Aladdin (2019)

Bersama dengan Sinbad dan Ali Baba, Aladdin merupakan tokoh populer dari Hikayat 1001 Malam, sebuah kumpulan dari berbagai kisah-kisah petualangan yang menakjubkan. Konon Hikayat 1001 Malam berasal dari Baghdad di era pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Baghdad pada saat itu melakukan banyak perdagangan dengan bangsa India dan Cina. Jadi tidak heran kalau salah satu kisahnya mengambil Cina sebagai latar belakangnya. Loh Cina? Ya, kisah Aladdin yang sesungguhnya menggunakan wilayah Cina sebagai latar belakangnya, bukan Arab atau India. Tapi karena nama dan asal kisahnya, Disney menggunakan wilayah Timur Tengah sebagai latar belakang Aladdin (1992). Film animasi inipun melakukan sedikit perubahan di sana dan di sini. Tapi saya tetap suka sekali dengan Aladdin (1992), bahkan saya lebih suka dengan versi Disney ini ketimbang versi aslinya hehehehe.

Bertahun-tahun setelah kehadiran Aladdin (1992), Disney kembali merilis Aladdin versi live action. Hal yang sama pernah Disney lakukan pula pada Cinderella (2015) dan Beauty and the Beast (2017). Nampaknya Disney akan terus membuat versi live action dari film-film animasi yang pernah mereka produksi :).

Sangat mirip dengan Aladdin (1992), pada Aladdin (2019) dikisahkan hiduplah seorang pemuda miskin bernama Aladdin (Mena Massoud). Bersama dengan monyetnya, ia berprofesi sebagai pencuri untuk bertahan hidup. Walaupun profesinya tidak halal, sebenarnya Aladdin memiliki hati yang baik. Ia rela menolong siapapun yang membutuhkan, tak terkecuali Putri Yasmin (Naomi Scott) yang sedang menyamar sebagai penduduk biasa. Pertemuan pertama yang dipenuhi oleh adegan kejar-kejaran dengan Penjaga, diam-diam membuat Yasmin dan Aladdin tertarik satu sama lain.

Yasmin sendiri merupakan putri tunggal penguasa Negeri Agrabah. Sudah ada banyak pangeran datang melamar, namun semuanya Yasmin tolak mentah-mentah. Diam-diam Penasehat Raja, Jafar (Marwan Kenzari), berniat untuk mempersunting Yasmin dan menjadi penguasa Agrabah yang baru. Untuk memperlancar usahanya, Jafar mencari sebuah Jin yang sangat kuat, yang sudah ratusan tahun terkurung di dalam sebuah gua. Sayang tidak semua orang dapat masuk ke sana. Berdasarkan petunjuk yang Jafar dapatkan, kemungkinan seseorang yang bersifat seperti Aladdin-lah yang dapat masuk ke dalam gua tersebut.

Kemudian Jafar mengelabui Aladdin sehingga Aladdin bersedia masuk ke dalam sebuah gua misterius di tengah padang pasir. Di dalam gua inilah awal pertemuan Aladdin dengan karpet ajaib dan Jin (Will Smith). Aladdin memiliki jatah 3 permintaan yang dapat Jin kabulkan. Yaaah sudah pasti Aladdin menggunakan kekuatan Jin untuk meminang hati Yasmin. Jin tidak memiliki ilmu pelet ya, jadi yang dapat Jin lakukan paling tidak adalah membuat status sosial Aladdin naik drastis agar bisa 1 strata dengan Yasmin. Selanjutnya, semua tergantung Aladdin sendiri.

Awalnya, Aladdin yang lugu, menjanjikan kebebasan Jin sebagai permintaan ketiganya. Ia sudah menganggap Jin sebagai sahabatnya. Namun lama kelamaan, Aladdin semakin kecanduan dengan berbagai bantuan dari Jin. Apakah Aladdin akan memenuhi janjinya?

