How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019)

How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) mengambil setting setelah kejadian pada How to Train Your Dragon 2 (2014). Film inu kembali mengisahkan sekelompok Viking pengendara naga yang dipimpin oleh kepala suku muda mereka, Hiccup (Jay Baruchel). Hiccup dan kawan-kawan terus menyelamatkan naga-naga yang ditangkap pemburu naga, dan menampung naga-naga tersebut di Desa Berg, kampung halaman Hiccup. Semua warga Berg bersahabat dengan naga dan menjadikan naga sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Di sana, naga-naga tersebut hidup bebas dan tidak diperbudak.

Semakin banyak naga yang Hiccup selamatkan, semakin memcolok pulalah Berg. Desa Viking ini akhirnya menjadi target berbagai pihak, termasuk Grimmel the Grisly (F. Murray Abraham). Grimmel merupakan pemburu dan pembunuh naga terkenal yang spesialisasinya membunuh naga jenis Night Fury. Di sini saya tidak melihat motif yang kuat dari Opa Grimmel, kenapa kok gemar sekali memburu Night Fury?

Kebetulan, Toothless, naga tunggangan Hiccup merupakan naga jenis Night Fury yang langka dan terkenal kuat. Toothless di sini berperan sebagai naga alpha yang memimpin seluruh naga di Berg. Kepemimpinan dan persahabatan Hiccup dan Toothless di Berg, menghadapi cobaan ketika hadir seekor Night Fury betina berwarna putih, menarik hati Toothless. Di samping itu, Hiccup terobsesi untuk memindahkan Berg ke sebuah tempat misterius dimana naga dan manusia dapat hidup damai tanpa menjadi target pemburu dan pembunuh seperti Grimmel.

Disinilah kedua sahabat beda jenis ini, harus menentukan arah masa depan mereka masing-masing. Manusia dan naga memang dapat bersahabat dan hidup damai, namun manusia akan selalu takut akan sesuatu yang berbeda dan kuat. Tidak semua manusia memiliki pemikiran yang sama seperti warga Berg. Akankah Hiccup dan Toothless berpisah?

Kehadiran Night Fury betina memang menjadi daya tarik utama film ini. Usaha Toothless memikat naga tersebut, terbilang lucu. Selain itu Hiccup dan Toothless nampak lebih keren dibandingkan penampilan mereka pada 2 film sebelumnya. Film ini memang berhasil menjadi penutup yang baik bagi sebuah Trilogi. Saya pribadi merasa bahwa How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) tidak membosankan, tapi tidak ada pula hal yang membuat saya berkata “wow” ketika sedang menontonnya.

Maka, saya ikhlas untuk memberikan How to Train Your Dragon: The Hidden World (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini aman dan cocok ditonton seluruh anggota keluarga karena di sana terdapat pesan moral mengenai persahabatan 😉

Sumber: https://howtotrainyourdragon.com

Iklan

Incredibles 2 (2018)

Pada tahun ini, keluarga superhero The Incredibles kembali hadir ke layar lebar. Setelah hampir 14 tahun berlalu, akhirnya The Incredibles (2004) muncul juga sekuelnya. Film animasi tentang keluarga superhero ini tentunya masuk di dalam daftar tonton saya :D. The Incredibles (2004) dulu hadir di era ketika film superhero belum banyak berkeliaran seperti sekarang ini. Film tersebut menyedot perhatian saya dan menjadi salah satu film terbaik di tahun film tersebut dirilis. Apakah The Incredibles 2 (2018) dapat tampil menonjol di tengah-tengah gempuran film-film superhero ikonik dari Marvel dan DC Comics?

Kali ini The Incredibles 2 (2018) kembali mengisahkan kehidupan keluarga superhero yang terdiri dari Mr. Incredibles alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen (Holly Hunter), Dashiell Robert “Dash” Parr (Spencer Fox), Violet Parr (Sarah Vowell) dan Jack Parr (Eli Fucile dan Maeve Andrews). Kelimanya sama-sama memiliki kekuatan super yang unik dan saling melengkapi.

