Wonder Woman (2017)

Kehadiran “dadakan” Wonder Woman (Gal Gadot) pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) dengan diiringi musik karya Hans Zimmer, cukup menyita perhatian karena pertarungan dengan iringan musik tersebut terasa keren. Andaikata saya belum menonton Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), sudah pasti saya malas menonton Wonder Woman (2017). Terus terang saya tidak suka dengan Wonder Woman setelah bermain Injustice dan menonton Justice League: The Flashpoint Paradox (2013). Di sana, Wonder Woman nampak terlalu emosional dan menyebalkan :(. Apakah Wonder Woman pada Wonder Woman (2017) akan nampak seperti itu? Semoga saja tidak hehehe.

Kisah pada Wonder Woman (2017) diawali dengan sebuah foto masa lalu Wonder Woman atau Diana (Gal Gadot). Pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), kita memang diperlihatkan foto-foto Wonder Woman di masa lampau. Nah setelah peristiwa pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016), cetakan asli foto tersebut dikirim kepada Wonder Woman. Wonder Woman kemudian mulai bercerita akan masa lalunya, bagaimana ia pertama mengenal dunia manusia. Aaaahhh film Wonder Woman (2017) ternyata mengisahkan asal mula Wonder Woman, bukan kisah setelah pertarungan besar pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016).

Berbeda dengan Superman dan Batman, ternyata tokoh Wonder Woman erat sekali dengan mitologi Yunani. Sejak kecil, Diana atau Wonder Woman, tinggal di pulau Themyscira bersama dengan ibunya, ratu suku Amazon. Pulau Themyscira hanya dihuni wanita dan pulau tersebut selalu diselimuti kabut dan perisai kasat mata sehingga tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Itu adalah anugrah Zeus, raja para dewa Olimpus, kepada suku Amazon yang menghuni pulau Themyscira. Zeus melakukan ini agar suku Amazon dapat tersembunyi dari Ares, dewa perang. Alasan utama kenapa Zeus melakukan ini akan terjawab pada bagian akhir film lho hohohoho.

Tumbuh di tengah-tengah suku Amazon yang perkasa membuat Diana ikut tumbuh menjadi pejuang Amazon yang handal. Namun Diana selalu saja berbeda, seolah ada sesuatu yang lain di dalam diri Diana. Aaahhhh ini juga akan dijelaskan pada bagian akhir film. Saya tidak akan membeberkan spoiler di sini.

Kehidupan Diana dan suku Amazon berlangsung penuh kedamaian sampai Steve Trevor (Chris Pine) terdampar di pesisir pantai Themyscira. Dari mulut Steve, diperoleh informasi bahwa dunia sedang mengadapi perang, terjadi perang di mana-mana. Setting Wonder Woman (2017) memang di era perang dunia pertama di mana terjadi perang antara blok sekutu dan blok sentral. Pada saat itu Steve yang berasal dari Inggris (bagian dari blok sekutu) menemukan informasi bahwa Jerman (bagian dari blok sentral) mengembangkan senjata pemusnah masal padahal sebentar lagi pemimpin Jerman akan menyatakan pernyataan menyerah. Apabila Jerman menyerah, maka dapat dikatakan bahwa perang dunia berakhir dan dunia kembali damai.

Pengembangan senjata pemusnah masal terus dilakukan oleh Jendral Erich Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Ayala), untuk menggagalkan acara deklarasi pernyataan menyerah Jerman kepada Sekutu. Usaha keduanya membuahkan hasil ketika senjata pemusnah masal yang dikembangkan, telah berhasil dan siap untuk diujicobakan.

