The Hunt (2020)

The Hunt (2020) mengisahkan perburuan manusia oleh sekelompok orang kaya. Entah apa alasannya, terjadu penculikan terhadap sekelompok orang yang tidak saling kenal. Mereka kemudian dilepaskan di sebuah area misterius untuk diburu.

Para memburu menggunakan berbagai taktik. Mulai dari yang langsung tembak menggunakan senjata api, granat dan panah. Sampai ada yang melakukan penyamaran sebelum membunuh demi kesenangan semata.

Perlahan, siapa dan kenapa semua ini terjadi dapat terkuak. Para pemburu yang pada awalnya seolah mengetahui segalanya, ternyata melakukan kesalahan fatal. Kesalahan fatal yang tidak disadari sejak awal. Sesuatu yang membuat acara perburuan mereka kacau balau.

Bagaimana para pemburu melakukan perburuan ada yang menarik, tapi ada pula yang klise dan membosankan. Tapi saya suka bagaimana para karakter antagonis termakan permainan mereka sendiri. Pada akhirnya, The Hunt (2020) memang berhasil memberikan akhir yang memuaskan.

Sayang unsur misteri pada film ini seilah menguap dan kurang menarik pada pertengahan film. Saya sendiri menjadi kurang peduli mengenai alasan di balik perburuan tersebut.

Maka, saya rasa The Hunt (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah, dapat dijadikan selingan setelah WFH ;).

Sumber: http://www.uphe.com

Serial Squid Game

Serial Ojing-eo Geim atau Squid Game mengisahkan kompetisi maut dengan hadiah yang sangat besar. Pemenang kompetisi ini akan kaya mendadak. Sedangkan sisanya akan menemui ajal. Permainan yang dimainkan pada kompetisi tersebut adalah permainan klasik anak-anak Korea. Ada beberapa permainan yang saya sendiri tidak kenal. Squid game sendiri merupakan permainan yang dimainkan pada akhir konpetisi. Sekilas permainannya seperti galaksin atau gobak sodor. Selain itu terdapat pula permainan anak-anak lain seperti kelereng, tarik tambang dan lain-lain.

Kisah mengenai bagaimana sekelompok orang saling bunuh demi meraih kemenangan, sudah banyak diangkat menjadi cerita film. Yang spesifik mengangkat tema permainan anak pun sudah pernah hadir melalui As the Gods Will (2014). Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Serial Squid Game. Film seri ini sangat berbeda dengan As the Gods Will (2014) dan film-film bertemakan survival lainnya.

Dari segi visual saja, Squid Game tampil unik dengan penampilan peserta dan penyelenggara yang unik. Latar belakang pulau tempat permainan berlangsung pun berhasil menambah kesan misterius tanpa harus terus menerus menggunakan warna-warna gelap.

Dari segi cerita, permainan anak-anak hanyalah bagian dari sebuah intrik besar yang Squid Game sajikan. Bagaimana permainan berlangsung, mulai dari pemilihan tim sampai urutan bermain berhasil menghasilkan konflik diantara peserta. Di sela-sela permainan pun terjadi berbagai drama yang menarik untuk diikuti. Setiap karakter pada film seri ini bisa saja saling tikam setelah sebelumnya saling tolong. Siapapun bisa saja mendadak menjadi malaikat, dan siapapun bisa pula mendadak berubah menjadi iblis. Wah keren deh pokoknya, saya salut dengan bagaimana konflik pada serial ini selalu tampil segar dan memikat.

Merujuk berbagai hal di atas, sopasti saya ikhlas untuk memberikan serial ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial Squid Game sudah jelas berhasil menjadi kisah permainan maut favorit saya.

Sumber: squidgameofficial.com

Serial Lupin

Kalau Inggris memiliki Sherlock Holmes, maka Prancis memiliki Arsène Lupin. Sedikit berbeda dengan Holmes, Lupin merupakan seorang pencuri profesional yang pandai menyamar. Lupin menggunakan kemampuannya untuk membasmi tokoh-tokoh yang dianggap lebih jahat dari dirinya.

Tokoh karangan Maurice Leblanc ini, susah beberapa kali diangkat ke dalam bentuk film. Namun saya rasa Serial Lupin merupakan yang paling unik. Dalam serial ini, tokoh Lupin memang sebuah fantasi karangan Leblanc. Kecerdasan dan beberapa taktik Lupin benar-benar dipraktekkan oleh Assane Diop (Omar Sy).

