Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa

Setelah kemarin berjalan-jalan di dalam kota Seoul pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo, hari ini kami akan pergi agak jauh di timur laut dari Seoul. Kami bermaksud untuk berkelana ke Gunung Seorak. Untuk mencapai Gunung Seorak, sebenarnya kami bisa saja naik kereta sampai Stasiun Express Bus Terminal yang kemarin kami lewati. Dari sana, kami bisa naik bis nomor 7 atau 7-11 jurusan Sakcho dan turun di pemberhentian terakhir yaitu Halte Bus Mount Seorak. Mengingat kami membawa bayi yang belum genap berumur 2 tahun, agak riskan kalau kami nekad pulang pergi naik bis umum ke sana.

Kami akhirnya memutuskan untuk membeli paket land tour melalui aplikasi Klook yang pada saat itu sedang promo hehehehe. Konsekuensinya adalah kami harus datang tepat waktu dan tidak bisa sesuka hati berlama-lama atau cepat-cepat di dalam sebuah area. Semua sudah ada itenarinya sendiri yang sudah diatur oleh rekanan Klook di sana yaitu Ktourstory.

Kami sudah membeli paket ini beberapa hari sebelum kami berangkat ke Korea. Berdasarakan petunjuk pada aplikasi, kami diharuskan berkumpul di depan Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park pada pukul 08:10. Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami tiba sekitar 20 menit sebelum 08:10 di Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Di sana, kami bertemu dengan orang-orang Indonesia yang membeli land tour melalui Klook juga. Wah ternyata banyak juga yang seperti kami yaaah :).

Tak lama waktu berselang, Ktourstory datang dengan sebuah bis dan mini SUV. Dari sekian banyak orang yang menunggu di Exit 10, ternyata semuanya ikut rombongan menuju Pulau Nami :’D. Semua naik bis kecuali kami dan seorang warga Amerika Serikat bernama Dan. Kami kemudian naik mini SUV dari Ktourstory dan memuai perjalanan kami menuju Taman Nasional Seorak :D.

Rute kami cukup sederhana tapi lumayan jauh. Kami akan berwisata di Gunung Seorak dan Kuil Naksansa yang membutuhkan kurang lebih 3 jam perjalanan dari Seoul. Kali ini kami dapat melihat pemandangan luar kota Seoul yang indah. Jalanan yang kami tempuh, beberapa kali melewati bagian tengah bukit. Jadi, ada beberapa bukit yang dilubangi untuk jalan raya sehingga dapat menghemat waktu tempuh.

Di tengah-tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di rest area. Di sanalah saya melihat banyak sekali warga lokal yang menggunakan jaket anti angin. Hiking ternyata memang menjadi hobi bagi mayoritas masyarakat Korea. Banyak orang-orang tua yang gemar hiking terutama di musim semi. Mereka datang lengkap dengan atribut jaket anti angin, sepatu hiking dan tongkat hiking. Identitas kami sebagai turis asing terlihat jelas karena kami hanya menggunakan jaket dan sepatu alakadarnya :’D.

Semakin lama di Korea, semakin kami sadari bahwa kami jarang sekali melihat anak kecil di sana, lebih banyak orang tuanya. Selama kami berjalan-jalan di dalam kota Seoul, kami hampir tidak melihat 1 anak kecil pun. Pantas saja anak kami sering menjadi pusat perhatian. Dalam 1 hari, paling tidak ada 1 atau 2 warga lokal yang meminta ijin saya untuk memberikan sesuatu kepada anak kami. Baik di kereta atau di jalan, anak kami kadang mendapatkan coklat, permen, makanan ringan atau mainan kecil. Semua nampak tulus diberikan kepada anak kami.

Dari obrolan sepanjang perjalanan menuju Taman Nasional Seorak, saya mendengar bahwa banyak kaum muda Korea Selatan memilih untuk menunda kehamilan karena membesarkan anak di sana itu mahal. Dampak dari keadaan ini adalah menurun drastisnya angka kelahiran di sana. Ternyata, angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk Korea Selatan, adalah salah satu yang paling rendah di dunia. Jumlah penduduk usia muda semakin menurun dan jumlah penduduk usia tua terus naik. Saya salut dengan penduduk tua di sana. Mereka senang sekali hiking dan naik sepeda. Terkadang saya melihat mereka membawa sepeda ke dalam Stasiun untuk bersepeda di luar kota. Tangga-tangga Stasiun kereta yang curam dan panjang saja, sering digunakan oleh kakek-kakek dan nenek-nenek. Dengan gaya hidup sehat dan gemar berolahraga, penduduk usia tua memiliki usia yang semakin panjang. Hal ini sangat mirip dengan yang saya temui di Jepang beberapa tahun yang lalu. Kurang lebih, Jepang juga sedang menghadapi keadaan yang mirip seperti ini.

Tak terasa kami sudah masuk ke dalam area Taman Sogongwon yang merupakan bagian dari Taman Nasional Seorak. Gunung Seorak atau Seoraksan merupakan bagian dari Pegunungan Taebaek yang terletak di dalam area Taman Nasional Seorak. Sampai sana, kami memiliki beberapa opsi rute hiking, yaitu Jalur Benteng Gwongeumseong, Jalur Biseondae Rock, Jalur Heundeulbawi Rock, Jalur Ulsanbawi Rock, dan Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory.

Karena kami membawa bayi, Jalur Benteng Gwongeumseong tentunya menjadi jalur yang pertama kami pilih. Jalur ini adalah jalur yang paling mudah karena ada pilihan untuk menggunakan bantuan kereta gantung pada sebagian besar perjalanannya. Sesuai namanya, jalur ini merupakan jalur menuju reruntuhan Benteng Gwongeumseong di salah satu puncak Gunung Seorak. Benteng Gwongeumseong (설악산 권금성) atau Istana Gunung Onggeumsan atau Istana Toto konon berdiri pada pemerintahan Raja ke-23 Kerajaan Goryeo untuk menghadang invasi bangsa Mongol.

Untuk menuju Benteng Gwongeumseong, kami memutuskan untuk menggunakan Kereta Gantung meskipun dikenai biaya tambahan. Yaaaah kapan lagi, jarang-jarang naik yang seperti ini heheheheh. Dari Taman Sogongwon, kami berjalan menuju Stasiun Kereta Gantung Seorak-dong. Dari sana, kami menaiki sebuah Kereta Gantung yang dapat menampung sampai 50 orang sekali jalan. Kereta buatan Doppelmayr Ropeways of Switzerland ini nyaman untuk melihat pemandangan sekitar. Dari Kereta Gantung tersebut, kami dapat melihat Taman Sogongwon, Kota Sokcho, Jeohangnyeong, Laut Jepang, Ulsanbawi Rock dan Gwongeumseong dari ketinggian. Sayang, kami datang di awal musim semi, sehingga dedaunan di sana masih berwarna hijau. Konon, pemandangan dari Kereta Gantung ini akan sangat indah di saat dedaunan sudah berubah warna pada musim semi.

Perjalanan selama kurang lebih 10 menit yang menyenangkan, tak terasa sudah berakhir. Kami turun di Stasiun Kereta Gantung Gwongeumseong. Dari Stasiun tersebut, kami berjalan meniti jalan menanjak selama sekitar 20 menit. Beberapa bagian dari rute ini sudah dilengkapi dengan jalan bebatuan, tangga bebatuan dan pengaman yang rapi. Tapi, semakin ke atas, semuanya semakin terjal dan jalanan yang rapi perlahan berubah menjadi bebatuan yang tidak beraturan. Karena medan yang kurang bersahabat dan kencangnya angin, istri dan anak saya berhenti pada titik di mana puncak dari Benteng Gwongeumseong dapat terlihat. Saya meneruskan perjalanan ke atas sendirian hingga akhirnya tiba di puncak. Pada perjalanan hiking ini, saya membawa tas punggung dan depan berisi baju anak, perbekalan dan lain-lain. sementara itu istri saya menggendong anak kami dengan gendongan bayi. Memang sebaiknya istri dan anak saya tidak ikut ke atas karena jalan bebatuannya terlalu curam.

Ada apa di sana? Pada dasarnya area ini adalah reruntuhan dari Benteng tersebut. Kami tidak melihat bangunan di sana. Hanya bebatuan yang berwarna coklat keputihan. Warna bebatuan seperti inilah yang menjadi asal mula nama Gunung Seorak yang berarti gunung salju. Dari kejauhan, bebatuan yang membentuk gunung ini, nampak sepertu salju abadi yang terus ada sepanjang tahun. Pemandangan di atas sana benar-benar berbeda dengan gunung di Indonesia. Semakin ke atas, pepohonan semakin berkurang. Pemandangan berganti dengan semakin banyaknya formasi batu di sana. Laut Jepang dan Kota Sokcho kembali dapat dilihat dari Benteng Gwongeumseong. Pemandangan alam yang layak untuk dikunjungi.

Selesai dari puncak Benteng Gwongeumseong, kami kembali turun menuju Stasiun Gwongeumseong, lalu naik Kereta Kabel menuju Taman Sogongwon. Nah, dari sini kami harus memilih apakah mau hiking lagi atau bersantai di taman saja. Karena stamina kami masih ok dan putri kami tidak rewel, maka kami memutuskan untuk memilih salah satu dari 4 jalur hiking lain yang belum kami lalui. Mendatangi keempatnya dalam 1 hari merupakan hal yang hampir mustahil bagi kami. Mana ya yang akan kami pilih?

Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock adalah jalur yang pendek dan ringan. Pada kedua jalur ini kita sama-sama melewati Kuil Sinheungsa, Patung Jwabul Buddha pada awal perjalanannya. Kemudian, dari area Kuil Sinheungsa, kita harus memilih apakah hendak meneruskan menuju Jalur Biseondae Rock atau Jalur Heundeulbawi Rock. Jarak keduanya kurang lebih mirip, tapi tingkat kesulitan Jalur Heundeulbawi Rock relatif diatas tingkat kesulitan Jalur Biseondae Rock.

Pada bagian akhir Jalur Biseondae Rock kita akan menemui Biseondae Rock, formasi bebatuan pipih dengan ukiran puisi di atasnya. Nama Biseondae sendiri berasal dari dongeng mengenai peri-peri yang setiap malam turun dari surga untuk bernyanyi di tempat tersebut. Mereka datang karena mengagumi keindahan deretan batu pipih di dekat perairan yang jernih. Para seniman kemudian mengukir berbagai puisi pada batu-batu tersebut. Konon, sampai sekarang, keaslian dan keindahan lokasi tersebut masih terjaga dengan baik. Kalau mau tantangan lebih, dari ujung Jalur Biseondae Rock, kita dapat meneruskan perjalanan ke atas untuk mengunjungi Gua Geumgagul yang seingat saya tidak ada di dalam peta penunjuk jalan di Taman Seugongwon.

Bagaimana dengan Jalur Heundeulbawi Rock? Pada akhir perjalanannya, kita tentukan akan menemukan Heundeulbawi Rock, sebuah batu besar yang bentuknya agak bulat tapi tidak dapat didorong sampai menggelinding ke tempat lain. Konon, para pengunjung hanya dapat menggoyangkan batu tersebut saja walaupun sudah beramai-ramai mendorongnya.

Kalau masih memiliki waktu dan stamina, kita dapat melanjutkan menuju Jalur Ulsanbawi Rock. Dari Heundeulbawi Rock, terdapat jalur menanjak ke atas menuju Ulsanbawi Rock. Jalur ini secara keseluruhan merupakan jalur yang paling menantang dan paling tinggi puncaknya. Ulsanbawi Rock terdiri dari dereran 6 batu granit yang sangat panjang. Dari sana, konon kita dapat melihat Reservoir Haksapyeong, Laut Jepang dan Puncak Dalma dari kejauhan.

Terakhir, Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory merupakan jalur yang memiliki 3 air terjun yaitu Biryong, Yukdam dan Towangseong. Biryong sendiri merupakan air terjun yang paling terkenal karena bentuknya yang mirip dengan naga terbang. Itulah kenapa air terjun tersebut diberinama Biryong yang artinya naga terbang.

Hhhhmmmm, mana yang akan kami pilih? Maunya sih kami coba semua hehehehe. Karena kali ini kami ikut rombongan tour, maka mau tak mau kami harus disiplin mengikuti jadwal yang ada. Karena jarak dan waktu tempuh yang panjang, Jalur Ulsanbawi sudah pasti tidak kami pilih. Jalur Biseondae Rock dan Jalur Heundeulbawi Rock memang cukup menggoda karena melewati Kuil Sinheungsa dan Patung Jwabul Buddha, selain formasi bebatuan pada masing-masing puncaknya. Tapi karena toh setelah dari Taman Nasional Gunung Seorak, kami hendak mengunjungi Kuil Nakansa, kedua jalur ini tidak kami pilih. Cukup 1 kuil saja dalam sehari, tidak perlu 2. Air terjun pada Jalur Biryong Waterfall & Towangseong Falls Oservatory nampaknya lebih menggoda. Air terjun bukan buatan manusia, lebih alami dan kami sudah lama tidak melihat air terjun ;).

Kami memulai perjalanan sejauh 2 km dari Taman Sogongwon sampai Air Terjun Yukdam dengan jalur yang tidak terlalu sulit. Di awal-awal perjalanan, kami melalui daerah yang masih hijau dan jalan setapak yang landai. Semakin lama, terdapat sungai-sungai dari yang kering sampai yang penuh. Jalanan pun semakin curam tapi masih terdapat tangga pengaman di sana. Jalanan yang curam tersebut, dibentuk oleh bebatuan yang sudah disusun sehingga mirip dengan tangga sehingga tidak terlalu berbahaya. Semakin mendekati Yukdam, tangga pengaman kadang mulai hilang dan susunan bebatuan yang harus kami lalui semakin curam. Tapi memandangan semakin indah karena mulai terdapat sungai yang sangat jernih dengan latar belakang pegunungan yang asri. Kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat meminum air yang kami bawa. Air Terjun Yukdam sendiri ternyata hanya air terjun kecil yang tidak terlalu istimewa.

