Don’t Let Go (2019)

Di tengah-tengah kesibukan saya di rumah, saya menemukan sebuah film dengan tema yang unik, Don’t Let Go (2019). Film ini mengingatkan saya pada Frequency (2000), sebuah film yang dulu saya tonton bersama orangtua saya. Keduanya sama-sama mengisahkan mengenai komunikasi unik yang terjadi antara 2 orang di jalur waktu yang berbeda. Frequency (2000) berhasil mengisahkan dengan baik, hubungan ayah-anak yang terpisah oleh waktu dan kematian. Apakah Don’t Let Go (2019) berhasil melakukan hal yang sama?

Agak sedikit berbeda, Don’t Let Go (2019) mengisahkan hubungan antara seorang paman dengan keponakannya. Detektif Jack Radcliff (David Oyelowo) kaget bukan main ketika ia menerima sebuah telefon dari Ashley Radcliff (Storm Reid) yang sudah meninggal dunia. Beberapa minggu yang lalu, Jack sendiri menemukan Ashley dan kedua orangtuanya, menjadi korban pembunuhan. Sebuah peristiwa yang membuat Jack stres berat.

Jack seolah memperoleh kesempatan kedua ketika ia menerima telefon dari Ashley. Ashley di masa lalu, dapat berkomunikasi dengan Jack di masa depan melalui sebuah telefon genggam. Keduanya berusaha mengubah masa depan dengan menyelidiki siapa yang membunuh Ashley.

Misteri dan penyelidikan pada Don’t Let Go (2019) memang sangat menarik untuk diikuti. Namun hal ini hanya bertahan sampai separuh film. Don’t Let Go (2019) seakan kehilangan daya tariknya pada pertengahan film. Film ini terasa terlalu bertele-tele dan pelaku kejahatannya sudah mulai terkuak di pertengaham film. Selanjutnya, semua berlangsung dengan sangat klise.

Sayang sekali, Don’t Let Go (2019) sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah film yang lebih menarik dibandingkan Frequency (2000). Hubungan paman dan keponakan pada Don’t Let Go (2019), terasa kurang memukau. Saya tidak merasakan kekhawatiran yang dalam dari Jack, ketika Ashley dalam bahaya besar.

Terlepas dari beberapa kelemahan yang ada, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Masih ok-laaah untuk dijadikan hiburan ringan, film ini tidak terlalu kompleks kok.

Sumber: http://www.dontletgomovie.com

 

Ratu Ilmu Hitam (2019)

Ketika masih kecil dulu, saya pernah menonton beberapa film Indonesia termasuk film-filmnya Suzzanna. Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah salah satu film Suzzana yang masih saya ingat sampai sekarang. Ceritanya cukup sederhana, Murni (Suzzanna) belajar ilmu hitam dan menjadi seorang ratu ilmu hitam setelah Murni kehilangan segalanya. Ia menggunakan ilmu hitam untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Film horor lawas tersebut memiliki jalan cerita dan plot yang lumayan menarik dan agak berbeda dengan film Suzzanna lainnya karena cara menceritakan yag lumayan bagus dan terdapat sedikit kejutan di dalamnya.

Lalu, apakah Ratu Ilmu Hitam (1981) sama dengan Ratu Ilmu Hitam (2019)? Sangat berbeda. Sudut pandang penonton pada Ratu Ilmu Hitam (1981) adalah Si Ratu Ilmu Hitam yang diperankan oleh Suzzanna. Sementara itu, sudut pandang Ratu Ilmu Hitam (2019) dipandang dari kaca mata beberapa mantan anak panti asuhan, yang datang bersama keluarga mereka ke Panti Asuhan tempat mereka dulu dibesarkan.

Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting) dan Jefri (Miller Khan) datang kembali ke Panti Asuhan setelah pemimpin Panti Asuhan tersebut sakit keras dan sepertinya tak lama lagi akan meninggal. Pada awal cerita mereka seolah khawatir akan nasib Panti Asuhan tersebut setelah pemimpinnya meninggal. Apalagi Panti tersebut terletak di tempat yang sangat terpencil. Bagaimana nanti nasib anak-anaknya nanti?

Dibalik semua itu, sebenarnya Hanif, Jefri dan Anton menyimpan sebuah rahasia kelam yang pernah terjadi di Panti tersebut. Sebuah rahasia yang tanpa mereka sadari, dapat mengancam keselamatan semua orang yang ada di sana. Padahal Hanif sendiri datang bersama istri dan ketiga anaknya. Jefri dan Anton pun datang bersama istri mereka masing-masing. Selain itu, Panti Asuhan tidaklah dalam keadaan kosong, terdapat 4 anak panti yang bertugas menyambut Anton dan kawan-kawan. Sementara anak-anak panti lainnya sedang Tamasya naik Bus ke luar daerah.

