The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

The Dry (2020)

The Dry (2020) merupakan film Australia yang memceritakan penyelidikan 2 buah kasus di sebuah kota kecil. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Jane Harper. Tokoh utamanya adalah Aaron Falk (Eric Bana) yang sehari-hari berkerja sebagain agen AFP (Australia Federal Police). Ia terbilang cukup sukses dan beberapa kali masuk berita akibat prestasinya. Pada suatu hari Aaron harus pergi ke Kota Kiewarra untuk menghadiri pemakaman sahabatnya semasa kecil. Tak terelakan, ia pun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan yang terjadi ketika Aaron masih remaja di Kiewarra.

Aaron menjadi tersangka utama walaupun ia tidak ditahan karena kurang cukup bukti. Keluarga korban pun berhasil memprovokasi warga kota untuk menteror dan mengusir Aaron dan keluarganya. Pada akhirnya, Aaron terpaksa meninggalkan Kiewarra akibat tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepadanya tersebut. Sebuah masa lalu yang pahit.

Kiewarra sendiri sebenarnya merupakan kota kecil tempat Aaron tumbuh. Karena kekeringan yang parah, banyak terdapat kasus kebakaran hutam. Banyak pula sungai dan danau yang kering, termasuk lokasi tempat pembunuhan yang dituduhkan kepada Aaron di masa lampau.

Sahabat Aaron pun ditemukan tewas di danau yang kering. Semakin lama, Aaron semakin melihat berbagai kejanggalan pada kematian sahabatnya. Ia kemudian memiliki keyakinan bahwa kematian sahabatnya tersebut masih berkaitan dengan kasus yang dulu membuatnya meninggalkan kota. Dengan dibantu oleh polisi lokal, Aaron melakukan penyelidikan di tengah-tengah warga kota yang ingin mengusirnya lagi.

Yang keren di sini adalah bagaimana Aaron menunjukkan kemampuannya sebagai agen AFP yang profesional. Ia tetap bertindak sesuai hukum meski mendapatkan berbagai provokasi. Ini adalah bagian film yang membuat saya gemas. Apalagi ketika siapa pelaku sebenarnya berhasil terungkap, baaah, menggemaskan. Akhir dari kisah The Dry (2021) termasuk tidak terduga looh.

Perilaku beberapa warga yang menyebalkan dan bagaimana penyelidikan dikembangkan, berhasil membuat saya tidak tertidur ketika menonton film minim aksi bertempo lambat ini. Banyak informasi yang tidak langsung dibeberkan. Siapa saja yang meninggal saja, tidak langsung dibeberkan dengan tegas. Semua diinfokan dengan lambat dan tersirat. Saya pun benar-benar harus menyimak, kalau tidak sopasti ketinggalan.

Namun, karena temponya lambat, otomatis film ini memang sangat mudah dipahami. Ceritanya enak untuk diikuti dan membuat saya penasaran. Hanya saja berberapa adegan flashback-nya agak membosankan. Entah mengapa bagian tersebut digarap dengan kurang menarik dan terkadang muncul di momen yang kurang tepat.

Film ini sebaiknya tidak ditonton ketika kita sedang kelelahan. Bisa-bisa tertidur di tengah film heheheh. Tapi kalau sedang tidak terlalu lelah, The Dry (2020) masih bisalaah ditonton tanpa tertidur. Temponyaa memang lambat dan minim aksi tapi alur penyelidikan Aaron itu enak untuk diikuti. Saya rasa The Dry (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.screenaustralia.gov.au

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Bypass Road (2019)

Bypass Road atau Jalan Bypass adalah jalan yang mengubah hidup Vikram Kapoor (Neil Nitin Mukesh) selamanya. Di jalan itulah ia mengalami kecelakaan mobil. Sejak itu, ia dikabarkan menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Kemudian mulai saat itulah ia mengetahui berbagai rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui. Vikram pun terlibat pada sebuah kasus kriminal yang ternyata berhubungan pula dengan kasus kriminal lainnya. Kurang lebih itulah awal dari kisah Bypass Road (2019), sebuah film India yang memiliki banyak sekali misteri.

