Serial PJ Mask

PJ Mask adalah film superhero anak-anak yang dibuat berdasarkan buku komik asal Prancis, Les Pyjamasques. Jangan harap superhero ini ada di dalam dunia superhero-nya Marvel Comics atau DC Comics, genrenya jauh berbeda. PJ Mask jauh lebih sederhana karena sasaran memang penonton anak-anak.

Anggota PJ Mask yang sudah ada sejak awal adalah Connor / Catboy (Jacob Ewaniuk), Amaya / Owlette (Addison Holley) dan Greg / Gekko (Kyle Harrison Breitkopf). Catboy dapat bergerak secepat kilat. Owlette dapat terbang dan melihat sangat jauh. Gekko memiliki kekuatan super, dapat menghilang dan dapat merayap di tembok. Connor, Greg dan Amaya merupakan anak sekolah biasa di siang hari. Tapi ketika malam tiba, mereka berubah menjadi PJ Mask dan menyelamatkan kota dari berbagai kejahatan yang mengintai.

Setiap malam, PJ Mask harus berhadapan dengan berbagai penjahat seperti Gadis Luna (Brianna Daguanno), Ninja Malam (Trek Buccino) dan Romeo (Alex Thorne). Gadis Luna dapat terbang dan memindahkan objek. Romeo menggunakan kejeniusannya dengan menciotakan berbagai peralatan canggih. Ninja Malam dapat berlari dan melompat dengan sangat cepat. Seiring dengan berjalannya waktu, penjahat-penjahat pada film seri anak inipun bertambah terus menerus.

Karena PJ Mask memang untuk anak- anak, jadi yaaa antagonisnya pun anak-anak. Walaupun lawan-lawan PJ Mask memiliki kemampuan super, mereka tetap anak-anak. Jadi, kejahatan yang mereka lakukan, beserta modus operasinya pun, terkadang sangat sepele dan sederhana. Penyelesaian yang dilakukan oleh PJ Mask pun cukup sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Terkadang PJ Mask harus mengatasi sikap kekanak-kanakan mereka demi menyelamatkan kota. Pesan moral yang PJ Mask berikan biasanya memang terkait sifat dan masalah yang dimiliki oleh anak-anak. Anak-anak ditunjukkan bagaimana agar mereka tidak manja, impulsif, egois dan sifat-sifat kurang baik lainnya lainnya.

Tapi dengan latar belakang kota dan lawan yang itu-itu saja, PJ Mask terasa sangat membosankan. Itulah mengapa saat ini anggota PJ Mask dan lawan-lawannya terus ditambah. Tapi, bagi penonton dewasa seperi saya, yaaa PJ Mask itu tetap membosankan hehehehehe. Yah paling tidak animasinya lumayan baguslah untuk film kartun di tahun 2019.

Sayang nuansa warna yang tidak terlalu cerah, bisa jadi membuat PJ Mask tidak terlalu menarik bagi anak perempuan. Tapi itu bukan dosa PJ Mask juga sih, karena konsep PJ Mask adalah superhero anak di malam hari, jadi wajar kalau nuansa warnanya tidak terlalu cerah :’D.

Dengan demikian, serial kartun yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Anak perempuan saya terkadang masih menonton PJ Mask meskipun ini bukanlah film kartun favoritnya.

Sumber: pjmask.com

Serial Butterbean’s Cafe

Bermain masak-masakan menjadi salah satu permainan kesukaan anak-anak saya. Maka tidak heran kalau mereka tertarik dengan Butterbean’s Cafe, sebuah film seri kartun asal Irlandia yang bertemakan masak-memasak. Alkisah di dalam dunia peri yang mungil, Butterbean (Margaret Ying Drake) mendirikan Butterbean’s Cafe bersama-sama dengan Cricket (Gabriella Pizzolo), Poppy (Krrilee Berger), Dazzle (Olivia Grace Manning) dan Jasper (Koda Gursoy).

