Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Pada penghujung 2019 ini, hadir penutup dari sebuah trilogi sekuel dari Trilogi Star Wars, yaitu Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Seperti kedua film pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017), film yang kembali disutradarai oleh J. J. Abrams ini mengambil latar belakang bertahun-tahun setelah Trilogi Star Wars berakhir. Trilogi Star Wars terdiri dari 3 film karya George Lucas yang legendaris. Bertahun-tahun kemudian, Disney membeli hak cipta Star Wars dan mulai membuat trilogi sekuel sebagai kelanjutan dari Trilogi Star Wars. Diawali dari Star Wars: The Force Awakens (2015), kemudian dilanjutkan oleh Star Wars: The Last Jedi (2017), lalu ditutup oleh Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Sayang sekali kedua film Star Wars sebelum Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), sudah memperoleh kritikan pedas dari mayoritas fans garis keras Star Wars. Beberapa justru lebih memilih Star Wars tamat pada Trilogi Star Wars dan tidak ada trilogi kedua. Wah wah wah, mampukah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menjawab semua kritikan dan keraguan yang telah muncul?

Pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Rey (Daisy Ridley), Poe Dameron (Oscar Issac) & Finn (John Boyega) berburu sebuah alat yang dapat menemukan lokasi Kaisar Palpatine (Ian McDiarmid), biang keladi dari segala kekacauan terjadi selama ini. Palpatine kembali muncul ke permukaan setelah menjadi antagonis utama pada Trilogi Prekuel Star Wars dan Trilogi Star Wars.

Dalam perjalanannya tentunya terjadi petempuran hebat antara pasukan pemberontak pimpinan Leia Organa (Carrie Fisher) dengan pasukan First Order pimpinan Kylo Ren (Adam Driver). Tak lupa Kylo pun terus mengejar Rey baik lewat telepati maupun langsung. Ia berusaha mempengaruhi agar Rey berbalik arah menjadi Sith. Rey pun masih berharap agar Kylo menemukan kebaikan dan kembali menjadi Jedi. Pertarungan antara Jedi dan Sith sangat kental mewarnai film yang satu ini.

Pada dunia Star Wars, terdapat individu-individu yang memiliki bakat atau sensitif terhadap sebuah kekuatan yang disebut The Force. Sith adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kebencian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat jahat mahluk hidup. Sedangkan Jedi adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kasih sayang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Pada Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017) dikisahkan bahwa Rey dan Leia bisa dibilang merupakan Jedi terakhir yang masih hidup. Kylo dan Palpatine merupakan Sith kuat yang terus merekrut orang-orang baru agar bergabung menjadi Sith.

Para Jedi dan tokoh utama pada Trilogi Star Wars, berguguran pada sekuel kedua trilogi ini. Tentunya seorang tokoh legendaris Star Wars akan tewas lagi pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Siapa tokohnya sih mudah sekali ditebak, lha hanya dia seorang saja yang masih tersisa :’D. Yang ternyata gagal saya tebak adalah siapakah Rey sebenarnya. Pada film penutup ini, identitas Rey mulai terkuak dan agak mengejutkan. Terjawab sudah mengapa kekuatan The Force milik Rey kuat sekali.

Pada film ini, saya menikmati pertarungan fisik dan mental antara Sith dan Jedi. Semuanya tersaji dengan visual yang cantik dan memukau. Dari segi cerita, film ini mengingatkan saya pada film terakhir pada Trilogi Star Wars. Agak mirip tapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Hal ini menjadi perdebatan karena banyak kritikus yang kurang suka dengan hal ini. Saya pribadi? Suka sekali, bagus dan masuk akal kok alurnya.

Kalau dilihat sebagai sebuah film Star Wars, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) memang seolah mampu berdiri sendiri dengan sebuah cerita yang lumayan bagus. Namun kalau disatukan dengan dua film sebelumnya sebagai sebuah trilogi sekuel, maka kesan yang saya dapat adalah … berantakan.

