Serial The Witcher

Saya belum pernah membaca novel The Witcher, apalagi main video game The Witcher. Walaupun untuk video game saja sudah ada sejak 2007 dan novelnya sudah ada sejak 1993, Wuaaah sudah lama juga yaaa. Selama itupulalah saya tidak pernah mengetahui keberadaan The Witcher. Netflix adalah yang memperkenalkan The Witcher kepada saya. Sejak 2019, Netflix menayangkan film seri The Witcher di aplikasinya.

Seperti apa sih The Witcher itu? Serial ini mengambil latar belakang yang mirip dengan abad pertengahan di Eropa, eranya kerajaan Eropa berjaya. Kerajaan-kerajaan manusia berdiri di atas sebuah benua yang konon dahulu kala dikuasai oleh monster dan mahluk-mahluk dongeng seperti peri dan kurcaci.

Di sana, Geralt of Rivia (Henry Cavill) berkelana untuk melawan monster-monster yang mengganggu manusia. Kemampuan Geralt sebagai seorang Witcher memungkinkannya untuk melakukan berbagai sihir yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Kalau saya lihat, Witcher itu berbeda dengan penyihir. Witcher memadukan kemampuan sihir dengan kemampuan berkelahi karena tubuh Witcher lebih kebal terhadap sihir tertentu dan relatif lebih kuat dari manusia pada umumnya.

Teorinya, seorang Witcher akan memperoleh imbalan dari setiap monster yang ia bunuh. Masalahnya, bagi Geralt, pengertian monster itu bukan hanya terpatri pada mahluk buas yang menyeramkan. Bukankah manusia sendiri dapat berperilaku seperti monster?

Melihat The Witcher, saya jadi teringat pula pada Game of Thrones. Kondisi yang diperlihatkan sangat mirip. Sebuah benua dengan berbagai pihak yang licik dan saling bunuh. Di sana terdapat pula berbagai adegan sadis dan dewasa lengkap dengan masalah-masalah yang gelap dan tabu.

Beruntung Serial The Witcher memiliki tokoh utama yang dijadikan patokan moral pada film ini. Sebagai tokoh utama, Geralt bukanlah orang suci, ia banyak pula melakulan berbagai hal yang dianggap dosa kalau dilihat dari sudut pandang agama. Namun jauh di lubuk hatinya, Geralt memiliki moral yang baik. Saya rasa hal inilah yang membuat Geralt berbeda. Ia dapat melakukan hal yang benar du tengah-tengah dunia yang penuh kenistaan. Sikapnya yang dingin dan cuek berhasil diperankan dengan sempurna oleh Hendry Cavill. Saya sama sekali tidak melihat Superman pada serial ini. Cavill benar-venar sudah menjadi seorang Witcher handal bernama Geralt. Jelas sudah karakter inilah bintang dari Serial The Witcher :).

 

Sebenarnya terdapat 2 karakter utama lain selain Geralt. Yennefer of Vengerberg (Anya Chalotra) dan Putri Cirilla (Freya Allan). Yennefer adalah penyihir dengan keteguhan hati yang kuat. Sementara itu Cirilla merupakan pewaris tahta kerajaan yang memiliki sebuah bakat khusus.

Saya kagum dengan bagaimana cara Serial The Witcher mengisahkan Geralt bersama dengan Cirilla dan Yennefer. Setiap episode tidak selalu dibuat dengan alur maju. Terdapar alur maju mundur terkait karakter-karakter di dalamnya. Semuanya dapat ditampilkan dengan sangat menarik dan jauh dari kata membingungkan hehehehe.

Sayang adegan perkelahian pada serial ini seperti belum didukung oleh dana yang mumpuni. Pertarungan antara Gerald dan monster-monster tidak terlalu spektakuler. Padahal bukankah profesi Gerald itu adalah pemburu monster? Terkadang monster-monster yang ada ditunjukkan dalam wujud yang masih menyerupai fisik manusia. Memiliki 2 kaki, 2 tangan, tapi wajahnya dibuat agak berbeda. Tidak ada bentuk monster yang ekstrim di sana. Beruntung adegan perkelahian antara Gerald dengan sesama manusia justru nampak keren, walaupun agak sadis.

