Bad Boys for Life (2020)

Bad boys, bad boys
Whatcha gonna do, whatcha gonna do
When they come for you

Ahhh, potongan syair lagu di atas adalah soundtrack dari Bad Boys (1995) yang masih saya ingat sampai sekarang :). Film tersebut merupakan film aksi komedi yang cukup populer di masanya. Namun baru pada tahun 2003-lah hadir sekuelnya, yaitu Bad Boys II (2003). Kemudian saya berfikir bahwa Bad Boys II (2003) adalah yang terakhir. Ternyata saya salah besar. 17 tahun setelah Bad Boys II (2003), ternyata Bad Boys for Life (2020) hadir. Aaaww lama sekali yah :P.

Sama seperti kedua film pendahulunya, Bad Boys for Life (2020) mengisahkan penyelidikan oleh 2 detektif narkoba dari kepolisian Miami, yaitu Marcus Burnett (Martin Lawrence) & Michael Eugene “Mike” Lowrey (Will Smith). Tentunya mereka terus berhadapan dengan kartel narkoba yang berasal dari Amerika Latin. Ledakan dan kerusakan sudah pasti mengikuti Mike dan Marcus. Berbagai aksi heboh yang nyaris mustahil selalu ada pada ketiga film Bad Boys. Saya rasa hal ini bukanlah keunggulan ya. Ledakan demi ledakan yang ditampilkan lama kelamaan terasa agak membosankan. Kehadiran polisi-polisi muda yang sok “bad ass” sama sekali tidak menolong dan hanya seperti hiasan semata hehehehe.

Beruntung adegan aksi mereka diselingi oleh berbagai kelucuan. Gaya Mike yang playboy, flamboyan dan nekat, bertemu dengan Marcus yang lebih senang bermain aman dan sangat family man. Interaksi keduanyalah yang membuat Bad Boys for Life (2020) mampu membuat saya tersenyum seperti ketika saya menonton Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003). Hhhhmmmm, kok hanya tersenyum? Yaah, era 90-an ada era dimana muncul berbagai pasangan detektif jenaka hadir ke layar lebar. Maaf sekali tapi Mike dan Marcus masih tidak selucu Carter dan Lee pada Trilogi Rush Hour hehehehe.

Agak sedikit berbeda dengan Bad Boys (1995) & Bad Boys II (2003), ternyata film ketiga Bad Boys kali ini berusaha menampilkan sebuah misteri. Tidak hanya menampilkan prosedur penyelidikan sebuah kasus narkoba, namun ternyata kasus yang Marcus dan Mike hadapi kali ini berhubungan dengan masa lalu Mike. Sebuah usaha yang bagus sekali, sebab misteri yang disuguhkan sebenarnya memiliki unsur kejutan yang tidak saya duga. Sayangnya, kejutan tersebut dibuat berdasarkan masa lalu yang baru dihadirkan pada Bad Boys for Life (2020), melalui adegan flashback. Bukan melalui sesuatu yang “ditanamkan” pada Bad Boys (1995) atau Bad Boys II (2003).

Bad Boys for Life (2020) cukup menghibur melalui berbagai adegan aksi dan kelucuan yang Mike dan Marcus hadirkan. Oleh karena itu film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mengikuti trend yang ada, Bad Boys akan dibuat sebagai franchise film sehingga jangan kaget kalau akan ada film keempat Bad Boys :). 

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/badboysforlife

Serial Larva

Kali ini saya akan membahas salah satu film seri animasi asal Korea Selatan yang saat ini sedang banyak diputar di TV lokal kita yaitu Larva. Tokoh utama film ini ada 2 ekor ulat mungil yang pada awalnya hidup di tengah kota New York. Kesuksesan serial ini menarik perhatian Netflix sehingga mereka mereka “mengambil” Larva dan mengubah latar belakang serial ini menjadi sebuah pulau.

Keunikan dari serial ini tentunya adalah bagaimana kedua tokoh utama berinteraksi di tengah-tengah lingkungan yang seolah-olah besar, padahal aslinya kecil. Red dan Yellow adalah 2 ulat yang menjadi tokoh utama pada serial ini. Red yang berbadan mungil, bersifat pemarah dan serakah. Sedangkan Yellow adalah ulat yang selalu bahagia dan cuek, tapi agak jorok. Nah kejorokan Yellow-lah yang sering membuat saya tertawa. Yellow sering munggunakan kentut dan ingus untuk hal yang aneh-aneh :’D. Selain itu, Larva sering kali mengambil latar belakang yang memang kotor sifatnya, seperti tong sampah, kotak bekas makanan dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Larva, relatif kurang cocok ditonton sendirian oleh anak kecil. Sebaiknya ada orang dewasa yang mendampingi dan memberi bimbingan.