Trilogi sekuel Star Wars terdiri dari 3 film yaitu Star Wars: The Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) disutradarai oleh J. J. Abrams, sedangkan Star Wars: The Last Jedi (2017) disutradarai oleh Rian Johnson. Lucunya, ada beberapa hal yang “ditanamkan” oleh J. J. Abrams pada Star Wars: The Force Awakens (2015), tidak dilanjutkan atau digunakan oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Nah kini, pada film penutupnya, J. J. Abrams seperti membalas Rian Johnson dengan tidak menyentuh beberapa hal yang sudah “ditanamkan” oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Lihat saja berapa lama karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) muncul pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) :P. Rose seolah seperti pemain figuran saja di sana hohohohoho. Bukankah ketiga film tersebut seharusnya saling berkesinambungan? Perbedaan siapa yang menyutradarai seharusnya tidak menjadi alasan. Coba saja lihat film-film MCU (Marvel Cinematics Universe). Film-film tersebut sukses besar menghasilnya kesinambungan dibawah bendera Disney. Disney sukses besar ketika membuat film-film MCU. Kenapa mereka gagal pada Star Wars? Disney seolah-olah beberapa kali merubah roadmap atau rancangan besar dari trilogi sekuel Star Wars. Mungkinkah ini karena kritikan pedas fans berat Star Wars.

Kylo Ren adalah satu-satunya karakter yang konsisten dan berkesinambungan pada ketiga film tersebut. Finn dan Rey nampak sekali berubah-ubah arahannya. Misteri akan identitas Rey pun dibuat sebagai sebuah senjata pamungkas. Well, itu memang berhasil bagi saya pribadi. Meskipun setelah menonton Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), saya jadi kurang setuju dengan judulnya :’D.

Secara garis besar, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan bagi saya. Kekurangan dalam plot dan ketidaksinkronan dengan film sebelumnya, cukup impas terbayar dengan adegan aksi yang menyenangkan dan akhir yang lumayan diluar dugaan saya. Saya bulan penggemar berat franchise Star Wars, saya hanya dapat memberikan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya sadar betul J. J. Abrams mengubah dan tidak memanfaatkan beberapa hal baru dari film Rian Johnson, tapi justru itulah yang saya suka. Terus terang saya kurang suka dengan kemana sekuel trilogi ini dibawa oleh Rian Johnson. Syukurlah J. J. Abrams tidak melanjutkannya :P.

Sumber: http://www.starwars.com

It Chapter Two (2019)

Terpukau dengan It (2017), membuat sekuel film tersebut menjadi salah satu film yang saya tunggu-tunggu. Sesuai dengan novelnya, kisah para tokoh utama pada It (2017) memang belum berhenti sampai di sana saja. It Chapter Two (2019) mengisahkan kembali petualangan The Loosers Club 27 tahun setelah peristiwa pada It (2017) berakhir. Siapakah The Loosers Club itu? Mereka merupakan sekelompok remaja yang beranggotakan William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), dan Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Untuk The Loosers Club dewasa, perannya dimainkan oleh aktor dan artis lain yaitu William “Bill” Denbrough (James McAvoy), Stanley “Stan” Uris (Andy Bean), Benjamin “Ben” Hansco (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richard “Richie” Tozier (Bill Harder), Edward “Eddie” Kaspbrak (James Ransone), dan Michael “Mike” Hanlon (Isaiah Mustafa).

Menurut legenda, It atau Badut Pennywise (Bill Skarsgard) akan bangkit setiap 27 tahun. 27 tahun berlalu dan kejadian buruk mulai terjadi kembali di kampung halaman The Loosers Club. Sesuai dengan sumpah yang pernah mereka ikrarkan semasa remaja dulu, The Loosers Club dipanggil kembali untuk menghadapi It. Dari sekian banyak anggota The Loosers Club, hanya 1 yang memilih bunuh diri daripada harus berhadapan kembali dengan It. Bagaimana dengan sisanya? Mereka kembali tapi dengan membawa masalah mereka masing-masing.

