Serial Super Wings

Super Wings merupakan film seri kartun anak produksi Korea, Cina dan Amerika yang anak saya tonton di rumah. Film ini bercerita mengenai Super Wings, sekelompok pesawat yang dapat berubah menjadi robot. Mereka menggunakan kekuatan dan kelebihan masing-masing untuk menolong anak-anak di penjuru dunia.

Pada umumnya, setiap episode Super Wings dimulai dengan pengiriman paket kepada anak-anak oleh Jett (Hudson Loverro), Super Wings berwarna merah yang ramah dan suka menolong. Jett tidak berhenti sampai pengiriman paket saja, ia selalu berhenti dan ikut menolong anak-anak yang ia kunjungi. Sayangnya Jett justru sering terjebak di dalam masalah yang tidak dapat ia selesaikan sendiri.

Nah disinilah Jett biasa memanggil bantuan dari rekan-rekan Super Wings lain sesuai masalah yang dihadapi. Jadi Super Wings yang datang adalah Super Wings yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Jadi setiap episode Super Wings tidaklah terlalu monoton sebab kemungkinan akan hadir robot-robot yang berbeda, paling yaaa hanya Jett saya yang sopasti selalu ada.

Film ini tidak hanya memberikan pesan moral mengenai tolong menolong, tapi di sana terdapat pula edukasi mengenai letak geografis dan budaya berbagai kota dan negara yang Jett kunjungi. Sampai saat ini saya tidak melihat adanya hal-hal yang tidak baik pada film kartun anak ini. Tapi yaaa karena Super Wings memang ditujukan untuk anak PAUD dan TK, yah jadi masalahnya terkadang sangat sederhana.

Tapi walaupun begitu, animasi yang ditampilkan cukup bagus untuk film kartun yang saya tonton di tahun 2019. Saya suka melihat bagaimana Super Wings berubah dari pesawat menjadi robot hehehehe. Karena karakternya robot dan kebanyakan laki-laki, jadi wajar kalau mayoritas penonton serial ini adalah anak laki-laki. Karakter robot berwarna merah jambu hanya ada sesekali saja, sehingga anak perempuan saya paling hanya tahan menonton 3 episoode-nya saja.

Melihat hal-hal di atas, saya rasa serial Super Wings layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Lumayanlaaah, bisa dijadikan selingan sambil menemani si kecil ;).

Sumber: web.littleairplane.com

Iklan

Serial Abby Hatcher

Abby Hatcher merupakan film seri kartun asal Kanada yang mengisahkan keseharian seorang anak yang bernama Abby Hatcher (Macy Drouin). Abby tinggal di hotel milik orang tuanya. Di sana, ia berkenalan dengan mahluk-mahluk imut yang disebut Fuzzly. Setiap Fuzzly memiliki wujud dan kemampuan yang berbeda. Terkadang hal ini membuahkan berbagai masalah. Di sinilah, Abby menggunakan kemampuannya untuk memecahkan berbagai masalah tersebut dengan caranya sendiri.

Abby dilengkapi dengan sepeda roda tiga, kacamata pelacak Fuzzly, sarung tangan lengket, jaket balon, sepatu per, jam serbaguna dan lain-lain. Perlengkapan-perlengkapan, tersebut harus Abby padukan dengan kekuatan unik Fuzzly untuk memecahkan berbagai masalah yang Abby temui di hotel dan sekitarnya. Hotel tempat tinggal Abby bukan hotel biasa, hotel tersebut memiliki lorong-lorong rahasia yang sering Abby lewati. Entah mengapa, melihat Abby menggunakan sepeda roda 3 melewati lorong-lorong hotel yang sepi, terkadang mengingatkan saya pada sebuah adegan ikonik dari The Shining (1980), hehehehehe.

Yaaah karena memang Fuzzly sendiri digambarkan sebagai mahluk imut yang karakter seperti anak-anak, maka masalah beserta pemecahannya terbilang sangat sederhana. Film ini memang lebih cocok untuk ditonton oleh anak kecil. Dunia Abby yang penuh dengan warna-warna cerah, plus nyanyian di mana-mana, memang akan sangat menghibur bagi anak-anak. Animasi dan suara film ini memang terbilang bagus dan berhasil memikat anak saya. Sampai-sampai, Abby Hatcher menjadi tema ulang tahun anak sulung saya :’D.