Kisah Aladdin (2019) mirip dengan Aladdin (1992) hanya saja ada beberapa bagian termasuk lagu yang diubah dan ditambahkan agar sesuai dengan selera penonton saat ini. Seperti Aladdin (1992), terdapar banyak tarian dan nyanyian pada Aladdin (2019). Hanya saja, karena ini versi live action, maka Aladdin (2019) nampak lebih megah dan kolosal. Saya kagum dengan kostum dan make-up yang digunakan pada Aladdin (2019).

Sayang, entah kenapa, kok Aladdin (2019) tidak semagis Aladdin (1992). Chemistry antara Yasmin dan Aladdin tidak terlalu kuat. Kemudian tokoh Jin pada Aladdin (2019) tidak selucu Jin pada Aladdin (1992). Ahhh sayang sekali, padahal saya sudah berharap banyak pada Aladdin (2019), terlebih lagi, Aladdin (1992) merupakan salah satu film kartun Disney yang saya sukai.

Melihat berbagai aspek di atas, saya rasa Aladdin (2019) berhak untuk mendapatkan nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Mau bagaimana juga, secara visual, film ini termasuk nyaman di lihat mata loh ;).

Sumber: movies.disney.id/aladdin

Iklan

Beauty and the Beast (2017)

Beauty & The Beast

Ketika masih kecil dulu, saya sempat menonton film seri Beauty and the Beast yang dibintangi oleh Linda Hamilton dan Ron Perlman, tanpa mengetahui bahwa film seri tersebut diambil dari sebuah dongeng karya Gabrielle-Suzanne Barbot de Villeneuve. Dongeng yang diterbitkan pada tahun 1740 ini kemudian hadir dalam berbagai versi dengan perubahan jalan cerita di sana dan di sini. Pada tahun 1991, Studio Walt Disney ikut merilis film animasi Beauty and the Beast yang terbilang cukup sukses. Berharap untuk mengulang kembali kesuksesan tersebut, Disney menghadirkan kembali dongeng Beauty and the Beast ke layar lebar melalui Beauty and the Beast (2017).

Beauty & The Beast

Kali ini dongeng tersebut tidak hadir dalam bentuk animasi, melainkan dalam bentuk film yang diperankan langsung oleh aktor dan aktris lengkap dengan special effect terbaik untuk film keluaran 2017. Dikisahkan Belle (Emma Watson) hidup bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), di desa Villeneuve, Prancis. Berbeda dengan gadis-gadis di desa tersebut, Belle sangat gemar membaca dan senang sekali dengan buku. Perbedaan ini tidak menghalangi Gaston (Luke Evans) untuk berkali-kali menyatakan cintanya kepada Belle. Belle pun tak segan-segan untuk berkali-kali menolak cinta Gaston. Padahal Gaston merupakan pemuda pujaan hati gadis-gadis lain di desa tersebut. Pria seperti apakah yang Belle cari? Jawabannya akan Belle dapatkan melalui deretan peristiwa yang kurang mengenakkan.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Pada suatu hari Belle pergi keluar desa untuk mencari ayahnya yang tak kunjung pulang. Ayah Belle ternyata dipenjara oleh Beast (Dan Stevens) karena mencuri bunga dari taman milik Beast. Belle kemudian rela menggantikan ayahnya untuk menjalani hukuman di dalam istana Beast yang suram. Dulu, istana tersebut tidaklah sesuram sekarang. Akibat keangkuhan Sang Pangeran penguasa istana tersebut, seorang penyihir murka dan mengutuk Sang Pangeran, istana beserta seluruh menghuninya. Sang Pangeran berubah menjadi sebuah mahluk buruk rupa yang disebut Beast. Para penghuni istana berubah menjadi berbagai perlengkapan istana seperti lilin, cangkir, lemari dan piano. Kutukan tersebut akan diangkat apabila Beast dapat menemukan seorang wanita yang mau mencintai Beast apa adanya. Semua ini harus dilakukan sebelum seluruh kelopak sebuah bunga mawar berjatuhan. Bungan mawar tersebut Beast simpan baik-baik di salah satu bagian istananya yang besar. Para pelayan Beast melihat kedatangan Belle sebagai sebuah kesempatan untuk mematahkan kutukan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkan Belle dengan Beast.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Di lain tempat, Gaston berusaha menemukan Belle tapi dengan cara yang salah dan kurang baik. Sesalah dan seangkuh apapun Gaston, ia selalu didukung dan didampingi oleh LeFou (Josh Gad) sahabat setianya. Nah tokoh LeFou inilah yang sempat menjadi perdebatan mengenai pantas atau tidaknya Beauty and the Beast (2017) ditonton anak-anak. Tokoh LeFou yang sepanjang film memang nampak “melambai” dikabarkan sebagai karakter gay di film tersebut. Selain gayanya yang agak melambai, saya tidak melihat perkataan atau jalan cerita yang mengekspos LeFou sebagai gay. Memang di bagian akhir, sekilas terlihat bahwa LeFou berdansa berpasangan dengan pria sementara pria lainnya berpasangan dengan wanita, tapi itu hanya sepersekian detik saja kok. Adegan tersebut rasanya tidak dapat dikatakan sebagai justifikasi ke-gay-an LeFou. Dari beberapa adegan bernyanyi dan menari yang ada pada film ini, tidak ada adegan yang ke arah sana kok.

