L.A. Confidential (1997)

L.A. Confidential (1997) sebenarnya sudah lama masuk ke dalam daftar tonton saya. Tapi baru beberapa hari yang lalulah saya sempat menonton film yang katanya sih bagus :). Film ini sering dibanding-bandingkan dengan Chinatown (1974) yang mendapatkan banyak pujian dari banyak kritikus film. Tapi yaaa terus terang, saya pribadi kurang suka dengan Chinatown (1974) v(^_^). Apakah L.A. Confidential (1997) akan mengalami nasib yang sama?

Mirip seperti Chinatown (1974), L.A. Confidential (1997) mengambil latar belakang kepolisian Los Angles lawas, dengan tambahan bumbu kehadiran perempuan penggoda yang dapat mendatangkan malapetaka. Los Angeles di tahun 1950-an sudah menjadi kotanya selebritis. Banyak wanita cantik dan pria tampan datang ke sana untuk berkarir di dunia hiburan. Di balik gemerlap Los Angles, terdapat pula berbagai tindak kriminal yang diorganisir oleh organisasi yang terstruktur.

Di dalam kepolisian Los Angles, terdapat 3 polisi yang berusaha menyelesaikan berbagai kasus kejahatan dengan caranya masing-masing. Tak disangka, pada perjalannya, mereka menemukan fakta yang dapat mencoreng nama baik rekan mereka sendiri. Di tengah-tengah konflik yang ada, hadir wanita penggoda yang diperankan oleh Kim Basinger.

Lynn Bracken (Kim Basinger) muncul di tengah-tengah penyelidikan kasus pembantaian sadis di dalam sebuah restoran. Jack Vincennes (Kevin Spacey), Wendell ‘Bud’ White (Russell Crowe) dan Edmund J. Exley (Guy Pearce) adalah 3 detektif yang secara langsung dan tak langsung, aktif terlibat di dalam penyelidikan. Berbeda dengan film-film detektif lainnya, ketiga tokoh sentral ini bukan partner. Mereka bahkan terkadang tidak saling suka karena masing-masing memiliki motif yang agak berbeda ketika melakukan penyelidikan ini.

Jack merupakan detektif divisi narkoba yang terkenal karena keterlibatannya di dalam sebuah acara TV. Jack memiliki banyak koneksi di dalam dunia hiburan Los Angles dan lebih senang menyelesaikan masalah dengan kecerdikannya. Berbeda denga Jack, Bud merupakan detektif divisi pembunuhan yang tegas, tempramental dan setia kawan. Karena masa lalu Bud yang kelam, emosi Bud sangat mudah tersulut ketika ada wanita yang sedang dalam bahaya. Bud tidak segan-segan melakukan kekerasan dan perbuatan diluar peraturan. Kebalikan dari Bud, Edmund adalah detektif divisi pembunuhan yang sangat ambisius dan taat dengan peraturan. Bagi Edmund, semuanya harus dilakukan berdasarkan peraturan yang ada. Edmund tidak segan-segan untuk menindak tegas rekan sesama detektif yang melanggar peraturan. Inilah yang menjadi awal mula kenapa Edmund dan Bud terkadang saling benci satu sama lain, keduanya memiliki watak dan cara kerja yang bertolak belakang. Jack hadir sebagai polisi cerdik yang mampu membaca situasi dan secara tidak langsung berperan sebagai penengah sehingga Bud dan Edmund tidak terus menerus saling bergesekan. Kevin Spacey tampil dengan gemilang dalam memerankan Jack, rasannya ia layak untuk memperoleh 1 Oscar lagi di film ini :D.

Jalan cerita L.A. Confidential (1997) agak berliku-liku, penonton seolah dibuat tidak tahu kemana arah film ini. Tapi cara penceritaannya terbilang sangat menarik dan jauh dari kata membosankan. Saya menikmati bagaimana ketiga datektif melakukan tugasnya masing-masing, hingga pada akhirnya mereka menemukan fakta akan hubungan antara kasus-kasus yang mereka tangani :D.

Saya rasa, L.A. Confidential (1997) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini jaaauuuuuh lebih bagus daripada Chinatown (1974). Bisa dibilang, L.A. Confidential (1997) adalah salah satu film detektif terbaik yang pernah saya tonton.

