Mortal Engine (2018)

Mortal Engine (2018) bercerita mengenai keadaan Bumi di masa depan. Semua yang kita miliki saat ini dianggap sebuah artefak dari masa lampau. Dunia yang kita temui di abad 21 ini hancur karena penggunaan energi kuantum. Dunia beserta manusianya pun mengalami perubahan gaya hidup. Manusia di masa depan harus bertahan hidup di tengah-tengah Bumi yang beracun.

Di wilayah Eropa, manusia tidak lagi tinggal di wilayah yang berdiri di atas tanah. Mereka tinggal di kota-kota yang berupa kendaraan raksasa. Kota-kota tersebut berpindah-pindah untuk berdagang dan menghindari kota-kota lain yang berniat buruk. Awalnya, Mortal Engine (2018) memberikan gambaran akan sebuah masa depan yang berbeda dan unik. Sebuah dunia yang luas, megah dan menarik untuk dilihat. Namun apakah itu cukup untuk membuat Mortal Engine (2018) tampil sebagai film yang menarik?

London adalah sebuah kota besar yang berpindah-pindah melahap kota-kota kecil yang mereka ditemui. Di kota inilah terdapat sebuah rencana besar yang dapat membuat dunia kembali hancur. Seperti biasa, tentunya terdapat beberapa tokoh protagonis yang mencoba menghentikan bencana tersebut. Sebuah jalan cerita yang sudah sering saya lihat pada film-film mengenai dunia di masa depan yang tidak sempurna.

Belum lagi terdapat sub plot yang cukup panjang dan … ternyata tidak terlalu berhubungan dengan plot utama x_x. Semuanya hanya ingin mengisahkan masa lalu si tokoh utama. Tokoh utama yang tidak terlalu saya pedulikan. Mortal Engine (2018) gagal membuat saya peduli dengan tokoh-tokoh yang mereka perkenalkan. Film ini memperkenalkan beberapa tokoh tanpa memberikan penekanan bahwa inilah tokoh yang sangat penting. Tokoh yang kalau dilihat ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap plot utama, seolah memperoleh porsi yang terlalu besar. Potensi-potensi akan konflik pun sepertinya kurang ditonjolkan dengan baik, sehingga semua hanya lewat seperti angin lalu saja.

Semuanya sedikit terselamatkan oleh latar belakang yang terlihat megah. Sebuah dunia yang nampak unik sampai …. menjelang akhir cerita. Mortal Engine (2018) sukses mempekenalkan kota-kota nomanden yang berpindah-pindah dengan mesin-mesinnya yang megah. Namun film ini gagal memperkenalkan jenis kota-kota lain yang ternyata ada di dalam cerita. Semua terasa terburu-buru dan kurang pas.

Bisa saja ini terjadi karena Mortal Engine (2018) berusaha menceritakan kisah utama pada novel Mortal Engine karangan Philip Reeve yang terdiri dari 4 buku. Bayangkan saja, 4 buku novel mau dikisahkan hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Ini bukan hal yang tidak mungkin, tapi sopasti ini bukanlah hal yang mudah.

Dahulu kala Peter Jackson pernah berhasil memfilmkan Lord of the Rings yang diadaptasi dari sebuah novel legendaris. Campur tangan Jackson dalam Mortal Engine (2018) sebenarnya sudah terlihat ketika film ini menunjukkan latar belakang yang megah dan fantastis. Namun, kehadiran Jackson yang kali ini hadir sebagai salah satu produser, gagal mengangkat Mortal Engine (2018) menjadi sebuah adaptasi novel yang menarik.

Cerita yang basi dan pendalam karakter yang kurang membuat saya tak heran kalau Mortal Engine (2018) gagal di tanggal Box Office. Maaf seribu maaf, Mortal Engine (2018) hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Film yang kurang ok, bukan berarti novelnya juga kurang ok loh. Keempar seri novel Mortal Engine berhasil memenangkan berbagai penghargaan loh. Berbanding terbalik dengan versi filmnya.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/mortal-engines

Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018)

Kafir (2002) adalah salah satu film horor Indonesia yang pernah saya tonton duluuuu sekali. Film yang dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo dan Meriam Bellina tersebut berbicara mengenai kisah perjalanan hidup seorang dukun santet. Ceritanya sih sebenanrnya mirip sekali dengan beberapa cerita di sinetron Hidayah yang pernah diputar di TV nasional heheheh. Pada awalnya, Kafir (2002) hendak diremake oleh pihak Starvison. Yah buat apa diremake, lha wong film aslinya saja tidak sampai dapat predikat film legenda kok. Beruntung akhirnya dibuat kisah yang berbeda melalui Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Film ini memang memiliki judul yang mirip dengan tema yang mirip, tapi ceritanya jauh berbeda loh.

