Serial Elena of Avalor

Elena merupakan putri latin pertama yang Disney miliki. Kerajaan Avalor dan dunia dari film seri ini sangat dipengaruhi oleh budaya Amerika Latin. Kehadiran film seri Elena of Avalor sendiri diawali dari sebuah kisah dari Serial Sophia the First. Dikisahkan bahwa selama ini, kalung ajaib yang Sofia miliki ternyata merupakan penjara yang mengurung Elena (Aimee Carrero).

Elena merupakan putri mahkota Kerajaan Avalor yang saat itu sedang dikuasai oleh seorang penyihir jahat. Berkat bantuan Sofia, Elena akhurnya dapat bebas dan kembali menguasai Avalor. Karena umurnya yang masih belia dan kurangnya pengalaman, Elena memerintah Avalor dengan didampingi oleh sebuah majelis yang beranggotakan kakek nenek Elena, sepupu Elena, penyihir kerjaan dan sahabat-sahabat Elena lainnya. Sayang sifat Elena yang keras terkadang membuatnya mengambil keputusan sendiri tanpa menpedulikan apa kata majelis. Elena merupakan pemimpin yang cenderung lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya dibandingkan apa kata orang lain. Hal ini beberapa kali membawa Elena dan Avalor ke dalam masalah, tapi karena memang niat Elena selalu baik, maka teman dan keluarga Elena selalu siap mendukung dan menolong. Bagaimanapun juga, Elena dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak karena Elena selalu menolong, pantang menyerah dan bersedia mengakui kesalahannya serta memperbaiki kesalahan tersebut walaupun ia merupakan penguasa tertinggi sebuah kerajaan.

Berbeda dengan putri-putri Disney lainnya, Elena memiliki kekuatan sihir yang semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini karena secara tidak sadar, Elena menyerap kekuatan sihir selama terjebak di dalam kalung Sofia.

Dunia yang menjadi latar belakang Elena merupakan dunia yang penuh dengan keajaiban dan sihir. Sebagai tunggangan saja, Elena dan kawan-kawan biasa menaiki Jaquin, sebuah mahluk ajaib yang merupakan perpaduan antara jaguar dan burung. Wujudnya mirip macan tutul bersayap. Ini adalah sesuatu yang berbeda sebab biasanya kuda-lah yang menjadi hewan ajaib bersayap.

Film seri ini memenuhi beberapa persyaratan untuk disukai oleh anak-anak, namun sayang jalan cerita yang disajikan sering kali tidak terlalu menarik. Selain itu, tidak ada tokoh atau mahluk “imut” atau kejadian lucu pada film seri ini, sehingga anak saya sendiri kadang kehilangan minat untuk menonton Elena of Avalor.

Oleh karena itulah film seri anak yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum yang artinya “Lumayan”. Yaaah paling tidak film seri ini relatif aman ditonton oleh anak-anak karena tidak ada konten dewasa di sana.

Sumber: disneychannel.ca/show/elena-avalor/

Iklan

Frozen (2013)

Walt Disney sudah merilis banyak sekali film animasi dengan tema putri-putri-an. Sampai-sampai ada istilah Disney Princes yang hadir dalam berbagai barang dagangan Disney :’D. Yaaaah, setiap beberapa tahun, Disney rajin menambah jumlah Disney Princess mereka.

Kisah-kisah putri-putrian klasik yang Disney angkat, banyak berkutat pada kisah cinta putri dan pangeran dimana pada akhirnya sang putri dan pangeran hidup bahagia selamanya. Lihhat saja Snow White and the Seven Dwarfs (1937), Cinderella (1950), Sleeping Beauty (1959), The Little Mermaid (1989). Bagi saya pribadi, tidak ada yang menonjol diantara kisah-kisah tersebut karena kiasahnya bersifat universal dan sudah ada banyak didongengkan oleh pihak lain selain Disney.

Kemudian Disney merubah kisah putri yang diangkat sedemikian rupa sehingga kisah cintanya menjadi kisah cinta tak biasa antara sang putri dengan seeorang yang pangkatnya bukan pangeran, tapi yaaaaa masih cinta-cintaan sih. Semua dapat dilihat pada Beauty and the Beast (1991), Aladdin (1992), Pocahontas (1995), Mulan (1998), The Princess and the Frog (2009) dan Tangled (2010). Bagi saya pribadi, Mulan (1998) terbilang sangat menghibur dan lucu. Sedangkan Pocahontas (1995) terlalu ingin memberikan banyak pesan moral dan memberikan kisah yang membosankan. Aaahhh saya masih belum menemukan Disney Princess yang benar-benar ok kecuali Mulan (1998).

