The Forger (2014)

Forger 1

Setelah beberapa kali melewati papan iklan The Forger (2014) yang berwarna kebiruan, akhirnya semalam saya dan istri saya memutuskan untuk menonton film yang dibintangi oleh John Travolta tersebut.

Forger 2

Travolta kali ini memerankan Raymond J. Cutter, seorang narapidana kasus pemalsuan lukisan yang menyuap seorang hakim agar ia dapat keluar dari penjara lebih cepat dari waktu yang semestinya. Ironisnya Ray menyuap dengan meminjam sejumlah uang kepada seorang bandit yang menyebabkan Ray masuk penjara. Sekarang Ray harus membayar hutangnya dengan melakukan pemalsuan sebuah lukisan terkenal yang sedang dipamerkan di sebuah Museum.

Forger 3

Forger 5

Forger 4

Untuk apa Ray bersusah payah untuk dapat keluar penjara lebih cepat? Ray ingin menghabiskan waktunya dengan anaknya yang mengidap kanker stadium 4, Will Cutter (Tye Sheridan). Ray ingin menemani Will selagi bisa, Ray juga ingin mengabulkan beberapa permintaan Will sebelum ajal datang menjemput Will. Sambil mengabulkan permintaan-permintaan Will, Ray melakukan pemalsuan lukisan untuk melunasi hutangnya.

Forger 6

Forger 7

Forger 8

Kisah hutang Ray dan pemalsuan lukisan seolah menjadi kisah sampingan padahal judul film ini adalah the forger alias sang pemalsu. Kisah mengenai hubungan keluarga rasanya lebih dominan sehingga The Forger (2014) kurang pantas untuk dikatakan sebagai film crime thriller, The Forger (2014) adalah film keluarga yang diselingi kisah kriminal karena latar belakang pekerjaan si bapak sebagai pemalsu lukisan.

Pada awalnya, acara menonton The Forger (2014) adalah acara istri saya menemani saya menonton film, tapi kenyataannya adalah sebaliknya @__@. The Forger (2014) bukan jenis film yang dengan senang hati akan saya tonton karena film ini agak membosankan bagi saya sehingga The Forger (2014) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”.

Sumber: www.lionsgatepublicity.com/theatrical/theforger/

Iklan

The Voices (2014)

Voices1

Kali ini saya akan membahas mengenai film bergenre komedi gelap atau dark comedy, The Voices (2014). Film ini tentunya tidak ada hubungannya dengan kontes musik The Voices yang ditayangkan AXN :P. Sesuai genre-nya, jangan harap akan akhir yang bahagia, hampir bisa dipastikan bahwa akhir The Voices (2014) akan blur. Selain itu akan terdapat kegilaan di mana-mana.

Sesuai dengan judulnya, The Voices (2014) mengisahkan suara-suara yang muncul di dalam kehidupan Jerry Hickfang (Ryan Reynolds), seorang pekerja pabrik alat mandi. Sebagian besar suara-suara tersebut keluar dari mulut Mr.Whiskers & Bosco. Mr.Whiskers adalah kucing peliharaan Jerry yang sering mengeluarkan ide-ide jahat dan komentar-komentar sarkasme. Sedangkan Bisco adalah anjing peliharaan Jerry yang sering mengeluarkan ide-ide baik dam pendapat-pendapat dari sisi orang baik-baik. Bagaikan setan & malaikat, kedua suara tersebut berdebat di dalam kepala Jerry.

Voices2

Voices6

Voices9

Voices7

Karena sebuah peristiwa di masa lampau, Jerry memang sempat dirawat di RSJ. Saat ini pun, ia harus rutin menemui psikiater, Dr. Warren (Jacki Weafer). Sayang Jerry mengabaikan perintah Dr. Warren untuk meminum obat sehingga halusinasi dan suara-suara yang muncul di kepala Jerry semakin parah. Pada akhirnya Jerry harus berhadapan dengan beberapa peristiwa buruk yang berkaitan dengan 3 rekan kerjanya di kantor yaitu Fiona (Gemma Arterton), Lisa (Anna Kendrick) dan Alison (Ella Smith).

