The Mummy (2017)

Sejak berdiri pada 1912, Universal Studios sudah beberapa kali menelurkan film-film bertemakan monster seperti The Hunchback of Notre Dame (1923), The Phantom of the Opera (1925), Dracula (1931), Frankenstein (1931), The Mummy (1932), The Invisible Man (1933), Bride of Frankenstein (1935), Werewolf of London (1935), Abbott and Costello Meet Dr. Jekyll and Mr. Hyde (1953), Creature from the Black Lagoon (1954), The Mummy (1999) dan lain-lain. Nah tokoh-tokoh dari film tersebut akan dibuat ulang ke dalam beberapa film layar lebar yang saling berkaitan dan disebut Dark Universe. Jadi ceritanya ini mau dibuat seperti Marvel Universe dan DC Comics Universe yang cukup populer akhir-akhir ini.

The Mummy (2017) hadir sebagai film Dark Universe pertama yang hadir bioskop-bioskop tanah air. Apakah cerita film ini akan seperti Trilogi The Mummy yang dibintangi oleh Brendan Fraser di era 90-an dan awal 2000-an? The Mummy (2017) merupakan reboot dari Trilogi tersebut, tapi saya rasa hanya ada sedikit unsur yang mirip, sisanya jauh berbeda.

Pada The Mummy (1999), Nick Morton (Tom Cruise) secara tidak sengaja membebaskan Mumi Putri Ahmanet (Sofia Boutella) dari tidur panjangnya. Tindakan Nick membuatnya memperoleh sebuah kutukan. Ahmanet memilih dan menandai tubuh Nick sebagai tubuh yang pantas menampung Seth, dewa kematian pada mitologi Mesir.

Disini terjadi kejar mengejar karena Ahmanet harus menyelesaikan ritual untuk memasukkan Seth ke dalam tubuh Nick. Seperti pada Trilogi Mummy-nya Brendan Fraser, terdapat organisasi atau pasukan rahasia yang ikut membantu sang tokoh utama. Tapi pada The Mummy (2017), organisasi tersebut agak berbeda sebab organisasi inilah yang akan dijadikan benang merah Dark Universe. Yaaaah mirip S.H.I.E.L.D. kalau di Marvel Universe ;).

Pada organisasi tersebut, terdapat Henry Jeckyll (Russell Crowe) dan Jenny Halsey (Annabelle Wallis). Keduanya sama-sama ingin membantu Nick untuk lepas dari kutukan Ahmanet, tapi cara yang Henry usulkan bertolakbelakang dengan Jenny. Bagi yang pernah menonton atau membaca cerita mengenai Dr. Jeckyll, maka pastilah tahu kisah dan kutukan apa yang Henry Jeckyll derita ;).

The Mummy (2017) memang mengangkat tema mistik yang erat hubungannya dengan horor, tapi rasanya film ini bukanlah film horor. Adegan aksi nampak dominan pada film ini. Sesekali terdapat humor pula di sana. Sayangnya, walaupun dibumbui oleh adegan aksi yang bagus, saya agak mengantuk ketika menonton film ini, aksinya yaa mayoritas kejar-kejaran saja. Selentingan humor yang terkadang Nick munculkan pun tidak terlalu lucu.

Saya lihat karakter Nick di sini dimaksudkan sebagai seorang bajingan yang baik hati. Tapi kok ya rasanya agak janggal dan aneh jadinya. Kemudian saya tidak melihat “cinta” antara Nick dan Jenny. Tanpa adanya romansa yang menonjol di antara keduanya, bagian akhir film ini nampak kurang masuk akal.

Tidak ada rasa penasaran yang dapat memukau saya ketika menonton The Mummy (2017). Semuanya dibeberkan dari awal film, sama sekali tidak ada misteri di sana. Padahal kalau dipikir-pikir, materi film ini cukup bagus lho, hanya saja penyampaiannya terlalu “to the point”. Film bertemakan hal-hal mistik seperti ini seharusnya memiliki unsur misteri disetiap bagian. Saya rasa film ini dibuat seperti seolah-olah ini merupakah kisah awal seorang superhero dalam wujud monster. Tapi pendekatannya kurang pas sehingga film pertama Dark Universe ini gagal menunjukkan keunikan Dark Universe itu sendiri.

