Serial The Legend of the Condor Heroes Versi 2017

Ketika masih kecil dulu, saya suka menonton film kungfu. Saya masih belum mengerti istilah wuxia pada saat itu. Singkat kata, wuxia merupakan film-film tiongkok yang menunjukkan pertarungan ilmu bela diri dengan kekuatan meringankan tubuh, ilmu tenaga dalam dan hal-hal lainnya yang bersifat fantasi. Petualangan tokoh Guo Jing pada The Legends of the Condor Heroes adalah salah satu serial wuxia yang saya coba ikuti. Namun karena penayangannya agak malam, saya sering ketiduran, ahhh susahnya.

Sebenarnya serial wuxia tersebut merupakan adaptasi dari serial novel yang ayah saya baca. Beliau memiliki serial novel-novel berbentuk kecil karangan Jin Yong atau Louis Cha Leung-yung. Novel The Legend of the Condor Heroes merupakam salah satunya. Novel ini memang merupakan bagian pertama dari trilogi condor karangan Luois yang terbit di tahun 50-an.

Kepopuleran novel tersebut membuat beberapa rumah produksi membuat adaptasi The Legend of the Condor Heroes ke dalam bentuk film seri dan film layar lebar. Untuk film serinya saja novel tersebut pernah diadaptasi berkali-kali yaitu pada tahun 1976, 1983, 1988, 1992, 1993, 1994, 2003, 2008 dan 2017. Yaitsss, sering sekali yah. Kisah ini sepertinya memang sudah sangat melekat dengan masyarakat tiongkok.

Kisah The Legend of the Condor Heroes yang saya ikuti ketika masih kecil dulu, terpotong-potong, tidak komplit. Maka saat ini saya ingin menonton lengkap sampai akhir, tapi saya lupa yang dulu saya tonton di RCTI itu versi tahun berapa. Ahhh, daripada bingung saya lebih memilih untuk menonton versi yang lebih baru saja. Kali ini saya memilih untuk menonton yang versi tahun 2017. Konon versi ini memenangkan penghargaan dan didukung oleh teknologi terkini. Katany sih terkini. Semoga lebih bagus ketimbang naga-naga-an sinetron silat Indosiar :’D.

Yang namanya adaptasi, kadang tidak 100% sama dengan versi novelnya. Saya tidak masalah dengan hal itu. Toh Louis sendiri melakukan 2 kali revisi untuk versi novelnya. Revisi yang konon membuat cerita berubah. Aneh juga ya, novel kok direvisi, memangnya skripsi :P.

Mirip seperti di novelnya, peristiwa pada The Legend of The Condor Heroes terjadi di era pertikaian antara Dinasti Jin dengan Dinasti Song. Dinasti Jin merupakan kerajaan dari bangsa Jurchen yang berasal dari wilayah Manchuria, saat ini separuh masuk RRC bagian utara dan separuh lagi masuk Rusia. Sementara itu dinasti Song merupakan kerajaan dari bangsa Han. Saat ini, Han adalah bangsa atau suku yang menjadi mayoritas penduduk RRC (republik Rakyat Cina). Apakah dengan demikian, film seri ini akan condong memihak kepada Dinasti Song?

Kita mulai dahulu dari awal. Kisah diawali ketika 2 keluarga keturunan pendekar hebat tinggal sebagai petani biasa di desa terpencil. Keluarga Yang dan Guo memiliki hubungan yang sangat dekat. Ketika istri dari kedua keluarga sama-sama hamil, maka mereka melakukan perjanjian. Bila yang lahir adalah lelaki dan wanita maka akan dijodohkan, bila yang lahir sama jenis kelaminnya maka akan diangkat menjadi saudara.

Baik keluarga Yang maupun keluarga Guo, mereka merupakan warga Song yang tinggal di wilayah Dinasyi Jin. Pada saat itu Dinasti Jin memang sedang unggul dan berhasil mengambil beberapa wilayah Song, termasuk desa tempat keluarga Guo dan Yang tinggal. Secara mengejutkan, kedua keluarga tersebut dinyatakan sebagai pemberontak tanpa bukti yang jelas. Tentara Dinasti Jin pun datang memburu kedua keluarga tersebut hingga mereka tercerai-berai. Semua terpencar dan terpisah-pisah. Hal ini mempengaruhi anak dari kedua keluarga tersebut. Masing-masing dibesarkan oleh cara dan keadaan yang sangat berbeda.

Anak dari keluarga Yang bernama Yang Kang (Chen Xingxu). Ia dibesarkan oleh pangeran keenam dinasti Jin sebagai bangsawan dinasti Jin yang kaya raya dan sangat berkuasa. Ia memiliki konflik di dalam dirinya karena secara darah ia adalah keturunan Song, tapi orang yang sudah membesarkannya adalah seorang musuh besar dari Song. Yang Kang sendiri memiliki sifat yang licik, kejam dan labil. Namun ia terbilang cerdas dan sangat berbakat. Dengan menggunakan kekuasaannya, ia berhasil berguru pada berbagai ahli beladiri ternama. Pada serial ini, perlahan saya melihat transformasi yang terjadi pada Yang Kang.

