyatakan bahwa sang kaisar melakukan ini demi kebaikan atau hal-hal lain yang menunjukkan bahwa kaisar tidak salah. Kalau kita balik, bisa saja lawan-lawan Mulan hanyalah suku-suku yang menuntut kemerdekaan atas kampung halaman mereka. Tidak semua manusia yang penampilan fisiknya menyeramkan, memiliki hati yang buruk bukan?

Kesan di atas semakin dipertegas ketika pemeran Mulan pada Mulan (2020) menyatakan dukungannya atas tindakan repesif kepolisian Hongkong terhadap para demonstran. Mulan (2020) memang dirilis di tengah-tengah ketengangan antara penduduk Hongkong dengan pemerintah Cina daratan.

Saya sangat suka dengan Mulan (1998), tapi saya kurang suka dengan Mulan (2020). Kedua film tersebut boleh mengambil legenda yang sama, bahkan keduanya sama-sama buatan Disney. Tapi hasilnya ternyata sangat berbeda. Maaf dear Disney, bagi saya, Mulan (2020) hanya memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: movies.disney.com/mulan-2020

Serial My Little Pony: Pony Life

Sebagai franchise yang sudah ada sejak lama, My Little Pony sudah hadir dalam berbagai bentuk film. Film serinya saja sudah ada berapa jenis. Kali ini saya membahas film seri dari My Little Pony yang paling imut yaitu Pony Life. Kelima karakter utama My Little Pony tentunya kembali hadir di sini. Di sini ada Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Apple Jack (Ashleigh Ball), Rarity (Tabitha St. Germain), Fluttershy (Andrea Libman) dan Rainbow Dash (Tabitha St. Germain).

Formasi lengkap sudah hadir. Lalu apa bedanya Pony Life dengan serial Little Pony lainnya? Serial ini hadir dilengkapi oleh animasi yang lucu. Fokus serial ini pun lebih ke arah hiburan dan humor. Dalam setiap episodenya, kita tidak akan selalu disuguhkan mengenai bagaimana persahabatan dapat mengalahkan kejahatan dan menyelamatkan dunia. Sebagian besar episodenya justru berhubungan dengan hobi dan keseharian kelima karakter utama Pony Life.

Keenam karakter utama hadir dengan masalahnya masing-masing. Semuanya diselesaikan dengan berbagai kelucuan di mana-mana. Penonton dewasa tidak akan kebosanan ketika ikut menonton film seri ini.

Pesan moral dari film kartun ini tidaklah banyak dan hanya itu-itu saja sih. Animasi dan kisah yang lucu, menjadi daya tarik serial ini. Pony Life merupakan versi My Little Pony yang tidak serius. Dengan demikian, serial imut ini masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com/en-us/characters/ponylife

Serial Bluey

Bluey adalah film seri animasi anak keluaran Australia yang biasa putri kecil saya saksikan di Stasiun TV Disney. Serial asal Australia ini mengisahkan keseharian sebuah keluarga anjing yang tediri dari Bandit sang ayah (David McCormack), Chili sebagai sang ibu (Melanie Zanetti) , Bingo sebagai adik Bluey, dan tentunya Bluey sendiri. Bluey adalah anjing heler berwarna biru yang energik, ceria dan kreatif. Ahh sebuah karakter yang biasa dimiliki oleh banyak protagonis utama sebuah film anak. Lalu apa istimewanya Bluey?

Sebagai anak anjing, Bluey tentunya senang bermain. Kegiatan bermain Bluey bersama keluarga dan temannya, dipertontonkan dengan cara yang menghibur. Serial ini menunjukkan bagaimana kreatifnya Bluey dan kawan-kawan ketika sedang bermain. Tidak hanya bermain, terkadang kegian Bluey lainnya pun terlihat segar dan tidak repetitif. Sebagai penonton dewasa, saya sendiri tidak merasa bosan ketika sedang menemani anak saya menonton Bluey.