Teror datang silih berganti menghantui semua orang yang sedang ada di dalam Panti Asuhan tersebut. Semuanya terkait praktek ilmu hitam yang kejam. Siapa dan kenapa? Ok, sejauh ini kalau saya hitung terdapat 12 karakter yang keamanannya terancam. Pertanyaannya, apakah semua karakter-karakter tersebut cukup penting bagi cerita film ini? Sayangnya tidak. Saya rasa Ratu Ilmu Hitam (2019) seolah menampilkan banyak karakter untuk membuat penonton kesulitan menerka-nerka siapa biang keladi dari petaka yang terus berdatangan. Padahal banyak dari karakter-karakter tersebut yang saya sendiri tak ingat namanya. Kalaupun beberapa karakter tersebut tewas, yaaaa sudah tewas saja, kurang penting sih :’D.

Tetap patut saya akui, misteri yang dihadirkan memang membuat saya penasaran sampai akhir film. Meskipun jalan menuju akhir film ini penuh dengan adegan yang agak sadis dan menjijikan. Sisi positifnya, semua adegan sadis tersebut dihadirkan dengan sangat halus dan terlihat nyata. Sisi negatifnya, yaaa saya pribadi kurang suka dengan film-film horor yang menampilkan banyak adegan sadis nan menjijikkan atau sering disebut adegan gory.

Bisa dibilang film-film seperti ini memang menjadi ciri khas dari beberapa karya Kimo Stamboel sebagai sutradara film ini. Dipadukan dengan misteri ala Joko Anwar sebagai penulis Ratu Ilmu Hitam (2019), film ini cukup menghibur walaupun saya kurang suka dengan unsur gory pada film ini. Selain itu bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan sederhana. Ratu Ilmu Hitam (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jelas Ratu Ilmu Hitam (2019) jauh lebih berkualitas dibandingkan mayoritas film horor Indonesia yang hadir hanya dengan memamerkan aurat wanita, efek murahan dan plot cerita yang berlubang dimana-mana x_x. Semoga perfilman Indonesia dapat terus maju dan menelurkan film-film berkualitas lainnya.

Sumber: http://www.rapifilms.com/page/detail/425/ratu-ilmu-hitam

Knives Out (2019)

Kisah detektif selalu menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ketika masih sekolah dulu, novel detektif dari Alfred Hitchcock dan Agatha Christie sudah menjadi bacaan saya. Sayang beberapa kisah detektif yang diangkat ke layar kaca, tidak sebagus novelnya. Mungkin juga hal ini dikarenakan saya sudah tahu jalan cerita beserta akhir ceritanya :’D. Knives Out (2019) tidak dibuat berdasarkan novel apapun. Jadi saya benar-benar buta akan film ini. Trailer-nya saja belum pernah lihat hehehee.

Berbeda dengan beberapa film detektif yang pernah saya lihat, mayoritas sudut pandang Knives Out (2019) justru dilihat dari sisi seorang Marta Cabrera (Ana de Armas), salah satu tersangka pembunuhan. Marta adalah perawat dari seorang penulis novel misteri terkenal, Harlan Thrombey (Christopher Plummer). Harlan tewas meninggalkan anak-anak dan cucu-cucunya yaitu Walter “Walt” Thrombey (Michael Shannon), Donna Thrombey (Riki Lindhome), Jacob Thronbey (Jaeden Martell), Joni Thrombey (Toni Collete), Megan “Meg” Thrombey (Katherine Langford), Linda Drysdale (Jamie Lee Curtis), Richard Drysdale (Don Johnson), dan Hugh Ransom Drysdale (Chris Evans). Tak lupa pula ibu Harlan yang sudah sangat uzur, Wanetta Thrombey (Katherine Elizabeth Borman). Yahh itulah nama-nama tersangka atas sebuah kasus yang masih dipersebatkan apakah itu merupakan kasus kriminal atau murni hanya bunuh diri saja.

Detektif Benoit Blanc (Daniel Craig) beserta kepolisian setempat datang ke TKP dan melakukan penyelidikan. Melihat bagaimana Blanc melakulan penyelidikan, sungguh unik apalagi kalau dilihat dari sudut pandang salah satu tersangka. Setiap tersangka pada kasus ini memiliki ketergantungan finansial terhadap Harlan. Bahkan tersangka yang pada awalnya minim motif, tiba-tiba memiliki motif.

 

Saya suka dengan bagaimana Knives Out (2019) memutar-mutar fakta yang ada. Film ini sukses membuat saya penasaran dan sama sekali tidak mengantuk sampai akhir film. Akhir film ini ya sebenarnya biasa saja dan tidak terlalu mengejutkan, tapi jalan ceritanya sungguh menarik. Banyaknya karakter yang terlibat sama sekali tidak membuat saya kebingungan. Latar belakang dan motif setiap tersangka berhasil disampaikan dengan sangat informatif. Komedi hitam yang ada di dalamnya pun mengena meski agak sedikit basi :’D.

