The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

The Dry (2020)

The Dry (2020) merupakan film Australia yang memceritakan penyelidikan 2 buah kasus di sebuah kota kecil. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Jane Harper. Tokoh utamanya adalah Aaron Falk (Eric Bana) yang sehari-hari berkerja sebagain agen AFP (Australia Federal Police). Ia terbilang cukup sukses dan beberapa kali masuk berita akibat prestasinya. Pada suatu hari Aaron harus pergi ke Kota Kiewarra untuk menghadiri pemakaman sahabatnya semasa kecil. Tak terelakan, ia pun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan yang terjadi ketika Aaron masih remaja di Kiewarra.

Aaron menjadi tersangka utama walaupun ia tidak ditahan karena kurang cukup bukti. Keluarga korban pun berhasil memprovokasi warga kota untuk menteror dan mengusir Aaron dan keluarganya. Pada akhirnya, Aaron terpaksa meninggalkan Kiewarra akibat tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepadanya tersebut. Sebuah masa lalu yang pahit.

Kiewarra sendiri sebenarnya merupakan kota kecil tempat Aaron tumbuh. Karena kekeringan yang parah, banyak terdapat kasus kebakaran hutam. Banyak pula sungai dan danau yang kering, termasuk lokasi tempat pembunuhan yang dituduhkan kepada Aaron di masa lampau.

Sahabat Aaron pun ditemukan tewas di danau yang kering. Semakin lama, Aaron semakin melihat berbagai kejanggalan pada kematian sahabatnya. Ia kemudian memiliki keyakinan bahwa kematian sahabatnya tersebut masih berkaitan dengan kasus yang dulu membuatnya meninggalkan kota. Dengan dibantu oleh polisi lokal, Aaron melakukan penyelidikan di tengah-tengah warga kota yang ingin mengusirnya lagi.

Yang keren di sini adalah bagaimana Aaron menunjukkan kemampuannya sebagai agen AFP yang profesional. Ia tetap bertindak sesuai hukum meski mendapatkan berbagai provokasi. Ini adalah bagian film yang membuat saya gemas. Apalagi ketika siapa pelaku sebenarnya berhasil terungkap, baaah, menggemaskan. Akhir dari kisah The Dry (2021) termasuk tidak terduga looh.

Perilaku beberapa warga yang menyebalkan dan bagaimana penyelidikan dikembangkan, berhasil membuat saya tidak tertidur ketika menonton film minim aksi bertempo lambat ini. Banyak informasi yang tidak langsung dibeberkan. Siapa saja yang meninggal saja, tidak langsung dibeberkan dengan tegas. Semua diinfokan dengan lambat dan tersirat. Saya pun benar-benar harus menyimak, kalau tidak sopasti ketinggalan.

Namun, karena temponya lambat, otomatis film ini memang sangat mudah dipahami. Ceritanya enak untuk diikuti dan membuat saya penasaran. Hanya saja berberapa adegan flashback-nya agak membosankan. Entah mengapa bagian tersebut digarap dengan kurang menarik dan terkadang muncul di momen yang kurang tepat.

Film ini sebaiknya tidak ditonton ketika kita sedang kelelahan. Bisa-bisa tertidur di tengah film heheheh. Tapi kalau sedang tidak terlalu lelah, The Dry (2020) masih bisalaah ditonton tanpa tertidur. Temponyaa memang lambat dan minim aksi tapi alur penyelidikan Aaron itu enak untuk diikuti. Saya rasa The Dry (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.screenaustralia.gov.au

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Inception (2010)

Inception (2010) merupakan karya Christopher Nolan yang berbicara mengenai dunia mimpi. Sebagai pengantar, saya akan menjelaskan mengenai dunia mimpi yang ada pada Inception (2020) tanpa memberikan spoiler. Ok berdasarkan pengalaman saya menontkn Inception (2010) berkali-kali, berikut yang dapat saya bagi mengenai dunia mimpi ala Nolan. Jadi, dikisahkan bahwa pihak militer berhasil melalukan uji coba terkait mimpi. Dengan menggunakan sebuah obat penenang tertentu, seseorang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik inipun, beberapa orang dapat berbagi mimpi dan seolah-oleh memiliki kehidupan lain di alam mimpi sana. Ukuran waktu pada dunia mimpi jauh lebih lama dibandingkan ukuran waktu pada dunia nyata. Seseorang bisa saja bermimpi hanya sehari, namun ia merasakan hidup di dunia mimpi selama beberapa hari.

