Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

1917 (2019)

Perang Dunia I yang terjadi antara 1914 sampai 1918 merupakan peristiwa besar yang sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Setelah beberapa kali membesut film James Bond, Sam Mendes kali ini berusaha mengakat sejarah kelam tersebut dalam 1917 (2019). Film ini mengambil latar belakang peperangan di wilayah Prancis pada bulan April 1917. Pada saat itu wilayah Utara Prancis sudah diduduki oleh pasukan Jerman. Pasukan Inggris datang ke dalam wilayah tersebut untuk membantu Prancis memukul mundul Jerman.

Pada suatu pagi yang cerah, Kopral William “Will” Schofield (George MacKay) & Kopral Thomas “Tom” Blake (Dean-Charles Chapman) dari Angkatan Darat Inggris, mendapat perintah penting dari Jendral mereka. Tom dan Will ditugaskan untuk menyampaikan sebuah pesan penting kepada 1 Batalion Inggris yang sedang memukul mundur pasukan Jerman masuk terus ke dalam wilayah Utara Prancis.

Berdasarkan pengamatan dari udara, pasukan Jerman sudah menyiapkan jebakan bagi Batalion Inggris tersebut. Pesan berupa perintah untuk mundur, harus cepat Will dan Tom sampaikan agar korban jiwa di pihak Inggris dapat dihindarkan.

Perjalanan Tom dan Will tidaklah mudah karena mereka harus menyusup ke dalam medan perang hanya berdua saja. Tidak ada pasukan lain yang ditugaskan mengawal mereka. Di sana, Tom dan Will dihadapkan kepada realita kejamnya perang. Betapa banyaknya kehidupan yang dirusak oleh perang yang mereka hadapi. Perjalanan mereka pun menunjukkan bahwa tentara itu hanya manusia biasa yang punya rasa takut dan belas kasihan.

Sebenarnya hal di atas cukup klise dan sudah ditampilkan oleh berbagai film perang. Jalan ceritanya pun sebenarnya sangat sederhana. 2 prajurit pergi menembus medan perang untuk mengantarkan sebuah pesan. Tidak ada plot twist dan tidak ada pula tokoh antagonis utama pada 1917 (2019). Lalu apa yang membuat film ini berbeda?

1917 (2019) memiliki visual yang sangat indah karena ditampilkan dengan menggunakan 2 long continuous shot. Jadi penonton dibuat seolah terus mengikuti pergerakan tokoh utama tanpa terpotong. Melihat 1917 (2019) terkadang seperti melihat video game tipe FPS (First-Person Shooter) dengan gambar yang sangat nyata :D. Visual memang menjadi nilai plus film perang yang satu ini. Tapi bagaimana dengan ceritanya?

Terlepas dari visualnya yang keren, ada beberapa bagian dari 1917 (2019) yang terbilang menegangkan. Tapi ada pula bagian yang temponya terlampau lambat dan sedikit membosankan. Akibat penggunaan long continuous shot, maka kadang saya merasa bosan melihat film ini dari 1 sudut pandang saja. Bagi saya pribadi, jalan ceritanya tidak terlalu berhasil memikat penontonnya. Adegan aksinya pun terbilang biasa saja.

Maka, saya rasa 1917 (2020) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. 1917 (2020) lebih menyenangkan bila ditonton di layar lebar dengan cahaya yang gelap. Sebaiknya jangan menonton film ini di smartphone yang berlayar kecil.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/1917

Knives Out (2019)

Kisah detektif selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika masih sekolah dulu, novel detektif dari Alfred Hitchcock dan Agatha Christie sudah menjadi bacaan saya. Sayang beberapa kisah detektif yang diangkat ke layar kaca, tidak sebagus novelnya. Mungkin juga hal ini dikarenakan saya sudah tahu jalan cerita beserta akhir ceritanya :’D. Knives Out (2019) tidak dibuat berdasarkan novel apapun. Jadi saya benar-benar buta akan film ini. Trailer-nya saja belum pernah lihat hehehee.

