Sleepless (2017)

Sekilas Sleepless (2017) terlihat kurang menarik. Pada bagian awal film, penonton seolah digiring untuk menganggap bahwa Sleepless (2017) hanya bercerita mengenai polisi korup yang harus menghadapi segala akibat dari tindakannya. Dikisahkan bahwa Vincent Downs (Jamie Foxx), detektif Kepolisian Las Vegas, mengambil narkoba dari sebuah razia, untuk kepentingan pribadi. Buntutnya, pihak kartel menculik anak Vincent dan menggunakannya sebagai sandera. Vincent diharuskan untuk menebus anaknya dengan sejumlah narkoba yang ia curi. Keadaan semakin pelik ketika Bryant (Michelle Monaghan), detektif provos, ikut melakukan penyelidikan. Bryant mencurigai Vincent sebagai dalang dari beberapa pelanggaran kode etik kepolisian yang terjadi belakangan ini. Terjadilah rangkaian peristiwa kucing-kucingan yang sepertinya sudah sering saya lihat di film-film lain.

Pada pertengahan cerita, terdapat kejutan yang merubah segalanya. Semua opini yang terbangun pada awal cerita, runtuh seketika. Saya sendiri tidak menduga akan hal ini. Wah ternyata keren juga film ini. Sayang, sepertinya penerapan kejutan ini kurang pas sehingga merusak kejutan lain di akhir film. Setelah melihat bagian tengahnya, saya langsung dapat menebak bagian akhirnya seperti apa.

Sleepless (2017) sebenarnya memiliki potensi besar untuk memberikan kejutan-kejutan yang bagus. Eksekusi yang kurang tepat membuat beberapa kejutan yang sudah disiapkan terasa hambar. Beruntung alur ceritanya diselingi oleh beberapa adegan aksi dengan kadar yang tepat sehingga film tidak terlalu membosankan. Saya rasa Sleepless (2017) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.sleeplessmovie.com

Iklan

The Cabin in the Woods (2012)

Cabin in the Woods

Sebuah rumah kayu atau kabin di tengah hutan terpencil dengan pemandangan yang indah, plus sebuah danau yang bersih. Itulah tempat liburan Curt Vaughan (Chris Hemsworth), Dana Polk (Kristen Connolly), Marty Mikalski (Fran Kranz) dan Holden McCrea (Jesse Williams) pada The Cabin in the Woods (2012). Kelima remaja ini tidak sadar bahwa terdapat maut mengintip mereka di balik keindahan alam yang mereka saksikan.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Secara tidak sengaja, mereka menemukan berbagai benda-benda kramat di bawah kabin tempat mereka menginap. Secara tidak sengaja pulalah mereka membangkitkan sesuatu yang jahat dari alam kubur. Selanjutnya sudah dapat ditebak, mereka diburu oleh mahluk-mahluk misterius yang mereka bangkitkan. Terdengar klise bukan? Hehehehehe.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Sekilas, The Cabin in the Woods (2012) memang nampak seperti film horor remaja pada umumnya. Tapi ternyata film ini berhasil membawa sesuatu yang berbeda sebab maksud dan tujuan dari semua yang menimpa kelima remaja tersebut tidaklah sedangkal film-film horor remaja lainnya.

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Cabin in the Woods

Film ini secara kreatif memiliki alur yang berbelok tanpa membuat penontonnya kebosanan. Saya sendiri tidak menganggap The Cabin in the Woods (2012) sebagai film horor yang menakutkan, tapi misteri yang meyelimutinya mampu membuat saya penasaran. Saya ikhlas untuk memberikan The Cabin in the Woods (2012) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: www.discoverthecabininthewoods.com

Shutter Island (2010)

Shutter Island

Shutter Island (2010) mengisahkan peristiwa yang terjadi pada tahun 1954 di Pulau Shutter yang terpencil. Apa apa di Pulau Shutter? Di pulau tersebut berdiri Rumah Sakit Jiwa Ashecliffe yang dipimpin oleh Dr. John Cawley (Ben Kingsley). Teddy Daniels (Leonardo DiCaprio) dan Chuck Aule (Mark Ruffalo) adalah polisi yang dikirim oleh pemerintah untuk menyelidiki hilangnya salah satu pasien di Pulau tersebut.

