The Hunt (2020)

The Hunt (2020) mengisahkan perburuan manusia oleh sekelompok orang kaya. Entah apa alasannya, terjadu penculikan terhadap sekelompok orang yang tidak saling kenal. Mereka kemudian dilepaskan di sebuah area misterius untuk diburu.

Para memburu menggunakan berbagai taktik. Mulai dari yang langsung tembak menggunakan senjata api, granat dan panah. Sampai ada yang melakukan penyamaran sebelum membunuh demi kesenangan semata.

Perlahan, siapa dan kenapa semua ini terjadi dapat terkuak. Para pemburu yang pada awalnya seolah mengetahui segalanya, ternyata melakukan kesalahan fatal. Kesalahan fatal yang tidak disadari sejak awal. Sesuatu yang membuat acara perburuan mereka kacau balau.

Bagaimana para pemburu melakukan perburuan ada yang menarik, tapi ada pula yang klise dan membosankan. Tapi saya suka bagaimana para karakter antagonis termakan permainan mereka sendiri. Pada akhirnya, The Hunt (2020) memang berhasil memberikan akhir yang memuaskan.

Sayang unsur misteri pada film ini seilah menguap dan kurang menarik pada pertengahan film. Saya sendiri menjadi kurang peduli mengenai alasan di balik perburuan tersebut.

Maka, saya rasa The Hunt (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah, dapat dijadikan selingan setelah WFH ;).

Sumber: http://www.uphe.com

Serial Squid Game

Serial Ojing-eo Geim atau Squid Game mengisahkan kompetisi maut dengan hadiah yang sangat besar. Pemenang kompetisi ini akan kaya mendadak. Sedangkan sisanya akan menemui ajal. Permainan yang dimainkan pada kompetisi tersebut adalah permainan klasik anak-anak Korea. Ada beberapa permainan yang saya sendiri tidak kenal. Squid game sendiri merupakan permainan yang dimainkan pada akhir konpetisi. Sekilas permainannya seperti galaksin atau gobak sodor. Selain itu terdapat pula permainan anak-anak lain seperti kelereng, tarik tambang dan lain-lain.

Kisah mengenai bagaimana sekelompok orang saling bunuh demi meraih kemenangan, sudah banyak diangkat menjadi cerita film. Yang spesifik mengangkat tema permainan anak pun sudah pernah hadir melalui As the Gods Will (2014). Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Serial Squid Game. Film seri ini sangat berbeda dengan As the Gods Will (2014) dan film-film bertemakan survival lainnya.

Dari segi visual saja, Squid Game tampil unik dengan penampilan peserta dan penyelenggara yang unik. Latar belakang pulau tempat permainan berlangsung pun berhasil menambah kesan misterius tanpa harus terus menerus menggunakan warna-warna gelap.

Dari segi cerita, permainan anak-anak hanyalah bagian dari sebuah intrik besar yang Squid Game sajikan. Bagaimana permainan berlangsung, mulai dari pemilihan tim sampai urutan bermain berhasil menghasilkan konflik diantara peserta. Di sela-sela permainan pun terjadi berbagai drama yang menarik untuk diikuti. Setiap karakter pada film seri ini bisa saja saling tikam setelah sebelumnya saling tolong. Siapapun bisa saja mendadak menjadi malaikat, dan siapapun bisa pula mendadak berubah menjadi iblis. Wah keren deh pokoknya, saya salut dengan bagaimana konflik pada serial ini selalu tampil segar dan memikat.

Merujuk berbagai hal di atas, sopasti saya ikhlas untuk memberikan serial ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial Squid Game sudah jelas berhasil menjadi kisah permainan maut favorit saya.

Sumber: squidgameofficial.com

The Hunt for Red October (1990)

Saya mengenal nama Tom Clancy dari beberapa video game besutan Ubisoft yang belum pernah saya mainkan, tidak punya console-nya, hehee. Yang pasti temanya pastilah soal militer. Video-video game tersebut tentunya dibuat berdasarkan novel karangan Tom Clancy. Tidak hanya video game, novel Opa Clancy juga sudah lama merambah dunia film layar lebar. Saya sendiri pernah membahas Jack Ryan: Shadow Recruit (2014), salah satu film yang dibuat berdasarkan novel Tom Clancy. Tapi Jack Ryan: Shadow Recruit (2014) bukanlah yang pertama. The Hunt for Red October (1990) merupakan film pertama yang dibuat berdasarkan novel Tom Clancy dengan judul yang sama. Film ini menampilkan 2 nama besar pada era tahun 90-an yaitu Sean Connery & Alec Baldwin.