Steve dan Diana beserta beberapa rekan Steve, pergi menuju garis depan peperangan untuk menghentikan perang. Steve dan Diana pergi bersama-sama tapi dengan target yang sedikit berbeda. Steve pergi untuk menghentikan rencana Doctor Poison dan Jendral Lodendorff. Sementara itu Diana pergi untuk menemukan dan membunuh Ares. Diana yakin bahwa perang yang terjadi merupakan ulah Ares, Ares mempengaruhi manusia untuk saling bunuh. Apabila Ares mati, maka dunia akan damai tanpa ada bunuh membunuh. Tapi, bukankah setiap manusia sebenarnya memiliki hawa nafsu dan sisi kelam? Konsep kehidupan tersebut nampaknya tidak Diana ketahui sebab sejak kecil Diana memang tidak pernah pergi dari pulau Themyscira. Perjalanan bersama Steve adalah perjalan pertama Diana di luar pulau.

Ketidaktahuan Diana mengenai kondisi dan kenyataan dunia luar berhasil dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu membuat saya tertawa. Sangat berbeda dengan film layar lebar superhero DC Comics sebelumnya, Wonder Woman (2017) tidak terlalu kelam dan diselingi oleh beberapa adegan komedi yang lucu. Hal ini didukung dengan baik sekali oleh Christ Pine sebagai pemeran Steve Trevor. Romansa antara Wonder Woman dan Steve pun nampak apik di sana. Jadi di Wonder Woman (2017) tidak hanya aksi bak bik buk saja, ada komedi dan romansa di sana.

Dengan didukung oleh special effect dan kostum yang bagus, adegan aksi pada Wonder Woman (2017) terbilang bagus dan enak dilihat :). Tapi menurut saya adegan aksinya terlihat bagus sekali ketika diiringi oleh lagu tema Wonder Woman karya Hans Zimmer. Ketika lagu pengiringnya diubah ke lagu lain, rasanya agak berbeda. Pertarungan puncak pada Wonder Woman (2017) justru menggunakan lagu pengiring lain yang biasa-biasa saja sehingga pertarungan tersebut terasa seperti antiklimaks.

Semuanya berhasil mendukung sebuah cerita yang nyaman untuk diikuti meskipun memakan waktu sekitar 2 jam. 2 jam? Ya, durasi film ini sekitar 2 jam hohohoho. Tapi jalan ceritanya tetap ok kok, fakta tentang Ares-pun tidak saya duga sebelumnya, ternyata Ares itu . . . . . 🙂

Secara keseluruhan, DC Comics telah melakukan perbaikan kualitas film superhero-nya melalui Wonder Woman (2017). Film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Penilaian saya ini dibuat terlepas dari kenyataan bahwa pemeran utama Wonder Woman (2017), Gal Gadot, merupakan seorang Israel yang pernah melakukan wajib militer selama 2 tahun. Pemutaran film ini di bioskop ditolak keras oleh pemerintah Lebanon. Yaaahhh, menonton film kan tidak selalu harus di bioskop bukan? Walaupun rasanya Wonder Woman (2017) termasuk film yang lebih bagus kalau ditonton di bioskop ;).
Sumber: wonderwomanfilm.com

Iklan

Justice League: The Flashpoint Paradox (2013)

Melihat pembahasan mengenai film seri The Flash musim kedua, saya sering mendengar kata-kata Flashpoint Paradox, aaahhh ternyata itu judul seri komik dan film animasi DC Comics yang cukup populer dengan Flash sebagai tokoh sentralnya, tumben bukan Superman atau Batman hehehe. Biasanya film-film animasi DC didominasi oleh 2 nama tersebut.

Pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013), Batman dan Superman tetap ada kok, judulnya saja mengandung kata-kata Justice League. Tak hanya Flash alias Barry Allen (Justin Chambers), Superman alias Clark Kent (Sam Daly) dan Batman alias Bruce Wayne (Kevin Conroy), hadir pula Wonder Woman alias Diana (Vanessa Marshall), Aquaman alias Arthur Curry (Cary Elwes), Cyborg alias Victor Stone (Michael B. Jordan) dan Green Lantern alias Hal Jordan (Nathan Fillion), wah lengkap juga yahhh. Dikisahkan bahwa Flash dengan dibantu Justice League, berhasil menangkap Professor Eobard “Zoom” Thawne atau Reverse-Flash (C. Thomas Howell) dan beberapa supervillain lain yang ikut mengeroyok Flash. Baik di komik maupun di film, Zoom sering hadir sebagai musuh besar Flash, tak terkecuali pada Justice League: The Flashpoint Paradox (2013).

