Selamat Ngikan!

Ngikan pertama kali hadir pada 2019 di Jalan Tebet Utara Dalam, Jakarta Selatan. Saya ingat betul pada saat pertama buka, tempat makan yang satu ini menimbulkan antrian panjang. Yah mungkin pada saat itu banyak orang masih penasaran dan cabang Ngikan sedikit sekali. Sekarang Ngikan sudah berkembang pesat dan memiliki berbagai cabang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Semarang, Bandung, Surabaya, Sukabumi, Majalengka, Yogyakarta, Makassar, Pontianak, Palembang dan Bukittinggi. Saya sendiri memilih memesan Ngikan melalui aplikasi online seperti Go Food, Grab Food dan Shopee Food. Toh Ngikan memang menggunakan konsep take away dimana kalaupun makan di tempat, tidak disediakan piring dan perlengkapan makan. Hanya ada meja dan bangku. Kita makan dari kardus packingnya.

Packing Ngikan

Menu dasar yang Ngikan tawarkan adalah ikan nila berbalut tepung crispy dengan nasi liwet dan sambal. Nasi liwetnya sedikit harum namun tidak terlalu terasa apa-apa. Tepungnya ikan nila relatif tebal tapi masih ok-lah, daging ikannya masih terasa. Lalu terdapat pilihan sambal matah, sambal oseng mercon, sambal acar kuning & sambal woku.

Sambal oseng mercon berwarna kemerahan dan memiliki kesan pedassss sekali. Eeeee ternyata semua itu hanya hoax, sambal ini lebih ternyata terasa gurih dan sedikit manis. Pedasnya bagaimana? Ada sih tapi sedikit.

Sambal woku berwarna kehijauan dan memiliki rasa gurih yang khas. Sekilas tercium aroma daun jeruk. Rasanya lumayan ok kalau disantap dengan nasi liwet dan ikan krispy-nya. Rasa dan aroma rempahnya cukup terasa tapi tetap saja berbeda dengan bumbu woku khas Manado.

Sambal matahnya terbuat dari aneka bumbu seperti bawang, cabai, daun jeruk dan minyak serta berwarna kehijauan. Tapi saya lihat sepertinya cabai, minyak dan daun jeruk nampak dominan walaupun aroma daun jeruknya tipis sekali. Sambal yang satu ini merupakan sambal yang paling pedas di Ngikan, tapi pedasnya masih masuk akal yaaa, bukan pedas yang bisa membuat diare :’D. Rasa pedas hangat sambal ini pas sekali ketika disantap dengan ikan krispy yang renyah beserta nasi liwetnya. Sejauh ini sambal matah adalah salah satu sambal favorit saya di Ngikan.

Paket Ngikan Saus Sambal Matah & Paket Ngikan Saus Oseng Mercon
Paket Ngikan Sambal Woku dan Ngikan Salero Padang Plus Keju

Bagaimana dengan sambal acar kuning? Yang pasti warnanya kuning hehehehe, saya belum sempat mencicipinya. Saat ini Ngikan sudah memiliki beberapa menu baru yang polanya sedikit berbeda dengan menu dasar di atas. Diantaranya adalah ngikan salero padang, ngikan pop, nasi lamongan kandas, dan ngikan mie goreng. Saya sendiri baru sempat mencicipi ngikan salero padang saja hehehe.

Ngikan salero padang pada dasarnya terdiri dari ikan nila krispy, nasi putih, daun singkong, kuah gulai, bumbu rendang dan sambal hijau yang biasa ada di restoran padang. Kemudian menu yang satu ini bisa ditambahkan telur, keju, kornet. Kemudian nasi putihnya pun dapat ditukar menjadi nasi liwet pula. Saya pribadi biasa hanya menambahkan keju dan kornet. Bagaimana rasanya? Ngikan salero padang ini tidak pedas tapi kaya akan rasa yang gurih dan harum. Saya suka dengan bumbu gulai dan bumbu rendangnya, keduanya terasa menonjol dalam membuat menu ini terasa enak. Sementara ini, ngikan salero padang merupakan menu favorit saya di Ngikan.

Setelah beberapa kali mencoba beberapa menu Ngikan, rasanya tempat makan yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Packingnya praktis dan aman disantap di masa pandemi. Jangan lupa mencuci tangan yaa kawans.

Black Widow (2021)

Black Widow merupakan salah satu tim inti kelompok superhero The Avengers yang hampir selalu muncul di film-film MCU (Marvel Cinematic Universe). Sudah sejak lama para fans menantikan film solo Black Widow. Entah apakah ini sudah terlambat atau belum, baru pada tahun 2021 ini Black Widow memperoleh film solonya melalui Black Widow (2021).

Masa kecil Black Widow atau Natasha Romanov (Scarlett Johansson) dihabiskan sebagai bagian dari keluarga mata-mata Rusia. Mereka berpura-pura menjadi keluarga Amerika biasa yang tinggal di Ohio. Setelah misi mata-mata selesai, keluarga tersebut terpecah.

Natasha kecil kemudian dilatih di dalam Red Room oleh Jendral Dreykof (Ray Winstone) untuk menjadi seorang Black Widow. Sekumpulan tentara handal yang sangat terlatih untuk menyelesaikan berbagai misi. Pelatihan yang diberikan sejak kecil, tentunya menjadi Natasha sangat handal. Namun pada akhirnya ia memilih untuk membunuh Dreykof dan membelot menjadi anggota S.H.I.E.LD. untuk kemudian menjadi anggota The Avengers. Sejak saat itu Natasha mengaggap Dreykof dan Red Room sudah musnah.

Bertahun-tahun kemudian, Yelena Belova (Florence Pugh) memberitahu Natasha bahwa Dreykof selamat dan Red Room masih beroperasi secara tersembunyi. Di Ohio dulu, Yelena sempat menjadi adik Natasha dalam keluarga pura-pura mereka. Dari sana, mereka mengumpulkan informasi mengenai Red Room dengan menemui agen yang berperan menjadi ayah dan ibu mereka di Ohio dulu.

Setelah misi menjadi ayah di Ohio selesai, Alexei Shostakov (David Harbour) menjadi Red Guardian, versi Uni Soviet dari Captain Amerika. Pada masanya Red Guardian pun harus berhadapan dengan Captain America.

Sementara itu, figur ibu bagi Natasha & Yelena, Melina Vostokoff (Rachel Weitz) menjabat sebagai ketua tim peneliti Red Room. Selain itu, ternyata Melina pun seorang Black Widow yang dahulu dilatih di Red Room.

Ketika Natasha, Yelena, Alexi dan Melina bertemu, ada nostalgia yang sentimentil di sana. Misi mereka di Ohio adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Bagi mereka, semua yang terjadi di Ohio terasa nyata.