Perjalanan sekitar 0,4 km berikutnya, dari Air Terjun Yukdam sampai Air Terjun Biryong, cukup menantang. Kami melawati banyak jembatan yang pajang dan kokoh. Di luar area jembatan, tangga pengaman sudah semakin sering tak ada dan jalanan curam yang kami lalui tidak dalam bentuk bebatuan yang seperti tangga lagi. Tapi hal tersebut sepadan karena Air Terjun Biryong memang nampak lebih panjang dan berkelok. Kami dapat menyaksikan separuh dari air terjun tersebut dari sebuah jembatan. Kemudian separuh sisanya dari bagian paling bawah dari deretan jembatan yang kami lalui. Air terjun ini memang tidak terlalu lebar, tapi agak panjang dan landai bentuknya.

Kami kemudian beristirahat dan menyantap bekal kami di bagian bawah Air Terjun Biryong. Anak dan istri saya memilih untuk tidak melanjutkan sampai ke Air Terjun Towangseong karena jalur yang nampak lebih ajaib. Saya melanjutkan perjalanan ini sendirian dan ternyata ini lebih melelahkan dari perjalanan sebelumnya karena jalur sejauh 0,4 km ini berisikan tangga semua. Jalur menuju air tersebut berupa tangga dari bebatuan yang tidak terlalu curam, lengkap dengan pengaman untuk berpegangan. Tapi jalur ini hampir tak ada landainya, semuamua tanggaaaaaaaa saja, gile benerrr ×_÷. Jalur yang saya lalui ini bukanlah jalur yang langsung menuju air terjunnya, melainkan menuju titik terbaik untuk melihat Air Terjun Towangseong secara keseluruhan dari atas sampai bawah. Air terjun ini adalah air terjun terpanjang di Korea Selatan loh. Semakin ke atas, pemandangan memang semakin indah dan unik. Sayang saya kehabisan waktu sehingga saya harus balik badan sebelum sampai ke puncak :(. Yaaaah inilah resiko ikut paket tour, ada batasan waktu.

Kami tergopoh-gopoh berjalan kembali menuju Taman Sogongwon. Beruntung kami datang pada hari kerja sehingga Taman Nasional Gunung Seorak tidak terlalu ramai. Andaikan kami datang di saat akhir pekan, jalan cepat atau berlari di jalanan yang kami lalui, hampir mustahil. Warga Korea nampaknya sudah biasa melakukan hiking sebagai arena rekreasi yang sehat dan menyenangkan. Saya pribadi tidak heran karena Gunung Seorak memang sangat rapi, bersih dan teratur. Hampir tidak ada sampah di sana. Saya kagum dengan bagaimana mereka dapat menjaga alam yang mereka miliki dengan sangat baik. Sebuah hal yang seharusnya dapat Indonesia contoh.

Sayangnya, kami sendiri memberikan nama yang kurang baik bagi Indonesia karena kami tiba di Taman Sogongwon sekitar 30 menit lebih lambat dibandingkan waktu yang sudah ditentukan. Turis Amerika sudah datang tepat waktu dan menunggu kami di sana, maaap ya mister hehehehe :’D. Andaika ingin puas di Gunung Seorak, kita memang sebaiknya mengambil paket tour di Klook yang tujuannya hanya Gunung Seorak saja, buka Gunung Seorak plus Kuil Naksansa.

Apa itu Kuil Naksansa? Kuil Naksansa (낙산사) merupakan kuil Buddha yang terletak di antara Kota Sokcho dan Wilayah Yangyang. Sebenarnya, kuil ini sudah berdiri sejak masa pemerintahan Raja Munmu dari Kerajaan Silla, sekitar 1300 tahun yang lalu. Pada perjalannya, sebagian kuil ini sudah sempat terbakar pada masa invasi bangsa Mongol, perang Korea dan kebakaran hutan. Kuil ini terus diperbaiki dan dibangun ulang karena konon di tempat inilah Avalokitesvara Bodhisattva dahulu sempat hidup, sesuatu hal yang penting bagi umat Buddha Korea.

Kini, Kuil tersebut nampak bersih dan luas walaupun sudah beberapa kali terbakar. Dari sana, kami dapat melihat Laut Jepang dari jarak dekat, di sela-sela bebatuan karang dengan latar belakang paviliun-paviliun dari Kuil Naksansa, sebuah pemandangan yang indah.

Tak jauh dari salah satu bagian kuil yang dekat dengan Laut Jepang, terdapat patung granit raksasa dari Haesugwaneumsang setinggi 15 meter. Patung ini berdiri tegak memandang ke arah Laut Jepang. Patung ini merupakan salah satu patung tertinggi untuk jenisnya. Pemandangan dari patung tersebut nampak indah. Anak kami sempat jajan es krim di area tersebut. Kamipun istirahat sejenak melepas lelah di sana.

Sebelum pulang, kami memutari seluruh kompleks kuil. Satu lagi bangunan yang unik dan penting di sana adalah Naksansa Chilcheung Seoktap, bangunan pagoda tingkat 7 yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Sejo dari dinasti Joseon. Sekilas, pagida tersebut nampak sederhana dan tidak terlalu besar, namun ternyata bangunan tersebut dianggap penting bagi umat Buddha Korea karena mereka percaya bahwa di dalamnya terdapat rosario Buddha dan manik-manik ajaib.

Kami pulang menjelang sore dan diantarkan kembali sampai Exit 10 Stasiun Dongdaemun History & Culture Park oleh mobil SUV Ktourstory. Pada perjalanan pulang inilah untuk pertama kalinya kami merasakan apa yang orang Korea sebut “macet”. Jalanannya memang agak tersendat, tapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan macetnya Jakarta pada jam pulang kantor :’D.

Apakah dari Stasiun kami langsung pulang ke penginapan? Oh tentu tidak :D. Kami mengelilingi apM Place, hello apM, Migliore, Doota dan pertokoan sekitarnya. Daerah tersebut memang seperti Tanah Abangnya Seoul. Banyak warga lokal yang membeli baju dan kain dalam jumlah banyaaaaak sekali. Hilir mudik membawa troli bukanlah hal yang aneh di sana.

Setelah belanja, kami sempat singgah di kedai kaki lima yang menjual sushi. Di sana serba instant dan tidak ada tempat duduk. Tapi sushinya enak dan harganya bersahabat ;). Setelah itu, barulah kami pulang ke apartemen untuk kembali berpetualang dikeesokan hari pada Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Iklan

Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo

Setelah kemarin kami berkelana ke Pulau Nami, Petite France dan The Garden of Morning Calm pada Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm, di hari ketiga ini kami bangun sedikit siang. Hari ini kami akan berkeliling di tengah kota Seoul saja, tidak jauh-jauh. Kami akan mengunjungi Ihwa Mural Village, Itaewon dan Jembatan Banpo.

Mirip seperti hari-hari sebelumnya, kami sarapan menyantap hidangan yang istri saya masak di dalam Apartemen. Tak lupa ia memasak untuk bekal nanti, siapa tahu kami tidak menemukan makanan halal di jalan ;). Selain itu, pakaian yang semalam kami masukkan ke mesin cuci kemarin, sudah dapat kami gantungkan di dalam apartemen untuk selanjutnya disetrika apabila ada waktu ;).

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Ihwa Mural Village. Dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park, yang terletak tak jauh dari tempat kami menginap, kami naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Dongdaemun untuk turun di Stasiun Hyehwa. Kami keluar melalui Exit 2 dan berjalan kaki sekitar 500 meter ke arah Ihwa Mural Village, sesuai arahan GPS kami.

Ihwa Mural Village yang terletak di daerah Jungno ini memiliki kontur yang berbukit-bukit. Banyak sekali tangga yang tinggi dan curam di sana. Kami bahkan dapat menyaksikan Taman Namsan dari ketinggian di sana. Ini memang menarik untuk dilihat, tapi mana muralnya???? Namanya Ihwa Mural Village, tapi kok muralnya sedikit sekali ya? Mural ikan koi dan bunga raksasa yang menjadi icon tempat ini nampak lenyap ditelan Bumi.

Pada tahun 2006, Pemerintah Korea Selatan mengundang seniman lokal dan mahasiswa untuk membuat mural di sekitar Desa Jongno. Mural-mural yang unik berhasil menyulap desa kumuh, menjadi lingkungan yang lebih hidup secara ekonomi dan menjadi salah satu landmark kota Seoul. Semakin banyaknya turis yang datang ke sana, ternyata membuat kaum tua merasa berisik. Mereka akhirnya melakukan vandalisme dengan menghapus beberapa mural yang ikonik di sana. Sekarang, turis yang datang semakin sepi, tidak ada suara berisik lagi, tapi omset toko-toko di sana turun drastis. Saya pribadi tidak terlalu menyarankan untuk datang ke Ihwa Mural Village yaaa. Kalau mau lihat mural, datang saja ke Penang, di sana juga banyak kok ;).

Kami kemudian kembali berjalan menuju Stasiun Hyehwa untuk selanjutnya berkelana menuju Ehwa Women University. Di tengah-tengah perjalanan, kami singgah di 7-Eleven untuk membeli kartu T-Money yang dapat dilakukan untuk naik kereta, bis dan taksi di sana. Selama ini, kami selalu membeli tiket single trip untuk naik kereta. Setelah kami melihat dan merasakan, perjalanan menggunakan kereta ternyata cukup efisien dan tidak terlalu berat. Kalaupun ternyata kurang ok, toh T-Money dapat dipergunakan untuk membayar bis dan taksi juga ;). Yang paling menggoda kami untuk membeli T-Money adalah potongan harganya hehehehehe. Jadi, kalau naik kereta menggunakan T-Money, kita tinggal melakukan tapping saja, tidak perlu menukarkan deposit setiap keluar dari peron, dan mendapat potongan harga ;). Semua dapat dilakukan selama pulsa T-Money masih mencukupi. Kalau kurang, yaaa tinggal beli di loket atau di Ticket Vending and Card Reaload Device saja, beressss :D.

Kartu T-Money yang kami beli adalah T-Money edisi K-Pop, lengkap dengam gambar artis K’Pop yang sama sekali tidak saya kenal hehehe :’D. kenapa kok K-Pop? Kartu jenis ini dapat dijadikan sebagai oleh-oleh loh, saya saja sudah ada yang menitip. Pantas saja, kok di pertokoan dekat penginapan, saya sering melihat pedagang kaki lima menawarkan kami 1 pak kartu T-Money edisi K-Pop. Awalnya saya heran, buat apa turis seperti kami membeli kartu T-Money sebanyak itu :’D.

Keluar dari 7-Eleven, kami kembali berjalan menuju Stasiun Hyehwa untuk menggunakan kartu T-Money baru kami :D. Dari Stasiun Hyehwa, kami kembali naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Dongdaemun untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park, kami naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Euljiro 4(sa)-ga untuk turun di Stasiun Ewha Women University. Penjalanan keluar dari Stasiun ini dilengkapi dengan tangga berjalan yang panjaaaaaaang sekali.

Ewha Women University (이화여자대학교) berdiri sejak 1886 pada masa pemerintahan Kaisar Gojong dari dinasti Joseon. Universitas swasta ini merupakan salah satu Universitas favorit dan mayoritas muridnya adalah wanita. Institusi ini pada awalnya memang dimaksudkan untuk memberdayakan kaum hawa sehingga hanya menerima wanita saja. Namun saat ini, Ewha sudah menerima murid pria meskipun jumlahnya tak banyak.

Ada apa di Ewha? Di sana terdapat jalan masuk ke area bawah tanah yang unik. Bentuk seperti bukit yang dibelah. Inilah yang menjadi landmark dari Ewha Women University. Selain itu terdapat pula taman-taman dan bangunan-bangunan yang bentuknya dipengaruhi oleh Eropa di sana. Area Kampus ini dijadikan oleh turis untuk berwisata dan melepas lelah sejenak. Saya sendiri sibuk mengejak-ngejar putri kami yang berlarian di sana. Karena kampus ini sangat besar dan berbukit-bukit, kami hanya menjelajahi bagian depannya saja.

Satu lagi yang terkenal dari Ewha adalah deretan pertokoan di bagian depannya. Lokasi ini dipenuhi oleh toko oleh-oleh, kosmetik, pakaian dan kebutuhan wanita. Untuk menarik pemgunjung, beberapa toko memasang boneka atau pernak-pernik yang unik. Pada waktu itu, yang sedang populer adalah boneka Line Brown raksasa. Orang-orang mengantri hanya untuk melihat atau berfoto dengan boneka raksasa tersebut. Yang banyak orang kurang sadari adalah, sebenarnya ada 2 toko yang memasang boneka tersebut. Kami memilih mampir ke Elcube Store yang relatif lebih sepi, lokasinya di kanan jalan sebelum gerbang Ewha Women University ;).

Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Ittaewon yang terkenal sebagai daerah muslim di Seoul. Kami kembali berjalan menuju Stasiun Ewha Women University. Dari sana, kami kembali naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Chungjeongno untuk turun di Stasiun Chungjeongno. Dari Stasiun Chungjeongno kami naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (ungu) arah Stasiun Gongdeok untuk turun di Stasiun Gongdeok. Dari Stasiun Gongdeok, kami naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (coklat) arah Stasiun Samgaki untuk turun di Stasiun Ittaewon.

Keluar dari Stasiun Ittaewon, kami melihat sebuah daerah yang berbeda dengan daerah lain di Seoul yang pernah kami kunjungi. Bentuk jalan dan toko-tokonya agak berbeda. Orang-orang yang hilir mudik pun didominasi oleh orang asing, tidak didominasi oleh warga lokal seperti di daerah tempat kami menginap. Sayang menurut saya pribadi, Ittaewon sedikit kurang bersih untuk ukuran Seoul. Kalau dibandingkan dengan Jakarta sih ya Ittaewon hitungannya tetap bersih dan rapi.

