Get Out (2017)

Bertemu dengan orang tua pujaan hati tentunya menjadi saat yang menegangkan bagi seorang pria. Apakah bapaknya galak? Apakah ibunya cerewet? Apakah adiknya bandel? Tidak seperti perkiraan, hal di atas tidak dialami oleh Chris Washington (Daniel Kaluuya) yang pergi ke pinggiran kota untuk bertemu dengan keluarga Rose Armitage (Allison Williams), pacar Chris. Ayah Rose adalah dokter bedah dan ibu Rose adalah psikiater. Keduanya nampak menerima Chris apa adanya meskipun Chris berkulit hitam dan Rose bwrkulit putih, beda ras.

Semua seakan sempurna sampa Chris melihat tingkah laku janggal dari tukang kebun dan pembantu rumah tangga yang kebetulan berkulit hitam. Entah kenapa, semua orang kulit hitam yang Chris temui di sana bertingkah agak aneh. Bahkan ada salah satunya yang mendadak kehilangan kontrol emosi dan dengan histeris berteriak kepada Chris, “Get Out!”. Wah sama seperti judul filmnya yaa. Melihat ini, saya semakin penasaran, ada apa dengan orang-orang kulit hitam itu yaaa? Apakah Chris akan benar-benar melarikan diri?

Saya lihat Get Out (2017) mampu memberikan suguhan yang mampu membuat saya penasaran sekaligus sedikit tersenyum, film ini sepertinya bergenre misteri komedi. Dari awal saya sudah yakin bahwa lingkungan di sekitar keluarga Armitage pasti agak abnormal seperti The Stepford Wives (2004). Toh genrenya sa-sama mengandung komedi hehehe. Ternyata saya salah, apa yang terjadi di lingkungan keluarga Armitage lebih menyerupai The X-Files: I Want to Believe (2008) dengan pendekatan yang berbeda dan lebih baik karena ada selentingan humor di sana :D.

Dengan demikian, saya rasa Get Out (2017) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Misterinya lebih ke arah ilmiah kok, tidak ada setan-setanan di sana :).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/get-out

Iklan

The Boss Baby (2017)

Memiliki adik kecil terkadang bukanlah suatu hal yang disukai oleh si kakak. Si kakak bisa saja menganggap bahwa adik kecil akan merebut semua kasih sayang orang tuanya. Hal itulah yang dirasakan oleh Tim Templeton (Miles Christopher Bakshi) ketika pada suatu pagi, Theodore “The Boss Baby” Templeton (Alec Baldwin) hadi di tengah-tengah kehidupan keluarga Templeton.

Tim yang tadinya merupakan anak tunggal dan memperoleh 100% perhatian orang tuanya, sekarang harus membagi perhatian tersebut dengan Theodore yang masih bayi. Merasa kesal dan cemburu, Tim merasa bahwa Theodore alias Boss Baby adalah saingan dalam memperebutkan kasih sayang orang tua mereka. Sampai sini saya dapat menebak arah cerita The Boss Baby (2017), yaaa pastilah perseteruan antara Tim dan Boss Baby akan berakhir baik dimana keduanya akan semakin kompak sebagai kakak-adik. Bagus juga nih bagi anak-anak, ada nilai-nilai positif yang dapat dipetik :). Tapi apakah ini hanya kisah mengenai perseteruan kakak-adik saja? Apa bedanya The Boss Baby (2017) dengan film lain dengan tema serupa?

Sesuai judulnya, Boss Baby adalah faktorp pembedanuaya, ia ternyata bukanlah bayi biasa. Boss Baby adalah bayi yang bekerja di Baby Corp, sebuah perusahaan yang berisikan bayi. Jadi, bayi-bayi yang dihasilkan oleh Baby Corp diseleksi apakah bayi tersebut akan dikirim kepada keluarga atau masuk ke dalam manajemen Baby Corp. Bayi yang masuk ke dalam manajemen seperti Boss Baby, memiliki pengetahian dan tingkah laku seperti orang dewasa meskipun wujudnya tetap bayi.

Di sini Boss Baby dikirim menyamar ke dalam keluarga Theodore untuk menghentikan Puppy Corp merusak kelangsungan Baby Corp. Puppy Corp akan meluncurkan produk anak anjing jenis baru yang akan meningkatkan popularitas anak anjing sehingga masyarakat akan memilih anak anjing ketimbang bayi. Sebagai produsen dan distributor bayi, Baby Corp akan hancur apabila Puppy Corp berhasil.