Sejak kecil Assane memang berulang-ulang membaca kisah Lupin. Ia pun hafal sekali dengan berbagai kisah Lupin si pencuri. Sangat mirip dengan Lupin, Assane mahir dalam menipu, mencuri, dan menyamar. Tapi semua itu tidak selalu ia pergunakan untuk menjadi kaya raya. Ada dendam dan misteri dari masa lalu yang ingin Assane bongkar.

Saya suka dengan tipu daya yang Assane lakukan. Semua tipu daya yang dapat ia lakukan sekarang, berhubungan dengan pengalamannya di masa lalu. Alur cerita yang dibuat berpindah-pindah antara Assane di masa kini dengan Assane di masa lalu sama sekali tidak membingungkan. Semua saling mendukung dan membuat cerita semakin menarik.

Misteri yang hendak Assane bongkar pun berhasil membuat saya penasaran. Perlahan, semua tokoh yang terlibat pada kasus kematian ayah Assane terkuak. Tapi masalah tidak semakin terurai, justru semua semakin terlihat seperti benang kusut. Yaaaah, Lupin memang mengajak penontonnya sedikit berpikir :).

Saya ikhlas memberikan serial berbahasa Prancis ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Gara-gara serial ini, akhirnya saya jadi ikut sedikit membaca kisah Arsène Lupin :’D.

Sumber: http://www.gaumont.fr

The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

The Dry (2020)

The Dry (2020) merupakan film Australia yang memceritakan penyelidikan 2 buah kasus di sebuah kota kecil. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Jane Harper. Tokoh utamanya adalah Aaron Falk (Eric Bana) yang sehari-hari berkerja sebagain agen AFP (Australia Federal Police). Ia terbilang cukup sukses dan beberapa kali masuk berita akibat prestasinya. Pada suatu hari Aaron harus pergi ke Kota Kiewarra untuk menghadiri pemakaman sahabatnya semasa kecil. Tak terelakan, ia pun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan yang terjadi ketika Aaron masih remaja di Kiewarra.

Aaron menjadi tersangka utama walaupun ia tidak ditahan karena kurang cukup bukti. Keluarga korban pun berhasil memprovokasi warga kota untuk menteror dan mengusir Aaron dan keluarganya. Pada akhirnya, Aaron terpaksa meninggalkan Kiewarra akibat tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepadanya tersebut. Sebuah masa lalu yang pahit.

Kiewarra sendiri sebenarnya merupakan kota kecil tempat Aaron tumbuh. Karena kekeringan yang parah, banyak terdapat kasus kebakaran hutam. Banyak pula sungai dan danau yang kering, termasuk lokasi tempat pembunuhan yang dituduhkan kepada Aaron di masa lampau.

Sahabat Aaron pun ditemukan tewas di danau yang kering. Semakin lama, Aaron semakin melihat berbagai kejanggalan pada kematian sahabatnya. Ia kemudian memiliki keyakinan bahwa kematian sahabatnya tersebut masih berkaitan dengan kasus yang dulu membuatnya meninggalkan kota. Dengan dibantu oleh polisi lokal, Aaron melakukan penyelidikan di tengah-tengah warga kota yang ingin mengusirnya lagi.

Yang keren di sini adalah bagaimana Aaron menunjukkan kemampuannya sebagai agen AFP yang profesional. Ia tetap bertindak sesuai hukum meski mendapatkan berbagai provokasi. Ini adalah bagian film yang membuat saya gemas. Apalagi ketika siapa pelaku sebenarnya berhasil terungkap, baaah, menggemaskan. Akhir dari kisah The Dry (2021) termasuk tidak terduga looh.

Perilaku beberapa warga yang menyebalkan dan bagaimana penyelidikan dikembangkan, berhasil membuat saya tidak tertidur ketika menonton film minim aksi bertempo lambat ini. Banyak informasi yang tidak langsung dibeberkan. Siapa saja yang meninggal saja, tidak langsung dibeberkan dengan tegas. Semua diinfokan dengan lambat dan tersirat. Saya pun benar-benar harus menyimak, kalau tidak sopasti ketinggalan.

Namun, karena temponya lambat, otomatis film ini memang sangat mudah dipahami. Ceritanya enak untuk diikuti dan membuat saya penasaran. Hanya saja berberapa adegan flashback-nya agak membosankan. Entah mengapa bagian tersebut digarap dengan kurang menarik dan terkadang muncul di momen yang kurang tepat.

