Coco (2017)

Coco

Coco (2017) merupakan film animasi produksi Pixar yang banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya. Melihat trilernya, saya menduga bahwa film ini pasti hanya berkisah mengenai seorang anak bernama Coco yang pergi ke dunia lain untuk belajar musik dari almarhum ayahnya. Setelah menonton Coco (2017), saya baru menyadari bahwa saya salah besar, offside jauuuuuh :’D.

Kejutan pertama yang saya dapatkan dari Coco (2017) hadir di awal film. Tokoh utama dari film ini ternyata bukan Coco tapi Miguel Rivera (Anthony Gonzalez). Lhah kalau begitu, siapa Coco itu? Coco Rivera adalah buyut Miguel yang sudah mulai pikun. Dahulu kala, keluarga Rivera merupakan keluarga yang gemar akan musik sampai pada suatu hari, ayah Coco pergi bermusik dan tak pernah kembali. Mendiang ibunda Coco menganggap bahwa ayah Coco lebih memilih musik, dibanding keluarganya sendiri. Mulai saat itulah keluarga Rivera yang gemar akan musik berubah 180 derajat menjadi anti sekali terhadap musik.

Coco

Coco

Tinggal di tengah-tengah keluarga yang benci musik, tidak mengurangi kecintaan Miguel Rivera akan musik. Diam-diam Miguel memiliki bakat terpendam di bidang musik, yang hendak ia tampilkan pada sebuah festival bakat. Karena tidak memiliki alat musik, Miguel mencuri sebuah gitar dari makam seorang pemusik legendaris, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Malang, Miguel kemudian terjebak di alam kematian karena telah mencuri barang milik orang yang sudah meninggal di hari kematian atau dia de los muertos.

Coco

Coco

Apa itu hari kematian? Hari kematian diperingati pada akhir Oktober dan awal November untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Penduduk Meksiko biasa merayakan hari kematian dengan berpawai, berkumpul bersama keluarga, mendatangi makam keluarga dan memasang foto-foto anggota yang keluarga yang sudah meninggal. Konon, di hari kematian, seseorang yang sudah meninggal akan datang ke rumah yang memasang foto mereka. Nah, dari semua foto keluarga yang ada di rumah Miguel, hanya foto ayah Coco saja yang hilang, dirobek sebagian. Melihat dari robekan foto yang tersisa, Miguel menduga bahwa Ernesto de la Cruz merupakan ayah Coco.

Coco

Coco

Coco

Di alam kematian, Miguel berkelana untuk mencari Ernesto. Kenapa? Karena untuk kembali ke dunia orang hidup, Miguel harus menerima restu dari keluarganya yang hidup di alam kematian. Sayangnya, semua famili Miguel yang tinggal di alam kematian, hanya bersedia memberikan restu asalkan Miguel bersumpah tidak akan bermain musik lagi. Kenapa kok Miguel tidak melakukan sumpah palsu saja? Sumpah di dunia kematian bukanlah sumpah yang dapat dilanggar karena dapat berakibat fatal. Maka, yaaa sepertinya memang hanya Ernesto-lah famili Miguel yang tidak akan memberikan persyaratan seperti famili-famili Miguel lainnya.

Coco

Coco

Coco

Di tengah-tengah perjalannya, Miguel didampingi oleh seekor anjing dan Hector (Gael Garcia Bernal). Hector mengaku bahwa ia mengenal Ernesto dan bersedia mengantarkan Miguel sebelum hari kematian berakhir. Apabila Miguel belum kembali setelah hari kematian berakhir, Miguel alam menjadi penghuni tetap alam kematian. Apa yang Hector dapatkan dari Miguel? Hector hanya ingin agar Miguel memasang foto Hector setelah Miguel kembali ke alam kehidupan sehingga Hector dapat berkunjung. Hector sudah lama sekali tidak melihat alam kehidupan karena tidak ada seorangpun yang memasang fotonya.

Coco

Coco

Coco

Coco

Aaahhh motif Hector yang sebenarnya ternyata cukup mengharukan, sebuah kejutan dari beberapa kejutan yang saya temui ketika menonton Coco (2017). Diluar dugaan, Coco (2017) ternyata sarat akan kejutan yang dapat membuat penontonnya tercengang dan terharu. Film ini benar-benar bagus ceritanya, tidak monoton dan tidak mudah ditebak arahnya.