Sudjiwo Tedjo kembali hadir sebagai dukun santet pada film Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018). Namun ia bukanlah fokus utama dari film ini. Kali ini dikisahkan bahwa terdapat 1 keluarga yang hidup harmonis dan penuh kebahagiaan. Semua nampak sempurna  sampai si bapak mendadak meninggal dunia dihadapan keluarganya.

Kini hanya ada Sri (Putri Ayudya) beserta kedua anaknya yaitu Dina (Nadya Arina) dan Andi (Rangga Azof). Sesekali kekasih Andi, Hanum (Indah Permatasari), datang ke rumah menemari keluarga yang sedang berduka. Sayang, tragedi belum selesai menghampiri keluarga Sri. Sejak kematian suaminya, keluarga Sri mendapatkan teror-teror dalam wujud yang menyeramkan. Semua terkait santet dan dunia supranatural yang ternyata sudah sejak lama melekat pada keluarga tersebut.

Di sini penonton dibawa ke dalam penyelidikan akan masa lalu keluarga Sri beserta penyebab teror yang mereka alami. Siapa penyebab dan biang keladi dari semua ini dibuat sebagai misteri yang membuat penonton terpaku di depan layar. Sayang sekali saya berhasil menebak siapa biang keladinya sejak pertangahan film, sangat mudah ditebak sih sebenarnya. Namun jalan cerita yang alurnya runtun dan menyenangkan, membuat saya tetap nyaman menonton Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sampai tuntas.

Nuansa misteri film ini sangat kental melebihi kadar horornya. Praktis tak ada sosok horor utama yang menjadi icon pada film ini. Jangan harap pula terdapat jump scare yang mengagetkan pada film ini. Horor klasik sudah cukup terasa di sana, meski memang tidak terlalu banyak. Latar belakang rumah tua di perkampungan di era tahun 80-an mengingatkan saya kepada Pengabdi Setan (2017). Apalagi terdapat pemutara piringan hitam lagu lawasnya Tetty Kadi yang berjudul Mawar Berduri. Ok, itu memang lagu lawas, tapi tidak semenakutkan lagu lawas yang juga diputarkan pada piringan hitam di Pengabdi Setan (2017).

Yaah, saya pribadi memandang Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018) sebagai film detektif di tengah-tengah dunia santet dan perdukunan Indonesia. Saya rasa film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Inilah film Indonesia terbaik yang diputar pada tahun 2018.

Sumber: klikstarvision.com/page/movie_detail/180/sinopsis/KAFIR

The Great Battle (2018)

Mendengar kalimat Romance of the 3 Kingdoms, pastilah kita teringat akan kisah peperangan besar antara 3 kerajaan besar di dataran Cina sana, yaitu Shu, Wu dan Wei. Ternyata di Korea pun ada Romance of the 3 Kingdoms loh, yaitu antara kerajaan Baekja, Silla dan Goguryeo. Ketiganya terus bertempur demi menguasai seluruh Korea. Beberapa kisah pertempurannya sangat dipengaruhi oleh kerajaan tetangga seperti Cina dan Jepang.

Pada The Great Battle (2018) atau Ansi Fortress atau 안시성, dikisahkan bahwa Kekaisaran Tang yang sedang berkuasa di Cina, ingin menguasai Korea. Satu per satu wilayah Korea berhasil Tang kuasai. Sebagai kerajaan yang pada masa jayanya berhasil menguasai bagian tengah dan utara Korea, sampai daerah Mongolia, kerjaan Goguryeo menjadi target utama Kekaisaran Tang. Di bawah Kaisar Taizong atau Li Shimin (Park Sung-woong), bala tentara Tang terus maju ke dalam wilayah Goguryeo yang baru saja mengalami konflik internal.

Raja dari Guguryeo baru saja digulingkan oleh Jendral Yeon Gaesomun (Yu Oh-seong). Jendral Yeon segera menjadi penguasa Goguryeo secara de facto. Sejarah mencatat bahwa terjadi perdebatan sengit karena Raja Goguryeo saat itu dikabarkan memang lemah terhadap Kekaisaran Tang dan Sang Raja ternyata berusaha membunuh Yeon terlebih dahulu. Tidak semua rakyat Goguryeo mengakui kekuasaan Jendral Yeon, termasuk Yang Manchun (Jo In-sung).

