The Loft (2014)

Loft bukanlah kata yang lazim saya dengar. Apakah loft itu sama dengan apartemen? Berbeda dengan apartemen, loft merupakan sebuah ruangan terbuka dengan langit-langit tinggi yang biasanya terletak di bagian atas sebuah gedung. Gedung tersebut biasanya merupakan bekas gedung perindustrian atau gedung komersial yang sudah tua. Loft memang biasa digunakan sebagai tempat menyimpan barang, tapi lama kelamaan terjadi pergeseran dimana loft dipergunakan pula sebagai tempat tinggal lengkap dengan sofa dan tempat tidur.

Apa yang terjadi ketika pada suatu pagi, ada mayat wanita tak dikenal tergeletak di dalam loft yang kita miliki? Hal inilah yang dialami 5 orang sahabat pada The Loft (2014). Vincent Stevens (Karl Urban), Dr. Chris Vanowen (James Marsden), Luke Seacord (Wentworth Miller), Marty Landry (Eric Stonestreet) dan Philip Williams (Matthias Schoenaerts) terkejut ketika mereka menemukan sesosok mayat wanita pirang tergeletak di dalam loft yang mereka miliki bersama.

Awalnya, loft tersebut mereka gunakan untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin diketahui oleh istri masing-masing. Sudah dapat ditebak, perselingkuhan dan hal-hal negatif lainlah yang 5 sahabat ini lakukan di dalam loft tersebut.

Disinilah mulai timbul konflik mengenai bagaimana mayat tersebut bisa ada di atas ranjang mereka, lengkap dengan borgol dan tulisan latin dari darah? Tuduh menuduh dan saling curiga semakin memanas ketika mereka menemukan fakta bahwa alarm loft sudah dimatikan ketika mereka menemukan mayat, dan pemegang kunci loft hanya mereka berlima saja. Siapakah pelakunya? Salah satu dari mereka? Istri mereka? Selingkuhan mereka? Semua dikisahkan dalam alur maju mundur yang tidak terlalu membingungkan. Ada 3 alur cerita yang ditampilkan secara bergantian, yaitu cerita sebelum mayat ditemukan, ketika mayat ditemukan dan ketika dinterogasi polisi setelah polisi terlibat.

Misteri identitas siapa pelaku dan apa motifnya, cukup membuat saya penasaran. Akan ada perubahan dan kejutan tak terduga sampai akhir film ini berakhir. Tapi jalan ceritanya relatif flat dan sedikit membosankan.

Lucunya, The Loft (2014) ternyata merupakan remake kedua dari Loft (2008). Loft (2008) merupakan film Belgia yang sangat populer dan meraih berbagai prestasi di Belgia. Kemudian Loft (2008) diremake dengan menggunakan wajah-wajah Belanda. Tidak puas sampai di sana saja, dilakukan kembali remake dengan membawa beberapa wajah Hollywood pada The Loft (2014). Sutradara dan cerita pada Loft (2008), Loft (2010) dan The Loft (2014) adalah …. sama x__x, wkwkwkwkwkwk. Yang berbeda hanyalah beberapa pemerannya saja. Nampaknya ada masalah kreatifitas di sana.

Melihat hal-hal di atas, The Loft (2014) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Bolehlaaaah dijadikan tontonan di waktu senggang, jangan berkorban sampai ke bioskop hanya untuk menonton film ini yaaa :D.

Iklan

The Shining (1980)

Banyak orang-orang yang mengalami masa remaja atau dewasa di tahun 80-an, memuji The Shining (1980) sebagai film paling menakutkan di eranya. Film ini dirilis jauh sebelum saya lahir dan saya baru menontonnya beberapa minggu yang lalu. Agak penasaran juga sih, seperti apa ya filmnya.

Pada The Shining (1980), dikisahkan bahwa Jack Torrance (Jack Nicholson) baru saja memperoleh pekerjaan sebagai penjaga Hotel Overlook yang terletak di pengunungan Colorado yang terpencil. Karena alasan ekonomi, hotel mewah tersebut akan tutup selama musim dingin berlangsung, dan akan buka kembali setelah musim dingin berakhir. Tugas Jack di sana adalah memastikan bahwa hotel tetap dalam keadaan baik dan siap beroperasi kembali ketika musim dingin berakhir.

