Avengers: Endgame (2019)

Bulan ini semua mata tertuju pada Marvel Studio yang merilis Avengers: Endgame (2019), sebuah akhir dari sebuah semesta film yang sudah berlangsung sejak 2008 lalu sebagaimana sudah saya jelaskan pada Avengers Infinity War (2018). Disana pulalah sudah saya jelaskan mengenai MCU (Marvel Cinematic Universe) dan batu-batu infinity yang menjadi rebutan pada film-film MCU. Penggunaan batu-batu tersebut mencapai puncaknya pada Avengers Infinity War (2018). Penggunaan satu batu saja sudah menimbulkan banyak masalah. Nah pada Avengers Infinity War (2018), Thanos (Josh Brolin) menggunakan 6 batu infinity sekaligus loh.

Akhir dari film Avengers Infinity War (2018) menyisakan tragedi dan banyak pertanyaan. Akhir dari film tersebut memang mengakibatkan tewasnya sebagian besar superhero pada film-film Marvel yang sebagian besar merupakan anggota Avengers. Nah, pada Avengers: Endgame (2019) inilah para superhero yang tersisa berusaha memperbaiki keadaan. 5 tahun berlalu dan mereka terpaksa harus melanjutkan hidup dengan penuh penyesalan.

Hhhmmm, bagi teman-teman yang mengikuti semua film superhero Marvel sejak 2008 lalu, pasti menyadari bahwa tidak semua superhero Marvel atau MCU hadir pada Avengers Infinity War (2018). Ant-Man (Paul Rudd) dan Hawkeye (Jeremy Renner) absen tanpa alasan yang jelas. Hawkeye ternyata memilih untuk tidak ikut campur dengan urusan Avengers dam memilih untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Ia pun menjadi tahanan rumah setelah perbuatannya pada Captain America: Civil War (2016). Ulah Thanos pada Avengers Infinity War (2018), membuat Hawkeye berubah menjadi liar dan kejam. Versi gelap Hawkeye ini, kalau di komik namanya Ronin. Entah mengapa, saya lebih suka dengan Hawkeye yang baru ini ;).

Senasib dengan Hawkeye, Ant-Man pun menjadi tahanan rumah dan hidup dengan anak semata wayangnya. Tapi sebagaimana dikisahkan pada Ant-Man and the Wasp (2018), Ant-Man terperangkap di dalam dunia kuantum ketika Thanos menggunakan kekuatan 6 batu infinity. Ant-Man kembali ke dunia, 5 tahun setelah peristiwa pada Avengers Infinity War (2018). Ia datang membawa harapan, sebuah kesempatan kedua bagi para superhero untuk kembali meraih kemenangan. Mereka berencana untuk menggunakan dunia kuantum sebagai gerbang menuju masa lalu. Whah, Avengers mau merubah masa depan? Berbeda dengan film-film lain yang menggunakan perjalanan menembus waktu sebagai salah satu temanya, Avengers: Endgame (2019) memilih untuk mengisahkan perjalanan waktu dengan cara dan pendekatan yang berbeda. Sebuah hal yang kreatif, karena Avengers: Endgame (2019) menganut faham bahwa kita tidak akan dapat mengubah masa depan dengan datang mengacak-acak masa lalu ;).

Lohhh, tunggu sebentar, bagaimana dengan Captain Marvel? Bukankah ia termasuk superhero yang absen pada Avengers Infinity War (2018) dan baru hadir lagi pada Avengers: Endgame (2019)? Di luar dugaan saya, peranan Captain Marvel yang kekuatannya dahsyat seperti Superman, tidak terlalu menonjol di sini.

Well, fokus Avengers: Endgame (2019) ini bukanlah superhero yang film solonya baru satu seperti Kapten Marvel. Fokus film ini adalah anggota tetap Avengers yang sudah lama ada dan menjadi simbol dari MCU selama ini. Sebuah akhir dari perjalanan panjang selama 11 tahun dan 22 film MCU. Saya melihat banyak adegan yang mengharukan pada film Avengers: Endgame (2019), sesuatu yang belum pernah saya alami ketika menonton film superhero.