Voices4

Voices3

Voices8

Voices5

Voices10

Mirip dengan Birdman (2014), tokoh utama pada The Voices (2014) juga mendengar bisikan, hanya saja responnya berbeda. Saya lebih bisa menikmati The Voices (2014) ketimbang Birdman (2014). Kadar drama The Voices (2014) tidak sekental Birdman (2014). Sesuai dengan genrenya yaitu komedi gelap, saya masih dapat tertawa ketika melihat The Voices (2014), terutama ketika saya melihat melihat tingkah Mr. Whiskers, si kucing dari neraka x__x.

Meskipun terjadi banyak pembunuhan dan hal-hal yang agak gila, namun The Voices (2014) tidak menampilkan kesadisan seperti film horor Saw (2004), masih aman untuk saya tonton sambil makan nasi uduk, no problem. Saya rasa The Voices (2014) masih layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

 Sumber: www.arrowfilms.co.uk/the-voices/

Pengalaman Membeli Mobil di Akhir Tahun 2014

Menjelang akhir tahun 2014 lalu saya berniat untuk membeli mobil yang akan saya pergunakan di sekitar Jabodetabek. Karena saya kurang faham akan mesin dan serba serbi tentang mobil, saya berencana membeli mobil baru saja, bukan mobil bekas, takut salah beli, mobil itu bukan barang murah bagi saya. Setiap mobil memiliki waktu pakai masing-masing, mobil bekas sudah pasti usia pakainya lebih tua dibandingkan mobil bekas. Selain itu kita tidak tahu apa saja yang pernah menimpa mobil bekas tersebut, pernah kena banjir, kecelakaan atau lainnya. Sebenarnya semuanya tidak masalah andaikan kita lihai dan faham akan serba serbi permobilan. Bagaimanapun juga, mobil bekas sopasti lebih murah ketimbang mobil baru lhooh.

Setelah memutuskan untuk membeli mobil baru, saya berburu ke dealer-dealer mobil terdekat. Awalnya saya bingung ingin memilih untuk membeli mobil yang seperti apa jenisnya. Kalau dari bentuk, saya pribadi lebih senang dengan mobil jip seperti Toyota Rush, Mitsubishi Pajero dan kawan-kawan. Berhubung pengguna mobil ini nantinya bukan saya seorang saja, melainkan istri saya juga, mobil dengan bentuk jip tidak masuk lagi ke dalam kategori pencarian saya. Maka saya mulai mempertimbangkan fungsi dan harga dalam pencarian mobil ini.

Mobil Pajero

Mitsubishi Pajero

Mobil Pajero Spec1

Spec Pajero

Mobil Pajero Spec2

Spec Pajero

Kalau dilihat dari fungsi dan harga, sepertinya mobil-mobil 3 baris tempat duduk seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio, Suzuki Ertiga dan kawan-kawan akan lebih cocok bagi saya dan istri saya. Karena di akhir tahun 2014 lalu Toyota Avanza diskon gila-gilaan untuk menghabiskan stok 2014, saya pribadi sangat tergoda untuk membelinya, sayang istri saya kurang senang dengan Toyota Avanza karena bentuknya terlalu pasaran, membosankan dan kurang bagus. Weleh-weleh, entah kenapa saya sedikit setuju juga dengan pendapat tersebut, bentuk Avanza dan Xenia memang sudah lama seperti itu saja, tidak berevolusi.

Mobil Avanza 1

Toyota Avanza

Mobil Avanza 2

Fitur & Spec Avanza Veloz

Hhhhmmmm, kalau begitu mobil apa yah yang kira-kira cocok? Setelah browsing-browsing, akhirnya kami tergoda dengan Chevrolet Spin, mobil 3 baris tempat duduk yang bermesin diesel dengan cc rendah (1,3 cc) dan dirakit di Bekasi. Sayang belakang baru diketahui bahwa pabrik GE (General Motors) yang merakit Chevrolet Spin di Bekasi akan ditutup dan karyawannya terkena PHK semua :(. Terlepas dari tutupnya pabrik tersebut, saya tergoda dengan hadirnya mesin diesel cc kecil, biasanya mesin diesel memiliki cc yang besar, cc besar biasanya lebih boros bahan bakar. Harga mesin diesel sendiri sebenarnya relatif lebih mahal mahal ketimbang mesin berbahan bakar bensin biasa, namun mesin diesel lebih sederhana dan relatif lebih kuat, perawatannya cenderung tidak banyak mengeluarkan biaya, selain itu harga Solar lebih murah dibandingkan harga Premium atau Pertamax. Sayang sekali ketika saya hampir membayar DP ke dealer Chevrolet, saya & istri saya berubah pikiran. Selain harga jual mobil bekas non Jepang biasanya turun drastis dan suku cadangnya pun relatif mahal serta sulit diperoleh, kami memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dana yang kami miliki untuk membangun rumah. Terpaksalah kami harus mencari mobil dengan harga yang lebih rendah lagi. Hmmmm bingung lagi deh mau mobil yang seperti apa :(.