Setelah Zoom tertangkap, Barry Allen beristirahat dan kemudian terbangun dari tidur pendeknya. Setelah Barry bangun, ia menemukan dirinya berada di dunia yang berbeda. Barry mendadak kehilangan kekuatannya dan semua anggota Justice League mengalami takdir yang berbeda sehingga mereka pun bukan superhero yang Barry kenal. Batman bukanlah Bruce Wayne, Superman tidak dibesarkan oleh keluarga Kent, Hal Jordan tidak terpilih menjadi Green Lantern dan Cyborg menjadi tangan kanan presiden Amerika. Bagaimana dengan Wonder Woman dan Aquaman? Keduanya terlibat cinta segitiga dan perselingkuhan yang mengakibatkan perang besar antara bangsa Amazon dan Atlantis. Dunia yang satu ini diambang kehancuran akibat perseteruan antara kedua bangsa super tersebut. Manusia biasa hanya dapat menonton dan pasrah sebab superhero lain nampak tak berdaya. Di tengah-tengah kebingungan ini, Barry melihat ibunya yang seharusnya sudah meninggal. Pada dunia ini, ibu Barry ternyata masih hidup, aaah ada secercah kebahagiaan di sana.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Barry yakin bahwa Zoom telah pergi ke masa lalu dan mengubah masa lampau sehingga dunia menjadi sekacau ini. Dengan dibantu Batman, Barry berusaha mereplikasi kecelakaan yang merubah Barry menjadi Flash. Barry harus berlari sekencang mungkin, menembus kecepatan cahaya untuk pergi ke masa lalu untuk memperbaiki ini semua. Rencana hanyalah rencana, hal itu tak mudah diraih. Dalam perjalanannya, banyak tokoh-tokoh superhero yang tewas. Beberapa adegannya agak sadis ya bagi anak-anak. Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) lebih cocok untuk ditonton oleh orang dewasa meskipun berwujud film animasi atau kartun.

Perbedaan akan nasib para superhero dan supervillain menarik untuk diikuti, beberapa bahkan mencengangkan untuk dilihat. Saya lihat terdapat kesedihan pada hubungan antara Flash dengan ibunya dan hubungan antara Bruce Wayne dengan keluarganya. Jadi film ini bukan hanya film kartun yang sarat adegan pukul-pukulan atau tembak-tembakan saja :). Apalagi terdapat sedikit kejutan pahit pada bagian akhir film ini, asalkan teman-teman tidak membaca sinopsis di beberapa tulisan yang tidak bertanggung jawab yaa. Entah kenapa untuk film yang satu ini, banyak orang memasukkan spoiler ke dalam sinopsis mereka. Sesuatu yang harusnya terungkap di akhir film justru diumbar di sinopsis :P.

Saya rasa Justice League: The Flashpoint Paradox (2013) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Ternyata, walaupun sejauh ini film-film DC Comics di layar lebar relatif kalah dibandingkan film-filmnya Marvel, DC Comics mampu menelurkan film animasi yang berkualitas. Ahhh kenapa yang seperti ini tidak saya lihat pada film-film bioskop DC Comics terbaru? ;’)

Sumber: http://www.dccomics.com/movies/justice-league-the-flashpoint-paradox-2013

Suicide Squad (2016)

suicide1

Setelah peristiwa pada Superman V Batman (2016), pemerintah merasa bahwa mereka memerlukan “Superman” baru yang dapat mereka andalkan dan kendalikan ketika bahaya datang. Hal ini diwujudkan dalam bentuk Task Force X atau Suicide Squad yang dibentuk oleh Amanda Waller (Viola Davis).

