Mini Seri And Then There Were None (2015)

Sebelum Murder at the Oriont Express (2017), ternyata novel-novel karya Agatha Christie sudah ada yang terlebih dahulu dibuat filmnya, And Then There Were None (2015) adalah salah satunya. And Then There Were None (2015) pertama kali hadir di stasiun TV BBC One dalam bentuk 3 seri. Berbeda dengan Murder at the Oriont Express (2017), And Then There Were None (2015) memang hanya hadir dalam format mini seri yang biasa diputar di stasiun TV, bukan bioskop.

Saya sendiri hampir tidak mengetahui bahwa And Then There Were None (2015) diambil dari salah satu novel Agathe Chtistie. Judul ini ternyata merupakan modifikasi dari novel Agathe Christie yang berjudul 10 Anak Negro. Karena dianggap rasis, maka judul dan beberapa bagian novel tersebut diubah menjadi And Then There Were None. Saya sendiri membaca novel Agatha Christie dengan judul 10 Anak Negro dan merasa tidak ada unsur rasis di sana. Novel tersebut sama sekali tidak membahas unsur rasial.

Tapi memang di dalamnya banyak menggunakan kalimat negro yang menjadi hal sensitif di negara-negara tertentu. Kata negro banyak digunakan untuk menggambarkan boneka dan puisi terkait pembunuhan berencana di sebuah pulau. Pada And Then There Were None (2015), boneka dan puisi negro digantikan oleh boneka dan puisi prajurit. Judul film inipun menggunakan bagian akhir dari sebuah puisi yang tergantung di setiap kamar di rumah Keluarga Owen. Puisi tersebut menggambarkan bagaimana 10 prajurit mati satu persatu dengan cara yang berbeda.

Pada suatu hari, Keluarga Owen mengundang 8 orang tamu untuk datang dan menginap di rumah mereka. Tak lupa Keluarga Owen sudah menyewa 2 orang pelayan untuk memenuhi kebutuhan para tamu. 8 tamu dan 2 pelayan? Wah total ada 10 orang di sana. Kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut, satu per satu menemui ajalnya dengan cara yang berbeda seperti yang disampaikan oleh puisi 10 prajurit yang tergantung di setiap kamar. Setiap ada yang tewas, boneka prajurit yang ada di meja makan, akan hilang. Jadi boneka tersebut seolah-olah melambangkan jumlah orang yang masih hidup. Karena rumah Keluarga Owen merupakan satu-satunya rumah di sebuah pulau terpencil, tak ada satupun calon korban yang dapat meninggalkan rumah. Mau tak mau mereka harus menemukan siapa dalang dari semua ini. Apalagi semua orang yang ada di rumah tersebut tidak saling kenal. Entah apa alasan kenapa mereka diundang untuk dibunuh satu per satu seperti ini. Kemana perginya si tuan rumah? Ternyata, kesepuluh calon korban pun tidak pernah bertemu langsung dengan Keluarga Owen.

Semakin lama semakin terlihat bahwa masing orang di dalam rumah tersebut, pernah melakukan pembunuhan di masa lalu. Pelan-pelan mengetahui dosa masa lampau mereka memang menarik untuk ditonton. Tapi melihat cara mereka tewas, tidaklah menarik karena kok ya kurang dihubungkan dengan bunyi puisi. Padahal petunjuk-petunjuk pada puisi itulah yang membuat cerita ini menarik. Saya tidak melihat ketagangan pada film ini, jalan cerita yang seharusnya menarik, nampak agak hambar. Satu-satunya yang menarik adalah siapa dalang semua ini dan apa motif sebenarnya.

Saya hanya dapat memberikan mini seri ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bolehlah dijadikan tontonan di sela waktu istirahat. Saya sendiri lebih senang dengan versi novelnya.

Sumber: http://www.agathachristie.com/film-and-tv/and-then-there-were-none

Iklan

Murder at the Oriont Express (2017)

Orient Express

Novel-novel Trio Detektif -nya Alfred Hitchcock dan Agatha Christie menjadi bacaan saya ketika remaja. Saya memang senang membaca novel-novel misteri karya opa Alfred dan Oma Agatha. Novel-novel Agatha Christie yang saya baca, sering sekali menggunakan detektif eksentrik asal Belgia, Hercule Poirot, sebagai karakter utamanya :). Oleh karena itu, begitu salah satu karya Agtha Christie yang mengusung Poirot sebagai protagonis utamanya, dihadirkan ke layar lebar, saya berusaha menyempatkan diri untuk menontonya. Ahhh sayang sekali, karena berbagai kesibukan, saya baru sempat menontonnya di pesawat, menemani 8 jam perjalanan menuju Abu Dhabi @_@. Suasana pesawat yang kala itu gelap, dingin dan sedikit bergoyang, sepertinya cocok sekali untuk menonton film misteri yang latar belakangnya sebuah perjalanan jauh pula. Perjalanan Hercule Poirot (Kenneth Branagh) dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api pada Murder at the Oriont Express (2017).

