Serial Shimmer and Shine

Film animasi anak Shimmer and Shine mengisahkan kehidupan 2 jin yang tinggal di Negeri Zahramay Falls, Shimmer (Eva Bella) dan Shine (Isabella Cramp). Mirip seperti kisah Aladin, setiap jin dapat mengabulkan permintaan tuannya. Hanya saja, untuk Shimmer dan Shine, keduanya memiliki 1 tuan, yaitu Leah (Alina Voley). Setiap hari, Leah dapat meminta 3 permintaan kepada Shimmer dan Shine, wuuuuah, asyik duong.

Eits, jangan senang dulu, Shimmer dan Shine sering sekali melakukan kesalahan ketika mengabulkan permintaan Leah, yaaah namanya juga jin anak-anak :’D. Bukan hanya Shimmer dan Shine, Leah pun masih anak-anak dan sering kali melalukan kesalahan ketika mengucapkan permintaan. Hal ini terkadang membuat keadaan semakin kacau dan permasalahan justru tidak selesai. Mereka pada akhirnya harus berusaha bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Di sini penonton cilik diajarkan untuk tidak takut berbuat salah dan mau memaafkan. Pada dasarnya, itulah pesan moral yang hampir selalu ada di film seri anak-anak ini.

Film ini pun bebas hal-hal yang berbau dewasa dan adegan kekerasan. Tokoh antagonisnya pun dibuat tidak terlalu jahat. Zeta (Lacey Chabert) adalah penyihir yang berambisi untuk menjadi penyihir terkuat di Zaramey Falls. Ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tuhuannya. Karakter ini tidak nampak terlalu jahat karena kehadiran naga mungil peliharaannya yaitu Nazboo. Tingkah lucu dan konyol Nazboo sering kali membuat rencana Zeta gagal. Tapi apapun yang terjadi, Zeta tetap menyayangi naga mungilnya.

Jujur saja, Nazboo adalah tokoh favorit saya pada Shimmer and Shine. Jalan cerita yang sangat sederhana, tentunya membuat penonton dewasa, agak bosan. Sumpah ini sebenarnya termasuk film seri paling membosankan yang sering saya tonton hehehehehe. Tingkah Nazboo terkadang dapat menjadi sedikit penyegar ketika saya menemani putri saya menonton Shimmer and Shine.

Film seri produksi Nickelodeon ini berhasil menarik anak saya karena gambar yang imut. Semuamuanya didominasi dengan warna pink dan ungu. Kemudian film ini banyak pula menampilkan sparkle atau bling-bking yang gemerlap, yaaah pokoknya perempuan sekalilahhh. Plusss, ada lagu dan tarian ala Bollywood yang menarik.

Dengan demikian, saya rasa film seri anak Shimmer and Shine layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bersiaplah untuk diminta membelikan boneka Shimmer dan Shine, sebab bonekanya sudah banyak beredar di toko mainan :’D.

Sumber: http://www.nickjr.tv/shimmer-and-shine

Iklan

Serial Sofia the First

Seperti pernah saya bahas pada Frozen (2013), Walt Disney sudah memiliki banyak film putri-putrian. Nah untuk pertama kalinya, Disney memiliki putri yang masih kecil sekali. Sofia (Ariel Winter) pada film seri anak Sofia the First merupakan putri termuda yang dimiliki Disney. Ia dikisahkan sebagai anak biasa yang tiba-tiba menjadi anggota keluarga kerajaan Enchancia setelah ibunya, Miranda (Sara Ramirez) menikahi Raja Rolland II (Travis Willingham). Tidak hanya memiliki ayah tiri baru, kini Sofia memiliki 2 kakak tiri baru yaitu si kembar, Pangeran James (Zach Callison) dan Putri Amber (Darcy Rose Byrnes). Pada awal-awal episodenya, Putri Amber sepertinya akan menjadi tokoh antagonis. Tapi lama kelamaan, Putri Amber mau menerima Sofia sebagai sudaranya. Disney nampaknya ingin mengajarkan bahwa saudara tiri atau orang tua tiri itu, belum tentu jahat loh.