Sementara itu anak dari kelurga Guo adalah Guo Jing (Xuwen Yang). Bertolak belakang dari Yang Kang, Guo Jing justru dibesarkan di tengah-tengah gurun pasir dalam keadaan yang sangat sederhana. Sifat pendekar sejati sangat melekat pada diri Guo Jing. Ia jujur, baik hati, suka menolong dan setia kawan. Sayangnya Guo terlalu polos dan kurang cerdas. Beruntung kekurangan tersebut berhasil ditutupi oleh budi baiknya. Berbagai kebaikan yang ia lakukan berhasil membuat banyak orang kagum. Ia pun memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari berbagai ilmu beladiri terkuat yang ada. Tak hanya itu, Guo pun terjebak di dalam cinta segitiga antara ia, putri raja Mongol, dan putri seorang ahli beladiri ternama. Semua terpukau dengan sifat baik yang Guo miliki.

Apapun yang terjadi, Guo hanya mengganggap sang putri Mongol sebagai adik. Ia hanya mencintai putri seorang ahli beladiri ternama yang bernama Huang Rong (Li Yitong). Nona Huang bisa jadi merupakan wanita terpintar di serial ini. Kejeniusannya sering kali berhasil menuntaskan konflik yang ada. Ia rela melakukan apapun demi Guo Jing. Berbagai taktik cerdas ia lakukan demi mendukung Guo. Putri raja Mongol memang baik hati, memiliki harta dan kekuasaan. Namun Huang Rong mampu membantu Guo menguasai berbagai ilmu beladiri dan staretegi perang. Tak hanya itu, berbagai misteri pada serial ini pun sering kali dipecahkan oleh Huang Rong.

Siapakaha Huang Rong sebenarnya? Ia adalah putri semata wayang dari Huang Yaoshi Si Sesat dari Timur (Michael Miu). Ia adalah salah satu dari 5 pendekar terkuat di era Dinasti Song. Bersama dengan Huang, dunia bela diri mengenal Hong Qigong Si Pengemis Utara (Zhao Lixin), Duan Zhixing Si Kaisar Selatan (Ray Lui), dan Ouyang Feng Si Racun Barat (Heizi). Mereka berlima merupakan merupakan pendekar terkuat yang mulai menua dan mengalami perubahan dalam menjalani hidup.

Perkelahian tentunya mewarnai setiap episode serial The Legend of the Condor Heroes. Adegan perkelahiannya tidak ada yang membosankan. Semua karena durasinya yang pas dan makna dibalik perkelahian tersebut. Jadi bukan hanya asal pukul tendang saja. Ada hubungannya dengan plot atau jalan cerita yang kuat.

Saya suka dengan cara serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini bercerita. Serial ini memiliki banyak sub plot yang tidak membosankan sebab sub plotnya selalu sedikit berhubungan dengan plot utama. Kemudian plot utamanya dibuat sedikit terpisah sehingga ada jeda. Dengan demikian, tidak semua episode diakhiri oleh konflik yang menggantung. Selain itu, setiap sub plot dan bagian utama dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki kandungan misteri. Jadi, akan ada sesuatu yang membuat saya penasaran tapi tidak monoton.

Karakter Huang Rong sering kali menjadi faktor penentu dalam memecahkan misteri yang ada. Yang paling epik adalah, Huang Rong mampu membuat lawannya saling bertikai sekaligus membersihkan nama keluarganya, hanya dengan modal bicara saja.

Ilmu bela diri Huang Rong tentunya berada di bawah Guo Jin. Tapi semua kemampuan Guo ia peroleh berkat Huang yang cinta mati dengan Guo. Saya menikmati kisah bagaimana perkembangan Guo yang bodoh, perlahan-lahan memiliki ilmu bela diri yang kuat. Dari yang awalnya hanya anak kecil biasa dari padang pasir, tumbuh menjadi salah satu pendekar terkuat di era Dinasti Song.

Sayang, tidak ada pertarungan maha dahsyat antara protagonis dan antagonis pada akhir film ini, sangat berbeda dengan versi lain yang saya tonton dulu. Perkelahian yang seru justru terjadi di pertengahan serial ini berjalan. Bagian akhir serial ini diselesaikan dengan perbincangan dan negosiasi. Jangan harap untuk melihat banyak peperangan kolosal antara Dinasti Song, Jin & Mongol. Saya memiliki kesan, kok penyesaiannya seolah dibuat terburu-buru. Masih banyak ruang untuk cerita-cerita lainnya. Mungkin ini disebabkan karena pengembangan cerita berikutnya akan melibatkan melibatkan banyak orang dan special effect. Ketika harus menggunakan green screen, special effect serial ini memang hanya setingkat di atas special effect serial silat Indonesia. Hasilnya kurang halus, tidak seperti serial-serial papan atasnya Amerika. Untunglah special effect green screen tidak terlalu banyak. Yaaah intinya sih penghematan mungkin ya. Atau mereka ingin menunjukkan bahwa tidak semua pertikaian harus diselesaikan dengan jalan kekerasan, cie ciee. Ah saya tidak tahu alasan pastinya.

Awalnya, saya pikir semua plot utama mengarah ke peperangan kolosal yang menunjukkan kejayaan Dinasti Song. Ternyata saya salah. Nama Guo Jing dan Yang Kang memiliki makna bahwa keduanya diharapkan tetap setia kepada Song sebagai kampung halamannya. Setia di sini ternyata setia kepada warga Dinati Song, buka pejabat atau rajanya. Di sana dikisahkan bahwa baik Song, Jin, dan Mongol, masing-masing memiliki keburukan. Guo Jing dan kawan-kawan hanya berpihak kepada kemanusiaan. Mereka hanya menginginkan perdamaian….