Rasanya The Mummy (2017) hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Merupakan awal yang mengecewakan bagi Dark Universe, tapi terus terang saya tetap menantikan dan akan menonton film Dark Universe berikutnya. Mungkin pada akhirnya kumpulan monster-monster dari beberapa film Dark Universe akan bergabung melawan sesuatu yang besar, hal ini tetap menarik untuk diikuti.

Sumber: http://www.themummy.com

Iklan

Wonder Woman (2017)

Kehadiran “dadakan” Wonder Woman (Gal Gadot) pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dengan diiringi musik karya Hans Zimmer, cukup menyita perhatian karena pertarungan dengan iringan musik tersebut terasa keren. Andaikata saya belum menonton Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), sudah pasti saya malas menonton Wonder Woman (2017). Terus terang saya tidak suka dengan Wonder Woman setelah bermain Injustice dan menonton Justice League: The Flashpoint Paradox (2013). Di sana, Wonder Woman nampak terlalu emosional dan menyebalkan :(. Apakah Wonder Woman pada Wonder Woman (2017) akan nampak seperti itu? Semoga saja tidak hehehe.

Kisah pada Wonder Woman (2017) diawali dengan sebuah foto masa lalu Wonder Woman atau Diana (Gal Gadot). Pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kita memang diperlihatkan foto-foto Wonder Woman di masa lampau. Nah setelah peristiwa pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), cetakan asli foto tersebut dikirim kepada Wonder Woman. Wonder Woman kemudian mulai bercerita akan masa lalunya, bagaimana ia pertama mengenal dunia manusia. Aaaahhh film Wonder Woman (2017) ternyata mengisahkan asal mula Wonder Woman, bukan kisah setelah pertarungan besar pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).

Berbeda dengan Superman dan Batman, ternyata tokoh Wonder Woman erat sekali dengan mitologi Yunani. Sejak kecil, Diana atau Wonder Woman, tinggal di pulau Themyscira bersama dengan ibunya, ratu suku Amazon. Pulau Themyscira hanya dihuni wanita dan pulau tersebut selalu diselimuti kabut dan perisai kasat mata sehingga tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Itu adalah anugrah Zeus, raja para dewa Olimpus, kepada suku Amazon yang menghuni pulau Themyscira. Zeus melakukan ini agar suku Amazon dapat tersembunyi dari Ares, dewa perang. Alasan utama kenapa Zeus melakukan ini akan terjawab pada bagian akhir film lho hohohoho.

Tumbuh di tengah-tengah suku Amazon yang perkasa membuat Diana ikut tumbuh menjadi pejuang Amazon yang handal. Namun Diana selalu saja berbeda, seolah ada sesuatu yang lain di dalam diri Diana. Aaahhhh ini juga akan dijelaskan pada bagian akhir film. Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini.

Kehidupan Diana dan suku Amazon berlangsung penuh kedamaian sampai Steve Trevor (Chris Pine) terdampar di pesisir pantai Themyscira. Dari mulut Steve, diperoleh informasi bahwa dunia sedang mengadapi perang, terjadi perang di mana-mana. Setting Wonder Woman (2017) memang di era perang dunia pertama di mana terjadi perang antara blok sekutu dan blok sentral. Pada saat itu Steve yang berasal dari Inggris (bagian dari blok sekutu) menemukan informasi bahwa Jerman (bagian dari blok sentral) mengembangkan senjata pemusnah masal padahal sebentar lagi pemimpin Jerman akan menyatakan pernyataan menyerah. Apabila Jerman menyerah, maka dapat dikatakan bahwa perang dunia berakhir dan dunia kembali damai.

Pengembangan senjata pemusnah masal terus dilakukan oleh Jendral Erich Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Ayala), untuk menggagalkan acara deklarasi pernyataan menyerah Jerman kepada Sekutu. Usaha keduanya membuahkan hasil ketika senjata pemusnah masal yang dikembangkan, telah berhasil dan siap untuk diujicobakan.