Yang adalah penguasa Benteng Ansi yang melindungi semua penduduk di wilayah tersebut. Ia menolak untuk mengirimkan pasukan bantuan kepada Yeon padahal saat itu Yeon sedang membela Goguryeo dari invasi Tang. Pembangkangan ini membuat Yeon geram dan mengirimkan Sa-mul (Nam Joo-hyuk) sebagai mata-mata ke dalam Benteng Ansi. Di saat yang sama, pasukan Tang sedang bergerak ke arah Benteng Ansi. Mereka optimis dapat menguasai Ansi dengan mudah karena mereka sudah berhasil menguasai benteng-benteng Goguryeo lain yang lebih besar dari Benteng Ansi.

Kalah jumlah bukan berarti kalah semangat. Yang ternyata merupakan pemimpin cerdas yang kharismatik. Ia mampu memelihara mental prajuritnya selama berbulan-bulan. Sa-mul yang melihat itu, mulai gundah apakah ia akan tetap menjalankan perintah Yeon atau ikut membelot bersama Yang. Di mata Sa-mul, Yeon dan Yang sebenarnya sama-sama merupakan pemimpin baik yang rela mengorbankan apapun demi menyelamatkan Goguryeo dari invasi Tang.

Konflik batin yang Sa-mul hadapi sangat mudah ditebak arahnya. Cerita dan akhir The Greatest Battle (2018) pun sebenarnya sudah terlihat dari pertengahan cerita. Tapi taktik perang yang ditampilkan sangatlah menarik. Adegan aksinya pun sangat memukau. Inilah keunggulan utama dari The Greatest Battle (2018). Mungkin ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan sejarah, tapi saya rasa hal tersebut tidak terlalu fatal. Bagaimana pun juga, terdapat daerah abu-abu di dalam sejarah sebab sejarah ditulis oleh pemenang [^_^]v. Saya rasa film Korea yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: its-new.co.kr

Searching (2018)

Searching (2018) mengisahkan bagaimana David Kim (John Cho) mencari anak remajanya yang hilang, Margot Kim (Michelle La). Dari pihak kepolisian, Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) datang memberikan bantuan. Kasus ini memberikan sebuah kejutan yang tidak saya duga sebelumnya.

Semakin lama, misteri akan hilangnya Margot membuka luka lama keluarga Kim. Di awal, cerita memang dikisahkan bagaimana keluarga Kim yang pada awalnya lengkap, harus kehilangan sosok ibu. Margot adalah satu-satunya yang David miliki, jadi sangat masuk akal kalau David mati-matian mencari Margot. Di sini saya melihat keharuan dan kepatangmenyerahan David, sampai ia dapat menguak misteri. Ini pertama kalinya saya melihat John Cho, pemeran David Kim, berhasil memerankan karakter yang serius. Sebelumnya ia sering muncul pada film-film komedi yang bagi saya pribadi agak kurang lucu :’D. Awalnya saya agak ragu, kok tokoh utama film seperti ini justru aktor yang sering bermain di komedi yah. Ahh ternyata John dapat pula berakting serius pada Searching (2018).

Film ini memang memiliki kejutan dan chemistry di dalamnya, tapi uniknya semua itu digambarkan melalui komputer-komputer yang keluarga Kim miliki. Jadi sepanjang film, penonton disuguhkan sebuah layar komputer dimana semua karakter saling berinteraksi. Saya rasa pendekatan ini tidak akan membingungkan penonton yang tidak fasih dengan komputer jenis tertentu. Saya yang tidak pernah menggunakan komputer Machintosh, tidak merasa kesulitan dalam mengikuti jalan cerita ketika layar dan aplikasi Machintosh yang digunakan. Semuanya mampu dikomunikasi dengan sangat baik :).

Bagi saya pribadi, Serching (2018) bukanlah film pertama yang menggunakan pendekatan sebuah perangkat elektronik untuk mengisahkan ceritanya. Kisah misteri tentang ayah yang mencari anak pun sudah beberapa kali saya tonton. Tapi semuanya mampu dikombinasikan dengan baik sekali sehingga menghasilkan Searching (2018), sebuah film yang layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jelas merupakan film tahun 2018 yang wajib ditonton.

Sumber: http://www.searching.movie

The Darkest Minds (2018)

Melihat trailer The Darkest Minds (2018), saya kira film ini akan bercerita mengenai mutant, yaaaah paling sejenis X-Men laaah. Ahhh ternyata saya salah besar. The Darkest Minds (2018) ternyata mirip dengan film-film bertemakan remaja berbakat di masa depan yang suram seperti Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Wow, bukankah era film-film seperti ini sudah lewat?

Pada Darkest Minds (2018), dikisahkan bahwa 90% anak di dunia, tewas oleh sebuah penyakit misterius. Sisanya yang selamat, tiba-tiba memiliki kemampuan khusus. Pihak pemerintah yang ketakutan, memasukkan anak-anak yang selamat ke dalam kamp-kamp. Di sana, mereka dibagi ke dalam beberapa golongan sesuai dengan kemampuannya.

