Ghost in the Shell (2017)

攻殻機動隊 atau Mobile Armored Riot Police atau Ghost in the Shell merupakan manga asal Jepang, karya Masamune Shirow, yang sudah hadir pula dalam wujud film animasi dan video games. Mengikuti Parasyte, Crows Zero, Rurouni Kenshin dan lain-lain, Ghost in the Shell kali ini hadir versi film layar lebarnya. Sebenarnya saya belum pernah membaca manga atau menonton versi animasinya. Tapi saya tertarik begitu melihat trailer-nya yang memukau :).

Dikisahkan bahwa di masa depan, batas pembeda antara mesin dan manusia semakin memudar. Dengan semakin majunya teknologi, semakin banyak manusia yang mengganti atau membalut organ tubuhnya dengan mesin untuk berbagai keperluan. Hanka Robotics, sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, melakukan terobosan baru dengan menggabungkan mesin dan otak manusia. Jadi, semua organ yang disebut shell, adalah mesin. Yang mengendalikan organ tersebut adalah otak manusia, bukan lagi AI yang pada saat itu sudah lazim dilakukan. Dengan penggabungan ini, Hanka Robotics mengharapkan terjadinya kesempurnaan. Sebuah tubuh mesin dengan kemampuan mengambil keputusan layaknya manusia biasa.

Dari berbagai percobaan gagal, akhirnya Mira Killian (Scarlett Johansson) berhasil menjadi karya Hanka Robotics pertama yang stabil dan nampak normal. Mira kemudian ditugaskan untuk bergabung dengan Section 9, sebuah unit antiteroris yang beroperasi di Jepang. Karena kemampuannya, Mira memperoleh promosi sampai ia memperoleh pangkat Mayor di sana, julukan Mira pun berubah menjadi Mayor.

Pada Ghost in the Shell (2017) Mayor dan Section 9 berhadapan dengan teroris misterius yang membunuh ilmuwan-ilmuwan Hanka Robotics. Semakin lama, Mayor menemukan fakta bahwa kasus ini ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Mayor. Kebohongan demi kebohongan akhirnya terkuak. Sayang kebohongan yang terkuak bukanlah kejutan bagi saya. Semuanya klise dan mudah sekali ditebak. Semuanya terasa datar tanpa klimaks. Sayang sekali, padahal Robocop versi Jepang ini memiliki peluang untuk menampilakn cerita yang lebih baik lagi. Robocop (2014) saja bisa, kenapa yang ini tidak?

Beruntung Ghost in the Shell (2017) didukung dengan visual yang memukau. Gambaran latar belakang tempat Mayor dan kawan-kawan beraksi nampak bagus sekali. Adegan aksinya pun terbilang bagus karena terdapat efek yang bagus di mana-mana. Kostumnya juga dapat mendukung semua itu sehingga Ghost in the Shell (2017) terlihat futuristik tapi tetap realistis.

Dari tampilannya, sepertinya latar belakang Ghost in the Shell (2017) adalah Jepang di masa depan. Tapi kok protagonis utamanya justru bukan orang Jepang, yang dipilih justru wajah Amerika-nya Scarlett Johansson. Hal ini tambah lagi dengan dipergunakannya aktor-aktor non Jepang lain yang mengisi mayoritas peran-peran pembantu utama. Whitewashing benar-benar terasa kental pada film ini. Apakah hal ini dilakukan karena wajah kulit putih Hollywood dianggap lebih komersil? Ah kalau berlebihan seperti ini ya justru agak aneh jadinya hehehe. Selain itu saya tidak melihat karakter yang kuat dari film ini. Seperti jalan ceritanya, tidak ada emosi atau sesuatu yang greget dari tokoh-tokoh yang ada.