Sumber: http://www.warnerbros.com/la-confidential

Iklan

Murder at the Oriont Express (2017)

Orient Express

Novel-novel Trio Detektif -nya Alfred Hitchcock dan Agatha Christie menjadi bacaan saya ketika remaja. Saya memang senang membaca novel-novel misteri karya opa Alfred dan Oma Agatha. Novel-novel Agatha Christie yang saya baca, sering sekali menggunakan detektif eksentrik asal Belgia, Hercule Poirot, sebagai karakter utamanya :). Oleh karena itu, begitu salah satu karya Agtha Christie yang mengusung Poirot sebagai protagonis utamanya, dihadirkan ke layar lebar, saya berusaha menyempatkan diri untuk menontonya. Ahhh sayang sekali, karena berbagai kesibukan, saya baru sempat menontonnya di pesawat, menemani 8 jam perjalanan menuju Abu Dhabi @_@. Suasana pesawat yang kala itu gelap, dingin dan sedikit bergoyang, sepertinya cocok sekali untuk menonton film misteri yang latar belakangnya sebuah perjalanan jauh pula. Perjalanan Hercule Poirot (Kenneth Branagh) dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api pada Murder at the Oriont Express (2017).

Judul film ini sama persis dengan judul salah satu novel Agatha Christie yang pernah saya baca. Otomatis sebenarnya kurang lebih saya tahu siapa pembunuh di dalam film tersebut. Tapi saya sudah lupa motif dan prosesnya, maklum versi novelnya saya baca dahulu kala.

Orient Express

Pada Murder at the Oriont Express (2017), Poirot bepergian dari Istambul menuju London dengan menggunakan kereta api mewah, Oriont Express, yang diprediksi akan memakan waktu selama 3 hari. Wew, kok 3 hari yah? itu kereta mewah atau kereta siput? ;P Yaaaah maklum, latar belakang Murder at the Oriont Express (2017) adalah tahun 1934, Indonesia saja belum merdeka. Oriont Express merupakan kereta api berbahan batu bara yang mewah dan dilengkapi berbagai sarana seperti ruang makan yang luas, ruang duduk santai, meja bartender dan ruang tidur penumpang.

Orient Express

Oriont Express terus berjalan di tengah badai salju sampai akhirnya ia tergelincir dari jalurnya. Otomatis Oriont Express beserta penumpangnya, untuk sementara tidak dapat pergi kemana-mana sampai bantuan tiba. Justru di saat inilah Poirot menemukan sebuah kasus pembunuhan. Samuel Rattchet (Johnny Depp), salah satu penumpang Oriont Express, ditemukan tewas terbunuh di dalam kamar tidurnya dengan beberapa luka tusuk. Otomatis para penumpang dan kru Oriont Express menjadi tersangka utama kasus ini. Di sana terdapat Mary Hermoine Debenham (Daisy Ridley), Dr. Arbuthnot (Leslie Odom Jr.), Hector MacQueen (Josh Gad), Edward Henry Masterman (Derek Jacobi), Bouc (Tom Bateman), Pilar Estravados (Penélope Cruz), Princess Dragomiroff (Judi Dench), Gerhard Hardman (Willem Dafoe), Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer), Hildegarde Schmidt (Olivia Colman), Count Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin), Countess Helena Andrenyi (Lucy Boynton), Pierre Michel (Marwan Kenzari), Biniamino Marquez (Manuel Garcia-Rulfo), Sonia Armstrong (Miranda Raison) dan Hercule Poirot sendiri. Wah banyak juga yaaaa.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Ajaibnya, semakin lama, Poirot menemukan kenyataan bahwa mayoritas karakter-karakter yang ia temui di Oriont Express, memiliki motif untuk membunuh Ratchett. Ratchett memang bukan orang baik-baik. Ia memiliki banyak musuh dan terlibat sebuah kasus pembunuhan keji di masa lalu. Karena saya pernah membaca versi novelnya, kurang lebih saya ingat akan kasus yang melibatkan Ratchett di masa lalu. Bagaimana dengan penonton yang belum pernah membaca novelnya? Nah kalau di film ini, keterlibatan Rachett pada sebuah kasus di masa lampau, kurang dapat dijelaskan dengan gamblang. Kok ya tiba-tiba Poirot secara ajaib dapat mengaitkan Rachett dengan sebuah kasus di masa lalu? Ironisnya, penjelasan berikutnya adalah bagimana kasus tersebut menimbukan luka bagi banyak pihak. Penjelasan mengenai bagaimana kok Rachett lolos dan sebagainya relatif tidak jelas. Saya rasa ini merupakan benang merah yang tidak terjelaskan dengan baik.