Bagian akhir yang agak antiklimaks dan sedikit mengecewakan, tetap dapat ditutupi oleh kisah yang bagus dan adegan perkelahian yang seru. Dengan demikian serial The Legend of the Condor Heroes versi 2017 ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Pada awalnya, saya menonton The Legend of the Condor Heroes versi 2017 sebari menunggu 2 episode terakhir serial Loki yang saya tunggu-tunghu. Terimkasih kepada The Legend of the Condor Heroes versi 2017, semua itu teelewatkan. Saya telat seminggu lebih menonton serial Loki karena penasaran dengan kisah Guo Jing dan kawan-kawan :’D.

Sumber: http://www.huacemedia.com/television/movieInfo/16.html

Onward (2020)

Onward (2020) adalah film animasi keluaran Disney yang … akhirnya memiliki pria sebagai tokoh utamanya :’D. Yaaah, coba lihat saja, akhir-akhir ini Disney rajin menetaskan film animasi dengan tokoh utama seorang putri atau pejuang wanita. Memang sih ada campur tangan Pixar pada Onward (2020), tapi tetap .. akhirnya tokoh utamanya mas-mas, bukan mbak-mbak terus :).

Latar belakang film animasi yang satu ini adalah dunia dongeng yang dihuni oleh, peri, naga, kurcaci, faun, cyclop, maticore, goblin dan berbagai mahluk dongeng lainnya. Pada awalnya mereka hidup berdampingan dengan sihir beserta hal-hal fantasi lainnya. Namun bagaimana ketika mahluk-mahluk dongeng tersebut semakin lama semakin berkembang? Ilmu pengetahuan mereka semakin tinggi hingga akhirnya mereka mampu memiliki berbagai teknologi dan sistem yang modern. Sihir pun telah menjadi masa lalu dan terlupakan begitu saja.

Namun di tengah-tengah hingar bingar dunia dongeng yang sudah modern, terdapat Barley Lightfoot (Chris Pratt) yang masih percaya bahwa sihir itu ada. Barley memiliki pengethuan yang luas akan sihir dan berbagai legenda yang meliputinya. Namun ternyata bukan Barley yang berhasil membangkitkan sihir. Adik Barley, yaitu Ian Lightfoot (Tom Holland) justru ternyata memiliki kemampuan sihir. Ian yang memiliki masalah kepercayaan diri, berhasil menggunakan sebuah tongkat sihir untuk membangkitkan mendiang ayah mereka. Sayang Ian hanya mampu mengembalikan bagian bawah sang ayah. Dari sini, Barley & Ian berkelana demi membangkitkan tubuh ayah mereka dengan lengkap.

Hubungan kakak adik yang renggang, menjadi semakin erat akibat petualangan ajaib tersebut. Di sana, Ian belajar untuk lebih percaya diri dan lebih menyayangi Barley. Semua tingkah yang Barley lakukan selama ini ternyata ia lakukan untuk memberikan figur ayah bagi Ian. Sebuah akhir yang mengharukan dan bagus sekali.

Onward (2020) berhasil memberikan cerita yang lumayan menarik dengan berbagai pesan moral yang bagus sekali. Saya rasa Onward (2020) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.pixar.com/onward

Monster Hunter (2021)

Paul William Scott Anderson adalah sutradara asal Inggris yang sudah beberapa kali membuat film berdasarkan video game. Tanpa saya sadari, Resident Evil adalah salah satunya. Franchise film Resident Evil ternyata sudah beberapa kali menggunakan jasa Anderson, termasuk seri terakhirnya, Resident Evil: The Final Chapter (2016).

Milla Jovovich sebagai pemeran utama film-filmnya Resident Evil, diangkut oleh Anderson ke Monster Hunter (2021). Pasangan suami istri tersebut kembali membuat film berdasarkan sebuah video game besutan Capcom. Saya pernah bermain Monster Hunter di PSP. Selain pakaian dan bentuk monsternya, tidak ada yang menunjukkan bahwa Monster Hunter (2021) merupakan versi film dari video game Monster Hunter. Ceritanya dibuat agak berbeda dan sepertinya ada kesengajaan agar Monster Hunter (2021) dapat melahirkan sekuel-sekuel seperti Resident Evil (2002).

Dikisahkan bahwa Kapten Artemis (Milla Jovovich) dan pasukannya, tidak sengaja masuk ke dalam sebuah dunia lain. Dunia dimana terdapat monster berukuran jumbo di mana-mana, inilah dunia Monster Hunter. Setelah kehilangan semua anak buahnya, Artemis bertemu dengan seorang pemburu yang diperankan oleh Tony Jaa. Sangat klise, kedua tokoh utama, pada awalnya saling serang. Kemudian pada akhirnya mereka harus bekerja sama. Perbedaan antara Artemis dan Sang Pemburu pun dijadikan sebagai bahan humor. Sesuatu yang klise pula, dan gagal. Humornya terbilang garing kering krontang.

Beruntung special effect Monster Hunter (2021) terbilang bagus. Dunia yang dihadirkan pun nampak nyata dan berhasil mendukung adegan aksi yang … biasa, hehehehe. Maaf, tapi tanpa special effect yang mahal, adegan aksinya memang terbilang standard. Special effect adalah yang membuat film ini mampu menghasilkan hiburan ringan yang lumayan bagus.

Cerita dan karakter yang klise yang dangkal, masih terselamatkan oleh berbagai adegan aksi yang mendominasi sebagian besar film. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Monster Hunter (2021) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/monsterhunter

Raya and the Last Dragon (2021)

Raya and the Last Dragon (2021) merupakan film animasi Disney terbaru yang hadir di bioskop dan media streaming eksklusif. Tokoh utamanya adalah Raya (Kelly Marie Tran) dan Sisu (Nora Lum). Raya adalah putri dari kepala suku Negeri Heart. Dahulu kala, Heart dan 4 negeri lainnya bersatu membentuk sebuah kesatuan yang disebut Kumandra. Semua berubah ketika sebuah mahluh misterius yang bernama Druun, datang dan mengubah banyak rakyat Kumandra menjadi batu. Para naga yang menjadi pelindung Kumandra tidak tinggal diam. Mereka pun rela gugur demi menghancurkan Druun. Akhirnya, kemenangan jatuh ke tangan para naga melalui sihir Sisu, naga terakhir Kumandra yang masih tersisa.