Berbeda dengan beberapa film detektif yang pernah saya lihat, mayoritas sudut pandang Knives Out (2019) justru dilihat dari sisi seorang Marta Cabrera (Ana de Armas), salah satu tersangka pembunuhan. Marta adalah perawat dari seorang penulis novel misteri terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan tewas meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya yaitu Walter “Walt” Thrombey (Michael Shannon), Donna Thrombey (Riki Lindhome), Jacob Thronbey (Jaeden Martell), Joni Thrombey (Toni Collete), Megan “Meg” Thrombey (Katherine Langford), Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), Richard Drysdale (Don Johnson), dan Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans). Tak lupa pula ibu Harlan yang sudah sangat uzur, Wanetta Thrombey (Katherine Elizabeth Borman). Yahh itulah nama-nama tersangka atas sebuah kasus yang masih dipersebatkan apakah itu merupakan kasus kriminal atau murni hanya bunuh diri saja.

Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) beserta kepolisian setempat datang ke TKP dan melakukan penyelidikan. Melihat bagaimana Blanc melakulan penyelidikan, sungguh unik apalagi kalau dilihat dari sudut pandang salah satu tersangka. Setiap tersangka pada kasus ini memiliki ketergantungan finansial terhadap Harlan. Bahkan tersangka yang pada awalnya minim motif, tiba-tiba memiliki motif.

 

Saya suka dengan bagaimana Knives Out (2019) memutar-mutar fakta yang ada. Film ini sukses membuat saya penasaran dan sama sekali tidak mengantuk sampai akhir film. Akhir film ini ya sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu mengejutkan, tapi jalan ceritanya sungguh menarik. Banyaknya karakter yang terlibat sama sekali tidak membuat saya kebingungan. Latar belakang dan motif setiap tersangka berhasil disampaikan dengan sangat informatif. Komedi hitam yang ada di dalamnya pun mengena meski agak sedikit basi :’D.

Tanpa saya duga, ternyata akting Daniel Craig terbilang sangat baik. Ketila melihat karakter detektif yang ia perankan, saya sama sekali tidak melihat James Bond di sana. Craig seolah menjadi detektif handal dengan aksen koboy yang kental.

Saya rasa, Knives Out (2019) adalah film detektif terbaik sepanjang tahun 2019. Film arahan Rian Johnson ini sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: knivesout.movie

Contagion (2011)

Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pada awalnya memakan banyak korban di Kota Wuhan, Cina Daratan sana. Karena penyakit ini mudah sekali menular, maka COVID-19 berhasil menjalar ke negara-negara lain. Tak terelekan, Indonesia pada akhirnya terkena juga. Full Work from Home sampai-sampai diberlakukan di kantor saya. Hal ini tentunya menimpa kantor-kantor lain. Isu hoax dan kekhawatiran akan ekonomi Indonesia turut menjadi teror tambahan bagi warga biasa seperti saya.

Corona

Melihat dan merasakan keadaan seperti ini, membuat saya teringat akan sebuah film lama yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Segala hal yang ada pada film Contagion (2011), kembali hinggap di benak saya. Beberapa hal yang dikisahkan pada film tersebut, memang sedang terjadi saat ini.

Corona

Corona

Corona

Pada Contagion (2011) dikisahkan bahwa dunia dihebohkan oleh sebuah virus mematikan yang menular dengan sangat cepat. Asal mula virus tersebut melibatkan kelelawar di daerah Cina yang pada akhirnya mampu membuat manusia sakit. Dengan gejala awal pilek, batuk, demam, lama kelamaan virus ini dapat membuat orang-orang mengalami sesak nafas dan meninggal.

Dengan penyebaran yang sangat cepat, korban berjatuhan dimana-mana. Tidak hanya korban karena penyakit yang ditimbulkan, akantetapi dampak sosial dan ekonomi pun dihadirkan di sini. Semua dihadirkan dari berbagai sudut pandang. Mulai dari korban, keluarga korban, satgas penanganan bencana, militer, pedagang obat palsu dan lain-lain. Masing-masing harus berhadapan dengan social distance dan lockdown selama virus ini masih belum ada obat dan vaksinnya. Hanya saja fokus dari Contagion (2011) sepertinya hanyalah pengaruh virus di Amerika dan Cina saja. Negara-negara lain memang tidak terlalu terlihat. Yah mungkin durasinya akan terlalu panjang ya kalau tidak terlalu fokus.