Ketika seseorang tewas di dalam dunia mimpi, ia hanya akan terbangun, tidak ada yang fatal di sana. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berusaha melewati batasan-batasan yang sudah ditetapkan di dalam mimpi yang ia jalani. Ia bisa saja tersesat di dalam dunia limbo dan tidak akan kembali bangun di dunia nyata. Dunia limbo adalah dunia absurd yang sangat menyesatkan. Seseorang tidak akan dapat membedakan apakah ia sedang ada di dunia mimpi atau dunia nyata.

Di dalam sebuah mimpi, bisa saja tertanam atau ditanamkan mimpi-mimpi lain. Semuanya hadir dalam bentuk lapisan alam bawah sadar yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan inilah yang membuat seseorang dapat tersesat. Namun terkadang, semakin masuk ke dalam lapisan bawah sadar seseorang, semakin banyak pula rahasia yang dapat diperoleh.

Rahasia merupakan hal yang ingin diambil oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan komplotannya. Dom memiliki kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan alam bawah sadar seseorang. Dengan demikian, ia dapat terus masuk ke dalam alam bawah sadar sampai memperoleh rahasia yang hendak ia curi.

Pada dasarkan Inception (2010) mengisahkan petualangan Dom dan kawan-kawan dalam mengambil sebuah rahasia yang sangat sulit. Dalam perjalanannya, ia pun secara tidak sadar, menggali trauma terbesar dalam hidupnya. Hal inipun memberikan berbagai pertanyaan mengenai realitas yang Dom hadapai sepanjang durasi Inception (2010) berlangsung.

Film yang satu ini sungguh mind-blowing bagi saya. Menonton Inception (2020) berkali-kali tidak membuat saya mati kebosanan. Jalan cerita film ini sangat menarik. Meskipun dibuat terpecah-pecah, penjelasan mengenasi dunia mimpi sebenarnya cukup jelas dan mudah untuk dipahami.

Ditambah dengan musik dari Hanz Zimmer yang ciamik dan pas, semuanya nampak menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi special effect dan adegan aksi yang keren, semua seakan menambah deretan keunggulan Inception (2010) di mata saya.

Bagi saya, Inception (2010) layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Nolan memang identik dengan film-film yang mengajak para penontonnya berfikir. Hal ini tentunya terjadi pula pada Inception (2010). Banyak orang yang memperdebatkan mengenai bagian akhir dari Inception (2010). Memang akhir film ini sedikit ambigu dan memberikan sesuatu hal yang dapat diperdebatkan. Bagi saya, perdebatan itu merupakan bagian yang menyenagkan untuk difikirkan. Lagipula, bagian akhir film bukanlah hal yang 100% menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak :).

Sumber: http://www.warnerbros.com & http://www.inceptionmovie.uk

Bypass Road (2019)

Bypass Road atau Jalan Bypass adalah jalan yang mengubah hidup Vikram Kapoor (Neil Nitin Mukesh) selamanya. Di jalan itulah ia mengalami kecelakaan mobil. Sejak itu, ia dikabarkan menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Kemudian mulai saat itulah ia mengetahui berbagai rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui. Vikram pun terlibat pada sebuah kasus kriminal yang ternyata berhubungan pula dengan kasus kriminal lainnya. Kurang lebih itulah awal dari kisah Bypass Road (2019), sebuah film India yang memiliki banyak sekali misteri.