Berjalan di Itaewon serasa berjalan di tempat yang paling beda di Seoul. Di sana, sangat mudah menemukan makanan halal. Tentunya, kami berani jajan dan makan siang dengan lebih leluasa di sana. Bahan makanan dari Indonesia pun banyak dijual pada beberapa toko yang kami kunjungi. Setelah kenyang jajan, kami berjalan menuju Seoul Central Mosque, masjid terbesar di Seoul yang sudah berdiri sejak 1976. Letak Masjid tersebut ternyata agak jauh dari Stasiun Ittaewon, dan jalanannya naik-turun seperti perbukitan. Di sana, kami sholat dan istirahat sejenak melepas penat.

Setelah segar, kami kembali berkeliling Ittaewon dan menemukan kenyataan bahwa barang-barang di sana itu murah-murah. Saya sarankan, bagi teman-teman yang sedang ke Seoul dan sempat ke Ittaewon, sebaiknya beli souvenir atau oleh-oleh di sana saja, bisa ditawar dan murah. Tapi jangan harap untuk menemukan deretan toko kosmetik, toko perawatan tubuh, toko pernak-pernik K-Pop di sana yaaaaa. Sepengetahuan saya, itu susah di cari di Ittaewon.

Tak terasa hari sudah sore, maka kami mulai berjalan kembali ke Stasiun Ittaewon. Tujuan kami selanjutnya adalah Banpo Bridge atau Jembatan Banpo. Dari Stasiun Ittaewon, kami naik naik kereta S.M.R.T. jalur 6 (coklat) arah Stasiun Yaksu untuk turun di Stasiun Yaksu. Dari Stasiun Yaksu, kami naik kereta Seoul Metro jaur 3 (oranye) arah Stasiun Oksu untuk turun di Stasiun Express Bus Terminal. Stasiun Express Bus Terminal ini luas sekali dan terletak di tengah-tengah GoTo Mall. Kami pun berjalan-jalan sejenak melihat toko-toko di sana.

Setelah selesai jalan-jalan, kami berusahan berjalan menuju Jembatan Banpo dengan bantuan GPS. Kali ini, perjalanan kami agak sulit karena area Stasiun Express Bus Terminal bergabung dengan pertokan dan Terminal Bis juga, jadi banyak pintu keluar dan sinyal GPS terkadang kurang akurat. Anak kami yang nampaknya kelelahan, mulai menangis dan marajuk, gaswat daaahhh x_x.

Berjalan kaki dari Stasiun Express Bus Terminal sampai Jembatan Banpo ternyata cukup jauh dan melelahkan. Kami sempat berhenti untuk jajan di GS25 dan 7-Eleven yang kami lewati. Beruntung anak kami mulai tenang setelah mendapat es krim, dan udara di luar ternyata cukup sejuk. Kami melewati deretan perkantoran yang lama-kelamaan berganti menjadi deretan rumah susun. Lalu, sesuai dengan petunjuk jalan, kami masuk melewati terowongan bersama rombongan turis lain, sampai di Taman Banpo Hangang yang terletak di pinggir Sungai Han, bagian bawah Jembatan Banpo. Ahhhhh, akhirnya sampai juga :D.

Jembatan Banpo atau lengkapnya Jembatan Banpodaegyo adalah jembatan yang menghubungkan Distrik Seocho dan Distrik Yongsan yang dipisahkan oleh Sungai Han. Pada malam hari, kedua sisi jembatan ini memberikan pertunjukkan yang disebut Moonlight Rainbow Fountain (달빛무지개 분수). Pertunjukkan ini dimulai sekitar pukul 8 malam dan berlangsung selama 20 menit.

Karena kami tiba lebih awal, maka kami duduk dulu sambil menyantap bekal yang sudah istri saya siapkan. Kami dapat makan sambil memasukkan kaki kami ke dalam Sungai Han. Taman Banpo Hangang memang benar-benar terletak di tepi Sungai Han. Kami menyaksikan matahari terbenam di sana. Pemandangan sore itu sungguh indah.

Tak lama kemudian, pertunjukan Moonlight Rainbow Fountain. Air mancur keluar dari samping Jembatan Banpo diiringi dengan musik dan lampu warna-warni. Bentuk air berubah-ubah seperti seolah-olah sedang menari. Kami menonton pertunjukkan sambil berjalan menyusuri Taman Banpo Hangang terus menyeberang ke pusat perbelanjaan yang terletak di pulau kecil dekat Taman tersebut. Tidak ada hal yang terlalu spesial dari pusat perbelanjaan tersebut, selain pemandangan Sungai Han dan Jembatan Banpo yang indah apabila dilihat dari bagian luar pusat perbelanjaan tersebut.

Setelah puas berjalan-jalan di sekitar Jembatan Banpo, kami kembali berjalan menuju Stasiun Express Bus Terminal. Dari sana, kami naik kereta Seoul Metro jaur 3 (oranye) arah Stasiun Oksu untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Kami kemudian langsung berjalan menuju penginapan untuk beristirahat. Kami belum ada waktu untuk menyetrika dan pakaian bersih kami masih banyak. Maka kami, hanya memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci, menyalakannya dan langsung tidur. Esok akan menjadi hari yang panjang pada Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm

Setelah kemarin berpetualang di tengah kota Seoul pada Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road, kali ini kami akan pergi sedikit jauh ke Timur Laut dari Seoul, yaitu Naminara Republic, Petite France dan The Garden of Morning Calm. Jadwal wisata hari ini agak ketat, maka sejak pagi kami sudah mandi, menyiapkan bekal dan makan sarapan. Baik bekal maupun sarapan, dimasak oleh istri saya di dalam Apartemen mungil yang kami sewa ;). Setelah semua siap, untuk berangkat ke daerah Gapyeong.

Loh kenapa Gapyeong? Karena ketiga objek wisata tujuan kami dapat diraih dengan praktis dan ekonomis dengan menggunakan Gapyeong City Tour Bus ;). Seperti kemarin, kami masuk ke Stasiun Dongdaemun History & Culture Park untuk naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Sindang untuk turun di Stasiun Wangsinmi. Lalu dari Stasiun Wangsinmi kami naik kereta Korail jalur Gyeongui–Jungang (hijau tosca) arah Stasiun Cheongnyangni untuk turun di Stasiun Sangbong. Dari Stasiun Sangbong, kami naik kereta Korail jalur Gyuongchun (hijau pinus) arah Stasiun Mangu untuk turun di Stasiun Gapyeong. Ahhhhhh, mungkin perjalanan naik kereta ini terlihat rumit yaaa. Pada kenyataannya, semua terasa mudah karena banyak petunjuk jalan dan untuk berpindah jalur, kami tak perlu keluar Stasiun, semua sudah terintegrasi walaupun pemilik jalur keretanya berbeda.

Begitu keluar dari Stasiun Gapyeong, kami pergi ke kantor dan halte Gapyeong City Tour Bus yang terletak di seberang Stasiun untuk mengambil jadwal berhenti bis terbaru Ini sangat penting karena hari itu kami akan berkeliling menggunakan Gapyeong City Tour Bus. Jalur bis ini melewati gerbang feri Naminara Republic (Pulau Nami), Petite France dan The Garden of Morning Calm pada jam-jam tertentu. Dengan sekali membeli tiket Gapyeong City Tour Bus, kami dapat menggunakan layanan bis tersebut selama seharian ;).

Di dalam Gapyeong City Tour Bus, terdapat pemandu wisata yang menjelaskan mengenai tempat pemberhentian bis yang sedang dituju, dalam bahasa Inggris. Bis ini nyaman dan memang efisien bagi wisatawan yang hedak keliling daerah Gapyeong selama sehari. Tak terasa kami sudah tiba di gerbang Gapyeong Wharf. Di sana, terdapat 2 pilihan untuk menyeberang ke Pulau Nami, yaitu apakah akan naik kapal feri atau flying fox hohohoho. Sebenarnya seru juga sih kalau naik flying fox, tapi karena barang bawaan kami banyak dan akan sulit kalau kami terpisah, maka kami lebih memilih untuk naik kapal feri. Kami pun bergegas menuju antrian loket feri penyeberangan Pulau Nami di sana. Setelah membeli tiket, kami kemudian naik kapal feri yang bentuknya unik, untuk menyeberang ke Pulau Nami yang terletak di tengah-tengah Sungai Han. Perjalanan ini cukup menyenangkan karena kami melihat banyak hal unik di sana :D.

Hhhhmmmm, sebenarnya apa sih Pulau Nami itu? Naminara Republic (나미나라공화국) atau Namiseom atau Pulau Nami sebenarnya merupakan pulau yang terbentuk dari genangan air Sungai Han. Hal ini terjadi ketika Pemerintah membangun Bendungan Cheongpyeong pada tahun 1944. Nama Nami sendiri diambil dari nama Jendral Nami yang tewas akibat dituduh berhianat pada masa pemerintahan Raja Sejo dari Dinasti Joseon. Tuduhan tersebut tidak terbukti benar dan konon kuburan Jendral Nami berada di salah satu area yang saat ini menjadi bagian dari Pulau Nami.

Pada tahun 1960-an, Pulau Nami dibeli oleh seorang pengembang dan membangun taman wisata untuk menarik turis. Nama Pulau Nami sendiri konon mulai populer ketika Winter Sonata hadir di layar kaca pada 2002 lalu. Pulau Nami menjadi lokasi syuting serial drama Korea yang konon cukup populer di eranya. Sebenarnya, saya sendiri kurang tahu apa itu Winter Sonata, saya bukan pengikut serial drakor (drama Korea) hehehehe.

Pulau yang indah ini nampak bersih dan teratur. Di sana kita dapat melihat deretan pohon chestnut dan mulberry yang menjadi icon Pulau Nami. Di sela-sela pepohonan tersebut, terdapat pula taman kecil dan binatang-binatang seperti tupai, bebek, angsa, kelinci, kalkun dan lain-lain. Mayoritas binatang-binatang di sana, dibiarkan bebas berkeliaran. Anak kami paling senang dengan tupai-tupai yang berlarian di tengah-tengah pepohonan :).

Pulau ini kami jelajahi dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada penyewaan sepeda, story tour bus dan kereta amal UNICEF. Tapi jadwalnya kurang pas dan kami merasa bahwa Pulau Nami tidak terlalu besar. Justru lebih enak berjalan kaki sambil sesekali mengejar tupai yang datang menghampir. Penunjuk jalannya banyak dan sangat komunikatif, tidak akan tersesatlah pokoknya.

Kalau saya lihat dari papan penunjuk jalan dan pernak-pernik dekorasi, sepertinya Pulau Nami banyak dikunjungi oleh turis asal Asia Tenggara, terutama Indonesia. Sangat berbeda dengan kondisi di luar Pulau Nami, begitu kami masuk ke sana, banyak sekali papan penunjuk dalam bahasa Indonesia. Mushola dan makanan halal saja dapat dengan mudah kita temui di dalam sana. Pulau Nami seolah menjadi sebuah negara sendiri di tengah-tengah Sungai Han. Konsep taman hiburan yang satu ini memang membuat seolah-olah para wisatawan berkunjung ke sebuah negara fantasi yang bernama Naminara Republic. Naminara Republic memiliki bendera, lagu kebangsaan, perangko dan mata uang sendiri loh :D. Semuanya dapat dibeli sebagai souvenir. Tapi kami sendiri lebih memilih lukisan karikatur sebagai souvenir. Di sana terdapat banyak pelukis karikatur yang dapat langsung melukis dengan cepat, hasil langsung jadi dan dapat dibawa pulang ;).

Tak terasa, waktu hampir menunjukkan pukul 12 siang dan kami belum makan siang. Kali ini bekal yang telah kami siapkan, tidak kami makan. Kami justru mampir ke Asian Family Restaurant Dongmoon di sana. Restoran ini menyajikan aneka hidangan halal. Kami pun lebih memilih untuk memesan hidangan khas Korea yang aneh-aneh di sana hehehehe. Rasanya lumayan enaaak, agak mirip Mujigae siy. Setelah mengganti popok anak kami dan sholat di mushola lantai 2 Asian Family Restaurant Dongmoon, kami bergegas berjalan menuju Dermaga untuk menyeberang kembali ke arah Halte Gapyeong City Tour Bus. Kami kembali naik Gapyeong City Tour Bus dan turun di pemberhentian Petite France yang terletak di sebelah barat daya dari Pulau Nami.

Petite France (쁘띠프랑스) merupakan sebuah taman hiburan dengan tema Prancis tempo dulu. Di sana terdapat lebih dari 15 bagunan yang menggabarkan budaya Perancis. Di dalam setiap bangunan tersebut, terdapat berbagai macam terkait Prancis. Ada benda-benda antik khas Prancis, orgel dan kerajinan-kerajinan seni khas Prancis lainnya. Tidak ada unsur Korea-Korea-an di sana. Hal yang berhubungan dengan Korea pada taman ini adalah fakta bahwa taman ini pernah menjadi tempat syuting serial drama Korea Secret Garden, Beethoven Virus dan My Love from the Star. Hhhmmmm 3 film seri yang saya baru ketahui namanya ketika mengunjungi Petite France hehehehehe.

Petite France sebenarnya menghadirkan pertunjukan boneka dan tarian. Tapi karena kami datang terlalu siang, kami tidak dapat menyaksikan pertunjukan tersebut. Saya pribadi tidak menyesal karena memang lebih baik berlama-lama di Pulau Nami dibandingkan Petite France. Objek yang dapat kami nikmati di Petite France memang tidak sebanyak dan sebaik Pulau Nami. Tapi Petite France memang tetap layak untuk dikunjungi karena di sana kami yang belum pernah ke Prancis ini, dapat menyaksikan berbagai hal yang unik juga.