Golongan hijau memiliki kejeniusan di atas rata-rata. Golongan biru memiliki kemampuan telekinesis, memanipulasi objek dari jarak jauh.Golongan kuning memiliki kemampuan memanipulasi listrik. Golongan merah memiliki kemampuan memanipulasi api. Golongan oranye memiliki kemampuan memanipulasi pikiran orang lain. Nah, pemerintah memutuskan untuk membunuh semua golongan merah dan oranye karena dianggap terlalu berbahaya.

Ruby Daly (Amandla Stenberg) merupakan golongam oranye yang melarikan diri dari pihak-pihak yang ingin membunuhnya atau memanfaatkan kekuatannya. Dalam pelariannya, Ruby bergabung dengan beberapa anak lain dari golongan yang berbeda. Di sana ada Liam Steward (Harris Dickinson) si golongan biru, Zu (Miya Cech) si golongan kuning dan Chubs (Skylan Brooks) si golongan hijau. Keempat anak dengan kemampuan beragam tersebut, bahu-membahu menghadapi berbagai rintangan.

Saya menikmati setengah awal dari Darkest Minds (2018). Terdapat berbagai masalah dan konflik yang dibangun dengan cara yang menarik. Sayang, pada pertengahan film, semuanya mulai hambar dan membosankan. Terdapat sub-plot tak bermakna di sana. Terdapat pula romansa ABG yang garing di sana. Darkest Minds (2018) pun tak ubahnya seperti duplikat dari Divergent (2014), The Maze Runner (2014) dan kawan-kawan. Hal ini agak mengecewakan, karena Darkest Minds (2018) seharusnya dapat memberikan sesuatu yang lebih segar. Tapi sepertinya saya tidak bisa berharap banyak juga karena belakangan saya baru mengetahui bahwa Darkest Minds (2018) ternyata dibuat berdasarkan sebuah novel remaja dengan judul yang sama. Nampaknya Darkest Minds (2018) melakukan kesalahan tahun rilis, seharusnya film seperti ini dirilis sekitar tahun 2014, dimana film-film dengan tema sejenis sedang meraih popularitas.

Dengan demikian, Darkest Minds (2018) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan kaget kalau akhir dari film ini tidak 100% tuntas karena film-film seperti ini memang diplot untuk memiliki 3 atau 5 film, bukan 1 film.

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/the-darkest-minds

Sicario: Day of the Soldado (2018)

Kalau dilihat dari judulnya, Sicario: Day of the Soldado (2018) adalah sekuel yang saya tunggu-tunggu dari Sicario (2015). Hhhhmmmm, ternyata saya salah, film ini bukanlah sekuel dari Sicario (2015), melainkan spinoff yang berdiri sendiri dengan beberapa karakter dari Sicario (2015). Pada Sicario: Day of the Soldado (2018), karakter Emely Blunt yang dijadikan sebagai sudut pandang penonton pada Sicario (2015), ditiadakan … karena yah ini memang bukan sekuel hohoho. Saya tidak masalah sih, toh pada Sicario (2016), karakter Alejandro Gillick (Benicio del Toro) memang terlihat lebih menonjol.

Alejandro sang sicario kembali bekerja sama dengan CIA di bawah komando Matt Grover (Josh Brolin). Kali ini keduanya bermaksud untuk mengadudomba 2 kartel narkoba di Meksiko dengan melakukan pembunuhan dan penculikan kepada kedua pihak. Alejandro kembali dilibatkan karena ia bukan bagian dari CIA, tapi merupakan seoran sicario, pembunuh legendaris yang bekerja pada sebuah kartel.

Saya pikir akan ada emosi yang kuat ketika Alejandro dan Grover harus menggunakan seorang anak perempuan, Isabel Reyes (Isabela Moner), untuk mencapai tujuannya. Alejandro dan Isabel banyak sekali berinteraksi, tapi keduanya nampak tidak memilki chemistry yang kuat. Padahal, karakter Alejandro ini kehilangan anak perempuannya yang seumuran dengan Isabel.

Perubahan sutradara, sudut pandang penonton dan hilangnya kharisma sang sicario, membuat Sicario: Day of the Soldado (2018) nampak hambar. Jalan ceritanya agak berantakan dan ambigu, kemudian adegan aksi ala perbatasan Meksiko yang memukau pada Sicario (2016), kembali diulang dengan cara yang buruk.

Film ini agak mengecewakan dan hanya dapat menperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Yaaah, sicario yang digadang-gadang akan membentuk sebuah franchise nampaknya akan meredup sebelum waktunya.