Akhirnya, Disney benar-benar melepaskan drama cinta-cintaan pada Brave (2012). Film ini lebih mengisahkan mengenai hubungan antara ibu dan anak ketimbang lamaran dari pangeran atau kepala suku. Film ini lebih mendidik dan cocok untuk ditonton anak saya yang masih Playgroup ketimbang film-film Disney Princes sebelumnya ;). Tapi yaaaa ceritanya kok ya rasanya datar-datar saja, kurang lucu dan putri saya pun tak terlalu tertarik dengan Brave (2012).

Kemudian … pada 2013, Disney merilis Frozen (2013) yang terbilang fenomenal karena sampai 2018 saja, pernak pernik Frozen (2013) masih laku di pasaran. Inilah film kartun favorit anak saya. Dengan didukung sountrack “Let It Go” yang enak didengar, cerita yang menarik, dan animasi yang lumayan ok, Frozen (2013) terus mendulang popularitas. Sampai-sampai, Disney memisahkan produk-produk Frozen (2013) dari Disney Princes karena Frozen (2013) dianggap cukup perkasa untuk berdiri sendiri.

Memang bercerita tentang apa sih Frozen (2013) itu? Film ini mengisahkan tentang hubungan kakak adik yang bermasalah karena si kakak memiliki kekuatan yang sulit tuk dikendalikan. Alkisah Raja dari Negeri Arendelle memiliki 2 putri yang saling menyayangi dan sering bermain bersama. Namun, sebuah insiden membuat si kakak, Elsa (Idina Menzel) menjaga jarak dan tidak mau bermain dengan adiknya lagi, Elsa (Kristen Bell). Akses Elsa terhadap dunia luar pun dibatasi. Pelayan dan petugas yang berinteraksi dengan Elsa dibatasi jumlahnya. Kenapa yaaa?

Sejak kecil, Elsa, memiliki kekuatan untuk mengendalikan es dan salju. Sayang ia mengalami kesulitan untuk mengendalikan kekuatan tersebut, sampai-sampai ia tidak sengaja melukai Anna ketika bermain. Masalah ini terus berlanjut hingga Elsa dan Anna tumbuh dewasa, bahkan ketika Sang Raja dan Ratu Arendelle tewas dalam sebuah kecelakaan. Mau tak mau, Elsa harus muncul di depan publik untuk naik tahta menjadi Ratu Arendelle.

Disinilah konflik antara Anna dan Elsa meruncing. Keduanya bertengkar dan Elsa tidak sengaja mengeluarkan kekuatan yang belu dapat ia kendalikan. Merasa berbeda, malu dan disudutkan, Elsa melarikan diri dan pergi keluar dari Arendelle untuk berubah menjadi Ratu Es yang tinggal di Istana Es yang megah. Anak saya senang sekali dengan Istana Es ini melebihi Istana milik negeri Arendelle :’D. Istana pulalah yang menjadi mayoritas latar belakang video klip OST (Original Soundtrack) Frozen (2013), Let It Go. Let It Go inilah yang menjadi awal mula anak saya senang dengan Frozen (2013). Saya pribadi, mengakui bahwa OST yang satu ini adalah OST terbaik sampai saat ini :D. Saya saja, lebih dulu mendengarkan lagu Let It Go, barulah saya menonton filmnya hehehehe.

OST yang bagus, diikuti pula dengan cerita putri-putrian yang berbeda dengan cerita putri klasik seperti Putri Salju dan kawan-kawan. Frozen (2013) mengisahkan bagaimana Anna, sekuat tenaga berusaha membawa pulang Elsa dan menghentikan badai salju yang Elsa, Sang Ratu Es, buat. Dalam perjalanannya, Anna dibantu oleh Olaf (Josh Gad), Kristoff (Jonathan Groff) dan Sven (Frank Welker). Di sini terdapat sedikit twist dimana seolah-olah Frozen (2013) adalah kisah cinta beda kasta yaitu antara Anna dan Kristoff. Padahal fim ini tetap konsisten bercerita mengenai hubungan adik-kakak. Kisah cinta-cintaan hanyalah bumbu tambahan yang masih aman ditonton oleh penonton cilik.

