Alita: Battle Angel (2019)

Era manga sudah berakhir bagi saya. Jadi, saya betul-betul tidak mengetahui apa Alita itu. Begitu mendengar kata Alita, yang terbesit di pikiran saya justru malah sebuah perusahaan telekomunikasi, bukan film. Alita kebetulan merupakan nama sebuah perusahaan telekomunikasi yang menjadi vendor beberapa operator telekomunikasi di Indonesia :’D. Lah kok ingetnya malah kerjaan yah :P.

Jadi, Alita: Battle Angel (2019) adalah film yang diadaptasi dari manga atau komik Jepang berjudul Gunnm (銃夢). Sebenarnya sih Gunnm itu sudah terbit di tahun 90-an, tapi sepertinya di tahun-tahun tersebut saya sibuk membaca manga Kungfu Boy, Dragon Ball dan Saint Seiya :’D. Selepas itu, saya agak terputus dari manga, saya lebih banyak membaca DC Comics dan Marvel Comics.

Alita: Battle Angel (2019) mengambil latar belakang Bumi di tahun 2563, yaitu 300 tahun setelah “The Fall” terjadi. “The Fall” sendiri merupakan sebuah perang besar yang melanda Zarem. Zarem merupakan sebuah kota kaya raya yang mengapung di udara. Konon, hanya masyarakat kelas ataslah yang dapat hidup di Zarem. Di bawah Zarem, terdapat kota Iron yang miskin. Sampah-sampah dari Zarem, dibuang ke kota Iron yang berada di bawahnya.

Dari berbagai sampah yang turun dari Zarem, Dr. Dyson Ido (Christoph Waltz) menemukan potongan dari sebuah cyborg unik yang inti dan otaknya masih bekerja. Dengan menggunakan suku cadang cyborg yang Ido miliki, ia memperbaiki cyborg tersebut dan menamainya Alita (Rosa Salazar). Kenapa nama Alita yang dipilih? Ahhh, ternyata ada makna sentimental bagi Ido di sana, bukan karena Ido pernah kerja di Perusahaan Alita yah :P.

Alita memiliki wujud seperti remaja wanita yang mungil dan imut. Karena Alita hilang ingatan, ia tidak dapat mengingat kenapa ia bisa berada di pembuangan sampah Zarem. Padahal sebenarnya masa lalu Alita sangatlah kelam dan berhubungan dengan “The Fall”, perang besar yang legendaris. Perlahan tapi pasti, Alita dapat mengingat siapa dia sebenarnya, yaitu sebuah mesin pembunuh paling mematikan yang pernah dibuat, sebuah cyborg dengan teknologi tua yang misterius.

Di kota Iron, Alita mengumpulkan uang dengan mengikuti kompetisi olahraga dan menjadi pemburu bayaran. 2 buah profesi berbahaya yang dapat Alita jalani dengan tubuh mungilnya. Tubuh memang mungil, tetapi pikiran Alita masih menyimpan memori dan refleks seorang pembunuh. Aaahhh, buat apa Alita susah-susah mengumpulkan uang??

Alita terlibat romansa dengan Hugo (Keean Johnson). Agar Alita dan Hugo dapat migrasi bersama-sama ke Zarem, mereka berdua harus mengumpulkan sejumlah uang. Saya rasa disinilah titik terlemah dari Alita: Battle Angel (2019). Saya tidak melihat chemistry antara Alita dan Hugo. Hugo hanya nampak seperti karakter tak berguna yang kalaupun tewas atau hilang, saya sebagai penonton tidak akan sedih atau kecewa :P. Sayang beberapa bagian dari plot utama film ini dibentuk dari romansa Alita dan Hugo. Rasanya chemistry Alita-Hugo masih kalah dengan chemistry bapak-anak antara Igo dan Alita.

Beruntung film ini memiliki jalan cerita yang tidak membosankan. Dunia yang dibangun di sekitar Alita pun nampak elok dan cukup kuat untuk mendukung cerita. Alita hidup dimana tubuh manusia dapat diperbaharui dengan mesin. Cyborg semacam Alita pun dapat hidup relatif normal bak manusia biasa.