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/sicariodayofthesoldado

Shopkins: Wild (2018)

Apa Shopkins? Shopkins adalah mainan mungil produk Moose Toys asal Australia. Mainan tersebut berukuran dan mengambil bentuk dari berbagai barang yang ada di kehidupan sehari-hari seperti kue, apel, batangan cokelat, lipstik, panggangan roti, lampu tidur dan lain-lain. Setiap Shopkins memiliki nama, karakter dan kebiasaan unik masing-masing. Saat ini, total sudah ada ratusan jenis Shopkins yang sebagian besar dikoleksi oleh kolektor mainan. Wajar kalau jenisnya sudah banyak, mainan ini toh sudah ada sejak sekitar tahun 1995. Tapi saya baru mengetahui keberadaan beberapa bulan yang lalu hehehehe. Berawal dari hadiah Happy Meal McDonald’s, saya kemudian baru mengetahui bahwa Shopkins cukup populer dan sudah ada film lepasnya, yaitu Shopkins: Cheef Club (2016), Shopkins: World Vacation (2017) dan Shopkins: Wild (2018).

Saya sudah menonton ketiga film di atas, dan terus terang Shopkins: Wild (2018) merupakan film Shopkins yang paling baik baik dari segi animasi maupun cerita. Animasi atau gambar Shopkins: Wild (2018) yang bagus dan cantik, berhasil menarik perhatian anak saya. Ceritanya pun relatif bebas dari “lubang” ketimbang 2 film Shopkins sebelumnya. 2 film sebelumnya memiliki pesan moral yang baik, tapi mereka memiliki alur cerita yang kadang tidak efektif dan jauh diluar akal. Yahhh mungkin anak kecil tidak akan terlalu memperhatikannya, tapi kan orang dewasa yang menontonnya kemungkinan akan melihat hal tersebut.

Seperti kedua film sebelumnya, Shopkins: Wild (2018) masih mengusung Geng Shopville sebagai protagonis. Geng ini terdari dari 5 Shopkins dan 4 orang Shoppies. Ooouch, apa itu Shoppies? Shoppies adalah pemilik sekaligus Shopkins. Pada film inipun, dikisahkan bahwa Shopkins dapat berjalan, berbicara dan berinteraksi seperti mahluk hidup pada umumnya.

Sesuai judulnya, ada kata-kata “Wild”, disini, Geng Shopville bepergian menuju Pawville, tempat Shoppets yang masih liar tinggal. Ouuch pangkat dua, apa pula itu Shoppets? Shoppets adalah berbagai binatang mungil yang dapat berbicara, berjalan dan berinteraksi persis seperti Shopkins. Menurut informasi yang diperoleh, para penghuni Pawville hidup susah dan membutuhkan pertolongan. Inilah mengapa Geng Shopville rela menembus hutan belantara menuju Pawville.

Ceritanya relatif masuk akal, tidak melompat-lompat dan mudah dipahami oleh anak- anak tapi terkesan agak datar bagi orang dewasa. Pesan moral yang diusung adalah sekitar persahabatan. Tapi pesan moral tersebut tidak terlalu terlihat, film ini sepertinya cenderung ke arah jualan mainan Shopkins ya hehehehe.

Semesta Shopkins pada film ini terasa asing sehingga film ini akan sedikit membingungkan tanpa adanya pengantar bagi penonton baru. Tidak ada pengantar mengenai apa itu dunia Shopkins seolah dunia Shopkins itu wajar dan mudah dipahami. Penonton baru yang sudah dewasa mungkin akan menganggap Shopkins: Wild (2018) sebagai film dengan latar belakang yang agak aneh.

Visual yang diberikan memang terbilang menarik. Karakter-karakter dan latar belakangnya nampak imut dengan warna-warni yang cerah. Mayoritas anak perempuan pasti akan tertarik. Sayangnya, masing-masing karakter tidak terlalu terlihat keunikannya. Yang saya ingat, hanyalah bahwa Shopkins yang berbentuk kue itu pintar menghubungkan teka-teki. Saya rasa tidak ada korelasi yang jelas antara bentuk atau jenis Shopkins dengan keahliannya.

Hhhmmmm, sebenarnya film ini agak aneh bagi saya. Tapi putri saya senang sekali dengan film ini. Secara keseluruhan, Shopkins: Wild (2018) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini aman untuk ditonton anak kecil :).

Sumber: shopkinsworld.com

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)

Sepanjang tahun 2000-an ini sudah ada 3 jenis Spider-Man yang berkeliaran di Bioskop. Mulai dari Trilogi Spider-Man ala Sam Raimi, Duologi Spider-Man ala Marc Webb dan baru-baru ini Spider-Man ABG hasil kerjasama Sony dan Marvel. Semua Spider-Man di atas masih menggunakan Peter Parker sebagai tokoh utamanya. Tokoh Peter Parker sudah sangat melekat dengan tokoh Spider-Man, terutama bagi pembaca komik Spider-Man tempo dulu seperti saya :D.