Saya tidak dapat menghitung, ada berapa tumpukan misteri yang membalut Bypass Road (2019). Kalau dipikir-pikir, semua misteri tersebut sangat menjanjian dan sulit untuk ditebak. Sepanjang film, saya pun diajak menerka-nerka, mau dibawa kemana arah film ini. Saya harus akui bahwa misterinya keren dan berhasil mengecoh saya.

Sayang, penyajian misteri-misteri tersebut agak kurang terarah. Film ini terkesan kewalahan untuk menyampaikan berbagai lapisan misteri yang mengelilingi kehidupan Vikram. Belum lagi adegan thriller ala film-film slasher tahun 90-an yang kurang menegangkan dan memiliki persentase kebetulan yang terbilang tinggi :’D.

Thriller dan misteri terus menerus mendominasi Bypass Road (2019). Dimana joget-jogetannya?? Syukurlah adegan joget ditampilkan dengan halus dan tidak mengada-ada. Tidak ada adegan joget di balik pohon kok. Semua adegan musikal pada film ini terbilang proporsional. Cocoklah bagi saya yang kurang suka dengan adegan joget-joget ala Bollywood.

Di atas kertas, Bypass Road (2019) sebenarnya memiliki ide yang menarik. Namun penyampaiannya terasa kurang bagus. Dengan demikian saya ikhlas untuk memberikan Bypass Road (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pvrpictures.com

Drishyam (2015)

Sebagai kepala keluarga, seorang ayah tentunya memiliki naruri untuk melindungi anggota keluarganya. Dalam beberapa kasus, seorang ayah bahkan rela melakukan tindak kriminal yang bertentangan dengan hukum. Hal itulah yang menjadi topik utama dari Drishyam (2015).

Dikisahkan bahwa Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn) hidup sederhana bersama istri dan kedua anaknya di sebuah kota kecil. Bencana hadir melalui datangnya seorang anak yang kaya raya, datang ke dalam kehidupan keluarga Salgaonkar. Terjadilah peristiwa kriminal yang melibatkan anak sulung Vijay. Perbuatan ini sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pemperoleh pengadilan yang adil bila dibawa ke meja hijau. Keluarga Salgaonkar harus berhadapan dengan keluarga yang terdiri dari pejabat kepolisian dan pengusaha yang kaya raya.

Maka Vijay memilih untuk menyembunyikan peristiwa kriminal yang terjadi. Disinilah keunggulan dari Drishyam (2015) terlihat. Walaupun Vijay tidak lulus Sekolah Dasar, ia merupakan seseorang yang cerdas. Taktik Vijay berhasil membuat pihak kepolisian kebingungan dalam mencari motif dan barang bukti. Semua diperlihatkan dihadapan pak dan bu polisi seolah hanya ilusi visual buatan Vijay. Sesuai judulnya, Drishyam adalah bahasa India yang artinya visual atau pandangan.

Oooh tunggu dulu, Drishyam (2015) adalah film India? Ya, betul sekali. Film yang satu ini merupakan film thriller asal India. Saya termasuk penonton yang kurang suka dengan unsur musikal dari film-film India. Syukurlah adegan joget-joget di film ini sedikit sekali, hampir tidak ada. Thriller pada Drishyam (2015) terbilang lebih kental dan terasa di sepanjang film. Saya tidak seperti sedang menonton film musikal ala Bollywood. Semua nampak bagus dan memukau. Akting Ajay Devgn terbilang menonjol pada film ini.

Saya sadar betul bahwa Drishyam (2015) adalah remake dari Drishyam (2013). Drishyam (2013) sendiri sebenarnya agak mirip dengan novel Jepang yang berjudul The Devotion of Suspect X. Drishyam (2013) sendiri berbahasa Malayalam dan tampil lebih natural dan apa adanya. Film original terbitan 2013 inipun banjir penghargaan dari berbagai festival film.