Beauty & The Beast

Beauty & The Beast

Saya rasa Beauty and the Beast (2017) masih aman ditonton anak-anak tapi dengan pengawasan orang tua. Toh mayoritas film ini diisi dengan adegan bernyanyi dan menari dengan visual yang cantik. Sayang bagi saya pribadi, lagu-lagu yang diperdengarkan terlalu asing dan agak membosankan. Selain itu dari segi cerita, pada dasarnya kisah pada Beauty and the Beast (2017) sangat mirip dengan Beauty and the Beast (1991), mudah ditebak.

Beauty & The Beast

Walaupun pada dasarnya saya kurang suka dengan film yang banyak nyanyi-nyanyinya, secara keseluruhan, Beauty and the Beast (2017) masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Bagi yang senang menonton film musikal dengan visul yang cantik, silahkan tonton film ini, pasti suka.

Sumber: movies.disney.id/beauty-and-the-beast-2017

The Huntsman: Winter’s War (2016) 

huntsman1

Dari berbagai dongeng yang semasa kecil pernah saya dengar, rasanya dongeng mengenai Putri Salju sampai saat ini masih merupakan salah satu dongeng anak-anak paling terkenal. Cerita tersebut diceritakan berulang-ulang dalam berbagai bentuk dan versi. Nah salah satu adaptasi dari dongeng tersebut sempat hadir ke layar lebar melalui Snow White and the Huntsman (2012). Lain dari yang lain, peranan sang pemburu atau huntsman, memperoleh porsi yang besar. Pada cerita aslinya, sang pemburu diutus oleh ibu tiri Putri Salju untuk membunuh Putri Salju, namun sang pemburu tak tega dan mengurungkan niatnya, ia pun melepaskan Putri Salju. Sudah sampai di sana saja peranan sang pemburu pada versi dongengnya. Nah pada Snow White and the Huntsman (2012), Eric (Chris Hemsworth), sang pemburu, ikut berperan dalam usaha Putri Salju (Kristen Stewart) merebut kembali tahta kerajaan dari Ravenna (Charlize Theron), si penyihir jahat. Di sana Putri Salju digambarkan sebagai wanita pemberani yang pada akhirnya ikut maju di garis terdepan bersama para pengikutnya. Terus terang film ini tidak ada gregetnya sama sekali, Kristen Stewart rasanya kurang pas memerankan Putri Salju. Ahhh, ini merupakan salah satu adaptasi Putri Salju terburuk yang pernah saya lihat. Yang saya ingat dari film tersebut hanyalah drama perselingkuhan antara Kristen Stewart dengan Rupert Sanders, sutradara Snow White and the Huntsman (2012) hehehehehe.