Sayang, tidak ada satupun lagu yang saya suka dari beberapa lagu yang dinyanyikan sepanjang film diputar. Padahal Coco (2017) bercerita mengenai pemusik ya, jadi wajar kalau banyak adegan bernyanyinya. Mungkin kuping saya kurang cocok dengan lagu-lagu latin dan semi latin yang dinyanyikan, toh Coco (2017) berhasil memperoleh nominasi sebagai film dengan soundtrack terbaik pada Golden Globe hehehehe.

Pemusik, musik, gitar, bernyanyi …. hal itu memang seakan menjadi tema Coco (2017). Padahal semakin lama ditonton, akan terlihat bahwa Coco (2017) bukan bercerita mengenai musik. Coco (2017) berbercerita mengenai keluarga, musik hanyalah pengantar saja. Saya rasa Coco (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cocooklah dijadikan tontonnam bersama keluarga di hari libur ;).

Sumber: movies.disney.com/coco

Iklan

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

Despicable Me 3 (2017)

Despicable Me

Beberapa minggu terakhir, anak saya selalu menperoleh mainan minions dari Happy Meal McDonald’s. Pada waktu itu saya langsung menduga bahwa sebentar lagi akan ada film Despicable Me atau Minions di Bioskop. Aahh benar saja, tak lama, Despicable Me 3 (2017) hadir di bioskop. Akhirnya saya bersama dengan keluarga pergi menontonnya. Semoga filmnya bisa sebaik film yang pertama yaaa :).

Kali ini Felonious Gru (Steve Carell) dan kawan-kawan harus berhadapan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker). Bratt merupakan mantan bintang film yang beralih profesi menjadi penjahat. Ia terobsesi dengan tokoh jahat yang ia perankan dahulu kala. Mirip seperti lawan-lawan Gru pada film Despicable Me sebelumnya, Bratt dilengkapi oleh berbagai teknologi canggih. Gru dan Lucy Wilde (Kristen Wiig) saja sampai harus kehilangan pekerjaan akibat dianggap gagal menangkap Bratt. Gru bertekad untuk melakukan segala cara untuk menangkap Bratt dan memperoleh pekerjaannya kembali sebagai agen AVL (Anti Villain League).

Despicable Me

Despicable Me

Demi menangkap Bratt, Gru pun akhirnya memperalat Dru (Trey Parker), saudara kembar Gru yang ingin sekali berkarier di dalam dunia kriminal seperti Gru dahulu kala. Dengan alasan ingin mengajarkan bagaimana menjadi penjahat yang handal, Gru menggunakan fasilitas yang Dru miliki untuk mengambil kembali permata yang Bratt curi, sekaligus menangkap Bratt.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Sebelum bergabung dengan AVL, Gru memang seorang penjahat ternama. Gru selalu didukung oleh mahluk kuning yang disebut minions. Secara natural, minions memang selalu tertarik dengan tokoh-tokoh kriminal. Alih profesi yang Gru lakukan membuat minions kecewa dan berhenti mendukung Gru. Para minions pun keluar untuk mencari majikan baru yang mereka anggap cukup jahat untuk menjadi majikan mereka.

Despicable Me

Nah, lalu apa hubungan minions dengan Dru dan Bratt? Pada akhirnya ada sih, walaupun sedikit. Saya lihat Despicable Me 3 (2017) memiliki beberapa karakter dengan kisahnya masing-masing yang terasa tetap terpisah, bukan merupakan kesatuan dengan hubungan yang kuat dan utuh.

Coba tengok saja beberapa masalah sampingan lain yang semakin membuat terpecah-pecahnya kisah pada film ini. Ada masalah Lucy yang sedang belajar menjadi ibu, ada masalah anak-anak Gru yang berburu unicorn dan ada masalah anak sulung Gru yang dilamar seorang pemuda. Aww apa-apaan ini? Begitu banyak yang mau dikisahkan, sampai-sampai lalai terhadap kualitas dari jalan cerita secara keseluruhan.