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Orient Express

Selain kekurangan di atas, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) dapat menampilkan rasa penasaran akan kasus pembunuhan di atas kereta api tersebut. Pengambilan gambar di sudut-sudut kereta api yang sempit, nampak baik dan dapat mendukung isi cerita. Akhir ceritanya pun, sama seperti versi novelnya, relatif mengejutkan. Poirot yang sangat perfeksionis dan maniak akan keseimbangan, harus merelakan ketidaksempurnaan dan ketidakseimbangan terjadi di dalam kasus yang ia tangani. Saya lihat di sana terdapat beberapa aktor dan aktris senior yang terkenal seperti Michelle Pfeiffer, Penélope Cruz dan Willem Dafoe. Saya rasa hal ini dapat mengaburkan tebakan penonton akan siapa si pembunuh sebenarnya karena begitu melihat aktor atau aktris terkenal memerankan sebuah tokoh, hampir dapat dipastikan bahwa tokoh tersebut memegang peranan penting. Logikanya, mereka dibayar mahal tidak untuk memerankan peran figuran bukan? ;).

Orient Express

Dengan demikian, saya rasa Murder at the Oriont Express (2017) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Saya harap akan ada lagi kisah Hercule Poirot yang diangkat ke layar lebar. Jangan Sherlock Holmes saja, bosan.

Sumber: http://www.cluesareeverywhere.com

The Maltese Falcon (1941)

The Mantese Falcon

The Maltese Falcon (1941) merupakan film hitam putih yang disebut-sebut sebagai film detektif terbaik sepanjang masa. Saya sendiri sudah mendengar tentang film ini tapi baru sempat menontonnya beberapa minggu yang lalu, ketika anak istri sedang mudik. Mantese Falcon, yang menjadi judul film ini, adalah sebuah patung burung terbuat dari emas yang menjadi rebutan banyak orang. Intrik-intrik dalam perebutan patung inilah yang menjadi daya tarik The Maltese Falcon (1941).

Film ini diawali ketika seorang detektif swasta, Sam Spade (Humphrey Bogart), menyelidiki kematian rekannya yang sedang menyelidiki sebuah kasus atas permintaan Ruth Wonderly (Mary Astor). Semakin dalam Sam menyelidiki, semakin dalam pula keterlibatan Sam di dalam perebutan Mantese Falcon. Dalam perebutan Mantese Falcon, Sam terpaksa harus berhadapan dengan Joel Cairo (Peter Lorre), Kasper Gutman (Sydney Greenstreet) dan Wilmer Cook (Elisha Cook Jr.). Selain itu pihak kepolisian terus mencurigai Sam atas terbunuhnya rekan Sam. Ada indikasi Sam membunuh rekannya agar Sam dapat menikahi istri rekan Sam sendiri.

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

The Mantese Falcon

Di sini terlihat bahwa Sam bukanlah orang suci, tapi Sam tetap merupakan detektif handal yang cerdik. Karakter Sam yang keras dan dingin, diperankan dengan sangat baik oleh Opa Bogart. Pada film ini ia memang menjadi pusat perhatian dan nampak menonjol.

The Mantese Falcon

Pada dasarnya The Maltese Falcon (1941) sangat minim latar belakang tempat kejadian dan relatif hanya didominasi oleh dialog-dialog antara Sam, Ruth, Joel, Kasper dan Wilmer. Sebagai karakter yang sesekali muncul selain mereka hanya ada sekretaris Sam, kapten kapal dan 2 orang polisi. Sangat sedikit sekali yaaaa :’D. Tapi saya rasa inilah yang menakjubkan dari The Maltese Falcon (1941). Keseluruhan film terasa menarik untuk diikuti. Jalan cerita dan dialog-dialognya terbilang bagus dan mampu membuat saya penasaran. Mereka dapat melakukan itu semua tanpa special effect abad 21 atau ribuan figuran loh, kereeeen.

