Dunkirk (2017)

Dunkirk

Sudah banyak film yang mengangkat tema Perang Dunia II. Terus terang saya agak bosan dengan tema yang satu itu. Oleh karena itu, saya agak telat menontom Dunkirk (2017) sebab film ini tidak masuk ke dalam daftar film yang hendak saya tonton. Mendengar banyaknya pujian bagi Dunkirk (2017), akhirnya saya memilih untuk menonton Dunkirk (2017) di tengah-tengah sebuah perjalanan panjang. Ahhhh, daripada melamun, toh saat itu saya tidak dapat tidur x__x.

Siapa atau apa itu Dunkirk? Awalnya saya kira itu nama tokoh utamanya hehehehe. Ternyata Dunkirk merupakan bagian dari wilayah Perancis yang dilanda peperangan pada tahun 1940. Pada tahun 1940, pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris dan Perancis, terpukul mundur oleh pasukan Jerman. Pasukan sekutu terus mundur ketika berusaha mempertahankan wilayah Perancis agar tidak dikuasai Jerman. Di daerah Dunkirk-lah banyak pasukan sekutu yang terjebak di sekitar pesisir pantainya. Mereka harus bertahan menghadapi gempuran angkatan darat dan udara Jerman yang terus menghalangi mereka untuk menaiki kapal ke wilayah yang masih dikuasai sekutu. Misi evakuasi pasukan sekutu dari Dunkirk-lah yang menjadi tema utama Dunkirk (2017). Uniknya, evakuasi ini dikisahkan dari 3 sudut pandang, yaitu darat, laut dan udara.

Di darat, Tommy (Fionn Whitehead), seorang serdadu Inggris yang kehilangan semua rekan satu timnya, berusaha untuk menaiki kapal dan pulang ke Inggris. Masalahnya, antrian untuk meniki kapal penjemput sangat panjang. Jumlah prajurit sekutu yang hendak dievakuasi, jauh lebih banyak ketimbang jumlah kapal penjemput. Belum lagi terdapat pesawat tempur Jerman yang terkadang datang dan menyerang dari udara. Tommy dan prajurit sekutu lainnya membutuhkan bantuan dari pihak lain, mereka tidak akan selamat kalau hanya mengandalkan kapal penjemput yang ada saja.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Bantuan bagi Tommy datang dari laut. Pihak Inggris meminta bantuan nelayan-nelayan untuk membantu menjemput para prajurit sekutu yang terjebak di Dunkirk. Diantara para nelayan pemberani tersebut, Dawson (Mark Raylance), Peter (Tom Glynn-Carney) dan George (Barry Keoghan). Ketiganya menaiki kapal mereka, Moostone, dari Weymouth menuju Dunkirk untuk mengevakuasi para prajurit sekutu. Dalam perjalanannya, mereka menyelamatkan seorang prajurit sekutu yang mengalami shock dan trauma. Konflik di laut terjadi ketika si prajurit panik ketika mengetahui bahwa kapal yang ia naiki bukan mengarah pulang, melainkan ke arah sebaliknya. Masalah bertambah ketika kapal nelayan mereka mendekati wilayah pantai Dunkirk. Di sana mereka harus menyelamatkan pasukan-pasukan sekutu yang berenang sambil ditembaki oleh pesawat Jerman dari udara. Beruntung, di udara ada pesawat tempur Inggris yang berusaha memuluskan proses evakuasi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Di udara terdapat 3 pesawat tempur Inggris yang berusaha menembak jatuh pesawat Jerman yang terus menerus menembaki prajurit sekutu di Dunkirk. Sayang hanya pesawat tempur yang dikemudikan Farrier (Tom Hardy) saja yang dapat terus melanjutkan misi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Tommy yang berusaha pulang, nelayan kapal Moonstone yang berusaha menjemput, dan pesawat tempur Farrier yang berusaha memberikan dukungan dari udara, pada akhirnya saling berpapasan pada adegan klimaks Dunkirk (2017). Hebatnya, aroma tegang dan teror dapat dimunculkan tanpa karakter antagonis utama. Saya hanya melihat beberapa serdadu Jerman dan pilot Jerman yang tidak nampak terlalu dominan pada Dunkirk (2017). Adegan peperangan pada film ini pun terbilang seru dan lengkap. Ada peperangan di darat, laut dan udara. Konflik-konflik yang adapun dapat disuguhkan dengan apik. Saya sangat setuju kalau Dunkirk (2017) layak untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Satu karya spektakuler lagi dari Om Christopher Nolan sebagai sang sutradara. Ia berhasil meramu sebuah peritiwa yang benar-benar pernah terjadi, menjadi suguhan yang menarik untuk ditonton.

