Serial Mira, Royal Detective

Serial kartun anak yang mengambil latar belakang kerajaan, biasanya memiliki putri atau pangeran sebagai tokoh utamanya. Hal tersebut tidak berlaku pada Serial Mira, Royal Detective. Sang pangeran justru hadir sebagai tokoh pendukung. Mira (Leela Ladnier) merupakan anak dari punggawa Kerajaan Jalpur di abad ke-19. Dikisahkan bahwa Jalpur sendiri terletak di daerah India, Asia Tengah. Maka latar belakang serial anak yang satu ini adalah kerajaan ala ala Bollywood-laaah.

Apa istimewanya Mira? Ia memiliki kecerdasan dan berbagai nilai kebaikan lain yang patut untuk dicontoh. Pihak istana pun mengangkat Mira sebagai detektif kerajaan. Mira berhasil mengajak penonton ciliknya untuk memecahkan berbagai kasus yang ia hadapi.

Dengan menonton Mira, Royal Detective, anak-anak diajak untuk berfikir dengan teratur dan mengikuti petunjuk yang ada. Semuanya cukup mudah untuk diikuti oleh anak-anak. Kasusnya Mira memang bukan kasus kompleks yang rumit seperti benang kusut.

Mira, Royal Detective layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Meskipun topiknya terkadang terkait tindak kriminal, serial ini tidak mengandung kekerasan dan hal-hal negatif lainnya kok. Aman untuk ditonton oleh anak-anak.

Sumber: disneynow.com/shows/mira-royal-detective

Serial Super Monsters

Serial kartun anak Super Monsters menampilkan keseharian murid sebuah Playgroup. Eits ini bukan Playgroup biasa, Playgroup ini khusus bagi monsters. Dalam dunia Super Monsters, para muridnya memiliki wujud seperti anak manusia di siang hari. Kemudian di malam hari mereka berubah menjadi monter dan masuk sekolah.

Perubahan wujud yang mereka lalukan, ditampilkan seolah-olah mereka berubah menjadi superhero. Jadi tidak ada adegan menakutkan di sana. Super Monsters memang menampilkan monster-monster sebagai tokohnya, namun semua dibuat seimut mungkin. Di sini, para penonton cilik diajarkan bahwa monster itu jauh dari kesan menakutkan. Tak lupa hadir pula peliharaan yang juga berupa binatang imut. Binatang-binatang yang di dunia nyata terkesan seram pun, berhasil dibuat seimut mungkin pada Super Monsters.

Monsternya monster apa aja sih? Ada vampir, mumi, zombie, frankenstein, penyihir, werewolf, naga dan lain-lain. Yaaah seperti versi ciliknya Monster High. Karena jenis monsternya berbeda-beda, maka masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda.  Mereka harus bekerja sama dan memanfaatkan perbedaan yang ada demi menyelesaikan masalah.

Hanya saja, banyak sekali adegan dan topik yang terasa agak repetitif bagi penonton dewasa. Anak-anak mungkin tidak terlalu menyadari hal tersebut. Saya sendiri cepat bosan ketika menemani anak saya menonton serial yang satu ini.

Dengan demikian, saya rasa Super Monsters pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Setiap musiim pemutaran baru, biasanya ada saja karakter baru dengan kekuatan baru, not bad laaaa.

Sumber: http://www.41e.tv

Serial Entong

Bertahun-tahun lalu, terdapat sinetron Si Entong yang biasa diputar di TV. Kemudian hadir beberapa spin-off dari sinetron tersebut, sampai pada akhirnya dibuatlah versi serial animasinya dengan judul Entong. Saya sendiri hampir tidak pernah menonton versi sinetronnya. Saya menonton Entong versi animasi karena menemani anak saya menonton TV. Sampai saat saya menulis tulisan ini, Etong merupakan salah satu serial animasi yang kerap hadir di salah satu stasiun TV nasional.