Sean Connery berperan sebagai Marko Ramius, seorang Kapten kapal selam Uni Soviet yang sangat terkenal di dunia militer. Ia sangat dihormati dan berhasil melatih kapten-kapten kapal selam handal bagi Uni Soviet. Dengan reputasinya yang gemilang, Ramius diberi kepercayaan untuk memimpin para awak dari kapal selam terbaru Uni Soviet, yaitu Red October.

Sementara itu Jack Ryan (Alec Baldwin) merupakan analis intelejen CIA yang cerdas. Ia melihat bahwa terdapat kemungkinan bahwa Ramius bermaksud untuk membelot dari Uni Soviet. Menurut Ryan, Red October hendak Ramius berikan kepada pihak Amerika Serikat yang pada saat itu menjadi rival terberat Uni Soviet.

Latar belakang film ini adalah era perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet sebelum era kepemimpinan Mikhail Gorbachev. Kedua negara bersaing keras dalam berbagai bidang, tapi tidak secara langsung berperang saling baku hantam. Unsur politis ini pun berhasil diolah menjadi sesuatu yang menarik pada The Hunt for Red October (1990). Politisi dari kedua belah pihak saling berargumen mengenai hal-hal yang sebenarnya terjadi di Samudra Atlantik. Kesalahan berbicara sedikit saja dapat memicu perang dunia ketiga.

Apa yang sebenarnya terjadi di Samudra Atlantik? Ramius melakukan beberapa aksi di luar perintah atasannya. Akibatnya Uni Soviet Mengirim hampir semua kapal selamnya untuk mengejar Red October yang dipimpin Ramius. Pihak Amerika sendiri kebingungan. Apakah Ramius nekat hendak melakukan aksi agresi militer ke dalam wilayah Amerika Serikat? Apakah Ramius datang dengan damai dan hendak bergabung dengan Amerika Serikat?

Selain itu, aksi Ramius tentunya berpotensi menimbulkan pemberontakan di antara para awak Red October. Belum lagi terdapat agen KGB di dalam Red October. Penghianatan di dalam dan luar Red October memang menghantui film ini

Berbagai konflik yang ada berhasil ditampilkan dengan seru dan mudah dimengerti. Walaupun terbilang minim adegan perang, The Hunt for Red October (1990) berhasil memberikan atmosfer ketegangan yang menarik disepanjang film.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan The Hunt for Red October (1990) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantas saja setelah The Hunt for Red October (1990), novel Tom Clancy terus dibuat versi layar lebarnya.

Sumber: http://www.paramount.com

The Fugitive (1993)

The Fugitive (1993) adalah film aksi thriller lawas yang memperoleh berbagai nominasi penghargaan, beberapa bahkan berhasil dimenangkan. Saya sendiri menonton film ini ketika masih SD dulu :).

Sesuai judulnya, Fugitive artinya buronan. Jadi ceritanya berkisar pada pengejaran buronan yang kabur. Dr. Richard David Kimble (Harrison Ford) memiliki kehidupan yang mapan dan bahagia bersama istrinya. Semua hancur ketika ia menemukan sang istri telah dibunuh di dalam kediamannya. Hal ini diperparah ketika semua barang bukti menunjukkan bahwa Richard yang membunuh istrinya sendiri. Richard kemudian menjadi buronan setelah ia berhasil kabur dari bus pengangkut narapidana.

Dari pihak penegak hukum, Deputy U.S. Marshal Sam Gerard (Tommy Lee Jones) datang untuk memburu Richard. Sam adalah seorang pemburu handal yang sangat cerdik, pantang menyerah dan keras kepala. Richard harus menghindari Sam sambil menyelidiki siapakah dalang dari semua fitnah yang ia terima. Beruntung Richard bukan orang sembarangan. Ia menggunakan kepintarannya untuk selalu selangkah di depan Sam.

