Frozen 2 (2019)

Jauh hari sebelum Frozen 2 (2019) muncul, saya sudah mendapatkan himbauan dari sekolah anak saya untuk tidak menonton Frozen 2 (2019) bersama anak. Konon karakter utama Frozen 2 (2019) ikut dihadirkan dalam sebuah acara LGBT. Elsa dikabarkan akan menjadi karakter LGBT pertama Disney. Sebagai pembuat Frozen 2 (2019), Disney memang sudah beberapa kali dikait-kaitakan dengan isu LGBT. Tapi sampai saat ini sudah beberapa kali mentah. Sepertinya beberapa internal pihak Disney memang ingin memberikan pesan keberagaman dan kesetaraan bagi anak-anak, termasuk bagi isu yang agak sensitif seperti LGBT. Tapi sekali lagi, Disney adalah perusahaan komersil, apa mungkin mereka mau mengambil resiko sedemikian besarnya? Apalagi film animasi mendahulu Frozen 2 (2019), yaitu Frozen (2013), dapat dikatakan sebagai revolusi Disney tersukses sepanjang masa. Inilah awal dimana stereotipe kisah putri-putrian dirombak habis dan tetap sukses. Tidak ada lagi pangeran tampan yang gagah perkasa. Sang putri pada Frozen (2013) nampak lebih kuat, berani, pantang menyerah dan mandiri.

Syukurlah karakter Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) pada Frozen 2 (2019) tetap seperti pada Frozen (2013). Anna yang lebih ceplas ceplos, tanpa sadar akan dipinang oleh Kristoff (Jonathan Groff). Yaah sepanjang film, Kristoff berusaha melamar Anna. Walaupun usah dibantu oleh rusa miliknya, Sven, Kristoff tetap mengalami kesulitan. Keadaan memang tiba-tiba berubah menjadi genting dan Anna sibuk memikirkan keselamatan Elsa dan Kerajaan Arendelle.

Elsa yang lebih serius dan tertutup, diam-diam mendengar panggilan dari sebuah tempat misterius. Sebuah panggilan yang ternyata menguak masa lalu keluarga Kerajaan Arendelle. Tanpa saya duga, misteri ternyata menjadi salah satu daya tarik Frozen (2019). Ada misteri yang harus Elsa dan kawan-kawan pecahkan. Saya suka sekali dengan bagaimana film ini membuat saya penasaran. Sayang, plot yang sedikit kompleks ini akan membuat beberapa anak kecik kebingungan akan beberapa bagian dari Frozen 2 (2019). Ahhh tapi hal tersebut pasti tidak akan membuat mereka terlelap karena masih ada Olaf (Josh Gad) yang jenaka dan konyol.

Selain itu, Frozen 2 (2019) juga dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Tapi jangan bandingkan dengan lagu Let It Go pada Frozen (2013) ya. Let It Go memang sebuah lagu yang sangat bagus dan sudah pasti akan sulit ditandingi. Lagu tersebut sangat mendunia bahkan sampai lebih dari 5 tahun setelah Frozen (2013) dirilis. Jadi tidak mengherankan bila Frozen 2 (2019) memiliki variasi lagu yang lebih banyak tapi tak ada satupun yang mampu menandingi Let It Go. Sangat terlihat sekali betapa besar beban yang dipikul oleh tim pembuat Frozen 2 (2019). Mereka berusaha memasukkan banyak sekali variasi lagu pada film ini, sehingga terkadang saya merasa bahwa adegan bernyanyinya kok banyak sekali, terutama pada bagian awal. Ahhh tak apalah, toh anak saya senang sekali menonton nyanyian-nyanyian tersebut ;).

Dari segi visual, animasi Frozen 2 (2019) nampak lebih cantik bahkan bagi film keluaran tahun 2019. Saya suka sekali melihat air dan es yang nampak hidup. Sementara itu penonton wanita sepertinya banyak yang terkesima dengan penampakan Elsa yang semakin menawan. Wah wah wah, siap-siap diminta beli boneka Frozen 2 nih ehehehehe.