Kembali ke kampung halaman, membawa kenangan lama kembali. Masalah masa lalu pun datang menghinggapi. Trauma akan kekerasan yang Bev hadapi ketika masih remaja kembali datang. Eddie teringat kembali mengenai bagaimana mudahnya ia jatuh sakit sejak kecil dulu. Kematian adik Bill kembali datang menghantui Bill. Cinta segitiga antara Bev, Ben dan Bill kembali datang. Terakhir, Mike yang terus terobsesi akan kebangkitan It, memiliki ketakutan tersendiri ketika ia mengingat kematian keluarganya. Oh tunggu dulu, bagaimana dengan Stanley dan Richie? Stanley … memilih untuk tidak datang menghadapi It. Richie memiliki masalag ketakutan yang sangat absurd, tidak jelas. Belakangan tersirat baru diketahui bahwa orientasi seks Richie-lah yang menjadi masalah. Masalah Richie ini menjadi subplot tak jelas yang tak penting. Aneh sekali, kok ya ini tidak ditanamkan sejak It (2017). Masalah yang Richie hadapi seolah-olah seperti masalah yang dibuat-buat agar durasi It Chapter Two (2019) semakin panjang :P.

Durasi It Chapter Two (2019) lebih dari 2 jam dan mayoritas adegannya adalah teror dari It! Kenangan dan masalah masa lalu inilah yang diekspolitasi oleh It untuk meneror The Loosers Club. Kalau ada orang bilang bahwa lebih lama itu lebih baik, maka hal ini tidak berlaku pada It Chapter Two (2019). Teror demi teror terus muncul tanpa arah yang jelas. Semuanya pun lebih ke arah teror monster yang membosankan, bukan teror psikologis.

Sumpah, film ini terasa sangat membosankan. Terlebih lagi rencana yang Mike susun untuk menghadapi It terbilang aneh dan banyak sekali celahnya. Ya jelas sudah dapat ditebak pasti rencana Mike yang kacangan ini akan mengalami kegagalan.

Nilai positif yang saya lihat dari It Chapter Two (2019) hanyalah kostum dan efek yang jauh lebih bagus dari It (2017). Selain itu akting dari James McAvoy yang prima, tentunya menjadi poin plus lagi bagi It Chapter Two (2019). Sayang karakter-karakter The Loosers Club dewasa lainnya, kalah pamornya dengan The Loosers remaja. Karakter-karakter The Loosers Club pada It (2017) jauuuh lebih kuat dan sukses besar menghadirkan sarkasme dan lelucon yang menghibur. Sementara itu It Chapter Two (2019) justru dipenuhi oleh lelucon-lelucon yang kurang lucu.

Saya agak kecewa dengan sekuel film yang satu ini. Nilai dari saya pribadi adalah 2 dari 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untung saya tidak menonton film ini di bioskop :’D.

Sumber: http://www.it-movie.net

Jumanji: The Next Level (2019)

Pada akhir tahun 2019 ini, sekuel Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), hadir ke layar lebar. Kisah mengenai permainan maut ini berlanjut pada Jumanji: The Next Level (2019). Beberapa tahun setelah kejadian pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner), sudah lulus SMA dan menjalani kehidupan yang berbeda. Pada saat libur panjang, mereka memutuskan untuk melakukan reuni di kampung halaman mereka.

Di sinilah awal dari kekacauan yang ada. Perangkat Nintendo yang menjadi portal untuk masuk ke dalam dunia Jumanji, ternyata masih ….. tersimpan di gudang milik keluarga Spencer. Entah apa yang Spencer pikirkan, ia mencoba memperbaiki Nintendo tersebut dan masuk ke dalam dunia Jumanji sendirian. Teman-teman Spencer tentunya tak tinggal diam. Mereka menyusul masuk ke dalam Jumanji untuk menyelamatkan Spencer. Bahkan Alex Vreeke (Colin Hanks) ikut menyusul setelah tahu insiden ini. Alex merupakan seorang remaja yang terjebak bertahun-tahun di dalam dunia Jumanji sebelum diselamatkan oleh Spencer dan kawan-kawan. Tanpa sengaja, Eddie Gilpin (Danny DeVito) dan Milo Walker (Danny Glover), ikut tertarik masuk ke dalam dunia Jumanji.

Mirip seperti pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), kali ini ketujuh tokoh utama kita harus menyelesaikan sebuah misi di dalam dunia Jumanji. Seperti video game, mereka akan menggunakan tubuh atau avatar yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang memiliki 3 nyawa dimana kalau ketiga habis atau mereka tewas sebanyak 3 kali di dalam Jumanji, maka mereka akan tewas di dunia nyata.