Seperti menjadi ayah & ibu sungguhan, Melina & Alexei bersedia membantu Yelena & Natasha melawan Dreykof yang dikawal oleh banyak Black Widow. Tak hanya itu, keempatnya harus berhadapan dengan Taskmaster (Olga Kurylenko). Kostum Taskmaster sebenarnya sudah cukup sangar, sayang perannya hanya untuk berkelahi saja. Black Widow (2021) sepertinya kurang memaksimalkan karakter yang satu ini.

Namun, keterlibatan Taskmaster dalam adegan perkelahian, tetap terlihat bagus. Saya suka dengan berbagai adegan aksi pada Black Widow (2021). Semuanya terbilang realistis dan seru untuk ditonton. Apalagi di sana Natasha melakukan taktik perang psikologis yang menjadi keahliannya. Saya benar-benar terhibur di sana.

Ditambah lagi dengan jalan cerita yang cerdas & enak untuk diikuti, Black Widow (2021) semakin banyak memiliki kelebihan. Mirip film-film MCU lainnya, beberapa humor pun diselipkan pada Black Widow (2021) dan hasilnya terbilang pas. Humornya hadir disaat yang tepat sehingga dapat menjadi penyegar di tengah-tengah berbagai adegan aksi yang serius.

Hampir semua peristiwa pada Black Widow (2021), terjadi sesaat setelah Captain America: Civil Wars (2016). Jadi, bagi yang sudah menonton setiap film-film MCU, pasti tahu persis kapan Natasha gugur. Sudah dapat dipastikan Natasha akan tetap segar bugar setelah Black Widow (2021) berakhir. Saya rasa ini bukanlah kejutan. Toh selama ini tidak pernah ada film superhero solo MCU dimana tokoh utamanya tewas pada film solo pertamanya. Jagoan mah menang terus dong.

Saat ini beberapa tokoh utama The Avengers seperti dipensiunkan dengan berbagai alasan. Yah selain kontrak para pemerannya memang habis, MCU membutuhkan penyegaran. Hilang 1, muncul 1, kurang lebih itulah yang terjadi. Captain America baru sudah terlahir melalui Serial The Falcon and the Winter Soldier. Black Widow pun saya rasa mengalami hal yang sama dan Black Widow (2021) berperan untuk memperkenalkan calon Black Widow baru pengganti Natasha.

Saya rasa tidak pernah ada kata terlambat bagi kemunculan film apapun termasuk Black Widow, selama kualitasnya ok. Untuk Black Widow (2021) sendiri, saya ikhlas memberikan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.marvel.com/movies/black-widow

The Dry (2020)

The Dry (2020) merupakan film Australia yang memceritakan penyelidikan 2 buah kasus di sebuah kota kecil. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Jane Harper. Tokoh utamanya adalah Aaron Falk (Eric Bana) yang sehari-hari berkerja sebagain agen AFP (Australia Federal Police). Ia terbilang cukup sukses dan beberapa kali masuk berita akibat prestasinya. Pada suatu hari Aaron harus pergi ke Kota Kiewarra untuk menghadiri pemakaman sahabatnya semasa kecil. Tak terelakan, ia pun harus berhadapan dengan kasus pembunuhan yang terjadi ketika Aaron masih remaja di Kiewarra.

Aaron menjadi tersangka utama walaupun ia tidak ditahan karena kurang cukup bukti. Keluarga korban pun berhasil memprovokasi warga kota untuk menteror dan mengusir Aaron dan keluarganya. Pada akhirnya, Aaron terpaksa meninggalkan Kiewarra akibat tuduhan pembunuhan yang diarahkan kepadanya tersebut. Sebuah masa lalu yang pahit.

Kiewarra sendiri sebenarnya merupakan kota kecil tempat Aaron tumbuh. Karena kekeringan yang parah, banyak terdapat kasus kebakaran hutam. Banyak pula sungai dan danau yang kering, termasuk lokasi tempat pembunuhan yang dituduhkan kepada Aaron di masa lampau.

Sahabat Aaron pun ditemukan tewas di danau yang kering. Semakin lama, Aaron semakin melihat berbagai kejanggalan pada kematian sahabatnya. Ia kemudian memiliki keyakinan bahwa kematian sahabatnya tersebut masih berkaitan dengan kasus yang dulu membuatnya meninggalkan kota. Dengan dibantu oleh polisi lokal, Aaron melakukan penyelidikan di tengah-tengah warga kota yang ingin mengusirnya lagi.

Yang keren di sini adalah bagaimana Aaron menunjukkan kemampuannya sebagai agen AFP yang profesional. Ia tetap bertindak sesuai hukum meski mendapatkan berbagai provokasi. Ini adalah bagian film yang membuat saya gemas. Apalagi ketika siapa pelaku sebenarnya berhasil terungkap, baaah, menggemaskan. Akhir dari kisah The Dry (2021) termasuk tidak terduga looh.

Perilaku beberapa warga yang menyebalkan dan bagaimana penyelidikan dikembangkan, berhasil membuat saya tidak tertidur ketika menonton film minim aksi bertempo lambat ini. Banyak informasi yang tidak langsung dibeberkan. Siapa saja yang meninggal saja, tidak langsung dibeberkan dengan tegas. Semua diinfokan dengan lambat dan tersirat. Saya pun benar-benar harus menyimak, kalau tidak sopasti ketinggalan.

Namun, karena temponya lambat, otomatis film ini memang sangat mudah dipahami. Ceritanya enak untuk diikuti dan membuat saya penasaran. Hanya saja berberapa adegan flashback-nya agak membosankan. Entah mengapa bagian tersebut digarap dengan kurang menarik dan terkadang muncul di momen yang kurang tepat.