Corona

Corona

Corona

Corona

 

Beda wilayah, beda pula kondisinya. Mungkin hal ini pulalah yang membuat Contagion (2011) tidak 100% menggambarkan kondisi penyebaran virus di Indonesia. Ada beberapa hal pula yang memang tidak atau belum terjadi. Kalau dibandingkan dengan COVID-19, virus pada Contagion (2011) terlihat lebih mematikan dan penyebarannya super cepat. Jadi dampaknya pun memang lebih ekstrim. Syukurlah COVID-19 tidak seganas virus pada film tersebut. Banyak konflik-konflik yang pada awalnya terlihat menarik. Apakah awal yang menarik ini akan terus bertahan sepanjang film?

Awal dan tengah cerita yang membuat penasaran dan mengharukan, kurang dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga saya merasa sedikit mengantuk ketika menonton Contagion (2011) menjelang bagian akhirnya. Entah kenapa, sampai menjelang akhir, saya tidak melihat klimaks yang menegangkan. Sayang sekali, padahal bagian awal film ini sangat menjanjikan loh. Beberapa konflik yang muncul memiliki penyelesaian yang sangat biasa dan tidak menarik, yah paling hanya begitu-begitu saja. Tapi tetap harus saya akui bahwa pesan moral akan pengorbanan, saling tolong menolong dan saling menghargai sangat kental pada film ini.

Corona

Yaah saya tahu bahwa banyak film-film lain yang mengangkat tema penularan virus, tapi sementara ini Contagion (2011) tetaplah yang terbaik. Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, film ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Bagi teman-teman yang sedang stres atau khawatir akan COVID-19, sebaiknya jangan menonton film ini. Di dalamnya terdapat beberapa hal yang saat ini belum tentu terjadi di dunia nyata, tapi mungkin saja terjadi. Memang ada beberapa hal pada Contagion (2011) yang saya harapkan tidak terjadi di dunia nyata, tapi ada beberapa hal baik pula yang saya sangat berharap dapat terjadi secepatnya di dunia nyata. Akhir kata, semoga COVID-19 dapat ditemukan vaksin dan obatnya. Sampai saat saya menulis tulisan ini, jumlah pasien dan korban COVID-19 terus bertambah, beberapa malah berasal sangat dekat dari rumah saya. Stay safe everyone …

Sumber: http://www.warnerbros.com/movies/contagion/

Ready or Not (2019)

Menikah dengan seseorang yang tampan, baik hati dan kaya raya tentunya menjadi impian sebagian besar wanita. Bagaikan mimpi, sesaat lagi Grace (Samara Weaving) akan menggunakan nama Le Domas sebagai nama belakangnya. Calon suami Grace adalah Alex Le Domas (Mark O’Brien), soerang pria tampan dan baik hati, serta berasal dari sebuah keluarga kaya raya, keluarga Le Domas. Sejak awal upacara pernikahan, Grace sudah melihat tatapan aneh dari keluarga Le Domas. Grace pikir ahhhh ini pasti karena Grace berasal bukan dari keluarga kaya. Sudah menjadi tugas Grace untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga barunya.