Hhhhmmmm, kalau dihitung, sekarang jadi ada 7 orang yang masuk ke dalam dunia Jumanji. Padahal bukankah avatar yang terdapat di sana hanya 5? Well, terdapat 2 avatar tambahan yang memiliki peran penting pula dalam permainan kali ini. Tubuh atau avatar yang tersedia adalah Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart), Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black), Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas), Ming Fleetfoot (Nora Lum) dan ……. seekor kuda hitam :’D. Ahhh, siapa yaa yang akan sial menjadi seekor kuda? Eits, tunggu dulu, si kuda ini ternyata bukan sembarang kuda loh, Spencer dan kawan-kawan tidak akan berhasil menyelesaikan misi mereka tanpa bantuan si kuda ini. Misi yang mereka hadapi berbeda dengan misi pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Agak berbeda dengan Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), setiap pemain mendapatkan avatarnya secara acak. Penempatan avatar ini menimbulkan berbagai kelucuan. Tapi sayang leluconnya jadi agak mirip dengan lekucon pada film pertamanya. Kemudian pesan moral yang diangkatpun saya rasa sama persis. Film ini mengajarkan mengenai persahabatan dan saling memaafkan.

Sebenarnya bagian akhir Jumanji: The Next Level (2019) memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang mengharukan. Sayang eksekusinya kurang tepat sehingga, terasa biasa saja.

Yaah paling tidak, adegan aksinya cukup menghibur dan menyenangkan untuk dilihat. Dibalut dengan humor di mana-mana, cerita yang sebenarnya standard sekali ini terasa tidak membosankan.

Saua rasa Jumanji: The Next Level (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walau memiliki beberapa kekurangan, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Semoga film Jumanji berikutnya dapat memberikan hiburan yang lebih segar lagi :).

Sumber: http://www.jumanjimovie.com

The Lion King (2019)

Disney kembali membuat ulang salah satu film animasinya yang sangat populer di era 90-an. Kali ini giliran The Lion King (1994) yang pernah saya tonton ketika SD dan menjadi salah satu film animasi kesukaan saya pada waktu itu. Dengan menggunakan teknologi terbaru, Disney menghidupkan kembali The Lion King (1994) dalam sebuah film yang penuh special effect pada The Lion King (2019). Singkat kata, The Lion King (2019) adalah versi live action dari The Lion King (1994).

Kisah yang disuguhkan sama persis. Di sebuah area hutan Afrika yang disebut Tanah Kebanggaan, para singa memerintah dengan adil sesuai lingkaran kehidupan hewan yang ada sejak dahulu kala. Raja Mufasa (James Earl Jones) yang telah lama memerintah, dibunuh oleh saudaranya sendiri, Scar (Chiwetel Ojiofor). Kemudian melalui tipu daya dan fitnah, Scar mengasingkan Sang Putra Mahkota, Simba (Donald Glover), jauh keluar dari Tanah Kebanggaan.

Simba tumbuh besar diasuh oleh Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Timon yang seekor merkaat dan Pumbaa yang seekor babi hutan, memberikan rumah baru bagi Simba. Semua nampak indah sampai Nala (Beyonce Knowles) datang dan memberitahukan keadaan Tanah Kebanggaan yang Simba tinggalkan. Di bawah kekuasaan Scar, para singa berada di bawah kendali para hyena. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rantai makanan dan lingkaran kehidupan. Ibu dari Simba pun masih hidup di sana dan hidup dalam tekanan dan ancaman.

Walau awalnya menolak, Simba akhirnya kembali ke Tanah Kebanggaan untuk merebut tahta dan mengembalikan lingkaran kehidupan yang Scar rusak. Jika salah satu lingkaran kehidupan diubah dengan paksa, maka semuanya akan terpengaruh.

Klise? Yaah betul sekali. Film ini memang pada dasarnya mengisahkan mengenai seorang pangeran yang datang untuk membalas dendam dan menyelamatkan keluarganya. Tapi The Lion King (1994) lebih berhasil menghasilkan sebuah eksekusi yang menarik dan berkesan. Hadir dengan teknologi terkini yang indah, The Lion King (2019) seperti tidak ada jiwanya. Ceritanya terasa datar dan standard.