Mobil Spin 1

Chevrolet Spin

Mobil Spin 2

Spec Spin

Spec Spin

Spec Spin

Berhubung Nissan March saat itu sedang discount besar juga dan harganya dibawah Toyota Avanza atau Chevrolet Spin, maka saya & istri saya datang ke dealer Nissan untuk test drive dan tanya-tanya. Mulai saat itu kami memutuskan untuk membeli mobil tipe hatchback. Memang sih kapasitasnya terbatas, tapi kalau dipikir-pikir toh kami belum memiliki anak. Kalaupun nanti ada anak, rasanya mobil berkapasitas 4 sampai 5 orang seperti Nissan March masih dapat dipergunakan. Selain itu, kami saat ini masih tinggal di Apartemen yang parkirannya amit-amit penuhnya. Parkirnya relatif sulit karena agak mepet-mepet, lebih praktis kalau menggunakan mobil kecil. Tapi sebenarnya saya pribadi kurang suka dengan bentuk Nissan March sejak awal. Maaf tapi menurut saya bentuknya agak “culun”. Untunglah tambahan disain V di bagian depan Nissan March terbaru memang berhasil memperganteng tampilan Nissan March, meskipun setelah dipikir-pikir, . . . . yaaa tetap kurang ok juga :’D.

Mobil March 1

Nissan March

Mobil March 2

Fitur Nissan March

Mobil March 3

Spec March

Setelah lama berfikir, akhirnya kami memutuskan untuk turun derajat lagi. Kami mulai melihat mobil-mobil tipe termurah dari produsen mobil Jepang terkemuka yang mayoritas dihuni oleh mobil-mobil hatchback mungil dan masuk ke dalam kategori LCGC (Low Cost Green Car). Apa itu LCGC? Teorinya sih LCGC adalah mobil murah ramah lingkungan. Terlepas dari perdebatan politis apakah LCGC benar berguna bagi bangsa dan negara atau tidak, saya tertarik untuk meninjau kemungkinan membeli mobiil LCGC. Mobil yang masuk ke dalam spesifikasi LCGC pastilah mengalami downgrade dibandingkan produk lainnya meskipun sudah memperoleh keringanan pajak dari pemerintah. Sepengetahuan saya, ada 5 mobil LCGC yang saat itu beredar di Indonesia, yaitu Suzuki Karimun Wagon R, Datsun Go+ Panca, Honda Brio Satya, Toyota Agya dan Daihatsu Ayla. Wah wah wah, mau pilih yang mana ya?

Mobil Datsun 1

Datsun Go+ Panca

Mobil Datsun 2

Spect Datsun Go+ Panca

Mobil Karimun 1

Suzuki Karimun Wagon R

Mobil Karimun 2

Spec Karimun Wagon R

Mobil Agya Ayla 1

Toyota Agya

Mobil Agya Ayla 2

Spec Toyota Agya

Brio 1

Honda Brio Satya

Brio 3

Spec Honda Brio

Keenamnya memiliki harga yang beti alias beda-beda tipis, mirip, tak jauh berbeda. Datsun Go+ Panca lebih dahulu tereleminasi karena kasus knuckle dan cakramnya yang berkarat. Walaupun jawaban resmi dari Datsun adalah bahwa komponen tersebut memang tidak dilapisi anti karat tapi Datsun menjamin kekuatan dan umur dari komponen tersebut, saya termasuk orang yang tidak mau mengambil resiko, apalagi Datsun bukanlah merk yang terbilang populer di Indonesia belakangan ini.