Humor gelap dan slapstick pada serial ini tentunya tidak baik apabila mentah-mentah ditiru oleh anak-anak. Tapi sejujurnya, humor gelap dan slapstick yang dihadirkan Larva sukses menghibur saya. Biasanya saya kurang suka dengan slapstick, tapi slapstick yang ditampilkan Larva, memang terbilang lucu. Larva sukses besar kalau dilihat dari sisi hiburan. Tapi pesan moral yang ditampilkan yaaaa memang relatif minim.

Walaupun menghadirkan beberapa adegan yang kurang pas untuk ditonton anak kecil sendirian, Larva masih layak untuk ditonton anak-anak kok. Tidak ada adegan sadis atau porno di sana. Slapstick yang dihadirkan jauh dari kata parah kalau dibandingkan denga Tom & Jerry atau Oggy and the Cockroaches. Film kartun yang satu ini memiliki rentang umur pemirsa yang cukup lebar. Tua dan muda pasti tertarik dan tidak kebosanan ketika menonton Larva. Saya rasa Larva pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.larva.re.kr

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman

Central Intelligence (2016)

Ketika menjaga istri yang baru melahirkan, saya tidak sengaja menonton Central Intellegence (2016), sebuah film yang beberapa kali saya lihat iklannya, namun saya tetap enggan menontonnya. Film bergenre komedi aksi ini ternyata dimotori oleh Kevin Hart dan Dwayne Johnson. Keduanya nampak kompak dan lucu pada Jumanji (2017). Mampukah mereka mengocok perut saya seperti pada Jumanji (2017)?

Pada Central Intellegence (2016), Bob Stone (Dwayne Johnson) dan Calvin “Golden Jet” Joyner (Kevin Hart) merupakan teman semasa SMA dulu yang kembali bertemu menjelang acara reuni akbar SMA mereka. 20 tahun yang lalu, Bob Stone masih menggunakan nama Robbie Weirdicht dan memiliki tubuh yang gempal. Robbie sempat menjadi korban bullying yang cukup parah ketika SMA dulu. Hanya Calvin terang-terangan mau menolong Robbie pada saat itu. Padahal Calvin adalah murid paling populer di angkatannya. Ia aktif di berbagai klub dan berhasil menggapai berbagai prestasi gemilang semasa SMA. Setelah SMA, Calvin bahkan menikahi kekasih semasa SMA-nya, yang terkenal cantik dan tak kalah populernya. Banyak orang meramalkan bahwa Calvin akan menjadi orang besar dan kehidupan yang gemilang.

20 tahun berlalu dan Calvin merasa tidak puas dengan kehidupannya. Calvin sudah berprofesi sebagai akuntan, namun ia merasa bahwa ia gagal meraih prestasi yang spektakuler seperti di SMA dulu. Jauh bertolakbelakang dengan Kevin, Robbie sudah berubah. Robbie kini mengubah namanya menjadi Bob Stone. Bob memiliki tubuh kekar dan bekerja di CIA sebagai agen rahasia. Calvin nampak kerdil disamping Bob. Tapi Bob tidak memandang Calvin sebelah mata. Bob tetap mengagumi Calvin atas segala prestasi yang pernah Calvin raih di masa lampau.

Pertemuan ini membawa aroma nostalgia dan … masalah. Bob ternyata sedang diburu oleh agen-agen CIA lain karena ia dianggap berhianat. Calvin yang ada di dekat Bobi otomatis ikut terlibat di dalam kekacauan ini. Saya melihat banyak kelucuan ketika kedua tokoh utama ini bertemu. Calvin yang kehilangan rasa percaya diri dan terlalu serius, bertemu dengan Bob yang polos dan sedikit memiliki sifat anak-anak. Memang sih ada leluconnya mirip dengan yang saya saksikan pada Jumanji (2017), tapi saya tetap tertawa ketika menonton Central Intellegence (2016).

Misteri akan siapa yang sebenarnya berhianat, kurang lebih dapat ditebak walaupun film ini menyuguhkan banyak tersangka. Tapi hal ini bukanlah sebuah kekurangan yang berarti sebab saya memandang Central Intellegence (2016) sebagai film aksi komedi, bukan film misteri. Saya memang tidak memiliki ekspektasi bahwa Central Intellegence (2016) akan menyuguhkan kejutan pada jalan ceritanya.

Film ini berhasil menyuguhkan kelucuan-kelucuan yang membalut kisah persahabatan dan pesan moral mengenai bullying. Dengan begitu, saya rasa Central Intellegence (2016) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.warnerbros.com/central-intelligence

Deadpool 2 (2018)

Tak lama setelah Avengers Infinity War (2018) dirilis, hadir kembali satu superhero dari komik Marvel, yaitu Deadpool. Kemanakah Deadpool selama Avengers Infinity War (2018) terjadi? Saya rasa sementara ini Deadpool hidup di luar MCU (Marvel Cinematic Universe). Bersama-sama dengan karakter-karakter X-Men dan Fantastic Four, lisensi Deadpool masih dimilliki oleh 20th Century Fox, bukan Marvel Studio atau Sony. Maka sudah pasti Deadpool hidup di alam yang sama dengan X-Men. Seperti pada Deadpool (2016), beberapa karakter X-Men akan kembali hadir pada Deadpool 2 (2018).