Saya suka dengan latar belakang film ini. Tokoh Alita pun nampak keren dan cocok sebagai protagonis utama. Hal-hal ini masih dapat menambal kekurangan film ini di sisi romansa Alita dan Hugo yang hambar. Cerita tentang seorang prajurit tangguh yang lupa ingatan memang sudah banyak diangkat di film-film lain, tapi ramuan topik tersebut nampak jauh lebih baik dan menarik ketika diangkat lagi pada Alita: Battle Angel (2019). Saya rasa Alita: Battle Angel (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini memang mirip dengan Ghost in the Shell (2017), tapi Alita: Battle Angel (2019) tetap lebih menarik ;).

Sumber: http://www.alitatickets.com

Iklan

Spider-Man: Far From Home (2019)

Pada Spider-Man: Far From Home (2019), setelah seorang superhero besar “pensiun”, Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland) seakan menanggung beban berat untuk melajutkan apa yang sudah superhero besar tersebut lakukan kepada dunia. Spider-Man yang pada awalnya hanya superhero remaja lokal, sekarang diharapkan agar dapat ikut serta dalam menghadapi kejahatan yang datang mengancam dunia, bukan hanya lingkungan tempat Spider-Man tinggal.

Tak heran kalau Nick Fury (Samuel L. Jackson) meminta bantuan Spider-Man ketika mahluk-mahluk dari dimensi lain, datang menyerang Bumi. Mahluk-mahluk yang disebut Elemental ini konon sudah memusanahkan Bumi di dimensi lain yang menjadi rumah Quentin Beck / Mysterio (Jake Gyllenhaal). Beck datang dari dimensi lain untuk mencegah Elemental agar tidak ada Bumi lain yang musnah. Spider-Man memang hidup di dunia MCU (Marvel Cinematic Universe) yang mana menganut faham bahwa terdapat banyak dimensi. Jadi, terdapat Bumi lain di dimensi lain, terdapat pula Peter Parker lain di dimensi lain, dan seterusnya.

Melihat kemampuan super yang Beck miliki, Peter semakin yakin bahwa ia tidak pantas menjadi seorang pelindung Bumi, Beck-lah orang yang lebih pantas. Lagi pula, sejak awal Peter pun sebenarnya memilih lari dari panggilan Nick Fury. Peter memilih untuk berlibur jauh dari rumah dibandingkan mengangkat telefon dari Fury. Fury dan S.H.I.E.L.D. harus bekerja keras agar Peter terpaksa ikut serta bergabung melawan Elemental bersama Beck. Sebenarnya disinilah terjadi kelucuan karena Peter yang sedang berlibur ke Eropa dan berusaha memenangkan hati Michelle “MJ” Jones (Zendaya Maree Stoermer Coleman) tapi Fury dan kawan-kawan selalu muncuk untuk “menculik” Peter :’D.

Banyak terdapat humor di mana-mana sehingga adegan aksi yang ditampilkan nampak lebih menghibur. Antagonis pada film inipun sebenarnya tidak terlalu superior, tapi penampakkannya sungguh tak terduga dan sangat menghibur. Untuk menampilkan sebuah hiburan yang baik, ternyata sebuah film superhero tidak harus dengan menampilkan karakter antagonis yang super kuat dan terkenal ;).

Kisah cinta remaja pada Spider-Man: Far From Home (2019) ini pun rasanya lebih menyenangkan dibandingkan cinta-cintaan Spider-Man lainnya. Michelle “MJ” Jones terlihat lebih mandiri dan kuat dibandingkan love interest Spider-Man versi lainnya.

