Menjual Isuzu Panther LS Turbo Diesel 2009

Langsung saja, tanpa basa-basi, dijual, Isuzu Panther LS 2.5L warna coklat muda metalik keluaran tahun 2009.

  • Tangan pertama, dipakai sendiri.
  • Masih standard, tidak pernah dimodifikasi.
  • AC Double Blower masih dingin bin adem.
  • Radio FM/AM, CD Player lengkap.
  • Transmisi manual.
  • Mesin diesel sehingga biaya bensinnya bisa lebih hemat.
  • Body bagus, tidak keropos.
  • Kondisi prima, siap digunakan sehari-hari.
  • Service berkala di bengkel Izusu resmi tidak pernah telat.
  • Surat-surat lengkap dan siap balik nama ke owner baru, tidak bermasalah.
  • Plat B dan lokasi ada di Jakarta.

Mobil Panther ini masih bertenaga dan biasa keluarga saya pakai kalau keluar kota. Kapasitas yang besar dan bensin yang murah karena bisa diisi Solar, merupakan fitur yang paling saya suka dari mobil ini. Kami berniat untuk menjual mobil ini dengan harga Rp. 140.000.000, nego. Silahkan hubungi Pras di 081806011554 bila berminat. Nuhun ;).

Iklan

Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dibuat berdasarkan novel tahun 1981 karya Chris Van Allsburg dengan judul yang sama, Jumanji (1995) berhasil menembus tangga box office dan meraih keuntungan. Film tersebut mengisahkan bagaimana kakak-adik Judith “Judy” Shepherd (Kirsten Dunst) dan Peter Shepherd (Bradley Pierce) bermain Jumanji. Jumanji adalah semacam papan permainan dengan menggunakan dadu yang biasa dimainkan oleh anak-anak zaman dahulu. Tapi Jumanji ternyata bukanlah papan permainan biasa karena setiap mereka melempar dadu, terjadi tantangan dan kekacauan di mana-mana. Mereka pun akhirnya bertemu dengan Alan Parish (Robin Williams) yang sudah terjebak di dalam permainan Jumanji sejak puluhan tahun lalu. Judy, Peter dan Alan harus menyelesaikan permainan Jumanji yang mereka mulai bila mereka ingin kehidupan mereka kembali normal. Terus terang Jumanji (1995) memang menjanjikan plot yang menarik dan menggunakan special effect yang bagus untuk film tahun 90-an, tapi cerita yang kurang kuat landasannya, membuat saya pribadi tidak terlalu senang dengan film tersebut.

Entah bagaimana, 10 tahun kemudian hadir Zathura (2005) dengan plot cerita yang mirip. Hanya saja Zathura (2005) menggunakan luar angkasa sebagai latar belakangnya. Zathura sendiri merupaka nama papan permainan yang dimainkan oleh kakak-adik Walter Browning (Josh Hutcherson) dan Danny Browning (Jonah Bobo). Sangat mirip dengan Jumanji (1995), kedua bersaudara tersebut bertemu dengan, Sang Astronot (Dax Shepard), seseorang yang entah bagimana sudah lama sekali terperangkap di dalam Zathura. Sang Astronot merupakan tokoh misterius yang mampu memberikan sedikit kejutan bagi Zathura (2005). Tapi yaaa mirip seperti Jumanji (1995), ceritanya kurang kuat dan alur sebab-akibat-nya tidak jelas. Ahhhh, bukan film favorit saya.

Lalu apa hubungan antara Jumanji (1995) dengan Zathura (2005)? Kenapa keduanya relatif mirip ya? Zathura (2005) bukan sekuel Jumanji (1995) tapi Zathura (2005) ternyata merupakan adaptasi dari novel lain karya Chris Van Allsburg, pengarang novel Jumanji. lebih dari 10 tahun kemudian, barulah muncul sekuel dari Jumanji (1995), yaitu Jumanji: Welcome to the Jungle (2017).

Pada abad 21 dimana semua semakin modern, papan permainan semakin menurun popularitasnya. Kalau ada anak-anak melihat papan permainan kayu dan video game, sudah hampir dipastikan mereka akan lebih memilih video games. Papan permainan ajaib Jumanji ternyata memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan mengubah bentuknya menjadi console video game :’D.