Maka, saya pribadi sangat kecewa ketika tokoh Peter Parker “dimatikan” oleh Marvel Comics pada sekitar tahun 2011. Tokoh Miles Morales diangkat sebagai Spider-Man baru yang lebih segar. Marvel memang sedang berusaha mengganti tokoh-tokoh superhero ikonik mereka dengan tokoh-tokoh baru yang lebih muda dan diversity. Hampir semua tokoh-tokoh superhero klasik mereka memang diperankan oleh lelaki kulit putih. Inilah hal yang ingin Marvel ubah. Itulah mengapa Spider-Man barunya digambarkan oleh anak SMA latin berkulit cokelat seperti Miles Morales.

Sebenarnya Marvel dan Sony sudah mulai hendak memperkenalkan Miles Morales pada Spider-Man: Homecoming (2017) dengan menggunakan Spider-Man yang masih SMA dan memunculkan sebagian karakter dari komik Spider-Man Miles Morales. Tapi waktunya mungkin belum dirasa tepat sehingga karakter Peter Parker masih terus dipergunakan.

Nah, pada pergantian tahun ini, Sony dan Marvel merilis film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) dengan menggunakan Miles Morales (Shameik Moore) sebagai tokoh sentralnya. Dikisahkan awalmula Miles menjadi Spider-Man. Ia pun harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kematian Peter Parker (Chris Pine) :(.

Tak lama, bermunculanlah Spider-Man versi lain dari dunia paralel yang berbeda. Bagi teman-teman yang belum tahu, jadi di dalam dunia komik superhero Marvel dan DC, dikisahkan bahwa terdapat beberapa dunia paralel dimana di dalam masing-masing dunia tersebut, terdapat versi yang berbeda dari setiap individu termasuk Miles dan Peter. Tidak mengherankan kalau muncul Peter B. Parker (Jake Johnson) dari dunia paralel lain. Peter yang satu ini adalah Peter yang hidup di dunia Trilogi Spider-Man ala Sam Raimi. Ia hadir sebagai seorang Spider-Man yang sedang kehilangan motivasi diri karena berbagai masalah yang datang di dunianya.

Di sini Peter B. Parker seolah-olah berperan sebagai mentor bagi Miles. Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengembalikan semua Spider-Man, pulang ke dunianya masing-masing. Saya rasa inilah “handover” karakter Spider-Man yang berusaha Sony dan Marvel berikan kepada penontonnya. Peter Parker tewas tapi tidak sepenuhnya tewas karena kan ada Peter lain yang hidup di dimensi lain.

Tidak hanya Peter dan Miles saja, film ini pun menampilkan berbagai versi Spider-Man dari berbagai dunia yang unik. Disana terdapat Gwen Stacy / Spider-Woman (Hailee Steinfeld), Peni Parker / SP//dr (Kimiko Glenn), Peter Porker / Spider-Ham (John Mulaney), Peter Parker / Spider-Man Noir (Nicolas Cage). Semuanya ikut serta membantu Peter B. Parker dan Miles untuk memulihkan dunia paralel yang tercampur ini.

Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) menampilkan adegan aksi yang sesekali ditimpali oleh lelucon yang lucu. Film ini tidak terlalu serius tapi mampu menampilkan suspense oada beberapa adegan perkelahiannya. Memang sih semuanya hadir dalam bentuk animasi atau kartun, tapi animasi pada film ini terbilang unik, pokoknya beda deh dengan animasi atau kartun biasa. Saya yakin penonton dewasa pun akan menikmati film animasi yang satu ini. Sampai saat ini, film animasi inilah film animasi terbaik yang pernah saya tonton.

Saya rasa, Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) sudah selayaknya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah cara yang apik untuk memperkenalkan Miles Morales :). Tapi tetap saja …. bagi saya pribadi Spider-Man versi Peter Parker adalah yang terbaik, sesuatu yang tidak dapat diubah.

Sumber: http://www.intothespiderverse.movie

Incredibles 2 (2018)

Pada tahun ini, keluarga superhero The Incredibles kembali hadir ke layar lebar. Setelah hampir 14 tahun berlalu, akhirnya The Incredibles (2004) muncul juga sekuelnya. Film animasi tentang keluarga superhero ini tentunya masuk di dalam daftar tonton saya :D. The Incredibles (2004) dulu hadir di era ketika film superhero belum banyak berkeliaran seperti sekarang ini. Film tersebut menyedot perhatian saya dan menjadi salah satu film terbaik di tahun film tersebut dirilis. Apakah The Incredibles 2 (2018) dapat tampil menonjol di tengah-tengah gempuran film-film superhero ikonik dari Marvel dan DC Comics?