Berkat visual, kostum dan aksi yang di atas rata-rata, Ghost in the Shell (2017) masih terselamatkan dan masih dapar memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: www.ghostintheshellmovie.com

Iklan

The Fate of the Furious (2017)

Kisah para pembalap jalanan kembali hadir melalui film Fast & Furious kedelapan atau Fast 8 atau F8 atau The Fate of the Furious (2017). Kecuali karakter Brian O’Conner dan istri, kali ini akan kembali hadir sahabat & anggota tim Dominic Toretto (Vin Diesel) yang tersisa dari insiden pada Furious 7 (2015) yaitu Luke Hobbs (Dwayne Johnson), Roman Pearce (Tyrese Gibson), Letty Ortiz (Michelle Rodriguez), Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) & Ramsey (Nathalie Emmanuel). Anggota tim Dom yang sudah seperti keluarga kali ini harus berhadapan dengan ….. Dom.

Wew, Dominic menghianati teman-temannya sendiri? Pada sebuah misi, Dom memilih untuk berhianat dengan membantu Cipher (Charlize Theron), seorang teroris yang ternyata menjadi dalang pada Fast & Furous 6 (2013) dan  Furious 7 (2015). Teman-teman Dom kini justru mendapatkan bantuan dari tokoh antagonis pada Fast & Furous 6 (2013) dan  Furious 7 (2015), mereka bersatu untuk menghentikan Cipher dan Dom.
Kenapa Dom berhianat? Sayangnya kisah mengenai asal mula kenapa Dom berhianat sudah dikisahkan dari awal film. Alasan utamanya ternyata berhubungan dengan karakter pada Fast Five (2011) yang sekali lagi sudah diungkapkan pada bagian tengah film. Saya rasa sebenarnya The Fate of the Furious (2017) memiliki peluang besar untuk membuat penontonnya penasaran seperti ketika menonton trailer-nya. Sayang sekali peluang tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga sekali lagi film franchise Fast & Furious menjadi film aksi yang mudah ditebak alurnya.

Saya akui adegan aksi yang ditampilkan terbilang ambisius. Di sana saya melihat mobil-mobil berjatuhan, aksi tank baja sampai kapal selam. Semuanya nampak keren dan memukau, tapi rasanya kok film-film franchise Fast & Furious sekarang seperti kehilangan roh awalnya? Bukankah film ini pada awalnya merupakan film mengenai balapan jalanan yang menampilkan mobil-mobil keren dengan aksi yang memukau? Memang sih lawan yang dulu dihadapi hanya kelas penyelundup dan pencuri saja, bukan teroris internasional. Tapi itu rasanya lebih rasional dan lebih asli.

Sekarang, musuhnya memang lebih bombastis, tapi hal itu membuat The Fate of the Furious (2017) tak olahnya seperti film-film Mission Imposible, Bourne dan James Bond. Sudah banyak franchise film yang mengangkat isu bombastuis nan kompleks seperti ini, pasaran. Fast & Furious seperti kehilangan jati diri. Adegan balapan pada The Fate of the Furious (2017) hanya terlihat pada bagian awal film saja demi menunjukkan kepada penonton bahwa tokoh utamanya adalah pembalap jalanan dan film ini layak disebut sebagai bagian dari franchise Fast & Furious :P.

Namun bagaimanapun juga, adegan aksinya terbilang lumayan bagus meskipun saya melihat beberapa adegan rumit tak masuk akal di sana. Jalan ceritanya sedikit banyak masih mampu mengimbangi adegan aksinya sehingga saya tidak mengatuk selama menonton film yang durasinya hampir 3 jam. Yaaa ampun, mau menyaingi durasinya Batman Dark Knigh Trilogi mas?

Secara keseluruhan, film ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Melihat bagian akhir film ini dan besar pendapatannya, saya rasa akan ada film Fast & Furious kesembilan. Entah tokoh Luke Hobbs akan tetap ada atau tidak, melihat perseteruan antara Vin Diesel dan Dwayne Johnson menjelang rilis The Fate of the Furious (2017).