Film ini sebaiknya tidak ditonton ketika kita sedang kelelahan. Bisa-bisa tertidur di tengah film heheheh. Tapi kalau sedang tidak terlalu lelah, The Dry (2020) masih bisalaah ditonton tanpa tertidur. Temponyaa memang lambat dan minim aksi tapi alur penyelidikan Aaron itu enak untuk diikuti. Saya rasa The Dry (2020) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.screenaustralia.gov.au

Surga Bagi Pecinta Pedas, Warung Indomie Abang Adek

Sebagai mantan anak kos, Indomie tentunya menjadi salah satu makanan favorit saya di saat sedang kelaparan tengah malam. Cara membuatnya praktis dan rasanya gurih-gurih sedap. Olehkarena itulah sebenarnya sudah lama saya mau mencicipi Warung Indomie Abang Adek. Sayang lokasinya jauh dari rumah saya. Pada saat itu Warung Indomie Abang Adek hanya buka di daerah Jakarta Barat saja. Tak terasa waktu berjalan, Warung Indomie Abang Adek sudah memiliki banyak cabang, yaitu:

  • Jl. Mandala Utara No. 8,Tomang, Jakarta Barat.
  • Kantin Brata Plaza Telkom, Jl. Letjen S. Parman Kav. 8, Tomang, Jakarta Barat.
  • Green Bay Pluit, Tower H, Lantai Lower Ground, No. 19, Jl. Pluit Karang Ayu, Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara.
  • Jl. Ir. H. Juanda No. 43, Beji, Depok.
  • Grand Galaxy City, Ruko Grand Galaxy City, Blok RGB No. 97, Jl. Boulevar Raya Timur, Bekasi Selatan, Bekasi.
  • Ruko Taman Harapan Baru, Blok A1 No. 12, Jl. Harapan Baru Raya, Medan Satria, Bekasi.
  • Jl. Sawunggaling No. 4, Dago Bawah, Bandung.
  • Ruko Taman Harapan Baru, Blok A1 No. 12, Jl. Harapan Baru Raya, Medan Satria, Bekasi.
  • Ruko Bintaro Trade Center, Blok A1 No. 3, Jl. Bintaro Utama (Bintaro Sektor 7), Tangerang, Banten.

Bermula dari jualan mi menggunakan gerobak di sekitar Tomang pada 1996. Kemudian Indomie Abang Adek baru mulai menggunakan cabai pada 2002 atas masukan pelanggannya. Masyarakat Indonesia memang gemar makan sambal dan pedas-pedasan. Apalagi kalau ada tantangannya. Semenjak itulah Indomie Abang Adek berkembang dan memiliki cabang di mana-mana.

Saya sendiri makan Indomie Abang Adek tak jauh dari Klinik tempat praktek istri, yaitu cabang Ruko Grand Galaxy City. Kalau hendak memesan menu Indomie-nya, pertama-tama kita memilih jenis Indomie-nya. Mau Indomie goreng, ayam spesial, kari ayam, ayam bawang, atau soto mie. Favorit saya pribadi siy Indomie goreng, tapi semua tergantung selera dan kondisi. Kalau sedang hujan atau batuk, mungkin Indomie rebus lebih enak. Selain itu, kalau sedang lapar berat, kita bisa memesan double alias 2 Indomie. Biasanya sih 1 saja memang terasa kurang, saya biasa memesan double hehehehe.

Kemudian kita memilih tingkat kepedasan, mulai dari pedes sedang (3 cabai), pedes (15 cabai), pedes garuk (50 cabai), pedes gila (80 cabai) dan pedes mampus (100 cabai). Karena saya memiliki asam lambung, maka saya biasa memilih yang pedes sedang atau pedes saja. Pedes mampus tidak saya sarankan kecuali kalau makannya ramai-ramai. Kecuali kalau teman-teman memang mengiginkan tantangan.

Lalu tiba saatnya kita memilih anek topping seperti tempe, tahu, telur, kornet, 3 bakso goreng, keju, otak-otak, sosis, dan lain-lain. Saya pribadi paling suka dengan topping kornet dan telurnya, pilihan klasik hehehehe.

Indomie Goreng Pedes Kornet
Indomie Goreng Pedes Sedang Tahu

Setelah memilih, maka pesanan kita akan dimasak sesuai dengan pilihan. Topping dan cabai ulek ditambahkan ke dalam mangkok Indomie kita. Di dalam mangkok tersebut, tak lupa sudah ada bumbu Indomie. Selain bumbu indomie, biasanya ditambahkan pula minyak bawang dan garam.

Pada dasarnya saya memang suka sekali dengan Indomie, apalagi ditambahkan pedas cabai asli dan topping tambahan. Rasa Indomie tersebut tentu semakin nikmat, yumm. Saya suka dengan masakan warung Indomie yang satu ini dan pasti akan mampir lagi bila ada kesempatan

Saya rasa Indomie Abang Adek layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Oh iya, bagi yang memesan cabai pedes mampus, jangan lupa memesan susu untuk meredakan kepedasan cabai Indomie Abang Adek, kasian kan mulut dan lambungnya ;).

The Tomorrow War (2021)

Akhirnya film yang saya tunggu-tunggu hadir juga, The Tomorrow War (2021). Saya sudah tertarik dengan film ini ketika melihat trailer-nya. Ceritanya berkisar pada bagaimana seseorang dari masa lalu membantu anaknya untuk memenangkan perang di masa depan.

Dikisahkan bahwa pada tahun 2022 sekelompok penjelajah waktu hadir di tengah-tengah pertandingan Piala Dunia. Mereka mengabarkan bahwa sekitar 30 tahun dari tahun 2022, Bumi diserang oleh mahluk misterius yang disebut landak putih. Pihak manusia terus menerus mengalami kekalahan dan diperkirakan akan mengalami kepunahan.

Maka mereka meminta bantuan dari umat manusia yang hidup di tahun 2022 untuk datang ke masa depan. Mereka mengajak untuk ikut berperang menyelamatkan generasi anak dan cucu mereka di masa depan. Pemerintah pun merespon dengan mengirimkan tentara dan rakyat sipil yang memenuhi persyaratan. Wajib militer pun diberlakukan.

James Daniel “Dan: Forester (Chris Pratt) adalah mantan pasukan baret hijau yang mengajar biologi di sekolah. Ia mendapatkan panggilan wajib militer dan pergi ke masa depan. Secara mengejutkan, Dan bertemu dengan Kolonel Muri Forester (Yvonne Strahovski), anaknya di masa depan. Seketika itulah peperangan ini berubah menjadi masalah pribadi bagi Dan. Keduanya bekerjasama mencari cara untuk memenangkan perang secepat mungkin. Bala bantuan dari masa lalu ternyata kurang cukup dan populasi manusia semakin menurun.

Peperangan dan aksi yang disajikan terbilang keren dan bagus. Hanya saja kok rasanya mirip dengan Starship Troopers (1997) ya. Mulai dari bentuk monsternya sampai tembak-tembakannya.

Tapi saya senang, The Tomorrow War (2021) mengambil topik dan jalan cerita yang jauh berbeda dari Starship Troopers (1997). Jalan cerita The Tomorrow War (2021) lebih menarik untuk diikut. Temponya pas sekali sehingga setiap adegan, menarik untuk dilihat. Penyelidikan untuk mencari cara memenangkan perang adalah bagian yang paling membuat saya penasaran.

Tak hanya itu, The Tomorrow War (2021) ternyata bercerita pula mengenai keluarga. Bagaimana hubungan keluarga yang tidak harmonis, kembali pulih melalui serangkaian bencana.