Saya tidak dapat menghitung, ada berapa tumpukan misteri yang membalut Bypass Road (2019). Kalau dipikir-pikir, semua misteri tersebut sangat menjanjian dan sulit untuk ditebak. Sepanjang film, saya pun diajak menerka-nerka, mau dibawa kemana arah film ini. Saya harus akui bahwa misterinya keren dan berhasil mengecoh saya.

Sayang, penyajian misteri-misteri tersebut agak kurang terarah. Film ini terkesan kewalahan untuk menyampaikan berbagai lapisan misteri yang mengelilingi kehidupan Vikram. Belum lagi adegan thriller ala film-film slasher tahun 90-an yang kurang menegangkan dan memiliki persentase kebetulan yang terbilang tinggi :’D.

Thriller dan misteri terus menerus mendominasi Bypass Road (2019). Dimana joget-jogetannya?? Syukurlah adegan joget ditampilkan dengan halus dan tidak mengada-ada. Tidak ada adegan joget di balik pohon kok. Semua adegan musikal pada film ini terbilang proporsional. Cocoklah bagi saya yang kurang suka dengan adegan joget-joget ala Bollywood.

Di atas kertas, Bypass Road (2019) sebenarnya memiliki ide yang menarik. Namun penyampaiannya terasa kurang bagus. Dengan demikian saya ikhlas untuk memberikan Bypass Road (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pvrpictures.com

Contratiempo (2016)

Contratiempo (2016) merupakan film drama misteri kriminal yang cukup sukses di Spanyol sana. Film ini dirilis pula dengan nama The Invisible Guest (2016) sebagai judul internasionalnya. Kemudian bermunculan remake film Spanyol tersebut di Italia dan India pada Il Testimone Invisibel (2018), Evaru (2018) dan Badla (2018). Kisahnya kurang lebih mirip, yah namanya juga remake hehehehehe.

Kisah dari film tersebut diawali dengan kedatangan Virginia Goodman (Ana Wagener & Blanca Martínez) di kediaman Adrián Doria (Mario Casas). Virgina konon merupakan seorang pangacara hebat yang akan pensiun. Sementara itu, Doria adalah pengusaha sukses yang sedang menjadi terdakwa di sebuah kasus kriminal. Hadir sebagai pengacara kasus tersebut, Virginia menanyakan detail-detail yang Doria ketahui. Di sinilah dimulai cerita flashback dari sudut pandang Doria.

Virginia mendebat dan memberikan berbagai kemungkinan dari kisah versi Doria tersebut. Kita disuguhkan beberapa versi yang mungkin saja terjadi pada kasus kriminal yang menjerat Doria. Perselingkuhan, kecelakaan dan pembunuhan ternyata menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kasus yang Virginia hadapi. Sepanjang film, kita dibuat menebak-nebak siapakah pelaku sesungguhnya.

Film ini berhasil memberikan kejutan atau twist yang cukup tak terduga. Ceritanya sangat cocok ditonton bagi para pecinta kisah detektif. Semuanya nampak masuk akal dan mudah dipahami. Hanya saja penyajian dari flashback yang diulang-ulang terkadang nampak membosankan bagi saya pribadi. Dengan demikian, Contratiempo (2016) atau The Invisible Guest (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.warnerbros.es

Déjà Vu (2006)

Déjà Vu (2006) diawali dengan penyelidikan kasus pemboman kapal feri yang membunuh ratusan tentara Amerika bersama keluarganya. Douglas Carlin (Denzel Washington) merupakan agen ATF yang menyelidiki kasus tersebut. Dengan daya ingat, ketelian dan kemampuan analisa Douglas yang di atas rata-rata, ia berhasil mengungkap berbagai fakta terkait kasus ini.

Sekilas film ini seperti film detektif biasa. Semua berubah ketika FBI datang dengan membawa sebuah teknologi yang dapat melihat kejadian di masa lalu. Semakin lama, semakin terlihat unsur misteri dan fiksi ilmiah dari Déjà Vu (2006). Pihak FBI ternyata tidak 100% jujur kepada Douglas akan teknologi baru yang sedang mereka gunakan.