Karakter Pumbaa dan Timon yang seharusnya lucu dan konyol, gagal membuat saya tertawa. Soundtrack film ini pun sepertinya terlalu dibuat ke-Afrika-an dan kurang cocok di telinga saya. Sumpah saya lebih suka dengan yang versi tahun 1994 meskipun hadir dengan animasi yang tidak sebagus The Lion King (2019).

Kelebihan yang sangat terlihat pada The Lion King (2019) sopasti adalah pada visualnya. Binatang dan alam yang ditampilkan memang nampak indah dan mengagumkan. Semuanya seperti sungguhan dan sangaaaat halus. Kalau untuk masalah visual, The Lion King (2019) sayah kasih 2 jempok deh :). Tapi disini pulalah letak hilangnya jiwa pada The Lion King (2019). Karena visualnya yang sangat realistis, saya tidak dapat melihat mimik kesedihan atau kemarahan pada film ini. Berbeda dengan yang versi tahun 1994 dimana raut muka karakter-karakter masih dapat digambarkan dengan jelas. Aahhh kenapa sih kok selalu dibandingkan dengan The Lion King (1994)? Tentu saja, karena The Lion King (2019) adalah sebuah remake, bukan reboot, jadi saya mengharapkan adanya keunggulan lain dari aspek-aspek yang ada. Dari segi cerita dan karakter saja sudah sama persis.

Dengan begitu, saya rasa The Lion King (2019) masih layak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film tersebut aman ditonton semua umur, tidak ada cium-ciuman di sana meski tak ada satu karakter pun yang menggunakan baju. Yaaa jelas isinya binatang semua :P.

Sumber: http://www.lionking.com

Midsommar (2019)

Sekitar setahun yang lalu saya menonton Hereditary (2018), sebuah film horor karya sutradara Ari Aster. Film tersebut menghasilkan berbagai review yang sangat beragam dan bertolak belakang. Terlepas dari suka atau tidak, film tersebut berhasil mengangkat Ari sebagai sutradara. Maka pada tahun 2019 ini Ari kembali melalui Midsommar (2019). Sebuah film horor yang menurut saya pribadi, lebih unik ketimbang Hereditary (2018) :).

Kisah Midsommar(2019) diawali dengan tragedi yang menimpa keluarga Dani Ardor (Florence Pough). Berbagai “drama” yang Dani alami akibat tragedi tersebut membuat hubungan percintaannya dengan sang kekasih, Christian Hughes (Jack Reynor) mulai renggang. Keduanya nampak berusaha untuk memulihkan hubungan mereka yang semakin dingin. Dani pun sampai tidak mengetahui bahwa Christian dan teman-teman kuliahnya hendak menghadiri festival Midsommar di Swedia. Walaupun ada kecanggungan dan sedikit konflik, Dani yang mahasiswi Psikologi, akhirnya ikut serta menuju Swedia dengan Christian dan rekan-rekannya dari jurusan Antropologi. Di sini terlihat betapa buruknya komunikasi antara Dani dan Christian.

Di Swedia, Dani dan Christian berharap untuk dapat memperbaiki hubungan mereka. Dani pun berharap untuk dapat melupakan & melepaskan kesedihan hidupnya di sana. Sementara itu. Sementara itu rekan-rekan mereka memiliki tujuan yang berbeda, bahkan satu diantaranya justru akan membawa kematian. Apakah mereka semua akan menemukan apa yang mereka cari di Swedia? Ya dan tidak :’D.

Festival Midsommar sendiri sebenarnya merupakan festival yang dilakukan setiap 90 tahun sekali oleh komunitas Hårga di daerah pedalaman Hälsingland, Swedia. Di sana terdapat berbagai nyanyian dan tarian yang unik. Namun, ternyata festival ini memiliki beberapa ritual yang sangat “mengganggu” bagi orang luar seperti Dani dan kawan-kawan. Dari hari pertama saja, sebenarnya sudah terlihat ada hal yang aneh dari festival ini. Tapi pihak komunitas dengan cerdik berhasil membuat Dani dan kawan-kawan untuk tetap tinggal. Cara yang komunitas Hårga lakukan cukup cerdik karena mereka sama sekali tidak menggunakan kekerasan.