Diam-diam lama kelamaan, Sam semakin meragukan apakah Richard benar-benar bersalah atau tidak. Keduanya menemukan berbagai fakta baru yang dapat mengubah nasib Richard selamanya.

Saya menikmati aksi kejar-kejaran yang mendominasi film ini. Misterinya pun membuat saya penasaran untuk terus mengikuti The Fugitive (1993). Ditambah lagi jalan cerita yang enak untuk diikuti dan tentunya akting yang prima dari kedua pemeran utamanya, Harrison Ford dan Tommy Lee Jones. Sayang ada sedikit adegan aksi yang tidak masuk akal. Richard memang pakai jimat atau ajian apa kok bisa selamat ketika terjun dari puncak bendungan yang tinggi sekali. Orang normal mah sudah meninggal kali.

Saya rasa The Fugitive (1993) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Tak heran kalau The Fugitive (1993) berhasil memenangkan berbagai penghargaan di ajang Golden Globe & Academy Awards.

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/fugitive

The Dry (2020)

The Dry (2020) merupakan film Australia yang memceritakan penyelidikan 2 buah kasus di sebuah kota kecil. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Jane Harper. Tokoh utamanya adalah Aaron Falk (Eric Bana) yang sehari-hari berkerja sebagain agen AFP (Australia Federal Police). Ia terbilang cukup sukses dan beberapa kali masuk berita akibat prestasinya. Pada suatu hari Aaron harus pergi ke Kota Kiewarra untuk menghadiri pemakaman sahabatnya semasa kecil. Tak terelakan, ia pun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan yang terjadi ketika Aaron masih remaja di Kiewarra.

Aaron menjadi tersangka utama walaupun ia tidak ditahan karena kurang cukup bukti. Keluarga korban pun berhasil memprovokasi warga kota untuk menteror dan mengusir Aaron dan keluarganya. Pada akhirnya, Aaron terpaksa meninggalkan Kiewarra akibat tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepadanya tersebut. Sebuah masa lalu yang pahit.

Kiewarra sendiri sebenarnya merupakan kota kecil tempat Aaron tumbuh. Karena kekeringan yang parah, banyak terdapat kasus kebakaran hutam. Banyak pula sungai dan danau yang kering, termasuk lokasi tempat pembunuhan yang dituduhkan kepada Aaron di masa lampau.

Sahabat Aaron pun ditemukan tewas di danau yang kering. Semakin lama, Aaron semakin melihat berbagai kejanggalan pada kematian sahabatnya. Ia kemudian memiliki keyakinan bahwa kematian sahabatnya tersebut masih berkaitan dengan kasus yang dulu membuatnya meninggalkan kota. Dengan dibantu oleh polisi lokal, Aaron melakukan penyelidikan di tengah-tengah warga kota yang ingin mengusirnya lagi.

Yang keren di sini adalah bagaimana Aaron menunjukkan kemampuannya sebagai agen AFP yang profesional. Ia tetap bertindak sesuai hukum meski mendapatkan berbagai provokasi. Ini adalah bagian film yang membuat saya gemas. Apalagi ketika siapa pelaku sebenarnya berhasil terungkap, baaah, menggemaskan. Akhir dari kisah The Dry (2021) termasuk tidak terduga looh.

Perilaku beberapa warga yang menyebalkan dan bagaimana penyelidikan dikembangkan, berhasil membuat saya tidak tertidur ketika menonton film minim aksi bertempo lambat ini. Banyak informasi yang tidak langsung dibeberkan. Siapa saja yang meninggal saja, tidak langsung dibeberkan dengan tegas. Semua diinfokan dengan lambat dan tersirat. Saya pun benar-benar harus menyimak, kalau tidak sopasti ketinggalan.

Namun, karena temponya lambat, otomatis film ini memang sangat mudah dipahami. Ceritanya enak untuk diikuti dan membuat saya penasaran. Hanya saja berberapa adegan flashback-nya agak membosankan. Entah mengapa bagian tersebut digarap dengan kurang menarik dan terkadang muncul di momen yang kurang tepat.