Saya kagum dengan film Spider-Man yang satu ini. Pendekatan yang diambil pada Spider-Man: Far From Home (2019), sungguh berbeda dengan versi komik Spider-Man klasik yang pernah saya baca. Spider-Man di sini tidak terlalu sibuk menghadapi para haters seperti film Trilogi Spider-Man versi Sam Raimi. Kejadiran superhero besar lain yang membuat Spider-Man sebagai penerus pun membuay warna baru bagi Spider-Man remaja versi Tom Holland ini. Spider-Man: Far From Home (2019) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat ini, film ini berhasil menjadi film layar lebar Spider-Man terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.spidermanfarfromhome.movie

Scary Stories to Tell in the Dark (2019)

Scary Stories to Tell in the Dark (2019) mengambil latar belakang Amerika di tahun 1968, saat Amerika masih aktif terlibat Perang Vietnam. Atmosfer pemilihan presiden pun menjadi aroma tambahan bagi latar film ini. Tapi, bukan perang atau pemilihan presiden yang menjadi topik utama Scary Stories to Tell in the Dark (2019), melainkan kumpulan cerita seram yang dapat berubah menjadi kenyataan.

Pada awal Scary Stories to Tell in the Dark (2019), terdapat sekelompok remaja masuk ke dalam sebuah rumah misterius pada malam Hallowen. Di dalam rumah tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan rahasia dan mengambil sebuah buku. Pada halaman pertama buku tersebut, tertulis …. milik Sarah Bellows.

Sarah Bellows adalah seorang anak perempuan yang mati gantung diri dan selalu dikait-kaitkan dengan cerita seram di kota Mill Valey. Tanpa sadar, para remaja tersebut telah membangunkan sesuatu yang buruk. Buku yang mereka bawa ternyata dapat menuliskan sendiri, kisah-kisah seram yang ternyata benar-benar terjadi di dunia nyata. Satu per satu kisah seram milik mereka, tertulis di buku milik Sarah Bellows tersebut. Tentunya kematian semakin mendekatin para remaja tersebut. Mau tak mau, mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka harus menyelamatkan diri dari kisah yang tertulis, sambil menyelidiki bagaimana mereka menghentikan semua ini.

Sekilas, plot Scary Stories to Tell in the Dark (2019) sudah sering sekali diangkat oleh berbagai film horor remaja, termasuk film horor Indonesia. Hanya saja, eksekusi dari Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terbilang rapi dan terarah sehingga saya merasakan kengerian pada beberapa bagiannya.

Sayang, film ini mungkin tidak akan terasa seram sekali bagi mayoritas penonton dewasa. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) terkesan seperti film horor monster, sesuatu yang mungkin akan menakutkan bagi penonton dewasa Amerika. Mayoritas setan dan hantu ala Amerika dan Eropa memang berwujud fisik sepeeri monster. Selain itu, film ini sebenarnya diambil dari novel pendek dengan judul yang sama. Di Amerika sana, novel tersebut cukup kontroversial pada tahun 90-an. Novel ini dapat ditemukan di perpustakaan pada bagian remaja & anak, padahal konten dan grafis dari novel tersebut dinilai terlalu sadis untuk dilihat oleh remaja sekalipun. Kenangan akan cerita seram pada buku tersebut, tentunya membawa nostalgia tersendiri bagi penonton yang mengenal versi novelnya sebagai novel terseram pertama yang mereka baca sebagai remaja. Saya pribadi sebenarnya lebih seram dengan setan dan hantu ala Indonesia hihihihi.

Tapi tetap saja, eksekusi yang cemerlang, membuat Scary Stories to Tell in the Dark (2019) nampak unggul dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang pernah saya tonton. Scary Stories to Tell in the Dark (2019) pun beberapa kali membuat saya salah menebak akan misteri yang menyelimuti Sarah Bellows dan kutukannya. Misterilah yang membuat saya penasaran dan terjaga ketika menonton film ini. Tapi jangan harap akan ada kejutan atau twist yang “wow” pada film ini, akhir dari misteri yang ada tidaklah terlalu mencengangkan.

Selain itu, akhir dari film ini agak kurang garang ya. Seperti masih ditahan untuk sebuah sekuel mungkin? Melihat kesuksesan Scary Stories to Tell in the Dark (2019) di tangga box office, sepertinya film ini akan ada sekuelnya. Saya rasa Scary Stories to Tell in the Dark (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.scarystoriestotellinthedark.com

Us (2019)

Sutradara yang mengarsiteki Get Out (2017), tahun ini kembali menghadirkan film bergenre serupa yaitu Us (2019). Kali ini sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak dikisahkan berlibur ke pantai. Sepulang dari liburan tersebut, Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o), Gabriel “Gabe” Wilson (Winston Duke), Zora Wilson (Shahadi Wright Joseph) dan Jason Wilson (Evan Alex), didatangi oleh 4 orang misterius.