Film ini sebaiknya tidak ditonton ketika kita sedang kelelahan. Bisa-bisa tertidur di tengah film heheheh. Tapi kalau sedang tidak terlalu lelah, The Dry (2020) masih bisalaah ditonton tanpa tertidur. Temponyaa memang lambat dan minim aksi tapi alur penyelidikan Aaron itu enak untuk diikuti. Saya rasa The Dry (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.screenaustralia.gov.au

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Bypass Road (2019)

Bypass Road atau Jalan Bypass adalah jalan yang mengubah hidup Vikram Kapoor (Neil Nitin Mukesh) selamanya. Di jalan itulah ia mengalami kecelakaan mobil. Sejak itu, ia dikabarkan menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Kemudian mulai saat itulah ia mengetahui berbagai rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui. Vikram pun terlibat pada sebuah kasus kriminal yang ternyata berhubungan pula dengan kasus kriminal lainnya. Kurang lebih itulah awal dari kisah Bypass Road (2019), sebuah film India yang memiliki banyak sekali misteri.

Saya tidak dapat menghitung, ada berapa tumpukan misteri yang membalut Bypass Road (2019). Kalau dipikir-pikir, semua misteri tersebut sangat menjanjian dan sulit untuk ditebak. Sepanjang film, saya pun diajak menerka-nerka, mau dibawa kemana arah film ini. Saya harus akui bahwa misterinya keren dan berhasil mengecoh saya.

Sayang, penyajian misteri-misteri tersebut agak kurang terarah. Film ini terkesan kewalahan untuk menyampaikan berbagai lapisan misteri yang mengelilingi kehidupan Vikram. Belum lagi adegan thriller ala film-film slasher tahun 90-an yang kurang menegangkan dan memiliki persentase kebetulan yang terbilang tinggi :’D.

Thriller dan misteri terus menerus mendominasi Bypass Road (2019). Dimana joget-jogetannya?? Syukurlah adegan joget ditampilkan dengan halus dan tidak mengada-ada. Tidak ada adegan joget di balik pohon kok. Semua adegan musikal pada film ini terbilang proporsional. Cocoklah bagi saya yang kurang suka dengan adegan joget-joget ala Bollywood.

Di atas kertas, Bypass Road (2019) sebenarnya memiliki ide yang menarik. Namun penyampaiannya terasa kurang bagus. Dengan demikian saya ikhlas untuk memberikan Bypass Road (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pvrpictures.com

Contratiempo (2016)

Contratiempo (2016) merupakan film drama misteri kriminal yang cukup sukses di Spanyol sana. Film ini dirilis pula dengan nama The Invisible Guest (2016) sebagai judul internasionalnya. Kemudian bermunculan remake film Spanyol tersebut di Italia dan India pada Il Testimone Invisibel (2018), Evaru (2018) dan Badla (2018). Kisahnya kurang lebih mirip, yah namanya juga remake hehehehehe.

Kisah dari film tersebut diawali dengan kedatangan Virginia Goodman (Ana Wagener & Blanca Martínez) di kediaman Adrián Doria (Mario Casas). Virgina konon merupakan seorang pangacara hebat yang akan pensiun. Sementara itu, Doria adalah pengusaha sukses yang sedang menjadi terdakwa di sebuah kasus kriminal. Hadir sebagai pengacara kasus tersebut, Virginia menanyakan detail-detail yang Doria ketahui. Di sinilah dimulai cerita flashback dari sudut pandang Doria.

Virginia mendebat dan memberikan berbagai kemungkinan dari kisah versi Doria tersebut. Kita disuguhkan beberapa versi yang mungkin saja terjadi pada kasus kriminal yang menjerat Doria. Perselingkuhan, kecelakaan dan pembunuhan ternyata menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kasus yang Virginia hadapi. Sepanjang film, kita dibuat menebak-nebak siapakah pelaku sesungguhnya.

Film ini berhasil memberikan kejutan atau twist yang cukup tak terduga. Ceritanya sangat cocok ditonton bagi para pecinta kisah detektif. Semuanya nampak masuk akal dan mudah dipahami. Hanya saja penyajian dari flashback yang diulang-ulang terkadang nampak membosankan bagi saya pribadi. Dengan demikian, Contratiempo (2016) atau The Invisible Guest (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.warnerbros.es

Déjà Vu (2006)

Déjà Vu (2006) diawali dengan penyelidikan kasus pemboman kapal feri yang membunuh ratusan tentara Amerika bersama keluarganya. Douglas Carlin (Denzel Washington) merupakan agen ATF yang menyelidiki kasus tersebut. Dengan daya ingat, ketelian dan kemampuan analisa Douglas yang di atas rata-rata, ia berhasil mengungkap berbagai fakta terkait kasus ini.