Saya rasa The Tomorrow War (2021) pamtas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah sekuel dikabarkan akan hadir. Hmmmm kalau sudah berbicara mengenai perjalanan waktu, memang pasti banyak celah untuk memutar-mutar ceritanya.

Sumber: http://www.amazon.com/Tomorrow-War-Chris-Pratt/dp/B093CNZ7ST

The Admiral: Roaring Current (2014)

The Admiral: Roaring Current (2014) merupakan film Korea yang mengisahkan pertempuran Myeongnyang antara Kekaisaran Jepang dengan dinasti Joseon dari Korea. Kekaisaran Jepang secara khusus mengirim Kurushima Michifusa (Ryu Seung-ryong), si raja bajak laut. Sementara itu armada Korea dipimpin oleh Laksamana Yi Sun-sin (Choi Min-sik). Sejarah mencatat Yi Sun-sin (명량) sebagai Laksamana terbaik yang dinasti Joseon miliki. Kesuksesan Yi beberapa kali membuat banyak orang iri dan membuat Yi kehilangan jabatan dan dibuang. Politik di dalam dinasti Joseon yang pada saat itu memang agak kotor. Bahkan Laksamana secakap Yi beberapa kali mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Namun karena reputasi dan kemampuan militernya, Yi selalu mendapatkan kembali jabatannya.

Jasa terbesar Yi bagi Korea adalah kemampuannya menghadapi invasi Jepang yang digaungkan Toyotomi Hideyoshi. Yi diangkat sebagai pemimpin tertinggi angkatan laut dinasti Joseon. Sementara Yi terus mememangkan pertempuran di laut, tentara Korea terus mengalami kekalahan di darat. Karena sikapnya yang keras dan lagi-lagi politik, Yi difitnah dan disingkirkan dari angkatan laut. Padahal pada saat itu Jepang berjaya di darat dan sukses membuat pemerintah Korea melarikan diri dari ibukota. Korea hanya menang di laut.

Di bawah komando laksamana lain, angkatan laut Korea hancur lebur dan selalu kalah. Apa yang kemudian para pemimpin Korea lakukan? Kembali memanggil Yi untuk memimpin angkatan laut lagi :’D. Hanya saja, saat Yi kembali menjabat, Korea hanya memiliki 12 kapal perang saja, ditambah 1 kapal perang spesial yang Yi desain.

Melalui sebuah aksi desersi, Yi kehilangan kapal perang spesial terakhirnya. Kondisi Korea semakin berat. Kali ini Yi bahkan tidak dapat menggunakan kapal perang andalannya, geobukseon atau kapal perang kura-kura. Dahulu, Yi berhasil memenangkan berbagai pertempuran laut dengan menggunakan kapal tipe ini. Bentuknya unik karena bagian atas kapal bentuknya tertutup seperti rumah kura-kura.

Sekarang, Yi mau tak mau harus memanfaatkan 12 kapal perang terakhir yang ia miliki untuk menahan laju invasi Jepang. Pihak Jepang sendiri membawa 133 kapal perang yang dipimpin oleh Kurushima dan 2 laksamana Jepang lainnya. Jadi pertempuran kali ini adalah 12 melawan 133, sangat tidak berimbang yaa. Pemimpin Korea kala itu, sampai hendak membubarkan saja angkatan lautnya. Bisa apa dengan 12 kapal saja?

Dengan cerdiknya, Yi memilih wilayah Myeongnyang sebagai lokasi pertempuran. Arus laut di sana memiliki karakteristik unik yang pihak Jepang tidak ketahui. Inilah kunci kesuksesan Yi agar 12 kapal perangnya dapat mengatasi 133 kapal perang Jepang.

Durasi The Admiral: Roaring Current (2014) lumayan panjang, 2 jam loh. Pada sekitar 1 jam pertama, tempo film ini berjalan lambat. Dikisahkan bahwa terdapat keraguan di dalam anak buah Yi sendiri. Kemudian setelah beberapa kali dibuang, kenapa Yi masih tetap sudi membela dinasti Joseon. Agak drama sih. Sampai-sampai saya ragu ini film ada perangnya atau tidak ya. Jangan-jangan isinya hanya politik dan persiapan perang saja @_@.

Ternyata saya salah besar, sekitar 1 jam terakhir pertempuran Myeongnyang benar-benar dikisahkan dengan cara yang sangat bagus. Adu taktik perangnya benar-benar seru. Jarang-jarang ada film kerajaan yang mengisahkan taktik perang laut sebaik ini loh. Saya sangat suka dengan bagian ini, keeren.

Apalagi kostum-kostum pada film ini terbilang bagus, terutama yang dipergunakan pihak Jepang. Para pejabat kekaisaran tampil dengan aneka kostum tradisional Jepang yang berwarna-warni. Memang agak kontras dengan kostum perang tentara Korea yang hanya itu-itu saja.

Kemudian yang perlu digarisbawahi juga adalah akting Choi Min-sik sangat bagus disana. Ia berhasil memerankan sosok Laksamana Yi yang keras dan pantang menyerah disaat Yi sudah menua dan sakit sekalipun. Beberapa tindakan Yi memang ekstrim tapi di sana ditunjukkan pula bagaimana ia merasa bersalah akan keputusan yang ia buat. Mulai dari mimik sampai intonasi, semuanya benar-benar bagus sekali.

The Admiral: Roaring Current (2014) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 2 jempol deh untuk film ini, kereen.

Sumber: m.cjem.net

Hadramiah, Hidangan Timur Tengah dengan Cita Rasa Indonesia

Hadramiah merupakan restoran Timur Tengah yang bersih dan rapi namun tidak terlalu besar. Selama bulan Ramadhan saja, saya harus mendaftar 2 sampai 3 hari sebelum kedatangan bila ingin buka puasa di sana. Saya pun beberapa kali akhirnya membawa pulang hidangan Hadramiah untuk berbuka puasa, tidak makan di tempat. Di luar bulan Ramadhan, restoran ini sudah bisa langsung didatangi tanpa acara booking-booking dulu. Saya sekeluarga biasa mengambil tempat lesehannya yang semi privat. Lokasinya cukup luas dan nyaman digunakan bersama keluarga.