Pemain Jumanji versi console kali ini adalah 4 murid Brantford High School yaitu Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony “Fridge” Johnson (Ser’Darius Blain) dan Martha Kaply (Morgan Turner). Bethany dan Fridge termasuk murid populer yang terpandang di sekolah. Sedangkan Spencer dan Martha adalah kutu buku yang diam-diam saling menyukai. Baik Martha maupun Spencer, sama-sama termasuk tipe siswa cerdas yang kemampuan fisiknya kurang baik. Martha sampai dihukum karena menolak mengikuti pelajaran olahraga dan secara tidak sengaja mendiskreditkan guru olahraganya. Spencer yang berbadan kecil dan agak penakut, terkena hukuman dari sekolah karena ia mengerjakan PR Fridge demi mendapatkan pengakuan. Spencer berharap bahwa ia akan menjadi teman Fridge bila Spencer menolong Fridge di bidang akademis. Kenapa Fridge? Fridge sendiri merupakan pemuda berbadan tegap yang terkenal akan kepiawaiannya bermain American Football di sekolah. Kepopuleran di sekolah bukan hanya milik Fridge, Bethany pun termasuk siswi yang populer karena kecantikannya. Sayang Bethany terkena kecanduan gadget. Berthany yang sangat narsis tidak dapat hidup tanpa social media. Social media pulalah yang membuat Bethany terkena hukuman di hari yang sama dengan Martha, Spencer dan Fridge.

Keempat murid Brantford High School tersebut dihukum harus membereskan sebuah ruangan yang sangat berantakan. Di sanalah mereka menemukan console video game Jumanji dan memutuskan untuk memainkannya. Berbeda dengan papan permainan Jumanji pada Jumanji (1995) yang menggunakan dadu dan mirip ular tangga, permainan Jumanji kali ini lebih mirip RPG (Role-Playing Games). Para pemain diharuskan memilih avatar atau karakter permainan dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Keempatnya kemudian diterjunkan ke dalam hutan Jumanji untuk menyelesaikan sebuah misi agar dapat pulang ke dunia nyata. Misi para pemain kali ini adalah mengembalikan artefak Mata Jaguar yang sempat dicuri Russel Van Pelt (Bobby Cannavale). Mereka harus membawa Mata Jaguar kembali ke Bukit Jaguar demi mengangkat kutukan yang menimpa dunia Jumanji. Perjalanan keempat pemain tersebut tidaklah mudah karena dipenuhi oleh berbagai rintangan dan masing-masing karakter hanya memiliki 3 nyawa. Mereka harus menyisihkan perbedaan yang ada demi dapat menyelesaikan misi dan kembali pulang ke dunia nyata. Semuanya memiliki kemampuan dan kelemahan yang saling melengkapi.

Uniknya, keempat pemain Jumanji justru memperoleh karakter permainan yang bertolak belakang dengan kondisi mereka di dunia nyata. Spencer memilih karakter Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Martha memilih karakter Ruby Roundhouse (Karen Gillan), Fridge memilih karakter Franklin “Mouse” Finbar (Kevin Hart) dan Bethany memilih Sheldon “Shelly” Oberon (Jack Black). Bravestone dan Ruby memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Sedangkan Fridge justru memperoleh karakter yang lemah secara fisik, tapi memiliki pengetahuan yang sangat luas terkait hewan-hewan penghuni hutan. Terakhir, Bethany memperoleh karakter seorang lelaki paruh baya yang gendut dan kurang menarik secara fisik, namun memiliki kemampuan membaca peta Jumanji yang tidak dapat dilakukan oleh karakter-karakter lainnya.