Mirip dengan versi sinetronnya, serial animasi yang satu ini memiliki seorang tokoh utama bernama Entong sebagai tokoh utamanya. Entong tinggal di sebuah perkampungan yang terletak di tengah-tengah kota Jakarta. Di sini, diperlihatkan kemajemukan kota Jakarta. Entong yang berasal dari suku Betawi, mampu berinteraksi dengan karakter-karakter lain yang berasal dari berbagai macam suku.

Tentunya, berbagai kebaikan diajarkan pada setiap episodenya. Tema yang diambil sekilas memang cukup klise. Kebaikan melawan kejahatan dimana Entong digambarkan sebagai tokoh baik. Kemudian, hadir Memed sebagai tokoh jahat yang selalu berseteru dengan Entong pada setiap episodenya.

Konflik antara Entong dan Memed memang menjadi cerita utama pada serial ini. Sayang, serial yang harusnya untuk anak-anak ini digarap dengan gaya sinetron. Memed seolah-olah seperti iblis yang memiliki berbagai sifat buruk. Ia bahkan kadang berhasil menang melawan Entong. Loh kok menang? Sekilas memang seolah-olah kebaikan selalu menang. Akantetapi kalau ditelaah, maka terlihat jelas bahwa pada dasarnya terkadang Entong berada dipihak yang kalah. Pada film seri ini, Entong tidak digambarkan sebagai malaikat yang tidak punya dosa. Entong digambarka sebagai anak manusia yang pada dasarnya merupakan anak baik. Semua sifat baik tentunya melekat pada karakter Entong. Namun beberapa tindakan Memed, berhasil membuat Entong sedikit berbelok. Terkadang, Entong bermaksud melakukan perbuatan baik, namun dengan cara yang kurang tepat. Bak iblis, Memed berhasil memancing Entong agar Entong turut serta menerima hukuman seperti dirinya. Aaaah sungguh sinetron sekali hehehehehe.

Dari segi visual, animasi Entong pun terbilang lumayan bagus dan menarik, tak kalah dengan film kartun luar negeri. Hal ini tentunya sukses membuat anak-anak betah menonton Entong. Not bad laaad :).

Saya rasa serial Entong layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ketika menonton film ini, jangan lupa mendampingi anak-anak kecil karena film kartun ini digarap seperti menggarap sebuah sinetron. Jadi sopasti ada karakter anak kecil yang bersifat seperti iblis. Padahal pada dunia nyata, setiap individu ada sifat baiknya bukan? Apalagi anak-anak kecil yang seharusnya masih polos dan minim dosa.

Sumber: http://www.mncanimation.com/products/view/entong

Serial Barbie Dreamhouse Adventures

Boneka barbie sudah menjadi salah satu mainan terpopuler anak perempuan sejak dahulu kala. Sampai sekarang, Barbie masih menjadi sebuah franchise yang laris manis. Barbie pun sudah memiliki beberapa film seri, mulai dari Life in the Dreamhouse, Dreamtopia, sampai yang terbaru yaitu Barbie Dreamhouse Adventure.

Kalau dari segi cerita, Barbie Dreamhouse Adventure pun menampilkan cerita yang relatif dapat dinikmati oleh penonton dengan rentang umur yang lebih lebar. Apa bedanya dengan kedua serial Barbie sebelumnya? Life in the Dreamhouse bercerita mengenai kehidupan Barbie dengan teman-temannya yang sudah bukan anak-anak. Serial tersebut lebih cocok untuk ditonton oleh remaja sebab terlalu dewasa bila ditonton oleh anak TK atau SD. Sedangkan Dreamtopia bercerita mengenai petualangan Barbie dan adiknya dinegeri dongeng. Serial ini tentunya lebih menargetkan penonton yang jauh lebih muda.

Nah, Barbie Dreamhouse Adventure mengisahkan keseharian dan petualangan Barbie bersama keluarga dan sahabatnya. Di sana terdapat nilai-nilai kekompakan keluarga dan hubungan persahabatan antar sahabat. Topik yang dihadirkan memang sedikit klise, tapi paling tidak kisahnya tidak terlalu dewasa, relatif masih bersahabat untuk ditonton anak kecil. Barbie Dreamhouse Adventure memiliki jalan cerita yang tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa, dan tetap dapat dinikmati oleh anak-anak, terutama anak perempuan yah, namanya juga Barbie hohohohoho.