Sayang oh Sayang masalah yang diangkat pada The Incredibles 2 (2018), mirip sekali dengan The Incredibles (2004). Keadaan keluarga The Incredibles di awal film sekuel ini sama persis seperti The Incredibles (2004), aktivitas superhero kembali dilarang karena dianggap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Para superhero dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Beruntung Winston Deavor (Bob Odenkirk) bersedia membantu membersihkan nama para superhero di hadapan publik. Siapakah Winston itu? Ia merupakan fans superhero yang memiliki kekayaan dan koneksi. Winston merasa bahwa politikus dan media telah berlaku tidak adil dengan menampilkan keburukan-keburukan superhero saja. Ia kemudian meminta Elastigirl untuk menjadi “wajah” baru superhero. Elastigirl akan beraksi sambil diliput oleh media masa. Berbagai acara TV pun dirancang oleh Winston demi memunculkan kebaikan yang Elastigirl berikan kepada masyarakat.

Mr. Incredibles sendiri bertukar peran dengan Elastigirl. Seperti sinetron Dunia Terbalik, Mr. Incredibles tinggal di rumah untuk mengurus ketiga anaknya. Pertukaran peran ini tentunya menimbulkan berbagai konflik yang … sayangnya kurang menonjol.

The Incredibles 2 (2018) menampilkan beberapa masalah sampingan yang menarik untuk dilihat tapi tidak terlalu bermakna dan tidak menunjang masalah utama yang diangkat, semua nampak biasa dan klise. Problematika ala superhero yang muncul sudah beberapa kali dimunculkan pada film-film superhero lain yang belakangan ini muncul.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, film ini tetap cocok untuk ditonton bersama keluarga karena memberikan pesan moral yang baik dalam bentuk animasi yang enak dipandang dan mudah dipahami :). Jalan ceritanya pun tidak terlalu buruk.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Incredibles 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Saya masih lebih suka film pertamanya.

Sumber: http://www.pixar.com/feature-films/incredibles-2/

My Little Pony: The Movie (2017)

My Little Pony pertama kali hadir dalam wujud mainan anak-anak pada tahun 1981. Kemudian mainan ini mengalami berbagai perubahan sampai akhirnya muncul mainan My Little Pony generasi keempat yang dapat kita lihat seperti sekarang ini. Dari generasi pertama sampai keempat, mainan tersebut memang mengalami transformasi, akantetapi semuanya tetap memiliki ciri khusus, yaitu lambang di dekat ekor setiap karakter utamanya. Desainnya pun terbilang sukses memikat anak-anak, termasuk putri saya. Jadi tidak heran, kalau ia kesenangan ketika saya mengajaknya menonton My Little Pony: The Movie (2017).

Bernasib seperti robot-robotan Transformer, My Little Pony hadir ke layar lebar setelah film serinya konon berhasil memikat banyak orang, terutama anak perempuan. Film ini bercerita mengenai persahabatan 6 ekor kuda pony yaitu Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Fluttershy (Andrea Libman), Rainbow Dash (Ashleigh Ball), Applejack (Ashleigh Ball) dan Rarity (Tabitha St. Germain). Keenamnya masing-masing memiliki sifat dan kekuatan yang berbeda. Mereka harus menyatukan perbedaan demi menyelamatkan Negeri Equestria dari Tempest Shadow (Emely Blunt) dan pasukannya.

Walaupun tokoh utamanya ada 6, tapi rasanya film ini terlalu berfokus kepada Twilight sebagai salah satu dari 3 putri Equestria. Pinkie Pie sesekali tampil menonjol tapi tetap saja saya seperti menonton film solonya Twilight Sparkle hohoho. Kalau saya pribadi sih lebih senang Rainbow Dash karena kemampuannya untuk terbang secepat kilat dan membuat pelangi di angkasa :D. Sementara itu anak saya lebih senang Pinkie Pie karena … warnanya pink … dan ini memang tokoh yang paling konyol dan jenaka diantara keenam pony tersebut.

