Tomb Rider (2018)

Awalnya Tomb Rider merupakan video game petualangan dan teka-teki keluaran Eidos pada tahun 1996. Kemudian hadir sekuel video game – video game Tomb Rider pada berbagai perangkat dengan perusahaan pengembang yang berbeda. Setahu saya, video game Tomb Rider yang pada awalnya muncul di Sony PlayStation, sudah memiliki lebih dari 16 sekuel sampai saat ini. Pada game ini, tokoh Lara Croft hadir sebagai Indiana Jones versi wanita. Ia berpetualang memecahkan berbagai teka-teki dan misteri yang melibatkan artefak dan legenda kuno. Sesuatu yang kurang dapat digambarkan oleh 2 film Tomb Rider yang dibintangi oleh Angelina Jolie, yaitu Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Mampukah Tomb Rider (2018) berbuat lebih?

Tomb Rider (2018) menggunakan kisah pada video game Tomb Rider 2013 keluaran Square Enix. Sama seperti versi video game 2013, Tomb Rider (2018) adalah reboot dari kisah-kisah Tomb Rider sebelumnya. Kali ini Alicia Vikander memerankan Lara Croft muda yang kehilangan kedua orang tuanya. Sejak kematian istrinya, ayah Lara yaitu Lord Richard Croft (Dominic West), menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari mitos-mitos yang penuh misteri.

Salah satu mitos yang Richard dalami sebelum ia menghilang adalah mitos mengenai Himiko. Konon Himiko adalah ratu Jepang pertama yang menguasai Jepang dengan teror dan kegelapan. Hanya dengan sentuhan saja, Himiko mampu memberikan kematian bagi banyak orang. Pada suatu hari, Jendral-Jendral bawahan Himiko memberontak dan berhasil mengubur Himiko jauh di Pulau Yamatai. Keberadaan Pulau Yamatai selalu menjadi misteri yang belum terpecahkan. Konon, ada pihak-pihak yang berusaha mencari kuburan Himiko untuk membangkitkan kembali Sang Ratu tersebut. Ada dugaan bahwa kekuatan Himiko terperangkap di dalam Pulau Yamatai, menunggu untuk dibebaskan ke dunia luar.

Melalui catatan yang Lara temukan di ruangan bawah milik ayahnya, Lara menemukan petunjuk bahwa Richard berhasil menemukan Pulau Yamatai dan lokasi kuburan Hiromi. Lara langsung berangkat ke Hongkong dan menemui Lu Ren (Daniel Wu), kapten kapal Endurance yang dapat mengantarkan Lara ke Pulau Yamatai.

Perjalanan Lara dan Lu Ren penuh bahaya, karena mereka bukan hanya menghadapi ganasnya alam, teka-teki kuno dan jebakan kuburan, mereka harus berhadapan pula dengan sekelompok pasukan bersenjata yang dipimpin oleh Mathias Vogel (Walton Goggins). Vogel ternyata adalah arkeolog utusan Trinity, sebuah organisasi rahasia yang berambisi untuk mengambil dan menggunakan kekuatan Himiko untuk kepentingan organisasi tersebut.

Ahhhh, bagi yang sudah pernah bermain video game Tomb Rider 2013, pasti menyadari bahwa jalan cerita Tomb Rider (2018) sangat mirip dengan jalan cerita video game Tomb Rider 2013. Saya rasa Tomb Rider (2018) berhasil menginterpretasikan video game Tomb Rider 2013 ke dalam layar kaca dengan sangat baik. Para fans video game Tomb Rider tentunya akan puas dengan Tomb Rider (2018).

Karena dibuat berdasarkan sebuah video game, aspek-aspek ketidakmasukakalan tentunya akan terlihat pada Tomb Rider (2018). Akantetapi aspek-aspek tersebut tidak terlalu banyak dan fatal. Tomb Rider (2018) bahkan dapat dikatakan sebagai film Tomb Rider paling realistis yang pernah saya tonton. Lara Croft tidak nampak sebagai jagoan wanita yang super kuat. Berkat akting Alicia Vikander yang bagus, Lara Croft nampak lebih manusiawi ketimbang Lara Croft versi Angelina Jolie. Pada Tomb Rider (2018), Lara dapat merasakan kekalahan ketika bertarung, ketakutan ketika berhadapan dengan bahaya, dan kaget ketika mengambil nyawa orang lain untuk pertama kalinya.

