Frozen (2013)

Walt Disney sudah merilis banyak sekali film animasi dengan tema putri-putri-an. Sampai-sampai ada istilah Disney Princes yang hadir dalam berbagai barang dagangan Disney :’D. Yaaaah, setiap beberapa tahun, Disney rajin menambah jumlah Disney Princess mereka.

Kisah-kisah putri-putrian klasik yang Disney angkat, banyak berkutat pada kisah cinta putri dan pangeran dimana pada akhirnya sang putri dan pangeran hidup bahagia selamanya. Lihhat saja Snow White and the Seven Dwarfs (1937), Cinderella (1950), Sleeping Beauty (1959), The Little Mermaid (1989). Bagi saya pribadi, tidak ada yang menonjol diantara kisah-kisah tersebut karena kiasahnya bersifat universal dan sudah ada banyak didongengkan oleh pihak lain selain Disney.

Kemudian Disney merubah kisah putri yang diangkat sedemikian rupa sehingga kisah cintanya menjadi kisah cinta tak biasa antara sang putri dengan seeorang yang pangkatnya bukan pangeran, tapi yaaaaa masih cinta-cintaan sih. Semua dapat dilihat pada Beauty and the Beast (1991), Aladdin (1992), Pocahontas (1995), Mulan (1998), The Princess and the Frog (2009) dan Tangled (2010). Bagi saya pribadi, Mulan (1998) terbilang sangat menghibur dan lucu. Sedangkan Pocahontas (1995) terlalu ingin memberikan banyak pesan moral dan memberikan kisah yang membosankan. Aaahhh saya masih belum menemukan Disney Princess yang benar-benar ok kecuali Mulan (1998).

Akhirnya, Disney benar-benar melepaskan drama cinta-cintaan pada Brave (2012). Film ini lebih mengisahkan mengenai hubungan antara ibu dan anak ketimbang lamaran dari pangeran atau kepala suku. Film ini lebih mendidik dan cocok untuk ditonton anak saya yang masih Playgroup ketimbang film-film Disney Princes sebelumnya ;). Tapi yaaaa ceritanya kok ya rasanya datar-datar saja, kurang lucu dan putri saya pun tak terlalu tertarik dengan Brave (2012).

Kemudian … pada 2013, Disney merilis Frozen (2013) yang terbilang fenomenal karena sampai 2018 saja, pernak pernik Frozen (2013) masih laku di pasaran. Inilah film kartun favorit anak saya. Dengan didukung sountrack “Let It Go” yang enak didengar, cerita yang menarik, dan animasi yang lumayan ok, Frozen (2013) terus mendulang popularitas. Sampai-sampai, Disney memisahkan produk-produk Frozen (2013) dari Disney Princes karena Frozen (2013) dianggap cukup perkasa untuk berdiri sendiri.

Memang bercerita tentang apa sih Frozen (2013) itu? Film ini mengisahkan tentang hubungan kakak adik yang bermasalah karena si kakak memiliki kekuatan yang sulit tuk dikendalikan. Alkisah Raja dari Negeri Arendelle memiliki 2 putri yang saling menyayangi dan sering bermain bersama. Namun, sebuah insiden membuat si kakak, Elsa (Idina Menzel) menjaga jarak dan tidak mau bermain dengan adiknya lagi, Elsa (Kristen Bell). Akses Elsa terhadap dunia luar pun dibatasi. Pelayan dan petugas yang berinteraksi dengan Elsa dibatasi jumlahnya. Kenapa yaaa?

Sejak kecil, Elsa, memiliki kekuatan untuk mengendalikan es dan salju. Sayang ia mengalami kesulitan untuk mengendalikan kekuatan tersebut, sampai-sampai ia tidak sengaja melukai Anna ketika bermain. Masalah ini terus berlanjut hingga Elsa dan Anna tumbuh dewasa, bahkan ketika Sang Raja dan Ratu Arendelle tewas dalam sebuah kecelakaan. Mau tak mau, Elsa harus muncul di depan publik untuk naik tahta menjadi Ratu Arendelle.