Sumber: http://www.fastandfurious.com

xXx: Return of Xander Cage (2017)

Seri ketiga film Triple X atau XXX kembali hadir dengan menampilkan kembali Xander Cage, agen XXX pada film pertama Triple X yaitu XXX (2002). Setelah menghilang pada XXX: State of the Union (2005), Xander Cage (Vin Diesel) kembali menjadi agen XXX pada xXx: Return of Xander Cage (2016). Pada XXX (2002), Cage direkrut oleh Augustus Eugene Gibbons (Samuel L. Jackson) untuk menjadi agen XXX yang tangguh dan mampu menyelamatkan dunia. Posisi Cage sebagai agen XXX sempat tergantikan oleh Darius Stone (Ice Cube) pada XXX: State of the Union (2005). Saya pikir film-film Triple X akan menggunakan agen XXX yang berbeda di setiap filmnya, ahhh ternyata saya salah. Xander Cage (Vin Diesel) kembali dihadirkan pada xXx: Return of Xander Cage (2016), mungkinkah karena nama besar Vin Diesel dianggap mampu mendongkrak pendapatan film ini? Kalau dilihat dari pendapatan sampai saat ini, sepertinya xXx: Return of Xander Cage (2016) memang sudah meraup keuntungan melebihi XXX: State of the Union (2005).

Apakah hanya nama Vin Diesel saja yang diandalkan? Tentu tidak, kali ini XXX harus berhadapan dengan Xiang (Donnie Yen), Serena Unger (Deepika Padukone), Taloon (Tony Jaa) dan Hawk (Michael Bisping) yang telah mencuri Pandora Box, sebuah alat militer canggih yang mampu mengendalikan satelit manapun di angkasa. Untuk memgambil kembali Pandora Box, Cage dibantu oleh Adele Wolff (Ruby Rose), Rebecca “Becky” Clearidge (Nina Dobrev), Tennyson “The Torch” (Rory McCann) dan Harvard “Nicks” Zhou (Kris Wu).

Seperti film-film Triple X sebelumnya, xXx: Return of Xander Cage (2016) menghadirkan banyak aksi, aksi dan aksi di mana-mana, mulai dari yang keren sampai yang berlebihan dan jauh dari akal sehat. Didukung dengan jalan cerita yang klise dan tidak segar, xXx: Return of Xander Cage (2016) seolah menjadi film aksi yang miskin cerita, yaaahhh isinya hanya begitu-begitu saja.

 

Keterlibatan rumah produksi asal Tiongkok memang membawa porsi yang besar bagi aktor-aktor laga Asia untuk unjuk gigi dan memberikan warna baru. Tapi sayang itu belum cukup untuk mendongkrak kualitas xXx: Return of Xander Cage (2016) di mata saya. Saya masih lebih suka dengan XXX: State of the Union (2005) dibandingkan xXx: Return of Xander Cage (2016) meskipun film kedua Triple X praktis hanya mengandalkan nama Ice Cube sebagai pemeran utamanya.

Maaf Mas Xander Cage, film yang menampilkan kehadiran kembali panjenengan hanya mampu memperoleh nilai 2 dari skala maksimum 5 yang artinya “Kurang Bagus”. Kalau teman-teman mau menonton film dengan beberapa aksi akrobatik yang memukau, silahkan tonton xXx: Return of Xander Cage (2016). Tapi kalau mau menonton film aksi dengan alur cerita yang menarik, sebaiknya cari film lain saja :).

Sumber: http://www.returnofxandercage.com

Mad Max: Fury Road (2015)

Mad Max 1

Setelah menjadi film Australia paling terkenal di masanya, Mad Max (1979) sampai sekarang telah memiliki 3 sekuel yakni Mad Max 2: The Road Warrior (1981), Mad Max Beyond Thunderdome (1985) dan Mad Max: Fury Road (2015). Pada Mad Max (1979), Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Mad Max Beyond Thunderdome (1985), karakter Mad Max diperankan oleh Mel Gibson. Sedangkan pada sekuel Mad Max terbaru, Mad Max: Fury Road (2015), karakter Mad Max diperankan Tom Hardy yang tempo lalu memerankan Bane pada The Dark Knight Rises (2012). Walaupun pemeran utamanya berbeda, Mad Max: Fury Road (2015) tetap mengambil latar belakang masa depan yang serba kekurangan dan kesusahan.

Dikisahkan bahwa sumber daya yang Bumi miliki semakin menipis. Keserakahan dan perebutan sumber daya telah mengakibatkan perang yang menghancurkan kehidupan manusia. Minyak, air bersih, makanan dan penunjang kehidupan manusia lainnya menjadi hal yang sulit ditemui. Setelah perang, terjadi kekacauan di mana-mana dan jalanan dikuasai oleh geng-geng motor yang jahat.