Film ini berasal dari sebuah produk, maka tak heran apabila unsur konsumerism sangat melekat pada Barbie Dreamhouse Adventure. Hampir semua yang ditampilkan pada serial tersebut, ada produknya dan dapat dibeli di toko mainan :’D. Sepertinya film-film Barbie memang tidak hanya berniat memperoleh laba dari filmnya, namun melalui penjualan produk mainannya. Terkadang, anak-anak memang lebih senang membeli mainan yang ada filmnya. Yah hitung-hitung menyelam sambil minum air.

Melihat dari segi kualitas gambar dan cerita, saya rasa serial Barbie yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Hanya saja, jangan kaget kalau anak kita meminta mainan Barbie setelah menonton serial ini. Yah tak apalah, cari yang diskonan saja hehehehe.

Sumber: play.barbie.com/en-us

Serial T.O.T.S.

Dalam beberapa kepercayaan kuno, burung bangau sering kali diasosiasikan dengan bayi. Sebenarnya, semua diawali di Jerman ratusan tahun yang lalu. Pola migrasi burung bangau sedemikian rupa membuat burung-burung tersebut ramai melewati Jerman di saat ketika banyak bayi lahir. Maka, muncul mitoa bahwa bayi-bayi tersebut datang dibawa oleh bangau. Dari sana, munculah kisah-kisah fantasi terkait burung bangau yang datang mengantarkan bayi ke rumah-rumah.

Hal inilah yang menjadi latar belakang T.O.T.S. Film seri Disney tersebut berada di sebuah dunia dimana bayi-bayi binatang diantarkan ke orang tua mereka oleh T.O.T.S. (Tiny Ones Transport Service). Bayi-bayi mungil beraneka binatang pertama-tama dirawat dan dipersiapkan terlebih dahulu sebelum akhirnya diantarkan oleh burung-burung T.O.T.S. Semua armada pengantar T.O.T.S adalah burung bangau kecuali pasangan Pip (Jet Jurgensmeyer) dan Freddy (Christian J. Simon).

Pip yang seekor pinguin harus memberikan petunjuk arah yang tepat bagi Freddy si burung flamingo. Keduanya bekerjasama saling menutupi kekurangan di tengah-tengah sebuah pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh burung bangau. Di sini penonton diajarkan untuk mau bekerjasama, pantang menyerah dan tidak malu untuk tampil beda.

Selain itu, karena bayi binatang yang T.O.T.S. antarkan sangat beraneka ragam, maka penonton pun memperoleh pengetahuan mengenai ciri-ciri berbagai binatang. Bayi-bayi ini juga tampil lucu dan imut sehingga mampu membuat anak-anak untuk betah menonton serial tersebut. Terlebih lagi, setiap episode T.O.T.S. didampingi oleh lagu-lagu anak.

 

 

 

Hanya saja, konsep bahwa bayi diantarkan oleh burung, tetap membutuhkan penjelasan dari orang dewasa. Kita semua tahu bahwa bayi itu berasal dari rahim ibu, bukan dikirim oleh burung seperti paket JNE :P.

Saya rasa T.O.T.S. layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Untuk beberapa waktu, film seri anak ini berhasil menjadi film favorit anak-anak saya loh ;).

Sumber: disneynow.com/shows/tots

Serial Daniel Tiger’s Neighborhood

Sebenarnya sudah beberapa kali saya hendak memutar Daniel Tiger’s Neighborhood di rumah. Namun nampaknya film seri asal benua Amerika tersebut kalah pamor dengan film-film kartun anak lain yang diputar di Netflix, Nickelodeon dan Disney. Yaah, Daniel Tiger’s Neighborhood memang hanya dapat ditemukan di saluran TV berbayar PBS atau Amazone, agak susah yaaa hehehehe. Film seri ini bercerita tentang apa sih? Film seri anak Daniel Tiger’s Neighborhood mengisahkan keseharian Daniel (Jake Beale) dan bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Daniel merupakan seorang anak harimau berjaket merah yang hidup bersama dengan papa, mama dan adik perempuannya. Sehari-hari Daniel berinteraksi pula dengan beraneka karakter lain seperti anak kelinci, anak kucing, pangeran dan lain-lain. Sekilas, saya jadi ingat dengan film kartun anak-anak lainnya, yaitu Shimajiro. Ahhh, tapi semakin lama, semakin jelas bahwa Daniel Tiger’s Neighborhood jauh berbeda dengan Shimajiro.