Melihat dari bentuk, spesifikasi keamanan dan jumlah silinder, singkat kata akhirnya kami memilih untuk membeli Honda Brio Satya karena Honda Brio Satya memiliki 4 silinder, bentuk yang sesuai dengan selera kami dan fitur keamanan yang relatif lebih lengkap dibandingkan para pesaingnya. Mobil 4 silinder tentunya relatif lebih kuat dan memiliki getaran yang lebih sedikit dibandingkan mobil 3 silinder. Fitur keselamatan Honda Brio Satya pun relatif lebih lengkap dan meyakinkan karena dilengkapi oleh dual SRS airbag, ABS + EBD, pretensioner with load limiter seatbelt & G-CON + ACE.

Brio 4

Exterior Brio Satya

Brio 5

Interior Brio Satya

Brio 6

Interior Brio Satya

Brio 7

Fitur Keamanan Brio

Brio 8

Fitur Keamanan Brio

Kelemahan Honda Brio adalah pada bagian belakangnya yang didominasi oleh kaca, yaahh mirip Honda Civic tahun 80-an. Masalahnya apakah kaca tersebut cukup kuat? Saya percaya bagian belakangnya cukup kuat karena saya melihat demo membanting bagasi belakang Honda Brio dan hasilnya tidak retak atau pecah. Selain itu saya belum mendengar banyak kasus terkait masalah pada bagian belakang “mobil setrikaan” ini.

Brio 2

Bagian Belakang Honda Brio

Oh iya, ada satu lagi kelemahan Honda Brio Satya. Mobil ini dijual oleh dealer Honda yang terkenal pelit diskon atau promo :(. Hal ini sangat kontras bila dibandingkan dengan para pesaingnya. Akhirnya setelah berputar-putar dari 1 dealer Honda ke dealer Honda lainnya, akhirnya kami menemukan sales Honda yang relatif banyak memberikan promo dan diskon dibandingkan sales lainnya. Meskipun bekerja kepada 1 dealer yang sama, setiap sales bisa saja memberikan promo dan diskon yang berbeda-beda lhooo, tergantung orangnya ;).

Setelah test drive, akhirnya kami jadi membeli Honda Brio Satya merah walaupun konon warna mobil selain warna hitam, abu-abu atau putih relatif sulit dijual. Saya bosan dengan mobil warna abu-abu atau putih karena warna mobil saya sebelumnya berwarna abu-abut dan putih. Yah sudahlah, toh kami bukan tipe orang yang bosenan atau gonta ganti mobil. Rencananya mobil ini akan kami pergunakan sampai “habis” masa pakainya, sampai mogok-mogok tak jelas suatu hari nanti :).

Untuk tipe Honda Brio Satya yang kami beli, kami memilih tipe E dengan transmisi manual. Tipe E memang tipe yang paling lengkap dan mahal, tapi itu sebanding karena interiornya memang lebih bagus ketimbang 2 tipe di bawahnya. Pada awalnya kami ingin membeli Honda Brio Satya E yang bertransmisi automatic, tapi melihat jeda harga sekitar 20 juta-an, yaaah lebih baik kami membeli Brio Satya E yang bertransmisi manual saja. Mobil-mobil manual jaman sekarang sudah empuk dan ringan kok perpindahan giginya, tidak seperti mobil-mobil manual jadul yang pernah saya miliki sebelumnya x__x.

Brio 9

Tipe-Tipe Honda Brio

Setelah beberapa bulan mobil tersebut saya pergunakan di jalanan Jakarta yang macet, ternyata bensinnya sekitar 1:11, tidak sehemat yang saya prediksi sih :(. Apalagi kalau saya lihat di manual Honda Brio Satya, kendaraan mungil ini didisain untuk menggunakan bahan bakar RON (Research Octane Number) 90 ke atas padahal saya biasa menggunakan bensin Premium (RON 88). Bahan bakar di Indonesia yang memiliki nilai RON di atas 90 adalah Pertamax (RON 92), Pertamax Plus (RON 95), Shell Super (RON 92), Shell V-Power (RON 95) dan lain-lain, yang pasti harga per liternya lebih mahal daripada Premium :(. Kalau saya tetap menggunakan Premium, maka pembakaran di karburator mobil saya tidak akan optimum karena bahan bakar terbakar tidak pada waktu yang tepat sehingga terjadi detonasi pada mesin yang pada akhirnya akan mengurangi “usia” mesin mobil saya. Kalau mobil ini ingin saya pergunakan kira-kira sampai 4 atau 5 tahun, sebaiknya saya menggunakan Premium saja, toh pemilik setelah saya yang akan terkena dampaknya hehehehe. Tapi kalau saya bermaksud untuk menggunakan mobil ini sampai lebih dari 5 tahun, yaa dengan berat hati sebaiknya saya menggunakan Pertamax dan kawan-kawan :(, … entah … sampai saat ini saya masih menggunakan Shell Super tapi bukan tidak mungkin besok saya pindah ke Premium karena faktor harga.