Kali ini selain Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand) dan Colossus (Stefan Kapičić), hadir salah satu karakter X-Men yang relatif terkenal, yaitu Cable (Josh Brolin). Cable hadir dari masa depan untuk membunuh Russell Collins (Julian Dennison). Sangat aneh kalau karakter protagonis seperti Cable jauh-jauh datang ke masa lalu untuk seorang Russell. Saat ini Russell hanyalah mutant ABG berbadan tambun yang kesulitan mengontrol emosi karena trauma di masa lalu. Apakah yang akan Russell lalukan di masa depan, sampai-sampai diburu Cable seperti ini?

Deadpool / Wade Wilson (Ryan Reynolds) tidak peduli akan masalah di masa depan, ia tidak tinggal diam ketika melihat nyawa Russell terancam. Deadpool memang awalnya acuh kepada Russell, Deadpool hanya ingin mati. Deadpool sedang depresi berat setelah Vanessa (Morena Baccarin) tewas dibunuh sekelompok mafia yang berniat membunuh Deadpool. Vanessa dan Deadpool sudah lama menjalin cinta dan hendak membuat sebuah keluarga bahagia. Pupusnya impian bersama Vanessa membuat Deadpool beberapakali melakukan usaha bunuh diri yang selalu gagal.

Mirip dengan Wolverine, Deadpool adalah superhero yang mampu menyembuhkan diri sendiri. Kemampuannya untuk sembuh bahkan bisa dibilang melebihi Wolverine. Deadpool dapat tetap hidup walaupun tubuhnya diledakkam dan hancur berkeping-keping @_@. Yaa jelas saja usaha bunuh dirinya selalu gagal. Usaha Colossus dan Negasonic Teenage Warhead untuk memotivasi Deadpool selalu gagal sampai Deadpool bertemu Russell.

Perkenalannya dengan Russell, membuat Deadpool bangkit dari keterpurukan. Ia bahkan membentuk X-Force untuk menyelamatkan Russell. Diantara superhero-superhero konyol yang ada pada X-Force, Domino (Zazie Beetz) adalah yang terkuat dan menonjol. Lucunya, kekuatan domino bukanlah kekuatan super atau kecepatan kilat, melainkan keberuntungan. Domino mampu memanipulasi probabilitis keberuntungan dari setiap aksi yang ia lakukan.

Jangan harap untuk melihat suguhan yang serius pada Deadpool 2 (2018). Pada dasarnya film ini lebih condong ke arah film komedi. Di sana tidak ada karakter yang mutlak jahat, pada akhirnya semua hanya gurauan semata. Deadpool 2 (2018) memang mampu menghadirkan kelucuan di mana-mana. Namun sayang kelucuan yang ada masih berada di bawah ekspektasi saya. Terus terang, Deadpool (2016) lebih lucu dan menarik dibandingkan Deadpool 2 (2018).

Kali ini saya hanya mampu memberikan Deadpool 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh ya, sebaiknya jangan menonton Deadpool 2 (2018) dengan anak di bawah umur karena ada adegan sadis dan lelucon dewasa di sana.

Sumber: http://www.deadpool.com

Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dibuat berdasarkan novel tahun 1981 karya Chris Van Allsburg dengan judul yang sama, Jumanji (1995) berhasil menembus tangga box office dan meraih keuntungan. Film tersebut mengisahkan bagaimana kakak-adik Judith “Judy” Shepherd (Kirsten Dunst) dan Peter Shepherd (Bradley Pierce) bermain Jumanji. Jumanji adalah semacam papan permainan dengan menggunakan dadu yang biasa dimainkan oleh anak-anak zaman dahulu. Tapi Jumanji ternyata bukanlah papan permainan biasa karena setiap mereka melempar dadu, terjadi tantangan dan kekacauan di mana-mana. Mereka pun akhirnya bertemu dengan Alan Parish (Robin Williams) yang sudah terjebak di dalam permainan Jumanji sejak puluhan tahun lalu. Judy, Peter dan Alan harus menyelesaikan permainan Jumanji yang mereka mulai bila mereka ingin kehidupan mereka kembali normal. Terus terang Jumanji (1995) memang menjanjikan plot yang menarik dan menggunakan special effect yang bagus untuk film tahun 90-an, tapi cerita yang kurang kuat landasannya, membuat saya pribadi tidak terlalu senang dengan film tersebut.