Poin-poin positif di atas semakin berkilau karena dikemas dengan jalan cerita yang lumayan bagus dan tidak membosankan. Memang sih, tidak ada momen wow atau fantastis pada Tomb Rider (2018). Penyelesaian teka-teki yang ada pun tidak terlalu detail, film ini hanya menunjukkan kepiawaian Lara menyelesaikan teka-teki tapi penonton diberitahukan apa yang terjadi di sana. Tapi film ini tetap mampu memberikan suguhan film aksi dan petualangan yang menyenangkan untuk dilihat baik bagi fans video game Tomb Raider maupun bagi teman-teman yang belum pernah tahu apa itu Tomb Rider. Bagian akhir yang membeberkan kenyataan akan Himiko benar-benar cerdas dan berhasil menggabungkan mitos dengan kenyataan sehingga apa yang terjadi pada Himiko menjadi masuk akal.

Kalau ditanya, jelas saya lebih suka dengan Tomb Rider (2018), ketimbang Lara Croft: Tomb Rider (2001) dan Lara Croft Tomb Rider: The Cradle of Life (2003). Tomb Rider (2018) sudah sepantasnya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.tombridermovie.com

Iklan

Warcraft: The Beginning (2016)

Warcraft1

Ketika masih SD dulu, saya sering bermain game komputer yang berjudul Warcraft II: Tides of Darkness. Permainan ini cukup menarik pada masanya karena konsep RTS (Real-time Strategy) masih baru pada saat itu. Dengan didukung dengan grafis dan cerita yang menarik, saya pun sering memainkan permainan ini dan sudah beberapa kali menamatkan Warcraft II: Tides of Darkness dan expansion set-nya :). Setelah berjaya di era 90-an, hadir Warcraft III: Reign of Chaos pada tahun 2002 dengan jalan cerita yang lebih detail dan kompleks. Gameplay-nya mirip seperti Warcraft II: Tides of Darkness, seri ketiga Warcraft ini menghadirkan RTS dengan gtafis yang lebih bagus ditambah lagi mulai diperkenalkannya konsep hero sehingga mulailah muncul nama karakter-karakter seperti Arthas, Thall, Kel’Thuzad, Malfurion dan lain-lain.

Warcraft2

Warcraft3

Bertahun-tahun kemudian, Warcraft: The Beginning (2016), versi film dari permainan komputer masa kecil saya tersebut hadir ke layar lebar. Namun ternyata karakter-karakter Warcraft yang saya kenal sama sekali tidak ada. Loh kok bisa? Warcraft: The Beginning (2016) ternyata dibuat berdasarkan game Warcraft pertama yang hadir pada 1994, Warcraft: Orc & Human. Saya sendiri sempat memainkan permainan ini tapi tidak terlalu lama karena pada saat itu sudah ada Warcraft II: Tides of Darkness yang lebih populer.

Warcraft4

Warcraft5

Di sana dikisahkan bahwa Draenor, dunia bangsa orc, sedang berada diambang kehancuran. Maka dengan dipimpin Gul’dan (Daniel Wu), sepasukan orc pergi ke dunia lain dengan menggunakan gerbang yang dibuka dengan menggunakan Fel. Sebagai sihir hitam yang jahat, membangkitkan Fel membutuhkan pengorbanan berupa nyawa mahluk hidup. Nyawa seolah dijadikan sebagai bahan bakar bagi Fel.

Warcraft16

Warcraft7

Apakah sesatu yang jahat akan dapat melahirkan sesuatu yang baik? Tidak semua orc percaya bahwa menggunakan Fel merupakan solusi bagi masalah yang orc hadapi. Durotan (Toby Kebbell), kepala suku frostwolf, termasuk orc yang kurang yakin bahwa menggunakan Fel untuk mengungsi bukanlah keputusan yang tepat sebab semua bentuk kehidupan yang Fel sentuh akan layu dan mati. Durotan memang ikut menyeberang bersama Gul’dan, namun semakin lama Durotan semakin khawatir akan konsekuensi dari keikutsertaannya pergi ke dunia lain.

Warcraft14

Warcraft22

Dunia lain yang Durotan dan kawan-kawan datangi adalah Azeroth. Di sana terdapat berbagai ras yang sudah lama hidup rukun dan damai. Kerajaan Stormwind yang dihuni oleh ras manusia merupakan kerajaan pertama yang harus berhadapan dengan orc. Penculikan terhadap para penduduk Stormwind yang Gul’dan perintahkan, tentunya membuat hubungan antara orc dan manusia memanas. Apalagi Gul’dan bermaksud untuk membangkitkan Fel dengan mengorbankan penduduk yang diculik tersebut. Diperlukan Fel yang besar untuk membawa seluruh orc dari Draenor ke Azeroth.