Kali ini The Incredibles 2 (2018) kembali mengisahkan kehidupan keluarga superhero yang terdiri dari Mr. Incredibles alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen (Holly Hunter), Dashiell Robert “Dash” Parr (Spencer Fox), Violet Parr (Sarah Vowell) dan Jack Parr (Eli Fucile dan Maeve Andrews). Kelimanya sama-sama memiliki kekuatan super yang unik dan saling melengkapi.

Sayang oh Sayang masalah yang diangkat pada The Incredibles 2 (2018), mirip sekali dengan The Incredibles (2004). Keadaan keluarga The Incredibles di awal film sekuel ini sama persis seperti The Incredibles (2004), aktivitas superhero kembali dilarang karena dianggap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Para superhero dianggap bertanggung jawab terhadap berbagai kerusakan yang terjadi.

Beruntung Winston Deavor (Bob Odenkirk) bersedia membantu membersihkan nama para superhero di hadapan publik. Siapakah Winston itu? Ia merupakan fans superhero yang memiliki kekayaan dan koneksi. Winston merasa bahwa politikus dan media telah berlaku tidak adil dengan menampilkan keburukan-keburukan superhero saja. Ia kemudian meminta Elastigirl untuk menjadi “wajah” baru superhero. Elastigirl akan beraksi sambil diliput oleh media masa. Berbagai acara TV pun dirancang oleh Winston demi memunculkan kebaikan yang Elastigirl berikan kepada masyarakat.

Mr. Incredibles sendiri bertukar peran dengan Elastigirl. Seperti sinetron Dunia Terbalik, Mr. Incredibles tinggal di rumah untuk mengurus ketiga anaknya. Pertukaran peran ini tentunya menimbulkan berbagai konflik yang … sayangnya kurang menonjol.

The Incredibles 2 (2018) menampilkan beberapa masalah sampingan yang menarik untuk dilihat tapi tidak terlalu bermakna dan tidak menunjang masalah utama yang diangkat, semua nampak biasa dan klise. Problematika ala superhero yang muncul sudah beberapa kali dimunculkan pada film-film superhero lain yang belakangan ini muncul.

Terlepas dari beberapa kelemahan di atas, film ini tetap cocok untuk ditonton bersama keluarga karena memberikan pesan moral yang baik dalam bentuk animasi yang enak dipandang dan mudah dipahami :). Jalan ceritanya pun tidak terlalu buruk.

Saya pribadi hanya dapat memberikan The Incredibles 2 (2018) nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Saya masih lebih suka film pertamanya.

Sumber: http://www.pixar.com/feature-films/incredibles-2/

Ant-Man and the Wasp (2018)

Setelah euforia Avengers Infinity War (2018), Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjadi MCU (Marvel Cinematic Universe) berikutnya yang hadir di layar lebar. Entah kenapa Ant-Man memang absen dari Avengers Infinity War (2018). Padahal ia menjadi salah satu superhero berpartisipasi pada Captain America: Civil War (2016), sebuah film MCU tepat sebelum Avengers Infinity War (2018). Hhhmmm, apa yang terjadi dengan Ant-Man pada periode antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018)? Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) akan menjawab pertanyaan tersebut karena film ini mengambil waktu kejadian tepat setelah Captain America: Civil War (2016) dan sebelum Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Sebagaimana pernah dikisahkan pada Ant-Man (2015), Scott Lang (Paul Rudd) adalah penjahat kelas teri yang dapat berubah menjadi Ant-Man setelah menggunakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas). Ant-Man memiliki kemampuan untuk mengubah ukuran sebuah objek menjadi lebih kecil atau lebih besar. Pada suatu pertarungan di Ant-Man (2015), Ant-Man berhasil mengubah ukurannya menjadi sangat kecil sekali ke ukuran mikro hingga ia sempat mengunjungi dunia kuantum. Melalui teori kuantun, dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mampu keluar dari dunia kuantum ketika ia berhasil menyusutkan tumbuhnya ke ukuran mikro. Scott yang saat ini menggunakan kostum Ant-Man, membuktikan bahwa teori ini salah. Ia berhasil kembali dari dunia kuantum dan mengalahkan Yellowjacket pada saat itu.