The Mantese Falcon

Sudah pasti The Maltese Falcon (1941) merupakan salah satu film misteri dan detektif terbaik yang pernah saya tonton. The Maltese Falcon (1941) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Chinatown (1974)

chinatown1

Sewaktu ditinggal istri mudik beberapa minggu yang lalu, saya memilih untuk menonton film-film misteri atau detektif. Pilihan saya jatuh ke film detektif lawas yang sempat populer di masanya, Chinatown (1974). Pada film ini dikisahkan bahwa J.J. “Jake” Gittes (Jack Nicholson) menyelidiki kasus dugaan perselingkuhan yang berkembang menjadi kasus pembunuhan. Jake merupakan detektif swasta dengan spesialisasi kasus-kasus perceraian. Sebelum menjadi detektif swasta, Jake sempat menjadi detektif kepolisian di wilayah Chinatown atau Pecinaan. Apakah inilah kenapa judul film ini Chinatown? Hhmmm, saya rasa antara ya dan tidak.

chinatown7

Pengalaman Jake bekerja di Pecinaan menyisakan berbagai kenangan pahit yang sepertinya terpaksa harus terulang kembali. Berbeda dengan sekarang, Pecinaan di era tersebut memang seperti daerah yang tidak terlalu dipedulikan sehingga berlaku hukum rimba di sana. Apa yang terjadi di Pecinaan tidak akan dipedulikan dan akan tetap menjadi rahasia umum orang-orang Pecinaan.

Jake tidak mempedulikan atas pengalaman di Pecinaan dan terus berusaha melakukan hal yang benar. Apa hasilnya? Aahhh, jauh dari kata memuaskan, jangan harap Chinatown (1974) memiliki akhir yang bahagia bak dongeng Putri Salju. Akhir dari film ini sangat tidak menyenangkan dan seolah mengajarkan untuk tidak berusaha melalukan hal yang benar hehehehe. Mungkin pesan moralnya lebih ke arah kalaupun melakukan sesuatu yang benar dan gagal, maka terimalah sebab takdir tak dapat diubah :’/.

chinatown4

chinatown5

chinatown6

chinatown3

Terlepas dari akhir yang kurang saya sukai, alur film ini menarik dan saya menikmati ketika melihat bagaimana Jake melakukan penyelidikannya. Terdapat banyak belokan dan kejutan di sana dan di sini. Bahkan dapat dikatakan terdapat sebuah kejutan akan perbuatan asusila yang jarang ditemui pada saat Chinatown (1974) dirilis.

chinatown2

Walaupun didukung akting Jake Nicholson yang meyakinan, saya rasa Chinatown (1974) hanya dapat memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Ini hanya pendapat pribadi lhooo, maaf kalau berbeda, sebab di luar sana film ini dianggap sebagai salah satu film detektif terbaik sepanjang masa.

Zootopia (2016)

zootopia1

Zootopia (2016) adalah film animasinya Walt Disney yang bercerita mengenai kota Zootopia. Apa istimewanya Zootopia? Kota tersebut dihuni oleh berbagai hewan, mulai dari yang mungil sampai yang besar, mulai dari herbivora sampai karnivora. Divergensi merupakan daya tarik Zootopia, semua dapat menjadi apapun. Setidaknya itulah yang Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) percaya sejak kecil.

zootopia11

Jody merupakan seekor kelinci yang tumbuh dipeternakan wortel milik keluarganya. Sejak kecil ia bercita-cita untuk menjadi polisi, sebuah pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh hewan-hewan bertubuh besar seperti gajah, banteng, macan dan lain-lain. Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya Judy berhasil menjadi kelinci pertama yang menjadi polisi dan ditugaskan di kepolisian Zootopia. Sayang karena tubuhnya yang mungil dan stigma bahwa kelinci itu “imut” dan kurang “garang”, maka iapun disepelekan dan diberikan tugas sebagai penjaga parkir oleh atasannya.

zootopia10

zootopia9

zootopia7

zootopia6

Apakah Judy menerima nasibnya begitu saja? Tentu tidak. Pada suatu kesempatan, Judy berhasil mendesak atasannya agar Judy ditugaskan untuk mencari hewan yang hilang, sebuah tugas yang lebih serius dan dapat dijadikan ajang pembuktian.

