Serial T.O.T.S.

Dalam beberapa kepercayaan kuno, burung bangau sering kali diasosiasikan dengan bayi. Sebenarnya, semua diawali di Jerman ratusan tahun yang lalu. Pola migrasi burung bangau sedemikian rupa membuat burung-burung tersebut ramai melewati Jerman di saat ketika banyak bayi lahir. Maka, muncul mitoa bahwa bayi-bayi tersebut datang dibawa oleh bangau. Dari sana, munculah kisah-kisah fantasi terkait burung bangau yang datang mengantarkan bayi ke rumah-rumah.

Hal inilah yang menjadi latar belakang T.O.T.S. Film seri Disney tersebut berada di sebuah dunia dimana bayi-bayi binatang diantarkan ke orang tua mereka oleh T.O.T.S. (Tiny Ones Transport Service). Bayi-bayi mungil beraneka binatang pertama-tama dirawat dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diantarkan oleh burung-burung T.O.T.S. Semua armada pengantar T.O.T.S adalah burung bangau kecuali pasangan Pip (Jet Jurgensmeyer) dan Freddy (Christian J. Simon).

Pip yang seekor pinguin harus memberikan petunjuk arah yang tepat bagi Freddy si burung flamingo. Keduanya bekerjasama saling menutupi kekurangan di tengah-tengah sebuah pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh burung bangau. Di sini penonton diajarkan untuk mau bekerjasama, pantang menyerah dan tidak malu untuk tampil beda.

Selain itu, karena bayi binatang yang T.O.T.S. antarkan sangat beraneka ragam, maka penonton pun memperoleh pengetahuan mengenai ciri-ciri berbagai binatang. Bayi-bayi ini juga tampil lucu dan imut sehingga mampu membuat anak-anak untuk betah menonton serial tersebut. Terlebih lagi, setiap episode T.O.T.S. didampingi oleh lagu-lagu anak.

 

 

 

Hanya saja, konsep bahwa bayi diantarkan oleh burung, tetap membutuhkan penjelasan dari orang dewasa. Kita semua tahu bahwa bayi itu berasal dari rahim ibu, bukan dikirim oleh burung seperti paket JNE :P.

Saya rasa T.O.T.S. layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Untuk beberapa waktu, film seri anak ini berhasil menjadi film favorit anak-anak saya loh ;).

Sumber: disneynow.com/shows/tots

Serial Daniel Tiger’s Neighborhood

Sebenarnya sudah beberapa kali saya hendak memutar Daniel Tiger’s Neighborhood di rumah. Namun nampaknya film seri asal benua Amerika tersebut kalah pamor dengan film-film kartun anak lain yang diputar di Netflix, Nickelodeon dan Disney. Yaah, Daniel Tiger’s Neighborhood memang hanya dapat ditemukan di saluran TV berbayar PBS atau Amazone, agak susah yaaa hehehehe. Film seri ini bercerita tentang apa sih? Film seri anak Daniel Tiger’s Neighborhood mengisahkan keseharian Daniel (Jake Beale) dan bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Daniel merupakan seorang anak harimau berjaket merah yang hidup bersama dengan papa, mama dan adik perempuannya. Sehari-hari Daniel berinteraksi pula dengan beraneka karakter lain seperti anak kelinci, anak kucing, pangeran dan lain-lain. Sekilas, saya jadi ingat dengan film kartun anak-anak lainnya, yaitu Shimajiro. Ahhh, tapi semakin lama, semakin jelas bahwa Daniel Tiger’s Neighborhood jauh berbeda dengan Shimajiro.