Dari luar, komunitas Hårga nampak ramah. Seolah mereka hidup di tengah-tengah tarian, nyanyian dan bunga-bunga yang indah. Gambaran yang ditampilkan sepanjang Midsommar (2019) sangat jauh dari kesan angker atau seram. Semua serba cerah dan ceria. Sepanjang film saya dimanjakan oleh sinematografi yang sangat memukau. Saya kagum bagaimana Ari Aster berhasil memberikan kengerian tanpa harus menggunakan jump scare atau visual yang serba gelap dan muram. Perlu diingat bahwa Midsommar (2019) bukanlah film monster atau horor yang penuh dengan jump scare. Film ini memberikan nuansa horor psikologis yang unik.

Ahhhh sayang, sebenarnya jenis cerita horor seperti ini sudah dapat ditebak kemana arahnya. Dari awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir dari kisah horor ini, tidak ada banyak misteri di sana. Tempo yang sangat lambat dengan jalan cerita yang relatif mudah ditebak, terkadang membuat saya merasa bosan.

Midsommar (2019) mengingatkan saya akan film The Wicker Man (2006), hanya saja Midsommar (2019) beberapa tingkat lebih bagus ketimbang The Wicker Man (2006). Setiap bagian pada Midsommar (2019) memiliki arti tertentu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan setelah selesai menontonnya. Bahkan sekitar 10 menit pertama pun sudah mengandung beberapa hal terkait festival Midsommar loh, padahal itu baru adegan awal saja dimana Dani dan kawan-kawan masih berada di Amerika. Beberapa penonton menganggap bagian awalnya terlalu bertele-tele, padahal di sana ada detail yang dapat menimbulkan spekulasi akan konspirasi yang komunitas Hårga mungkin lakukan.

Sebenarnya Midsommar (2019) relatif lebih bagus ketimbang Hereditary (2018), tapi saya tetap hanya dapat memberikan Midsommar (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Entah mengapa, saya tetap lebih seram dengan cerita horor ala Indonesia. Hanya saja sayang sekali mayoritas film horor Indonesia, belum digarap dengan baik.

Sumber: a24films.com/films/midsommar

Detective Pikachu (2019)

Melihat judulnya, Detective Pikachu (2019) pasti merupakan film dengan latar belakang dunia Pokemon. Dunia dimana terdapat mahluk-mahluk imut bernama Pokemon, berdatangan dan tersebar di seluruh permukaan Bumi. Pikachu merupakan jenis Pokemon yang memiliki kemampuan memanipulasi sengatan listrik. Yah, dari berbagai jenis Pokemon yang ada, Pikachu merupakan yang paling populer. Bermula dari sebuah video game di tahun 1996, Pokemon telah berhasil meraih popularitas dan hadir di berbagai media lain. Tapi baru kali inilah Pikemon hadir film versi live action -nya. Kemarin-kemarin sih yang keluar versi film kartunnya saja.

Berbeda dengan film kartun dan video games -nya, Detective Pikachu (2019) tidak mengambil topik pelatih Pokemon atau perburuan Pokemon. Kali ini Pikachu (Ryan Reynolds) berperan sebagai detektif yang menyelidiki sebuah kasus ;). Sayang pikachu yang satu ini kehilangan ingatannya saat rekan kerjanya dikabarkan tewas terbunuh.

Biasanya, manusia tidak akan mengerti apa ucapan Pokemon. Untuk Pikachu saja, manusia biasa pasti hanya akan mendengar kata-kata “pika pika pika” dari mulut Pikachu. Kali inu, terjadi sebuah keajaiban. Tim Goodman (Justice Smith) tiba-tiba dapat mengerti semua ucapan Pikachu. Tim sendiri ternyata merupakan anak semata wayang dari almarhum rekan Pikachu. Keduanya kemudian bekerja sama untuk mengungkap misteri kematian aya Tim. Tak lupa hadir pula pertolongan dari Lucy Stevens (Kathryn Newton), jurnalis muda yang mencurigai bahwa kematian ayah Tim disebabkan oleh sesuatu yang besar. Ternyata dugaan Lucy tidak meleset, sebab penyelidikan mereka memang lambat laun melibatkan seorang pengusaha kaya dan Pokemon terkuat di muka Bumi.