Lesehan Semi Privat

Sampai saat ini, Hadramiah dapat ditemukan di Jalan Pramuka No. 64 Jakarta Timur dan Jalan Pahlawan Revolusi No. 32 Jakarta Timur. Wah keduanya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, memang mau makan apa di Hadramiah? Seperti restoran Timur Tengah pada umumnya, Hadramiah menyajikan nasi kabsah, biryani dan mandhi. Ketiga nasi tersebut hadir dengan rasa yang enak, mantab dan sesuai dengan lidah Indonesia saya. Baiklah mari kita bahas satu per satu. Nasi mandhi-nya berwarna agak putih dengan rasa rempah-rempah yang lembut seperti butter rice, bagi saya pribadi siy rasanya agak tawar. Nasi kabsah-nya berwarna agak kecokelatan dan memiliki rasa yang lebih gurih, ini berasal dari tomat dan bumbu-bumbu khas Timur Tengah. Terakhir, nasi biryani hadir dengan warna kuning dan rasa yang lebih gurih dan hangat dibandingkan nasi kabsah dan mandhi. Pembuatan biryani memang mirip dengan nasi kabsah, hanya saja disana dipergunakan baskom khusus untuk lebih menyerap rempah-rempah. Ini dia nasi favorit saya di Hadramiah.

Nasi Biryani Sada

Untuk menemani nasi biryani favorit saya, saya biasa memesan kambing panggang. Kambing panggang hadir dengan daging empuk dan rasa gurih yang khas, yuummmm, enak sekali. Lelehan bumbu yang membungkus kambing panggangnya tidak pelit. Sambal dan acarnya pun semakin menambah cita rasa hidangan yang saya santap. Yummm, juara deh.

Kambing Panggang

Pemesanan nasi di Hadramiah cukup fleksibel. Saya penah memesan hanya nasi biryani saja lalu kambing panggangnya terpisah. Pernah pula saya memesan sepiring nasi kabsah dan nasi biryani dengan kambing panggang. Semua tergantung anggota keluarga yang ikut ada berapa banyak.

Nasi Kapsah & Nasi Biryani dengan Kambing Panggang

Dengan demikian, saya ikhlas memberikan Hadramiah nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”. Tidak heranlah kalau terkadang restoran ini agak penuh.

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Lumpia Bandung Mang Ucup, Street Food with Attitude

Setiap pulang dari acara keluarga, saya sering sekali melewati daerah TPU Layur. Tapi saya sama sekali tidak pernah menyadari keberadaan Lumpia Bandung Mang Ucup yang terletak tak jauh dari TPU, tepatnya di depan Toserba Berkah, Jl. Gurame No. 31, Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Seorang rekan istri saya yang memperkenalkan kami kepada Lumpia Bandung Mang Ucup.

Menu dari Lumpia Bandung Mang Ucup cukup sederhana. Ada lumpia basah dan ada lumpia goreng. Kemudian apakah hendak ditambahkan daging sapi, ayam, udang, atau campuran semuanya. Lalu, apakah mau yang pedas atau tidak.

Lumpia basah hadir dengan tekstur kulit lumpia yang lembut. Bengkuang, toge, tahu, telur dan bumbu lain yang ada di dalamnya terasa manis legit dan istimewa :). Favorit saya adalah lumpia basah pedas daging sapi, yummmm, mantab. Lumpia basah ini dapat dikatakan sebagai wajib saya setiap mampir ke Lumpiia Bandung Man Ucup.

Sementara itu lumpia goreng hadir dalam kulit renyah yang tebal dengan isian yang sama dengan lumpia basah. Hanya saja, lumpia gorengnya ditemani oleh saus kacang yang gurih. Paduannya memberikan rasa gurih renyah yang tebal dan tidak pelit. Hanya saja rasa isiannya jadi agak terkubur dan tidak semantab lumpia basah. Lumpia goreng bisa dijadikan alternatif kalau sedang ingin makan yang kriuk-kriuk. Tapi saya pribadi lebih suka lumpia basahnya.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa Lumpia Bandung Mang Ucup ternyata sudah memiliki beberapa cabang di tempat lain. Saya bisa melihat ini dari tag line yang tertulis di gerobaknya, “Street Food with Attitude”, gaya euy hehehe. Kita dapat menemukan Lumpia Bandung Mang Ucup tersebat di Jabodetabek seperti di Jalan Bintaro Utama 5 Tangerang, Jalan Manggarai Utara 1 Tebet & Jalan Jati Mahoni Rawamangun.

Lumpia ini berhasil menjadi hidangan pengganjal perut setiap saya pulang dari acara keluarga. Lumpia Bandung Mang Ucup tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Enak”.

Akhirnya … Kena Covid-19 Juga

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika terpapar Covid-19 pada Juni 2021. Entah terkena varian virus yang mana, yang pasti, sedang terjadi lonjakan jumlah pasien Covid-19 di Indonesia. Well, sebenarmya, sejak Covid-19 merebak pada 2019 lalu, saya sekeluarga termasuk mahluk yang rajin semprot-semprot disinfektans dan antiseptik. Masker pun tidak pernah lepas. Kemanapun kami pergi, protokol kesehatan kami terapkan dengan ketat.

Saya sendiri Work From Home (WFH), hanya sesekali ke kantor, mungkin hanya 2 kali dalam sebulan. Istri dan ibu saya tergolong tenaga kesehatan (Nakes). Tapi keduanya sangat disiplin dalam protokol kesehatan. Status Nakes mereka pulalah yang membuat mereka sudah lebih dahulu mendapatkan suntik vaksin Covid-19. Alhamdulillah kami sekeluarga tetap bebas dari Covid-19.

Pada sekitar bulan Mei akhir, saya mendadak demam, sakit perut dan nyeri otot yang amat sangat. O’ow, gawat nih, apakah ini Covid-19? Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata saya terkena Demam Berdarah. Sekitar 7 tahun yang lalu, saya terkena demam berdarah dan gejalanya ringan sekali. Sayang oh sayang sekali, kali ini semua berbeda. Saya terkena jenis Demam Berdarah yang lebih ganas sehingga saya harus di rawat di rumah sakit. Nyeri otot dan mualnya benar-benar parah. Nafsu makan terjun bebas, padahal hobi saya kulineran. Beruntung saya tidak sampai mengalami kejang. Hari berlalu dan akhirnya saya sembuh dari Demam Berdarah dan memulai masa penyembuhan di rumah.

Baru sembuh dari Demam Berdarah, saya mendadak merasa demam lagi, mual lagi. Wahdu apa lagi ini? Saya bawa tidur, demam tidak kunjung turun, badan justru menjadi lemas. Tak lama saya mendapatkan kabar buruk. Hasil antigen periodik istri saya positif. Maka seketika itu pulalah, kami 1 rumah langsung berangkat untuk PCR. Bak disambar petir siang bolong, kami semua positif Covid-19 kecuali ibu saya. Alhamdulillah beliau lolos.

Anak-anak saya tetap ceria dan tidak menunjukkam gejala apapun. Begitu pula ibu dan istri saya yang bisa tetap bergerak lincah seperti tidak ada apa-apa. Asisten rumah tangga kami pun hanya pilek ringan. Pengasuh anak-anak sempat demam tapi sudah ok, paling hanya batuk sesekali. Sementara saya …. panas tinggi, pegal-pegal, mual dan ahhh …. sial. Daya tahan tubuh dari Demam Berdarah belum pulih, sudah kena yang lain lagi nih.