Steve dan Diana beserta beberapa rekan Steve, pergi menuju garis depan peperangan untuk menghentikan perang. Steve dan Diana pergi bersama-sama tapi dengan target yang sedikit berbeda. Steve pergi untuk menghentikan rencana Doctor Poison dan Jendral Lodendorff. Sementara itu Diana pergi untuk menemukan dan membunuh Ares. Diana yakin bahwa perang yang terjadi merupakan ulah Ares, Ares mempengaruhi manusia untuk saling bunuh. Apabila Ares mati, maka dunia akan damai tanpa ada bunuh membunuh. Tapi, bukankah setiap manusia sebenarnya memiliki hawa nafsu dan sisi kelam? Konsep kehidupan tersebut nampaknya tidak Diana ketahui sebab sejak kecil Diana memang tidak pernah pergi dari pulau Themyscira. Perjalanan bersama Steve adalah perjalan pertama Diana di luar pulau.

Ketidaktahuan Diana mengenai kondisi dan kenyataan dunia luar berhasil dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu membuat saya tertawa. Sangat berbeda dengan film layar lebar superhero DC Comics sebelumnya, Wonder Woman (2017) tidak terlalu kelam dan diselingi oleh beberapa adegan komedi yang lucu. Hal ini didukung dengan baik sekali oleh Christ Pine sebagai pemeran Steve Trevor. Romansa antara Wonder Woman dan Steve pun nampak apik di sana. Jadi di Wonder Woman (2017) tidak hanya aksi bak bik buk saja, ada komedi dan romansa di sana.

Dengan didukung oleh special effect dan kostum yang bagus, adegan aksi pada Wonder Woman (2017) terbilang bagus dan enak dilihat :). Tapi menurut saya adegan aksinya terlihat bagus sekali ketika diiringi oleh lagu tema Wonder Woman karya Hans Zimmer. Ketika lagu pengiringnya diubah ke lagu lain, rasanya agak berbeda. Pertarungan puncak pada Wonder Woman (2017) justru menggunakan lagu pengiring lain yang biasa-biasa saja sehingga pertarungan tersebut terasa seperti antiklimaks.

Semuanya berhasil mendukung sebuah cerita yang nyaman untuk diikuti meskipun memakan waktu sekitar 2 jam. 2 jam? Ya, durasi film ini sekitar 2 jam hohohoho. Tapi jalan ceritanya tetap ok kok, fakta tentang Ares-pun tidak saya duga sebelumnya, ternyata Ares itu . . . . . 🙂

Secara keseluruhan, DC Comics telah melakukan perbaikan kualitas film superhero-nya melalui Wonder Woman (2017). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Penilaian saya ini dibuat terlepas dari kenyataan bahwa pemeran utama Wonder Woman (2017), Gal Gadot, merupakan seorang Israel yang pernah melakukan wajib militer selama 2 tahun. Pemutaran film ini di bioskop ditolak keras oleh pemerintah Lebanon. Yaaahhh, menonton film kan tidak selalu harus di bioskop bukan? Walaupun rasanya Wonder Woman (2017) termasuk film yang lebih bagus kalau ditonton di bioskop ;).
Sumber: wonderwomanfilm.com

The Lego Batman Movie (2017)

Sebagian masa kecil saya dihabiskan dengan bermain Lego di rumah tetangga. Permainan konstruksi tersebut bisanya bisa dibentuk menjadi bangunan-bangunan seperti pertokoan dan pom bensin. Tokoh-tokohnya pun seingat saya hanya pekerja bangunan dan tukang bensin. Sekarang, Lego sudah bermacam-macam variannya. Ada Lego Friends, Lego Superhero, Lego Star Wars, Lego Ninjago dan lain-lain.

Tidak cukup di situ, film-film Lego kemudian bermunculan, baik yang berupa film serial TV maupun film layar lebar. Semuanya mengusung kisah-kisah dengan latar belakang dunia Lego. Tidak hanya dari segi animasi atau gambar saja, tapi di sisi ceritanya pun dibuat sedemikian rupa sehingga aturan dunia yang berlaku adalah aturan dunia Lego, bukan dunia nyata. Tak lupa disisipkan berbagai lelucon sarkasme yang membahas film atau tokoh populer. Hal inilah yang saya temukan pada The Lego Batman Movie (2017).