Jasper merupakan teman Butterbean yang bertugas menangani pengantaran dan penyediaan bahan makanan. Dazzle adalah sahabat Butterbean yang bertugas di bagian konter dan kasir restoran, berinteraksi langsung dengan para pelanggan. Poppy adalah adik Butterbean yang masih belajar memasak, ia sering membantu pekerjaan di dapur dan merancang menu kreatif restoran. Terakhir, Poppy merupakan sahabat Butterbean yang bertugas di dapur untuk memasak berbagai hidangan.

Mayoritas hidangan yang disajikan Butterbean’s Cafe mendapatkan sedikit sentuhan sihir dari Butterbean, pada bagian akhir proses memasaknya. Di sini anak-anak diajarkan dasar-dasar dan istilah memasak yang dipergunakan di dunia nyata. Tidak hanya itu, masak-memasak yang Butterbean’s Cafe hidangkan bukanlah masak-memasak biasa. Semuanya mengajarkan mengenai bagaimana menjadi kreatif ketika menghadapi berbagai masalah. Masalah yang hadir pun biasanya berhubungan dengan problem persahabatan dan budi pekerti. Semua orang memang pernah berbuat salah dan tidak ada salah untuk saling memaafkan.

Sayang ceritanya memang agak datar dan itu-itu saja, sangat sederhana dan memang ditujukan bagi anak-anak. Orang dewasa yang mendampingi terkadang akan merasa sangat kebosana heheheeheh.

Dengan menimbang hal-hal di atas, Butterbean’s Cafe rasanya masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala masimum 5 yang artinya “Lumayan”. Amanlaah untuk ditonton anak-anak :).

Sumber: http://www.nickjr.co.uk/butterbeans-cafe

Serial Super Wings

Super Wings merupakan film seri kartun anak produksi Korea, Cina dan Amerika yang anak saya tonton di rumah. Film ini bercerita mengenai Super Wings, sekelompok pesawat yang dapat berubah menjadi robot. Mereka menggunakan kekuatan dan kelebihan masing-masing untuk menolong anak-anak di penjuru dunia.

Pada umumnya, setiap episode Super Wings dimulai dengan pengiriman paket kepada anak-anak oleh Jett (Hudson Loverro), Super Wings berwarna merah yang ramah dan suka menolong. Jett tidak berhenti sampai pengiriman paket saja, ia selalu berhenti dan ikut menolong anak-anak yang ia kunjungi. Sayangnya Jett justru sering terjebak di dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan sendiri.

Nah disinilah Jett biasa memanggil bantuan dari rekan-rekan Super Wings lain sesuai masalah yang dihadapi. Jadi Super Wings yang datang adalah Super Wings yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi setiap episode Super Wings tidaklah terlalu monoton sebab kemungkinan akan hadir robot-robot yang berbeda, paling yaaa hanya Jett saya yang sopasti selalu ada.

Film ini tidak hanya memberikan pesan moral mengenai tolong menolong, tapi di sana terdapat pula edukasi mengenai letak geografis dan budaya berbagai kota dan negara yang Jett kunjungi. Sampai saat ini saya tidak melihat adanya hal-hal yang tidak baik pada film kartun anak ini. Tapi yaaa karena Super Wings memang ditujukan untuk anak PAUD dan TK, yah jadi masalahnya terkadang sangat sederhana.

Tapi walaupun begitu, animasi yang ditampilkan cukup bagus untuk film kartun yang saya tonton di tahun 2019. Saya suka melihat bagaimana Super Wings berubah dari pesawat menjadi robot hehehehe. Karena karakternya robot dan kebanyakan laki-laki, jadi wajar kalau mayoritas penonton serial ini adalah anak laki-laki. Karakter robot berwarna merah jambu hanya ada sesekali saja, sehingga anak perempuan saya paling hanya tahan menonton 3 episoode-nya saja.

Melihat hal-hal di atas, saya rasa serial Super Wings layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Lumayanlaaah, bisa dijadikan selingan sambil menemani si kecil ;).