Pada Mad Max (1979) diceritakan bahwa  Max Rockatansky adalah seorang polisi yang hidup bersama anak dan istrinya di tengah-tengah kekacauan yang melanda dunia. Akibat perseteruan Max dengan salah satu geng motor, anak dan istri Max terbunuh. Kehilangan anak dan istri membuat Max pergi berkelana tanpa tujuan yang jelas, hanya untuk bertahan hidup hari demi hari. Dalam pengembaraannya, Max bertemu berbagai masalah dan karakter lain yang dikisahkan pada Mad Max 2: The Road Warrior (1981) dan Mad Max Beyond Thunderdome (1985). Bagaimana dengan Mad Max: Fury Road (2015)?

Tidak jauh berbeda dengan film-film Mad Max sebelumnya, Max berpapasan dengan sekelompok komunitas sesat di tengah-tengah pengembaraannya. Kali ini Max tertangkap dan ditawan oleh sebuah komunitas yang dipimpin oleh Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne). Joe sangat diagung-agungkan oleh para pengikutnya termasuk war boys, kelompok fanatik pemuda-pemuda ababil (abg labil) botak yang bersedia berbuat apapun demi Joe. Joe seolah Tuhan bagi anggota war boys. Menurut kepercayaan war boys, mereka akan dapat mencapai Valhala atau surga apabila mereka mati demi Joe (x__x).

Mad Max 4

Mad Max 18

Nux (Nicholas Hoult) merupakan salah satu war boys yang tetap ingin maju menjalankan misi dari Joe walaupun ia terluka dan kekurangan darah. Kebetulan saat itu istri-istri Joe melarikan diri bersama Imperator Furiosa (Charlize Theron), tangan kanan Joe yang berhianat. Nux ikut berangkat mengejar Furiosa dengan mengikatkan Max di depan kendaraannya selagi darah Max dialirkan ke dalam pembuluh darah Nux. Max diperlakukan sebagai kantong darah portable bagi Nux.

Mad Max 3

Mad Max 14

Aksi kejar-kejaran di jalanan yang tandus ini mendominasi sebagian besar Mad Max: Fury Road (2015). Saya rasa Mad Max: Fury Road (2015) agak mirip dengan Mad Max 2: The Road Warrior (1981) tapi Mad Max 2: The Road Warrior (1981) masih memiliki kejutan di bagian akhir cerita. Kalau dilihat dari segi jalan cerita, Mad Max: Fury Road (2015) cenderung dangkal dan mudah sekali ditebak apalagi bagi para penonton yang pernah menonton film-film Mad Max lainnya.

Mad Max 5

Mad Max 11

Mad Max 10

FRD-25474.TIF

Keunggulan Mad Max: Fury Road (2015) adalah dari segi adegan aksinya yang keren, kreatif dan memukau. Sejak awal para penonton disuguhkan oleh berbagai adegan aksi yang tidak monoton, padahal film ini tidak terlalu banyak menggunakan special affect lhooo, mantabbb. Selain itu kegilaan war boys dan konsep kepercayaan yang komunitas Immortan Joe miliki pun terbilang unik dan kreatif. Pemeran Immortan Joe pun ternyata merupakan pemeran Toecutter, tokoh antagonis utama pada Mad Max (1979). Sayang wajahnya tidak terlalu dapat dikenali karena faktor usia dan Opa Joe lebih sering menggunakan penutup mulut dan hidung sepanjang film.

Mad Max 16

Mad Max 13

Mad Max 9

Mad Max 6

Mad Max 12

Mad Max 20

Mad Max 17

Mad Max 19

Mad Max 2

Walaupun dari segi jalan cerita film ini terbilang sederhana, adegan aksi dan keunikan komunitas Opa Joe berhasil menjadi nilai plus yang sangat menonjol di mata saya. Dengan demikian, Mad Max: Fury Road (2015) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Mad Max: Fury Road (2015) merupakan film Mad Max terbaik yang pernah dibuat.