Pada film Lego terbaru ini, Batman atau Bruce Wayne (Will Arnett) hadir sebagai tokoh utama. Sepanjang film terdapat banyak lelucon sarkasme yang dapat membuat saya tersenyum. Penyelesaian akhirnya pun terbilang logis apabila kota Gotham memang dibangun oleh jutaan kepingan Lego. Penyelamatan kota Lego Gotham yang hanya dapat dilakukan di dunia Lego. Hal ini terbilang cerdas karena dengan begini, akan terdapat pembeda antara film Lego Batman dengan film animasi Batman lainnya.

Apa yang terjadi pada film Lego Batman ini? Dikisahkan bahwa Batman selalu berhasil mengalahlan lawan-lawannya dan menyelamatkan Gotham. Batman selalu menyatakan kepada semua orang bahwa ia kuat, perkasa dan tidak membutuhkan orang lain. Padahal, hidup Batman sebenarnya terbilang kosong, hampa. Batman tidak mau menurunkan perisainya dan mengakui bahwa ia membutuhkan teman seperti Dick Grayson (Michael Cera), Barbara Gordon (Rosario Dawson dan Alfred Pennyworth (Ralph Finnes). Menyelamatkan Gotham memang menjadi tugas Batman, namun sesekali bahkan seorang Batman pun membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

Uniknya, pada The Lego Batman Movie (2017) dikupas pula hubungan benci-rindu antara Batman dan Joker (Zach Galifianakis). Joker seolah haus akan pengakuan dari Batman. Ia ingin Batman akui sebagai lawan terberat Batman. Sebuah pengakuan yang tak kunjung Joker peroleh hingga Joker melakukan tindakan yang dapat menghancurkan kota Gotham. Hal ini tidak saya temui di film Batman lainnya :).

Berbagai keunikan yang dibumbui oleh berbagai sarkasme memang menjadi keunggulan tersendiri bagi The Lego Batman Movie (2017). Namun saya sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan jalan ceritanya. Sarkasme yang muncul hanya mampu membuat saya tersenyum, bukan tertawa. Dengan demikian The Lego Batman Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.legobatman.com

Sop Ikan Batam, Makan Ikan … Sehat

Mendengar kata-kata sop ikan Batam, saya refleks langsung ingat Yong Kee Seafood yang ada di Batam sana. Sayang yaaa jauh sekali dari saya yang tinggal di Jakarta. Akhirnya saya mampir ke salah satu cabang restoran Sop Ikan Batam yang ada di Jakarta. Seingat saya, dulu itu cabangnya masih sedikit, hanya ada di Mall Artha Gading dan Ruko INKOPAL Kelapa Gading. Sekarang, Sop Ikan Batam sudah berkembang dan dapat ditemui pula di Mall Taman Anggrek, Menteng Huis, Mall Ambassador, Mall Puri Indah, Ruko Tol Boulevard BSD, Mall Emporium, Mall Foodcentrum, Ruas Tol Cikampek Km 19 dan Jalan Sudirman 15C Bogor.

Dari beberapa cabang yang pernah saya singgahi, kondisi restorannya nyamannyamanbagus, bagus, bersih dan rapi. Pada cabang tertentu bahkan menyediakan ruangan VIP. Setiap saya ke sanana, memang sih tidak pernah nampak ramai sekali, tapi tidak kosong juga, selalu ada pengunjung lain di sana.

Bagian Dalam

Bagaimana dengan makanannya? Menu Sop Ikan Batam pada dasarnya tidak terlalu banyak jenisnya. Pada dasarnya di sana terdapat sop ikan, aneka sop seafood dan beberapa jenis chinese food. Saya sendiri baru mencicipi sop ikan, kangkung terasi, lumpia ikan

Sop ikan disajikan dalam keadaan hangat dengan aroma harum dan tidak bau amis. Di dalamnya terdapat potongan daging ikan tengiri yang lembut dan tidak amis. Ketika digabung dengan kuah hangatnya, terasa sedikit rasa gurih yang lembut. Saya akui rasanya lebih ke arah plain, sehingga saya tambahkan bumbu kacang dan kecap cabe yang terasa asin-pedas. Penambahan kedua bumbu tersebut membuat sop ikan lebih enak dan terasa. Jadi kalau menu ini teman-teman anggap terlalu tawar, tambahkan saja kedua saus itu, rasanya akan lebih enak :).