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Sesampainya di sana, Teddy sering mengalami migrain dan mimpi-mimpi aneh. Hal ini terkait dengan 2 trauma berat yang pernah ia hadapi di masa lalu. Teddy sering teringat akan peristiwa sadis yang harus ia hadapi ketika ikut perang melawan Nazi. Kemudian Teddy juga sering teringat akan kematian istrinya, Dolores Chanal (Michelle Williams). Hal inilah yang ternyata menjadi alasan kenapa Teddy memiliki motif lain untuk datang ke Shutter Island.

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Shutter Island

Film ini bisa dibilang memiliki kejutan yang tak terduga bagi sebagian penonton. Sejak awal, saya sendiri melihat bahwa film ini adalah film tentang sakit jiwa. Dugaan saya mengenai kasus yang dihadapi Teddy ternyata terbukti benar walaupun jalan cerita film ini beberapa kali berusaha membelokkan arah kecurigaan saya. Film ini terlalu berusaha membelokkan tujuan dan arah tokoh utama sehingga fokus ceritanya agak blur. Hal ini pulalah yang membuat Shutter Island (2010) agak membosankan. Saya hanya dapat memberikan Shutter Island (2010) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.paramount.com/movies/shutter-island

Pride and Prejudice and Zombies (2016)

Pride and Prejudice and Zombies (2016) merupakan modifikasi dari sebuah novel romatis karya Jane Austen. Dikisahkan bahwa pada abad ke-19, Inggris berhasil menguasai banyak negara dan memperoleh harta yang melimpah. Banyak dari kalangan bangsawan Inggris pada saat itu, mengambil dan mempelajari seni, budaya dan ilmu beladiri Asia untuk memperkaya ilmu pengetahuan mereka.

Ditengah-tengah kejayaannya, hadir sebuah wabah misterius yang membuat manusia menjadi zombie. Penyakit ini menular melalui gigitan dan luka. Manusia yang tertular akan menjadi agresif dan memiliki naluri untuk menyantap otak manusia. Akibat wabah ini, Inggris membangun parit dan tembok besar di sekitar ibukota London. Tentara Inggris terus mendesak dan memburu para zombie hingga seakan-akan zombie akan kalah.

Melihat situasi yang semakin aman dan menguntungkan, para bangsawan keluar dari London untuk kembali menjalankan roda pemerintahan di wilayah-wilayah Inggris. Masa dan kondisi seperti inilah yang menjadi latar belakang Pride and Prejudice and Zombies (2016). Di tengah-tengah kewaspadaan akan bangkitnya para zombie, hadir drama romantis dengan Elizabeth Bennet (Lily James) sebagai tokoh sentralnya.

Elizabeth adalah anak dari salah bangsawan di wilayah Inggris. Hukum dan tradisi Inggris saat itu mengatur agar harta keluarga hanya akan jatuh ke tangan laki-laki. Sayangnya, semua adik-adik Elizabeth adalah perempuan, sehingga apabila ayah mereka tiada, seluruh harta keluarga mereka akan jatuh ke tangan sepupu laki-laki tertua mereka. Sang ibu kemudian melakukan berbagai usaha agar anak-anaknya dapat dipersunting oleh laki-laki dari keluarga kaya. Ooohhh lalu apakah Elizabeth justru akan jatuh cinta dengan laki-laki miskin seperti cerita-cerita sinetron Indonesia?

Ooo syukurlah tidak. Elizabeth justru berhasil menarik perhatian Fitzwilliam Darcy (Sam Riley), salah satu anggota keluarga terkaya di Inggris. Walaupun Elizabeth sebenarnya tertarik juga dengan Darcy, semakin hari citra Darcy di mata Elizabeth semakin memburuk. Darcy dikabarkan sebagai aktor dibalik berpisahnya Charles Bingley (Douglas Booth) dan Jane Bennet (Bella Heathcote). Jane adalah adik Elizabeth, sedangkan Bingley adalah pria kaya raya yang sudah lama bersahabat dengan Darcy. Selain itu, Darcy dikabarkan telah melakukan tindakan kurang terpuji kepada Letnan George Wickham (Jack Huston) dimasa lalu.

Semua drama di atas, dibalut dengan perang besar antara manusia dengan zombie. Tak lupa terdapat beberapa adegan perkelahian dengan pistol dan senjata tajam karena para bangsawan dikisahkan telah menguasai ilmu beladiri dari Cina dan Jepang. Tapi lucunya, di sana dikisahkan bahwa terdapat perbedaan kasta antara bangsawan yang belajar di Jepang dengan di Cina. Padahal ketika mereka semua berkelahi, tidak ada pembeda yang jelas antara lulusan Jepang dengan Cina. Beberapa adegan perkelahiannya diambil dengan jarak yang terlalu dekat, sempit dan gelap. Saya sendiri terkadang tidak tahu gerakan apa yang mereka lakukan :’D. Walaupun begitu, melihat Elizabeth dan adik-adiknya membawa pisau dan siap tempur, terbilang cukup bagus untuk dilihat. Metode yang Darcy pakai untuk melawan zombie pun nampak cerdas dan pantas untuk disaksikan.

