Scoob! (2020)

Entah sudah berapa banyak episode film kartun Scooby-Doo yang sejak kecil saya tonton. Film-film tersebut memang nampak seperti film jadul, tapi tetap berhasil menjadi hiburan bagi saya, di era tahun 90-an dulu. Melihat jauh ke belakang, film-film Scooby-Doo ternyata sudah diproduksi oleh Hanna-Barbera sejak tahun 1969. Bahkan sampai sekarang pun Hanna-Barbera terus memproduksi serial dan film layar lebar Scooby-Doo.

Baik versi serial klasiknya, maupun versi-versi terbarunya, film-film Scooby-Doo selalu menampilkan penyelidikan kasus-kasus misteri oleh sekelompok detektif muda bernama Mystery Inc. Scooby-Doo adalah bagian dari adalah satu-satunya anjing di Mystery Inc. Ia dapat berbicara dan sering melakukan kekonyolan bersama dengan sahabatnya, Shaggy. Scooby & Shaggy adalah anggota Mystery Inc yang paling penakut dan sering dijadikan umpan bagi para lawan Mysteri Inc. Biasanya, lawan Mystery Inc adalah manusia yang melakukan tindak kejahatan dengan menggunakan kostum hantu atau monster. Apakah Scoob! (2020) akan melakukan hal yang sama?

Film animasi terbaru Scooby-Doo tersebut mengisahkan awal pertemuan Shaggy Rogers (Will Forte) dengan Scooby-Doo (Frank Welker). Kemudian dikisahkan pula bagaimana keduanya bergabung dengan Mystery Inc. Cerita kemudian bergerak jauh ke depan dimana Mystery Inc harus menghadapi sebuah kasus yang menguji tali persahabatan Scooby dan Shaggy.

Kasus yang diselidiki pula oleh Blue Falcon Junior (Mark Wahlberg) dan rekan-rekannya ini, menempatkan Scooby-Doo dalam sebuah posisi yang sangat penting. Semua mata tertuju kepada Scooby. Hal ini menjadi masalah ketika Shaggy merasa seperti dibuang.

Persahabatan antara anjing dan manusia menjadi tema utama Scoob! (2020). Tidak hanya persahabatan antara Shaggy dengan Scooby-Doo saja, melainkan persahabatan antara Blue Falcon dengan anjing robotnya, serta persahabatan antara tokoh antagonis dengan anjing kesayangannya. Jalan ceritanya berjalan seperti film animasi yang mengajarkan mengenai persahabatan, Sebuah topik yang baik untuk ditonton bersama dengan keluarga.

 

Loh bagaimana dengan unsur misterinya? Lupakan itu, semuanya seolah tenggelam dan tidak terlihat. Peranan anggota Mystry Inc lainnya jauh menciut dibandingkan biasanya. Tokoh antagonis pada film Scooby-Doo yang satu ini pun agak berbeda. Kemudian teknologi terkini dan hal-hal yang bersifat kekinian, nampak dipaksakan masuk ke dalam cerita.

 

Perubahan mengenai tokoh antagonis dan bagaimana film ini berakhir merupakan membaharuan yang bagus. Tapi bagaimana dengan yang lainnya? Saya melihat bahwa Scoob! (2020) mencoba hal-hal baru agar tidak ketinggalan zaman. Tapi sayang sekali sebagian dilakukan dengan kurang halus. Kekhasan film-film Scooby-Doo seakan sengajar dipudarkan melalui Scoob! (2020). 

Saya rasa Scoob! (2020) hanya dapat memberikan Scoob! (2020) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Perlu diingat, dari segi animasi, film ini memang bagus sekali. inti ceritanya pun memberikan nilai postif bagi penontonnya. Tapi, menonton Scoob! (2020) rasanya seperti bukan menonton film Scooby-Doo hohohohoho.

Sumber: http://www.scoob.movie

The Kid Who Would Be King (2019)

Legenda Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah sering sekali di angkat ke layar kaca. Tapi entah kenapa tidak bosan-bosannya saya menonton kisah dengan tema yang sama :’D. Saya memang suka dengan film kerajaan bertemakan from zero to hero. Melihat poster dan trailer-nya, saya pikir The Kid Who Would Be King (2019) akan memberikan sesuatu yang menjanjikan. Apakah saya benar?

Alkisah berabad-abad setelah para kesatria Kerajaan Camelot mengalahkan Morgana (Rebecca Ferguson), hiduplah Alex (Louis Ashbourne Serkis) di dataran Inggris Raya. Meskipun baru berusia 12 tahun, ia memilki keberanian dan hati yang baik. Kehidupan Alex berubah ketika pada suatu malam ia berhasil mencabut sebuah pedang dari tumpukan semen.