Selama film ini berlangsung, para anggota Avengers berkelana kembali ke masa lalu yang pernah dikisahkan oleh film-film MCU sebelumnya. Bagi penonton yang sudah menonton semua film MCU sebelum Avengers: Endgame (2019), pendekatan ini penuh nostalgia dan sangat kreatif karena mereka menggunakan latar belakang kejadian-kejadian dari film MCU lain tapi dari sudut pandang yang berbeda :D.

Selain itu, kenyataan bahwa pada Avengers: Endgame (2019) ini tidak ada superhero yang pasti akan selamat. Semua memiliki kemungkinan akan gugur entah bagaimana caranya ;). Sesuatu hal yang membuat saya penasaran sampai akhir, siapa yaaa yang akan gugur lagi? Siapa pula yaaa yang akan hidup kembali? Hohohoho. Akhir dari film ini cukup mengharukan dan di luar perkiraan saya.

Karena Avengers: Endgame (2019) merupakan bagian dari MCU yang terdiri dari berbagai film, tentunya ada beberapa bagian dari Avengers: Endgame (2019) yang asal muasalnya dikisahkan pada film lain di dalam MCU. Tapi saya rasa Avengers: Endgame (2019) cukup komunikatif bagi penonton yang belum menonton semua film-film MCU. Toh semua film yang termasuk MCU memang berkaitan tapi sifatnya berdiri sendiri, jadi bukan film bersambung macam sinetron Indonesia. Kalaupun mau mengetahui hal-hal vital yang menjadi dasar dari Avengers: Endgame (2019), saya rasa penonton awam tidak perlu menonton semua film MCU, mereka cukup menonton atau mengingat peristiwa pada The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Captain America: The Winter Soldier (2014), Guardians of the Galaxy (2014), Avengers Age of Ultron (2015), dan tentunya Avengers Infinity War (2018).

Durasi film yang hampir 3 jam sama sekali tidak membuat saya kebosanan di dal gedung bioskop. Film yang satu ini memang memiliki banyak hal yang perlu dan patut untuk dikisahkan. Semua kisah-kisah tersebut didukung dengan special effect dan adegan aksi yang keren. Sayang sekali kalau dilewatkan karena kebelet atau pegal duduk di kursi. Sebaiknya pergilah ke toilet sebelum menonton Avengers: Endgame (2019) :’D.

Saya pribadi ikhlas untuk memberikan Avengers: Endgame (2019) nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Avengers: Endgame (2019) merupakan akhir sekaligus awal. MCU masih akan terus ada, tanpa kehadiran beberapa tokoh yang selama ini sudah menjadi maskot sinematik terbesar dunia ini. Kita lihat saja, apakah superhero-superhero baru yang belakangan ini diperkenalkan, mampu meneruskan kesuksesan MCU.

Sumber: http://www.marvel.com

Iklan

Avengers Infinity War (2018)

Sejak tahun 2008 sampai sekarang, sudah hadir kurang lebih 18 film-film superhero yang diambil dari cerita buku komik keluaran salah satu perusahaan komik ternama di dunia yaitu Marvel. Meskipun nampak terpisah dengan cerita dan tokoh utama sendiri, semua film tersebut hidup di sebuah alam yang sama, sebuah alam yang biasa disebut Marvel Cinematic Universe (MCU), kecuali film-film X-Men dan Deadpool tentunya. Sepanjang penglihatan saya, meskipun masing-masing film MCU mampu berdiri sendiri, bagian akhirnya jelas dan tidak menggantung, film-film tersebut mampu membuat sebuah jaring cerita yang rapi antara satu dengan lainnya. Jaring-jaring cerita dari semua film tersebut, menyatu menjadi satu pada Avengers Infinity Wars (2018), sebuah film yang sudah lama saya tunggu-tunggu meskipun kurang lebih saya sudah mengetahui cerita versi komiknya :).