Keempatnya ternyata memiliki bentuk tubuh dan wajah yang serupa dengan Adelaide, Gabe, Jason dan Zora. Bertemu saudara kembar yang aneh dan galak, keluarga Wilson harus melarikan diri untuk selamat. Kembaran keluarga Wilson ternyata memiliki dendam lama dan niat yang tidak baik. Ada apa ini? Sebuah misteri yang membuat saya penasaran sampai akhir Us (2019).

Terdapat beberapa kejutan yang menyeramkan pada film ini. Jadi Us (2019) merupakan film horor dan misteri yang memberikan ketakutan secara psikologis, bukan melalui adegan sadis atau jump scare yang sering diumbar-umbar oleh film horor Indonesia :P. Kelas Us (2019) jauuuh di atas itu. Film ini pun secara tersirat ingin membicarakan isu lain terkait kampanye melawan masalah sosial yang melanda Amerika saat ini.

Us (2019) memang tidak sempurna dan memiliki sedikit “lubang” pada jalan ceritanya. Masih ada beberapa hal yang tidak dijelaskan terutama terkait kembaran keluarga Wilson. Penjelasan singkat yang ada pada film ini masih menyisakan berbagai pertanyaan, kalau dilihat dari logika. Yaaah paling tidak, akhir dan identitas karakter-karakter pada Us (2019) masih terjelaskan dan tidak se-ambigu film-film horor pada umumnya. Terus terang saya kurang suka dengan film yang akhirnya terlalu menggantung atau ambigu, lalu penonton disuruh berfikir dan berhayal sendiri begitu?

Dengan demikian, saya rasa Us (2019) pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Akting Lupita Nyong’o perlu mendapatkan pujian di sini, ia berhasil memerankan 2 karakter yang sedang ketakutan, penuh kebencian dan licik.

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/us

Glass (2019)

M. Night Shyamalan bukanlah sutradara favorit saya. Saya bahkan kurang suka dengan beberapa karyanya. Secara mengejutkan, Shyamalan menghasilkan Split (2017) yang memiliki banyak sekali kejutan di dalamnya, kejutan yang tidak saya duga sebelumnya. Saya pun tentunya tertarik untuk menonton kelanjutan dari Split (2017), yaitu Glass (2019). Apakah Glass (2019) akan lebih baik dari Split (2017)?

Pada bagian akhir Split (2017), dapat diketahui bahwa terdapat 2 orang yang memiliki kekuatan super di atas menusia biasa yaitu Kevin Wendell Crumb / The Horde (James McAvoy) dan David Dunn / The Observer (Bruce Willis). Nah pada Glass (2019), keduanya tertangkap dan dijebloskan ke dalam sebuah rumah sakit jiwa. Ok, kita sudah memiliki The Horde dan The Observer, lalu dimana Glass? Mr.Glass adalah julukan dari Elijah Price (Samuel L. Jackson). Ia pun dirawat di rumah sakit yang sama dengan Kevin dan David.

Berbeda dengan kedua rekannya, secara fisik, Elijah sangat rapuh seperti gelas. Tulang tubuhnya mudah sekali retak dan patah sebagai akibat dari penyakit osteogenesis imperfecta tipe 1 yang ia derita sejak kecil. Kelemahan fisiknya, ternyata diikuti oleh kecemerlangan otaknya. Sayang Elijah menggunakan kejeniusannya untuk melakukan pembunuhan masal. Uniknya, alasan Elijah membunuh adalah untuk mencari dan menciptakan orang-orang berkemampuan seperti superhero di buku komik. Itulah mengapa, Elijah, diterapi bersama-sama dengan David dan Kevin. Ketiganya sama-sama percaya akan keberadaan superhero di dunia nyata.