Dengan teknologi tersebut, déjà vu menjadi suatu hal yang benar-benar dialami oleh karakter utama pada film ini. Déjà vu sendiri dapat diartikan sebagai perasaan aneh ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang sepertinya sudah pernah ia alami di masa lalu. Pertanyaannya, apakah Déjà Vu (2006) merupakan film yang kompleks? Tidak. Hebatnya, film ini mampu menampilkan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Di sana pun terdapat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan dan realistis. Beberapa diantaranya bahkan tampil beda. Dikisahkan bahwa Douglas harus mengejar seseorang di masa lampau dengan menggunakan kendaraan yang berjalan di masa kini. Semua memungkinkan dengan teknologi terbaru FBI. Ahhhh sungguh déjà vu :’D.

Aksi, thriller, misteri dan fiksi ilmiah berhasil ditampilkan dengan sederhana oleh Déjà Vu (2006). Film ini dapat dijadikan sebagai tontonan ringan yang menarik. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.touchstonepictures.com

Enola Holmes (2020)

Dari berbagai novel dan film Sherlock Holmes yang pernah saya lihat, saya hanya mengetahui bahwa Mycroft Holmes adalah satu-satunya saudara Sherlock. Baru kali inilah saya diperlihatkan karakter Enola, adik perempuan dari Sherlock dan Mycroft. Enola Holmes memang tidak ada di dalam novel Sherlock Holmes asli karya Sir Arthur Conan Doyle. Karakter Enola ternyata memang ciptaan Nancy Springer melalui novelnya. Baru pada tahun 2020 inilah Enola hadir dalam bentuk film pada Enola Holmes (2020).

Sudah pernah menonton Serial Stranger Things? Millie Bobby Brown tampil sebagai salah satu pemeran utama serial tersebut. Kali ini ia harus memerankan Enola Holmes, seseorang dengan karakter yang sangat berbeda dengan karakter yang perankan Millie pada Serial Stranger Things. Enola hadir sebagai karakter yang aktif, mandiri, ceria dan cerdas. Ia bukanlah anak perempuan biasa. Kemampuannya dalam memecahkan masalah, sudah dapat disetarakan dengan Sherlock Holmes (Henry Cavill).

Pada saat itu Sherlock sudah dikenal sebagai detektif terkenal. Sementara itu Mycroft Holmes (Sam Claflin) mampu memegang jabatan tinggi di Kepolisian Inggris. Enola tidak serta merta tenggelam di bawah bayang-bayang nama besar kedua kakaknya. Ia bahkan mampu menunjukkan kekuatannya sebagai wanita.

Latar belakang Enola Holmes (2020) adalah Inggris di sekitar tahun 1800-an. Sebuah era dimana emansipasi wanita belum seperti sekarang. Wanita-wanita muda diajarkan berpakaian dan berprilalu sopan, untuk kemudian menikah dan menjadi ibu yang baik. Hal ini sangat berbeda dengan Enola yang berjiwa bebas. Sejak kecil, Enola diajarkan sebuah konsep dimana wanita bisa dan bebas menjadi apa saja yang mereka mau. Didikan ibu dari Enola memang berbeda dengan cara ibu-ibu lain pada saat itu.

Sebuah konflik muncul ketika ibu Enola menghilang tanpa kabar. Sebagai wali Enola yang baru, Mycroft hendak mengubah pola pendidikan Enola. Enola pun memilih untuk kabur dari rumah. Dalam pelariannya, ia menemukan sebuah misteri yang secara tak langsung berhubungan dengan hilangnya ibu Enola.

Emansipasi wanita menjadi topik utama dari Enola Holmes (2020). Unsur misteri memang sangat kental melekat pada film ini. Namun pemecahan misteri itupun tetap menunjukkan betapa kuatnya kaum wanita yang diwakili oleh Enola Holmes. Jelas sudah, film ini bukanlah film misteri biasa. Bukan karena kejutan atau misterinya yang keren. Melainkan karena balutan feminism yang rapi pada setiap bagiannya. Millie Bobby Brown pun mampu menampilkan tokoh Enola dengan sangat baik. Enola berhasil menampilkan karakter wanita yang kuat dan pantas menjadi tokoh utama film ini. Dengan demikian, Enola Holmes (2020) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

https://www.netflix.com/id-en/title/81277950

Confession of Murder (2012)

Kali ini saya akan membahas film detektif asal Korea Selatan yang berjudul Confession of Murder (2012) atau 내가 살인범이다. Film ini berhasil memenangkan berbagai penghargaan dan sudah pernah dibuat ulang oleh sutradara Jepang. Memoirs of Muder (2017) bisa dikatakan merupakan versi Jepang dari Confession of Murder (2012). Jarang-jarang nih ada film Korea yang sampai dibuat ulang oleh orang Jepang. Apakah Confession of Murder (2012) memang semenarik itu?