Selain Drishyam (2015) terdapat film-film lain yang merupakan remake dari Drishyam (2013). Ada yang diproduksi dalam versi Tamil dan versi Kanada. Kemudiam novel The Devotion of Suspect X pun dibuat versi filmnya pada 2017 lalu. Wah wah wah, semuanya memiliki cerita yang kurang lebih sama yaaaa. Saya sudah menonton semuanya dan saya paling suka dengan Drishyam (2015). Sinematografi film ini lebih memukau. Nuansa thriller-nya lebih terasa. Walaupun hampir semua adegannya seperti copy paste dari Drishyam (2013), Drisyam (2015) berhasil mendramatisir kisah ini dengan lebih intens.

Dengan demikian, Drishyam (2015) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih ada film India yang berhasil membuat saya terpukau. 2 jempol deh buat Drishyam (2015).

Sumber: panoramastudios.in/portfolio-item/drishyam-2015/

Run (2020)

Melihat Run (2020) membuat saya teringat akan kasus Keluarga Blanchard yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Sebuah kasus yang sempat heboh di Amerika pada 2015 lalu. Sutradara dan penulis Run (2020) menyatakan bahwa film ini dibuat dari berbagai kisah dan pengalaman hidup. Tapi, sumpah Run (2020) ini sangat mirip dengan kasus Keluarga Blanchard. Hanya saja, karena Run (2020) bukanlah film dokumenter, maka wajar kalau ada sedikit bumbu yang membuatnya berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard.

Sepanjang film, saya disuguhkan bagaimana hubungan antara ibu dan anak yang berubah-ubah. Sejak kecil, Chloe Sherman (Kiera Allen) menderita berbagai penyakit yang membuatnya lumpuh, dan harus memperoleh berbagai pengobatan di rumah. Beruntung Chloe memiliki Diane Sherman (Sarah Paulson) sebagai ibu. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Diane nampak tabah dan ikhlas merawat anak semata wayangnya.

Semua berubah ketika Chloe menemukan beberapa kejanggalan dari perilaku Diane. Chloe merupakan anak cerdas yang memiliki keinginan kuat untuk maju. Maka tak heran, kalau Chloe melakukan segala cara untuk memperoleh jawaban sedetail mungkin. Kenyataan apakah yang pada akhirnya harus Chroe terima?

Bagi teman-teman yang sudah pernah mengikuti kasus Blancheard, Run (2020) bukanlah kisah misteri. Sejak awal film, tidak ada yang perlu dibuktikan, sama persis kok dasar ceritanya hehehehe. Memasuki pertengahan film, semua sudah dapat ditebak bagi mayoritas penonton. Ceritanya sederhana dan mudah dipahami. Terkadang ada beberapa bagian film yang sedikit membosankan.

Beruntung unsur thriller Run (2020) terbilang cukup kencang. Adegan thriller hampir terus menerus hadir pada setiap bagian film tersebut. Paling tidak hal itu dapat sedikit mengobati kebosanan saya ketika saya sudah dapat menebak jalan ceritanya.

Dasar ceritanya memang sama dengan kasus Keluarga Blanchard, namun akhir dari Run (2020) sangat berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard. Akhir dari Run (2020) terbilang cukup mengejutkan sekaligus memuaskan bagi saya pribadi, Savage! 🙂

Jalan cerita yang terkadang sedikit membosankan, masih dapat terselamatkan dengan ketengangan yang terus menerus muncul. Ditambah lagi, bagian akhir yang “meyenangkan”, sedikit banyak memberikan nilai positif bagi Run (2020). Saya rasa, film yang tayang perdana di Hulu Streaming On-Demand ini, masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: run.movie

Tenet (2020)

Christopher Edward Nolan merupakan salah satu sutradara favorit saya. Mayoritas film besutannya masuk ke dalam daftar wajib tonton saya. Mulai dari Memento (2000), Inception (2010), Trilogi Batman, Interstellar (2014), sampai Dunkirk (2017). Beberapa diantaranya penuh intrik dan sangat membingungkan. Karya terbaru Nolan, Tenet (2020), sepertinya akan menjadi salah satu film Nolan yang paling membingungkan.