Sebagai film seri untuk anal-anak, Bluey tentunya menyisipkan berbagai pelajaran yang positif bagi penontonnya. Sebuah contoh yang tak ada salahnya untuk ditiru oleh anak-anak.

Saya rasa serial anak yang satu ini layal untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Bagus”. Durasi per episode-nya memang tidak terlalu panjang, tapi itu cukuplah untuk dijadikan tontonan segar bersama anak kita di rumah.

Sumber: http://www.bluey.tv

Raya and the Last Dragon (2021)

Raya and the Last Dragon (2021) merupakan film animasi Disney terbaru yang hadir di bioskop dan media streaming eksklusif. Tokoh utamanya adalah Raya (Kelly Marie Tran) dan Sisu (Nora Lum). Raya adalah putri dari kepala suku Negeri Heart. Dahulu kala, Heart dan 4 negeri lainnya bersatu membentuk sebuah kesatuan yang disebut Kumandra. Semua berubah ketika sebuah mahluh misterius yang bernama Druun, datang dan mengubah banyak rakyat Kumandra menjadi batu. Para naga yang menjadi pelindung Kumandra tidak tinggal diam. Mereka pun rela gugur demi menghancurkan Druun. Akhirnya, kemenangan jatuh ke tangan para naga melalui sihir Sisu, naga terakhir Kumandra yang masih tersisa.

Setelah insiden tersebut, Kumandra mengalami perpecahan dan terbagi ke dalam 5 wilayah termasuk Heart, kampung halaman Raya. Beberapa tahun kemudian, perseteruan diantara 5 negeri tersebut membuat Druun hidup kembali dan menteror kelima negeri yang dahulu bersaudara. Dimanakah para naga Kumandra yang dahulu menolong mereka? Putri Raya memutuskan untuk berkelana demi mencari keberadaan Sisu, naga terakhir yang kabarnya masih hidup. Ia berharap Sisu masih memiliki kekuatan untuk kembali mengalahkan Druun.

Tanpa raya duga, kekuatan Sisu ternyata adalah kekuatan yang berasal dari persatuan, kepercayaan dan persaudaraan. Hal-hal yang saat ini sudah punah dari kelima negeri yang ada.

Raya sendiri mengalami masalah dengan yang namanya kepercayaan. Dahulu, ia pernah dihianati oleh putri negeri lain. Sehingga Raya sangat sulit percaya dengan orang yang baru ia temui. Sepanjang perjalanannya, Raya harus belajar untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Bersama Sisu, ia pun banyak belajar mengenai pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Sebuah petualang epik yang berhasil disajikan dengan sangat baik oleh Disney. Berbeda dengan mayoritas putri-putri Disney lainnya, Raya tidak menyanyi. Tidak ada adegan menyanyi sedikitpub pada pertengahan film ini. Hebatnya, Disney menggantinya dengan adegan pertarungan yang keren. Raya bukanlah putri yang memiliki kekuatan sihir seperti Elsa. Namun ia mampu berkelahi dengan sangat baik. Dengan kualitas animasi di atas rata-rata untuk film keluaran tahun 2021, film ini tampak menakjubkan. Adegan perkelahian bisa jadi merupakan bagian yang paling saya suka dari Raya and the Last Dragon (2021).

Apalagi, film putri Disney yang satu ini dapat dikatakan merupakan putri Disney pertama yang berasal dari Asia Tenggara. Pada film ini, saya melihat proses pembuatan batik, keris, pencak silat, wayang, gamelan, istana ala Thailand/Vietnam, rumah gadang, rice cake Vietnam, sawah terasering dan lain-lain. Wah, akhirnya ada juga perwakilan kita di sana.