Disinilah konflik antara Anna dan Elsa meruncing. Keduanya bertengkar dan Elsa tidak sengaja mengeluarkan kekuatan yang belu dapat ia kendalikan. Merasa berbeda, malu dan disudutkan, Elsa melarikan diri dan pergi keluar dari Arendelle untuk berubah menjadi Ratu Es yang tinggal di Istana Es yang megah. Anak saya senang sekali dengan Istana Es ini melebihi Istana milik negeri Arendelle :’D. Istana pulalah yang menjadi mayoritas latar belakang video klip OST (Original Soundtrack) Frozen (2013), Let It Go. Let It Go inilah yang menjadi awal mula anak saya senang dengan Frozen (2013). Saya pribadi, mengakui bahwa OST yang satu ini adalah OST terbaik sampai saat ini :D. Saya saja, lebih dulu mendengarkan lagu Let It Go, barulah saya menonton filmnya hehehehe.

OST yang bagus, diikuti pula dengan cerita putri-putrian yang berbeda dengan cerita putri klasik seperti Putri Salju dan kawan-kawan. Frozen (2013) mengisahkan bagaimana Anna, sekuat tenaga berusaha membawa pulang Elsa dan menghentikan badai salju yang Elsa, Sang Ratu Es, buat. Dalam perjalanannya, Anna dibantu oleh Olaf (Josh Gad), Kristoff (Jonathan Groff) dan Sven (Frank Welker). Di sini terdapat sedikit twist dimana seolah-olah Frozen (2013) adalah kisah cinta beda kasta yaitu antara Anna dan Kristoff. Padahal fim ini tetap konsisten bercerita mengenai hubungan adik-kakak. Kisah cinta-cintaan hanyalah bumbu tambahan yang masih aman ditonton oleh penonton cilik.

Kisah dan tokoh yang menarik, pesan moral yang baik, serta didukung oleh OST yang enak sekali, tentunya menjadi nilai plus Frozen (2013). Saya rasa Frozen (2013) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: https://frozen.disney.com

Iklan

Shaun the Sheep Movie (2015)

Shaun the Sheep merupakan film seri anak-anak yang sudah ada sejak 2007. Film seri ini merupakan spin-off dari film seri Wallace and Gromit. Karena kepopulerannya, Shaun the Sheep akhirnya menelurkan spin-off lain yaitu film seri Timmy Time. Tapi sayang, Timmy Time kok ya menggambarkan anak yang agak nakal ya. Memang sih Timmy kreatif dan banyak akalnya, tapi yaaa sering kali polahnya terkesan seperti anak nakal. Timmy jelas berbeda dengan karakter Shaun.

Sesuai dengan judulnya Shaun the Sheep mengisahkan mengenai kehidupan seekor domba bernama Shaun di Peternakan Mossy Bottom, sebuah peternakan tradisional di Inggris Utara. Di sana, Shaun bersahabat dengan anjing peternakan yang bernama Bitzer. Shaun dan Bitzer selalu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul tanpa sepengetahuan Si Peternak.

Nah, pada Shaun the Sheep Movie (2015), terjadi sebuah insiden yang membuat Si Peternak (John Sparkes) mengalami kecelakaan di Kota. Ia pun mengalami hilang ingatan dan terdampar di kota karena ia tersesat tanpa membawa identitas. Shaun (Justin Fletcher), Bitzer (John Sparkes), dan kawan-kawan kemudian pergi ke kota untuk membawa pulang Si Peternak yang sudah merawat mereka sejak kecil.

Dalam perjalanannya, terdapat beberapa komedi situasi yang … yaaaah tidak terlalu lucu. Kecerdikan Shaun nampak biasa dan tidak menonjol. Tapi patut diakui bahwa ada bagian yang menyentuh pada akhirnya karena film ini bercerita mengenai “keluarga”.

Versi film layar lebar dari Shaun the Sheep ini tetap menggunakan dialog yang minim sekali, seperti versi film serinya yaaah kata-kata yang keluar praktus hanya mbeee, guk guk, gggrrr dan sejenisnya :’D. Tapi film ini tatap komunukatif kok. Ini merupakan ciri khas dari film Shaun the Sheep. Justru akan sangat aneh kalau Shaun the Sheep Movie (2015) dibuat dengan banyak dialog.