Pada setiap episodenya, Daniel menemukan masalah dan ia pun memperoleh cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah tersebut dihadirkan dengan berbagai cara yang kreatif, tidak selalu dengan menampilkan kesalahan karakter tertentu. Tidak ada karakter antagonis pada Daniel Tiger’s Neighborhood. Semuanya digambarkan sebagai karakter-karakter dengan keunikan, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kemudian aplikasi dari topik yang diangkat, dihadirkan pula di dunia nyata dengan anak-anak sebagai tokoh utamanya. Semua dimaksudkan agak anak-anak dapat lebih memahami topik & masalah yang disajikan. Yang paling kerennya dari serial ini, topik & masalah yang diangkat adalah sesuatu yang sangat detail dan jarang saya temui pada film kartun anak-anak lainnya. Daniel Tiger’s Neighborhood mengajarkan berbagai hal baik bagi anak-anak, bahkan hal-hal yang tidak saya sadari. Saya rasa orang dewasa pun masih dapat mengambil pelajaran dan menikmati alur cerita Daniel Tiger’s Neighborhood. 

Pembawaan nuansa yang halus dan santai memang membuat film seri yang satu ini sebagai salah satu film seri teraman untuk ditonton anak kecil. Dibandingkan film-film serupa seperti Shimajiro, jelas terlihat bahwa fokus utama dari Daniel Tiger’s Neighborhood adalah lebih menitikberatkan pada unsur pendidikan. Tapi ini bukan berarti tidak ada unsur hiburannya sama sekali looh. Unsur hiburannya memang terasa sebagai pelengkap, tapi tetap mengena dan mampu membuat film seri ini nyaman untuk ditonton anak-anak bersama orang dewasa yang menemaninya :).

Saya rasa Daniel Tiger’s Neighborhood layak untuk memperoleh nilai 5 dari skala maksimum 5 yag artinya “Bagus Sekali”. Saat ini saya sering menonton Daniel Tiger’s Neighborhood bersama kedua anak saya yang masih balita :). 

Sumber: pbskids.org/daniel/

Serial Blue’s Clues & You!

Blue’s Clues adalah salah satu acara andalan channel TV Nickelodeon. Acara TV ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1996 dan terus menelurkan episode baru sampai tahun 2006. Kemudian pada tahun 2019, Nickelodeon memutarkan kembali reboot dan peremajaan dari Blue’s Clues, yaitu Blue’s Clues & You!

Mirip seperti pendahulunya, Blue’s Clues & You! Memadukan antara tokoh manusia dengan tokoh kartun/animasi. Bahkan Blue sendiri sebenarnya merupakan anjing biru yang muncul dalam wujud animasi. Pada setiap episodenya, Blue meninggalkan petunjuk untuk Joshua Dela Cruz temukan. Dalam perjalannya, Josh harus memecahkan berbagai teka-teki dan tugas yang berhubungan dengan berbagai ilmu pengetahuan. Semua disajikan dengan rapi, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Serial yang satu ini berhasil memberikan unsur kesenangan bagi anak-anak, sambil memberikan berbagai pelajaran. Tata bahasa dan konten yang ramah anak dan tidak memberikan contoh yang buruk, membuat Blue’s Clues & You! semakin pas untuk ditonton oleh anak-anak. Orang dewasa pun tidak akan terlalu bosan melihat serial yang satu ini sebab teman dan jalan cerita tidak terlalu membosankan. Saya rasa Blue’s Clues & You! sudah sepantasnya untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. 