Elsa sepertinya tetap akan menjadi tokoh favorit frachise Frozen meskipun rasanya Anna pun layak mendapatkan pujian akan keberanian dan peranannya yang sama besarnya dengan Elsa. Terkadang seseorang dapat berbuat banyak juga loh, walaupun tanpa kekuatan super ;). Pesan moral lain terkait lingkungan hidup, kedamaian dan persaudaran di berikan dengan lebih luas pada Frozen 2 (2019). Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak.

Tapi sayang Frozen 2 (2019) tidak se-“aman” Frozen (2013) karena kalau saya hitung ada 3 kali adegan ciuman antara Anna dan Kristoff. Loh bagaimana dengan Elsa? Elsa yang memang lebih serius terlihat lebih fokus menyingkap misteri yang ada. Ia memang selalu merasa berbeda selama tinggal di Arendelle bukan karena orientasi seksnya menyimpang. Tidak ada 1 adegan pun yang menunjukkan bahwa Elsa suka wanita atau suka pria. Topik romansa Elsa sama sekali tidak dibahas pada Frozen 2 (2019). Jadi fix yaaa, Frozen 2 (2019) bukanlah film animasi LGBT-nya Disney. Bagaimanapun juga Disney butuh uang. Tidak mungkinlah Disney mau mengambil resiko dengan mengangkat topik sesinsitif LGBT pada tambang emas terbesar mereka saat ini, franchise Frozen.

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Frozen 2 (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya rasa inilah satu-satunya film tanpa karakter antagonis yang mendapatkan nilai 4 dari saya. Kalau karakter antagonis pada Frozen (2013) nampak kecil sekali, nah karakter antagonis Frozen 2 (2019) itu bisa dikatakan hampir nol loh. Ternyata, untuk membuat sebuah film yang bagus, karaker antagonis itu tidak harus selalu ada loh.

Sumber: frozen.disney.com

The Greatest Showman (2017)

Mengambil latar belakang Amerika dan Eropa tempo dulu, The Greatest Shiwman (2017) mengisahkan perjalanan Phineas Taylor Barnum (Hugh Jackman) dari seorang anak miskin menjadi raja sirkus yang terkenal di seluruh Amerika dan Eropa. Awalnya, Barnum kecil kehilangan orang tuanya di umur yang sangat belia. Ia pun hidup menggelandang di jalanan.

Berkat kerja keras dan sedikit keberuntungan, Barnum akhirnya dapat menikahi Charity Halllet (Michelle Williams), putri mantan majikan ayah Barnum yang selalu memadang Barnum sebelah mata. Bahkan sampai Barnum memiliki 2 anak pun, hubungannya dengan sang mertua tetap buruk. Barnum menduga bahwa ini dikarenakan finansial Barnum yang kembang kempis. Hal ini diperparah ketika Barnum terkena PHK. Apa yang harus ia lakukan?

Barnum meminjam uang ke Bank dan membuka sebuah Museum lilin yang sepi pengunjung. Kemudian ia melakukan inovasi dengan mengadakan pertunjukan manusia unik di dalam Museumnya. Ada wanita berjenggot, manusia anjing, lelaki tertinggi di dunia, lelaki terberat di dunia, kembar albino, manusia dengan tato diseluruh tubuhnya, manusa kerdil dan lain-lain. Para pekerja Barnum ini memiliki penampilan yang unik sehingga mereka tersingkirkan dari masyarakat pada saat itu. Di sini Barnum terlihat berupaya untuk mengangkat kaum yang tersingkirkan agar dapat berkarya dan diterima di masyarakat.

