Serial Talking Tom Heroes

Ponsel Android beserta layar sentuhnya baru bisa saya miliki sekitar tahun 2011. Menggunakan layar sentuh merupakan hal baru saat itu, termasuk untuk bermain. Layar sentuh melahirkan berbagai gameplay baru yang unik. Maklum, dahulu kala saya bermain dengan menekan tombol-tombol, tidak seperti sekarang dimana semuanya sudah menggunakan layar sentuh :’D. Nah, Talking Tom Cat merupakan salah satu permainan pertama yang saya mainkan di Android dan berhasil memberikan pengalaman bermain yang baru.

Pada awalnya, Talking Tom Cat adalah permainan hewan peliharaan virtual yang cukup sukses, karena konsep permainan yang diangkat masih tergolong baru dan pesaingnya belum banyak. Kesuksesan Talking Tom melahirkan permainan lain seperti Talking Angela, Talking Ginger, Talking Hank, Talking Ben dan Talking-Talking lainnya. Semuanya dikembangkan oleh perusahaan asal Slovenia, yaitu Outfit 7.

Lama kelamaan Talking Tom Cat dan kawan-kawan hadir dalam berbagai varian permainan yang hadir di platform Andoid dan IOS. Tidak puas sampai di sana, Outfit 7 sebagai pihak pengembang Talking Tom Cat pun, sudah sejak lama melakukan perluasan dengan bekerjasama dengan pihak lain untuk membuat film-film seri Talking Tom Cat seperti Talking Friends, Talking Tom and Friends, Talking Tom Shorts, Talking Tom and Friends Minis dan Talking Tom Heroes.

Perlu diingat, tidak semua konten terkait Talking Tom Cat, pantas ditonton anak kecil. Terkadang ada permainannya atau filmnya yang mengisahkan percintaan karakter Tom dan Angela serta kisah cinta-cintaan lainnya. Saya sendiri sudah menonton beberapa versi dari film seri Talking Tom Cat. Dari sana saya menemukan bahwa sementara ini, Talking Tom Heroes merupakan serial yang paling menghibur dan relatif aman ditonton anak-anak.

Film seri Talking Tom Heroes mengangkat tema penyelamatan dan kepahlawanan. Di sana, dikisahkan bahwa Tom, Hank, Angela dan Ben memiliki kekuatan super. Tom memiliki kekuatan yang sangat besar, Angela dapat bergerak secepat kilat, Ben dapat memanipulasi berbagai peralatan canggih dari jarak jauh, dan Hank memiliki kantung ajaib yang dapat mengeluarkan berbagai barang yang dibutuhkan. Selain keempat pahlawan super tersebut, hadir pula Ginger yang ingin ikut membantu, walaupun ia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Ginger merupakan cara film seri ini untuk menyampaikan bahwa, kekuatan super bukanlah persyaratan mutlak untuk menolong orang lain. Selain itu, film ini menyampaikan pesan moral terkait kejahatan melawan kebaikan dengan cara yang menghibur.

Yaaah, pesan moral dan pelajaran yang disampaikan Talking Tom Heroes memang standard ya hehehe. Saya rasa kelebihan serial ini adalah dari segi hiburan. Film seri yang semua karakternya tidak berbicara, berhasil menyampaikan berbagai kisah yang menarik dan tidak membosankan, termasuk bagi orang dewasa. 

 

Saya pribadi, tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton Talking Tom Heroes. Saya bahkan merasa terhibur ketika menonton setiap episodenya yang hanya berdurasi sekitar 10 menit. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film seri ini dapat dijadikan sebagai hiburan segar bagi seluruh anggota keluarga.

Sumber: outfit7.com

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855

Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main

Serial Elite

Sudah lama sekali saya tidak mengikuti film seri berbahasa Spanyol seperti Elite. Yah dahulu kala saya sempat menonton telenovela Amerika Latin berbahasa Spanyol yang sempat populer di Indonesia. Kali ini, saya menonton semacam telenovela, hanya saja kisahnya lebih muda, penuh misteri dan latar belakangnya adalah Spanyol.

Serial Elite mengisahkan kehidupan bebas para remaja yang belajar di Las Encinas, Spanyol. Sekolah Las Encinas adalah sekolah mewah yang sebagian besar muridnya merupakan anak orang kaya. Sedangkan sebagain kecil muridnya merupakan anak miskin yang memperoleh beasiswa. Ok, disinilah unsur telenovela klasik bermain. Kesenjangan antara si miskin dan si kaya terlihat jelas di sana. Kemudian kisah cinta dengan perbedaan status itupun ada di sana. Tak lupa terdapat kisah perselingkuhan di sela-selanya. Klise sekali bukan?

