My Little Pony: A New Generation (2021)

Masih ingat dengan Putri Twilight Sparkle dan kawan-kawan pada My Little Pony? Franchise My Little Pony telah beberapa kali mengalami reinkarnasi dan sukses menarik perhatian anak-anak. Dengan tema persahabatan yang terus diusung, Twilight dan kawan-kawan berhasil menjadi idola yang baik.

Pada 2021 ini, franchise My Little Pony melakukan reinkarnasi yang cukup berani. Mereka mencoba mengubah latar belakang beserta karakter utamanya dengan lebih frontal. Hal ini tentunya dapat memberikan peluang bagi cerita yang lebih segar dan berbeda.

Twilight dan kawan-kawan tidak akan hadir secara langsung pada My Little Pony: A New Generation (2021). Latar belakang film My Little Pony ini adalah keadaan dunia jauh di masa setelah era Twilight dan kawan-kawan. Sebuah era dimana persahabatan Twilight dan karakter My Little Pony lainnya telah menjadi legenda. Sayang, legenda Twilght dan kawan-kawan ini lama kelamaan sudah merubah menjadi mitos. Sebuah mitos yang diragukan kebenarannya.

Kok bisa? Agak berbeda dengan dunia My Little Pony yang lama. Dunia My Little Pony yang baru ini adalah dunia dimana pony tidak lagi bersatu dan hidup berdampingan. Pada dasarnya pony terbagi 3 yaitu pony bumi, unicorn dan pegasus. Semua hanya karena perbedaan ciri fisik dan legenda akan kemampuan dan kebiasaan yang berbeda. Perbedaan yang berhasil memecah belah para pony.

Sang karakter utama hadir sebagai seorang pony yang percaya bahwa era Twilight dan kawan-kawan dapat terjadi kembali. Ia percaya bahwa semua pony dapat bersahabat tanpa saling curiga.

Belakangan, semakin terlihat bahwa semua pony sama-sama hidup dibalik rasa curiga dan berbagai kebohongan. Sesuatu yang dapat diperbaiki hanya dengan persahabatan. Mirip seperti pendahulunya, My Little Pony: A New Generation (2021) berbicara lantang mengenai persahabatan.

Hanya saja, My Little Pony: A New Generation (2021) didukung oleh animasi yang sangat cantik. Saya suka sekali dengan animasinya yang lebih 3 dimensi dan sangat halus. Untuk film animasi keluaran 2021, film ini terbilang bagus sekali kualitas animasinya.

Sayang cerita film ini mudah ditebak dan ada beberapa bagian film yang agak bertele-tele. Semua karakternya dibuat relatif baik semua. Tidak ada karakter yang mutlak jahat pada film ini. Yang ada hanyalah karakter yang khilaf saja hehehehehehe. Yahhhh, pada intinya semua hanyalah salah faham saja.

Secara keseluruhan, film My Little Pony generasi terbaru ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sementara ini, anak saya masih tetap lebih senang dengan Pinky Pie, karakter My Little Piny generasi yang sebelumnya. Karakter-karakter pada My Little Pony: A New Generation (2021) masih belum ada yang bisa menggantikannya.

Sumber: mylittlepony.hasbro.com

Perpanjangan Tanah Makam di TPU Layur

Selama ini saya memiliki keluarga yang sudah wafat dan dimakamkan di TPU Layur, Jakarta Timur. Setiap 3 tahun sekali, pihak keluarga harus memperpanjang surat sewa makam atau surat IPTM (Izin Penggunaan Tamah Makam). Kebetulan, masa berlaku surat IPTM makam keluarga saya habis pada Juli 2021, di tengah-tengah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Aktifitas Masyarakat) akibat merebaknya virus Covid-19.

Seingat saya, pada waktu itu wilayah DKI Jakarta masih berada di PPKM level 4. Namun betapa jahatnya penyebar hoaks, orang tua saya dibuat panik ketika menerima broadcast message Whatsapps seperti di bawah ini.