Tanpa saya duga, ternyata akting Daniel Craig terbilang sangat baik. Ketila melihat karakter detektif yang ia perankan, saya sama sekali tidak melihat James Bond di sana. Craig seolah menjadi detektif handal dengan aksen koboy yang kental.

Saya rasa, Knives Out (2019) adalah film detektif terbaik sepanjang tahun 2019. Film arahan Rian Johnson ini sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: knivesout.movie

Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019)

Tak terasa franchise Fast & Furous sudah menelurkan lebih dari 8 film. Pada tahun 2019, franchase ini menelurkan spin-off pertama mereka Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019). Jangan harap Vin Diesel akan muncul pada film ini karena sesuai judulnya, Lucas Rebecca “Luke” Hobbs (Dwayne Johnson) dan Deckard Shaw (Jason Statham) akan menjadi bintang utamanya.

Hal ini tentunya menarik sebab Deckard Shaw adalah karakter antagonis utama pada Furious 7 (2015), film ketujuh dari franchise Fast & Furious. Pada film tersebut pun Hobbs hadir sebagai pihak yang berseberangan dengan Shaw. Bagaimana keduanya dapat bekerja sama? Konflik antara Hobbs dan Shaw berhasil diramu dengan baik hingga menghasilkan kelucuan dimana-mana. Sayangnya, sepertinya hanya inilah keunggulan dari Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019). Kedua karakter utama berhasil memberikan suasana yang menyenangkan, tapi hanya sampai di sana saja.

Jalan cerita yang hanya begitu-begitu saja, aksi yang juga begitu-begitu saja, tidak memberikan nilai tambah lagi bagi film ini. Sudah dapat ditebak, Hobbs & Shaw harus menyelamatkan Bumi dari sebuah virus yang hendak dicuri oleh Brixton Lore (Idris Elba) dan kawan-kawan. Karena ini merupakan spin-off dari Fast & Furious, tentunya terdapat barbagai aksi yang melibatkan mobil, motor dan bahkan helikopter. Well, bagia saya pribadi, tidak ada yang “wah” disana.

Tapi ya Fast & Furious: Hobbs & Shaw (2019) tetap berhasil menyuguhkan sebuah tontonan yang menyenangkan. Maka, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”

Sumber: http://www.hobbsandshaw.com

Dora and the Lost City of Gold (2019)

Beberapa tahun yang lalu film seri animasi anak Dora the Exploler sempat populer. Pada setiap serinya, Dora berpetualang dengan ditemani oleh Boots si monyet, ransel ajaib dan peta ajaib. Dalam perjalanannya, Dora menghadapi berbagai rintangan yang dapat dipecahkan sambil mengajak penontonnya berfikir. Dora sering mengajak penonton untuk berbicara dan memecahkan masalah bersama-sama. Pemecahan masalah ini mengajarkan anak-anak mengenai angka, huruf dan bahasa. Hal-hal positif itulah yang membuat Dora the Exploler mampu untuk terus mengeluarkan episode baru selama 8 musim pemutaran, sejak 1999. Pada sekitar 2014, nampaknya Dora the Exploler harus berakhir dan berhenti menelurkan episode baru. Meskipun begitu, episode-episode lama Dora the Exploler masih diputar ulang di beberapa Stasiun TV loh.

Mendengar Dora the Exploler hadir di layar lebar, tentunya menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Dora the Exploler hadir kembali melalui Dora and the Lost City of Gold (2019), tapi dalam bentuk live action, bukan film kartun.

Setelah bertahun-tahun home schooling di tengah hutan bersama dengan kedua orangtuanya, Dora Maquez (Isabela Moner) pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya. Keluguan Dora membuat berbagai kelucuan di sana. Kecerdasan Dora belum sebaik kemampuan Dora bergaul dengan anak-anak kota, makluum Dora sudah bertahun-tahun hidup di tengah hutan. Sampai di sini, saya banyak tersenyum melihat berbagai humor yang ditampilkan.

Aaahhhh kemudian sampailah kita dimana Dora terlibat dengan sebuah perburuan harta karun. Petaka terjadi ketika sekelompok pemburu harta karun hendak menculik Dora. Alih-alih menculik Dora seorang, mereka justru menculik Dora bersama ketiga rekan sekolahnya. Di sana terdapat Sammy Moore (Madeleine Madden), Randy Warren (Nicholas Combee), dan tentunya sepupu Dora, Diego Marquez (Jeff Wahlberg). Setelah berhasil kabur keempatnya baru menyadari bahwa mereka terjebak di pedalaman Amerika Latin. Wah ada apa ini? Semua karena kedua orang tua Dora hampir menemukan Parapata, sebuah kota yang penuh dengan emas, tersembunyi di balik rimbunnya hutan.

Dora dan kawan-kawan pun berpetualang memecahkan berbagai teka-teki demi menemukan kedua orang tua Dora dan Parapata. Saya berharap sebuah tontonan penuh misteri yang menegangkan. Tapi sayang yang saya dapatkan hanyalah teka-teki ringan dengan jalan cerita yang agak klise dan mudah ditebak.