Selama musim dingin berlangsung, semua tamu dan petugas hotel akan pergi meninggalkan hotel tersebut. Jack tidak akan sendirian, ia diperbolehkan membawa keluarganya di sana. Keluarga kecil Jack terdiri dari istri Jack yaitu Wendy Torrance (Shelley Duvall), anak Jack yaitu Danny Torrance (Danny Lloyd), dan Jack sendiri sebagai kepala keluarga. Jack, Wendy dan Danny akan tinggal di dalam sebuah hotel yang mewah, megah, namun terisolasi selama musim dingin, tak akan ada orang lain yang bermukim di dekat mereka. Jalanan dan jalur telefon pun biasanya terputus selama musim dingin. Apakah mereka akan baik-baik saja?

Ooooh tentu tidak :’D. Hotel Overlook ternyata menyimpan sejarah kelam di setiap sudutnya. Perlahan tapi pasti, hotel tersebut mulai mempengaruhi Jack untuk membunuh anak dan istrinya. Sejak awal film, karakter Jack Torrance memang sudah nampak jahat. Jack Nicholson berhasil menunjukkan ini dengan gerakan alisnya yang khas. Opa yang satu ini memang pandai memerankan karakter antagonis. Bertolak belakang dengan Jack, karakter Wendy justru nampak lemah walaupun Wendy pantang menyerah untuk menyelamatkan dirinya dan Danny. Danny sendiri beberapa kali nampak ketakutan tapi tidak berlebih seperti ibunya. Danny justru nampak relatif lebih tenang dan stabil dibandingkan kedua orang tuanya. Belakangan diketahui bahwa ternyata ia memiliki kemampuan supranatural yang pada film ini disebut shining.

Apa itu shining akan dijelaskan dengan gamblang pada film ini. Tapi untuk beberapa hal lain justru dibiarkan menggantung agar para penonton menerka-nerka sendiri. Beberapa fans berat The Shining (1980) bahkan membuat film dokumenter yang membahas makna-makna tersembunyi pada The Shining (1980). Sesuatu yang dianggap omong kosong oleh Stephen King. Pada tahun 1977, Stephen King merilis novel horor berjudul The Shining. Novel inilah yang diangkat oleh Stanley Kubrick ke layar lebar melalui The Shining (1980). Sayang sekali, King tidak suka dengan The Shining (1980). Menurut King, Kubrick menggambarkan Jack sebagai karakter yang terlalu jahat dan Wendy sebagai karakter yang terlalu lemah. Menurut King, seharusnya Jack digambarkan sebagai karakter yang sebenarnya baik dan sayang keluarga, tapi berubah karena pengaruh hotel. Wendy yang terlihat terlalu lemah dianggap kurang logis kalau mampu terus berjuang menghadapi Jack. Untuk poin ini saya setuju dengan Opa King. Tapi bukan berarti The Shining (1980) tidak memiliki kelebihan loh. Kubrick dengan cerdik memodifikasi The Shining (1980) agar filmnya tidak harus menggunakan special affect ala tahun 80-an yang tentunya akan nampak aneh bila ditonton pada tahun 2018. Beberapa adegan horor yang digambarkan King pada novelnya memang sangat sulit untuk ditunjukkan pada versi filmnya karena keterbatasan teknologi saat itu. Dengan demikian, Kubrick memodifikasi beberapa bagian cerita termasuk bagian akhirnya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat King tidak suka dengan The Shining (1980). Pada tahun 1997, The Shining sempat dihadirkan kembali dalam bentuk mini seri dan menggunakan cerita yang lebih sesuai dengan keinginan King. Hasilnya? Para penonton lebih suka The Shining (1980) :’D.

The Shining (1980) memang berhasil menghadirkan beberapa kengerian tanpa campur tangan special affect modern. Bagian yang saya anggap paling menakutkan dari The Shining (1980) adalah bagian dimana Danny bersepeda mengelilingi lorong hotel. Cara mengambil gambar dan kondisi lorong hotel yang terang namun sepi, mampu memberikan efek tegang. Kehadiran 2 anak kembar misterius pun dapat mengejutkan walaupun film ini tidak menggunakan teknik jump scare. Ditambah lagi lagu latar belakangnya yang menutut saya agak mengerikan.