Sumber: http://www.dunkirkmovie.com

Iklan

King Arthur: Legend of the Sword (2017)

Kerajaan Camelot yang dipimpin oleh Raja Arthur dan kesatria meja bundar sudah menjadi legenda paling terkenal di wilayah Inggris Raya. Walaupun keberadaannya yang masih diperdebatkan, sudah banyak cerita-cerita bertemakan legenda Camelot dengan berbagai pendekatan.

Salah satu yang pernah hadir di bioskop tanah air dan menjadi favorit saya adalah King Arthur (2004) yang menggunakan pendekatan sejarah sehingga Arthur dan kawan-kawan hadir di tengah-tengah konflik dan kerajaan lain yang memang ada di dalam sejarah dunia. Saya pribadi senang dengan jalan ceritanya, tapi film ini habis tak bersisa dikritik oleh para kritikus. Pendekatan film yang ke arah sejarah menimbulkan pro-kontra karena sampai saat ini saja kebenaran akan keberadaan Arthur masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Tetapi saya tetap suka dengan King Arthur (2004) sebab pendekatannya yang berbeda, tidak mengikuti alur klasik dongeng Camelot, cinta segitiga Arthur-Guinevere-Lancelot yang memuakkan seperti pada First Knight (1995), blahhh. Bagi saya, King Arthur (2004) tetap menjadi salah satu film terbaik diantara film-film lain yang bertemakan Camelot.

Sudah banyak film bertemakan Camelot yang dianggap gagal. Tapi hal tersebut tidak membuat sineas Hollywood kapok menggarap film bertemakan Camelot. Pada tahun 2017, Guy Ritchie menelurkan film bertemakan legenda Camelot, King Arthur: Legend of the Sword (2017). Kali ini tidak ada unsur sejarah dibawa-bawa. Semuanya bersifat fantasi dengan dukungan kostum dan special effect yang lumayan bagus. Saya suka dan menikmati adegan pertarungan pada film ini, keren dan seru :D.

Tidak hanya itu, cara penceritaan pada film ini tidak monoton. Gabungan alur maju-mundur beberapa kali dilakukan tanpa membuat penonton bingung. Semua cukup informatif dan menambah nilai plus film ini. Bagaimana dengan ceritanya?

Syukurlah King Arthur: Legend of the Sword (2017) tidak mengangkat cinta segitiga klasik Camelot. Fokusnya lebih ke arah bagaimana Bang Arthur (Charlie Hunnam) bisa merebut kembali tahta kerajaan yang direbut pamannya sendiri, Vortigern (Jude Law). Vortigern menggunakan sihir jahat untuk membunuh ayah dan ibu Arthur. Arthur pun berhasil melarikan diri dan tumbuh menjadi pribadi yang cuek, sedikit selengehan tapi bijak dan baik hati. Sangat jauh berbeda dengan Arthur pada King Arthur (2004) yang terlihat lebih serius. Tapi kedua versi Arthur ini sama-sama tidak memiliki ambisi untuk menjadi raja, sama-sama “zero to hero story”, dari bukan siapa-siapa, mampu menjadi raja. Hanya saja Arthur pada King Arthur: Legend of the Sword (2017) dikisahkan sebagai keturunan ningrat dan pangeran terbuang yang direbut tahtanya.

Aroma fantasi pada King Arthur: Legend of the Sword (2017) terasa lebih kental karena memang banyak adegan sihir-sihirnya. Pedang Arthur pun bukan pedang sembarangan, pedang tersebut dapat memberikan Arthur kekuatan untuk melawan Vortigern dan sihir jahatnya.