 

Salah satu pesan moral dari The Witcher memang terkait wujud monster yang patut diwaspadai. Seburuk apapun wujudmu, kamu tidak dapat dianggap sebagai monster apabila masih ada kebaikan di dalam hatimu :). Saya sudah tidak sabar menanti episode terbaru dari The Witcher. Serial ini sopasti pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”

Sumber: http://www.netflix.com

Dora and the Lost City of Gold (2019)

Beberapa tahun yang lalu film seri animasi anak Dora the Exploler sempat populer. Pada setiap serinya, Dora berpetualang dengan ditemani oleh Boots si monyet, ransel ajaib dan peta ajaib. Dalam perjalanannya, Dora menghadapi berbagai rintangan yang dapat dipecahkan sambil mengajak penontonnya berfikir. Dora sering mengajak penonton untuk berbicara dan memecahkan masalah bersama-sama. Pemecahan masalah ini mengajarkan anak-anak mengenai angka, huruf dan bahasa. Hal-hal positif itulah yang membuat Dora the Exploler mampu untuk terus mengeluarkan episode baru selama 8 musim pemutaran, sejak 1999. Pada sekitar 2014, nampaknya Dora the Exploler harus berakhir dan berhenti menelurkan episode baru. Meskipun begitu, episode-episode lama Dora the Exploler masih diputar ulang di beberapa Stasiun TV loh.

Mendengar Dora the Exploler hadir di layar lebar, tentunya menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Dora the Exploler hadir kembali melalui Dora and the Lost City of Gold (2019), tapi dalam bentuk live action, bukan film kartun.

Setelah bertahun-tahun home schooling di tengah hutan bersama dengan kedua orangtuanya, Dora Maquez (Isabela Moner) pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Keluguan Dora membuat berbagai kelucuan di sana. Kecerdasan Dora belum sebaik kemampuan Dora bergaul dengan anak-anak kota, makluum Dora sudah bertahun-tahun hidup di tengah hutan. Sampai di sini, saya banyak tersenyum melihat berbagai humor yang ditampilkan.

Aaahhhh kemudian sampailah kita dimana Dora terlibat dengan sebuah perburuan harta karun. Petaka terjadi ketika sekelompok pemburu harta karun hendak menculik Dora. Alih-alih menculik Dora seorang, mereka justru menculik Dora bersama ketiga rekan sekolahnya. Di sana terdapat Sammy Moore (Madeleine Madden), Randy Warren (Nicholas Combee), dan tentunya sepupu Dora, Diego Marquez (Jeff Wahlberg). Setelah berhasil kabur keempatnya baru menyadari bahwa mereka terjebak di pedalaman Amerika Latin. Wah ada apa ini? Semua karena kedua orang tua Dora hampir menemukan Parapata, sebuah kota yang penuh dengan emas, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Dora dan kawan-kawan pun berpetualang memecahkan berbagai teka-teki demi menemukan kedua orang tua Dora dan Parapata. Saya berharap sebuah tontonan penuh misteri yang menegangkan. Tapi sayang yang saya dapatkan hanyalah teka-teki ringan dengan jalan cerita yang agak klise dan mudah ditebak.

Walaupun begitu, Dora and the Lost City of Gold (2019) berhasil menggunakan beberapa materi dari film seri kartun Dora the Exploler sehingga Dora and the Lost City of Gold (2019) seolah-olah merupakan bagian dari film seri kartun pendahulunya tersebut. Bagi penggemar Dora the Exploler di luar sana, a Dora and the Lost City of Gold (2019) tentunya akan menjadi sebuah film yang penuh nostalgia.

Yaaah, saya pribadi hanya dapat memberikan a Dora and the Lost City of Gold (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Lumayan”. Terus terang saya lebih senang melihat bagian dimana Dora masih di kota, ketimbang bagian ketika ia berpetualang di hutan.

