Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Scary Stories to Tell in the Dark (2019) mengambil latar belakang Amerika di tahun 1968, saat Amerika masih aktif terlibat Perang Vietnam. Atmosfer pemilihan presiden pun menjadi aroma tambahan bagi latar film ini. Tapi, bukan perang atau pemilihan presiden yang menjadi topik utama Scary Stories to Tell in the Dark (2019), melainkan kumpulan cerita seram yang dapat berubah menjadi kenyataan.

Pada awal Scary Stories to Tell in the Dark (2019), terdapat sekelompok remaja masuk ke dalam sebuah rumah misterius pada malam Hallowen. Di dalam rumah tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan rahasia dan mengambil sebuah buku. Pada halaman pertama buku tersebut, tertulis …. milik Sarah Bellows.

Sarah Bellows adalah seorang anak perempuan yang mati gantung diri dan selalu dikait-kaitkan dengan cerita seram di kota Mill Valey. Tanpa sadar, para remaja tersebut telah membangunkan sesuatu yang buruk. Buku yang mereka bawa ternyata dapat menuliskan sendiri, kisah-kisah seram yang ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata. Satu per satu kisah seram milik mereka, tertulis di buku milik Sarah Bellows tersebut. Tentunya kematian semakin mendekatin para remaja tersebut. Mau tak mau, mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka harus menyelamatkan diri dari kisah yang tertulis, sambil menyelidiki bagaimana mereka menghentikan semua ini.

Sekilas, plot Scary Stories to Tell in the Dark (2019) sudah sering sekali diangkat oleh berbagai film horor remaja, termasuk film horor Indonesia. Hanya saja, eksekusi dari Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terbilang rapi dan terarah sehingga saya merasakan kengerian pada beberapa bagiannya.

Sayang, film ini mungkin tidak akan terasa seram sekali bagi mayoritas penonton dewasa. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terkesan seperti film horor monster, sesuatu yang mungkin akan menakutkan bagi penonton dewasa Amerika. Mayoritas setan dan hantu ala Amerika dan Eropa memang berwujud fisik sepeeri monster. Selain itu, film ini sebenarnya diambil dari novel pendek dengan judul yang sama. Di Amerika sana, novel tersebut cukup kontroversial pada tahun 90-an. Novel ini dapat ditemukan di perpustakaan pada bagian remaja & anak, padahal konten dan grafis dari novel tersebut dinilai terlalu sadis untuk dilihat oleh remaja sekalipun. Kenangan akan cerita seram pada buku tersebut, tentunya membawa nostalgia tersendiri bagi penonton yang mengenal versi novelnya sebagai novel terseram pertama yang mereka baca sebagai remaja. Saya pribadi sebenarnya lebih seram dengan setan dan hantu ala Indonesia hihihihi.

Tapi tetap saja, eksekusi yang cemerlang, membuat Scary Stories to Tell in the Dark (2019) nampak unggul dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang pernah saya tonton. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) pun beberapa kali membuat saya salah menebak akan misteri yang menyelimuti Sarah Bellows dan kutukannya. Misterilah yang membuat saya penasaran dan terjaga ketika menonton film ini. Tapi jangan harap akan ada kejutan atau twist yang “wow” pada film ini, akhir dari misteri yang ada tidaklah terlalu mencengangkan.

Selain itu, akhir dari film ini agak kurang garang ya. Seperti masih ditahan untuk sebuah sekuel mungkin? Melihat kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark (2019) di tangga box office, sepertinya film ini akan ada sekuelnya. Saya rasa Scary Stories to Tell in the Dark (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.scarystoriestotellinthedark.com

Iklan

Us (2019)

Sutradara yang mengarsiteki Get Out (2017), tahun ini kembali menghadirkan film bergenre serupa yaitu Us (2019). Kali ini sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak dikisahkan berlibur ke pantai. Sepulang dari liburan tersebut, Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), Gabriel “Gabe” Wilson (Winston Duke), Zora Wilson (Shahadi Wright Joseph) dan Jason Wilson (Evan Alex), didatangi oleh 4 orang misterius.