Ok, kisah soal Boss Baby yang bertingkah seperti orang dewasa plus perseteruannya dengan Tim, memang lumayan lucu dan enak untuk diikuti. Tapi ketika Baby Corp dan Puppy Corp hadir, film animasi yang satu ini kok agak aneh yaaa. Selain itu banyak sekali adegan yang terlalu “menggampangkan” sehingga kurang seru.

Sorry to say tapi saya rasa The Boss Baby (2017) masih beberapa langkah di belakang Moana (2016) atau Zootopia (2016). The Boss Baby (2017) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: http://www.dreamworks.com/thebossbaby/

Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)

Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) termasuk film 2017 yang tidak akan saya lewatkan. Film ini tentunya akan kembali mengisahkan petualangan sekelompok mahluk luar angkasa yang terdiri dari Star-Lord atau Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket (Bradley Cooper) dan Groot (Vin Diesel). Memang sih tokoh-tokohnya tidak sepopuler The Avengers, tapi kisah The Guardians of the Galaxy tentunya akan tetap menarik diikuti karena kandungan humor yang lebih kental di sana. Selain itu, konon The Guardian of the Galaxy akan bergabung dengan The Avengers juga untuk melawan mega villain Thanos pada film berikutnya yang akan datang, bukan pada Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017) tentunya ;).

Berbeda dengan film superhero Marvel lainnya, Guardians of the Galaxy mengambil luar angkasa sebagai latar belakangnya, yaaa latar belakangnya jadi mirip Star Trek. Tentunya kita akan melihat pesawat luar angkasa, planet dan mahluk-mahluk luar angkasa yang unik. Mirip seperti film pertamanya, penampakan Bumi sebagai latar belakang rasanya hanya secuil saja, yaitu ketika mengisahkan latar belakang Peter Quill.

Masih segar diingatan saya, Guardians of the Galaxy (2014) diawali dengan asal mula Peter Quill atau Star Lord. Ibu Peter adalah manusia biasa yang meninggal dunia karena kanker otak. Kemudian Peter diambil dari Bumi oleh Yondu Udonta (Michael Rooker), pemimpin Ravengers. Ravangers sendiri merupakan sebuah kelompok pencuri, penyelundup dan bajak laut luar angkasa. Di sinilah Peter dibesarkan dan dilatih oleh Yondu sehingga Peter dapat memimpin Guardians of the Galaxy. Yondu selama ini telah menjadi figur ayah bagi Peter, namun tetap saja Yondu bukanlah ayah kandung Peter. Siapakah ayah Peter sebenarnya?

Mirip seperti Guardians of the Galaxy (2014), Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) diawali dengan Bumi di erah 80-an sebagai latar belakangnya. Untuk pertama kalinya, wujud ayah Peter muncul di sana. Bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah pertempuran luar angkasa, Guardians of the Galaxy diselamatkan oleh sosok misterius yang tak lain adalah ayah Peter. Dengan kekuatan dan teknologi yang dimiliki, Ego (Kurt Russell) datang menolong anaknya yang telah lama ia cari. . . . . . Ow ow ow ow tunggu sebentar, lha kok yang muncul malah Ego? Pada versi komik, ayah Peter Quill adalag J’son, raja dari bangsa Spartoi. Sementara itu Ego versi komik adalah sesuatu yang berbeda yaa, rasanya Ego lebih banyak berinteraksi dengan Thor dibandingkan Guardians of the Galaxy. Aahhh apakah Ego sama dengan J’son? Apakah Ego benar ayah Peter? Terlepas dari versi komiknya, Ego yang diperankan Kurt Russell bukanlah raja, melainkan semacam kaum celestial yang memiliki kemampuan penciptaan. Kaum ini bagaikan dewa bagi mahluk-mahluk luar angkasa karena umur dan kemampuannya yang luar biasa. Peter ternyata mewarisi beberapa kemampuan yang Ego miliki. Hanya saja, Peter separuh manusia sehingga ia memiliki hati nurani dan perasaan, hal itulah yang tidak dimiliki Ego sebagai kaum celestial murni.