huntsman2

Pada tahun 2016, petualangan Eric sang pemburu berlajut pada The Huntsman: Winter’s War (2016). Film ini merupakan pekuel sekaligus sekuel dari Snow White and the Huntsman (2012). Di sana dikisahkan bagaimana Eric kecil diculik dan dilatih untuk menjadi pemburu yang handal oleh Ratu Freya (Emily Blunt), adik  dari Ravenna. Freya berubah menjadi penyihir jahat setelah kematian bayinya. Freya benci sekali dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta, ia menyalahkan cinta atas kematian bayinya yang malang. Maka tak heran bila Freya murka ketika Eric jatuh cinta dengan Sara (Jessica Chastain). Eric dan Sara akhirnya berhasil Freya pisahkan. Eric berhasil melarikan diri ke negeri di luar wilayah kekuasaan Freya.

huntsman8

huntsman6

Bertahun-tahun kemudian, setelah kejadian pada Snow White and the Huntsman (2012), Eric memperoleh tugas untuk merebut kembali cermin Ravenna yang hilang. Perburuan Eric ini membawa Eric kembali ke wilayah kekuasaan Ratu Freya. Masa lalu Eric kembali hadir karena Eric mau tak mau harus berhadapan dengan Freya dan teman-teman masa kecilnya. Tabir akan rahasia cermin Ravenna dan masa lalu Freya pun akan ikut terbuka pada The Huntsman: Winter’s War (2016).

huntsman3

huntsman4

huntsman7

huntsman9

huntsman12

huntsman11

huntsman10

Saya rasa The Huntsman: Winter’s War (2016) memiliki jalan cerita yang lebih menarik dibandingkan Snow White and the Huntsman (2012). Karakter-karakternya relatif lebih kuat dan meyakinkan. Penempatan sang pemburu sebagai karakter utama yang dominan dirasa lebih tepat dibandingkan ketika ia harus berbagi tempat dengan Putri Salju pada film terdahulu. Action, special effect dan kostumnya terbilang lumayan, not bad but not special.

Hanya saja The Huntsman: Winter’s War (2016)  seolah seperti cerita “tambalan” yang tidak terencana sebelumnya. Pada Snow White and the Huntsman (2012) dikisahkan bahwa istri Eric dibunuh oleh adik Ravenna, eh tiba-tiba pada The Huntsman: Winter’s War (2016)  dikisahkan bahwa Ravenna punya seorang adik lagi yang bernama Freya. Kemudian ternyata sebelum menikah, Eric ternyata memiliki kekasih lain. Semua ini seolah-olah baru dikarang setelah Snow White and the Huntsman (2012)  selesai dibuat.

Terlepas dari kekurangsukaan saya terhadap Snow White and the Huntsman (2012), menurut saya The Huntsman: Winter’s War (2016) merupakan sekuel merangkap prekuel yang relatif lebih berkualitas. Dengan demikian maka The Huntsman: Winter’s War (2016) layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.huntsmanmovie.co.uk

Trilogi Lord of the Rings (2001, 2002, 2003)

Lord Rings 1

Trilogi Lord of the Rings terdiri dari The Fellowship of the Ring (2001), The Two Towers (2002) dan The Return of the King (2003). Ketiganya disutradarai oleh Peter Jackson dan dibuat berdasarkan novel karangan J. R. R. Tolkien. Lord of the Rings menghadirkan dunia Middle-earth yang dipenuhi oleh manusia, peri, hobit, orc, kurcaci dan mahluk-mahluk dongeng lainnya. Alkisah dahulu kala terjadi peperangan besar di Middle-earth. Pada peperangan tersebut, Sauron (Sala Baker), sang raja kegelapan dan kejahatan, mengalami kekalahan dan kehilangan cincin saktinya. Cincin sakti Sauron memang bentuknya sederhana, tidak dilengkapi oleh batu akik seperti yang saat ini sedang populer dikenakan orang-orang, tapi cincin Sauron tersebut mampu memberikan kekuatan spesial bagi siapapun yang memegangnya. Namun cincin tersebut memberikan pengaruh buruk bagi orang-orang di sekitarnya. Sifat serakah dan kepemilikan yang berlebihan atas cincin tersebut akan bangkit, jarang ada mahluk yang mampu menahan kekuatan pengaruh buruk tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, Sauron mengumpulkan tenaga dan pengikutnya untuk kembali bangkit, menguasai Middle-earth dan mengalahkan semua kerajaan-kerajaan yang dulu bersatu padu mengalahkannya. Untuk menyempurnakan kekuatannya, Sauron membutuhkan cincinnya. Apabila Sauron berhasil memperoleh cincinnya, maka hampir dapat dipastikan bahwa Sauron akan berhasil menguasai Middle-earth karena kerajaan-kerajaan yang dahulu bersatu mengalahkan Sauron sudah saling tidak peduli dan memiliki masalah masing-masing.