Walaupun begitu, Dora and the Lost City of Gold (2019) berhasil menggunakan beberapa materi dari film seri kartun Dora the Exploler sehingga Dora and the Lost City of Gold (2019) seolah-olah merupakan bagian dari film seri kartun pendahulunya tersebut. Bagi penggemar Dora the Exploler di luar sana, a Dora and the Lost City of Gold (2019) tentunya akan menjadi sebuah film yang penuh nostalgia.

Yaaah, saya pribadi hanya dapat memberikan a Dora and the Lost City of Gold (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yabg artinya “Lumayan”. Terus terang saya lebih senang melihat bagian dimana Dora masih di kota, ketimbang bagian ketika ia berpetualang di hutan.

Sumber: http://www.paramountmovies.com/movies/dora-and-the-lost-city-of-gold

Star Wars: The Rise of Skywalker (2019)

Pada penghujung 2019 ini, hadir penutup dari sebuah trilogi sekuel dari Trilogi Star Wars, yaitu Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Seperti kedua film pendahulunya, Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017), film yang kembali disutradarai oleh J. J. Abrams ini mengambil latar belakang bertahun-tahun setelah Trilogi Star Wars berakhir. Trilogi Star Wars terdiri dari 3 film karya George Lucas yang legendaris. Bertahun-tahun kemudian, Disney membeli hak cipta Star Wars dan mulai membuat trilogi sekuel sebagai kelanjutan dari Trilogi Star Wars. Diawali dari Star Wars: The Force Awakens (2015), kemudian dilanjutkan oleh Star Wars: The Last Jedi (2017), lalu ditutup oleh Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Sayang sekali kedua film Star Wars sebelum Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), sudah memperoleh kritikan pedas dari mayoritas fans garis keras Star Wars. Beberapa justru lebih memilih Star Wars tamat pada Trilogi Star Wars dan tidak ada trilogi kedua. Wah wah wah, mampukah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menjawab semua kritikan dan keraguan yang telah muncul?

Pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Rey (Daisy Ridley), Poe Dameron (Oscar Issac) & Finn (John Boyega) berburu sebuah alat yang dapat menemukan lokasi Kaisar Palpatine (Ian McDiarmid), biang keladi dari segala kekacauan terjadi selama ini. Palpatine kembali muncul ke permukaan setelah menjadi antagonis utama pada Trilogi Prekuel Star Wars dan Trilogi Star Wars.

Dalam perjalanannya tentunya terjadi petempuran hebat antara pasukan pemberontak pimpinan Leia Organa (Carrie Fisher) dengan pasukan First Order pimpinan Kylo Ren (Adam Driver). Tak lupa Kylo pun terus mengejar Rey baik lewat telepati maupun langsung. Ia berusaha mempengaruhi agar Rey berbalik arah menjadi Sith. Rey pun masih berharap agar Kylo menemukan kebaikan dan kembali menjadi Jedi. Pertarungan antara Jedi dan Sith sangat kental mewarnai film yang satu ini.

Pada dunia Star Wars, terdapat individu-individu yang memiliki bakat atau sensitif terhadap sebuah kekuatan yang disebut The Force. Sith adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kebencian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat jahat mahluk hidup. Sedangkan Jedi adalah mereka-mereka yang memanfaatkan The Force dengan kasih sayang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebaikan. Pada Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Last Jedi (2017) dikisahkan bahwa Rey dan Leia bisa dibilang merupakan Jedi terakhir yang masih hidup. Kylo dan Palpatine merupakan Sith kuat yang terus merekrut orang-orang baru agar bergabung menjadi Sith.

Para Jedi dan tokoh utama pada Trilogi Star Wars, berguguran pada sekuel kedua trilogi ini. Tentunya seorang tokoh legendaris Star Wars akan tewas lagi pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Siapa tokohnya sih mudah sekali ditebak, lha hanya dia seorang saja yang masih tersisa :’D. Yang ternyata gagal saya tebak adalah siapakah Rey sebenarnya. Pada film penutup ini, identitas Rey mulai terkuak dan agak mengejutkan. Terjawab sudah mengapa kekuatan The Force milik Rey kuat sekali.

Pada film ini, saya menikmati pertarungan fisik dan mental antara Sith dan Jedi. Semuanya tersaji dengan visual yang cantik dan memukau. Dari segi cerita, film ini mengingatkan saya pada film terakhir pada Trilogi Star Wars. Agak mirip tapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Hal ini menjadi perdebatan karena banyak kritikus yang kurang suka dengan hal ini. Saya pribadi? Suka sekali, bagus dan masuk akal kok alurnya.

Kalau dilihat sebagai sebuah film Star Wars, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) memang seolah mampu berdiri sendiri dengan sebuah cerita yang lumayan bagus. Namun kalau disatukan dengan dua film sebelumnya sebagai sebuah trilogi sekuel, maka kesan yang saya dapat adalah … berantakan.