Nolan memang gemar bermain dengan ruang dan waktu. Semua itu mencapai puncaknya pada Tenet (2020). Untuk sepenuhnya memahami Tenet (2020), Saya sendiri perlu 2 kali menontonnya dan sedikit membaca literatur mengenai Time Inversion. Konsep Time Inversion merupakan konsep perjalanan menembus waktu yang tidak biasa. Suatu hal yang belum pernah saya temukan pada film-film lain.

Pada Time Inversion, ketika seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu, ia akan mengalami berbagai kejadian dalam keadaan terbalik. Tenaga yang ia gunakan merupakan arus waktu berbalik. Namun, kekuatan dari arus waktu berbalik bertumbukan dengan arus waktu lurus yang normal. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang terlihat berjalan terbaik, dan ada beberapa hal pula yang terlihat berjalan normal. Bingung? Tak usah malu, pemeran utama film ini saja tidak sepenuhnya faham dengan konsep Time Inversion :’D.

Anak dari Denzel Washington, yaitu John Davis Washington, menjadi pemeran utama Tenet (2020). Siapa yang John perankan? Seseorang yang sepanjang film hanya disebut dengan panggilan Sang Protagonis wkwkwkwk. Ajaib, Tenet (2020) memang benar-benar ajaib. Sepanjang film, Sang Protagonis memiliki misi untuk mencegah kehancuran Bumi akibat Time Inversion. Terdapat beberapa individu yang menyalahgunakan teknologi Time Inversion untuk kepentingannya sendiri.

Mirip seperti beberapa film Nolan sebelumnya. Kebingungan yang disajikan berhasil menjadi sesuatu yang menarik untuk diselidiki, dipikirkan dan dibahas. Dalam fisika, Time Inversion sendiri memang benar-benar ada. Secara tidak langsung, Tenet (2020) memang mengajak penontonnya untuk belajar Fisika @_@.

Tingkat kekompleksan Tenet (2020) melebihi Memento (2000), Inception (2020), Serial Dark, dan Interstellar (2014). Bagi saya pribadi, kekompleksan tersebut agak overdosis ya. Sepanjang film, saya dibuat berfikir dan terus kebingungan. Tenet (2020) gagal memberikan penjelasan yang agak jelas gamblang mengenai beberapa hal. Hal ini membuat saya terus berfikir tanpa bisa terlalu menikmati alur cerita yang ada. Padahal, kalau ditelaah lagi, cerita dari Tenet (2020) sendiri sebenarnya terbilang keren lohh.

Alur cerita yang bagus, menjadikan Tenet (2020) sebagai sebuah film yang memikat. Namun kekompleksan ceritanya, dapat menjadi daya tarik sekaligus sumber ketidakjelasan yang berlebih dari karya terbaru Opa Nolan tersebut. Dengan demikian, Tenet (2020) sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Selamat belajar fisika teman-teman, hehehehehe.

Sumber: http://www.tenetfilm.com

Déjà Vu (2006)

Déjà Vu (2006) diawali dengan penyelidikan kasus pemboman kapal feri yang membunuh ratusan tentara Amerika bersama keluarganya. Douglas Carlin (Denzel Washington) merupakan agen ATF yang menyelidiki kasus tersebut. Dengan daya ingat, ketelian dan kemampuan analisa Douglas yang di atas rata-rata, ia berhasil mengungkap berbagai fakta terkait kasus ini.

Sekilas film ini seperti film detektif biasa. Semua berubah ketika FBI datang dengan membawa sebuah teknologi yang dapat melihat kejadian di masa lalu. Semakin lama, semakin terlihat unsur misteri dan fiksi ilmiah dari Déjà Vu (2006). Pihak FBI ternyata tidak 100% jujur kepada Douglas akan teknologi baru yang sedang mereka gunakan.

Dengan teknologi tersebut, déjà vu menjadi suatu hal yang benar-benar dialami oleh karakter utama pada film ini. Déjà vu sendiri dapat diartikan sebagai perasaan aneh ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang sepertinya sudah pernah ia alami di masa lalu. Pertanyaannya, apakah Déjà Vu (2006) merupakan film yang kompleks? Tidak. Hebatnya, film ini mampu menampilkan semuanya dengan cara yang sangat mudah dipahami.