Rasanya King Arthur: Legend of the Sword (2017) berhasil menggeser King Arthur (2004) sebagai film Camelot favorit saya. Kelebihan utama King Arthur: Legend of the Sword (2017) lebih ke arah alur penceritaan yang unik dan pembawaan Arthur yang lebih menarik. Meskipun kembali habis dibenci para kritikus film, bagi saya pribadi, film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”

Sumber: kingarthurmovie.com

Schindler’s List (1993)

Schindler1

Beberapa minggu yang lalu saya menonton Schindler’s List (1993) yang pada tahun 1993 dilarang pemutarannya di bioskop-bioskop Indonesia. Kenapa kok dilarang? Schindler’s List (1993) mengambil tema holocaust yang sudah pasti menggambarkan bangsa Yahudi sebagai bangsa yang tertindas. Padahal sampai saat ini tindak tanduk negara yang Yahudi bentuk, yaitu Israel, melakukan penindasan bagi rakyat Palestina. Film seperti ini yaa sudah pasti ditolak kedatangannya di Indonesia :D.

Karena penasaran, akhirnya saya tontonlah film tersebut. Seperti apa sih Schindler’s List (1993) itu? Nama Schindler ternyata bukanlah nama seorang Yahudi, Oskar Schindler (Liam Neeson) adalah pengusaha asal Cekoslowakia yang membuka pabrik di Polandia pada era perang dunia kedua. Pada saat itu Polandia berhasil dikuasai oleh Jerman. Bangsa Yahudi yang tinggal di Polandia pun langsung ditandai dan diusir dari rumah mereka untuk ditempatkan di tempat-tempat yang sudah militer Jerman tentukan. Sebagai pengusaha yang berhasil mendekati para pemimpin militer Jerman di Polandia, Schindler memperoleh Yahudi-Yahudi Polandia sebagai pekerja pabriknya dengan upah yang sangat murah. Ia pun mempercayakan Itzhak Stern (Ben Kingsley), seorang akuntan Yahudi, sebagai tangan kanannya.

 

Schindler6

Schindler10

Schindler5

Schindler7

Schindler11

Schindler3

Schindler12

Melihat perlakuan semena-mena militer Jerman kepada para Yahudi, hati Schindler yang dingin perlahan mulai luluh. Schindler memang seorang oportunis yang hobi main perempuan, mabuk dan pesta. Sebagai pengusaha pun, keahliannya lebih ke arah ahli melakukan negosiasi dengan cara apapun termasuk cara-cara yang kurang baik. Untuk menjalankan pabriknya saja, Schindler sangat bergantung pada Stern. Perbedaan Schindler dengan para pengusaha lainnya adalah hati nurani, sifat kemanusiaan Schindler tergerak dan pada ada akhirnya Schindler berani melakukan tindakan-tindakan yang menyelamatkan ribuan Yahudi. Film ini konon diambil dari kisah nyata dan sampai sekarang, para Yahudi yang Schindler selamatkan, dengan bangga menyebut diri mereka sebagai Yahudinya Schindler.

Schindler8

Schindler13

Schindler9

Dengan berbagai sifat buruk yang Schindler miliki, ia tidak hadir sebagai pahlawan yang sempurna. Sang sutradara, Steven Spielberg, berhasil menampilkan sosok manusia tidak sempurna yang mampu berbuat banyak bagi orang lain, tanpa kekuatan super atau kemampuan bertempur. Muatan drama pada Schindler’s List (1993) memang cukup kental. Banyak adengan yang mengharukan, namun kalau mengingat berita perkembangan konflik antara Israel dan Palestina, keharuan tersebut serta merta pudar hehehehe :’D.

Saya tidak melihat banyak adegan aksi di sana, hanya adegan-adegan yang menunjukkan penderitaan bangsa Yahudi. Opa Spielberg pun kali ini tidak menggunakan banyak special effect seperti film-film Spielberg lainnya. Bumbu unik yang ia berikan pada Schindler’s List (1993) hanyanya berupa penggunaan warna hitam putih pada sebagian besar adegan pada film tersebut walaupun mayoritas film-film pada tahun 1993 sudah berwarna.