Konflik utama pada Confession of Murder (2012) diawali ketika Lee Doo-seok (Park Si-hoo) meluncurkan buku terbarunya yang berjudul I Am the Murderer. Buku tersebut mengisahkan secara detail bagaimana Lee melakukan beberapa pembunuhan antara tahun 1986 sampai 1990. Pada rentang tahun tersebut, memang terdapat pembunuh berantai yang gagal polisi tangkap. Lee secara terbuka mengakui bahwa ia adalah pelaku pembunuhan tersebut. Buku tersemut memuat detail-detail yang belum pernah diketahui oleh publik. Hal inilah yang menguatkan klaim Lee atas kejahatan-kejahatan tersebut.

Peraturan di Korea saat itu, menetapkan bahwa kasus yang sudah melewati 15 tahun, akan diputihkan alias dihapus. Hal inilah yang membuat hukum tidak dapat menyentuh Lee sebab pengakuan Lee dilakukan 17 tahun setelah pembunuhan berantai terjadi. Wajah tampan dan pencitraan yang baik membuat popularitas Lee semakin menanjak. Ia berhasil meraih simpati dari mayoritas publik Korea.

Tentunya, tidak semua orang senang dengan sepak terjang Lee. Choi Hyeong-goo (Jung Jae-young) merupakan salah satu pihak yang terlihat paling tidak berkenan dengan hal-hal yang Lee lakukan. Sebagai detektif yang dulu memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai Lee, kasus tersebut menjadi sesuai yang bersifat pribadi bagi Choi. Namun sebagai seorang anggota kepolisian, Choi tetap patuh dengan hukum yang ada. Ia bahkan ikut mencegah upaya pembunuhan dari pihak keluarga korban.

Sekilas, Confession of Murder (2012) seolah hanya akan bercerita mengenai pergolakan antara Lee dan Choi. Adegan aksinya yah begitulah, ada beberapa yang tidak masuk akal. Apakah film ini hanyalah film aksi dengan latar belakang kriminal dam detektif saja?

Ternyata semakin lama film tersebut berhasil memberikan kejutan atau twist yang menarik. Arah cerita seakan bergeser-geser dan memberikan berbagai alternatif. Saya suka dengan bagaimana kisah ini disajikan.

Saya rasa, film yang satu ini merupakan salah satu film detektif terbaik dari Korea Selatan. Masuk akal kalau ada produser dari Jepang, bersedia me-remake Confession of Murder (2012). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.showbox.co.kr/Movie/Detail?keyword=&modate=2012&mvcode=JA120151

Franchise Insidious (2010 – 2018)

Berawal dari kesuksesan Insidious (2010), lahirlah Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018). Produser mana yang tidak senang dengan film beranggaran rendah dengan profit setinggi langit. Hal itulah yang terus terjadi pada film-film Insidious. Tak heran kalau akan terus bermunculan film-film Insidious berikutnya. Insidious pun menjelma menjadi sebuah franchise yang terdiri dari banyak film. Sampai saat saya menulis tulisan ini, sudah ada 4 film Insidious yang dirilis dan Insidious: The Last Key (2018) adalah yang terbaru. Jadi kali ini saya akan membahas keempat film Insidious yang sudah dirilis.

Kalau dilihat dari urutan perilisan, memang Insidious: The Last Key (2018) adalah yang paling akhir muncul. Namun, kalau dilihat dari urutan waktu pada jalan ceritanya, film tersebut bukanlah yang terakhir. Beginilah urutan film-film Insidious kalau dilihat dari waktu. Semua diawali oleh Insidious: Chapter 3 (2015), kemudian diikuti oleh Insidious: The Last Key (2018), Insidious (2010) dan diakhiri oleh Insidious: Chapter 2 (2013). Wah acak-acakan yah :’D.