Setelah insiden tersebut, Kumandra mengalami perpecahan dan terbagi ke dalam 5 wilayah termasuk Heart, kampung halaman Raya. Beberapa tahun kemudian, perseteruan diantara 5 negeri tersebut membuat Druun hidup kembali dan menteror kelima negeri yang dahulu bersaudara. Dimanakah para naga Kumandra yang dahulu menolong mereka? Putri Raya memutuskan untuk berkelana demi mencari keberadaan Sisu, naga terakhir yang kabarnya masih hidup. Ia berharap Sisu masih memiliki kekuatan untuk kembali mengalahkan Druun.

Tanpa raya duga, kekuatan Sisu ternyata adalah kekuatan yang berasal dari persatuan, kepercayaan dan persaudaraan. Hal-hal yang saat ini sudah punah dari kelima negeri yang ada.

Raya sendiri mengalami masalah dengan yang namanya kepercayaan. Dahulu, ia pernah dihianati oleh putri negeri lain. Sehingga Raya sangat sulit percaya dengan orang yang baru ia temui. Sepanjang perjalanannya, Raya harus belajar untuk memberikan kepercayaan kepada orang lain. Bersama Sisu, ia pun banyak belajar mengenai pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Sebuah petualang epik yang berhasil disajikan dengan sangat baik oleh Disney. Berbeda dengan mayoritas putri-putri Disney lainnya, Raya tidak menyanyi. Tidak ada adegan menyanyi sedikitpub pada pertengahan film ini. Hebatnya, Disney menggantinya dengan adegan pertarungan yang keren. Raya bukanlah putri yang memiliki kekuatan sihir seperti Elsa. Namun ia mampu berkelahi dengan sangat baik. Dengan kualitas animasi di atas rata-rata untuk film keluaran tahun 2021, film ini tampak menakjubkan. Adegan perkelahian bisa jadi merupakan bagian yang paling saya suka dari Raya and the Last Dragon (2021).

Apalagi, film putri Disney yang satu ini dapat dikatakan merupakan putri Disney pertama yang berasal dari Asia Tenggara. Pada film ini, saya melihat proses pembuatan batik, keris, pencak silat, wayang, gamelan, istana ala Thailand/Vietnam, rumah gadang, rice cake Vietnam, sawah terasering dan lain-lain. Wah, akhirnya ada juga perwakilan kita di sana.

Pengisi suara kedua karakter utamanya pun merupakan keturunan Asia. Nora Lum berhasil memberikan karakter suara yang membuat Sisu nampak hidup. Naga yang konyol dan murah senyum sungguh pas sekali dengan suara Nora. Sementara itu Marrie yang keturunan Vietnam, tidak terlalu nampak menonjol. Suara Raya yang diisi oleh Marrie terbilang okelah tapi tidak sekeren apa yang Nora lakukan kepada karakter Sisu.

Salah satu hal yang saya tidak terlalu suka dari film ini sebenarnya adalah akhir yang agak antiklimaks. Kemudian, alur ceritanya agak mudah ditebak. Tapi ini dapat dipahami karena bukankah ini merupakan film keluarga? Kalau terlalu kompleks, ya sopasti penonton cilik tidak akan betah.

Berbagai kelebihan dan kekurangan di atas membuat saya ikhlas untuk memberikan Raya and the Last Dragon (2021) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ini adalah tontonan wajib di tahun 2021 ;).

Sumber: movies.disney.com/raya-and-the-last-dragon

Mortal Engine (2018)

Mortal Engine (2018) bercerita mengenai keadaan Bumi di masa depan. Semua yang kita miliki saat ini dianggap sebuah artefak dari masa lampau. Dunia yang kita temui di abad 21 ini hancur karena penggunaan energi kuantum. Dunia beserta manusianya pun mengalami perubahan gaya hidup. Manusia di masa depan harus bertahan hidup di tengah-tengah Bumi yang beracun.

Di wilayah Eropa, manusia tidak lagi tinggal di wilayah yang berdiri di atas tanah. Mereka tinggal di kota-kota yang berupa kendaraan raksasa. Kota-kota tersebut berpindah-pindah untuk berdagang dan menghindari kota-kota lain yang berniat buruk. Awalnya, Mortal Engine (2018) memberikan gambaran akan sebuah masa depan yang berbeda dan unik. Sebuah dunia yang luas, megah dan menarik untuk dilihat. Namun apakah itu cukup untuk membuat Mortal Engine (2018) tampil sebagai film yang menarik?

London adalah sebuah kota besar yang berpindah-pindah melahap kota-kota kecil yang mereka ditemui. Di kota inilah terdapat sebuah rencana besar yang dapat membuat dunia kembali hancur. Seperti biasa, tentunya terdapat beberapa tokoh protagonis yang mencoba menghentikan bencana tersebut. Sebuah jalan cerita yang sudah sering saya lihat pada film-film mengenai dunia di masa depan yang tidak sempurna.

