Brightburn (2019)

Siapa yang tak tahu Superman. Superhero pembela umat manusia yang satu ini sudah terkenal sejak saya belum lahir. Nah, bagaimana kalau Superman hadir ke Bumi tapi dalam versi yang berbeda, versi yang lebih gelap? Itulah topik utama yang Brightburn (2019) tawarkan. Semoga ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan agak berbeda ;).

Sama persis seperti kisah Superman, pada Brightburn (2019) dikisahkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) adalah sepasang petani yang pada suatu hari menemukan seorang bayi di dalam sebuah kapsul misterius. Kapsul tersebut jatuh dari angkasa, menimpa lahan pertanian milik keluarga Breyer. Pasangan Breyer yang sudah lama tidak memiliki keturunan, langsung mengangkat bayi yang mereka temukan sebagai anak mereka.

Hari terus berganti, tak terasa bayi mungil keluarga Breyer sudah beranjak dewasa. Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) tumbuh tanpa mengetahui asal muasalnya. Lambat laun, Brandon mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja cara Brandon menyikapi kekuatan ini, sangat berbeda dengan cara Clark Kent / Superman menyikapi kekuatannya. Di sini digambarkan bahwa kekuatan Brandon sama plek ketiplek dengan kekuatan Superman.

Yaaah Brandon di sini memang merupakan Superman versi jahat. Gambaran akan kasih sayang Kyle dan Tori memang sudah ditonjolkan. Namun entah kenapa sebagian besar nampak hambar dan miskin emosi. Pada awalnya saya melihat kasih sayang Tori sebagai seorang ibu. Tapi semakin lama kasih sayang tersebut terlihat kurang meyakinkan. Usaha untuk menghentikan teror Brandon pun gagal menghasilkan adegan yang mencekam. Saya agak bingung mau dibawa ke mana arah Brightburn (2019). Mau dibilang horor yaaa tidak ada seram-seramnya. Mau dibilang misteri, dimana misterinya???

Disana sungguh tidak ada misteri yang membuat saya penasaran. Kenyataan akan apa dan siapa Brandon sungguh tidak menarik dan basi. Kalau hanya ingin mengisahkan Superman versi jahat, DC Comics sudah memiliki berbagai cerita akan Superman jahat. Yang paling terkenal diantaranya adalah Superman versi Injustice, dimana Superman berubah menjadi jahat ketika Louis Lane dibunuh oleh Joker. Cerita dan alurnya jauh lebih kompleks dan menarik ketimbang Brightburn (2019). Jadi jelas sudah, mengisahkan Superman versi jahat bukanlah sesuatu yang revolusioner bagi saya pribadi hehehehe v(^_^)v.

Di luar ekspektasi saya, Brightburn hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau mau melihat Superman versi jahat lebih baik melihat beberapa produk asli DC Comics seperti Injustice, Superman: Red Son, JLA: Earth 2, Irredeemable dan Infinite Crisis ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/brightburn

Iklan

Searching (2018)

Searching (2018) mengisahkan bagaimana David Kim (John Cho) mencari anak remajanya yang hilang, Margot Kim (Michelle La). Dari pihak kepolisian, Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) datang memberikan bantuan. Kasus ini memberikan sebuah kejutan yang tidak saya duga sebelumnya.

Semakin lama, misteri akan hilangnya Margot membuka luka lama keluarga Kim. Di awal, cerita memang dikisahkan bagaimana keluarga Kim yang pada awalnya lengkap, harus kehilangan sosok ibu. Margot adalah satu-satunya yang David miliki, jadi sangat masuk akal kalau David mati-matian mencari Margot. Di sini saya melihat keharuan dan kepatangmenyerahan David, sampai ia dapat menguak misteri. Ini pertama kalinya saya melihat John Cho, pemeran David Kim, berhasil memerankan karakter yang serius. Sebelumnya ia sering muncul pada film-film komedi yang bagi saya pribadi agak kurang lucu :’D. Awalnya saya agak ragu, kok tokoh utama film seperti ini justru aktor yang sering bermain di komedi yah. Ahh ternyata John dapat pula berakting serius pada Searching (2018).