Film ini sebaiknya tidak ditonton ketika kita sedang kelelahan. Bisa-bisa tertidur di tengah film heheheh. Tapi kalau sedang tidak terlalu lelah, The Dry (2020) masih bisalaah ditonton tanpa tertidur. Temponyaa memang lambat dan minim aksi tapi alur penyelidikan Aaron itu enak untuk diikuti. Saya rasa The Dry (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.screenaustralia.gov.au

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Inception (2010)

Inception (2010) merupakan karya Christopher Nolan yang berbicara mengenai dunia mimpi. Sebagai pengantar, saya akan menjelaskan mengenai dunia mimpi yang ada pada Inception (2020) tanpa memberikan spoiler. Ok berdasarkan pengalaman saya menontkn Inception (2010) berkali-kali, berikut yang dapat saya bagi mengenai dunia mimpi ala Nolan. Jadi, dikisahkan bahwa pihak militer berhasil melalukan uji coba terkait mimpi. Dengan menggunakan sebuah obat penenang tertentu, seseorang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar orang lain. Dengan teknik inipun, beberapa orang dapat berbagi mimpi dan seolah-oleh memiliki kehidupan lain di alam mimpi sana. Ukuran waktu pada dunia mimpi jauh lebih lama dibandingkan ukuran waktu pada dunia nyata. Seseorang bisa saja bermimpi hanya sehari, namun ia merasakan hidup di dunia mimpi selama beberapa hari.

Ketika seseorang tewas di dalam dunia mimpi, ia hanya akan terbangun, tidak ada yang fatal di sana. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berusaha melewati batasan-batasan yang sudah ditetapkan di dalam mimpi yang ia jalani. Ia bisa saja tersesat di dalam dunia limbo dan tidak akan kembali bangun di dunia nyata. Dunia limbo adalah dunia absurd yang sangat menyesatkan. Seseorang tidak akan dapat membedakan apakah ia sedang ada di dunia mimpi atau dunia nyata.

Di dalam sebuah mimpi, bisa saja tertanam atau ditanamkan mimpi-mimpi lain. Semuanya hadir dalam bentuk lapisan alam bawah sadar yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan inilah yang membuat seseorang dapat tersesat. Namun terkadang, semakin masuk ke dalam lapisan bawah sadar seseorang, semakin banyak pula rahasia yang dapat diperoleh.

Rahasia merupakan hal yang ingin diambil oleh Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) dan komplotannya. Dom memiliki kemampuan untuk memanipulasi mimpi dan alam bawah sadar seseorang. Dengan demikian, ia dapat terus masuk ke dalam alam bawah sadar sampai memperoleh rahasia yang hendak ia curi.

Pada dasarkan Inception (2010) mengisahkan petualangan Dom dan kawan-kawan dalam mengambil sebuah rahasia yang sangat sulit. Dalam perjalanannya, ia pun secara tidak sadar, menggali trauma terbesar dalam hidupnya. Hal inipun memberikan berbagai pertanyaan mengenai realitas yang Dom hadapai sepanjang durasi Inception (2010) berlangsung.

Film yang satu ini sungguh mind-blowing bagi saya. Menonton Inception (2020) berkali-kali tidak membuat saya mati kebosanan. Jalan cerita film ini sangat menarik. Meskipun dibuat terpecah-pecah, penjelasan mengenasi dunia mimpi sebenarnya cukup jelas dan mudah untuk dipahami.

Ditambah dengan musik dari Hanz Zimmer yang ciamik dan pas, semuanya nampak menyenangkan untuk ditonton. Belum lagi special effect dan adegan aksi yang keren, semua seakan menambah deretan keunggulan Inception (2010) di mata saya.

Bagi saya, Inception (2010) layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Nolan memang identik dengan film-film yang mengajak para penontonnya berfikir. Hal ini tentunya terjadi pula pada Inception (2010). Banyak orang yang memperdebatkan mengenai bagian akhir dari Inception (2010). Memang akhir film ini sedikit ambigu dan memberikan sesuatu hal yang dapat diperdebatkan. Bagi saya, perdebatan itu merupakan bagian yang menyenagkan untuk difikirkan. Lagipula, bagian akhir film bukanlah hal yang 100% menentukan apakah film tersebut bagus atau tidak :).