Saya masih ingat film-film Indonesia era 80-an yang selalu menokohkan saudara tiri dan orang tua tiri sebagai pribadi yang jahat. Ini adalah anggapan salah yang sudah seharusnya dihapuskan. Menanamkan nilai ini sejak kecil, adalah hal yang baik bagi anak-anak.

Selain itu, Sofia the First pun mengajarkan bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang melawan kejahatan dan rintangan apapun heheheh, sesuatu yang kelise sih. Sofia memang selalu berhasil menyelesaikan segala masalah yang ada dengan kebaikan, kedewasaan dan kegigihannya. Selain Putri Amber, ada beberapa karakter lain yang pada awalnya berniat jahat kepada Sofia, lalu kemudian luluh dan menjadi teman Sofia. Padahal Sofia tidak memiliki kekuatan apa-apa loh, ia hanya berbekal kalung ajaib yang dapat membuatnya berkomunikasi dengan binatang.

Putri-putri Disney yang lain, terkadang mengunjungi Sofia untuk memberikan bimbingan. Cinderella, Yasmin, Mulan, Belle, Ariel, Aurora, Putri Salju, Rapunzel dan Tiana, pernah hadir mengunjungi Sofia. Permasalahan yang Sofia hadapi memang terkadang agak pelik dan hampir tidak mungkin diselesaikan oleh anak sekecil Sofia. Tapi yaaaah, semua dapat selesai dan selalu ada akhir bahagia di sana. Semua serba mudah ditebak sehingga cerita pada serial ini agak membosankan bagi penonton dewasa.

Tapi penonton cilik sepertinya akan senang melihat Sofia the First yang menggunakan kerajaan Eropa sebagai latar belakangnya. Tentunya ada tambahan unsur sihir, kuda terbang dan hal-hal ajaib di mana-mana. Semua disajikan dengan animasi yang cantik dan nyanyian yang penuh kegembiraan.

Menelaah semua hal di atas, saya rasa Sofia the First masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah.

Sumber: disneynow.go.com/shows/sofia-the-first

Serial Diva

Berawal dari mencari tontonan yang sehat dan berbahasa Indonesia bagi anak, saya menemukan beberapa video singkat produksi PT. Kastari Sentra Media, sebuah perusahaan lokal yang memproduksi konten-konten anak-anak. Mereka menayangkan konten mereka di Youtube, Vidio dan kepingan VCD. Video singkat mereka yang saya lihat adalah video Diva dan Pupus yang belajar huruf hijaiyah, berdoa dan menyanyi. Ini adalah tontonan yang sehat bagi anak muslim Indonesia.

Kemudian, sepertinya pihak Kastari membuat serial yang lebih plural dan dapat dinikmati oleh anak-anak dari berbagai agama dan suku yaitu Diva The Series atau Serial Diva. Tokoh utamanya masih Diva dan kuncingnya, Pupus Kanopus. Di sini, Diva Cantika Putri yang asli Banten dan beragama Islam, sehari-hari bermain bersama-sama dengan teman-temannya yang berasal dari agama dan suku yang berbeda. Ada┬áMona “Mona” Dariani yang orang tuanya berasal dari Yogyakarta, Febiola “Febi” Hatumena yang orang tuanya berasal dari Ambon, Putu Surya Nugraha yang orang tuanya berasal dari Denpasar, Tomi “Tomi” Bagaskara yang orang tuanya berasal dari Jakarta. Diva, Tomi dan Mona, beragama Islam. Febi beragama Kristen. Sedangkan Putu beragama Hindu. Mereka mengajarkan bahwa kita semua dapat bersahabat walaupun memiliki perbedaan suku dan agama, jangan mau kalah dengan anak-anak ah.

Tidak hanya suku dan agama, masing-masing karakter memiliki sifat yang berbeda. Sebuah hal yang pasti akan anak-anak kita hadapi di dunia nyata. Mona hobinya makan dan sering menghabiskan uang jajannya untuk makanan, Putu suka menolong tapi terkadang agak pelit, Tomi manja dan kadang mau menang sendiri, Febi ramah dan suka berbagi. Diva sendiri memiliki sifat yang lebih stabil dan ada di tengah-tengah, tidak terpolar seperti teman-teman lainnya. Cerita dan konflik yang dihadirkan terbilang mendidik dan menghibur bagi anak-anak. Sepengetahuan saya, tidak ada konten dewasa pada serial yang satu ini. Semuanya dibungkus dalam bahasa Indonesia dan latar belakang yang sangat Indonesia sekali.