Terlepas dari perseteruan antara Israel dan Palestina, Schindler’s List (1993) dapat dikatakan sebagai film yang enak ditonton, meskipun jalan ceritanya sedikit membosankan bagi saya yang bukan pecinta film drama. Saya tidak melihat sesuatu yang spesial pada film ini. Dengan demikian, rasanya Schindler’s List (1993) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.uphe.com/movies/schindlers-list

 

The Hunting Party (2007)

Hunting Party 1

Masih ingat dengan tragedi pemusnahan etnis muslim bosnia pada tahun 1992-1995 lalu? Perang tersebut adalah pemusnahan etnis masal pertama yang terjadi setelah perang dunia kedua. Menyusul pecahnya negara Yugoslavia, daerah Bosnia yang merupakan bagian dari Yugoslavia ingin mendirikan negara sendiri. Namun hal tersebut ditentang oleh kalangan dari petinggi-petinggi etnis Serbia. Etnis Serbia memang merupakan etnis terbesar di Yugoslavia. Pertumpahan darah tak dapat dielakkan ketika Tentara Yugoslavia datang menyerbu Bosnia yang mayoritas penduduknya beragama islam. Perang berakhir dengan campur tangan Amerika Serikat & NATO. Para petinggi Serbia dinyatakan sebagai penjahat perang dan harus dihukum.. . . . . andai tertangkap, kalau tak tertangkap yaaa statusnya buron saja terus sampai kiamat x__x.

Nah The Hunting Party (2007) mengangkat kisah perburuan salah satu penjahat perang tersebut. Jangan harap kita akan melihat aksi tentara NATO apalagi Amerika Serikat seperti saat mereka sedang memburu Osama. Karakter utama atau si pemburu pada The Hunting Party (2007) adalah seorang wartawan stres, Simon Hunt (Richard Gere).

Sesaat setelah perang Bosnia usai, Simon melakukan tindakan yang tidak pantas ketika membawakan sebuah siaran langsung TV terkait pembantaian etnis muslim Bosnia. Ia langsung dipecat dan menghilang dari dunia jurnalistik. Padahal sebelum insiden tersebut, Simon adalah wartawan yang cukup ternama dan sering meliput di daerah-daerah konflik.

Hunting Party 6

Hunting Party 9

Bertahun-tahun kemudian Simon kembali ke daerah bekas negara Yugoslavia untuk memburu Dragoslav “The Fox” Bogdanović (Ljubomir Kerekeš). Simon tidak sendiri, ia dibantu oleh sahabat sekaligus mantan kameramannya, Duck (Terrence Howard). Karena ketika Simon bertemu Duck, Duck sedang didampingi oleh Benjamin Strauss (Jesse Eisenberg), maka Benjamin pun ikut terseret ke dalam kegian perburuan ini. Mampukah mereka memburu penjahat perang yang tak dapat NATO dan Amerika Serikat temukan?

Hunting Party 5

MCDHUPA EC013

Hunting Party 2

Hunting Party 4

Hunting Party 7

Hunting Party 8

Sepanjang film diputar, terdapat flashback yang menjelaskan kenapa Simon menjadi stres dan sangat benci The Fox. Saya suka dengan alur cerita The Hunting Party (2007), ceritanya tidak membosankan, memiliki sedikit humor dan membuat saya penasaran :).

Sebenarnya akan sangat memalukan apabila pada kehidupan nyata, buronan penjahat perang dapat ditemukan oleh sepasang wartawan yang tidak memiliki kemampuan dan fasilitas seperti tentara atau agen rahasia sekelas CIA. Karakter The Fox memang hanyalah fantasi saja, namun profilnya mirip sekali dengan profil mantan presiden Republik Serbia, Radovan Karadžić, yang buron antara tahun 1996 sampai dengan tahun 2008. Penangkapan pada tahun 2008 pun terjadi ketika Republik Serbia sedang mendaftarkan diri untuk bergabung dengan Uni Eropa. Selamban itukah kerja Republik Serbia, Amerika Serikat dan sekutunya?