Sayang kehadiran para zombie beserta teror yang mereka bawa tidak terlalu terasa, padahal ini merupakan perbedaan utama antara Pride and Prejudice and Zombies (2016) dengan Pride and Prejudice versi aslinya. Jalan cerita yang ditampilkan terkadang seperti terpisah dan agak dipaksakan terutama pada bagian akhir film, pada bagian setelah kebenaran akan semua yang menimpa Darcy. Sedikit kejutan memang muncul pada Pride and Prejudice and Zombies (2016), sebuah kejutan bagi saya yang belum pernah mengetahui cerita Pride and Prejudice sama sekali ;).

Mungkin zombie memang kurang dapat menyatu dengan baik dengan kisah romantisnya Pride and Prujudice. Tapi terus terang saya sepertinya akan tertidur pulas kalau saya harus menunton unsur Pride dan Prejudice saja, tanpa adanya zombie dan Elizabeth yang ahli Kungfu. Dengan demikian, saya memberikan Pride and Prejudice and Zombies (2016) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: sites.sonypictures.com/prideandprejudiceandzombies/discanddigital/

The Loft (2014)

Loft bukanlah kata yang lazim saya dengar. Apakah loft itu sama dengan apartemen? Berbeda dengan apartemen, loft merupakan sebuah ruangan terbuka dengan langit-langit tinggi yang biasanya terletak di bagian atas sebuah gedung. Gedung tersebut biasanya merupakan bekas gedung perindustrian atau gedung komersial yang sudah tua. Loft memang biasa digunakan sebagai tempat menyimpan barang, tapi lama kelamaan terjadi pergeseran dimana loft dipergunakan pula sebagai tempat tinggal lengkap dengan sofa dan tempat tidur.

Apa yang terjadi ketika pada suatu pagi, ada mayat wanita tak dikenal tergeletak di dalam loft yang kita miliki? Hal inilah yang dialami 5 orang sahabat pada The Loft (2014). Vincent Stevens (Karl Urban), Dr. Chris Vanowen (James Marsden), Luke Seacord (Wentworth Miller), Marty Landry (Eric Stonestreet) dan Philip Williams (Matthias Schoenaerts) terkejut ketika mereka menemukan sesosok mayat wanita pirang tergeletak di dalam loft yang mereka miliki bersama.

Awalnya, loft tersebut mereka gunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin diketahui oleh istri masing-masing. Sudah dapat ditebak, perselingkuhan dan hal-hal negatif lainlah yang 5 sahabat ini lakukan di dalam loft tersebut.

Disinilah mulai timbul konflik mengenai bagaimana mayat tersebut bisa ada di atas ranjang mereka, lengkap dengan borgol dan tulisan latin dari darah? Tuduh menuduh dan saling curiga semakin memanas ketika mereka menemukan fakta bahwa alarm loft sudah dimatikan ketika mereka menemukan mayat, dan pemegang kunci loft hanya mereka berlima saja. Siapakah pelakunya? Salah satu dari mereka? Istri mereka? Selingkuhan mereka? Semua dikisahkan dalam alur maju mundur yang tidak terlalu membingungkan. Ada 3 alur cerita yang ditampilkan secara bergantian, yaitu cerita sebelum mayat ditemukan, ketika mayat ditemukan dan ketika dinterogasi polisi setelah polisi terlibat.

Misteri identitas siapa pelaku dan apa motifnya, cukup membuat saya penasaran. Akan ada perubahan dan kejutan tak terduga sampai akhir film ini berakhir. Tapi jalan ceritanya relatif flat dan sedikit membosankan.

Lucunya, The Loft (2014) ternyata merupakan remake kedua dari Loft (2008). Loft (2008) merupakan film Belgia yang sangat populer dan meraih berbagai prestasi di Belgia. Kemudian Loft (2008) diremake dengan menggunakan wajah-wajah Belanda. Tidak puas sampai di sana saja, dilakukan kembali remake dengan membawa beberapa wajah Hollywood pada The Loft (2014). Sutradara dan cerita pada Loft (2008), Loft (2010) dan The Loft (2014) adalah …. sama x__x, wkwkwkwkwkwk. Yang berbeda hanyalah beberapa pemerannya saja. Nampaknya ada masalah kreatifitas di sana.