Sumber: web.littleairplane.com

Serial Abby Hatcher

Abby Hatcher merupakan film seri kartun asal Kanada yang mengisahkan keseharian seorang anak yang bernama Abby Hatcher (Macy Drouin). Abby tinggal di hotel milik orang tuanya. Di sana, ia berkenalan dengan mahluk-mahluk imut yang disebut Fuzzly. Setiap Fuzzly memiliki wujud dan kemampuan yang berbeda. Terkadang hal ini membuahkan berbagai masalah. Di sinilah, Abby menggunakan kemampuannya untuk memecahkan berbagai masalah tersebut dengan caranya sendiri.

Abby dilengkapi dengan sepeda roda tiga, kacamata pelacak Fuzzly, sarung tangan lengket, jaket balon, sepatu per, jam serbaguna dan lain-lain. Perlengkapan-perlengkapan, tersebut harus Abby padukan dengan kekuatan unik Fuzzly untuk memecahkan berbagai masalah yang Abby temui di hotel dan sekitarnya. Hotel tempat tinggal Abby bukan hotel biasa, hotel tersebut memiliki lorong-lorong rahasia yang sering Abby lewati. Entah mengapa, melihat Abby menggunakan sepeda roda 3 melewati lorong-lorong hotel yang sepi, terkadang mengingatkan saya pada sebuah adegan ikonik dari The Shining (1980), hehehehehe.

Yaaah karena memang Fuzzly sendiri digambarkan sebagai mahluk imut yang karakter seperti anak-anak, maka masalah beserta pemecahannya terbilang sangat sederhana. Film ini memang lebih cocok untuk ditonton oleh anak kecil. Dunia Abby yang penuh dengan warna-warna cerah, plus nyanyian di mana-mana, memang akan sangat menghibur bagi anak-anak. Animasi dan suara film ini memang terbilang bagus dan berhasil memikat anak saya. Sampai-sampai, Abby Hatcher menjadi tema ulang tahun anak sulung saya :’D.

Walaupun sukses besar kalau dilihat dari segi hiburan, sayang, pesan moral yang ditampilkan agak minim dan itu-itu saja. Isinya tidak jauh dari persahabatan dan pentang menyerah memecahkan segala rintangan. Sampai saat ini saya tidak melihat karakter antagonis pada film seri ini. Semuanya nampak baik, hanya saja terkadang ada keinginan dan kekuatan dari beberapa karakter yang sedikit bersinggungan. Dengan demikian, film seri yang baru mengudara tahun 2019 ini, pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Elena of Avalor

Elena merupakan putri latin pertama yang Disney miliki. Kerajaan Avalor dan dunia dari film seri ini sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika Latin. Kehadiran film seri Elena of Avalor sendiri diawali dari sebuah kisah dari Serial Sophia the First. Dikisahkan bahwa selama ini, kalung ajaib yang Sofia miliki ternyata merupakan penjara yang mengurung Elena (Aimee Carrero).

Elena merupakan putri mahkota Kerajaan Avalor yang saat itu sedang dikuasai oleh seorang penyihir jahat. Berkat bantuan Sofia, Elena akhurnya dapat bebas dan kembali menguasai Avalor. Karena umurnya yang masih belia dan kurangnya pengalaman, Elena memerintah Avalor dengan didampingi oleh sebuah majelis yang beranggotakan kakek nenek Elena, sepupu Elena, penyihir kerjaan dan sahabat-sahabat Elena lainnya. Sayang sifat Elena yang keras terkadang membuatnya mengambil keputusan sendiri tanpa menpedulikan apa kata majelis. Elena merupakan pemimpin yang cenderung lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya dibandingkan apa kata orang lain. Hal ini beberapa kali membawa Elena dan Avalor ke dalam masalah, tapi karena memang niat Elena selalu baik, maka teman dan keluarga Elena selalu siap mendukung dan menolong. Bagaimanapun juga, Elena dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak karena Elena selalu menolong, pantang menyerah dan bersedia mengakui kesalahannya serta memperbaiki kesalahan tersebut walaupun ia merupakan penguasa tertinggi sebuah kerajaan.