Memang sih tingkah minions tetap lucu. Tokoh kuning yang agak gila ini memang telah lama menjadi tokoh favorit saya. Tap kok ya rasanya pada film ini relatif tidak ada hal baru yang minions tampilkan. Semua jadi terasa hambar dan agak membosankan.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me 3 (2017) gagal menyamai kesuksesan Despicable Me (2010)). Saya sendiri hanya dapat memberikan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Bagian akhir Despicable Me 3 (2017) menunjukkan bahwa akan ada film keempat, sebuah film yang sepertinya tidak akan saya tonton di bioskop, yaaah tunggu versi Blue Ray atau DVD nya sajalah.

Sumber: http://www.despicable.me

Power Rangers (2017)

Power Rangers

Kalau Amerika memiliki Superman, Iron Man, Thor, Batman, X-Men dan kawan-kawan sebagai superhero, nah Jepang memiliki superhero juga loh. Jepang memiliki Goggle V, Satria Baja Hitam, Gaban, Sharivan, Voltus V dan Megaloman yang sangat populer di era tahun 80-an dan 90-an. Kecuali Satria Baja Hitam, Saya sendiri terlalu kecil untuk menonton dan faham superhero-superhero Jepang yang baru saja saya sebutkan di atas. Mereka hadir pada era jayanya kaset video VHS, whaaaa, VHS? benda apa itu? :P. Satria Baja Hitam populer di era berbayarnya RCTI bukan VHS, jadi yaa saya sudah bukan bayi lagi dan dapat mengikuti jalan ceritanya, meskipun menontonnya menumpang di rumah tetangga :’D. Diantara superhero Jepang tersebut, Goggle V dapat dikatakan sebagai yang paling populer. Saya yang belum pernah sekalipun menonton filmnya saja, sering melihat poster Goggle V dan sempat nonton pementasannya di Senayan hehehehe.

Power Rangers

Goggle V termasuk kedalam kategori super sentai yang terdiri dari 5 orang. 5 orang spesial yang dapat berubah menjadi Goggle V. Nah, sekitar tahun 1993 konsep super sentai ala Goggle V ini berhasil meraup kepopuleran juga di Negeri Paman Sam melalui film seri Power Rangers. Film seri ini sempat pula diangkat ke layar lebar melalui Mighty Morphin Power Rangers: The Movie (1995). Saya sendiri dulu sempat menonton film tersebut di bioskop. Film layar lebarnya terbilang sederhana dan hanya hadir dengan special effect seadanya. Yaah jadi seperti 1 episode film seri yang ceritanya dipanjangkan saja hehehehe. Bagaimana dengan Power Rangers (2017)?

Power Rangers

Power Rangers (2017) bukanlah kelanjutan atau potongan kisah dari film seri atau film layar lebar Power Rangers sebelumnya. Film ini mengisahkan 5 remaja yang secara tidak sengaja memperoleh kekuatan Power Rangers. Titik berat film ini lebih ke arah bagaimana kelima remaja tersebut dapat berubah menjadi Power Rangers dan bekerjasama melawan Rita Repulsa (Elizabeth Banks).

Power Rangers

Rita bermaksud untuk menguasai dunia dengan menggunakan kekuatan Kristal Zeo. Sayang, Power Rangers yang dahulu kala mampu menggagalkan rencana jahat Rita, telah gugur tak bersisa. Dunia memerlukan Power Rangers baru demi kelangsungan umat manusia. Kemudian melalui sebuah peristiwa kebetulan, terpilihlah Jason Scott (Dacte Montgomery) sebagai Ranger Merah, Kimberley Hart (Naomi Scott) sebagai Ranger Pink, Billy Cranston (Ronald Cyler II) sebagai Ranger Biru, Zack Taylor (Ludi Lin) sebagai Ranger Hitam dan Trini Kwan (Rebbeca Marie Gomez) sebagai Ranger Kuning.

Power Rangers

Power Rangers

Berbeda dengan film-film Power Rangers terdahulu, disini kelima tokoh utama tidak dapat dengan mudah berubah menjadi Power Rangers yang sakti mandraguna :’D. Fisik mereka dilatih terlebih dahulu oleh Zordon (Bryan Cranston) dan Alpha 5 (Bill Hader). Apakah latihan fisik saja sudah cukup? Oh tidak mereka berlima harus menjadi satu dengan membuka diri satu sama lain. Hal ini bukanlah hal yang mudah karena kelima remaja ini merupakan remaja bermasalah yang terkena hukuman kelas tambahan di SMA mereka.