Entah bagaimana, 10 tahun kemudian hadir Zathura (2005) dengan plot cerita yang mirip. Hanya saja Zathura (2005) menggunakan luar angkasa sebagai latar belakangnya. Zathura sendiri merupaka nama papan permainan yang dimainkan oleh kakak-adik Walter Browning (Josh Hutcherson) dan Danny Browning (Jonah Bobo). Sangat mirip dengan Jumanji (1995), kedua bersaudara tersebut bertemu dengan, Sang Astronot (Dax Shepard), seseorang yang entah bagimana sudah lama sekali terperangkap di dalam Zathura. Sang Astronot merupakan tokoh misterius yang mampu memberikan sedikit kejutan bagi Zathura (2005). Tapi yaaa mirip seperti Jumanji (1995), ceritanya kurang kuat dan alur sebab-akibat-nya tidak jelas. Ahhhh, bukan film favorit saya.

Lalu apa hubungan antara Jumanji (1995) dengan Zathura (2005)? Kenapa keduanya relatif mirip ya? Zathura (2005) bukan sekuel Jumanji (1995) tapi Zathura (2005) ternyata merupakan adaptasi dari novel lain karya Chris Van Allsburg, pengarang novel Jumanji. lebih dari 10 tahun kemudian, barulah muncul sekuel dari Jumanji (1995), yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Pada abad 21 dimana semua semakin modern, papan permainan semakin menurun popularitasnya. Kalau ada anak-anak melihat papan permainan kayu dan video game, sudah hampir dipastikan mereka akan lebih memilih video games. Papan permainan ajaib Jumanji ternyata memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan mengubah bentuknya menjadi console video game :’D.

Pemain Jumanji versi console kali ini adalah 4 murid Brantford High School yaitu Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner). Bethany dan Fridge termasuk murid populer yang terpandang di sekolah. Sedangkan Spencer dan Martha adalah kutu buku yang diam-diam saling menyukai. Baik Martha maupun Spencer, sama-sama termasuk tipe siswa cerdas yang kemampuan fisiknya kurang baik. Martha sampai dihukum karena menolak mengikuti pelajaran olahraga dan secara tidak sengaja mendiskreditkan guru olahraganya. Spencer yang berbadan kecil dan agak penakut, terkena hukuman dari sekolah karena ia mengerjakan PR Fridge demi mendapatkan pengakuan. Spencer berharap bahwa ia akan menjadi teman Fridge bila Spencer menolong Fridge di bidang akademis. Kenapa Fridge? Fridge sendiri merupakan pemuda berbadan tegap yang terkenal akan kepiawaiannya bermain American Football di sekolah. Kepopuleran di sekolah bukan hanya milik Fridge, Bethany pun termasuk siswi yang populer karena kecantikannya. Sayang Bethany terkena kecanduan gadget. Berthany yang sangat narsis tidak dapat hidup tanpa social media. Social media pulalah yang membuat Bethany terkena hukuman di hari yang sama dengan Martha, Spencer dan Fridge.

Keempat murid Brantford High School tersebut dihukum harus membereskan sebuah ruangan yang sangat berantakan. Di sanalah mereka menemukan console video game Jumanji dan memutuskan untuk memainkannya. Berbeda dengan papan permainan Jumanji pada Jumanji (1995) yang menggunakan dadu dan mirip ular tangga, permainan Jumanji kali ini lebih mirip RPG (Role-Playing Games). Para pemain diharuskan memilih avatar atau karakter permainan dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Keempatnya kemudian diterjunkan ke dalam hutan Jumanji untuk menyelesaikan sebuah misi agar dapat pulang ke dunia nyata. Misi para pemain kali ini adalah mengembalikan artefak Mata Jaguar yang sempat dicuri Russel Van Pelt (Bobby Cannavale). Mereka harus membawa Mata Jaguar kembali ke Bukit Jaguar demi mengangkat kutukan yang menimpa dunia Jumanji. Perjalanan keempat pemain tersebut tidaklah mudah karena dipenuhi oleh berbagai rintangan dan masing-masing karakter hanya memiliki 3 nyawa. Mereka harus menyisihkan perbedaan yang ada demi dapat menyelesaikan misi dan kembali pulang ke dunia nyata. Semuanya memiliki kemampuan dan kelemahan yang saling melengkapi.

Uniknya, keempat pemain Jumanji justru memperoleh karakter permainan yang bertolak belakang dengan kondisi mereka di dunia nyata. Spencer memilih karakter Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Martha memilih karakter Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Fridge memilih karakter Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart) dan Bethany memilih Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black). Bravestone dan Ruby memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Sedangkan Fridge justru memperoleh karakter yang lemah secara fisik, tapi memiliki pengetahuan yang sangat luas terkait hewan-hewan penghuni hutan. Terakhir, Bethany memperoleh karakter seorang lelaki paruh baya yang gendut dan kurang menarik secara fisik, namun memiliki kemampuan membaca peta Jumanji yang tidak dapat dilakukan oleh karakter-karakter lainnya.