Cobaan datang ketika pertunjukan Barnum yang kontroversial berhasil memberikannya kekayaan dan kepopuleran. Barnum seakan haus akan pengakuan sampai ia lupa akan tujuan utama ia berbisnis. Bukan pengakuan dari mertuanya, bukan pula demi mengangkat derajat kaum yang tersingkirkan. Melainkan demi kedua anak tercintanya agar kelak mereka tidak mengalami apa yang Barnum kecil alami.

Sekilas The Greatest Showman (2017) terihat seperti sebuah film yang fokusnya berbicara mengenai perbedaan dan kesetaraan. Ahhh, tidak hanya itu, ternyata film ini berbicara pula mengenai keluarga :). Pada akhirnya semua kekayaan dan ketenaran itu tidak akan berarti tanpa keluarga.

Film ini memang memiliki beberapa konflik yang berpotensi untuk diolah tapi The Greatest Showman (2017) nampak kurang mendramatisir konflik-konflik tersebut. Semua nampak seperti anti klimaks yang hanya lewat sesaat.

Beruntung nyanyian dan sinematografi The Greatest Showman (2017) terbilang bagus dan memukau. Sepanjang film, saya seperti melihat sebuah pertunjukan yang sangat menyenangkan dan mengharukan. Sountrack film ini patut diacungi jempol deh pokoknya. Saya saya yang kurang suka dengan drama musikal, ikhlas untuk memberikan The Greatest Showman (2017) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Rasanya inilah salah satu film musikal terbaik yang pernah saya tonton.

Penilaian saya sebagai masyarakat awam, bertolak belakang dengan penilaian mayoritas kritikus film. Ketika The Greatest Showman (2017) baru dirilis, film ini langsung mendapatkn ulasan negatif karena terdapat beberapa kekurangan dalam special effect dan detail penarinya. Kekurangan yang fatal adalah kepalsuan dari cerita yang di angkat. Belakangan saya baru mengetahui bahwa Barnum ternyata memang benar-benar pernah ada. Sejarah mencatat bahwa Barnum merupakan politikus dan pebisnis yang berhasil menjadi raja sirkus di era tahun 1800-an. Menurut sejarah, Barnum di kehidupan nyata tidak sebersih Barnum pada The Greatest Showman (2017). Pada kenyataannya Barnum asli diduga melakukan eksploitasi terhadap orang-orang yang pada tahun 1800-an dianggap aneh. Ia dikenal sebagai seorang pebisnis yang bersedia melakukan apapun demi uang. The Greatest Showman (2017) dianggap mencuci dan mensucikan dosa-dosa Barnum di muka umum.

Terus terang saya yang kurang teliti ini tidak melihat kesalahan penari atau special effect yang buruk, semua nampak baik-baik saja :). Saya sendiri lebih memilih untuk menganggap The Greatest Showman (2017) sebagai film yang tidak dibuat berdasarkan kisah nyata. Toh kisah Barnum pada film ini memang jauh melenceng dari kisah hidup asli Barnum, mulai dari masa kecilnya sampai masa kejayaannya. Andaikan nama karakter utama The Greatest Showman (2017) diganti menjadi Asep, Ucok atau Joko, penilaian saya tidak akan berubah. Kesalahan film ini adalah menggunakan nama Barnum sebagai karakter utamanya.

Sumber: family.foxmovies.com/movies/the-greatest-showman

Coco (2017)

Coco

Coco (2017) merupakan film animasi produksi Pixar yang banyak direkomendasikan oleh teman-teman saya. Melihat trilernya, saya menduga bahwa film ini pasti hanya berkisah mengenai seorang anak bernama Coco yang pergi ke dunia lain untuk belajar musik dari almarhum ayahnya. Setelah menonton Coco (2017), saya baru menyadari bahwa saya salah besar, offside jauuuuuh :’D.