Walau saya yakin itu pasti hanya hoax, saya dan istri saya tetap datang ke TPU Layur demi menenangkan orang tua saya. Ternyata TPU Layur masih tutup karena Jakarta Timur masih berada di PPKM level 4. Perpanjangan surat IPTM boleh diurus setelah level PPKM Jakarta Timur mulai turun. Di sana ternyata sudah ada beberapa orang yang datang akibat broadcast message tersebut. Yah kebanyakan sih yang rumahnya dekat seperti saya, kalau jauh sih lebih baik di rumah saja :’D. Syukurlah di dekat sana terdapat cabang Lumpia Bandung Mang Ucup yang buka, kami bisa jajan deh hehehehe.

Pada bulan September 2021, barulah kami kembali datang ke TPU Layur untuk mengurus perpanjangan surat IPTM. Setibanya di sana, Kantor TPU Layur dalam keadaan buka dan sepi sekali, tidak ada antrian. Kami datang dengan membawa fotokopi rangkap 3 dari Kartu Keluarga dan KTP perwakilan keluarga yang datang memperpanjang. Tak lupa surat IPTM terakhir pun kami bawa, beserta fotokopi rangkap 3-nya. Kali ini, surat IPTM yang saya miliki adalah IPTM 2018.

Dari Kantor TPU Layur, kami memperoleh formulir yang harus diisi. Setelah diisi, formulir tersebut harus difotokopi rangkap 3. Weew, kami pun berangkat ke lapak fotokopi yang terletak di samping TPU.

Setelah selesai memfotokopi, kami kembali ke Kantor TPU Layur. Jadi total kami memiliki 3 rangkap fotokopian KTP, Kartu Keluarga dan surat IPTN 2018 plus …. surat IPTN 2018 asli. Pihak TPU mengambil surat IPTN asli, dan 1 rangkap fotokopian KTP, Kartu Keluarga dan IPTN 2018. Kemudian mereka memberikan surat berstempel yang dipergunakan untuk diproses pihak Kelurahan. Dalam hal ini Kelurahan Jati, karena TPU Layur berada di dalam wilayah Kelurahan Jati.

Setibanya di Kelurahan, sudah terdapat beberapa antrian. Proses mengantri di sini agak lama. Tapi yang pasti, teman-teman harus agresif bertanya terus kalau datang ke tempat ini :(. Pihak Kelurahan mengambil 1 rangkap fotokopian KTP, Kartu Keluarga dan IPTN 2018, … serta surat berstempel dari TPU. Di sini kami memperoleh Surat Setoran Retribusi Daerah (SSRD). Surat ini harus kami bawa ke Bank DKI untuk melalukan pembayaran.

Setelah melakukan pembayaran dari Bank DKI, SSRD beserta tanda bukti pembayaran, harus dibawa kembali ke Kelurahan. Setelah menunjukkan bukti pembayaran, Pihak Kelurahan akan memberikan IPTN yang terbaru, dalam hal ini IPTN 2021. Aaahhhh akhirnya selesai juga. Bingung? Baiklah akan saya gambar, langkah-langkahnya ke mana saja.

Dengan menggunakan kendaraan pribadi, semua proses panjang di atas kami mulai sekitar pukul 1 siang dan selesai sekitar pukul 3 sore, hanya sekitar 2 jam saja kok. Biayanya pun murah meriah, jauhlah bila dibandingkan dengan biaya makam di San Diego Hills :’D. Sampai jumpa 3 tahun lagi ;).

The Tomorrow War (2021)

Akhirnya film yang saya tunggu-tunggu hadir juga, The Tomorrow War (2021). Saya sudah tertarik dengan film ini ketika melihat trailer-nya. Ceritanya berkisar pada bagaimana seseorang dari masa lalu membantu anaknya untuk memenangkan perang di masa depan.

Dikisahkan bahwa pada tahun 2022 sekelompok penjelajah waktu hadir di tengah-tengah pertandingan Piala Dunia. Mereka mengabarkan bahwa sekitar 30 tahun dari tahun 2022, Bumi diserang oleh mahluk misterius yang disebut landak putih. Pihak manusia terus menerus mengalami kekalahan dan diperkirakan akan mengalami kepunahan.

Maka mereka meminta bantuan dari umat manusia yang hidup di tahun 2022 untuk datang ke masa depan. Mereka mengajak untuk ikut berperang menyelamatkan generasi anak dan cucu mereka di masa depan. Pemerintah pun merespon dengan mengirimkan tentara dan rakyat sipil yang memenuhi persyaratan. Wajib militer pun diberlakukan.