Di rumah sakit tersebut, semua bukti mengenai kekuatan super David dan Kevin, diperdebatkan oleh Dr. Ellie Staple (Sarah Paulson). Dr. Ellie mencoba meyakinkan bahwa semua itu hanya khayalan saja. Elijah sendiri hanya diam dan jarang merespons apa yang Dr. Ellie katakan. Tapi Glass (2019) memang berbicara mengenai Elijah atau Mr. Glass. Walau nampak lemah dan tak berdaya, Elijah ternyata menyimpan sebuah rencana yang …. pada akhirnya tidak terlalu menarik :P.

Bagian awal dan tengah yang menjanjikan dan sukses membuat saya penasaran, diakhiri dengan sesuatu yang mengecewakan. Memang sih, saya gagal menebak mau dibawa ke mana arah film ini, tapi kejutan yang dihadirkan nampak kurang ok. Padahal jalan ceritanya terbilang menarik loh.

Apalagi akting James McAvoy dan Samuel L. Jackson sebenarnya terbilang bagus pada Glass (2019). Karena akting prima keduanya, akting Bruce Willis sendiri jadi nampak kurang menonjol :’D. Sesuai judulnya, film ini memang panggung bagi Elijah atau Mr. Glass, jadi pusat perhatian bukan pada Bruce Willis atau David Dunn. Samual L. Jackson berhasil memerankan seorang jenius dan ahli taktik. Film ini memang benar-benar filmnya Mr. Glass. Sayang yah sekali lagi, twist di akhirnya yaaaah kurang ok :P.

Secara keseluruhan, kualitas Glass (2019) agak dibawah ekspektasi saya, namun film ini tetap layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya ragu akan ada film keempat setelah Glass (2019).

Sumber: http://www.universalpictures.com/movies/glass

Dark Phoenix (2019)

Phoenix bukanlah kata yang asing bagi penggemar X-Men diluar sana. Ia merupakan salah satu mahluk terkuat di jagat dunia per-superhero-an ala Marvel Comics. Kekuatan Phoenix sangat dahsyat sampai-sampai ia sering kali membunuh siapa saja yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Baik di buku komik Marvel maupun film-film terdahulunya, kehadiran Phoenix menandakan bahwa akan ada tokoh dari franchise X-Men yang gugur. Hal ini pernah terbukti pada X-Men: The Last Stand (2006). Mayoritas karakter utama X-Men tewas akibat ulah Phoenix. Sayang eksekusi dari sang sutradara pada saat itu terbilang buruk sehingga X-Men: The Last Stand (2006) dapat dikatakan sebagai salah satu film terburuk yang pernah saya tonton. Saya tidak ada masalah dengan gugurnya beberapa superhero dalam sebuah film. Yang menjadi masalah adalah bagaimana mereka tewas dam kisah dibalik itu. Beberapa superhero beken dikisahkan gugur pada Avengers Infinity War (2018) dan Avengers: Endgame (2019), tapi hal tersebut tetap membuat keseluruhan film tetap bagus dan menarik. Franchise Avengers dan MCU justru semakin bersinar setelah kedua film tersebut hadir. Bagaimana dengan X-Men? Franchise X-Men sempat mati suri setelah X-Men: The Last Stand (2006), sampai akhirnya muncul X-Men: Days of Future Past (2014) yang mereboot franchise X-Men sekaligus membatalkan semua kisah yang pernah ada pada telah X-Men: The Last Stand (2006), horeeee :D. Masalahnya, apakah kesalahan yang sama akan berulang kembali?

Phoenix adalah salah satu tokoh terkuat di semesta X-Men. Pada dasarnya ia merupakan transformasi dari Jean Grey (Sophie Turner) yang selama ini memendam sebuah kekuatan yang sangat besar. Karena besarnya kekuatan tersebut, Jean beberapa kali gagal mengendalikan kekuatannya, terutama ketika ia mengetahui beberapa fakta akan masa lalunya yang Proffesor X atau Charles Xavier (James McAvoy) sembunyikan. Terlebih lagi ada pihak lain yang berusaha memanfaatkan kegalauan Jean untuk kepentingan pribadi.