The Hunting Party (2007) memang agak menyindir kekurangniatan Republik Serbia, Amerika Serikat dan sekutunya dalam memburu penjahat perang Bosnia. Saya yakin The Hunting Party (2007) pasti kurang disukai oleh masyarakat Serbia karena film ini agak memojokkan Serbia, tapi saya tetap suka dengan cara The Hunting Party (2007) menyindir, terlebih lagi jalan ceritanya mudah dicerna dan menarik. Karena itulah The Hunting Party (2007) layak untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” ;).

Fetih 1453 (2012)

Fetih 1

Sejarah mencatat bahwa bangsa Turki pernah mencapai masa kejayaan ketika masih dipimpin oleh Kesultanan Utsmaniyah. Sultan Mehmed II Muhammad Al-Fatih adalah salah satu sultan dari Kesultanan Utsmaniyah yang terkenal karena kesuksesannya dalam menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Kisah penaklukan inilah yang diangkat oleh Faruk Aksoy dalam film produksi Turki yang berjudul Fetih 1453.

Fetih 15

Pada Fetih 1453, dikisahkan awal mula kehidupan Mehmed II mulai dari kecil hingga dewasa. Sebagian besar film ini tentunya lebih banyak mengisahkan masa-masa invasi Kesultanan Utsmaniyah yang dipimpin Sultan Mehmed II (Devrim Evim), ke wilayah Konstantinopel yang dipimpin oleh Kaisar Constantine XI (Recep Aktuğ).

Fetih 4

Fetih 5

Fetih 6

Sayang sekali walaupun judul film ini menggunakan kata-kata Fetih atau Al-Fatih, tapi kok porsi tokoh Al-Fatih atau Mehmed II sendiri kurang dominan di sini. Beliau harus berbagi porsi dengan Ulubatli Hasan (Ibrahim Çelikkol), sahabat Mehmed II yang bertempur di garis terdepan pada pertempuran di Konstantinopel. Kisah cinta segitiga antara Hasan, Era (Dilek Serbest) dan Giustiniani (Cengiz Coşkun) pun sampai ikut-ikutan ditampilkan. Yang lebih menyedihkan lagi, Fetih 1453 (2012) pun menampilkan percintaan ala Hollywood, peluk-pelukan, cium-ciuman dan hubungan badam di luar nikah yang dilakulan oleh Hasan dan Era x__x. Siapa sih Hasan itu? Apakah ada di sejarah? Mungkin judul film ini harus direvisi judulnya menjadi Mehmed II & Hasan. Kisah sampingan seperti ini seharusnya dikurangi porsinya dan disesuaikan dengan adat dan perilaku saat itu. Sebagai kesultanan Islam, pastilah zina merupakan hal yang tabu untuk dilakukan, apalagi bagi salah satu panglima perang sultan.

Fetih 19

Fetih 14

Fetih 13

Fetih 8

Tokoh Sultan Mehmed II pun nampak seperti raja biasa yang berambisi untuk memperluas wilayah kerajaannya. Memang taktik diplomatis Sultan Mehmed II dikisahkan dengan lumayan lengkap, tapi saya rasa kurang ada penjelasan di sana. Bagi penonton yang sama sekali tidak tahu akan sejarah atau posisi Kesultanan Utsmaniyah dan Konstantinopel, akan kebingungan mengikutinya, apalagi kalau teks terjemahannya agak error, film ini kan menggunakan bahasa Turki :’P.

Kalau dilihat dari aksi peperangannya, Fetih 1453 (2012) masih menggunakan special effect yang kurang cantik, masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Red Cliff (2008). Kalaupun tidak mampu menampilka  special effect yang halus, mbok ya taktik perang Sultan Mehmed II didramatisir dan diekspos lebih, jangan hanya perjuangan Hasan saja yang didramatisir. Para sejarawan mencatat bahwa keputusan Sultan Mehmed II ketika menyerang Teluk Golden Horn dianggap sebagai salah satu taktik perang yang menakjubkan di masanya lho, tapi kenapa pada Fetih 1453 (2012) hal tersebut terlihat seperti hal yang biasa?

Fetih 18

Fetih 17

Fetih 20

Fetih 12

Fetih 11

Fetih 21

Fetih 7

Fetih 9

Kemudian kenapa akhir dari Kaisar Constantine hanya begitu saja? Kalau melihat pada sejarah, Constantine ikut berperang di garis depan dan tewas pada pertempuran tersebut. Namun ada beberapa versi sejarah yang menyatakan bahwa Constantine tidak tewas pada pertempuran tersebut karena sampai saat ini, bagian kepala dari mayat Constantine tidak pernah dapat diketemukan.