Jelas sudah, keempatnya saling membutuhkan satu sama lain untuk menuntaskan permainan Jumanji. Tanpa dukungan pemain lain, mustahil permainan ini dapat diselesaikan. Hal ini terlihat jelas ketika keempatnya bertemu Alex Vreeke (Mason Guccione) yang menggunakan karakter Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas). Alex memang menggunakan satu-satunya karakter yang dapat menerbangkan pesawat terbang, tapi tanpa bantuan karakter-karakter lain, Alex terjebak tidak dapat menuntaskan sebuah rintangan selama lebih dari 20 tahun. Alur cerita dimana pemain-pemain baru bertemu dengan seorang pemain lama yang sudah lama sekali terjebak, sangat mirip sekali dengan apa yang saya tonton di Jumanji (1995) dan Zathura (2005), sekuel sih sekuel tapi kan tidak harus semirip ini juga seharusnya :’/. Tokoh Alex pada film sekuel ini ibaratnya adalah tokoh Alan Parish pada Jumanji (1995) dan tokoh Sang Astronot pada Zathura (2005). Tapi Alan dan Sang Astronot sama-sama menjadi tokoh yang relatif dominan, sedangkan Alex tidak. Alex menjadi tokoh yang setara dengan keempat rekan-rekan barunya. Di sana Alex membantu Bethany untuk belajar agar lebih tidak egois, tidak narsis dan mau peduli terhadap sesama. Bethany membantu Martha untuk lebih percaya diri. Kepercayaan diri jugalah yang Spencer dan Fridge sama-sama saling ajarkan satu sama lain ketika keduanya memiliki tubuh yang jauh berbeda dari yang mereka miliki di dunia nyata. Kelucuan demi kelucuan terjadi akibat perbedaan ini, saya sendiri sempat tertawa melihatnya :D.

Tidak hanya komedi, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) berhasil menunjukkan nilai baik dari dua sisi yaitu sisi si kutu buku dan sisi si anak populer. Ternyata tidak ada yg 100% baik dan 100% buruk pada keduanya, bahkan mereka dapat saling melengkapi dan bersahabat satu sama lain.

Selain itu, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) memiliki akar cerita yang kuat dan jelas. Ini kenapa dan itu bagaimana, dapat dijelaskan dengan baik dan rapi. Ditambah aroma permainan genre RPG yang kental, film ini tentunya akan memperoleh nilai plus tambahan di mata para pecinta permainan-permainan bergenre RPG :).

Bagi saya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) lebih berkualitas ketimbang Jumanji (1995) dan Zathura (2005). Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih, sekuel lebih bagus daripada film pertamanya.

Sumber: jumanjimovie.com

Ghostbusters: Answer the Call (2016)

ghostbusters1

Ghostbusters merupakan judul komik yang saya baca ketika masih SD dulu. Disana dikisahkan bagaimana sekelompok ilmuwam menggunakan energi proton untuk menangkap hantu yang mengganggu warga New York. Selain itu Ghostbusters kemudiam hadir pula dalam bentuk film kartun di TV-TV. Ternyata baik Ghostbusters versi komik maupun film seri, keduanya dibuat berdasarkan film layar lebar Ghostbusters (1984) yang menuai berbagai pujian dan berhasil memperoleh nominasi piala Oscar. Kemudian beberapa tahun kemudian hadir sekuelnya yaitu Ghostbusters II (1989).

ghostbusters3Lama tak terdengar suaranya, Ghostbusters kembali hadir ke layar lebar melalui Ghostbusters: Answer the Call (2016). Tapi film ini tidak ada hubungannya dengan kedua film pendahulunya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) lebih ke arah reboot sehingga tidak ada yang namanya trilogi Ghostbusters. Karakternya saja berbeda, tokoh utama yang dahulu diisi oleh 4 laki-laki, kini digantikan oleh 4 wanita.

ghostbusters10Dikisahkan bahwa Dr. Jillian Holtzmann (Kate McKinnon), Dr. Erin Gilbert (Kristen Wiig) dan Dr. Abigail “Abby” Yates (Melissa McCarthy) merupakam ilmuwan yang dicibir karena penelitian mereka mengenai hantu. Komunitas ilmuwan tidak menganggap bahwa hantu itu ada dan pantas untuk diteliti sampai pada suatu hari Abby dan kawan-kawan menemukan bahwa terjadi peningkatan kemunculan hantu di kota New York. Dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Patty Tolan (Leslie Jones) yang memang tidak memiliki gelar doktoral namun memiliki pengetahuan akan sejarah dan keadaan kota New York. Keempatnya kemudian semakin sering melihat penampakan hantu-hantu di sekitar New York. Ada apa dengan New York? Apakah hantu-hantu ini muncul secara acak dengan tiba-tiba? Tentu tidak, ada seseorang yang memang sengaja membangkitkan hantu-hantu untuk menguasai kota New York.