James Daniel “Dan: Forester (Chris Pratt) adalah mantan pasukan baret hijau yang mengajar biologi di sekolah. Ia mendapatkan panggilan wajib militer dan pergi ke masa depan. Secara mengejutkan, Dan bertemu dengan Kolonel Muri Forester (Yvonne Strahovski), anaknya di masa depan. Seketika itulah peperangan ini berubah menjadi masalah pribadi bagi Dan. Keduanya bekerjasama mencari cara untuk memenangkan perang secepat mungkin. Bala bantuan dari masa lalu ternyata kurang cukup dan populasi manusia semakin menurun.

Peperangan dan aksi yang disajikan terbilang keren dan bagus. Hanya saja kok rasanya mirip dengan Starship Troopers (1997) ya. Mulai dari bentuk monsternya sampai tembak-tembakannya.

Tapi saya senang, The Tomorrow War (2021) mengambil topik dan jalan cerita yang jauh berbeda dari Starship Troopers (1997). Jalan cerita The Tomorrow War (2021) lebih menarik untuk diikut. Temponya pas sekali sehingga setiap adegan, menarik untuk dilihat. Penyelidikan untuk mencari cara memenangkan perang adalah bagian yang paling membuat saya penasaran.

Tak hanya itu, The Tomorrow War (2021) ternyata bercerita pula mengenai keluarga. Bagaimana hubungan keluarga yang tidak harmonis, kembali pulih melalui serangkaian bencana.

Saya rasa The Tomorrow War (2021) pamtas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebuah sekuel dikabarkan akan hadir. Hmmmm kalau sudah berbicara mengenai perjalanan waktu, memang pasti banyak celah untuk memutar-mutar ceritanya.

Sumber: http://www.amazon.com/Tomorrow-War-Chris-Pratt/dp/B093CNZ7ST

The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

The Exorcist (1973) merupakan salah satu contoh film horor yang sangat populer di Amerika sana. Pada intinya sih itu film mengenai kesurupan ala Amerika. Kemudian ada ritual pengusiran setan atau roh halus dari tubuh korban yang kesurupan. Film horor-horor sejenis ini banyak bergentayangan dan cukup membosankan bagi saya pribadi. Kesurupannya Indonesia lebih seram dan masif daripada itu :’D.

Semua sedikit bergeser ketika James Wan menelurkan The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016). Tokoh utamanya diambil dari karakter nyata di dunia nyata. Edward “Ed” Warren Miney dan Lorraine Rita Warren. Keduanya merupakan pasangam suami istri yang konon telah menyelidiki sampai 10000 kasus paranormal . Mereka bahkan memiliki koleksi akan berbagai benda paranormal dari beberapa kasus yang telah mereka tangani. Saya pribadi tidak terlalu peduli mengenai apakah ini berdasarkan kisah nyata atau tidak. Kalau sudah masuk film, sopasti ada yang diubah agar menarik untuk ditonton.

Yang menjadi kelebihan dari 2 film besutan James Wan tersebut terletak pada kedua karakter Ed dan Lorraine yang diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Varmiga. Lorraine memiliki kemampuan cenayang, sedangkan Ed menjadi otot yang menjadi tumpuan Lorraine. Kerjasama keduanya terbilang enak untuk diikuti. Apalagi The Conjuring (2013) dan The Conjuring 2: The Enfield Polteegeist (2016) bukan hanya kerasukan dan kesurupan saja. Ada misteri dan jalan cerita yang beragam di sana.

Kesuksesan kedua film Conjuring menelurkan berbagai film spinoff yang menceritakan mengenai hal-hal terkait kasus Ed dan Lorraine Warren. Tapi keabsedan tokoh Ed dan Lorraine membuat spinoff-spinoff tersebut terasa hambar. Apalagi mereka menggunakan jump scare tak penting yang tidak pernah digunakan James Wann pada 2 film Conjuring.