Pada dasarnya Avengers Infinity Wars (2018) merupakan kisah mengenai kematian, kehidupan, keputusasaan dan harapan yang dihadapi superhero-superhero MCU. Keperkasaan mereka seakan runtuh ketika bertemu Thanos (Josh Brolin). Dulunya Thanos merupakan penduduk Planet Titan yang saat ini sudah hancur. Ia menganggap bahwa kehancuran Titan disebabnya oleh ketidakseimbangan antara jumlah sumber daya dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk seharusnya dapat dikendalikan. Untuk mencegah agar alam semesta beserta isinya tidak mengalami nasib yang serupa dengan Titan, maka Thanos berniat untuk mengendalikan populasi alam semesta. Apakah yang Om Thanos menginginkan program KB (Keluarga Berencana)? Apakah Thanos itu Duta KB? ūüėõ Oooh tentu tidak, Thanos menginginkan sesuatu yang lebih ekstrim. Ia ingin membunuh separuh populasi alam semesta agar separuh populasi yang tidak ia bunuh, dapat hidup damai tanpa memperebutkan sumber daya. Dari sudut pandangnya sendiri, Thanos merasa bahwa ia melakukan kebaikan dan pengorbanan bagi masa depan alam semesta. Ini sungguh berbeda dengan tokoh antagonis lain yang mayoritas tujuan hidupnya adalah untuk meraih kekuasaan dan kekayaan semata. Tokoh Thanos tidaklah mengecewakan, ia memang pantas untuk menjadi lawan terkuat pada film crossover terbesar tahun ini.

Pada film-film MCU sebelumnya, tersirat bagaimana Thanos berusaha mencari 6 buah batu infinity yang dapat memberikan kekuatan tertentu bagi tuannya. Batu-batu tersebut pun sebenarnya sudah beberapa kali muncul dan menjadi rebutan beberapa karakter MCU. Apa itu batu infinity sebenarnya? Batu infinity merupakan batu yang tercipta ketika alam semesta tercipta. Masing-masing batu memiliki kekuatan penciptaan masing-masing yaitu batu kekuatan, batu pikiran, batu ruang, batu waktu, batu jiwa dan batu realita. Pada film-film MCU sebelum Avengers Infinity Wars (2018), dikisahkan bahwa memegang 1 batu saja sudah dapat memberikan kekuatan super dahsyat bagi pemegangnya. Bagaimana bila ada yang dapat memiliki keenam batunya?

Batu ruang, atau dikenal dengan nama tesseract, adalah batu infinity pertama yang dikenalkan MCU. Batu ini awalnya tersimpan di pedalaman Norwegia sampai pada suatu hari, Pasukan Nazi yang dipimpin Red Skull (Hugo Weaving) menemukannya pada Captain America: The First Avengers (2011). Kemudian batu tersebut menjadi rebutan pada film-film MCU berikutnya hingga akhirnya, batu ini berhasil disembunyikan Loki (Tom Hiddlestone) pada akhir dari Thor: Ragnarok (2017). Sayangnya, pada awal Avengers Infinity War (2018), tesseract berhasil Thanos rebut setelah ia menghancurkan armada Kerajaan Asgard yang sedang dalam perjalanan menuju Bumi. Thanos bahkan mampu membuat Loki, Thor (Chris Hemsworth) dan Hulk / Bruce Banner (Mark Ruffalo) bertekuk lutut padahal Thanos hanya datang dengan menggunakan 1 batu infinity, yaitu batu kekuatan.

Batu kekuatan, atau dikenal dengan nama orb, merupakan batu infinity yang menjadi rebutan pada Guardians of The Galaxy (2014). Batu yang pada dasarnya hanya dapat dikendalikan oleh Star-Lord / Peter Quill (Chris Pratt) ini, berhasil Thanos rebut dari Planet Xandar. Nova Corps yang bertugas melindungi Planet Xandar dan orb nampaknya mengalami nasib yang tragis sebab Thanos nampak sudah memiliki batu kekuatan sejak awal film Avengers Infinity War (2018).