Keempatnya ternyata memiliki bentuk tubuh dan wajah yang serupa dengan Adelaide, Gabe, Jason dan Zora. Bertemu saudara kembar yang aneh dan galak, keluarga Wilson harus melarikan diri untuk selamat. Kembaran keluarga Wilson ternyata memiliki dendam lama dan niat yang tidak baik. Ada apa ini? Sebuah misteri yang membuat saya penasaran sampai akhir Us (2019).

Terdapat beberapa kejutan yang menyeramkan pada film ini. Jadi Us (2019) merupakan film horor dan misteri yang memberikan ketakutan secara psikologis, bukan melalui adegan sadis atau jump scare yang sering diumbar-umbar oleh film horor Indonesia :P. Kelas Us (2019) jauuuh di atas itu. Film ini pun secara tersirat ingin membicarakan isu lain terkait kampanye melawan masalah sosial yang melanda Amerika saat ini.

Us (2019) memang tidak sempurna dan memiliki sedikit “lubang” pada jalan ceritanya. Masih ada beberapa hal yang tidak dijelaskan terutama terkait kembaran keluarga Wilson. Penjelasan singkat yang ada pada film ini masih menyisakan berbagai pertanyaan, kalau dilihat dari logika. Yaaah paling tidak, akhir dan identitas karakter-karakter pada Us (2019) masih terjelaskan dan tidak se-ambigu film-film horor pada umumnya. Terus terang saya kurang suka dengan film yang akhirnya terlalu menggantung atau ambigu, lalu penonton disuruh berfikir dan berhayal sendiri begitu?

Dengan demikian, saya rasa Us (2019) pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Akting Lupita Nyong’o perlu mendapatkan pujian di sini, ia berhasil memerankan 2 karakter yang sedang ketakutan, penuh kebencian dan licik.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/us

Sicario: Day of the Soldado (2018)

Kalau dilihat dari judulnya, Sicario: Day of the Soldado (2018) adalah sekuel yang saya tunggu-tunggu dari Sicario (2015). Hhhhmmmm, ternyata saya salah, film ini bukanlah sekuel dari Sicario (2015), melainkan spinoff yang berdiri sendiri dengan beberapa karakter dari Sicario (2015). Pada Sicario: Day of the Soldado (2018), karakter Emely Blunt yang dijadikan sebagai sudut pandang penonton pada Sicario (2015), ditiadakan … karena yah ini memang bukan sekuel hohoho. Saya tidak masalah sih, toh pada Sicario (2016), karakter Alejandro Gillick (Benicio del Toro) memang terlihat lebih menonjol.

Alejandro sang sicario kembali bekerja sama dengan CIA di bawah komando Matt Grover (Josh Brolin). Kali ini keduanya bermaksud untuk mengadudomba 2 kartel narkoba di Meksiko dengan melakukan pembunuhan dan penculikan kepada kedua pihak. Alejandro kembali dilibatkan karena ia bukan bagian dari CIA, tapi merupakan seoran sicario, pembunuh legendaris yang bekerja pada sebuah kartel.

Saya pikir akan ada emosi yang kuat ketika Alejandro dan Grover harus menggunakan seorang anak perempuan, Isabel Reyes (Isabela Moner), untuk mencapai tujuannya. Alejandro dan Isabel banyak sekali berinteraksi, tapi keduanya nampak tidak memilki chemistry yang kuat. Padahal, karakter Alejandro ini kehilangan anak perempuannya yang seumuran dengan Isabel.

Perubahan sutradara, sudut pandang penonton dan hilangnya kharisma sang sicario, membuat Sicario: Day of the Soldado (2018) nampak hambar. Jalan ceritanya agak berantakan dan ambigu, kemudian adegan aksi ala perbatasan Meksiko yang memukau pada Sicario (2016), kembali diulang dengan cara yang buruk.