Belum lagi terdapat sub plot yang cukup panjang dan … ternyata tidak terlalu berhubungan dengan plot utama x_x. Semuanya hanya ingin mengisahkan masa lalu si tokoh utama. Tokoh utama yang tidak terlalu saya pedulikan. Mortal Engine (2018) gagal membuat saya peduli dengan tokoh-tokoh yang mereka perkenalkan. Film ini memperkenalkan beberapa tokoh tanpa memberikan penekanan bahwa inilah tokoh yang sangat penting. Tokoh yang kalau dilihat ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap plot utama, seolah memperoleh porsi yang terlalu besar. Potensi-potensi akan konflik pun sepertinya kurang ditonjolkan dengan baik, sehingga semua hanya lewat seperti angin lalu saja.

Semuanya sedikit terselamatkan oleh latar belakang yang terlihat megah. Sebuah dunia yang nampak unik sampai …. menjelang akhir cerita. Mortal Engine (2018) sukses mempekenalkan kota-kota nomanden yang berpindah-pindah dengan mesin-mesinnya yang megah. Namun film ini gagal memperkenalkan jenis kota-kota lain yang ternyata ada di dalam cerita. Semua terasa terburu-buru dan kurang pas.

Bisa saja ini terjadi karena Mortal Engine (2018) berusaha menceritakan kisah utama pada novel Mortal Engine karangan Philip Reeve yang terdiri dari 4 buku. Bayangkan saja, 4 buku novel mau dikisahkan hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Ini bukan hal yang tidak mungkin, tapi sopasti ini bukanlah hal yang mudah.

Dahulu kala Peter Jackson pernah berhasil memfilmkan Lord of the Rings yang diadaptasi dari sebuah novel legendaris. Campur tangan Jackson dalam Mortal Engine (2018) sebenarnya sudah terlihat ketika film ini menunjukkan latar belakang yang megah dan fantastis. Namun, kehadiran Jackson yang kali ini hadir sebagai salah satu produser, gagal mengangkat Mortal Engine (2018) menjadi sebuah adaptasi novel yang menarik.

Cerita yang basi dan pendalam karakter yang kurang membuat saya tak heran kalau Mortal Engine (2018) gagal di tanggal Box Office. Maaf seribu maaf, Mortal Engine (2018) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film yang kurang ok, bukan berarti novelnya juga kurang ok loh. Keempar seri novel Mortal Engine berhasil memenangkan berbagai penghargaan loh. Berbanding terbalik dengan versi filmnya.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/mortal-engines

Da 5 Bloods (2020)

Beberapa minggu yang lalu, terjadi peristiwa berdarah berbau rasial nun jauh di Amerika sana. Mungkin teman-teman sudah pernah membaca bagaimana kematian George Floyd membuahkan demonstrasi di penjuru Amerika. Kasus tersebut di nilai berbau diskriminasi kepada orang-orang berkulit hitam dan berhasil semakin mempopulerkan gerakan “Black Lives Matters”. Gerakan ini merupakan buah dari diskriminasi rasial warga Amerika berkulit hitam atau Afro-Amerika, yang terjadi sudah sejak lama sekali.

Kehadiran Da 5 Blood (2020) terasa relevan dengan kondisi saat ini. Film karya Spike Lee ini berbicara lantang mengenai diskriminasi yang dialami oleh warga Amerika berkulit hitam di era Perang Vietnam. Spike Lee yang juga merupakan sutradara Amerika berkulit hitam seolah ingin membeberkan berbagai kenyataan pahit yang terjadi pada saat perang Vietnam berlangsung.

Mirip seperti beberapa film Spike sebelumnya, Da 5 Blood (2020) memberikan sedikit cuplikan dan foto terkait kejadian yang benar-benar terjadi. Saya rasa hanya satu atau dua saja yang terlihat sadis, tapi hal itu cukup untuk membuat saya teringat bahwa Da 5 Blood (2020) bukanlah film keluarga.

Aw kenapa film keluarga? Bagian awal Da 5 Blood (2020) membuat saya mengira bahwa film ini hanya akan mengisahkan nostalgia dan kekeluargaan diantara veteran perang Vietnam berkulit hitam. Dikisahkan bahwa terdapat 4 veteran perang Vietnam yang datang kembali ke Vietnam untuk mengambil jasad kawan mereka. Itulah mengapa judul film ini Da 5 Blood. Yang dimaksud dengan 5 Blood ada 5 prajurit Amerika berkulit hitam yang berpuluh-puluh tahun lalu bertempur bersama di Vietnam. Sayang pimpinan mereka gugur, dan keempat prajurit yang tersisa hanya dapat mundur dan menyelamatkan diri.

Belakangan keempat veteran tersebut ternyata memiliki motif lain, yaitu mencari emas batang yang dahulu mereka simpan di tengah hutan. Yaaah, mengambil jasad sekaligus mengambil emas :).

Di sana terlihat bahwa masing-masing individu memiliki masalah masing-masing yang dapat memicu konflik internal. Emas dan harta memang dapat mempengaruhi seseorang. Belum lagi terdapat karakter-karakter lain yang baru berdatangan di pertengahan cerita. Seketika Da 5 Blood (2020) seakan berubah menjadi film petualangan perburuan harta karun yang menguji persahabatan di antara tokoh-tokoh utama.

Diskriminasi dan konflik internal yang mereka alami memang menjadi topik utama Da 5 Blood (2020). Namun saya lihat ada 1 pesan lagi yang film ini coba angkat. Keberadaan ladang ranjau di wilayah bekas perang, masih terus memakan korban. Banyak korban kehilangan organ tubuhnya akibat ranjau. Yang lebih memilukan lagi adalah apabila korbannya merupakam anak-anak kecil yang tak berdosa.