Pengisi suara kedua karakter utamanya pun merupakan keturunan Asia. Nora Lum berhasil memberikan karakter suara yang membuat Sisu nampak hidup. Naga yang konyol dan murah senyum sungguh pas sekali dengan suara Nora. Sementara itu Marrie yang keturunan Vietnam, tidak terlalu nampak menonjol. Suara Raya yang diisi oleh Marrie terbilang okelah tapi tidak sekeren apa yang Nora lakukan kepada karakter Sisu.

Salah satu hal yang saya tidak terlalu suka dari film ini sebenarnya adalah akhir yang agak antiklimaks. Kemudian, alur ceritanya agak mudah ditebak. Tapi ini dapat dipahami karena bukankah ini merupakan film keluarga? Kalau terlalu kompleks, ya sopasti penonton cilik tidak akan betah.

Berbagai kelebihan dan kekurangan di atas membuat saya ikhlas untuk memberikan Raya and the Last Dragon (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini adalah tontonan wajib di tahun 2021 ;).

Sumber: movies.disney.com/raya-and-the-last-dragon

Serial Kiko

Berawal dari cerita pendek di majalah, Kiko diangkat ke TV oleh MNC pada tahun 2014 lalu. Sampai saat saya menulis tulisan ini, serial Kiko adalah salah satu film seri animasi yang anak saya gemari. Di tengah-tengah hiruk pikuk film animasi macanegara, ternyata ada 1 animasi lokal yang mampu bersaing. Yang lebih membanggakan lagi adalah kenyataan bahwa Kiko sudah diputar pula di Stasiun TV berbayar Disney. Selain itu serial inipun sudah dialihbahasakan dan diputar di negara-negara lain looh. Yah tidak kalahlah dengan Serial Ipin & Upin dari Malaysia.

Berbeda dengan Serial Ipin & Upin, semua karakter pada Serial Kiko bukanlah manusia. Mereka semua pada awalnya merupakan penghuni sebuah danau yang sangat luas. Akibat kelalaian manusia, mayoritas penghuni danau tersebut terkena limbah dan berubah menjadi mutant. Seketika itu mereka memiliki wujud seperti manusia dan hidup tersembunyi di dasar danau. Mereka kemudian membangun sebuah peradaban lengkap dengan rumah, jalan, pertokoan dan sebagainya. Lahirlah Kota Asri, tempat tinggal Kiko (Anastasia Amelia), seekor ikan mas koki yang sekarang memiliki wujud menyerupai anak manusia dan gemar bermain bola.

Sehari-hari, Kiko bersahabat dengan Poli (Leni Marlina Tarra), Lola (Siti Balqis), Ting-Ting (Leni Marlina Tarra) dan Patino (Suherman). Poli merupakan ninja cilik yang dingin namun sportif dan sangat setia kawan. Lola merupakan pengusaha kuliner yang senang merawat aneka bunga, cewek banget deh pokoknya. Sementara ini Patino adalah sahabat Kiko yang terkuat, terpolos dan hobi sekali dengan gulat dan komik. Terakhir, Ting-Ting merupakan peneliti yang super jenius dan ahli akan teknologi terbaru. Perbedaan, membuat Kiko dan kawan-kawan dapat tetap bersatu dan saling melengkapi. Kiko sering kali bertindak sebagai pemimpin. Kecekatan, kepintaran dan kebaikannya berhasil beberapa kali membawa teman-temannya keluarnya dari masalah. Tapi terkadang, ulah Kiko yang usil dan suka ikut campur, membawa petaka. Yah tak ada yang sempurna. Tokoh utama film seri anak ini bukan malaikat.

Kebaikan menang melawan kejahatan. Persahabatan dan kebersamaan, berhasil memecahkan berbagai masalah. Itulah tema pokok yang saya lihat pada setiap episodenya. Semua yang diajarkan pada Serial Kiko memang baik dan patut untuk dicontoh. Dibalut dengan animasi yang lumayan bagus, semuanya nampak seperti sebuah paket yang menarik.