Proffesor X, Mystique / Raven Darkholme (Jennifer Lawrence), Quicksilver / Peter Macimoff (Evan Peters), Beast /Hank McCoy (Nicholas Hoult), Storm / Ororo Munroe (Alexandra Shipp), Cyclops / Scott Summers (Tye Sheridan), Nightcrawler / Kurt Wagner (Kodi Smit-McPhee) dan Magneto /Erik Lehnsherr (Michael Fassbender), harus berjuang agar Jean dapat kembali normal, minimal tidak merusak perdamaian antara mutant dan manusia. Tokoh-tokoh terkenal di atas saja kesulitan bukan main ketika harus berhadapan dengan Jean yang sudah berubah menjadi Phoenix. Bahkan ada anggota X-Men yang gugur pada film ini.

Sayang oh sayang, gugurnya anggota X-Men ini tidak menyisakan emosi atau kesedihan bagi saya. Saya hanya dapat berkata, “Ohhh mati tho, ya udah …”. Tidak ada chemistry pada Dark Phoenix (2019), semua terasa datar. Walaupun saya akui ada beberapa adegan aksi yang keren pada film ini, yaitu pada adegan dimana semua anggota X-Men menggunakan kekuatannya untuk saling melengkapi dan memenangkan sebuah pertarungan. Sayang kok ya hal tersebut semakin menghilang ketika film mendekati bagian akhir. X-Men nampak tercerai berai dan lebih fokus untuk berlari mengejar Phoenix. Padahal, kalaupun sudah bertemu dengan Phoenix, mereka bisa apa? :P. Praktis hanya Proffesor X saja yang memiliki peran besar di sini. Sebagai pengganti sosok ayah bagi Jean, Proffesor X tentunya lebih memiliki peluang untuk menasehati Jean. Wah, bagaimana dengan kekasih Jean, yaitu Cyclops? Bahhh, Cyclops nampak lemah dan tidak berguna hehehehe :P.

Film ini sebenarnya memiliki peluang untul menjadi lebih baik lagi. Materi kisah Phoenix sebenarnya sangat menarik, tapi kok ya eksekusinya seperti ini. Menontom Dark Phoenix (2019) tidal terasa seperti menonton film superhero X-Men karena … mana seragamnya??? Setiap tokoh superhero pasti memiliki seragam atau kostum yang spesifik, nah inilah yang kurang sekali saya lihat pada Dark Phoenix (2019). Mereka lebih sering bertarung menggunakan celana jeans dan t-shirt ketimbang kostum superhero mereka. Selain itu, nama panggilan yang dipergunakan pada film ini, lebih banyak menggunakan nama panggilan manusianya, bukan julukan nama mutant-nya. Proffesor X selalu disebut Charles Xavier, Mystique selalu disebut Raven, Beast selalu disebut Hank, dan lain sebagainya. Aroma superhero kurang terasa kental pada Dark Phoenix (2019).

Yaaaah, mau bagaimanapun juga, saya akui bahwa Dark Phoenix (2019) tetap lebih bermutu ketimbang X-Men: The Last Stand (2006) heheheheh. Dengan demikian, Dark Phoenix (2019) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya rasa franchise X-Men tidak akan tewas atau mati suri akibat Dark Phoenix (2019) ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/dark-phoenix

Hellboy (2019)

Banyak yang bertanya-tanya apakah Hellboy masuk ke dalam deretan superhero DC Comics atau Marvel Comics? Yah, jawabannya bukan keduanya :P. Dark Horse Comics adalah penerbit dari buku-buku komik Hellboy. Dari buku, superhero yang saty ini sudah 2 kali hadir di layar lebar melalui Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008) yang disutradarai oleh Guillermo del Toro. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan kedua film Hellboy tersebut, keduanya mendapatkan sambutan hangat dari para kritikus. Hal ini membawa angin segar bagi film ketiga Hellboy.

Tak terasa 10 tahun berlalu sejak Hellboy II: The Golden Army (2008) dirilis. Film ketiga Hellboy yang sedang digarap, mengalami pergantian sutradara dan pemeran utama. Alih-alih menjadi sebuah trilogi, Hellboy justru mengalami reboot. Hellboy (2019) akan menjadi awal baru bagi franchise superhero yang satu ini.

