Serial Squid Game

Serial Ojing-eo Geim atau Squid Game mengisahkan kompetisi maut dengan hadiah yang sangat besar. Pemenang kompetisi ini akan kaya mendadak. Sedangkan sisanya akan menemui ajal. Permainan yang dimainkan pada kompetisi tersebut adalah permainan klasik anak-anak Korea. Ada beberapa permainan yang saya sendiri tidak kenal. Squid game sendiri merupakan permainan yang dimainkan pada akhir konpetisi. Sekilas permainannya seperti galaksin atau gobak sodor. Selain itu terdapat pula permainan anak-anak lain seperti kelereng, tarik tambang dan lain-lain.

Kisah mengenai bagaimana sekelompok orang saling bunuh demi meraih kemenangan, sudah banyak diangkat menjadi cerita film. Yang spesifik mengangkat tema permainan anak pun sudah pernah hadir melalui As the Gods Will (2014). Tapi ada sesuatu yang berbeda dari Serial Squid Game. Film seri ini sangat berbeda dengan As the Gods Will (2014) dan film-film bertemakan survival lainnya.

Dari segi visual saja, Squid Game tampil unik dengan penampilan peserta dan penyelenggara yang unik. Latar belakang pulau tempat permainan berlangsung pun berhasil menambah kesan misterius tanpa harus terus menerus menggunakan warna-warna gelap.

Dari segi cerita, permainan anak-anak hanyalah bagian dari sebuah intrik besar yang Squid Game sajikan. Bagaimana permainan berlangsung, mulai dari pemilihan tim sampai urutan bermain berhasil menghasilkan konflik diantara peserta. Di sela-sela permainan pun terjadi berbagai drama yang menarik untuk diikuti. Setiap karakter pada film seri ini bisa saja saling tikam setelah sebelumnya saling tolong. Siapapun bisa saja mendadak menjadi malaikat, dan siapapun bisa pula mendadak berubah menjadi iblis. Wah keren deh pokoknya, saya salut dengan bagaimana konflik pada serial ini selalu tampil segar dan memikat.

Merujuk berbagai hal di atas, sopasti saya ikhlas untuk memberikan serial ini nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Serial Squid Game sudah jelas berhasil menjadi kisah permainan maut favorit saya.

Sumber: squidgameofficial.com

Serial Nussa

Serial animasi anak Nussa merupakan salah satu film yang anak-anak saya tonton. Pada setiap episodenya, serial ini mengisahkan keseharian seorang anak muslim yang bernama Nussa (Muzakki Ramdhan). Nussa hidup bersama ibunya yang dipanggil Umma (Jessy Milianti), dan adiknya yang bernama Rarra (Aysha Razaana Ocean Fajar).

Dari berbagai tokoh yang ada, Nusa paling sering berinteraksi dengan Rarra. Rarra yang polos dan kekanakkanakan sangat cocok ketika bertemu Nussa yang dewasa. Tingkah Rarra menjadi nilai plus serial ini karena beberapa kelucuan memang dipicu oleh Rarra.

Ketika terdapat masalah, Nussa sering kali hadir dengan solusi dan nasehat beserta Fiman atau Hadist terkait. Terkadang, Nussa pun memperoleh masukan dari Umma dan karakter lain di serial ini. Semua kisahnya terbilang mudah dimengerti dan berhasil memberikan pendidikan islam tanpa terlihat menggurui.

Fokus serial Nussa sepertinya memang pendidikan anak muslim. Jadi sangat masuk akal kalau karakter-karakternya menggunakan baju muslim. Kemudian mayoritas karakter-karakternya pun beragama Islam. Tak jarang Nussa menghadirkan berbagai doa yang sebaiknya seorang muslim ucapkan sebelum melakukan sesuatu.

Dari sudut pandang saya yang seorang muslim, Nussa tentunya menjadi sebuah serial yang mendidik bagi keluarga saya. Ini bukan serial untuk para calon teroris yah. Sama sekali tidak ada kekerasan di sana. Saya rasa rekan-rekan non muslim pun masih bisa menonton film seri ini. Banyak sekali pesan moral yang diajarkan di sana. Tidak semumuanya terkait pendidikan Islam saja.