Kisah dan tokoh yang menarik, pesan moral yang baik, serta didukung oleh OST yang enak sekali, tentunya menjadi nilai plus Frozen (2013). Saya rasa Frozen (2013) sudah selayaknya memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: https://frozen.disney.com

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

Big Hero 6 (2014)

Big Hero 6 1Trailer film Big Hero 6 (2014) sudah sering diputar setiap pertunjukkan di bioskop yang akan saya tonton akan dimulai. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya film animasi yang konon diambil dari salah satu komik Marvel ini akhirnya hadir di Indonesia :). Beberapa tahun yang lalu, Disney membeli hak cipta Big Hero 6 dari Marvel untuk dibuat film versi layar lebarnya. Tapi jangan berharap untuk bertemu dengan Iron Man atau X Man sebab Disney melakukan beberapa modifikasi terhadap latar belakang sebagain besar karakter termasuk latar belakang kota tempat kejadian-kejadian yang terjadi pada film Big Hero (2014) terjadi. Big Hero (2014) mengambil latar sebuah kota fiksi yang merupakan kombinasi antara Tokyo & San Francisco, kota khayalan yang cukup keren menurut saya :). Hal-hal inilah yang membuat Big Hero 6 (2014) versi film akan berbeda dengan Big Hero versi komik, komik yang saya pribadi belum pernah baca. Komik Big Hero 6 memang tidak populer di Indonesia sehingga saya pribadi tidak memiliki masalah dengan perbedaan yang hadir pada Big Hero (2014).

Big Hero 6 16 Big Hero 6 18

Pada Big Hero (2014), dikisahkan bagaimana Hiro Hamada (Ryan Potter), seorang anak jenius yang sudah lulus SMA pada usia 13 tahun, berusaha masuk ke dalam San Fransokyo’s Institute of Technology. San Fansokyo Agar Hiro dapat diterima di Universitas tersebut, Hiro harus memperagakan hasil karyanya yang terbaru pada sebuah acara eksebisi yang diadakan oleh pihak Universitas. Pada acara tersebut, Hiro berhasil mempesona tim juri yang dipimpin oleh Profesor Robert Callaghan (James Cromwell) beserta seluruh pengunjung eksebisi. Hiro menampilkan robot nano yang dapat dikendalikan oleh pikiran. Dengan peragaan yang spektakuler tersebut, Hiro akhirnya lolos dan mendapatkan surat penerimaan langsung dari Profesor Callaghan setelah Hiro turun dari panggung. Sayang, ketika Hiro akan pulang dan merayakan keberhasilannya bersama teman-temannya, terjadi kebakaran yang meledakkan ruangan eksebisi. Bukan hanya robot nano Hiro yang hangus terbakar, tapi kakak Hiro dan Profesor Callaghan pun masih ada di dalam ruangan eksebisi ketika ruangan tersebut meledak.

BIG HERO 6

Hiro kaget bukan main ketika beberapa minggu setelah kebakaran tersebut terjadi, ada sesosok manusia bertopeng kabuki misterius yang memiliki jutaan robot nano, robot nano ciptaan Hiro yang seharusnya sudah hancur terbakar pada kecelakaan di gedung eksebisi. Manusia bertopeng tersebut pasti meledakaan ruangan eksebisi untuk mencuri robot ciptaan Hiro. Berhubung ledakan tersebut juga merenggut kakak satu-satunya Hiro, Hiro menjadi sangat termotivasi untuk melacak keberadaan manusia bertopeng tersebut.

BIG HERO 6

Big Hero 6 15

Tidak mungkin anak kecil berusia belasan tahun dapat melacak manusia misterius tersebut sendirian. Hiro mendapat bantuan dari Baymax (Scott Adsit), robot putih gendut yang diprogram untuk menolong oleh almarhum kakak Hiro. Baymax pulalah yang awalnya berhasil membuat Hiro bangkit, bangkit dari kesedihan karena ditinggal kakak satu-satunya. Karena perjalanan yang akan Hiro tempuh penuh bahaya, maka Hiro memasukkan program bela diri kepada Baymax, selain itu Hiro juga melengkapi baymax dengan kostum dan persenjataan yang canggih.