Sekilas film ini seperti film detektif biasa. Semua berubah ketika FBI datang dengan membawa sebuah teknologi yang dapat melihat kejadian di masa lalu. Semakin lama, semakin terlihat unsur misteri dan fiksi ilmiah dari Déjà Vu (2006). Pihak FBI ternyata tidak 100% jujur kepada Douglas akan teknologi baru yang sedang mereka gunakan.

Dengan teknologi tersebut, déjà vu menjadi suatu hal yang benar-benar dialami oleh karakter utama pada film ini. Déjà vu sendiri dapat diartikan sebagai perasaan aneh ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang sepertinya sudah pernah ia alami di masa lalu. Pertanyaannya, apakah Déjà Vu (2006) merupakan film yang kompleks? Tidak. Hebatnya, film ini mampu menampilkan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Di sana pun terdapat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan dan realistis. Beberapa diantaranya bahkan tampil beda. Dikisahkan bahwa Douglas harus mengejar seseorang di masa lampau dengan menggunakan kendaraan yang berjalan di masa kini. Semua memungkinkan dengan teknologi terbaru FBI. Ahhhh sungguh déjà vu :’D.

Aksi, thriller, misteri dan fiksi ilmiah berhasil ditampilkan dengan sederhana oleh Déjà Vu (2006). Film ini dapat dijadikan sebagai tontonan ringan yang menarik. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.touchstonepictures.com

Enola Holmes (2020)

Dari berbagai novel dan film Sherlock Holmes yang pernah saya lihat, saya hanya mengetahui bahwa Mycroft Holmes adalah satu-satunya saudara Sherlock. Baru kali inilah saya diperlihatkan karakter Enola, adik perempuan dari Sherlock dan Mycroft. Enola Holmes memang tidak ada di dalam novel Sherlock Holmes asli karya Sir Arthur Conan Doyle. Karakter Enola ternyata memang ciptaan Nancy Springer melalui novelnya. Baru pada tahun 2020 inilah Enola hadir dalam bentuk film pada Enola Holmes (2020).

Sudah pernah menonton Serial Stranger Things? Millie Bobby Brown tampil sebagai salah satu pemeran utama serial tersebut. Kali ini ia harus memerankan Enola Holmes, seseorang dengan karakter yang sangat berbeda dengan karakter yang perankan Millie pada Serial Stranger Things. Enola hadir sebagai karakter yang aktif, mandiri, ceria dan cerdas. Ia bukanlah anak perempuan biasa. Kemampuannya dalam memecahkan masalah, sudah dapat disetarakan dengan Sherlock Holmes (Henry Cavill).

Pada saat itu Sherlock sudah dikenal sebagai detektif terkenal. Sementara itu Mycroft Holmes (Sam Claflin) mampu memegang jabatan tinggi di Kepolisian Inggris. Enola tidak serta merta tenggelam di bawah bayang-bayang nama besar kedua kakaknya. Ia bahkan mampu menunjukkan kekuatannya sebagai wanita.

Latar belakang Enola Holmes (2020) adalah Inggris di sekitar tahun 1800-an. Sebuah era dimana emansipasi wanita belum seperti sekarang. Wanita-wanita muda diajarkan berpakaian dan berprilalu sopan, untuk kemudian menikah dan menjadi ibu yang baik. Hal ini sangat berbeda dengan Enola yang berjiwa bebas. Sejak kecil, Enola diajarkan sebuah konsep dimana wanita bisa dan bebas menjadi apa saja yang mereka mau. Didikan ibu dari Enola memang berbeda dengan cara ibu-ibu lain pada saat itu.

Sebuah konflik muncul ketika ibu Enola menghilang tanpa kabar. Sebagai wali Enola yang baru, Mycroft hendak mengubah pola pendidikan Enola. Enola pun memilih untuk kabur dari rumah. Dalam pelariannya, ia menemukan sebuah misteri yang secara tak langsung berhubungan dengan hilangnya ibu Enola.

Emansipasi wanita menjadi topik utama dari Enola Holmes (2020). Unsur misteri memang sangat kental melekat pada film ini. Namun pemecahan misteri itupun tetap menunjukkan betapa kuatnya kaum wanita yang diwakili oleh Enola Holmes. Jelas sudah, film ini bukanlah film misteri biasa. Bukan karena kejutan atau misterinya yang keren. Melainkan karena balutan feminism yang rapi pada setiap bagiannya. Millie Bobby Brown pun mampu menampilkan tokoh Enola dengan sangat baik. Enola berhasil menampilkan karakter wanita yang kuat dan pantas menjadi tokoh utama film ini. Dengan demikian, Enola Holmes (2020) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

https://www.netflix.com/id-en/title/81277950