Penyekatan untuk isolasi mandiri pun kami lakukan di rumah. Karena kondisi badan saya yang tak kunjung membaik, akhirnya saya berobat ke Rumah Sakit. Kondisi Rumah Sakit sudah mulai penuh. Saya harus bolak-balik Rumah Sakit baru bisa masuk ruang perawatan. Tidak bisa sekali jalan langsung dapat tempat. Beberapa pasien bahkan ada juga yang beberapa hari menunggu di IGD (Instalasi Gawat Darurat). IGD Rumah Sakit nampak diperlebar dan diberikan tempat tidur tambahan untuk menampung pasien. Tapi karena jumlah pasiennya banyak, ya tetap harus mengantri diawali dari menggunakan kursi roda atau tempat duduk. Beruntung pada saat itu antrian pasien belum sampai selasar.

Saya akhirnya memperoleh tempat di ruang perawatan lantai 3. Satu ruangan diisi oleh 4 orang termasuk saya. Sayangnya, diantara keempat penghuni, saya termasuk yang paling lemas dan paling tidak nafsu makan, meskipun saya termasuk yang tidak kehilangan penciuman. Kalau dilihat, makanan Rumah Sakit untuk pasien Covid-19 ini tergolong mevahlah. Sayang mual dan nyeri perut membuat setiap sesi makan menjadi sesi perjuangan. Saya harus memaksakan makan atau ini akan bertambah buruk.

Obat infus dan suntik Rumah Sakit memang lebih joss khasiatnya. Kondisi saya membaik dan hanya sesekali saja mengalami demam. Maka, setelah beberapa hari di Rumah Sakit, sayapun dipersilahkam untuk pulang untuk isolasi mandiri di rumah. Walaupun, sebenarnya menjelang pulang, saturasi oksigen saya turun ke sekitar angka 94, 95, 96.

Setelah melalui proses administrasi dan lain-lain akhirnya kami bisa meninggalkan Rumah Sakit di malam hari. Seluruh biaya 100% ditanggung Kementrian Kesehatan RI, kami tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

Tiba di rumah, sudah ada beberapa tabung Oksigen yang istri saya siapkan. Malam itupun saya bersiap untuk tidur bersama tabung-tabung tersebut. Namun, Saturasi oksigen bukanlah kekhawatiran utama kami malam itu. Demam saya yang terus menerus muncul lagi yang menjadi masalah. Obat minum seolah tidak berdaya. Saya terus demam dan tanpa kami sadari sepertinya saturasi Oksigen saya terus menurun. Sesak? Tidak ada rasa sesak saat itu, nafas terasa normal-normal saja.

Malam itu merupakan malam yang terlupakan bagi saya. Tapi tidak bagi keluarga saya. Saya tidur setelah meminum obat. Lalu saya tidak ingat apa-apa. Sekilas terdapat ingatan saya diikat, ada pesawat Star Treek, ada lomba menggambar, … ingatan yang aneh.

Baiklah, dari cerita istri saya sepertinya malam itu saturasi oksigen saya drop mungkin sampai ke angka 80-an atau 70-an entah selama berapa jam karena saya tidur sendiri di kamar bawah. Ketika istri saya masuk ke kamar saya, ia menemukan selang Oksigen terlepas dari hidung saya dan entah bagaimana regulator tabung Oksigen saya jatuh dan rusak.

Di pagi hari pun saya langsung diangkut ke Rumah Sakit dengan mencharter Angkot yang lewat. Sampai Rumah Sakit, saya harus mengantri di IGD. Mulai yang hanya duduk, kemudian akhirnya dapat kasur di IGD. Kondisi IGD Rumah Sakit sudah lebih penuh ketimbang saya terakhir ke sana.

Konon saturasi Oksigen saya pun langsung naik ke 97 begitu mendapatkan Oksigen Rumah Sakit. Namun karena cukup lama mengalami saturasi yang kecil, maka saya kehilangan kesadaran dan …. sedikit kewarasan.

Ada berapa tindakan aneh yang tanpa sadar saya lakukan selama terdampar di IGD. Yang pasti, di sana, saya satu-satunya pasien yang diikat. Sementara yang lain ngos-ngosan tapi pikirannya benar. Saya tidak ngos-ngosan tapi melakukan tindakan-tindakan aneh yang tidak saya sadari. Saya benar-benar tidak ingat selama itu berbuat apa saja. Ada kemungkinan ini disebut hipoksia, organ saya kekurangan Oksigen. Beruntung saya memiliki istri yang selama masa-masa gila itu, menemani saya terdampar di IGD.

Saya mulai sedikit sadar ketika tiba-tiba saya sudah berada di dalam ICU (Intensive Care Unit). Di sana saya bertemu banyak orang. Ada yang mengajak mengobrol, ada yang bisik-bisik dan lain-lain. Sebenarnya ini agak aneh, tapi saya tetap berbicara dengan mereka. Semua berlangsung sampai pada suatu titik dimana saya menyadari mereka semua hanya bagian dari halusinasi saya. Bahkan ketika saya sadar bahwa saya berhalusinasi, mereka tetap datang. Yaaah tak apalah, supaya ramai. Toh mereka datang mengajak bincang-bincang santai. Tidak ada yang kasar atau agresif :’D.

Kehilangan kesadaran dan halusinasi kemungkinan karena hipoksi. Ada apa ini sebenarnya? Konon beberapa pembuluh darah saya yang ke arah paru-paru dan jantung tersumbat. Waduh untung masih bisa selamat yaa. Saya paling ingat masa-masa di ICU karena disanalah saya perlahan mulai waras.

Di ICU kita tidak boleh memegang gadget, padahal kondisi di sana sangat membosankan, panas dan berisik. Rata-rata pasien yang masuk ICU sudah dalam kondisi berat sehingga mereka bisa jadi dibantu oleh 1 sampai 3 alat bantu penyokong hidup. 1 alat saja suaranya sudah nyaring. Bayangkan ruang ICU yang terdapat lebih dari 8 pasien. 1 ruang ICU memang besar dan dipergunakan bersama-sama. Saya hitung jumlah pasiennya ICU yah sekitar 8 atau 9. Yah mungkin nanti bisa jadi teman ngobrol sungguhan, bukan teman halusinasi. Hanya saja, kalau saya hitung kok jumlah pasiennya berubah-ubah terus ya. Aaahhh mungkin karena pikiran saya yang belum 100% waras.