Walaupun tidak sehemat yang saya prediksi dan didisain untuk menggunakan bahan bakar non subsidi, mobil yang saya beli tersebut ternyata cukup nyaman kalau dipergunakan ke luar kota seperti Puncak. Tidak ada masalah ketika kami bermacet ria di jalanan yang menanjak :).

Setelah seharian dipergunakan, entah di dalam kota atau di Puncak, mobil tentunya harus dicuci. Saya biasa mencuci mobil sendiri, lebih hemat hohohoho. Ketika sedang mencuci mobil tersebut, saya merasakan dan melihat bahwa plat body-nya Honda Brio Satya ini terasa tipis, berbeda dengan Honda New Brio (CBU). Plat Honda Brio Satya memang lebih “kaleng” dibandingkan plat Honda Jazz dulu yang pernah saya kemudikan, yaaah namanya juga mobil LCGC, pastilah berbeda dengan Honda Jazz dan New Honda Brio (CBU) yang tergolong bukan mobil LCGC. Tapi paling tidak ketipisan plat body tersebut ternyata tidak membuat mobil bergoyang ketika mobil kami dilewati bus atau kendaraan besar berkecepatan tinggi ketika kami sedang melaju di jalan tol.

Dari segi penampilan, Honda Brio Satya sama saja dengan Honda Brio Sport (CBU) meskipun harganya jauh berbeda karena Honda Brio Sport (CBU) bukan mobil LCGC dan diimport dari luar. Banyak pemilik Honda Brio Satya yang mengubah stiker belakang supaya mobilnya dikira Honda Brio Sport (CBU). Bah, percuma, setiap saya melihat Honda Brio sopasti itu Honda Brio Satya kecuali kalau warnanya biru atau hijau. Perlu diketahui, warna biru dan hijau hanya dimiliki oleh Honda Brio Sport (CBU), sedangkan warna oranye hanya dimiliki oleh Honda Brio Satya. Sementara itu warna lainnya seperti merah, hitam, putih dan lain-lain dimiliki oleh Honda Brio Satya dan Honda Brio Sport (CBU) hehehehe.

Apapun warnanya, apapun tipenya, semurah apapun harganya, saya bersyukur sudah dapat membeli kendaran dengan jerih payah sendiri. Semoga berkah dan tidak kena baret motor :P. Pendapat saya di atas adalah pendapat saya pribadi, mohon maaf kalau ada yang menyinggung terutama teman-teman yang bekerja di bidang otomotif :).

Sumber: www.chevrolet.co.id, www.toyota.astra.co.id, www.honda-indonesia.com, www.daihatsu.co.id, www.suzuki.co.id, www.nissan.co.id, www.datsun.co.id.

Dying of the Light (2014)

Dying Light 1

Dying of the Light (2014) adalah film bergenre thriller yang mengisahkan mengenai perburuan seorang musuh lama oleh Evan Lake (Nicolas Cage), seorang mantan agen lapangan CIA. Ketika masih muda dulu, Evan sempat ditangkap dan disiksa oleh Muhammad Banir (Alexander Karim). Beruntung bala bantuan yang datang berhasil membebaskan Evan dan membunuh Banir.

Ketika Evan sudah menua dan sudah tidak bekerja lagi di lapangan, Evan mendapatkan informasi yang mengindikasikan bahwa sebenarnya Banir masih hidup, namun saat ini Banir sedang sakit parah. Kesempatan ini Evan gunakan untuk memburu Banir meskipun ia tidak mendapatkan restu dari CIA.

Dying Light 7

DYING OF THE LIGHT

Evan tidak sendirian, ia didampingi oleh seorang agen muda, Milton Schultz (Anton Yelchin). Keduanya berangkat ke Eropa Timur dan Afrika untuk memburu seorang musuh tua yang sedang sakit.