Berbeda dengan Hellboy (2004), asalmula hadirnya Hellboy (David Harbour) tidak dikisahkan pada bagian awal film. Sejak bagian awal film, Hellboy dikisahkan sudah bekerja pada B.P.R.D. (Bureau for Paranormal Research and Defense) bersama dengan ayah angkatnya, Tevor Bruttenholm (Ian McShane). Sebagai bagian dari B.P.R.D. , Hellboy memburu berbagai hal-hal supranatural yang dapat merusak perdamaian di Bumi. Semua ia lakukan dengan menggunakan kekuatan fisiknya plus pistol di tangan kiri dan tangan tangannya yang sangat keras.

Dari berbagai perkelahian dan konflik yang Hellboy lalui, ia mendapatkan banyak musuh terutama dari kaum monster dan supranatural. Kali ini ia harus berhadapan dengan seorang musuh lama yang berusaha membangkitkan Vivian Nimue Sang Ratu Darah (Milla Jovovich). Siapakah Nimue itu? Ia merupakan seorang penyihir yang konon tidak dapat dibunuh sehingga akhirnya penyihir tersebut dimutilasi dan bagian-bagian tubuhnya disembunyikan di berbagai penjuru dunia. Kehadiran Nimue dahulu dimusuhi oleh manusia karena manusia tidak ingin para monster dapat hidup bebas di permukaan Bumi. Masalahnya, bukankan Hellboy sendiri berasal dari golongan yang manusia anggap sebagai monster? Manusia mana yang tidak takut melihat wujud Hellboy.

Konflik yang Hellboy hadapi kali ini merupakan konflik klasik ala Hellboy. Bagi yang sudah membaca buku komik Hellboy, tentunya sudah mengetahui bahwa Hellboy merupakan campuran antara keturunan raja manusia dan iblis yang lepas dari neraka. Tanduk patah dan tangan keras yang Hellboy miliki bukanlah hal yang sepele. Keduanya merupakan bagian dari sebuah kekuatan dahsyat yang terpendam di dalam diri Hellboy. Banyak yang meramalkan bahwa Hellboy ditakdikan untuk membawa neraka ke Bumi dengan tanduk yang sudah pulih dan tangan kerasnya memegang leher naga yang ia tunggangi. Apakah Hellboy akan tetap menjaga Bumi atau mengikuti ramalan orang lain?

Sebuah pertanyaan yang sedikit banyak sudah dapat ditebak jawabannya :’D. Saya tidak melihat banyak kejutan atau twist pada Hellboy (2019). Jalan ceritanya banyak dibubuhi oleh masa lalu Hellboy yang dikisahkan dengan sangat jelas. Beberapa flashback pada film ini sangat detail dan tidak membingungkan. Saya tidak menemukan masalah di sana, karena tidak semua penonton sudah membaca komik Hellboy bukan?

Bagaimana dengan adegan aksinya? Film superhero komik mana sih yang tidak ada adegan aksinya. Di luar dugaan, adegan aksinya sangat menghibur dan seperti sungguhan karena hadirnya beberapa adegan … sadis. Wow, sadis? Yaaaa, Hellboy (2019) penuh dengan adegan sadis yang tidak pantas untuk disaksikan oleh anak-anak. Pada beberapa bagian aksi dan perkelahian, adegan sadis tersebut memang berhasil menambah keseruan pada Hellboy (2019). Tapi pada beberapa bagian lainnya, saya merasa bahwa adegan sadis pada Hellboy (2019), bukanlah hal yang perlu dan justru membuat saya mual. Sang sutradara sedikit kelebihan dalam membubuhkan adegan gory atau sadis pada Hellboy (2019).

Walaupun adegan sadisnya agak banyak, saya lebih menikmati Hellboy (2019) dibandingkan Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008). Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Hellboy (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bisa ditebak bagaimana nilai saya terhadap Hellboy (2004) dan Hellboy II: The Golden Army (2008), sopasti di bawah 3 hohoho.

Sumber: http://www.hellboy.movie