Mendengar kabar bahwa Peter sudah bertemu dengan Ego, Yondu langsung berangkat menyusul Peter. Dahulukala, Yondu mengambil Peter dari Bumi atas permintaan Ego, namun Yondu tidak mengantarkan Peter kepada Ego. Yondu justru “menculik” Peter karena menurut Yondu, Peter berbakat menjadi anggota Ravangers seperti dirinya. Film Guardian of the Galaxy kali ini mengambil “keluarga” sebagai temanya dengan hubungan antara Peter dengan Ego dan Yondu berada di pusat. Ego, seorang dewa abadi yang maha kuat dan berkuasa, namun tidak pernah ada untuk Peter. Yondu, seorang penjahat yang agak brengsek dan keras, namun selalu ada untuk Peter dengan caranya sendiri. 2 figur ayah yang sama-sama memiliki kekurangan dan keabnormalan, tentunya menjadikan kisah Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) menjadi semakin unik.

Tidak hanya keluarga Peter, hubungan di dalam keluarga Gamora pun ikut ditampilkan di sini. Nebula (Karen Gillan) yang menjadi salah satu tokoh antagonis pada Guardians of the Galaxy (2014), kini hadir akantetapi sebagai sekutu Peter dan kawan-kawan. Asal mula hubungan benci tapi cinta antara Nebula dan Gamora dikemas dengan apik. Nebula dan Gamora adalah anak dari Thanos, dimana ketiganya saling benci satu sama lain.

Tidak hanya memperoleh Nebula sebagai sekutunya, hadir pula Mantis (Pom Klementieff) sebagai sekutu baru Guardians. Mantis memiliki kemampuan mendeteksi perasaan sekaligus mengubah perasaan mahluk lain, namun Mantis sendiri mempunyai kemampuan bersosialisasi yang buruk. Ketidakmanpuan Mantis bersosialisasi ini sering memancing tawa.

Bak film komedi saya sering tertawa ketika menonton film ini, terlebih lagi ketika melihat tingkah si kecil Groot yang hanya dapat berkata,”I am Groot” :D. Tokoh Guardians favorit saya bukanlah Peter, Gamora, Drax atau Rocket, melainkan Groot :D. Mimik dan tingkah yang lucu tidak mengurangi kontribusi Groot terhadap Guardians ketika bahaya datang. Tubuh yang mungil justru menjadi kelebihan Groot karena diam-diam Groot dapat menyusup ke dalam lorong-lorong sempit, hal yang tak dapat anggota Guardians lainnya.

Saya rasa Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) berhasil menjadi film yang lengkap. Di sana ada tawa canda, ada tangis yang mengharukan, tak lupa tentunya ada banyak adegan aksi yang apik dengan didukung special effeck yang bagus :). Saya rasa film ini lebih baik daripada film pertamanya.

Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pada film Marvel kali ini, Stan Lee bukanlah satu-satunya karakter yang sekilas muncul, hadir pula Sylvester Stallone sebagai . . . . aaahhh silahkan tonton sendiri filmnya, bagus kok ;).

Sumber: marvel.com/guardians

Passengers (2016)

Passengers (2016) dapat dikatakan sebagai termasuk film dengan trailer paling menggoda. Disana sekilas terlihat bahwa Jim Preston (Cris Pratt) dan Aurora (Jennifer Lawrence) terdampar di sebuat pesawat luar angkasa. Semua penumpang tersebut masih tidur manis di dalam kapsul tidur masing-masing. Saya pikir Passengers (2016) akan mengisahkan misteri kenapa kok hanya mereka berdua saja yang terbangun? Ada konspirasi atau mahluk luar angkasakah di sana?

Ow ow ow, saya salah besar. Passegers (2016) ternyata bukan film thriller atau misteri. Saya rasa film ini termasuk film drama romantis dengan balutan fiksi ilmiah lengkap dengan visual yang apik. Drama yang dihasilkan terbilang biasa-biasa saja, saya tidak melihat sesuatu yang wow di sana. Alasan kenapa Jim dan Aurora terbangun dari kapsul tidur mereka bukanlah misteri besar karena semua sudah diceritakan dengan runut, otomatis tidak ada kejutan di sana.

Rasanya Passegers (2016) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi pecinta drama romantis, silahkan tonton Passengers (2016), jangan salah sangka seperti saya yaaa, trailer-nya sesat nih hehehehh.