Kebetulan saya di tempatkan di bagian pojok ICU. Jadi hanya ada teman di depan dan samping saja. Itupun ternyata mereka dalam keadaan berat semua. Selama beberapa hari di ruangan inilah saya melihat pasien yang berguguran. Kematian di ICU ternyata bisa terjadi dalam hitungan detik. Entah sekeras apa mental para Nakes ruang ICU. Dalam satu hari saja saya pernah mengalami pergantian tetangga selama 3 kali. Jadi pasien di sebelah saya 3 kali tidak terselamatkan. Belum lagi yang diseberang. Waduh, dalam 1 hari saya bisa melihat beberapa kematian.

Saya melihat perjuangan para Nakes di sana. Habis pasang alat ini itu, membujuk pasien supaya mau makan, tiba-tiba lari CPR ke pasien lain. Belum selesai 1, alat penyokong hidup ada yang membunyikan tanda bahaya. sungguh luar biasa. Apalagi kalau saya lihat kok Nakesnya itu-ituuuu saja. Mereka seperti tidak pernah pulang. Yang paling saya tidak tega adalah ketika pasien ICU adalah orang tua dari si Nakes sendiri. Sudah dipasang macam-macam alat bantu dan tetap tidak selamat. Salah satu Nakes yang membantu saya makan dan infus harus menangis di dalam ruangan….

Mayoritas yang tidak selamat memang sudah datang dalam keadaan berat dan sesak nafas. Sayapun sebenarnya datang dalam keadaraan hilang kesadaran, hanya saya saya tidak ingat. Begitu banyak keharuan di dalam ruangan ICU. Saya tidak menyangka sebigini kerasnya perjuangan para Nakes.

Semua kejadian di ICU terasa jelas karena kondisi badan saya terus membaik ketika sedang di dalam ICU. Badan terasa segar meski belum bisa kemanamana. Tangan kanan dan kiri diinfus, belum lagi kena dikateter. Obat minum yang saya konsumsi lumayan banyak, bisa 7 sampai 8 butir sekali telan di pagi hari. Nanti siang yaa 7 sampai 8 butir lagi. Malam yaaaa begitu lagi :”D. Kalau menjelang tengah malam biasanya saya memperoleh suntikan pengencer darah di perut. Kemudian suntikan obat lambung, vitamin C dan beberapa suntikan lain melalui selang infus. Yang pasti yang nyeri adalah suntik Vitamin C, yang lainnya tidak terasa apa-apa. Wah banyak sekali obatnya, tapi tak apalah, semua demi kesembuhan.

Selama saya di ICU, ternyata istri dan keluarga saya berkelana mencari obat tambahan yang dianjurkan oleh tim dokter yang merawat saya. Setiap malam istri saya muncul sesaat di jendela pojok ICU, ternyata selain menengok, ia memberikan obat yang disarankan kepada perawat ruangan.

Sebenarnya, Kementrian Kesehatan menanggung 100% biaya pasien Covid termasuk obat-obatnya. Obat-obatan yang ditanggung pun bukan obat murahan. Saya sendiri mendapatkan infusan 2 jenis antibiotik yang harganya lumayan mahal kalau bayar sendiri. Belum obat-obat yang lainnya, banyak sekali. Namun, memang terkadang ada obat-obat dari dokter yang tidak termasuk ke dalam paket bantuan Kementrian. Biasanya itu adalah obat yang agak langka dan tidak tersedia di Rumah Sakit. Olehkarena itulah keluarga saya harus berkelana mencari obat tambahan.

Ternyata, perjalanan mencari obat tambahan bagi saya, tidaklah mudah. Jadi, tim dokter yang merawat pasien ICU melakukan rapat setiap sore. Setelah rapat itulah pihak keluarga terkadang dikabari mengenai kondisi pasien, rencana tindakan dan daftar obat tambahan yang disarankan. Sejak awal, keluarga saya disarankan untuk mencari Remdesivir yang tidak tersedia di Rumah Sakit tempat saya dirawat. Istri saya langsung berkelana se-Jabodetabek untuk memperoleh stok Remdesivir. Sepertinya ini berlangsung beberapa hari karena dalam sehari saya membutuhkan lebih dari 1 kantong Remdesivir. Alhamdulilllah istri saya selalu berhasil memperoleh Remdesivir tepat waktu sehingga saya cepat siuman. Obat infus yang satu ini berfungsi melemahkan dan mematikan virus Covid-19 dengan lebih cepat.

Namun virus bisa saja melemah tapi ia akan terus mengeluarkan racun yang merusak. Kerusakan terparah yang biasa Covid-19 lakukan adalah badai sitokin. Indikasi akan terjadinya badai sitokin antara lain dapat dilihat dari nilai interleukin dari cek darah. Nah, pada suatu siang, ibu saya mendadak ditelefon langsung oleh tim dokter agar sesegera mungkin menyediakan obat tambahan Actemra dan Ivermectin. Ada apa ini? Jadi nilai interleukin saya ternyata amat sangat tinggi sekali sehingga entah dalam hitungan berapa jam lagi akan ada badai sitokin besar yang akan menghantam tubuh saya. Ada kemungkinan apabila badai sitokin ini benar-benar terjadi, saya tidak akan selamat. Mungkin hal inilah yang terjadi pada pasien-pasien ICU yag saya lihat mendadak tidak terselamatkan.

Untuk Ivermectin kebetulan tidak sulit untuk diperoleh pada saat itu. Kami mendapatkan Ivermectin dari tetangga kami yang baik hati. Namun Actemra adalah obat yang sulit untuk diperoleh. Kalau memesan ke perusahaannya langsung, harus menunggu selama 3 hari, terlalu lama. Keluarga saya sampai menefon semua keluarga yang ada, sampai keluarga yang di luar kota. Dari sana diperoleh info bahwa masih ada sedikit stok Actemra di daerah Pasar Minggu dan Pondok Indah. Maka istri saya berburu ke Pasar Minggu dan tante saya berburu ke Pondok Indah. Di Pondok Indah tante saya berhasil memperoleh 70mg Actemra, padahal kebutuhan saya total adalah 400mg, waduh 😦

Di Pasar Minggu, istri saya bertemu dengan anak almarhum seorang dokter. Dokter tersebut terkena Covid-19 dan memiliki nilai interleukin yang tinggi seperti saya. Kebetulan ia berhasil mendapatkan 2 kantung 400mg Actemra. Sayang, setelah pemberian kantung yang pertama, respon tubuh beliau terhadap Actemra kurang baik sehingga akhirnya beliau meninggal. Actemra memang memiliki efek samping ke jantung bagi beberapa orang. Beruntung masih ada 1 kantung 400mg Actemra yang disimpan di lemari es. Keluarga almarhum bersedia menjual 400mg Actemra kepada istri saya dengan harga lama, kalau harga baru sopasti sudah membumbung tinggi. Malam itu juga istri saya langsung mengantarkan 400mg Actemra tersebut ke Rumah Sakit tempat saya dirawat. Aksi cepatnya tidak terlambat dan sepertinya berhasil mencegah badai sitoksin besar terjadi. Wah makin cinta deh sama istri :D.