Jelas sudah, keempatnya saling membutuhkan satu sama lain untuk menuntaskan permainan Jumanji. Tanpa dukungan pemain lain, mustahil permainan ini dapat diselesaikan. Hal ini terlihat jelas ketika keempatnya bertemu Alex Vreeke (Mason Guccione) yang menggunakan karakter Jefferson “Seaplane” McDonough (Nick Jonas). Alex memang menggunakan satu-satunya karakter yang dapat menerbangkan pesawat terbang, tapi tanpa bantuan karakter-karakter lain, Alex terjebak tidak dapat menuntaskan sebuah rintangan selama lebih dari 20 tahun. Alur cerita dimana pemain-pemain baru bertemu dengan seorang pemain lama yang sudah lama sekali terjebak, sangat mirip sekali dengan apa yang saya tonton di Jumanji (1995) dan Zathura (2005), sekuel sih sekuel tapi kan tidak harus semirip ini juga seharusnya :’/. Tokoh Alex pada film sekuel ini ibaratnya adalah tokoh Alan Parish pada Jumanji (1995) dan tokoh Sang Astronot pada Zathura (2005). Tapi Alan dan Sang Astronot sama-sama menjadi tokoh yang relatif dominan, sedangkan Alex tidak. Alex menjadi tokoh yang setara dengan keempat rekan-rekan barunya. Di sana Alex membantu Bethany untuk belajar agar lebih tidak egois, tidak narsis dan mau peduli terhadap sesama. Bethany membantu Martha untuk lebih percaya diri. Kepercayaan diri jugalah yang Spencer dan Fridge sama-sama saling ajarkan satu sama lain ketika keduanya memiliki tubuh yang jauh berbeda dari yang mereka miliki di dunia nyata. Kelucuan demi kelucuan terjadi akibat perbedaan ini, saya sendiri sempat tertawa melihatnya :D.

Tidak hanya komedi, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) berhasil menunjukkan nilai baik dari dua sisi yaitu sisi si kutu buku dan sisi si anak populer. Ternyata tidak ada yg 100% baik dan 100% buruk pada keduanya, bahkan mereka dapat saling melengkapi dan bersahabat satu sama lain.

Selain itu, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) memiliki akar cerita yang kuat dan jelas. Ini kenapa dan itu bagaimana, dapat dijelaskan dengan baik dan rapi. Ditambah aroma permainan genre RPG yang kental, film ini tentunya akan memperoleh nilai plus tambahan di mata para pecinta permainan-permainan bergenre RPG :).

Bagi saya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) lebih berkualitas ketimbang Jumanji (1995) dan Zathura (2005). Jumanji: Welcome to the Jungle (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Jarang-jarang nih, sekuel lebih bagus daripada film pertamanya.

Sumber: jumanjimovie.com

Menjual Unit Tipe Studio Hadap Danau di Apartemen Tifolia

Tifolia

Kebetulan rumah sepupu-sepupu saya dan rumah almarhum nenek saya dulu terletak di sekitar Rawamangun. Salah satu hiburan kami pada waktu itu adalah berjalan-jalan ke mall terdekat yaitu Mall Kelapa Gading. Setiap saya tiba di perempatan antara Jl. Perintis Kemerdekaan dan Jl. Kayu Putih Raya, tepat di muka gerbang Kelapa Gading, saya melihat Rumah Susun Pulomas bermotif batu bata merah yang ramai sekali. Statusnya memang rumah susun tapi setiap rumah ada AC dan parkir mobilnya ramai. Pada waktu itu AC adalah hal yang eksklusif bagi saya dan belum ada yang namanya apartemen di Jakarta. Yang tinggal di rumah susun tersebut pastilah bukan orang tak mampu pikir saya. Lama kelamaan zaman berganti dan rumah susun tersebut pun dirubuhkan.

Naaah, beberapa tahun yang lalu, saya dan famili saya mendapatkan penawaran untuk membeli unit Apartemen Tifolia yang akan dibangun tepat di bekas lokasi Rumah Susun Pulomas. Karena menurut saya dan famili saya lokasi tersebut cukup strategis dan kebetulan famili saya tersebut sedang memiliki dana yang menganggur, maka beliau memutuskan untuk membeli 1 unit studio di Apartemen Tifolia.

Saat ini pembayaran untuk unit studio Apartemen Tifolia tersebut sudah lunas. Unit yang famili saya miliki pun sudah jadi dan sudah serah terima pada pertengahan tahun 2014 lalu. Berhubung ada beberapa kebutuhan dan alasan lain, akhirnya sekarang famili saya memutuskan untuk menjual unit tersebut. Berikut spesifikasi dari unit apartemen yang beliau jual beserta lingkungannya:

  • Lokasi: Apartemen Tifolia, area Pulomas Park Center, Jl. Perintis Kemerdekaan, perempatan pintu gerbang Kelapa Gading.
  • Tipe: Studio A2.
  • Luas: 21m2.
  • Lantai: Lantai 31 dari 39 lantai.
  • Sertifikat: Sertifikat Hak Milik Strata Title (Sertifikat setara SHM).
  • Kondisi: Masih baru dan tanpa furniture.
  • Hadap: Selatan (view Danau di tengah Pacuan Kuda Pulomas).
  • Kolam Renang: Ada 1 di Ground Floor.
  • Rasio Parkir: 1:1.
  • Air Minum : PAM.
  • Listrik : 1300 KV
  • Genset Darurat: Tersedia.
  • Maintenance : Rp. 310,000/bulan.
  • Unit per Lantai : 42.
  • Jumlah Lift : 6.
  • Tangga Darurat : 2.