Sumber: http://www.passengersmovie.com

Sate Kambing H. Giyo 

Berbekal rekomendasi dari beberapa teman saya, akhirnya kemarin saya mampir di Sate Kambing H. Giyo yang terletak di Jalan D.I. Panjaitan No. 42, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, tak jauh dari Universitas Mpu Prapanca dan Pasar Gembrong. Konon Sate Kambing H. Giyo sudah ada sejak tahun 90-an dan selalu dipadati pengunjung. Terus terang, saya sudah tinggal di Jabodetabek sejak tahun 80-an dan sering lewar daerah Pasar Gembrong, tapi baru kemarinlah saya mendengar nama Sate Kambing H. Giyo, kurang gaul mungkin yaaah :P.

Warung Sate Kambing H. Giyo ternyata memang penuh dan ramai. Warung yang padat tersebut dipenuhi oleh asap hasil pembakaran sate kambing yang harummm, hmmm, semakin penasaran saja saya jadinya. Dari berbagai menu kambing yang ada, saya sendiri baru sempat mencicipi menu sate kambing dan sop kambingnya H. Giyo.

Bagian Dalam

Bagian Dalam

Sambil menunggu hidangan matang, pengunjung dapat menyantap otak-otak yang diaajikan dalam keadaan panan. Yaaah otak-otaknya lumayanlaaa, tapi rasa ikannya kurang terasa.

Otak-Otak

Sop kambing yang disajikan menggunakan banyak gajih dan rasanya biasa saja, saya tidak melihat hal yang istimewa dari sopnya. Lumayanlaah untuk membasahi nasi dan menemani hidangan lainnya.

Sop Kambing

Bagaimana dengan sate kambingnya? Sate kambing hadir dalam ukuran jumbo yang menggugah selera. Tingkat kematangan sate terbilang pas tapi secara keseluruhan rasanya tetap biasa yaaa walaupun saya sudah menggunakan kecap racikan ala H. Giyo. Yaaaah lumayanlaaahh, tapi bukan yang “wow”, hehehehe.

Sate Kambing

Secara keseluruhan, Sate Kambing H. Giyo mampu untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya lihat di sana banyak sekali pengunjung yang menyantap Tengklengnya, yaaaah mungkin di lain waktu saya akan mencicipi tengklengnya H. Giyo :).

Dredd (2012)

Ketika masih SD dulu saya pernah menonton film dengan tema futuristik yang berjudul Judge Dredd (1995) yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Film tersebut menampilkan aksi yang terbilang bagus untuk film keluaran tahun 1995, meskipun konon Judge Dredd (1995) dianggap sebagai salah satu film terburuk Sylvester Stallone, aktor laga yang sangat populet diera 90-an. Jauh 7 tahun kemudian, film mengenai Judge Dredd dihadirkan kembali melalui Dredd (2012).

Mirip seperti versi komik dan versi film tahun 1995, latar belakang Dredd (2012) adalah Bumi di masa depan yang penuh kehancuran. Di tengah-tengah wilayah yang tandus, terdapat Mega City 01, salah satu kota besar yang dapat dihuni manusia. Keterbatasan sumber daya dan kemiskinan menyebabkan kejahatan merajalela di dalam kota tersebut. Untuk mengatasi masalah ini, pihak pemerintah mengerahkan hakim jalanan yang berfungsi sebagai polisi, hakim, juri dan eksekutor.

Judge Joseph Dredd (Karl Urban) adalah salah satu hakim jalanan yang datang ke Peach Trees Tower untuk menyelidiki sebuah pembunuhan sadis. Di sana, Dredd berhasil menangkap seorang tersangka yang akan Dredd jebloskan ke penjara. Tapi sayang, sebelum Dredd beserta tawanannya dapat keluar dari Peach Trees, tiba-tiba gedung tersebut masuk ke mode darurat dan terkunci. Tidak ada yang dapat masuk atau keluar dari Peach Trees.

Gedung apa sebenarnya Peach Trees itu? Peach Trees adalah gedung kumuh yang dihuni oleh ratusan penduduk. Gedung yang dulunya dikuasai oleh beberapa geng ini, sekarang dikuasai oleh 1 geng yang dipimpin oleh Madeline “Ma-Ma” Madrigal (Lena Headey). Sekarang, Ma-Ma mengunci Dredd di dalam Peach Trees agar orang-orang suruhan Ma-Ma dapat membunuh Dredd.

Beruntung Dredd tidak sendirian, ia ditemani seorang mutant, Judge Cassandra Anderson (Olivia Thirlby). Cassandra dapat membaca pikiran dan memanipulasi pikiran orang lain. Tapi tetap saja, Dredd dan Cassandra hanya 2 hakim jalanan yang terjebak di dalam sarang geng sadisnya Ma-Ma. Gedung Peach Trees dihuni oleh banyak sekali anggota geng Ma-Ma, sementara itu sisanya hanyalah penduduk sipil biasa yang terlalu takut untuk menolong Dredd.