Ternyata pedang tersebut adalah pedang Excalibur, sebuah pedang yang hanya dapat dicabut oleh Raja Camelot. Seketika itu pulalah Alex menjadi target utama monster-monster Morgana. Seketika itu pulalah Merlin (Angus Imrie) hadir di sekolah Alex dalam wujud yang lebih muda. Ia datang untuk membantu Alex menghadapi Morgana.

Morgana ternyata selama ini belum tewas. Ia hanya terperangkap dan kekuatannya semakin hari semakin besar. Menurut Merlin, Morgana akan kembali memperoleh kekuatan maksimumnya pada gerhana matahari yang akan datang.

Mulai saat itulah Alex merekruit beberapa teman sekolahnya untuk menjadi bagian dari kesatria meja bundar baru yang Alex pimpin. Yang saya agak bingung adalah, teman-tan Alex yang sudah menjadi kesatria, tidak nampak memiliki kekuatan tambahan. Alex sendiri tidak menjadi jauh lebih kuat, walaupun sudah menggengam Excalibur.

Di satu sisi, rasanya kok gelar kesatria dan Excalibur hanya dekorasi semata saja yah. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas usaha yang mereka lakukan, dapat dicapai dengan kemampuan sebagai sekumpulan anak-anak remaja biasa yang bersatu.

Bersatunya anak-anak di bawah komando Alex menjadikan bagian akhir The Kid Who Would Be King (2019) terlihat seru. Walaupun alasan mengapa mereka rela mengikuti perintah Alex bukanlah karena jiwa kepeminpinan Alex yaaaa. Mungkin karena kostum kesatria yang keren? Hehehehe

Di pertengahan film, Alex justru sibuk berpetualang dan mengurusi masalah keluarganya. Semua sukses ditampilkan dengan sangat bertele-tela. Yah kalau akhir filmnya begitu, buat apa dipertengahan film Alex justru jalan-jalan ke sana ke mari :’D.

Bagian tengah film yang minus, bagia awal dan akhir yang memikat, membuat film ini memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: amily.20thcenturystudios.com/movies/the-kid-who-would-be-king

Sonic the Hedgehog (2020)

Mayoritas anak tahun 90-an tentunya pernah menyaksikan masa-masa persaingan antara video game Nintendo dan Sega. Kalau Nintendo memiliki Mario Bros sebagai maskotnya, maka Sega memiliki Sonic sebagai maskotnya. Sebagai salah satu pemiliki Sega Mega Drive 2, tentunya saya sudah pernah berkali-kali bermain Sonic The Hedgehog. Permainan tersebut memang bukan permainan favorit saya, tapi banyak kenangan manis tercipta ketika mengingat permainan tersebut di masa lalu :).

Nostalgia yang membuat beberapa milenial yang mungkin sekarang sudah berusia 30-an, ingin melihat versi layar lebar dari sebuah permainan yang pernah dimainkan ketika masih kecil dulu, Sonic the Hedgehog (2020). Film yang seharusnya dirilis pada 2019, terpaksa dirilis pada 2020 karena besarnya komplain fans Sonic. Pada awalnya, penampakan Sonic di filmnya, mendapatkan kritikan pedas dari para fans. Hebatnya, pihak produser dan sutradara memilih untuk mengubah wujud Sonic dan mengundur jadwal rilisnya hinggal awal 2020 lalu. Bagaimana hasilnya?

Penampilan Sonic pada Sonic the Hedgehog (2020) sudah mewakili Sonic versi video game. Sonic seolah hidup dan keluar dari layar TV tabung tempat saya dulu bermain. Ia berhasil ditampilkan sebagai fokus utama pada film tersebut. Pemasalahan dari beberapa film lain yang menggabungkan antara manusia sungguhan dan CGI (Computer Generated Imagery) adalah, dibuat terlalu besarnya peranan karakter manusia hingga perlahan menggeser si tokoh utama yang digambarkan melalui CGI. Untunglah Sonic tidak mengalami nasib yang sama. Peranan Thomas Michael “Tom” Wachowski (James Marsden) disini terlihat sebagai sahabat sekaligus pendamping Sonic. Film ini benar-benar bercerita mengenai Sonic.

Beberapa lokasi pada Sonic the Hedgehog (2020) menggunakan nama lokasi yang dipergunakan pada versi video game nya, tapi tempat kejadian film ini tetap bukanlah dunia ajaibnya Sonic. Sonic (Ben Schwartz) merupakan landak biru berkuatan super. Ia dapat bergerak super cepat dan menggunakan putaran durinya sebagai senjata. Kekuatannya membuat Sunic diburu sejak ia masih kecil. Dengan menggunakan cincin ajaib, Sonic melarikan diri ke dunia lain dan bersembunyi.