Kejutan pertama yang saya dapatkan dari Coco (2017) hadir di awal film. Tokoh utama dari film ini ternyata bukan Coco tapi Miguel Rivera (Anthony Gonzalez). Lhah kalau begitu, siapa Coco itu? Coco Rivera adalah buyut Miguel yang sudah mulai pikun. Dahulu kala, keluarga Rivera merupakan keluarga yang gemar akan musik sampai pada suatu hari, ayah Coco pergi bermusik dan tak pernah kembali. Mendiang ibunda Coco menganggap bahwa ayah Coco lebih memilih musik, dibanding keluarganya sendiri. Mulai saat itulah keluarga Rivera yang gemar akan musik berubah 180 derajat menjadi anti sekali terhadap musik.

Coco

Coco

Tinggal di tengah-tengah keluarga yang benci musik, tidak mengurangi kecintaan Miguel Rivera akan musik. Diam-diam Miguel memiliki bakat terpendam di bidang musik, yang hendak ia tampilkan pada sebuah festival bakat. Karena tidak memiliki alat musik, Miguel mencuri sebuah gitar dari makam seorang pemusik legendaris, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Malang, Miguel kemudian terjebak di alam kematian karena telah mencuri barang milik orang yang sudah meninggal di hari kematian atau dia de los muertos.

Coco

Coco

Apa itu hari kematian? Hari kematian diperingati pada akhir Oktober dan awal November untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Penduduk Meksiko biasa merayakan hari kematian dengan berpawai, berkumpul bersama keluarga, mendatangi makam keluarga dan memasang foto-foto anggota yang keluarga yang sudah meninggal. Konon, di hari kematian, seseorang yang sudah meninggal akan datang ke rumah yang memasang foto mereka. Nah, dari semua foto keluarga yang ada di rumah Miguel, hanya foto ayah Coco saja yang hilang, dirobek sebagian. Melihat dari robekan foto yang tersisa, Miguel menduga bahwa Ernesto de la Cruz merupakan ayah Coco.

Coco

Coco

Coco

Di alam kematian, Miguel berkelana untuk mencari Ernesto. Kenapa? Karena untuk kembali ke dunia orang hidup, Miguel harus menerima restu dari keluarganya yang hidup di alam kematian. Sayangnya, semua famili Miguel yang tinggal di alam kematian, hanya bersedia memberikan restu asalkan Miguel bersumpah tidak akan bermain musik lagi. Kenapa kok Miguel tidak melakukan sumpah palsu saja? Sumpah di dunia kematian bukanlah sumpah yang dapat dilanggar karena dapat berakibat fatal. Maka, yaaa sepertinya memang hanya Ernesto-lah famili Miguel yang tidak akan memberikan persyaratan seperti famili-famili Miguel lainnya.

Coco

Coco

Coco

Di tengah-tengah perjalannya, Miguel didampingi oleh seekor anjing dan Hector (Gael Garcia Bernal). Hector mengaku bahwa ia mengenal Ernesto dan bersedia mengantarkan Miguel sebelum hari kematian berakhir. Apabila Miguel belum kembali setelah hari kematian berakhir, Miguel alam menjadi penghuni tetap alam kematian. Apa yang Hector dapatkan dari Miguel? Hector hanya ingin agar Miguel memasang foto Hector setelah Miguel kembali ke alam kehidupan sehingga Hector dapat berkunjung. Hector sudah lama sekali tidak melihat alam kehidupan karena tidak ada seorangpun yang memasang fotonya.

Coco

Coco

Coco

Coco

Aaahhh motif Hector yang sebenarnya ternyata cukup mengharukan, sebuah kejutan dari beberapa kejutan yang saya temui ketika menonton Coco (2017). Diluar dugaan, Coco (2017) ternyata sarat akan kejutan yang dapat membuat penontonnya tercengang dan terharu. Film ini benar-benar bagus ceritanya, tidak monoton dan tidak mudah ditebak arahnya.