Bagaimana jalan ceritanya? Jalan cerita film ini terbilang mudah dipahami dan mengajarkan anak-anak mengenai persahabatan. Mau bagaimana pun juga, My Little Pony: The Movie (2017) tetaplah film anak-anak sehingga terkadang film ini nampak sedikit membosankan bagi orang dewasa. Semuanya nampak mudah ditebak dan film ini seolah-olah seperti film seri My Little Pony yang durasinya dipanjangkan. Saya berharap ada sesuatu yang lebih spesial dari versi film layar lebar dari sebuah film seri seperti ini.

Dengan demikian, menurut saya pribadi, My Little Pony: The Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tidak adanya adegan kekerasan dan dihadirkannya pesan moral yang baik, membuat film ini pantas untuk ditonton bersama dengan buah hati tercinta. Tapi jangan kaget kalau habis menonton film ini, anak kita meminta dibelikan mainan My Little Pony baru ya :’D.

Sumber: http://www.mylittlepony.movie

Ferdinand (2017)

Film animasi Ferdinand (2017) dibuat berdasarkan cerita anak-anak yang diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul The Story of Ferdinand. Siapakah Ferdinand itu? Ferdinand bukanlah seorang penyanyi atau pemain bola, melainkan seekor banteng yang hidup di Spanyol. Negeri Spanyol sangat identik dengan Torero atau pertunjukam adu banteng. Di sana terjadi pertarungan antara sang matador dengan banteng. Well, Ferdinand (John Cena) pada awalnya hidup di dalam lingkungan pertunjukan adu banteng ini sampai pada suatu hari, nasib membawanya ke tempat yang lebih baik.

Ferdinand kabur dan bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Nina (Julia Scarpa Saldanha). Nina dan keluarganya kemudian memutuskan untuk memelihara Ferdinand. Di sana, Ferdinand dan Nina tumbuh bersama hingga tak terasa tubuh Ferdinand sudah sangat besar. Tubuh yang besar tidak mengubah kepribadian Ferdinand. Ia tetap merupakan banteng cinta damai yang senang mencium harumnya bunga. Sayangnya, nasib kembali membawa Ferdinand ke kembali dalam lingkungan pertunjukan adu banteng.

Melalui sebuah insiden di tengah kota, Ferdinand ditangkap dan diambil oleh bandar pertunjukkan adu banteng. Tubuh yang besar, membuat semua orang ketakutan melihat Ferdinand. Bahkan para banteng lain pun ikut terintimidasi melihat Ferdinand. Hanya Nina dan keluarganyalah yang mengetahui siapa Ferdinand sebenarnya …

Film ini mengajarkan penontonnya mengenai persahabatan, keberanian dan kasih sayang. Tidak semua masalah dapat terpecahkan dengan jalan kekerasan. Sayang pesan moral yang baik ini disampaikan melalui jalan cerita yang agak datar dan sedikit membosankan bagi saya. Berbeda dengan saya, putri kami menonton Ferdinand (2017) dengan penuh suka cita. Film ini menampilkan animasi yang halus dan bagus. Penampakan Ferdinand dan hewan-hewan lain pun, elok dipandang mata.

Akhir kata, Ferdinand (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama-sama dengan anak-anak. Hanya saja harus ada pendampingan agar anak-anak tidak meniru adengan menyeruduk yang dilakukan oleh banteng-banteng pada film ini ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/ferdinand

Coco (2017)

Coco

Coco (2017) merupakan film animasi produksi Pixar yang banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya. Melihat trilernya, saya menduga bahwa film ini pasti hanya berkisah mengenai seorang anak bernama Coco yang pergi ke dunia lain untuk belajar musik dari almarhum ayahnya. Setelah menonton Coco (2017), saya baru menyadari bahwa saya salah besar, offside jauuuuuh :’D.

Kejutan pertama yang saya dapatkan dari Coco (2017) hadir di awal film. Tokoh utama dari film ini ternyata bukan Coco tapi Miguel Rivera (Anthony Gonzalez). Lhah kalau begitu, siapa Coco itu? Coco Rivera adalah buyut Miguel yang sudah mulai pikun. Dahulu kala, keluarga Rivera merupakan keluarga yang gemar akan musik sampai pada suatu hari, ayah Coco pergi bermusik dan tak pernah kembali. Mendiang ibunda Coco menganggap bahwa ayah Coco lebih memilih musik, dibanding keluarganya sendiri. Mulai saat itulah keluarga Rivera yang gemar akan musik berubah 180 derajat menjadi anti sekali terhadap musik.