Pada setiap episodenya, Daniel menemukan masalah dan ia pun memperoleh cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah tersebut dihadirkan dengan berbagai cara yang kreatif, tidak selalu dengan menampilkan kesalahan karakter tertentu. Tidak ada karakter antagonis pada Daniel Tiger’s Neighborhood. Semuanya digambarkan sebagai karakter-karakter dengan keunikan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kemudian aplikasi dari topik yang diangkat, dihadirkan pula di dunia nyata dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya. Semua dimaksudkan agak anak-anak dapat lebih memahami topik & masalah yang disajikan. Yang paling kerennya dari serial ini, topik & masalah yang diangkat adalah sesuatu yang sangat detail dan jarang saya temui pada film kartun anak-anak lainnya. Daniel Tiger’s Neighborhood mengajarkan berbagai hal baik bagi anak-anak, bahkan hal-hal yang tidak saya sadari. Saya rasa orang dewasa pun masih dapat mengambil pelajaran dan menikmati alur cerita Daniel Tiger’s Neighborhood. 

Pembawaan nuansa yang halus dan santai memang membuat film seri yang satu ini sebagai salah satu film seri teraman untuk ditonton anak kecil. Dibandingkan film-film serupa seperti Shimajiro, jelas terlihat bahwa fokus utama dari Daniel Tiger’s Neighborhood adalah lebih menitikberatkan pada unsur pendidikan. Tapi ini bukan berarti tidak ada unsur hiburannya sama sekali looh. Unsur hiburannya memang terasa sebagai pelengkap, tapi tetap mengena dan mampu membuat film seri ini nyaman untuk ditonton anak-anak bersama orang dewasa yang menemaninya :).

Saya rasa Daniel Tiger’s Neighborhood layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yag artinya “Bagus Sekali”. Saat ini saya sering menonton Daniel Tiger’s Neighborhood bersama kedua anak saya yang masih balita :). 

Sumber: pbskids.org/daniel/

Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Blue’s Clues & You!

Blue’s Clues adalah salah satu acara andalan channel TV Nickelodeon. Acara TV ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996 dan terus menelurkan episode baru sampai tahun 2006. Kemudian pada tahun 2019, Nickelodeon memutarkan kembali reboot dan peremajaan dari Blue’s Clues, yaitu Blue’s Clues & You!

Mirip seperti pendahulunya, Blue’s Clues & You! Memadukan antara tokoh manusia dengan tokoh kartun/animasi. Bahkan Blue sendiri sebenarnya merupakan anjing biru yang muncul dalam wujud animasi. Pada setiap episodenya, Blue meninggalkan petunjuk untuk Joshua Dela Cruz temukan. Dalam perjalannya, Josh harus memecahkan berbagai teka-teki dan tugas yang berhubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan. Semua disajikan dengan rapi, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Serial yang satu ini berhasil memberikan unsur kesenangan bagi anak-anak, sambil memberikan berbagai pelajaran. Tata bahasa dan konten yang ramah anak dan tidak memberikan contoh yang buruk, membuat Blue’s Clues & You! semakin pas untuk ditonton oleh anak-anak. Orang dewasa pun tidak akan terlalu bosan melihat serial yang satu ini sebab teman dan jalan cerita tidak terlalu membosankan. Saya rasa Blue’s Clues & You! sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Top Wing

Top Wing merupakan film seri kartun anak yang mengisahkan petualangan sebuah regu penyelamat di Pulau Big swirl. Sebenarnya sudah banyak film-film kartun anak lain yang temanya mirip seperti ini. Hanya saja, latar belakang lokasi Top Wing mamang membuat Top Wing nampak sedikit berbeda.

Keempat tokoh utama serial ini belajar di Akademi Top Wing. Karena status mereka masih pelajar, maka mereka masih di bawah bimbingan instruktur. Selain itu mereka hanya beroperasi di sebuah pulau tropis yang moyoritas penduduknya adalah unggas.Setiap anggota Top Wings dilengkapi oleh kendaraan canggih untuk menolong siapapun yang membutuhkan.

Penduduk pulau yang bukan manusia dan wilayah operasi yang berupa pulau, membuat pembagian spesialisasi setiap anggota Top Wing agak berbeda. Mereka tidak membagi spesialisasi menjadi polisi, ambulan, pemadam kebakaran, yang pada umumnya saya temukan pada film sejenis. Pembagian yang Top Wing lakukan adalah beradasarkan medan yang dilalui. Di sana terdapat 1 pengemudi kendaraan darat, 1 pengemudi pesawat terbang, 1 pengemudi perahu, dan 1 pengemudi kapal selam.