Batu kekuatan sebenarnya bukanlah batu infinity pertama yang Thanos miliki. Sebelumnya, Thanos sempat memiliki batu pikiran yang ditempelkan pada bagian ujung tongkat chitauri. Tongkat ini kemudian Thanos pinjamkan kepada Loki untuk merebut tesseract di Bumi pada The Avengers (2012). Kemudian batu ini mengalami beberapa kali perpindahan kepemilikan sampai pada akhirnya batu ini berada di kening Vision (Paul Bettany) pada Avengers: Age of Ultron (2015). Vision sebenarnya merupakan sebuah super komputer canggih ciptaan Iron Man atau Tony Stark (Robert Downey Jr.). Dengan keberadaan batu pikiran pada Vision, Vision telah mampu berkembang menjadi organisme yang lebih kompleks. Ia bahkan dapat menjalin asmara dengan Scarlet Witch atau Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen). Pada Avengers Infinity War (2018) ini, keduanya harus melarikan diri dari kejaran jendral-jendral tangan kanan Thanos yang berusaha mengambil batu pikiran dari kening Vision. Beruntung Captain America / Steve Rogers (Chris Evans), Natasha Romanoff / Black Widow (Scarlett Johansson) dan Sam Wilson / Falcon (Anthony Mackie) datang membantu. Mereka kemudian melarikan diri ke Wakanda, dengan dibantu oleh James “Rhodey” Rhodes / War Machine (Don Cheadle), untuk berlindung di dalam perisai negeri asal T’Challa / Black Panther (Chadwick Boseman) tersebut. Tak lupa sahabat Captain America dari masa lampau, Bucky Barnes / Winter Soldier (Sebastian Stan), sudah menanti pula di Wakanda.

Sementara Captain America dan kawan-kawan melarikan diri ke Wakanda, Hulk / Bruce Banner berhasil melarikan diri dari kapal Asgard yang dihancurkan Thanos. Banner berhasil melakukan teleport ke Bumi dan langsung menemui Iron Man / Tony Stark dan Stephen Strange / Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) untuk memperingatkan akan kedatangan Thanos. Tak lama kemudian, mereka bersama dengan Peter Parker / Spider-Man (Tom Holland), harus mempertahankan batu waktu yang ada di dalam kalung mata agamoto milik Doctor Strange. Batu waktu pernah memicu konflik pada Doctor Strange (2016). Warnanya hijau, padat dan membuat pemegangnya mampu memutar waktu ke masa lalu dan masa lampau.

Berbeda dengan batu waktu yang padat, batu realitas atau aether berbentuk seperti cairan yang mengalir di udara. Aether pernah memicu konflik pada Thor: The Dark World (2013). Bangsa Asgard saat itu sudah memiliki dan menjaga batu ruang atau tesseract, sehingga mereka mempercayakan aether kepada Taneleer Tivan / The Collector (Benicio del Toro).

Nah bagaimana dengan batu jiwa? Sepengetahuan saya, batu ini belum pernah muncul atau menjadi rebutan pada film-film MCU sebelumnya. Namun, konon lokasi penyimpanan batu jiwa yang misterius ini sebenarnya sudah diketahui oleh salah satu dari anggota Guardians of The Galaxy. Siapakah itu? Apakah Star-Lord? Drax (Dave Bautista)? Mantis (Pom Klementieff)? Gamora (Zoe Saldana)? Groot (Vin Diesel)? Rocket (Bradley Cooper)? Atau bahkan Nebula (Karen Gillan)? Aaahhhh, saya tidak akan menulis spoiler di sini hehehehe.