Power Rangers

Jason adalah andalan tim football sekolah yang melakukan tindak kriminal sebagai cara untuk lari dari tekanan sebagai seorang bintang yang harus berprestasi dan bersinar, harapan orang-orang terutama ayah Jason sungguh membebani Jason. Kimberly keluar dari tim cheerleader dan dijauhi oleh sahabat-sahabatnya karena masalah cyberbullying. Billy adalah remaja autis yang terkadang menjadi objek pelecehan teman SMA-nya. Zack setiap hari harus merawat ibunya yang sakit keras, itu bukanlah hal yang mudah. Trini . . . hhhmmmm ada apa dengan Trini?

Trini adalah tokoh dari film ini yang sempat menuai kontoversi sebab ia digadang-gadang sebagai seorang lesbian. Ahhh saya rasa itu hanya isapan jempol belaka, itu hanya iklan terselubung agar para pendukung gerakan LGBT semangat 45 menonton Power Rangers (2017). Padahal kalau saya lihat, Trini hanyalah remaja tomboy yang sedang mengalami krisis identitas. Apakah kalau ada remaja perempuan agak tomboy, maka ia dibilang lesbian? Aahhhh yang benar saja. Menurut saya prbadi, tidak ada katakter LGBT pada film ini :).

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers

Power Rangers Power Rangers

Saya justru melihat sedikit ketertarikan antara Zack dengan Trini. Selain itu Jason dan Kimberly nampak cukup “dekat”, agak berbeda dengan versi film seri yang saya tonton dahulu kala dimana Kimberly justru “dekat” dengan tokoh Tommy Si Ranger hijau. Ooohh kemanakah Ranger Hijau?

Ranger Hijau memang hanya muncul namanya saja pada film ini. Entah wujudnya seperti apa. Sebenarnya ketidakadaan Ranger Hijau justru membuat film ini nampak lebih seimbang. Masing-masing Ranger memiliki porsi yang relatif sama, meskipun saya lihat Ranger Merah sedikit lebih dominan di sana. Keseimbangan ini memperlihatkan bahwa kerja sama akan membuahkan hasil yang maksimal. Terus terang saya termasuk penonton film seri Power Rangers yang mulai malas menonton filmnya setelah Tommy atau Ranger Hijau hadir. Pada film serinya, Ranger Hijau memiliki kostum yang agak berbeda dan dilengkapi dengan kendaraan tempur yang nampak lebih mengkilap dibandingkan dengan Ranger lainnya. Semuamuanyaaaa serba Ranger Hijau lah pokoknya :(. Entah kenapa sang sutradara nampak berniat sekali mengorbitkan Si Ranger Hijau ini tanpa mempedulikan peranan Ranger-Ranger lainnya. Apakah mereka itu hanyalah tokoh-tokoh figuran? Kenapa kok film serinya tidak sekalian saja berganti judul menjadi Mighty Morphin Green Ranger atau Bang Tommy Jagoan Angel Grove? meehhhh. Semoga Ranger Hijau versi film layar lebar, nantinya tidak terlalu dominan seperti pada film serinya.

Masalah yang dihadapi masing-masing Ranger memang dapat ditampilkan pada Power Rangers (2018), tapi porsi disaat mereka berhasil berubah seutuhnya menjadi Power Ranger lengkap dengan kostumnya, tidaklah banyak, bahkan terlalu sedikit. Padahal kostum Power Ranger kali ini terbilang keren dan realistis, sudah jauh berbeda dengan kostum di film seri yang terlihat seperti mainan anak-anak. Efek spesial pada film ini pun terlihat bagus kecuali untuk bagian pertempuran antara robot raksasa Power Rangers dengan monster raksasa Rita Repulsa, kurang realistis dan kurang halus untuk film keluaran 2017.