Setelah 5 tahun menanti, akhirnya lahirlah film ketiga Conjuring yaitu The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Ini bukan spinoff yaaa, ini Conjuring original :P. Namun sangat disayangkan, Kokoh James Wan tidak akan mengisi posisi sutradara lagi. Ia terlibat sebagai produser dan penulis, cie cieee udah jadi pak bos euy. Lalu siapa sutradaranya? Michael Chaves, salah satu sutradara film spinoff dari Conjuring. Aaahhh, di sini saya agak ragu…..

Beruntung trailer The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) terlihat keren jadi perlahan saya lupa siapa sutradara film ketiga Conjuring ini. The Devil Made Me Do It merupakan salah satu judul berita di koran tahun 80’an. Isinya mengenai kasus persidangan pembunuhan. Eeeeeiiit tapi ini bukan kasus pembunuhan biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika, kesurupan dijadikan alasan sebuah pembunuhan. Arne Cheyenne Johnson menyatakan bahwa ia dipengaruhi dan dikendalikan oleh setan ketika melakukan pembunuhan. Ed dan Lorraine pun hadir sebagai saksi ahli yang berusaha membuktikan bahwa Arne benar. Ed dan Lorraine berjuang di pengadilan berusaha membuktikan mengenai kesurupan setan. Sesuatu yang kontoversial dan bukan hal yang mudah. Nahhh ini adalah kisah nyata dari kasus tersebut. Isinya pengadilan saja dooong, seperti menonton Serial Law & Order duuong x_x.

Ok, beruntung versi filmnya dibuat berbeda. Karena tidak semua yang asli kisah nyata itu menarik untuk ditonton. Pada The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021), dikisahkan bahwa Ed dan Lorraine sedang menangani kasus kesurupan anak bungsu keluarga Glatzel. Arne Cheyenne Johnson (Ruari O’Connor) hadir sebagai kekasih si kakak. Di sana Arne ditampilkan sebagai pemuda baik hati yang sudah seperti menjadi bagian keluarga Glatzel. Maka tidak mengherankan ketika pada sebuah insiden, Arne menawarkan tubuhnya untuk dijadikan inang baru si setan. Arne tidak tega melihat penderitaan adik kekasihnya yang masih kecil.

Tak disangka, setan tersebut benar-benar menjadikan Arne sebagai inang yang baru. Ini sebenarnya lebih berbahaya karena kini si setan memiliki kendali atas tubuh seorang remaja, bukan anak kecil. Masalahnya, benarkah semua ini adalah udah setan? Untuk pertama kalinya Ed dan Lorraine harus berhadapan dengan lawan yang tidak 100% setan. Jangan apa-apa disalahakan ke setan dong, kasian amet jadi setan ;P.

Bak detektif paranormal, Ed dan Lorraine menelusuri berbagai petunjuk yang ada. Investigasi merupakan bagian yang paling saya suka dari film ini. Belum lagi terdapat unsur thriller yang bagus di sana. Penggunaan jump scare memang relatif lebih banyak dibanding 2 film Conjuring sebelumnya, tapi masih dalam batas wajar kok.

Terus terang saya lebih suka dengan The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) ketimbang 2 film pendahulunya. Unsur misteri dan thriller-nya terasa lebih kental. Memang hal ini mengorbankan unsur horornya sih. Tapi toh yang dikorbankam itu horor kesurupan, ah saya ikhlas sajalah. Saya tidak terlalu terkagum-kagum dengan ritual pengusiran setan. Bosen ahhh, sekali-kali Ed & Lorraine pakai cara yang lainlah untuk menyelesaikan kasusnya.

Dengan demikian The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata keraguan saya kepada Mas Sutradara Michael Chaves terbukti salah. Saya ternyata cocok dengan caranya mengolah kasus Ed dan Lorraine, mangap ya Mas Chaves :).

Sumber: http://www.theconjuringmovie.net

Wrath of Man (2021)

Wrath of Man (2021) merupakan remake dari film Prancis Le Convoyeur (2004). Film ini mengisahkan perampokan mobil lapis baja bermuatan uang tunai. Patrick Hill (Jason Statham) merupakan personel baru dari Fortico Security, perusahaan kendaraan lapis baja yang bertugas memindahkan uang dengan aman.