Sumber: http://www.warnerbros.com & http://www.inceptionmovie.uk

Bypass Road (2019)

Bypass Road atau Jalan Bypass adalah jalan yang mengubah hidup Vikram Kapoor (Neil Nitin Mukesh) selamanya. Di jalan itulah ia mengalami kecelakaan mobil. Sejak itu, ia dikabarkan menjadi lumpuh, tidak dapat berjalan lagi. Kemudian mulai saat itulah ia mengetahui berbagai rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui. Vikram pun terlibat pada sebuah kasus kriminal yang ternyata berhubungan pula dengan kasus kriminal lainnya. Kurang lebih itulah awal dari kisah Bypass Road (2019), sebuah film India yang memiliki banyak sekali misteri.

Saya tidak dapat menghitung, ada berapa tumpukan misteri yang membalut Bypass Road (2019). Kalau dipikir-pikir, semua misteri tersebut sangat menjanjian dan sulit untuk ditebak. Sepanjang film, saya pun diajak menerka-nerka, mau dibawa kemana arah film ini. Saya harus akui bahwa misterinya keren dan berhasil mengecoh saya.

Sayang, penyajian misteri-misteri tersebut agak kurang terarah. Film ini terkesan kewalahan untuk menyampaikan berbagai lapisan misteri yang mengelilingi kehidupan Vikram. Belum lagi adegan thriller ala film-film slasher tahun 90-an yang kurang menegangkan dan memiliki persentase kebetulan yang terbilang tinggi :’D.

Thriller dan misteri terus menerus mendominasi Bypass Road (2019). Dimana joget-jogetannya?? Syukurlah adegan joget ditampilkan dengan halus dan tidak mengada-ada. Tidak ada adegan joget di balik pohon kok. Semua adegan musikal pada film ini terbilang proporsional. Cocoklah bagi saya yang kurang suka dengan adegan joget-joget ala Bollywood.

Di atas kertas, Bypass Road (2019) sebenarnya memiliki ide yang menarik. Namun penyampaiannya terasa kurang bagus. Dengan demikian saya ikhlas untuk memberikan Bypass Road (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pvrpictures.com

Drishyam (2015)

Sebagai kepala keluarga, seorang ayah tentunya memiliki naruri untuk melindungi anggota keluarganya. Dalam beberapa kasus, seorang ayah bahkan rela melakukan tindak kriminal yang bertentangan dengan hukum. Hal itulah yang menjadi topik utama dari Drishyam (2015).

Dikisahkan bahwa Vijay Salgaonkar (Ajay Devgn) hidup sederhana bersama istri dan kedua anaknya di sebuah kota kecil. Bencana hadir melalui datangnya seorang anak yang kaya raya, datang ke dalam kehidupan keluarga Salgaonkar. Terjadilah peristiwa kriminal yang melibatkan anak sulung Vijay. Perbuatan ini sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pemperoleh pengadilan yang adil bila dibawa ke meja hijau. Keluarga Salgaonkar harus berhadapan dengan keluarga yang terdiri dari pejabat kepolisian dan pengusaha yang kaya raya.

Maka Vijay memilih untuk menyembunyikan peristiwa kriminal yang terjadi. Disinilah keunggulan dari Drishyam (2015) terlihat. Walaupun Vijay tidak lulus Sekolah Dasar, ia merupakan seseorang yang cerdas. Taktik Vijay berhasil membuat pihak kepolisian kebingungan dalam mencari motif dan barang bukti. Semua diperlihatkan dihadapan pak dan bu polisi seolah hanya ilusi visual buatan Vijay. Sesuai judulnya, Drishyam adalah bahasa India yang artinya visual atau pandangan.

Oooh tunggu dulu, Drishyam (2015) adalah film India? Ya, betul sekali. Film yang satu ini merupakan film thriller asal India. Saya termasuk penonton yang kurang suka dengan unsur musikal dari film-film India. Syukurlah adegan joget-joget di film ini sedikit sekali, hampir tidak ada. Thriller pada Drishyam (2015) terbilang lebih kental dan terasa di sepanjang film. Saya tidak seperti sedang menonton film musikal ala Bollywood. Semua nampak bagus dan memukau. Akting Ajay Devgn terbilang menonjol pada film ini.