Sop Ikan

Lumpia ikan wujudnya berbeda jauh dengan wujud lumpia Bogor atau lumpia Semarang. Mungkin karena lumpia ikan tersebut dipotong dulu sebelum digoreng dan bagian dalamnya relatif lebih padat, saya tidak melihat rebung di sana. Ketika saya gigit dan kunyah, rasanya renyah, tidak amis, empuk di dalam dan terasa agak tawar meskipun sudah ditambahi saus merah yang sama sekali tidak pedas hehee. Ini bukan menu favorit saya.

Lumpia Ikan

Bagaimana dengan kangkung terasinya? Di luar dugaan, kangkung terasi justru terasa mantab dengan saus terasi yang gurih, rasanya lebih berani ketimbang sop ikan batam, enakkkk. Padahal ini menu yang umum sekali ada di restoran chinese dan seafood lho, saya pikir rasanya akan biasa saja.

Kangkung Terasi

Secara keseluruhan, Sop Ikan Batam layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisalaaah dijadikan tempat arisan keluarga atau kumpul-kumpul :).

Serial Legion

Setelah beberapa kali memunculkan berbagai karakter komiknya ke dalam serial TV, kali ini Marvel kembali menghadirkan serial superhero yang berkaitan erat dengan X-Men, yaitu serial Legion. Apa kaitan Legion dengan X-Men? Tokoh utama Legion, David Haller (Dan Stevens), adalah kerabat dari salah satu anggota tetap X-Men.

Pada awalnya David tidak menyadari akan kekuatan supernya. Semua peristiwa aneh yang ia alami sejak kecil, didiagnosa sebagai penyakit kejiwaan oleh para dokter. David dirawat disebuah rumah sakit jiwa sampai sebuah insiden terjadi di sana. Seketika itu juga pihak pemerintah dan sekelumpok organisasi mutant misterius, datang mencari David.

Sama seperti pada X-Men, perlakuan pihak pemerintah kepada mutant tidaklah menyenangkan. David akhirnya melarikan diri dari rumah sakit dan berlindung di dalam organisasi mutant misterius yang dipimpin oleh Melanie Bird (Jean Smart). Mereka bermukim di Summerland yang dikelilingi oleh hutan. Di sana David bertemu dengan mutant-mutant lain seperti Sydney Barrett (Rachel Keller), Ptonomy Wallace (Jeremie Harris), Cary Loudermilk (Bill Irwin), Kerry Loudermilk (Amber Midthunder), Oliver Bird (Jermaine Clement) dan lain-lain. Masing-masing memiliki kekuatan yang unik, namun konon kekuatan David lah yang terbesar.

Di Summerland, David mempelajari akan kekuatan supernya. Melanie dan kawan-kawan menduga bahwa diagnosa para dokter jiwa yang memeriksa David, salah besar. Gejala kejiwaan yang David alami adalah kekuatan super David yang belum David pahami. Untuk mahami kekuatannya, David harus menyelami alam pikirannya. Semua ada di dalam pikiran David, alam bawah sadar yang banyak sekali ditampilkan pada serial ini. Terkadang David sendiri tidak dapat membedakan antara khayalan, alam pikiran dan dunia nyata.

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, serial Legion banyak mengeksplorasi dan menggabungkan dunia alam bawah sadar. Terkadang saya pikir, Serial Legion relatif lebih mirip dengan serial Twin Peaks ketimbang serial Agent of S.H.I.E.L.D. atau Daredevil. Sebuah serial superhero yang unik dengan visual, editing dan jalan cerita yang dibuat sedemikian rupa sehingga penonton tidak terlalu bingung meskipun memiliki cerita yang sebenarnya membingungkan, banyak dunia khayalan di sana.