Walaupun sukses besar kalau dilihat dari segi hiburan, sayang, pesan moral yang ditampilkan agak minim dan itu-itu saja. Isinya tidak jauh dari persahabatan dan pentang menyerah memecahkan segala rintangan. Sampai saat ini saya tidak melihat karakter antagonis pada film seri ini. Semuanya nampak baik, hanya saja terkadang ada keinginan dan kekuatan dari beberapa karakter yang sedikit bersinggungan. Dengan demikian, film seri yang baru mengudara tahun 2019 ini, pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Upin & Ipin

Berawal dari serial singkat di bulan Ramadhan pada 2007 lalu, Ipin & Upin saat ini telah berhasil menjadi film seri animasi dengan musim pemutaran terpanjang di Malaysia. Sampai tahun 2019 ini saja, Ipin & Upin telah melampaui 12 musim pemutaran dan menghadirkan 4 film layar lebar. Latar belakang budaya dan bahasa Malaysia yang mirip dengan Indonesia, membuat Ipin & Upin meraih popularitas pula di Indonesia.

Alkisah hiduplah 2 anak kembar bernama Ipin & Upin (Asyiela Putri) di Kampung Durian Runtuh. Mereka berdua hidup bersama kakak mereka, Ros (Siti Kahirunnisa), dan nenek mereka, Opah (Ainon Ariff). Keduanya masih TK (Taman Kanak-Kanak) dan sehari-hari bermain dengan anak-anak dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda. Di sana ada Ehsan (Muhammad Fareez), Fizi (Rufaidah), Mei Mei (Tang Ying Sowk), Jarjit Singh, Mail (Muhammad Musyrif Azzat) dan Susanti (Andhika Astari). Kawan-kawan Ipin & Upin mewakili suku-suku dan agama yang hadir di Malaysia, agak sedikit berbeda denham Indonesia ya. Karena kepopulerannya di Indonesia, film seri ini menampilkan tokoh Susansi yang dikisahkan sebagai orang Indonesia yang tinggal di Malaysia :).

Pesan moral dari film seri Ipin & Upin terbilang banyak dan baik, mulai dari toleransi, setia kawan, sampai beribadah. Tidak jarang saya melihat tayangan azdan Magrib diisi oleh tokoh Ipin & Upin yang berwudhu dan Sholat di Masjid. Serial inipun mengangkat tema perayaan hari raya agama lain pada beberapa episodenya. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang kurang disetujui oleh beberapa kalangan dan menganggap bahwa toleransi pada Ipin & Upin terlampau berlebihan. Saya rasa, segala hal terkait agama memang termasuk isu sensitif. Jadi, walaupun Ipin & Upin bebas dari adegan kekerasan dan dewasa, orang tua tetap harus mendampingi putra putrinya ketika menonton Ipin & Upin.

Tak heran kalau banyak anak-anak yang senang dengan serial yang satu ini. Jalan ceritanya tidak membosankan dan animasinya lumayan bagus. Ceritanya memang berkutat pada keseharian Ipin, Upin dan kawan-kawan, termasuk ketika mereka berimajinasi. Imajinasi tersebut berhasil ditampilkan dengan baik ;). Jadi ada kalanya mainan yang Ipin, Upin dan kawan-kawan bergerak seperti mobil balam sungguhan atau pesawat perang sungguhan. Pada beberapa kesempatan pun, Ipin, Upin dan kawan-kawan menggunakan kostum detektif, astronot dan lain-lain. Film seri yang satu ini bahkan sempat berkolaborasi dengan Ultraman loh.

Animasi yang bagus disertai dengan cerita dan karakter yang menarik dan mendidik, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Ipin & Upin nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.lescopaque.com

Serial Doc McStuffins

Berhubung film yang akhir-akhir ini saya tonton adalah film anak, jadi hari ini saya akan kembali membahas salah satu film seri anak yang saya dan putri saya tonton. Kali ini, giliran film seri Doc McStuffins, sebuah film seri produksi Walt Disney.