Sayang, tidak ada satupun lagu yang saya suka dari beberapa lagu yang dinyanyikan sepanjang film diputar. Padahal Coco (2017) bercerita mengenai pemusik ya, jadi wajar kalau banyak adegan bernyanyinya. Mungkin kuping saya kurang cocok dengan lagu-lagu latin dan semi latin yang dinyanyikan, toh Coco (2017) berhasil memperoleh nominasi sebagai film dengan soundtrack terbaik pada Golden Globe hehehehe.

Pemusik, musik, gitar, bernyanyi …. hal itu memang seakan menjadi tema Coco (2017). Padahal semakin lama ditonton, akan terlihat bahwa Coco (2017) bukan bercerita mengenai musik. Coco (2017) berbercerita mengenai keluarga, musik hanyalah pengantar saja. Saya rasa Coco (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Cocooklah dijadikan tontonnam bersama keluarga di hari libur ;).

Sumber: movies.disney.com/coco

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

Whiplash (2014)

Whiplash1

Whiplash adalah lagu yang sering dimainkan oleh sebuah band jazz dari sekolah musik Shaffer Conservatory pada Whiplash (2014). Pada setiap sesi latihan band tersebut, Whiplash selalu dimainkan dengan detail yang sangat teliti sesuai dengan arahan seorang komposer ternama yang galaknya amit-amit jabang baby, Terence Fletcher (J. K. Simmons). Fletcher menekan dan mengasari seluruh anggota band tersebut demi memperoleh hasil yang maksimal dari masing-masing anak didiknya, terlebih lagi mereka akan mengikuti sebuah kompetisi musik jazz.

Whiplash10

Whiplash8

Andrew Neiman (Miles Teller) merupakan murid Shaffer yang ambisius dan sangat berbakat menabuh drum. Fletcher pun merekrut Andrew sebagai drummer baru bandnya. Bukan perlakuan baik yang Andrew terima, melainkan perlakuan tidak mengenakkan yang ia terima ketika Andrew bergabung dengan band tersebut. Fletcher semakin keras memperlakukan Andrew karena ia melihat potensi Andrew yang sangat besar. Tapi masalahnya sejauh mana Andrew tahan akan cara Fletcher mendidiknya? Kesabaran orang ada batasnya lho ;).

Whiplash2

Whiplash5

Whiplash6

Whiplash4

Whiplash7

J. K. Simmons berhasil menghidupkan karakter Fletcher yang garang, keras dan agak sedikit psycho. Walaupun akting Miles Teller tidak semenonjol J.K. Simmons, saya lihat karakter Andrew dan Fletcher tetap mampu tampil dominan pada Whiplash (2014), padahal sebenarnya aktor pada Whiplash (2014) bukan hanya Milles dan Simmons saja. Sepanjang film saya melihat perubahan hubungan Fletcher-Andrew dari guru-murid menjadi kucing-tikus, kemudian menjadi pembimbing-“the next Buddy Rich” :). Walaupun bagian akhirnya seperti dipotong, saya tetap melihat hasil akhir dari seluruh latihan yang Andrew jalani.

Whiplash3

Mungkin Whiplash (2014) bukan berasal dari genre film favorit saya tapi saya tetap dapat menikmati film tersebut. Terdapat daya tarik bagi saya untuk terus mengikuti jalan cerita Whiplash (2014). Film yang berdurasi 106 menit ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Takheran Whiplash (2014) memenangkan 3 penghargaan pada ajang Academy Awards ke-87.

Sumber: www.whiplash-movie.net

Minions (2015)

Minions 1

Pada film animasi Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) terdapat karakter mahluk-makluk kuning mungil yang agak konyol dan gila tingkahnya, minion namanya. Saya sering tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka :D. Maka saya sudah memasukkan Minions (2015) ke dalam daftar film yang akan saya tonton sejak awal tahun ini :D.