Power Rangers

Power Rangers

Dari segi cerita, Power Rangers (2017) termasuk film 2017 yang masih saja melakukan blunder klasik ala Hollywood di mana tokoh antagonis terlalu banyak menyianyiakan kesempatan mengalahkan tokoh protagonis. Rita Repulsa sebenarnya sudah beberapa kali memperoleh kesempatan untuk membunuh Power Rangers, tapi apa yang Rita lakukan? Bukannya membunuh para Rangers, ia justru terlalu banyak bicara dan menggunakan metode pembunuhan yang tidak praktis sehingga Power Rangers dapat meloloskan diri. Rasanya Rita kalah bukan karena kekompakan Power Rangers, Rita kalah karena kebodohannya sendiri.

Power Rangers

Power Rangers

Berkaca dari pengalaman menonton Power Rangers (2017) di atas, rasanya film ini masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh iya, tokoh Bulk dan Skull yang selalu ada pada film seri Power Rangers tahun 90-an, kali ini absen looh, Tapi keabsenan tokoh Bulk dan Skull ini tidak memberikan pengaruh apapun bagi saya karena kedua tokoh tersebut pada dasarnya memang kurang lucu dan tidak menonjol hehee.

Sumber: www.powerrangers.com

The Lego Batman Movie (2017)

Sebagian masa kecil saya dihabiskan dengan bermain Lego di rumah tetangga. Permainan konstruksi tersebut bisanya bisa dibentuk menjadi bangunan-bangunan seperti pertokoan dan pom bensin. Tokoh-tokohnya pun seingat saya hanya pekerja bangunan dan tukang bensin. Sekarang, Lego sudah bermacam-macam variannya. Ada Lego Friends, Lego Superhero, Lego Star Wars, Lego Ninjago dan lain-lain.

Tidak cukup di situ, film-film Lego kemudian bermunculan, baik yang berupa film serial TV maupun film layar lebar. Semuanya mengusung kisah-kisah dengan latar belakang dunia Lego. Tidak hanya dari segi animasi atau gambar saja, tapi di sisi ceritanya pun dibuat sedemikian rupa sehingga aturan dunia yang berlaku adalah aturan dunia Lego, bukan dunia nyata. Tak lupa disisipkan berbagai lelucon sarkasme yang membahas film atau tokoh populer. Hal inilah yang saya temukan pada The Lego Batman Movie (2017).

Pada film Lego terbaru ini, Batman atau Bruce Wayne (Will Arnett) hadir sebagai tokoh utama. Sepanjang film terdapat banyak lelucon sarkasme yang dapat membuat saya tersenyum. Penyelesaian akhirnya pun terbilang logis apabila kota Gotham memang dibangun oleh jutaan kepingan Lego. Penyelamatan kota Lego Gotham yang hanya dapat dilakukan di dunia Lego. Hal ini terbilang cerdas karena dengan begini, akan terdapat pembeda antara film Lego Batman dengan film animasi Batman lainnya.

Apa yang terjadi pada film Lego Batman ini? Dikisahkan bahwa Batman selalu berhasil mengalahlan lawan-lawannya dan menyelamatkan Gotham. Batman selalu menyatakan kepada semua orang bahwa ia kuat, perkasa dan tidak membutuhkan orang lain. Padahal, hidup Batman sebenarnya terbilang kosong, hampa. Batman tidak mau menurunkan perisainya dan mengakui bahwa ia membutuhkan teman seperti Dick Grayson (Michael Cera), Barbara Gordon (Rosario Dawson dan Alfred Pennyworth (Ralph Finnes). Menyelamatkan Gotham memang menjadi tugas Batman, namun sesekali bahkan seorang Batman pun membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Uniknya, pada The Lego Batman Movie (2017) dikupas pula hubungan benci-rindu antara Batman dan Joker (Zach Galifianakis). Joker seolah haus akan pengakuan dari Batman. Ia ingin Batman akui sebagai lawan terberat Batman. Sebuah pengakuan yang tak kunjung Joker peroleh hingga Joker melakukan tindakan yang dapat menghancurkan kota Gotham. Hal ini tidak saya temui di film Batman lainnya :).