Film ini memang memiliki kejutan dan chemistry di dalamnya, tapi uniknya semua itu digambarkan melalui komputer-komputer yang keluarga Kim miliki. Jadi sepanjang film, penonton disuguhkan sebuah layar komputer dimana semua karakter saling berinteraksi. Saya rasa pendekatan ini tidak akan membingungkan penonton yang tidak fasih dengan komputer jenis tertentu. Saya yang tidak pernah menggunakan komputer Machintosh, tidak merasa kesulitan dalam mengikuti jalan cerita ketika layar dan aplikasi Machintosh yang digunakan. Semuanya mampu dikomunikasi dengan sangat baik :).

Bagi saya pribadi, Serching (2018) bukanlah film pertama yang menggunakan pendekatan sebuah perangkat elektronik untuk mengisahkan ceritanya. Kisah misteri tentang ayah yang mencari anak pun sudah beberapa kali saya tonton. Tapi semuanya mampu dikombinasikan dengan baik sekali sehingga menghasilkan Searching (2018), sebuah film yang layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jelas merupakan film tahun 2018 yang wajib ditonton.

Sumber: http://www.searching.movie

Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Scary Stories to Tell in the Dark (2019) mengambil latar belakang Amerika di tahun 1968, saat Amerika masih aktif terlibat Perang Vietnam. Atmosfer pemilihan presiden pun menjadi aroma tambahan bagi latar film ini. Tapi, bukan perang atau pemilihan presiden yang menjadi topik utama Scary Stories to Tell in the Dark (2019), melainkan kumpulan cerita seram yang dapat berubah menjadi kenyataan.

Pada awal Scary Stories to Tell in the Dark (2019), terdapat sekelompok remaja masuk ke dalam sebuah rumah misterius pada malam Hallowen. Di dalam rumah tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan rahasia dan mengambil sebuah buku. Pada halaman pertama buku tersebut, tertulis …. milik Sarah Bellows.

Sarah Bellows adalah seorang anak perempuan yang mati gantung diri dan selalu dikait-kaitkan dengan cerita seram di kota Mill Valey. Tanpa sadar, para remaja tersebut telah membangunkan sesuatu yang buruk. Buku yang mereka bawa ternyata dapat menuliskan sendiri, kisah-kisah seram yang ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata. Satu per satu kisah seram milik mereka, tertulis di buku milik Sarah Bellows tersebut. Tentunya kematian semakin mendekatin para remaja tersebut. Mau tak mau, mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka harus menyelamatkan diri dari kisah yang tertulis, sambil menyelidiki bagaimana mereka menghentikan semua ini.

Sekilas, plot Scary Stories to Tell in the Dark (2019) sudah sering sekali diangkat oleh berbagai film horor remaja, termasuk film horor Indonesia. Hanya saja, eksekusi dari Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terbilang rapi dan terarah sehingga saya merasakan kengerian pada beberapa bagiannya.

Sayang, film ini mungkin tidak akan terasa seram sekali bagi mayoritas penonton dewasa. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terkesan seperti film horor monster, sesuatu yang mungkin akan menakutkan bagi penonton dewasa Amerika. Mayoritas setan dan hantu ala Amerika dan Eropa memang berwujud fisik sepeeri monster. Selain itu, film ini sebenarnya diambil dari novel pendek dengan judul yang sama. Di Amerika sana, novel tersebut cukup kontroversial pada tahun 90-an. Novel ini dapat ditemukan di perpustakaan pada bagian remaja & anak, padahal konten dan grafis dari novel tersebut dinilai terlalu sadis untuk dilihat oleh remaja sekalipun. Kenangan akan cerita seram pada buku tersebut, tentunya membawa nostalgia tersendiri bagi penonton yang mengenal versi novelnya sebagai novel terseram pertama yang mereka baca sebagai remaja. Saya pribadi sebenarnya lebih seram dengan setan dan hantu ala Indonesia hihihihi.