Coco

Coco

Tinggal di tengah-tengah keluarga yang benci musik, tidak mengurangi kecintaan Miguel Rivera akan musik. Diam-diam Miguel memiliki bakat terpendam di bidang musik, yang hendak ia tampilkan pada sebuah festival bakat. Karena tidak memiliki alat musik, Miguel mencuri sebuah gitar dari makam seorang pemusik legendaris, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Malang, Miguel kemudian terjebak di alam kematian karena telah mencuri barang milik orang yang sudah meninggal di hari kematian atau dia de los muertos.

Coco

Coco

Apa itu hari kematian? Hari kematian diperingati pada akhir Oktober dan awal November untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Penduduk Meksiko biasa merayakan hari kematian dengan berpawai, berkumpul bersama keluarga, mendatangi makam keluarga dan memasang foto-foto anggota yang keluarga yang sudah meninggal. Konon, di hari kematian, seseorang yang sudah meninggal akan datang ke rumah yang memasang foto mereka. Nah, dari semua foto keluarga yang ada di rumah Miguel, hanya foto ayah Coco saja yang hilang, dirobek sebagian. Melihat dari robekan foto yang tersisa, Miguel menduga bahwa Ernesto de la Cruz merupakan ayah Coco.

Coco

Coco

Coco

Di alam kematian, Miguel berkelana untuk mencari Ernesto. Kenapa? Karena untuk kembali ke dunia orang hidup, Miguel harus menerima restu dari keluarganya yang hidup di alam kematian. Sayangnya, semua famili Miguel yang tinggal di alam kematian, hanya bersedia memberikan restu asalkan Miguel bersumpah tidak akan bermain musik lagi. Kenapa kok Miguel tidak melakukan sumpah palsu saja? Sumpah di dunia kematian bukanlah sumpah yang dapat dilanggar karena dapat berakibat fatal. Maka, yaaa sepertinya memang hanya Ernesto-lah famili Miguel yang tidak akan memberikan persyaratan seperti famili-famili Miguel lainnya.

Coco

Coco

Coco

Di tengah-tengah perjalannya, Miguel didampingi oleh seekor anjing dan Hector (Gael Garcia Bernal). Hector mengaku bahwa ia mengenal Ernesto dan bersedia mengantarkan Miguel sebelum hari kematian berakhir. Apabila Miguel belum kembali setelah hari kematian berakhir, Miguel alam menjadi penghuni tetap alam kematian. Apa yang Hector dapatkan dari Miguel? Hector hanya ingin agar Miguel memasang foto Hector setelah Miguel kembali ke alam kehidupan sehingga Hector dapat berkunjung. Hector sudah lama sekali tidak melihat alam kehidupan karena tidak ada seorangpun yang memasang fotonya.

Coco

Coco

Coco

Coco

Aaahhh motif Hector yang sebenarnya ternyata cukup mengharukan, sebuah kejutan dari beberapa kejutan yang saya temui ketika menonton Coco (2017). Diluar dugaan, Coco (2017) ternyata sarat akan kejutan yang dapat membuat penontonnya tercengang dan terharu. Film ini benar-benar bagus ceritanya, tidak monoton dan tidak mudah ditebak arahnya.

Sayang, tidak ada satupun lagu yang saya suka dari beberapa lagu yang dinyanyikan sepanjang film diputar. Padahal Coco (2017) bercerita mengenai pemusik ya, jadi wajar kalau banyak adegan bernyanyinya. Mungkin kuping saya kurang cocok dengan lagu-lagu latin dan semi latin yang dinyanyikan, toh Coco (2017) berhasil memperoleh nominasi sebagai film dengan soundtrack terbaik pada Golden Globe hehehehe.