Hanya saja, dari segi animasi, memang wujud Serial Diva ini masih terbilang sederhana untuk kartun keluaran baru. Tidak bisa dibilang jelek, tapi tidak bisa juga dibilang bagus. Jangan bandingkan dengan animasinya Ipin dan Upin yang budgetnya besar yaaa.

Menurut saya, Serial Diva yang berbahasa Indonesia ini pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Di tengah-tengah gempuran film kartun asing, konten lokal seperti ini rasanya layak untuk didukung ;).

Sumber: kastarianimation.com

Serial Paw Patrol

Film seri anak Paw Patrol bercerita mengenai petualangan Ryder (Jaxon Mercey) dan keenam anjingnya. Keenam anjing Ryder dapat berbicara dan dilengkapi oleh tas punggung dan kendaraan super canggih. Masing-masing anjing memiliki spesialisasi tertentu, jadi kendaraan dan perlengkapan yang mereka bawa tidaklah sama. Ada Chase (Max Calinescu) yang keahliannya terkait polisi dan mata-mata. Lalu ada Marshall (Drew Davis) yang keahliannya terkait pemadam kebakaran dan paramedis. Kemudian ada Skye (Kallan Holley) yang keahliannya terkait dunia penerbangan. Turut serta ada Zuma (Alex Thorne) yang keahlianya terkait wilayah perairan. Lalu ada Rubble (Devan Cohen) yang keahliannya terkait konstruksi. Terakhir ada Rocky (Samuel Faraci) yang keahliannya terkait daur ulang. Pada perkembangan cerita selanjutnya, terdapat pula beberapa anjing lain yang membantu Ryder seperti Everest (Berkley Silverman) yang keahliannya terkait salju dan Tracker (David Lopez) yang keahliannya terkait kehutanan. Paw Patrol memang mengambil latar belakang sebuah dunia dimana anjing-anjing dapat berbicara dan memiliki keahlian tertentu untuk membantu manusia yang memeliharanya.

Memang apa sih yang sehari-hari Ryder lakukan? Ryder melakukan segala jenis pertolongan, mulai dari mengantarkan peliharaan yang hilang, menolong kucing yang terjebak di atas pohon, sampai mencari benda yang hilang. Jadi film ini lebih fokus ke arah “menolong”. Bukan menumpas kejahatan seperti film superhero atau polisi-polisian. Kalaupun ada tokoh antagonis, itupun minor dan tidak nampak terlalu jahat.

Ceritanya cukup mendidik, aman ditonton anak kecil dan mudah dipahami. Tapi, kadang cerita yang Paw Patrol angkat seakan terkesan memudahkan dan sedikit asal-asalan. Saya sering sekali menemukan “lubang-lubang” di dalam ceritanya. Ok saya tahu target penonton Paw Patrol memang anak kecil dan dunia Paw Patrol adalah dunia khayalan. Tapi mbok ya alur logika berfikirnya jangan terlalu melompat. Contoh ya, misalkan Paw Patrol harus mengantarkan kucing ke kota. Jalan ke kota ada ke kiri dan ke kanan. Mereka dikisahkan, memilih untuk belok kiri tanpa alasan yang jelas. Ada apa kalau belok kanan tidak dikisahkan dengan gamblang padahal jalan ke kanan itu lebih dekat dan aman, aneeeeeeeh.

Tapi, bagaimanapun juga, animasi yang lucu dan menarik berhasil memikat anak sehingga serial anak yang satu ini berhasil menjadi salah satu serial favorit anak saya :’D. Paw Patrol layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.pawpatrol.com

Shaun the Sheep Movie (2015)

Shaun the Sheep merupakan film seri anak-anak yang sudah ada sejak 2007. Film seri ini merupakan spin-off dari film seri Wallace and Gromit. Karena kepopulerannya, Shaun the Sheep akhirnya menelurkan spin-off lain yaitu film seri Timmy Time. Tapi sayang, Timmy Time kok ya menggambarkan anak yang agak nakal ya. Memang sih Timmy kreatif dan banyak akalnya, tapi yaaa sering kali polahnya terkesan seperti anak nakal. Timmy jelas berbeda dengan karakter Shaun.