suicide9

suicide10

Amanda merekrut beberapa orang penjahat yang sudah ditangkap seperti Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), Kapten Bomerang (Jai Courtney), El Diablo (Jay Hernandez), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) dan Slipknot (Adam Beach). Deadshot merupakan pembunuh bayaran yang mampu meletuskan banyak tembakan dengan cepat dan tidak meleset. Quinn merupakan kekasih Joker (Jared Leto) yang agak gila dan nekad. Kapten Bomerang adalah pencuri yang menggunakan bumerang canggih sebagai alat bantu. El Diablo merupakan mantan ketua geng latin yang mempu mengendalikan api. Killer Croc memiliki wujud seperti monster tapi memiliki kekuatan yang besar dan mampu bergerak lincah di dalam air seperti hewan reptil. Terakhir, Slipknot, tokoh paling konyol di film ini karena hanya mampu muncul sesaat saja sebelum mati konyol, ahhh hanya tokoh tak penting dengan kekuatan yang tak penting pula hehehehehe.

Untuk mengendalikan dan mengarahkan aksi tokoh-tokoh di atas, Amanda memadukan mereka dengan personel non kriminal seperti Kolonel Rick Flag (Joel Kinnaman), Katana (Karen Fukuhara) dan June Moone (Cara Delevingne). Rick adalah seorang tentara yang handal dan berfungsi sebagai mata dan telinga Amanda di lapangan. Karana merupakan ahli pedang yang menggunakan sebuah pedang sakti berisikan roh kekasihnya. Bagaimana dengan June Moone? Saya rasa dialah karakter terkuat di sini karena June mampu berubah menjadi Enchantess, seorang penyihir sakti berusia ribuan tahun yang meminjam tubuh June.

suicide7

Pada Suicide Squad (2016),  Amanda dan kawan-kawan harus berhadapan dengan dewa kuno yang bangkit akibat ulah dari salah satu anggota Suicide Squad sendiri. Pada akhirnya Amanda seolah harus membereskan masalah yang Amanda timbulkan sendiri sebagai akibat dari pembentukan Suicide Squad :’D. Maksud hati hendak membuat “Superman”, apadaya justru “Lex Luthor” yang didapat, hehehehehe.

suicide2

suicide4

Nama-nama karakter yang Amanda kumpulkan pada Suicide Squad (2016) termasuk karakter yang tidak terkenal, saya baru mengetahui keberadaannya kemarin ketika menonton Suicide Squad (2016). Apakah karakter-karakter tak terkenal ini mampu tampil menonjol? Diantara karakter-karakter di atas, praktis yang memiliki kekuatan super hanya Enchantess, El Diablo dan Killer Croc. Sisanya yaaa hanya manusia biasa yang ahli melakukan sesuatu atau didukung oleh beberapa alat canggih  dan memiliki modal, modal apa? Modal nekad :P. Tokoh favorit saya tidak jatuh ke Deadshot yang diperankan Will Smith, melainkan kepada El Diablo yang kalem dan menghindari konftontasi tapi mampu tampil garang ketika dibutuhkan :). Porsi kemunculan Deadshot memang relatif besar karena sifat kemanusiaannya dan kepemimpinannya tapi tetap saja saya rasa karakter ini kurang istimewa. Terus terang saya lebih senang dan terhibur dengan hadirnya Quinn. Quinn mampu memberikan kekonyolan-kekonyolan yang dapat menghiasi jalan cerita Suicide Squad (2016). Tanpa El Diablo dan Quinn, saya pasti sudah tertidur ketika menonton film ini.

suicide5

suicide3

suicide8

suicide6

Saya rasa jalan cerita Suicide Squad (2016) terbilang datar, sederhana dan mudah ditebak. Kostum dan special effect yang dipergunakan terlihat biasa untuk film DC Comics tahun 2016, tidak sefantastis Superman V Batman (2016). Suicide Squad (2016) seolah-olah seperti kisah selingan dari DC Comics sebelum film-film anggota Justice League selesai dirilis. Akhir kata, Suicide Squad (2016) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” :).