Film ini agak mengecewakan dan hanya dapat menperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Yaaah, sicario yang digadang-gadang akan membentuk sebuah franchise nampaknya akan meredup sebelum waktunya.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/sicariodayofthesoldado

Glass (2019)

M. Night Shyamalan bukanlah sutradara favorit saya. Saya bahkan kurang suka dengan beberapa karyanya. Secara mengejutkan, Shyamalan menghasilkan Split (2017) yang memiliki banyak sekali kejutan di dalamnya, kejutan yang tidak saya duga sebelumnya. Saya pun tentunya tertarik untuk menonton kelanjutan dari Split (2017), yaitu Glass (2019). Apakah Glass (2019) akan lebih baik dari Split (2017)?

Pada bagian akhir Split (2017), dapat diketahui bahwa terdapat 2 orang yang memiliki kekuatan super di atas menusia biasa yaitu Kevin Wendell Crumb / The Horde (James McAvoy) dan David Dunn / The Observer (Bruce Willis). Nah pada Glass (2019), keduanya tertangkap dan dijebloskan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Ok, kita sudah memiliki The Horde dan The Observer, lalu dimana Glass? Mr.Glass adalah julukan dari Elijah Price (Samuel L. Jackson). Ia pun dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kevin dan David.

Berbeda dengan kedua rekannya, secara fisik, Elijah sangat rapuh seperti gelas. Tulang tubuhnya mudah sekali retak dan patah sebagai akibat dari penyakit osteogenesis imperfecta tipe 1 yang ia derita sejak kecil. Kelemahan fisiknya, ternyata diikuti oleh kecemerlangan otaknya. Sayang Elijah menggunakan kejeniusannya untuk melakukan pembunuhan masal. Uniknya, alasan Elijah membunuh adalah untuk mencari dan menciptakan orang-orang berkemampuan seperti superhero di buku komik. Itulah mengapa, Elijah, diterapi bersama-sama dengan David dan Kevin. Ketiganya sama-sama percaya akan keberadaan superhero di dunia nyata.

Di rumah sakit tersebut, semua bukti mengenai kekuatan super David dan Kevin, diperdebatkan oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson). Dr. Ellie mencoba meyakinkan bahwa semua itu hanya khayalan saja. Elijah sendiri hanya diam dan jarang merespons apa yang Dr. Ellie katakan. Tapi Glass (2019) memang berbicara mengenai Elijah atau Mr. Glass. Walau nampak lemah dan tak berdaya, Elijah ternyata menyimpan sebuah rencana yang …. pada akhirnya tidak terlalu menarik :P.

Bagian awal dan tengah yang menjanjikan dan sukses membuat saya penasaran, diakhiri dengan sesuatu yang mengecewakan. Memang sih, saya gagal menebak mau dibawa ke mana arah film ini, tapi kejutan yang dihadirkan nampak kurang ok. Padahal jalan ceritanya terbilang menarik loh.

Apalagi akting James McAvoy dan Samuel L. Jackson sebenarnya terbilang bagus pada Glass (2019). Karena akting prima keduanya, akting Bruce Willis sendiri jadi nampak kurang menonjol :’D. Sesuai judulnya, film ini memang panggung bagi Elijah atau Mr. Glass, jadi pusat perhatian bukan pada Bruce Willis atau David Dunn. Samual L. Jackson berhasil memerankan seorang jenius dan ahli taktik. Film ini memang benar-benar filmnya Mr. Glass. Sayang yah sekali lagi, twist di akhirnya yaaaah kurang ok :P.