Dengan demikian, saya ikhlas untuk memberikan Nussa nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Semoga serial ini dapat kembali berlanjut tanpa disangkutpautkan oleh konflik politik identitas yang melanda Indonesia :).

Sumber: http://www.nussaofficial.com

Serial Mira, Royal Detective

Serial kartun anak yang mengambil latar belakang kerajaan, biasanya memiliki putri atau pangeran sebagai tokoh utamanya. Hal tersebut tidak berlaku pada Serial Mira, Royal Detective. Sang pangeran justru hadir sebagai tokoh pendukung. Mira (Leela Ladnier) merupakan anak dari punggawa Kerajaan Jalpur di abad ke-19. Dikisahkan bahwa Jalpur sendiri terletak di daerah India, Asia Tengah. Maka latar belakang serial anak yang satu ini adalah kerajaan ala ala Bollywood-laaah.

Apa istimewanya Mira? Ia memiliki kecerdasan dan berbagai nilai kebaikan lain yang patut untuk dicontoh. Pihak istana pun mengangkat Mira sebagai detektif kerajaan. Mira berhasil mengajak penonton ciliknya untuk memecahkan berbagai kasus yang ia hadapi.

Dengan menonton Mira, Royal Detective, anak-anak diajak untuk berfikir dengan teratur dan mengikuti petunjuk yang ada. Semuanya cukup mudah untuk diikuti oleh anak-anak. Kasusnya Mira memang bukan kasus kompleks yang rumit seperti benang kusut.

Mira, Royal Detective layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimal 5 yang artinya “Bagus”. Meskipun topiknya terkadang terkait tindak kriminal, serial ini tidak mengandung kekerasan dan hal-hal negatif lainnya kok. Aman untuk ditonton oleh anak-anak.

Sumber: disneynow.com/shows/mira-royal-detective

Serial Talking Tom Heroes

Ponsel Android beserta layar sentuhnya baru bisa saya miliki sekitar tahun 2011. Menggunakan layar sentuh merupakan hal baru saat itu, termasuk untuk bermain. Layar sentuh melahirkan berbagai gameplay baru yang unik. Maklum, dahulu kala saya bermain dengan menekan tombol-tombol, tidak seperti sekarang dimana semuanya sudah menggunakan layar sentuh :’D. Nah, Talking Tom Cat merupakan salah satu permainan pertama yang saya mainkan di Android dan berhasil memberikan pengalaman bermain yang baru.

Pada awalnya, Talking Tom Cat adalah permainan hewan peliharaan virtual yang cukup sukses, karena konsep permainan yang diangkat masih tergolong baru dan pesaingnya belum banyak. Kesuksesan Talking Tom melahirkan permainan lain seperti Talking Angela, Talking Ginger, Talking Hank, Talking Ben dan Talking-Talking lainnya. Semuanya dikembangkan oleh perusahaan asal Slovenia, yaitu Outfit 7.

Lama kelamaan Talking Tom Cat dan kawan-kawan hadir dalam berbagai varian permainan yang hadir di platform Andoid dan IOS. Tidak puas sampai di sana, Outfit 7 sebagai pihak pengembang Talking Tom Cat pun, sudah sejak lama melakukan perluasan dengan bekerjasama dengan pihak lain untuk membuat film-film seri Talking Tom Cat seperti Talking Friends, Talking Tom and Friends, Talking Tom Shorts, Talking Tom and Friends Minis dan Talking Tom Heroes.

Perlu diingat, tidak semua konten terkait Talking Tom Cat, pantas ditonton anak kecil. Terkadang ada permainannya atau filmnya yang mengisahkan percintaan karakter Tom dan Angela serta kisah cinta-cintaan lainnya. Saya sendiri sudah menonton beberapa versi dari film seri Talking Tom Cat. Dari sana saya menemukan bahwa sementara ini, Talking Tom Heroes merupakan serial yang paling menghibur dan relatif aman ditonton anak-anak.