 

Da 5 Blood (2020) berhasil menyampaikan berbagai pesan dengan baik, rapi dan tidak membosankan. Film ini berhasil membuat saya tertarik untuk mengikuti ceritanya sampai habis. Saya rasa pesan yang Spike Lee coba sampaikan, cukup mengena. Banyak hal-hal yang mengenai perang Vietnam yang baru saya ketahui, terutama terkait peranan tentara Amerika berkulit hitam di sana. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/81045635

Terminator: Dark Fate (2019)

The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa dikatan sebagai karya James Cameron terbaik yang pernah saya tonton. Sayang, sepeninggal James Cameron, kualitas film-film terminator selanjutnya semakin menurun seperti pernah saya bahas pada Terminator Genisys (2015). Terminator 3: Rise of Machine (2003) dan Terminator Salvation (2009) seakan berusaha meneruskan cerita yang sudah dirangkai pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Semuanya mengikuti alur dimana pada suatu masa di masa depan, terdapat sebuh sistem kumputer super cerdas bernama Skynet. Skynet kemudian meciptakan berbagai robot dan mengambil kekuasaan dari manusia. Manusia yang dipimpin oleh John Connor melakukan pemberontakan dan berhasil mengalahkan Skynet. Sebelum benar-benar hancur, Skynet mengirim robot Terminator ke masa lalu untuk untuk membunuh John Connor dan ibunda dari John Connor, Sarah Connor  (Linda Hamilton). Apa saja yang mungkin untuk mengubah masa depan, akan Skynet lakukan. Keempat film pertama Terminator mengajarkan kepada kita bahwa masa depan tidak akan dapat diubah. Kebangkitan Skynet dan kebangkitan kaum pemberontakan pun merupakan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Terminator Genisys (2015) benar-benar mengacak-acak segalanya. Film yang satu ini menyampaikan bahwa terdapat masa depan ternyata dapat berubah dan memiliki banyak sekali kemungkinan. Yaaaah, pada intinya sih, film ini dibuat untuk membuka jalan bagi film-film Terminator baru. Bagian akhirnyapun penuh tanda tanya dan seolah ingin membuat para penonton penasaran.

4 tahun berselang dan dirilislah Terminator: Dark Fate (2019). Saya rasa film ini berusaha melakukan hal sama seperti apa yang Terminator Genisys (2015), tapi dengan tidak melanjutkan segala hal yang pernah terjadi pada Terminator Genisys (2015). Hal ini dilakukan kemungkianan karena Terminator Genisys (2015) dianggap terlalu membingungkan. Yaaah, pada Terminator Genisys (2015) masa depan memang seperti dengan mudahnya berubah-ubah dalam hitungan menit, sangat tidak stabil.

Terminator: Dark Fate (2019) mengambil latar belakang setelah kisah pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) terjadi. Sarah Connor (Linda Hamilton) dikisahkan berhasil mengubah masa depan dengan menghancurkan Skynet sebelum mesin super canggih tersebut mampu beroperasi dengan maksimum. Namun anehnya, sebelum benar-benar terhapus oleh sejarah, Skynet di masa depan masih berhasil mengirimkan Terminator ke masa lalu. Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) akhirnya berhasil membunuh John Connor kecil (Edward Furlong) dan …. berubah totalah masa depan. Tak ada Skynet, tak ada pula John Connor.

Masa depan memang berubah, namun hanya individu atau namanya saja yang berubah. Sebab bencana yang sama ternyata tetap terjadi di masa depan. Pada suatu saat di masa depan, sebuah super komputer bernama Legion berhasil menguasai Bumi dan berusaha memusnahkan umat manusia. Mirip seperti Skynet, Legion pun mengirimkan Terminator ke masa lalu untuk membunuh seseorang yang akan menjadi sangat berbahaya bagi Legion di masa depan.

Legion mengirim Terminator Rev-9 (Gabriel Luna) ke tahun 2020 untuk membunuh Daniella “Dani” Ramos (Natalia Reyes). Entah apa yang akan Dani lakukan di masa depan, lawan Legion pun mengirimkan Grace (Mackenzie Davis) untuk melindungi Dani. Grace adalah tentara yang sebagian tubuhnya sudah diganti dengan mesin.

Rev-9 yang sangat superior, sudah pasti bukan tandingan Grace yang hanya manusia separuh mesin. Tanpa diduga, Sarah Connor (Linda Hamilton) hadir menolong Dani. Sarah yang sudah tidak muda lagi, tampil dengan aneka persenjataan berat. Uniknya, merekapun pada akhirnya membutuhkan bantuan dari 1 lagi karakter ikonik dari franchise Terminator. Yaaaa, sudah pasti Terminator T-800 (Arnold Schwarzenegger) kembali hadir menolong Dani.

Uniknya, T-800 yang hadir kali ini adalah T-800 yang dulu membunuh John Connor. Wow, potensi dari sebuah drama sangat terlihat di sana. Namun entah mengapa, semua terasa hambar dan biasa-biasa saja. Terminator: Dark Fate (2019) memang mengambil segala unsur yang mengkaitkan film tersebut dengan The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Namun saya tidak melihat suatu hal yang baru pada Terminator: Dark Fate (2019).

Saya hanya melihat sebuah film aksi yang penuh dengan ledakan dan pukulan dimana-mana. Pengorbanan-pengorbanan yang dimunculkan oleh beberapa tokoh utama pada Terminator: Dark Fate (2019) pun, tidak se-memorable pengorbanan yang terjadi pada The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991).