Namun, semua yang ada pada serial ini, seolah dapat saya temukan pula pada serial animasi lain. Tidak ada yang istimewa dari karakter dan ceritanya. Ooohhh tunggu dulu, keistimewaan Kiko adalah … made in Indonesia :D.

Dengan demikian, serial anak yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ayo cintai produk Indonesia hehehehe.

Sumber: mncanimation.com/products/view/kiko

Soul (2020)

Kali ini saya akan membahas mengenai film animasi terbaru Pixar & Walt Disney, yaitu Soul (2020). Tokoh utama film animasi yang satu ini adalah Joe Gardner (Jamie Foxx) dan Paul (Daveed Diggs). Keduanya bertemu di dunia roh … Stop, ini film horor? Wkwkwkw. Tema film ini memang dunia roh. Tapi semua digambarkan dengan sangat cerah dan gamblang. Semuanya sangat mudah dipahami baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Ini film Walt Disney loh, bukan filmnya Om Nolan.

Joe merupakan seorang pemusik Jazz yang sekarat. Jiwanya pun pergi ke alam roh. Ia berbaris bersama roh-roh lain yang sudah sekarat. Berbarus menuju sebuah pintu yang melambangkan kematian bagi tubuh Joe dan kehidupan baru bari roh Joe di akhirat. Namun, Joe masih belum ikhlas pergi meninggalkan dunia fana untuk selamanya. Maka, dengan keinginan yang kuat, Joe melarikan diri dan justru terjatuh ke alarm roh lain. Sebuah alarm roh dimana berkumpul roh-roh mungil yang belum lahir ke dunia. Di sinilah awal Joe bertemu dengan Paul.

Bertolakbelakang dengan Joe, roh Paul justru tidak mau pergi ke dunia nyata. Paul hendak menetap di dunia roh saja untuk selama-lamanya. Di sinilah awal mula dari persahabatan yang mengharukan antara 2 roh yang berbeda.

Melalui Soul (2020) kita diingatkan mengenai apa arti hidup. Bagaimana kita memanfaatkan anugrah ini. Selain itu, Soul (2020) memiliki unsur pengorbanan, keikhlasan, dan tentunya, persahabatan. Sebuah film dengan banyak sekali pesan moral yang baik tanpa harus tampil menggurui.

Film ini tampil dengan animasi yang bagus, jalan cerita yang mudah dipahami, dan segudang pesan moral yang baik. Maka, saya pun ikhlas untuk memberikan Soul (2020) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini baik untuk ditonton oleh seluruh anggota keluarga.

Sumber: http://www.pixar.com/soul

Serial Mighty Little Bheem

Sejak tahun 2008, karakter Chotta Bheem menjadi salah satu karakter andalan Green Gold Animation, sebuah perusahaan film India. Serial Chotta Bheem telah melahirkan beberapa film lepas dan spin-off. Saya sendiri tidak terlalu terkesan dengan hasil dari franchise Chotta Bheem kecuali satu. Apa itu? Serial Mighty Little Bheem tentunya.

Kalau saya hitung-hitung, Serial Mighty Little Bheem merupakan spin-off keempat dari Serial Chotta Bheem. Biasanya, Chotta Bheem digambarkan sebagai anak-anak yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Ia pun menggunakan kekuatanya untuk mengalahkan tokoh jahat yang berupa manusia dan siluman.

Pendekatan yang dilakukan pada serial yang satu ini agak berbeda dengan film-film Chotta Bheem lainnya. Bheem masih balitadan tinggal di gubuk sederhana bersama ibunya. Suasana pedesaan India tentunya menjadi latar belakang Bheem si balita super kuat.

Kali ini ia menggunakan kekuatan supernya untuk melakukan hal-hal yang lebih sederhana. Dalam prosesnya, kelucuan terjadi dimana-mana. Saya pun beberapa kali tertawa melihat tingkah Bheem dan kawan-kawan. Serial yang satu ini memang sama sekali jauh dari kata serius.