Hari menjelang sore dan kami langsung bergegas keluar dari Petite France, menuju Halte Gapyeong City Tour Bus. Kami kembali naik Gapyeong City menuju The Garden of Morning Calm yang ternyata terletak agak jauh dari Petite France. Akhirnya kami tiba di The Garden of Morning Calm, kurang lebih 1,5 jam sebelum taman tersebut tutup :’D. Kalau kita ikut paket travel, memang biasanya dalam 1 hari hanya mengunjungi Pulau Nami dan Petite Prance saja, atau Pulau Nami dan The Garden of Morning Calm saja. Jarang yang bisa langsung 3 dalam 1 hari. Kenapa kok kami mau saja mendatangi 3 tempat tersebut dalam 1 hari? Pertimbangan kami sangat sederhana, Petite France dan The Garden of Morning Calm sepertinya tidak semenarik Pulau Nami. Jadi kami memang hanya akan singgah sesaat saja Petite France dan The Garden of Morning Calm, cukup 1 sampai 2 jam saja. Toh semuanya berada di sekitar daerah Gapyeong dan dapat diraih dengan menggunakan Gapyeong City Tour Bus. Kapan lagi kami mau ke arah Gapyeong? ;).

Sesuai prediksi, The Garden of Morning Calm (아침고요수목원) berisi aneka tumbuhan khas Korea. Kami dapat mengelilingi taman sambil ditemani oleh musik yang lembut dan cocok untuk bersantai. Wah, ibu saya pasti senang sekali kalau di ajak ke sana :D. Pecinta tanaman wajib datang ke sana deh. Karena kami datang di awal musim semi, beberapa tanaman sudah mengeluarkan warna yang bagus dan tidak dapat kami temukan di indonesia. Andaikan kami datang sebulan lagi, taman ini pasti akan nampak lebih cantik. Saya menyarankan untuk mampir ke The Garden of Morning Calm pada musim semi dan dingin. Loh kok musim dingin? Banyak tanaman akan ditutupi salju, tapi menjelang sore, akan ada festival lampu yang indah di sana ;).

Ketika kami keluar dari The Garden of Morning Calm, langit sudah gelap dan kami naik bis terakhir Gapyeong City Tour Bus. Tujuan kami berikutnya adalah pulang ke apartemen tempat kami menginap. Bis terakhir ini tidak melewati Stasiun Gapyeong, tapi melewati Stasiun Cheongpyeong. Yaah tak apalah, toh semua jalur kereta di sana sudah terintegrasi, pada saat itu, saya yakin bahwa tidak akan ada masalah.

Dari Stasiun Stasiun Cheongpyeong, kami naik kereta Korail jalur Gyuongchun (hijau pinus) arah Stasiun Mangu untuk turun di Stasiun Sangbong. Dari Stasiun Sangbong, kami naik kereta Korail jalur Gyeongui–Jungang (hijau tosca) arah Stasiun Hoegi untuk turun di Stasiun Wangsimi. Dari Stasiun Wangsimi, kami naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Sindang untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Nah, saat itulah kami baru menyadari bahwa pintu Exit 11 dari Stasiun Dongdaemun History & Culture Park, langsung mengarah ke Lotte Hi-Mart yang terletak di sebelah Apartemen tempat kami menginap, woooowww. Exit 11 ini nyaman sekali karena dilengkapi oleh tangga berjalan dan AC. Sayang Exit 11 ini memiliki jam buka tutup yang mengikuti jam buka tutup Lotte Hi-Mart atau Lotte FITIN. Jadi, kalau kami berangkat terlalu pagi, Exit 11 tentunya masih tertutup.

Malam itu kami memilih untuk tidak jajan di luar. Kami menyantap makan malam buatan istri saja ;). Setelah makan, kami mencuci pakaian kotor kami dengan mesin cuci yang terdapat di dalam unit apartemen. Praktis, tinggal dipencet dan ditinggal tidur, esok pagi pasti sudah bersih dan kering, tak usah ditunggu hehehehe. Hari kedua ini sudah menjadi hari yang melelahkan. Maka hari ketiga esok akan menjadi hari yang relatif lebih longgar. Esok kami akan berangkat lebih siang pada Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo.

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road

Setelah melakukan berbagai persiapan pada Persiapan Wisata Korea 2017, saya, istri, dan anak kami yang masih di bawah 2 tahun, berangkat pagi-pagi sekali menuju Bandara Soekarno Hatta. Dari Terminal 2, kami menggunakan pesawat Asiana yang bagus dan nyaman. Jarak antara kaki depan dengan kursi depan, terbilang luas sehingga cocok untuk membawa bayi. Terlebih lagi untuk perjalanan selama 7 jam. Beruntung putri kami tidak rewel selama penerbangan. Ia dapat duduk dengan nyaman sambil melihat film di kursi pesawat, sambil sesekali tertidur dan makan snack :).

Kami tiba di Bandara Incheon Seoul sekitar pukul 11:30, tidak ada delay. Kami langsung mengikuti petunjuk jalan berbahasa Inggris, menuju loket imigrasi. Setelah mengisi formulir imigrasi dan melampirkannya bersama-sama dengan passport, kami langsung berjalan menuju pengambilan bagasi. Untuk perjalanan sekitar seminggu, kami membawa barang bawaan yang cukup banyak. Saya dan istri saya sama-sama harus menarik koper besar sampai bagian luar Bandara. Di sana, kami kemudian berjalan menuju loket Airport Limosine Bus atau Bus Limo.

Sebenarnya, terdapat banyak pilihan transportasi yang tersedia di Bandara Incheon. Di sana ada taksi, bus dan kereta. Penginapan kami sendiri terletak tak jauh dari Halte Bus dan Stasiun. Tapi kali ini kami memilih untuk naik Limo Bus karena pilihan ini kami nilai lebih praktis. Limo Bus ini pada dasarnya mirip seperti Bus Damri Airport Soekarno Hatta. Karena penginapan kami terletak di Euljiro 6-ga, dari beberapa rute bus yang ada, kami memilih menggunakan rute bus 6001 untuk berhenti di Halte Bus 02709 atau Halte Bus Uljiro Co Op Residence. Rute bus selengkapnya dapat dilihat di http://www.airportlimousine.co.kr. Kami memasukkan koper-koper kami ke dalam bagasi Bus dan memperoleh nomer penitipan. Selanjutnya kami hanya duduk menunggu sampai Bus berhenti di Halte Bus Uljiro Co Op Residence. Kami kemudian turun, mengambil koper dan berteduh sejenak di bawah Halte yang terletak sangat dekat dari tempat kami menginap, Gedung Time Castle.

Kenapa kami tidak memilih kereta? Karena, jalur kereta dari Bandara sampai ke Stasiun terdekat dari penginapan, tidak terletak dalam 1 jalur kereta yang sama. Kami harus pindah kereta, padahal barang bawaan kami banyak sekali. Kali ini, bus adalah pilihan yang paling bijak.

Kami tiba di sana sekitar pukul 1 siang, padahal kami baru dapat check in pukul 2 siang. Maka, kami menitipkan terlebih dahulu barang bawaan kami di Lotte FITIN (롯데 피트인) atau Lotte Hi-Mart (하이마트) yang terletak di sebelah Apartemen tempat kami menginap. Tempat penitipan koper terletak di lantai 1. Dengan memasukkan sejumlah uang ke dalam mesin sesuai petunjuk, kami memiliki akses untuk memasukkan barang bawaan kami ke dalam loker. Petunjuk penggunaannya berbahasa Inggris dan mudah dipahami ;).

Kami kemudian berkeliling Lotte FITIN yang menjual aneka busana, elektronik dan kebutuhan rumah tangga. Tidak ada yang terlalu spesial disana selain model pakaian yang sedikit unik. Kemudian kami kembali pergi ke GS25 yang terletak di lantai dasar Gedung Time Castle, tempat kami menginap. GS25 pada dasarnya merupakan pesaing 7-Eleven di sana. Kalau di Jakarta ada banyak Alfamart dan Indomaret, nah di Seoul sana ada banyak 7-Eleven dan GS25. Di GS25, kami membeli beberapa bahan makanan, makanan instant dan makanan ringan. Kami memutuskan untuk makan siang di sana. Saya pun mencicipi mie hitam yang dapat langsung diseduh air panas di sana. Sebelum membeli, kami dibantu oleh petugas GS25 yang dengan ramah bersedia mencarikan makanan mana saja yang halal. Di sana, banyak sekali produk yang menggunakan babi, agak susah memilahnya tanpa bantuan orang lokal.

Menjelang pukul 2 siang saya menyalakan mobile data Smartphone saya untuk melihat pesan dari pemilik penginapan. Yaaah, tak apalah terkena internet roaming sebentar, Portable Egg Wi-Fi baru akan kami peroleh setelah check in. Dari Bapak pemilik unit, kami mendapat info bahwa ternyata unit kami sudah siap dan ia memberikan kami password untuk masuk unit. Bagian bawah Gedung Time Castle diisi oleh toko, restoran dan kantor, sama seperti gedung-gedung lain di sepanjang jalan Euljiro 6-ga. Kemudian, bagian atasnya terdapat unit-unit apartemen. Nah kami menyewa salah satu unit di sana melalui Airbnb. Pintu masuk unit di sana ternyata tidak menggunakan kunci, tapi password. Pintu langsung terbuka begitu kami memasukkan password yang sudah kami terima.

Unit yang kami sewa berukuran studio tapi sudah lengkap dengan AC, penghangat, 2 single bed, mesin cuci, kompor, oven, setrika lipat TV, Wi-Fi unit dan Portable Egg Wi-Fi. Tak lupa disana terdapat buku petunjuk pengoperasian peralatan-peralatan elektronik tersebut. Sementara istri saya beres-beres koper, saya mencoba pengoperasian semua alat-alat elektronik yang ada. Semuanya mudah sekali, mirip seperti yang di Indonesia, kecuali mesin cucinya. Pengoperasian mesin cuci di sana agak unik sehingga kami harus chatting dan video call dengan Bapak pemilik unit.

Setelah semuanya jelas, kami berangkat menuju Namsan Tower menjelang pukul 3 sore dengan menggunakan kereta. Kami berangkat dengan membawa backpack, gendongan bayi dan stroller. Kami berjalan ke arah pintu masuk Stasiun Dongdaemun History & Culture Park yang ternyata merupakan tempat pertemuan 3 jalur kereta yang berbeda. Stasiun ini cukup luas dan memiliki beberapa pintu masuk. Jalan turun menuju Stasiun cukup curam dan panjang. Karena kami tidak dapat menemukan lift, maka kami terpaksa berjalan melalui tangga. Waaah, olahraga ini namanya.

Loket tiket dari jalur dan arah masing-masing jalur terkadang tidak sama. Cara menentukan kemana kita melangkah adalah melihat peta jalur kereta api, kemudian melihat warna jalur kereta dan Stasiun besar apa saja yang ada di arah tujuan. Kali ini kami bermaksud untuk naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Myeong-dong. Maka kami berjalan ke arah petunjuk jalan tempat jalur biru muda berada dengan tulisan arah Chungmoro, Samgaki atau Dongjak atau Sadang atau Geumjeong. Nama-nama Stasiun yang baru saya sebutkan adalah Stasiun yang menuju ke arah Stasiun tujuan saya, ukuranya relatif besar dan dilalui oleh minimal 2 jalur kereta. Mereka biasa digunakan sebagai penunjuk arah mau naik kereta ke arah mana. Kami sendiri berjalan di dalam Stasiun sambil melihat peta kereta yang sudah kami unduh.

Setelah sampai di loket, kami melakukan pembelian kartu Single Trip T-Money di Card Recharge Vending Machine. Penggunaan mesin ini sangat mudah karena menggunakan bahas Inggris dan pengoperasiannya jauh lebih sederhana ketimbang Vending Machine BTS Bangkok :’D. Kami belum membeli kartu prabayar seperti T-Money atau Bee, karena kami masih menakar-nakar, apakah efisien kalau selama di Korea kami berkelana menggunakan kereta?

Setelah memperoleh tiket Single Trip, tiket tersebut kami tap pada bagian baffle gate yang berwarna kuning. Kami kemudian masuk ke area peron dan menunggu kereta di sana. Setelah naik kereta, kami turun di Stasiun Myeong-dong. tiket Single Trip kembali kami tap ke bagain baffle gate yang berwarna kuning untuk dapat keluar dari area peron. Kemudian kartu tersebut kami masukkan kedalam Refund Deposit Machine untuk memperoleh uang deposit kami kembali. Jadi, kalau kita membeli tiket Single Trip, biaya yang kita bayar sudah termasuk uang deposit. Uang deposit ini akan diperoleh kalau kita mengembalikan kartu Single Trip melalui Refund Deposit Machine.

Stasiun Myeong-dong merupakan Stasiun bawah tanah yang relatif besar dan ramai karena letaknya sangat dekat dengan pusat perbelanjaan. Sayang, setelah kami berputar-putar, kami tidak menemukan 1 pun lift untuk naik ke atas, ke jalan raya. Setiap Stasiun memiliki peta dan dari peta yang saya lihat, memang tidak ada lift di sana. Saya terpaksa menggotong stroller melalui tangga :’D.

Namsan Tower terletak jauh tinggi di atas. Untuk mencapainya, kami akan menggunakan Kereta Gantung, menyewa taksi untuk ke atas bukanlah opsi yang ekonomis hehehehehe. Nah, di sini terdapat 3 cara untuk mencapai Stasiun Kereta Gantung. Bisa dengan menggunaan Bus Shuttle Namsan Sunhwan Nomor 5 dari Exit 3 Stasiun Myeong-dong, menggunakan Namsan Oreumi, atau berjalan kaki selama kurang lebih 20 menit ke atas. Dari Stasiun Myeong-dong saja kami harus berjalan sekitar 700 meter sampai ke Namsan Oreumi. Menunggu Bus Shuttle Namsan Sunhwan pun ternyata menyita waktu karena ketidakjelasan kapan bus tersebut tiba. Maka, kami memilih untuk berjalan kaki ke atas, mumpung staminanya masih prima, hari pertama gitu loh :D.

Udara yang sejuk dan pemandangan sekitar yang beda, membuat perjalanan kami tidak terasa melelahkan. Dengan bantuan GPS, kami akhirnya tiba di Stasiun Kereta Gantung dan langsung ikut mengantri. Dari Kereta Gantung yang kami naiki, kami dapat melihat Seoul dari atas, rasanya tentunya berbeda dengan naik Kereta Gantung di Taman Mini yaaaa hehehe. Kereta Gantung di sini cukup besar, mirip seperti Kereta Gantung di Gunung Fuji atau Gunung Seorak.