Dying Light 4

Dying Light 3

D02_0271.NEF

Awalnya saya pikir kisah perburuan ini akan seru, sayang ternyata kisah perburuan ini ternyata relatif sederhana dan terlihat mudah. Walaupun Evan sudah tua, pikun dan sering mengalami tremor tangan, musuh utama yang Evan hadapi sudah sakit tergelatak tak berdaya. Jiaaaaah, payah, kurang seru, tidak ada greget dan tidak ada faktor X yang mengejutkan. Ketika saya menonton bagian akhir Dying of the Light (2014), saya hanya dapat berkomentar “gini aja nih?”.

Dying Light 2

Dying Light 8

Dying Light 9

Dying of the Light (2014) hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skalam maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untunglah saya tidak menontonnya di bioskop. Sayang sekali aktor papan atas pemenan Academy Awards seperti Nicolas Cage akhir-akhir ini turun derajat bermain di film-film kelas B yang sering mendapat nilai 2 dari saya :(.

Divergent (2014)

Divergent 1

Sebenarnya saya tergolong telat menonton Divergent (2014). Film ini sudah hadir sejak tahun lalu tapi saya baru sempat menontonnya kemarin di TV ketika sedang mudik ke rumah orang tua saya. Well, late is better than never ;).

Apakah Divergent (2014) itu? Judulnya agak asing di telinga saya. Divergent (2015) meeupakan film yang diadaptasi dari novel best seller karangan Veronica Roth dengan judul yang sama. Dikisahkan bahwa setelah sebuah perang terjadi, masyarakat di sebuah kota yang merupakan gambaran masa depan dari Chicago, dipecah ke dalam 5 fraksi berdasarkan sifat dasar manusia yaitu Abnegation (suka memberi), Amity (cinta damai), Candor (jujur), Dauntless (pemberani) dan Erudites (pintar). Anak-anak muda yang telah menginjak usia 16 tahun harus mengikuti sebuah tes yang akan menunjukkan di fraksi manakah sebaiknya ia bergabung. Setelah tes tersebut, mereka harus memilih untuk bergabung ke fraksi yang mana. Masing-masing fraksi memiliki tes inagurasi bagi para anggota baru. Siapapun yang gagal dari inagurasi tersebut akan tinggal di jalanan dan menjadi fractionless.

Divergent 9

Hasil tes yang telah dilaksanakan pada awal proses ini diharapkan mampu membantu para anak muda tersebut untuk memilih fraksi yang pas dengan hati nuraninya dan tidak gagal dalam proses inagurasi. Hal ini mudah saja bagi para anak muda yang memperoleh hasil tes yang meyakinkan. Namun bagaimana bila hasil tes menunjukkan bahwa ia pantas untuk menjadi Dauntless, Erudites dan Abnegation? Hal inilah yang dialami oleh Beatrice “Tris” Prior (Shailene Woodley). Hasil tes yang Tris dapatkan tersebut menunjukkan bahwa Tris adalah seorang Divergent. Ia memutuskan untuk merahasiakan hal ini dan memilih untuk bergabung dengan fraksi Dauntless sebab Divergent dianggap sebagai orang-orang berbahaya yang dapat merusak tatanan masyarakat yang saat ini sedang berjalan.

Sebelum resmi menjadi seorang Dauntless, Tris harus lolos dari tes inagurasi Dauntless yang keras. Tidak hanya harus lolos inagurasi, Tris harus berusaha agar identitas rahasianya sebagai Divergent tidak terungkap karena ternyata setiap penduduk yang terdeteksi sebagai Divergent akan ditangkap dan dihukum. Beruntung di sana Tris bertemu Tobias “Four” Eaton (Theo James), instruktur Dauntless yang misterius. Four bersedia membantu Tris karena mereka berdua ternyata memiliki banyak kesamaan.

DIVERGENT

Divergent 7

Divergent 3

Divergent 6

DIVERGENT

Divergent 2

Belakangan Tris dan Four mencium gelagat mencurigakan dari fraksi Erudites yang dipimpin oleh Jeanine Matthews (Kate Winslet). Erudites memang sedang berusaha menggulingkan kekuasaan yang saat ini dipegang oleh Abnegation, fraksi dari kedua orang tua Tris. Fraksi Erudites pulalah yang paling keras menyerukan hukuman bagi setiap Divergent yang hidup. Apakah rencana Erudites yang sebenarnya? Silahkan tonton Divergent (2014) untuk memperoleh jawabannya :).