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

BIG HERO 6

Big Hero 6 14

BIG HERO 6

Dalam perjalanannya Hiro & Baymax juga bertemu dengan teman-teman almarhum kakak Hiro yang sekarang telah menjadi teman sekampus Hiro di Universitas yaitu Fred (T. J. Miller), Gogo Tomago (Jamie Chung), Wasabi (Damon Wayans) dan Honey Lemon (Génesis Rodríguez). Keempat teman baru Hiro pun dilengkapi dengan berbagai alat canggih. Lengkap sudah keenam anggota superhero Big Hero 6.

BIG HERO 6Big Hero 6 13

Big Hero 6 22

Big Hero 6 20

Big Hero 6 17

Big Hero 6 24

Saya melihat peranan Hiro & Baymax lebih dominan dibandingkan peranan anggota Big Hero 6 lainnya. Keduanya menunjukkan bagimana sahabat saling tolong baik disaat senang maupun disaat susah. Kalau ditanya siapa karakter favorit saya dalam Big Hero (2014), pastilah Baymax jawabnya. Tingkah konyolnya berhasil mengocok perut para penonton. Sayang, sebagian besar tingkah Baymax sudah ditampilkan pada trailer yang beberapa kali saya tonton. Walaupun tetap lucu, relatif tidak banyak adegan lucu yang benar-benar baru ketika saya pertama kali menonton Big Hero (2014) kemarin.

BIG HERO 6

Big Hero 6 23

Big Hero 6 12

Dari segi cerita, Big Hero (2014) sangat mudah ditebak dan sangat sederhana. Dari awal film pun saya sudah dapat menebak siapakah manusia bertopeng kabuki yang mencuri robot nano Hiro. Alur ceritanya memang bagus tapi tidak sebagus yang saya harapkan. Secara keseluruhan, Big Hero 6 (2014) layak untuk mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film yang cocok untuk ditonton bersama-sama dengan keluarga besar ;).

Sumber: movies.disney.com/big-hero-6

John Carter (2012)

John Carter (Taylor Kitsch) adalah tentara kemerdekaan pada perang saudara di Amerika yang tiba-tiba terbangun di dunia lain, dunia yang berisikan mahluk-mahluk asing beserta petualangan-petualangan baru yang menarik. Dunia ini dinamakan Barsoom, mahluk bumi seperti John memiliki kelebihan ketika berada di Barsoom. Seperti Superman ketika berada di Bumi, John juga memiliki kekuatan super yang berbeda dengan penduduk Barsoom. John dapat melompat tinggi sekali, tahan benturan dan kekuatan fisik yang di atas rata-rata.

Welcome to Barsoom

Si Botak & Kawan-Kawan

Dejah Thoris

Ketika John tiba di Barsoom, sedang terjadi pertempuran antara Barsoom dan Zodanga. Penguasa Zodanga yang dibantu oleh mahluk misterius berkepala plontos, sudah berada diambang kemenangan. Di sini John terpikat oleh Dejah Thoris (Lynn Collins), Putri Helium dan berusaha membantu negeri Helium untuk memenangkan peperangan. Akankah John mau pulang ke Bumi? Akankah Helium menang? Saya tidak akan menulis spoiler di blog ini, silahkan tonton sendiri DVD-nya walau ending film-film dari Walt Disney sudah gampang ditebak, pasti happy ending. Tapi untuk film yang 1 ini sepertinya memiliki ending yang agak sedikit berbeda.

Tarkas

Sand of Barsoom

Dejah & John

John Carter bukanlah film action yang memanjakan penonton dengan efek spesial yang memukau namun saya pribadi cukup senang dengan jalan ceritanya. Banyak kawan-kawan saya yang tidak merekomendasikan film ini karena membosankan. Tapi ketika saya melihatnya langsung, saya memiliki pendapat yang berbeda dengan mereka. Film ini sepertinya bukan film action murni, ada kisah cinta yang agak dominan di sini. Saya sendiri suka dengan cara akhir yang dipergunakan oleh John untuk dapat bersatu dengan putri Helium walau memang agak seperti antiklimaks dan kurang seru bagi penggemar film action. Saya pribadi menilai film ini dengan nilai 5 dari skala maksimial 5 yang artinya “bagus sekali”. Selera orang kan boleh beda-beda, hohohoho.

Sumber: http://disney.go.com/johncarter/