Film seri Talking Tom Heroes mengangkat tema penyelamatan dan kepahlawanan. Di sana, dikisahkan bahwa Tom, Hank, Angela dan Ben memiliki kekuatan super. Tom memiliki kekuatan yang sangat besar, Angela dapat bergerak secepat kilat, Ben dapat memanipulasi berbagai peralatan canggih dari jarak jauh, dan Hank memiliki kantung ajaib yang dapat mengeluarkan berbagai barang yang dibutuhkan. Selain keempat pahlawan super tersebut, hadir pula Ginger yang ingin ikut membantu, walaupun ia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Ginger merupakan cara film seri ini untuk menyampaikan bahwa, kekuatan super bukanlah persyaratan mutlak untuk menolong orang lain. Selain itu, film ini menyampaikan pesan moral terkait kejahatan melawan kebaikan dengan cara yang menghibur.

Yaaah, pesan moral dan pelajaran yang disampaikan Talking Tom Heroes memang standard ya hehehe. Saya rasa kelebihan serial ini adalah dari segi hiburan. Film seri yang semua karakternya tidak berbicara, berhasil menyampaikan berbagai kisah yang menarik dan tidak membosankan, termasuk bagi orang dewasa. 

 

Saya pribadi, tidak merasa bosan ketika menemani anak saya menonton Talking Tom Heroes. Saya bahkan merasa terhibur ketika menonton setiap episodenya yang hanya berdurasi sekitar 10 menit. Itulah mengapa film ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film seri ini dapat dijadikan sebagai hiburan segar bagi seluruh anggota keluarga.

Sumber: outfit7.com

Serial The Boys

Apa jadinya kalau Superman tidak dterjadiibesarkan di dalam sebuah laboratorium yang dingin dan minim kasih sayang? Apa jadinya kalau Wonder Woman adalah seorang lesbian? Apa jadinya kalau The Flash adalah seorang pecandu? Yaaah, hal-hal unik dan berbeda itulah yang muncul pada Serial The Boys. Di tengah-tengah semakin populernya film seri keluaran Netflix, ternyata Amazon mampu memproduksi film seri seunik The Boys :).

Serial The Boys sebenarnya dibuat berdasarkan buku-buku komik dengan judul yang sama. Sebenarnya komik The Boys sempat menjadi bagian dari DC Comics, sebelum akhirnya transmisgrasi ke Dynamite Entertainment pada 2007. Cerita The Boys memang berkisar pada kisah superhero yang kemampuan supernya memang sangat mirip dengan beberapa karakter superhero keluaran DC Comics. Ada yang memilki kekuatan sama persis dengan Superman, Wonder Woman, The Flash, Aquaman, Stargirl dan lain-lain.

Namun berbeda dengan superhero mainstream ala DC Comics atau Marvel Comics, The Boys justru membahas jalan kelam yang diambil oleh individu-individu berkekuatan super. Biasanya, film-film seperti ini mengisahkan bahwa seseorang yang memiliki kekuatan super, menggunakan kekuatannya untuk memberantas kejahatan. Karakter idealis seperti ini ada juga di The Boys, tapi ia hanyalah salah satu dari beberapa karakter super yang ditampilkan. Sisanya justru memiliki berbagai perangai buruk yang sangat tidak patut tuk dicontoh.

Mayoritas superhero pada The Boys justru ditampilkan dengan lebih logis, mereka nampak sangat manusiawi. Ketika seseorang memiliki kekuatan super dan nampak lebih superior dibandingkan manusia pada umumnya, tentunya berbagai kemungkinan akan muncul. Tidak semuanya memiliki moral yang sangat sempurna dan memiliki hati nurani yang super bersih. Terkadang mereka justru melakukan hal yang tidak patut tanpa sepengetahuan publik.

Pada awal cerita, dunia dikisahkan bahwa terdapat sekumpulan superhero The Seven yang sangat terkenal. Publik mengenal The Seven sebagai superhero yang sangat baik dan bersedia melakukan apapun demi bumi dan umat manusia. Padahal dibalik itu, semuanya hanyalah pencitraan. The Seven bukanlah orang suci, beberapa diantaranya justru busuk dan melakukan berbagai tindakan yang keji dan bejat.