Sayang adegan dimana seorang ayah berbalik ingin membunuh keluarganya sendiri sudah beberapa kali saya jumpai pada film horor lain. Jadi, tidak ada yang spesial atau menyeramkan di sana. Penokohan Jack dan Wendy rasanya kurang tepat untuk menghasilkan kengerian sekaligus intrik yang maksimal. Saya lebih suka karakter Jack dan akhir dari Hotel Overlook pada versi novelnya. Untuk hal-hal lainnya, saya tidak terlalu masalah.

Mohon maaf bagi penggemar garis keras The Shining (1980), saya hanya mampu memberikan The Shining (1980) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. King dan Kubrick tetap sama-sama patut diacungi jempol atas karya mereka :).

Who Am I (2014)

Setelah selama ini sering sekali menonton film-film jebolan Hollywood, kali ini saya menoleh ke arah film-film keluaran Eropa. Apakah ada yang menarik? Saya akhirnya tertarik tuk menonton film yang sudah memenangkan German Movie Awards dan Bambi Awards, yaitu Who Am I – Kein System ist sicher (2014).

Apa arti Kein System ist sicher? Tidak ada sistem yang aman. Ini merupakan moto yang dianut kelompok-kelompok hacker pada Who Am I (2014). Film ini bercerita mengenai kegiatan ilegal hacker-hacker di dunia maya. Dikisahkan bahwa sekelompok hacker di Jerman membentuk CLAY (Clown Laughing at You) yang beranggotakan Benjamin Engel (Tom Schilling), Max (Elyas M’Barek), Stephan (Wotan Wilke Möhring) dan Paul (Antoine Monot Jr.). Tindakan ilegal CLAY awalnya hanya sebatas untuk bersenang-senang dan memprotes pemerintah saja, mereka tidak bermaksud untuk melakukan lebih dari itu.

Berkat kelihaiannya, nama CLAY semakin diakui oleh komunitas hacker. Sayang semua itu terasa hambar tanpa pengakuan dari MNX, hacker ternama yang menjadi idola Benjamin dan Max. Demi memperoleh pengakuan MRX, CLAY membobol data BND (Bundesnachrichtendienst), semacam CIA-nya Jerman. Aksi CLAY ini ternyata membuat salah satu anggota FRI3NDS terbunuh. Wah, apa itu FRI3NDS? Mereka ada kelompok hacker yang bekerja untuk mafia Rusia. Selama ini BND memang sedang memantau sepak terjang FRI3NDS. Insiden ini membuat CLAY dikejar-kejar oleh polisi dan mafia.

Semua kisah pada Who Am I (2014) dipaparkan berdasarkan informasi dari Benjamin di meja interogasi BND. Para penyelidik BND yang jeli kemudian menemukan lubang-lubang pada keterangan Benjamin. Entah disengaja atau tidak, para penyidik mencurigai bahwa sebagian cerita Benyamin adalah kebohongan. Hal inilah yang membuat Who Am I (2014) menarik untuk ditonton. Walaupun jalan ceritanya sedikit datar dan sedikit mirip dengan Serial Mr. Robot, saya melihat beberapa twist atau kejutan pada bagian akhir Who Am I (2014). Twist pada film ini tidak berhenti sampai bagian paling akhir film lho, jadi pastikan tuk menontonnya sampai akhirrrr ;).

Twist yang ada memang banyak dan menumpuk di bagian akhir film, tapi saya merasa agak bosan di bagian pertengahan film. Saya rasa, Who Am I (2014) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Atomic Blonde (2017)

Mengambil era menjelang keruntuhan tembok Berlin di tahun 1989, Atomic Blonde (2017) mengisahkan perebutan sebuah daftar nama mata-mata yang aktif beroperasi di Berlin. Konon daftar tersebut mencantumkan pula detail mengenai Satchel, seorang mata-mata yang bekerja untuk KGB/Rusia dan MI6/Inggris. Identitas Satchel lah yang membuat KGB dan MI6 saling bunuh demi daftar tersebut.