Sesuai dengan judulnya Shaun the Sheep mengisahkan mengenai kehidupan seekor domba bernama Shaun di Peternakan Mossy Bottom, sebuah peternakan tradisional di Inggris Utara. Di sana, Shaun bersahabat dengan anjing peternakan yang bernama Bitzer. Shaun dan Bitzer selalu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul tanpa sepengetahuan Si Peternak.

Nah, pada Shaun the Sheep Movie (2015), terjadi sebuah insiden yang membuat Si Peternak (John Sparkes) mengalami kecelakaan di Kota. Ia pun mengalami hilang ingatan dan terdampar di kota karena ia tersesat tanpa membawa identitas. Shaun (Justin Fletcher), Bitzer (John Sparkes), dan kawan-kawan kemudian pergi ke kota untuk membawa pulang Si Peternak yang sudah merawat mereka sejak kecil.

Dalam perjalanannya, terdapat beberapa komedi situasi yang … yaaaah tidak terlalu lucu. Kecerdikan Shaun nampak biasa dan tidak menonjol. Tapi patut diakui bahwa ada bagian yang menyentuh pada akhirnya karena film ini bercerita mengenai “keluarga”.

Versi film layar lebar dari Shaun the Sheep ini tetap menggunakan dialog yang minim sekali, seperti versi film serinya yaaah kata-kata yang keluar praktus hanya mbeee, guk guk, gggrrr dan sejenisnya :’D. Tapi film ini tatap komunukatif kok. Ini merupakan ciri khas dari film Shaun the Sheep. Justru akan sangat aneh kalau Shaun the Sheep Movie (2015) dibuat dengan banyak dialog.

Gambarnya pun menggunakan teknik animasi stop-motion. Jadi, boneka dan alat peraga yang terbuat dari bahan clay modeling, diubah-ubah posisinya sehingga menghasilkan gambar animasi yang unik, mirip tanah liat. Saya rasa ini merupakan spesialisasi dari film-film produksi Aardman Animations, perusahaan sama yang memproduksi pula Wallace and Gromit, Chicken Run (2000) dan Timmy’s Time.

Secara keseluruhan, Shaun the Sheep Movie (2015) cukup menghibur meskipun kurang “Wow” yaaa. Film ini pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga tercinta.

Sumber: http://www.shaunthesheep.com

My Little Pony: The Movie (2017)

My Little Pony pertama kali hadir dalam wujud mainan anak-anak pada tahun 1981. Kemudian mainan ini mengalami berbagai perubahan sampai akhirnya muncul mainan My Little Pony generasi keempat yang dapat kita lihat seperti sekarang ini. Dari generasi pertama sampai keempat, mainan tersebut memang mengalami transformasi, akantetapi semuanya tetap memiliki ciri khusus, yaitu lambang di dekat ekor setiap karakter utamanya. Desainnya pun terbilang sukses memikat anak-anak, termasuk putri saya. Jadi tidak heran, kalau ia kesenangan ketika saya mengajaknya menonton My Little Pony: The Movie (2017).

Bernasib seperti robot-robotan Transformer, My Little Pony hadir ke layar lebar setelah film serinya konon berhasil memikat banyak orang, terutama anak perempuan. Film ini bercerita mengenai persahabatan 6 ekor kuda pony yaitu Twilight Sparkle (Tara Strong), Pinkie Pie (Andrea Libman), Fluttershy (Andrea Libman), Rainbow Dash (Ashleigh Ball), Applejack (Ashleigh Ball) dan Rarity (Tabitha St. Germain). Keenamnya masing-masing memiliki sifat dan kekuatan yang berbeda. Mereka harus menyatukan perbedaan demi menyelamatkan Negeri Equestria dari Tempest Shadow (Emely Blunt) dan pasukannya.