Sumber: www.suicidesquad.com

Batman V Superman: Dawn of Justice (2016)

Superman Batman 1

Setelah penantian panjang, akhirnya pada tahun 2016 ini DC Comics menghadirkan 2 superhero mereka yang paling terkenal dalam 1 film layar lebar. Superman dan Batman tidak hanya menjadi icon DC Comics yang paling terkenal, namun rasanya kedua superhero tersebut merupakan 2 superhero paling terkenal dan terpopuler sepanjang masa. Bagi saya pribadi, nama besar keduanya mampu mengalahkan deretan superhero-superhero keluaran Marvel mulai dari Spiderman, Iron Man, Hulk, Deadpool, X-Men, Punisher, Ant Man sampai Thor :).

Kali ini Superman dan Batman hadir dalam Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) yang mengambil latar belakang keadaan beberapa bulan setelah pertempuran maha dahsyat pada Man of Steel (2013) berakhir. Pemeran Superman atau Clark Kent masih sama seperti pada Man of Steel (2013) yaitu Henry Cavill. Sedangkan Batman atau Bruce Wayne tidak diperankan lagi oleh Christian Bale yang sebelumnya suskes memerankan Batman pada Trilogi Dark Knight. Ben Affleck lah yang kali ini hadir sebagai Batman.

Superman Batman 12

Superman Batman 11

Superman Batman 15

Dikisahkan bahwa perkelahian antara Superman dan Jendral Zod (Michael Shannon) pada Man of Steel (2013) memakan banyak korban jiwa. Sebagian masyarakat menganggap Superman sebagai pahlawan, namun sebagian lagi sangat membenci Superman dan menyalahkan Superman atas kehancuran dan kematian yang terjadi pada Man of Steel (2013).

Superman Batman 9

Superman Batman 13

Superman Batman 7

Superman Batman 6

Hal ini dimanfaatkan oleh Lex Luthor (Jesse Eisenberg) untuk memperburuk hubungan antara Superman dan Batman. Batman memang beraksi di Gotham dan Superman beraksi di Metropolis, dua kota yang berbeda. Namun keduanya saling melihat dan mengamati aksi satu sama lain. Beberapa tindakan Batman tidak sesuai dengan pemikiran Superman, sebaliknya Batman pun kurang setuju dengan beberapa tindakan Superman meskipun keduanya sama-sama membela kebenaran dan memerangi kejahatan. Pada bagian ini, saya rasa alasan kenapa Batman dan Superman kurang suka satu sama lain tidak setajam alasan perseteruan Superman dan Batman yang dikisahkan pada komik The Dark Knight Returns karya Frank Miller pada 1986 :(.

Superman Batman 8

Superman Batman 10

Superman Batman 2

Superman Batman 16

Superman Batman 14

Superman Batman 5

Well, pada akhirnya, sesuai judulnya, Superman memang akan berkelahi dengan Batman pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016). Perkelahian yang lumayan seru namun tidak seheboh dan sedahsyat perkelahian mereka berdua melawan . . . . . . Doomsday.

Superman Batman 3

Bagi teman-teman yang membaca komik Superman pasti tau siapa Doomsday. Bagian akhir dari film ini pun pasti hampir bisa ditebak arahnya kemana. Kemunculan Doomsday merupakan akhir sekaligus awal dari sesuatu, sesuatu itu merupakan alasan kenapa saya sudah pasti akan menonton sebuah film DC Comics berikutnya ;).

Tapi terus terang saya agak heran, fisik Doomsday pada film ini memang keren dan menyerupai komiknya, namun asal mula kelahiran Doomsday pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) rasanya jauh melenceng dibandingkan asal mula kelahiran Doomsday pada versi komik. Alasan kenapa Lex Luthor menginginkan kematian Superman pun tidak terlihat jelas. Selain itu ceritanya terkadang nampak lompat-lompat karena film ini ingin menampilkan jalan cerita dari beberapa tokoh tapi perpindahannya kurang halus.