Berbeda dengan putri-putri Disney lainnya, Elena memiliki kekuatan sihir yang semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini karena secara tidak sadar, Elena menyerap kekuatan sihir selama terjebak di dalam kalung Sofia.

Dunia yang menjadi latar belakang Elena merupakan dunia yang penuh dengan keajaiban dan sihir. Sebagai tunggangan saja, Elena dan kawan-kawan biasa menaiki Jaquin, sebuah mahluk ajaib yang merupakan perpaduan antara jaguar dan burung. Wujudnya mirip macan tutul bersayap. Ini adalah sesuatu yang berbeda sebab biasanya kuda-lah yang menjadi hewan ajaib bersayap.

Film seri ini memenuhi beberapa persyaratan untuk disukai oleh anak-anak, namun sayang jalan cerita yang disajikan sering kali tidak terlalu menarik. Selain itu, tidak ada tokoh atau mahluk “imut” atau kejadian lucu pada film seri ini, sehingga anak saya sendiri kadang kehilangan minat untuk menonton Elena of Avalor.

Oleh karena itulah film seri anak yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Yaaah paling tidak film seri ini relatif aman ditonton oleh anak-anak karena tidak ada konten dewasa di sana.

Sumber: disneychannel.ca/show/elena-avalor/

Serial Upin & Ipin

Berawal dari serial singkat di bulan Ramadhan pada 2007 lalu, Ipin & Upin saat ini telah berhasil menjadi film seri animasi dengan musim pemutaran terpanjang di Malaysia. Sampai tahun 2019 ini saja, Ipin & Upin telah melampaui 12 musim pemutaran dan menghadirkan 4 film layar lebar. Latar belakang budaya dan bahasa Malaysia yang mirip dengan Indonesia, membuat Ipin & Upin meraih popularitas pula di Indonesia.

Alkisah hiduplah 2 anak kembar bernama Ipin & Upin (Asyiela Putri) di Kampung Durian Runtuh. Mereka berdua hidup bersama kakak mereka, Ros (Siti Kahirunnisa), dan nenek mereka, Opah (Ainon Ariff). Keduanya masih TK (Taman Kanak-Kanak) dan sehari-hari bermain dengan anak-anak dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda. Di sana ada Ehsan (Muhammad Fareez), Fizi (Rufaidah), Mei Mei (Tang Ying Sowk), Jarjit Singh, Mail (Muhammad Musyrif Azzat) dan Susanti (Andhika Astari). Kawan-kawan Ipin & Upin mewakili suku-suku dan agama yang hadir di Malaysia, agak sedikit berbeda denham Indonesia ya. Karena kepopulerannya di Indonesia, film seri ini menampilkan tokoh Susansi yang dikisahkan sebagai orang Indonesia yang tinggal di Malaysia :).

Pesan moral dari film seri Ipin & Upin terbilang banyak dan baik, mulai dari toleransi, setia kawan, sampai beribadah. Tidak jarang saya melihat tayangan azdan Magrib diisi oleh tokoh Ipin & Upin yang berwudhu dan Sholat di Masjid. Serial inipun mengangkat tema perayaan hari raya agama lain pada beberapa episodenya. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang kurang disetujui oleh beberapa kalangan dan menganggap bahwa toleransi pada Ipin & Upin terlampau berlebihan. Saya rasa, segala hal terkait agama memang termasuk isu sensitif. Jadi, walaupun Ipin & Upin bebas dari adegan kekerasan dan dewasa, orang tua tetap harus mendampingi putra putrinya ketika menonton Ipin & Upin.