Tifolia 8

Tifolia 2

Tifolia 1

Walaupun saya belum pernah merasakan tinggal di unit tersebut, saya memiliki beberapa pengalaman terkait apartemen. Kebetulan saat ini saya dan istri saya tinggal di apartemen lain. Selain itu saya juga memiliki teman yang tinggal di apartemen lain dan pernah survey keluar masuk apartemen lain juga. Kurang lebih ada beberapa kelebihan dari unit yang famili saya jual berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya pribadi yaitu:

Lokasi Strategis
Lokasi adalah unsur yang paling penting ketika kita memilih tempat tinggal. Tapi strategis atau tidaknya suatu apartemen tentunya berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi saya pribadi, Apartemen Tifolia memiliki lokasi yang strategis karena tidak terlalu jauh dari rumah famili saya dan sangat dekat dengan kawasan Kelapa Gading. Bagi saya yang hobi makan dan menonton bioskop, lokasi yang dekat dengan Kelapa Gading merupakan sebuah nilai plus. Kelapa Gading merupakan wilayah yang dipenuhi oleh kuliner-kuliner yang ok serta memiliki pilihan bioskop yang lebih dari 1.

Tifolia 16

Total, dari Apartemen Tifolia kita dapat dengan mudah menjangkau Mall Kelapa Gading, La Piaza, ITC Cempaka Mas, Rumah Sakit Gading Pluit, RS Mitra Keluarga, Sekolah BPK Penabur, Sekolah Al Azhar & kawasan kuliner Kelapa Gading tentunya.

Aksesbilitas Bagus Sekali
Banyak apartemen yang terletak di pinggir jalan raya namun yang dekat itu pagarnya saja atau lobi dari apartemen tersebut? :P. Ada loooh apartemen yang jarak dari lift tempat pemilik unit tiba di lantai dasar sampai ke jalan raya, sangat jauh. Kalau tidak punya kendaraan, mungkin terpaksa naik ojeg :P. Syukurlah jarak dari lift Apartemen Tifolia sampai ke halte busway yang terletak di Jl. Perintis kemerdekaan tidaklah jauh, dekat ; ). Berhubung di timur dari Jl. Perintis Kemerdekaan terdapat Terminal Pulo Gadung, maka sudah pasti banyak angkutan umum berbagai jurusan yang melewati Apartemen Tifolia, bukan hanya Busway. Sementara itu di barat dari Jl. Perintis Kemerdekaan terdapat Tol Dalam Kota yang sering sekali saya lewati ketika saya pergi dengan kendaraan pribadi. Baik Tol Dalam Kota maupun Terminal Pulo Gadung dapat ditempuh dengan mudah sekali, tinggal luruuuuuus mengikuti jalan di depan Apartemen Tufolia, tinggak pilih saja mau ke kanan (arah timur) atau ke kiri (arah barat) ; ).

Fasilitas Umum Lengkap & Bagus
Apartemen Tifolia dilengkapi oleh sarana keamanan dan perlindungan terhadap kebakaran. Saya lihat terdapat kamera pengaman di beberapa lorong dan di setiap lift. Semua kamera tersebut termasuk ke dalam layanan keamanan 24 jam yang tersedia di Apartemen Tifolia. Sarana pengamanan dari kebakaran pun lengkap tersedia. Semuanya menggunakan merk yang dari vendor yang cukup ternama sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.

Tifolia 14

Tifolia 3

Tifolia 13

Tifolia 6

Tifolia 5

Tifolia 4

Selain itu saya juga dapat menemukan rumah genset yang dapat memberikan listrik bagi penghuni unit meskipun listrik PLN mati.

Tifolia 15

Seperti apartemen-apartemen lain pada umumnya, terdapat kolam renang yang dapat langsung saya lihat bila saya melihat ke bawah dari balkon unit yang dimiliki famili saya.