Secara keseluruhan, kualitas Glass (2019) agak dibawah ekspektasi saya, namun film ini tetap layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya ragu akan ada film keempat setelah Glass (2019).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/glass

L.A. Confidential (1997)

L.A. Confidential (1997) sebenarnya sudah lama masuk ke dalam daftar tonton saya. Tapi baru beberapa hari yang lalulah saya sempat menonton film yang katanya sih bagus :). Film ini sering dibanding-bandingkan dengan Chinatown (1974) yang mendapatkan banyak pujian dari banyak kritikus film. Tapi yaaa terus terang, saya pribadi kurang suka dengan Chinatown (1974) v(^_^). Apakah L.A. Confidential (1997) akan mengalami nasib yang sama?

Mirip seperti Chinatown (1974), L.A. Confidential (1997) mengambil latar belakang kepolisian Los Angles lawas, dengan tambahan bumbu kehadiran perempuan penggoda yang dapat mendatangkan malapetaka. Los Angeles di tahun 1950-an sudah menjadi kotanya selebritis. Banyak wanita cantik dan pria tampan datang ke sana untuk berkarir di dunia hiburan. Di balik gemerlap Los Angles, terdapat pula berbagai tindak kriminal yang diorganisir oleh organisasi yang terstruktur.

Di dalam kepolisian Los Angles, terdapat 3 polisi yang berusaha menyelesaikan berbagai kasus kejahatan dengan caranya masing-masing. Tak disangka, pada perjalannya, mereka menemukan fakta yang dapat mencoreng nama baik rekan mereka sendiri. Di tengah-tengah konflik yang ada, hadir wanita penggoda yang diperankan oleh Kim Basinger.

Lynn Bracken (Kim Basinger) muncul di tengah-tengah penyelidikan kasus pembantaian sadis di dalam sebuah restoran. Jack Vincennes (Kevin Spacey), Wendell ‘Bud’ White (Russell Crowe) dan Edmund J. Exley (Guy Pearce) adalah 3 detektif yang secara langsung dan tak langsung, aktif terlibat di dalam penyelidikan. Berbeda dengan film-film detektif lainnya, ketiga tokoh sentral ini bukan partner. Mereka bahkan terkadang tidak saling suka karena masing-masing memiliki motif yang agak berbeda ketika melakukan penyelidikan ini.

Jack merupakan detektif divisi narkoba yang terkenal karena keterlibatannya di dalam sebuah acara TV. Jack memiliki banyak koneksi di dalam dunia hiburan Los Angles dan lebih senang menyelesaikan masalah dengan kecerdikannya. Berbeda denga Jack, Bud merupakan detektif divisi pembunuhan yang tegas, tempramental dan setia kawan. Karena masa lalu Bud yang kelam, emosi Bud sangat mudah tersulut ketika ada wanita yang sedang dalam bahaya. Bud tidak segan-segan melakukan kekerasan dan perbuatan diluar peraturan. Kebalikan dari Bud, Edmund adalah detektif divisi pembunuhan yang sangat ambisius dan taat dengan peraturan. Bagi Edmund, semuanya harus dilakukan berdasarkan peraturan yang ada. Edmund tidak segan-segan untuk menindak tegas rekan sesama detektif yang melanggar peraturan. Inilah yang menjadi awal mula kenapa Edmund dan Bud terkadang saling benci satu sama lain, keduanya memiliki watak dan cara kerja yang bertolak belakang. Jack hadir sebagai polisi cerdik yang mampu membaca situasi dan secara tidak langsung berperan sebagai penengah sehingga Bud dan Edmund tidak terus menerus saling bergesekan. Kevin Spacey tampil dengan gemilang dalam memerankan Jack, rasannya ia layak untuk memperoleh 1 Oscar lagi di film ini :D.

Jalan cerita L.A. Confidential (1997) agak berliku-liku, penonton seolah dibuat tidak tahu kemana arah film ini. Tapi cara penceritaannya terbilang sangat menarik dan jauh dari kata membosankan. Saya menikmati bagaimana ketiga datektif melakukan tugasnya masing-masing, hingga pada akhirnya mereka menemukan fakta akan hubungan antara kasus-kasus yang mereka tangani :D.