Pada dasarnya, keempat film tersebut mengisahkan kasus supranatural yang dihadapi oleh Elise Rainier (Lin Shaye) dan rekan-rekan. Elise merupakan paranormal handal yang menggunakan kemampuannya untuk menolong. Semua kasus yang ia hadapi berhubungan dengan dunia roh yang pada film ini disebut The Furher. Hanya roh orang-orang tertentu saja yang dapat pergi menuju The Futher. Pintu menuju sangat banyak dan tidak mengenal batasan waktu. Hal inilah yang menjadi daya tarik Insidious.

Supaya sesuai dengan urutan waktunya, mari kita mulai dari Insidious: Chapter 3 (2015) :). Pada awal film, dikisahkan bahwa Elise berhenti dari kegiatan supranatural karena ketakutannya akan sosok yang diramalkan akan menjadi lawan terberatnya. Sebuah sosok yang akan Elise hadapi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Kekhawatiran akan kegagalan dan kematian terus menghantui Elise sampai hatinya tergerak untuk menolong seorang gadis yang mengalami gangguan supranatural. Disinilah awal mula Elise bertemu dengan kedua anak muda yang menjadi rekan barunya. Melalui kasus ini pulalah, Elise memperoleh kepercayaan dirinya kembali untuk terus menggunakan kekuatannya untuk kebaikan.

Kemudian pada Insidious: The Last Key (2018), Elise dan kedua rekan barunya, pergi ke kampung halaman Elise untuk menyelesaikan sebuah kasus. Yang menarik di sini adalah, lokasi kejadiannya adalah rumah masa kecil Elise. Di sini, Elise harus berhadapan kembali dengan masa lalunya yang kelam. Mau tak mau, kasus yang kini ia hadapi, berhubungan erat dengan masalah keluarga Elise.

Uniknya, detail kecil pada akhir dari Insidious: The Last Key (2018) menunjukkan asal mula dari segala bencana yang muncul pada Insidious (2010). Hanya saja, saya sendiri harus mengulang bagian akhirnya untuk mengerti hal tersebut. Inilah salah satu kelebihan dari film-film Insidious. Film yang satu bisa berkaitan dengan cara yang tidak terduga dengan film lainnya.

Hal yang sama pun terjadi pada Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Insidious: Chapter 2 (2013) menjelaskan beberapa kejadian misterius pada Insidious (2010). Kedua film ini memang sangat erat hubungannya karena pada kedua film inilah Elise dan kawan-kawan berhadapan dengan kasus yang sangat berat.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) mengambil latar belakang setelah kejadian pada Insidious: The Last Key (2018). Kali ini dikisahkan bahwa keluarga Lambert mengalami gangguan supranatural sejak mereka pindah rumah. Kalau mengikuti pola film horor pada umumnya, ya sopasti si korban terus saja ada di rumah tersebut dan menghadapi teror-teror yang ada. Nah, keluarga Lambert melakukan hal yang sangat logis. Mereka langsung pindah rumah. Sayang, teror terus mengikuti mereka dimanapun mereka berada.

Elise dan kawan-kawan pun dipanggil untuk menolong. Sumber dari semua masalah tersebut ternyata merupakan sesuatu yang sangat jahat dan kuat. Sekilas, memang semua nampak klise ya. Akhir dari Insidious (2010) pun seolah membuat film ini mengikuti pola film horor pada umumnya. Semua berubah 180 derajat ketika saya menonton Insidious: Chapter 2 (2013). Kedua film tersebut memang merupakan kesatuan yang saling melengkapi.

Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013) hadir dengan jump scare dan sound effect ala film horor lawas yang bernada tinggi. Namun semuanya tidal nampak murahan sebab penggunaannya memang untuk bagian-bagian yang penting saja. Sentuhan James Wan sebagai sang sutradara memberikan perbedaan yang sangat nyata. Kedua film yang ia sutradarai ini berhasil memberikan kengerian dengan alur cerita yang tidak membosankan. Rasa penasaran terus menghantui saya ketika menonton film-film tersebut.