MI6 mengirim Lorraine Broughton (Charlize Theron) untuk mengambil daftar tersebut. Di Berlin, Lorraine akan didukung oleh agen MI6 lainnya, David Percival (James McAvoy). Bukannya bekerja sama, Lorraine dan David justru saling adu licik. Keduanya ternyata memiliki agenda dan kepentingan sendiri. Padahal keduanya harus berhadapan dengan agen-agen KGB yang dipimpin oleh Aleksander Bremovych (Roland Møller).

Pada akhirnya, setiap agen bertindak demi kepentingannya masing-masing. Arah dan keberpihakan tokoh-tokoh utama pada Atomic Blonde (2017) dibuat blur demi memunculkan kejutan. Sayang kejutan-kejutan yang berusaha ditampilkan, terbilang mudah ditebak. Sejak awal film pun saya sudah dapat menebak siapa Satchel itu sebenarnya.

Walaupun ceritanya relatif dapat ditebak, Charlize Theron berhasil memerankan seorang agen wanita yang tangguh yang rela menghalalkan segala cara demi meraih keinginannya. Penampilannya cukup meyakinkan lengkap dengan gaya rambut tahun 80-an yang khas. James McAvoy tetap mampu menampilkan akting yang prima seperti yang pernah ia berikan pada film-film lainnya.

Dengan demikian, saya rasa Atomic Blonde (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saran saya, film ini jangan ditonton bersama anak-anak sebab pada film ini ada beberapa hal yang jauh melenceng dari budaya Indonesia.

Sumber: http://www.iamatomic.com

Alien: Covenant (2017)

Sewaktu masih kecil dulu, film-film Alien karya sutradara Ridley Scott berhasil menjadi film favorit saya. Diawali dengan Alien (1978), kemudian diikuti oleh beberapa sekuel yaitu Aliens (1986), Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Keempat film Alien di atas sama-sama mengisahkan teror di atas kapal atau stasiun luar angkasa oleh sebuah mahluk parasit yang menggunakan tubuh manusia sebagai tempat untuk bertelur. Ellen Ripley (Sigourney Weaver) adalah tokoh sentral keempat film tersebut yang mengawal benang merah kesinambungan jalan cerita antar film.

Alien (1979) dan Aliens (1986) berhasil memberikan tontonan yang menegangkan dengan cerita yang menarik. Jadi tidak hanya kejar mengejar di dalam kapal luar angkasa saja. Ada cerita lain di sana yang membuat kedua film tersebut lebih berkualitas dibandingkan film-film lain di eranya.

Sama seperti kedua pendahulunya, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) masih mengisahkan petualangan Ripley menghadapi mahluk luar angkasa di lorong-lorong sempit pesawat dan penjara luar angkasa. Sayang sekali, Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997) hanya menonjolkan adegan kejar mengejar saja, tiada cerita yang menarik di sana. Saya pribadi lebih memilih untuk menganggap bahwa petualangan Ripley berakhir di Aliens (1986).

Pada tahun 2012, Ridley Scott kembali menghadirkan mahluk luar angkasa yang menjadi lawan Ripley pada Prometheus (2012). Tapi film ini bukanlah sekuel dari Alien (1979), melainkan prekuel. Jadi Prometheus (2012) mengisahkan kisah sebelum Alien (1979). Asal muasal mahluk luar angkasa seolah tidak menjadi topik utama pada film tersebut. Asal muasal manusialah yang justru ditonjolkan pada film tersebut. Pencarian para awak kapal Prometheus terhadap pencipta manusia, justru membawa bencana bagi seluruh awak kapal. Prometheus (2012) jelas lebih menarik ketimbang Alien 3 (1992) dan Alien Resurrection (1997). Kabarnya Prometheus (2012) akan menjadi film pertama bagi trilogi prekuel Alien (1979).