Tapi tetap saja, eksekusi yang cemerlang, membuat Scary Stories to Tell in the Dark (2019) nampak unggul dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang pernah saya tonton. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) pun beberapa kali membuat saya salah menebak akan misteri yang menyelimuti Sarah Bellows dan kutukannya. Misterilah yang membuat saya penasaran dan terjaga ketika menonton film ini. Tapi jangan harap akan ada kejutan atau twist yang “wow” pada film ini, akhir dari misteri yang ada tidaklah terlalu mencengangkan.

Selain itu, akhir dari film ini agak kurang garang ya. Seperti masih ditahan untuk sebuah sekuel mungkin? Melihat kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark (2019) di tangga box office, sepertinya film ini akan ada sekuelnya. Saya rasa Scary Stories to Tell in the Dark (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.scarystoriestotellinthedark.com

Us (2019)

Sutradara yang mengarsiteki Get Out (2017), tahun ini kembali menghadirkan film bergenre serupa yaitu Us (2019). Kali ini sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak dikisahkan berlibur ke pantai. Sepulang dari liburan tersebut, Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), Gabriel “Gabe” Wilson (Winston Duke), Zora Wilson (Shahadi Wright Joseph) dan Jason Wilson (Evan Alex), didatangi oleh 4 orang misterius.

Keempatnya ternyata memiliki bentuk tubuh dan wajah yang serupa dengan Adelaide, Gabe, Jason dan Zora. Bertemu saudara kembar yang aneh dan galak, keluarga Wilson harus melarikan diri untuk selamat. Kembaran keluarga Wilson ternyata memiliki dendam lama dan niat yang tidak baik. Ada apa ini? Sebuah misteri yang membuat saya penasaran sampai akhir Us (2019).

Terdapat beberapa kejutan yang menyeramkan pada film ini. Jadi Us (2019) merupakan film horor dan misteri yang memberikan ketakutan secara psikologis, bukan melalui adegan sadis atau jump scare yang sering diumbar-umbar oleh film horor Indonesia :P. Kelas Us (2019) jauuuh di atas itu. Film ini pun secara tersirat ingin membicarakan isu lain terkait kampanye melawan masalah sosial yang melanda Amerika saat ini.

Us (2019) memang tidak sempurna dan memiliki sedikit “lubang” pada jalan ceritanya. Masih ada beberapa hal yang tidak dijelaskan terutama terkait kembaran keluarga Wilson. Penjelasan singkat yang ada pada film ini masih menyisakan berbagai pertanyaan, kalau dilihat dari logika. Yaaah paling tidak, akhir dan identitas karakter-karakter pada Us (2019) masih terjelaskan dan tidak se-ambigu film-film horor pada umumnya. Terus terang saya kurang suka dengan film yang akhirnya terlalu menggantung atau ambigu, lalu penonton disuruh berfikir dan berhayal sendiri begitu?

Dengan demikian, saya rasa Us (2019) pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Akting Lupita Nyong’o perlu mendapatkan pujian di sini, ia berhasil memerankan 2 karakter yang sedang ketakutan, penuh kebencian dan licik.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/us

L.A. Confidential (1997)

L.A. Confidential (1997) sebenarnya sudah lama masuk ke dalam daftar tonton saya. Tapi baru beberapa hari yang lalulah saya sempat menonton film yang katanya sih bagus :). Film ini sering dibanding-bandingkan dengan Chinatown (1974) yang mendapatkan banyak pujian dari banyak kritikus film. Tapi yaaa terus terang, saya pribadi kurang suka dengan Chinatown (1974) v(^_^). Apakah L.A. Confidential (1997) akan mengalami nasib yang sama?