Selama bertahun-tahun Sonic berdampar di sebuah desa kecil di daerah Montana. Ia mengamati kehidupan penduduk desa tersebut dari kejauhan hingga Dr. Robotnik (Jim Carrey) datang. Peneliti jenius tersebut menggunakan seluruh peralatan canggih yang ia miliki untuk menangkap Sonic. Jim Carrey berhasil memerankan Dr Robotnik yang egomaniak dan super narsis tanpa akting yang berlebihan. Selama ini Jim Carrey sering tampil dengan akting yang gilanya berlebihan, overacting, sorry para penggemar Carrey di luar sana. Kali ini Carrey berhasil tampil gila tapi tidak overacting, bravo!

Sayang kisah pada Sonic the Hedgehog (2020) terlalu datar dan biasa saja. Sepanjang film, Dr Robotnik mengejar Sonic dan Tom untuk menangkap, meneliti dan mereplikasi kekuatan Sonic. Film ini terlihat sudah berusaha untuk menambahkan warna di dalam ceritanya melalui persahabatan Tom dan Sonic yang semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Kemudian ada pula keharuan Sonic akan kehidupan dipersembunyian yang membuatnya tidak memiliki teman. Yaah, sayang itu semua tersemasuk isu yang biasa dan kurang “Wah”.

Saya lebih senang memandang Sonic the Hedgehog (2020) sebagai film penuh nostalgia yang bertujuan untuk menghiburan. Jangan terlalu memperhatikan lubang di dalam jalan ceritanya, sebab akan lumayan banyak hehehehe. Saya rasa Sonic the Hedgehog (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonicthehedgehog.com

Dora and the Lost City of Gold (2019)

Beberapa tahun yang lalu film seri animasi anak Dora the Exploler sempat populer. Pada setiap serinya, Dora berpetualang dengan ditemani oleh Boots si monyet, ransel ajaib dan peta ajaib. Dalam perjalanannya, Dora menghadapi berbagai rintangan yang dapat dipecahkan sambil mengajak penontonnya berfikir. Dora sering mengajak penonton untuk berbicara dan memecahkan masalah bersama-sama. Pemecahan masalah ini mengajarkan anak-anak mengenai angka, huruf dan bahasa. Hal-hal positif itulah yang membuat Dora the Exploler mampu untuk terus mengeluarkan episode baru selama 8 musim pemutaran, sejak 1999. Pada sekitar 2014, nampaknya Dora the Exploler harus berakhir dan berhenti menelurkan episode baru. Meskipun begitu, episode-episode lama Dora the Exploler masih diputar ulang di beberapa Stasiun TV loh.

Mendengar Dora the Exploler hadir di layar lebar, tentunya menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Dora the Exploler hadir kembali melalui Dora and the Lost City of Gold (2019), tapi dalam bentuk live action, bukan film kartun.

Setelah bertahun-tahun home schooling di tengah hutan bersama dengan kedua orangtuanya, Dora Maquez (Isabela Moner) pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Keluguan Dora membuat berbagai kelucuan di sana. Kecerdasan Dora belum sebaik kemampuan Dora bergaul dengan anak-anak kota, makluum Dora sudah bertahun-tahun hidup di tengah hutan. Sampai di sini, saya banyak tersenyum melihat berbagai humor yang ditampilkan.

Aaahhhh kemudian sampailah kita dimana Dora terlibat dengan sebuah perburuan harta karun. Petaka terjadi ketika sekelompok pemburu harta karun hendak menculik Dora. Alih-alih menculik Dora seorang, mereka justru menculik Dora bersama ketiga rekan sekolahnya. Di sana terdapat Sammy Moore (Madeleine Madden), Randy Warren (Nicholas Combee), dan tentunya sepupu Dora, Diego Marquez (Jeff Wahlberg). Setelah berhasil kabur keempatnya baru menyadari bahwa mereka terjebak di pedalaman Amerika Latin. Wah ada apa ini? Semua karena kedua orang tua Dora hampir menemukan Parapata, sebuah kota yang penuh dengan emas, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Dora dan kawan-kawan pun berpetualang memecahkan berbagai teka-teki demi menemukan kedua orang tua Dora dan Parapata. Saya berharap sebuah tontonan penuh misteri yang menegangkan. Tapi sayang yang saya dapatkan hanyalah teka-teki ringan dengan jalan cerita yang agak klise dan mudah ditebak.

Walaupun begitu, Dora and the Lost City of Gold (2019) berhasil menggunakan beberapa materi dari film seri kartun Dora the Exploler sehingga Dora and the Lost City of Gold (2019) seolah-olah merupakan bagian dari film seri kartun pendahulunya tersebut. Bagi penggemar Dora the Exploler di luar sana, a Dora and the Lost City of Gold (2019) tentunya akan menjadi sebuah film yang penuh nostalgia.

Yaaah, saya pribadi hanya dapat memberikan a Dora and the Lost City of Gold (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Lumayan”. Terus terang saya lebih senang melihat bagian dimana Dora masih di kota, ketimbang bagian ketika ia berpetualang di hutan.