Berbagai keunikan yang dibumbui oleh berbagai sarkasme memang menjadi keunggulan tersendiri bagi The Lego Batman Movie (2017). Namun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan jalan ceritanya. Sarkasme yang muncul hanya mampu membuat saya tersenyum, bukan tertawa. Dengan demikian The Lego Batman Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.legobatman.com

The Boss Baby (2017)

Memiliki adik kecil terkadang bukanlah suatu hal yang disukai oleh si kakak. Si kakak bisa saja menganggap bahwa adik kecil akan merebut semua kasih sayang orang tuanya. Hal itulah yang dirasakan oleh Tim Templeton (Miles Christopher Bakshi) ketika pada suatu pagi, Theodore “The Boss Baby” Templeton (Alec Baldwin) hadi di tengah-tengah kehidupan keluarga Templeton.

Tim yang tadinya merupakan anak tunggal dan memperoleh 100% perhatian orang tuanya, sekarang harus membagi perhatian tersebut dengan Theodore yang masih bayi. Merasa kesal dan cemburu, Tim merasa bahwa Theodore alias Boss Baby adalah saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua mereka. Sampai sini saya dapat menebak arah cerita The Boss Baby (2017), yaaa pastilah perseteruan antara Tim dan Boss Baby akan berakhir baik dimana keduanya akan semakin kompak sebagai kakak-adik. Bagus juga nih bagi anak-anak, ada nilai-nilai positif yang dapat dipetik :). Tapi apakah ini hanya kisah mengenai perseteruan kakak-adik saja? Apa bedanya The Boss Baby (2017) dengan film lain dengan tema serupa?

Sesuai judulnya, Boss Baby adalah faktorp pembedanuaya, ia ternyata bukanlah bayi biasa. Boss Baby adalah bayi yang bekerja di Baby Corp, sebuah perusahaan yang berisikan bayi. Jadi, bayi-bayi yang dihasilkan oleh Baby Corp diseleksi apakah bayi tersebut akan dikirim kepada keluarga atau masuk ke dalam manajemen Baby Corp. Bayi yang masuk ke dalam manajemen seperti Boss Baby, memiliki pengetahian dan tingkah laku seperti orang dewasa meskipun wujudnya tetap bayi.

Di sini Boss Baby dikirim menyamar ke dalam keluarga Theodore untuk menghentikan Puppy Corp merusak kelangsungan Baby Corp. Puppy Corp akan meluncurkan produk anak anjing jenis baru yang akan meningkatkan popularitas anak anjing sehingga masyarakat akan memilih anak anjing ketimbang bayi. Sebagai produsen dan distributor bayi, Baby Corp akan hancur apabila Puppy Corp berhasil.

Ok, kisah soal Boss Baby yang bertingkah seperti orang dewasa plus perseteruannya dengan Tim, memang lumayan lucu dan enak untuk diikuti. Tapi ketika Baby Corp dan Puppy Corp hadir, film animasi yang satu ini kok agak aneh yaaa. Selain itu banyak sekali adegan yang terlalu “menggampangkan” sehingga kurang seru.

Sorry to say tapi saya rasa The Boss Baby (2017) masih beberapa langkah di belakang Moana (2016) atau Zootopia (2016). The Boss Baby (2017) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: http://www.dreamworks.com/thebossbaby/

The Jungle Book (2016)

jungle7

Saya mengenal The Jungle Book sebagai film kartunnya Walt Disney yang mengisahkan kehidupan Mowgli di hutan belantara, yaaaah semacam kawe satunya Tarzan laaahh. Maklum, keduanya sama-sama hidup di hutan sebatang kara, dibesarkan oleh hewan dan mampu berkomunikasi dengan hewan. Namun Tarzan memang lebih populer dibandingkan Mowgli-nya The Jungle Book, jelas saja saya menganggap bahwa Tarzan lebih dulu hadir daripada Mowgli. Ternyata saya salah besar . . .

Tarzan pertama kali hadir pada novel karangan Edgar Rice Burroughs, Tarzan of the Apes, pada 1914. Sedangkan Mowgli hadir pada buku karangan Rudyard Kipling, The Jungle Book, pada 1894. What?? Mowgli ternyata hadir lebih dahulu dibandingkan Tarzan. Biasa jadi justru Tarzan-lah yang merupakan Mowgli kawe 1. Apakah keduanya merupakan tokoh yang sama? Ooo tentu tidak, Tarzan adalah keturunan Inggris, sedangkan Mowgli adalah keturunan Asia Tengah. Tarzan dibesarkan oleh kera, sedangkan Mowgli dibesarkan oleh serigala. Tarzan tinggal di tengah-tengah hutan Afrika, sedangkan Mowgli tinggal di tengah-tengah hutan India. Aaahhh, serupa tapi tak sana.