Pada Minions (2015) dikisahkan bahwa minion-minion sudah ada sejak zaman prasejarah. Mereka selalu hidup menghamba kepada mahluk paling jahat yang mereka temui. Sayang tingkah para minion justru sering merugikan tuan mereka sehingga mereka sering kali kehilangan tuan yang mereka layani.

Minions 2

Hal ini terus terjadi berulang-ulang hingga tibalah suatu masa dimana para minion hidup di dalam gua, tanpa tuan yang mereka layani. Tak lama mereka merasakan kehampaan dalam hidup mereka. Minion memang tidak dapat hidup tanpa tuan yang dapat mereka layani.

Untuk menanggulangi masalah ini akhirnya 3 minion yang bernama Kevin, Stuart & Bob (Pierre Coffin) pergi keluar dari gua untuk mencarikan seorang tuan yang jahat untuk mereka layani. Perjalanan ketiga minion ini mempertemukan mereka dengan Scarlet Overkill (Sandra Bullock), penjahat ternama yang sedang naik daun. Apakah Scarlet mampu menjadi tuan bagi para minion? Melihat tingkah-tingkah minion sebelumnya, seperti tidak. Karakter Gru pada Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) memang sudah paling pantas untuk menjadi tuan bagi minion-minion :).

Minions 6

Minions 4

Minions 9

Minions 3

Minions 5

Minions 7

Minions 8

Kekonyolan para minion pada Minions (2015) memang mampu menghibur saya. Tingkah mereka masih tetap gila, tapi tingkah gila dan orientasi minion pada kejahatanlah yang membuat Minions (2015) tidak pantas untuk ditonton oleh anak-anak. Namun cerita Minions (2015) terlalu aneh, terlalu menghayal dan agak sederhana sehingga rasanya orang dewasa tidak akan terlalu suka dengan ceritanya. Berhubung Minions (2015) masih mampu menghibur saya, maka Minions (2015) masih mampu tuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”, tidak sebagus Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013) v(^_^)v.

Sumber: http://www.minionsmovie.com

Big Hero 6 (2014)

Big Hero 6 1Trailer film Big Hero 6 (2014) sudah sering diputar setiap pertunjukkan di bioskop yang akan saya tonton akan dimulai. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya film animasi yang konon diambil dari salah satu komik Marvel ini akhirnya hadir di Indonesia :). Beberapa tahun yang lalu, Disney membeli hak cipta Big Hero 6 dari Marvel untuk dibuat film versi layar lebarnya. Tapi jangan berharap untuk bertemu dengan Iron Man atau X Man sebab Disney melakukan beberapa modifikasi terhadap latar belakang sebagain besar karakter termasuk latar belakang kota tempat kejadian-kejadian yang terjadi pada film Big Hero (2014) terjadi. Big Hero (2014) mengambil latar sebuah kota fiksi yang merupakan kombinasi antara Tokyo & San Francisco, kota khayalan yang cukup keren menurut saya :). Hal-hal inilah yang membuat Big Hero 6 (2014) versi film akan berbeda dengan Big Hero versi komik, komik yang saya pribadi belum pernah baca. Komik Big Hero 6 memang tidak populer di Indonesia sehingga saya pribadi tidak memiliki masalah dengan perbedaan yang hadir pada Big Hero (2014).

Big Hero 6 16 Big Hero 6 18

Pada Big Hero (2014), dikisahkan bagaimana Hiro Hamada (Ryan Potter), seorang anak jenius yang sudah lulus SMA pada usia 13 tahun, berusaha masuk ke dalam San Fransokyo’s Institute of Technology. San Fansokyo Agar Hiro dapat diterima di Universitas tersebut, Hiro harus memperagakan hasil karyanya yang terbaru pada sebuah acara eksebisi yang diadakan oleh pihak Universitas. Pada acara tersebut, Hiro berhasil mempesona tim juri yang dipimpin oleh Profesor Robert Callaghan (James Cromwell) beserta seluruh pengunjung eksebisi. Hiro menampilkan robot nano yang dapat dikendalikan oleh pikiran. Dengan peragaan yang spektakuler tersebut, Hiro akhirnya lolos dan mendapatkan surat penerimaan langsung dari Profesor Callaghan setelah Hiro turun dari panggung. Sayang, ketika Hiro akan pulang dan merayakan keberhasilannya bersama teman-temannya, terjadi kebakaran yang meledakkan ruangan eksebisi. Bukan hanya robot nano Hiro yang hangus terbakar, tapi kakak Hiro dan Profesor Callaghan pun masih ada di dalam ruangan eksebisi ketika ruangan tersebut meledak.