Kalau dililihat dari segi gambar, film seri ini terbilang lumayan baguslahhhh untuk film seri yang mulai muncul sejak tahun 2012. Pada setiap episodenya terdapat nyanyian-nyanyian yang lumayan enak untuk didengar. Nah bagaimana kalau dilihat dari segi cerita? Sesuai judulnya, film seri ini mengisahkan kegiatan sehari-hari seorang anak kulit hitam bernama Dottie McStuffins (Kiara Muhammad). Pada suatu hari, nenek Dottie memberikan Dottie stetoskop dokter yang sekilas seperti mainan anak. Ternyata stetoskop tersebut adalah stetoskop ajaib yang dapat membuat mainan-mainan di sekitar Dottie menjadi hidup. Dengan berkomunikasi dengan mainan-mainan tersebut, Dottie dapat menetapkan sebuah diagnosa ketika ada mainan yang rusak atau sakit. Inilah awal mula Dottie mendapat sebutan Doc.

Pada perkembangan cerita berikutnya, sang nenek kembali mengunjungi Doc dengan membawa jam tangan ajaib. Dengan jam tangan ini, Doc dapat berkelana ke Kota McStuffinsville yang dihuni oleh berbagai mainan. Ini adalah kota tempat para mainan dapat menjadi dirinya sendiri. Di tengah kota tersebut, berdiri Rumah Sakit McStuffinsville tempat dimana berbagai mainan dari penjuru dunia datang untuk berobat. Setiap mainan yang sakit atau rusak, dapat pergi menuju kotak portal untuk masuk ke dalam UGD Rumah Sakit McStuffinsville.

Dimanapun Doc singgah, ia siap menolong mainan yang rusak. Kerusakan-kerusakan yang muncul, terbilang sederhana dan mudah dipahami anak-anak. Para penonton cilik diajarkan agar tidak takut dengan dokter dan rumah sakit. Berbagai pesan moral lain yang dihadirkan pun cukup beragam pada setiap episodenya.

Sayang sekali, ada 1 episode yang kontroversial, yaitu episode “In Case if an Emergency” pada musim ke-4. Pada episode ini, ditampilkan seorang anak yang memilki 2 ibu-ibu sebagai orang tuanya. Sekilas memang nampak tidak ada yang salah, tapi kalau ditelaah lebih dalam lagi, apakah ini berarti ada pasangan lesbian pada film seri anak-anak ini? Saya pribadi tidak memusuhi kaum LGBT, tapi konsep LGBT janganlah diperkenalkan secepat ini kepada anak-anak kecil. Untunglah hal ini terjadi hanya pada 1 episode itu saja sehingga hal ini tidak terlalu terlihat. Andaikata hal ini diulangi terus menerus, sudah pasti saya memilih untuk melarang anak saya untuk menonton Doc McStuffins.

Dengan animasi yang lumayan bagus, nyanyian yang bagus dan pesan moral yang baik (kecuali di 1 episode), saya menilai Doc McStuffins pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Jangan lupa untuk mendampingi anak-anak ketika menonton film seri yang 1 ini, ceritanya lumayan menghibur orang dewasa juga kok.

Sumber: disneynow.go.com/shows/doc-mcstuffins

Serial Blaze and the Monster Machines

Serial animasi anak Blaze and the Monster Machine mengisahkan petualangan Blaze (Nolan North), sebuah monster truck yang dapat berbicara. Apa itu monster truck? Sebuah truk 4WD dengan suspensi berkualitas tinggi dan ban raksasa seperti dapat dilihat pada pertunjukan Monster Jam di Amerika sana.

Blaze biasa mengikuti perlombaan dengan monster truck lainnya seperti Stripes (Sunil Malhotra), Darington (Alexander Polinsky), Starla (Kate Higgins), Zeg (James Patrick Stuart) dan Watts (Melanie Monichino). Tak ketinggalan Crusher (Kevin Michael Richardson), si biang rusuh, selalu mengikuti perlobaan bersama Blaze, dan selalu berbuat onar. Crusher sering sekali menjadi tokoh antagonis pada film seri ini. Di luar arena balap pun, Crusher sering berbuat onar dan menghambat perjalan Blaze dan kawan-kawan. Pada setiap episodenya, Blaze diharuskan bepergian menuju ke suatu tempat, tapi perjalanannya dihambat oleh Crusher atau karakter antagonis lain.