Kali ini para pahlawan yang sudah memiliki film solo melalui film-film MCU sebelumnya, harus mencegah usaha Thanos mengumpulkan keenam batu infinity. Pada Avengers Infinity War (2018) ini akan ada beberapa tokoh utama yang berguguran. Kehadiran Thanos memang membawa aroma tersendiri di sini. Karena ketika Thanos muncul, siapapun bisa saja tewas. Tidak ada satu superhero-pun yang aman dari Thanos. Saya lihat, tokoh utama yang tewas di tangan Thanos ada pula yang merupakan tokoh legendaris icon Marvel, sungguh tidak terduga :’D.

Dengan kekuatan yang dahsyat, Thanos begitu ditakuti. Tapi kok kenapa Thanos baru turun tangan pada Avengers Infinity War (2018)? Thanos sudah ada sejak dulu, ia bahkan sudah lama memegang batu kekuatan sebelum Loki menghilangkannya pada The Avengers (2012). Jawabannya adalah karena tewasnya The Ancient One (Tilda Swinton) pada Doctor Strange (2016), Ego (Kurt Rusell) pada Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017), tewasnya Odin (Anthony Hopkins) pada Thor: Ragnarok (2017). Ketiga karakter ini memang sudah uzur namun terkenal akan kekuatannya sehingga Thanos tidak dapat leluasa bergerak. Keadaan semakin menguntungkan bagi Thanos ketika The Avengers pecah kongsi setelah terjadi skandal pembunuhan ayah Black Panther yang melibatkan Winter Soldier pada Captain America: Civil War (2016). Ahhhh, inilah saat yang tepat bagi Thanos untuk maju habis-habisan dengan segenap kekuatan dan prajurit yang ia miliki.

Saya sadar bahwa banyaknya karakter yang hadir, bisa saja membuat penonton kebingungan. Tapi pada kenyataannya, cerita pada film ini sudah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membingungkan bagi teman-teman yang belum menonton film-film MCU sebelumnya. Hadirnya berbagai karakter kuat dalam film inipun, ternyata mampu diramu dengan tepat sehingga menghasilkan satu kesatuan film yang baik dan menghibur. Jadi tidak ada karakter yang tenggelam atau terlalu dominan pada film ini. Saya beberapa kali tersenyum melihat humor-humor yang muncul, film ini tidak terlalu serius dan tidak membosankan. Hal ini patut saya acungi jempol. Sayang akhir dari Avengers Infinity War (2018) seperti belum tuntas dan masih menyisakan beberapa pertanyaan yang mungkin akan terjawab pada film Avengers berikutnya. Saya pun masih mereka-reka memgenai jalur cerita akan diambil oleh film ini. Pada versi komik, pertarungan antara Avenger dan Thanos memang panjang dan terjadi dengan berbagai versi. Entah Avengers Infinity War (2018) akan membawa MCU ke arah versi yang mana, atau justru memiliki versi sendiri yang berbeda?

Jalan cerita yang menarik dan membuat saya penasaran, serta didukung dengan adegan aksi, special affect dan kostum yang mumpuni, tentunya membuat saya ikhlas untuk memberikan Avengers Infinity War (2018) nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini pada dasarnya ada film superhero dengan karakter antagonis sebagai karakter utamanya, sesuatu yang menarik ;).

Sumber: marvel.com/avengers

Black Panther (2018)

Black Panther

Black Panter adalah salah satu superhero karya Stan Lee dan Jack Kirby yang pertama kali muncul pada salah satu komik Marvel tahun 1966. Sejak awal abad 21, superhero Marvel berkulit hitam ini sudah beberapa kali digadang-gadang akan hadir di layar lebar. Akhirnya, Black Panter atau T’Challa (Chadwick Boseman) mengawali debutnya di layar lebar pada Captain America: Civil War (2016) meskipun porsinya tidak terlalu besar. Sekitar 2 tahun berselang, Black Panter kembali hadir melalui film solonya yang pertama, Black Panther (2018).