Masalahnya Elite bukanlah telenovela klasik sebab masalah-masalah terkini yang sedikit tabu, diangkat pula dengan sangat vulgar di sana. Elite mengangkat masalah narkoba, AIDS, hamil di luar nikah, diskriminasi terhadap muslim, homoseksualitas, inses, dan lain-lain. Kehidupan murid-murid Las Encinas nampak penuh pesta-pesta saja. Sesekali terlihat mereka belajar, tapi itu jarang sekali. Kalaupun ada karakter yang awalnya baik luar dan dalam, perlahan karakter tersebut akan belok dan terkontaminasi dengan segala keburukan dan kebejatan teman-temannya. Namun ada pula karakter yang pada awalnya terlihat brengsek, lama kelamaan ia justru nampak menjadi karakter yang paling bijak dan setia kawan. Ada pula karakter yang pada awalnya nampak polos dan baik, namun perlahan penonton diperlihatkan bahwa banyak sekali perilaku buruk karakter tersebut yang memicu perselisihan dimana-mana.

Perselisihan dalam percintaan memang menjadi akar masalah di sana. Tapi semua berhasil dimodifikasi dan dikembangkan sehingga nampak menarik. Saya yang bukan pecinta film drama kenapa ikut tertarik menonton Elite? Misteri. Ya, aroma misteri sangat kental terasa ketika menonton Elite. Kebejatan dan kegilan karakter-karakter utamanya tentunya akan menunun mereka ke dalam kasus-kasus kriminal. Yang menarik di sini adalah, terdapat misteri pembunuhan yang menjadi benang merah pada setiap episodenya. Hal inilah yang jarang sekali saya lihat pada film seri berbahasa Spayol lainnya.

Elite memang berhasil  menampilkan sebuah drama remaja yang penuh misteri, putaran dan kejutan di mana-mana. Namun ini bukanlah film yang pantas ditonton oleh remaja. Film Seri ini sangat dewasa, bukan karena adegan dewasanya. Melainkan karena pesan yang dibawa di dalamnya. Mayoritas karakter pada Elite melakukan perbuatan buruk yang sama sekali tidak pantas untuk dicontoh. Saya sendiri yakin bahwa Elite tidak mencerminkan kehidupan remaja Spanyol di dunia nyata. Kebejatan yang ada memang mencengangkan dan mengejutkan, sekaligus mengingatkan saya bahwa ini hanya cerita karangan saja. Ya seburuk-buruknya moral sebuah lingkungan, sepertinya tidak ada yang seperti ini. Kalaupun aja, sepertinya jarang sekali.

Saya tidak tahu akhir dari kisah misteri drama remaja ini tapi saya berharap akhirnya cukup memuaskan. Selama ini, film-film Spanyol yang pernah saya tonton memilki akhir yang kurang pas. Yaaah siapa tahu Elite ini berbeda hohohohoo. Rasanya film seri Elite layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80200942

Serial Sunny Day

Semua selalu cerah di Sunny Day :). FIlm kartun anak-anak ini mengisahkan Sunny (Lily Portman) dan kawan-kawan yang membuka sebuah Salon di Kota. Mereka tidak hanya melayani perawatan rambut, namun melayani pula perawatan kecantikan lainnya. Dalam setiap episodenya, Sunny selalu ikhlas menolong siapapun yang sedang dalam kesulitan dengan kemampuan yang mereka miliki. Sering sekali mereka melakukan improvisasi terhadap hambatan yang ada di depan mata. Tentunya semua itu dikemas dengan sederhana sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Berhubungan kegiatan sehari-hari Sunny adalah bekerja di Salon, sebagian besar masalah yang muncul memang terkait pemeliharaan kecantikan tapi versi anak-anak. Bukankah anak perempuan banyak juga yang suka main dandan-dandanan atau salon-salonan? 😀

Di sini anak-anak diajarkan mengenai persahabatan, kerjasama dan tolong menolong. Tapi jangan cari unsur pelajaran matematika atau sains pada film ini, sebab hal tersebut memang tidak ada hehehehehe. Cukup karakter Sunny saja yang dijadikan contoh. Di sini ia tampil sebagai karakter yang relatif paling bijak, setia kawan dan sifat-sifat baik lainnya.

Walaupun tokoh utamanya perempuan semua, animasi kartunnya tidak dipenuhi oleh warna pink dan ungu. Warna-warnya yang cerah memang mencerminkan sebuah hari yang selalu cerah, Sunny Day.  Hadir dengan porsi kepala yang lebih besar dibandingkan tubuhnya, animasi film kartun ini tetap mampu tampil imut dan memikat anak-anak. Bagi orang dewasa yang menemani menonton, yaah lama-lama bosan juga karena adegan kejar-kejaran yang hampir selalu ada di setiap episodenya hanya cukup menegangkan bagi anak-anak saja hehehehehe.