Lord Rings 14

Lord Rings 2

Melihat kondisi ini, Gandalf (Ian McKellen), seorang penyihir sakti, meminta bantuan Frodo Baggins (Elijah Wood) untuk membawa cincin terkutuk Sauron ke Gunung Doom di Mordor. Kenapa Frodo? Ia hanyalah seorang hobit kecil yang tak mahir berkelahi. Cincin tersebut hanya dapat dihancurkan bila ia dibuang ke dalam kawah Gunung Doom yang panas sekali dan hanya mahluk berhati bersihlah yang mampu bertahan lebih lama terhadap pengaruh buruk cincin tersebut bila dengan dibandingkan mahluk-mahluk lainnya. Sementara itu Frodo adalah seorang hobit berhati bersih yang hidup bersahaja dan penuh kedamaian di negri Shire yang asri. Frodo-lah hobit yabg tepat untuk misi ini.

Lord Rings 18

Perjalanan Frodo menuju Gunung Doom tidaklah mudah karena ia harus melewati daerah-daerah yang berbahaya dan ia juga harus menghindar dari kejaran para pengikut Sauron. Untunglah Frodo dibantu oleh Samwise Gamgee (Sean Astin), Aragorn (Viggo Mortensen), Legolas (Orlando Bloom), Gimli (John Rhys-Davies), Boromir (Sean Bean), Meriadoc “Merry” Brandybuck (Dominic Monaghan) dan Peregrin “Pippin” Took (Billy Boyd). Samwise adalah sahabat setia Frodo yang terus menemani Frodo disaat Frodo harus berjuang melawan pengaruh buruk dari cincin Sauron yang Frodo bawa. Merry & Pippin ada 2 hobit yang agak sedikit konyol tapi tetap siap sedia mendukung Frodo dalam menjalankan misinya. Boromir adalah kesatria Gondor yang terhormat, kuat, berjiwa kepemimpinan yang besar, memiliki banyak gelar dan penghargaan di mana-mana, namun sayang Boromir sangat lemah ketika berhadapan dengan godaan cincin Sauron. Gimli adalah ksatria dari ras kurcaci yang sedikit penggerutu, solider dan pantang menyerah walaupun ukuran badannya mungil. Legolas merupakan anak dari raja peri-peri Mirkwood Selatan yang mahir menggunakan panah, perawakannya yang rupawan membuat teman-teman saya yang perempuan gemar melihat Legolas, ahhh jangan-jangan Legolas adalah alasan mereka menonton Lord of the Rings :’D. Aragorn adalah karakter favorit saya di Lord of the Rings, pada awalnya Aragorn memang hanyalah seorang kesatria tak jelas yang ikut dengan rombongan Frodo, lama kelamaan terungkap fakta bahwa Aragorn ternyata adalah pewaris sah dari tahta kerajaan Gondor.

Lord Rings 4

Lord Rings 8

Lord Rings 5

Lord Rings 12

Lord Rings 11

Lord Rings 20

Lord Rings 6

Petualangan Frodo dan kawan-kawan menjelajahi Middle-earth cukup menarik untuk diikuti. Aksi-aksi yang ditampilkan terbilang apik, ditambah lagi gambaran akan dunia Middle-earth pada film-film ini benar-benar bagus sekali.