Mirip seperti Chinatown (1974), L.A. Confidential (1997) mengambil latar belakang kepolisian Los Angles lawas, dengan tambahan bumbu kehadiran perempuan penggoda yang dapat mendatangkan malapetaka. Los Angeles di tahun 1950-an sudah menjadi kotanya selebritis. Banyak wanita cantik dan pria tampan datang ke sana untuk berkarir di dunia hiburan. Di balik gemerlap Los Angles, terdapat pula berbagai tindak kriminal yang diorganisir oleh organisasi yang terstruktur.

Di dalam kepolisian Los Angles, terdapat 3 polisi yang berusaha menyelesaikan berbagai kasus kejahatan dengan caranya masing-masing. Tak disangka, pada perjalannya, mereka menemukan fakta yang dapat mencoreng nama baik rekan mereka sendiri. Di tengah-tengah konflik yang ada, hadir wanita penggoda yang diperankan oleh Kim Basinger.

Lynn Bracken (Kim Basinger) muncul di tengah-tengah penyelidikan kasus pembantaian sadis di dalam sebuah restoran. Jack Vincennes (Kevin Spacey), Wendell ‘Bud’ White (Russell Crowe) dan Edmund J. Exley (Guy Pearce) adalah 3 detektif yang secara langsung dan tak langsung, aktif terlibat di dalam penyelidikan. Berbeda dengan film-film detektif lainnya, ketiga tokoh sentral ini bukan partner. Mereka bahkan terkadang tidak saling suka karena masing-masing memiliki motif yang agak berbeda ketika melakukan penyelidikan ini.

Jack merupakan detektif divisi narkoba yang terkenal karena keterlibatannya di dalam sebuah acara TV. Jack memiliki banyak koneksi di dalam dunia hiburan Los Angles dan lebih senang menyelesaikan masalah dengan kecerdikannya. Berbeda denga Jack, Bud merupakan detektif divisi pembunuhan yang tegas, tempramental dan setia kawan. Karena masa lalu Bud yang kelam, emosi Bud sangat mudah tersulut ketika ada wanita yang sedang dalam bahaya. Bud tidak segan-segan melakukan kekerasan dan perbuatan diluar peraturan. Kebalikan dari Bud, Edmund adalah detektif divisi pembunuhan yang sangat ambisius dan taat dengan peraturan. Bagi Edmund, semuanya harus dilakukan berdasarkan peraturan yang ada. Edmund tidak segan-segan untuk menindak tegas rekan sesama detektif yang melanggar peraturan. Inilah yang menjadi awal mula kenapa Edmund dan Bud terkadang saling benci satu sama lain, keduanya memiliki watak dan cara kerja yang bertolak belakang. Jack hadir sebagai polisi cerdik yang mampu membaca situasi dan secara tidak langsung berperan sebagai penengah sehingga Bud dan Edmund tidak terus menerus saling bergesekan. Kevin Spacey tampil dengan gemilang dalam memerankan Jack, rasannya ia layak untuk memperoleh 1 Oscar lagi di film ini :D.

Jalan cerita L.A. Confidential (1997) agak berliku-liku, penonton seolah dibuat tidak tahu kemana arah film ini. Tapi cara penceritaannya terbilang sangat menarik dan jauh dari kata membosankan. Saya menikmati bagaimana ketiga datektif melakukan tugasnya masing-masing, hingga pada akhirnya mereka menemukan fakta akan hubungan antara kasus-kasus yang mereka tangani :D.

Saya rasa, L.A. Confidential (1997) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jaaauuuuuh lebih bagus daripada Chinatown (1974). Bisa dibilang, L.A. Confidential (1997) adalah salah satu film detektif terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.warnerbros.com/la-confidential

Hereditary (2018)

Sejak beberapa pekan yang lalu saya mendapatkan rekomendasi untuk menonton sebuah film horor yang berjudul Hereditary (2018). Karena berbagai kesibukan, akhirnya saya baru dapat menontonnya beberapa hari kemudian. Film ini mengisahkan kehidupan sebuah keluarga setelah kehilangan ibu/nenek mereka. Di sana terdapat Annie Grahan (Toni Collette), pembuat miniatur mini yang baru saja kehilangan ibunya. Terdapat pula 2 anak Annie yaitu Charlie Graham (Milly Shapiro) dan Peter Graham (Alex Wolff). Memimpin keluarga kecil ini, Steve Graham (Gabriel Byrne) sebagai suami dari Annie dan bapak bagi Peter dan Charlie.