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Puppy Dog Pals

Film seri anak Puppy Dog Pals menampilkan petualangan 2 anak anjing bulldog lucu, yaitu Rolly (Sam Lavagnino) & Bingo (Issac Ryan Brown). Keduanya nampak imut dengan 2 mata besar dan senyuman lebarnya. Penampilan kedua karakter utama ini tentunya mampu memilkat anak-anak untuk langsung datang menonton Puppy Dog Pals.

Petualangan apa yang Rolly dan Bingo lakukan? Mereka bersedia melakukan apapun bagi majikan mereka Bob (Harland Williams). Demi Bob, kedua anjing mungil ini rela berkeliling dunia demi menolong atau menyenangkan hati Bob. Dengan dibantu oleh peralatan canggih dan robot anjing, Bingo & Rolly mampu menyelesaikan berbagai permasalahan. Tidak hanya itu, Rolly & Bingo pun dibantu oleh fakta bahwa mereka tinggal di sebuah dunia yang tidak terlalu memperdulikan passport, visa dan tiket. Sebuah dunia khayalan yang menyenangkan bagi para pecinta jalan-jalan hehehehehe.

Karena hal di ataslah, Puppy Dog Pals memang nampak sangat sederhana sekali. Film seri ini akan sangat memikat bagi anak kecil, tapi akan mulai membosankan bagi anak-anak yang mulai dewasa, termasuk orang tua yang menemani anak-anaknya menonton huhuhuhuhu.

31

Kalau dilihat dari segi pendidikan dan moral pun, Puppy Dog Pals terbilang sangat miskin. Film kartun Disney yang satu ini seolah hanya memberikan hiburan saja. Animasi yang bagus dan lucu nampaknya menjadi modal utama serial ini. Selebihnya ….. yaaa hampir tidak ada. Dengan demikian Puppy Dog Pals memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: disneynow.com/shows/puppy-dog-pals

 

 

 

Princess Mononoke (1997)

Melihat sebuah film kartun yang judulnya menggunakan kata princess, membuat saya berfikir untuk menontonnya bersama anak saya. Olala, hal ini ternyata tidak berlaku bagi Princess Mononoke (1997). Disney memang memiliki hak cipta atas film kartun Jepang yang satu ini. Tapi percayalah, Princess Mononoke (1997) bukanlah film anak-anak.

Mengambil latar belakang Jepang di era Muromachi (sekitar tahun 1336-1573), wilayah Jepang masih dipenuhi oleh hutan-hutan yang lebat. Para roh dan dewa kuno masih hidup di sana. Wilayah hutan semakin menyempit karena keserakahan manusia akan sumber daya. Perlahan, manusia merusak lingkungan sekitar mereka sendiri demi kekuasaan.

Di tengah-tengah hutan belantara yang lebat terdapat sebuah Pabrik Besi yang memproduksi senjata api. Eboshi Gozen (エボシ御前) adalah pemilik dan penguasa pabrik ini. Ia merupakan pemimpin yang tegas dan baik hati. Ia harus memilih kepada siapa senjata api buatannya dijual. Terdapat berbagai pihak yang sedang berperang, menginginkan senjata dari Eboshi. Dari sisi ini, Eboshi terlihat baik sekali. Akantetapi, dibalik itu Eboshi cukup congkak dan serakah karena ia menggunakan senjata api miliknya untuk memburu para roh dan dewa penguada hutan. Pada era Muromachi ini, senjaya api menjadi senjata yang sangat canggih. Senjata api mulai muncul di tengah-tengah para samurai masih tetap setia dengan pedang, panah dan kudanya.

Membunuh roh hutan yang sudah lama dianggpa sebagai dewa kuni, bukanlah hal mudah. Eboshi harus berhadapan dengan seorang gadis yang berkeliaran di hutan bersama kawanan serigala. Gadis tersebut bernama San/サン (Yuriko Ishida) dan dialah yang disebut Putri Mononoke (もののけ姫), putri para monster dan roh kuno. San berjuang sekuat tenaga untuk melindungi hutan dan para roh di dalamnya. Sejak kecil ia diasuh oleh kawanan serigala dan menggangap hutan sebagai rumahnya. Perseteruan San dan Eboshi sungguh sengit dan menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Di tengah-tengah perseturuan di antara kedua wanita kuat tersebut, hadir Ashitaka/アシタカ (Yoji Matsuda). Nahhhh dari sudut pandang Kang Mas Ashitaka inilah film ini disajikan. Ia merupakan calon raja dari suku Emishi. Malang menimpa Ashitaka, ia terluka oleh serangan seekor siluman babi. Tangan Ashitaka terkena sebuah kutukan. Konon lama kelamaan hal tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh Ashitaka sampai akhirnya ia tewas.