Kemudian titik berat dari ceritanya adalah kerja sama dan kekompakan tim. Masalah yang dihadapi tidak terlalu sederhana, namun tetap mudah dipahami oleh anak-anak. Mayoritas misi para kadet adalah misi penyelamatan dan memperbaiki sesuatu yang rusak. Bukan melawan penjahat atau menyelamatkan dunia. Tokoh antagonis pada serial ini tidak selalu hadir pada setiap episodenya. Mereka pun tidak jahat mutlak, masih ada kebaikan di sana. Semua digambarkan melalui animasi yang bagus dan menarik. Anak saya yang perempuan saja senang menonton film seri yang satu ini.

Seperti biasa, karakter wanita pada film kartun seperti ini pasti hanya 1. Sayangnya, 1 karakter wanita pada Top Wing, justru nampak sebagai seorang kadet yang relatif lebih sering gagal mendapatkan medali dibandingkan rekan-rekan prianya. Memang sih kendaraannya terbilang yang paling unik, yaitu kapal selam. Tapi ketimpangan dalam hal gender masih sedikit ada pada Top Wing :’). Dari sudut pandang lain, bisa dikatakan pula bahwa satu-satunya kadet wanita dan paling muda di Top Wings memiliki daya juang yang tinggi. Walau tidak berhasil, ia terus mencoba sampai berhasil. Sebuah contoh yang baik bagi para penonton bukan?

Saya rasa film seri Top Wing masih pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Terlepas dari beberapa kelemahannya, Top Wing masih mengajarkan berbagai nilai positif bagi anak laki-laki dan perempuan.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main

Doctor Sleep (2019)

Pada tahun 2013 lalu, Stephen King merilis Doctor Sleep sebagai novel terbarunya. Novel ini ternyata merupakan sekuel dari novel The Shining yang ia rilis pada 1977 lalu. Waaah, setelah lebih dari 30 tahun, baru ada sekuelnya. Nah, bagaimana dengan versi film layar lebarnya The Shining. Seperti pernah saya bahas sebelumnya, The Shining (1980) yang disutradarai Stanley Kubric dinilai kurang baik oleh Stephen King. Kubric dan King seolah berseteru akan 2 karya mereka yang sama-sama terbilang populer. Wah kalau begitu bagaimana dengan versi film layar lebarnya Doctor Sleep?

Sudah pasti Doctor Sleep (2019) tidak akan disutradarai oleh Kubric. Film tersebut disutradarai oleh Mike Flanagan yang sudah berpengalaman menggarap beberapa film horor dan misteri sebelumnya. Saya pribadi bukan fans berat dari karya-karya Flanagan, Kubric ataupun King. The Shining (1980) pun bukan film horor favorit saya hehehe. Jadi wajar saja kalau saya tidak berharap banyak kepada Doctor Sleep (2019). Saya baru menonton film ini beberapa bulan setelah film tersebut dirilis hohohoho.

Pada The Shining (1980) dikisahkan bahwa Danny Torrance kecil bersama keluarganya, mengalami teror dari mahluk-mahluk penunggu Hotel Overlook. Mereka tertarik sesuatu yang ada di dalam diri Danny. Ia ternyata memiliki kemampuan memanfaatkan kekuatan supranatural yang disebut Danny sebut shining atau sinar sebab kekuatan ini membuat Danny unik dan bersinar bagi mahluk-mahluk tertentu.

Apa yang Danny sebut shining, ternyata memiliki istilah lain bagi orang lain. Steam atau uap adalah nama yang Kelompok True Knot berikan. Kelompok yang dipimpin oleh Rose (Rebecca Ferguson) ini mampu untuk hidup cukup lama dengan memakan uap orang lain. Rose dan kawan-kawan berkelana mencari individu-individu yang memiliki kemampuan supranatural untuk dijadikan makanan. Mereka dengan kejamnya tega memangsa uap dari anak-anak kecil tak berdosa. Menurut Rose, uap dari anak-anak lebih murni dan lezat untuk disantap, apalagi bila ditambahkan dengan bumbu rasa takut dan rasa sakit :'(.