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/dora-and-the-lost-city-of-gold

Serial Detektif Peet

Saya suka sekali dengan film-film detektif. Maka tak heran kalau saya tertarik untuk menonton film seri kartun Detektif Peet atau kalau di Korea sana berjudul Peet, The Forest Detective. Film kartun besutan EBS dan Big Star ini memang berasal dari Korea Selatan sana, bukan Indonesia ya. Detektif Peet sepertinya merupakan judul versi TV nasional kita supaya lebih komunikatif bagi penontonnya. Sasaran Serial Detektif Peet memang anak-anak usia 3 sampai 7 tahun. Saya pun menontonnya bersama-sama dengan anak-anak saya.

Tokoh utama film seri ini adalah sekelompok detektif hutan yang dipimpin oleh Detektif Peet. Kasus apa yang Detektif Peet tangani? Bak detektif dunia manusia, Detektif Peet menangani kasus kematian, kehilangan dan lain-lain. Tapi semuanya terkait dengan fenomena yang ada pada hewan dan tumbuhan ;). Di sini Detektif Peet mengajarkan kepada penontonnya mengenai berbagai hal terkait hewan dan tumbuhan, mulai dari perilaku, organ sampai rantai makanan dari mahluk-mahluk penghuni hutan. Semua dirangkai dengan kisah dan animasi yang menarik.

Tokoh-tokoh utama Detektif Peet hadir dalam bentuk animasi 3D yang digabungkan dengan latar belakang hewan dan tumbuhan sungguhan. Uniknya, semua berhasil ditampilkan dengan sangat rapi. Penggabungan antara gambar kartun dengan gambar nyata pada serial ini, patut diacungi jempol.

Animasi yang unik dengan pesan moral dan pendidikan yang kental, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Detektif Peet nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial ini sangat cocok untuk ditonton bersama si kecil.

Sumber: http://www.ebs.co.kr

The Lion King (2019)

Disney kembali membuat ulang salah satu film animasinya yang sangat populer di era 90-an. Kali ini giliran The Lion King (1994) yang pernah saya tonton ketika SD dan menjadi salah satu film animasi kesukaan saya pada waktu itu. Dengan menggunakan teknologi terbaru, Disney menghidupkan kembali The Lion King (1994) dalam sebuah film yang penuh special effect pada The Lion King (2019). Singkat kata, The Lion King (2019) adalah versi live action dari The Lion King (1994).

Kisah yang disuguhkan sama persis. Di sebuah area hutan Afrika yang disebut Tanah Kebanggaan, para singa memerintah dengan adil sesuai lingkaran kehidupan hewan yang ada sejak dahulu kala. Raja Mufasa (James Earl Jones) yang telah lama memerintah, dibunuh oleh saudaranya sendiri, Scar (Chiwetel Ojiofor). Kemudian melalui tipu daya dan fitnah, Scar mengasingkan Sang Putra Mahkota, Simba (Donald Glover), jauh keluar dari Tanah Kebanggaan.

Simba tumbuh besar diasuh oleh Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Timon yang seekor merkaat dan Pumbaa yang seekor babi hutan, memberikan rumah baru bagi Simba. Semua nampak indah sampai Nala (Beyonce Knowles) datang dan memberitahukan keadaan Tanah Kebanggaan yang Simba tinggalkan. Di bawah kekuasaan Scar, para singa berada di bawah kendali para hyena. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rantai makanan dan lingkaran kehidupan. Ibu dari Simba pun masih hidup di sana dan hidup dalam tekanan dan ancaman.

Walau awalnya menolak, Simba akhirnya kembali ke Tanah Kebanggaan untuk merebut tahta dan mengembalikan lingkaran kehidupan yang Scar rusak. Jika salah satu lingkaran kehidupan diubah dengan paksa, maka semuanya akan terpengaruh.

Klise? Yaah betul sekali. Film ini memang pada dasarnya mengisahkan mengenai seorang pangeran yang datang untuk membalas dendam dan menyelamatkan keluarganya. Tapi The Lion King (1994) lebih berhasil menghasilkan sebuah eksekusi yang menarik dan berkesan. Hadir dengan teknologi terkini yang indah, The Lion King (2019) seperti tidak ada jiwanya. Ceritanya terasa datar dan standard.

Karakter Pumbaa dan Timon yang seharusnya lucu dan konyol, gagal membuat saya tertawa. Soundtrack film ini pun sepertinya terlalu dibuat ke-Afrika-an dan kurang cocok di telinga saya. Sumpah saya lebih suka dengan yang versi tahun 1994 meskipun hadir dengan animasi yang tidak sebagus The Lion King (2019).