Divergent 10

Saya menikmati jalan cerita Divergent (2014), usaha Tris untuk lulus inagurasi Dauntless sekaligus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Divergent, Divergent memiliki beberapa kelebihan lhoo. Ketika Erudites melancarkan aksinya, cerita agak sedikit hambar, syukurlah Divergent (2014) diakhiri dengan aksi yang cerdas :).

Melihat Divergent (2014) mengingatkan saya kepada Hunger Games (2012). Mungkin karena latar belakangnya yang sama-sama menggunakan alam & kota Amerika yang mirip seperti sekarang tapi ada sedikit atribut tambahan yang tak terlalu mencolok atau menonjol sekali, atribut tambahan yang cukup menunjukkan bahwa kejadian pada film tersebut terjadi pada suatu waktu di masa depan. Selain itu, baik Divergent (2014) maupun Hunger Games (2012) memiliki seorang wanita sebagai tokoh utamanya. Kedua tokoh utama tersebut memiliki sifat yang mirip, sama-sama kalem tapi pemberani. Keduanya juga sama-sama berawal dari bukan siapa-siapa, kemudian menjadi seseorang yang dikenal dan memiliki kelebihan.

Divergent 8

Tapi kalau boleh memilih, saya lebih suka Divergent (2014) ketimbang Hunger Games (2012) walaupun Hunger Games (2012) lebih dahulu hadir sehingga Divergent (2014) nampak kurang original. Secara keseluruhan, rasanya Divergent (2014) layak untuk mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sudah pasti saya akan menonton kelanjutan Divergent (2014), yaitu Insurgent (2015) yang konon akan hadir akhir bulan ini ;).

Sumber: divergentthemovie.com

Draft Day (2014)

Draft Day 1

Begitu melihat poster Draft Day (2014), saya kira saya akan disuguhkan film yang mengisahkan bagaimana sekelompok tim American football bertanding demi meraih kemenangan seperti yang ditunjukkan pada The Replacements (2000) atau Remember The Titans (2000) atau The Longest Yard (2005). Dugaan saya meleset, Draft Day (2014) adalah film drama olahraga, bukan action olahraga. Draft Day (2014) mengambil sepenggal kisah yang unik dari sebuah proses kompetisi NFL, kompetisi olahraga American football profesional terbesar di Amerika Serikat.

Awalnya saya agak bingung ketika menonton Draft Day (2014) karena saya belum tahu apa itu draft? Menonton pertandingan NFL saja jarang. Neskipun American football sangat populer di Amerika sana, olahraga tersebut tidak populer di negara tanah air saya, Indonesia. Seharusnya Draft Day (2014) memberikan prolog yang lebih lengkap di awal film, memangnya yang menonton orang Amerika semua? Memangnya kompetisi NFL populer sampai ke seluruh dunia? Masih kalah populer laaaah kalau dibandingkan dengan Piala Dunia, Liga Champion, Liga Italia, Olimpiade atau kompetisi NBA.

Setelah menonton Draft Day (2014) saya akhirnya tahu tata cara draft NFL seperti apa. Setiap tahun semua tim yang mengikuti kompetisi NFL diperbolehkan merekrut 7 orang pemain American football kuliahan melalui sebuah sidang besar yang disebut NFL Draft. Perekrutan dilakukan satu per satu. Tim pertama berhak memilih 1 pemain, kemudian setelah itu tim kedua memilih pemain lain yang belum dipilih oleh tim pertama. Proses ini berputar dan berulang sampai 7 kali sampai semua tim memiliki 7 pemain muda baru. Setiap tim memiliki pilihan pertama, kedua, ketiga sampai ketujuh. Urutan pemilihan pemain dan urutan kesempatan memilih pemain ini dapat diubah, ditukar dan dinegosiasikan dengan kesepakatan-kesepakan tertentu diantara tim-tim yang terlibat. NFL Draft sangat berpengaruh bagi masa depan para anak muda yang bermimpi untuk bermain di kompetisi NFL karena setiap orang hanya diperbolehkan mengikuti draft sekali.