Saya yang sedang memiliki anak-anak kecil di rumah, cukup geram melihat ulah Rose dan kawan-kawan. Jadi merupakan kenikmatan tersendiri bagi saya, melihat mereka “dikerjai” sepanjang Doctor Sleep (2019). Rose melakukan kesalahan besar ketika ia berusaha melacak dan memangsa Abra Stone (Kyliegh Curran), seorang anak dengan uap atau sinar yang sangat besar. Besarnya uap Abra menunjukkan betapa besarkan makanan bagi Rose, sekaligus betapa besarnya punya kekuatan Abra yang harus Rose taklukkan.

Rose pikir, ia dapat menang dengan batuan anggota kelompoknya yang cukup banyak. Namun, Abra yang dianggap masih kurang berpengalaman ternyata mendapatkan bantuan dari Danny Torrance (Ewan McGregor).

Danny sudah dewasa dan masih bergulat dengan trauma yang ia peroleh di Hotel Overlook pada The Shining (1980). Ia melakukan apapun untuk menyelamatkan Abra, bahkan ketika hal ini membuatnya kembali ke Hotel Overlook, sebuah tempat yang memberinya mimpi buruk selama ini.

Keberadaan Hotel Overlook beserta penguninya, memperkuat status Doctor Sleep (2019) sebagai sekuel dari The Shining (1980). Apalagi terdapat pula berbagai adegan populer dari The Shining (1980), dihadirkan kembali dengan cara yang sedikit berbeda. Kemudian beberapa efek dan lagu dari Doctor Sleep (2019), diambil dari The Shining (1980). Hal-hal ini berhasil membumbui Docter Sleep (2019) dengan sebuah nuansa nostalgia.

Horor dan misteri dari Doctor Sleep (2019) memang berada di bawah The Shining (1980). Doctor Sleep (2019) tetap kental akan dunia supranatural ala Stephen King, hanya saja penggarapannya membuat saya seolah seperti menonton film fiksi ilmiah. Apakah ini merupakan hal yang buruk? Tidak bagi saya pribadi. Saya justru senang dengan bagaimana cerita bergulir.

Saya rasa, Doctor Sleep (2019) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Saya yang bukan fans beratnya King atau Kubric merasa bahwa sekuel yang satu ini lebih menyenangkan dan menarik untuk ditonton ketimbang film pendahulunya :).

Sumber: http://www.doctorsleepmovie.com

Serial PJ Mask

PJ Mask adalah film superhero anak-anak yang dibuat berdasarkan buku komik asal Prancis, Les Pyjamasques. Jangan harap superhero ini ada di dalam dunia superhero-nya Marvel Comics atau DC Comics, genrenya jauh berbeda. PJ Mask jauh lebih sederhana karena sasaran memang penonton anak-anak.

Anggota PJ Mask yang sudah ada sejak awal adalah Connor / Catboy (Jacob Ewaniuk), Amaya / Owlette (Addison Holley) dan Greg / Gekko (Kyle Harrison Breitkopf). Catboy dapat bergerak secepat kilat. Owlette dapat terbang dan melihat sangat jauh. Gekko memiliki kekuatan super, dapat menghilang dan dapat merayap di tembok. Connor, Greg dan Amaya merupakan anak sekolah biasa di siang hari. Tapi ketika malam tiba, mereka berubah menjadi PJ Mask dan menyelamatkan kota dari berbagai kejahatan yang mengintai.

Setiap malam, PJ Mask harus berhadapan dengan berbagai penjahat seperti Gadis Luna (Brianna Daguanno), Ninja Malam (Trek Buccino) dan Romeo (Alex Thorne). Gadis Luna dapat terbang dan memindahkan objek. Romeo menggunakan kejeniusannya dengan menciotakan berbagai peralatan canggih. Ninja Malam dapat berlari dan melompat dengan sangat cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, penjahat-penjahat pada film seri anak inipun bertambah terus menerus.