Gambarnya pun menggunakan teknik animasi stop-motion. Jadi, boneka dan alat peraga yang terbuat dari bahan clay modeling, diubah-ubah posisinya sehingga menghasilkan gambar animasi yang unik, mirip tanah liat. Saya rasa ini merupakan spesialisasi dari film-film produksi Aardman Animations, perusahaan sama yang memproduksi pula Wallace and Gromit, Chicken Run (2000) dan Timmy’s Time.

Secara keseluruhan, Shaun the Sheep Movie (2015) cukup menghibur meskipun kurang “Wow” yaaa. Film ini pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga tercinta.

Sumber: http://www.shaunthesheep.com

How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) mengambil setting setelah kejadian pada How to Train Your Dragon 2 (2014). Film inu kembali mengisahkan sekelompok Viking pengendara naga yang dipimpin oleh kepala suku muda mereka, Hiccup (Jay Baruchel). Hiccup dan kawan-kawan terus menyelamatkan naga-naga yang ditangkap pemburu naga, dan menampung naga-naga tersebut di Desa Berg, kampung halaman Hiccup. Semua warga Berg bersahabat dengan naga dan menjadikan naga sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Di sana, naga-naga tersebut hidup bebas dan tidak diperbudak.

Semakin banyak naga yang Hiccup selamatkan, semakin memcolok pulalah Berg. Desa Viking ini akhirnya menjadi target berbagai pihak, termasuk Grimmel the Grisly (F. Murray Abraham). Grimmel merupakan pemburu dan pembunuh naga terkenal yang spesialisasinya membunuh naga jenis Night Fury. Di sini saya tidak melihat motif yang kuat dari Opa Grimmel, kenapa kok gemar sekali memburu Night Fury?

Kebetulan, Toothless, naga tunggangan Hiccup merupakan naga jenis Night Fury yang langka dan terkenal kuat. Toothless di sini berperan sebagai naga alpha yang memimpin seluruh naga di Berg. Kepemimpinan dan persahabatan Hiccup dan Toothless di Berg, menghadapi cobaan ketika hadir seekor Night Fury betina berwarna putih, menarik hati Toothless. Di samping itu, Hiccup terobsesi untuk memindahkan Berg ke sebuah tempat misterius dimana naga dan manusia dapat hidup damai tanpa menjadi target pemburu dan pembunuh seperti Grimmel.

Disinilah kedua sahabat beda jenis ini, harus menentukan arah masa depan mereka masing-masing. Manusia dan naga memang dapat bersahabat dan hidup damai, namun manusia akan selalu takut akan sesuatu yang berbeda dan kuat. Tidak semua manusia memiliki pemikiran yang sama seperti warga Berg. Akankah Hiccup dan Toothless berpisah?

Kehadiran Night Fury betina memang menjadi daya tarik utama film ini. Usaha Toothless memikat naga tersebut, terbilang lucu. Selain itu Hiccup dan Toothless nampak lebih keren dibandingkan penampilan mereka pada 2 film sebelumnya. Film ini memang berhasil menjadi penutup yang baik bagi sebuah Trilogi. Saya pribadi merasa bahwa How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) tidak membosankan, tapi tidak ada pula hal yang membuat saya berkata “wow” ketika sedang menontonnya.

Maka, saya ikhlas untuk memberikan How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini aman dan cocok ditonton seluruh anggota keluarga karena di sana terdapat pesan moral mengenai persahabatan 😉

Sumber: https://howtotrainyourdragon.com

Incredibles 2 (2018)

Pada tahun ini, keluarga superhero The Incredibles kembali hadir ke layar lebar. Setelah hampir 14 tahun berlalu, akhirnya The Incredibles (2004) muncul juga sekuelnya. Film animasi tentang keluarga superhero ini tentunya masuk di dalam daftar tonton saya :D. The Incredibles (2004) dulu hadir di era ketika film superhero belum banyak berkeliaran seperti sekarang ini. Film tersebut menyedot perhatian saya dan menjadi salah satu film terbaik di tahun film tersebut dirilis. Apakah The Incredibles 2 (2018) dapat tampil menonjol di tengah-tengah gempuran film-film superhero ikonik dari Marvel dan DC Comics?

Kali ini The Incredibles 2 (2018) kembali mengisahkan kehidupan keluarga superhero yang terdiri dari Mr. Incredibles alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen (Holly Hunter), Dashiell Robert “Dash” Parr (Spencer Fox), Violet Parr (Sarah Vowell) dan Jack Parr (Eli Fucile dan Maeve Andrews). Kelimanya sama-sama memiliki kekuatan super yang unik dan saling melengkapi.