Draft Day 2

Pada Draft Day (2014) dikisahkan bahwa tim Seattle Seahawks mendapatkan urutan pertama untuk memilih pemain baru pada NFL Draft 2014. Kemungkinan besar Seattle Seahawks akan memilih Bo Callahan (Josh Pence), pemain quarterback yang tampil gemilang pada kejuaraan Piala Heisman. Pemilik Cleveland Browns, Anthony Molina (Frank Langella), menganggap Browns tidak memiliki quarterback yang bagus dan dalam kondisi fit. Molina meminta Sonny Weaver (Kevin Costner), General Manager Brown, untuk membuat kesepakatan dengan Seahawks untuk mendapatkan urutan pertama dalam pemilihan pemain sehingga Browns mendapatkan Bo Callahan.

DRAFT DAY

 Draft Day 5

DRAFT DAY

Draft Day 4

Draft Day 7

Harga yang harus Browns bayar untuk mendapatkan urutan pertama tersebut terbilang mahal karena Seahawks meminta jatah pilihan pemain pertama Browns untuk draft tahun 2015, 2016 dan 2017. Sonny sendiri sebenarnya masih meragukan apakah Bo merupakan pemain yang tebat bagi Browns, ia pun masih ragu dan tak segan untuk melakukan negosiasi-negosiasi dengan para General Manager tim NFL lainnya sampai pada menit-menit terakhir.

Draft Day 9

Draft Day 8

Draft Day 10

Disela-sela kesibukannnya, Sonny juga mengalami masalah lain seperti kehamilan kekasihnya, Ali Parker (Jennifer Garner), serta meninggalnya ayah Sonny yang merupakan legenda dari Browns. Ironisnya, beberapa minggu sebelum ayahnya tewas, Sonny-lah yang memecat ayahnya sendiri dari kursi pelatih Browns.

Saya tidak tahu bahwa ternyata intrik-intrik dibalik NFL Draft dapat menjadi sesuatu yang menarik untuk ditonton meskipun saya tidak terlalu faham American football. Sayang pengaruh dari negosiasi yang Sonny lakukan tidak dikisahkan lebih lanjut, apakah hal tersebut memang memberi pengaruh yang baik bagi Browns atau justru sebaliknya. Sebagai informasi, pada kenyataannya Seattle Seahawks adalah pemenang Super Bowl NFL 2013-2014 dan runner up Super Bowl NFL 2014-2015. Bagaimana dengan Cleveland Browns? Sampai saat ini Browns belum pernah memenangkan Super Bowl :’/. Tapi bagaimana pun juga, Draft Day (2014) sudah memberikan hiburan yang pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” :).

Sumber: www.draftdaythemovie.com

Reclaim (2014)

Reclaim 1

Bencana terjadi dimana-mana tanpa memandang batas negara. Anak-anak yatim piatu semakin bertambah jumlahnya ketika bencana besar hadir di Bumi ini. Beberapa keluarga yang tergolong mampu, tergerak hati nuraninya untuk mengadopsi satu atau beberapa anak yatim piatu tersebut. Hal inilah yang dilakukan oleh pasangan suami istri Steven (Ryan Phillippe) dan Shannon (Rachelle Lefevre). Mereka datang ke Puerto Rico untuk mengadopsi Nina (Briana Roy), anak yatim piatu dari sebuah bencana besar di Haiti.

Reclaim 2

Reclaim 3

Reclaim 4

Ketika sedang menyelesaikan surat-surat adopsi dan kepindahan Nina, Steven dan Shannon bertemu dengan Benjamin (John Cusack), Salo (Jandrez Burgos) dan Paola (Veronica Faye Foo). Pertemuan tersebut ternyata membawa Steven & Shannon ke dalam lingkaran hitam jaringan penipuan. Terjadilah aksi kucing-kucingan di Puerto Rico yang memiliki alam yang sangat mirip dengan Indonesia.

Reclaim 8

Reclaim 6

Reclaim 7

Reclaim 5

Reclaim 9

Saya melihat banyak sekali kelemahan dalam jalan cerita Reclaim (2014) seperti buat apa ada perkenalan antara Steven dan Shannon dengan Benjamin dan kawan-kawannya? Buat apa ada perkelahian di bar? Hal-hal ini tidak terlalu penting dan tidak memiliki korelasi yang nyata dengan taktik penipuan yang terjadi.

Reclaim (2014) sama sekali tidak menegangkan atau penuh kejutan sebab ceritanya memang sederhana. Saya rasa Reclaim (2014) hanya mampu untuk mendapatkan nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Ternyata poster iklan Reclaim (2014) memang sama kurang bagusnya dengan filmnya. Nama besar John Cusack gagal menyelamatkan Reclaim (2014).