Memang sih, awal mula T’Challa dipicu oleh kejadian pada Captain America: Civil War (2016). Tapi saya rasa hal tersebut dapat terjelaskan dengan mudah dah jelas ketika kita menonton Black Panther (2018). Jadi teman-teman yang belum menonton Captain America: Civil War (2016), jangan khawatir akan kebingungan ketika menonton Black Panther (2018). Black Panter (2018) akan menjelaskan asal mula Black Panther lebih mendetail.

Black Panther

Semua diawali ketika sebuah meteor misterius jatuh ke Afrika. Pecahan dari meteor tersebut tertanam di sebuah wilayah yang akhirnya diperebutkan oleh 4 suku yang ada saat itu. Kenapa mereka memperebutkan wilayah yang kaya akan pecahan meteor tersebut? Pecahan meteor itu ternyata membentuk gundukan raksasa logam Vibranium yang dapat memberikan akses kepada senjata dan teknologi yang jauh lebih maju. Peperangan berhenti ketika seorang ahli obat meminum sebuah tanaman khusus yang tumbuh di lokasi jatuhnya meteor tersebut. Ia tiba-tiba memiliki kekuatan dan kecepatan di atas manusia biasa. Dengan menggunakan kostum serba hitam ia membuat 3 dari 4 suku bertekuk lutut dan bersedia mengakuinya sebagai raja. Mulai saat itulah berdiri kerajaan Wakanda dengan seorang Black Panther sebagai rajanya.

Wakanda berhasil memanfaatkan Vibranium untuk membangun kota dan peradaban yang sangat maju. Khawatir akan adanya ancaman dari luar, Wakanda menutup diri dari dunia luar dengan menggunakan perisai di sekitar wilayah mereka sehingga tidak ada bangsa asing yang mengetahui wujud Wakanda yang sesungguhnya. Bagi dunia internasional, Wakanda nampak hanya sebagai negara terpencil yang miskin di benua Afrika.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Selama ini Afrika terkenal akan perang, kelaparan dan kemiskinan. Wakanda hanya berdiam diri di balik perisainya sementara itu negara lain di Afrika menghadapi peperangan dan kemiskinan. Apakah Wakanda akan terus berdiam diri? Bukankah teknologi Vibranium dapat dimanfaatkan untuk menolong umat manusia, bukan hanya Afrika saja? Bagai pisau bermata dua, Vibranium memang dapat dimanfaatkan pula untuk membuat senjata yang dahsyat. Inilah yang menjadi awal mula konfik di dalam keluarga kerajaan Wakanda.

Black Panther Black Panther Black Panther Black Panther

 

Sebagai raja Wakanda sekaligus Black Panther baru, T’Challa mau tak mau harus menghadapi konflik ini. Ia harus menghadapi pihak asing yang hendak mengusai Vibranium untuk maksud yang jahat. Ia pun harus mempertahankan tahtanya dari anggota keluarga kerajaan lain yang hendak memberikan manfaat Vibranium bagi umat manusia tapi dengan cara yang salah.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

T’Challa didampingi oleh beberapa karakter wanita yang kuat dan sangat “Afrika” seperti Nakia (Lupita Nyong’o), Okoye (Danai Gurira) Ramonda (Angela Bassett) dan Shuri (Letitia Wright). Nakia merupakan mata-mata Wakanda di dunia luar yang berhasil menarik hati T’Challa. Okoye merupakan pemimpin pasukan khusus kerajaan yang semunya terdiri dari wanita. Ramonda adalah ibu T’Challa yang memberikan nasihat bijak dan semangat bagi T’Challa. Terakhir, Shuri adalah adik T’Challa yang pintar dan memberikan dukungan teknologi kepada Black Panther. Jangan harap untuk melihat wanita non Afrika di film ini, semuanya serba Afrikaaaaaa. Mohon maaf, bagi saya pribadi, tidak ada tokoh wanita utama yang nampak cantik pada film ini, ahhhh padahal bukankah sebenarnya banyak loh aktris kulit hitam yang cantik. Tapi kalau dilihat dari nuansa Afrika yang dibentuk, yap, keberadaan wanita-wanita kuat ini memang berhasil membuat Black Panther (2018) memjadi film superhero Afrika. Sesuatu yang unik dan berbeda dibandingkan film-film superhero Marvel sebelumnya.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black PantherBlack Panther