Tifolia 9

Selain fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan di atas, akan dibangun pula Children Playground, Jogging Track, aneka toko & Access Card. Entah kapan dan dimana dibangunnya tapi itu sudah masuk ke dalam rencana pihak pengembang. Percaya atau tidak, tidak semua apartemen memiliki semua fasilitas seperti di atas lhooo, baik yang saya lihat sudah terbangun maupun yang belum terbangun. Jangan samakan Apartemen Tifolia dengan apartemen subsidi atau rusunami yang sempat menjamur setelah rusunami kalibata sukses dihuni dan diminati oleh banyak orang :’D.

Pemandangan
Keunggulan utama dari unit yang famili saya miliki adalah faktor pemandangan. Dari dalam unit tersebut, saya dapat melihat danau di tengah Pacuan Kuda Pulomas yang ternyata nampak kereeen bila dilihat dari atas, saya baru tahu ;).

Tifolia 7

Tifolia 10

Pandangan yang dapat dinikmati bila saya menoleh ke kiri dan ke kanan dari balkon pun bagus sekali. Pemandangannya lepas tidak tertutup oleh bangunan lain, mantabbbb :).

Tifolia 11

Tifolia 12

Tak ada gading yang tak retak, pasti ada sisi negatif dari semua yang ada, kekurangan dari unit yang saat ini famili saya jual adalah kurang luas bagi keluarga besar. Bagi saya yang sudah berkeluarga, apartemen dengan luas 21 m2 terlalu sempit bagi kami semua. Saya pasti lebih memilih unit apartemen dengan 2 kamar seperti unit apartemen yang saya tempati saat ini.

Sayang sebenarnya mau menjual unit ini karena walaupun tidak tempati, unit tersebut dapat disewakan, lumayan dapat pemasukan tambahan :). Unit studio yang kecil biasanya lebih laku disewakan dibandingkan unit lain yang luasnya lebih besar. Di samping Apartemen Tifolia memang sedang dibangun Apartemen Calia tapi unit-unit yang dijual pada apartemen tersebut memiliki ukuran yang lebih besar, tidak ada unit dengan ukuran studio 21m2 tersedia di sana. Yaaa semuanya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan ketika membeli unit apartemen, butuhnya yang besar atau yang kecil luasnya, nantinya untuk disewakan atau ditempati sendiri, hidup adalah pilihan hehehe.

Apabila ada rekan-rekan yang berminat untuk membeli/menyewa unit apartemen milik famili saya tersebut dapat menghubungi langsung famili saya yang merupakan pemilik langsung dari unit tersebut, Pak Pras, di nomor telefon 081806011554, bisa lihat unit langsung di lokasi sesuai perjanjian. Ooooh iya, beliau buka harga Rp. 330.000.000 bersih :). Silahkan sebarkan tulisan ini bagi rekan-rekan lain yang mungkin berminat, siapa tahu jodoh. Jarang-jarang nih menulis blog yang buntutnya jualan heheheheehe ;).

Sumber: www.duta.com/eng/ppulomas.html

Menjual Rumah Lawas Pulo Asem Utara

Pulo Asem 1

Sepeninggal eyang saya, keluarga besar saya memutuskan untuk menjual rumah lawas penuh kenangan yang terletak di Jl. Pulo Asem Utara No. 64, Rawamangun, Jakarta Timur. Langsung saja berikut spesifikasinya:

Status: SHM (Sertifikat Hak Milik), surat beres dan lengkap, tidak ada sengketa.
Luas tanah: 400 m2.
Luas bangunan: 200 m2.
Kamar mandi: 3.
Kamar tidur: 6.
Dapur: 2.
Fasilitas & Kunggulan: Carport muat sekitar 4 mobil, ada PAM, jalan depan rumah lebar sekali, angkutan umum melintas di jalanan depan rumah & lokasi sangat strategis.
Hadap: Utara.

Berikut foto-foto yang kurang lebih menggambarkan rumah lawas tersebut.

Pulo Asem 13Pulo Asem 10

Pulo Asem 9

Pulo Asem 7

Pulo Asem 8

Pulo Asem 11

Pulo Asem 4

Pulo Asem 2

Pulo Asem 5

Pulo Asem 6

Pulo Asem 12

Untuk rumah lawas ini kami buka harga Rp. 7.000.000.000, nego. Peminat serius dapat langsung SMS Ibu Ana di 089699131474 (SMS only, tidak terima call).