Komedi menjadi cara Mighty Little Bheem menyampaikan pesan positif bagi para penontonnya. Ditambah dengan animasi yang menawan, Mighty Little Bheem berhasil menjadi salah satu film seri anak yang berhasil memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.mightylittlebheem.com

Serial Talking Tom Heroes

Ponsel Android beserta layar sentuhnya baru bisa saya miliki sekitar tahun 2011. Menggunakan layar sentuh merupakan hal baru saat itu, termasuk untuk bermain. Layar sentuh melahirkan berbagai gameplay baru yang unik. Maklum, dahulu kala saya bermain dengan menekan tombol-tombol, tidak seperti sekarang dimana semuanya sudah menggunakan layar sentuh :’D. Nah, Talking Tom Cat merupakan salah satu permainan pertama yang saya mainkan di Android dan berhasil memberikan pengalaman bermain yang baru.

Pada awalnya, Talking Tom Cat adalah permainan hewan peliharaan virtual yang cukup sukses, karena konsep permainan yang diangkat masih tergolong baru dan pesaingnya belum banyak. Kesuksesan Talking Tom melahirkan permainan lain seperti Talking Angela, Talking Ginger, Talking Hank, Talking Ben dan Talking-Talking lainnya. Semuanya dikembangkan oleh perusahaan asal Slovenia, yaitu Outfit 7.

Lama kelamaan Talking Tom Cat dan kawan-kawan hadir dalam berbagai varian permainan yang hadir di platform Andoid dan IOS. Tidak puas sampai di sana, Outfit 7 sebagai pihak pengembang Talking Tom Cat pun, sudah sejak lama melakukan perluasan dengan bekerjasama dengan pihak lain untuk membuat film-film seri Talking Tom Cat seperti Talking Friends, Talking Tom and Friends, Talking Tom Shorts, Talking Tom and Friends Minis dan Talking Tom Heroes.

Perlu diingat, tidak semua konten terkait Talking Tom Cat, pantas ditonton anak kecil. Terkadang ada permainannya atau filmnya yang mengisahkan percintaan karakter Tom dan Angela serta kisah cinta-cintaan lainnya. Saya sendiri sudah menonton beberapa versi dari film seri Talking Tom Cat. Dari sana saya menemukan bahwa sementara ini, Talking Tom Heroes merupakan serial yang paling menghibur dan relatif aman ditonton anak-anak.

Film seri Talking Tom Heroes mengangkat tema penyelamatan dan kepahlawanan. Di sana, dikisahkan bahwa Tom, Hank, Angela dan Ben memiliki kekuatan super. Tom memiliki kekuatan yang sangat besar, Angela dapat bergerak secepat kilat, Ben dapat memanipulasi berbagai peralatan canggih dari jarak jauh, dan Hank memiliki kantung ajaib yang dapat mengeluarkan berbagai barang yang dibutuhkan. Selain keempat pahlawan super tersebut, hadir pula Ginger yang ingin ikut membantu, walaupun ia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Ginger merupakan cara film seri ini untuk menyampaikan bahwa, kekuatan super bukanlah persyaratan mutlak untuk menolong orang lain. Selain itu, film ini menyampaikan pesan moral terkait kejahatan melawan kebaikan dengan cara yang menghibur.

Yaaah, pesan moral dan pelajaran yang disampaikan Talking Tom Heroes memang standard ya hehehe. Saya rasa kelebihan serial ini adalah dari segi hiburan. Film seri yang semua karakternya tidak berbicara, berhasil menyampaikan berbagai kisah yang menarik dan tidak membosankan, termasuk bagi orang dewasa. 

 

Saya pribadi, tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton Talking Tom Heroes. Saya bahkan merasa terhibur ketika menonton setiap episodenya yang hanya berdurasi sekitar 10 menit. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film seri ini dapat dijadikan sebagai hiburan segar bagi seluruh anggota keluarga.

Sumber: outfit7.com