Berbeda dengan keluarga lainnya, keluarga Le Domas ternyata memiliki sebuah tradisi yang unik. Karena Le Domas mendapatkan sebagian besar kekayaannya dari bisnis permainan, maka mereka akan mengadakan permainan setiap seorang anggota keluarga selesai menikah. Permainan apa yang mereka mainkan? Jenis permainannya ditentukan dari sebuah kartu acak yang ditarik oleh si anggota keluarga baru. Kali ini, tentunya giliran Grace Le Domas untuk menarik kartu. Andaikan Grace memperoleh kartu catur, yaaa mereka semua hanya akan bermain catur saja. Hal ini berlaku pula pada kartu-kartu lainnya kecuali kartu … petak umpet. Ahhhh sungguh terkejut bukan main, sial, Grace mendapatkan kartu petak umpet tanpa ia ketahui betapa buruk permainan petak umpet ala Le Domas ini. Sudah bisa ditebak dari awal sih, sopasti Grace akan mendapatkan kartu permainan petak umpet. Bukankah judul film ini “ready or not”? itu adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh anak-anak di Amerika sana, ketika mereka sedang bermain petak umpet. Kalau saya sih, dulu biasanya tidak pernah pakai kata-kata “ready or not” gitu, yang ada justru istilah inglo, kucing dan kebakaran saja. Yaah, beda daerah, beda istilah :D.

Mirip seperti permainan petak umpet yang dulu saya mainkan, Grace diminta bersembunyi, sementara anggota keluarga yang lain mencari dan menangkap Grace. Tak disangka, ini adalah awal dari perburuan terhadap Grace. Ternyata Grace akan ditangkap dan dibunuh apabila ia tertangkap. Bak mimpi indah yang seketika berubah menjadi mimpi buruk, Grace harus berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan hidupnya. Kali ini keluarga Le Domas akan menghadapi lawan yang cukup menantang karena Grace bukanlah wanita lemah lembut yang mudah takluk begitu saja.

Latar belakang kediaman keluarga Le Domas yang megah dan remang-remang memang sangat cocok untuk membangun atmosfer ketegangan yang tidak membosankan. Tapi cerita pada film ini sebenarnya terbilang standard, hanya kejar-kejaran dengan motif yang mudah ditebak sejak awal. Beberapa kali terlihat adegan sadis dan penuh darah pada film ini. Humor yang dihadirkan pun agak asing bagi orang Indonesia kurang gaul seperti saya. Komedi hitam pada Ready or Not (2019) sepertinya merupaka komedi lokal Amerika, jadi tidak bersifat global :’).

Saya rasa Ready or Not (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini masih bisa dijadikan hiburan tapi sebaiknya jangan menontonnya bersama anak-anak ;).

Sumber: http://www.foxsearchlight.com/readyornot/

It Chapter Two (2019)

Terpukau dengan It (2017), membuat sekuel film tersebut menjadi salah satu film yang saya tunggu-tunggu. Sesuai dengan novelnya, kisah para tokoh utama pada It (2017) memang belum berhenti sampai di sana saja. It Chapter Two (2019) mengisahkan kembali petualangan The Loosers Club 27 tahun setelah peristiwa pada It (2017) berakhir. Siapakah The Loosers Club itu? Mereka merupakan sekelompok remaja yang beranggotakan William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), dan Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Untuk The Loosers Club dewasa, perannya dimainkan oleh aktor dan artis lain yaitu William “Bill” Denbrough (James McAvoy), Stanley “Stan” Uris (Andy Bean), Benjamin “Ben” Hansco (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richard “Richie” Tozier (Bill Harder), Edward “Eddie” Kaspbrak (James Ransone), dan Michael “Mike” Hanlon (Isaiah Mustafa).

Menurut legenda, It atau Badut Pennywise (Bill Skarsgard) akan bangkit setiap 27 tahun. 27 tahun berlalu dan kejadian buruk mulai terjadi kembali di kampung halaman The Loosers Club. Sesuai dengan sumpah yang pernah mereka ikrarkan semasa remaja dulu, The Loosers Club dipanggil kembali untuk menghadapi It. Dari sekian banyak anggota The Loosers Club, hanya 1 yang memilih bunuh diri daripada harus berhadapan kembali dengan It. Bagaimana dengan sisanya? Mereka kembali tapi dengan membawa masalah mereka masing-masing.