Pada mayoritas episode film seri ini, Crusher selalu menjadi antagonis yang mengeluarkan berbagai benda untuk menghambat Blaze. Blaze pun mengeluarkan berbagai benda atau melakukan modifikasi atau melakukan aksi demi menghadapi hambatan yang muncul. Pemecahan masalah yang Blaze lakukan, disajikan secara interaktif dengan penonton. Semuanya mengandung sains, teknologi dan matematika. Saya sendiri sering membimbing anak saya untuk mengikuti kontem edukasi yang dihadirkan. Konten pendidikan pada Blaze and the Monster Machine, sepertinya ditujukan untuk anak-anak berumur 3 sampai 6 tahun.

Sayang kalau dilihat dari segi cerita, latar belakag film seri ini agak absurd. Jadi Blaze itu hidup disebuah dunia, dimana bumi dihuni oleh monster truck dan semua mahluk hidup lainnya termasuk binatang, selalu menggunakan roda, bukan kaki. Loh bagaimana dengan manusianya? Penampakan kota dimana Blaze tinggal, seolah seperti kota dimana manusia tinggal, hanya saja …. hampir tak ada manusia yang terlihat. Sepengetahuan saya, hanya ada 2 manusia pada serial ini, yaitu AJ (Dusan Brown) dan Gabby (Angelina Wahler). Gabby adalah montir para monster truck, sedangkan AJ adalah pengemudi Blaze. Loh, kalau begitu bagaimana dengan monster truck lainnya? Mereka semua dapat berjalan sendiri tanpa manusia sebagai pengemudinya. Loh kalau begitu kenapa Blaze dikemudikan oleh AJ???

Banyak hal lain pada film ini yang dapat diperdebatkan kalau dilihat oleh orang dewasa. Tapi hal tersebut nampaknya tidak berarti apa-apa dihadapan anak kecil :D. Olehkarena itulah saya masih dapat memberikan Blaze and the Monster Machine nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Blaze and the Monster Machine bukan hanya berisi hiburan saja, tapi ada unsur edukasi di dalamnya.

Sumber: http://www.nickjr.tv/blaze-and-the-monster-machines

Serial Larva

Kali ini saya akan membahas salah satu film seri animasi asal Korea Selatan yang saat ini sedang banyak diputar di TV lokal kita yaitu Larva. Tokoh utama film ini ada 2 ekor ulat mungil yang pada awalnya hidup di tengah kota New York. Kesuksesan serial ini menarik perhatian Netflix sehingga mereka mereka “mengambil” Larva dan mengubah latar belakang serial ini menjadi sebuah pulau.

Keunikan dari serial ini tentunya adalah bagaimana kedua tokoh utama berinteraksi di tengah-tengah lingkungan yang seolah-olah besar, padahal aslinya kecil. Red dan Yellow adalah 2 ulat yang menjadi tokoh utama pada serial ini. Red yang berbadan mungil, bersifat pemarah dan serakah. Sedangkan Yellow adalah ulat yang selalu bahagia dan cuek, tapi agak jorok. Nah kejorokan Yellow-lah yang sering membuat saya tertawa. Yellow sering munggunakan kentut dan ingus untuk hal yang aneh-aneh :’D. Selain itu, Larva sering kali mengambil latar belakang yang memang kotor sifatnya, seperti tong sampah, kotak bekas makanan dan lain-lain. Hal inilah yang membuat Larva, relatif kurang cocok ditonton sendirian oleh anak kecil. Sebaiknya ada orang dewasa yang mendampingi dan memberi bimbingan.