Dari awal, keluarga ini nampak muram dan aneh. Mereka harus menghadapi sejarah buruk keluarga Annie yang dilingkupi oleh depresi dan penyakit kejiwaan. Ayah, ibu dan saudara laki-laki Annie mengalami masalah kejiwaan sebelum mereka meninggal. Annie pun beberapa kali tidur sambil berjalan dan tak sadar akan apa yang dia perbuat. Hubungan di dalam keluarga ini agak saling asing antara satu dan lainnya. Rasanya hanya Steve saja yang nampak tegar dan berusaha merangkul agar keluarga ini tetap utuh. Tak heran kalau mereka nampak jarang tersenyum atau bahagia.

Tempo Hereditary (2018) berjalan lambat sekali sehingga saya merasa bosan dengan separuh bagian awal dari film ini. Masalah kejiwaan seakan menjadi topik utama Hereditary (2018). Hal ini membuat Hereditary (2018) nampak seperti film drama tentang orang stres dan gila saja. Loh? Mana horornya? Perlahan unsur horor dari Hereditary (2018) muncur mulai dari pertengahan film. Horor dimunculkan bukan dalam wujud jump scare yang didukung dengan suara nyaring dadakan. Jangan pula berharap akan ada banyak monster-monsteran di sana. Horor yang dihadirkan adalah horor psikologis yang anehnya, dapat membuat saya merinding.

Berbagai peristiwa tragis yang Annie dan keluarga hadapi memang misterius. Penonton diajak untuk menebak-nebak apakah semua ini disebabkan oleh faktor supranatural atau faktor kegilaan semata. Sayang, misteri yang dihadirkan kurang berhasil membuat saya penasaran. Beberapa bagian pada jalan cerita film ini, terbilang membosankan. Saya pribadi hanya dapat memberikan Heriditary (2018) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: hareditary.movie

The Cabin in the Woods (2012)

Cabin in the Woods

Sebuah rumah kayu atau kabin di tengah hutan terpencil dengan pemandangan yang indah, plus sebuah danau yang bersih. Itulah tempat liburan Curt Vaughan (Chris Hemsworth), Dana Polk (Kristen Connolly), Marty Mikalski (Fran Kranz) dan Holden McCrea (Jesse Williams) pada The Cabin in the Woods (2012). Kelima remaja ini tidak sadar bahwa terdapat maut mengintip mereka di balik keindahan alam yang mereka saksikan.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Secara tidak sengaja, mereka menemukan berbagai benda-benda kramat di bawah kabin tempat mereka menginap. Secara tidak sengaja pulalah mereka membangkitkan sesuatu yang jahat dari alam kubur. Selanjutnya sudah dapat ditebak, mereka diburu oleh mahluk-mahluk misterius yang mereka bangkitkan. Terdengar klise bukan? Hehehehehe.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Sekilas, The Cabin in the Woods (2012) memang nampak seperti film horor remaja pada umumnya. Tapi ternyata film ini berhasil membawa sesuatu yang berbeda sebab maksud dan tujuan dari semua yang menimpa kelima remaja tersebut tidaklah sedangkal film-film horor remaja lainnya.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Film ini secara kreatif memiliki alur yang berbelok tanpa membuat penontonnya kebosanan. Saya sendiri tidak menganggap The Cabin in the Woods (2012) sebagai film horor yang menakutkan, tapi misteri yang meyelimutinya mampu membuat saya penasaran. Saya ikhlas untuk memberikan The Cabin in the Woods (2012) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.discoverthecabininthewoods.com