Wonder Woman (2017)

Kehadiran “dadakan” Wonder Woman (Gal Gadot) pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dengan diiringi musik karya Hans Zimmer, cukup menyita perhatian karena pertarungan dengan iringan musik tersebut terasa keren. Andaikata saya belum menonton Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), sudah pasti saya malas menonton Wonder Woman (2017). Terus terang saya tidak suka dengan Wonder Woman setelah bermain Injustice dan menonton Justice League: The Flashpoint Paradox (2013). Di sana, Wonder Woman nampak terlalu emosional dan menyebalkan :(. Apakah Wonder Woman pada Wonder Woman (2017) akan nampak seperti itu? Semoga saja tidak hehehe.

Kisah pada Wonder Woman (2017) diawali dengan sebuah foto masa lalu Wonder Woman atau Diana (Gal Gadot). Pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kita memang diperlihatkan foto-foto Wonder Woman di masa lampau. Nah setelah peristiwa pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), cetakan asli foto tersebut dikirim kepada Wonder Woman. Wonder Woman kemudian mulai bercerita akan masa lalunya, bagaimana ia pertama mengenal dunia manusia. Aaaahhh film Wonder Woman (2017) ternyata mengisahkan asal mula Wonder Woman, bukan kisah setelah pertarungan besar pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).

Berbeda dengan Superman dan Batman, ternyata tokoh Wonder Woman erat sekali dengan mitologi Yunani. Sejak kecil, Diana atau Wonder Woman, tinggal di pulau Themyscira bersama dengan ibunya, ratu suku Amazon. Pulau Themyscira hanya dihuni wanita dan pulau tersebut selalu diselimuti kabut dan perisai kasat mata sehingga tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Itu adalah anugrah Zeus, raja para dewa Olimpus, kepada suku Amazon yang menghuni pulau Themyscira. Zeus melakukan ini agar suku Amazon dapat tersembunyi dari Ares, dewa perang. Alasan utama kenapa Zeus melakukan ini akan terjawab pada bagian akhir film lho hohohoho.

Tumbuh di tengah-tengah suku Amazon yang perkasa membuat Diana ikut tumbuh menjadi pejuang Amazon yang handal. Namun Diana selalu saja berbeda, seolah ada sesuatu yang lain di dalam diri Diana. Aaahhhh ini juga akan dijelaskan pada bagian akhir film. Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini.

Kehidupan Diana dan suku Amazon berlangsung penuh kedamaian sampai Steve Trevor (Chris Pine) terdampar di pesisir pantai Themyscira. Dari mulut Steve, diperoleh informasi bahwa dunia sedang mengadapi perang, terjadi perang di mana-mana. Setting Wonder Woman (2017) memang di era perang dunia pertama di mana terjadi perang antara blok sekutu dan blok sentral. Pada saat itu Steve yang berasal dari Inggris (bagian dari blok sekutu) menemukan informasi bahwa Jerman (bagian dari blok sentral) mengembangkan senjata pemusnah masal padahal sebentar lagi pemimpin Jerman akan menyatakan pernyataan menyerah. Apabila Jerman menyerah, maka dapat dikatakan bahwa perang dunia berakhir dan dunia kembali damai.

Pengembangan senjata pemusnah masal terus dilakukan oleh Jendral Erich Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Ayala), untuk menggagalkan acara deklarasi pernyataan menyerah Jerman kepada Sekutu. Usaha keduanya membuahkan hasil ketika senjata pemusnah masal yang dikembangkan, telah berhasil dan siap untuk diujicobakan.

Steve dan Diana beserta beberapa rekan Steve, pergi menuju garis depan peperangan untuk menghentikan perang. Steve dan Diana pergi bersama-sama tapi dengan target yang sedikit berbeda. Steve pergi untuk menghentikan rencana Doctor Poison dan Jendral Lodendorff. Sementara itu Diana pergi untuk menemukan dan membunuh Ares. Diana yakin bahwa perang yang terjadi merupakan ulah Ares, Ares mempengaruhi manusia untuk saling bunuh. Apabila Ares mati, maka dunia akan damai tanpa ada bunuh membunuh. Tapi, bukankah setiap manusia sebenarnya memiliki hawa nafsu dan sisi kelam? Konsep kehidupan tersebut nampaknya tidak Diana ketahui sebab sejak kecil Diana memang tidak pernah pergi dari pulau Themyscira. Perjalanan bersama Steve adalah perjalan pertama Diana di luar pulau.

Ketidaktahuan Diana mengenai kondisi dan kenyataan dunia luar berhasil dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu membuat saya tertawa. Sangat berbeda dengan film layar lebar superhero DC Comics sebelumnya, Wonder Woman (2017) tidak terlalu kelam dan diselingi oleh beberapa adegan komedi yang lucu. Hal ini didukung dengan baik sekali oleh Christ Pine sebagai pemeran Steve Trevor. Romansa antara Wonder Woman dan Steve pun nampak apik di sana. Jadi di Wonder Woman (2017) tidak hanya aksi bak bik buk saja, ada komedi dan romansa di sana.