Sumber: www.madmaxmovie.com

Jupiter Ascending (2015)

Jupiter Ascending

Awal tahun 2015 ini hadir film Jupiter Ascending (2015) hasil besutan Wachowski bersaudara, sutradara The Matrix (1999) yang merupakan salah satu film favorit saya :). Mirip dengan The Matrix (1999) yang mengisahkan bagimana seorang biasa bertransformasi menjadi seseorang yang luar biasa, Jupiter Ascending (2015) mengisahkan bagaimana Jupiter Jones (Mila Kunis) berubah dari seorang pembersih rumah menjadi salah satu penguasa planet-planet yang di alam semesta.

Jupiter Jones adalah seorang anak yatim yang hidup bersama ibu, om, tante dan sepupunya di Bumi. Jupiter bekerja sebagai pembersih rumah, yaaah kalau di Indonesia istilah kerennya pembantu rumah tangga paruh waktu :’). Nasib Jupiter berubah 180 derajat ketika pada suatu hari ada beberapa mahluk asing berusaha membunuh Jupiter. Beruntung Caine Wise (Channing Tatum) datang menolong tepat sebelum Jupiter tewas. Apa motif dari usaha pembunuhan ini?

Jupiter Ascending 11

Jupiter ternyata memiliki DNA yang sama persis dengan DNA mendiang ibu dari Balem Abrasax (Eddie Redmayne), Kalique Abrasax (Tuppence Middleton) & Titus Abrasax (Douglas Booth). Keluarga Abrasax adalah keluarga bangsawan dari mahluk luar angkasa yang memiliki beberapa planet di alam semesta termasuk Bumi. Tanpa manusia sadari, Bumi ternyata dimiliki oleh mahluk luar angkasa dan manusia ternyata diperlakukan sebagai ternak sekaligus investasi jangka panjang keluarga Abrasax. Pada saatnya nanti, keluarga Abrasax akan menghancurkan kehidupan di Bumi dan menciptakan suatu komoditi yang terbuat dari manusia.

Jupiter Ascending 8

Bumi adalah planet paling berharga yang dimiliki keluarga Abrasax karena padatnya populasi manusia di Bumi. Sebelum keberadaan Jupiter diketahui, Bumi menjadi milik Balem Abrasax. Namun dengan hadirnya Jupiter, Bumi otomatis akan menjadi milik Jupiter karena hierarki DNA Jupiter berada di atas Balem.

Untuk mengklaim Bumi sebagai miliknya, Jupiter harus melalui berbagai proses birokrasi. Selama proses pengangkatan ini berlangsung, Balem, Titus dan Kalique melancarkan berbagai manuver licik dengan tujuan personal masing-masing. Manuver-manuver licik ketiga mahluk tersebut beberapa kali menempatkan Jupiter pada keadaan yang berbahaya. Beberapa kali pula Caine hadir untuk menyelamatkan calon ratu keluarga Abrasax tersebut.

Jupiter Ascending 17

Jupiter Ascending 18

Jupiter Ascending 15

Jupiter Ascending 7

Jupiter Ascending 23

Taktik-taktik licik keluarga Abrasax memang bermacam-macam dan lumayan menarik untuk ditonton, namun tidak terlalu “wah”. Apalagi penyelesainnya pasti bagitu-begitu saja, Caine datang dan semua beressss, solved x__x.

Jupiter Ascending 6

Jupiter Ascending 1

Jupiter Ascending 16

Jupiter Ascending 19

Walaupun jalan ceritanya tergolong biasa dan sedikit membosankan, kostum & special effect yang dihadirkan Jupiter Ascending (2014) termasuk kereeeeen. Mendengar nama Wachowski, saya yakin Jupiter Ascending (2015) pasti menampilkan special effect yang memukau. Sayapun baru minggu lalu menonton Jupiter Ascending (2015) di Studio IMAX XXI 8-). Tidak rugi saya menontonnya di Studio IMAX XXI yang berlayar lebar dan 3D, puassss.