Saya pikir, film setelah Prometheus (2012) akan berjudul Prometheus 2. Ow saya salah besar, Ridley Scott justru memilih judul Alien: Covenant. Alien: Covenant (2017) mengambil peristiwa sebelum Alien (1979) dan sesudah Prometheus (2012). Dikisahkan bahwa kapal luar angkasa Covenant membawa ribuan manusia yang hendak bermigrasi dari Bumi menuju planet lain yang layak untuk ditinggali. Di tengah-tengah perjalanan, terjadi kecelakaan yang membunuh kapten kapal Covenant dan membuat kapal Covenant berhenti sejenak. Ketika para penumpang lainnya masih ditidurkan di dalam kapsul es, para awak kapal dibangunkan untuk memperbaiki situasi. Mereka seharusnya ditidurkan di dalam kapsul es selama puluhan tahun dan akan dibangunkan ketika mereka tiba di Planet tujuan yaitu Origae-6.

Sayangnya, kapten kapal pengganti yaitu Chris Oram (Billy Crodup), memilih untuk mampir ke Planet yang baru terdeteksi ketika para awak kapal sedang memperbaiki Covenant. Planet tersebut nampak mirip dengan Bumi, bersahabat, layak dihuni dan posisinya jauh lebih dekat ketimbang Planet Origae-6. Keputusan Chris berujung bencana karena di Planet misterius yang kosong ini, mereka bertemu dengan David 8 (Michael Fassbender) lengkap dengan bibit mahluk luar angkasa parasit yang pernah hadir pada film-film Alien sebelumnya. David 8 sendiri adalah salah satu awak kapal Prometheus yang selamat pada Prometheus (2012). Di sini akan terungkap apa yang terjadi kepada awal kapal Prometheus yang tersisa setelah Prometheus (2012) berakhir. Sudah pasti, para awak kapal Covenant satu demi satu berguguran.

Uniknya, para awak kapal Covenant merupakan pasangan suami istri sehingga ketika salah satu terancam bahaya atau tewas, maka pengambilan keputusan pasangannya akan terpengaruh. Tennessee Faris (Danny McBride) beberapa kali mengambil keputusan sebagai pilot Covenant dengan dipengaruhi oleh emosi karena ketidakjelasan nasib istrinya yang juga seorang pilot. Chris, sebagai Kapten pengganti pun mengalami shock dan tidak mampu memimpin lagi ketika bahaya dan bencana menimpa istrinya yang berprofesi sebagai ahli Biologi Covenant. Chris sampai harus melimpahkan tampu kepemimpinan kepada Daniels (Katherine Waterston) yang sudah lebih dahulu kehilangan suaminya. Daniels adalah istri dari kapten Covenant pertama yang gugur ketika kecelakaan di awal film terjadi. Seperti film-film Alien sebelumnya, protagonis utama diperankan oleh seorang wanita berambut pendek yang tangguh seperti Daniels. Walaupun Daniels memang nampak lebih tabah dan tangguh, sangat sulit bagi Daniels untuk menyaingi Ellen Ripley, tokoh utama keempat film Alien pertama. Saya rasa tokoh Ripley lebih tangguh dan perkasa :’D.

Sepanjang film, terjadi kerjar mengejar antara awak kapal Covenant dengan mahluk luar angkasa. Pengejaran ini juga berlangsung di lorong-lorong pesawat luar angkasa yang sempit, mirip seperti film-film Alien sebelumnya. Sayang adegan kejar mengejar ini tidak ada gregetnya dan cenderung membosankan.

Hal ini semakin diperburuk dengan tidak adanya misteri atau sesuatu yang dapat membuat saya penasaran seperti pada Prometheus (2012). Awalnya saya berharap Alien: Covenant (2017) mampu memberikan sedikit jawaban akan misteri penciptaan manusia yang belum seluruhnya terungkap pada Prometheus (2012). Pertanyaan besar akan asal mula manusia yang digembar-gemborkan pada Prometheus (2012) seakan menguap tanpa sisa. Apakah ini karena Opa Ridley Scott takut akan kontroversi dan kemarahan dari para pemuka agama?

Ahhhh, Alien: Covenant (2017) benar-benar tidak sesuai ekspektasi saya. Film ini hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Walaupun bagian akhirnya menyisakan beberapa pertanyaan, saya ragu bahwa jawabannya akan muncul pada film Alien berikutnya. Lama kelamaan Alien akan menjadi salah satu franchise film yang bergulir tanpa arah yang jelas.