Dengan didukung oleh special effect dan kostum yang bagus, adegan aksi pada Wonder Woman (2017) terbilang bagus dan enak dilihat :). Tapi menurut saya adegan aksinya terlihat bagus sekali ketika diiringi oleh lagu tema Wonder Woman karya Hans Zimmer. Ketika lagu pengiringnya diubah ke lagu lain, rasanya agak berbeda. Pertarungan puncak pada Wonder Woman (2017) justru menggunakan lagu pengiring lain yang biasa-biasa saja sehingga pertarungan tersebut terasa seperti antiklimaks.

Semuanya berhasil mendukung sebuah cerita yang nyaman untuk diikuti meskipun memakan waktu sekitar 2 jam. 2 jam? Ya, durasi film ini sekitar 2 jam hohohoho. Tapi jalan ceritanya tetap ok kok, fakta tentang Ares-pun tidak saya duga sebelumnya, ternyata Ares itu . . . . . 🙂

Secara keseluruhan, DC Comics telah melakukan perbaikan kualitas film superhero-nya melalui Wonder Woman (2017). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Penilaian saya ini dibuat terlepas dari kenyataan bahwa pemeran utama Wonder Woman (2017), Gal Gadot, merupakan seorang Israel yang pernah melakukan wajib militer selama 2 tahun. Pemutaran film ini di bioskop ditolak keras oleh pemerintah Lebanon. Yaaahhh, menonton film kan tidak selalu harus di bioskop bukan? Walaupun rasanya Wonder Woman (2017) termasuk film yang lebih bagus kalau ditonton di bioskop ;).
Sumber: wonderwomanfilm.com

Rio 2 (2014)

Rio 2 1Trailer dari film animasi Rio 2 (2014) sudah sering diputar di bioskop sebelum film yang akan saya tonton diputar. Kemarin, saya baru mendapat kesempatan untuk menonton film yang merupakan kelanjutan dari film Rio (2011). Pada Rio (2011), dikisahkan Blu, seekor burung spix’s macau jantan yang hampir punah, berkelana ke kota Rio. Awalnya Blu tinggal di Amerika bersama manusia yang bernama Linda sampai terdengar kabar bahwa di kota Rio terdapat burung spix’s macau betina bernama Jewel. Blu & Jewel adalah 2 burung terakhir di spesiesnya. Blu yang belum bisa terbang & sangat jinak terbiasa hidup dengan manusia, berusaha merebut hati Jewel yang mandiri & berjiwa bebas.

Rio 2 13 Rio 2 6

Nah pada Rio 2 (2014), Blu & Jewel sudah menikah dan dikaruniai 3 anak yaitu Carla, Bia & Tiago. Keluarga burung berspesues langka ini bepergian ke hutan Amazon mencari burung spix’s macau lain di sana. Keluarga ini akhirnya bertemu dengan sekelompok burung spix’s macau yang ternyata dipimpin oleh ayah Jewel, mertua Blu. Di kelompok tersebut, terdapat pula Roberto, teman masa kecil Jewel yang terlihat gagah & pandai menyanyi. Terjadi pertentangan apakah keluarga kecil Blu akan tetap tinggal di dalam kelompok tersebut atau pulang ke Rio. Blu yang sangat terbiasa hidup dengan manusia beserta segala teknologi buatan manusia, mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan burung liar di hutan Amazon.

Rio 2 12 RIO 2 Rio 2 4

Di tengah pertikaian tersebut, sekelompok penebang liar semakin mendekati wilayah tempat tinggal kelompok burung spix’s macaw yang dipimpin ayah Jewel. Selain itu seekor burung dari masa lalu Blu ikut datang pula ke Amazon untuk membalas dendam.

Rio 2 5 RIO 2Sebagai film animasi komedi musikal, sopasti Rio 2 (2014) memiliki happy ending :D. Meskipun saya lebih senang dengan jalan cerita Rio (2011) , Rio 2 (2014) cukup menghibur dan porsi nyanyi-nyanyinya tidaklah terlalu banyak, cukuplah. Rio 2 (2014) juga sangat cocok untuk ditonton oleh dewasa & anak-anak sebab Rio 2 (2014) mengandung pesan moral yang berlaku bagi segala umur. Tanaman, hewan dan manusia harus hidup rukun di muka Bumi ini. Penebangan hutan yang semena-mena memang jahat & harus dihentikan. Sungguh memprihatinkan bila Bumi tercinta kita ini menjadi gundul. Tanaman mati, hewan kehilangan rumah, manusia? tinggal menunggu bencana saja.

Rio 2 2 Rio 2 3 Rio 2 7 Rio 2 8

Secara garis besar, Rio 2 (2014) layak ditonton oleh keluarga bersama-sama dan layak mendapat nilai 3 dari skala maksimal 5 yang artinya “Lumayan” ;).