Dunkirk (2017)

Dunkirk

Sudah banyak film yang mengangkat tema Perang Dunia II. Terus terang saya agak bosan dengan tema yang satu itu. Oleh karena itu, saya agak telat menontom Dunkirk (2017) sebab film ini tidak masuk ke dalam daftar film yang hendak saya tonton. Mendengar banyaknya pujian bagi Dunkirk (2017), akhirnya saya memilih untuk menonton Dunkirk (2017) di tengah-tengah sebuah perjalanan panjang. Ahhhh, daripada melamun, toh saat itu saya tidak dapat tidur x__x.

Siapa atau apa itu Dunkirk? Awalnya saya kira itu nama tokoh utamanya hehehehe. Ternyata Dunkirk merupakan bagian dari wilayah Perancis yang dilanda peperangan pada tahun 1940. Pada tahun 1940, pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan Inggris dan Perancis, terpukul mundur oleh pasukan Jerman. Pasukan sekutu terus mundur ketika berusaha mempertahankan wilayah Perancis agar tidak dikuasai Jerman. Di daerah Dunkirk-lah banyak pasukan sekutu yang terjebak di sekitar pesisir pantainya. Mereka harus bertahan menghadapi gempuran angkatan darat dan udara Jerman yang terus menghalangi mereka untuk menaiki kapal ke wilayah yang masih dikuasai sekutu. Misi evakuasi pasukan sekutu dari Dunkirk-lah yang menjadi tema utama Dunkirk (2017). Uniknya, evakuasi ini dikisahkan dari 3 sudut pandang, yaitu darat, laut dan udara.

Di darat, Tommy (Fionn Whitehead), seorang serdadu Inggris yang kehilangan semua rekan satu timnya, berusaha untuk menaiki kapal dan pulang ke Inggris. Masalahnya, antrian untuk meniki kapal penjemput sangat panjang. Jumlah prajurit sekutu yang hendak dievakuasi, jauh lebih banyak ketimbang jumlah kapal penjemput. Belum lagi terdapat pesawat tempur Jerman yang terkadang datang dan menyerang dari udara. Tommy dan prajurit sekutu lainnya membutuhkan bantuan dari pihak lain, mereka tidak akan selamat kalau hanya mengandalkan kapal penjemput yang ada saja.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Bantuan bagi Tommy datang dari laut. Pihak Inggris meminta bantuan nelayan-nelayan untuk membantu menjemput para prajurit sekutu yang terjebak di Dunkirk. Diantara para nelayan pemberani tersebut, Dawson (Mark Raylance), Peter (Tom Glynn-Carney) dan George (Barry Keoghan). Ketiganya menaiki kapal mereka, Moostone, dari Weymouth menuju Dunkirk untuk mengevakuasi para prajurit sekutu. Dalam perjalanannya, mereka menyelamatkan seorang prajurit sekutu yang mengalami shock dan trauma. Konflik di laut terjadi ketika si prajurit panik ketika mengetahui bahwa kapal yang ia naiki bukan mengarah pulang, melainkan ke arah sebaliknya. Masalah bertambah ketika kapal nelayan mereka mendekati wilayah pantai Dunkirk. Di sana mereka harus menyelamatkan pasukan-pasukan sekutu yang berenang sambil ditembaki oleh pesawat Jerman dari udara. Beruntung, di udara ada pesawat tempur Inggris yang berusaha memuluskan proses evakuasi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Di udara terdapat 3 pesawat tempur Inggris yang berusaha menembak jatuh pesawat Jerman yang terus menerus menembaki prajurit sekutu di Dunkirk. Sayang hanya pesawat tempur yang dikemudikan Farrier (Tom Hardy) saja yang dapat terus melanjutkan misi.

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Dunkirk

Tommy yang berusaha pulang, nelayan kapal Moonstone yang berusaha menjemput, dan pesawat tempur Farrier yang berusaha memberikan dukungan dari udara, pada akhirnya saling berpapasan pada adegan klimaks Dunkirk (2017). Hebatnya, aroma tegang dan teror dapat dimunculkan tanpa karakter antagonis utama. Saya hanya melihat beberapa serdadu Jerman dan pilot Jerman yang tidak nampak terlalu dominan pada Dunkirk (2017). Adegan peperangan pada film ini pun terbilang seru dan lengkap. Ada peperangan di darat, laut dan udara. Konflik-konflik yang adapun dapat disuguhkan dengan apik. Saya sangat setuju kalau Dunkirk (2017) layak untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Satu karya spektakuler lagi dari Om Christopher Nolan sebagai sang sutradara. Ia berhasil meramu sebuah peritiwa yang benar-benar pernah terjadi, menjadi suguhan yang menarik untuk ditonton.