Tidak hanya karakter, ternyata kostum dan tarian adat yang ditampilkan Black Panther (2018), memang mengambil daru budaya asli Afrika. Bahkan salah satu kostum yang dikenakan T’Challa suskses meraih popularitas di Indonesia karena mirip sekali dengan baju koko yang biasa dikenakan ke Masjid atau pada hari raya Islam. T’Challa menggunakan baju tersebut ketika duduk di singgasana Wakanda dan ketika bermimpi bertemu ayahnya. Apakah T’Challa memang menggunakan baju koko? Ooooo ternyata tidak. T’Challa menggunakan modifikasi dari baju agbada. Baju agbada merupakan baju yang biasa digunakan oleh lelaki di Afrika Selatan. Hehehehe, tapi yang memang mirip sekali sih dengan baju koko :D.

Black Panther

Sayang, nuansa unik ala Afrika yang dihadirkan Black Panther (2018) tidak disertai dengan cerita yang memikat. Pertarungannya sih ya memang bagus dan sarat akan special effect yang keren. Tapi yaa tetap saja jalan cerita Black Panther (2018) cenderung dapat ditebak arahnya dan kurang ada gregetnya bagi saya pribadi.

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Black Panther

Yaaah saya akui saya mungkin lebih suka dengan jalan cerita film solonya Iron Man atau Thor yaaa. Tapi hal ini bukan karena popularitas Black Panther yang menjadi tokoh utama loh. Black Panter tetap mampu tampil sebagai tokoh protagonis dengan berbagai kekuatan yang terlihat keren. Hanya saja ceritanya saja yang sedikit minus hehehehe. Tapi saya tetap tidak setuju juga kalau jalan cerita film ini dikatakan sebagai kisah pengantar menuju film ketiga The Avengers yang menampilkan Thanos. Black Panther (2018) mampu berdiri sendiri sebagai film solo yang solid tanpa embel-embel The Avengers atau Captain America. Dengan demikian, rasanya Black Panther (2018) pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Cocok untuk ditonton bersama keluarga ;).

Sumber: marvel.com/blackpanther

Captain America: Civil War (2016)

CivilWar1

Pada tahun 2016 ini, DC Comic dan Marvel sama-sama menampilkan film yang mengisahkan perseteruan antar sesama superhero. Setelah sekitar beberapa bulan yang lalu saya melihat Superman dan Batman saling baku hantam pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kemudian Marvel Comics menghadirkan perseteruan antara Captain America (Chris Evans) dengan Iron Man (Robert Downey Jr.) pada Captain America: Civil War (2016). Berbeda dengan perseteruan antara Superman dan Batman yang hanya melibatkan 2 superhero, perseteruan antara Captain America dan Iron Man ini melibatkan beberapa superhero lain yang sebelumnya sudah pernah muncul pada film-film Marvel. Sebagian berdiri di belakang Iron Man dan sebagian lagi berdiri di belakang Captain America. Mereka sama-sama di pihak yang baik, namun perseteruan yang semakin memanas memaksa kedua kubu untuk berkelahi habis-habisan.  Apa sih yang membuat Captain America dan Iron Man berseteru?

CivilWar21

Pada sebuah misi di Afrika, The Avengers berhasil menuntaskan sebuah misi dan kembali menyelamatkan dunia. Namun dalam prosesnya, mereka tidak sengaja menghancurkan sebuah gedung yang dipadati penduduk. Kabar ini viral dan kembali mengingatkan penduduk dunia akan kehancuran-kehancuran yang pernah terjadi ketika para superhero beraksi sebagaimana pernah dikisahkan pada The Avengers (2012), Iron Man 3 (2013), Thor: The Dark World (2013) dan Avengers: Age of Ultron (2015).

