The Boy (2016)

Ketika melihat trailer dari The Boy (2016), saya yakin bahwa film ini adala film setan-setanan. Ahhh paling film ini seperti film Child’s Play (1988) atau Annabelle (2014), boneka kesurupan setan hehehehe. Apakah dugaan saya meleset?

Film ini diawali ketika Greta Evans (Lauren Cohan) datang ke pedesaan nun jauh di sana untuk bekerja sebagai pengasuh anak. Majikan baru Greta tinggal di rumah kuno yang besar sekali. Ahhhh, latar belakang sebuah rumah kuno yang besar dan terletak jauh di pedesaan tentunya sudah menjadi stereotype latar belakang film setan-setanan.

Greta terkejut bukan main ketika ia mengetahui bahwa ia harus mengasuh sebuah boneka yang bernama Brahms. Berhubung Greta sangat membutuhkan perkejaan tersebut dan ia pun memang sedang melarikan diri dari pengalaman buruk di kota, maka Greta menyanggupi pekerjaan aneh ini.

Greta diharuskan memperlakukan Brahms seperti anak-anak pada umumnya, mulai dari memandikan, menggatikan baju, membacakan dongeng dan lain-lain. Berbagai keanehan muncul di sini sebab ternyata Brahms seolah dapat bergerak sendiri ketika Greta sedang tidak memperhatikan.

Keluarga majikan Greta ternyata memang menyimpan sebuah rahasia yang membuat seluruh dugaan saya mengenai The Boy (2016), meleset. The Boy (2016) ternyata memiliki sebuah kejutan yang tidak terduga. Namun eksekusi dari kejutan tersebut kurang ok sehingga semua terasa biasa saja.

Dengan demikian The Boy (2016) memperoleh nilai 3 dari skala makskmum 5 yang artinya “Lumayan”. Potensi yang The Boy (2016) miliki sebenarnya cukup besar. Awalnya saya pikir hal tersebut akan dimanfaatkan lebih jauh lagi pada Bhrams: The Boy 2 (2020). Wew, sebuah sekuel? Atau prekuel? Salah, walaupun memang menggunakan angka 2, menampilkan boneka yang sama, rumah produksi yang sama, sutradara yang sama dengan The Boy (2016). Bhrams: The Boy 2 (2020) lebih baik dianggap sebagai film yang berdiri sendiri. Kenapa? Sebab inti cerita yang dikisahkan oleh Bhrams: The Boy 2 (2020), sangat berbeda dan bertolakbelakang dengan The Boy (2016). Kalau anda sedang ingin menonton film setan-setanan standard yang menteror seorang ibu dan anak kecilnya, yah silahkan tonton Bhrams: The Boy 2 (2020), tidak ada kejutan di sana, hehehehee.

Sumber: stxmovies.com/theboy

Mini Seri And Then There Were None (2015)

Sebelum Murder at the Oriont Express (2017), ternyata novel-novel karya Agatha Christie sudah ada yang terlebih dahulu dibuat filmnya, And Then There Were None (2015) adalah salah satunya. And Then There Were None (2015) pertama kali hadir di stasiun TV BBC One dalam bentuk 3 seri. Berbeda dengan Murder at the Oriont Express (2017), And Then There Were None (2015) memang hanya hadir dalam format mini seri yang biasa diputar di stasiun TV, bukan bioskop.

Saya sendiri hampir tidak mengetahui bahwa And Then There Were None (2015) diambil dari salah satu novel Agathe Chtistie. Judul ini ternyata merupakan modifikasi dari novel Agathe Christie yang berjudul 10 Anak Negro. Karena dianggap rasis, maka judul dan beberapa bagian novel tersebut diubah menjadi And Then There Were None. Saya sendiri membaca novel Agatha Christie dengan judul 10 Anak Negro dan merasa tidak ada unsur rasis di sana. Novel tersebut sama sekali tidak membahas unsur rasial.

Tapi memang di dalamnya banyak menggunakan kalimat negro yang menjadi hal sensitif di negara-negara tertentu. Kata negro banyak digunakan untuk menggambarkan boneka dan puisi terkait pembunuhan berencana di sebuah pulau. Pada And Then There Were None (2015), boneka dan puisi negro digantikan oleh boneka dan puisi prajurit. Judul film inipun menggunakan bagian akhir dari sebuah puisi yang tergantung di setiap kamar di rumah Keluarga Owen. Puisi tersebut menggambarkan bagaimana 10 prajurit mati satu persatu dengan cara yang berbeda.

Pada suatu hari, Keluarga Owen mengundang 8 orang tamu untuk datang dan menginap di rumah mereka. Tak lupa Keluarga Owen sudah menyewa 2 orang pelayan untuk memenuhi kebutuhan para tamu. 8 tamu dan 2 pelayan? Wah total ada 10 orang di sana. Kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut, satu per satu menemui ajalnya dengan cara yang berbeda seperti yang disampaikan oleh puisi 10 prajurit yang tergantung di setiap kamar. Setiap ada yang tewas, boneka prajurit yang ada di meja makan, akan hilang. Jadi boneka tersebut seolah-olah melambangkan jumlah orang yang masih hidup. Karena rumah Keluarga Owen merupakan satu-satunya rumah di sebuah pulau terpencil, tak ada satupun calon korban yang dapat meninggalkan rumah. Mau tak mau mereka harus menemukan siapa dalang dari semua ini. Apalagi semua orang yang ada di rumah tersebut tidak saling kenal. Entah apa alasan kenapa mereka diundang untuk dibunuh satu per satu seperti ini. Kemana perginya si tuan rumah? Ternyata, kesepuluh calon korban pun tidak pernah bertemu langsung dengan Keluarga Owen.

Semakin lama semakin terlihat bahwa masing orang di dalam rumah tersebut, pernah melakukan pembunuhan di masa lalu. Pelan-pelan mengetahui dosa masa lampau mereka memang menarik untuk ditonton. Tapi melihat cara mereka tewas, tidaklah menarik karena kok ya kurang dihubungkan dengan bunyi puisi. Padahal petunjuk-petunjuk pada puisi itulah yang membuat cerita ini menarik. Saya tidak melihat ketagangan pada film ini, jalan cerita yang seharusnya menarik, nampak agak hambar. Satu-satunya yang menarik adalah siapa dalang semua ini dan apa motif sebenarnya.

Saya hanya dapat memberikan mini seri ini nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bolehlah dijadikan tontonan di sela waktu istirahat. Saya sendiri lebih senang dengan versi novelnya.

Sumber: http://www.agathachristie.com/film-and-tv/and-then-there-were-none