Saya rasa Terminator: Dark Fate (2019) merupakan film aksi yang cukup menghibur. Namun film tersebut tetap saja masih memiliki kualitas di bawah The Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgment Day (1991). Mungkin Opa James Cameron perlu diundang lagi ya. Dengan demikian Terminator: Dark Fate (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terminator: Dark Fate (2019) dan Terminator Genisys (2015) dikabarkan tidak terlalu sukses di tangga Box Office. Saya agak ragu apakah akan ada film Terminator berikutnya…

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/terminator-dark-fate

The Kid Who Would Be King (2019)

Legenda Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah sering sekali di angkat ke layar kaca. Tapi entah kenapa tidak bosan-bosannya saya menonton kisah dengan tema yang sama :’D. Saya memang suka dengan film kerajaan bertemakan from zero to hero. Melihat poster dan trailer-nya, saya pikir The Kid Who Would Be King (2019) akan memberikan sesuatu yang menjanjikan. Apakah saya benar?

Alkisah berabad-abad setelah para kesatria Kerajaan Camelot mengalahkan Morgana (Rebecca Ferguson), hiduplah Alex (Louis Ashbourne Serkis) di dataran Inggris Raya. Meskipun baru berusia 12 tahun, ia memilki keberanian dan hati yang baik. Kehidupan Alex berubah ketika pada suatu malam ia berhasil mencabut sebuah pedang dari tumpukan semen.

Ternyata pedang tersebut adalah pedang Excalibur, sebuah pedang yang hanya dapat dicabut oleh Raja Camelot. Seketika itu pulalah Alex menjadi target utama monster-monster Morgana. Seketika itu pulalah Merlin (Angus Imrie) hadir di sekolah Alex dalam wujud yang lebih muda. Ia datang untuk membantu Alex menghadapi Morgana.

Morgana ternyata selama ini belum tewas. Ia hanya terperangkap dan kekuatannya semakin hari semakin besar. Menurut Merlin, Morgana akan kembali memperoleh kekuatan maksimumnya pada gerhana matahari yang akan datang.

Mulai saat itulah Alex merekruit beberapa teman sekolahnya untuk menjadi bagian dari kesatria meja bundar baru yang Alex pimpin. Yang saya agak bingung adalah, teman-tan Alex yang sudah menjadi kesatria, tidak nampak memiliki kekuatan tambahan. Alex sendiri tidak menjadi jauh lebih kuat, walaupun sudah menggengam Excalibur.

Di satu sisi, rasanya kok gelar kesatria dan Excalibur hanya dekorasi semata saja yah. Di sisi lain, hal ini menunjukkan bahwa mayoritas usaha yang mereka lakukan, dapat dicapai dengan kemampuan sebagai sekumpulan anak-anak remaja biasa yang bersatu.

Bersatunya anak-anak di bawah komando Alex menjadikan bagian akhir The Kid Who Would Be King (2019) terlihat seru. Walaupun alasan mengapa mereka rela mengikuti perintah Alex bukanlah karena jiwa kepeminpinan Alex yaaaa. Mungkin karena kostum kesatria yang keren? Hehehehe

Di pertengahan film, Alex justru sibuk berpetualang dan mengurusi masalah keluarganya. Semua sukses ditampilkan dengan sangat bertele-tela. Yah kalau akhir filmnya begitu, buat apa dipertengahan film Alex justru jalan-jalan ke sana ke mari :’D.

Bagian tengah film yang minus, bagia awal dan akhir yang memikat, membuat film ini memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: amily.20thcenturystudios.com/movies/the-kid-who-would-be-king

Sonic the Hedgehog (2020)

Mayoritas anak tahun 90-an tentunya pernah menyaksikan masa-masa persaingan antara video game Nintendo dan Sega. Kalau Nintendo memiliki Mario Bros sebagai maskotnya, maka Sega memiliki Sonic sebagai maskotnya. Sebagai salah satu pemiliki Sega Mega Drive 2, tentunya saya sudah pernah berkali-kali bermain Sonic The Hedgehog. Permainan tersebut memang bukan permainan favorit saya, tapi banyak kenangan manis tercipta ketika mengingat permainan tersebut di masa lalu :).

Nostalgia yang membuat beberapa milenial yang mungkin sekarang sudah berusia 30-an, ingin melihat versi layar lebar dari sebuah permainan yang pernah dimainkan ketika masih kecil dulu, Sonic the Hedgehog (2020). Film yang seharusnya dirilis pada 2019, terpaksa dirilis pada 2020 karena besarnya komplain fans Sonic. Pada awalnya, penampakan Sonic di filmnya, mendapatkan kritikan pedas dari para fans. Hebatnya, pihak produser dan sutradara memilih untuk mengubah wujud Sonic dan mengundur jadwal rilisnya hinggal awal 2020 lalu. Bagaimana hasilnya?

Penampilan Sonic pada Sonic the Hedgehog (2020) sudah mewakili Sonic versi video game. Sonic seolah hidup dan keluar dari layar TV tabung tempat saya dulu bermain. Ia berhasil ditampilkan sebagai fokus utama pada film tersebut. Pemasalahan dari beberapa film lain yang menggabungkan antara manusia sungguhan dan CGI (Computer Generated Imagery) adalah, dibuat terlalu besarnya peranan karakter manusia hingga perlahan menggeser si tokoh utama yang digambarkan melalui CGI. Untunglah Sonic tidak mengalami nasib yang sama. Peranan Thomas Michael “Tom” Wachowski (James Marsden) disini terlihat sebagai sahabat sekaligus pendamping Sonic. Film ini benar-benar bercerita mengenai Sonic.