Lord Rings 10

Lord Rings 22

Lord Rings 16

Lord Rings 21

Sampai saat ini, Lord of the Rings memang termasuk film dengan anggaran yang spektakuler, namun keuntungannya juga spektakuler. Sayang saya tidak terlalu suka dengan film pertama Lord of the Rings, The Fellowship of the Ring (2001), soundtrack-nya agak membosankan, ditambah dengan jalan cerita yang datar. Untunglah film kedua dan ketiga Lord of the Rings memiliki tempo cerita yang lebih cepat dan tidak membosankan walaupun soundtrack yang dipergunakan kurang lebih mirip dengan film pertama Lord of the Rings ;). The Two Towers (2002) dan The Return of the King (2003) bisa dikatakan masuk ke dalam daftar film favorit saya.

Lord Rings 23

Lord Rings 7

Lord Rings 17

Lord Rings 9

Lord Rings 15

Lord Rings 13

Lord Rings 3

Olehkarena itulah secara keseluruhan trilogi ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Sebenarnya setelah sukses ketiga film Lord of the Rings, muncul 3 film prequelnya yaitu trilogi The Hobbit yang dibuat berdasarkan novel J. R. R. Tolkien juga. Ahhh sayang bagi saya pribadi kualitas trilogi The Hobbit jauh dibawah trilogi Lord of the Rings ;).

Sumber: http://www.lordoftherings.net

Stardust (2007)

Stardust1

Stardust (2007) adalah film fantasi yang berhasil memenangkan Hugo Award 2007 untuk kategori best dramatic presentation. Film ini dibuat berdasarkan novel karangan Neil Gaiman dengan judul yang sama, Stardust.

Pada Stardust (2007), terdapat sebuah tembok yang konon menjadi pembatas antara dunia manusia dan dunia kerajaan Stormhold yang penuh sihir. Pada tembok tersebut terdapat celah yang selalu dijaga oleh seorang penjaga tua dengan tujuan agar tak ada orang atau mahluk dapat sembarangan melewati 2 dunia tersebut.

Stardust10

Pada suatu hari si penjaga tua mengantarkan bayi laki-laki yang berasal dari kerajaan Stormhold, ke rumah Dustan Thorn (Nathaniel Parker). Bayi laki-laki tersebut tumbuh menjadi seorang pemuda baik hati yang bernama Tristan Thorn (Charlie Cox). Pada suatu malam Tristan melihat bintang jatuh dari langit. Ia kemudian pergi ke lokasi dimana bintang tersebut jatuh dengan tujuan untuk memperoleh mahar, mahar untuk meminang seorang wanita yang menolak Tristan dan berprilaku agak brengsek.

Tristan kaget ketika ia mengetahui bahwa wujud bintang jatuh tersebut ternyata berwujud seorang wanita yang bernama Yvaine (Claire Danes). Awalnya Tristan memperlakukan Yvaine sebagai hasil tangkapan yang akan ia bawa kembali ke rumahnya. Perlahan, cinta mulai tumbuh diantara Tristan dan Yvaine. Namun pada perjalannya, Tristan dan Yvaine harus berkali-kali melarikan diri dari berbagai pihak yang memperebutkan Yvaine. Diantaranya ada Lamia (Michelle Pfeiffer), seorang penyihir yang ingin mengorbankan Yvaine agar ia dan saudari-saudarinya dapat hidup awet muda. Kemudian ada Primus (Jason Flemyng) dan Septimus (Mark Strong) yang ingin menangkap Yvaine demi tahta kerajaan Stormhold.

Stardust2

Stardust9

Stardust6

Stardust5

Stardust12

Stardust13

Stardust11

Stardust8

Stardust

Stardust4

Stardust7

Stardust15

Stardust14

Stardust16

Disini terdapat intrik, taktik dan perubahan persekutuan. Jalan cerita Stardust (2007) menarik dan tidak membosankan, bagaikan dongeng tapi bukan dongeng sederhana untuk anak-anak :). Special effect yang ditampilkan pun tergolong bagus untuk film keluaran tahun 2007. Karena itulah Stardust (2007) pantas untuk mendapatkan nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

 Sumber: stardustmovie.htm

Paddington (2014)

Paddington 1

Pada akhir tahun 2014 & awal tahun 2015 banyak film-film segala umur hadir di bioskop. Dari beberapa film tersebut, ada 1 film yang sepupu-sepupu istri saya rekomendasikan, Paddington (2014). Nama Paddington sendiri adalah nama tokoh beruang kecil yang hadir pada beberapa buku anak-anak di Inggris pada tahun 1950-an. Sekarang, tokoh Paddington diangkat kembali dalam Paddington (2014).