Apa yang busuk tentunya meninggalkan bau. Hal itulah yang terjadi pada The Seven. Pada akhirnya, terdapat orang-orang yang mencium kebusukan The Seven. Orang-orang inilah yang pada akhirnya membentuk The Boys. Perkumpulan The Boys berusaha menjatuhkan The Seven dengan berbagai usaha. Mayoritas The Boys tidak memiliki kekuatan super. Mereka hanya berusaha menggunakan apa yang mereka miliki dengan segala keterbatasan yang ada. The Boys memang melakukan aksinya di luar batas koridor hukum. Tapi sebagain besar dari anggota The Boys bukanlah orang jahat atau tokoh kriminal. Selain itu, mayoritas anggota The Boys pun masih memiliki sifat heroik dan moral yang baik.

Saya suka dengan berbagai keunikan yang The Boys tampilkan. Film seri besutan Amazon ini berhasil mengangkat sisi lain dari superhero dengan caranya sendiri. FIlm ini bukan film superhero atau anti-hero biasa. The Boys berhasil memberikan gambaran, apa yang mungkin terjadi ketika manusia berkekuatan super benar-benar ada di dunia. Semua itu dibungkus tidak hanya dari sisi si manusia super, melainkan dari sisi karakter-karakter manusia biasa.

Saya rasa film seri yang satu ini layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini cocok untuk dijadikan tontonan bagi teman-teman yang menginginkan sebuah hiburan yang menantang tanpa harus berfikir keras. Alur cerita film seri ini mudah difahami dan tidak terlalu kompleks :).

Sumber: http://www.amazon.com/dp/B07QQQ52B3

Serial Stranger Things

Film seri Stranger Things merupakan film yang mengambil latar belakang Amerika Serikat di tahun 80-an. Setidaknya dari season pertama sampai season ketiga, saat saya menulis tulisan ini, Stranger Things masih menggunakan Kota Hawkins sebagai lokasi utamanya. Hawkins adalah kota kecil di wilayah Indiana, Amerika Serikat. Semua terasa tenang dan damai sampai pada suatu hari, ada seorang anak yang hilang. Mulai saat itulah muncul berbagai kejadian aneh di kota tersebut.

Ini merupakan misteri yang menarik saya untuk mulai menonton episode-episode awal dari Stranger Things. Awalnya film seri ini seolah hendak menyuguhkan berbagai misteri besar yang kompleks. Ternyata setelah beberapa episode, terkuak bahwa semua hal aneh tersebut terkait dengan eksperimen rahasia pemerintah dan lubang ke dimensi lain. Kemudian cerita berkembang ke arah dimana terdapat masalah perang dingin dengan Uni Soviet dan monter-monster yang hadir dalam berbagai bentuk. Semuanya merupakan plot yang biasa kita temukan pada novel dan film keluaran tahun 80’an. Berbagai masalah tersebut, disuguhkan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ternyata Stranger Things tidak sekompleks yang saya kira. Bahkan lama kelamaan saya merasa bahwa Stranger Things relatif tidak ada misterinya sama sekali.

Lalu, apa daya tarik dari Stranger Things? Film seri ini berhasil membangkitkan nuansa 80-an yang memberikan nostalgia tertentu bagi yang pernah mengalami era 80-an. Tidak hanya musik, kostum dan lokasi saja, tapi cerita yang disuguhkan pun sangat berbau 80-an.

Selain itu, Stranger Things berhasil membangun karakter-karakter yang terlihat nyata dan berkembang dari episode satu ke episode lainnya. Mayoritas dari tokoh utama serial ini adalah anak-anak. Dialog mereka nampak natural seperti dialog anak-anak, tidak disensor atau dibuat oleh orang dewasa. Saya melihat memang ada candaan yang sedikit kasar di sana, tapi bukankah pada kenyataannya hal tersebut memang terjadi?