Sayang oh Sayang masalah yang diangkat pada The Incredibles 2 (2018), mirip sekali dengan The Incredibles (2004). Keadaan keluarga The Incredibles di awal film sekuel ini sama persis seperti The Incredibles (2004), aktivitas superhero kembali dilarang karena dianggap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Para superhero dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Beruntung Winston Deavor (Bob Odenkirk) bersedia membantu membersihkan nama para superhero di hadapan publik. Siapakah Winston itu? Ia merupakan fans superhero yang memiliki kekayaan dan koneksi. Winston merasa bahwa politikus dan media telah berlaku tidak adil dengan menampilkan keburukan-keburukan superhero saja. Ia kemudian meminta Elastigirl untuk menjadi “wajah” baru superhero. Elastigirl akan beraksi sambil diliput oleh media masa. Berbagai acara TV pun dirancang oleh Winston demi memunculkan kebaikan yang Elastigirl berikan kepada masyarakat.

Mr. Incredibles sendiri bertukar peran dengan Elastigirl. Seperti sinetron Dunia Terbalik, Mr. Incredibles tinggal di rumah untuk mengurus ketiga anaknya. Pertukaran peran ini tentunya menimbulkan berbagai konflik yang … sayangnya kurang menonjol.

The Incredibles 2 (2018) menampilkan beberapa masalah sampingan yang menarik untuk dilihat tapi tidak terlalu bermakna dan tidak menunjang masalah utama yang diangkat, semua nampak biasa dan klise. Problematika ala superhero yang muncul sudah beberapa kali dimunculkan pada film-film superhero lain yang belakangan ini muncul.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, film ini tetap cocok untuk ditonton bersama keluarga karena memberikan pesan moral yang baik dalam bentuk animasi yang enak dipandang dan mudah dipahami :). Jalan ceritanya pun tidak terlalu buruk.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Incredibles 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Saya masih lebih suka film pertamanya.

Sumber: http://www.pixar.com/feature-films/incredibles-2/

My Little Pony: The Movie (2017)

My Little Pony pertama kali hadir dalam wujud mainan anak-anak pada tahun 1981. Kemudian mainan ini mengalami berbagai perubahan sampai akhirnya muncul mainan My Little Pony generasi keempat yang dapat kita lihat seperti sekarang ini. Dari generasi pertama sampai keempat, mainan tersebut memang mengalami transformasi, akantetapi semuanya tetap memiliki ciri khusus, yaitu lambang di dekat ekor setiap karakter utamanya. Desainnya pun terbilang sukses memikat anak-anak, termasuk putri saya. Jadi tidak heran, kalau ia kesenangan ketika saya mengajaknya menonton My Little Pony: The Movie (2017).

Bernasib seperti robot-robotan Transformer, My Little Pony hadir ke layar lebar setelah film serinya konon berhasil memikat banyak orang, terutama anak perempuan. Film ini bercerita mengenai persahabatan 6 ekor kuda pony yaitu Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Fluttershy (Andrea Libman), Rainbow Dash (Ashleigh Ball), Applejack (Ashleigh Ball) dan Rarity (Tabitha St. Germain). Keenamnya masing-masing memiliki sifat dan kekuatan yang berbeda. Mereka harus menyatukan perbedaan demi menyelamatkan Negeri Equestria dari Tempest Shadow (Emely Blunt) dan pasukannya.

Walaupun tokoh utamanya ada 6, tapi rasanya film ini terlalu berfokus kepada Twilight sebagai salah satu dari 3 putri Equestria. Pinkie Pie sesekali tampil menonjol tapi tetap saja saya seperti menonton film solonya Twilight Sparkle hohoho. Kalau saya pribadi sih lebih senang Rainbow Dash karena kemampuannya untuk terbang secepat kilat dan membuat pelangi di angkasa :D. Sementara itu anak saya lebih senang Pinkie Pie karena … warnanya pink … dan ini memang tokoh yang paling konyol dan jenaka diantara keenam pony tersebut.