Melihat hal-hal di atas, The Loft (2014) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Bolehlaaaah dijadikan tontonan di waktu senggang, jangan berkorban sampai ke bioskop hanya untuk menonton film ini yaaa :D.

The Shining (1980)

Banyak orang-orang yang mengalami masa remaja atau dewasa di tahun 80-an, memuji The Shining (1980) sebagai film paling menakutkan di eranya. Film ini dirilis jauh sebelum saya lahir dan saya baru menontonnya beberapa minggu yang lalu. Agak penasaran juga sih, seperti apa ya filmnya.

Pada The Shining (1980), dikisahkan bahwa Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja memperoleh pekerjaan sebagai penjaga Hotel Overlook yang terletak di pengunungan Colorado yang terpencil. Karena alasan ekonomi, hotel mewah tersebut akan tutup selama musim dingin berlangsung, dan akan buka kembali setelah musim dingin berakhir. Tugas Jack di sana adalah memastikan bahwa hotel tetap dalam keadaan baik dan siap beroperasi kembali ketika musim dingin berakhir.

Selama musim dingin berlangsung, semua tamu dan petugas hotel akan pergi meninggalkan hotel tersebut. Jack tidak akan sendirian, ia diperbolehkan membawa keluarganya di sana. Keluarga kecil Jack terdiri dari istri Jack yaitu Wendy Torrance (Shelley Duvall), anak Jack yaitu Danny Torrance (Danny Lloyd), dan Jack sendiri sebagai kepala keluarga. Jack, Wendy dan Danny akan tinggal di dalam sebuah hotel yang mewah, megah, namun terisolasi selama musim dingin, tak akan ada orang lain yang bermukim di dekat mereka. Jalanan dan jalur telefon pun biasanya terputus selama musim dingin. Apakah mereka akan baik-baik saja?

Ooooh tentu tidak :’D. Hotel Overlook ternyata menyimpan sejarah kelam di setiap sudutnya. Perlahan tapi pasti, hotel tersebut mulai mempengaruhi Jack untuk membunuh anak dan istrinya. Sejak awal film, karakter Jack Torrance memang sudah nampak jahat. Jack Nicholson berhasil menunjukkan ini dengan gerakan alisnya yang khas. Opa yang satu ini memang pandai memerankan karakter antagonis. Bertolak belakang dengan Jack, karakter Wendy justru nampak lemah walaupun Wendy pantang menyerah untuk menyelamatkan dirinya dan Danny. Danny sendiri beberapa kali nampak ketakutan tapi tidak berlebih seperti ibunya. Danny justru nampak relatif lebih tenang dan stabil dibandingkan kedua orang tuanya. Belakangan diketahui bahwa ternyata ia memiliki kemampuan supranatural yang pada film ini disebut shining.

Apa itu shining akan dijelaskan dengan gamblang pada film ini. Tapi untuk beberapa hal lain justru dibiarkan menggantung agar para penonton menerka-nerka sendiri. Beberapa fans berat The Shining (1980) bahkan membuat film dokumenter yang membahas makna-makna tersembunyi pada The Shining (1980). Sesuatu yang dianggap omong kosong oleh Stephen King. Pada tahun 1977, Stephen King merilis novel horor berjudul The Shining. Novel inilah yang diangkat oleh Stanley Kubrick ke layar lebar melalui The Shining (1980). Sayang sekali, King tidak suka dengan The Shining (1980). Menurut King, Kubrick menggambarkan Jack sebagai karakter yang terlalu jahat dan Wendy sebagai karakter yang terlalu lemah. Menurut King, seharusnya Jack digambarkan sebagai karakter yang sebenarnya baik dan sayang keluarga, tapi berubah karena pengaruh hotel. Wendy yang terlihat terlalu lemah dianggap kurang logis kalau mampu terus berjuang menghadapi Jack. Untuk poin ini saya setuju dengan Opa King. Tapi bukan berarti The Shining (1980) tidak memiliki kelebihan loh. Kubrick dengan cerdik memodifikasi The Shining (1980) agar filmnya tidak harus menggunakan special affect ala tahun 80-an yang tentunya akan nampak aneh bila ditonton pada tahun 2018. Beberapa adegan horor yang digambarkan King pada novelnya memang sangat sulit untuk ditunjukkan pada versi filmnya karena keterbatasan teknologi saat itu. Dengan demikian, Kubrick memodifikasi beberapa bagian cerita termasuk bagian akhirnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat King tidak suka dengan The Shining (1980). Pada tahun 1997, The Shining sempat dihadirkan kembali dalam bentuk mini seri dan menggunakan cerita yang lebih sesuai dengan keinginan King. Hasilnya? Para penonton lebih suka The Shining (1980) :’D.