Humor gelap dan slapstick pada serial ini tentunya tidak baik apabila mentah-mentah ditiru oleh anak-anak. Tapi sejujurnya, humor gelap dan slapstick yang dihadirkan Larva sukses menghibur saya. Biasanya saya kurang suka dengan slapstick, tapi slapstick yang ditampilkan Larva, memang terbilang lucu. Larva sukses besar kalau dilihat dari sisi hiburan. Tapi pesan moral yang ditampilkan yaaaa memang relatif minim.

Walaupun menghadirkan beberapa adegan yang kurang pas untuk ditonton anak kecil sendirian, Larva masih layak untuk ditonton anak-anak kok. Tidak ada adegan sadis atau porno di sana. Slapstick yang dihadirkan jauh dari kata parah kalau dibandingkan denga Tom & Jerry atau Oggy and the Cockroaches. Film kartun yang satu ini memiliki rentang umur pemirsa yang cukup lebar. Tua dan muda pasti tertarik dan tidak kebosanan ketika menonton Larva. Saya rasa Larva pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.larva.re.kr

Serial Sofia the First

Seperti pernah saya bahas pada Frozen (2013), Walt Disney sudah memiliki banyak film putri-putrian. Nah untuk pertama kalinya, Disney memiliki putri yang masih kecil sekali. Sofia (Ariel Winter) pada film seri anak Sofia the First merupakan putri termuda yang dimiliki Disney. Ia dikisahkan sebagai anak biasa yang tiba-tiba menjadi anggota keluarga kerajaan Enchancia setelah ibunya, Miranda (Sara Ramirez) menikahi Raja Rolland II (Travis Willingham). Tidak hanya memiliki ayah tiri baru, kini Sofia memiliki 2 kakak tiri baru yaitu si kembar, Pangeran James (Zach Callison) dan Putri Amber (Darcy Rose Byrnes). Pada awal-awal episodenya, Putri Amber sepertinya akan menjadi tokoh antagonis. Tapi lama kelamaan, Putri Amber mau menerima Sofia sebagai sudaranya. Disney nampaknya ingin mengajarkan bahwa saudara tiri atau orang tua tiri itu, belum tentu jahat loh.

Saya masih ingat film-film Indonesia era 80-an yang selalu menokohkan saudara tiri dan orang tua tiri sebagai pribadi yang jahat. Ini adalah anggapan salah yang sudah seharusnya dihapuskan. Menanamkan nilai ini sejak kecil, adalah hal yang baik bagi anak-anak.

Selain itu, Sofia the First pun mengajarkan bahwa persahabatan dan kebaikan akan menang melawan kejahatan dan rintangan apapun heheheh, sesuatu yang kelise sih. Sofia memang selalu berhasil menyelesaikan segala masalah yang ada dengan kebaikan, kedewasaan dan kegigihannya. Selain Putri Amber, ada beberapa karakter lain yang pada awalnya berniat jahat kepada Sofia, lalu kemudian luluh dan menjadi teman Sofia. Padahal Sofia tidak memiliki kekuatan apa-apa loh, ia hanya berbekal kalung ajaib yang dapat membuatnya berkomunikasi dengan binatang.

Putri-putri Disney yang lain, terkadang mengunjungi Sofia untuk memberikan bimbingan. Cinderella, Yasmin, Mulan, Belle, Ariel, Aurora, Putri Salju, Rapunzel dan Tiana, pernah hadir mengunjungi Sofia. Permasalahan yang Sofia hadapi memang terkadang agak pelik dan hampir tidak mungkin diselesaikan oleh anak sekecil Sofia. Tapi yaaaah, semua dapat selesai dan selalu ada akhir bahagia di sana. Semua serba mudah ditebak sehingga cerita pada serial ini agak membosankan bagi penonton dewasa.

Tapi penonton cilik sepertinya akan senang melihat Sofia the First yang menggunakan kerajaan Eropa sebagai latar belakangnya. Tentunya ada tambahan unsur sihir, kuda terbang dan hal-hal ajaib di mana-mana. Semua disajikan dengan animasi yang cantik dan nyanyian yang penuh kegembiraan.

Menelaah semua hal di atas, saya rasa Sofia the First masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Not bad laaaah.

Sumber: disneynow.go.com/shows/sofia-the-first