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/dora-and-the-lost-city-of-gold

Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Pada penghujung 2019 ini, hadir penutup dari sebuah trilogi sekuel dari Trilogi Star Wars, yaitu Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Seperti kedua film pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017), film yang kembali disutradarai oleh J. J. Abrams ini mengambil latar belakang bertahun-tahun setelah Trilogi Star Wars berakhir. Trilogi Star Wars terdiri dari 3 film karya George Lucas yang legendaris. Bertahun-tahun kemudian, Disney membeli hak cipta Star Wars dan mulai membuat trilogi sekuel sebagai kelanjutan dari Trilogi Star Wars. Diawali dari Star Wars: The Force Awakens (2015), kemudian dilanjutkan oleh Star Wars: The Last Jedi (2017), lalu ditutup oleh Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Sayang sekali kedua film Star Wars sebelum Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), sudah memperoleh kritikan pedas dari mayoritas fans garis keras Star Wars. Beberapa justru lebih memilih Star Wars tamat pada Trilogi Star Wars dan tidak ada trilogi kedua. Wah wah wah, mampukah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menjawab semua kritikan dan keraguan yang telah muncul?

Pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Rey (Daisy Ridley), Poe Dameron (Oscar Issac) & Finn (John Boyega) berburu sebuah alat yang dapat menemukan lokasi Kaisar Palpatine (Ian McDiarmid), biang keladi dari segala kekacauan terjadi selama ini. Palpatine kembali muncul ke permukaan setelah menjadi antagonis utama pada Trilogi Prekuel Star Wars dan Trilogi Star Wars.

Dalam perjalanannya tentunya terjadi petempuran hebat antara pasukan pemberontak pimpinan Leia Organa (Carrie Fisher) dengan pasukan First Order pimpinan Kylo Ren (Adam Driver). Tak lupa Kylo pun terus mengejar Rey baik lewat telepati maupun langsung. Ia berusaha mempengaruhi agar Rey berbalik arah menjadi Sith. Rey pun masih berharap agar Kylo menemukan kebaikan dan kembali menjadi Jedi. Pertarungan antara Jedi dan Sith sangat kental mewarnai film yang satu ini.

Pada dunia Star Wars, terdapat individu-individu yang memiliki bakat atau sensitif terhadap sebuah kekuatan yang disebut The Force. Sith adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kebencian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat jahat mahluk hidup. Sedangkan Jedi adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kasih sayang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Pada Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017) dikisahkan bahwa Rey dan Leia bisa dibilang merupakan Jedi terakhir yang masih hidup. Kylo dan Palpatine merupakan Sith kuat yang terus merekrut orang-orang baru agar bergabung menjadi Sith.

Para Jedi dan tokoh utama pada Trilogi Star Wars, berguguran pada sekuel kedua trilogi ini. Tentunya seorang tokoh legendaris Star Wars akan tewas lagi pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Siapa tokohnya sih mudah sekali ditebak, lha hanya dia seorang saja yang masih tersisa :’D. Yang ternyata gagal saya tebak adalah siapakah Rey sebenarnya. Pada film penutup ini, identitas Rey mulai terkuak dan agak mengejutkan. Terjawab sudah mengapa kekuatan The Force milik Rey kuat sekali.

Pada film ini, saya menikmati pertarungan fisik dan mental antara Sith dan Jedi. Semuanya tersaji dengan visual yang cantik dan memukau. Dari segi cerita, film ini mengingatkan saya pada film terakhir pada Trilogi Star Wars. Agak mirip tapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Hal ini menjadi perdebatan karena banyak kritikus yang kurang suka dengan hal ini. Saya pribadi? Suka sekali, bagus dan masuk akal kok alurnya.

Kalau dilihat sebagai sebuah film Star Wars, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) memang seolah mampu berdiri sendiri dengan sebuah cerita yang lumayan bagus. Namun kalau disatukan dengan dua film sebelumnya sebagai sebuah trilogi sekuel, maka kesan yang saya dapat adalah … berantakan.