Bagaimana jalan ceritanya? Jalan cerita film ini terbilang mudah dipahami dan mengajarkan anak-anak mengenai persahabatan. Mau bagaimana pun juga, My Little Pony: The Movie (2017) tetaplah film anak-anak sehingga terkadang film ini nampak sedikit membosankan bagi orang dewasa. Semuanya nampak mudah ditebak dan film ini seolah-olah seperti film seri My Little Pony yang durasinya dipanjangkan. Saya berharap ada sesuatu yang lebih spesial dari versi film layar lebar dari sebuah film seri seperti ini.

Dengan demikian, menurut saya pribadi, My Little Pony: The Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tidak adanya adegan kekerasan dan dihadirkannya pesan moral yang baik, membuat film ini pantas untuk ditonton bersama dengan buah hati tercinta. Tapi jangan kaget kalau habis menonton film ini, anak kita meminta dibelikan mainan My Little Pony baru ya :’D.

Sumber: http://www.mylittlepony.movie

Ferdinand (2017)

Film animasi Ferdinand (2017) dibuat berdasarkan cerita anak-anak yang diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul The Story of Ferdinand. Siapakah Ferdinand itu? Ferdinand bukanlah seorang penyanyi atau pemain bola, melainkan seekor banteng yang hidup di Spanyol. Negeri Spanyol sangat identik dengan Torero atau pertunjukam adu banteng. Di sana terjadi pertarungan antara sang matador dengan banteng. Well, Ferdinand (John Cena) pada awalnya hidup di dalam lingkungan pertunjukan adu banteng ini sampai pada suatu hari, nasib membawanya ke tempat yang lebih baik.

Ferdinand kabur dan bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Nina (Julia Scarpa Saldanha). Nina dan keluarganya kemudian memutuskan untuk memelihara Ferdinand. Di sana, Ferdinand dan Nina tumbuh bersama hingga tak terasa tubuh Ferdinand sudah sangat besar. Tubuh yang besar tidak mengubah kepribadian Ferdinand. Ia tetap merupakan banteng cinta damai yang senang mencium harumnya bunga. Sayangnya, nasib kembali membawa Ferdinand ke kembali dalam lingkungan pertunjukan adu banteng.

Melalui sebuah insiden di tengah kota, Ferdinand ditangkap dan diambil oleh bandar pertunjukkan adu banteng. Tubuh yang besar, membuat semua orang ketakutan melihat Ferdinand. Bahkan para banteng lain pun ikut terintimidasi melihat Ferdinand. Hanya Nina dan keluarganyalah yang mengetahui siapa Ferdinand sebenarnya …

Film ini mengajarkan penontonnya mengenai persahabatan, keberanian dan kasih sayang. Tidak semua masalah dapat terpecahkan dengan jalan kekerasan. Sayang pesan moral yang baik ini disampaikan melalui jalan cerita yang agak datar dan sedikit membosankan bagi saya. Berbeda dengan saya, putri kami menonton Ferdinand (2017) dengan penuh suka cita. Film ini menampilkan animasi yang halus dan bagus. Penampakan Ferdinand dan hewan-hewan lain pun, elok dipandang mata.

Akhir kata, Ferdinand (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama-sama dengan anak-anak. Hanya saja harus ada pendampingan agar anak-anak tidak meniru adengan menyeruduk yang dilakukan oleh banteng-banteng pada film ini ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/ferdinand

Coco (2017)

Coco

Coco (2017) merupakan film animasi produksi Pixar yang banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya. Melihat trilernya, saya menduga bahwa film ini pasti hanya berkisah mengenai seorang anak bernama Coco yang pergi ke dunia lain untuk belajar musik dari almarhum ayahnya. Setelah menonton Coco (2017), saya baru menyadari bahwa saya salah besar, offside jauuuuuh :’D.

Kejutan pertama yang saya dapatkan dari Coco (2017) hadir di awal film. Tokoh utama dari film ini ternyata bukan Coco tapi Miguel Rivera (Anthony Gonzalez). Lhah kalau begitu, siapa Coco itu? Coco Rivera adalah buyut Miguel yang sudah mulai pikun. Dahulu kala, keluarga Rivera merupakan keluarga yang gemar akan musik sampai pada suatu hari, ayah Coco pergi bermusik dan tak pernah kembali. Mendiang ibunda Coco menganggap bahwa ayah Coco lebih memilih musik, dibanding keluarganya sendiri. Mulai saat itulah keluarga Rivera yang gemar akan musik berubah 180 derajat menjadi anti sekali terhadap musik.