Judul film ini sama persis dengan judul salah satu novel Agatha Christie yang pernah saya baca. Otomatis sebenarnya kurang lebih saya tahu siapa pembunuh di dalam film tersebut. Tapi saya sudah lupa motif dan prosesnya, maklum versi novelnya saya baca dahulu kala.

Orient Express

Pada Murder at the Oriont Express (2017), Poirot bepergian dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api mewah, Oriont Express, yang diprediksi akan memakan waktu selama 3 hari. Wew, kok 3 hari yah? itu kereta mewah atau kereta siput? ;P Yaaaah maklum, latar belakang Murder at the Oriont Express (2017) adalah tahun 1934, Indonesia saja belum merdeka. Oriont Express merupakan kereta api berbahan batu bara yang mewah dan dilengkapi berbagai sarana seperti ruang makan yang luas, ruang duduk santai, meja bartender dan ruang tidur penumpang.

Orient Express

Oriont Express terus berjalan di tengah badai salju sampai akhirnya ia tergelincir dari jalurnya. Otomatis Oriont Express beserta penumpangnya, untuk sementara tidak dapat pergi kemana-mana sampai bantuan tiba. Justru di saat inilah Poirot menemukan sebuah kasus pembunuhan. Samuel Rattchet (Johnny Depp), salah satu penumpang Oriont Express, ditemukan tewas terbunuh di dalam kamar tidurnya dengan beberapa luka tusuk. Otomatis para penumpang dan kru Oriont Express menjadi tersangka utama kasus ini. Di sana terdapat Mary Hermoine Debenham (Daisy Ridley), Dr. Arbuthnot (Leslie Odom Jr.), Hector MacQueen (Josh Gad), Edward Henry Masterman (Derek Jacobi), Bouc (Tom Bateman), Pilar Estravados (Penélope Cruz), Princess Dragomiroff (Judi Dench), Gerhard Hardman (Willem Dafoe), Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer), Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), Count Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin), Countess Helena Andrenyi (Lucy Boynton), Pierre Michel (Marwan Kenzari), Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo), Sonia Armstrong (Miranda Raison) dan Hercule Poirot sendiri. Wah banyak juga yaaaa.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Ajaibnya, semakin lama, Poirot menemukan kenyataan bahwa mayoritas karakter-karakter yang ia temui di Oriont Express, memiliki motif untuk membunuh Ratchett. Ratchett memang bukan orang baik-baik. Ia memiliki banyak musuh dan terlibat sebuah kasus pembunuhan keji di masa lalu. Karena saya pernah membaca versi novelnya, kurang lebih saya ingat akan kasus yang melibatkan Ratchett di masa lalu. Bagaimana dengan penonton yang belum pernah membaca novelnya? Nah kalau di film ini, keterlibatan Rachett pada sebuah kasus di masa lampau, kurang dapat dijelaskan dengan gamblang. Kok ya tiba-tiba Poirot secara ajaib dapat mengaitkan Rachett dengan sebuah kasus di masa lalu? Ironisnya, penjelasan berikutnya adalah bagimana kasus tersebut menimbukan luka bagi banyak pihak. Penjelasan mengenai bagaimana kok Rachett lolos dan sebagainya relatif tidak jelas. Saya rasa ini merupakan benang merah yang tidak terjelaskan dengan baik.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Selain kekurangan di atas, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) dapat menampilkan rasa penasaran akan kasus pembunuhan di atas kereta api tersebut. Pengambilan gambar di sudut-sudut kereta api yang sempit, nampak baik dan dapat mendukung isi cerita. Akhir ceritanya pun, sama seperti versi novelnya, relatif mengejutkan. Poirot yang sangat perfeksionis dan maniak akan keseimbangan, harus merelakan ketidaksempurnaan dan ketidakseimbangan terjadi di dalam kasus yang ia tangani. Saya lihat di sana terdapat beberapa aktor dan aktris senior yang terkenal seperti Michelle Pfeiffer, Penélope Cruz dan Willem Dafoe. Saya rasa hal ini dapat mengaburkan tebakan penonton akan siapa si pembunuh sebenarnya karena begitu melihat aktor atau aktris terkenal memerankan sebuah tokoh, hampir dapat dipastikan bahwa tokoh tersebut memegang peranan penting. Logikanya, mereka dibayar mahal tidak untuk memerankan peran figuran bukan? ;).

Orient Express

Dengan demikian, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap akan ada lagi kisah Hercule Poirot yang diangkat ke layar lebar. Jangan Sherlock Holmes saja, bosan.

Sumber: http://www.cluesareeverywhere.com