Walaupun tokoh utamanya ada 6, tapi rasanya film ini terlalu berfokus kepada Twilight sebagai salah satu dari 3 putri Equestria. Pinkie Pie sesekali tampil menonjol tapi tetap saja saya seperti menonton film solonya Twilight Sparkle hohoho. Kalau saya pribadi sih lebih senang Rainbow Dash karena kemampuannya untuk terbang secepat kilat dan membuat pelangi di angkasa :D. Sementara itu anak saya lebih senang Pinkie Pie karena … warnanya pink … dan ini memang tokoh yang paling konyol dan jenaka diantara keenam pony tersebut.

Bagaimana jalan ceritanya? Jalan cerita film ini terbilang mudah dipahami dan mengajarkan anak-anak mengenai persahabatan. Mau bagaimana pun juga, My Little Pony: The Movie (2017) tetaplah film anak-anak sehingga terkadang film ini nampak sedikit membosankan bagi orang dewasa. Semuanya nampak mudah ditebak dan film ini seolah-olah seperti film seri My Little Pony yang durasinya dipanjangkan. Saya berharap ada sesuatu yang lebih spesial dari versi film layar lebar dari sebuah film seri seperti ini.

Dengan demikian, menurut saya pribadi, My Little Pony: The Movie (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tidak adanya adegan kekerasan dan dihadirkannya pesan moral yang baik, membuat film ini pantas untuk ditonton bersama dengan buah hati tercinta. Tapi jangan kaget kalau habis menonton film ini, anak kita meminta dibelikan mainan My Little Pony baru ya :’D.

Sumber: http://www.mylittlepony.movie

Ferdinand (2017)

Film animasi Ferdinand (2017) dibuat berdasarkan cerita anak-anak yang diterbitkan pada tahun 1936 dengan judul The Story of Ferdinand. Siapakah Ferdinand itu? Ferdinand bukanlah seorang penyanyi atau pemain bola, melainkan seekor banteng yang hidup di Spanyol. Negeri Spanyol sangat identik dengan Torero atau pertunjukam adu banteng. Di sana terjadi pertarungan antara sang matador dengan banteng. Well, Ferdinand (John Cena) pada awalnya hidup di dalam lingkungan pertunjukan adu banteng ini sampai pada suatu hari, nasib membawanya ke tempat yang lebih baik.

Ferdinand kabur dan bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Nina (Julia Scarpa Saldanha). Nina dan keluarganya kemudian memutuskan untuk memelihara Ferdinand. Di sana, Ferdinand dan Nina tumbuh bersama hingga tak terasa tubuh Ferdinand sudah sangat besar. Tubuh yang besar tidak mengubah kepribadian Ferdinand. Ia tetap merupakan banteng cinta damai yang senang mencium harumnya bunga. Sayangnya, nasib kembali membawa Ferdinand ke kembali dalam lingkungan pertunjukan adu banteng.

Melalui sebuah insiden di tengah kota, Ferdinand ditangkap dan diambil oleh bandar pertunjukkan adu banteng. Tubuh yang besar, membuat semua orang ketakutan melihat Ferdinand. Bahkan para banteng lain pun ikut terintimidasi melihat Ferdinand. Hanya Nina dan keluarganyalah yang mengetahui siapa Ferdinand sebenarnya …

Film ini mengajarkan penontonnya mengenai persahabatan, keberanian dan kasih sayang. Tidak semua masalah dapat terpecahkan dengan jalan kekerasan. Sayang pesan moral yang baik ini disampaikan melalui jalan cerita yang agak datar dan sedikit membosankan bagi saya. Berbeda dengan saya, putri kami menonton Ferdinand (2017) dengan penuh suka cita. Film ini menampilkan animasi yang halus dan bagus. Penampakan Ferdinand dan hewan-hewan lain pun, elok dipandang mata.

Akhir kata, Ferdinand (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok untuk ditonton bersama-sama dengan anak-anak. Hanya saja harus ada pendampingan agar anak-anak tidak meniru adengan menyeruduk yang dilakukan oleh banteng-banteng pada film ini ;).

Sumber: http://www.foxmovies.com/movies/ferdinand