Kembali ke kampung halaman, membawa kenangan lama kembali. Masalah masa lalu pun datang menghinggapi. Trauma akan kekerasan yang Bev hadapi ketika masih remaja kembali datang. Eddie teringat kembali mengenai bagaimana mudahnya ia jatuh sakit sejak kecil dulu. Kematian adik Bill kembali datang menghantui Bill. Cinta segitiga antara Bev, Ben dan Bill kembali datang. Terakhir, Mike yang terus terobsesi akan kebangkitan It, memiliki ketakutan tersendiri ketika ia mengingat kematian keluarganya. Oh tunggu dulu, bagaimana dengan Stanley dan Richie? Stanley … memilih untuk tidak datang menghadapi It. Richie memiliki masalag ketakutan yang sangat absurd, tidak jelas. Belakangan tersirat baru diketahui bahwa orientasi seks Richie-lah yang menjadi masalah. Masalah Richie ini menjadi subplot tak jelas yang tak penting. Aneh sekali, kok ya ini tidak ditanamkan sejak It (2017). Masalah yang Richie hadapi seolah-olah seperti masalah yang dibuat-buat agar durasi It Chapter Two (2019) semakin panjang :P.

Durasi It Chapter Two (2019) lebih dari 2 jam dan mayoritas adegannya adalah teror dari It! Kenangan dan masalah masa lalu inilah yang diekspolitasi oleh It untuk meneror The Loosers Club. Kalau ada orang bilang bahwa lebih lama itu lebih baik, maka hal ini tidak berlaku pada It Chapter Two (2019). Teror demi teror terus muncul tanpa arah yang jelas. Semuanya pun lebih ke arah teror monster yang membosankan, bukan teror psikologis.

Sumpah, film ini terasa sangat membosankan. Terlebih lagi rencana yang Mike susun untuk menghadapi It terbilang aneh dan banyak sekali celahnya. Ya jelas sudah dapat ditebak pasti rencana Mike yang kacangan ini akan mengalami kegagalan.

Nilai positif yang saya lihat dari It Chapter Two (2019) hanyalah kostum dan efek yang jauh lebih bagus dari It (2017). Selain itu akting dari James McAvoy yang prima, tentunya menjadi poin plus lagi bagi It Chapter Two (2019). Sayang karakter-karakter The Loosers Club dewasa lainnya, kalah pamornya dengan The Loosers remaja. Karakter-karakter The Loosers Club pada It (2017) jauuuh lebih kuat dan sukses besar menghadirkan sarkasme dan lelucon yang menghibur. Sementara itu It Chapter Two (2019) justru dipenuhi oleh lelucon-lelucon yang kurang lucu.

Saya agak kecewa dengan sekuel film yang satu ini. Nilai dari saya pribadi adalah 2 dari 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untung saya tidak menonton film ini di bioskop :’D.

Sumber: http://www.it-movie.net

Midsommar (2019)

Sekitar setahun yang lalu saya menonton Hereditary (2018), sebuah film horor karya sutradara Ari Aster. Film tersebut menghasilkan berbagai review yang sangat beragam dan bertolak belakang. Terlepas dari suka atau tidak, film tersebut berhasil mengangkat Ari sebagai sutradara. Maka pada tahun 2019 ini Ari kembali melalui Midsommar (2019). Sebuah film horor yang menurut saya pribadi, lebih unik ketimbang Hereditary (2018) :).

Kisah Midsommar(2019) diawali dengan tragedi yang menimpa keluarga Dani Ardor (Florence Pough). Berbagai “drama” yang Dani alami akibat tragedi tersebut membuat hubungan percintaannya dengan sang kekasih, Christian Hughes (Jack Reynor) mulai renggang. Keduanya nampak berusaha untuk memulihkan hubungan mereka yang semakin dingin. Dani pun sampai tidak mengetahui bahwa Christian dan teman-teman kuliahnya hendak menghadiri festival Midsommar di Swedia. Walaupun ada kecanggungan dan sedikit konflik, Dani yang mahasiswi Psikologi, akhirnya ikut serta menuju Swedia dengan Christian dan rekan-rekannya dari jurusan Antropologi. Di sini terlihat betapa buruknya komunikasi antara Dani dan Christian.