Kelebihan yang sangat terlihat pada The Lion King (2019) sopasti adalah pada visualnya. Binatang dan alam yang ditampilkan memang nampak indah dan mengagumkan. Semuanya seperti sungguhan dan sangaaaat halus. Kalau untuk masalah visual, The Lion King (2019) sayah kasih 2 jempok deh :). Tapi disini pulalah letak hilangnya jiwa pada The Lion King (2019). Karena visualnya yang sangat realistis, saya tidak dapat melihat mimik kesedihan atau kemarahan pada film ini. Berbeda dengan yang versi tahun 1994 dimana raut muka karakter-karakter masih dapat digambarkan dengan jelas. Aahhh kenapa sih kok selalu dibandingkan dengan The Lion King (1994)? Tentu saja, karena The Lion King (2019) adalah sebuah remake, bukan reboot, jadi saya mengharapkan adanya keunggulan lain dari aspek-aspek yang ada. Dari segi cerita dan karakter saja sudah sama persis.

Dengan begitu, saya rasa The Lion King (2019) masih layak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film tersebut aman ditonton semua umur, tidak ada cium-ciuman di sana meski tak ada satu karakter pun yang menggunakan baju. Yaaa jelas isinya binatang semua :P.

Sumber: http://www.lionking.com

The Greatest Showman (2017)

Mengambil latar belakang Amerika dan Eropa tempo dulu, The Greatest Shiwman (2017) mengisahkan perjalanan Phineas Taylor Barnum (Hugh Jackman) dari seorang anak miskin menjadi raja sirkus yang terkenal di seluruh Amerika dan Eropa. Awalnya, Barnum kecil kehilangan orang tuanya di umur yang sangat belia. Ia pun hidup menggelandang di jalanan.

Berkat kerja keras dan sedikit keberuntungan, Barnum akhirnya dapat menikahi Charity Halllet (Michelle Williams), putri mantan majikan ayah Barnum yang selalu memadang Barnum sebelah mata. Bahkan sampai Barnum memiliki 2 anak pun, hubungannya dengan sang mertua tetap buruk. Barnum menduga bahwa ini dikarenakan finansial Barnum yang kembang kempis. Hal ini diperparah ketika Barnum terkena PHK. Apa yang harus ia lakukan?

Barnum meminjam uang ke Bank dan membuka sebuah Museum lilin yang sepi pengunjung. Kemudian ia melakukan inovasi dengan mengadakan pertunjukan manusia unik di dalam Museumnya. Ada wanita berjenggot, manusia anjing, lelaki tertinggi di dunia, lelaki terberat di dunia, kembar albino, manusia dengan tato diseluruh tubuhnya, manusa kerdil dan lain-lain. Para pekerja Barnum ini memiliki penampilan yang unik sehingga mereka tersingkirkan dari masyarakat pada saat itu. Di sini Barnum terlihat berupaya untuk mengangkat kaum yang tersingkirkan agar dapat berkarya dan diterima di masyarakat.

Cobaan datang ketika pertunjukan Barnum yang kontroversial berhasil memberikannya kekayaan dan kepopuleran. Barnum seakan haus akan pengakuan sampai ia lupa akan tujuan utama ia berbisnis. Bukan pengakuan dari mertuanya, bukan pula demi mengangkat derajat kaum yang tersingkirkan. Melainkan demi kedua anak tercintanya agar kelak mereka tidak mengalami apa yang Barnum kecil alami.

Sekilas The Greatest Showman (2017) terihat seperti sebuah film yang fokusnya berbicara mengenai perbedaan dan kesetaraan. Ahhh, tidak hanya itu, ternyata film ini berbicara pula mengenai keluarga :). Pada akhirnya semua kekayaan dan ketenaran itu tidak akan berarti tanpa keluarga.

Film ini memang memiliki beberapa konflik yang berpotensi untuk diolah tapi The Greatest Showman (2017) nampak kurang mendramatisir konflik-konflik tersebut. Semua nampak seperti anti klimaks yang hanya lewat sesaat.

Beruntung nyanyian dan sinematografi The Greatest Showman (2017) terbilang bagus dan memukau. Sepanjang film, saya seperti melihat sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Sountrack film ini patut diacungi jempol deh pokoknya. Saya saya yang kurang suka dengan drama musikal, ikhlas untuk memberikan The Greatest Showman (2017) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya inilah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton.

Penilaian saya sebagai masyarakat awam, bertolak belakang dengan penilaian mayoritas kritikus film. Ketika The Greatest Showman (2017) baru dirilis, film ini langsung mendapatkn ulasan negatif karena terdapat beberapa kekurangan dalam special effect dan detail penarinya. Kekurangan yang fatal adalah kepalsuan dari cerita yang di angkat. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Barnum ternyata memang benar-benar pernah ada. Sejarah mencatat bahwa Barnum merupakan politikus dan pebisnis yang berhasil menjadi raja sirkus di era tahun 1800-an. Menurut sejarah, Barnum di kehidupan nyata tidak sebersih Barnum pada The Greatest Showman (2017). Pada kenyataannya Barnum asli diduga melakukan eksploitasi terhadap orang-orang yang pada tahun 1800-an dianggap aneh. Ia dikenal sebagai seorang pebisnis yang bersedia melakukan apapun demi uang. The Greatest Showman (2017) dianggap mencuci dan mensucikan dosa-dosa Barnum di muka umum.