Beberapa lokasi pada Sonic the Hedgehog (2020) menggunakan nama lokasi yang dipergunakan pada versi video game nya, tapi tempat kejadian film ini tetap bukanlah dunia ajaibnya Sonic. Sonic (Ben Schwartz) merupakan landak biru berkuatan super. Ia dapat bergerak super cepat dan menggunakan putaran durinya sebagai senjata. Kekuatannya membuat Sunic diburu sejak ia masih kecil. Dengan menggunakan cincin ajaib, Sonic melarikan diri ke dunia lain dan bersembunyi.

Selama bertahun-tahun Sonic berdampar di sebuah desa kecil di daerah Montana. Ia mengamati kehidupan penduduk desa tersebut dari kejauhan hingga Dr. Robotnik (Jim Carrey) datang. Peneliti jenius tersebut menggunakan seluruh peralatan canggih yang ia miliki untuk menangkap Sonic. Jim Carrey berhasil memerankan Dr Robotnik yang egomaniak dan super narsis tanpa akting yang berlebihan. Selama ini Jim Carrey sering tampil dengan akting yang gilanya berlebihan, overacting, sorry para penggemar Carrey di luar sana. Kali ini Carrey berhasil tampil gila tapi tidak overacting, bravo!

Sayang kisah pada Sonic the Hedgehog (2020) terlalu datar dan biasa saja. Sepanjang film, Dr Robotnik mengejar Sonic dan Tom untuk menangkap, meneliti dan mereplikasi kekuatan Sonic. Film ini terlihat sudah berusaha untuk menambahkan warna di dalam ceritanya melalui persahabatan Tom dan Sonic yang semakin tumbuh subur seiring berjalannya waktu. Kemudian ada pula keharuan Sonic akan kehidupan dipersembunyian yang membuatnya tidak memiliki teman. Yaah, sayang itu semua tersemasuk isu yang biasa dan kurang “Wah”.

Saya lebih senang memandang Sonic the Hedgehog (2020) sebagai film penuh nostalgia yang bertujuan untuk menghiburan. Jangan terlalu memperhatikan lubang di dalam jalan ceritanya, sebab akan lumayan banyak hehehehe. Saya rasa Sonic the Hedgehog (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sonicthehedgehog.com

1917 (2019)

Perang Dunia I yang terjadi antara 1914 sampai 1918 merupakan peristiwa besar yang sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Setelah beberapa kali membesut film James Bond, Sam Mendes kali ini berusaha mengakat sejarah kelam tersebut dalam 1917 (2019). Film ini mengambil latar belakang peperangan di wilayah Prancis pada bulan April 1917. Pada saat itu wilayah Utara Prancis sudah diduduki oleh pasukan Jerman. Pasukan Inggris datang ke dalam wilayah tersebut untuk membantu Prancis memukul mundul Jerman.

Pada suatu pagi yang cerah, Kopral William “Will” Schofield (George MacKay) & Kopral Thomas “Tom” Blake (Dean-Charles Chapman) dari Angkatan Darat Inggris, mendapat perintah penting dari Jendral mereka. Tom dan Will ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pesan penting kepada 1 Batalion Inggris yang sedang memukul mundur pasukan Jerman masuk terus ke dalam wilayah Utara Prancis.

Berdasarkan pengamatan dari udara, pasukan Jerman sudah menyiapkan jebakan bagi Batalion Inggris tersebut. Pesan berupa perintah untuk mundur, harus cepat Will dan Tom sampaikan agar korban jiwa di pihak Inggris dapat dihindarkan.

Perjalanan Tom dan Will tidaklah mudah karena mereka harus menyusup ke dalam medan perang hanya berdua saja. Tidak ada pasukan lain yang ditugaskan mengawal mereka. Di sana, Tom dan Will dihadapkan kepada realita kejamnya perang. Betapa banyaknya kehidupan yang dirusak oleh perang yang mereka hadapi. Perjalanan mereka pun menunjukkan bahwa tentara itu hanya manusia biasa yang punya rasa takut dan belas kasihan.

Sebenarnya hal di atas cukup klise dan sudah ditampilkan oleh berbagai film perang. Jalan ceritanya pun sebenarnya sangat sederhana. 2 prajurit pergi menembus medan perang untuk mengantarkan sebuah pesan. Tidak ada plot twist dan tidak ada pula tokoh antagonis utama pada 1917 (2019). Lalu apa yang membuat film ini berbeda?

1917 (2019) memiliki visual yang sangat indah karena ditampilkan dengan menggunakan 2 long continuous shot. Jadi penonton dibuat seolah terus mengikuti pergerakan tokoh utama tanpa terpotong. Melihat 1917 (2019) terkadang seperti melihat video game tipe FPS (First-Person Shooter) dengan gambar yang sangat nyata :D. Visual memang menjadi nilai plus film perang yang satu ini. Tapi bagaimana dengan ceritanya?

Terlepas dari visualnya yang keren, ada beberapa bagian dari 1917 (2019) yang terbilang menegangkan. Tapi ada pula bagian yang temponya terlampau lambat dan sedikit membosankan. Akibat penggunaan long continuous shot, maka kadang saya merasa bosan melihat film ini dari 1 sudut pandang saja. Bagi saya pribadi, jalan ceritanya tidak terlalu berhasil memikat penontonnya. Adegan aksinya pun terbilang biasa saja.

Maka, saya rasa 1917 (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. 1917 (2020) lebih menyenangkan bila ditonton di layar lebar dengan cahaya yang gelap. Sebaiknya jangan menonton film ini di smartphone yang berlayar kecil.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/1917