Berbicara soal tokoh, ternyata selain Batman dan Superman, ada tokoh-tokoh superhero lain yang muncul di Batman V Superman: Dawn of Justice (2016). Kita dapat melihat Wonder Woman (Gal Gadot), The Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher). Diantara keempatnya, Wonder Woman memperoleh porsi yang cukup besar. Lagu pengiring ketika Wonder Woman hadir dan ikut berkelahi pun merupakan lagu pengiring yang keren dan mampu membuat adegan perkelahian semakin seru. Adegan perkelahian yang melibatkan Wonder Woman merupakan bagian paling seru dari film ini.

Superman Batman 19

Superman Batman 18

Superman Batman 17

Saya nilai adegan perkelahian pada Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) memang tidak sebanyak Man of Steel (2013), namun rasanya lebih proporsional. Adegan perkelahian pada Man of Steel (2013) memang keren tapi agak terlalu banyak, overdosis :’D. Dengan didukung oleh special effect d an kostumyang keren, Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) mampu memberikan visualisasi yang cantik dan bagus untuk ditonton :).

Superman Batman 4

Film superhero DC Comics kali ini memang seru dan keren, namun beberapa kelemahan pada plot ceritanya membuat saya hanya mampu untuk memberikan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagaimanapun juga, film Batman V Superman: Dawn of Justice (2016) tetap layak untuk dijadikan hiburan dan kita tidak rugi kalau menontonnya di bioskop, durasinya 2 jam lewat gitu loh hehehehehe.

Sumber: batmanvsuperman.dccomics.com

Serial Gotham

Gotham 1

Gotham adalah kota tempat Batman beraksi membasmi kejahatan. Kota ini tidak benar-benar ada di negara manapun, Gotham hanya ada di komik Batman keluaran DC Comics. Film seri atau serial Gotham mengisahkan keadaan kota tersebut jauuuuh sebelum Batman datang, Bruce Wayne saja masih kecil.

Gotham 10

Gotham 13

Episode pertama Gotham diawali dengan kematian orang tua Bruce Wayne (David Mazouz), sebuah adegan yang hampir pasti muncul di setiap film Batman. Biasanya adegan tersebut hanya berupa cuplikan ingatan masa lalu, kemudian tiba-tiba Bruce Wayne sudah besar atau sudah menggunakan kostum Batman. Pada film seri ini, adegan tersebut berlanjut pada penyelidikan kematian pasangan Wayne oleh Detektif James Gordon (Ben McKenzie) dan Detektif Harvey Bollock (Donal Logue). Komisaris Gordon masih berpangkat detektif dan baru saja pulang ke Gotham setelah ia pergi berperang.

Gotham 3

Gotham 4

Gotham 6

Tidak hanya kisah masa lalu Bruce Wayne yang dikisahkan, tapi kisah masa lalu penjahat super yang kelak akan menjadi lawan Batman pun dikisahkan pada serial Gotham. Disana ada Oswald Cobblepot (Robin Lord Taylor) sebelum menjadi Penguin, Selina Kyle (Camren Bicondova) sebelum menjadi Catwoman, Edward Nygma (Cory Michael Smith) sebelum menjadi Riddler, Harvey Dent (Nicholas D’Agosto) sebelum menjadi Two Face, Ivy Pepper (Clare Foley) sebelum menjadi Poison Ivy, dan berbagai karakter DC Comics lain yang hadir di kehidupan Batman nantinya.

Gotham 15

Gotham 16

Gotham 14

Gotham 11

Gotham 5

Gotham 17

Gotham 8

 

Gotham 12

 

Gotham 7

Intrik-intrik yang serial Gotham sajikan penuh lika liku dan menarik untuk diikuti, saya melihat beberapa kejutan di sana terutama terkait dengan strategi yang Oswald Cobblepot jalankan, licik sekaleeeh saudara-saudara -__-. Tapi sayang bagi saya pribadi, keabsenan seorang superhero dari serial Gotham menyisakan lubang yang tidak dapat ditambal. Serial Gotham bukanlah serial superhero, sebab Detektif Gordon sebagai tokoh utama pada serial ini hanya mengandalkan kejujurannya, keahliannya sebagai detektif dan keberuntungannya. Gotham justru lebih banyak menyoroti asal mula tokoh-tokoh penjahat super lawan Batman sebelum mereka berhadapan dengan Batman. Bagi saya pribadi, serial Gotham mampu dijadikan hiburan di rumah sebelum film layar lebar Batman dan Superman hadir. Serial Gotham pantas untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan” :).