Apa itu Namsan Tower? Namsan Tower (남산서울타워) atau Menara Seoul N merupakan menara pemancar raksasa yang berada pada ketinggian 479,7 meter di atas permukaan laut. Ada masanya di mana, sebuah kota membangun menara besar yang megah untuk keperluan telekomunikasi, sekaligus untuk landmark dan pariwisata. Ini mirip KL Tower atau Shanghai Tower atau Tokyo Tower. Pada tahun 80-an, Namsan Tower merupakan landmark kota yang sangat ternama. Sampai sekarang pun, keasrian, kebersihan dan keindahan tempat ini masih terjaga. Gembok cinta dan outdoor observatory terlihat indah. Di sana, kami dapat meilihat Seoul dari atas. Kami mengelilingi area sekeliling Namsan Tower dan berfoto sejenak di sana. Sesuatu yang beda dan patut untuk dikunjungi :).

Selain menawarnya pemandangan dan berbagai photospot, Namsan Tower juga memiliki Alive Museum, Ssen Toy Museum dan Hello Kitty Island bagi anak-anak, serta aneka restoran. Karena hal-hal tersebut tidak terlalu ikonik bagi kami, dan kami sendiri merupakan budget traveler, maka kami memilih untuk tidak mengunjunginya ;). Menjelang pukul 5 sore kami kembali turun menggunakan Kereta Gantung. Dari Stasiun Kereta Gantung, kali ini kami memilih untuk pergi ke arah Namsan Oreumi setelah mendapat informasi bahwa Namsan Oreumi masih beroperasi sampai pukul 11 malam.

Namsan Oreumi pada dasarnya merupakan lift besar yang berjalan miring ke bawah, agak berbeda dengan lift pada umumnya yang berjalan vertikal. Setelah turun dari Namsan Oreumi, kami agak bimbang apakah hendak berjalan menuju Stasiun Myeong-dong atau Stasiun Hoehyeon, keduanya sama-sama Stasiun yang dilalui kereta jalur biru muda. Kalau dilihat dari peta, jarak menuju keduanya sepertinya mirip. Akhirnya kami berjalan menuju Stasiun Myeong-dong karena Stasiun ini sangat dekat dengan pusat perbelanjaan, yaaah bisa sedikit survei juga. Di tengah-tengah perjalanan, kami mampir di kedai jus segar sekaligus melepas penat. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Myeong-dong dengan bantuan GPS.

Dari Stasiun Myeong-dong, kami naik kereta Seoul Metro jalur 4 (biru muda) arah Stasiun Chungmoro untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Kemudian kami berganti jalur naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Sindang untuk turun di Stasiun Wangsinmi.Kami kembali berganti jalur naik kereta Korail jalur Bundang (kuning) ke arah Stasiun Gangnam-Gu Office untuk turun di Stasiun Apgujeongrodeo. Kami keluar melalui Exit 2 dan langsung bertemu dengan Apgujeong-ro yang populer dengan nama K Star Road.

Sepanjang jalan terdapat patung-patung GangnamDol yang bentuknya mirip boneka beruang atau bearbrick. Masing-masing patung melambangkan artis-artis K-Pop yang pernah populer. Total ada belasan patung dan mungkin akan bertambah seiring dengan bertambahnya artis yang dianggap sukses di sana. Yaaaah, ini sebenarnya bentuk lain dari Hollywood Walk of Fame. Kami berjalan dan berfoto dengan semua GangnamDol yang kami temui meskipun kami sama sekali tidak tahu menahu perihal K-Pop :’D. Seru-seruan saja berfoto bersama di depan boneka beruang yang unik-unik. Jalanan ini dipenuhi oleh toko-toko mewah yang rasanya jauh di atas budget kami hehehehe :’D. Ooooh yaaa, di sekitar jalan inipun terdapat gedung-gedung dari perusahaan hiburan K-Pop yang cukup ikonik. Yaaah, sesuai judulnyalaah, K Star Road sangat K-Pop sekali. Mau tak mau K-Pop sudah menjadi bagian dari budaya modern di Korea Selatan sana. Jadi, rasanya mampir ke K Star Road memang wajib hukumnya, meskipun tidak pernah tahu menahu perihal dunia per-K-Pop-an ;).

Hari sudah malam dan kami memutuskan untuk pergi ke arah pulang. Kami kembali berjalan menuju Stasiun Apgujeongrodeo. Dari sana, kami naik kereta Korail jalur Bundang (kuning) ke arah Stasiun Wangsimi untuk turun di Stasiun Wangsimi. Dari Stasiun Wangsimi, kami naik kereta Seoul Metro jalur 2 (hijau) arah Stasiun Sindang untuk turun di Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Stasiun ini sangaaaaaat luas dan memiliki banyak pintuk keluar. Kami mencoba-coba pintu keluar yang berbeda dan muncul di tengah-tengah pusat perbelanjaan.Loh bukannya mau pulang? Ahahahaha, akhirnya kami justru jalan-jalan dulu di sana, toh lokasinya sangat dekat dengan tempat kami menginap.

Stasiun Dongdaemun History & Culture Park memang dikelilingi oleh Dongdaemun Design Plaza (DDP), Doota Mall dan pertokoan lain yang saya sendiri lupa namanya, hehehe. Saya ingat DDP karena bentuknya yang unik dan beda. Saya ingat Doota Mall karena disanalah kami membeli oleh-oleh. Dari Group Backpacker Dunia, kami mendapat rekomendasi untuk belanja oleh-oleh di Toko Arirang yang terletak di lantai 5 atau 6 Doota Mall. Ketika kami ke sana pada akhir 2017 lalu, toko ini lokasinya pindah ke laintai 6 kalau tidak salah. Apa istimewanya toko ini? Pelayan tokonya dapat berbahasa Indonesia dan mereka menerima Rupiah. Menurut saya, toko ini bukanlah yang paling murah, tapi bukan pula yang paling mahal. Yaaah, harganya standard, andaikata teman-teman memiliki waktu yang terbatas, sebaiknya belanja oleh-oleh di sana saja. Harganya relatif tidak terlalu mahal. Pada hari-hari berikutnya, kami sering mondar-mandir mampir di Arirang untuk membeli titipan atau oleh-oleh yang gagal kami dapatkan di daerah lain. Acara jalan-jalan di Pertokoan dekat penginapan kami ini menutup perjalanan hari kami hari ini. Esok,kami harus berangkat pagi ke daerah Pulau Nami pada Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm ;).

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Persiapan Wisata Korea 2017

Maksud hati hendak berangkat tahun 2018, apadaya dapatnya tahun 2017 :D. Awal 2017 lalu saya, istri dan anak kami baru saja pulang dari Thailand pada …. Kemudian kami merencanakan untuk pergi lagi tahun depannya. Tapi karena sesuatu hal, akhirkan kami kembali berpetualang ke negeri orang pada akhir 2017, berdekatan dengan ulang tahun kedua anak kami.

Waktu itu kami memutuskan untuk pergi ke Korea Selatan. Bukan karena kami maniak K-Pop yaaaa. Tapi karena kami memang belum pernah ke sana dan pasti ada banyak hal unik di sana ….. daaaan tiket promonya adanya yang tujuannya ke sana hehehehehe. Biaya transportasi bisa jadi menjadi salah satu hal yang sangat dipertimbangkan ketika kami akan berangkat ke suatu negara. Tiket pesawat selalu menjadi sesuatu yang pertama kali kami beli. Kemudian barulah disusul dengan visa, passport penginapan dan lain-lain. Berikut hal-hal yang kami persiapkan ketika akan berwisata ke Korea Selatan.

  1. Tiket Pesawat

Awalnya kami datang ke sebuah Travel Fair yang konon banyak tiket murahnya. Calon tujuan kami antara lain adalah Hongkong & Korea Selatan. Kalau dihitung-hitung, dapat dikatakan bahwa Hongkong adalah opsi yang relatif lebih ekonomis. Saya sudah mereka-reka bahwa kalau memang jadi memilih tiket pesawat Hongkong, maka Macau akan diikutsertakan. Macau itu relatif dekat dari Hongkong dan rasanya kurang seru kalau hanya ke Hongkong saja, apalagi saya sendiri sudah pernah ke Hongkong sebelumnya.

Ketika kami melakukan komparasi tiket di Travel Fair dengan tiket yang dijual on-line, kami menemukan bahwa Asiana Airlines (아시아나항공) sedang memberikan promo. Yaitsss, kami langsung berniat membeli tiket promo Asiana menuju Seoul dengan mempertimbangkan ramalan cuaca dan daftar hari raya di Korea Selatan sana, berdasarkan pengalaman kami pada Persiapan Wisata Singapura 2016 dan Persiapan Wisata Thailand 2017. Datang di musim hujan dan hari raya, terkadang memberikan rintangan tambahan lho.

Bisa dibilang, ini adalah pilihan yang paling sreg bagi kami. Kami berangkat dan pulang tepat sebelum anak kami berumur 2 tahun, hitungan tiketnya masih gratis heheheh. Perjalanan kali ini tentunya akan lebih jauh ketimbang perjalanan menuju Singapura atau Bangkok tempo lalu. Mau bagaimana juga, membawa bayi ke negeri orang memang agak menantang pastinya. Karena Korea Selatan adalah negara 4 musim, maka kami harus memperhitungkan agar tidak ke sana di saat musim dingin. Dulu, saya pernah ke Jepang di saat masih ada salju dan kondisinya sangat tidak bersahabat untuk membawa bayi keluar luar rumah -__-. Wah pertimbangan tanggal kedatangannya bertambah rumit yaaa.

Akhirnya kami membeli tiket promo Asiana sedemikian rupa sehingga kami tidak datang di musim gugur, curah hujan hampir tak ada dan tidak ada hari raya apa-apa. Taaaapi, yaaa taaapii, kami hanya memiliki waktu untuk mempersiapkan segalanya dalam waktu 1,5 bulan O_O.

  1. Passport dan Visa

Passport bukanlah masalah bagi kami. Passport yang dulu saya urus pada Perpanjang Passport di Kanim Bekasi, masih berlaku sampai lebih dari 8 bulan. Sayang oh sayang, Korea Selatan bukan negara bebas Visa bagi passport Indonesia. Saya pun hanya memiliki 1,5 bulan untuk mengurus ini semua. Pengurusan Visa Korea Selatan sebenarnya tidak sesulit pengurusan Visa Australia, tapi waktu yang hanya 1,5 bulan ini benar-benar singkat. Maka, kami menggunakan jasa Dwidaya Tour untuk mengurus permohonan Visa kami ke Konsulat Korea Selatan.

Berikut persyaratan yang harus kami lengkapi:

  1. Passport dengan masa berlaku minimal 8 bulan.
  2. Fotocopy bagian passport yang pernah ada Visa dan stempel imigrasinya, kalau ada.
  3. Pas Foto warna 4 x 6 sebanyak 2 lembar dengan latar belakang warna putih.
  4. Bukti keuangan dalam bentuk rekening koran atau print tabungan di bank yang sudah dilegalisir oleh bank. Ini bukan cetakan atau fotocopy buku tabungan lhoo. Sebaiknya datang langsung ke bank dan minta buatkan. Tidak ada ketentuan pasti harus ada dana berapa di sana, tapi setahu saya dana yang ada harus cukup untuk hidup di Korea Selatan dan pulang ke Indonesia. Kemudian, mereka juga melihat cashflow-nya. Jangan ada membom 1 rekening dengan dana yang banyak agar ketika memohon Visa, dana terlihat banyak. Saya sendiri memberikan print tabungan dari rekening tempat saya biasa menerima gaji dan rekening tempat saya biasa belanja, plus fotocopy deposito.
  5. Surat Referensi Bank Asli. Ini saya peroleh juga dari bank, relatif mudah kok, hanya ke Costumer Service saja langsung dibuatkan.
  6. Karena status saya karyawan, maka diperlukan Surat Sponsor atau Surat Keterangan Kerja dari Perusahan dalam bahasa Inggris lengkap dengan Kop Surat Perusahaan. Isinya mencantumkan jabatan, masa kerja, alamat perusahaan dan no telefon perusahaan. Biasanya ada kata-kata yang menjamin bahwa karyawan akan pulang ke Indonesia. Umumnya, HRD perusahaan sudah punya template-nya kok, mudah ini ;).
  7. Karena saya bukan pengusaha, maka saya tidak perlu melampirkan Fotocopy S.I.U.P.
  8. Fotocopy Kartu Keluarga & KTP.
  9. Fotocopy Akte Nikah bagi yang sudah menikah. Bagi yang belum, jangan “baper” :’D.
  10. Fotocopy Kartu Pelajar, serta Surat Keterangan Pelajar bagi yang masih sekolah atau kuliah.
  11. Fotocopy Akte Lahir Anak bagi yang membawa bayi seperti saya.
  12. Untuk anak yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari orang tua. Untuk istri yang bepergian sendiri harus ada surat ijin dari suami.
  13. Fotocopy Surat Ganti Nama kalau pernah ganti nama.
  14. Print out tiket pesawat.
  15. Print out booking penginapan.
  16. Bukti potong pajak SPT PPH 21 atau Slip Gaji. Yang ini saya lengkapi juga walaupun tidak wajib dan hanya diperlukan bila pada passport kita, belum ada riwayat perjalanan atau data tabungan kita kurang meyakinkan.

Persyaratannya memang kadang terkesan agak mengambang. Tapi pada dasarnya permohonan Visa Korea Selatan ini relatif mudah kok. Mereka sedang menggalakan sektor periwisata mereka. Visa kami sendiri, terbit setelah seminggu menunggu. Horee, jadi juga deh ke Seoul :D.