Terus terang saya yang kurang teliti ini tidak melihat kesalahan penari atau special effect yang buruk, semua nampak baik-baik saja :). Saya sendiri lebih memilih untuk menganggap The Greatest Showman (2017) sebagai film yang tidak dibuat berdasarkan kisah nyata. Toh kisah Barnum pada film ini memang jauh melenceng dari kisah hidup asli Barnum, mulai dari masa kecilnya sampai masa kejayaannya. Andaikan nama karakter utama The Greatest Showman (2017) diganti menjadi Asep, Ucok atau Joko, penilaian saya tidak akan berubah. Kesalahan film ini adalah menggunakan nama Barnum sebagai karakter utamanya.

Sumber: family.foxmovies.com/movies/the-greatest-showman

Detective Pikachu (2019)

Melihat judulnya, Detective Pikachu (2019) pasti merupakan film dengan latar belakang dunia Pokemon. Dunia dimana terdapat mahluk-mahluk imut bernama Pokemon, berdatangan dan tersebar di seluruh permukaan Bumi. Pikachu merupakan jenis Pokemon yang memiliki kemampuan memanipulasi sengatan listrik. Yah, dari berbagai jenis Pokemon yang ada, Pikachu merupakan yang paling populer. Bermula dari sebuah video game di tahun 1996, Pokemon telah berhasil meraih popularitas dan hadir di berbagai media lain. Tapi baru kali inilah Pikemon hadir film versi live action -nya. Kemarin-kemarin sih yang keluar versi film kartunnya saja.

Berbeda dengan film kartun dan video games -nya, Detective Pikachu (2019) tidak mengambil topik pelatih Pokemon atau perburuan Pokemon. Kali ini Pikachu (Ryan Reynolds) berperan sebagai detektif yang menyelidiki sebuah kasus ;). Sayang pikachu yang satu ini kehilangan ingatannya saat rekan kerjanya dikabarkan tewas terbunuh.

Biasanya, manusia tidak akan mengerti apa ucapan Pokemon. Untuk Pikachu saja, manusia biasa pasti hanya akan mendengar kata-kata “pika pika pika” dari mulut Pikachu. Kali inu, terjadi sebuah keajaiban. Tim Goodman (Justice Smith) tiba-tiba dapat mengerti semua ucapan Pikachu. Tim sendiri ternyata merupakan anak semata wayang dari almarhum rekan Pikachu. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap misteri kematian aya Tim. Tak lupa hadir pula pertolongan dari Lucy Stevens (Kathryn Newton), jurnalis muda yang mencurigai bahwa kematian ayah Tim disebabkan oleh sesuatu yang besar. Ternyata dugaan Lucy tidak meleset, sebab penyelidikan mereka memang lambat laun melibatkan seorang pengusaha kaya dan Pokemon terkuat di muka Bumi.

Dari sekali melihat tokohnya saja, sudah dapat ditebak siapa yang sebenarnya jahat. Judul film ini menggunakan kata-kata detektif tapi kok ya tidak ada misteri yang dahsyat di dalam ceritanya. Saya bahkan sama sekali tidak penasaran ketika menonton Detective Pikachu (2019). Penyelesaian dan akhir dari kasus yang ditangani oleh Pikachu pun memiliki motif dan penyelesaian yang kurang kuat. Yaaah, sepertinya Detective Pikachu (2019) memang tidak dimaksudkan sebagai film misteri atau thriller. Ceritanya tergolong ringan dan tidak membuat penontonnya banyak berfikir.

Tapi kalau berbicara dari segi visual, Pikachu dan dunianya nampak unik dan bagus sekali. Saya suka melihat Pikachu yang nampak imut dengan bulu-bulu kuningnya :). Dunia Pokemon seolah dibuat hidup oleh film ini.

Visual yang memukau tapi tidak diikuti oleh cerita yang memukau membuat saya ikhlas untuk meemberikan Detective Pikachu (2019) nilai 3 dari skal maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga di rumah.

Sumber: http://www.detectivepikachumovie.com

Toy Story 4 (2019)

Kehadiran Toy Story 4 (2019) pada awal tahun ini agak mengejutkan bagi saya. Saya kira, Toy Story akan menjadi sebuah trilogi yang terdiri dari Toy Story (1995), Toy Story 2 (1999) dan ditutup Toy Story 3 (2010). Saya menonton 2 film pertama Toy Story ketika masih sekolah dan merasa tidak ada yang spesial dari kedua film tersebut. Yaaaah memang hubungan emosional mainan dan majikannya banyak ditonjolkan di sana, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Toy Story 3 (2010).