Paddington 9

Mirip dengan versi bukunya, Paddington (2014) mengisahkan petualangan Paddington (Ben Whishaw), beruang kecil dari pedalaman hutan Peru yang super jenius, ia dapat berbicara dan berkomunikasi layaknya manusia. Paddington berkelana ke London untuk menemukan seorang petualang yang pernah tinggal bersama Paman & Bibi Paddington di pedalaman hutan Peru berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Paddington 6

Petualang tersebut pernah berpesan bahwa apabila pada suatu hari nanti Paman Paddington berkunjung ke London, ia akan mendapatkan sambutan yang hangat. Sayang Paman Paddington tewas ketika terjadi bencana yang menghancurkan rumah keluarga Paddington. Paddington tidak memiliki rumah sekarang, ia berharap agar si petualang tersebut berkenan menampung dan memberikan rumah baru bagi Paddington.

Dalam perjalannya, Paddington bertemu dengan keluarga Brown yang baik hati. Mereka bersedia menolong Paddington agar Paddington dapat bertemu dengan si petualang yang Paddington cari. Kehadiran Paddington di dalam rumah keluarga Brown menghasilkan kekonyolan dan kekacauan. Tapi hal tersebut justru membuat hubungan antara Paddington dan seluruh anggota keluarga Brown menjadi semakin erat.

Paddington 7

Paddington 3

Paddington 5

Paddington 2

Paddington 4

Paddington 10

Diam-diam ada seorang tokoh jahat yang memonitor Paddington dan keluarga Brown. Tokoh antagonis misterius yang diperankan oleh Nicole Kidman ini ingin menculik dan mengawetkan Paddington sehingga Paddington dapat menambah koleksi spesimen hewan yang ia miliki. Namun motif dari tokoh misterius ini sebenarnya bukan itu saja, ia memiliki dendam pribadi yang hanya akan kita ketahui ketika kita sudah menonton bagian akhir Paddington (2014).

IMG_3700.CR2

Paddington 8

Saya tidak menyangka akan ada kejutan pada Paddington (2014). Biasanya, film yang diambil dari buku anak-anak relatif mudah ditebak jalan ceritanya. Namun, yang namanya film yang diambil dari cerita anak-anak pasti agak-agak “ngayal”. Beruang kok bisa bicara? Warga Inggris kok tidak takut melihat beruang jalan-jalan menggunakan baju dan topi? Sudah sering lihat ya? Hehehe yaaaah namanya juga tokoh dari cerita anak-anak, pasti banyak hal-hal yang tidak masuk akalnya ;).

Untunglah ketidakmasukakalan di atas dapat terobati dengan penyampaian yang bagus sekali. Pemanfaatan special effect masa kini pada Paddington (2014) terlihat tepat, kreatif dan bagus. Saya pun menikmati penyampaian cerita yang baik sekali baik dari segi alur maupun visual. Paul King, sang sutradara, berhasil menghidupkan sebuah cerita yang menarik dan menghibur.

Meskipun bukan merupakan film dengan genre favorit saya, Paddington (2014) layak untuk mendapat nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Pantas sepupu-sepupu istri saya ada yang menuntonnya lebih dari 1 kali :).