  1. Booking Penginapan

Pada perjalanan kali ini, kami akan mengambil waktu yang sedikit lebih panjang dibandingkan perjalanan kami sebelumnya, cukup 8 hari saja hehehehehe. Kami pun bermaksud untuk mencuci dan memasak bekal kami sendiri di sana. Dengan membawa bekal, kami tidak akan khawatir dalam mencari makanan halal di Korea. Dengan mencuci sendiri, maka kami tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian atau membayar uang laundry di sana. Olehkarena itulah maka kami mencari penginapan lengkap dengan air panas, setrika, mesin cuci dan kompor, serta dekat dengan Stasiun. TV dan kolam renang tidak kami cari sebab kami tidak jauh-jauh datang ke Seoul untuk wisata hotel ;).

Tunggu sebentar, kenapa kok dekat masjid atau lokasi restoran halal tidak masuk ke dalam bahan pertimbangan? Pada prakteknya, kami akan lebih sering berkeliling di luar penginapan. Menginap di dekat masjid tidak telalu menambah nilai plus. Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, makanan halal di negeri orang, tetap akan lebih mahal dibandingkan kalau kita masak atau bawa sendiri. Itulah alasan kenapa kok kami tidak mencari penginapan di daerah Ittaewon yang merupakan daerah komunitas muslim terbesar di Seoul.

Agak berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya, akhirnya kami memilih untuk menyewa Apartemen studio di tengah kota melalui Airbnb. Kami memilih sebuah unit Apartemen di Time Castle, gedung di seberang Dongdaemun Design Plaza, tak jauh dari Halte Bus Limo Bandara dan Stasiun Dongdaemun History & Culture Park. Melalui chatting dengan si pemilik unit Apartemen, kami memperoleh cara mudah untuk mencapai Apartemen dari Bandara. Kami pun memperoleh informasi tempat penitipan koper karena ada selisih antara waktu kedatangan dengan check-in Apartemen. Bonussss, kami memperoleh Unlimited Internet Egg Wi-Fi dari si pemilik. Pemilihan kami terhadap unit Apartemen ini ditentukan pula oleh faktor keramahan dan helpfull tidaknya si tuan rumah pemilik unit. Mau bagaimana juga, kita pasti memerlukan petunjuk dan tips ketika sedang menuju penginapan atau menggunakan aneka peralatan asing yang ada di dalam penginapan. Sebelum booking, kita bisa chatting dulu dengan pemilik unit di Airbnb, di sinilah kami melakukan seleksi. Lucunya, baik sebelum sampai di Korea maupun selama kami di Korea, kami tidak pernah bertemu langsung dengan si tuan rumah, semua via on-line :D. Tentunya ini akan menjadi petualangan baru yang sangat berbeda dibandingkan petualangan kami sebelumnya.

  1. Perbekalan

Mencari makanan halal di Seoul nampaknya akan sesulit mencari makanan halal di Bangkok. Maka kali ini kami membawa perbekalan berupa beras dan makanan siap goreng untuk dimasak di Apartemen. Ada rendang, ayam goreng, serundeng dan tempe. Tak lupa kami membawa pula rice cooker super mungil untuk menanak nasi ;).

  1. SIM Card

Karena kami memperoleh bonus Egg Wi-Fi dari tempat kami menginap, maka kami tidak membeli SIM Card di Seoul sana. Mayoritas pemilik Flat atau Apartemen yang menyewakan unit mereka di Airbnb, memberikan bonus berupa Egg Wi-Fi yang dapat dibawa kemana-mana dan berfungsi sebagai hotspot portable. Internetnya memang unlimited, tapi kecepatannya hanya 3G. Yaaaah lumayanlah untuk browsing dan membuka peta hohohoho.

  1. Peta

Dengan bantuan Egg Wi-Fi, kami tentunya dapat menggunakan peta on-line dengan lebih mudah dan akurat. Nama gedung pada peta on-line Seoul memang banyak menggunakan huruf hangeul yang terkadang sulit kami pahami. Tapi untunglah untuk objek wisata dan Stasiun ada huruf latih dan bahasa Inggrisnya. Tak lupa kami pun meyimpan peta off-line dari jaringan kereta di Seoul sebagai contekan, ini wajib hukumnya supaya tidak tersesat di dalam Stasiun yang luas.

  1. Transportasi

Seoul memiliki pilihan transportasi berupa bus, taksi dan kereta yang sebenarnya sama-sama nyaman. Tapi kalau dihitung, kereta merupakan pilihan yang ekonomis dan cepat. Terlebih lagi kebanyakan objek wisata di Seoul memiliki pintu masuk yang berdekatan dengan Stasiun. Maka, kereta menjadi pilihan transportasi kami selama di Seoul. Kalau sudah terdesak, kami mungkin akan memilih taksi.

Sistem perkeretaan Seoul nampak rapih, bersih, tepat waktu dan semua Stasiunnya nampak sudah terintegrasi. Kita tidak perlu keluar dari gedung untuk pindah jalur kereta. Tapi tangga menuju Stasiun di sana sangat curam dan banyak Stasiun tidak menyediakan lift O_O. Saya sendiri harus beberapa kali menggotong stroller portable yang kami bawa ketika naik turun tangga. Beruntung Stasiun-Stasiun besar yang merupakan persimpanga jalur atau dekat dengan objek wisata populer, memiliko lift di sebuah pojok. Semua dapat dilihat dari peta Stasiun yang komunikatif, mudah sekali dipahami.

Di sana nanti, kami akan memiliki pilihan untuk membeli tiket transportasi secara prabayar atau single trip. Kami memilih untuk membeli kartu prabayar T-Money langsung di Seoul, karena ada promosi dan kartu ini dapat dipergunakan untuk membayar kereta, bus dan taksi. Kartu ini dapat dibeli di loket tiket kereta Stasiun, cabang 7-Eleven atau loket-loket lainnya yang memiliki logo T-Money. Setelah membeli kartunya, kita dapat mengisi kartu di Card Recharge Vending Machine. Proses pengisian menggunakan instruksi berbahasa Inggris yang sangat mudah dipahami loh, tidak ada masalah di sana. Sebenarnya ada kopetitor lain seperti kartu Bee, tapi ketika kami di sana, hanya T-Money yang membeli potongan harga 100 Won per perjalanan, lumayanlaaah :).

  1. Stroller & Gendongan Bayi

Gendongan bayi dan stroller portable yang ringan, wajib dibawa bila hendak membawa bayi ke Korea Selatan. Keduanya merupakan barang yang terus kami bawa kemana-mana. Pastikan gendongan bayi yang dibawa adalah gendongan yang nyaman digunakan, penampilan boleh sama, tapi kualitasnya beda. Untuk stroller, pastikan untuk membawa stroller yang ringan dam dapat dilipat menjadi kecil. Saya pribadi kemarin menggunakan Ergobaby dan Chocolate Pocket Recline.

  1. Sepatu

Sepatu? Yaaaa, saya tidak salah tulis. Perjalanan ke Bangkok beberapa bulan yang lalu pada …. menyebabkan kaki saya terkena plantar fasciitis. Karena terlalu banyak jalan dan membawa beban berat secara tiba-tiba dalam jangka waktu tertentu, daerah tumit saya menjadi kurang enak ketika digunakan berjalan. Permasalahan ini dapat dicegah andaikata saya menggunakan sepatu khusus untuk berjalan dengan sol yang agak tebal. Kali ini, saya membawa 2 sepatu yang saya rasa nyaman hohohoho.

  1. Itenari

Pada kunjungan wisata kali ini, kami berniat untuk mengunjungi berbagai objek wisata di Seoul, Seorak dan Nami. Kami tentunya berniat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan yang khas dan memiliki sesuatu yang berbeda. Acara-acara seperti les membuat kimchi dan mengunjungi desa pengrajin akan kami lewatkan. Dengan mengatur semuanya sendiri, kami dapat memilih objek wisata yang ingin kami kunjungi sendiri dengan durasi waktu sesuka hati. Dengan membawa anak di bawah 2 tahun, terkadang ada waktu dimana kami tidak dapat berangkat pagi, hal ini akan menimbulkan masalah tersendiri kalau ikut travel. Itenari mereka pukul 8 sudah berangkat, kalau kami sampai tidak ikut ya rugi juga, apalagi anak di bawah 2 tahun, sering dihitung bayar setengah harga oleh travel. Padahal pada kenyataannya, pesawat dan beberapa objek wisata menggratiskan tiket masuk untuk anak di bawah 2 tahun. Perjalanan 8 hari di Korea ini, akan lebih longgar dan jauh lebih hemat dibandingkan kalau ikut travel, tapi yaa jelas lebih rumit dan repot. Berikut itenari atau rencana perjalanan yang kami susun sejak masih di Indonesia:

Hari Jam Kegiatan
Jumat, 15 Sep 2017 08:00 – 10:00 Tiba di Bandara Incheon, mengurus imigrasi dan menguus penginapan di Dongdaemun
11:30 – 12:00 Perjalanan ke Namsan Tower
12:00 – 14:30 Wisata di Namsan Tower
14:30 – 15:10 Perjalanan ke  K Star Road
15:10 – 16:10 Wisata di K Star Road
16:10 – 16:40 Perjalanan pulang ke Dongdaemun
16:40 – Lelah Wisata di Dongdaemun Design Plaza (DDP) & Doota Mall
Sabtu, 16 Sep 2017 07:30 – 09:30 Perjalanan ke Gapyeong
10:00 – 10:10 Perjalanan ke Nami Island
10:10 – 13:00 Wisata di Pulau Nami
13:00 – 13:10 Perjalanan ke Petite France
13:10 – 14:55 Wisata di Petite France
14:55 – 15:05 Perjalanan ke Morning Calm Garden
15:05 – 16:20 Wisata di Morning Calm Garden
16:30 – 17:00 Perjalanan pulang ke Gapyeong
17:00 – 19:00 Perjalanan pulang ke Seoul
Minggu, 17 Sep 2017 09:00 – 09:45 Perjalanan ke Ihwa Mural Village
09:45 – 11:30 Wisata di Ihwa Mural Village
11:30 – 13:15 Perjalanan ke Ewha Woman University
13:15 – 15:00 Wisata di Ewha Woman University
15:00 – 15:45 Perjalanan ke Itaewon
15:45 – 17:00 Wisata di Itaewon
17:00 – 17:45 Perjalanan ke Banpo Bridge
17:45 – Lelah Wisata di Banpo Bridge
Senin, 18 Sep 2017 08:00 – 17:00 Pergi ke Dongdaemun History Culture Park Station Exit 10 untk ikut land tour Klook ke Gunung Seorak & Kuil Naksansa
19:00 – Lelah Diantarkan ke Dongdaemun History Culture Park Station Exit 10 oleh pihak Klook untuk acara bebas
Selasa, 19 Sep 2017 09:00 – 10:00 Perjalanan ke Onemount Snow Park
10:00 – 12:00 Wisata di Onemount Snow Park
12:00 – 13:10 Perjalanan ke The War Memorial of Korea
13:10 – 14:00 Wisata di The War Memorial of Korea
13:00 – Lelah Bebas
Rabu, 20 Sep 2017 07:00 – 07:20 Perjalanan ke Bukcheon Hanok Village
07:20 – 08:30 Wisata di Bukcheon Hanok Village
08:30 – 09:00 Perjalanan ke Gwanghamun Square
09:00 – 10:00 Wisata di Gwanghamun Square
10:00 – 10:15 Perjalanan ke Gyeongbokgung Palace
10:15 – 11:30 Wisata di Gyeongbokgung Palace
11:30 –12:30 Perjalanan ke Cheongdokgung Palace
12:30 – 13:45 Wisata di Cheongdokgung Palace
13:45 – Lelah Bebas
Kamis, 21 Sep 2017 09:00 – 09:30 Perjalanan ke Gwanjang Market
09:30 – 12:00 Wisata di Gwanjang Market
12:00 – 12:10 Perjalanan ke Insadong
12:10 – 14:00 Wisata di Insadong
14:00 – 14:10 Perjalanan ke Cheonggyecheon Steream
14:10 – 16:00 Wisata di Chenggyecheon Stream
16:00 – 16:30 Perjalanan ke Yeouido Hangang Park
16:30 – 18:00 Wisata di Yeouido Hangang Park
18:00 – Lelah Bebas
Jumat, 22 Sep 2017 08:00 – 10:30 Perjalanan ke Everland
10:30 – Puas Wisata di Everland
Sabtu, 23 Sep 2017 07:00 – 08:15 Perjalanan ke Bandara Incheon
08:15 – Selesai Pulang ke Jakarta
  1. Contekan & Coretan

Menemani itenari yang sudah kami susun, kami pun menbawa coretan dan contekan yang berisi informasi singkat dari beberapa objek wisata yang ada di sana sebagaimana saya tulis pada Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan. Beberapa objek yang tidak masuk ke dalam itenari pun kami masukkan sebagai objek wisatan cadangan.

  1. Tiket Atraksi

Kami membeli secara tiket masuk Onemount Snow Park dan Everland on-line. Harganya memang lebih murah, tapi tanggal kedatangan otomatis sudah ditentukan dan tidak dapat diubah. Untuk mempermudah perjalanan, kami pun membeli land tour via Klook ketika mengunjungi wilayah Gunung Seorak. Tiket dan transportasi selama 1 hari di sana, akan kami peroleh dari rekanan Klook di Seoul.

Untuk objek atau atraksi lainnya, kami akan membeli tukit masuknya langsung di tempat saja. Kalau semua dibeli lewat on-line dan tanggal kedatangannya kurang fleksibel, kemungkinan akan menimbulkan kesulitan ketika ada sesuatu hal yang membuat rencana perjalanan kami berubah. Terkadang, perjalanan kami agak bergeser dan sedikit tidak sesuai dengan itenari yang sudah kami susun. Kamu masih membutuhkan objek-objek yang waktu kedatangannya dapat digeser-geser ;).

Semua sudah siap, maka kami pun memulai petualang kami pada Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road.