ghostbusters7ghostbusters17

ghostbusters4

GHOSTBUSTERS

ghostbusters5

ghostbusters16

Abby, Holtzmann, Erin dan Patty akhirnya menggunakan senjata proton dan berbagai senjata modifikasi ciptaan Holzmann untuk menangkap hantu-hantu yang menteror New York. Kemudian mereka pun dikenal dengan nama Ghostbusters. Tak lupa keempat wanita ini merekrut Kevin Beckman (Chris Hemsworth) sebagai sekretaris untuk mengangkat telefon dan memgatur perjanjian dari pelanggan.

ghostbusters6ghostbusters9ghostbusters13ghostbusters11ghostbusters14ghostbusters15 Langkah Ghostbusters dalam menangkap hantu memperoleh perlawanan dari pihak pemerintah yang selalu menutup-nutupi keberadaan hantu-hantu dan selalu mendiskreditkan Ghostbusters di berbagai media masa. Sebuah masalah yang pernah diangkat pula pada Ghostbusters II (1989).

Mirip seperti 2 film pendahulunya, Ghostbusters: Answer the Call (2016) bukan termasuk film horor, genrenya lebih ke arah komedi. Saya beberapa kali tertawa melihat tingkah konyol pada film ini, terutama terkait kebodohan Kevin sang sekretaris :D. Pantas saja judul filmnya menggunakan kata-kata “answer the call” yang memang merupakan pekerjaan Kevin.

Kelucuan-kelucuan pada film ini dibalut dengan kostum dan special effect yang lumayan keren. Pada awalnya saya sempat sangsi akan kualitas adegan action film ini ketika tokoh utamanya diganti wanita semua. Ternyata saya salah sebab Ghostbusters masih mampu menampilkan berbagai keseruan ketika mereka berusaha menyelamatkan New York.

Di luar dugaan saya. Ghostbusters: Answer the Call (2016) ternyata masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala makaimum 5 yang artinya “Bagus”. Who you gonna call? Ghostbusters! 🙂.

Sumber: www.ghostbusters.com

Kung Fu Panda 3 (2016)

Panda31

Po (Jack Black), the dragon warrior, dan kawan-kawan kembali hadir pada Kung Fu Panda 3 (2016). Kali ini Po kedatangan tamu yang sosoknya menyerupai dirinya, apakah masih ada panda selain Po di luar sana? Ternyata tamu tersebut adalah Li Shan (Bryan Cranston), ayah kandung Po yang mengembara mencari Po. Ternyata Li Shan tinggal di desa panda yang lokasi terpencil sehingga tidak banyak yang tahu lokasi desa misterius tersebut.

Panda311

Panda316

Panda314

Panda315

Panda313

Panda32

Panda321

Panda320

Panda38

Panda310

Panda317

Di desa itu pulalah dahulu Oogway (Randall Duk Kim) dan Kai (J.K. Simmons) belajar chi. Oogway kemudian menjadi ahli kung fu yang termasyur, sejarah mencatat nama harum Oogway yang pada Kung Fu Panda (2008) meramalkan bahwa Po akan menjadi dragon warrior. Bagaimana dengan Kai? Oogway memastikan agar nama Kai tidak tercatat di sejarah manapun, tidak ada kenangan akan Kai yang ada di muka bumi. Kenyataan ini membuat Kai marah ketika ia berhasil kembali dari dunia roh dengan kekuatan chi yang besar sekali. Kai menggunakan chi untuk mengambil kekuatan guru besar – guru besar kung fu yang Kai temui saat Kai berjalan menuju istana giok, lokasi tempat mayoritas peninggalan Oogway berada. Kai hendak memusnahkan semua hal yang berbau Oogway. Sebagai penerus Oogway, Po tentunya menjadi salah satu target utama Kai. Mau tak mau Po harus berhadapan dengan Kai walaupun Po sama sekali belum menguasai chi. 

Panda312

Panda36

Panda319

Panda318

Po masih hadir sebagai karakter yang ceria, humoris dan hobi makan. Saya melihat beberapa kelucuan hadir di sana dan di sini :D. Kecerian ala Kung Fu Panda masih muncul pada Kung Fu Panda 3 (2016) meskipun sudah agak hambar dan tidak selucu 2 film pendahulunya. Dukungan animasi yang halus dan bagus tidak dapat menyelamatkan Kung Fu Panda 3 (2016). 

Panda35

Dari segi jalan cerita pun sebenarnya Kung Fu Panda 3 (2016) agak mirip dengan Kung Fu Panda (2008) dan Kung Fu Panda 2 (2011), di sana pasti terdapat keadaan dimana Po menghadapi lawan kuat yang sulit dikalahkan dan akhirnya Po harus mempelajari jurus atau kekuatan baru untuk menghadapi lawan tersebut, yaaaah semacam semi zero to hero story. Selain itu penyelesaian pada Kung Fu Panda 3 (2016) rasanya terkesan menggampangkan dan terdapat kurangnya alur alasan yang kuat di mana-mana.