Saya hanya mengalami bagian ujung dari era tahun 80-an. Saya lebih banyak mengalami era 90-an ketika masih kecil dulu. Maka, nostalgia yang Stranger Things berikan, tidak terlalu berpengaruh bagi saya pribadi. Kenyataan bahwa misteri yang diberikan relatif sederhana pun, terkadang membuat saya berpaling dari film ini. Keberadaan karakter-karakter kuatlah yang membuat saya kembali lagi menonton Stranger Things. Dengan demikian, saya pribadi memberikan Stranger Things nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”. Film ini sangat cocok bagi rekan-rekan yang menginginkan film misteri ringan bernuansa tahun 80-an.

Sumber: http://www.strangerthingsfilm.com

Serial Mindhunter

Saya sering menonton film-film detektif, beberapa diantaranya mengisahkan kasus pembunuhan berantai. dimana terdapat beberapa tindak kriminal dengan satu atau sekelompok pelaku yang sama. Pada beberapa film yang saya tonton, penyelidikan pembunuhan berantai, tentunya melibatkan FBI. Lembaga Amerika yang satu ini memiliki istilah dan prosedur tertentu ketika melakukan investigasi. Nah Serial Mindhunter mengisahkan asal mula bagaimana FBI mulai mengembangkan cara dan metode untuk memburu para pembunuh berantai beserta penanganan FBI terhadap berbagai kasus-kasus legendaris.

Semua diawai oleh ketertarikan Agen FBI Holden Ford (Jonathan Groff) terhadap isi pikiran dari seorang pembunuh berantai. Holden percaya bahwa dengan mempelajai perilaku dan pikiran pembunuh berantai yang ada di penjara, FBI dapat mendeteksi dan menangkap lebih banyak lagi pembunuh berantai. Daripada para pembunuh berantai tersebut membusuk di penjara, bukankah lebih baik kalau mereka digunakan untuk menangkap pembunuh berantai lain yang masih bebas di luar sana.

Memulai sesuatu yang tak lazim di zamannya, bukanlah hal yang mudah. Holden memperoleh penolakan dari berbagai sisi. Di sini saya melihat keuletan karakter Holden, sebab ia tetap berusaha mewujudkan idenya dengan berbagai cara.

Setelah melalui proses yang berliku-liku, mimpi Holden perlahan terwujud. Ia bersama dengan Agen FBI Bill Tench (Holt McCallany) dan Proffesor Wendy Carr (Anna Torv), berhasil memperoleh izin untuk mewawancarai beberapa narapidana populer. Dari sana, mereka berhasil membantu pihak kepolisian lokal dalam menghadapi berbagai kasus kriminal.

Mayoritas kasus kriminal yang muncul pada film seri ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Pada Mindhunter, penonton akan disuguhkan berbagai tokoh dan kasus kriminal legendaris seperti kasus Edmund Kemper, John Wayne Gacy, Charles Manson, Ted Bundy, Pembunuhan Anak Kecil Atalanta, Sang Pembunuh BTK (Bind Torture, Kill), Montie Ralph Rissell, Shoe-Fetish Slayer, Richard Speck dan lain-lain. Modus operasi sampai ciri-ciri fisik si pelaku utama dari kasus-kasus tersebut ditampilkan dengan sangat mirip seperti aslinya.

Keaslian memang menjadi kelebihan dari Mindhunter, tapi terkadang hal tersebut menjadi sebuah kekurangan kalau dilihat dari sisi hiburan. Karena dibuat berdasarkan kisah nyata, maka beberapa kasus yang disuguhkan oleh Mindhunter terkadang seperti  memiliki akhir yang kurang spektakuler dan mengejutkan. Yaah, kehidupan nyata memang tidak sefantastis cerita karangan manusia bukan?

Film ini ternyata bercerita pula mengenai kehidupan pribadi Holden, Bill, Wendy dan kawan-kawan. Semuanya tentunya berkaitan dengan pekerjaan yang mereka lakukan di FBI. Semua dibuat berkaitan dan kadang menimbulkan konflik internal yang sangat mengena.