 Sumber: www.dccomics.com/tv

Serial Constantine

Constantine 1

Constantine adalah tokoh utama serial komik keluaran DC Comics, Hellblazer, yang sempat dibuat film layar lebarnya pada tahun 2005 lalu. Sekarang telah muncul versi film serinya dan pemutaran musim pertamanya di stasiun TV Fox baru saja usai. Akankah ada musim keduanya? Atau akankah Constantine muncul bersama-sama dengan 2 superhero DC Comics yang sudah lebih dahulu hadir di TV seperti Arrow dan Flash?

Entah, yang pasti Constantine pada film seri Constantine tidak diperankan oleh Keanu Reeves seperti pada versi film layar lebarnya. Pada film seri Constantine, John Constantine (Matt Ryan) bekerja sebagai detektif supranatural yang menggunakan kekuatan dan kemampuannya untuk menyelesaikan kasus supranatural, yaaa kurang lebih kasus-kasusnya mirip seperti kasus-kasusnya film seri Grim dan film seri Supranatural. Mulai dari kesurupan, kerasukan, voodoo, arwah penasaran, pemanggilan arwah dan lain-lain. Jangan harap melihat Constantine bertemu tuyul atau pocong yaaa, lawan-lawan Constantine adalah mahluk supranaturalnya bule :D. Cara yang dipergunakan pun lebih ke arah menggunakan mantra dan mencari titik lemah setiap lawan. Constantine hanya manusia biasa yang memiliki pengetahuan luas dalam mengatasi masalah-masalah supranatural dan tidak memiliki kekuatan super seperti Flash atau Superman.

Constantine 8

Constantine 15

 

 

Constantine 6

Constantine 7

Constantine 16

Constantine 19

Constantine 18

Constantine 13

Constantine 11

Dalam melaksanakan tugasnya, Contantine terkadang dibantu oleh tokoh-tokoh lain seperti Zed Martin (Angélica Celaya), Francis “Chas” Chandler (Charles Halford), Papa Midnite (Michael James Shaw) dan Manny (Harold Perrineau). Zed memiliki kemampuan untuk melihat masa lalu dan kejadian yang sedang terjadi di tempat lain. Chas memiliki kemampuan untuk sembuh dengan secepat kilat, tokoh ini seperti tidak bisa mati. Papa Midnite adalah ahli voodoo yang menguasai berbagai mantra seperti Constantine. Manny adalah malaikat yang awalnya hanya mengamati Constantine saja, tapi lama kelamaan ia justru ikut campur pada berbagai kasus-kasus yang Constantine kerjakan.

Constantine 2

NUP_165540_4201.JPG

Constantine 17

Kawan kadang menjadi lawan dan lawan kadang menjadi lawan. Jadi tokoh-tokoh di atas tidak selalu menjadi lawan atau teman bagi Constantine. Itulah yang saya suka dari film seri Constantine meskipun kasus-kasusnya tidak terlalu menarik.

NUP_165267_1429.JPG

Constantine 20

Penampakan Constantine versi film seri ini lebih menyerupai dengan penampakannya di dalam komik. Untunglah tidak semua kelakuan amoral Constantine versi komik tidak diangkat di film seri Constantine. Constantine pada film seri digambarkan sebagai seorang perokok yang gemar mabuk-mabukan dan main perempuan, kalau versi komiknya? Lebih amoral lagi, kurang cocok bagi budaya bangsa Indonesia , cie ciee kok jadi nasionalis begini? :’P.

Constantine 3

Constantine 9

Constantine 14

Sebenarnya saya lebih senang dengan superhero yang benar-benar memiliki kekuatan super, tapi secara keseluruhan film seri Constantine lumayan menghibur dan layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.dccomics.com/tv/constantine