Sumber: http://www.dunkirkmovie.com

The Maltese Falcon (1941)

The Mantese Falcon

The Maltese Falcon (1941) merupakan film hitam putih yang disebut-sebut sebagai film detektif terbaik sepanjang masa. Saya sendiri sudah mendengar tentang film ini tapi baru sempat menontonnya beberapa minggu yang lalu, ketika anak istri sedang mudik. Mantese Falcon, yang menjadi judul film ini, adalah sebuah patung burung terbuat dari emas yang menjadi rebutan banyak orang. Intrik-intrik dalam perebutan patung inilah yang menjadi daya tarik The Maltese Falcon (1941).

Film ini diawali ketika seorang detektif swasta, Sam Spade (Humphrey Bogart), menyelidiki kematian rekannya yang sedang menyelidiki sebuah kasus atas permintaan Ruth Wonderly (Mary Astor). Semakin dalam Sam menyelidiki, semakin dalam pula keterlibatan Sam di dalam perebutan Mantese Falcon. Dalam perebutan Mantese Falcon, Sam terpaksa harus berhadapan dengan Joel Cairo (Peter Lorre), Kasper Gutman (Sydney Greenstreet) dan Wilmer Cook (Elisha Cook Jr.). Selain itu pihak kepolisian terus mencurigai Sam atas terbunuhnya rekan Sam. Ada indikasi Sam membunuh rekannya agar Sam dapat menikahi istri rekan Sam sendiri.

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

Di sini terlihat bahwa Sam bukanlah orang suci, tapi Sam tetap merupakan detektif handal yang cerdik. Karakter Sam yang keras dan dingin, diperankan dengan sangat baik oleh Opa Bogart. Pada film ini ia memang menjadi pusat perhatian dan nampak menonjol.

The Mantese Falcon

Pada dasarnya The Maltese Falcon (1941) sangat minim latar belakang tempat kejadian dan relatif hanya didominasi oleh dialog-dialog antara Sam, Ruth, Joel, Kasper dan Wilmer. Sebagai karakter yang sesekali muncul selain mereka hanya ada sekretaris Sam, kapten kapal dan 2 orang polisi. Sangat sedikit sekali yaaaa :’D. Tapi saya rasa inilah yang menakjubkan dari The Maltese Falcon (1941). Keseluruhan film terasa menarik untuk diikuti. Jalan cerita dan dialog-dialognya terbilang bagus dan mampu membuat saya penasaran. Mereka dapat melakukan itu semua tanpa special effect abad 21 atau ribuan figuran loh, kereeeen.

The Mantese Falcon

Sudah pasti The Maltese Falcon (1941) merupakan salah satu film misteri dan detektif terbaik yang pernah saya tonton. The Maltese Falcon (1941) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

It (2017)

IT

Film mini seri TV, It (1990), merupakan film horor pertama yang saya tonton secara utuh, dari awal sampai akhir. Film yang dibuat berdasarkan novel karya Stephen King ini, hadir di TV dalam bentuk mini seri yang terdiri dari 2 episode. Episode pertama bercerita di era 80-an ketika tokoh utama masih anak-anak. Sedangkan episode kedua bercerita ketika tokoh utama sudah beranjak dewasa. Pada tahun 2017 ini, kisah pada It (1990) episode pertama, dibuat ulang pada It (2017).

Mirip seperti mini seri It (1990), It (2017) berkisah mengenai sekelompok anak-anak yang harus berhadapan dengan sebuah mahluk misterius. Mahluk tersebut sudah ratusan tahun menggunakan trik dan ilusi untuk menakut-nakuti korbannya. Ia “memakan” rasa takut anak-anak untuk menjadi lebih kuat, semakin takut si korban, semakin kuatlah mahluk tersebut jadinya. Karena korbannya adalah anak-anak, mahluk tersebut sering menggunakan wujud Pennywise si badut sebagai wujud fisiknya. Tapi badut bukanlah wujud permanen mahluk ini. Ia sebenarnya tidak memiliki wujud dan nama yang jelas. Maka mahluk ini sering pula disebut “It”, sebuah kata umum dalam bahasa Inggris yang mengarah kepada suatu hal.