CivilWar25

Kemudian PBB dengan didukung oleh pihak pemerintah dari berbagai negara memutuskan bahwa semua aksi superhero harus dimonitor oleh pihak PBB dan pemerintah. Inilah cikal bakal dari perdebatan antara Captain America dan Iron Man. Setelah peristiwa pada Iron Man 3 (2013), sikap dan pendapat Iron Man atau Tony Stark terhadap konsep superhero agak bergeser. Ia sudah tidak bersikap seperti milyuner yang seenaknya sendiri. Iron Man nampak terlalu serius di sini, ahhhh payah, tidak selucu dulu lagi. Bagaimana dengan Captain Amerika? Ia menolak mentah-mentah aturan PBB dan pemerintah tersebut karena menurutnya aksi superhero tidak boleh dicampuri oleh kepentingan-kepentingan politis, semua harus murni untuk kemanusiaan.

CivilWar4

Adu mulut berubah menjadi baku hantam setelah ada seorang misterius yang berusaha mempertajam perseteruan tersebut. Apa motifnya? Silahkan tonton filmnya :), yang pasti sudah pasti saya berdiri di pihak Captain America karena Iron Man nampak terlalu emosional dan kurang dapat berfikir lurus pada Captain America: Civil War (2016). Yaaaah, judulnya saja Captain America, sopasti sedikit banyak Cap akan nampak sebagai pihak yang logis dan benar.

Pada perseteruan besar ini Iron Man didukung oleh War Machine (Don Cheadle), Black Widow (Scarlett Johansson), Black Panther (Chadwick Boseman), Vision (Paul Bettany) dan Spider-Man (Tom Holland). Sedangkan Captain America didukung oleh Winter Soldier (Sebastian Stan), Falcon (Anthony Mackie), Hawkeye (Jeremy Renner), Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) dan Ant-Man (Paul Rudd). Nah dipertengahan cerita ada pula superhero yang merubah dukungannya loh ;). Walaupun jumlah superhero yang dihadirkan pada Captain America: Civil War (2016) jauh lebih sedikit dibandingkan dengan versi komiknya, kehadiran mereka semua tentunya menjadi magnet bagi saya untuk tetap menonton film ini.

CivilWar9

CivilWar10

CivilWar16

CivilWar13

CivilWar6

CivilWar24

CivilWar20

CivilWar19

CivilWar15

CivilWar11

CivilWar3

CivilWar14

CivilWar8

CivilWar5

CivilWar2

Saya lihat kehadiran Black Panther, Spider-Man dan Ant-Man cukup menarik perhatian. Black Panther tampil lumayan keren dengan kostum serba hitam dan kelincahan yang mirip Wolverine. Ant-Man kali ini menampilkan kemampuan yang belum pernah ditampilkan pada film Marvel sebelumnya. Spider-Man?? Saya agak kaget melihat Spider-Man yang hak ciptanya sudah dibeli oleh perusahaan lain ternyata dapat hadir pada film Marvel. Sebagai salah satu icon komik Marvel, saya lebih suka dengan Spider-Man dibandingkan Captain America :D. Kehadiran mereka mampu mengobati kekecewaan saya karena keabsenan Thor dan Hulk pada Captain America: Civil War (2016).

CivilWar17

CivilWar26

CivilWar7

Walaupun ceritanya agak klise dan relatif mudah ditebak alurnya,¬†Captain America: Civil War (2016) terbilang sedikit lebih unggul daripada¬†Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dari segi cerita. Tapi kalau dari segi kostum dan adegan aksi, Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) tetap lebih unggul. Dengan demikian, rasanya¬†Captain America: Civil War (2016)¬†layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Di dalam dunia DC Comics, pesaing Marvel Comics, ada¬†pula¬†kisah perseteruan yang melibatkan banyak¬†superhero¬†yaitu Injustice, whaaa kapan yaaa Injustice ada versi filmnya :).

Sumber: marvel.com/CaptainAmericaPremiere