Tak heran kalau banyak anak-anak yang senang dengan serial yang satu ini. Jalan ceritanya tidak membosankan dan animasinya lumayan bagus. Ceritanya memang berkutat pada keseharian Ipin, Upin dan kawan-kawan, termasuk ketika mereka berimajinasi. Imajinasi tersebut berhasil ditampilkan dengan baik ;). Jadi ada kalanya mainan yang Ipin, Upin dan kawan-kawan bergerak seperti mobil balam sungguhan atau pesawat perang sungguhan. Pada beberapa kesempatan pun, Ipin, Upin dan kawan-kawan menggunakan kostum detektif, astronot dan lain-lain. Film seri yang satu ini bahkan sempat berkolaborasi dengan Ultraman loh.

Animasi yang bagus disertai dengan cerita dan karakter yang menarik dan mendidik, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Ipin & Upin nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.lescopaque.com

Serial Blaze and the Monster Machines

Serial animasi anak Blaze and the Monster Machine mengisahkan petualangan Blaze (Nolan North), sebuah monster truck yang dapat berbicara. Apa itu monster truck? Sebuah truk 4WD dengan suspensi berkualitas tinggi dan ban raksasa seperti dapat dilihat pada pertunjukan Monster Jam di Amerika sana.

Blaze biasa mengikuti perlombaan dengan monster truck lainnya seperti Stripes (Sunil Malhotra), Darington (Alexander Polinsky), Starla (Kate Higgins), Zeg (James Patrick Stuart) dan Watts (Melanie Monichino). Tak ketinggalan Crusher (Kevin Michael Richardson), si biang rusuh, selalu mengikuti perlobaan bersama Blaze, dan selalu berbuat onar. Crusher sering sekali menjadi tokoh antagonis pada film seri ini. Di luar arena balap pun, Crusher sering berbuat onar dan menghambat perjalan Blaze dan kawan-kawan. Pada setiap episodenya, Blaze diharuskan bepergian menuju ke suatu tempat, tapi perjalanannya dihambat oleh Crusher atau karakter antagonis lain.

Pada mayoritas episode film seri ini, Crusher selalu menjadi antagonis yang mengeluarkan berbagai benda untuk menghambat Blaze. Blaze pun mengeluarkan berbagai benda atau melakukan modifikasi atau melakukan aksi demi menghadapi hambatan yang muncul. Pemecahan masalah yang Blaze lakukan, disajikan secara interaktif dengan penonton. Semuanya mengandung sains, teknologi dan matematika. Saya sendiri sering membimbing anak saya untuk mengikuti kontem edukasi yang dihadirkan. Konten pendidikan pada Blaze and the Monster Machine, sepertinya ditujukan untuk anak-anak berumur 3 sampai 6 tahun.

Sayang kalau dilihat dari segi cerita, latar belakag film seri ini agak absurd. Jadi Blaze itu hidup disebuah dunia, dimana bumi dihuni oleh monster truck dan semua mahluk hidup lainnya termasuk binatang, selalu menggunakan roda, bukan kaki. Loh bagaimana dengan manusianya? Penampakan kota dimana Blaze tinggal, seolah seperti kota dimana manusia tinggal, hanya saja …. hampir tak ada manusia yang terlihat. Sepengetahuan saya, hanya ada 2 manusia pada serial ini, yaitu AJ (Dusan Brown) dan Gabby (Angelina Wahler). Gabby adalah montir para monster truck, sedangkan AJ adalah pengemudi Blaze. Loh, kalau begitu bagaimana dengan monster truck lainnya? Mereka semua dapat berjalan sendiri tanpa manusia sebagai pengemudinya. Loh kalau begitu kenapa Blaze dikemudikan oleh AJ???

Banyak hal lain pada film ini yang dapat diperdebatkan kalau dilihat oleh orang dewasa. Tapi hal tersebut nampaknya tidak berarti apa-apa dihadapan anak kecil :D. Olehkarena itulah saya masih dapat memberikan Blaze and the Monster Machine nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Blaze and the Monster Machine bukan hanya berisi hiburan saja, tapi ada unsur edukasi di dalamnya.

Sumber: http://www.nickjr.tv/blaze-and-the-monster-machines