Film ketiga ini tetap mengangkat petualangan kisah sekelompok mainan yang dipimpin oleh Sheriff Woody (Tom Hanks). Majikan Woody dan kawan-kawan sudah beranjak dewasa dan … saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal. Di sana, Woody dan kawan-kawan berhasil memberikan ucapan selamat tinggal yang sangat manis dan mengharukan. Toy Story (1995) dan Toy Story 2 (1999) yang awalnya tak terlalu bermakna bagi saya, seketika itu pula menjadi memori yang mengharukan. Bravo Toy Story 3 (2010) !

Ahhh nampaknya kesusksesan Toy Story 3 (2010) membuka jalan lebar untuk menjadikan Toy Story sebagai sebuah franchise yang memiliki banyak film. Toy Story 4 (2019) bisa dibilang sebagai pembuka jalan menuju franchise tersebut. Penutupan yang sudah tersusun rapih pada Toy Story 3 (2010), kembali dibongkar dan digali pada film keempat ini.

Dikisahkkan bahwa, di tangan majikan barunya, Woody kehilangan posisinya sebagai mainan favorit. Ia seperti maina biasa yang tidak terlalu penting. Semua berubah ketika majikan Woody membuat mainan baru dari sebuah garpu. Seketika itu pula garpu tersebut menjelma menjadi mainan dengan nama Forky (Tony Hale). Forky berhasil menjadi mainan favorit sang majikan. Sayang jiwa Forky tetaplah jiwa sebuah garpu sekali pakai yang siap dibuang. Tujuan hidup Forky bukanlah tujuan hidup sebuah mainan. Di sini Woody tidak berusaha untuk merebut posisi Forky. Ia justru berjuang keras agar Forky dapat menjadi mainan favorit yang baik demi kebahagiaan majikannya. Saya melihat berbagai kelucuan di sini, karena tingkah Forky memang agak gila dan konyol :D.

Posisi yang Forky miliki merupakan posisi impian dari semua main di dunia Toy Story. Pada dunia Toy Story, setiap mainan memiliki tujuan hidup untuk bermain bersama majikannya. Sayang tidak semua mainan dapat seberuntung Forky. Hah inilah yang dijadikan topik utama dari Toy Story 4 (2019). Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di sana. Yang ada hanyalah perbedaan sikap dari mainan-mainan dalam penyikapi takdir yang menghampiri. Entah sejak awal keluar pabrik gagal menarik perhatian seorang anak pun, atau mulai redup dan ditinggalkan seperti Woody.

Saya kagum dengan karakter Woody yang tetap setia pada tujuan hidupnya walau badai menerpa. Ia seakan rela mengorbankkan apapun demi melihat seorang anak tersenyum bahagia :). Bagamana dengan Woody sendiri? Apakah ia bahagia? Kebahagiaan baru Woody nampaknya ada pada sebuah maninan porselen berwujud wanita cantik, Bo Peep (Annie Potts). Ok, jadi jelas yaaaa, di Toy Story 4 (2019) ini terdapat sedikit romansa antara Woody dan Bo Peep, bukan Woody dan Buzz atau karakter lelaki. Woody dan Bo Peep terlihat sangat heteroseksual, tidak homoseksual atau biseksual sama sekali. Ini mematahkan pengumuman yang mengatakan bahwa Woody akan menjadi karakter biseksual pertama Disney. Yah sepertinya pengumuman tersebut dibuat untuk menarik perhatian kaum LGBT untuk datang menonton Toy Story 4 (2019) di bioskop ya hehehehehehe.

Terlepas dari orientasi seksual karakternya, Toy Story 4 (2019) tetap tidak semengharukan Toy Story 3 (2010). Tapi rasanya Toy Srory 4 (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Semuanya terimakasih kepada dan Woody yang sangat bijak dan Forky yang lucu, hehehehe.

Sumber: toystory.disney.com

Shazam! (2019)

Berbicara mengenai Shazam, kita akan mengupas kembali perseteruan lama antara 2 penerbit komik asal Amerika Serikat, DC Comics dan Marvel Comics. Kehadiran Superman pada 1948 di DC Comics cukup fenomenal. Kekuatan Supermen yang superior membuat perusahaan komik lain membuat karakter serupa dengan sedikit modifikasi. Fawcett Comics adalah penerbit pertama Captain Marvel dan berhasil meraih popularitas yang cukup tinggi. Hal ini membuat DC Comics melayangkan gugatan hak cipta yang memakan waktu bertahun-tahun. DC Comics akhirnya berhasil memenangkan gugatannya dan karakter Captain Marvel ala Fawcett Comics berhasil diakuisisi oleh DC Comics. Sebelum DC Comics menerbitkan karakter yang baru mereka akuisisi, Marvel Comics sudah memiliki hak cipta atas nama Captain Marvel. Marvel Comics pun menerbitkan komik Captain Marvel yang memiliki kekuatan sesuperior Superman. DC Comics memilih untuk menerbitkan superhero yang baru mereka akuisisi dengan judul Shazam. Captain Marvel versi Marvel Comics hadir pula di layar lebar bersamaan dengan Shazam! (2019), manakah yang lebih unggul?