Lucunya, pada tahun 2016 lalu, baik Tarzan maupun Mowgli hadir ke layar lebar. Tarzan hadir lebih dahulu di pertengahan tahun melalui The Legend of Tarzan (2016) yang pernah saya bahas beberapa bulan yang lalu pada blog ini. Mowgli hadir menjelang akhir tahun melalui The Jungle Book (2016). Mana yang lebih unggul?

Pada The Jungle Book (2016) dikisahkan bahwa hiduplah seorang anak kecil, Mowgli (Neel Sethi), hidup di tengah-tengah hutan India pada era kolonial dimana wilayah India masih dikuasai Inggris. Mowgli dibesarkan oleh kawanan serigala dan mampu berkomunikasi dengan seluruh hewan penghuni hutan. Kehadiran Mowgli sebagai satu-satunya manusia di tengah hutan tersebut, tidak disukai oleh Shere Khan (Idris Elba) sang harimau. Mowgli tidak pernah melukai Shere Khan, namun Shere Khan memang memiliki dendam pribadi terhadap manusia.

jungle2

Ketidaksukaan ini memicu pertikaian antara Shere Khan dengan kawanan serigala yang sudah menganggap Mowgli sebagai keluarga. Merasae jadi beban bagi kawanan serigala, Mowgli akhirnya memutuskan untuk pergi ke ujung hutan untuk masuk ke dalam perkampungan manusia. Ia merasa bahwa mungkin tempatnya bukanlah di hutan, melainkan di perkampungan manusia bersama-sama dengan manusia lainnya. Dalam perjalanannya Mowgli ditemani oleh Bagheera (Ben Kingsley), seekor panther yang sejak Mowgli kecil sudah mengajarkan Mowgli bagaimana hidup di hutan. Bagheera pada awalnya berniat untuk mengantarkan Mowgli sampai ke perkampungan manusia, namun akibat berbagai rintangan yang datang, terkadang Bagheera dan Mowgli terpisah sehingga Mowgli harus menghadapi bahaya sendirian. Beruntung tidak semua mahluk yang Mowgli temui berniat jahat, taruhlah Baloo (Bill Murray), seekor beruang oportunis yang Mowgli temui. Baloo menjadi sahabat baru Mowgli yang kemudian ikut memani Mowgli.

jungle6

jungle8

jungle3

jungle9

Ketika Mowgli sudah dekaaat sekali dengan perkampungan manusia, ia justru mendapatkan kabar bahwa Shera Khan membunuh pemimpin kawanan serigala. Seketika itu juga Mowgli berniat untuk membalas dendam dengan berbekal . . . akal manusia. Bagaimanapun juga, Mowgli adalah manusia yang dikaruniai akal pikiran. Ia menggunakan akalnya tidak hanya untuk melawan Shera Khan, melainkan untuk menolong hewan yang membutuhkan pertolongan.

jungle5

Film ini memang sudah dapat ditebak akhirnya, tapi saya tetap suka dengan bagaimana The Jungle Book (2016) mengisahkan perjalanan Mowgli, ceritanya menghibur dan sarat akan pesan moral yang baik bagi kita semua. Berbeda dengan The Legend of Tarzan (2016) yang lebih banyak adegan aksinya tapi pesan moralnya minim sekali.

Baik The Jungle Book (2016), maupun  The Legend of Tarzan (2016), sama-sama mampu memberikan visual yang bagus terkait hutan dan hewan-hewan penghuninya, tapi rasanya penampilan hewan-hewan pada The Jungle Book (2016) nampak lebih cantik dan lucu :).

jungle1Jelas sudah bagi saya pribadi, The Jungle Book (2016) lebih unggul dibandingkan The Legend of Tarzan (2016). The Jungle Book (2016) sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: thelawofthejungle.com