Sumber: http://www.alien-covenant.com

It (2017)

IT

Film mini seri TV, It (1990), merupakan film horor pertama yang saya tonton secara utuh, dari awal sampai akhir. Film yang dibuat berdasarkan novel karya Stephen King ini, hadir di TV dalam bentuk mini seri yang terdiri dari 2 episode. Episode pertama bercerita di era 80-an ketika tokoh utama masih anak-anak. Sedangkan episode kedua bercerita ketika tokoh utama sudah beranjak dewasa. Pada tahun 2017 ini, kisah pada It (1990) episode pertama, dibuat ulang pada It (2017).

Mirip seperti mini seri It (1990), It (2017) berkisah mengenai sekelompok anak-anak yang harus berhadapan dengan sebuah mahluk misterius. Mahluk tersebut sudah ratusan tahun menggunakan trik dan ilusi untuk menakut-nakuti korbannya. Ia “memakan” rasa takut anak-anak untuk menjadi lebih kuat, semakin takut si korban, semakin kuatlah mahluk tersebut jadinya. Karena korbannya adalah anak-anak, mahluk tersebut sering menggunakan wujud Pennywise si badut sebagai wujud fisiknya. Tapi badut bukanlah wujud permanen mahluk ini. Ia sebenarnya tidak memiliki wujud dan nama yang jelas. Maka mahluk ini sering pula disebut “It”, sebuah kata umum dalam bahasa Inggris yang mengarah kepada suatu hal.

IT

IT

Lawan It (Bill Skarsgard) pada It (2017) adalah sekelompok anak-anak yang menamakan diri mereka The Losers Club. Kelompok ini terdiri dari William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Stan merupakan anak pemuka agama Yahudi yang enggan mendalami ajaran agamanya tapi terlalu takut untuk mengakuinya, ia termasuk anak yang mudah panik dan agak canggung. Richie merupakan anak paling cerewet yang takut badut … hhmmmm … mangsa yang sempurna bagi It. Eddie merupakan anak yang sangat dilindungi oleh ibunya karena penyakit yang Eddie derita, walaupun sebenarnya Eddie tidak sesakit dan selemah itu. Mike merupakan anak kulit hitam yang ditekan agar mampu menjadi tukang jagal hewan seperti almarhum ayahnya, Ben merupakan anak baru yang gemar membaca dan akhirnya mampu memberikan beberapa informasi terkait It kepada teman-temannya. Bev merupakan satu-satunya anak perempuan di dalam The Loosers Club yang mengalami berbagai pelecehan baik di sekolah maupun di rumah. Terakhir, Bill merupakan anak yang paling berpengaruh di dalam The Loosers Club walaupun ia bukan yang paling pintar, bukan yang paling supel dan bukan yang paling kuat. Bill seolah menjadi pemimpin perkumpulan anak-anak tersebut. Atas ajakan Bill pulalah, The Loosers Club melakukan penyelidikan terhadap hilangnya anak-anak di kota mereka yang ternyata sudah terjadi selama ratusan tahun. Bill sangat terobsesi dengan kasus-kasus tersebut karena adik Bill merupakan salah satu dari anak-anak yang hilang tersebut. Ahhhh, nasib buruk yang menimpa adik Bill ini dikisah pada bagian awal film, jadi penonton sopasti tahu siapa yang Bill dan kawan-kawan buru.

IT

IT

IT

IT

IT

IT

IT

Saya melihat It (2017) menyajikan aneka masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota The Loosers Club dengan berimbang. Hanya kasus Bill saja yang sedikit dominan tapi masih dalam takaran yang wajar. Semua masalah tersebut dapat terangkai menjadi satu dengan tema film ini sehingga semuanya nampak sebagai satu kesatuan yang utuh :). Bumbu masalah yang akan hadir di masa depan (andai film ini sekuelnya jadi dibuat), sudah terlihat sejak dini. Saya melihat benih-benih cinta segitiga antara Bill, Bev dan Ben. Kalau di versi novel dan mini seri It (1990), hal ini akan menjadi masalah besar yang memecahbelah persahabatan mereka.