Fetih 16

Penampakan Constantine yang bergelimang kemewahan pada Fetih 1453 (2012) pun tidak sesuai dengan fakta karena keadaan Konstantinopel pada 1453 memang sudah melemah dan tidak terlalu kaya raya. Terdapat perseteruan internal di antara kaum Kriatinani, beberapa kerajaan di Eropa Barat pun sedang mengalami perang saudara atau perang dengan kerajaan tetangganya. Sultan Mehmed II memang cerdas karena menyerang di saat yang tepat.

Fetih 2

Untunglah, toleransi yang Sultan Mehmed II terapkan tetap ditampilkan pada Fetih 1453 (2012). Rakyat Konstantinopel non muslin diperbolehkan untuk hidup normal seperti biasa, beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Hal yang jauh berbeda ketika Ratu Isabella menguasai Granada :(.

Fetih 3

Berbeda dengan pendapat saya yang menyatakan bahwa Fetih 1453 (2012) kurang mengekspos Sultan Mehmed II, film ini justru sempat menyulut protes dari orang-orang Yunani, mereka merasa bahwa Fetih 1453 (2012) itu “lebay”, wah bagaimana dengan film 300 (2006), 300: Rise of An Empire (2014) dan lain-lain kalau begitu? Sepertinya film-film berlatar belakang Yunani tampil dengan lebih didramatisir deh, tapi bukan berarti lebih baik atau lebih buruk lho. Kalau Fetih 1453 (2012) dibandingkan dengan 300: Rise of An Empire (2014), terus terang saya lebih suka 300: Rise of An Empire (2014).

Secara keseluruhan, saya kurang puas dengan Fetih 1453 (2012). Saya berharap untuk melihat kepahlawanan dari Sultan Mehmed II, tapi yang saya peroleh justru hal lain yang agak menyimpang baik dari sisi sejarah maupun sisi religi. Maka dengan demikian, Fetih 1453 (2012) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

American Sniper (2014)

American Sniper

Sniper atau penembak jarak jauh adalah salah satu spesialisasi yang ada di dunia militer. Kali ini Clint Eastwood mengangkat kisah kehidupan seorang sniper melalui film besutannya yang terbaru, American Sniper (2014). Konon film ini dilhami oleh beberapa peristiwa nyata yang dialami oleh Chris Kyle, sniper legendaris militer Amerika Serikat yang berhasil membunuh 160 musuh pemerintah Amerika Serikat dengan tembakan jarak jauhnya yang jitu.

American Sniper 4

American Sniper 3

American Sniper 9

American Sniper (2014) mengisahkan kehidupan Chris Kyle (Bradley Cooper) sejak Kyle belum bergabung dengan Marinir sampai dengan akhir hidup Kyle. Film ini memang merupakan film semi autobiografi yang berfokus pada kehidupan Kyle sehingga American Sniper (2014) tidak hanya mengisahkan bagimana Kyle beraksi di medan perang. Bagaimana pengaruh perang terhadap keseharian Kyle dan keluarga Kyle pun muncul sehingga American Sniper (2014) bukanlah 100% film aksi di medan peperangan, ada drama diantaranya.

TA3A5741.DNG

American Sniper 11

American Sniper 5

American Sniper 12

American Sniper 2

Ketika pulang ke rumah, Kyle selalu ingin kembali ke medan perang di Irak. Ia berambisi untuk menangkap atau membunuh pemimpin-pemimpin Al Qaeda dan semua pihak yang dianggap sebagai musuh oleh pemerintah Amerika Serikat. Sosok Kyle memang sangat patriotik bagi Amerika. Namun bagimana bagi para penonton non Amerika seperti saya?