Trilogi sekuel Star Wars terdiri dari 3 film yaitu Star Wars: The Force Awakens (2015), Star Wars: The Last Jedi (2017) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019). Star Wars: The Force Awakens (2015) dan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) disutradarai oleh J. J. Abrams, sedangkan Star Wars: The Last Jedi (2017) disutradarai oleh Rian Johnson. Lucunya, ada beberapa hal yang “ditanamkan” oleh J. J. Abrams pada Star Wars: The Force Awakens (2015), tidak dilanjutkan atau digunakan oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Nah kini, pada film penutupnya, J. J. Abrams seperti membalas Rian Johnson dengan tidak menyentuh beberapa hal yang sudah “ditanamkan” oleh Rian Johnson pada Star Wars: The Last Jedi (2017). Lihat saja berapa lama karakter Rose Tico (Kelly Marie Tran) muncul pada Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) :P. Rose seolah seperti pemain figuran saja di sana hohohohoho. Bukankah ketiga film tersebut seharusnya saling berkesinambungan? Perbedaan siapa yang menyutradarai seharusnya tidak menjadi alasan. Coba saja lihat film-film MCU (Marvel Cinematics Universe). Film-film tersebut sukses besar menghasilnya kesinambungan dibawah bendera Disney. Disney sukses besar ketika membuat film-film MCU. Kenapa mereka gagal pada Star Wars? Disney seolah-olah beberapa kali merubah roadmap atau rancangan besar dari trilogi sekuel Star Wars. Mungkinkah ini karena kritikan pedas fans berat Star Wars.

Kylo Ren adalah satu-satunya karakter yang konsisten dan berkesinambungan pada ketiga film tersebut. Finn dan Rey nampak sekali berubah-ubah arahannya. Misteri akan identitas Rey pun dibuat sebagai sebuah senjata pamungkas. Well, itu memang berhasil bagi saya pribadi. Meskipun setelah menonton Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), saya jadi kurang setuju dengan judulnya :’D.

Secara garis besar, Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) berhasil memberikan hiburan yang menyenangkan bagi saya. Kekurangan dalam plot dan ketidaksinkronan dengan film sebelumnya, cukup impas terbayar dengan adegan aksi yang menyenangkan dan akhir yang lumayan diluar dugaan saya. Saya bulan penggemar berat franchise Star Wars, saya hanya dapat memberikan Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya sadar betul J. J. Abrams mengubah dan tidak memanfaatkan beberapa hal baru dari film Rian Johnson, tapi justru itulah yang saya suka. Terus terang saya kurang suka dengan kemana sekuel trilogi ini dibawa oleh Rian Johnson. Syukurlah J. J. Abrams tidak melanjutkannya :P.

Sumber: http://www.starwars.com

It Chapter Two (2019)

Terpukau dengan It (2017), membuat sekuel film tersebut menjadi salah satu film yang saya tunggu-tunggu. Sesuai dengan novelnya, kisah para tokoh utama pada It (2017) memang belum berhenti sampai di sana saja. It Chapter Two (2019) mengisahkan kembali petualangan The Loosers Club 27 tahun setelah peristiwa pada It (2017) berakhir. Siapakah The Loosers Club itu? Mereka merupakan sekelompok remaja yang beranggotakan William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), dan Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Untuk The Loosers Club dewasa, perannya dimainkan oleh aktor dan artis lain yaitu William “Bill” Denbrough (James McAvoy), Stanley “Stan” Uris (Andy Bean), Benjamin “Ben” Hansco (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richard “Richie” Tozier (Bill Harder), Edward “Eddie” Kaspbrak (James Ransone), dan Michael “Mike” Hanlon (Isaiah Mustafa).

Menurut legenda, It atau Badut Pennywise (Bill Skarsgard) akan bangkit setiap 27 tahun. 27 tahun berlalu dan kejadian buruk mulai terjadi kembali di kampung halaman The Loosers Club. Sesuai dengan sumpah yang pernah mereka ikrarkan semasa remaja dulu, The Loosers Club dipanggil kembali untuk menghadapi It. Dari sekian banyak anggota The Loosers Club, hanya 1 yang memilih bunuh diri daripada harus berhadapan kembali dengan It. Bagaimana dengan sisanya? Mereka kembali tapi dengan membawa masalah mereka masing-masing.

Kembali ke kampung halaman, membawa kenangan lama kembali. Masalah masa lalu pun datang menghinggapi. Trauma akan kekerasan yang Bev hadapi ketika masih remaja kembali datang. Eddie teringat kembali mengenai bagaimana mudahnya ia jatuh sakit sejak kecil dulu. Kematian adik Bill kembali datang menghantui Bill. Cinta segitiga antara Bev, Ben dan Bill kembali datang. Terakhir, Mike yang terus terobsesi akan kebangkitan It, memiliki ketakutan tersendiri ketika ia mengingat kematian keluarganya. Oh tunggu dulu, bagaimana dengan Stanley dan Richie? Stanley … memilih untuk tidak datang menghadapi It. Richie memiliki masalag ketakutan yang sangat absurd, tidak jelas. Belakangan tersirat baru diketahui bahwa orientasi seks Richie-lah yang menjadi masalah. Masalah Richie ini menjadi subplot tak jelas yang tak penting. Aneh sekali, kok ya ini tidak ditanamkan sejak It (2017). Masalah yang Richie hadapi seolah-olah seperti masalah yang dibuat-buat agar durasi It Chapter Two (2019) semakin panjang :P.