Karena PJ Mask memang untuk anak- anak, jadi yaaa antagonisnya pun anak-anak. Walaupun lawan-lawan PJ Mask memiliki kemampuan super, mereka tetap anak-anak. Jadi, kejahatan yang mereka lakukan, beserta modus operasinya pun, terkadang sangat sepele dan sederhana. Penyelesaian yang dilakukan oleh PJ Mask pun cukup sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Terkadang PJ Mask harus mengatasi sikap kekanak-kanakan mereka demi menyelamatkan kota. Pesan moral yang PJ Mask berikan biasanya memang terkait sifat dan masalah yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak ditunjukkan bagaimana agar mereka tidak manja, impulsif, egois dan sifat-sifat kurang baik lainnya lainnya.

Tapi dengan latar belakang kota dan lawan yang itu-itu saja, PJ Mask terasa sangat membosankan. Itulah mengapa saat ini anggota PJ Mask dan lawan-lawannya terus ditambah. Tapi, bagi penonton dewasa seperi saya, yaaa PJ Mask itu tetap membosankan hehehehehe. Yah paling tidak animasinya lumayan baguslah untuk film kartun di tahun 2019.

Sayang nuansa warna yang tidak terlalu cerah, bisa jadi membuat PJ Mask tidak terlalu menarik bagi anak perempuan. Tapi itu bukan dosa PJ Mask juga sih, karena konsep PJ Mask adalah superhero anak di malam hari, jadi wajar kalau nuansa warnanya tidak terlalu cerah :’D.

Dengan demikian, serial kartun yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Anak perempuan saya terkadang masih menonton PJ Mask meskipun ini bukanlah film kartun favoritnya.

Sumber: pjmask.com

Serial Butterbean’s Cafe

Bermain masak-masakan menjadi salah satu permainan kesukaan anak-anak saya. Maka tidak heran kalau mereka tertarik dengan Butterbean’s Cafe, sebuah film seri kartun asal Irlandia yang bertemakan masak-memasak. Alkisah di dalam dunia peri yang mungil, Butterbean (Margaret Ying Drake) mendirikan Butterbean’s Cafe bersama-sama dengan Cricket (Gabriella Pizzolo), Poppy (Krrilee Berger), Dazzle (Olivia Grace Manning) dan Jasper (Koda Gursoy).

Jasper merupakan teman Butterbean yang bertugas menangani pengantaran dan penyediaan bahan makanan. Dazzle adalah sahabat Butterbean yang bertugas di bagian konter dan kasir restoran, berinteraksi langsung dengan para pelanggan. Poppy adalah adik Butterbean yang masih belajar memasak, ia sering membantu pekerjaan di dapur dan merancang menu kreatif restoran. Terakhir, Poppy merupakan sahabat Butterbean yang bertugas di dapur untuk memasak berbagai hidangan.

Mayoritas hidangan yang disajikan Butterbean’s Cafe mendapatkan sedikit sentuhan sihir dari Butterbean, pada bagian akhir proses memasaknya. Di sini anak-anak diajarkan dasar-dasar dan istilah memasak yang dipergunakan di dunia nyata. Tidak hanya itu, masak-memasak yang Butterbean’s Cafe hidangkan bukanlah masak-memasak biasa. Semuanya mengajarkan mengenai bagaimana menjadi kreatif ketika menghadapi berbagai masalah. Masalah yang hadir pun biasanya berhubungan dengan problem persahabatan dan budi pekerti. Semua orang memang pernah berbuat salah dan tidak ada salah untuk saling memaafkan.

Sayang ceritanya memang agak datar dan itu-itu saja, sangat sederhana dan memang ditujukan bagi anak-anak. Orang dewasa yang mendampingi terkadang akan merasa sangat kebosana heheheeheh.

Dengan menimbang hal-hal di atas, Butterbean’s Cafe rasanya masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala masimum 5 yang artinya “Lumayan”. Amanlaah untuk ditonton anak-anak :).

Sumber: http://www.nickjr.co.uk/butterbeans-cafe