Aaahhh, Dredd (2012) sebenarnya mengingatkan saya kepada The Raid (2011). Jalan ceritanya mirip sekali, hanya saja penyampain Dredd (2012)  lebih bagus dan tidak terkesan hanya dar der dor saja. Saya rasa Dredd (2012) mampu memberikan cerita yang jelas dan tidak membosankan walaupun latar belakang lokasinya hanya di Prach Trees saja.

Untuk urusan action Dredd (2012) banyak menampilkan adegan yang keren tapi agak sadis sehingga tak layak ditonton anak-anak. Kostum pada film ini relatif lebih baik ketimbang kostum pada Judge Dredd (1995) tapi ya rasanya agak mengganjal terutama bagian helm Dredd yang secara logika harusnya menghalangi pandangan Dredd, helm begitu kok ya dipakai :’P.

Secara keseluruhan, Dredd (2012) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.  Tapi jangan ajak ana kecil tuk menonton film ini yaaa ;).

Sumber: http://www.dreddthemovie.com

Split (2017)

Kali ini saya akan membahas film psikopat karya sutradara keturunan India, M. Night Shyamalan. Tenaaang, mentang-mentang sutaradaranya keturunan India, bukan berarti Split (2017) termasuk film musikal yang ada joget-jogetnya :,D. Shyamalan selama ini terkenal akan film-film supranatural dan misteri dengan kejutan di bagian akhirnya

Split (2017) mengisahkan penculikan Casey Cooke (Anya Taylor-Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) yang dilakukan oleh Kevin Wendell Crumb (James McAvoy). Kevin menderita DID (Dissociative Identity Disorder) sehingga ia memiliki 23 kepribadian di dalam tubuhnya. Di sana ada Barry, Dennis, Patricia, Hedwig dan lain-lain. Rasanya hanya 4 kepribadian itulah yang dominan dan sering muncul. Kemana yang lainnya ya? Mungkin durasi filmnya akan terlalu panjang ya kalau semuanya dimunculkan di Split (2017) :’).

Semua keperibadian di dalam tubuh Kevin sama-sama percaya akan kehadiran The Beast, sebuah sosok misterius yang ganas dan menyeramkan.Penculikan yang dilakukan pun dilakukan terkait kehadiran The Beast. Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), psikiater Kevin, tidak sepenuhnya yakin apakah Beast termasuk kepribadian ke-24 atau hanya khayalan belaka atau mahluk yang ada di sekitar Kevin. Karen percaya bahwa penderita DID seperti Kevin kemungkinan memiliki  kemampuan supranatural misterius yang tidak dimiliki manusia normal. Apakah Karen benar?

Aaahhh sosok Beast memamg menjadi misteri sampai bagian akhir film. Mirip seperti film-film Shyamalan lainnya, Split (2017) minim lagu atau suara latar, agak sunyi senyaplahhh. Ditambah latar belakang yang itu-itu saja, terkadang Split (2017) terasa sedikit membosankan. Tapi terus terang Split (2017) adalah film karya Shyamalan paling tidak membosankan. Saya bukan fans Shyamalan dan saya relatif kurang suka dengan film-filmnya, ketika menonton film-film tersebut, rasanya saya ingin menonton bagian akhirnya saja supaya dapt melihat ada kejutan apa di film ini. Bagaimana dengan Split (2017), saya tidak merasakan “kesenyapan” yang pekat pada film ini. Shyamalan patut berterima kasih kepada James McAvoy yang mampu memerankan berbagai karakter gilanya Kevin dengan baik :). Berkat James, rasa bosan yang hinggap sedikit sekali jumlahnya, saya dibuat penasaran sepanjang film tanpa tertidur. Sayangnya hanya rasa penasaran saja yang saya rasakan, tidak ada ketegangan yang berarti di sepanjang film.

Sebagai film Shyamalan terbaik yang pernah saya tonton, Split (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Oh yaaa, Split (2017) ternyata terjadi di dunia yang sama dengan salah satu film lawas Shyamalan lhooo, apakah ini akan menjadi franchise seperti X-Men atau Friday The 13th?

Sumber: http://www.uphe.com/movies/split