Jupiter Ascending 10

Jupiter Ascending 3

Jupiter Ascending 4

Jupiter Ascending 22

Jupiter Ascending 21

Jupiter Ascending 9

Jupiter Ascending 13

Jupiter Ascending 12

Jupiter Ascending 2

Jupiter Ascending 5

Jupiter Ascending 20

Jupiter Ascending 14

Dengan demikian, Jupiter Ascending (2015) layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Walaupun Jupiter Ascending (2015) memiliki kelebihan dari sisi special effect, kelebihan tersebut tidak mampu mengangkat penilaian saya. Menurut saya The Matrix (1999) masih menjadi karya terbaik Wachowski bersaudara.

Sumber: http://www.jupiterascending.com

Taken 3 (2014)

Tak3n 1

Tak3n atau Taken 3 (2014) merupakan film ketiga dari trilogi Taken. 2 film pendahulunya yaitu Taken (2008) & Taken 2 (2012), sama-sama mengisahkan bagaimana Bryan Mills (Liam Neeson) menyelamatkan orang yang ia cintai dari penculikan sekaligus memburu orang-orang yang berani melakukan penculikan tersebut. Masing-masing film tersebut memiliki akhir yang bahagia dan tidak menggantung, jadi jangan khawatir bagi rekan-rekan yang belum menonton 2 film Taken terdahulu tapi mau menonton Taken 3 (2014).

Mills kembali hadir pada Taken 3 (2014) ketika kehidupannya kembali terusik oleh kasus pembunuhan Lenore (Famke Janssen), mantan istri Mills yang saat ini sudah berstatus sebagai istri dari Stuard St. John (Dougray Scott). Stuard adalah pengusaha kaya raya yang ternyata memiliki banyak hutang & terlibat bisnis dengan seorang tokoh kriminal asal Eropa Timur. Mungkinkah ini merupakan alasan terbunuhnya Lenore?

Tak3n 2

Tak3n 13

Tak3n 3

Sayangnya beberapa fakta dan bukti justru mengarahkan Mills sebagai tersangka utama. Pihak kepolisian yang dipimpin oleh Franck Dotzler (Forest Whitaker) memburu Mills untuk ditangkap. Dengan menggunakan pengalamannya sebagai agen rahasia, Mills berusaha mencari pembunuh Lenore sambil menghindari kejaran Polisi.

Tak3n 7

Tak3n 5

Tak3n 11

Diluar dugaan saya Taken 3 (2014) tidak bercerita mengenai penyelamatan korban penculikan. Mills tetap menggunakan berbagai keahlian yang mirip seperti yang dipertontonkan pada Taken (2008) & Taken 2 (2012), relatif tidak ada yang baru. Pada awalnya, Liam Neeson, sang pemeran utama agak kaget kenapa Taken mau dibuat film ketiganya. Liam pun menyatakan bahwa Taken 3 (2014) akan menjadi film Taken terakhir yang akan ia bintangi. Saya setuju kalau Teken memang sudah “habis”, tidak layak kalau dibuat Teken 4, blah, ogah nontonnya.

Meskipun terkesan kurang berkembang, Teken 3 (2014) tetap mampu menyuguhkan aksi yang keren tapi relatif masuk akal. Alasan kenapa Lenore dibunuh pun hanya akan terjawab pada bagian akhir film, ada sedikit twist di sana :).

Tak3n 4

Tak3n 14 Tak3n 6

Tak3n 9

Tak3n 12

Tak3n 8

Tak3n 10

Secara keseluruhan, Teken 3 (2014) layak untuk mendapat nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bolehlah untuk dijadikan hibiuran di akhir pekan :).

Sumber: http://www.takenmovie.com

Rush Hour Trilogy (1998, 2001 & 2007)

Rush Hour

Rush Hour (1998) adalah film action comedy yang cukup laris, sampai-sampai dibuat 2 kali sekuelnya yaitu Rush Hour 2 (2001) dan Rush Hour 3 (2007), entah kapan akan ada Rush Hour 4 hehehehe. Ketiga film ini bercerita mengenai kerjasama antara 2 detektif dengan sifat, budaya & latar belakang yang saling bertolak belakang. Detektif kepolisian Los Angeles, James Carter (Chris Tucker), harus bekerja sama dengan inspektur kepolisian Hongkong, Yan Naing Lee (Jackie Chan). Carter adalah seseorang yang humoris, sedikit flamboyan, ceroboh, arogan, cerewet dan banyak bicara. Sementara itu Lee adalah seseorang yang serius, sangat berhati-hati, pendiam dan ahli ilmu bela diri. Selain sifat yang berbeda, latar budaya keduanya pun berbeda. Lee yang orang Timur harus berhadapan dengan Carter yang merupakan warga Amerika keturunan Afrika.