Coco

Coco

Tinggal di tengah-tengah keluarga yang benci musik, tidak mengurangi kecintaan Miguel Rivera akan musik. Diam-diam Miguel memiliki bakat terpendam di bidang musik, yang hendak ia tampilkan pada sebuah festival bakat. Karena tidak memiliki alat musik, Miguel mencuri sebuah gitar dari makam seorang pemusik legendaris, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Malang, Miguel kemudian terjebak di alam kematian karena telah mencuri barang milik orang yang sudah meninggal di hari kematian atau dia de los muertos.

Coco

Coco

Apa itu hari kematian? Hari kematian diperingati pada akhir Oktober dan awal November untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Penduduk Meksiko biasa merayakan hari kematian dengan berpawai, berkumpul bersama keluarga, mendatangi makam keluarga dan memasang foto-foto anggota yang keluarga yang sudah meninggal. Konon, di hari kematian, seseorang yang sudah meninggal akan datang ke rumah yang memasang foto mereka. Nah, dari semua foto keluarga yang ada di rumah Miguel, hanya foto ayah Coco saja yang hilang, dirobek sebagian. Melihat dari robekan foto yang tersisa, Miguel menduga bahwa Ernesto de la Cruz merupakan ayah Coco.

Coco

Coco

Coco

Di alam kematian, Miguel berkelana untuk mencari Ernesto. Kenapa? Karena untuk kembali ke dunia orang hidup, Miguel harus menerima restu dari keluarganya yang hidup di alam kematian. Sayangnya, semua famili Miguel yang tinggal di alam kematian, hanya bersedia memberikan restu asalkan Miguel bersumpah tidak akan bermain musik lagi. Kenapa kok Miguel tidak melakukan sumpah palsu saja? Sumpah di dunia kematian bukanlah sumpah yang dapat dilanggar karena dapat berakibat fatal. Maka, yaaa sepertinya memang hanya Ernesto-lah famili Miguel yang tidak akan memberikan persyaratan seperti famili-famili Miguel lainnya.

Coco

Coco

Coco

Di tengah-tengah perjalannya, Miguel didampingi oleh seekor anjing dan Hector (Gael Garcia Bernal). Hector mengaku bahwa ia mengenal Ernesto dan bersedia mengantarkan Miguel sebelum hari kematian berakhir. Apabila Miguel belum kembali setelah hari kematian berakhir, Miguel alam menjadi penghuni tetap alam kematian. Apa yang Hector dapatkan dari Miguel? Hector hanya ingin agar Miguel memasang foto Hector setelah Miguel kembali ke alam kehidupan sehingga Hector dapat berkunjung. Hector sudah lama sekali tidak melihat alam kehidupan karena tidak ada seorangpun yang memasang fotonya.

Coco

Coco

Coco

Coco

Aaahhh motif Hector yang sebenarnya ternyata cukup mengharukan, sebuah kejutan dari beberapa kejutan yang saya temui ketika menonton Coco (2017). Diluar dugaan, Coco (2017) ternyata sarat akan kejutan yang dapat membuat penontonnya tercengang dan terharu. Film ini benar-benar bagus ceritanya, tidak monoton dan tidak mudah ditebak arahnya.

Sayang, tidak ada satupun lagu yang saya suka dari beberapa lagu yang dinyanyikan sepanjang film diputar. Padahal Coco (2017) bercerita mengenai pemusik ya, jadi wajar kalau banyak adegan bernyanyinya. Mungkin kuping saya kurang cocok dengan lagu-lagu latin dan semi latin yang dinyanyikan, toh Coco (2017) berhasil memperoleh nominasi sebagai film dengan soundtrack terbaik pada Golden Globe hehehehe.

Pemusik, musik, gitar, bernyanyi …. hal itu memang seakan menjadi tema Coco (2017). Padahal semakin lama ditonton, akan terlihat bahwa Coco (2017) bukan bercerita mengenai musik. Coco (2017) berbercerita mengenai keluarga, musik hanyalah pengantar saja. Saya rasa Coco (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cocooklah dijadikan tontonnam bersama keluarga di hari libur ;).

Sumber: movies.disney.com/coco