zootopia4

zootopia8

Untuk melacak hewan yang hilang, Judy bekerjasama dengan Nicholas P. “Nick” Wilde (Jason Bateman), seekor rubah yang berprofesi sebagai penipu karena stigma di masyarakat yang menganggap bahwa rubah merupakan hewan cedik namun licik, tidak dapat dipercaya. Hey bukankah di Zootopia kabarnya semua dapat menjadi segalanya? Aahhh slogan, hanyalah slogan. Stigma masyarakat terhadap hewan tertentu terus menempel walaupun cap tersebut belum tentu benar.

zootopia3

zootopia5

zootopia2

Di sini Judy dan Nick harus dapat membuktikan bahwa cap masyarakat terhadap suatu jenis hewan tertentu tidaklah tepat. Judy yang dimasa kecilnya pernah berselisih dengan rubah, harus dapat bekerjasama dengan rubah lain yang sifatnya belum tentu sama dengan rubah yang Judy temui saat ia masih kecil dulu.

Saya lihat Zootopia (2016) berhasil memberikan cerita dengan pesan moral yang baik dengan balutan humor dan gambar yang bagus pula. Ceritanya memang tidak terlalu lucu, tapi unsur misterinya relatif terlihat meskipun saya sudah dapat menebak siapa penjahat sesungguhnya di pertengahan cerita. Jarang-jarang nih ada film detektif seperti Zootopia (2016).

Akhir kata, Zootopia (2016) sekali lagi menunjukkan kepada saya bahwa Walt Disney masih mampu membuat film yang bagus di tengah-tengah persaingan yang sengit. Lihat saja tahun 2016 ini ada berapa film animasi yang masuk bioskop. Saya rasa Zootopia (2016) layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.



Sumber: http://www.disneyanimation.com/projects/zootopia

Serial NCIS, NCIS: Los Angeles & NCIS: New Orleans

ncis1

Awalnya saya pikir serial NCIS adalah serial CSI kawe 2, karena singkatan NCIS agak asing bagi saya dan pertama kali saya melihat iklan NCIS adalah ketika serial CSI sedang berjaya. Serial NCIS sendiri hadir pertama kali pada tahun 2003. Kemudian hadir 2 spin off dari serial ini yaitu serial NCIS: Los Angeles pada 2009 dan serial NCIS: New Orleans pada 2014.

Serial NCIS yang hadir mulai tahun 2003 menghadirkan sekelompok tim NCIS di bawah pimpinan Leroy Jethro Gibbs (Mark Harmon) yang kharismatik dan penuh pengalaman. Dalam menjalankan tugasnya, Gibbs dibantu oleh agen-agen lain seperti Anthony DiNozzo (Michael Weatherly), Timothy McGee (Sean Murray), Abby Sciuto (Pauley Perrette), Donald “Ducky” Mallard (David McCallum) dan lain-lain. Mereka bekerja di markas NCIS Washington DC dan menangani kasus-kasus NCIS di sekitar Washington DC. Di sela-sela penanganan kasus, serial ini membubuhkan beberapa komedi ringan yang mayoritas disumbang oleh DiNozzo, tapi entah kenapa lelucon yang dihadirkan terasa hambar bagi saya pribadi, hohohoho.

ncis13

ncis6

ncis7

ncis9

Sementara itu pada NCIS: Los Angeles dikisahkan bahwa NCIS bekerja sama dengan kepolisian Los Angeles dengan membentuk sebuah satuan tugas khusus. Di sana terdapat G. Callen (Chris O’Donnell), Sam Hanna (LL Cool J), Kensi Blye (Daniela Ruah), Marty Deeks (Eric Christian Olsen), Eric Beale (Barrett Foa), Nell Jones (Renée Felice Smith) dan lain-lain. Di sini terdapat banyak terjadi “cinta lokasi”, jadi saya lihat banyak terdapat flirting antara Kensi dan Deeks yang pada akhirnya sempat menjadi pasangan kekasih. Selain mereka ada pasangan lagi yang agak malu-malu kucing yaitu Eric dan Nell. Whaa bagaimana dengan Callen dan Sam? Mereka bukan pasangan LGBT kok hehehehe. Sam dan Callen adalah ujung tombak NCIS cabang Los Angeles yang handal.