Trilogi sekuel Star Wars terdiri dari 3 film yaitu Star Wars: The Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) disutradarai oleh J. J. Abrams, sedangkan Star Wars: The Last Jedi (2017) disutradarai oleh Rian Johnson. Lucunya, ada beberapa hal yang “ditanamkan” oleh J. J. Abrams pada Star Wars: The Force Awakens (2015), tidak dilanjutkan atau digunakan oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Nah kini, pada film penutupnya, J. J. Abrams seperti membalas Rian Johnson dengan tidak menyentuh beberapa hal yang sudah “ditanamkan” oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Lihat saja berapa lama karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) muncul pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) :P. Rose seolah seperti pemain figuran saja di sana hohohohoho. Bukankah ketiga film tersebut seharusnya saling berkesinambungan? Perbedaan siapa yang menyutradarai seharusnya tidak menjadi alasan. Coba saja lihat film-film MCU (Marvel Cinematics Universe). Film-film tersebut sukses besar menghasilnya kesinambungan dibawah bendera Disney. Disney sukses besar ketika membuat film-film MCU. Kenapa mereka gagal pada Star Wars? Disney seolah-olah beberapa kali merubah roadmap atau rancangan besar dari trilogi sekuel Star Wars. Mungkinkah ini karena kritikan pedas fans berat Star Wars.

Kylo Ren adalah satu-satunya karakter yang konsisten dan berkesinambungan pada ketiga film tersebut. Finn dan Rey nampak sekali berubah-ubah arahannya. Misteri akan identitas Rey pun dibuat sebagai sebuah senjata pamungkas. Well, itu memang berhasil bagi saya pribadi. Meskipun setelah menonton Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), saya jadi kurang setuju dengan judulnya :’D.

Secara garis besar, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan bagi saya. Kekurangan dalam plot dan ketidaksinkronan dengan film sebelumnya, cukup impas terbayar dengan adegan aksi yang menyenangkan dan akhir yang lumayan diluar dugaan saya. Saya bulan penggemar berat franchise Star Wars, saya hanya dapat memberikan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya sadar betul J. J. Abrams mengubah dan tidak memanfaatkan beberapa hal baru dari film Rian Johnson, tapi justru itulah yang saya suka. Terus terang saya kurang suka dengan kemana sekuel trilogi ini dibawa oleh Rian Johnson. Syukurlah J. J. Abrams tidak melanjutkannya :P.

Sumber: http://www.starwars.com

Jumanji: The Next Level (2019)

Pada akhir tahun 2019 ini, sekuel Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), hadir ke layar lebar. Kisah mengenai permainan maut ini berlanjut pada Jumanji: The Next Level (2019). Beberapa tahun setelah kejadian pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner), sudah lulus SMA dan menjalani kehidupan yang berbeda. Pada saat libur panjang, mereka memutuskan untuk melakukan reuni di kampung halaman mereka.

Di sinilah awal dari kekacauan yang ada. Perangkat Nintendo yang menjadi portal untuk masuk ke dalam dunia Jumanji, ternyata masih ….. tersimpan di gudang milik keluarga Spencer. Entah apa yang Spencer pikirkan, ia mencoba memperbaiki Nintendo tersebut dan masuk ke dalam dunia Jumanji sendirian. Teman-teman Spencer tentunya tak tinggal diam. Mereka menyusul masuk ke dalam Jumanji untuk menyelamatkan Spencer. Bahkan Alex Vreeke (Colin Hanks) ikut menyusul setelah tahu insiden ini. Alex merupakan seorang remaja yang terjebak bertahun-tahun di dalam dunia Jumanji sebelum diselamatkan oleh Spencer dan kawan-kawan. Tanpa sengaja, Eddie Gilpin (Danny DeVito) dan Milo Walker (Danny Glover), ikut tertarik masuk ke dalam dunia Jumanji.

Mirip seperti pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), kali ini ketujuh tokoh utama kita harus menyelesaikan sebuah misi di dalam dunia Jumanji. Seperti video game, mereka akan menggunakan tubuh atau avatar yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang memiliki 3 nyawa dimana kalau ketiga habis atau mereka tewas sebanyak 3 kali di dalam Jumanji, maka mereka akan tewas di dunia nyata.