Panda33

Panda34

Panda37

Panda39

Saya rasa film ketiga Kung Fu Panda ini hanya mampu memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Cocok untuk dijadikan hiburan pelepas lelah bersama anak istri, tapi agak rugi kalau menonton film seperti ini sampai ke bioskop. 🙂

Sumber: www.dreamworks.com/kungfupanda/

Deadpool (2016)

Deadpool1

Satu lagi pahlawan super keluaran komik Marvel yang hadir di layar lebar di awal tahun 2016 ini, Deadpool (2016). Siapa tuh Deadpool? Karakter ini memang kalah populer dari Hulk, Thor dan Spiderman. Saya pun baru mendengar Deadpool beberapa tahun belakangan ini. Promosi yang dilakukan pihak produser Deadpool (2016) terkesan agresif dan kreatif yaitu mulai dari Deadpool mencorat-coret poster fim Batman Versus Superman yang akan hadir 2016 ini, lelucon bahwa Deadpool merupakan film valentine x__x, Deadpool ikut kampanye kanker, sampai Poster yang menunjukkan pose Deadpool dan Green Lantern, perlu diketahui bahwa pemeran Green Lantern dan Deadpool adalah orang yang sama namun Green Lantern merupakan tokoh komik rival abadi Marvel Comics, yaitu DC Comics.

Deadpool3

Deadpool4

Deadpool6

Deadpool2

Saya rasa promosi-promosi seperti ini memang diperlukan, mengingat kurang dikenalnya Deadpool oleh mayoritas penduduk dunia. Tentu saja, Deadpool baru muncul di buku komik pada tahun 1990-an, tidak dapat dibandingkan dengan Spiderman yang sudah hadir di buku komik sejak tahun 1962 atau jagoan-jagoan komik Marvel lainnya yang sudah hadir sebelum Deadpool.

Dari poster-poster promosi yang telah diedarkan, dapat terlihat bahwa Deadpool bukanlah superhero yang serius. Deadpool cenderung nyeleneh dan agak gila. Kegilaan Deadpool inilah yang membuat namanya naik daun dan cepat memperoleh basis penggemar, hingga akhirnya ada produser Hollywood yang bersedia membuat film layar lebarnya. Sebenarnya sebelum Deadpool hadir di Deadpool (2016), ia pun pernah hadir pula pada X-Men Origins: Wolverine (2009). Di sana Weapon X atau Deadpool atau Wade Wilson muncul sebagai lawan terakhir Wolverine.

Deadpool5

Wade Wilson atau Deadpool memang dapat dikatakan sebagai penyempurnaan dari Wolverine. Ia memang tidak memiliki tulang adamantium, tapi kemampuan menyembuhkan diri Deadpool sangat fantastis, ia hanya akan mati bila ia dihancurkan tak bersisa karena Deadpool dapat menumbuhkan anggota tubuhnya yang putus, patah, atau rusak.

Nah pada Deadpool (2016), dikisahkan bagimana Wade Wilson (Ryan Reynolds) dapat bertransformasi menjadi Deadpool. Awalnya Wade adalah mantan pasukan khusus Amerika yang banting setir menjadi tentara bayaran. Penyakit kanker yang ia derita memaksa Wade untuk ikut serta pada pengobatan eksperimental misterius yang konon tidak hanya akan menyembuhkan kanker Wade, tapi akan mengubah Wade menjadi pahlawan super pembela kebenaran.

Ternyata proses pengobatan eksperimental tersebut sangat menyakitkan dan maksud dibaliknya ternyata tidak baik. Setelah lolos dari laboratorium tempat eksperimen dilaksanakan, Wade yang sudah memiliki kekuatan super kemudian memburu orang-orang yang melakukan eksperimen kepadanya. Dengan menggunakan pedang dan senjata api, Wade kemudian mengenakan kostum merah-hitam dan menggunakan nama Deadpool.

Deadpool16

Deadpool14

DEADPOOL

Deadpool10

Deadpool7

Deadpool12

Deadpool8

Tidak sendirian, Deadpool dibantu oleh 2 anggota X-Men yang amat sangat tidak terkenal yaitu Colossus (Stefan Kapičić) dan Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand). Colossus sangat bersemangat untuk merekrut Deadpool ke dalam X-Men walaupun sifat mereka bertolak belakang. Colossus sangat menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, sedangkan Deadpool agak gila, konyol dan cenderung seenaknya sendiri. Deadpool memang tidak selalu ada dipihak yang baik, terkadang ia memang berpihak kepada kejahatan. Saya rasa sampai kiamat pun, usaha Colossus akan gagal. Bagaimana dengan Negasonic Teenage Warhead? Mutant remaja yang satu ini agak dingin dan cuek, ia sering menjadi bahan lelucon Deadpool :’D.