Durasi It Chapter Two (2019) lebih dari 2 jam dan mayoritas adegannya adalah teror dari It! Kenangan dan masalah masa lalu inilah yang diekspolitasi oleh It untuk meneror The Loosers Club. Kalau ada orang bilang bahwa lebih lama itu lebih baik, maka hal ini tidak berlaku pada It Chapter Two (2019). Teror demi teror terus muncul tanpa arah yang jelas. Semuanya pun lebih ke arah teror monster yang membosankan, bukan teror psikologis.

Sumpah, film ini terasa sangat membosankan. Terlebih lagi rencana yang Mike susun untuk menghadapi It terbilang aneh dan banyak sekali celahnya. Ya jelas sudah dapat ditebak pasti rencana Mike yang kacangan ini akan mengalami kegagalan.

Nilai positif yang saya lihat dari It Chapter Two (2019) hanyalah kostum dan efek yang jauh lebih bagus dari It (2017). Selain itu akting dari James McAvoy yang prima, tentunya menjadi poin plus lagi bagi It Chapter Two (2019). Sayang karakter-karakter The Loosers Club dewasa lainnya, kalah pamornya dengan The Loosers remaja. Karakter-karakter The Loosers Club pada It (2017) jauuuh lebih kuat dan sukses besar menghadirkan sarkasme dan lelucon yang menghibur. Sementara itu It Chapter Two (2019) justru dipenuhi oleh lelucon-lelucon yang kurang lucu.

Saya agak kecewa dengan sekuel film yang satu ini. Nilai dari saya pribadi adalah 2 dari 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Untung saya tidak menonton film ini di bioskop :’D.

Sumber: http://www.it-movie.net

Jumanji: The Next Level (2019)

Pada akhir tahun 2019 ini, sekuel Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), hadir ke layar lebar. Kisah mengenai permainan maut ini berlanjut pada Jumanji: The Next Level (2019). Beberapa tahun setelah kejadian pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner), sudah lulus SMA dan menjalani kehidupan yang berbeda. Pada saat libur panjang, mereka memutuskan untuk melakukan reuni di kampung halaman mereka.

Di sinilah awal dari kekacauan yang ada. Perangkat Nintendo yang menjadi portal untuk masuk ke dalam dunia Jumanji, ternyata masih ….. tersimpan di gudang milik keluarga Spencer. Entah apa yang Spencer pikirkan, ia mencoba memperbaiki Nintendo tersebut dan masuk ke dalam dunia Jumanji sendirian. Teman-teman Spencer tentunya tak tinggal diam. Mereka menyusul masuk ke dalam Jumanji untuk menyelamatkan Spencer. Bahkan Alex Vreeke (Colin Hanks) ikut menyusul setelah tahu insiden ini. Alex merupakan seorang remaja yang terjebak bertahun-tahun di dalam dunia Jumanji sebelum diselamatkan oleh Spencer dan kawan-kawan. Tanpa sengaja, Eddie Gilpin (Danny DeVito) dan Milo Walker (Danny Glover), ikut tertarik masuk ke dalam dunia Jumanji.

Mirip seperti pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), kali ini ketujuh tokoh utama kita harus menyelesaikan sebuah misi di dalam dunia Jumanji. Seperti video game, mereka akan menggunakan tubuh atau avatar yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang memiliki 3 nyawa dimana kalau ketiga habis atau mereka tewas sebanyak 3 kali di dalam Jumanji, maka mereka akan tewas di dunia nyata.

Hhhhmmmm, kalau dihitung, sekarang jadi ada 7 orang yang masuk ke dalam dunia Jumanji. Padahal bukankah avatar yang terdapat di sana hanya 5? Well, terdapat 2 avatar tambahan yang memiliki peran penting pula dalam permainan kali ini. Tubuh atau avatar yang tersedia adalah Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart), Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black), Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas), Ming Fleetfoot (Nora Lum) dan ……. seekor kuda hitam :’D. Ahhh, siapa yaa yang akan sial menjadi seekor kuda? Eits, tunggu dulu, si kuda ini ternyata bukan sembarang kuda loh, Spencer dan kawan-kawan tidak akan berhasil menyelesaikan misi mereka tanpa bantuan si kuda ini. Misi yang mereka hadapi berbeda dengan misi pada Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Agak berbeda dengan Jumanji: Welcome to the Jungle (2017), setiap pemain mendapatkan avatarnya secara acak. Penempatan avatar ini menimbulkan berbagai kelucuan. Tapi sayang leluconnya jadi agak mirip dengan lekucon pada film pertamanya. Kemudian pesan moral yang diangkatpun saya rasa sama persis. Film ini mengajarkan mengenai persahabatan dan saling memaafkan.