Di Swedia, Dani dan Christian berharap untuk dapat memperbaiki hubungan mereka. Dani pun berharap untuk dapat melupakan & melepaskan kesedihan hidupnya di sana. Sementara itu. Sementara itu rekan-rekan mereka memiliki tujuan yang berbeda, bahkan satu diantaranya justru akan membawa kematian. Apakah mereka semua akan menemukan apa yang mereka cari di Swedia? Ya dan tidak :’D.

Festival Midsommar sendiri sebenarnya merupakan festival yang dilakukan setiap 90 tahun sekali oleh komunitas Hårga di daerah pedalaman Hälsingland, Swedia. Di sana terdapat berbagai nyanyian dan tarian yang unik. Namun, ternyata festival ini memiliki beberapa ritual yang sangat “mengganggu” bagi orang luar seperti Dani dan kawan-kawan. Dari hari pertama saja, sebenarnya sudah terlihat ada hal yang aneh dari festival ini. Tapi pihak komunitas dengan cerdik berhasil membuat Dani dan kawan-kawan untuk tetap tinggal. Cara yang komunitas Hårga lakukan cukup cerdik karena mereka sama sekali tidak menggunakan kekerasan.

Dari luar, komunitas Hårga nampak ramah. Seolah mereka hidup di tengah-tengah tarian, nyanyian dan bunga-bunga yang indah. Gambaran yang ditampilkan sepanjang Midsommar (2019) sangat jauh dari kesan angker atau seram. Semua serba cerah dan ceria. Sepanjang film saya dimanjakan oleh sinematografi yang sangat memukau. Saya kagum bagaimana Ari Aster berhasil memberikan kengerian tanpa harus menggunakan jump scare atau visual yang serba gelap dan muram. Perlu diingat bahwa Midsommar (2019) bukanlah film monster atau horor yang penuh dengan jump scare. Film ini memberikan nuansa horor psikologis yang unik.

Ahhhh sayang, sebenarnya jenis cerita horor seperti ini sudah dapat ditebak kemana arahnya. Dari awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir dari kisah horor ini, tidak ada banyak misteri di sana. Tempo yang sangat lambat dengan jalan cerita yang relatif mudah ditebak, terkadang membuat saya merasa bosan.

Midsommar (2019) mengingatkan saya akan film The Wicker Man (2006), hanya saja Midsommar (2019) beberapa tingkat lebih bagus ketimbang The Wicker Man (2006). Setiap bagian pada Midsommar (2019) memiliki arti tertentu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan setelah selesai menontonnya. Bahkan sekitar 10 menit pertama pun sudah mengandung beberapa hal terkait festival Midsommar loh, padahal itu baru adegan awal saja dimana Dani dan kawan-kawan masih berada di Amerika. Beberapa penonton menganggap bagian awalnya terlalu bertele-tele, padahal di sana ada detail yang dapat menimbulkan spekulasi akan konspirasi yang komunitas Hårga mungkin lakukan.

Sebenarnya Midsommar (2019) relatif lebih bagus ketimbang Hereditary (2018), tapi saya tetap hanya dapat memberikan Midsommar (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Entah mengapa, saya tetap lebih seram dengan cerita horor ala Indonesia. Hanya saja sayang sekali mayoritas film horor Indonesia, belum digarap dengan baik.

Sumber: a24films.com/films/midsommar

Brightburn (2019)

Siapa yang tak tahu Superman. Superhero pembela umat manusia yang satu ini sudah terkenal sejak saya belum lahir. Nah, bagaimana kalau Superman hadir ke Bumi tapi dalam versi yang berbeda, versi yang lebih gelap? Itulah topik utama yang Brightburn (2019) tawarkan. Semoga ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan agak berbeda ;).

Sama persis seperti kisah Superman, pada Brightburn (2019) dikisahkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) adalah sepasang petani yang pada suatu hari menemukan seorang bayi di dalam sebuah kapsul misterius. Kapsul tersebut jatuh dari angkasa, menimpa lahan pertanian milik keluarga Breyer. Pasangan Breyer yang sudah lama tidak memiliki keturunan, langsung mengangkat bayi yang mereka temukan sebagai anak mereka.