Baca juga:
Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Ringkasan Objek Wisata Korea Selatan

Mirip seperti hendak berkelana ke Thailand dan Singapura, saya membuat ringkasan mengenai objek-objek wisata yang mungkin kami kunjungi selama di Korea Selatan. Saya pun menulis beberapa hal yang mungkin berguna ketika kami sedang berwisata di Korea. Coretan ini cukup berguna ketika tahun lalu kami perggunakan pada Persiapan Wisata Korea 2017.

Gyeongbokgung Palace (경복궁)

Tipe: Sejarah.
Website: http://www.royalpalace.go.kr/html/eng/main/main.jsp
Alamat: 161 Sajik-ro, Sejongno, Jongno-gu, Seoul, South Korea
Jam Buka: 09:00-18:00 (selasa tutup)
Harga Tiket Masuk 2017:
Umur 19-64 tahun: 3000 won / 2400 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur 7-18 tahun: 1500 won / 1200 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur dibawah 7 tahun dan diatas 64 tahun: Gratis.
Paket kombinasi pembelian tiket masuk Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace (termasuk the Secret Garden), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace dan Jongmyo Shrine: Dewasa 10000 won, Anak 5000 won).
Transportasi:
Subway:
Stasiun Gyeongbokgung Station (Seoul Subway Line 3), Exit 5.
Stasiun Anguk (Seoul Subway Line 3), Exit 1.
Bus:
Gunakan bus bernomor 1020, 7025,109, 171, 172, 601, 606 dan turun di Gyeongbokgung Palace Bus Stop.
Gunakan Bus Jongno bernomor 11 dan turun di National Folk Musuem of Korea Bus Stop.
Saran:
Bisa masuk gratis dengan menggunakan Hanbok, persewaan jam-jaman Hanbok ada di sekitar area wisata.
Gratis masuk pada hari budaya, yaitu setiap hari rabu terakhir di setiap bulan.
Rata-rata pengunjung menghabiskan 15 Menit – 1 jam di sana.
Dilarang menerbangkan Drone.
Dilarang membawa binatang peliharaan, makanan dan perlengkapan piknik.
Dilarang merokok dan berisik.
Ada tur berbahasa Inggris gratis pada 11:00, 13:30, 15:30.
Ada upacara pergantian penjaga istana setiap pukul 10:00, 13:00 dan 15:00.

National Folk Museum of Korea (국립민속박물관)
Tipe: Sejarah
Website: http://www.nfm.go.kr/language/english/main.jsp
Alamat: 37, Samcheong-ro, Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-18:00 (tutup selama tahun baru masehi, the day of Seollal & Chuseok (Korean Thanksgiving Day))
Harga Tiket Masuk 2017:
Transportasi:
Subway:
Stasiun Gyeongbokgung (Seoul Subway Line 3), Exit 5.
Stasiun Anguk (Seoul Subway Line 3), Exit 1.
Stasiun Gwanghwamun (Seoul Subway Line 5), Exit 2.
Bus:
Jeongdok Library Bus Stop atau National Folk Museum of Korea Bus Stop.
Saran:
Ada di dekat area Istana Gyeongbokgung.
Ada stroller bayi gratis.

Changdeokgung Palace (창덕궁) & Secret Garden

Tipe: Sejarah.
Website: eng.cdg.go.kr/main/main.htm
Alamat: 99, Yulgok-ro, Jongno-gu, Seoul, South Korea
Jam Buka: 09:00-17:00 (senin tutup)
Harga Tiket Masuk 2017:
Umur 19-64 tahun (Hanya Istana): 3000 won / 2400 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur 7-18 tahun (Hanya Istana): 1500 won / 1200 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur dibawah 7 tahun dan diatas 64 tahun (Hanya Istana): Gratis.
Umur 19-64 tahun (Istana + Taman): 8000 won.
Umur 7-18 tahun (Istana + Taman): 4000 won.
Umur diatas 65 tahun (Istana + Taman): 5000 won.
Paket kombinasi pembelian tiket masuk Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace (termasuk the Secret Garden), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace dan Jongmyo Shrine: Dewasa 10000 won, Anak 5000 won).
Transportasi: Subway: Stasiun Jongno 3-ga (Line 1, 3, 5, Exit 6) atau Stasium Anguk (Line 3, Exit 3). Bus: Bus Biru (109, 151, 162, 171, 172, 272) atau Bus Hijau 7025.
Saran:
Bisa masuk gratis dengan menggunakan Hanbok, persewaan jam-jaman Hanbok ada di sekitar area wisata.
Gratis masuk pada hari budaya, yaitu setiap hari rabu terakhir di setiap bulan.
Walaupun sudah membeli tiket kombinasi, untuk memasuki area Secret Garden, perlu reservasi via internet atau menukar voucher di kantor tiket yang terletak di semua area kombinasi.
Ada tempat penyewaan stroller di Gerbang Donhwamun.
Dilarang membawa hewan peliharaan.

Changgyeonggung Palace (창경궁)
Tipe: Sejarah.
Website: jikimi.cha.go.kr/english/royal_palaces_new/Changgyunggung.jsp?mc=EN_05_01_03
Alamat: 185 Changgyeonggung-ro, Waryong-dong, Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-18:00 (senin tutup)
Harga Tiket Masuk 2017:
Umur 19-64 tahun: 1000 won / 800 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur 7-18 tahun: 500 won / 400 won (rombongan 10 orang atau lebih).
Umur dibawah 7 tahun dan diatas 64 tahun: Gratis.
Paket kombinasi pembelian tiket masuk Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace (termasuk the Secret Garden), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace dan Jongmyo Shrine: Dewasa 10000 won, Anak 5000 won).
Transportasi:
Kalau menggunakan subway maka turun di Stasiun Anguk (Seoul Subway Line 3), Exit 3. Jalan dari exit (arah timur) menelusuri Yulgok-ro sepanjang 1 km. Belok kiri (arah utara) ke Changgyeonggung-ro. Jalan sekitar 300 m dan pintu masuk istana ada di kiri jalan.
Kalau menggunakan bus maka turun di Changyeonggung Palace, Seoul University Hospital Bus Stop menggunakan bus nomor 100, 102, 104, 151, 171, 272, 301, 601 71 atau bus Airport nomor 6011.
Saran:
Bisa masuk gratis dengan menggunakan Hanbok, persewaan jam-jaman Hanbok ada di sekitar area wisata.
Gratis masuk pada hari budaya, yaitu setiap hari rabu terakhir di setiap bulan.
Ada tur berbahasa Inggris gratis pada 10:00, 14:00.
Ada stroller gratis.

Jongmyo Shrine (종묘)
Tipe: Sejarah.
Website: jikimi.cha.go.kr/english/world_heritage/Jongmyo.jsp
Alamat: 157 Jong-ro, Jongno 1(il).2(i).3(sam).4(sa), Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-18:00 (selasa tutup).
Harga Tiket Masuk 2017:
Umur 19-64 tahun: 1000 won.
Umur 7-18 tahun: 500 won.
Umur dibawah 7 tahun dan diatas 64 tahun: Gratis.
Paket kombinasi pembelian tiket masuk Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace (termasuk the Secret Garden), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace dan Jongmyo Shrine: Dewasa 10000 won, Anak 5000 won).
Transportasi:
Kalau naik subway maka turun di Stasiun Jongno3(sam)-ga (Seoul Subway Line 1, 3, 5), Exit 11.
Kalau naik bus maka gunakan bus nomor 111, 201, 260, 262, 270, 271, 721, N15, N62 atau 9301 dan turun di Jongno 4(sa)-ga, Jongmyo Shrine Bus Stop.
Saran:
Bisa masuk gratis dengan menggunakan Hanbok, persewaan jam-jaman Hanbok ada di sekitar area wisata.
Gratis masuk pada hari budaya, yaitu setiap hari rabu terakhir di setiap bulan.
Ada tur berbahasa Inggris gratis pada 10:00, 12:00, 14:00, 16:00.
Dilarang membawa hewan peliharaan.

Deoksugung Palace (덕수궁)
Tipe: Sejarah.
Website: http://www.deoksugung.go.kr/eng/visitor/Hour.asp
Alamat: 99 Sejong-daero, Jung-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-21:00 (senin tutup).
Harga Tiket Masuk 2017:
Umur 19-64 tahun: 1000 won.
Umur 7-18 tahun: 500 won.
Umur dibawah 7 tahun dan diatas 64 tahun: Gratis.
Paket kombinasi pembelian tiket masuk Gyeongbokgung Palace, Changdeokgung Palace (termasuk the Secret Garden), Changgyeonggung Palace, Deoksugung Palace dan Jongmyo Shrine: Dewasa 10000 won, Anak 5000 won).
Transportasi:
Subway:
Stasiun City Hall (Seoul Subway Line 1, 2), Exit 1, 2 atau 3.
Bus:
Turun di depan City Hall, Deoksugung Palace Bus Stop.
– Green Bus nomor 1711, 7016, 7022.
– Blue Bus nomor 103, 150, 401, 402, 406, 604, N16.
– Bus Airport Bus nomor 6005.
– Jongno Bus Nomor 09 atau 11.
Saran:
Bisa masuk gratis dengan menggunakan Hanbok, persewaan jam-jaman Hanbok ada di sekitar area wisata.
Gratis masuk pada hari budaya, yaitu setiap hari rabu terakhir di setiap bulan.
Terdapat upacara pergantian penjaga pada 11:00, 14:00, 15:30 dengan rute mulai dari Gerbang Daehanmun Deoksugung Palace, Seoul Plaza, Cheonggye Plaza, Gwangtonggyo Bridge dan diakhiri di Bosingak Bell.
Bosingak Bell akan dibunyikan pada sore hari.
Dilarang membawa hewan peliharaan.

The Blue House atau Cheong Wa Dae (청와대)
Tipe: Sejarah.
Website:
Alamat: 1, Cheongwadae-ro, Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: (tutup setiap minggu, senin & hari libur nasional)
Harga Tiket Masuk 2017: Gratis tapi untuk masuk ke dalam, harus meminta izin via email paling tidak 21 hari sebelum kunjungan.
Transportasi: Naik subway jalur 1 dan 2 menuju City Hall Station dan keluar melalui pintu exit nomor 7. Dari City Hall Station, teruskan perjalanan dengan naik bus, turun tepat di depan City Hall.
Saran:
Terdapat ruangan dimana dilarang mengambil gambar.

Everland (에버랜드)

Tipe: Taman Hiburan.
Website: http://www.everland.com/web/multi/english/everland/main.html
Alamat: 199 Everland-ro, Pogog-eup, Cheoin-gu, Yongin-si, Gyeonggi-do, South Korea.
Jam Buka: 10:00-22:00
Harga Tiket Masuk 2017: http://www.everland.com/web/multi/english/everland/everland_guide/ticket/Tickets_and_Coupons.html
Transportasi:
1. Shuttle Bus
Jadwal Shuttle Bus langsung ke Everland:
(www.govoyagin.com/activities/south_korea-seoul-everland-korea-shuttle-bus-roundtrip-transfer-ticket/8821)
Stasiun Yeongdeungpo. Bus berhenti di luar Time Square Front Gate, di Parkir P1 yang menghadap Kantor Pemadam Kebakaran Yeongdeungpo, berangkat pada 08:40.
Stasiun Sindorim. Bus berhenti di luar Sindorim Home Plus, di luar Stasiun Sindrom Exit 1, di depan pintu masuk Apartemen Prugio Blok 103, berangkat pada 8:50.
Stasiun Sinnonhyeon. Bus berhenti di luar Stasiun Sinnonhyeon Exit 6, berangkat pada 9:25.
Stasiun Gangnam. Bus berhenti di luar Stasiun Gangnam Exit 6, berangkat pada 9:30.
Perjalanan Pulangnya terdapat shuttle bus gratis. Dari Loket Tiket, jalan ke arah Parking Lot 5, lalu naik shuttle bus yang berangkat pada 19:00.
Datanglah 10 menit sebelum jadwal bus.
Dilarang makan di dalam bus.
Perjalanan Seoul – Everland sekitar 40-50 menit.
Anak di bawah 36 bulan tidak dipungut bayaran.
2. Subway
Pergi ke Stasiun Jeondae-Everland (Yongin Ever Line) lalu keluar di Exit 3. Naik shuttle bus gratis menuju Everland.
3. Bus
Pergi ke Stasiun Gangnam lalu keluar di Exit 10. Naik bus 5002 menuju Terminal Shuttle Bus gratisan Everland. Naik shuttle bus gratis menuju Everland.
Pergi ke Stasiun Jamsil lalu keluar di Exit 6. Naik bus 5700 menuju Terminal Shuttle Bus gratisan Everland. Naik shuttle bus gratis menuju Everland.
Saran:
Everland terbagi atas Zootopia, European Adventure, Magic Land, American Adventure, Global Fair. Masing-masing zona ada sekitar 20-30 wahana.
Tunjukkan passport ketka memasuki loket karcis, kadang dapat diskon.
Usahakan datang lebih awal dan langsung mencoba wahana yang populer untuk menghindari antrian yang panjang
Ambil peta Everland untuk memudahkan mencari wahana
Gunakan sepatu karena dijamin bakalan banyak jalan
Simpan tiket masuk masing-masing orang untuk jaga-jaga jika diperiksa petugas wahana sebelum naik
Kalau beli Q Pass (vip), bisa memperoleh hadiah diloket tiket group

Bukchon Hanok Village (북촌한옥마을)

Tipe: Budaya.
Website: bukchon.seoul.go.kr/eng/index.jsp
Alamat: 37, Gyedong-gil, Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 24 jam.
Harga Tiket Masuk 2017: Gratis.
Transportasi: Naik subway sampai Stasiun Anguk dan keluar di Exit 2. Lanjutkan dengan berjalan kaki menuju Donmi Yakguk (Apotek Donmi) dengan jarak sekitar 500 meter atau 10 menit. Donmi Yakguk merupakan pintu masuk Bukchon Hanok Village. Bisa juga setelah kelar dari Stasiun Anguk, naik bus Jungnno 01 di Village Bus Stop (ada di depan Exit 2 Stasiun Anguk), lalu berhenti di Donmi Yakguk dan bayarlah dengan menggunakan kartu T-Money, hitungannya gratis dan tidak perlu jalan kaki.
Saran:
Bukchon Hanok Village merupakan wilayah permukiman penduduk dimana mereka tinggal di dalam rumah-rumah tradisional Korea, jadi jangan berisik dan jaga perilaku serta tidak dapat seenaknya masuk ke dalam rumah hanok.
Boleh mengambil gambar.
Sebaiknya dating di pagi hari agar tidak penuh sesak.