Yang saya paling suka dari It (2017) adalah bagaimana The Loosers Club dapat berubah dari pecundang yang diburu, menjadi kelompok anak-anak yang kuat dan pemberani. Saya sangat suka dengan bagian klimaks dari film ini, jarang-jarang ada film horor yang akhirnya seperti ini. Yaah memang sih sedikit menggantung, tapi hal itu wajar karena pada mini seri It (1990) saja, film ini memang dibagi ke dalam 2 film.

IT

IT

IT

Penampakan It sebagai badut cukup menyeramkan tapi teknik jump scare yang dipergunakan terkadang sedikit hambar. Teknik yang si badut It lakukan untuk menakut-nakuti pun, kadang tidak terlihat menakutkan. Yang saya syukri dari It (2017) adalah tidak terlalu banyaknya adegan sadis yang menjijikkan seperti yang pernah saya lihat pada Saw (2004), sebuah film horor penuh kejutan tapi sangat sadis.

IT

IT

Saya suka dengan film horor yang satu ini. It (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Puas rasanya melihat nasib si jahat It pada bagian akhir film ini :).

Sumber: itthemovie.com

Happy Death Day (2017)

 

Happy Death Day (2017) secara mengejutkan sempat merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu, mengalahkan beberapa film dengan pemain ternama dan anggaran yang besar.  Film yang diproduksi oleh Universal Studio ini merupakan gabungan antara Scream (1996) dan Groundhog Day (1993). Di sana terdapat nuansa film slasher remaja yang sempat populer di era 90-an yang dipadukan dengan terjebaknya Tree Gelbman (Jessica Rothe) di dalam sebuah putaran waktu.

Pada suatu pagi, Tree terbangun di dalam kamar asrama milik Carter Davis (Carter Broussard). Tree menjalani hari tersebut sampai akhirnya ia tewas dibunuh sosok misterius yang menggunakan topeng bayi, maskot kampus tempat Tree kuliah. Setelah tewas, Tree kembali terbangun di pagi hari, di dalam kamar asrama milik Carter, di hari ulang tahunnya. Kejadian ini sepertinya akan terus Tree alami berulang-ulang sampai ia menemukan sosok misterius yang berulang kali berhasil membunuhnya.

Aksi kejar-kejaran antara Tree dan si pembunuh, menggunakan bantuan lagu dan suara agar nampak mengejutkan. Andaikata kita menonton Happy Death Day (2017) tanpa suara, praktis film ini tidak terlalu mengejutkan. Yaaa tak apalah, paling tidak film ini bukan termasuk film horor yang menjijikan.

Slasher merupakan subkategori dari jenis film horor, tapi terus terang tipe film horor seperti ini relatif lebih saya suka ketimbang tipe film horor lainnya. Aroma film slasher memang relatif kental terasa pada Happy Death Day (2017). Seperti film slasher di era 90-an, misteri akan siapa si pembunuh, tetap mampu membuat penonton penasaran. Latar belakang ala film slasher remaja pun nampak jelas pada film ini, mulai dari lorong gelap, rumah sakit sampai parkiran kosong. Akhir filmnya pun cukup memuaskan dengan sebuah kejutan di belakang. Tapi saya lihat ada hal yang membedakan Happy Death Day (2017) dengan berbagai film slasher yang pernah saya lihat yaitu penggunaan looping waktu dan terlihatnya unsur komedi romantis di sana.

Dengan adanya perulangan waktu, semakin lama, penonton dapat melihat siapa Tree yang sebenarnya. Karakter Tree yang pada awalnya nampak “brengsek”, perlahan mulai “insaf” dan memiliki ketertarikan dengan Carter. Alasan mengapa Tree menjadi “brengsek” pun dimunculkan di saat yang tepat sehingga Happy Death Day (2017) nampak semakin menarik untuk ditonton. Sayang, sampai akhir film, terdapat beberapa hal yang belum terjawab. Apa sih yang tidak terjawab? Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini hehehe.

Setelah menonton Happy Death Day (2017), saya tak heran film ini berhasil merajai tangga box office beberapa minggu yang lalu. Happy Death Day (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.happydeathdaymovie.com