Hari terus berganti, tak terasa bayi mungil keluarga Breyer sudah beranjak dewasa. Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) tumbuh tanpa mengetahui asal muasalnya. Lambat laun, Brandon mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja cara Brandon menyikapi kekuatan ini, sangat berbeda dengan cara Clark Kent / Superman menyikapi kekuatannya. Di sini digambarkan bahwa kekuatan Brandon sama plek ketiplek dengan kekuatan Superman.

Yaaah Brandon di sini memang merupakan Superman versi jahat. Gambaran akan kasih sayang Kyle dan Tori memang sudah ditonjolkan. Namun entah kenapa sebagian besar nampak hambar dan miskin emosi. Pada awalnya saya melihat kasih sayang Tori sebagai seorang ibu. Tapi semakin lama kasih sayang tersebut terlihat kurang meyakinkan. Usaha untuk menghentikan teror Brandon pun gagal menghasilkan adegan yang mencekam. Saya agak bingung mau dibawa ke mana arah Brightburn (2019). Mau dibilang horor yaaa tidak ada seram-seramnya. Mau dibilang misteri, dimana misterinya???

Disana sungguh tidak ada misteri yang membuat saya penasaran. Kenyataan akan apa dan siapa Brandon sungguh tidak menarik dan basi. Kalau hanya ingin mengisahkan Superman versi jahat, DC Comics sudah memiliki berbagai cerita akan Superman jahat. Yang paling terkenal diantaranya adalah Superman versi Injustice, dimana Superman berubah menjadi jahat ketika Louis Lane dibunuh oleh Joker. Cerita dan alurnya jauh lebih kompleks dan menarik ketimbang Brightburn (2019). Jadi jelas sudah, mengisahkan Superman versi jahat bukanlah sesuatu yang revolusioner bagi saya pribadi hehehehe v(^_^)v.

Di luar ekspektasi saya, Brightburn hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau mau melihat Superman versi jahat lebih baik melihat beberapa produk asli DC Comics seperti Injustice, Superman: Red Son, JLA: Earth 2, Irredeemable dan Infinite Crisis ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/brightburn

Searching (2018)

Searching (2018) mengisahkan bagaimana David Kim (John Cho) mencari anak remajanya yang hilang, Margot Kim (Michelle La). Dari pihak kepolisian, Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) datang memberikan bantuan. Kasus ini memberikan sebuah kejutan yang tidak saya duga sebelumnya.

Semakin lama, misteri akan hilangnya Margot membuka luka lama keluarga Kim. Di awal, cerita memang dikisahkan bagaimana keluarga Kim yang pada awalnya lengkap, harus kehilangan sosok ibu. Margot adalah satu-satunya yang David miliki, jadi sangat masuk akal kalau David mati-matian mencari Margot. Di sini saya melihat keharuan dan kepatangmenyerahan David, sampai ia dapat menguak misteri. Ini pertama kalinya saya melihat John Cho, pemeran David Kim, berhasil memerankan karakter yang serius. Sebelumnya ia sering muncul pada film-film komedi yang bagi saya pribadi agak kurang lucu :’D. Awalnya saya agak ragu, kok tokoh utama film seperti ini justru aktor yang sering bermain di komedi yah. Ahh ternyata John dapat pula berakting serius pada Searching (2018).

Film ini memang memiliki kejutan dan chemistry di dalamnya, tapi uniknya semua itu digambarkan melalui komputer-komputer yang keluarga Kim miliki. Jadi sepanjang film, penonton disuguhkan sebuah layar komputer dimana semua karakter saling berinteraksi. Saya rasa pendekatan ini tidak akan membingungkan penonton yang tidak fasih dengan komputer jenis tertentu. Saya yang tidak pernah menggunakan komputer Machintosh, tidak merasa kesulitan dalam mengikuti jalan cerita ketika layar dan aplikasi Machintosh yang digunakan. Semuanya mampu dikomunikasi dengan sangat baik :).