Dari sekali melihat tokohnya saja, sudah dapat ditebak siapa yang sebenarnya jahat. Judul film ini menggunakan kata-kata detektif tapi kok ya tidak ada misteri yang dahsyat di dalam ceritanya. Saya bahkan sama sekali tidak penasaran ketika menonton Detective Pikachu (2019). Penyelesaian dan akhir dari kasus yang ditangani oleh Pikachu pun memiliki motif dan penyelesaian yang kurang kuat. Yaaah, sepertinya Detective Pikachu (2019) memang tidak dimaksudkan sebagai film misteri atau thriller. Ceritanya tergolong ringan dan tidak membuat penontonnya banyak berfikir.

Tapi kalau berbicara dari segi visual, Pikachu dan dunianya nampak unik dan bagus sekali. Saya suka melihat Pikachu yang nampak imut dengan bulu-bulu kuningnya :). Dunia Pokemon seolah dibuat hidup oleh film ini.

Visual yang memukau tapi tidak diikuti oleh cerita yang memukau membuat saya ikhlas untuk meemberikan Detective Pikachu (2019) nilai 3 dari skal maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga di rumah.

Sumber: http://www.detectivepikachumovie.com

Brightburn (2019)

Siapa yang tak tahu Superman. Superhero pembela umat manusia yang satu ini sudah terkenal sejak saya belum lahir. Nah, bagaimana kalau Superman hadir ke Bumi tapi dalam versi yang berbeda, versi yang lebih gelap? Itulah topik utama yang Brightburn (2019) tawarkan. Semoga ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan agak berbeda ;).

Sama persis seperti kisah Superman, pada Brightburn (2019) dikisahkan Tori Breyer (Elizabeth Banks) dan Kyle Breyer (David Denman) adalah sepasang petani yang pada suatu hari menemukan seorang bayi di dalam sebuah kapsul misterius. Kapsul tersebut jatuh dari angkasa, menimpa lahan pertanian milik keluarga Breyer. Pasangan Breyer yang sudah lama tidak memiliki keturunan, langsung mengangkat bayi yang mereka temukan sebagai anak mereka.

Hari terus berganti, tak terasa bayi mungil keluarga Breyer sudah beranjak dewasa. Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) tumbuh tanpa mengetahui asal muasalnya. Lambat laun, Brandon mulai menyadari bahwa ia memiliki kekuatan yang besar. Hanya saja cara Brandon menyikapi kekuatan ini, sangat berbeda dengan cara Clark Kent / Superman menyikapi kekuatannya. Di sini digambarkan bahwa kekuatan Brandon sama plek ketiplek dengan kekuatan Superman.

Yaaah Brandon di sini memang merupakan Superman versi jahat. Gambaran akan kasih sayang Kyle dan Tori memang sudah ditonjolkan. Namun entah kenapa sebagian besar nampak hambar dan miskin emosi. Pada awalnya saya melihat kasih sayang Tori sebagai seorang ibu. Tapi semakin lama kasih sayang tersebut terlihat kurang meyakinkan. Usaha untuk menghentikan teror Brandon pun gagal menghasilkan adegan yang mencekam. Saya agak bingung mau dibawa ke mana arah Brightburn (2019). Mau dibilang horor yaaa tidak ada seram-seramnya. Mau dibilang misteri, dimana misterinya???

Disana sungguh tidak ada misteri yang membuat saya penasaran. Kenyataan akan apa dan siapa Brandon sungguh tidak menarik dan basi. Kalau hanya ingin mengisahkan Superman versi jahat, DC Comics sudah memiliki berbagai cerita akan Superman jahat. Yang paling terkenal diantaranya adalah Superman versi Injustice, dimana Superman berubah menjadi jahat ketika Louis Lane dibunuh oleh Joker. Cerita dan alurnya jauh lebih kompleks dan menarik ketimbang Brightburn (2019). Jadi jelas sudah, mengisahkan Superman versi jahat bukanlah sesuatu yang revolusioner bagi saya pribadi hehehehe v(^_^)v.

Di luar ekspektasi saya, Brightburn hanya dapat memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau mau melihat Superman versi jahat lebih baik melihat beberapa produk asli DC Comics seperti Injustice, Superman: Red Son, JLA: Earth 2, Irredeemable dan Infinite Crisis ;).

Sumber: http://www.sonypictures.com/movies/brightburn