The Shining (1980) memang berhasil menghadirkan beberapa kengerian tanpa campur tangan special affect modern. Bagian yang saya anggap paling menakutkan dari The Shining (1980) adalah bagian dimana Danny bersepeda mengelilingi lorong hotel. Cara mengambil gambar dan kondisi lorong hotel yang terang namun sepi, mampu memberikan efek tegang. Kehadiran 2 anak kembar misterius pun dapat mengejutkan walaupun film ini tidak menggunakan teknik jump scare. Ditambah lagi lagu latar belakangnya yang menutut saya agak mengerikan.

Sayang adegan dimana seorang ayah berbalik ingin membunuh keluarganya sendiri sudah beberapa kali saya jumpai pada film horor lain. Jadi, tidak ada yang spesial atau menyeramkan di sana. Penokohan Jack dan Wendy rasanya kurang tepat untuk menghasilkan kengerian sekaligus intrik yang maksimal. Saya lebih suka karakter Jack dan akhir dari Hotel Overlook pada versi novelnya. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak terlalu masalah.

Mohon maaf bagi penggemar garis keras The Shining (1980), saya hanya mampu memberikan The Shining (1980) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. King dan Kubrick tetap sama-sama patut diacungi jempol atas karya mereka :).

Who Am I (2014)

Setelah selama ini sering sekali menonton film-film jebolan Hollywood, kali ini saya menoleh ke arah film-film keluaran Eropa. Apakah ada yang menarik? Saya akhirnya tertarik tuk menonton film yang sudah memenangkan German Movie Awards dan Bambi Awards, yaitu Who Am I – Kein System ist sicher (2014).

Apa arti Kein System ist sicher? Tidak ada sistem yang aman. Ini merupakan moto yang dianut kelompok-kelompok hacker pada Who Am I (2014). Film ini bercerita mengenai kegiatan ilegal hacker-hacker di dunia maya. Dikisahkan bahwa sekelompok hacker di Jerman membentuk CLAY (Clown Laughing at You) yang beranggotakan Benjamin Engel (Tom Schilling), Max (Elyas M’Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Tindakan ilegal CLAY awalnya hanya sebatas untuk bersenang-senang dan memprotes pemerintah saja, mereka tidak bermaksud untuk melakukan lebih dari itu.

Berkat kelihaiannya, nama CLAY semakin diakui oleh komunitas hacker. Sayang semua itu terasa hambar tanpa pengakuan dari MNX, hacker ternama yang menjadi idola Benjamin dan Max. Demi memperoleh pengakuan MRX, CLAY membobol data BND (Bundesnachrichtendienst), semacam CIA-nya Jerman. Aksi CLAY ini ternyata membuat salah satu anggota FRI3NDS terbunuh. Wah, apa itu FRI3NDS? Mereka ada kelompok hacker yang bekerja untuk mafia Rusia. Selama ini BND memang sedang memantau sepak terjang FRI3NDS. Insiden ini membuat CLAY dikejar-kejar oleh polisi dan mafia.

Semua kisah pada Who Am I (2014) dipaparkan berdasarkan informasi dari Benjamin di meja interogasi BND. Para penyelidik BND yang jeli kemudian menemukan lubang-lubang pada keterangan Benjamin. Entah disengaja atau tidak, para penyidik mencurigai bahwa sebagian cerita Benyamin adalah kebohongan. Hal inilah yang membuat Who Am I (2014) menarik untuk ditonton. Walaupun jalan ceritanya sedikit datar dan sedikit mirip dengan Serial Mr. Robot, saya melihat beberapa twist atau kejutan pada bagian akhir Who Am I (2014). Twist pada film ini tidak berhenti sampai bagian paling akhir film lho, jadi pastikan tuk menontonnya sampai akhirrrr ;).

Twist yang ada memang banyak dan menumpuk di bagian akhir film, tapi saya merasa agak bosan di bagian pertengahan film. Saya rasa, Who Am I (2014) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.