Hill tentunya bertugas menjaga uang yang ia angkut. Pekerjaan baru Hill ini merupakan pekerjaan beresiko tinggi. Upaya perampokan kendaraan lapis baja sudah beberapa kali memakan korban. Hanya saja, Hill merupakan karakter yang diperankan Jason Statham. Well, Statham memerankan sebuah peran yang sering kali ia perankan di film-film aksi lainnya. Hill terkesan dingin dan sangat mampu menghadapi bahaya. Saya suka sekali dengan penampilan Statham kali ini. Adegan aksinya tidak berlebihan dan tidak bertele-tele. Semua secukupnya sehingga tidak membosankan.

Perlahan-lahan, identitas asli Hill terbuka. Terdapat alasan kuat mengapa orang seahli Hill mau saja bekerja di Fortico Security. Praktis tidak ada kejutan yang berarti pada Wrath of Man (2021). Pada dasarnya ini merupakan film balas dendam biasa. Walaupun alur ceritanya dibuat maju-mundur, saya tidak merasa kebingungan. Semuanya terbilang sangat mudah dipahami.

Saya rasa Wrath of Man (2021) cukup menghibur berhasil dan sudah sepantasnya memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini sangat cocok bagi teman-teman yang menginginkan film aksi segar yang tidak membuat penontonnya berfikir keras :).

Sumber: http://www.wrathofman.us

Nobody (2021)

Nobody (2021) memiliki judul yang sangat berkaitan dengan tokoh utamanya. Hutch Mansell (Bob Odenkirk) berusaha menjadi “nobody” atau “bukan siapa-siapa”. Ia berusaha tampil sebagai kepala keluarga biasa yang hidup dengan istri dan kedua anaknya. Ia bahkan rela terlihat lemah demi menutupi rahasinya. Pada bagian awal film, Mansell memang sedikit mendapat cibiran sebagai laki-laki lemah. Tapi tenang, itu tidak berlangsung lama dan cibirannya tidak berlebihan. Semuanya nampak cukup wajar dan secukupnya. Biasanya, pada film-film lain yang sejenis, cibiran kepada si tokoh utama dibuat banyak dan berlebihan supaya penonton kesal dan terbawa emosi. Kali ini penonton tidak dibawa ke arah itu.

Di sini, sejak awal Mansell seperti menyembunyikan sesuatu di dalam dirinya. Beberapa tokoh yang mengetahui rahasia Mansell, terlihat ketakutan ketika melihat Mansell muncul. Siapakah Mansell sebenarnya? Mafia? Gangster? CIA? FBI? KGB? atau BIN? :’D

Apapun organisasinya, yang pasti Mansell mampu menghabisi banyak orang ketika ia sedang serius. Jangan salah, Nobody (2021) tidak tampil seperti mayoritas film aksi di era 90-an. Semua adegan aksinya ditampilkan dengan sangat wajar dan masuk akal. Tokoh Mansell seolah-olah memang benar ada di dunia nyata. Saya dapat melihat dengan jelas ekspresi kaget takut dan kesakitan dari Mansell. Saya acungkan 2 jempol deh bagi akting Bob Odenkirk.

Adegan aksi Nobody (2021) terbilang keren sekali. Dari awal sampai akhir, semuanya sukses menghibur malam minggu saya. Sekilas, Nobody (2021) memiliki beberapa kesamaan dengan film-filmnya John Wick. Hal ini tidak mengherankan sebab penulis dan produser Nobody (2021) adalah bagian dari tim yang terlibat pada film-film John Wick. Saya pribadi sedikit lebih senang dengan Nobody (2021) dibandingkan kedua film John Wick yang sudah dirilis. Mansell berjuang dengan keluarga sebagai taruhannya. Sementara itu John Wick berjuang untuk keselamatan dirinya sendiri, tidak ada keluarga lagi di sisi John. Pertaruhan Mansell terasa lebih besar dan beresiko.

Dibalut dengan jalan cerita yang bagus dan tidak membosankan, film yang satu ini sangat layak untuk ditonton. Nobody (2021) sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sampai saat saya menulis tulisan ini, Nobody (2021) adalah film terbaik yang saya tonton sepanjang awal tahun 2021.

Sumber: http://www.nobody.movie