AMERICAN SNIPER

N07A8475.dng

0696974.tiff

AMERICAN SNIPER

Yaaah, American Sniper (2014) rasanya terlalu “Amerika”. Semuanya digambarkan seperti seolah-olah tentara Amerika Serikat datang ke Iraq sebagai “jagoan” dan “pahlawan”. Saya rasa itu tidak 100% benar, ada aspek-aspek lain di sana. Kalau dilihat dari sudut pandang lain, tindakan-tindakan ekstrim yang dilakukan oleh lawan Kyle di Irak adalah hal yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa dijajah oleh Amerika. Saya tidak tahu pasti siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi saya rasa kurang adil kalau American Sniper (2014) hanya memandang dari 1 sudut pandang saja, sudut pandang Amerika.

Selain itu, aksi-aksi yang ditampilkan American Sniper (2014) tidak terlalu “wah”, meskipun menurut saya sniper adalah keahlian yang keren. Enemy at the Gates (2001) mampu menampilkan kisah sniper yang lebih keren dibandingkan American Sniper (2014). Olehkarena itulah menurut saya pribadi American Sniper (2014) hanya layak untuk mendapat nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Meneer Kyle bisa jadi dianggap sebagai seorang sniper paling berbahaya di sejarah militer Amerika, tapi setahu saya, sniper paling berbahaya di dunia adalah Simo “White Dead” Häyä dengan jumlah kill hit sekitar 2 kalinya kill hit Kyle :). Kapan ya ada film tentang Simo masuk ke Hollywood? :).

Sumber: http://www.americansnipermovie.com

Red Cliff (2008 & 2009)

Red Cliff 1

Red Cliff (2008 & 2009) merupakan film Tiongkok yang panjang sekali sampai harus dipecah menjadi 2 bagian yaitu Red Cliff Part 1 (2008) dan Red Cliff Part 2 (2009). Film arahan John Woo ini mengambil cerita di tengah-tengah perang saudara yang melanda Cina pada sekitar 208 – 209 AD, ini termasuk era yang dikisahkan pula pada novel Romance of Three Kingdom yang terkenal.

Kisah Red Cliff (2008 & 2009) diawali dengan bagaimana Perdana Mentri Cao Cao (Zhang Fengyi) mengendalikan kaisar dinasti Han yang masih belia. Cao Cao dan tentara daratnya berhasil menguasai Cina bagian utara. Sementara itu Cina bagian selatan masih dikuasai oleh Liu Bei (You Young) dan Sun Quan (Chang Chen). Cao Cao menuduh Liu Bei & Sun Quan sebagai pemberontak dan mengerahkan pasukannya untuk menguasai wilayah kekuasaan Liu Bei & Sun Quan.

Menang dalam jumlah, tentara Cao Cao berhasil memukul mundur pasukan Liu Bei yang diperkuat oleh 4 orang kepercayaan Liu Bei yang sangat terkenal kemampuannya yaitu Zhuge Liang (Takeshi Kaneshiro), Guan Yu (Batdorj-in Baasanjab), Zhang Fei (Zang Jinsheng) dan Zhao Yun (Hu Jun). Zhang Fei, Zhao Yun dan Guan Yu sama-sama terkenal akan kemampuannya di medan tempur sebagai petarung ulung, sementara itu Zhuge Liang adalah ahli taktik Liu Bei yang terkenal cerdik.

Red Cliff 23

Red Cliff 10 Red Cliff 22 Red Cliff 4

Melihat kondisi yang tidak menguntungkan, Liu Bei memerintahkan Zhuge Liang untuk mengajukan proposal kerja sama kepada Sun Quan. Liu Bei dan Sun Quan harus bersatu melawan Cao Cao apabila mereka masih ingin mempertahankan kekuasaannya. Walaupun awalnya ragu apakah harus menyerah atau melawan, Sun Quan akhirnya setuju dengan proposal yang Zhuge Liang bawa. Sun Quan pun mengirimkan pasukannya dengan dipimpin oleh saudaranya sendiri, Zhou Yu (Tony Leung). Sebenarnya saudari dari Sun Quan, Sun Shangxiang (Zhao Wei), ingin ikut berperang. Tapi ia tidak mendapat izin karena saudara-saudaranya berpendapat bahwa medan tempur bukanlah tempat yang tepat bagi seorang putri.