Rush Hour 14

Rush Hour 12

Rush Hour 9

Rush Hour 6

Rush Hour 5

Pada Rush Hour (1998), Carter & Lee harus berhadapan dengan Juntao, seorang bos komplotan pencuri benda-benda bersejarah Cina. Indentitas Juntao pun tidak diketahui sampai penonton tiba pada bagian akhir dari Rush Hour (1998). Latar belakang Rush Hour (1998) adalah Los Angeles, Lee datang ke Los Angeles dan disanalah Lee pertama kali bertemu dengan Carter. Kerja sama Lee & Carter ternyata sukses menyingkap misteri siapakah Juntao itu.

Rush Hour 11 Rush Hour 7 Rush Hour 4

Setelah sukses bekerja sama menangkap Juntao di Los Angeles, Carter & Lee tetap berteman baik dan akhirnya pada suatu hari Carter memutuskan untuk berlibur ke Hongkong sambil mengunjungi Lee. Tanpa diduga, terjadi ledakan bom di gedung Kedutaan Amerika Serikat di Hongkong ketika Carter sedang berlibur. Kejadian ini menyeret Lee dan Carter karena dalang peledakan bom tersebut terkait dengan pembunuhan ayah Lee. Lee bersikeras untuk ikut campur dalam penyelidikan kedutaan tersebut. Sebagai sahabat yang baik, Carter pun ikut membantu Lee sampai pada akhirnya mereka dapat mengetahui siapa sebenarnya pembunuh ayah Lee.

Rush Hour 16

Rush Hour 10

Rush Hour 15

Baiklah, Los Angeles sudah, Hongkong juga sudah, apa lagi? Indonesia? Gak mungkinnn :P. Ternyata setelah Los Angeles & Hongkong, Carter & Lee melanjutkan petualangan mereka di Prancis pada Rush Hour 3 (2007). Kisahnya diawali dengan ditembaknya seorang teman dekat Lee. Lee & Carter bertekad untuk menyelidiki alasan kenapa penembakan tersebut terjadi. Ternyata teman Lee tersebut memiliki informasi mengenai daftar siapa saja pemimpin Triad yang sedang berkuasa. Sebagai organisasi mafia terbesar di Cina, Triad memiliki jaringan sampai Eropa termasuk Prancis. Perburuan Carter & Lee akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya daftar tersebut, akan tetapi mereka harus berhadapan sepasukan Triad yang dipimpin oleh saudara tiri Lee sendiri. Meski ada dilema di sana, sopasti Carter & Lee berhasil hohohoho.

Rush Hour 2

Rush Hour 8 Rush Hour 3

Dalam prosesnya, banyak konflik yang terjadi antara Lee dan Carter, namun pada akhirnya mereka menjadi sahabat dan rekan yang kompak dan solid. Perbedaan yang ada ternyata dapat menjadi faktor yang saling melengkapi.

Rush Hour 13

Ketiga film Rush Hour berhasil menampilkan film aksi yang dapat mengocok perut penontonnya. Saya suka dengan jalan cerita ketiga film tersebut meskipun tidak banyak kejutan yang terjadi. Aksi yang ditampilkan pun terkadang agak akrobatik tapi masih wajar dan masuk akal. Seperti film-film Jackie Chan lainnya, film ini tidak menggunakan stuntuman sebagai pengganti Jackie pada beberapa adegan yang berbahaya. Saya merasa terhibur dengan Rush Hour Trilogy (1998, 2001 & 2007) dan ikhlas untuk memberikan film-film tersebut nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Sangat Bagus” :).