Nah, pada Ant-Man and the Wasp (2018), dikisahkan bahwa Scott ternyata membawa sesuatu dari dunia kuantum. Sesuatu yang Pym dan putrinya, Hope van Dyne (Evangeline Lily), dambakan selama 30 tahun terakhir. Semua berawal pada bencana yang terjadi sekitar 30 tahun yang lalu ketika Ant-Man dan Wasp menjalankan misi berbahaya yang menyebabkan terjebaknya Wasp di dalam dunia kuantum. Mengikuti jalan cerita komik Ant-Man tahun 1960-an, pada saat itu Hank Pym adalah Ant-Man dan istri Pym adalah Wasp. Ant-Man dan Wasp kurang kebih memiliki kemampuan yang serupa, hanya saja Wasp memiliki sayap untuk terbang. Kostum Wasp sendiri sebenarnya sudah pernah sekilas diperlihatkan pada bagian akhir Ant-Man (2015).

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sesuai dugaan, putri Pym, Hope van Dyke menggunakan kostum Wasp pada Ant-Man and the Wasp (2018). Bersama dengan Ant-Man, ia berusaha membuka portal menuju dunia kuantum dan menemukan ibunya yang sudah 30 tahun terjebak di sana. Perjalanan mereka tidak mudah karena ada pihak-pihak lain yang menginginkan hal tersebut pula.

Kali ini supervillain yang harus Ant-Man dan Wasp hadapi adalah Ghost (Hannah John-Kamen). Berbeda dengan di komik, karakter Ghost kali ini adalah perempuan dan memiliki motif yang tidak terlalu jahat. Walaupun memiliki kemampuan super yang cukup merepotkan Ant-Man dan Wasp, saya rasa Ghost tidak jahat. Iq hanya putus asa dan menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sebenarnya, karakter yang sesungguhnya benar-benar jahat adalah Sonny Burch (Walton Goggins). Tapi ia tidak memiliki kekuatan super apapun. Ia pun bukan bos besar yang berkuasa seperti Dr. Doom, Kingpin atau Lex Luthor. Yaaaah hanya penjahat kelas menengah yang memiliki koneksi ke FBI. Hal inilah yang cukup merepotkan Scott dan kawan-kawan karena status Scott adalah tahanan rumah yang tidak boleh kemana-mana. Setelah Scott ikut membantu pihak Captain America melanggar hukum pada Captain America: Civil War (2016), ia memilih untuk menjalani hukuman asalkan ia dapat bertemu putri semata wayangnya, Cassie (Abby Ryder Fortson). Ini memang berbeda dengan mayoritas superhero pendukung Captain America lainnya yang memilih menjadi buronan.

Ant-Man and the Wasp

Yaaaah, rasanya Ant-Man and the Wasp (2018) memang berbicara tentang keluarga. Hal-hal yang rela dikorbankan agar dapat hidup bersama keluarga. Di sana terlihat hubungan ayah anak yang kompak dan sedikit mengharukan. Semua dibalut dengan berbagai kelucuan dari Scott Lang :D. Unsur komedi pada film ini memang menjadi nilai plus yang sangat besar. Ditambah lagi adanya adegan aksi yang unik dan jarang saya lihat pada film superhero lainnya.

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Ant-Man and the Wasp

Sayang Ant-Man and the Wasp (2018) banyak menggunakan teori kuantum yang kurang komunikatif. Para karakter protagonis nampak bisa dengan cepat memperoleh solusi melalui teori dan ilmu pengetahuan yang kurang jelas maksudnya. Kalau kita menonton Ant-Man and the Wasp (2018) tanpa mengikuti dan melihat semua hal terkait teori kuantum dan lorong kuantum, film ini sebenarnya terbilang mudah dipahami dan mampu berdiri sendiri, kita tidak perlu menonton film superhero Marvel lain untuk memahami film ini. Meskipun yaaah memang akan lebih seru kalau kita sudah menonton film MCU lainnya, terutama Ant-Man (2015), Captain America: Civil War (2016) dan Avengers Infinity War (2018).

Ant-Man and the Wasp

Jauh berbeda dengan film superhero Marvel terakhir yang saya tonton sebelum menonton film ini, karakter antagonis film ini kurang menggigit. Film ini terasa hampa tanpa adanya tokoh antagonis yang benar-benar “antagonis” dan kuat. Ghost dan Burch gagal mengisi ruang tersebut.

Film ini sebenarnya terbilang bagus kalau dilihat dari sisi aksi dan komedi. Tapi saya pribadi kurang suka dengan alur ceritanya. Selain itu Ant-Man dan Wasp bukanlah superhero yang menurut saya keren. Coba saja bayangkan apabila keduanya menjadi superhero Indonesia, pastilah namanya menjadi manusia semut dan si lalat bukan? :’D. Saya rasa Ant-Man and the Wasp (2018) lebih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” ;).

Sumber: https://marvel.com/antman