BIG HERO 6

Hiro kaget bukan main ketika beberapa minggu setelah kebakaran tersebut terjadi, ada sesosok manusia bertopeng kabuki misterius yang memiliki jutaan robot nano, robot nano ciptaan Hiro yang seharusnya sudah hancur terbakar pada kecelakaan di gedung eksebisi. Manusia bertopeng tersebut pasti meledakaan ruangan eksebisi untuk mencuri robot ciptaan Hiro. Berhubung ledakan tersebut juga merenggut kakak satu-satunya Hiro, Hiro menjadi sangat termotivasi untuk melacak keberadaan manusia bertopeng tersebut.

BIG HERO 6

Big Hero 6 15

Tidak mungkin anak kecil berusia belasan tahun dapat melacak manusia misterius tersebut sendirian. Hiro mendapat bantuan dari Baymax (Scott Adsit), robot putih gendut yang diprogram untuk menolong oleh almarhum kakak Hiro. Baymax pulalah yang awalnya berhasil membuat Hiro bangkit, bangkit dari kesedihan karena ditinggal kakak satu-satunya. Karena perjalanan yang akan Hiro tempuh penuh bahaya, maka Hiro memasukkan program bela diri kepada Baymax, selain itu Hiro juga melengkapi baymax dengan kostum dan persenjataan yang canggih.

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

Big Hero 6 14

BIG HERO 6

Dalam perjalanannya Hiro & Baymax juga bertemu dengan teman-teman almarhum kakak Hiro yang sekarang telah menjadi teman sekampus Hiro di Universitas yaitu Fred (T. J. Miller), Gogo Tomago (Jamie Chung), Wasabi (Damon Wayans) dan Honey Lemon (Génesis Rodríguez). Keempat teman baru Hiro pun dilengkapi dengan berbagai alat canggih. Lengkap sudah keenam anggota superhero Big Hero 6.

BIG HERO 6Big Hero 6 13

Big Hero 6 22

Big Hero 6 20

Big Hero 6 17

Big Hero 6 24

Saya melihat peranan Hiro & Baymax lebih dominan dibandingkan peranan anggota Big Hero 6 lainnya. Keduanya menunjukkan bagimana sahabat saling tolong baik disaat senang maupun disaat susah. Kalau ditanya siapa karakter favorit saya dalam Big Hero (2014), pastilah Baymax jawabnya. Tingkah konyolnya berhasil mengocok perut para penonton. Sayang, sebagian besar tingkah Baymax sudah ditampilkan pada trailer yang beberapa kali saya tonton. Walaupun tetap lucu, relatif tidak banyak adegan lucu yang benar-benar baru ketika saya pertama kali menonton Big Hero (2014) kemarin.

BIG HERO 6

Big Hero 6 23

Big Hero 6 12

Dari segi cerita, Big Hero (2014) sangat mudah ditebak dan sangat sederhana. Dari awal film pun saya sudah dapat menebak siapakah manusia bertopeng kabuki yang mencuri robot nano Hiro. Alur ceritanya memang bagus tapi tidak sebagus yang saya harapkan. Secara keseluruhan, Big Hero 6 (2014) layak untuk mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film yang cocok untuk ditonton bersama-sama dengan keluarga besar ;).

Sumber: movies.disney.com/big-hero-6