Hhhhmmmm, kalau dihitung, sekarang jadi ada 7 orang yang masuk ke dalam dunia Jumanji. Padahal bukankah avatar yang terdapat di sana hanya 5? Well, terdapat 2 avatar tambahan yang memiliki peran penting pula dalam permainan kali ini. Tubuh atau avatar yang tersedia adalah Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart), Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black), Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas), Ming Fleetfoot (Nora Lum) dan ……. seekor kuda hitam :’D. Ahhh, siapa yaa yang akan sial menjadi seekor kuda? Eits, tunggu dulu, si kuda ini ternyata bukan sembarang kuda loh, Spencer dan kawan-kawan tidak akan berhasil menyelesaikan misi mereka tanpa bantuan si kuda ini. Misi yang mereka hadapi berbeda dengan misi pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Agak berbeda dengan Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), setiap pemain mendapatkan avatarnya secara acak. Penempatan avatar ini menimbulkan berbagai kelucuan. Tapi sayang leluconnya jadi agak mirip dengan lekucon pada film pertamanya. Kemudian pesan moral yang diangkatpun saya rasa sama persis. Film ini mengajarkan mengenai persahabatan dan saling memaafkan.

Sebenarnya bagian akhir Jumanji: The Next Level (2019) memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang mengharukan. Sayang eksekusinya kurang tepat sehingga, terasa biasa saja.

Yaah paling tidak, adegan aksinya cukup menghibur dan menyenangkan untuk dilihat. Dibalut dengan humor di mana-mana, cerita yang sebenarnya standard sekali ini terasa tidak membosankan.

Saua rasa Jumanji: The Next Level (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walau memiliki beberapa kekurangan, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Semoga film Jumanji berikutnya dapat memberikan hiburan yang lebih segar lagi :).

Sumber: http://www.jumanjimovie.com

Frozen 2 (2019)

Jauh hari sebelum Frozen 2 (2019) muncul, saya sudah mendapatkan himbauan dari sekolah anak saya untuk tidak menonton Frozen 2 (2019) bersama anak. Konon karakter utama Frozen 2 (2019) ikut dihadirkan dalam sebuah acara LGBT. Elsa dikabarkan akan menjadi karakter LGBT pertama Disney. Sebagai pembuat Frozen 2 (2019), Disney memang sudah beberapa kali dikait-kaitakan dengan isu LGBT. Tapi sampai saat ini sudah beberapa kali mentah. Sepertinya beberapa internal pihak Disney memang ingin memberikan pesan keberagaman dan kesetaraan bagi anak-anak, termasuk bagi isu yang agak sensitif seperti LGBT. Tapi sekali lagi, Disney adalah perusahaan komersil, apa mungkin mereka mau mengambil resiko sedemikian besarnya? Apalagi film animasi mendahulu Frozen 2 (2019), yaitu Frozen (2013), dapat dikatakan sebagai revolusi Disney tersukses sepanjang masa. Inilah awal dimana stereotipe kisah putri-putrian dirombak habis dan tetap sukses. Tidak ada lagi pangeran tampan yang gagah perkasa. Sang putri pada Frozen (2013) nampak lebih kuat, berani, pantang menyerah dan mandiri.

Syukurlah karakter Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) pada Frozen 2 (2019) tetap seperti pada Frozen (2013). Anna yang lebih ceplas ceplos, tanpa sadar akan dipinang oleh Kristoff (Jonathan Groff). Yaah sepanjang film, Kristoff berusaha melamar Anna. Walaupun usah dibantu oleh rusa miliknya, Sven, Kristoff tetap mengalami kesulitan. Keadaan memang tiba-tiba berubah menjadi genting dan Anna sibuk memikirkan keselamatan Elsa dan Kerajaan Arendelle.