Saya sadar betul bahwa Drishyam (2015) adalah remake dari Drishyam (2013). Drishyam (2013) sendiri sebenarnya agak mirip dengan novel Jepang yang berjudul The Devotion of Suspect X. Drishyam (2013) sendiri berbahasa Malayalam dan tampil lebih natural dan apa adanya. Film original terbitan 2013 inipun banjir penghargaan dari berbagai festival film.

Selain Drishyam (2015) terdapat film-film lain yang merupakan remake dari Drishyam (2013). Ada yang diproduksi dalam versi Tamil dan versi Kanada. Kemudiam novel The Devotion of Suspect X pun dibuat versi filmnya pada 2017 lalu. Wah wah wah, semuanya memiliki cerita yang kurang lebih sama yaaaa. Saya sudah menonton semuanya dan saya paling suka dengan Drishyam (2015). Sinematografi film ini lebih memukau. Nuansa thriller-nya lebih terasa. Walaupun hampir semua adegannya seperti copy paste dari Drishyam (2013), Drisyam (2015) berhasil mendramatisir kisah ini dengan lebih intens.

Dengan demikian, Drishyam (2015) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih ada film India yang berhasil membuat saya terpukau. 2 jempol deh buat Drishyam (2015).

Sumber: panoramastudios.in/portfolio-item/drishyam-2015/

Run (2020)

Melihat Run (2020) membuat saya teringat akan kasus Keluarga Blanchard yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Sebuah kasus yang sempat heboh di Amerika pada 2015 lalu. Sutradara dan penulis Run (2020) menyatakan bahwa film ini dibuat dari berbagai kisah dan pengalaman hidup. Tapi, sumpah Run (2020) ini sangat mirip dengan kasus Keluarga Blanchard. Hanya saja, karena Run (2020) bukanlah film dokumenter, maka wajar kalau ada sedikit bumbu yang membuatnya berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard.

Sepanjang film, saya disuguhkan bagaimana hubungan antara ibu dan anak yang berubah-ubah. Sejak kecil, Chloe Sherman (Kiera Allen) menderita berbagai penyakit yang membuatnya lumpuh, dan harus memperoleh berbagai pengobatan di rumah. Beruntung Chloe memiliki Diane Sherman (Sarah Paulson) sebagai ibu. Dengan sabar dan penuh kasih sayang, Diane nampak tabah dan ikhlas merawat anak semata wayangnya.

Semua berubah ketika Chloe menemukan beberapa kejanggalan dari perilaku Diane. Chloe merupakan anak cerdas yang memiliki keinginan kuat untuk maju. Maka tak heran, kalau Chloe melakukan segala cara untuk memperoleh jawaban sedetail mungkin. Kenyataan apakah yang pada akhirnya harus Chroe terima?

Bagi teman-teman yang sudah pernah mengikuti kasus Blancheard, Run (2020) bukanlah kisah misteri. Sejak awal film, tidak ada yang perlu dibuktikan, sama persis kok dasar ceritanya hehehehe. Memasuki pertengahan film, semua sudah dapat ditebak bagi mayoritas penonton. Ceritanya sederhana dan mudah dipahami. Terkadang ada beberapa bagian film yang sedikit membosankan.

Beruntung unsur thriller Run (2020) terbilang cukup kencang. Adegan thriller hampir terus menerus hadir pada setiap bagian film tersebut. Paling tidak hal itu dapat sedikit mengobati kebosanan saya ketika saya sudah dapat menebak jalan ceritanya.

Dasar ceritanya memang sama dengan kasus Keluarga Blanchard, namun akhir dari Run (2020) sangat berbeda dengan kasus Keluarga Blanchard. Akhir dari Run (2020) terbilang cukup mengejutkan sekaligus memuaskan bagi saya pribadi, Savage! 🙂

Jalan cerita yang terkadang sedikit membosankan, masih dapat terselamatkan dengan ketengangan yang terus menerus muncul. Ditambah lagi, bagian akhir yang “meyenangkan”, sedikit banyak memberikan nilai positif bagi Run (2020). Saya rasa, film yang tayang perdana di Hulu Streaming On-Demand ini, masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: run.movie