Kekuatan keduanya memang sama-sama superior, tapi latar belakang dan tema yang diusung jauh berbeda loh. Captain Marvel (2019) mengambil tema peperangan antar mahluk luar angkasa yang pada akhirnya mendukung alur cerita film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Dengan runtuhnya DCEU (DC Extended Universe) Shazam! (2019) nampak lebih bebas dan tidak terikat dengan alur film lain manapun. Film ini mampu tampil lebih terang dan ceria dengan mengusung keluarga sebagai tema utamanya.

Berbeda dengan Captain Marvel (2019), karakter utama Shazam! (2019) adalah seorang anak yatim piatu bernama Billy Batson (Asher Angel). Billy tak segan-segan melanggar hukum demi menemukan ibu kandungnya. Hal itulah yang membuatnya berpindah-pindah dari rumah penampungan satu ke rumah penampungan lainnya. Semua terus berulang sampai pada suatu hari Billy ditempatkan di rumah penampungan milik Victor Vasquez (Cooper Andrews) dan Rosa Vasquez (Marta Milans). Di sana Billy berkenalan dengan 5 anak yatim lainnya yaitu Frederick “Freddy” Freeman (Jack Dylan Grazer), Darla Dudley (Faithe Herman), Mary Bromfield (Grace Fulton), Eugene Choi (Iab Chen) dan Pedro Peña (Jovan Armand). Perlahan tapi pasti, Billy telah menemukan sebuah keluarga, walaupun tidak ada ikatan darah di sana.

Nah, bagaimanakah cara Billy menjadi Shazam? Hhhhmmmm, Shazam sendiri ternyata merupakan nama dari seorang penyihir sakti yang sudah ratusan tahun mencari seorang penerus. Shazam (Djimon Hounsou) akhirnya memilih Billy untuk mewarisi semua kekuatannya. Billy hanya perlu berkata “Shazam!”, dan Billy pun akan berubah menjadi seorang superhero lengkap dengan kostumnya.

Perubahan dan pengenalan terhadap kekuatan baru Billy, berhasil disajikam dengan humor yang bagus sekali. Zachary Levi sukses besar dalam memerankan versi Billy besar yang memiliki kekuatan super tapi masih memiliki jiwa anak-anak. Yah namanya juga anak-anak, walaupun fisik Billy berubah drastis, dia tetap anak-anak. Jadi, superhero DC yang satu ini memang bisa dikatakan hampir sekuat Superman, tapi pemanfaatan kekuatannya sering sekali untuk hal yang konyol.

Kemampuan Billy dalam mengendalikan kekuatannya pun, masih belum stabil. Ia sampai harus berjibaku ketika berhadapan dengan Dr. Thaddeus Sivana (Mark Strong) yang dibantu oleh monster-monster perwujudan dari 7 dosa manusia. Sebenarnya, monster-monster inilah yang selama ini Shazam Sang Penyihir jaga. Thaddeus yang sakit hati atas keputusan Shazam di masa lalu, berhasil masuk ke tempat tinggal Shazam. Kemudian Thaddeus membuat monster ketujuh dosa manusia, mau mengikutinya ke dunia manusia dan menyebarkan teror di mana-mana. Karakter antagonis yang satu ini memang agak asing di telinga saya, tapi rasanya Thaddeus memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk memberikan alasan bagi semua tindakan jahat yang ia lakukan. Memang sih Thaddeua tidak segarang Black Adam, tapi yaaaa cukup okelah untuk film pertama sebagai pemanasan hehehehe.

Sayang solusi yang Billy lakukan untuk melawan Thaddeus, menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak sedang menonton film superhero. Saya seperti sedang menonton film live action dari Walt Disney :’D. Memang sih, Shazam! (2019) berhasil memberikan warna yang sangat cerah bagi jagat DCEU, tapi ini terlalu cerah bagi saya pribadi.

Saya rasa Shazam! (2019) lebih cocok untuk disebut sebagai film keluarga atau film anak, dibanding film superhero. Selain memberikan pesan moral yang baik terkait arti sebuah keluarga, Shazam! (2019) termasuk aman untuk ditonton oleh anak-anak. Dengan demikian Shazam! (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.shazammovie.com