Saya rasa, L.A. Confidential (1997) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jaaauuuuuh lebih bagus daripada Chinatown (1974). Bisa dibilang, L.A. Confidential (1997) adalah salah satu film detektif terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.warnerbros.com/la-confidential

Sleepless (2017)

Sekilas Sleepless (2017) terlihat kurang menarik. Pada bagian awal film, penonton seolah digiring untuk menganggap bahwa Sleepless (2017) hanya bercerita mengenai polisi korup yang harus menghadapi segala akibat dari tindakannya. Dikisahkan bahwa Vincent Downs (Jamie Foxx), detektif Kepolisian Las Vegas, mengambil narkoba dari sebuah razia, untuk kepentingan pribadi. Buntutnya, pihak kartel menculik anak Vincent dan menggunakannya sebagai sandera. Vincent diharuskan untuk menebus anaknya dengan sejumlah narkoba yang ia curi. Keadaan semakin pelik ketika Bryant (Michelle Monaghan), detektif provos, ikut melakukan penyelidikan. Bryant mencurigai Vincent sebagai dalang dari beberapa pelanggaran kode etik kepolisian yang terjadi belakangan ini. Terjadilah rangkaian peristiwa kucing-kucingan yang sepertinya sudah sering saya lihat di film-film lain.

Pada pertengahan cerita, terdapat kejutan yang merubah segalanya. Semua opini yang terbangun pada awal cerita, runtuh seketika. Saya sendiri tidak menduga akan hal ini. Wah ternyata keren juga film ini. Sayang, sepertinya penerapan kejutan ini kurang pas sehingga merusak kejutan lain di akhir film. Setelah melihat bagian tengahnya, saya langsung dapat menebak bagian akhirnya seperti apa.

Sleepless (2017) sebenarnya memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan-kejutan yang bagus. Eksekusi yang kurang tepat membuat beberapa kejutan yang sudah disiapkan terasa hambar. Beruntung alur ceritanya diselingi oleh beberapa adegan aksi dengan kadar yang tepat sehingga film tidak terlalu membosankan. Saya rasa Sleepless (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sleeplessmovie.com

The Cabin in the Woods (2012)

Cabin in the Woods

Sebuah rumah kayu atau kabin di tengah hutan terpencil dengan pemandangan yang indah, plus sebuah danau yang bersih. Itulah tempat liburan Curt Vaughan (Chris Hemsworth), Dana Polk (Kristen Connolly), Marty Mikalski (Fran Kranz) dan Holden McCrea (Jesse Williams) pada The Cabin in the Woods (2012). Kelima remaja ini tidak sadar bahwa terdapat maut mengintip mereka di balik keindahan alam yang mereka saksikan.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Secara tidak sengaja, mereka menemukan berbagai benda-benda kramat di bawah kabin tempat mereka menginap. Secara tidak sengaja pulalah mereka membangkitkan sesuatu yang jahat dari alam kubur. Selanjutnya sudah dapat ditebak, mereka diburu oleh mahluk-mahluk misterius yang mereka bangkitkan. Terdengar klise bukan? Hehehehehe.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Sekilas, The Cabin in the Woods (2012) memang nampak seperti film horor remaja pada umumnya. Tapi ternyata film ini berhasil membawa sesuatu yang berbeda sebab maksud dan tujuan dari semua yang menimpa kelima remaja tersebut tidaklah sedangkal film-film horor remaja lainnya.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Film ini secara kreatif memiliki alur yang berbelok tanpa membuat penontonnya kebosanan. Saya sendiri tidak menganggap The Cabin in the Woods (2012) sebagai film horor yang menakutkan, tapi misteri yang meyelimutinya mampu membuat saya penasaran. Saya ikhlas untuk memberikan The Cabin in the Woods (2012) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.discoverthecabininthewoods.com