Sebenarnya bagian akhir Jumanji: The Next Level (2019) memiliki potensi untuk menjadi sesuatu yang mengharukan. Sayang eksekusinya kurang tepat sehingga, terasa biasa saja.

Yaah paling tidak, adegan aksinya cukup menghibur dan menyenangkan untuk dilihat. Dibalut dengan humor di mana-mana, cerita yang sebenarnya standard sekali ini terasa tidak membosankan.

Saua rasa Jumanji: The Next Level (2019) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walau memiliki beberapa kekurangan, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Semoga film Jumanji berikutnya dapat memberikan hiburan yang lebih segar lagi :).

Sumber: http://www.jumanjimovie.com

The Lion King (2019)

Disney kembali membuat ulang salah satu film animasinya yang sangat populer di era 90-an. Kali ini giliran The Lion King (1994) yang pernah saya tonton ketika SD dan menjadi salah satu film animasi kesukaan saya pada waktu itu. Dengan menggunakan teknologi terbaru, Disney menghidupkan kembali The Lion King (1994) dalam sebuah film yang penuh special effect pada The Lion King (2019). Singkat kata, The Lion King (2019) adalah versi live action dari The Lion King (1994).

Kisah yang disuguhkan sama persis. Di sebuah area hutan Afrika yang disebut Tanah Kebanggaan, para singa memerintah dengan adil sesuai lingkaran kehidupan hewan yang ada sejak dahulu kala. Raja Mufasa (James Earl Jones) yang telah lama memerintah, dibunuh oleh saudaranya sendiri, Scar (Chiwetel Ojiofor). Kemudian melalui tipu daya dan fitnah, Scar mengasingkan Sang Putra Mahkota, Simba (Donald Glover), jauh keluar dari Tanah Kebanggaan.

Simba tumbuh besar diasuh oleh Pumbaa (Seth Rogen) dan Timon (Billy Eichner). Timon yang seekor merkaat dan Pumbaa yang seekor babi hutan, memberikan rumah baru bagi Simba. Semua nampak indah sampai Nala (Beyonce Knowles) datang dan memberitahukan keadaan Tanah Kebanggaan yang Simba tinggalkan. Di bawah kekuasaan Scar, para singa berada di bawah kendali para hyena. Sesuatu yang tidak sesuai dengan rantai makanan dan lingkaran kehidupan. Ibu dari Simba pun masih hidup di sana dan hidup dalam tekanan dan ancaman.

Walau awalnya menolak, Simba akhirnya kembali ke Tanah Kebanggaan untuk merebut tahta dan mengembalikan lingkaran kehidupan yang Scar rusak. Jika salah satu lingkaran kehidupan diubah dengan paksa, maka semuanya akan terpengaruh.

Klise? Yaah betul sekali. Film ini memang pada dasarnya mengisahkan mengenai seorang pangeran yang datang untuk membalas dendam dan menyelamatkan keluarganya. Tapi The Lion King (1994) lebih berhasil menghasilkan sebuah eksekusi yang menarik dan berkesan. Hadir dengan teknologi terkini yang indah, The Lion King (2019) seperti tidak ada jiwanya. Ceritanya terasa datar dan standard.

Karakter Pumbaa dan Timon yang seharusnya lucu dan konyol, gagal membuat saya tertawa. Soundtrack film ini pun sepertinya terlalu dibuat ke-Afrika-an dan kurang cocok di telinga saya. Sumpah saya lebih suka dengan yang versi tahun 1994 meskipun hadir dengan animasi yang tidak sebagus The Lion King (2019).

Kelebihan yang sangat terlihat pada The Lion King (2019) sopasti adalah pada visualnya. Binatang dan alam yang ditampilkan memang nampak indah dan mengagumkan. Semuanya seperti sungguhan dan sangaaaat halus. Kalau untuk masalah visual, The Lion King (2019) sayah kasih 2 jempok deh :). Tapi disini pulalah letak hilangnya jiwa pada The Lion King (2019). Karena visualnya yang sangat realistis, saya tidak dapat melihat mimik kesedihan atau kemarahan pada film ini. Berbeda dengan yang versi tahun 1994 dimana raut muka karakter-karakter masih dapat digambarkan dengan jelas. Aahhh kenapa sih kok selalu dibandingkan dengan The Lion King (1994)? Tentu saja, karena The Lion King (2019) adalah sebuah remake, bukan reboot, jadi saya mengharapkan adanya keunggulan lain dari aspek-aspek yang ada. Dari segi cerita dan karakter saja sudah sama persis.