Ashitaka memilih untuk pergi jauh berkelana mencari penyembuh. Di perjalanan ia melihat barbagai perbuatan tak terpuji. Dunia saat itu dipenuhi oleh orang jahat dan licik. Tangan Ashitaka yang terkutuk, beberapa kali menunjukkan kekuatannya. Tanpa dapat Ashitaka kendalikan, tangan tersebut mampu melakukan berbagai perbuatan keji bagi lawan-lawan Ashitaka. Jangan kaget kalau teman-teman melihat kepala terpenggal atau badan putus ketika tangan Ashitaka beraksi. Sebenarnya ini bisa jadi merupakan daya tarik film ini. Tapi hal ini pulalah yang menjadi alasan utama kenapa Princess Mononoke (1997) tidak pantas untuk ditonton anak-anak. Beberapa adegan sadis pun terkadang hadir secara tiba-tiba pada film kartun Disney yang satu ini.

Lalu apa hubungan Ashitaka dengan Eboshi dan San? Di sini Ashitaka berperan sebagai penengah. Ia tak ingin kedua wanita tersebut tewas. Ashitaka mengenal keduanya dan tahu betul bahwa keduanya sama-sama bukan orang jahat.

Para penghuni dan pekerja Pabrik Besi pun sangat bergantung pada kepemimpinan Eboshi. Eboshi menampung pengangguran dan PSK ke dalam Pabrik Besi agar mereka dapat berdikari dan menjauhi dunia kriminal. Saya kagum melihay bagaimana Princess Mononoke (1997) menggambarkan kehidupan Pabrik Besi dengan sangat jelas. Alur logika mengenai kehidupan di sana sangat mudah dipahami.

Sementara itu hutan dan penghuninya masih membutuhkan San atau Putri Mononoke sebagai pelindung. Peran San di sini sebenarnya masih di bawah Ashitaka. San memang pemberani dan pantang menyerah tapi yaaa Ashitaka tetap tampil sebagai tokoh utama di sini. Saya pribadi kurang setuju kalau judul filmnya Putri Mononoke, kenapa judulnya tidak Pangeran Ashitaka saja? :P.

Mirip seperti beberapa film Jepang yang saya tonton. Princess Mononoke memiliki soundtrack yang halus alias sunyi senyap. Animasinya terbilang sempurna bagi film kartun yang menggunakan teknik manual. Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan mesin animasi canggih, Princess Mononoke (1997) menggunakan gambar manual menggunakan tangan! Wow. Konon hal ini dilakukan agar hasilnya lebih artistik dan manusiawi. Sayang, saya yang kurang berjiwa seni, tidak terlalu melihat keartistikannya, maaf oh 1000 maaf.

Tema yang diambil pun, entah kenapa, mirip seperti beberapa film Jepang yang dulu saya tonton. Alam melawan manusia. Alam bisa saja marah, dan perdamaian antara manusia dan alam adalah solusi yang tepat. Awalnya saya pikir ahhhh ini sih pasti film Jepang bedarah-darah yang diakhiri oleh kematiab. Aaahhh ternyata saya salah, Princess Mononoke (1997) tetap saja termasuk film Disney jadi yaaa ending-nya Hollywood friendly laaah.

Bagi yang hanya mencari hiburan ringan saja, jauhi Princess Monoke (1997). Film ini memberikan bahan untuk merenung dan pesan moral yang bagus. Saya pribada ikhlas kalau Princess Mononoke (1997) memperoleh nilai 3 yang artinya “Lumayan”. Ingat, ini bukan film untuk anak-anak hehehehehe.

Sumber: http://www.studioghibli.com.au/princessmononoke/