ncis-la8

ncis-la4

Belum puas dengan 1 spin off, NCIS kembali menghadirkan 1 spin off lagi yaitu NCIS: New Orleans. Mengambil kotanya musik blues yang tidak seramai Washington dan Los Angeles, tim NCIS pada serial NCIS: New Orleans ini menangani berbagai kasus di sekitar sungai Missisipi sampai Texas. Dwayne Cassius Pride (Scott Bakula) hadir sebagai Gibbs-nya NCIS: New Orleans. Pride merupakan pemimpin tim NCIS cabang New Orleans yang memiliki ciri fisik dan karakteristik mirip dengan karakter Gibbs pada serial NCIS. Pride dibantu pula oleh beberapa agen NCIS seperti Christopher LaSalle (Lucas Black), Sebastian Lund (Rob Kerkovich), Loretta Wade (CCH Pounder), Patton Plame (Daryl “Chill” Mitchell) dan lain-lain. Mirip seperti serial NCIS, serial NCIS: New Orleans juga menyisipkan beberapa lelucon ringan. Bedanya, lelucon ringan NCIS: New Orleans rasanya lebih mengena dan tidak ketinggalan jaman. Latar belakang kota New Orleans pun memberikan nuansa yang berbeda pada serial ini. Rasanya saya paling suka dengan serial NCIS: New Orleans dibandingkan 2 serial NCIS lainnya.

ncis-orleans3

ncis-orleans2

ncis-orleans5

ncis-orleans6

ncis-orleans1

ncis-orleans7

ncis-orleans4

Apapun serialnya, setiap tim NCIS pada ketiga serial di atas pasti terdiri dari tim lapangan, ahli IT dan ahli otopsi. Mereka memadukan keahlian masing-masing untuk menyelesaikan kasus-kasus NCIS yang bernuansa polisi dan militer. Tapi tunggu dulu, NCIS memangnya kepanjangan dari apa sih? NCIS sendiri sebenarnya ternyata merupakan kepanjangan dari Naval Crime Ivestigative Service dan lembaga ini ternyata memang benar-benar ada di Amerika sana loh. Ah jelas saja saya tak kenal NCIS, NCIS memang kalah pamor dibandingkan FBI dan CIA yang sering sekali diangkat di film-film. Tujuan dari NCIS sendiri adalah menyelidiki dan menggagalkan segala kegiatan kriminal, terorisme dan espionase asing yang berhubungan dengan korps marinir dan angkatan laut Amerika Serikat.

Dengan demikian maka kasus-kasus yang hadir pada serial NCIS akan selalu berkaitan dengan korps marinir dan angkatan laut Amerika Serikat. Ingat, Amerika Serikat :’D. Saya tekankan kata-kata Amerika Serikat karena serial NCIS menampilkan kisah dengan latar belakang sesuai politik Amerika Serikat yang sangat memihak Israel dan sangat hobi memburu teroris di Timur Tengah. Tapi saya perhatikan mayoritas kasus-kasus yang diangkat pada serial NCIS merupakan kasus kriminal yang tidak berhubungan dengan misi atau tugas seorang tentara Amerika Serikat. Tapi yaaa sekalinya kisah yang diangkat berhubungan dengan tugas seorang tentara, yaaa sudah bisa ditebak, Israel akan menjadi kekasih tercinta NCIS dan wilayah Timur Tengah seolah menjadi sarang teroris. Aahhhh serial ini sangat Amerika sekali.

Secara garis besar, kasus-kasus yang dihadirkan terbilang biasa saja dan saya kurang suka dengan keberpihakan Amerika yang kadang terlalu ditonjolkan pada ketiga serial di atas. Saya rasa ketiganya masih bisa untuk untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Tidak jelek tapi tidak bagus juga, yaaaa begitulah, lumayan untuk dijadikan hiburan ringan.

Serial Sherlock

Sherlock1

Siapa yang tak kenal Sherlock Holmes? Detektif Inggris paling terkenal di dunia. Pada awalnya, tokoh karangan Sir Arthur Conan Doyle ini muncul di majalah-majalah pada tahun 1887. Latar belakang kisah-kisah Sherlock Holmes pun seputaran Inggris era 1880-an sampai 1914-an. Kemudian Sherlock muncul di novel-novel dan beberapa film, salah satunya adalah film seri produksi BBC yaitu Sherlock.