Elsa yang lebih serius dan tertutup, diam-diam mendengar panggilan dari sebuah tempat misterius. Sebuah panggilan yang ternyata menguak masa lalu keluarga Kerajaan Arendelle. Tanpa saya duga, misteri ternyata menjadi salah satu daya tarik Frozen (2019). Ada misteri yang harus Elsa dan kawan-kawan pecahkan. Saya suka sekali dengan bagaimana film ini membuat saya penasaran. Sayang, plot yang sedikit kompleks ini akan membuat beberapa anak kecik kebingungan akan beberapa bagian dari Frozen 2 (2019). Ahhh tapi hal tersebut pasti tidak akan membuat mereka terlelap karena masih ada Olaf (Josh Gad) yang jenaka dan konyol.

Selain itu, Frozen 2 (2019) juga dipenuhi oleh lagu-lagu yang menarik. Tapi jangan bandingkan dengan lagu Let It Go pada Frozen (2013) ya. Let It Go memang sebuah lagu yang sangat bagus dan sudah pasti akan sulit ditandingi. Lagu tersebut sangat mendunia bahkan sampai lebih dari 5 tahun setelah Frozen (2013) dirilis. Jadi tidak mengherankan bila Frozen 2 (2019) memiliki variasi lagu yang lebih banyak tapi tak ada satupun yang mampu menandingi Let It Go. Sangat terlihat sekali betapa besar beban yang dipikul oleh tim pembuat Frozen 2 (2019). Mereka berusaha memasukkan banyak sekali variasi lagu pada film ini, sehingga terkadang saya merasa bahwa adegan bernyanyinya kok banyak sekali, terutama pada bagian awal. Ahhh tak apalah, toh anak saya senang sekali menonton nyanyian-nyanyian tersebut ;).

Dari segi visual, animasi Frozen 2 (2019) nampak lebih cantik bahkan bagi film keluaran tahun 2019. Saya suka sekali melihat air dan es yang nampak hidup. Sementara itu penonton wanita sepertinya banyak yang terkesima dengan penampakan Elsa yang semakin menawan. Wah wah wah, siap-siap diminta beli boneka Frozen 2 nih ehehehehe.

Elsa sepertinya tetap akan menjadi tokoh favorit frachise Frozen meskipun rasanya Anna pun layak mendapatkan pujian akan keberanian dan peranannya yang sama besarnya dengan Elsa. Terkadang seseorang dapat berbuat banyak juga loh, walaupun tanpa kekuatan super ;). Pesan moral lain terkait lingkungan hidup, kedamaian dan persaudaran di berikan dengan lebih luas pada Frozen 2 (2019). Sebuah contoh yang baik bagi anak-anak.

Tapi sayang Frozen 2 (2019) tidak se-“aman” Frozen (2013) karena kalau saya hitung ada 3 kali adegan ciuman antara Anna dan Kristoff. Loh bagaimana dengan Elsa? Elsa yang memang lebih serius terlihat lebih fokus menyingkap misteri yang ada. Ia memang selalu merasa berbeda selama tinggal di Arendelle bukan karena orientasi seksnya menyimpang. Tidak ada 1 adegan pun yang menunjukkan bahwa Elsa suka wanita atau suka pria. Topik romansa Elsa sama sekali tidak dibahas pada Frozen 2 (2019). Jadi fix yaaa, Frozen 2 (2019) bukanlah film animasi LGBT-nya Disney. Bagaimanapun juga Disney butuh uang. Tidak mungkinlah Disney mau mengambil resiko dengan mengangkat topik sesinsitif LGBT pada tambang emas terbesar mereka saat ini, franchise Frozen.

Dengan begitu, saya ikhlas untuk memberikan Frozen 2 (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya rasa inilah satu-satunya film tanpa karakter antagonis yang mendapatkan nilai 4 dari saya. Kalau karakter antagonis pada Frozen (2013) nampak kecil sekali, nah karakter antagonis Frozen 2 (2019) itu bisa dikatakan hampir nol loh. Ternyata, untuk membuat sebuah film yang bagus, karaker antagonis itu tidak harus selalu ada loh.