Saya pribadi terkadang terkagum-kagum dengan Mindhunter, tapi terkadang saya pun mengantuk kebosanan. Dengan demikian Mindhunter memperoleh nilai 3 dari skala maksumum 5 yang artinya “Lumayan”. Film ini cocok ditonton bagi teman-teman yang tertarik akan sejarah dan menginginkan sebuah film yang terasa asli dan mampu membuat penontonnya berfikir. Oh iya, Mindhunter mengandung beberapa konten dewasa yang tidak pantas ditonton oleh anak-anak.

Sumber: http://www.netflix.com/id-en/title/80114855

Serial Peppa Pig

Peppa Pig merupakah salah satu film seri kartun anak yang anak saya tonton di Nickelodeon. Film seri yang berasal dari Inggris ini mengisahkan keseharian Peppa (Lily Snowden-Fine), si anak Babi mungil yang imut. Ia tinggal bersama adik, papa dan mama. Selain itu, Peppa berteman dengan anak-anak dari jenis hewan yang berbeda, mulai dari domba, kelinci, kucing, kuda, gajah, rubah, sampai serigala.

Di sana, serial ini mengajarkan anak-anak untuk belajar bersosialisasi dan menghadapi berbagai masalah yang lazim dialami anak kecil. Masalah-masalah sederhana yang dibahas di sana antara lain seperti tak mau berbagi, tak mau mengalah, ketakutan bertemu teman baru, dan lain-lain.

Peppa hadir sebagai anak kecil dengan segala keterbatasannya. Jadi wajar kalau ia dikisahkan melakukan kesalahan. Kemudian ia memperoleh koreksi dan nasehat hingga ia mampu memperbaiki sekaligus belajar dari kesalahannya.

Namun pada prosesnya, terkadang Peppa nampak bossy dan melakukan beberapa tindakan buruk. Yaah tapi bukan buruk yang sangat parah yah, tindakan buruknya merupakan tindakan buruk yang lazim dilakukan oleh anak kecil yang masih belum paham. Toh pada akhirnya, Peppa pun mendapatkan pelajaran akan perbuatannya.

Itulah mengapa, orang tua tetap harus mendampingi ketika anaknya menonton Peppa Pig. Syukurlah ceritanya tidak bertele-tele dan tidak terlalu membosankan bagi orang dewasa. Durasi per episode yang cukup singkat, membuat saya tidak terlalu jenuh dengan film seri yang satu ini.

Walaupun hadir dengan animasi yang sederhana, film seri anak ini tetap tampil imut dan menarik bagi anak-anak. Apalagi sesekali tokoh dalam Pippa Pig mengeluarkan suara khas dari tipe binatang tertentu. Untuk Peppa dan keluarganya , tentunya sesekali akan ada suara “Ngok! Ngok!”, hehehehehe.

Walaupun sempat memperoleh protes dan dilarang tampil di Australia dan Cina, serial Peppa Pig tetap memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Sepenglihatan saya, tidak ada perkataan atau perilaku yang parah sekali dari Peppa, masih amanlah ditonton anak kecil. Semua yang terjadi di Cina dan Australia adalah karena perbedaan budaya dan pola pikir. Hal yang mas-mas dan mbak-mbak Australia & Cina permasalahkan, tidak menjadi masalah di Indonesia. Saya rasa, selama Peppa tidak berbicara mengenai agama atau LGBT, serial ini pastilah aman untuk diputar di Indonesia.

Sumber: http://www.peppapig.com

Serial Bubble Guppies

Bubble Guppies adalah film seri kartun anak dengan mahluk separuh manusia, separuh ikan sebagai tokoh utamanya. Yaah sejenis putri duyung laaah, hanya saja mereka ini masih anak-anak semua. Mereka senang sekali menari dan bernyanyi di bawah laut. Keingintahuan mereka akan berbagai hal pun sangat besar. Terkadang hal tersebut membuat mereka terlibat dalam sebuah kesulitan. Tak jarang terdapat adegan kejar-mengejar di sana. Tapi semua selalu diakhiri dengan hal yang baik, sebab alasan kejar-mengejarnya bukan untuk saling melukai :D. Di sana terdapat contoh mengenai moral dan perilaku yang baik bagi anak-anak.