IT

IT

Lawan It (Bill Skarsgard) pada It (2017) adalah sekelompok anak-anak yang menamakan diri mereka The Losers Club. Kelompok ini terdiri dari William “Bill” Denbrough (Jaeden Lieberher), Stanley “Stan” Uris (Wyatt Oleff), Benjamin “Ben” Hanscom (Jeremy Ray Taylor), Beverly “Bev” Marsh (Sophia Lillis), Richard “Richie” Tozier (Finn Wolfhard), Edward “Eddie” Kaspbrak (Jack Dylan Grazer), Michael “Mike” Hanlon (Chosen Jacobs). Stan merupakan anak pemuka agama Yahudi yang enggan mendalami ajaran agamanya tapi terlalu takut untuk mengakuinya, ia termasuk anak yang mudah panik dan agak canggung. Richie merupakan anak paling cerewet yang takut badut … hhmmmm … mangsa yang sempurna bagi It. Eddie merupakan anak yang sangat dilindungi oleh ibunya karena penyakit yang Eddie derita, walaupun sebenarnya Eddie tidak sesakit dan selemah itu. Mike merupakan anak kulit hitam yang ditekan agar mampu menjadi tukang jagal hewan seperti almarhum ayahnya, Ben merupakan anak baru yang gemar membaca dan akhirnya mampu memberikan beberapa informasi terkait It kepada teman-temannya. Bev merupakan satu-satunya anak perempuan di dalam The Loosers Club yang mengalami berbagai pelecehan baik di sekolah maupun di rumah. Terakhir, Bill merupakan anak yang paling berpengaruh di dalam The Loosers Club walaupun ia bukan yang paling pintar, bukan yang paling supel dan bukan yang paling kuat. Bill seolah menjadi pemimpin perkumpulan anak-anak tersebut. Atas ajakan Bill pulalah, The Loosers Club melakukan penyelidikan terhadap hilangnya anak-anak di kota mereka yang ternyata sudah terjadi selama ratusan tahun. Bill sangat terobsesi dengan kasus-kasus tersebut karena adik Bill merupakan salah satu dari anak-anak yang hilang tersebut. Ahhhh, nasib buruk yang menimpa adik Bill ini dikisah pada bagian awal film, jadi penonton sopasti tahu siapa yang Bill dan kawan-kawan buru.

IT

IT

IT

IT

IT

IT

IT

Saya melihat It (2017) menyajikan aneka masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota The Loosers Club dengan berimbang. Hanya kasus Bill saja yang sedikit dominan tapi masih dalam takaran yang wajar. Semua masalah tersebut dapat terangkai menjadi satu dengan tema film ini sehingga semuanya nampak sebagai satu kesatuan yang utuh :). Bumbu masalah yang akan hadir di masa depan (andai film ini sekuelnya jadi dibuat), sudah terlihat sejak dini. Saya melihat benih-benih cinta segitiga antara Bill, Bev dan Ben. Kalau di versi novel dan mini seri It (1990), hal ini akan menjadi masalah besar yang memecahbelah persahabatan mereka.

Yang saya paling suka dari It (2017) adalah bagaimana The Loosers Club dapat berubah dari pecundang yang diburu, menjadi kelompok anak-anak yang kuat dan pemberani. Saya sangat suka dengan bagian klimaks dari film ini, jarang-jarang ada film horor yang akhirnya seperti ini. Yaah memang sih sedikit menggantung, tapi hal itu wajar karena pada mini seri It (1990) saja, film ini memang dibagi ke dalam 2 film.

IT

IT

IT

Penampakan It sebagai badut cukup menyeramkan tapi teknik jump scare yang dipergunakan terkadang sedikit hambar. Teknik yang si badut It lakukan untuk menakut-nakuti pun, kadang tidak terlihat menakutkan. Yang saya syukri dari It (2017) adalah tidak terlalu banyaknya adegan sadis yang menjijikkan seperti yang pernah saya lihat pada Saw (2004), sebuah film horor penuh kejutan tapi sangat sadis.

IT

IT

Saya suka dengan film horor yang satu ini. It (2017) tentunya layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Puas rasanya melihat nasib si jahat It pada bagian akhir film ini :).

Sumber: itthemovie.com