Penguasa Stormwind, Raja Llane Wrynn (Dominic Cooper), tidak tinggal diam. Ia mengutus tangan kanannya, Anduin Lothar (Travis Fimmel) untuk menangani masalah ini. Lothar merupakan kesatria terbaik Stormwind dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Masalah yang kali ini Stormwind hadapi cukup mengkhawatirkan sehingga Lothar didukung pula oleh beberapa individu yang sebenarnya bukan sekutu Stormwind seperti Garona Halforcen (Paula Patton) dan Khadgar (Ben Schnetzer). Garona merupakan kesatria wanita berdarah campuran setengah orc sehingga ia mampu memahami bahasa orc dan bahasa manusia, dimana kesetiaan Garona selalu menjadi tanda tanya bagi Lothar. Khadgar merupakan ahli sihir muda yang mangkir dari pelatihannya di Kirin Tor, padahal ia dianggap sebagai penerus Mediv (Ben Foster). Mediv sendiri merupakan ahli sihir terkuat di Stormwind yang sudah bertahun-tahun menyendiri sampai kedamaian Azeroth terganggu oleh kehadiran Gul’dan dan kawan-kawan. Mediv ikut membantu prajurit-prajurit Stormwind ketika mereka sedang terdesak, namun Lothar tidak percaya juga terhadap Mediv, apa saja yang Mediv lakukan selama bertahun-tahun?

Warcraft6

Warcraft15

Cybernatural

Cybernatural

Warcraft9

Warcraft10

Warcraft23

Cybernatural

Diluar dugaan, Warcraft: The Beginning (2016) ternyata mampu menampilkan jalan cerita yang menarik, variatif dan tidak membosankan. Unsur permainan Warcraft: Orc & Human cukup kental dan terlihat pada film ini, bisa dibilang inilah film berdasar permainan komputer yang berhasir menampilkan sebuah cerita yang baik tanpa menanggalkan unsur permainan yang menjadi dasar pembuatan film tersebut. Sudah jelas Warcraft: The Beginning (2016) bukanlah buatan produser kelas teri seperti Uwe Boll :P, aaahhh para pecinta film dan video games pastilah kenal dengan tokoh yang hobi sekali membuat film dari video game. 

Saya tahu bahwa tokoh-tokoh pada permainan Warcraft 3 dan World of Warcraft memang tidak hadir pada Warcraft: The Begining (2016). Yaaaa iyalaaahh, bukankah film ini memang dibuat berdasarkan permainan Warcraft: Orc & Human yang sudah hadir jauh sebelum Warcraft III dan World of Warcraft lahir? Mau merengek 1000 kalipun yaaa mereka tidak akan hadir, silahkan menangis di rumah masing-masing yaaa :’P. Saya rasa permainan lawas yang hadir pada tahun 90-an masih berhak dibuat versi filmnya, apalagi kalau adaptasinya bagus seperti Warcraft: The Beginning (2016).

Selain cerita, film ini didukung pula oleh special effect yang halus dan memikat, kurang lebih mengingatkan saya pada Avatar (2009). Cara ilmu sihir ditampilkan terbilang keren sehingga karakter Khadgar dan Mediv praktis menjadi tokoh favorit saya pada film ini. Hanya saja saya agak bingung dengan warna kulit orc yang tidak stabil, kadang hijau dan kadang agak kecokelatan, bukankah pada versi video game warnanya hijau? Aaahh entahlah, saya masih tetap dapat menikmati film ini tanpa terlalu terganggu dengan warna kulit orc.

Warcraft11

Warcraft12

Warcraft13

Warcraft8

Warcraft17

Cybernatural

Secara keseluruhan, Warcraft: The Beginning (2016) layak dijadikan sebagai tontonan yang bermutu. Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sayang bagian akhirnya tidak tuntas, sedikit menggantung, yaah judulnya saja ada kata-kata Beginning, entah kapan ada kelanjutannya. Semoga kelanjutan film ini dibuat berdasarkan permainan Warcraft II: Tides of Darkness, hohohoho.

Sumber: http://www.warcraft-movie.co.uk