Tidak hanya itu, pada setiap episodenya, mereka pun memperoleh pendidikan dari 1 ikan besar. Di sinilah, Bubble Guppies mengajarkan para penonton cilik mengenai berbagai hal seperti huruf, angka warna, binatang dan lain-lain. Semua tokoh utama pada serial ini memang hidup di bawah laut, namun materi ilmu pengetahuan yang diberikan tidak terbatas pada hal-hal yag ada di bawah laut saja. Hal-hal yang ada di darat pun sering sekali dibahas di sana. Sering sekali si guru memberikan pelajaran dan membawa anak-anak berkelana ke mana saja untuk mempelajari semua yang ada di luar lautan biru mereka. Yaah walaupun kalau saya perhatikan, lama kelamaan para tokoh Bubble Guppies ini tiba-tiba dapat berkelana ke daratan hehehe. Beruntung semua itu hadir dalam wujud pelajaran atau dongeng dengan pesan moral tertentu. Jadi penonton pun tidak terlalu peduli kenapa kok mahluk-mahluk laut tiba-tiba dapat berkelana ke daratan.

Wujud tokoh utama yang ceria, lucu, senang bernyanyi dan senang menari tentunya membuat anak-anak kecil tertarik untuk menonton Bubble Guppies. Keberadaan berbagai pelajaran positif pada episodenya, semakin menambah nilai positif bagi film seri ini. Menurut saya, Bubble Guppies layak untuk memperoleh nilai 4 dari skala maksimum 5 yang artinya “Bagus”.

Sumber: http://www.nickjr.tv

Serial Rainbow Ruby

Rainbow Ruby atau 레인보우 루비 merupakan film seri kartun anak yang sedikit mirip dengan Serial Doc McStuffins. Hanya saja, Ruby (Alyssya Swales) tidak hanya dapat merubah menjadi Dokter saja, melainkan profesi lainnya. Di sana, saat Ruby pergi ke kamarnya dan mengenakan payung beserta jaketnya, ia dapat pergi ke Kota Pelangi. Semua mainan yang Ruby miliki seketika itu menjelma menjadi penghuni dan bagian dari Kota Pelangi.

Setiap Ruby menemukan masalah, ia akan membuka koper ajaibnya dan berubah menjadi berbagai profesi yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Profesi yang diperkenalkan disini terbilang detail dan beragam. Ia dapat berubah menjadi dokter, paramedis, koki, tukang roti, penyanyi, penari balet, tukang pipa, arsitek, pemain golf, fotografer, akrobatik, astronot, disainer perhiasan, disainer sepatu, ilmuwan dan lain-lain. Perlengkapan dari berbagai profesi tersebut pun, Ruby perkenalkan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak dapat belajar mengenai beragai profesi yang ada, bahkan sampai ke profesi yang tidak umum diketahui oleh anak kecil. Jadi anak-anak memiliki lebih banyak pilihan kalau ditanya “Adek cita-citanya mau jadi apa?”. Kalau di jaman saya dulu sih paling jawabannya polisi, tentara, dokter dan presiden saja hehehehehe.

Hanya saja pada 1 atau 2 episodenya, terlihat bahwa Ruby mengarang alasan agar ia dapat pergi ke Kota Pelangi ketika kota tersebut mengirim sinya SOS kepada Ruby. Hal ini mungkin tidak terlalu terlihat sih kalau tidak teliti sebab jarang sekali. Entah ini termasuk white lie atau bukan sebab belum pernah ada penjelasan apakah Kota Pelangi yang Ruby datangi adalah benar-benar kota ajaib atau … apakah selama ini Ruby sedang bermain dan berkhayal bersama mainan-mainan yang ia miliki di kamar.

Terlepas dari kelemahan yang ada, Rainbow Ruby mengajak anak-anak untuk mengenal berbagai profesi dan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Saya rasa film seri yang satu ini masih layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”. Dulu sih film ini dapat disaksikan di TV lokal, tapi setahu saya sekarang film ini dapat ditemukan di media streaming seperti Netflix. Kalau yang di TV Korea, bahasanya saya tidak faham hohohooho.

Sumber: home.ebs.co.kr/RRuby/main