Red Cliff 3

Red Cliff 21

Red Cliff 24

Tanpa sepengetahuan saudara-saudaranya, Sun Shangxiang pergi masuk ke dalam perkemahan Cao Cao dan menyamar sebagai prajurit pria di sana. Postur tubuh dan sifat tomboy Sun Shangxiang berhasil mengelabui pasukan Cao Cao lainnya. Demi tanah kelahirannya, Sun Shangxiang menjadi mata-mata dan mengirimkan berbagai informasi terkait keadaan pasukan Cao Cao kepada pihak Liu Bei & Sun Quan.

Tanpa diduga, Cao Cao ternyata memiliki motif lain terkait invasinya ke wilayah Sun Quan. Cao Cao masih mencintai Xiaoxiao (Chiling Lin), istri Zhou Yu sekaligus ipar Sun Quan. Bila Sun Quan takluk, Cao Cao berharap dapat merebut Xiaoxiao pula dari pelukan Zhou Yu.

Red Cliff 11

Pasukan Cao Cao terus maju masuk ke dalam wilayah kekuasaan Sun Quan. Namun perjalanan mereka terhenti di sebuah wilayah yang disebut Chi Bi atau Red Cliff atau Tebing Merah. Di sinilah tentara sekutu Liu Bei & Sun Quan berdiri bersama mempertahankan laju invasi tentara Cao Cao meskipun gabungan tentara Liu Bei & Sun Quan tetap kalah dari segi jumlah dibandingkan tentara Cao Cao. Tentara Cao Cao yang sebagian besar adalah tentara darat harus mampu bertempur pula di laut. Pertempuran di Tebing Merah tidak hanya dilakukan di darat, melainkan di laut juga. Sun Quan memiliki kelebihan karena pihaknya relatif lebih berpengalaman dalam bidang pertempuran di laut. Meskipun Sun Quan memiliki Zhou Yu sebagai panglima perang yang kuat dan ahli strategi, Liu Bei memiliki Zhuge Liang yang sangat cerdik, karakter paling cerdik pada Red Cliff (2008 & 2009). Perlu diingat juga bahwa pada dasarnya Liu Bei dan Sun Quan adalah lawan juga, persekutuan mereka pun hanya bersifat sementara, tinggal menunggu waktu saja kapan mereka akan saling membunuh. Masing-masing pihak melakukan manuver-manuver taktik perang yang cerdik.

Red Cliff 2

Red Cliff 20

Red Cliff 17

Red Cliff 16

 Red Cliff 12

Red Cliff 7

Red Cliff 6

Red Cliff 5

Red Cliff 9

Red Cliff 13 Red Cliff 8

Red Cliff 18 Red Cliff 15

Red Cliff 14

Red Cliff (2008 & 2009) adalah film cerdas yang tidak hanya menampilkan adegan perkelahian saja. Meskipun John Woo memasukkan unsur-unsur non sejarah pada Red Cliff (2008 & 2009), saya suka dengan adu strategi yang Red Cliff (2008 & 2009) tampilkan, kereeen :). Perlu diingat bahwa Red Cliff (2008 & 2009) lebih memihak kubu Liu Bei dan Sun Quan, sementara itu kubu Cao Cao digambarkan sebagai kubu antagonis padahal entah aslinya seperti apa. Yaaaah anggap saja Red Cliff (2008 & 2009) sebagai hiburan, bukan film dokumenter meskipun lokasi dan nama karakter-karakter yang hadir cukup lengkap ; ).

Kalau dilihat dari nama para karakter yang ada, saya sendiri merasa kesulitan menghafalnya, namanya mirip-mirip hehehe, yang pasti saya hafal hanyalah Liu Bei, Sun Quan, Zhou Yu dan Zhuge Liang, karakter favorit saya pada Red Cliff (2008 & 2009). Sisanya, saya hanya hafal wajah saja tapi tak tahu namanya, hohohoho. Maklum, Red Cliff (2008 & 2009) memiliki durasi yang panjang sehingga karakter yang bermunculan pun semakin banyak.

Red Cliff 19

Walaupun durasinya panjang, saya tidak pernah bosan menonton film ini. Menurut saya, Red Cliff (2008 & 2009) layak untuk mendapat nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”.

Sumber: www.redclifffilm.com