Dengan tidak adanya konten dewasa pada Sunny Day, saya merasa aman membiarkan anak saya menonton film ini, meski terkadang saya merasa bosan setelah marathon melihat lebih dari 3 episode. Maka saya pribadi ikhlas menberikan film seri anak Sunny Day nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial The Witcher

Saya belum pernah membaca novel The Witcher, apalagi main video game The Witcher. Walaupun untuk video game saja sudah ada sejak 2007 dan novelnya sudah ada sejak 1993, Wuaaah sudah lama juga yaaa. Selama itupulalah saya tidak pernah mengetahui keberadaan The Witcher. Netflix adalah yang memperkenalkan The Witcher kepada saya. Sejak 2019, Netflix menayangkan film seri The Witcher di aplikasinya.

Seperti apa sih The Witcher itu? Serial ini mengambil latar belakang yang mirip dengan abad pertengahan di Eropa, eranya kerajaan Eropa berjaya. Kerajaan-kerajaan manusia berdiri di atas sebuah benua yang konon dahulu kala dikuasai oleh monster dan mahluk-mahluk dongeng seperti peri dan kurcaci.

Di sana, Geralt of Rivia (Henry Cavill) berkelana untuk melawan monster-monster yang mengganggu manusia. Kemampuan Geralt sebagai seorang Witcher memungkinkannya untuk melakukan berbagai sihir yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa. Kalau saya lihat, Witcher itu berbeda dengan penyihir. Witcher memadukan kemampuan sihir dengan kemampuan berkelahi karena tubuh Witcher lebih kebal terhadap sihir tertentu dan relatif lebih kuat dari manusia pada umumnya.

Teorinya, seorang Witcher akan memperoleh imbalan dari setiap monster yang ia bunuh. Masalahnya, bagi Geralt, pengertian monster itu bukan hanya terpatri pada mahluk buas yang menyeramkan. Bukankah manusia sendiri dapat berperilaku seperti monster?

Melihat The Witcher, saya jadi teringat pula pada Game of Thrones. Kondisi yang diperlihatkan sangat mirip. Sebuah benua dengan berbagai pihak yang licik dan saling bunuh. Di sana terdapat pula berbagai adegan sadis dan dewasa lengkap dengan masalah-masalah yang gelap dan tabu.

Beruntung Serial The Witcher memiliki tokoh utama yang dijadikan patokan moral pada film ini. Sebagai tokoh utama, Geralt bukanlah orang suci, ia banyak pula melakulan berbagai hal yang dianggap dosa kalau dilihat dari sudut pandang agama. Namun jauh di lubuk hatinya, Geralt memiliki moral yang baik. Saya rasa hal inilah yang membuat Geralt berbeda. Ia dapat melakukan hal yang benar du tengah-tengah dunia yang penuh kenistaan. Sikapnya yang dingin dan cuek berhasil diperankan dengan sempurna oleh Hendry Cavill. Saya sama sekali tidak melihat Superman pada serial ini. Cavill benar-venar sudah menjadi seorang Witcher handal bernama Geralt. Jelas sudah karakter inilah bintang dari Serial The Witcher :).

 

Sebenarnya terdapat 2 karakter utama lain selain Geralt. Yennefer of Vengerberg (Anya Chalotra) dan Putri Cirilla (Freya Allan). Yennefer adalah penyihir dengan keteguhan hati yang kuat. Sementara itu Cirilla merupakan pewaris tahta kerajaan yang memiliki sebuah bakat khusus.

Saya kagum dengan bagaimana cara Serial The Witcher mengisahkan Geralt bersama dengan Cirilla dan Yennefer. Setiap episode tidak selalu dibuat dengan alur maju. Terdapar alur maju mundur terkait karakter-karakter di dalamnya. Semuanya dapat ditampilkan dengan sangat menarik dan jauh dari kata membingungkan hehehehe.

Sayang adegan perkelahian pada serial ini seperti belum didukung oleh dana yang mumpuni. Pertarungan antara Gerald dan monster-monster tidak terlalu spektakuler. Padahal bukankah profesi Gerald itu adalah pemburu monster? Terkadang monster-monster yang ada ditunjukkan dalam wujud yang masih menyerupai fisik manusia. Memiliki 2 kaki, 2 tangan, tapi wajahnya dibuat agak berbeda. Tidak ada bentuk monster yang ekstrim di sana. Beruntung adegan perkelahian antara Gerald dengan sesama manusia justru nampak keren, walaupun agak sadis.

 

Salah satu pesan moral dari The Witcher memang terkait wujud monster yang patut diwaspadai. Seburuk apapun wujudmu, kamu tidak dapat dianggap sebagai monster apabila masih ada kebaikan di dalam hatimu :). Saya sudah tidak sabar menanti episode terbaru dari The Witcher. Serial ini sopasti pantas untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”

Sumber: http://www.netflix.com