Pemusik, musik, gitar, bernyanyi …. hal itu memang seakan menjadi tema Coco (2017). Padahal semakin lama ditonton, akan terlihat bahwa Coco (2017) bukan bercerita mengenai musik. Coco (2017) berbercerita mengenai keluarga, musik hanyalah pengantar saja. Saya rasa Coco (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cocooklah dijadikan tontonnam bersama keluarga di hari libur ;).

Sumber: movies.disney.com/coco

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

Despicable Me 3 (2017)

Despicable Me

Beberapa minggu terakhir, anak saya selalu menperoleh mainan minions dari Happy Meal McDonald’s. Pada waktu itu saya langsung menduga bahwa sebentar lagi akan ada film Despicable Me atau Minions di Bioskop. Aahh benar saja, tak lama, Despicable Me 3 (2017) hadir di bioskop. Akhirnya saya bersama dengan keluarga pergi menontonnya. Semoga filmnya bisa sebaik film yang pertama yaaa :).

Kali ini Felonious Gru (Steve Carell) dan kawan-kawan harus berhadapan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker). Bratt merupakan mantan bintang film yang beralih profesi menjadi penjahat. Ia terobsesi dengan tokoh jahat yang ia perankan dahulu kala. Mirip seperti lawan-lawan Gru pada film Despicable Me sebelumnya, Bratt dilengkapi oleh berbagai teknologi canggih. Gru dan Lucy Wilde (Kristen Wiig) saja sampai harus kehilangan pekerjaan akibat dianggap gagal menangkap Bratt. Gru bertekad untuk melakukan segala cara untuk menangkap Bratt dan memperoleh pekerjaannya kembali sebagai agen AVL (Anti Villain League).

Despicable Me

Despicable Me

Demi menangkap Bratt, Gru pun akhirnya memperalat Dru (Trey Parker), saudara kembar Gru yang ingin sekali berkarier di dalam dunia kriminal seperti Gru dahulu kala. Dengan alasan ingin mengajarkan bagaimana menjadi penjahat yang handal, Gru menggunakan fasilitas yang Dru miliki untuk mengambil kembali permata yang Bratt curi, sekaligus menangkap Bratt.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me

Sebelum bergabung dengan AVL, Gru memang seorang penjahat ternama. Gru selalu didukung oleh mahluk kuning yang disebut minions. Secara natural, minions memang selalu tertarik dengan tokoh-tokoh kriminal. Alih profesi yang Gru lakukan membuat minions kecewa dan berhenti mendukung Gru. Para minions pun keluar untuk mencari majikan baru yang mereka anggap cukup jahat untuk menjadi majikan mereka.

Despicable Me

Nah, lalu apa hubungan minions dengan Dru dan Bratt? Pada akhirnya ada sih, walaupun sedikit. Saya lihat Despicable Me 3 (2017) memiliki beberapa karakter dengan kisahnya masing-masing yang terasa tetap terpisah, bukan merupakan kesatuan dengan hubungan yang kuat dan utuh.

Coba tengok saja beberapa masalah sampingan lain yang semakin membuat terpecah-pecahnya kisah pada film ini. Ada masalah Lucy yang sedang belajar menjadi ibu, ada masalah anak-anak Gru yang berburu unicorn dan ada masalah anak sulung Gru yang dilamar seorang pemuda. Aww apa-apaan ini? Begitu banyak yang mau dikisahkan, sampai-sampai lalai terhadap kualitas dari jalan cerita secara keseluruhan.

Memang sih tingkah minions tetap lucu. Tokoh kuning yang agak gila ini memang telah lama menjadi tokoh favorit saya. Tap kok ya rasanya pada film ini relatif tidak ada hal baru yang minions tampilkan. Semua jadi terasa hambar dan agak membosankan.

Despicable Me

Despicable Me

Despicable Me 3 (2017) gagal menyamai kesuksesan Despicable Me (2010)). Saya sendiri hanya dapat memberikan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Bagian akhir Despicable Me 3 (2017) menunjukkan bahwa akan ada film keempat, sebuah film yang sepertinya tidak akan saya tonton di bioskop, yaaah tunggu versi Blue Ray atau DVD nya sajalah.

Sumber: http://www.despicable.me