Sumber: paddington-movie.com

Eragon (2006)

Eragon 1

Film Eragon (2006) adalah film yang disandur dari novel laris karangan Christopher Paolini dengan judul yang sama, Eragon. Siapakah itu Eragon? Eragon (Edward Speleers) adalah seorang bocah desa pemberani yang tinggal di negara Alagaesia. Kehidupan Eragon berubah 180 derajat ketika ia menemukan sebutir telur naga. Eragon mendapatkan sebuah tanda misterius menempel di tangannya ketika ia berusaha untuk menyentuh telur naga pada saat telur naga tersebut akan menetas. Peristiwa ini langsung memberikan perasaan khusus kepada seluruh penunggang naga yang masih hidup sehingga mereka semua langsung mengetahui bahwa telah lahir seorang penunggang naga baru di wilayah Alagaesia. Naga yang baru menetas tersebut adalah seekor naga biru betina yang bernama Saphira. Saphira cepat sekali tumbuh besar, hanya dalam hitungan hari, Saphira sudah memiliki tubuh yang jauh lebih besar daripada Eragon.

Eragon 5

Eragon 16

Eragon 12

Galbatorix (John Malkovich) dan Brom (Jeremy Irons) adalah 2 mantan penunggang naga yang langsung merespons kelahiran penunggang naga baru tersebut dengan tujuan yang bertolak belakang. Galbatorix, raja Alagaesia yang jahat, langsung memburu Eragon dan Saphira untuk ditangkap atau dibunuh. Sementara itu Brom menghampiri Eragon untuk memandu Eragon agar dapat menjadi Eragon kelak dapat menjadi seorang penunggang naga yang handal.

Eragon 13 Eragon 6

Eragon dan Saphira saat ini sudah terikat. Apabila Eragon tewas, maka Saphira akan tewas. Eragon pun dapat melihat apa yang Saphira lihat, selain itu Eragon dan Saphira dapat berkomunikasi lewat telepati. Kemampuan sihir yang ada pada Saphira akan mengalir melalui Eragon asalkan Eragon memiliki tubuh dan mental yang kuat. Sebenarnya banyak sekali kemampuan-kemampuan lain yang dapat Eragon dan Saphira miliki sebagai pasangan naga dan penunggang naga, namun itu membutuhkan latihan yang panjang.

Brom bermaksud mengantarkan Eragon dan Saphira ke wilayah yang dikuasai Varden, pemberontak penentang raja Galbatorix. Di sana, Eragon & Saphira dapat memperoleh dukungan yang lebuh baik. Dalam perjalannya, mereka bertemu dengan Arya (Sienna Guillory), putri dari bangsa peri yang berusaha membebaskan Alagaesia dari kekuasaan Galbatorix. Sudah dapat ditebak, Arya dan Eragon saling suka dan jatuh cinta. Selain Arya, rombongan ini bertemu juga dengan Murtagh (Garrett Hedlun), putra seorang penghianat yang langsung memancing amarah petinggi Verdun begitu melihatnya. Ketika sudah tiba di Verdun pun, Eragon ternyata belum aman karena Galbatorix memerintahkan pasukannya menyerbu markas Verdun dengan dipimpin oleh Durza (Robert Carlyle), penyihir sakti yang merupakan tangan kanan Galbatorix.

Eragon 15 Eragon 14 Eragon 11 Eragon 8

Eragon 9

Eragon 7 Eragon 4 Eragon 3 Eragon 2

Eragon 10

Memang sulit merangkum perjalanan panjang Eragon yang dikisahkan dalam sebuah buku menjadi 1 film dengan durasi yang terbatas. Eragon (2006) memperoleh ulasan yang kurang bagus dari banyak kritikus. Namun bagi saya yang belum pernah sekalipun membaca versi bukunya, Eragon (2006) adalah jenis film from zero to hero yang bagus dan keren. Jalan ceritanya bagus meskipun banyak menggunakan nama daerah atau istilah aneh yang mungkin dijelaskan lebih lengkap pada bukunya. Akting para pemainnya pun lumayan ok meskipun tidak banyak nama terkenal mengisi daftar pemeran Eragon (2006). Dengan dukungan special effect yang mencukupi, Eragon (2006) pun berhasil menjadi salah satu film favorit saya dan layak mendapat nilai 5 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus Sekali”. Saya suka dengan adegan penjelajahan dan pertempuran di atas naga, ingin rasanya memiliki kawan seekor naga seperti Eragon :). Sayang sekuelnya tak kunjung diproduksi :(.

Sumber: www.alagaesia.com