Namsangol Hanok Village (남산골 한옥마을)
Tipe: Budaya.
Website: hanokmaeul.or.kr
Alamat: 28, Toegye-ro 34-gil, Jung-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-21:00 (selasa tutup).
Harga Tiket Masuk 2017: Gratis.
Transportasi: Naik subway sampai Stasiun Chungmuro (Line 3 & 4) dan keluar di Exit 3.
Saran:
Namsangol Hanok Village adalah replika desa tradisional Korea tempat diadakannya berbagai pertunjukkan budaya sehingga kita dapat masuk ke dalam rumah hanok.
Terdapat stroller, kursi roda, charger dan audio guide gratis.
Disarankan untuk dating di sore hari, lampionnya sudah menyala.

The War Memorial of Korea (전쟁기념관)

Tipe: Sejarah.
Website: http://www.warmemo.or.kr/newwm/eng/main.jsp
Alamat: 29, Itaewon-ro, Yongsan-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 09:00-18:00 (senin tutup, kalau senin tanggal merah maka selasa tutup).
Harga Tiket Masuk 2017: Gratis
Transportasi: Kalau naik subway bisa turun di Stasiun Namyong (Line 1) atau Stasiun Samgakji (Line 4, 6 dan Exit 12). Kalau naik bus bisa berhenti di Samgakji Bus Stop atau di depan the Ministry of National Defense Building dengan menggunakan bus bernomor berikut 149, 150, 151, 152, 500, 501, 502, 504, 506, 507, 605, 750A, 750B, 751, 752, 110B, 730, 421, 6001.
Saran:

Ihwa Mural Village (이화벽화마을) & Taman Naksan (낙산공원)
Tipe:
Website:
Alamat: Ihwa-dong, Jongno-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka: 24 jam.
Harga Tiket Masuk 2017: Gratis
Transportasi: Kalau naik Subway maka berhenti di Hyehwa Station (Jalur 4 warna biru), Exit 2. Lalu jalan menyusuri Daehangno sekitar 500 m, belok kiri di Ihwajang-gil dan berjalan menanjak sejauh 400 m.
Saran:
Jalannya agak menanjak kalau kita dating dari arah Subway karena letaknya memang di bukit.

Pulau Nami atau Naminara Republic (남이섬에 오신것을 환영합니다)

Tipe: Taman
Website: namisum.com
Alamat: 1024 Bukhangangbyeon-ro, Gapyeong-eup, Gapyeong-gun, Gyeonggi-do, South Korea.
Jam Buka:
[Ferry Schedule]
07:30-09:00 (30 minute intervals)
09:00-18:00 (10-20 minute intervals)
18:00-21:40 (30 minute intervals)
Harga Tiket Masuk 2017:
General Rate: Adults 10,000 won
Discounted Rate: 8,000 won
Special Rate: 4,000 won
Transportasi: Dengan subway, turun di Statiun Gapyeong, lalu naik Gapyeong integrated City Bus Tour.
Saran:
Kalau mau sholat ada mushola, dari pintu masuk jalan terus ke kiri sampai ujung dekat restauran-restaurant. Mushola ada di lt.2.

Petite France (쁘띠프랑스)

Tipe: Taman
Website: http://www.pfcamp.com
Alamat: 1063, Hoban-ro, Cheongpyeong-myeon, Gapyeong-gun, Gyeonggi-do, South Korea.
Jam Buka:
Sun-Thu 09:00-18:00
Fri-Sat 09:00-20:00
Harga Tiket Masuk 2017: Ticket fare: Adults 6,000 won / Teenagers & Children 4,000 won / People with disabilities & Seniors 4,000 won. Children (ages 3 and under): One child free per family
Transportasi:
[Bus]
From Dong Seoul Bus Terminal or Sangbong Bus Terminal, take an intercity bus to Cheongpyeong.
From Cheongpyeong Bus Terminal, take a local bus bound for Goseong-ri (고성리).
Alternatively, take the Gapyeong City Tour Bus to Petite France.
Saran:

The Garden of Morning Calm (아침고요수목원)

Tipe: Taman
Website: morningcalm.co.kr/_ENG/html/main.php
Alamat: 432, Sumogwon-ro, Sang-myeon, Gapyeong-gun, Gyeonggi-do, South Korea.
Jam Buka:
08:30-Sundown
※ Last admission 1 hour before closing
Harga Tiket Masuk 2017:
Adults: 9,000 won
Teenagers: 6,500 won
Children: 5,500 won
Transportasi:
[Bus]
From Dong Seoul Bus Terminal take a bus bound for Cheongpyeong Bus Terminal, or take Bus No. 1330 at Cheongnyangni Transfer Center (in front of Lotte Department Store) and get off at the Cheongpyeong Bus Terminal (travel time: about 1hr 45min)
From Cheongpyeong Terminal, take Bus 31-7 to the Garden of Morning Calm. Alternatively, take the Gaypeong City Tour bus.
[Subway]
Cheongpyeong Station (Gyeonchun Line), Exit 1.
Go left until you reach the 3-way intersection and turn right. Continue straight toward the Cheongpyeong Catholic Church. Pass by Cheongpyeong Elementary School, turn left, and you will see the Cheonpyeong Bus Terminal.
From Cheongpyeong Terminal, take Bus 31-7 to the Garden of Morning Calm. Alternatively, take the Gapyeong City Tour Bus.
Saran:
Pengunjung rata-rata menghabiskan 1,5-2 jam.
Lightning festival hanya dilakukan antara Desember – Maret saja, setelah matahari terbenam.

Gunung Seorak atau Seoraksan National Park (설악산국립공원)

Tipe:
Website:
Alamat: Seoraksan-ro, Sokcho-si, Gangwon-do, South Korea.
Jam Buka:
Harga Tiket Masuk 2017:
Transportasi:
[Express/Intercity Bus]
From Seoul Express Bus Terminal or Dong Seoul Bus Terminal, take a bus to Sokcho (Travel time: approx. 2hr 30min).
[Bus]
From Sokcho Express / Intercity Bus Terminal, take Bus No. 7 or 7-1.
– Get off at Sogongwon Bus Stop (Travel time: approx. 45 min).
Saran:
Datang lebih awal jika ingin memilih jalur Ulsanbawi agar waktunya lebih banyak
Persiapan fisik sebelum melakukan hiking
Tidak perlu membawa air terlalu berat karena terdapat beberapa spot istirahat untuk membeli air
Hindari turun terlalu sore

Namsan Seoul Tower (남산서울타워)

Tipe:
Website: http://www.seoultower.co.kr/en
Alamat: 105, Namsangongwon-gil, Yongsan-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka:
[Observatory]
Sunday-Friday: 10:00-23:00
Saturday: 10:00-24:00
[Namsan Cable Car]
Operating hour: 10:00-23:00 (Setiap Senin jam 9:00-14:00 tidak beroperasi.)
Harga Tiket Masuk 2017:
– Observatory: Adults 10,000 won / Children 8,000 won
– Ssentoy Museum & Show room: Adults 10,000 won / Children 8,000 won
– Hello Kitty Island: Adults 8,000 won / Children 7,000 won
-Namsan Cable Car: Round-trip (Adults 8,500 won / Children 5,500 won) / One-way (Adults 6,000 won / Children 3,500 won).
Transportasi:
[Bus]
Namsan Circular Shuttle Bus
1. Namsan Circular Shuttle Bus No. 02
– Take the bus from the closest subway station: Chungmuro Station (Seoul Subway Line 3, 4), Exit 2 (in front of Daehan Cinema) or Dongguk University Station (Seoul Subway Line 3), Exit 6.
2. Namsan Circular Shuttle Bus No. 03
– Take the bus from the closest subway station: Seoul Station (Seoul Subway Line 1, 4), Exit 9, Itaewon Station (Seoul Subway Line 6), Exit 4 or Hangangjin Station (Seoul Subway Line 6), Exit 2.
3. Namsan Circular Shuttle Bus No. 05
– Take the bus from the closest subway station: Myeong-dong Station (Seoul Subway Line 4), Exit 3 or Chungmuro Station (Seoul Subway Line 3), Exit 2 (in front of Daehan Cinema).
[Cable Car]
Get off at Myeong-dong Station (Seoul Subway Line 4) and Exit 3.
Walk for about 15 minutes following the street on the right side of the Pacific Hotel. The cable car boarding place will be seen ahead.
Saran:

One Mount Snow Park (원마운트 스노우파크)
Tipe: Taman
Website: en.onemount.co.kr
Alamat: 300, Hallyu world-ro, Ilsanseo-gu, Goyang-si, Gyeonggi-do, South Korea.
Jam Buka: 10:00-17:00 di hari kerja. 10:00-18:00 di akhir pecan.
Harga Tiket Masuk 2017: Rp.202.325 (via Klook)
Transportasi:
[Subway]
Turun di Juyeop Station (Seoul Subway Line 3), Exit 3. Jalan lurus ke arah Seohyeon Plaza, belok kiri, dan jalan terus.
[Bus]
Turun di Onemount Bus Stop menggunakan bus (33, 92), maeul bus (80, 82, 10)
Saran:
Siapkan baju hangat.
Dilarang berfoto menggunakan blits.

Banpo Bridge Rainbow Fountain (반포대교 달빛무지개분수)

Tipe:
Website:
Alamat: Banpo-dong, Seocho-gu, Seoul, South Korea.
Jam Buka:
[April-June, September-October]
Weekdays: 12:00, 20:00, 20:30, 21:00
Weekends: 12:00, 19:30, 20:00, 20:30, 21:00
[July-August]
Weekdays: 12:00, 19:30, 20:00, 20:30, 21:00
Weekends: 12:00, 19:30, 20:00, 20:30, 21:00, 21:30
* Show duration: 20min
* Operating hours are subject to change due to weather conditions or internal affairs.
Harga Tiket Masuk 2017:
Transportasi:
[Subway]
Express Bus Terminal Station (Seoul Subway Line 3, 7, 9), Exit 8-1.
Go straight for 250m, and turn right at Express Bus Terminal Sageori (4-way intersection).
Continue going straight, using the walkway through the underpass to arrive at the park.
[Bus]
Get off at Banpo Hangang Park/Seom Sevit Bus Stop.
Blue Bus 740
Saran:
Kalau melihat shownya jangan dari sisi ujung jembatan, tapi dari sisi samping jadi jembatan terlihat memanjang lurus di depan mata.

Lain-lain:
Ramalan cuaca lihat di http://web.kma.go.kr/eng/weather/forecast/timeseries.jsp

Baca juga:
Persiapan Wisata Korea 2017
Hari Pertama Wisata Korea – Incheon, Namsan Tower & K Star Road
Hari Kedua Wisata Korea – Naminara Republic, Petite France & The Garden of Morning Calm
Hari Ketiga Wisata Korea – Ihwa, Ewha, Itaewon & Banpo
Hari Keempat Wisata Korea – Gunung Seorak & Naksansa
Hari Kelima Wisata Korea – One Mount Snow Park, The War Memorial of Korea & Myeong-dong
Hari Keenam Wisata Korea – Gyeongbokgung, Bukchon & Changdeokgung
Hari Ketujuh Wisata Korea – Gwangjang & Cheonggyecheon
Hari Kedelapan & Kesembilan Wisata Korea – Everland & Incheon

Sate Ayam & Kambing RSPP, Sate Legendarisnya Jakarta Selatan

Setelah seharian mengurus rekening Bank saya yang bermasalah, beberapa hari yang lalu, saya mampir di Sate Ayam & Kambing RSPP yang terletak di Jl. Kyai Maja No. 21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sesuai dengan judulnya, Sate Ayam & Kambing RSPP terletak tepat di depan Rumah Sakit Pusat Pertamina. Di tempat inilah Pak Romli dan Pak Muri bergantian berjualan sate ayam dan kambing. Jadi kalau pagi, yang berjualan itu Pak Romli. Sedangkan mendekati ba’da Asar, yang berjualan adalag adik Pak Romli, yaitu Pak Muri. Karena adik-kakak, rasa keduanya ya sama saja, toh mereka sama-sama bernaung di bawah nama besar Sate Kambing & Ayam RSPP.

Bagian Luar

Bagian Dalam

Sate Kambing & Ayam RSPP ini sudah terkenal sejak lama sekali. Awalnya, Pak Romli berjualan sate keliling pada tahun 1960-an. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, ia berhasil memiliki lapak yang menetap di depan RSPP. Sate ini ramai sekali. Kalau tidak datang pagi atau jam 3 ketika pergantian tim tukang sate, yah pastilah kita akan pengal mengantri, bersaing dengan abang-abang ojeg on-line yang bermunculan :’D.

Bagaimana rasa satenya? Sate ayamnya merupakan sate yang sering menemani acara-acara keluarga besar saya. Daging sate dan gajihnya dibakar matang, empuk dan ukurannya relatif standard, tidak bisa dibilang jumbo yaah. Bumbu kacangnya juga lumayan enak tapi terlalu sedikit :(. Nilai plus dari sate ayam ini adalah aromanya yang super harum, yuuuummmm. Konon, daging ayamnya dibakar di atas arang, menggunakan kipas tradisional, dan ditambahkan minyak ayam khusus selama dibakar. Sate yang empuk, bumbu kacang yang mantab, plus aroma barbeque unik yang harum. Inilah sate ayam yang membuat banyak orang rela mengantri di depan sebuah lapak kecil di seberang RSPP.

RSPP

Sate Ayam

Sudah jelas, saya pasti ikhlas untuk memberikan Sate Ayam & Kambing RSPP nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Ini dia, rajanya sate di daerah Jakarta Selatan ;).