Bagi saya pribadi, Serching (2018) bukanlah film pertama yang menggunakan pendekatan sebuah perangkat elektronik untuk mengisahkan ceritanya. Kisah misteri tentang ayah yang mencari anak pun sudah beberapa kali saya tonton. Tapi semuanya mampu dikombinasikan dengan baik sekali sehingga menghasilkan Searching (2018), sebuah film yang layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jelas merupakan film tahun 2018 yang wajib ditonton.

Sumber: http://www.searching.movie

Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Scary Stories to Tell in the Dark (2019) mengambil latar belakang Amerika di tahun 1968, saat Amerika masih aktif terlibat Perang Vietnam. Atmosfer pemilihan presiden pun menjadi aroma tambahan bagi latar film ini. Tapi, bukan perang atau pemilihan presiden yang menjadi topik utama Scary Stories to Tell in the Dark (2019), melainkan kumpulan cerita seram yang dapat berubah menjadi kenyataan.

Pada awal Scary Stories to Tell in the Dark (2019), terdapat sekelompok remaja masuk ke dalam sebuah rumah misterius pada malam Hallowen. Di dalam rumah tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan rahasia dan mengambil sebuah buku. Pada halaman pertama buku tersebut, tertulis …. milik Sarah Bellows.

Sarah Bellows adalah seorang anak perempuan yang mati gantung diri dan selalu dikait-kaitkan dengan cerita seram di kota Mill Valey. Tanpa sadar, para remaja tersebut telah membangunkan sesuatu yang buruk. Buku yang mereka bawa ternyata dapat menuliskan sendiri, kisah-kisah seram yang ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata. Satu per satu kisah seram milik mereka, tertulis di buku milik Sarah Bellows tersebut. Tentunya kematian semakin mendekatin para remaja tersebut. Mau tak mau, mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka harus menyelamatkan diri dari kisah yang tertulis, sambil menyelidiki bagaimana mereka menghentikan semua ini.

Sekilas, plot Scary Stories to Tell in the Dark (2019) sudah sering sekali diangkat oleh berbagai film horor remaja, termasuk film horor Indonesia. Hanya saja, eksekusi dari Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terbilang rapi dan terarah sehingga saya merasakan kengerian pada beberapa bagiannya.

Sayang, film ini mungkin tidak akan terasa seram sekali bagi mayoritas penonton dewasa. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terkesan seperti film horor monster, sesuatu yang mungkin akan menakutkan bagi penonton dewasa Amerika. Mayoritas setan dan hantu ala Amerika dan Eropa memang berwujud fisik sepeeri monster. Selain itu, film ini sebenarnya diambil dari novel pendek dengan judul yang sama. Di Amerika sana, novel tersebut cukup kontroversial pada tahun 90-an. Novel ini dapat ditemukan di perpustakaan pada bagian remaja & anak, padahal konten dan grafis dari novel tersebut dinilai terlalu sadis untuk dilihat oleh remaja sekalipun. Kenangan akan cerita seram pada buku tersebut, tentunya membawa nostalgia tersendiri bagi penonton yang mengenal versi novelnya sebagai novel terseram pertama yang mereka baca sebagai remaja. Saya pribadi sebenarnya lebih seram dengan setan dan hantu ala Indonesia hihihihi.

Tapi tetap saja, eksekusi yang cemerlang, membuat Scary Stories to Tell in the Dark (2019) nampak unggul dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang pernah saya tonton. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) pun beberapa kali membuat saya salah menebak akan misteri yang menyelimuti Sarah Bellows dan kutukannya. Misterilah yang membuat saya penasaran dan terjaga ketika menonton film ini. Tapi jangan harap akan ada kejutan atau twist yang “wow” pada film ini, akhir dari misteri yang ada tidaklah terlalu mencengangkan.

Selain itu, akhir dari film ini agak kurang garang ya. Seperti masih ditahan untuk sebuah sekuel mungkin? Melihat kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark (2019) di tangga box office, sepertinya film ini akan ada sekuelnya. Saya rasa Scary Stories to Tell in the Dark (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.scarystoriestotellinthedark.com