Karena kondisi semakin membaik dan stabil, maka akhirnya saya dipindahkan ke HCU (High Care Unit), horeeeee. Pasien ICU yang kondisinya membaik, biasanya dikirim ke HCU untuk observasi lagi. Kondisi pasien HCU tetap dimonitor alat macam-macam seperti di ICU. Hanya saja di Rumah Sakit tempat saya dirawat ini, modelnya 1 ruangan terdiri dari 2 pasien. Ada kamar mandi dan boleh memegang gadget. Kateter boleh dilepas asalkan kuat berjalan. Saya optimis untuk lepas kateter, mau mandi sendiri, mau ke toilet sendiri. Namun ternyata semua tak mudah. Ternyata, tanpa bantuan oksigen, nafas saya ngos-ngosan saat berusaha mandi atau melakukan aktifitas fisik lainnya. Saya bahkan sempat gagal mandi dan hanya berhasil cuci muka saja.

Sementara itu teman 1 ruangan saya di HCU mengalami sesak nafas yang lumayan, tapi tidak nampak separah pasien-pasien ICU. Beliau pun tidak ikut kompetisi mencoba mandi seperti saya, masih berjuang mengatur nafas yang tersengal-sengal. Baru sekitar 5 atau 6 jam bersama-sama di HCU, saya kaget ketika Nakes HCU tiba-tiba berlari untuk melakukan CPR kepada tetangga sebelah saya tersebut. Hasilnya terbilang sedih. Beliau akhirnya tidak terselamatkan dan ternyata beliau adalah orang tua dari 2 Nakes yang bertugas.

Beruntung pengalaman di atas akan menjadi kematian terakhir yang saya saksikan. Rekan sekamar HCU saya yang baru, mengalami sesak nafas yang sama seperti rekan sekamar saya sebelumnya. Hanya saja, ia masih muda dan masih bisa diajak berkomunikasi. Kami berdua ngobrol sambil ngos-ngosan @_@. Jadi, rekan sekamar saya yang satu ini kolaps setelah suntuk pertama vaksin. Ternyata kondisi badannya memang tidak terlalu fit ketika akan vaksin. Bisa jadi dia sudah positif Covid-19 sebelum vaksin. Wah-wah harus waspada juga ya ketika hendak disuntik vaksin.

Karena saturasi Oksigen saya tetap stabil meskipun selang oksigen saya sudah diperkecil, saya akhirnya sudah bisa pindah ke ruang perawatan biasa. Di sana tim rehab medik mulai melakukan edukasi mengenai latihan pernafasan. Saya pun pelan-pelan belajar untuk tidak 24 jam menggunakan selang Oksigen lagi. Selang 2 hari di kamar perawatan, saya diijinkan pulang ke rumah. Namun kali ini dengan kondisi yang jauh lebih prima. Tidak ada mual, tidak ada demam, nafsu makan sudah ok. Hanya saja nafas memang masih bermasalah.

Saya kembali pulang ke rumah, tidur di kamar isolasi saya yang dilengkapi beberapa tabung Oksigen. Sampai saat ini saya masih positif, begitu pula kedua anak saya beserta pengasuhnya. Beruntung anak-anak dan pengasuhnya tanpa gejala. Sementara gejala dominan yang masih saya rasakan adalah batuk & nafas yang ngos-ngosan. Untuk mandi saja saya harus membagi ke dalam 3 tahap. Sikat gigi dulu lalu istirahat. Lanjut cuci muka, tangan dan kaki lalu istirahat lagi x__x. Terakhir, barulah sabunan badan. Kalau 1 kali jalan siy saya masih belum kuat.

Saturasi oksigen, tensi dan nadi saya masih dimonitor di rumah. Kemudian setelah 1 minggu lewat, saya harus kontrol ke dokte paru-paru, cek darah, & cek jantung. Semua untuk melihat apakah kerusakan yang Covid-19 tinggalkan sudah mereda. Ini demi keselamatan jangka panjang.

Baru beberapa hari isolasi mandiri di rumah, saya menerima kabar mengejutkan dari lingkungan perumahan. Jadi ada tetangga saya yang seumuran dengan saya. Dia diduga terpapar Covid-19 beberapa hari setelah saya. Gejalanya mirip & masuk ICU karena alasan yang kurang lebih sama dengan saya. Hanya saja halusinasi yang ia alami sepertinya lebih tak terkendali. Istrinya terpaksa setiap hari masuk ke ICU menggunakan full APD Covid-19 untuk menenangkan. Mirip seperti saya, ia juga memperoleh obat tambahan. Keluarga kami bahkan berbagi stok obat karena obat tambahannya memang mirip. Dia pun cepat membaik dan dipindahkan dari ICU ke HCU. Di HCU dia memperoleh hasil PCR yang menunjukkan bahwa ia sudah negatif. Hebatnya Covid-19 adalah ia dapat membunuh dan merusak meskipun sudah mati di dalam tubuh. Itulah yang terjadi pada tetangga saya. Tak lama terdapat pengumuman bahwa ia mendadak meninggal. Kemungkinan karena mengalami badai sitokin atau serangan jantung akibat kerusakan yang sudah Covid-19 berikan. Wuuuaaahhhh, kok seram begini ya? Saya yang pada hari itu mulai bandel mau coba-coba membuka VPN untuk WFH (Work From Home), langsung mendadak insyaf. Saya langsung berjemur di luar sambil senam pernafasan, kemudian kembali merebahkan badan di kasur x__x.

Mengingat semua yang baru saya alami, terutama ketika di dalam ruang ICU & HCU, hidup terasa sangat berharga. Terlebih lagi orang-orang yang berusaha mempertahankan hidup orang lain. Mereka sangatlah berharga. Pengorbanan dan dedikasi Nakes sangat terlihat disana. Padahal mereka harus berhadapan dengan kematin setiap hari, bahkan ketika pasien mereka sudah memperoleh nilai PCR negatif. Pokoknya bravo untuk Nakes Indonesia di manapun kalian berada. Tak lupa saya juga sangat berterimakasih kepada berbagai pihak yang sudah ikhlas membantu saya memperoleh obat dan dukungan moral. Ternyata masih banyak masyarakat yang bersedia untuk saling menolong. Semoga kesehatan selalu menyertai kalian dan keluarga. Amin.