Dengan begitu, saya rasa The Lion King (2019) masih layak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film tersebut aman ditonton semua umur, tidak ada cium-ciuman di sana meski tak ada satu karakter pun yang menggunakan baju. Yaaa jelas isinya binatang semua :P.

Sumber: http://www.lionking.com

Midsommar (2019)

Sekitar setahun yang lalu saya menonton Hereditary (2018), sebuah film horor karya sutradara Ari Aster. Film tersebut menghasilkan berbagai review yang sangat beragam dan bertolak belakang. Terlepas dari suka atau tidak, film tersebut berhasil mengangkat Ari sebagai sutradara. Maka pada tahun 2019 ini Ari kembali melalui Midsommar (2019). Sebuah film horor yang menurut saya pribadi, lebih unik ketimbang Hereditary (2018) :).

Kisah Midsommar(2019) diawali dengan tragedi yang menimpa keluarga Dani Ardor (Florence Pough). Berbagai “drama” yang Dani alami akibat tragedi tersebut membuat hubungan percintaannya dengan sang kekasih, Christian Hughes (Jack Reynor) mulai renggang. Keduanya nampak berusaha untuk memulihkan hubungan mereka yang semakin dingin. Dani pun sampai tidak mengetahui bahwa Christian dan teman-teman kuliahnya hendak menghadiri festival Midsommar di Swedia. Walaupun ada kecanggungan dan sedikit konflik, Dani yang mahasiswi Psikologi, akhirnya ikut serta menuju Swedia dengan Christian dan rekan-rekannya dari jurusan Antropologi. Di sini terlihat betapa buruknya komunikasi antara Dani dan Christian.

Di Swedia, Dani dan Christian berharap untuk dapat memperbaiki hubungan mereka. Dani pun berharap untuk dapat melupakan & melepaskan kesedihan hidupnya di sana. Sementara itu. Sementara itu rekan-rekan mereka memiliki tujuan yang berbeda, bahkan satu diantaranya justru akan membawa kematian. Apakah mereka semua akan menemukan apa yang mereka cari di Swedia? Ya dan tidak :’D.

Festival Midsommar sendiri sebenarnya merupakan festival yang dilakukan setiap 90 tahun sekali oleh komunitas Hårga di daerah pedalaman Hälsingland, Swedia. Di sana terdapat berbagai nyanyian dan tarian yang unik. Namun, ternyata festival ini memiliki beberapa ritual yang sangat “mengganggu” bagi orang luar seperti Dani dan kawan-kawan. Dari hari pertama saja, sebenarnya sudah terlihat ada hal yang aneh dari festival ini. Tapi pihak komunitas dengan cerdik berhasil membuat Dani dan kawan-kawan untuk tetap tinggal. Cara yang komunitas Hårga lakukan cukup cerdik karena mereka sama sekali tidak menggunakan kekerasan.

Dari luar, komunitas Hårga nampak ramah. Seolah mereka hidup di tengah-tengah tarian, nyanyian dan bunga-bunga yang indah. Gambaran yang ditampilkan sepanjang Midsommar (2019) sangat jauh dari kesan angker atau seram. Semua serba cerah dan ceria. Sepanjang film saya dimanjakan oleh sinematografi yang sangat memukau. Saya kagum bagaimana Ari Aster berhasil memberikan kengerian tanpa harus menggunakan jump scare atau visual yang serba gelap dan muram. Perlu diingat bahwa Midsommar (2019) bukanlah film monster atau horor yang penuh dengan jump scare. Film ini memberikan nuansa horor psikologis yang unik.

Ahhhh sayang, sebenarnya jenis cerita horor seperti ini sudah dapat ditebak kemana arahnya. Dari awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir dari kisah horor ini, tidak ada banyak misteri di sana. Tempo yang sangat lambat dengan jalan cerita yang relatif mudah ditebak, terkadang membuat saya merasa bosan.

Midsommar (2019) mengingatkan saya akan film The Wicker Man (2006), hanya saja Midsommar (2019) beberapa tingkat lebih bagus ketimbang The Wicker Man (2006). Setiap bagian pada Midsommar (2019) memiliki arti tertentu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan setelah selesai menontonnya. Bahkan sekitar 10 menit pertama pun sudah mengandung beberapa hal terkait festival Midsommar loh, padahal itu baru adegan awal saja dimana Dani dan kawan-kawan masih berada di Amerika. Beberapa penonton menganggap bagian awalnya terlalu bertele-tele, padahal di sana ada detail yang dapat menimbulkan spekulasi akan konspirasi yang komunitas Hårga mungkin lakukan.

Sebenarnya Midsommar (2019) relatif lebih bagus ketimbang Hereditary (2018), tapi saya tetap hanya dapat memberikan Midsommar (2019) nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Entah mengapa, saya tetap lebih seram dengan cerita horor ala Indonesia. Hanya saja sayang sekali mayoritas film horor Indonesia, belum digarap dengan baik.

Sumber: a24films.com/films/midsommar