Di sana pun terdapat adegan kejar-kejaran yang cukup menegangkan dan realistis. Beberapa diantaranya bahkan tampil beda. Dikisahkan bahwa Douglas harus mengejar seseorang di masa lampau dengan menggunakan kendaraan yang berjalan di masa kini. Semua memungkinkan dengan teknologi terbaru FBI. Ahhhh sungguh déjà vu :’D.

Aksi, thriller, misteri dan fiksi ilmiah berhasil ditampilkan dengan sederhana oleh Déjà Vu (2006). Film ini dapat dijadikan sebagai tontonan ringan yang menarik. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.touchstonepictures.com

Confession of Murder (2012)

Kali ini saya akan membahas film detektif asal Korea Selatan yang berjudul Confession of Murder (2012) atau 내가 살인범이다. Film ini berhasil memenangkan berbagai penghargaan dan sudah pernah dibuat ulang oleh sutradara Jepang. Memoirs of Muder (2017) bisa dikatakan merupakan versi Jepang dari Confession of Murder (2012). Jarang-jarang nih ada film Korea yang sampai dibuat ulang oleh orang Jepang. Apakah Confession of Murder (2012) memang semenarik itu?

Konflik utama pada Confession of Murder (2012) diawali ketika Lee Doo-seok (Park Si-hoo) meluncurkan buku terbarunya yang berjudul I Am the Murderer. Buku tersebut mengisahkan secara detail bagaimana Lee melakukan beberapa pembunuhan antara tahun 1986 sampai 1990. Pada rentang tahun tersebut, memang terdapat pembunuh berantai yang gagal polisi tangkap. Lee secara terbuka mengakui bahwa ia adalah pelaku pembunuhan tersebut. Buku tersemut memuat detail-detail yang belum pernah diketahui oleh publik. Hal inilah yang menguatkan klaim Lee atas kejahatan-kejahatan tersebut.

Peraturan di Korea saat itu, menetapkan bahwa kasus yang sudah melewati 15 tahun, akan diputihkan alias dihapus. Hal inilah yang membuat hukum tidak dapat menyentuh Lee sebab pengakuan Lee dilakukan 17 tahun setelah pembunuhan berantai terjadi. Wajah tampan dan pencitraan yang baik membuat popularitas Lee semakin menanjak. Ia berhasil meraih simpati dari mayoritas publik Korea.

Tentunya, tidak semua orang senang dengan sepak terjang Lee. Choi Hyeong-goo (Jung Jae-young) merupakan salah satu pihak yang terlihat paling tidak berkenan dengan hal-hal yang Lee lakukan. Sebagai detektif yang dulu memimpin penyelidikan kasus pembunuhan berantai Lee, kasus tersebut menjadi sesuai yang bersifat pribadi bagi Choi. Namun sebagai seorang anggota kepolisian, Choi tetap patuh dengan hukum yang ada. Ia bahkan ikut mencegah upaya pembunuhan dari pihak keluarga korban.

Sekilas, Confession of Murder (2012) seolah hanya akan bercerita mengenai pergolakan antara Lee dan Choi. Adegan aksinya yah begitulah, ada beberapa yang tidak masuk akal. Apakah film ini hanyalah film aksi dengan latar belakang kriminal dam detektif saja?

Ternyata semakin lama film tersebut berhasil memberikan kejutan atau twist yang menarik. Arah cerita seakan bergeser-geser dan memberikan berbagai alternatif. Saya suka dengan bagaimana kisah ini disajikan.

Saya rasa, film yang satu ini merupakan salah satu film detektif terbaik dari Korea Selatan. Masuk akal kalau ada produser dari Jepang, bersedia me-remake Confession of Murder (2012). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.showbox.co.kr/Movie/Detail?keyword=&modate=2012&mvcode=JA120151