Pada serial Sherlock, dikisahkan bahwa Sherlock Holmes (Benedict Cumberbatch) hidup di abad 21. Bersama-sama dengan sahabat karibnya, Dr. John Watson (Martin Freeman), Sherlock menangani berbagai kasus misterius. Pada awalnya kasus-kasus yang Sherlock tangani merupakan kasus-kasus yang pernah dikisahkan Sir Arthur Conan Doyle zaman dahulu kala, tapi kisah tersebut diadaptasi sehingga cocok dengan keadaan abad 21, bukan abad 18. Adaptasi dari kisah-kisah ini cukup menghibur karena dilakukan dengan takaran yang tepat. Kemudian mulai muncul kisah-kisah yang tidak dikisahkan pada cerita Sherlock Holmes asli karya Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah tersebut juga termasuk lumayan bagus, dapat membuat saya penasaran.

Sherlock2

Sherlock7

Sherlock Sherlock12

Lama kelamaaan nama Sherlock semakin meroket dan dikenal publik Inggris, ia pun menghadapi lawan-lawan yang semakin menantang seperti Jim Moriarty (Andrew Scott) dan Charles Augustus Milverton (Lars Mikkelsen). Keduanya merupakan tokoh antagonis cerdik yang mampu membuat Sherlock mati langkah. Saya melihat penyelesaian tak terduga dari Sherlock ketika menghadapi keduanya meskipun saya melihat beberapa celah pada beberapa ceritanya. Pada beberapa kesempatan, rasanya kedua lawan Sherlock tersebut memiliki kesempatan dan kekuatan untuk membunuh Sherlock, tapi Sherlock tetap hidup karena lawannya terlalu banyak bicara atau terlalu menikmati persaingan melawan Sherlock :’D.

Sherlock15

Sherlock10

Yaaah, lawan-lawan Sherlock memang agak eksentrik seperti Sherlock. Menurut saya, keunikan serial Sherlock produksi BBC  ini dibandingkan Sherlock-Sherloc-kan lainnya adalah karakter eksentrik Sherlock holmes yang Benedict Cumberbatch bawakan. Sherlock Holmes versi Benedict agak arogan, sombong, narsis, anti sosial, seenaknya sendiri dan kurang pintar dalam hal perasaan. Di sinilah gunanya Watson, Watson dapat menyeimbangkan kekurangan Sherlock tersebut sehingga Sherlock dapat memanfaatkan ketelitian dan kecemerlangan otaknya untuk memecahkan kasus yang ada di depan mata. Sherlock memiliki istana pikiran yang mampu menghasilkan analisa cemerlang khas Sherlock Holmes.

Sherlock8

Sherlock5

SHERLOCK

Sherlock6

Aaahhh sayang kedekatan Sherlock dengan Watson terkadang dianggap seperti hubungan gay bagi beberapa rekan saya yang memiliki fantasi agak menyimpang :P, saya rasa kedekatan mereka masih dalam batas wajar. Dahulu kala, ketika LGBT belum seperti sekarang ini, melihat 2 sahabat pria kemana-mana berdua bukanlah hal yang “mencurigakan”. Sekarang? yaaah jadi ada praduga aneh-aneh, apalagi kalau keduanya belum menikah, kalaupun sudah menikah nanti dibilang AC-DC :P.

Sherlock14

Terlepas dari hal di atas, serial Sherlock mampu menghibur saya. Terlebih lagi serial ini lebih memilih untuk menghasilkan episode yang jam tayangnya lebih panjang daripada menghasilkan episode-episode dengan jam tayang yang lebih singkat tapi terus bersambung. Tak heran kalau dalam 1 musim pemutaran Sherlock, hanya ada 3 episode. Saya kurang suka dengan serial-serial yang bersambuuuuung terus di setiap episodenya, kecuali kalau serial tersebut memang benar-benarrr menarik. Walaupun bukan serial detektif terbaik yang pernah saya tonton, Sherlock masih layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus” :).

 Sumber: www.bbc.co.uk/programmes/b018ttws