Bagaimana dengan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018)? Walaupun skrip keempat film Insidious ditulis oleh orang yang sama, keduanya tidak disutradarai oleh James Wan. Sebenarnya, jalan cerita kedua film tersebut memiliki potensi yang besar. Sayang kok eksekusinya terasa sedikit hambar. Misterinya memang masih ada, hanya saja alur ceritanya tidak terlalu ngeri dan ada beberapa bagian yang cukup membosankan. Terus terang kualitas Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018) berada di bawah Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013). Bisa jadi, semua karena perbedaan siapa sutradaranya.

Hal-hal diataslah yang membuat saya hanya dapat memberikan Insidious: Chapter 3 (2015) dan Insidious: The Last Key (2018), nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sedangkan untuk Insidious (2010) dan Insidious: Chapter 2 (2013), saya ikhlas untuk memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Kabarnya, film Insidious kelima akan hadir dengan judul Insidious: Death’s Lair. Melihat trend, semakin menurunnya kualitas film-film Insidious, saya ragu apakah film kelima tersebut dapat mengulang kesuksesan film pertama dan keduanya? Kita lihat saja nanti ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com

 

Primal Fear (1996)

Terbunuhnya seorang pastur yang telah menjadi tokoh keagamaan terkemuka di Chicago, menjadi awal yang menarik dari Primal Fear (1996). Pembunuhan dilakukan dengan keji dan menunjukkan adanya dendam pribadi dari si pelaku. Tak lama, Aaron Stampler (Edward Norton) dijadikan tersangka dan terancam hukuman mati.

Aaron merupakan putra altar atau asisten misa dari sang pastur. Hhmmmm, putra altar dan pastur? Aahh, dari awal saya sudah bisa menebak jalan cerita Primal Fear (1996) hendak dibawa kemana. Saya pikir ini akan menjadi sebuah kasus yang sederhana. Namun, ternyata Primal Fear (1996) menyuguhkan jalan cerita yang dapat mengecoh para penontonnya.

Martin Vail (Richard Gere) dapat dikatakan sebagai tokoh utama yang dibuat terkecoh oleh jalannya persidangan kasus ini. Hadir sebagai pengacara handal dengan kepercayaan diri yang tinggi, Vail pun pada akhirnya terkecoh dan harus mengakui kesilapannya.

Terkuaknya kasus skandal seksual di gereja, tentunya membuat saya menduga bahwa semua ini pasti terkait skandal seks saja. Ternyata selain itu, sang pastur memiliki sebuah proyek yang melibatkan jaksa dan orang-orang terkemuka lainnya pula. Semua semakin rumit ketika Aaron menunjukkan gejala penyakit kejiwaan akut. Sebagai ketua tim pengacara Aaron, Vail beberapa kali menemukan jalan buntu dan mengubah strategi pembelaannya. Semua karena sebenarnya, tidak semua yang Vail ketahui merupakan kebenaran yang sesungguhnya. Apakah terkait skandal seks, proyek milyaran dollar, atau kejiwaan Aaron? Semua membuat Vail berubah.

Di sini akting Richard Gere dan Edward Norton nampak bagus, terutama Norton. Pada film inilah awal mula karir Edward Norton bersinar. Melalui film inilah Norton memenangkan Golden Globe dan memperoleh nominasi Oscar. Setelah bermain pada Primal Fear (1996), nama Norton semakin bersinar dan memperoleh nama sabagai salah satu aktor papan atas Hollywood pada saat itu.

Bagi sebagian orang, akhir dari Primal Fear (1996) merupakan akhir sedih dimana sang tokoh utama kalah. Bagi saya pribadi, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Sebab, bagimanapun juga, tokoh yang sebenarnya keji pada akhirnya memperoleh balasan dari perbuatannya, meskipun dengan cara yang tidak pas secara hukum.

Saya pribadi menikmati Primal Fear (1996) yang sebagian besar latar belakangnya adalah ruang persidangan. Rasa penasaran terus membuat mata saya tidak mengantuk, meskipun saya menonton film ini setelah selesai lembur di kantor hehehe. Primal Fear (1996) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.paramount.com/movies/primal-fear