Pada umumnyanya, saya kurang cocok dengan tipe film yang seperti Legion ini, penuh dunial surealis yang blur dan tak jelas. Seolah membawa saya ke dalam pikiran ajaib si tokoh utama. Tapi untuk Legion, saya dapat menikmati serial ini, menanti siapa lawan utama David sebenarnya. Saya rasa visualisasi Legion patut diacungi jempol. Tidak terlalu menggunakan banyak special effect tapi penempatannya pas sehingga terlihat bagus.

Saya rasa serial Legion layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tapi perlu diingat bahwa serial Legion bukanlah tontonan anak-anal walaupun kisahnya didasarkan dari cerita komik ;).

Sumber: http://www.fxnetworks.com/region-fx

Ghost in the Shell (2017)

攻殻機動隊 atau Mobile Armored Riot Police atau Ghost in the Shell merupakan manga asal Jepang, karya Masamune Shirow, yang sudah hadir pula dalam wujud film animasi dan video games. Mengikuti Parasyte, Crows Zero, Rurouni Kenshin dan lain-lain, Ghost in the Shell kali ini hadir versi film layar lebarnya. Sebenarnya saya belum pernah membaca manga atau menonton versi animasinya. Tapi saya tertarik begitu melihat trailer-nya yang memukau :).

Dikisahkan bahwa di masa depan, batas pembeda antara mesin dan manusia semakin memudar. Dengan semakin majunya teknologi, semakin banyak manusia yang mengganti atau membalut organ tubuhnya dengan mesin untuk berbagai keperluan. Hanka Robotics, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, melakukan terobosan baru dengan menggabungkan mesin dan otak manusia. Jadi, semua organ yang disebut shell, adalah mesin. Yang mengendalikan organ tersebut adalah otak manusia, bukan lagi AI yang pada saat itu sudah lazim dilakukan. Dengan penggabungan ini, Hanka Robotics mengharapkan terjadinya kesempurnaan. Sebuah tubuh mesin dengan kemampuan mengambil keputusan layaknya manusia biasa.

Dari berbagai percobaan gagal, akhirnya Mira Killian (Scarlett Johansson) berhasil menjadi karya Hanka Robotics pertama yang stabil dan nampak normal. Mira kemudian ditugaskan untuk bergabung dengan Section 9, sebuah unit antiteroris yang beroperasi di Jepang. Karena kemampuannya, Mira memperoleh promosi sampai ia memperoleh pangkat Mayor di sana, julukan Mira pun berubah menjadi Mayor.

Pada Ghost in the Shell (2017) Mayor dan Section 9 berhadapan dengan teroris misterius yang membunuh ilmuwan-ilmuwan Hanka Robotics. Semakin lama, Mayor menemukan fakta bahwa kasus ini ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Mayor. Kebohongan demi kebohongan akhirnya terkuak. Sayang kebohongan yang terkuak bukanlah kejutan bagi saya. Semuanya klise dan mudah sekali ditebak. Semuanya terasa datar tanpa klimaks. Sayang sekali, padahal Robocop versi Jepang ini memiliki peluang untuk menampilakn cerita yang lebih baik lagi. Robocop (2014) saja bisa, kenapa yang ini tidak?

Beruntung Ghost in the Shell (2017) didukung dengan visual yang memukau. Gambaran latar belakang tempat Mayor dan kawan-kawan beraksi nampak bagus sekali. Adegan aksinya pun terbilang bagus karena terdapat efek yang bagus di mana-mana. Kostumnya juga dapat mendukung semua itu sehingga Ghost in the Shell (2017) terlihat futuristik tapi tetap realistis.

Dari tampilannya, sepertinya latar belakang Ghost in the Shell (2017) adalah Jepang di masa depan. Tapi kok protagonis utamanya justru bukan orang Jepang, yang dipilih justru wajah Amerika-nya Scarlett Johansson. Hal ini tambah lagi dengan dipergunakannya aktor-aktor non Jepang lain yang mengisi mayoritas peran-peran pembantu utama. Whitewashing benar-benar terasa kental pada film ini. Apakah hal ini dilakukan karena wajah kulit putih Hollywood dianggap lebih komersil? Ah kalau berlebihan seperti ini ya justru agak aneh jadinya hehehe. Selain itu saya tidak melihat karakter yang kuat dari film ini. Seperti jalan ceritanya, tidak ada emosi atau sesuatu yang greget dari tokoh-tokoh yang ada.