Sumber: frozen.disney.com

Detective Pikachu (2019)

Melihat judulnya, Detective Pikachu (2019) pasti merupakan film dengan latar belakang dunia Pokemon. Dunia dimana terdapat mahluk-mahluk imut bernama Pokemon, berdatangan dan tersebar di seluruh permukaan Bumi. Pikachu merupakan jenis Pokemon yang memiliki kemampuan memanipulasi sengatan listrik. Yah, dari berbagai jenis Pokemon yang ada, Pikachu merupakan yang paling populer. Bermula dari sebuah video game di tahun 1996, Pokemon telah berhasil meraih popularitas dan hadir di berbagai media lain. Tapi baru kali inilah Pikemon hadir film versi live action -nya. Kemarin-kemarin sih yang keluar versi film kartunnya saja.

Berbeda dengan film kartun dan video games -nya, Detective Pikachu (2019) tidak mengambil topik pelatih Pokemon atau perburuan Pokemon. Kali ini Pikachu (Ryan Reynolds) berperan sebagai detektif yang menyelidiki sebuah kasus ;). Sayang pikachu yang satu ini kehilangan ingatannya saat rekan kerjanya dikabarkan tewas terbunuh.

Biasanya, manusia tidak akan mengerti apa ucapan Pokemon. Untuk Pikachu saja, manusia biasa pasti hanya akan mendengar kata-kata “pika pika pika” dari mulut Pikachu. Kali inu, terjadi sebuah keajaiban. Tim Goodman (Justice Smith) tiba-tiba dapat mengerti semua ucapan Pikachu. Tim sendiri ternyata merupakan anak semata wayang dari almarhum rekan Pikachu. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap misteri kematian aya Tim. Tak lupa hadir pula pertolongan dari Lucy Stevens (Kathryn Newton), jurnalis muda yang mencurigai bahwa kematian ayah Tim disebabkan oleh sesuatu yang besar. Ternyata dugaan Lucy tidak meleset, sebab penyelidikan mereka memang lambat laun melibatkan seorang pengusaha kaya dan Pokemon terkuat di muka Bumi.

Dari sekali melihat tokohnya saja, sudah dapat ditebak siapa yang sebenarnya jahat. Judul film ini menggunakan kata-kata detektif tapi kok ya tidak ada misteri yang dahsyat di dalam ceritanya. Saya bahkan sama sekali tidak penasaran ketika menonton Detective Pikachu (2019). Penyelesaian dan akhir dari kasus yang ditangani oleh Pikachu pun memiliki motif dan penyelesaian yang kurang kuat. Yaaah, sepertinya Detective Pikachu (2019) memang tidak dimaksudkan sebagai film misteri atau thriller. Ceritanya tergolong ringan dan tidak membuat penontonnya banyak berfikir.

Tapi kalau berbicara dari segi visual, Pikachu dan dunianya nampak unik dan bagus sekali. Saya suka melihat Pikachu yang nampak imut dengan bulu-bulu kuningnya :). Dunia Pokemon seolah dibuat hidup oleh film ini.

Visual yang memukau tapi tidak diikuti oleh cerita yang memukau membuat saya ikhlas untuk meemberikan Detective Pikachu (2019) nilai 3 dari skal maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga di rumah.

Sumber: http://www.detectivepikachumovie.com

Aladdin (2019)

Bersama dengan Sinbad dan Ali Baba, Aladdin merupakan tokoh populer dari Hikayat 1001 Malam, sebuah kumpulan dari berbagai kisah-kisah petualangan yang menakjubkan. Konon Hikayat 1001 Malam berasal dari Baghdad di era pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Baghdad pada saat itu melakukan banyak perdagangan dengan bangsa India dan Cina. Jadi tidak heran kalau salah satu kisahnya mengambil Cina sebagai latar belakangnya. Loh Cina? Ya, kisah Aladdin yang sesungguhnya menggunakan wilayah Cina sebagai latar belakangnya, bukan Arab atau India. Tapi karena nama dan asal kisahnya, Disney menggunakan wilayah Timur Tengah sebagai latar belakang Aladdin (1992). Film animasi inipun melakukan sedikit perubahan di sana dan di sini. Tapi saya tetap suka sekali dengan Aladdin (1992), bahkan saya lebih suka dengan versi Disney ini ketimbang versi aslinya hehehehe.