Deadpool17

Deadpool15

Deadpool18

Kedua anggota X-Men tersebut ikut serta membantu Deadpool menuntaskan perburuannya. Kenapa kok Deadpool dendam sekali dengan orang-orang yang melakukan eksperimen terhadap dirinya? Akibat eksperimen tersebut, Wade memang sembuh dari kanker dan memiliki kekuatan menyembuhkan diri sendiri, namun badan dan wajah Wade hancur. Wade merasa tidak pantas bersanding dengan kekasih hatinya yang cantik, Vanessa (Morena Baccarin). Wade pun merasa bahwa dirinya tidak bisa lagi bergaul di tengah-tengah masyarakat layaknya orang normal. Kemana pun ia pergi, orang-orang menstempel Wade sebagai orang aneh. Apakah Vanessa akan memberikan stempel yang sama kepada Wade?

Deadpool11

Deadpool13

Walaupun dibungkus dengan adegan penuh aksi yang sadis, kata-kata kasar yang tak pantas didengar anak-anak dan tingkah Deadpool yang konyol, saya melihat Deadpool (2016) tetap memiliki unsur romansa dan pesan moral yang baik. Dari segi jalan cerita, Deadpool (2016) memang sangat sederhana dan dapat ditebak, tapi penyajian cerita ala Deadpool yang konyol termasuk lucu dan menarik untuk ditonton. Mirip seperti versi komiknya, Deadpool sering berinteraksi dan mengajak penonton untuk berbincang, seolah-olah ia sadar bahwa ia adalah karakter film :D.

Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya optimis Deadpool (2016) akan ada sekuelnya. Oooh yaa, seperti film-film Marvel lainnya, jangan lewatkan cuplikan bocoran akan film Marvel berikutnya pada bagian paling akhir film, yaitu setelah deretan tulisan pendukung film ini selesai ditampilkan, hehehehe.

Sumber: www.foxmovies.com/movies/deadpool

Bad Words (2013)

BadWords1

Nun jauh di Amerika sana, kegiatan mengeja telah menjadi sebuah kompetisi yang cukup bergengsi. Setiap peserta harus menyebutkan huruf dari sebuah kata yang diucapkan oleh si pembawa acara. Kompetisi ini lazim diikuti oleh anak-anak dengan orang tua mereka yang tidak segan-segan untuk membayar biaya les agar anak-anaknya dapat memenangkan kompetisi tersebut. Betapa kesalnya para orang tua tersebut ketika mereka menemui kenyataan bahwa anak mereka harus berlomba dengan seorang pria dewasa berumur 40-an. Pada Bad Words (2013), Guy Trilby (Jason Bateman) menjadi satu-satunya pria dewasa yang berhasil masuk ke dalam kompetisi mengeja yang bergengsi dan diliput oleh media masa, National Golden Quill Spelling Bee.

BadWords9

BadWords4

BadWords3

Dengan dibantu oleh Jenny Widgeon (Kathryn Hahn), seorang wartawan, Trilby berhasil mengakali pasal-pasal yang mengatur batasan peserta kompetisi mengeja. Trilby pun menggunakan cara-cara licik untuk mengalahkan lawan-lawannya yang notabene masih anak-anak (x__x). Walaupun dibenci oleh mayoritas peserta kompetisi beserta orang tuanya, Trilby ternyata mampu memperoleh teman baru di sana. Ia menjalin persahabatan dengan anak kecil sesama peserta kompetisi, Chaitanya Chopra (Rohan Chand). Di sini sebenarnya Trilby banyak mengajarkan hal-hal yang kurang baik bagi Chaitanya, hal ini yang membuat Bad Words (2013) rasanya kurang pantas ditonton anak-anak.

BadWords10

BadWords6

BadWords5

BadWords11

BadWords7

BadWords8

Selain itu perilaku dan kata-kata Trilby memang agak kasar juga. Komedi yang Bad Words (2013) tampilkan merupakan komedi dewasa yang sebenarnya agak lucu dan cukup mengena sindirannya. Trilby harus menghadapi kesinisan dan kekasaran orang lain, dan lucunya Trilby membalas mereka dengan lebih sinis dan lebih kasar lagi. Yaaah sebenarnya konflik utama dari semua ini adalah keikutsertaan Trilby pada kompetisi mengeja tingkat nasional yang lazim diikuti oleh anak-anak. Entah kenapa diskriminasi yang Trilby dapat karena ulah Trilby sendiri ternyata cukup menarik untuk diikuti. Para petinggi organisasi mengeja dan para orang tua peserta lainnya pasti akan melakukan segala cara agar Trilby tersingkir. Alasan sesungguhnya kenapa Trilby rela mengikuti kompetisi tersebut pun, agak misterius sampai bagian akhir film.

 

Saya pribadi cukup terhibur dengan prilaku tercela Trilby dan kecerian Chaitanya :). Terlepas dari perilaku kurang baik yang Bad Words (2013) contohkan, jalan cerita Bad Words (2013) sebenarnya terbilang bagus dan tidak membosankan, terkadang mampu membuat saya tersenyum. Secara keseluruhan, Bad Words (2013) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.badwordsmovie.com