Berkat visual, kostum dan aksi yang di atas rata-rata, Ghost in the Shell (2017) masih terselamatkan dan masih dapar memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.ghostintheshellmovie.com

Planet Hulk (2010)

Setelah tampil pada beberapa film layar lebar The Avengers, saya mendengar bahwa Marvel akan menghadirkan film solo Hulk kembali. Film tersebut kemungkinan akan mengambil cerita komik Planet Hulk sebagai latar belakangnya. Namun berita tersebut menghilang dengan sendirinya dan proyek film Hulk semakin hari semakin menghilang, terkubur dengan proyek-proyek film superhero Marvel lainnya seperti Captain America, Guardians of the Galaxy, Black Panther, Thor dan lain-lain. Menjelang rilis Thor: Ragnarok (2017), kata-kata Planet Hulk kembali menggema. Banyak yang meramalkan bahwa cerita Thor: Ragnarok (2017) akan seperti Planet Hulk. Planet Hulk lagi, Planet Hulk lagi, cerita tentang apa itu?

Akhirnya saya memilih untuk menonton Planet Hulk (2010), sebuah film animasi Marvel yang dibuat berdasarkan komik Planet Hulk. Di sana dikisahkan bahwa Hulk (Rick D. Wasserman) diasingkan oleh Iron Man (Marc Worden) dan kawan-kawan karena Hulk dianggap terlalu berbahaya bagi penduduk Bumi. Hulk memang sangat kuat terutama disaat ia sedang marah sekali, nah amarah itulah yang terkadang membuat Hulk hilang kendali.

Pesawat luar angkasa yang mengantarkan Hulk menuju pengasingan, gagal menahan Hulk. Dengan penuh amarah, Hulk mampu merobek-robek pesawat tersebut hingga akhirnya ia terdampar di planer Sakaar. Planet Sakaar sedang dikuasai oleh Red King (Mark Hildreth), seorang raja yang menggunakan pertarungan ala gladiator sebagai hiburannya. Pasukan sang raja menangkap Hulk dan menjadikan Hulk sebagai gladiator di arena berdarah milik Red King. Dengan kekuatan Hulk yang amat besar, sudah dapat ditebak bahwa kemenangan akan selalu memihak Hulk. Tapi ternyata ada karakter dari komik Thor yang terdampar pula di sana. Seorang lawan yang dapat menyamai Hulk.

Di luar arena gladiator, praktis tak ada yang dapat menghalangi Hulk selain Caiera (Lisa Ann Beley). Sayang Caiera berada di pihak Red King. Kenapa kok karakter yang satu ini mampu menandingi Hulk, tidak terlalu dijelaskan padahal dia bukanlah tokoh yang terkenal di dunia Marvel, saya sendiri baru kali ini mengetahui keberadaan Caiera. Pada perkembangan cerita selanjutnya, Caiera melakukan perpindahan dukungan dan pergeseran hubungan dengan Hulk. Perubahan keberpihakan Caiera dapat saya pahami, jelas alasannya. Nah kalau perubahan hubungannya dengan Hulk, itu agak aneh, terlalu instan dan terkesan dipaksakan. Mungkin durasi filmnya kurang lama yah hehehe.

Terlepas dari kelemahan di atas, saya tetap dapat menikmati film ini. Melihat Hulk melawan lawannya satu per satu, tetap mampu memberikan hiburan yang lumayan bagus :D. Memang sih sudah hampir dipastikan Hulk akan menang, tapi proses dan alurnya tidak membosankan untuk dilihat.

Secara keseluruhan, rasanya Planet Hulk (2010) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Menonton film ini dapat dikatakan sebagai solusi tepat bagi yang ingin mengetahui mengenai Planet Hulk tanpa harus membaca serial komiknya satu per satu ;).

Sumber: marvel.com/movies/movie/140/planet_hulk