Bertahun-tahun setelah kehadiran Aladdin (1992), Disney kembali merilis Aladdin versi live action. Hal yang sama pernah Disney lakukan pula pada Cinderella (2015) dan Beauty and the Beast (2017). Nampaknya Disney akan terus membuat versi live action dari film-film animasi yang pernah mereka produksi :).

Sangat mirip dengan Aladdin (1992), pada Aladdin (2019) dikisahkan hiduplah seorang pemuda miskin bernama Aladdin (Mena Massoud). Bersama dengan monyetnya, ia berprofesi sebagai pencuri untuk bertahan hidup. Walaupun profesinya tidak halal, sebenarnya Aladdin memiliki hati yang baik. Ia rela menolong siapapun yang membutuhkan, tak terkecuali Putri Yasmin (Naomi Scott) yang sedang menyamar sebagai penduduk biasa. Pertemuan pertama yang dipenuhi oleh adegan kejar-kejaran dengan Penjaga, diam-diam membuat Yasmin dan Aladdin tertarik satu sama lain.

Yasmin sendiri merupakan putri tunggal penguasa Negeri Agrabah. Sudah ada banyak pangeran datang melamar, namun semuanya Yasmin tolak mentah-mentah. Diam-diam Penasehat Raja, Jafar (Marwan Kenzari), berniat untuk mempersunting Yasmin dan menjadi penguasa Agrabah yang baru. Untuk memperlancar usahanya, Jafar mencari sebuah Jin yang sangat kuat, yang sudah ratusan tahun terkurung di dalam sebuah gua. Sayang tidak semua orang dapat masuk ke sana. Berdasarkan petunjuk yang Jafar dapatkan, kemungkinan seseorang yang bersifat seperti Aladdin-lah yang dapat masuk ke dalam gua tersebut.

Kemudian Jafar mengelabui Aladdin sehingga Aladdin bersedia masuk ke dalam sebuah gua misterius di tengah padang pasir. Di dalam gua inilah awal pertemuan Aladdin dengan karpet ajaib dan Jin (Will Smith). Aladdin memiliki jatah 3 permintaan yang dapat Jin kabulkan. Yaaah sudah pasti Aladdin menggunakan kekuatan Jin untuk meminang hati Yasmin. Jin tidak memiliki ilmu pelet ya, jadi yang dapat Jin lakukan paling tidak adalah membuat status sosial Aladdin naik drastis agar bisa 1 strata dengan Yasmin. Selanjutnya, semua tergantung Aladdin sendiri.

Awalnya, Aladdin yang lugu, menjanjikan kebebasan Jin sebagai permintaan ketiganya. Ia sudah menganggap Jin sebagai sahabatnya. Namun lama kelamaan, Aladdin semakin kecanduan dengan berbagai bantuan dari Jin. Apakah Aladdin akan memenuhi janjinya?

Kisah Aladdin (2019) mirip dengan Aladdin (1992) hanya saja ada beberapa bagian termasuk lagu yang diubah dan ditambahkan agar sesuai dengan selera penonton saat ini. Seperti Aladdin (1992), terdapar banyak tarian dan nyanyian pada Aladdin (2019). Hanya saja, karena ini versi live action, maka Aladdin (2019) nampak lebih megah dan kolosal. Saya kagum dengan kostum dan make-up yang digunakan pada Aladdin (2019).

Sayang, entah kenapa, kok Aladdin (2019) tidak semagis Aladdin (1992). Chemistry antara Yasmin dan Aladdin tidak terlalu kuat. Kemudian tokoh Jin pada Aladdin (2019) tidak selucu Jin pada Aladdin (1992). Ahhh sayang sekali, padahal saya sudah berharap banyak pada Aladdin (2019), terlebih lagi, Aladdin (1992) merupakan salah satu film kartun Disney yang saya sukai.

Melihat berbagai aspek di atas, saya rasa Aladdin (2019) berhak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mau bagaimana juga, secara visual, film ini termasuk nyaman di lihat mata loh ;).

Sumber: movies.disney.id/aladdin